Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN

PADA PASIEN DENGAN TRAUMA ABDOMEN


DI UNIT GAWAT DARURAT RUMAH SAKIT PURI RAHARJA

OLEH :
WAYAN SRI UTAMI DEWI
1302105067

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS UDAYANA
2016

Laporan Pendahuluan

1. Ringkasan Anatomi Abdomen


Anatomi Abdomen
Abdomen dapat dibagi menjadi empat kompartemen anatomis, yaitu
(Syaifuddin, 2011) :
a. Regio thoraks : Regio ini berada antara inframammary creases dan batas iga. Di
dalamnya terdapat organ berupa diafragma, hati, limfa, dan lambung. Saat
menghembuskan nafas, diafragma dapat naik sampai setinggi torakal tiga.
b. Regio peritoneum (true abdomen) : Pada regio ini dapat dijumpai lambung, usus
halus, dan usus besar, omentum, rahim, dan terkadang puncak dari vesika
urinaria. Pada akhir inhalasi, ketika hati dan limfa turun, kedua organ ini
menjadi bagian dari regio peritoneum.
c. Regio retroperitoneum : Regio ini mencakup pembuluh-pembuluh darah besar,
ginjal, kolon transversum, kolon desenden, uterus, pankreas, dan duodenum.
d. Regio pelvis : Abdomen bagian pelvis dibentuk oleh sambungan tulang-tulang
pelvis.

Menurut Singh (2014), bagian-bagian abdomen terbahagi kepada :

Gambar 1.2 Bagian-bagian abdomen

1) hypocondriaca dextra
2) epigastrica
3) hypocondriaca sinistra
4) lateralis dextra
5) umbilicalis
6) lateralis sinistra
7) inguinalis dextra
8) pubica
9) inguinalis sinistra

Menurut Pearce (2009),tempat organ abdomen adalah pada:

1) Hypocondriaca dextra meliputi organ: lobus kanan hepar, kantung empedu,


sebagian duodenum fleksura hepatik kolon, sebagian ginjal kanan dan kelenjar
suprarenal kanan.
2) Epigastrica meliputi organ: pilorus gaster, duodenum, pankreas dan sebagian
hepar.
3) Hypocondriaca sinistra meliputi organ: gaster, lien, bagian kaudal pankreas,
fleksura lienalis kolon, bagian proksimal ginjal kiri dan kelenjar suprarenal
kiri.
4) Lateralis dextra meliputi organ: kolon ascenden, bagian distal ginjal kanan,
sebagian duodenum dan jejenum.
5) Umbilicalis meliputi organ: Omentum, mesenterium, bagian bawah
duodenum, jejenum dan ileum.
6) Lateralis sinistra meliputi organ: kolon ascenden, bagian distal ginjal kiri,
sebagian jejenum dan ileum.
7) Inguinalis dextra meliputi organ: sekum, apendiks, bagian distal ileum dan
ureter kanan.
8) Pubica meliputi organ: ileum, vesica urinaria dan uterus (pada kehamilan).
9) Inguinalis sinistra meliputi organ: kolon sigmoid, ureter kiri dan ovarium kiri.

2. Definisi Trauma Abdomen


Trauma abdomen didefinisikan sebagai kerusakan terhadap struktur yang
terletak diantara diafragma dan pelvis yang diakibatkan oleh luka tumpul atau yang
menusuk (Ignativicus & Workman, 2006). Trauma abdomen merupakan luka pada isi
rongga perut dapat terjadi dengan atau tanpa tembusnya dinding perut dimana pada
penanganan/penatalaksanaan lebih bersifat kedaruratan dapat pula dilakukan tindakan
laparatomi (Guilon, 2011).
Jadi Trauma Abdomen adalah trauma berupa tumpul yang terjadi kerusakan
struktur yang terletak diantara diafragma dan pelvis yang dapat terjadi dengan atau
tanpa tembusnya dinding perut.
3. Epidemiologi
Epidemiologi Insiden trauma abdomen meningkat dari tahun ke tahun.
Mortalitas biasanya lebih tinggi pada trauma tumpul abdomen dari pada trauma tusuk.
Jejas pada abdomen dapat disebabkan oleh trauma tumpul atau trauma tajam. Pada
trauma tumpul dengan velositas rendah (misalnya akibat tinju) biasanya menimbulkan
kerusakan satu organ. Sedangkan trauma tumpul velositas tinggi sering menimbulkan
kerusakan organ multipel. Pada intraperitoneal, trauma tumpul abdomen paling sering
mencederai organ limpa (40- 55%), hati (35-45%), dan usus halus (5-10%) (Cho et al,
2012). Pada trauma tajam abdomen paling sering mengenai hati(40%), usus kecil
(30%), diafragma (20%), dan usus besar (15%) (American College of Surgeons
Committee on Trauma, 2008).
Diantara kelompok cedera yang serius, cedera kepala menduduki urutan
tertinggi, disusul cedera ekstremitas baik di Indonesia maupun di Amerika. Cedera
kepala 25,5%- 54,9%, cedera ekstremitas berkisar antara 17,63 - 42,20%, sedangkan
cedera dada dan perut mencapai 11.8%.7 Di RSUP Sanglah, penyebab kematian
terbanyak oleh karena kecelakaan adalah multiple trauma (16%), trauma kepala (4%),
trauma abdomen (1%) dan trauma thorak (1%). Tindakan operasi sedang besar pada
korban kecelakaan lalu lintas di rumah sakit. Di RSUP Sanglah, rata-rata tiap tahun
pasien kecelakaan yang menjalani operasi adalah 1500 orang (Nur Yuniarti 2012).
4. Etiologi Trauma Abdomen
a. Trauma tembus (trauma perut dengan penetrasi kedalam rongga peritonium).
Disebabkan oleh : luka tembak yang menyebabkan kerusakan yang besar didalam
abdomen. Selain luka tembak, trauma abdomen dapat juga diakibatkan oleh luka
tusuk, akan tetapi luka tusuk sedikit menyebabkan trauma pada organ internal
diabdomen.
b. Trauma tumpul (trauma perut tanpa penetrasi kedalam rongga peritonium).
Disebabkan oleh : pukulan, benturan, ledakan, deselerasi, kompresi atau sabuk
pengaman (set-belt). Pada kecelakaan kendaraan bermotor, kecepatan, deselerasi
yang tidak terkontrol merupakan kekuatan yang menyebabkan trauma ketika
tubuh klien terpukul setir mobil atau benda tumpul lainnya. (Guilon, 2011).

