Anda di halaman 1dari 5

A.

Luas Daratan Dan Perairan Kota Baubau


Secara geografis terletak di bagian selatan garis khatulistiwa di antara 5.21
5.33 Lintang Selatan dan di antara 122.30 122.47 Bujur Timur atau terletak di
sebelah Selatan Provinsi Sulawesi Tenggara.Kota Baubau mempunyai wilayah
daratan seluas 221,00 km, luas laut mencapai 30 km.

B. Usaha Masyarakat Dari Sektor Perikanan.

1. Menangkap Ikan dengan Memancing

2. Budidaya Rumput laut


Wilayah pengembangan budidaya rumput laut di Kota Baubau tersebar pada
berbagai kelurahan yang terlektak di daerah pesisir, yaitu Kelurahan Palabusa,
Kalia-Lia, Kolese dan Lowu-Lowu (Kecamatan Bungi), Kelurahan Lakologou,
Waruruma, Sukanaeyo dan Liwuto (Kecamatan Kokalukuna), Kelurahan
Nganganaumala, Wameo, Tarafu dan Bone-Bone (Kecamatan Murhum),
Kelurahan Katobengke, Lipu dan Sulaa (Kecamatan Betoambari). Luas areal
perairan yang dapat dimanfaatkan bagi pengembangan budidaya rumput laut
berkisar 960 Ha di sepanjang garis pantai potensial, yaitu sekitar 23 Km untuk
Kecamatan Bungi dan Kokalukuna, dan sekitar 9 Km untuk Kecamatan Murhum
dan Betoambari.

Jenis rumput laut yang dikembangkan terbatas pada Euchema Cottoni dan
Euchema Spinosum. Pelaksanaan budidaya masih dilakukan secara tradisional,
yaitu penyebaran bibit pada bentangan tali pada permukaan air dengan
menggunakan rakit apung yang terbuat dari bambu, dengan masa
pemeliharaan hingga panen sekitar 40-45 hari.

3. Budidaya Mutiara
Ada dua jenis budidaya mutiara yang kini di budidayakan dan berkembang di
Kota Baubau, yaitu Pinctada Maxima yang menghasilkan mutiara bundar
(Round Pearl) dan jenis Pteria Penqu yang menghasilkan mutiara blister (Haft
Pearl). Jenis Pinctada Maxima diusahakan oleh PT. Tiara Indo Pea, sebuah
perusahaan PMA dari Jepang. Sedangkan jenis Pteria Penqu selain diusahakan
oleh perusahaan nasional (CV. Selat Buton) juga banyak dibudidayakan oleh
para petani setempat.
4. Tambak Ikan / Empang

5. Produksi Ikan Cakalang / TPI

Perda No.10 Tahun 2011Pasal 3 Ayat 2 Tentang Fasilitas TPI Kota Baubau
Yaitu:
a. Pabrik Es
b. Cold Storage
c. Air bersih non PDAM
d. Perlintasan pintu masuk
e. Penitipan bahan bakar

C. Masalah Pokok

1. Tata Kelalo Kelautan Dan Perikanan


Tata Kelola Kelautan saat ini yang penerapanya tanpa ada
pengawasan yang ketat dari Pemerintah Daerah. Perikanan saat ini harus
mengacu pada Peraturan dan daerah dan juga mengacu pada Peraturan
Pusat.

2. Kapal Serta Alat Tangkap Ikan


Perbandingan Antara Kapal dan Alat Tangkap Ikan Tradisional,
Nasional dan Modern.

3. Sarana Pembudidayaan
Tambak Ikan/Empang, Rompong serta Pelatihan Khusus.

4. Dari Segi Kesehatan


Laporan dari Puskesmas Wajo Kota Baubau selama Bulan Juni 2010.
Jumlah korban : 20 orang dengan kondisi selamat. Penyebabnya :
Setelah mengkonsumsi kerang dan ikan. Gejalayang dialami :
mengalami gejala muntah-muntah, keram dan tingkat kesadaran
menurun.

Kejadian yang dilaporkan tanggal 9 Juli 2010. Lokasi : Kelurahan


Kadolomoko Kota Baubau. Jumlah korban : 1 orang dengan kondisi
selamat. Gejala yang dialami : keram dan mual. Penyebabnya :
setelah mengkonsumsi ikan.
Kejadian Tanggal 11 Juli 2010. Lokasi : Kota Baubau. Jumlah Korban :
5 orang selamat. Gejala yang dialami : penglihatan kabur, kejang-
kejang dan mual-mual. Penyebabnya : setelah mengkonsumsi ikan
dari pasar sehat wameo.

Solusi : Adanya Pemeriksaan Rutin Oleh Dinas Kesehatan secara


berkala Tentang Ikan Layak Jual dipasar dan bekerja sama
dengan Dinas Perdangan untuk memberi sangsi bagi
pedagang Ikan yang Nakal.

5. Dari Segi Pembudidayaan


Kurangnya Sentuhan Dari pemerintah terhadap Masyarakat yang
Pekerjaanya Bergelut dalam bidang Pembudidayaan, seperti:
Rumput Laut ,Mutiara,dan Tambak Ikan/Empang
Pelatihan rutin setiap tahunya secara bergulir agar para pembudidaya
dapat menambah wawasan untuk memaksimalkan hasil budidayanya.
Kurangnya Bantuan dari segi bahan dasar,pakan ikan atau materi
lainya kepada masyarakat pembudidaya hasil laut.kendala yang terjadi
adanya Penerimaan bantuan fiktif ( Pemberi Bantuan Tidak tepat
sasaran ).
Kurangnya Apresiasi Pemerintah Dalam segi promosi pemasaran
( dalam hal ini Masyarakat Pembudidaya kebanyakan Bergerak Sendiri-
sendiri ).
Solusi : Pemerintah secara aktif dan progresif memantau
perkembangan budidaya.

6. Dari Segi Tempat Penitipan Ikan


Tempat Penitipan Ikan Baubau. Mempunyai Kendala Dalam hal :
Mesin Pendingin Tidak Layak Pakai. ( Tidak Layak Operasi / Rusak dan
Ruang Pendingin tidak cukup luas menampung ikan yang kian
meningkat)
Sistem Penitipan Ikan yang tidak tepat Sasaran ( Dalam Hal ini
kurangnya Sosialisasi kepada Masayarakat Dalam Penggunaan Fungsi
tempat Penitipan Ikan Yang ada Dikota Baubau Yang dimana
Masyarakat Dapat ikut serta menitipkan ikannya Ditempat
penitipan.Baik itu Tata cara penitipan maupun Biaya retribusi yang
dikenakan perkilo dan lamanya Penitipan. Hal ini adalah celah yang
dimana ada pihak yang dapat memanfaatkan momen ini.dari survey
yang kami lakukan di beberapa tempat penitipan ikan dikota baubau
rata-rata ikan yang dititip di tempat penitipan milik pengusaha berskala
besar yang dimana ikan yang titip adalah ikan dalam jumlah besar
yang dipasarkan keluar daerah seperti,makasar,surabaya,jakarta
bahkan sampai keluar negeri.
Peneyetoran PAD Yang Belum Maksimal ( Kurangnya Pengawasan dari
pemerintah,sehingga Ada pihak-pihak tertentu dalam pemungutan
Retribusi dari Tempat Penitipan Ikan,melaporkan hasil tidak sesuai
dengan retribusi yang sebenarnya (fiktif) ).

Solusi : Mengadakan Kegiatan survei lokasi secara berkala serta


pengawasan yang ketat di TPI..
a. Survei Fasilitas Layak Pakai dan Diadakan Pemeliharaan
Fasilitas Secara berkala oleh pemerintah.
b. Pengawasan Dapat Berupa Penegakan Peraturan
Daerah dan Sangsi yang berlaku Tentang Tata cara
Penggunaan Fasilitas TPI Serta Retribusi yang telah
ditetapkan.

7. Dari segi Pemasaran

Ada pihak-pihak tertentu yang sengaja memanfaatkan momen gelap


dan terang bulan ( istilah Masyakat setempat ), yang dimana ketika
bulan terang ikan sulit didapat ketimbang bulan gelap sehingga harga
ikan melambung, mengakibatkan masyarakat akan mengularkan uang
lebih untuk membeli ikan dan untuk masyarakat kebawah akan sulit
untuk membeli ikan karna harga yang tinggi, dalam hal ini ada pihak-
pihak yang memanfaatkan moment tersebut yang dimana ketika bulan
gelap ikan ditampung dalam jumlah besar dan dijual ketika bulan
terang.
Sistem Penjualan Ikan Yang tidak memenuhi standar sehingga penjual
asal-asal menaruh harga,pernahkah anda melihat dikota-kota besar:
disana diterapkan sistem penjualan menggunakan kilo-an yang setiap
kilo nya telah ada aturan harga yang ditetapkan sehingga istilah gelap
dan terang bulan tidak berlaku dalam sistem ini, beda hal nya dikota
baubau kurang adanya pengawasan dan standar harga sehingga harga
ikan yang dipasarkan tidak menetap banyak dan harga jualanya.

Solusi : Pemerintah Harus Menetapkan Standar Harga Jual Ikan


Mengacu pada Standar Harga jual ikan secara Nasional.

8. Dari Segi Pengawasan


Lemahnya Pengawasan Pemerintah Dapat Dilihat dari Segi Hasil Produksi
Ikan Di Kota Baubau dan Dari Penyetoran Pajak Ke Kas Daerah Belum Optimal.

9. Musim
c. Angin Keras
d. Panen Ikan ( Dari Cerita Masyarakat Nelayan : Ketika Musim
Ikan/Banjir-banjirnya Ikan,Kurang nya Tempat Penampung Ikan
atau Minimnya Daya Tampung Ikan Membuat Ikan tidak Laku
terjual dan adakalanya Ikan Dibuang lagi kelaut dan ada juga yang
ditanam kedalam Pasir ).

D. Tata Cara Pengelolaan Perikanan


1.Pusat
2. Daerah
3. UU No.45 /2009
a. UU No.45/2009
b. UU Pemda
4. Sistem Perizinan
5. PAD Yang Belum Optimal