Anda di halaman 1dari 54

PENGUKURAN PROSES DAN HASIL PROSES

KULIAH KERJA LAPANGAN II GEOGRAFI ILMU LINGKUNGAN

DI SUB DAS BOMPON, MAGELANG, JAWA TENGAH

1. Pendahuluan

1. Latar Belakang

Pengajaran mengenai konsep, teori, dan praktek tak cukup hanya dilakukan di
ruangan belajar saja. Proses pengenalan tersebut harus dilakukan baik di laboratorium
maupun di lapangan, sehingga proses dalam mengidentifikasi, mengenali wilayah dan
mengukur proses yang terjadi, disertai analisis mendalam mengenai parameter fisik,
dan sosial ekonomi di lapangan dapat dilakukan. Kuliah Kerja Lapangan II
bertemakan Pengukuran Proses dan Hasil Proses di DAS Bompon, Magelang, Jawa
Tengah. KKL II tidak hanya mencakup fenomena fisik tetapi juga fenomena sosial
ekonomi yang terdapat di daerah kajian. Metode yang digunakan dalam Kuliah Kerja
Lapangan II ini dilakukan dengan metode transek pada Sub DAS Bompon.

Daerah Sub DAS Bompon, Kabupaten Magelang merupakan daerah yang


memiliki fenomena-fenomena unik terkait fisik maupun sosial ekonomi
masyarakatnya. Daerah pada Sub DAS Bompon, secara genesis dipengaruhi oleh
Pegunungan Menoreh, Pegunungan Serayu Selatan, dan Gunungapi Sumbing Tua.
Sub DAS Bompon secara detail merupakan daerah transisi yang berhubungan dengan
DAS lain seperti, DAS Kali Progo dan DAS Buthek. Pentingnya Kuliah Kerja
Lapangan II pengukuran proses dan hasil proses ini menjadikan pengetahuan baru
cara mengetahui, mengukur, memahami dan mengindentifikasi mengenai potensi
wilayah, perkembangan geomorfologi, dinamika proses fisik maupun sosial,
karakteristik wilayah, serta kerentanan terhadap ancaman bencana yang dapat terjadi
di daerah kajian.

Pengukuran terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat dari daerah kajian


dilakukan dengan wawancara terhadap informan kunci dan informasi tambahan.
Daerah Sub DAS Bompon ini memiliki banyak kajian yang berkaitan dengan kondisi
sosial ekonomi. Kondisi sosial ekonomi masyarakat dapat diidentifikasi dari banyak

1
faktor seperti jenis mata pencaharian pokok, mata pencaharian sampingan,
pendapatan, kondisi kesehatan masyarakat, adanya migrasi penduduk, permasalahan
terkait hasil pertanian maupun perkebunan terkait musim tanam dan panen, serta
permasalahan sosial yang ada di daerah kajian. Faktor-faktor tersebut saling berkaitan
antara satu dengan yang lain dan tidak dapat terpisahkan. Kondisi sosial ekonomi di
Daerah Sub DAS Bompon ini juga dipengaruhi oleh kondisi lingkungan fisik yang
ada di wilayah tersebut, seperti korelasi iklim dengan musim tanam maupun panen.

Pengukuran terhadap kondisi fisik di Sub DAS Bompon kali ini menggunakan
berbagai metode, baik pengukuran hidrologi maupun tanah. Pengukuran hidrologi
dilakukan dengan menggunakan slope area method, dillusion method, metode invers
auger hole, dan metode infiltrasi. Pentingnya pengukuran hidrologi ini berguna untuk
mengetahui proses, material, perkembangan, dan dinamika yang berkaitan dengan
hidrologi dimana memiliki korelasi antara perkembangan fisik, fenomena terkait
bencana dan kondisi lingkungan masyarakat. Pengukuran tanah yang dilakukan yaitu
dengan identifikasi tanah secara menyeluruh baik secara fisik, kimiawi, maupun
organik menggunakan metode pengeboran tanah, identifikasi proses perkembangan
tanah maupun geomorfologi dan profiling daerah transek. Pentingnya pengukuran
tanah ini berguna untuk mengetahui proses, material, perkembangan, dan dinamika
yang berkaitan dengan tanah dimana memiliki korelasi antara perkembangan fisik,
fenomena terkait bencana dan kondisi lingkungan masyarakat.

Kuliah Kerja Lapangan II yang bertemakan Pengukuran proses dan hasil proses
pada daerah Sub DAS Bompon, Kabupaten Magelang diharapkan sebagai bekal
untuk proses penelitian yang baik dan benar sehingga dapat sesuai prosedur penelitian
yang tepat bagi mahasiswa Geografi Lingkungan, Fakultas Geografi UGM.

2. Tujuan

Mengetahui, mengidentifikasi, dan melakukan pengukuran tanah, hirologi, dan sosial


ekonomi terhadap fenomena geomorfologi daerah Sub-DAS Bompon, Kabupaten Magelang,
Jawa Tengah.

2
2. Hasil dan Pembahasan

1. Hasil Lapangan

1. Hasil pengukuran proses dan hasil proses tanah

1. Identifikasi sekuen medan jalur transek profilling tim 6 KKL II (terlampir)

2. Hasil pengukuran dan hasil proses hidrologi

3. Hasil perhitungan slope area method dalam pengukuran air permukaan (terlampir)

4. Hasil perhitungan dillusion method dalam pengukuran air permukaan (terlampir)

5. Hasil perhitungan metode invers auger hole dalam pengukuran airtanah (terlampir)

6. Hasil perhitungan metode infiltrasi dalam pengukuran airtanah (terlampir)

7. Hasil pengukuran dan hasil proses sosial ekonomi

8. Sekuen medan jalur transek tim 6 KKL II (terlampir)

9. Kalender musim DAS Bompon, Magelang, Jawa Tengah (terlampir)

1. Pembahasan

Survei lapangan dalam analisis karakteristik suatu bentuklahan sangat penting


dilaksanakan. Survei lapangan dilakukan dengan melakukan pengamatan secara keseluruhan
terhadap bentuklahan yang akan diteliti. Survei jenis ini menggunakan pendekatan sintetik
dan tak lepas juga dari pendekatan parametrik dalam menganalisis geomorfologinya.
Pengukuran dan perhitungan langsung kenampakan bentuklahan menggunakan analisis

3
bentuklahan, antara lain analisis karakteristik tanah, pembuatan profil bentuklahan, analisis
potensi dan bahaya serta karakteristik aspek geomorfologi di lapangan.

Metode survei lapangan diawali dengan pengenalan wilayah kajian secara mendalam.
Deskripsi wilayah dilakukan dengan studi literatur beragam sumber terkait penelitian daerah
kajian terdahulu dan analisis kenampakan wilayah kajian dengan melakukan interpretasi
bentuk lahan menggunakan atribut pemetaan seperti foto udara wilayah kajian, peta geologi
daerah kajian, dan citra kenampakan wilayah yang mampu menggambarkan keterkaitan
aspek-aspek geomorfologi.Pengukuran proses dan hasil proses ini dilakukan di DAS
Bompon, Magelang, Jawa Tengah.

1. Analisis Gemorfologi dan Erosi Tanah DAS Bompon

1. Kondisi Geomorfologi DAS Bompon

DAS Bompon merupakan sub DAS Bogowonto yang meliputi Desa Margoyoso dan Desa
Wonogiri, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang. DAS Bompon merupakan
bentanglahan struktural vulkan yang berada diantara lembah antar gunungapi yakni,
Gunungapi Sumbing, Gunungapi Merapi, Gunungapi Merbabu, dan Pegunungan Menoreh.
Bentuklahan DAS Bompon meliputi puncak, lereng tas struktural, lereng bawah struktural,
lereng kaki struktural dan dataran koluvial. Morfologi DAS Bompon terdiri dari morfologi
perbukitan dengan ketinggian 500 mdpal 700 mdpal dan menjadi daerah tangkapan air
hujan di untuk wilayah yang ada di bawahnya. Ketinggian wilayah tersebut menyebabkan
curah hujan wilayah ini termasuk tinggi karena pada ketinggian tersebut secara klimatologi
merupakan titik pembentukan kondensasi maksimum.

Beberapa proses geomorfologi yang dominan terjadi di wilayah ini berupa hillslope
(longsor) dan erosi. Hillslope atau longsoran merupakan fenomena bergeraknya material
menuruni lereng karena pengaruh gravitasi. Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya
longsor yakni faktor dakhil, eksternal dan juga faktor pemicu. Faktor dakhil disebabkan oleh
kemiringan lereng yang tergolong datar hingga curam (0 % - 70%), tanah yang super tebal
200 m, tektur tanah yang didominasi lempung, faktor eksternal yakni penggunaan lahan yang
tidak tepat dengan penanaman bebrapa tanaman pada tempat yang tidak tepat dan faktor
pemicu meliputi curah hujan yang tinggi. Selain proses hillslope juga terdapat berbagai
proses erosi. Percikan hujan yang jatuh ke permukaan tanah akan memicu terjadinya erosi

4
percik, apabila tanah sudah jenuh akan menghasilkan aliran permukaan yang memicu
terjadinya erosi lembar yang kemudian terus berkembang membentuk erosi alur hingga gully.
Material hasil erosi ini akan di endapkan di lembah.

Proses hillslope yang intensif terjadi berupa longsor dipengaruhi oleh kemiringan lereng,
keadaan tanah super tebal, dengan beban massa yang tinggi dipicu adanya air hujan yang
mengalami pelumpuran dibawah yang menjadi bidang gelincir. Keberadaan massa yang berat
membebani tanah lalu memicu bergeraknya tanah perlahan-lahan kemudian terjadilah longsor
lahan. Vegetasi wilayah tersebut rapat namun, akar tumbuhannya tidak mampu menguatkan
struktur tanah karena, akar tumbuhan tidak mendapatkan pegangan yang kuat di dalam tanah
berupa bahan induk yang keras.

2. Pedogenesis DAS Bompon

Material tanah DAS Bompon disuplai dari material piroklastik gunung api di sekitarnya
yakni, Gunungapi Sumbing, Gunungapi Merapi, Gunungapi Merbabu, dan Gunungapi
Menoreh. Keberadaan material tanah pada DAS Bompon merupakan sumbangsih material
yang berasal dari gunungapi yang ada disekitarnya atau yang dikenal dengan material
piroklastik gunung api di sekitarnya. Material dasarnya berasal dari Gunungapi menoreh
masa lampau yang aktif pada masa tersier kemudian material di atasnya berasal dari material
Gunung Sumbing Tua dan Gunung Sumbing Muda. Banyaknya suplai material endapan
vulkanik menyebabkan tanah yang terbentuk di daerah ini tanah super tebal, hingga
kedalaman 300m belum ditemukan material keras/ batuan induk.

Gambar 2.1. Kenampakan tanah DAS Bompon yang tebal

5
(sumber: Lestari, 2016)

DAS Bompon dalam peta geologi termasuk kedalam formasi andesit tua, anggota dari
pegunungan Kulon Progo. Susunan arrangement, daerah ini berada dengan gunungapi
Sumbing tua dan Sumbing muda dan menjadi genesis dari tanah yang berada pada daerah ini.
Tatanan dalam ruang menjadi salah satu yang penting dalam menentukan pedogenesis.
Ketebalan tanah pada DAS Bompon disebabkan oleh endapan abu vulkanik dari kedua
gunung tersebut yang memiliki jarak yang relatif dekat. Hasil pelapukan dari Andesit Tua
Kulon Progo juga tidak bisa dilepaskan dari genesis tanah pada daerah ini.

Proses pembentukan tanah yang terjadi di DAS Bompon ini berupa pengurangan,
penambahan, translokasi dan transformasi. Proses pengurangan ini dipengaruhi proses
pelapukan, erosi, dan transportasi. Proses pelapukan yang terjadi berupa pelapukan fisik dari
pengaruh iklim dan cuaca, pelapukan biologis yang dipengaruhi hewan dan tumbuhan
maupun pelapukan kimiawi. Proses pelapukan ini akan memecah material tanah menjadi
material yang lebih kecil. Adanya percikan air hujan kemudian fragmen dan matriks tanah
yang telah mengalami pelapukan akan terlepas dari material utama yang disebut dengan
erosi.

Erosi pada DAS Bompon sangat intensif dikarenakan curah hujan sebagai agen utama
penyebab terjadinya pemecahan agregat tanah cukup tinggi, walaupun air bukan semata-mata
syarat terjadinya erosi. Keadaan yang jenuh akan menyebabkan terjadinya aliran limpasan
atau overlandflow dan membawa material hasil erosi ke daerah yang lebih rendah, sehingga
akan terjadi pengurangan material dihulu dan menambah material dibagian hilir.
Tertransportasinya material di permukaan akan menyingkap material di bawahnya, yang
kemudian material tersebut akan mengalami proses yang sama, sehingga proses pengurangan
material tanah akan terus berlangsung.

Proses penambahan tanah yakni proses bertambahnya material tanah. Proses


penambahan tanah terjadi dibagian lereng bawah yang merupakan wilayah deposisi hasil
proses erosi. Transportasi erosi akan dideposisikan di daerah lereng bawah karena tenaga
yang membawa material tidak mampu membawa lagi. Selain dari deposisi hasil erosi juga
merupakan hasil deposisi dari hasil hillslope. Proses penambahan material di daerah ini juga
dapat berasal dari material endapan jatuhan letusan gunung api. Proses penambahan material
tanah tidak selalu dari permukaan namun bisa berasal dari bawah permukaan tanah yakni
adanya proses pelapukan material induk tanah.

6
Proses pembentukan tanah berupa translokasi terjadi ketika debu dan lempung
dipermukaan tanah tertransport seiring adanya proses infiltrasi masuk ke bawah permukaan.
Partikel tanah pada proses translokasi juga melibatkan perpindahan senyawa kimia, namun
proses ini tidak terjadi di DAS Bompon karena perpindahan senyawa kimia ini terjadi di
daerah dengan iklim kering yang disebabkan adanya kapiler dari bawah ke atas. Air tanah
yang bergerak dari bawah menuju atas membawa senyawa kimia. Apabila pergerakan air
mendekati permukaan tanah air akan menguap dan meninggalkan senyawa kimia
dipermukaan tanah.Transformasi yang terjadi melibatkan berbagai rekasi kimia berupa
hidrolisis, oksidasi, dan reduksi. Proses ini biasanya berupa pemecahan senyawa kompleks
menjadi snyawa-senyaawa yang lebih sederhana.

3. Karakteristik Geomorfologi Jalur Transek

Analisis kenampakan bentuklahan yang dilakukan di DAS Bompon dilakukan


dengan beberapa sub analisis yaitu identifikasi karakteristik tanah, pembuatan profil
bentuklahan, identifikasi sosial ekonomi di wilayah kajian, perngukuran dan
perhitungan erosi yang terjadi di wilayah tersebut. Survei lapangan dilakukan dalam
satu daerah transek yang ditentukan dengan pertimbangan karakteristik medan.
Transek yang ditentukan memotong DAS Bompon bagian hilir, dengan titik awal
transek pada titik koordinat X 397660 Y 9164166 49S. Sudut transek 90 o ke arah
Barat dengan panjang transek sepanjang 105,78 m.

Hal yang bisa dilakukan dalam survei lapangan yakni pengukuran profil
sejalan titik transek (Gambar 2.2). Pengukuran profil dilakukan secara detail dengan
melakukan pengukuran tinggi beda lereng, panjang setiap segmen lereng, dan
pengukuran sudut kemiringan lereng. Profiling menggunakan peralatan yang berupa
yallon, abney level dan pita meter.

7
Gambar 2.2. Jalur Transek Tim 6 KKL II

Jalur profiling
mengikuti jalur transek dengan
memotong tegak lurus
medan disekitarnya,
apabila ditemukan
ketidaksesuaian
medan dilakukan
offside jalur dengan
menggunakan sudut
pembelokan 270o ke arah Timur. Penghalang yang ditemui ketika dilakukan profiling
di jalur transek berupa lembah curam dengan lereng hasil longsoran dan
kemiringannya sangat terjal, jalur yang demikian terlalu berbahaya untuk dilintasi.
Secara sederhana pengukurannya dapat diamati pada gambar 2.3. dibawah ini

Gambar 2.3. Metode pengukuran lereng (profiling), Marlin G., Cline et all. 1993

8
Perolehan pengukuran profil menunjukan kenampakan tiga segmen utama bentuklahan
dengan pengaruh genesis utama berupa wilayah bentukan struktural dengan material endapan
yang berasal dari aktifitas vulkanik. Segmen pertama merupakan lereng yang merupakan
kenampakan longsoran tua dengan tingkat aktifitas erosi ataupun creep land yang masif.
Longsoran di wilayah ini terlihat dari adanya perubahan teras lereng yang signifikan beda
tingginya.

Gambar 2.4. Kenampakan Translational Slide

(Sumber : Marlin G., Cline et all. 1993)

Terdapat dua teras bentukan yang terlihat seperti bagian longsor dengan sangat jelas.
Identifikasi longsor di wilayah ini juga terlihat dari keadaan vegetasi tingkat tinggi yang ada
di teras-teras tersebut yang terlihat menjorok berlawanan arah dengan arah hadap lereng, hal
ini menjadi karakteristik dari Translasional Slide , seperti yang dapat dilihat pada gambar 2.4
diatas.

Kenampakan longsor di wilayah ini terbagi menjadi beberapa bagian yang dapat
diamati. Terlihat mahkota longsor (crown) dengan luas area yang cukup sempit dengan
bentuk bibir atas lereng cekung,
kemudian terlihat bagian head slide dengan
tinggi main scarp sekitar 5 meter dengan
scarp lanjutan (minor scarp) berkisar 3
meter. Badan longsor terlihat pada
segmen selanjutnya, segmen
dibedakan karena kenampakan lahan yang jelas berbeda. Teras di segmen dua lebih luas
areanya daripada segmen pertama dengan adanya sekali perbedaan beda tinggi lereng yang

9
relative kecil, yaitu berkisar 0,48 m. Peralihan sub hill yang terlihat bisa dikatakan bahwa
wilayah ini masih termasuk dalam longsor tua diatasnya, namun energy pembentuknya
merupakan energy sisa longsor diatasnya (longsor lanjutan). Keterkaitan antara segmen satu
dan dua akan dianalisis lebih lanjut dengan analisis karakteristik tanahnya, karakteristik
tutupan lahan (ground cover) dan karakteristik proses yang bekerja di wilayah ini.

Gambar 2.5. Kenampakan mahkota longsor

(Sumber : Lapan.go.id)

Kenampakan lereng di segmen satu dan dua menghasilkan bentuk lereng cembung
dengan tingkat kemiringan lereng yang cukup terjal di segmen satu (27,73 o) dan tergolong
datar di segmen dua (4,76o). Lereng di segmen satu terjal dengan beda tinggi lereng yang
relative tinggi berkisar 9,9 m dengan panjang lereng 23,46 m. Keberadaan teras-teras kecil
bagian head slide di segmen satu mempermudah aksesbilitas survei meskipun lereng di
bagian ini tergolong terjal. Berbeda dengan segmen satu, lereng di segmen 2 tergolong datar
dengan beda tinggi lereng berkisar 3 meter dengan panjang lereng 36,264 m. Kenampakan
segmen satu dan dua menghasilkan adanya beberapa proses eksogen yang berbeda,
begitupula dengan keberadaan tutupan lahan diatasnya.

Gambar 2.6. Bagian lereng dengan morfografi datar dan termasuk kaki longsoran
yang sudah stabil

10
( Sumber : Aprilia, 2016)

Soil Survei di jalur transek juga dilakukan di segmen satu dan dua. Survei tanah
dilakukan dengan tujuan mengidentifikasi karakteristik tanah dalam keadaan statis (Soils
Bulletin, 1967). Survei tanah mendeskripsikan karakteristik tanah yang ada diare tersebut,
mengklasifikasikan tanah yang ada sesua dengan standar sistem klasifikasi, memberikan
tanda batasan tanah pada peta (dalam kajian ilmu pemetaan tanah) dan memprediksi proses
yang terjadi. Analisis survei tanah digunakan untuk membantu mengembangkan rencana
penggunaan lahan, mengevaluasi dan memprediksi dampak apa saja yang akan ditimbulkan
dari keberadaan penggunaan lahan apa yang akan terjadi (Marlin G., et all, 1993).

Survei tanah yang dilakukan dengan mengamati perlapisan horison tanah diperoleh
dari tanah hasil bor ataupun pengamatan singkapan tanah. Data bor yang dibutuhkan pada
satu unit lahan sebenarnya berjumlah minimal 2 titik bor dengan 7 jumlah bor optimal,
namun dari survei tanah di wilayah transek dilakukan dengan hanya mengebor dua kali setiap
unit lahan yang dianalisis. Satu data bor dengan tujuan pengambilan sample tanah untuk uji
laboratorium dan satu titik bor untuk perbandingan dengan titik awal. Jumlah bor minimal
ditujukan untuk mengecek apakah setiap bagian unit lahan tersebut memiliki horizon tanah
yang sama atau tidak, apabila sama maka tidak dilperlukan pengambilan sampel lagi di titik
tersebut.

Segmen satu dilakukan dua titik bor dengan pengambilan sampel tanah di titik
pertama. Diperoleh informasi karakteristik fisik tanah yang berupa warna per horizon, tekstur
tanah, dan struktur tanah. Segmen pertama memiliki empat horizon tanah dengan tekstur
tanah berupa lempung bergeluh di semua horizon. Horison pertama di semua segmen

11
memiliki kandungan bahan organic yang sangat tinggi. Horizon kedua pada sampel tanah di
segmen pertama memiliki ketebalan yang tebal yaitu berkisar 84 cm dengan warna dark
brown. Horison kedua apabila dilihat dari warna akan sama akan diklasifikasikan sama
dengan horizon ketiga, namun apabila diamati dari bentukan strukturnya sepanjang 40 cm
lapisan terbawah memiliki tektur yang lebih padat daripada diatasnya, sehingga 40 cm
dibawahnya sementara digolongkan dalam horizon yang berbeda. Horizon kedua dan ketiga
juga memiliki kandungan bahan organic yang relative tinggi meskipun lebih rendah daripada
horizon pertama. Horizon ketiga memiliki kandungan BO yang lebih tinggi daripada horizon
kedua, hal ini bisa dikatakan bahwa perkolasi air di wilayah ini cukup tinggi dan terendapkan
di horizon 3. Keberadaan BO membuat air perkolasi menjadi reaktif dan secara maksimal
memindahkan hampir semua basa pada lapisan tanah di bawah horizon A dan membentuk
horizon E (Sartohadi, 2014). Atas dasar teori tersebut maka dapat dikatakan bahwa segmen 1
memiliki horizon O, A, E dan B (Gambar 2.7).

Gambar 2.7. Sketsa Hasil Bor Tanah ,A) Segmen 1, B) Segmen 2 dan C) Segmen 3

12
A B C

(Sumber : Marlin G., Cline et all. 1993)

Analisis karakteristik fisik di segmen pertama didukung dengan hasil uji karakteristik
kimia sampel bor di segmen ini. Uji karakteristik kimia tanah dilakukan dengan
mengidentifikasi pH actual dan pH potensial, kandungan Fe dan Mn, dan juga analisis
drainase di wilayah tersebut. pH actual menunjukan keasaman tanah berdasarkan konsentrasi
H+ sedangkan pH potensial merupakan pH yang terdapat di koloid tanah. pH actual setiap
horizon tanah di segmen satu menunjukan nilai antara 5-6, hal ini menunjukan tanah yang
asam. pH paling tinggi dimiliki oleh horizon E dengan nilai 6 (pH actual), menunjukan
kandungan BO yang sudah terendapkan hasil pemindahan semua basa pada lapisan tanah A
(Sartohadi, 2014). Keasaman tanah normal yaitu pH antara 6,5 3,5 dengan karakteristik
ketersediaan unsur hara tanah yang cukup lengkap. pH normal biasanya
tidak memiliki banyak kandungan Fe dan Mn didalamnya , sehingga cocok
untuk pertumbuhan tanaman (segmen satu hanya mengandung Fe dan Mn di
horizon O). Drainase di segmen satu tergolong baik di setiap horison.

Karakteristik tanah berikutnya yaitu tanah di segmen dua dengan


dua titik bor pengamatan. Pengambilan sampel dilakukan di titik bor pertama. Pengamatan
karakteristik tanah di segmen kedua dikaitkan dengan adanya hipotesis munculnya perlapisan
hasil erosi singkapan hasil longsor segmen pertama, dimana di singkapan tanah yang tererosi
adalah tanah horizon B. Adanya erosi tanah horizon B terlihat dari material yang tererosi
pada saluran erosi lembar dan rill erosion yang berupa tanah argilik. Tanah Argilik
merupakan horizon endopedon dengan karakteristik berupa selimut lempung yang melapisi

13
agregat tanahnya. Horison Argilik merupakan horizon hasil proses illuviasi (perpindahan
material yang memasuki bagian profil tanah) dengan ketebalan tanah >7,5 cm (Sartohadi,
2014). Horison B merupakan horizon yang bersifat paling basa dari horizon sebelumnya
dengan ukuran partikel lebih halus.