5. Klasifikasi Trauma Abdomen


Trauma pada abdomen dapat di bagi menjadi dua jenis, yaitu :
a. Trauma penetrasi
1) Luka tembak
2) Luka tusuk
b. Trauma non-penetrasi
1) Kompres
2) Hancur akibat kecelakaan
3) Sabuk pengaman
4) Cedera akselerasi
Trauma pada dinding abdomen terdiri dari :
1) Kontusio dinding abdomen disebabkan trauma non-penetrasi. Kontusio dinding
abdomen tidak terdapat cedera intra abdomen, kemungkinan terjadi eksimosis
atau penimbunan darah dalam jaringan lunak dan masa darah dapat menyerupai
tumor.
2) Laserasi, Jika terdapat luka pada dinding abdomen yang menembus rongga
abdomen harus di eksplorasi. Atau terjadi karena trauma penetrasi.Trauma
Abdomen adalah terjadinya atau kerusakan pada organ abdomen yang dapat
menyebabkan perubahan fisiologi sehingga terjadi gangguan metabolisme,
kelainan imonologi dan gangguan faal berbagai organ.
Trauma abdomen pada isi abdomen, menurut Suddarth & Brunner (2002) terdiri dari:
1) Perforasi organ viseral intraperitoneum
Cedera pada isi abdomen mungkin di sertai oleh bukti adanya cedera pada
dinding abdomen.
2) Luka tusuk (trauma penetrasi) pada abdomen
Luka tusuk pada abdomen dapat menguji kemampuan diagnostik ahli bedah.
3) Cedera thorak abdomen
Setiap luka pada thoraks yang mungkin menembus sayap kiri diafragma, atau
sayap kanan dan hati harus dieksplorasi.
6. Patofisiologi Trauma Abdomen
Kerusakan organ abdomen dapat disebabkan oleh trauma tembus, biasanya tikaman
atau tembakan; atau trauma tumpul akibat kecelakaan mobil, pukulan langsung atau
jatuh. Meskipun tipe dan ukuran peluru keparahan dampaknya biasanya dicerminkan
oleh tingkat kerusakan visera, namun timbul begitu banyak variasi, sehingga spekulasi
klinis membahayakan. Luka yang tampak ringan bisa menimbulkan cedera eksterna
yang mengancam nyawa (Boswick, 2012).
Bila suatu kekuatan eksternal dibenturkan pada tubuh manusia (akibat kecelakaan lalu
lintas, penganiayaan, kecelakaan olahraga dan terjatuh dari ketinggian), maka
beratnya trauma merupakan hasil dari interaksi antara faktor-faktor fisik dari
kekuatan tersebut dengan jaringan tubuh. Berat trauma yang terjadi
berhubungan dengan kemampuan obyek statis (yang ditubruk) untuk menahan tubuh.
Pada tempat benturan karena terjadinya perbedaan pergerakan dari jaringan tubuh
yang akan menimbulkan disrupsi jaringan. Hal ini juga karakteristik dari permukaan
yang menghentikan tubuh juga penting. Trauma juga tergantung pada elastitisitas dan
viskositas dari jaringan tubuh. Elastisitas adalah kemampuan jaringan untuk kembali
pada keadaan yang sebelumnya. Viskositas adalah kemampuan jaringan untuk
menjaga bentuk aslinya walaupun ada benturan. Toleransi tubuh menahan benturan
tergantung pada kedua keadaan tersebut. Beratnya trauma yang terjadi tergantung
kepada seberapa jauh gaya yang ada akan dapat melewati ketahanan jaringan.
Komponen lain yang harus dipertimbangkan dalam beratnya trauma adalah posisi
tubuh relatif terhadap permukaan benturan. Hal tersebut dapat terjadi cidera organ
intra abdominal yang disebabkan beberapa mekanisme: (1) Meningkatnya tekanan
intra abdominal yang mendadak dan hebat oleh gaya tekan dari luar seperti benturan
setir atau sabuk pengaman yang letaknya tidak benar dapat mengakibatkan terjadinya
ruptur dari organ padat maupun organ berongga. (2) Terjepitnya organ intra
abdominal antara dinding abdomen anterior dan vertebrae atau struktur tulang dinding
thoraks. (3) Terjadi gaya akselerasi-deselerasi secara mendadak dapat menyebabkan
gaya robek pada organ dan pedikel vaskuler.
Trauma tumpul pada abdomen disebabkan oleh pengguntingan, penghancuran atau
kuatnya tekanan yang menyebabkan rupture pada usus atau struktur abdomen yang
lain. kerusakan umumnya terjadi akibat jepitan antara trauma dengan tulang belakang
lumbal. Keadaan yang sering dijumpai adalah perforasi gaster atau ruptura hepar.
Ruptura hepar dan limpa dijumpai pada keadaan adanya hepatomegali dan / atau
splenomegali. Ruptura buli-buli dijumpai, bila pada trauma tepat dimuka buli buli
dalam keadaan penuh urine.

Pada trauma tembus peluru dimana kerusakan organ agak Complicated, karena
dimungkinkan timbulnya kerusakan multi-organ. Akibat kecepatan tembus peluru dan
perputaran yang terjadi, luka yang terjadi berupa laserasi yang lebih besar dari
diameter peluru. Bila terjadi penembusan diameter abdomen, dimungkinkan
terjadinya kerusakan organ intraperitoneal maupun retroperitoneal sekaligus. Dalam
keadaan tersebut, selain perdarahan, sering ditemukan juga perforasi usus yang
multipel, dan perdarahan luas retroperitoneal. Luka tembak dapat menyebabkan
kerusakan pada setiap struktur didalam abdomen. Tembakan menyebabkan perforasi
pada perut atau usus yang menyebabkan peritonitis dan sepsis.
Trauma tajam dapat dengan mudah mencederai hepar, mesenterium dan mesokolon,
gaster, pancreas atau buli-buli, namun karena sifat mobilitasnya, jarang mencederai
usus halus, kolon, limpa dan ginjal. Akibat dari trauma tajam pada umumnya adalah
perdarahan yang terpantau, atau bila yang terkena cedera adalah gaster, akan didapati
penyebaran asam lambung dalam rongga peritoneum, yang akan memberi
perangsangan yang cukup hebat, berupa tanda-tanda peritonitis.Terjadi perpindahan
cairan berhubungan dengan kerusakan pada jaringan, kehilangan darah dan shock.
Perubahan metabolic dimediasi oleh CNS dan system makroendokrin, mikroendokrin.
Terjadi masalah koagulasi atau pembekuan dihubungkan dengan perdarahan massif
dan transfuse multiple. Inflamasi, infeksi dan pembentukan formasi disebabkan oleh
sekresi saluran pencernaan dan bakteri ke peritoneum. Perubahan nutrisi dan elektrolit
yang terjadi karena akibat kerusakan integritas rongga saluran pencernaan.

Pathway terlampir
7. Manifestasi Klinis Trauma Abdomen
Adapun tanda dan gejala yang dapat terjadi secara umum adalah :
a. Laserasi, memar,ekimosis
b. Hipotensi
c. Tidak adanya bising usus
d. Hemoperitoneum
e. Mual dan muntah
f. Adanya tanda Bruit (bunyi abnormal pd auskultasi pembuluh darah, biasanya
pd arteri karotis),
g. Nyeri
h. Pendarahan
i. Penurunan kesadaran
j. Sesak
k. Tanda Kehrs adalah nyeri di sebelah kiri yang disebabkan oleh perdarahan
limfa.Tanda ini ada saat pasien dalam posisi recumbent.
l. Tanda Cullen adalah ekimosis periumbulikal pada perdarahan peritoneal
m. Tanda Grey-Turner adalah ekimosis pada sisi tubuh ( pinggang ) pada perdarahan
retroperitoneal .
n. Tanda balance adalah daerah suara tumpul yang menetap pada kuadran kiri atas
ketika dilakukan perkusi pada hematoma limfe
Manifestasi klinis menurut organ intraabdomen yang mengalami cedera
a. Cedera pada Lambung dan Usus Halus
Cedera tumpul usus halus atau lambung dapat terlihat dengan adanya
darah pada aspirasi nasogastrik atau hematemesis. Cedera penetrasi biasanya
menyebabkan LPD positif. Pada sisi lain, getah asam lambung mengiritasi
peritoneum dan dapat menyebabkan peritonitis. Potensial komplikasi lainnya
termasuk perdarahan pascaoperasi.
b. Cedera pada Duodenum dan Pankreas
Pankreas dan duodenum akan dibahas bersama-sama karena keduanya
adalah organ-organ retroperitoneal dan secara anatomi dan fisiologi mempunyai
hubungan yang dekat. Diperlukan kekuatan yang besar untuk mencederai organ-
organ ini, karena organ-organ ini terlindung dengan baik, jauh di dalam abdomen.
Tanda-tanda dan gejala-gejala dapat mencakup abdomen akut, peningkatan kadar
amylase serum, nyeri epigastrik yang menjalar ke punggung, mual, dan muntah-
muntah. Trauma tumpul pada duodenum juga dapat mengarah pada obstruksi
duodenal. Diagnosis ditegakkan dengan pemeriksaan diatrizoate (Gastrografin)
gastrointestinal atas. Obstruksi menyeluruh umumnya memerlukan drainase
pembedahan dari hematoma.
c. Cedera pada Kolon
Cedera pada kolon biasanya berkaitan dengan trauma penetrasi. Sifat dari
cedera paling sering menuntut segera dilakukannya operasi eksplorasi. Perbaikan
primer adalah tindakan pilihan untuk laserasi kolon. Kolon mempunyai jumlah
bakteri yang tinggi, tumpahnya isi kolon dapat mencetuskan terjadinya sepsis
intra-abdominal, dan pembentukan abses.
d. Cedera pada Hepar
Setelah limpa, hepar adalah organ abdomen yang paling umum
mengalami cedera. Baik trauma tumpul maupun trauma penetrasi dapat
menyebabkan cedera. Pada banyak kasus, baik sifat dari cedera atau LPD positif
atau skan CT digabung dengan kondisi klinis pasien akan menuntut dilakukannya
pembedahan. Cedera pada hepar juga memerlukan drainase empedu dan darah
pascaoperasi melalui drain. Potensial komplikasi dari cedera hepar termasuk
abses hepatic atau perihepatik, obstruksi atau kebocoran saluran empedu, sepsis,
ARDS dan KID.
e. Cedera pada Limpa
Limpa adalah oragan abdomen yang paling umum mengalami cedera.
Lebih sering sebagai akibat trauma tumpul. Tanda-tanda dan gejala-gejala yang
ditunjukkan termasuk nyeri kuadran kiri atas menjalar sampai ke bahu kiri, syok
hipovolemik, dan temuan-temuan nonspesifik dengan peningkatan jumlah sel
darah putih. LPD, skan CT abdominal, atau pemeriksaan radionuklida biasanya
penting untuk diagnosa.
8. Pemeriksaan Fisik
Untuk pemeriksaan fisik lakukan inspeksi, auskultasi, perkusi dan baru palpasi.
Untuk inspeksi lihat mulai dari keadaan umum klien, ekspresi wajah, tanda-tanda
vital, sikap berbaring, gejala dan tanda dehidrasi, perdarahan, syok, daerah lipat paha
(inguinal, skrotum bila terdapat hernia biasanya ditemukan benjolan). Pada trauma
abdomen biasanya ditemukan kontusio, abrasio, lacerasi dan echimosis. Echimosis
merupakan indikasi adanya perdarahan di intra abdomen. Terdapat Echimosis pada
daerah umbilikal biasa kita sebut Cullens Sign sedangkan echimosis yang
ditemukan pada salah satu panggul disebut sebagai Turners Sign. Terkadang
ditemukan adanya eviserasi yaitu menonjolnya organ abdomen keluar seperti usus,
kolon yang terjadi pada trauma tembus/tajam.
Untuk auskultasi selain suara bising usus yang diperiksa di ke empat kuadran
dimana adanya ekstravasasi darah menyebabkan hilangnya bunyi bising usus. Juga
perlu didengarkan adanya bunyi bruits dari arteri renalis, bunyi bruits pada umbilical
merupakan indikasi adanya trauma pada arteri renalis.
Perkusi untuk melihat apakah ada nyeri ketok. Salah satu pemeriksaan perkusi
adalah uji perkusi tinju dengan meletakkan tangan kiri pada sisi dinding thoraks
pertengahan antara spina iliaka anterior superior kemudian tinju dengan tangan yang
lain sehingga terjadi getaran di dalam karena benturan ringan bila ada nyeri
merupakan tanda adanya radang/abses di ruang subfrenik antara hati dan diafraghma.
Selain itu bisa ditemukan adanya bunyi timpani bila dilatasi lambung akut di kuadran
atas atau bunyi redup bila ada hemoperitoneum. Pada waktu perkusi bila ditemukan
Balance sign dimana bunyi resonan yang lebih keras pada panggul kanan ketika klien
berbaring ke samping kiri merupakan tanda adanya rupture limpe. Sedangkan bila
bunyi resonan lebih keras pada hati menandakan adanya udara bebas yang masuk.
Untuk teknik palpasi identifikasi kelembutan, kekakuan dan spasme hal ini
dimungkinkan diakibatkan karena adanya massa atau akumulasi darah ataupun cairan.
Biasanya ditemukan defans muscular, nyeri tekan, nyeri lepas. Rectal tusi (colok
dubur) dilakukan pada obstrusi usus dengan disertai paralysis akan ditemukan ampula
melebar. Pada obstruksi kolaps karena tidak terdapat gas di usus besar. Pada laki-laki
terdapat prostate letak tinggi menandakan patah panggul yang sginifikan dan disertai
perdarahan. Biasa juga pada klien dilakukan uji psoas dimana klien diminta
mengangkat tungkai dengan lutut ekstensi dan pemeriksa memberi tekanan melawan
gerak tungkai sehingga muskulus iliopsoas dipaksa berkontrasi.Selain uji psoas, ada
uji obturator dimana tungkai penderita diputar dengan arah endorotasi dan eksorotasi
pada posisi menekuk 90 derajat di lutut atau lipat paha. Jika klien merasa nyeri maka
menandakan adanya radang di muskulus obturatorius.
9. Pemeriksaan Penunjang untuk Diagnosis Trauma Abdomen
Menurut Musliha (2010), pemeriksaan penunjang untuk diagnosis trauma abdomen
dapat dibagi menjadi:
a. Pemeriksaan darah rutin
Pemeriksaan Hb diperlukan untuk base-line data bila terjadi perdarahan terus
menerus. Demikian pula dengan pemeriksaan hematokrit. Pemeriksaan leukosit
yang melebihi 20.000/mm tanpa terdapatnya infeksi menunjukkan adanya
perdarahan cukup banyak kemungkinan ruptur lienalis. Serum amilase yang
meninggi menunjukkan kemungkinan adanya trauma pankreas atau perforasi usus
halus. Kenaikan transaminase menunjukkan kemungkinan trauma pads hepar.
b. Plain abdomen foto tegak
Memperlihatkan udara bebas dalam rongga peritoneum, udara bebas retroperineal
dekat duodenum, corpus alineum dan perubahan gambaran usus.
c. Pemeriksaan urine rutin
Menunjukkan adanya trauma pada saluran kemih bila dijumpai hematuri. Urine
yang jernih belum dapat menyingkirkan adanya trauma pada saluran urogenital.

d. Diagnostic Peritoneal Lavage (DPL)


Dapat membantu menemukan adanya darah atau cairan usus dalam rongga perut.
Hasilnya dapat amat membantu. Tetapi DPL ini hanya alat diagnostik. Bila ada
keraguan, kerjakan laparatomi (gold standard).
e. Ultrasonografi dan CT Scan
Sebagai pemeriksaan tambahan pada penderita yang belum dioperasi dan
disangsikan adanya trauma pada hepar dan retroperitoneum.
Pemeriksaan khusus untuk trauma abdomen yaitu:
a. Abdominal paracentesis
Merupakan pemeriksaan tambahan yang sangat berguna untuk menentukan
adanya perdarahan dalam rongga peritoneum. Lebih dari 100.000 eritrosit/mm
dalam larutan NaCl yang keluar dari rongga peritoneum setelah dimasukkan 100
200 ml larutan NaCl 0.9% selama 5 menit, merupakan indikasi untuk laparotomi.
b. Pemeriksaan laparoskopi
Dilaksanakan bila ada akut abdomen untuk mengetahui langsung sumber
penyebabnya.
10. Diagnosis Banding
Menurut Udeani, 2011, diagnosis banding dari trauma abdomen dilihat dari 4
kwadran, yaitu:

1. Kwandran kanan atas :


a. Cholecystitis acute
b. Perforasi tukak duodeni
2. Kwandran kiri atas:
a. Ruptur lienalis
b. Perforasi tukak lambung
3. Paraumbilical:
a. Ileus obstruksi
b. Appendicitis
4. Kwandran kanan bawah:
a. Appendicitis
b. Salpingitis acute

5. Kwandran kiri bawah:


a. Sigmoid diverculitis
b. Salpingitis acute
11. Penatalaksanaan
1. Penanganan Awal Trauma Abdomen
Menurut Musliha (2010), Penilaian Awal yang dilakukan adalah ABC jika ada
indikasi, jika korban tidak berespon, maka segera buka dan bersihkan.
a. Airway
Membuka jalan nafas penggunakan menggunakan teknik head tilt chin lift atau
menengadahkan kepala dan mengangkat dagu, periksa adakah benda asing yang
mengakibatkan tertutupnya jalan nafas. Muntahan, makanan, darah atau benda asing
lainnya.
b. Breathing
Memeriksa pernapasan dengan cara lihat, dengar, rasakan, selanjutnya
pemeriksaan status respirasi klien.
c. Circulation
Jika pernafasan pasien cepat dan tidak adekuat, maka berikan bantuan pernafasan.

Untuk penangan awal trauma abdomen, dilihat dari trauma non-penetrasi dan trauma
penetrasi, yaitu:
a. Penanganan awal trauma non-penetrasi

1. Stop makanan dan minuman


2. Imobilisasi
3. Kirim ke rumah sakit
4. Diagnostic Peritoneal Lavage
b. Penanganan awal trauma penetrasi

1. Bila terjadi luka tusuk, maka tusuan tiak boleh dicabut kecuali oleh tim
medis.
2. Lilitkan pisau untuk emfiksasi agar tidak memperparah luka
3. Bila usus atau orga lain keluar maka organ tersebut tidak boleh dimasukkan,
maka organ tersebut dibaluk dengan kai bersih atau kasa steril.

4. Imobilisasi pasien

5. Tidak makan dan minum


6. Bila luka terbuka, balut dengan menekan
Penanganan di Rumak Sakit
a. Trauma Penetrasi

1. Skrinnig pemeriksaan rongten


Foto thoraks tegak berguna untuk kemungkinan hemo atau pneumothoraks.
Rontgen abdomen untuk menentukan jalan luka atau adanya udara
retroperitoneum
2. IVP atau Urogram Excretory dan CT scan
Ini dilakukan untuk mengetahui jenis cedera ginjal yang ada
3. Uretrografi
Dilakukan untuk mengetahui adanya rupture uretra
4. Sistografi
Ini digunakan untuk mengetahui ada tidaknya cedera pada kandung kencing,
contohnya pada fraktur pelvis dan trauma non penetrasi.
b. Trauma non-penetrasi

1. Pengambilan contoh darah dan urine arah digunakan untuk pemeriksaan lab
rutin dan pemeriksaan darah khusus seperti darah lengkap, potassium, glukosa,
amylase.
2. Pemeriksaan Rongent
Pemeriksaan rontgen servikal lateral, thoraks anteroposterior dan pelvis adalah
pemeriksaan yang harus dilakukan pada penderita dengan multitrauma,
mungkin berguna untuk mengetahui udara ekstraluminal di retroperitoneum
atau udara bebas dibawah diagfragma, yang keduanya memerlukan
laparotomi.
3. Study kontras urologi dan Gastrointestinal
Dilakukan pada cedera yang meliputi daerah duodenum, kolon ascendens atau
descendens dan dubur.
12. Komplikasi Trauma Abdomen
Komplikasi yang dapat muncul dari trauma abdomen terutama trauma tumpul
adalah cedera yang terlewatkan, terlambat dalam diagnosis, cedera iatrogenik, intra
abdomen sepsis dan abses, resusitasi yang tidak adekuat, rupture spleen yang muncul
kemudian (King et al, 2002; Salomone & Salomone, 2011). Peritonitis merupakan
komplikasi tersering dari trauma tumpul abdomen karena adanya rupture pada organ .
Gejala dan tanda yang sering muncul pada komplikasi dengan peritonitis antara lain:
a. Nyeri perut seperti ditusuk
b. Perut yang tegang (distended)
c. Demam (>380C)
d. Produksi urin berkurang
e. Mual dan muntah
f. Haus
g. Cairan di dalam rongga abdomen
h. Tanda-tanda syok
13. Prognosis
Prognosis untuk pasien dengan trauma abdomen bervariasi. Tanpa data statistic
yang menggambarkan jumlah kematian di luar rumah sakit, dan jumlah pasien total
dengan traumaabdomen, gambaran spesifik prognosis untuk pasien trauma intra
abdomen sulit. Angka kematian untuk pasien rawat inap berkisar antara 5-10%
(Udeani & Steinberg, 2011).

A. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan


1. Pengkajian

Tgl/Jam : - No. RM :-
Triage : P1/P2/P3 Diagnosa Medis : Trauma Abdomen
Transportasi : Ambulan/Mobil Pribadi/Lain-lain.........
Nama: - Jenis Kelamin : -
CIRCULATION Identitas

Umur :-Alamat :-
Keluhan Utama : Luka tusuk atau tumpul

Nadi : Teraba Tidak teraba : Lemah


Tekanan Darah : < 120/80mmHg
Pucat : Ya Tidak
Sianosis : Ya Tidak
CRT : < 2 detik > 2 detik
Akral : Hangat Dingin S: >37,50C
Pendarahan : Ya, Lokasi: tergantung dari penyebab perdarahan
Jumlah : > 15% dari total volume darah
Turgor : Elastis Lambat
Diaphoresis: Ya Tidak
Riwayat Kehilangan cairan berlebihan: -
Keluhan Lain: -
Masalah Keperawatan : PK Pendarahan dan PK Syok Hipovolemik
Jalan Nafas : Paten Tidak Paten
Obstruksi : Lidah Cairan Benda Asing Tidak Ada
AIRWAY

Muntahan Darah Oedema


Suara Nafas : Snoring Gurgling crowing Tidak ada
Keluhan Lain: -
Masalah Keperawatan : tidak ada masalah keperawatan
Nafas : Spontan Tidak Spontan
Gerakan dinding dada: Simetris Asimetris
Irama Nafas : Cepat Dangkal Normal
Pola Nafas : Teratur Tidak Teratur
Jenis : Dispnoe Kusmaul Cyene Stoke Takipneu
BREATHING

Suara Nafas : Vesikuler Wheezing Ronchi


Sesak Nafas : Ada Tidak Ada
Cuping hidung : Ada Tidak Ada
Retraksi otot bantu nafas : Ada Tidak Ada
Pernafasan : Pernafasan Dada Pernafasan Perut
RR : > 20 x/mnt
Keluhan Lain: pasien mengeluh kesulitan bernafas
Masalah Keperawatan :Ketidakefektifan Pola Nafas

Kesadaran : Compos mentis Delirium Somnolen Koma


GCS : Eye: Verbal: Motorik
Pasien yang mengalami syok stadium IV biasanya akan mengalami
penurunan kesadaran
DISABILITY

Pupil : Isokor Unisokor Pinpoint Medriasis


Refleks Cahaya: Ada Tidak Ada
Refleks fisiologis: Patela (+/-) Lain-lain
Refleks patologis : Babinzky (+/-)Kernig (+/-) Lain-lain ... ..
Kekuatan Otot : tidak mengalami gangguan
Keluhan Lain : tidak ada

Masalah Keperawatan: PK Hipovelemia


Deformitas : Ya Tidak Abdomen
Contusio : Ya Tidak Abdomen
Abrasi : Ya Tidak Abdomen

Penetrasi : Ya Tidak Abdomen


EXPOSURE

Laserasi : Ya Tidak Abdomen


Edema : Ya Tidak Lokasi
Luka Bakar : Ya Tidak Lokasi ... ...
Grade : %
Luka bakar dapat menyebabkan timbulnya syok akibat dari hilangnya cairan
tubuh
Jika ada luka/ vulnus, kaji: Bervariasi tergantung gaya yang diberikan jika terjadi
luka tusuk, misalnya sampai mengenai jaringan otot atau bahkan tulang.
Luas Luka : - cm
Warna dasar luka : -
Kedalaman : -
Lain-lain : tidak ada
Masalah Keperawatan : Kerusakan intergritas kulit dan Kerusakan
intergritas jaringan
Monitoring Jantung : Sinus Bradikardi Sinus Takikardi
FIVE INTERVENSI

Saturasi O2 : < 80%


Kateter Urine : Ada Tidak
Pemasangan NGT : Ada Tidak Warna Cairan Lambung : -
Pemeriksaan Laboratorium : Hb= rendah g%, Ht= rendah %.
Lain-lain: tidak ada
Masalah Keperawatan: tidak ada masalah keperawatan
Nyeri : Ada Tidak Ada
Problem : Adanya trauma pada abadomen sehingga merangsang
GIVE COMFORT

reseptor nyeri
Qualitas/ Quantitas : kualitas nyeri seperti tertusuk atau di tekan
Regio : Kaji seluruh abdomen tergantung lokasi abdomen
Skala :5
Timeng : Nyeri bertambah kuat atau berat saat di gerakan
Lain-lain :-
Masalah Keperawatan: Nyeri akut
Keluhan Utama :Pasien mengeluh lemas

Mekanisme Cedera (Trauma) :-


(H 10) SAMPLE

Sign/ Tanda Gejala :-

Allergi :-
Medication/ Pengobatan :-
Past Medical History :-
Last Oral Intake/Makan terakhir: -
Event leading injury : Peristiwa sebelum/awal cedera
(Fokus pemeriksaan pada daerah trauma/sesuai kasus non trauma)
Kepala dan wajah :-
Leher :-
Dada :-
(H2) HEAD TO TOE

Abdomen dan Pinggang :


Trauma tusuk
Terdapat luka tusuk pada bagian abdomen dengan kedalaman sekitar 5 cm dan
luas sebesar 5 cm. Luka mengeluarkan darah segar.
Trauma tumpul
Ada atau tidaknya bising usus, pembengkakan abdomen, adanya spasme massa
dan nyeri tekan pada abdomen.
Pelvis dan Perineum :-
Ekstremitas :-
Masalah Keperawatan:tidak ada masalah keperawatan

2. Analisa Data

Data Pohon masalah Masalah


1 Ds : Pasien Trauma Abdomen PK Perdarahan
mengeluh
kondisi Pada trauma non penetrasi dapat
tubuhnya menyebabkan benturan pada
merasa lemas abdomen sehingga terjadi cedera
Do : Pasien terlihat
pada organ berongga dan jika
pucat, Sianosis
tidak diatasi dapat terjadi
(+), TD
perdarahan di dalam abdomen,
(90//50), CRT >
jika pada trauma penetrasi dapat
2 detik, akral
menyebabkan kerusakan
teraba dingin,
jaringan berupa perdarahan
turgor lambat
PK Perdarahan

2 Ds: Pasien Nyeri Akut


Trauma Abdomen
mengeluh nyeri
dengan kriteria :
P : Nyeri terjadi Perforasi lapisan abdomen
setelah pasien
mengalami benturan Menyebabkan terjadinya kontusio,
pada perutnya jejas, hematoma
Q : Nyeri dirasakan
seperti tertususk atau
Respon inflamasi
ditekan
R : Nyeri dirasakan
Pengeluaran agen bradikinin,
di areal perut
prostagladin, histamin
S : Pasien
mengatakan
nyerinya dalam permeabilitas
skala 7
Sel & cairan intravaskuler masuk ke
T : Nyeri bertambah
jaringan
kuat/berat saat
digerakan
Pembengkakan
Do: Hasil
pengamatan Menekan syaraf nosiseptik
menunjukan pasien
berada dalam nyeri Transduksi stimulus kimiawi
skala 7, pasien
Transmisi impuls dari perifer ke
terlihat meringis dan medulla spinalis
memegangi area
Modulasi nyeri pada korteks
perutnya posterior medulla

Impuls diteruskan ke talamus

Impuls diteruskan kedaerah


somatosensori korteks cerebri

Persepsi nyeri
Nyeri Akut

3 Ds : Pasien Trauma Abdomen Kerusakan Integritas


mengatakan Jaringan
mengalami benturan Robeknya organ berongga, organ
pada bagian padat, organ visceral, khususnya
perutnya bagian distal
Do: Terdapat
deformitas pada
regio abdomen,
abrasi (+), laserasi Kerusakan
Integritas Jaringan
(+)

Diagnosa Keperawatan
1. PK Perdarahan
2. Kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan faktor mekanik robekan akibat
trauma abdomen ditandai dengan kerusakan jaringan
3. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera fisik di tandai dengan melaporkan nyeri
secara verbal, menangis dan indikasi nyeri dapat diamati.
Rencana Asuhan Keperawatan
Diagnosa Tujuan Intervensi Rasional Evaluasi
PK Setelah diberikan asuhan NIC Label: Shock NIC Label: Shock S : -
Perdarahan keperawatan selama 1 x 10-15 prevention prevention
O:
menit, diharapkan perdarahan 1. Monitoring status 1. Untuk mengetahui - Laju pernafasan klien
teratasi dengan criteria hasil: sirkulasi (Tekanan darah, keadaan peredaran darah stabil dan dapat
NOC Label: Vital Sign warna kulit, Suhu, bunyi internal apakah baik atau kembali ke rentang
1. Suhu tubuh dalam batas jantung, irama dan tidak. normal
2. Status oksigenasi
normal (36,5o-37,5oC). frekuensi jantung, - Tekanan darah dalam
2. Nadi radial dala batas normal menunjukan kondisi
keberadaan dan kualitas rentang normal
(60-100 x/menit). peredaran darah ke otak.
nadi perifer, CRT) A : Tujuan Tercapai
3. RR dalam batas normal (12- 3. Status mental yang baik
2. Monitoring tanda-tanda
20 x/menit) menunjukan kondisi P :
inadekuat oksigenasi
- Pertahankan intervensi
NOC Label: Blood Loss severity tubuh dalam keadaan
jaringan
- Pertahankan dan pantau
1. Tidak ada distensi abdomen. 3. Monitoring ketakutan normal.
2. Tidak terjadi penurunan 4. Untuk menilai tanda- keadaan umum klien.
peningkatan cemas dan
tekanan darah sistolik dan tanda adanya gangguan -
perubahan status mental
diastolic. 4. Monitoring temperature oksigenasi.
3. Tidak terjadi kehilangan 5. Untuk mencegah adanya
dan status respiratory
suhu tubuh. 5. Monitoring intake dan penumpukan cairan.
4. Kulit dan Mukosa tidak 6. Untuk menilai status
output
pucat. 6. Monitoring nilai sirkulasi apakah lancar
5. Tidak ditemukan data
laboratorium, khususnya atau tidak.
Penurunan Hb. 7. Kondisi membran
6. Tidak ditemukan data level hemoglobin dan mukosa menunjukan
Penurunan Hct hematokrit, clotting bagaimana kondisi
profile, AGD, dan nilai internal tubuh
8. Untuk mengetahui
elektrolit, kultur, dan
adanya perdarahan pada
profile kimia.
7. Catat bruising, peteki, dan saluran perkemihan
9. Untuk menilai kondisi
kondisi membrane
pasien
mukosa.
10. Untuk mencegah adanya
8. Tes urin untuk darah,
penumpukan cairan
glukosa dan protein.
11. Tanda-tanda vital
9. Monitor nyeri abdomen
10. Monitoring tanda dan menunjukan kondisi
gejala asites kesehatan pasien
11. Monitor respon awal 12. Untuk mendeteksi
kompensasi kehilangan adanya shock akibat
cairan: peningkatan HR, perdarahan.
13. Posisi supinasi dapat
penurunan TD, ortostatik
membantu aliran darah
hipotensi, penurunan urin
ke otak.
output, penurunan CRT,
14. Untuk mengurangi
pucat dan kulit dingin,
hambatan pernapasan
dan diaphoresis.
pasien
12. Monitoring tanda awal
15. Menjaga agar keperluan
shock septic: klit teraba
hemoglobin pasien
hangat, kering,
kemerahan; peningkatan terpenuhi
16. Untuk menghindari
kardiak output dan
adanya mikroorganisme
teperatur, penurunan SVR
asing dalam tubuh
dan PAP.
17. Untuk menjaga status
13. Tempatkan pasien pada
cairan pasien
posisi supinasi dengan
18. Untuk mempertahankan
kaki elevasi untuk
status oksigenasi pasien
meningkatkan preload, 19. Antiinflmatori untuk
sesuai kebutuhan. mencegah terjadinya
14. Pertahankan kepatenan
thrombosis.
jalan napas
15. Berikan cairan intravena,
berikan RBC dan atau
plasma jika diperlukan.
16. Inisiasi administrasi awal
agen antimicrobial dan
monitor ketat
keefektifannya.
17. Pasang dan pertahankan
akses IV dengan ukuran
aboket yang besar.
18. Berikan oksigen
19. Berikan agen
antiinflamatori jika
diperlukan.

NIC Label: Emergency care


NIC Label: Emergency care 1. Untuk menentukan
1. Pantau kondisi tingkat
kegawatdaruratan dengan kegawatdaruratan klien
memberikan label. sehingga dapat
2. Lakukan penanganan
menentukan prioritas
kondisi gawat darurat
tindakan yang tepat.
dengan cepat dan tepat. 2. Penanganan yang cepat
3. Pertahankan jalan napas
dan tepat diperlukan
4. Lakukan RJP
5. Pindahkan pasien ke untuk meminimalkan
lokasi yang aman komplikasi yang
6. Monitor TTV
mungkin terjadi.
3. Untuk mempertahankan
jalan nafas agar tetap
paten sehingga
memungkinkan untuk
terjadinya pertukaran
gas
4. Untuk memacu
kontraksi jantung dan
paru-paru sehingga
sirkulasi dapat kembali
normal.
5. Untuk meminimalkan
terjadinya cedera pada
klien
6. Untuk memonitor
keadaan umum klien,
sehingga dapat
menentukan intervensi
selanjutnya yang tepat.
TTV dapat
menggambarkan kondisi
umum klien.

Kerusakan Setelah di lakukan asuhan NIC: Wound Care NIC: Wound Care S:-
integritas keperawatan selama 2x24 1. Memantau karakteristik 1. Pemantuan karakteristik
O:
jaringan kerusakan jaringan pasien dapat dari luka, termasuk secara cepat dapat - Tampak warna luka
berhubungan teratasi dengan criteria hasil: drainase, warna, ukuran mengambil tindakan pada kulit normal
dengan faktor luka, dan bau perawatan dengan tepat - Tampak drainase
Tissue Integrity: Skin& Mucous 2. Membersihkan luka
mekanik sesuai dengan jenis luka berkurang
Membranes trauma tusuk pada
robekan akibat 2. Membersihkan luka
1. Integritas jaringan utuh abdomen dengan normal A : Tujuan Tercapai
trauma dengan normal salin
2. Perfusi jaringan normal salin
abdomen yang sering digunakan P:
ditandai 3. Warna abnormal tidak 3. Menggunakan dressing yaitu Nacl 0,9% cairan - Memantau
dengan Nampak secara tepat sesuai jenis fisiologis. karakteristik dari luka,
4. Jaringan yang luka berkurang
kerusakan luka trauma tusuk 3. Memilih dressing yang termasuk drainase,
5. Eritema berkurang
jaringan abdomen tepat dapat menentukan warna, ukuran luka,
proses penyembuhan dan bau
luka - Pertahankan dan
pantau keadaan umum
klien

Nyeri akut Setelah dilakukan asuhan NIC LABEL : Pain NIC LABEL : Pain S:-
keperawatan selama 1 x15 menit, Management Management
O:
diharapkan keadaan pasien 1. Lakukan 1. Agar dapat - Tampak nyeri
membaik dengan criteria hasil : pengkajian nyeri secara memberikan intervensi berkurang
NOC LABEL : Pain Control komprehensif termasuk yang tepat untukpasien - Skala nyeri dala
2. Tidak semua pasien mau
1. Menggunakan analgetik lokasi, karakteristik, rentang normal
mengungkapka nnyeri,
sesuai yang dianjurkan durasi, frekuensi, kualitas A : Tujuan intervensi
2. Menggunakan terapi non budaya pasien
dan faktor presipitasi tercapai
algesik 2. Observasi memengaruhi hal ini.
3. Melaporkan nyeri terkontrol 3. Meningkatkan
reaksi non verbal dan P:
kenyamanan pasien dan - Pertahankan dan
ketidaknyamanan pasien
NOC LABEL : Pain Level 3. Pilih dan mengurangi dosis obat pantau keadaan umum
1. Pasien dapat melaporkan lakukan penanganan nyeri yang diperlukan klien.
4. Analgetik dapat
skala nyeri berkurang (farmakologi, non - Lanjutkan intervensi
2. Tidak terjadi agitasi farmakologi dan diberikan jika nyeri dalam pemberian
3. Pasien dapat tidur tanpa
interpersonal) tidak dapat dikontrol analgetik untuk
terbangun karena yang 4. Berikan
mengurangi nyeri.
dirasakan akibat trauma analgetik untuk
NIC LABEL : Analgesic
abdomen mengurangi nyeri
Administration
1. Dapat menentukan
analgetik yang akan
NIC LABEL : Analgesic
diberikan / dianjurkan
Administration 2. Mencegah terjadi alergi
1. Tentukan obat yang akan
lokasi nyeri, karakteristik, diberikan dan membantu
kualitas, dan tingkat memilih analgetik yang
keparahan sebelum tepat.
3. Memastikan ketepatan
melakukan pengobatan
2. Periksa catatan obat dan konsentrasi
alergi dengan obat
3. Pastikan
formula dariobat
(misalnya konsentrasi
obat)
Daftar Pustaka

Boswick, John A. (2013). Perawatan Gawat Darurat. Jakarta: EGC


Doctherman, Joanne M., Gloria N. