Anda di halaman 1dari 1

Dari Clean ke Clear Label

From Clean to Clear Label dewasa ini menjadi tren terbaru dalam bidang produsen pangan.
Bagaimana tren ini menjadi ramai diperbincangkan masyarakat bukanlah tanpa campur tangan
masyarakat sendiri sebagai penikmat dan konsumen makanan. Innova Market Insight sebagai
pencetus tren ini menjelaskan bahwa awal mula munculnya tren tersebut karena adanya rasa
kekecewaan masyarakat dalam pemakaian Clean Label yang dirasa kurang tepat dipakai oleh
produsen makanan sekarang. Clean Label itu sendiri menunjukkan bahwa seluruh bahan yang
terkandung dalam makanan dari produsen, merupakan produk yang bebas bahan tambahan pangan,
natural atau alami, non-GMO, dan tanpa bahan kimia apapun. Konsumen semakin menyoroti
kealamian dan asal produk yang mereka konsumsi dengan lebih jelas dan spesisik. Namun seiring
dengan perkembangan jaman, seperti yang telah disebutkan diatas, kondisi ini sudah tidak relevan
lagi karena sudah tidak ada lagi produsen yang benar-benar menggunakan bahan alami, terkait
dengan berbagai faktor seperti kebutuhan, nilai ekonomis, dan lain sebagainya. Produsen makanan
pasti menggunakan setidaknya satu atau dua bahan tambahan pangan seperti pengental, perisa,
pewarna, dan masih banyak lagi. Lama-kelamaan konsumen merasa tertipu dengan adanya
pernyataan seperti Tanpa Pemanis Buatan, Murni dan Alami, dan lain sebagainya yang memang
diperbolehkan, dimana dalam kebanyakan kasus konsumen merasa diekploitasi karena mereka tidak
tahu apa yang dilakukan produsen dengan bahan-bahan pengganti atau tambahan makanan dalam
proses produksi. Creative Energy Nahoum menambahkan bahwa selama Clean Label tidak memiliki
peraturan yang menentukan ataupun undang-undang, semua konsumen bebas memiliki interpretasi
yang berbeda dari konsep tersebut. Banyak produsen yang mengambil keuntungan dari ambiguitas
ini untuk mendefiniskan istilah sesuai dengan kebutuhan mereka terutama dalam hal peningkatan
penjualan yang terjadi karena adanya Clean Label pada produk mereka. Konsumen semakin bingung
dengan ketidakpastian Clean Label tersebut, apakah tujuannya hanya untuk iklan atau memang
menunjukkan produk itu sendiri. Faktor lainnya yang mempengaruhi munculnya Clear Label adalah
kesulitan konsumen untuk menyimpulkan bahan-bahan alami dengan nama rumit seperti
calciumdinatriumethyldiamintetraacetat dalam sayuran kaleng serta terdengar buatan. Banyaknya
blogger makanan yang menyampaikan informasi palsu pada publik dan menimbulkan kecemasan
yang tidak perlu menjadi suatu keprihatinan juga. Oleh karena itu, konsumen menuntut adanya
kejelasan dalam pelabelan produk makanan yang mereka konsumsi.

Dalam era yang semakin modern ini, konsumen pangan semakin cerdas, selektif, dan kritis dalam
membeli produk makanan. Munculnya Clear Label ke permukaan sebenarnya juga merupakan
bentuk perubahan gaya hidup masyarakat menjadi gaya hidup yang lebih sehat. Clear Label
memberikan kenyamanan pada konsumen dalam memilih makanan yang mereka butuhkan karena
adanya transparansi dalam pelabelan. Clear label menjadi tren kunci pada tahun 2015 yang
mencerminkan klaim yang jelas dan sederhana serta kemasan yang baik untuk transparansi
maksimum. Konsumsi makanan yang cepat dan sehat juga terus meningkat sehingga produsen
makanan ringan juga dituntut untuk ikut serta dalam pencanangan Clear Label ini. Clear Label juga
menjadi sebuah cara untuk membentuk kembali komunikasi produsen makanan dengan konsumen
dengan memberikan detail-detail yang otentik dan relatable sehingga dalam penyampaian pesan
berjalan dengan lebih baik dan inovatif. Akibatnya, setelah terhubung secara langsung dengan merek
melalui pesan label, konsumen dapat mengembangkan ikatan yang kuat yaitu ikatan kepercayaan.
Clear Label menunjukkan bahwa pelabelan pada produk pangan haruslah jelas dan dapat dimengerti
untuk membuat informasi bahan pangan yang lebih baik bagi konsumen serta memudahkan
konsumen dalam memilih produk yang dikonsumsi. Tak heran mengapa Clear Label bisa menjadi tren
nomor satu pada Top 10 Trends for 2015.