Gambar 2.8. Erosi Alur (Aprilia, 2016)

Hipotesis keberadaan horizon argilik yang menutupi lapisan atas tanah di segmen dua
diuji dengan analisis lapisan horizon hasil bor tanah di titik tersebut. Perolehan warna tanah

14
setiap horizon hampir sama dengan segmen pertama yaitu dominansi warna dark brown
dengan chrome dan value yang berbeda. Horison pertama memiliki warna paling gelap yang
menunjukan horizon ini adalah horizon O. Warna gelap menunjukan adanya kandungan BO.
Horison dua dan tiga pada segmen ini juga memiliki kandungan BO dengan kadar yang lebih
rendah daripada horizon pertama (teramati dari banyaknya gelembung yang ditimbulkan).
Warna horizon dua dan tiga hampir sama, namun horizon tiga memiliki value yang lebih
tinggi. Analisis warna tanah bisa juga digunakan untuk identifikasi kandungan basa dalam
tanah dan kandungan Fe dan Mn dalam tanah. Semakin gelap tanah biasanya BO tinggi
dengan kandungan Fe dan Mn dan memiliki pH yang lebih rendah dari pH lapisan yang
memiliki BO lebih rendah, namun pada horizon di segmen dua, hasil yang diperoleh berbeda
dengan teori global.

Kandungan BO di segmen dua tinggi di horizon pertama kemudian berkurang di


horizon di bawahnya, namun pH yang dimiliki justru semakin rendah dari horizon pertama
sampai ketiga. pH horizon pertama 6 dan pH horizon ketiga adalah 5. pH lapisan atas lebih
tinggi menunjukan sifat basa yang lebih tinggi dengan kandungan BO yang tinggi pula.
Struktur tanah di horizon-horison pada segmen dua menunjukan tanah yang lebih stabil
dengan agragat-agregat tanah yang lebih baik ikatannya. Karakteristik ini dapat digunakan
sebagai pertimbangan uji analisis hipetesis adanya lapisan argilik di horizon atas, keberadaan
pH yang tinggi dengan kandungan BO yang tinggi pula sementara sudah mendukung
kebenaran hipotesis yang diajukan. BO tinggi pada horizon pertama di segmen dua bisa
dianalisis sebagai hasil endapan material erosi singkapan longsor yang berasal dari segmen
satu, namun bisa juga berasal dari pelapukan seresah pepohonan (dibuktikan dengan
kandungan Fe dan Mn dalam horizon-horison di segmen dua). Perlu diadakan penelitian lebih
lanjut dengan analisis yang lebih mendalam untuk menguji kebenaran hipotesis tersebut.

Hasil identifikasi karakteristik tanah di segmen satu dan dua menunjukan adanya
banyak keterkaitan antara karakteristik fisik dan kimia tanah, proses yang bekerja di wilayah
tersebut dan analisis genesis bentukan segmen, maka dapat dikatakan bahwa segmen satu dan
dua berada pada satu bentuklahan yang sama dengan genesis penggal lereng yang dahulunya
sama. Bentuklahan segmen satu dan dua adalah diklasifikasikan dalam lereng tengah igir
DAS Bombon di bagian hilir. Wilayah ini berasal dari bentukan peristiwa longsoran tua
dengan proses eksogen gerak massa (creep, erosi percik, lembar dan alur) yang masih
dinamis sampai saat ini. Vegetasi tutupan lahannya pun sama dengan penggunaan lahan

15
berupa kebun campuran dengan sistem tanam tumpang sari. Vegetasi tutupan berupa talas,
sengon, kokosan, mahoni, singkong dan bambo.

Analisis berikutnya adalah pada segmen ketiga dengan kenampakan dominan yang
berupa lembah curam bentukan longsor muda. Keberadaan longsor muda terlihat dari
kenampakan lereng dengan tanah yang belum stabil. Masih terjadi aktifitas pergerakan tanah
berupa rayapan di wilayah ini. Rayapan yang terjadi dipicu oleh kebeeradaaan lereng yang
curam dengan medan gelincir hasil longsoran translasional Keberadaan vegetasi diatasnya
juga memicu terjadinya pergerakan rayapan tanah di wilayah tersebut. Vegetasi bamboo
dengan beban massa yang cukup tinggi dan jumlah yang cukup banyak meningkatkan potensi
terjadinya longsor di wilayah ini. Kemiringan lereng (70,48 o) di bagian lembah ini memiliki
panjang lereng 14,75 m dengan beda tinggi sebesar 13,99 m.

Terdapat kenampakan khusus yang terlihat pada lembah tersebut yakni munculnya
mata air tepat dibawah lereng lembah tersebut yang dapat dilihat pada gambar 2.9.
Keberadaan mata air mengidentifikasi bahwa keterdapatan tekuk lereng. Tekuk lereng yang
memotong aliran akuifer akan menghasilkan aliran mata air di kawasan tersebut. Mata air di
lereng tersebut digunakan warga sekitar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, biasanya
digunakan untuk mencuci dan mandi. Debit aliran mata air tersebut cukup tinggi sehingga
dapat dimanfaatkan dalam jumlah yang cukup. Keberadaan aktifitas mencuci dan mandi di
mata air ini bisa saja mencemari kualitas mata air yang dihasilkan, namun perlu dilakukan
penelitian lanjutan untuk memastikan hipotesis ini karena uji kualitas air membutuhkan
penilaian kuantitatif kandungan apa saja yang ada didalamnya.

Pengelolaan mata air di lereng tersebut dilakukan secara teknis dengan membangun
bak tampungan air secara permanen. Pembangunan bak tampungan tepat dibawah mata air
akan menimbulkan masalah apabila terdapat kemungkinan terdapatnya saluran akuifer lain
yang tertutupi oleh bak penampungan. Permasalahan yang akan muncul berupa longsor
lanjutan di wilayah tersebut akibat desakan aliran akuifer yang mencari jalur keluar dengan
tenaga aliran yang cukup besar.

16
Gambar 2.9. kenampakan mata air pada lereng bawah

(Sumber : Mim, 2016)

Pembangunan bangunan permanen pada menghasilkan longsoran karena karakteristik


tanah yang ada di wilayah ini dengan jenis materialnya yang berupa lempung bergeluh.
Lempung memiliki kemampuan membentuk bidang gelincir dalam keadaan yang sangat
jenuh. Selimut lempung (cutan) merupakan salah satu karakteristik lempung yang
mempermudah terjadinya longsor. Keberadaan potensi longsor di wilayah ini seharusnya
diikuti dengan pengelolaan potensi mata air dengan baik. Pembangunan bak penampung
diperbolehkan dengan syarat tidak dibangun tepat di tekuk lereng, bak dapat dibangun agak
jauh dibawah mata air tersebut dengan harapan terjadinya aliran mata air itu terlebih dahulu
tidak akan menghambat munculnya mata air lain di wilayah tersebut.

Uji karakteristik tanah di segmen tiga di lakukan dibagian atas lereng tersebut.
Dilakukan satu kali pengeboran di wilayah tersebut, hal ini dikarenakan kenampakan fisik
tanah yang sudah sangat seragam di wilayah ini, tanahnya sudah sangat mampat dengan

17
kekerasan tanah yang tinggi. Hasil bor tanah di wilayah ini menghasilkan tiga horizon dengan
karakteristik warna yang lebih gelap di bagian bawah (horizon ketiga). Horison pertama
justru memiliki warna yang lebih terang. Keberadaan BO di wilayah ini juga berbeda karena
BO di horizon pertama justru lebih rendah daripada di lapisan kedua (terlihat dari uji
kualitatif langsung di lapangan, perlu dilakukan uji laboratorium untuk analisis lebih lanjut).
Keadaan yang demikian ternyata disebabkan oleh adanya factor pembentuk lahan tersebut
yang ternyata merupakan lahan hasil pemotongan lereng diatasnya, sehingga apabila
dikontruksi menurut kenampakan warna tersebut dihasilkan hipotesis bahwa horizon pertama
di segmen ini sudah merupakan horizon A dengan horizon kedua yang berupa horizon E. Hal
ini dikarenakan BO jauh lebih tinggi di horizon kedua dengan sifat yang basa, sedangkan
untuk horizon ketiga sudah memasuki horizon B. Warna horizon pertama lebih terang
daripada horizon dibawahnya dikarenakan sudah terjadinya pelarutan kandungan BO menuju
ke horizon E (illuviasi), sehingga warnanya jauh lebih terang (BO mempengaruhi gelapnya
tanah). Tanah dengan sedikit seresah juga menjadi alasan lain kenapa di wilayah ini tidak
memiliki horizon O diatasnya.

Kandungan Fe dan Mn di segmen tiga hampir sama dengan yang berada di segmen
kedua, Fe dan Mn di kawasan ini cukup tinggi dengan konsentrasi tertinggi di horizon kedua
(diperoleh dari uji kualitatif langsung dilapangan, perlu adanya uji laboratorium untuk
memastikan kebenaran). Kandungan Fe dan Mn memberikan pengaruh yang kurang baik di
wilayah ini. Fe dan Mn menjelaskan tanah yang masam dengan tingkat kesuburan yang
kurang baik, terbukti dengan adanya variasi vegetasi tutupan di lahan ini yang relative
sedikit, hanya terdapat begetasi bamboo yang mendominasi. Bambu dapat tumbuh di
kawasan ini karena dukungan sumber air yang mencukupi, terlebih keberadaan mata air yang
mengalir. Bambu merupakan vegetasi yang membutuhkan manyak air dalam
perkembangannya, sedangkan untuk kebutuhan unsur hara tidak terlalu dipermasalahkan
dalam perkembangannya.

Karakteristik tanah dan lereng di segmen satu, dua, dan tiga mempengaruhi
keberadaan vegetasi dan proses geomorfologis yang terjadi disana, Tanah di segmen satu dan
dua serupa keberadaannya dengan jenis horizon yang sama tergolong dalam satu jenis bentuk
lahan yang sama, yaitu meruipakan lereng tengah dari sebagian igir hilir DAS Bompon
bagian Timur. Sudah dijelaskan sebelumnya bahwa di segmen satu dan dua dihasilkan jenis
penggunaan lahan yang berupa kebun campuran dengan teknik konservasi berupa penanaman
tumpang sari di bagian segmen kedua. Tumpang sari merupakan salah satu teknik penanaman

18
vegetasi secara bergantian dalam jarak tertentu. Tumpang sari yang dengan jelas terlihat di
segmen dua adalah adanya penanaman pohon karet dan tanaman empon-empon, sedangkan
tanaman lain seperti pisang, sengon, talas dan bamboo ditanam acak tanpa adanya ketentuan
tertentu.

Gambar 2.10. Penanaman ketela pohon yang diselingi dengan tumbuhan lainnya

(sumber : Mim, 2016)

Pengembangan vegetasi karet di segmen dua perlu dilakukan evaluasi lebih lanjut
karena ketentuan jarak penanaman belum memenuhi kriteria pengembangan karet. Latar
belakang pengetahuan masyarakat sekitar terhadap pengembangbiakan dan produksi tanaman
karet masih cukup rendah. Keberadaan tutupan lahan yang cukup rapat juga akan
menghambat pengembangan karet tersebut. Keterkaitan jenis vegetasi dan lahan dianalisis
dari unsur hara yang terkandung di dalamnya dan upaya konservasi lahan yang ada, ditinjau
dari kebiasaan masyarakat sekitar. Segmen satu dan dua lebih subur daripada segmen tiga,

19
segmen satu dan dua banyak ditemui vegetasi dengan produktifitas tinggi, sedangkan segmen
ketiga hanya didominasi oleh tanaman bamboo.

Segmen satu dan dua secara tidak disadari sudah dikonservasi masyarakat sekitar
dengan metode tumpang sari, sedangkan metode konservaasi di segmen ketiga secara tidak
langsung dilakukan masyarakat dengan menanam tanaman bambo. Konsenvasi di segmen
satu dan dua sudah cukup baik karena metode penanaman tumpang sari menahan laju erosi di
wilayah ini dengan cukup baik, meskipun demikian besaran erosi yang terjadi di kedua
segmen ini menghasilkan besaran nilai EDP (erosi yang diperbolehkan ; berdasarkan
perhitungan EDP metode Thompson = 1,4 m/tahun). Erosi yang terjadi di segmen satu di
dominasi oleh erosi pedestal (gambar 2.11) dan erosi lembar (dianalisis dari singkapan akar)
dengan besar perhitungan 873,3 ton/ha untuk erosi pedestal dan 278,375 ton untuk erosi
lembar (analisis singkapan akar). Segmen dua juga mengalami ragam analisis erosi yang di
dominasi oleh perkembangan erosi alur, dihasilkan perhitungan erosi alur dengan volume
kehilangan tanah 190,33 ton/ha. Jumlah kehilangan tanah di segmen satu dan dua ini
diklasifikasikan dalam dalam kelas IV (tergolong tererosi berat).

