Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN KASUS

SKIZOAFEKTIF TIPE MANIK

Disusun oleh:
Dr. Maitri Kalyani

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KARAWANG

1
STATUS PSIKIATRI
Nomor rekam medis : 00.06.07.45
Nama pasien : Ny RM
Datang ke RS pada tanggal : 4 Juni 2017
Rujukan / datang sendiri / keluarga : dibawa keluarga
RiwayatPerawatan :-

Identitas Pasien
Nama : Ny. RM
Jenis Kelamin : Perempuan
Umur : 38 tahun
Tempat dan tanggal lahir : 15/04/1976
Agama : islam
Suku : sunda
Status pernikahan : Sudah menikah
Pendidikan : SMP tamat
Pekerjaan : tidak bekerja
Alamat : Klari

Riwayat Psikiatri
Anamnesis diambil dari autoanamnesis pada tanggal 4 juni 2017 pukul 11.00 WIB

A. Keluhan Utama
Dibawa oleh satpol PP ketika sedang berjalan kaki di daerah Masjid Istiqlal.

B. Riwayat penyakit sekarang


OS mengatakan bahwa dirinya dibawa ke RSUD oleh keluarga. OS mengatakan saat
itu ia sedang hamil anak dari Tuhan Yesus, karena itu tidak bisa berlari dari kejaran
kantip. OS mengatakan bahwa Tuhan Yesus adalah suaminya. OS mengaku sering
mendengar mujizat-mujizat dan melihat Tuhan Yesus. OS juga mengatakan sering

2
bersetubuh dengan Tuhan Yesus. Dari wawancara juga didapatkan OS kurang suka
terhadap warga keturunan Tionghoa, didapatkan dari perkataannya mengenai orang
keturunan Tionghoa, katanya orang Cina kaya, tapi suruh saya beli baju harganya
seribu.

C. Riwayat gangguan sebelumnya


1. Riwayat gangguan psikiatri
Tidak diketahui
2. Riwayat gangguan medik
OS tidak pernah mengalami kecelakaan dan mengalami trauma kepala, tidak
pernah dirawat dirumah sakit. Riwayat kejang ,hipertensi, diabetes mellitus
disangkal.
3. Riwayat penggunaan zat pisikoaktif
Sampai sekarang OS masih merokok. OS menyangkal pernah menggunakan

4. Skema perjalanan gangguan psikiatrik

1976 X 2017

D. Riwayat kehidupan pribadi


1. Riwayat perkembangan fisik

3
Riwayat kelahiran pasien tidak diketahui.
2. Riwayat perkembangan kepribadian
i. Masa kanak-kanak : tidak diketahui
ii. Masa remaja : tidak diketahui
iii. Masa dewasa : tidak diketahui

3. Riwayat pendidikan
SMP (menurut pasien)
4. Riwayat pekerjaan
-
5. Riwayat kehidupan beragama
Pasien mengatakan bahwa dirinya beragama Kristen.

6. Riwayat sosial dan perkawinan


Tidak diketahui

E. Riwayat keluarga

Keterangan : Pasien mengatakan 11 bersaudara, dengan 5 orang laki-laki dan 6 orang


perempuan. Pasien dapat menyebutkan ke 11 nya tapi terlihat bingung dengan urutan

4
saudaranya.
F. Status Mental
1. Deskripsi umum
Pasien, perempuan usia 38 tahun, terlihat lebih tua dengan usia sebenarnya,
kebersihan diri tampak kurang, kulit kuning langsat, rambut pendek, kebersihan
kuku kurang. Pasien kooperatif dan suka tertawa sendiri, tidak ada perubahan
derajat kecemasan selama wawancara. Kontak mata adekuat.
2. Kesadaran :
i. Kesadaran sensorium/neurologik : compos mentis
ii. Kesadaran psikiatrik : tampak terganggu
3. Prilaku dan aktivitas psikomotor
a) Sebelum wawancara : Pasien terlihat sedang tiduran di lantai
b) Selama wawancara : suka tertawa sendiri
c) Setelah wawancara : Pasien tertawa cekikikan
4. Sikap terhadap pewawancara
Baik, raport adekuat
5. Pembicaraan
i. Cara berbicara : Spontan, cukup lancar, volume biasa, pasien langsung
menjawab pertanyaan yang diajukan oleh pewawancara.
ii. Gangguan berbicara : tidak ada
G. Alam perasaan
1. Mood : hipertimia
2. Afek
i. Arus : cepat
ii. Stabilisasi : stabil
iii. Kedalaman : dangkal
iv. Keserasian : aserasi
v. Pengendalian impuls : kuat
vi. Ekspresi : afek menyempit
vii. Dramatisasi : tidak ada
viii. Empati : tidak dapat dinilai

5
H. Gangguan persepsi : halusinasi auditorik, halusinasi visual, halusinasi taktil
I. sonsorium dan kognitif
1. Taraf pendidikan : SMP
2. Pengetahuan umum : -
3. Kecerdasan :-
4. Konsentrasi dan kalkulasi :-
5. Orientasi :
i. Waktu : Baik
ii. Tempat : Baik
iii. Orang : Baik
iv. Situasi : Baik
6. Daya ingat :
a) Tingkat
1. Jangka panjang : baik
2. Jangka pendek : baik
3. Segera : baik
b) gangguan : tidak ada
7. Pikiran abstraktif : tidak dinilai
8. Visuospatial : tidak dinilai
9. Bakat kreatif : pasien dapat menyanyi dengan baik
10. Kemampuan menolong diri sendiri :
J. Proses pikir
1. Bentuk pikir :
i. Produktivitas : pasien bicara spontan
ii. Kontinuitas : flight of idea.
iii. Hendaya bahasa : tidak ada
2. Isi pikir :
a) Preokupasi : Pasien merupakan istri Tuhan Yesus
b) Waham
1. Waham kebesaran : mengaku istri Tuhan Yesus

6
K. Pengendalian impuls
Cukup, selama wawancara pasien dapat berlaku dengan tenang dan tidak
menunjukkan gejala yang agresif.
L. Daya nilai
1. Daya nilai sosial : baik
2. Uji daya nilai : baik
3. Daya nilai realitas : terganggu (pasien mengatakan bahwa dirinya dibawa ke
Panti Sosial Kedoya saat dirinya sedang jalan di daerah Istiqlal. Dirinya
mengatakan saat itu ia sedang hamil anak Tuhan Yesus saat itu sehingga tidak bisa lari
saat dikejar kantip)
M. Tilikan : Derajat 1. Penyangkalan total terhadap penyakitnya
N. Reabilitas : buruk. kurang dapat dipercaya

O. Status Internus
1. Keadaan umum : Baik
2. Kesadaran : Compos Mentis
3. Tensi : 110/80 mmHg
4. Nadi : 82 kali/menit
5. Suhu badan :-
6. Frekuensi pernapasan : 16 kali/menit
7. Bentuk tubuh : Astenikus
8. Sistem kardiovaskular : tidak diperiksa
9. Sistem respiratorius : tidak diperiksa
10. Sistem gastro-intestinal : tidak diperiksa
11. Sistem musculo-sceletal : tidak diperiksa
12. Sistem urogenital : tidak diperiksa
P. Status neurologi
1. Saraf kranial : tidak dilakukan
2. Gejala rangsang meningeal : tidak dilakukan
3. Mata : Conjungtiva anemis -/-, Sklera ikterik -/-

7
4. Pupil : Isokor
5. Opthalmoscopy : tidak dilakukan
6. Motorik : lengan 5+/5+, tungkai 5+/5+
7. Sensibilitas : +/+
8. Sistem saraf vegetatif : tidak dilakukan
9. Fungsi luhur : tidak dilakukan
10. Gangguan khusus : tidak ada
Q. Pemeriksaan penunjang : tidak ada
R. Anjuran pemeriksaan penunjang : Darah rutin (Hb, Ht, Leukosit, Trombosit)
S. Iktisar penemuan bermakna
OS, perempuan usia 38 tahun, pendidikan terakhir SMP, beragama Kristen, status
pernikahan tidak diketahui. Saat wawancara OS mengatakan bahwa dirinya dibawa ke
Panti Sosial Kedoya 1 minggu yang lalu karena dibawa oleh satpol PP saat sedang
berjalan kaki di daerah dekat Masjid Istiqlal. OS mengatakan saat itu ia sedang hamil
anak dari Tuhan Yesus, karena itu tidak bisa berlari dari kejaran kantip. OS mengatakan
bahwa Tuhan Yesus adalah suaminya. OS mengaku sering mendengar mujizat-mujizat
dan melihat Tuhan Yesus. OS juga mengatakan sering bersetubuh dengan Tuhan Yesus.
Dari wawancara juga didapatkan OS kurang suka terhadap warga keturunan Tionghoa,
didapatkan dari perkataannya mengenai orang keturunan Tionghoa, katanya orang Cina
kaya, tapi suruh saya beli baju harganya seribu.

Dari hasil wawancara didapatkan suasana perasaan hipertimia, gangguan pada bentuk
pikir kontinuitas berupa irelevan, gangguan persepsi berupa halusinasi auditorik,
halusinasi visual, gangguan isi pikir berupa waham kebesaran, daya nilai realitas pasien
terganggu, dan tilikan derajat 1.
Hasil pemeriksaan fisik dalam batas normal

T. Formulasi diagnostik
Axis 1. Berdasarkan ikhtisar penemuan bermakna, pasien ini dapat dinyatakan
mengalami gangguan jiwa karena adanya

8
1. Adanya disfungsi dan distress

Gangguan jiwa ini termasuk GMNO karena tidak adanya :


1. Gangguan kesadaran
2. Gangguan kognitif
3. Gangguan fungsi intelektual
4. Riwayat penggunaan NAPZA

GMNO ini termasuk skizoafektif karena:


i. Terdapat halusinasi berupa halusinasi auditorik, visual, dan taktil
ii. Terdapat waham kebesaran
iii. Gembira berlebihan
iv. Adanya flight of idea
v. Berbicara vulgar
vi. Gejala tersebut berlangsung sudah lebih dari 1 bulan

Menurut PPDGJ III Skizoafektif ini termasuk ke dalam skizoafektif tipe manik karena:
Afek meningkat secara menonjol.
Ada sedikitnya satu atau lebih baik lagi dua, skizofrenia yang khas, yaitu
adanya halusinasi (auditorik, visual, dan taktil), dan waham kebesaran.

Axis 2. Pada kasus ini tidak ditemukan adanya retardasi mental dan gangguan
kepribadian
Axis 3. Pada kasus ini tidak ditemukan adanya gangguan medik umum.
Axis 4. Belum dapat ditentukan
Axis 5. Skala penilaian fungsi secara global. GAF scale 50-41. Gejala berat,
disabilitas berat.

U. Evaluasi multi aksial


1. Axis 1. F25.0 Gangguan Skizoafektif Tipe Manik
DD:

9
Mania dengan gejala psikotik
Gangguan Afektif Bipolar Episode Kini Manik dengan Gejala Psikotik
2. Axis 2. Tidak ada
3. Axis 3. Tidak ada
4. Axis 4. Belum dapat ditentukan
5. Axis 5. GAF scale 50-41

V. Faktor yang mempengaruhi prognosis.


Faktor yang mendukung prognosis baik:
1. Ada gejala positif

Faktor yang mendukung prognosis buruk:


1. Faktor presipitasi tidak jelas
2. Faktor keluarga yang tidak mendukung

Kesimpulan prognosis adalah


Ad vitam : dubia ad bonam
Ad fungtionam : dubia ad malam
Ad sanationam : dubia ad malam

W. Daftar problem
1. Organobiologik : Tidak ada
2. Psikiatri/psikologi: halusinasi (auditorik, visual dan taktil), waham kebesaran,
flight of idea, berbicara vulgar dan gembira berlebihan.
3. Masalah sosial/keluarga : belum dapat ditentukan

X. Terapi
1. Medikamentosa
Antipsikotik
R/ haloperidol tab 5 mg tab no. XIV
S 2 dd tab 1

10
Alasan : Antipsikotik tipikal untuk mengurangi gejala-gejala positif pada
psikosis
R/Asam valproat XR tab 250 mg tab no VII
S 1 dd tab 1
Alasan : sebagai mood stabilizer

2. Psikoterapi :
Memberi kesempatan kepada pasien untuk menceritakan masalahnya
Memberikan informasi dan edukasi kepada pasien mengenai penyakitnya serta
hal-hal yang dapat mencegah dan mencetuskan penyakit pasien sehingga dapat
memperpanjang remisi dan mencegah kekambuhan.
Memberikan informasi dan edukasi kepada pasien mengenai pentingnya minum
obat secara teratur, adanya efek samping yang bisa timbul dari pengobatan ini,
dan pengaturan dosis harus berdasarkan rekomendasi dokter

11
BAB I
PENDAHULUAN

Gangguan skizoafektif adalah kelainan mental yang rancu yang ditandai dengan
adanya gejala kombinasi antara gejala skizofrenia dan gejala gangguan afektif. Penyebab
gangguan skizoafektif tidak diketahui, tetapi empat model konseptual telah
dikembangkan. Gangguan dapat berupa tipe skizofrenia atau tipe gangguan mood.
Gangguan skizoafektif mungkin merupakan tipe psikosis ketiga yang berbeda, yang
bukan merupakan gangguan skizofrenia maupun gangguan mood. Keempat dan yang
paling mungkin, bahwa gangguan skizoafektif adalah kelompok heterogen gangguan
yang menetap ketiga kemungkinan pertama.1
Pada gangguan Skizoafektif gejala klinis berupa gangguan episodik gejala
gangguan mood maupun gejala skizofreniknya menonjol dalam episode penyakit yang
sama, baik secara simultan atau secara bergantian dalam beberapa hari. Bila gejala
skizofrenik dan manik menonjol pada episode penyakit yang sama, gangguan disebut
gangguan skizoafektif tipe manik. Dan pada gangguan skizoafektif tipe depresif, gejala
depresif yang menonjol.2
Kriteria diagnostik gangguan skizoafektif berdasarkan DSM-IV-TR, merupakan
suatu produk beberapa revisi yang mencoba mengklarifikasi beberapa diagnosis, dan
untuk memastikan bahwa diagnosis memenuhi kriteria baik episode manik maupun
depresif dan menentukan lama setiap episode secara tepat.1
Pada setiap diagnosis banding gangguan psikotik, pemeriksaan medis lengkap
harus dilakukan untuk menyingkirkan penyebab organik. Semua kondisi yang dituliskan
di dalam diagnosis banding skizofrenia dan gangguan mood perlu dipertimbangkan.
Sebagai suatu kelompok, pasien dengan gangguan skizoafektif mempunyai prognosis di
pertengahan antara prognosis pasien dengan skizofrenia dan prognosis pasien dengan
gangguan mood. Sebagai suatu kelompok, pasien dengan gangguan skizoafektif memiliki

12
prognosis yang lebih buruk daripada pasien dengan gangguan depresif maupun gangguan
bipolar, tetapi memiliki prognosis yang lebih baik daripada pasien dengan skizofrenia.1
Pengobatan untuk dengan gangguan skizoafektif merespon baik terhadapat
pengobatan dengan obat antipsikotik yang dikombinasikan dengan obat mood stabilizer
atau pengobatan dengan antipsikotik saja. Untuk orang gangguan skizoafektif dengan tipe
manik, menggabungkan obat antipsikotik dengan mood stabilizer cenderung bekerja
dengan baik. Karena pengobatan yang konsisten penting untuk hasil terbaik, psiko-
edukasi pada penderita dan keluarga, serta menggunakan obat long acting bisa menjadi
bagian penting dari pengobatan pada gangguan skizoafektif.3

13
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Gangguan Skizoafektif mempunyai gambaran baik skizofrenia maupun gangguan
afektif. Gangguan skizoafektif memiliki gejala khas skizofrenia yang jelas dan pada saat
bersamaan juga memiliki gejala gangguan afektif yang menonjol. Gangguan skizoafektif
terbagi dua yaitu, tipe manik dan tipe depresif.1
Gangguan skizoafektif adalah penyakit dengan gejala psikotik yang persisten,
seperti halusinasi atau delusi, terjadi bersama-sama dengan masalah suasana (mood
disorder) seperti depresi, manik, atau episode campuran.3

2.2 Epidemiologi
Prevalensi seumur hidup dari gangguan skizoafektif adalah kurang dari 1 persen,
kemungkinan dalam rentang 0,5 sampai 0,8 persen. Namun, angka tersebut adalah angka
perkiraan, karena di dalam praktik klinis diagnosis gangguan skizoafektif sering kali
digunakan jika klinisi tidak yakin akan diagnosis. Prevalensi gangguan telah dilaporkan
lebih rendah pada laki-laki dibandingkan para wanita; khususnya wanita yang menikah;
usia onset untuk wanita adalah lebih lanjut daripada usia untuk laki-laki seperti juga pada
skizofrenia. Laki-laki dengan gangguan skizoafektif kemungkinan menunjukkan perilaku
antisosial dan memiliki pendataran atau ketidaksesuaian afek yang nyata.2
Statistik umum gangguan ini yaitu kira-kira 0,2% di Amerika Serikat dari populasi
umum dan sampai sebanyak 9% orang dirawat di rumah sakit karena gangguan ini.
Gangguan skizoafektif diperkirakan terjadi lebih sering daripada gangguan bipolar.
Prevalensi pada pria lebih rendah daripada wanita. Onset umur pada wanita lebih besar
daripada pria, pada usia tua gangguan skizoafektif tipe depresif lebih sering sedangkan
untuk usia muda lebih sering gangguan skizoafektif tipe bipolar. Laki-laki dengan
gangguan skizoafektif kemungkinan menunjukkan perilaku antisosial.3
2.3 Etiologi
Sulit untuk menentukan penyebab penyakit yang telah berubah begitu banyak dari

14
waktu ke waktu. Dugaan saat ini bahwa penyebab gangguan skizoafektif mungkin mirip
dengan etiologi skizofrenia. Oleh karena itu teori etiologi mengenai gangguan
skizoafektif juga mencakup kausa genetik dan lingkungan.
Beberapa data menunjukkan bahwa gangguan skizofrenia dan gangguan afektif
mungkin berhubungan secara genetik. Ada peningkatan resiko terjadinya gangguan
skizofrenia diantara keluarga dengan gangguan skizoafektif.4
Penyebab gangguan skizoafektif adalah tidak diketahui, tetapi empat model
konseptual telah diajukan.
1. Gangguan skizoafektif mungkin merupakan suatu tipe skizofrenia atau suatu tipe
gangguan mood.
2. Gangguan skizoafektif mungkin merupakan ekspresi bersama-sama dari
skizofrenia dan gangguan mood.
3. Gangguan skizoafektif mungkin merupakan suatu tipe psikosis ketiga yang
berbeda, tipe yang tidak berhubungan dengan skizofrenia maupun suatu gangguan
mood.
4. Kemungkinan terbesar adalah bahwa gangguan skizoafektif adalah kelompok
gangguan yang heterogen yang meliputi semua tiga kemungkinan pertama.
Sebagian besar penelitian telah menganggap pasien dengan gangguan skizoafektif
sebagai suatu kelompok heterogen.

2.4 Tanda dan Gejala


Pada gangguan Skizoafektif gejala klinis berupa gangguan episodik gejala
gangguan mood maupun gejala skizofreniknya menonjol dalam episode penyakit yang
sama, baik secara simultan atau secara bergantian dalam beberapa hari. Bila gejala
skizofrenik dan manik menonjol pada episode penyakit yang sama, gangguan disebut
gangguan skizoafektif tipe manik. Dan pada gangguan skizoafektif tipe depresif, gejala
depresif yang menonjol.2
Gejala yang khas pada pasien skizofrenik berupa waham, halusinasi, perubahan
dalam berpikir, perubahan dalam persepsi disertai dengan gejala gangguan suasana
perasaan baik itu manik maupun depresif.2

15
Suatu gangguan psikotik dengan gejala-gejala skizofrenia dan manik yang sama-
sama menonjol dalam satu episode penyakit yang sama. Gejala-gejala afektif diantaranya
yaitu elasi dan ideide kebesaran, tetapi kadang-kadang kegelisahan atau iritabilitas
disertai oleh perilaku agresif serta ide-ide kejaran. Terdapat peningkatan enersi, aktivitas
yang berlebihan, konsentrasi yang terganggu, dan hilangnya hambatan norma sosial.
Waham kebesaran, waham kejaran mungkin ada. Gejala skizofrenia juga harus ada,
antara lain merasa pikirannya disiarkan atau diganggu, ada kekuatan-kekuatan yang
sedang berusaha mengendalikannya, mendengar suara-suara yang beraneka beragam atau
menyatakan ide-ide yang bizarre. Onset biasanya akut, perilaku sangat terganggu, namun
penyembuhan secara sempurna dalam beberapa minggu.4
Gejala klinis berdasarkan pedoman penggolongan dan diagnosis gangguan jiwa
(PPDGJ-III):5 Harus ada sedikitnya satu gejala berikut ini yang amat jelas (dan biasanya
dua gejala atau lebih bila gejala gejala itu kurang tajam atau kurang jelas):
a) thought echo = isi pikiran dirinya sendiri yang berulang atau bergema dalam
kepalanya (tidak keras), dan isi pikiran ulangan, walaupun isinya sama, namun
kualitasnya berbeda ; atau thought insertion or withdrawal = isi yang asing
dan luar masuk ke dalam pikirannya (insertion) atau isi pikirannya diambil
keluar oleh sesuatu dari luar dirinya (withdrawal); dan thought
broadcasting= isi pikirannya tersiar keluar sehingga orang lain atau umum
mengetahuinya;
b) delusion of control = waham tentang dirinya dikendalikan oleh suatu
kekuatan tertentu dari luar; atau delusion of passivitiy = waham tentang
dirinya tidak berdaya dan pasrah terhadap suatu kekuatan dari luar; (tentang
dirinya = secara jelas merujuk kepergerakan tubuh / anggota gerak atau ke
pikiran, tindakan, atau penginderaan khusus). delusional perception =
pengalaman indrawi yang tidak wajar, yang bermakna sangat khas bagi
dirinya, biasanya bersifat mistik atau mukjizat.
c) Halusinasi Auditorik: Suara halusinasi yang berkomentar secara terus menerus
terhadap perilaku pasien, atau mendiskusikan perihal pasien pasein di antara
mereka sendiri (diantara berbagai suara yang berbicara), atau jenis suara
halusinasi lain yang berasal dari salah satu bagian tubuh.

16
d) Waham-waham menetap jenis lainnya, yang menurut budaya setempat
dianggap tidak wajar dan sesuatu yang mustahil, misalnya perihal keyakinan
agama atau politik tertentu, atau kekuatan dan kemampuan di atas manusia
biasa (misalnya mampu mengendalikan cuaca, atau berkomunikasi dengan
mahluk asing dan dunia lain).
e) Halusinasi yang menetap dan panca-indera apa saja, apabila disertai baik oleh
waham yang mengambang maupun yang setengah berbentuk tanpa kandungan
afektif yang jelas, ataupun disertai oleh ide-ide berlebihan (over-valued ideas)
yang menetap, atau apabila terjadi setiap hari selama berminggu minggu atau
berbulan-bulan terus menerus.
f) Arus pikiran yang terputus (break) atau yang mengalami sisipan
(interpolation), yang berkibat inkoherensi atau pembicaraan yang tidak
relevan, atau neologisme.
g) Perilaku katatonik, seperti keadaan gaduh-gelisah (excitement), posisi tubuh
tertentu (posturing), atau fleksibilitas cerea, negativisme, mutisme, dan stupor.
h) Gejala-gejala negatif, seperti sikap sangat apatis, bicara yang jarang, dan
respons emosional yang menumpul atau tidak wajar, biasanya yang
mengakibatkan penarikan diri dari pergaulan sosial dan menurunnya kinerja
sosial; tetapi harus jelas bahwa semua hal tersebut tidak disebabkan oleh
depresi atau medikasi neuroleptika.
Adanya gejala-gejala khas tersebut diatas telah berlangsung selama kurun waktu
satu bulan atau lebih (tidak berlaku untuk setiap fase nonpsikotik (prodromal). Harus ada
suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu keseluruhan (overall quality)
dan beberapa aspek perilaku pribadi (personal behavior), bermanifestasi sebagai
hilangnya minat, hidup tak bertujuan, tidak berbuat sesuatu sikap larut dalam diri sendiri
(self-absorbed attitude) dan penarikan diri secara sosial.

2.5 Diagnosis
Diagnosis gangguan skizoafektif hanya dibuat apabila gejala-gejala definitif
adanya skizofrenia dan gangguan afektif bersama-sama menonjol pada saat yang
bersamaan, atau dalam beberapa hari sesudah yang lain, dalam episode yang sama.

17
Sebagian diantara pasien gangguan skizoafektif mengalami episode skizoafektif berulang,
baik yang tipe manik, depresif atau campuran keduanya.6
Konsep gangguan skizoafektif melibatkan konsep diagnostik baik skizofrenia
maupun gangguan mood, beberapa evolusi dalam kriteria diagnostik untuk gangguan
skizoafektif mencerminkan perubahan yang telah terjadi di dalam kriteria diagnostik
untuk kedua kondisi lain.
Kriteria diagnostik utama untuk gangguan skizoafektif (Tabel 1) adalah bahwa
pasien telah memenuhi kriteria diagnostik untuk episode depresif berat atau episode
manik yang bersama-sama dengan ditemukannya kriteria diagnostik untuk fase aktif dari
skizofrenia. Disamping itu, pasien harus memiliki waham atau halusinasi selama
sekurangnya dua minggu tanpa adanya gejala gangguan mood yang menonjol. Gejala
gangguan mood juga harus ditemukan untuk sebagian besar periode psikotik aktif dan
residual. Pada intinya, kriteria dituliskan untuk membantu klinisi menghindari
mendiagnosis suatu gangguan mood dengan ciri psikotik sebagai suatu gangguan
skizoafektif.

Tabel 1. Kriteria Diagnostik untuk Gangguan Skizoafektif (DSM-IV)


Kriteria Diagnostik Untuk Gangguan Skizoafektif
A. Suatu periode penyakit yang tidak terputus selama mana, pada suatu waktu.
Terdapat baik episode depresif berat, episode manik, atau suatu episode campuran
dengan
gejala yang memenuhi kriteria A untuk skizofrenia.
Catatan: Episode depresif berat harus termasuk kriteria A1: mood terdepresi.
B. Selama periode penyakit yang sama, terdapat waham atau halusinasi selama
sekurangnya 2 minggu tanpa adanya gejala mood yang menonjol.
C. Gejala yang memenuhi kriteria untuk episode mood ditemukan untuk sebagian
bermakna dari lama total periode aktif dan residual dari penyakit.
D. Gangguan bukan karena efek fisiologis langsung dari suatu zat (misalnya, obat

18
yang disalahgunakan, suatu medikasi) atau suatu kondisi medis umum.
Sebutkan tipe:
Tipe bipolar: jika gangguan termasuk suatu episode manik atau campuran (atau
suatu manik
suatu episode campuran dan episode depresif berat)
Tipe depresif: jika gangguan hanya termasuk episode depresif berat.
Tabel dari DSM-IV, Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders. Ed. 4.

DSM-IV juga membantu klinisi untuk menentukan apakah pasien menderita


gangguan skizoafektif, tipe bipolar, atau gangguan skizoafektif, tipe depresif. Seorang
pasien diklasifikasikan menderita tipe bipolar jika episode yang ada adalah dari tipe
manik atau suatu episode campuran dan episode depresif berat. Selain itu, pasien
diklasifikasikan menderita tipe depresif.7
Pada PPDGJ-III, gangguan skizoafektif diberikan kategori yang terpisah karena
cukup sering dijumpai sehingga tidak dapat diabaikan begitu saja. Kondisi-kondisi lain
dengan gejala-gejala afektif saling bertumpang tindih dengan atau membentuk sebagian
penyakit skizofrenik yang sudah ada, atau di mana gejala-gejala itu berada bersama-sama
atau secara bergantian dengan gangguan-gangguan waham menetap jenis lain,
diklasifikasikan dalam kategori yang sesuai dalam F20-F29. Waham atau halusinasi yang
tak serasi dengan suasana perasaan (mood) pada gangguan afektif tidak dengan
sendirinya menyokong diagnosis gangguan skizoafektif.

Tabel 2. Pedoman Diagnostik Gangguan Skizoafektif berdasarkan PPDGJ-III


Diagnosis gangguan skizoafektif hanya dibuat apabila gejala-gejala
definitif adanya skizofrenia dan gangguan skizofrenia dan gangguan
afektif sama-sama menonjol pada saat yang bersamaan (simultaneously),
atau dalam beberapa hari yang satu sesudah yang lain, dalam satu episode
penyakit yang sama, dan bilamana, sebagai konsekuensi dari ini, episode
penyakit tidak memenuhi kriteria baik skizofrenia maupun episode manik
atau depresif.
Tidak dapat digunakan untuk pasien yang menampilkan gejala skizofrenia
dan gangguan afektif tetapi dalam episode penyaki yang berbeda.

19
Bila seorang pasien skizofrenik menunjukkan gejala depresif setelah
mengalami suatu episode psikotik, diberi kode diagnosis F20.4 (Depresi
Pasca-skizofrenia). Beberapa pasien dapat mengalami episode skizoafektif
berulang, baik berjenis manik (F25.0) maupun depresif (F25.1) atau
campuran dari keduanya (F25.2). Pasien lain mengalami satu atau dua
episode manik atau depresif (F30-F33)

Gangguan skizoafektif yaitu gejala skizofrenia dan gangguan afektif sama-sama


menonjol atau dalam beberapa hari sesudah yang lain, tetapi dalam satu episode penyakit
(tidak memenuhi kriteria diagnosis skizofrenia maupun gangguan afektif). Pedoman
diagnosis gangguan skizoafektif tipe manic berdasarkan PPDGJ-III yaitu 1). Kategori ini
digunakan baik untuk episode skizofrenia tipe manik yang tunggal maupun untuk
gangguan berulang dengan sebagian besar episode skizoafektif tipe manik. 2). Afek harus
meningkat secara menonjol atau ada peningkatan afek yang tidak begitu menonjol
dikombinasi dengan iritabilitas atau kegelisahan yang memuncak. 3). Dalam episode
yang sama harus jelas ada sedikitnya satu atau lebih baik lagi dua, gejala skizorenia yang
khas. Pemeriksaan status psikiatri pada pasien ditemukan didapatkan penampilan wajar,
roman muka tampak gembira, kontak verbal dan visual cukup, mood euforia, afek
inappropriate, bentuk pikir logis realis, arus pikir koheren, isi piker waham kebesaran dan
curiga ada , pada dorongan instingtual didapatkan ada
riwayat insomnia dan raptus. Dari gejala di atas, pasien memenuhi kriteria skizoprenia
yaitu adanya waham kebesaran dan curiga, afek yang inappropiate sehingga dapat
digolongkan skizoprenia. Disamping itu, juga tampak adanya gejala gangguan mood
yaitu muka tampak gembira, mood euforia, berpakaian yang aneh sehingga berdasarkan
PPDGJ-III tampak adanya gejala skizofrenia bersamaan dengan gangguan mood sehingga
didiagnosis sebagai Skizoafektif Tipe Manik (F25.0).5

2.6 Diagnosis Banding


Semua kondisi yang dituliskan di dalam diagnosis banding skizofrenia dan
gangguan mood perlu dipertimbangkan di dalam diagnosis banding gangguan
skizoafektif. Pasien yang diobati dengan steroid, penyalahgunaan amfetamin dan
phencyclidine (PCP), dan beberapa pasien dengan epilepsi lobus temporalis secara

20
khusus kemungkinan datang dengan gejala skizofrenik dan gangguan mood yang
bersama-sama. Diagnosis banding psikiatrik juga termasuk semua kemungkinan yang
biasanya dipertimbangkan untuk skizofrenia dan gangguan mood. Di dalam praktik
klinis, psikosis pada saat datang mungkin mengganggu deteksi gejala gangguan mood
pada masa tersebut atau masa lalu. Dengan demikian, klinisi boleh menunda diagnosis
psikiatrik akhir sampai gejala psikosis yang paling akut telah terkendali.1

2.7 Perjalanan Penyakit dan Prognosis


Sebagai suatu kelompok, pasien dengan gangguan skizoafektif mempunyai
prognosis di pertengahan antara prognosis pasien dengan skizofrenia dan prognosis
pasien dengan gangguan mood. Sebagai suatu kelompok, pasien dengan gangguan
skizoafektif memiliki prognosis yang jauh lebih buruk daripada pasien dengan gangguan
depresif, memiliki prognosis yang lebih buruk daripada pasien dengan gangguan bipolar,
dan memiliki prognosis yang lebih baik daripada pasien dengan skizofrenia. Generalitas
tersebut telah didukung oleh beberapa penelitian yang mengikuti pasien selama dua
sampai lima tahun setelah episode yang ditunjuk dan yang menilai fungsi sosial dan
pekerjaan, dan juga perjalanan gangguan itu sendiri. 2
Data menyatakan bahwa pasien dengan gangguan skizoafketif, tipe bipolar,
mempunyai prognosis yang mirip dengan prognosis pasien dengan gangguan bipolar I
dan bahwa pasien dengan premorbid yang buruk; onset yang perlahan-lahan; tidak ada
faktor pencetus; menonjolnya gejala pskotik, khususnya gejala defisit atau gejala negatif;
onset yang awal; perjalanan yang tidak mengalami remisi; dan riwayat keluarga adanya
skizofrenia. Lawan dari masing-masing karakeristik tersebut mengarah pada hasil akhir
yang baik. Adanya atau tidak adanya gejala urutan pertama dari Schneider tampaknya
tidak meramalkan perjalanan penyakit.
Walaupun tampaknya tidak terdapat perbedaan yang berhubungan dengan jenis
kelamin pada hasil akhir gangguan skizoafektif, beberapa data menyatakan bahwa
perilaku bunuh diri mungkin lebih sering pada wanita dengan gangguan skizoafektif
daripada laki-laki dengan gangguan tersebut. Insidensi bunuh diri di antara pasien dengan
gangguan skizoafektif diperkirakan sekurangnya 10 persen.

21
2.8 Terapi
a. Psikofarmaka
Modalitas terapi yang utama untuk gangguan skizoafektif adalah perawatan di
rumah sakit, medikasi, dan intervensi psikososial. Prinsip dasar yang mendasari
farmakoterapi untuk gangguan skizoafektif adalah bahwa protokol antidepresan dan
antimanik diikuti jika semuanya diindikasikan dan bahwa antipsikotik digunakan hanya
jika diperlukan untuk pengendalian jangka pendek. Jika protokol thymoleptic tidak
efektif di dalam mengendalikan gejala atas dasar berkelanjutan, medikasi antipsikotik
dapat diindikasikan. Pasien dengan gangguan skizoafektif, tipe bipolar, harus
mendapatkan percobaan lithium, carbamazepine (Tegretol), valproate (Depakene), atau
suatu kombinasi obat-obat tersebut jika satu obat saja tidak efektif. Pasien dengan
gangguan skizoafektif, tipe depresif, harus diberikan percobaan antidepresan dan terapi
elektrokonvulsif (ECT) sebelum mereka diputuskan tidak responsif terhadap terapi
antidepresan.7
Farmakoterapi untuk mengatasi gejala skizoafektif tipe manik yaitu pengobatan
dengan obat antipsikotik yang dikombinasikan dengan obat mood stabilizer atau
pengobatan dengan antipsikotik saja. Pada kasus ini, pasien diberikan carbamazepin dan
stelazine. Carbamazepine adalah obat antikejang yang digunakan sebagai stabilizer mood.
Cara kerja mood stabilezer yaitu membantu menstabilkan kimia otak tertentu yang disebut
neurotransmitters yang mengendalikan temperamen emosional dan perilaku dan
menyeimbangkan kimia otak tersebut sehingga dapat mengurangi gejala gangguan
kepribadian borderline. Efek samping carbamazepine dapat menyebabkan mulut kering
dan tenggorokan, sembelit, kegoyangan, mengantuk, kehilangan nafsu makan, mual, dan
muntah. Karbamazepin tidak boleh digunakan bersama dengan inhibitor monoamine
oxidase ( MAOIs ). Hindari minum alkohol saat mengambil carbamazepine. Hal ini dapat
meningkatkan beberapa efek samping carbamazepine yaitu dapat meningkatkan risiko
untuk kejang.8
Stelazine memiliki efek antiadrenergik sentral, antidopaminergik, dan efek
antikolinergik minimal. Hal ini diyakini stelazine dapat bekerja dengan memblokade
reseptor dopamin D1 dan D2 di jalur mesokortical dan mesolimbik, menghilangkan atau
meminimalkan gejala skizofrenia seperti halusinasi, delusi, dan berpikir dan berbicara

22
yang tidak terarah. Stelazine menimbulkan efek samping ekstrapiramidal seperti akatisia,
distonia, dan parkinsonisme selain itu dapat menimbulkan efek samping antikolinergik
seperti merah mata dan xerostomia (mulut kering). Stelazine dapat menurunkan ambang
kejang sehingga harus berhati-hati penggunaan stelazine pada orang yang mempunyai
riwayat kejang.8
Pengobatan untuk dengan gangguan skizoafektif merespon terbaik untuk
pengobatan dengan obat antipsikotik yang dikombinasikan dengan obat mood stabilizer
atau pengobatan dengan antipsikotik saja. Untuk orang gangguan skizoafektif dengan tipe
manik, menggabungkan obat antipsikotik dengan mood stabilizer cenderung bekerja
dengan baik.3
b. Psikoterapi
Selain psikofarmaka, psikoterapi dan edukasi juga sangat diperlukan. Menurut
penelitian pengobatan hanya dengan obat tidak cukup untuk kesembuhan pasien, tetapi
juga harus diiringi oleh lingkungan keluarga yang mendukung dan sikap pasien terhadap
penyakit yang diderita.
Karena pengobatan yang konsisten penting untuk hasil terbaik, psiko-edukasi
pada penderita dan keluarga, serta menggunakan obat long acting bisa menjadi bagian
penting dari pengobatan pada gangguan skizoafektif.3

23
BAB III
KESIMPULAN

Gangguan skizoafektif merupakan suatu gangguan jiwa yang gejala skizofrenia


dan gejala afektif terjadi bersamaan dan sama-sama menonjol. Prevalensi gangguan telah
dilaporkan lebih rendah pada laki-laki dibandingkan para wanita; khususnya wanita yang
menikah; usia onset untuk wanita adalah lebih lanjut daripada usia, untuk laki-laki seperti
juga pada skizofrenia. Teori etiologi mengenai gangguan skizoafektif mencakup kausa
genetik dan lingkungan. Tanda dan gejala klinis gangguan skizoafektif adalah termasuk
semua tanda dan gejala skizofrenia, episode manik, dan gangguan depresif. Diagnosis
gangguan skizoafektif hanya dibuat apabila gejala-gejala definitif adanya skizofrenia dan
gangguan afektif bersama-sama menonjol pada saat yang bersamaan, atau dalam
beberapa hari sesudah yang lain, dalam episode yang sama. Sebagian diantara pasien
gangguan skizoafektif mengalami episode skizoafektif berulang, baik yang tipe manik,
depresif atau campuran keduanya. Untuk orang gangguan skizoafektif dengan tipe manik,
menggabungkan obat antipsikotik dengan mood stabilizer cenderung bekerja dengan
baik. Karena pengobatan yang konsisten penting untuk hasil terbaik, psiko-edukasi pada
penderita dan keluarga, serta menggunakan obat long acting bisa menjadi bagian penting
dari pengobatan pada gangguan skizoafektif. Semakin menonjol dan persisten gejala
skizofrenianya maka pronosisnya buruk, dan sebaliknya semakin persisten gejala-gejala
gangguan afektifnya, prognosis diperkirakan akan lebih baik.

24
DAFTAR PUSTAKA

1. Maramis, W.S. 1994. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya: Airlangga University
Presss.
2. Kaplan, H.I, Sadock, B.J, Grebb J.A. 1997. Sinopsis Psikiatri. Edisi Ketujuh.
Terjemahan Widjaja Kusuma. Jakarta: Binarupa Aksara Publisher.
3. Melissa Conrad Stppler. 2013. Schizoaffective disorder.
http://www.medicinenet.com. Diakses: 10 Oktober 2015
4. Jibson MD. 2011. Schizophrenia: Clinical presentation, epidemiology, and
pathophysiology. http://www.uptodate.com. Diakses: 10 Oktober 2015
5. Rusdi Maslim. 2013. Diagnosis Gangguan Jiwa, Rujukan Ringkas PPDGJ III.
Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK Unika Atma Jaya.
6. Ken Duckworth, M.D., and Jacob L. Freedman, M.D. 2012. Schizoaffective disorder.
diakses: 10 Oktober 2023
7. American Psychiatric Association. Diagnosis dan Statistical Manual of Mental
disorders (DSM IV TM). American Psychological Association (APA): Washington
DC. 1996.
8. Kaplan H.I, Sadock B.J, Grebb J.A. 2010. Sinopsis Psikiatri

25
26