Gambar 2.11 Erosi Percik yang berbentuk Pedestal

(Sumber : Lestari,2016)

Erosi yang terjadi di segmen tiga mengalami perkembangan erosi yang lebih tinggi
tingkatannya daripada segmen satu dan dua, segmen ketiga menghasilkan erosi alur dan erosi
parit yang cukup masif, selain itu erosi pedestal dan lembar di wilayah ini juga masih banyak

20
ditemukan. Besaran erosi pedestal di area ini angka 46,7 ton/ha (kelas II/rendah), sedangkan
erosi lembar yang masih terlihat memiliki besaran nilai kehilangan tanah sebesar 325,32
ton/ha (kelas IV/berat). Pengukuran erosi rill yang sudah berkembang menjadi erosi parit
menghasilkan angka sebesar 619,89 ton/ha dengan klasifikasi termasuk kelas V (sangat
berat). Hasil perhitungan itu menunjukan potensi kehilangan tanah di wilayah ini lebih besar
daripada segmen-segmen sebelumnya. Hal ini dikarenakan jenis tanah yang kurang stabil
dengan belum adanya upaya konservasi yang dilakukan di area tersebut.

4. Potensi dan Ancaman DAS Bompon

DAS Bompon yang meupakan bentuklahan berupa struktural-vulkanik,


memiliki potensi wisata gunung yang bisa dijadikan objek wisata dan edu-wisata
dengan seluruh rahasia alamnya yang belum semua diteliti. DAS Bompon dengan
elevasi yang tinggi, lereng terjal, dan iklim yang dingin menjadi daerah yang subur
dan sangat cocok untuk perkebunan dan pertanian. Beraneka ragam jenis vegetasi
dapat tumbuh subur di lingkungan DAS Bompon diantaranya yaitu pohon duku,
kokosan, kelapa, karet, durian dan sebagainya dapat pula dijadikan pusat agrowisata
terutama ketika senja menjelang, daerah ini menjadi daerah yang sangat indah
(Gambar 2.12)

Gambar 2.12. Keindahan DAS Bompon yang dapat dijadikan potensi wisata
dengan tata kelola yang lebih baik

21
(Sumber : Lestari 2016)

Jenis-jenis vegetasi yang ada ini dapat dilihat dari penggunaan lahan
masyarakat sekitar yang didominasi oleh kebun campuran (Gambar 2.13). Penting
diketahui bahwa hakikatnya ketika suatu lahan bisa ditumbuhi durian dengan baik
berarti menandakan tanaman lain dapat tumbuh dengan sempurna juga. Hal ini dapat
disebabkan oleh genesis tanah DAS Bompon yang berasal dari endapan vulkanik
sehingga sangat subur.

Seiring dengan adanya potensi pada bentuklahan struktural-vulkanik, ditemui


pula ancaman. DAS Bompon merupakan lahan yang tidak stabil dengan adanya
gerakan massa seperti rayapan, dan longsor. Hal ini dikarenakan adanya beda elevasi
tinggi pada area yang sempit (Srijono, dan Husein, 2013) dan ditambah tanah di DAS
Bompon yang super tebal (>2 meter).

Gambar 2.13. Kebun campuran yang ada di DAS Bompon sebagai salah satu
bentuk konsevasi tumpangsari

22
(Sumber : Lestari,2016)

Potensi longsor dapat ditemukan pada daerah yang memiliki tanah yang tebal
dengan tekstur berupa lempungan. Bahaya ini dapat dilihat dari hasil profiling yang
menyatakan bahwa daerah transek hampir semuanya memiliki tingkat erosi yang berat
dan ditemui beberapa mataair dan rembesan yang menjadi penciri utama daerah yang
patut diwanti-wanti akan terjadi longsor. Longsor pada DAS Bompon juga dapat
dipicu dari perkembangan gully pada daerah lereng atau tebing yang menyebabkan
masuknya air kedalam agregat tanah sehingga mempercepat terjadinya pelumpuran.
Keberadaan gully dan perkembangannya juga memiliki peran dalam menyebabkan
longsor.

Gambar 2.14. Gully

23
Selain bahaya longsor, DAS Bompon juga mengalami berpotensi mengalami
kekeringan arena kekurangan air saat musim kemarau. Hal ini disebabkan oleh tanah
yang tidak bisa menyimpan air pada saat musim penghujan dengan sifat lempungan
yang dimilikiya. Air akan masuk pada akuiklud yang tak cukup baik dalam
menyimpan airtanah sehingga saat musim kemarau tiba, kekeringan kerap melanda
daerah ini. Lahan pertanian bahkan hanya dapat digunakan satu kali panen dengan
kondisi yang seperti ini. Ketika musim kemarau DAS Bompon yang mengalami
kekurangan air harus mendatangkan air dari DAS sekitarnya.

DAS Bompon yang memiliki ketinggian diatas 300 mdpal hingga 700 mdpal
menjadi titik kondensasi yang sempurna bagi pembentukan hujan. Alasan inilah yang
kemudian menyebabkan saat musim hujan daerah ini memiliki curah hujan yang
tinggi hingga bisa dijadikan sumber bagi sawah tadah hujan. Kekurangannya DAS
Bompon juga kerap mengalami kejadian klimatologis yang berbahaya seperti petir
yang apabila mengenai manusia akan berdampak fatal terhadap kehidupan. Hal ini
diperparah dengan mayoritas pekerjaan masyarakat yang membuat gula jawa
menggunakan aren. Pohon kelapa dengan bentuk morfologinya sering menjadi
sasaran bagi petir untuk menyambar karena akumulasi elektronnya. Hal ini sering
membawa korban bagi masyarakat di daerah tersebut.

Gambar 2.15. Bahaya Longsor yang kerap terjadi pada DAS Bompon

24
(Sumber : Lestari, 2016)

Penanggulangan yang dapat dilakukan untuk mengatasi ancaman longsor dan krisis
air di DAS Bompon yakni dengan melakukan konservasi air dan tanah yang terintegrasi.
Konservasi air dan tanah ini hanya dilakukan di area yang produktif dan area yang akan
memberikan efek besar ke masyarakat jika terjadi bencana agar menjadi konservasi yang
efektif dan efisien. Teknik konservasi yang digunakan dapat berupa penggunaan metode
vegetatif yaitu dengan menggunakan seresah sebagai mulsa dan penanaman metode strip
yang dilakukan searah dengan kontur. Teknik konservasi yang dapat ditemukan pada DAS
Bompon yakni rorak yang berfungsi untuk menampung air dan seresah daun. Hal ini akan
efektif karena memperkecil overlandflow sehingga erosi dapat ditekan kerusakannya. Selain
itu dapat diberikan jala sabut kelapa (jalapa) pada lereng bagian atas agar jalapa efektif tidak
dirusak oleh rayap. Digunakannya jalapa ini berfungsi untuk memperkasar permukaan dan
mencegah tanah permukaan untuk tererosi sehingga menjaga massa tanah.

Gambar 2.16. Penggunaan Jalapa dalam upaya konservasi tanah akibat erosi

(Sumber : Lestari,2016)

Penggunaan jalapa sebagai bagian dari konservasi geotekstil juga memiliki kelemahan
didaerah ini. Jalapa akan menunjukkan hasl yang lebih baik lagi pada lahan dengan curah

25
hujan sedang ke bawah, sehingga pelapukan Jalapa dan habitat rayap dapat diatasi.
Konservasi tanah dan air yang terintegrasi dalam konservasi dapat dilakukan dengan
mengurangi infiltrasi air ke tanah guna mencegah longsor sekaligus membuat konservasi air.
Cara yang digunakan dalam konservasi ini yaitu dapat dibuat bak penampungan dengan
menerapkan teknik ABSAH (Akuifer Buatan Simpanan Air Hujan). Penerapan ABSAH maka
akan mengurangi air masuk ke tanah yang membuat bidang gelincir sehingga mengurangi
potensi longsor sekaligus menanggulangi kekurangan air saat musim kemarau.

2. Pengukuran Proses dan Hasil Proses Hidrologi

1. Air Permukaan

Suatu pengelolaan sumber daya air guna perancangan bangunan air diperlukan
informasi yang menunjukan jumlah air yang akan masuk ke bangunan tersebut dalam
satuan waktu yang dikenal sebagai debit aliran. Informasi mengenai besarnya debit
aliran sungai membantu dalam merancang bangunan dengan memperhatikan besarnya
debit puncak (banjir) yang diperlukan untuk perancangan bangunan pengendalian
banjir dan juga dilihat dari data debit minimum yang diperlukan untuk pemanfaatan
air terutama pada musim kemarau. Adanya data debit tersebut dapat menjadi acuan
untuk pengendalian air baik dalam keadaan berlebih atau kurang sebagai usaha
mengurangi dampak banjir pada saat debit maksimum dan kekeringan atau defisit air
pada saat musim kemarau panjang.

Penentuan debit sungai dapat dilaksanakan dengan cara pengukuran aliran dan
cara analisis. Pelaksanaan pengukuran debit sungai dapat dilakukan secara langsung
dan cara tidak langsung, yaitu dengan melakukan pendataan terhadap parameter alur
sungai dan tanda bekas banjir. Dalam hidrologi masalah penentuan debit sungai
dengan cara pengukuran termasuk dalam bidang hidrometri, yaitu ilmu yang
mempelajari masalah pengukuran air atau pengumpulan data dasar untuk analisis
mencakup data tinggi muka air, debit dan sedimentasi.

Teknik pengukuran debit aliran langsung di lapangan pada dasarnya dapat


dilakukan melalui empat katagori ( Gordon et al., 1992):

1. Pengukuran volume air sungai

26
2. Pengukuran debit dengan cara mengukur kecepatan aliran dan menentukan luas
penampang melintang sungai.
3. Pengukuran debit dengan menggunakan bahan kimia ( pewarna) yang dialirkan dalam
aliran sungai (substance tracing method).
4. Pengukuran debit dengan membuat bangunan pengukuran debit seperti weir ( aliran
air lambat) atau flume ( aliran cepat).

Beberapa cara pengukuran kecepatan arus aliran sungai (debit) yang


digunakan pada penelitian hidrologi KKL II di wilayah DAS Bompon adalah sebagai
berikut ini.

1. Pengukuran debit dengan metode pelampung

Metode ini termasuk dalam pendekata velocity area method, selain


menggunakan current meter. Metode pelampung digunakan mengetahui debit dengan
tingkta ketelitian cukup rendah karena hanya memberikan gambaran kasar tentang
kecepatan aliran di permukaan air tanpa mempertimbangkan aspek morfometri sungai
dan turbulensi aliran secara vertikal.

Prinsip pengukuran menggunakan metode pelampung adalah dengan mencari


besaran waktu yang diperlukan pelampung untuk bergerak pada jarak tertentu dengan
mencari kecepatan rata-rata pada beberapa kali percobaan.

Gambar 2.17. Pengukuran debit dengan metode pelampung


(sumber: Analisis Hidrologi, Sri Harto Br., 1983)

27
Tabel 2.1. Data pengukuran debit di Kalisari, DAS Bompon berdasarkan metode
pelampung
Pengukuran 1
Segmen 1

V (m/s)
No V (m/s) d h k A(m) Q (m/detik)
t (detik) s (m)

1 19.75

2 24.15 7.67 0.356578 10 5.8 0.58 0.73541 0.2905 0.076178136

3 20.63
t 21.51
Segmen 2
V (m/s)
No V (m/s) d h k A(m) Q (m/detik)
t (detik) s (m)

1 16.38

2 18.21 7.67 0.440889 10 5.8 0.58 0.73541 0.2656 0.086116554

3 17.6
t 17.39667

Pengukuran 2
Segmen 1
V (m/s)
No V (m/s) d h k A(m) Q (m/detik)
t (detik) s (m)
1 28
2 24 7.58 0.299211 12 7.2 0.6 0.7216 0.3456 0.074618605
3 24
t 25.33333
Segmen 2
V (m/s)
No V (m/s) D h k A(m) Q (m/detik)
t (detik) s (m)
1 18
2 21 7.58 0.372787 12 7.2 0.6 0.7216 0.3888 0.104588373
3 22
t 20.33333

Berdasarkan perhitungan diatas maka diperoleh debit yang memiliki rentang


nilai 0.07-0.1 m3/detik, hal ini menunjukkan bahwa debit Kalisari setara dengan 252-

28
360 m3/jam yang jika dianalogikan menggunakan galon (per galon 19L) maka
terdapat 13-19 galon per jam yang menunjukkan bahwa aliran ini cukup cepat
sehingga memiliki potensi erosi yang cukup besar terhadap dinding sungai. Metode
pelampung meskipun tergolong sederhana namun cukup sensitif terhadap ganggguan
pembelokan arus sungai, adanya penghalang berupa vegetasi atau objek lainnya dan
gerakan dari angin maupun riak atau gelombang sehingga pengukurannya perlu
dilakukan beberapa kali meski demikian metode ini dinilai cukup baik untuk
menunjukkan debit aliran yang laminer.

2. Pengukuran debit dengan Slope Area Method

Prakiraan besarnya debit dengan metode ini akan memberikan hasil yang
memadai apabila pemilihan badan air yang akan diparakirakan kecepatan airnya
memeliki aliran yang relatif seragam. Artinya lebar dan kedalaman aliran, kecepatan
aliran, kedalaman dasar sungai dan kemiringan dasar permukaan sungai relatif
seragam atau tidak berubah secara mencolok (Asdak, 2002). Metode ini pada
dasarnya merupakan metode pengukuran debit secara tidak langsung dikarenakan
menghitung debit berdasarkan tanda bekas banjir, geometri sungai dan parameter fisik
alur sungai (morfometri sungai). Hitungan didasarkan pada rumus pengalira dapat
dengan rumus Manning atau Chezy, namun dalam pengukuran ini digunakan rumus
Manning, yaitu :

Q : debit sungai (m3/detik)


A : luas penampang basah (m2)
R : perbandingan luas penampang melintang basah
(A) dengan perimeter basah (p)
n : koefisien Manning
S : gradien permukaan air (slope)
V : kecepatan aliran rata-rata (m/detik)

29
Gambar 2.18. Pengukuran debit menggunakan slope area method
(sumber: www.distrodoc.com/5480-acara-pengukuran-debit)

Tabel 2.2. Data pengukuran debit dengan Slope Area Method

Pengukuran 1
s R V
s
n n R (m/detik) Q (m/detik)
beda tinggi jarak A p
n0 0.02 0.405 0.025 8.87 0.002818 0.5561 4.06 0.136970443 0.034601 0.019242
n1 0.005
n2 0.005
n3 0
n4 0.375
n5 1

Pengukuran 2
s R
n n s R V (m/detik) Q (m/detik)
beda tinggi jarak A p
n0 0.02 0.405 0.03 7.58 0.003958 0.7344 3.53 0.208045326 0.054255 0.039845
n1 0.005
n2 0.005
n3 0
n4 0.375
n5 1
Berdasarkan perhitungan diatas ketahui bahwa debit pada kedua pengukuran
berbeda, hal ini disebabkan adanya perbedaan gradien permukaan air atau slope yang

30
mempengaruhi, selain itu morfometri aliran sungai berkaitan dengan lebar, kedalaman
dan panjang segmen sungai juga mengakibatkan nilai tersebut berbeda. Metode ini
sesuai diterapkan untuk mengetahui bagaimana dasar sungai dan tipe aliran sungai
mempengaruhi aliran air yang terjadi melalui pengamatan terhadap vegetasi, jenis
tanah dan lain sebagainya (koefisien Manning) sehingga dapat diketahui faktor yang
dominan mempengaruhi debit pada alur sungai tersebut. Debit Kalisari berdasarkan
slope area method berkisar antara 0.019-0.039 m3/detik setara dengan 68.4-140.4
m3/jam. Hal ini menunjukkan perbedaan yang signifikan dengan hasil perhitungan
metode pelampung dimana terdapat selisih kurang lebih 30% atau 1:3. Apabila debit
yang dihasilkan berdasarkan pengukuran slope area method dianalogikan kembali
dengan galon maka hanya terdapat 4-7 galon per satuan jamnya sehingga angka ini
dinilai tidak rasional mengingat kondisis dilapangan air bergerak cukup cepat dengan
lebar sungai yang mencapai 3.3m maka dapat ditarik kesimpulan bahwa pengukuran
debit secara tidak langsung menggunakan metode ini dinilai tidak akurat dalam
merepresentasikan kondisi dilapangan karena dapat terjadi kesalahan dalam
menentukan koefisien Manningnya karena acuan yang digunakan tidak dapat
menggambarkan secara detail tingkat kerapatan vegetasi dalam luasan atau jenis
tanaman, tingkat variasi penampang melintang saluran, material dasar yang cukup
general (tanah, batu atau gravel) dan parameter lainnya yang bersifat subjektif atau
sangat bergantung pada pengamatan peneliti.

3. Pengukuran debit dengan Metode Larutan (Dillution Method)

Pengukuran debit dengan menggunakan bahan-bahan kimia, pewarna atau


radioaktif sering digunakan untuk jenis sungai yang aliran airnya tidak beraturan atau
turbulen. Menurut Church (1974) dalam Gordon et.al.,(1992) dalam Asdak (2002),
untuk maksud-maksud pengukuran hidrologi, bahan-bahan tersebut seyogyanya
dalam bentuk berikut :

1. Mudah larut dalam air

2. Bersifat stabil

3. Mudah dikenali dalam konsentrasi rendah

31
4. Tidak meracuni biota perairan dan tidak menimbulkan dampak negatif
yang permanen pada badan perairan

5. Relatif tidak mahal

Metode ini dilakukan pada sungai yang dangkal, berbatu dan memiliki derajat
turbulesi tinggi, perhitungannya didasarkan pada perbedaan konsentrasi ion yang
terkandung dalam air dan menggunakan alat Electric Conductivity Meter (EC Meter).
Dalam pengukuran digunakan garam dapur (NaCl) yang mudah dan tidak
berpengaruh terhadap biota air. Terdapat dua cara perhitungan yaitu constant injection
dan sudden injection denga rumus:

Q : debit aliran
q : debit garam
Co : konsentrasi garam di hulu
C1 : konsentrasi garam di hilir
C2 : konsentrasi larutan garam yang dituang
T : waktu (menuju konstan)

Dillution method merupakan metode yang sesuai untuk mengukur debit pada
aliran sungai yang kecil serta penampang aliran yang tidak homogen, metode yang
dapat digunakan pada pengukuran dilapangan yaitu sudden injection dikarenakan
masalah ketersediaan alat. Pengukuran dilapangan tidak dilakukan pada sungai yang
lebar melainkan pada aliran irigasi sungai ke area persawahan dan aliran dari mataair
yang terdapat disekitar Kalisari. Namun, pada pengukuran dilapangan di aliran irigasi
terdapat kesalahan data akibat jarak antara lokasi dituangkannya garam dengan lokasi
pembacaan EC Meter yang terlalu pendek berkisar 2m sehingga data yang terbaca
untuk mendapatkan nilai konstan sangat lah sedikit yang mengakibatkan data ini tidak
dapat diolah untuk menghasilkan grafik dhl sehingga hanya terdapat satu data yang
dapat diolah yaitu data aliran dari mataair sebagaimana ditampilkan pada tabel
berikut.

Tabel 2.3. Data pengukuran debit menggunakan Dillution Method (Sudden Injection)

32
waktu dhl waktu dhl waktu dhl waktu dhl waktu dhl
(detik) (mhos) (detik) (mhos) (detik) (mhos) (detik) (mhos) (detik) (mhos)
5 34.4 105 180 205 52.2 305 38.5 405 36.1
10 34.4 110 170 210 50.5 310 38.3 410 36
15 34.4 115 160 215 49.1 315 38.1 415 36
20 34.6 120 151 220 47.8 320 37.9 420 35.9
25 54.7 125 130 225 46.6 325 37.8 425 35.8
30 169.9 130 127 230 45.6 330 37.7 430 35.7
35 378 135 110 235 44.7 335 37.6 435 35.7
40 554 140 106 240 43.9 340 37.4 440 35.6
45 600 145 91.3 245 43.2 345 37.3 445 35.5
50 560 150 88.2 250 42.6 350 37.2 450 35.4
55 480 155 79.5 255 42 355 37.1 455 35.4
60 412 160 76.7 260 41.5 360 37 460 35.3
65 350 165 72.2 265 41.5 365 36.9 465 35.5

70 307 170 68.2 270 41.3 370 36.8

75 278 175 64.6 275 39.9 375 36.8

80 264 180 61.6 280 39.7 380 36.7

85 253 185 59 285 39.4 385 36.6

90 230 190 56.7 290 39.1 390 36.5

95 220 195 54.6 295 38.9 395 36.4

100 212 200 53.8 300 38.7 400 36.2

Diketahui bahwa C2 = 2380mhos, C1 = 120mhos, V = 0.6L dan T = 205detik

33
Q= x

Q= x

Q = 0,05L/detik

Hasil perhitungan diatas menunjukkan bahwa debit aliran mataair tersebut


termasuk dalam kelas VII menurut Meinter dengan rentang 10-100ml/detik yang
menunjukkan nilai ini cukup kecil, debit aliran mataair sendiri sangat dipengaruhi
oleh curah hujan dan luas area recharge. Berdasarkan hasil wawancara dengan
masyarakat sekitar Kalisari diketahui bahwa mataair di wilayah ini termasuk dalam
tipe pengaliran mataair musiman yang mana sangat bergantung pada curah hujan,
mataair ini mengalirkan air hanya pada musim penghujan. Maka diperlukan adanya
pengelolaan sumberdaya air yang tepat agar ketersediaan sumberdaya air ini dapat
dimanfaatkan secara optimal.

Beberapa mataair yang ada di wilayah DAS Bompon digunakan untuk


kebutuhan domestic dengan cara membangun telaga-telaga buatan yang menggunakan
bahan semen langsung pada mataair, hal ini dapat berakibat fatal mengingat potensi
longsor yang cukup besar di wilayah yang berbahaya bagi manusia maupun mataair
itu sendiri yang dapat tidak aktif apabila tertimbun material longsor. Oleh karena itu
pembangunan telaga perlu memperhatikan aspek hidrologi dan geomorfologi
sehingga telaga dibangun pada wilayah dengan tingkat kemiringan lereng rendah dan
aliran air dari mataair dibiarkan alami menuruni lereng lalu masuk kedalam telaga
atau penampungan air yang disediakan.

1. Airtanah

1. Infiltrasi

Infiltrasi adalah proses aliran air masuk ke dalam tanah sebagai akibat gaya kapiler
(gerakan air secara vertikal), dimana setelah lapisan tanah bagian atas jenuh, kelebihan air
tersebut mengalir ke tanah yang lebih dalam sebagai akibat gaya gravitasi bumi (proses
perkolasi) (Asdak, 2002). Gerakan air ke dalam tanah disebabkan oleh adanya gaya kapiler

34
dan gaya gravitasi, sehingga dalam pengukurannya, infiltrasi dianggap bergerak secara tegak
lurus ke arah bawah.

Infiltasi sangat dipengaruhi oleh faktor tanah, antara lain tekstur tanah, bulk density
atau kepapatan massa tanah, kesarangan tanah, bahan organik tanah, dan kadar air di tanah.
Faktor lain yang memengaruhi laju infiltrasi adalah topografi, kelembaban, dan tutupan
lahan. Kunci atau key point dalam melakukan sidik cepat pendugaan kecepatan infiltasi
secara kualitatif adalah berasal dari tekstur tanah, dengan catatan melihat secara vakum
dimana variabel lain yang mungkin berpengaruh dianggap memiliki pengaruh yang kecil.
Tanah yang memunyai tekstur lempung (clay) memiliki laju infiltrasi yang rendah karena
memiliki permeabilitas yang rendah, namun kapasitas penyimpanan air cukup besar
dikarenakan memiliki porositas yang tinggi. Hal itu lah yang menyebabkan tanah dengan
tekstur lempung (clay) sulit untuk meloloskan air sehingga laju infiltrasi rendah. Tanah yang
memunyai tekstur pasir (sand) memiliki laju infiltrasi yang cepat karena tanah dengan tekstur
pasir memilki permeabilitas yang tinggi, namun porositas yang rendah mengakibatkan
rendahnya kemampuan tanah dalam menjerap atau mengikat air. Hal itu mengkibatkan tanah
yang mempunyai teksut pasir memilki laju infiltrasi yang cepat karena cenderung untuk
meloloskan air kedalam akuifer.

Kepadatan tanah juga berpengaruh terhadap laju infiltrasi. Kepadatan tanah


menunjukan ukuran berat yang memerhitungkan volume tanah yang sangat ditentukan oleh
banyaknya pori maupun butir tanah padat (Buckman dan Brady, 1982). Tanah yang memiliki
kepadatan tinggi maka infiltrasi akan semakin kecil. Tanah yang ditutupi oleh tanaman pada
umumnya memiliki laju infiltrasi lebih besar dari pada permukaan tanah yang terbuka. Hal ini
disebabkan karena perakaran tanaman yang menyebabkan porositas tanah lebih tinggi,
sehingga air lebih banyak dan meningkat pada permukaan yang tertutupi oleh vegetasi, dapat
menyerap energy impuls hujan sehingga mampu memertahankan laju infiltrasi yang tinggi
(Serief, 1989).

Bahan organik tanah memunyai pengatuh terhadap laju infiltrasi. Bahan organik tanah
merupakan penimbunan, terdiri dari sisa organisme. Bahan organic berperan sebagai
pembentuk butir (granulator) dari butir-butir mineral yang menyebabkan terjadinya keadaan
gembur tanah. Daya menahan air dan ion-ion hara jauh lebih besar daripada tanah dengan
tekstur lempungan (Buckman dan Brady, 1982). Penurunan kandungan bahan organik
berakibat kurang terikatnya butir-butir primer menjadi agragat oleh bahan organik sehingga

35
porositas tanah menurun. Penurunan porositas tanah dapat berkibat pada penurunan laju
infiltrasi. Hal itu dipengaruhi pula dengan bentuk struktur tanah remah yang tidak mantap
sangat mudah hancur oleh gaya hantam air hujan menjadi butir-butiran halus yang
menyebabkan penutupan terhadap pori tanah, akibatnya laju infiltrasi terhambat dan aliran
permukaan meningkat.

Pengukuran laju infiltrasi biasanya menggunakan alat infiltrometer. Infiltrometer


meruapakan suatu tabung baja silindris pendek, berdiameter besar (suatu batas kedap) yang
mengitari suatu daerah dalam tanah. Infiltrometer konsentrik yang merupakan tipe biasa,
terdiri dari dua cincin konsentrik yang ditekan kedalam permukaan tanah. Kedua cincin
tersebut digenangi secara terus menerus untuk memertahankan tinggi yang konstan. Masing-
masing penambahan air untuk memertahankan tinggi yang konstan hanya diukur pada cincin
bagian dalam berupa waktu dan jumlah. Bagian luar digunakan untuk mengurangi pengaruh
batas dari tanah sekitarnya yang lebih kering karena jika tidak air yang berinfiltrasi dapat
menyebar secara lateral di bawah permukaan tanah (Subagyo, 1990).

Alat infiltrometer biasanya digunakan adalah infiltrometer ganda (double ring


infiltrometer) yaitu suatu infiltrometer silinder ditempatkan di dalam infiltrometer silinder
lain yang lebih besar. Infiltrometer silinder yang lebih kecil memunyai ukuran diameter
sekitar 30 cm dan infiltrometer yang besar memunyai diameter sekitar 50 cm. Pengaturan
hanya dilakukan pada silinder yang lebih kecil. Silinder yang lebih besar hanya digunakan
sebagai penyangga yang bersifat menurunkan efek batas yang timbul oleh adanya silinder
(Asdak, 2002).

Pengukuran dapat dilakukan secara constant head dimana pengukuran menjaga tinggi
muka air di ring infiltrometer agar tetap konstan pada interval waktu tertentu, dan falling
head dimana pengukuran dilakukan dengan menghitung penurunan air di ring infiltrometer
pada interval waktu tertentu.Pengukuran seringkali tidak hanya dilakukan pada bagian atas
tanah, tetapi juga pada tanah bagian bawah yang belum jenuh. Hal ini dilakukan agar hasil
pengukuran menghasilkan nilai infiltrasi mendekati nilai sesungguhnya.

Pengukuran pada lahan di Kalisari, DAS Bompon, Magelang, Jawa Tengah untuk
menyelidiki laju infiltrasi, dengan menggunakan alat infiltrometer berupa double ring
infiltrometer dengan menggunakan metode falling head. Berdasarkan pengukuran data yang
dihasilkan berupa:

36
Tabel 2.4. Hasil Pengukuran Infilrasi

No t (menit) h (cm) k No t (menit) h (cm) k

1 10 2.3 0.008701 11 110 1.5 0.138629436

2 20 2.2 0.008701 12 120 1.4 0.138629436

3 30 2.2 0.040547 13 130 1.4 0.248490665

4 40 1.9 0.028768 14 140 1.2 0.138629436

5 50 2 0.040547 15 150 1.4 -

6 60 1.9 0.087547 16 160 1.1 -

7 70 1.6 0.069315 17 170 1.1 -

8 80 1.7 0.087547 18 180 1.1 -

9 90 1.6 0.087547 19 190 1.1 -

Salah satu upaya pertama untuk menggambarkan proses infiltrasi dengan


menggunakan formula Horton yang dibuat oleh Horton pada tahun 1933. Metode ini
mengamati bahwa kapasitas infiltrasi berkurang dalam mode eksponensial dari, f0
(tingkat maksimum awal) hingga tingkat konstan (fc akhir). Berdasarkan formulasi
Horton, data turunan yang didapatkan berdasarkan data yang didapat di lapangan
yakni:

Tabel 2.5. Hasil Infiltrasi berupa data turunan

NO. fukur fduga10 9 0.16 0.16728


1 0.23 0.22489 10 0.16 0.16251
2 0.22 0.21532 NO. fukur fduga10
3 0.22 0.20654 11 0.15 0.15813
4 0.19 0.1985 12 0.14 0.15412
5 0.2 0.19112 13 0.14 0.15045
6 0.19 0.18436 14 0.12 0.14708
7 0.16 0.17817 15 0.14 0.14399
8 0.17 0.17249 16 0.11 0.14115

37
17 0.11 0.13856 19 0.11 0.134
18 0.11 0.13618

Berdasarkan formulasi Horton didapatkan bahwa laju infiltrasi ukur (f ukur)


dan laju infiltrasi duga ( f duga berada di 10 menit) relatif mendekati jika dilihat
berdasarkan grafik. Laju infiltrasi di lokasi kajian berkisar antara 0,1 0,225 mm/menit
(<1,5 mm/jam). Hal itu menunjukan bahwa laju infiltrasi di lokasi kajian tergolong
rendah. Berdasarkan klasifikasi laju infiltrasi oleh Rickard dan Cossens (1966) bahwa
dengan laju infiltasi < 1,5 mm/jam, maka termasuk kedalam klas 0 yakni sangat rendah
tingkat infiltrasinya.

Tabel 2.6. Klas Infiltrasi oleh Rickard dan Cossens (1966)

Klas Klasifikasi Laju infiltrasi (mm/jam)

0 Sangat rendah Kurang dari 2,5

1 Rendah 2,5 15

2 Sedang 15 25

38
3 Tinggi 25 33

4 Sangat tinggi Lebih dari 33

Berdasarkan ASCE Manual of Engineering Practice No. 28 diduga material


kelompok tanah lokasi kajain termasuk kedalam low soil group dengan komposisi
tekstur tanah berupa lempung dan/atau lempung geluhan karena tingkat infiltrasi < 1,5
mm/jam. Informasi tersebut menunjukan bahwa tanah di lokasi kajian mempunyai
respon infiltrasi yang sangat lambat saat dalam keadaan basah. Tanah tersebut
mempunyai layer penghambat pergerakan air secara vertikal kebawah.

Tabel 2.6. Klasifikasi Soil Group berdasarkan laju infiltrasi oleh ASCE (1957)

Faktor-faktor yang sangat berpengaruh terhadap rendahnya laju infiltrasi di


lokasi kajian adaah tekstur tanah lempung super tebal yang menjadi ciri khas lokasi
kajian, walaupun vegetasi di lokasi sekitar wilayah kajian relatif banyak.
Diferensiasi informasi yang dapat diketahui adalah bahwa dengan laju infiltrasi
yang rendah dengan tekstur tanah dominan lempung maka lokasi kajian akan
mengalami limpasan aliran yang cukup besar saat terjadi presipitasi dengan
intensitas yang besar. Penambahan faktor-faktor yang dapat memercepat laju
infiltrasi, seperti penambangan bahan organik, di lokasi kajian mungkin dapat
diterapkan untuk mengurangi limpasan aliran. Perencanaan sipil seperti pembuatan
embung atau irigasi juga dapat dilakukan untuk menampung limpasan permukaan
yang terjadi di lokasi kajian.

2. Invers Auger Hole

Pumping test dengan metode invers auger hole bertujuan untuk


mengetahui nilai konduktivitas hidraulik pada suatu lokasi yang memiliki muka

39
airtanah yang dalam. Pengukuran invers auger hole dilakukan dengan pembuatan
lubang hingga kedalaman tertentu lalu diisi air dan dlihat besarnya air dan
cepatnya air untuk meresap kedalam tanah (Todd,1980). Penggunaan metode
Auger Hole dalam perhitungan hidrolik konduktivitas dilakukan saat tanah
hampir jenuh dikarenakan lubang bor diisi dengan air hingga jenuh sebelum
dilakukan pengukuran (FAO,1980).

Berbeda dengan metode Auger Hole, pada metode invers Auger Hole
dilakukan pada kondisi watertable yang lebih dalam dan dilakukan dengan
menghitung laju penurunan air serta hasil perhitungan yang lebih tepat.
Kelemahan pengukuran ini adalah pengukuran dilakukan setelah kejadian hujan
saat semalam sebelum dilakukan pengukuran sehingga tanah telah atau dalam
keadaan hampir jenuh. Kondisi ini didukung juga dengan tekstur tanah yang
lempung sehingga kondisi jenuh yang terjadi lebih lama berlangsung.

Invers auger hole dilakukan dengan membuat lubang bor dengan


kedalaman yang sama dengan panjang screen bor yang digunakan (D=108 cm).
Lubang bor harus diisi dengan air hingga mengisi penuh lubang bor dan tanah
dalam keadaan jenuh, hal ini juga dipengaruhi oleh kelembaban tanah dan tekstur
tanah pada daerah kajian (Horn, 1979). Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh
nilai konduktivitas hidraulik sebesar 0.97 x 10-3 m/hari. Nilai ini dinilai wajar
dengan kondisi tekstur tanah yang lempung. Nilai yang tergolong kecil ini
mewakili sifat lempung yang akuiklud shingga sulit dalam menyerap atau
menyaluran air. Permeabilitas berkaitan erat dengan kemampuan tanah untuk
melalukan air dan sangat dipengaruhi oleh material penyusunnya (Purnama,
2010).

Material lempung diperkirakan berasal dari hasil deposisi perbukitan


struktural yang bertekstur lempung sebagai hasil endapan vulkanik zaman lampau
berupa endapan Sumbing Tua dan Sumbing Muda. Material ini juga mendapat
sumbangsih dari material pegunungan Menoreh pada zaman Tersier. Pemanfaatan
invers auger hole biasanya digunakan dalam pembuatan sumur resapan dengan
kecepatan turunan muka air dalam screen bor diamati dengan interval waktu 5
menit setelah pengujian mulai dilakukan. Hal yang dibutuhkan dalam uji Invers
Auger Hole ini adalah kedalaman permukaan tanah sampai muka airtanah baik

40
sebelum maupun sesudah pengujian diameter pipa lindung, tinggi pipa screen bor
diatas permukaan tanah, panjang pipa screen bor pada penampang uji, diamater
lubang bor dan deskripsi material uji ( Dep. PU, 2005).

Tabel 2.7. Pengukuran Invers Auger Hole

ti (detik) h'ti (cm) hti hti+r/2 630 87 21 23


30 20 88 90 660 87 21 23
60 29 79 81 690 89 19 21
90 37 71 73 720 89 19 21
120 41 67 69 750 91 17 19
150 46 62 64 780 93 15 17
180 50 58 60 810 93 15 17
210 54 54 56 840 94 14 16
240 57 51 53 870 5 103 15
270 61 47 49 900 95.5 12.5 14.5
300 64 44 46 930 96 12 14
330 66 42 44 960 97 11 13
360 69 39 41 990 97.5 10.5 12.5
390 72 36 38 1020 98 10 12
420 74 34 36 1050 98.5 9.5 11.5
450 75 33 35 1080 100 8 10
480 78 30 32 1110 101.5 6.5 8.5
510 79 29 31 1140 101.5 6.5 8.5
540 82 26 28 1170 101.5 6.5 8.5
570 83 25 27 1200 101.5 6.5 8.5
600 85 23 25 1230 101.5 6.5 8.5
1260 101.5 6.5 8.5

Grafik 2.2. Invers Auger Hole

41
1. Pengukuran Proses dan Hasil Sosial Ekonomi

Pengamatan sosial ekonomi masyarakat di desa Wonogiri dilakukan


dengan metode transek dan diperoleh 10 titik pengamatan. Titik pertama
dengan penggunaan lahan berupa kebun campuran, berada pada koordinat
49m 397655 x dan 9164175 y. Jenis tanah di wilayah ini berupa tanah
lempung yang merupakan media tumbuh tanaman yang baik, sehingga
ditemukan banyak tanaman yang tumbuh dengan subur di kawasan ini
diantaranya kokosan, kelapa, pisang, talas, mahoni, duku, teh-tehan, bunga
aris, dan sengon.

Tanaman dengan tingkat kesuburan tinggi tersebut dapat dimanfaatkan


oleh warga sekitar untuk meningkatkan perekonomian mereka, diantaranya
dengan memasarkan hasil kokosan karena ketersediaanya yang begitu
melimpah dan dapat digunakan untuk meningkatkan pendapatan
masyarakat, lalu pemanfaatan kayu dari pohon sengon untuk dibuat
berbagai macam kerajinan kayu seperti meja, kursi, dan lain sebagainya.
Terlepas dari potensi yang ada, salah satu permasalahan yang dihadapi
masyarakat ialah rendahnya harga buah kokosan dibandingkan dengan
buah duku dikarenakan pemasarannya yang kurang luas, serta belum
adanya inovasi yang dilakukan masyarakat untuk mengolah buah kokosan.

42
Salah satu solusi yang dapat dilakukan oleh masyarakat terkait
permasalahan tersebut ialah dilakukannya inovasi terhadap buah kokosan
ini dan dikemas agar hasilnya dapat bertahan dengan lama dan dapat
dipasarkan ke tempat-tempat yang lebih jauh. Terkait dengan keberadaan
tanaman tersebut yang berada di kebun campuran, maka tanaman ini hanya
memperoleh air dari hujan yang menyirami kawasan tersebut .

Gambar 2.19. Kebun campuran

Titik pengamatan yang kedua berjarak tidak jauh dari titik pertama sehingga
penggunaan lahannya masih sama yaitu berupa kebun campuran dengan tanaman yang ada
berupa pohon karet, pisang, kokosan, pandan, kelapa, durian, dan bambu. Kesuburan tanah di
kawasan tersebut dikarenakan tanah yang ada berupa tanah lempung dan keberadaan ternak
ayam yang dapat membantu kesuburan tanahnya. Keberadaan tanaman karet menjadi potensi
yang dapat dikembangkan di kawasan ini, namun karena baru saja dikembangkan maka pola
tanamnya belum teratur dan masih adanya kanopi yang menutupi area tersebut.

Permasalahan lainnya yaitu belum optimalnya hasil produksi karet karena memang
baru saja dikembangkan. Solusi yang dapat dilakukan ialah diadakannya sosialisasi tentang
informasi metode pengembangan karet agar hasil produksi yang dihasilkan dapat maksimal.
Sumber air tanaman di kawasan ini sama seperti titik pengamatan pertama yang berupa hujan
karena masih berdekatan jaraknya dan sama-sama berupa kebun campuran.

43
Gambar 2.20. Kebun Campuran (Google.com)

Pengamatan ketiga dilakukan dikawasan yang sama namun berjarak beberapa


meter dari titik pengamatan kedua dan dengan perbedaan bentuk lereng. Koordinat titik
ketiga berada di 49m dengan x 397552 dan y 9164179 dengan penggunaan sebagai
kebun campuran yang didominasi oleh tanaman bambu dan buah kokosan. Kawasan di
sekitar titik ketiga ini ditemukan mataair yang menjadi sumber air bagi tanaman bambu
dan tanaman lain disekitarnya, serta ditemukan adanya jalan setapak yang menjadi jalur
bagi permukiman diwilayah tersebut. Keberadaan bambu yang ada di titik ketiga ini
cukup banyak dan dapat dimanfaatkan untuk bahan bangunan maupun diolah menjadi
kerajinan bambu dan lain sebagainya.

Potensi lainnya berupa mataair yang dapat dimanfaatkan masyarakat untuk


kebutuhan domestik maupun pertanian. Berkaitan dengan pemanfaatannya sebagai
kebutuhan domestik, masyarakat yang menggunakan mataair tersebut sebagai MCK
telah meninggalkan sisa limbah cair dan padatan, sementara aliran air ini menuju ke
permukiman penduduk dan nantinya dapat mencemari air penduduk.

Keberadaan mataair atau telaga ini juga jauh dari jangkauan dimana
masyarakat harus menuruni jalan setapak yang terjal dan hal tersebut dapat
menyebabkan kecelakaan (rawan kecelakaan). Hal tersebut dapat diantisipasi dengan
cara pembuatan tangga cor atau permanen dengan sistem yang lebih baik, sementara

44
untuk permasalahan limbah dapat diatasi dengan pembuatan sistem saluran limbah
dan penyediaan tempat sampat untuk menampung limbah padatannya.

Gambar 2.21 Tanaman bambu disekitar mataair (Aprilia, 2016)

Titik pengamatan keempat masih dilakukan di area kebun campuran dengan


dominasi tanaman kopi, pisang, durian, dan kelapa yang mendapat sumber air dari
mataair dan hujan. Masyarakat disekitar titik pengamatan ini dapat memanfaatkan
kekayaan tanaman yang ada karena tanah diwilayah ini merupakan tanah lempung
yang subur seperti di titik pengamatan lainnya. Tanaman kopi dapat dibudidayakan
untuk dijual secara mentah maupun yang telah diolah, buah durian dapat dijual
mentah atau dengan pengolahan dan dijadikan produk lain seperti dodol, lalu getah
bunga kelapa dapat diambil berupa nira dan diolah menjadi gula jawa.

Potensi yang dimiliki oleh daerah tersebut dapat terhambat karena adanya
pencemaran air permukaan melalui drainase dari penggunaan mataair atau telaga oleh
masyarakat yang mempengaruhi kualitas air dan tanah sehingga produktivitas lahan
dapat menurun akibat degradasi lahan. Hal tersebut dapat diatasi dengan pembuatan
sistem drainase air limbah yang dibuat tidak mendekati lahan perkebunan.
Permukiman berkepadatan sedang menjadi titik pengamatan kelima dengan
koordinat 49m 397438x dan 9164175y. Penggunaan lahan di titik ini tidak hanya
kebun campuran namun juga permukiman berkepadatan sedang dengan adanya
berbagai macam tanaman berupa buah mangga, pisang, pepaya, rambutan,
kelengkeng dan kelapa. Masyarakat di permukiman ini juga memiliki kambing yang
dipelihara. Sementara itu, masyarakat disini memanfaatkan sumur dan air hujan untuk

45
memenuhi kebutuhan airnya, dan karena permukimannya merupakan permukiman
berkepadatan sedang maka masyarakat telah membangun fasilitas yang dapat
digunakan bersama berupa mushola dan MCK serta ada jalan setapak untuk akses
antar rumah.

Berbagai macam buah-buahan yang ada dapat menjadi potensi untuk


menambah pendapatan masyarakat dengan menjualnya serta getah bunga kelapa yang
disebut nira yang dapat dijadikan gula jawa. Namun untuk pembuatan nira oleh
masyarakat sekitar masih menggunakan cara yang tradisional sehingga memakan
waktu yang lama serta tidak semua pohon kelapa diambil getah bunganya karena ada
yang terlalu tinggi pohonnya dan getahnya yang terlalu sedikit. Hal ini dapat disiasati
dengan pemanfaatan bagian dari pohon kelapa lainnya, misalkan daun kelapa yang
dapat dibuat menjadi berbagai kerajinan atau batangnya yang dapat dimanfaatkan
menjadi bahan bangunan dan lain sebagainya.

Gambar 2.22. Proses pembuatan gula jawa

Gambar 2.23. Pohon kelapa milik warga setempat (Mim, 2016)

46
Titik keenam terletak pada koordinat X = 397525 dan Y = 9164171 dengan elevasi 49
M. penggunaan lahan yang paling dominan pada titik ini adalah kebun campuran, terdapat
pula beberapa permukiman yang mengelompok pada wilayah timur. Sedangkan wilayah
bagian barat di dominasi oleh kebun campuran. Tanaman yang terdapat pada kebun campuran
tersebut antara lain Bambu, kokosan, kelapa, jengkol, sengon, empon-empon. Jenis tanah
yang terdapat pada wilayah ini merupakan tanah berlempung.

Penduduk di wilayah ini memiliki Ayam atau kambing sebagai hewan ternak untuk
menambah pengasilan mereka. Sumberair yang digunakan penduduk untuk keperluan
ssehari-hari berupa sumur sedangkan tanaman memperoleh asupan air dari hujan. Tanaman
Sengon dapat dimanfaatkan untuk produksi kayu. Tanaman kelapa dapat diambil air niranya,
nira dapat dimanfaatkan untuk pembuatan gula jawa. Bambu dimanfaatkan sebagai bahan
bangunan ataupun kerajinan anyaman. Tanaman kokosan merupakan sejenis tanaman duku,
namun harga jual buah kokosan lebih rendah dari duku. Hal tersebut disebabkan karena rasa
buah ini lebih masam, serta buah kokosan lebih mudah busuk.

Titik ketujuh terletak pada koordinat X = 397071 dan Y = 9164171 dengan elevasi
49 M. Penggunaan lahan pada wilayah ini berupa Sawah dan kebun campuran. Pertanian
lahan basah, dicirikan oleh adanya ketersediaan air yang melimpah baik mataair maupun
saluran irigasi, yang memungkinkan manusia memanfaatkan lahan lebih optimal. Bentang
pertanian ini tergolong subur dan menghasilkan produksi tinggi dengan pemanfatan untuk
sawah. Secara social-ekonomi budaya, kondisi ekosistem bentanglahan yang potensial
tersebut memberikan keuntungan social-ekonomi karena mempunyai produktivitas dan
keanekaragaman tinggi, dengan tingkat budayanya yang selalu ditingkatkan mampu
menciptakan stabilitas ekosistem.

Tingkat kesuburan lahan pertanian yang ada cukup baik dengan tanah berjenis
lempung. Lahan pertanian pada musim hujan ditanami padi sedangkan pada musim kemarau
lahan pertanian yang kering dibiarkan dan tidak dimanfaatkan oleh warga. Lahan pertanian
tersebut memperoleh air dari aliran sungai. Terjadi perebutan irigasi antar petani untuk
mengalirkan air di sawahnya. Karena apabila tanaman padi kekurangan air dapat

47
menyebabkan produktivitas padi yang rendah. Karena itulah dibutuhkan pembagian air irigasi
yang disesuaikan dengan kebutuhan tanaman. Agar aliran air dapat dimanfaatkan semaksimal
mungkin.

Titik kedelapan terletak pada koordinat X = 396984 dan Y = 9164192 dengan elevasi
49 M. penggunaan lahan yang paling dominan pada titik ini adalah kebun campuran. Jenis
tanah pada wilayah ini adalah lempung, tanah lempung memiliki bahan organik yang tinggi
sehingga tergolong subur dan baik untuk tanaman. Tanaman yang tumbuh pada kebun
campuran tersebut adalah Ketela, sengon, bambu, kelapa. Karakteristik tanah yang subur dan
tebal dimanfaatkan penduduk untuk menanam tanaman ketela. Ketela merupakan tanaman
yang paling dominan pada kebun campuran ini, ketela ditanam pada bidang tanah yang
berteras-teras.

Teras tersebut dibuat karena lahan tersebut tidak landai, sehingga perlu di buat teras-
teras agar dapat ditanami. Nira yang diperoleh dari getah bunga tanaman kelapa dapat
dimanfaatkan untuk pembuatan gula jawa. Hasil yang didapat dari perkebunan ini cukup
untuk menambah pendapatan masyarakat. Bambu banyak dimanfaatkan sebagai bahan
bangunan. Permasalahan yang terdapat pada wilayah ini adalah akses jalan yang buruk.
Hanya terdapat jalan kecil, bahkan sepeda motorpun tidak dapat melalui jalan tersebut. Dan
apabila hujan deras menyebabkan jalanan berlumpur dan lebih sulit di lalui. Perbaikan akses
jalan perlu dilakukan untuk mempermudah distribusi hasil perkebunan seperti ketela.

48
Gambar 2.24. Kebun ketela milik warga

Titik ke Sembilan merupakan kawasan hutan yang terdiri atas semak, rumput,
tanaman sengon, kelapa, mahoni, pisang, papaya, durian, waru, bambu, dan lainnya. Wilayah
ini memiliki kerapatan vegetasi yang tinggi. Potensi yang dapat diperoleh dari hutan ini
adalah Kayu, buah, dan nira. Namun akses jalan menuju hutan masih sulit, serta tidak
terdapat permukiman di sekitar hutan tersebut. Permasalahn yang terjadi pada wilayah ini
adalah erosi yang intensif, perlu adanya konservasi lahan untuk erosi yang terjadi. Selain itu
wilayah hutan yang jarang di kunjungi manusia menyebabkan banyak hewan buas seperti
ular. Bahkan pernah dikabarkan terdapat penduduk yang terkena gigitan ular di sekitar
wilayah hutan tersebut. Jalanan yang harus ditempuh warga melewati hutan juga masih terjal
dan berlumpur.

Titik terakhir terletak pada koordinat X = 396423 dan Y = 9164177 dengan elevasi
49 M. Penggunaan lahan yang dominan adalah kebun campuran, tanah pada wilayah ini
tergolong tanah berlempung. Tanaman yang dapat tumbuh antara lain empon-empon, ketela,
pohon sengon, pohon waru, pohon pisang. Namun yang paling dominan adalah budidaya
tanaman empon-empon berupa temulawak. Tanaman empon-empon lebih produktif apabila di
tanam pada bagian lereng atas atau puncak lereng yang bermorfologi datar.

Kondisi tanah yang memiliki kandungan air yang sedikit dan tipis menyebabkan
kondisi lahan gersang, namun tanaman temulawak dapat berkembang dengan baik. Pada
bagian puncak lereng ini sudah terdapat akses jalan yang lumayan bagus, sehingga proses
pemanenan empon-empon dapat berjalan dengan baik. Jalanan tersebut masih berupa jalan
setapak, semakin mendekati permukiman infrastruktur jalan semakin baik yaitu berupa jalan
paving atau beton. Dengan adanya infrastruktur yang baik akan mempermudah pekerjaan
penduduk sehingga dapat menghasilkan produksi yang lebih banyak dan dapat meningkatkan
pendapatan.

Masyarakat dalam pelaksanaan kegiatannya mulai dari bekerja sampai kegiatan sosial
masih mengandalkan musim/bulan baik bulan pada umumnya atau bulan dalam kalender
jawa. Jadwal tersebut dapat digambarkan dengan kalender musiman. Kalender musiman
adalah alat kajian untuk mengetahui kegiatan dalam kehidupan masyarakat berkaitan dengan
perubahan waktu dengan menggunakan beberapa variabel seperti hujan, pengolahan lahan
yang terdiri dari lahan kering dan sawah, penanaman yang terdiri dari singkong, padi, duku,

49
bambu, durian dan kokosan, migrasi, kegiatan sosial seperti kawinan dan sunatan, paceklik
dan kesulitan air.

Hasil dari wawancara terhadap beberapa informan maka dapat diketahui pola
kegiatan atau kejadian apa saja yang terjadi pada waktu tertentu di kehidupan masyarakat
Desa Wonogiri yang kemudian informasi tersebut digabungkan dan disesuaikan apakah
memiliki kesamaan atau tidak yang kemudian disimpulkan dan dibuatlah kalender musiman.
Tujuan dibuatnya kalender musiman ini adalah mengetahui pola kehidupan masyarakat di
Desa Wonogiri pada siklus musim tertentu, untuk mengetahui juga siklus permasalahan yang
mungkin dihadapi masyarakat Desa Wonogiri pada musim-musim tertentu.

Informasi tentang hujan menurut para informan, hujan sering turun pada bulan
Januari-Juni, dan untuk musim kemarau biasanya turun dari Juli-Desember, pada waktu
musim penghujan biasanya cocok untuk ditanami tanaman yang ada di sawah misalnya padi
oleh karena itu di daerah Wonogiri pada bulan Januari-Juni sering ditanami oleh tanaman
padi karena pada musim tersebut padi akan tumbuh subur, jadi selama musim penghujan akan
terjadi 2 kali panen dengan siklus penanaman padi adalah 3 bulan sekali. Warga disana
banyak yang menjadi petani ketika musim penghujan dan banyak juga yang memanfaatkan
pohon kelapa untuk dibuat nira, pohon kelapa dapat dimanfaatkan setiap hari dan selalu
tumbuh pada musim apapun sehingga selalu ada setiap bulannya.

Pengolahan lahan untuk lahan kering terjadi pada musim kemarau dari bulan Juli-
Desember dimana tanaman yang tumbuh pada musim tersebut adalah duku, durian, kokosan
dan juga bambu. Duku, durian dan kokosan dapat dipanen pada musim penghujan pada bulan
Maret-April sedangkan untuk tanaman bambu dapat terus di panen setiap bulannya karena
bambu tersebut jumlahnya yang banyak dan bergerombol. Bambu ada banyak tumbuh di
Desa Wonogiri, sehingga saat panen tiba bambu dapat didistribusikan untuk kemudian dijual.
Penanaman Singkong dapat ditanam pada awal musim hujan yaitu bulan Januari dan bisa
dipanen pada bulan Juni-Juli. Tanaman seperti duku, durian dan kokosan ini banyak tumbuh
pada lahan campuran yaitu lahan yang ditumbuhi oleh berbagai macam jenis tanaman untuk
dapat dimanfaatkan dan hasilnya dapat dijual.

Migrasi keluar yang sering dilakukan oleh masyarakat sana dilakukan oleh para
pemuda yang merantau untuk bekerja dan menurut kalender hijriah mereka pulang pada saat
awal syawal atau saat lebaran sehingga tidak terlalu tentu mereka pulang pada bulan keberapa
dalam masehi. Para pemudalah yang biasanya melakukan migrasi, untuk para orang tua

50
mereka lebih memilih bekerja di desanya daripada harus merantau contohnya saja jika musim
kemarau tiba padi sudah dipanen mereka tidak pergi ke sawah untuk mengolah tanaman yang
lain tetapi ada yang bekerja sebagai sopir, berjualan ataupun juga nganggur, oleh karena itu
kebanyakan lebih memilih bekerja di desanya daripada harus melakukan migrasi, hal itu pun
tercatat pada profil desa Wonogiri jumlah dari orang yang melakukan migrasi dan jumlahnya
hanya sedikit dan masih jarang dilakukan untuk setiap musimnya. Kadang pemuda yang
melakukan migrasi ada yang melakukan migrasi commuter yang biasanya dilakukan oleh
penglaju secara ulang alik dalam satu hari, misalnya saja dilakukan hanya untuk menjual atau
mendistribusikan tanaman bambu.

Penyakit yang biasanya terjadi di Desa Wonogiri ini bukan penyakit yang berat
melainkan seperti flu dan batuk seperti umunya pada saat pergantian musim. Flu dan batuk
dapat terjadi pada saat peralihan musim penghujan ke musim kemarau atau sebaliknya dan itu
dapat terjadi pada bulan Desember-Januari ataupun Juni-Juli. Hal ini umum terjadi karena
kaitannya dengan kekebalan tubuh dan lingkungan sekitarnya. Lingkungan sekitar dapat
menjadi tempat dimana virus menyebar misalnya saja dari lingkungan yang kotor dan tidak
sehat dapat membuat seseorang menderita penyakit, selain itu dapat pula dari anggota tubuh
yang kotor dan tidak mencucinya lagi saat akan makan sehingga dapatlah terserang penyakit
tersebut.

Paceklik terjadi pada bulan November-Desember dimana itu terjadi pada musim
kemarau dan pada saat itu terjadi banyak kesulitan, seperti dalam kesulitan air. Biasanya
warga desa Wonogiri memperoleh air dari sugai yang ada di bawah dan itu pun hanya
terbatas pada permukiman yang penduduknya berada di bawah, jadi keterdapatan air
tergantung pada topografinya, sedangkan untuk permukiman penduduk di daerah atas
memang selalu kesulitan air, sehingga untuk pengaliran airnya mereka harus menggali sumur
agar mendapatkan suplai air.

Kegiatan sosial seperti kawinan dan sunatan sebenarnya tidak terlalu tentu waktunya
tetapi kebanyakan untuk kegiatan sosial seperti kawinan dilakukan setelah bulan syawal
karena mungkin pada saat itu orang-orang banyak yang pulang ke kampung halamannya
dengan membawa uang pula sehingga dapat digunakan untuk biaya pernikahan. Kegiatan
sosial seperti sunatan biasa dilakukan pada bulan Juni-Juli karena biasanya saat itu adalah
saat libur sekolah sehingga banyak yang melakukan sunatan agar ketika hal itu dilakukan

51
tidak mengganggu kegiatan sekolah dan bisa juga hal itu termasuk dalam memanfaatkan
liburan.

3. Penutup

1. Kesimpulan

Hasil pengukuran daerah kajian Sub-DAS Bompon, Kabupaten Magelang, Jawa


Tengah tentang fenomena tanah, hidrologi, dan sosial ekonomi menunjukkan bahwa
kondisi daerah ini memiliki berbagai dinamika proses perkembangannya. Secara
geomorfologi DAS Bompon dipengaruhi oleh hill-slope proses dimana secara lateral
ditemui bentukan hasil proses erosi, seperti paritan, rill, dan gully serta hasil proses
longsoran. Secara genesa pembentukan DAS Bomp on tersusun atas material hasil
erupsi Gunung Menoreh, Gunung Ijo dan Gunung Gajah dimana terdapat endapan
piroklastik. Berdasarkan hasil pengukuran proses perkembangan tanah daerah Sub-
DAS Bompon memiliki potensi dalam pemanfaatan penggunaan lahan dikarenakan
daerah ini merupakan daerah yang subur sehingga dapat dimanfaatkan untuk pertanian
dan perkebunan oleh warga sekitar. Namun di sisi lain, daerah ini memiliki ancaman
akan bencana yakni longsor, dimana dipicu oleh faktor dakhil ekternal dan curah
hujan yang tinggi yang dapat menyebabkan adanya pergerakan tanah. Berdasarkan
hasil identifikasi menggunakan kalender musim , kondisi sosial ekonomi di daerah ini
memiliki musim penghujan dan kemarau yang cukup rata dalam setahun, dimana pada
musim penghujan masyarakat dominan melakukan pengolohan lahan sawah

52
sedangkan pada musim kemarau masyarakat melakukan pengolahan lahan dengan
berbagai komoditas seperti kelapa, kokosan, durian, singkong, dan lain-lain dengan
adanaya musim paceklik yang kemungkinan terjadi pada bulan November-Desember.
Kondisi sosial antar masyarakat di daerah ini masih sangat menjunjung tinggi kearifan
lokal, dimana budaya gotong royong dan guyub antar warga sangat kental, dengan
sangat sedikitnya adanya konflik sosial namun di sisi lain kesenjangan sosial
masyarakat tergolong tinggi. Kondisi kesehatan masyarakat cukup baik, dimana tidak
adanya wabah penyakit yang menjangkit masyarakat. Adanya dinamika masyarakat
yang masuk dan keluar daerah ini banyak terjadi pada momentum-momentum tertentu
yakni pada Hari Raya Idul Fitri. Kondisi hidrologi daerah ini pada musim kemarau
mengalami kekeringan, dimana sawah yang ada juga mengalami kekeringan sehingga
masyarakat tidak dapat mengolah sawahnya dan mengalihkan ke mata pencaharian
lain.

2. Saran

Penelitian pada daerah Sub-DAS Bompon, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah ini
masih memiliki banyak kekurangan baik secara teknis maupun non teknis.
Kedepannya sangat diperlukan ketelitian dalam melaksanakan metode pengambilan
dan pengolahan data sehingga dihasilkan hasil yang lebih akurat. Kajian di daerah
Sub-DAS Bompon ini masih berpotensi dengan berbagai kajian ilmiahnya, dapat
dikembangkan lagi lebih banyak. Dari sisi pemanfaatan potensi daerah ini perlu
adanya dukungan dari berbagai pihak, terutama pemerintah sehingga dapat diperoleh
hasil dari berbagai komoditas yang dapat menguntungkan masyarakat sekitar daerah
Sub-DAS Bompon, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

53
54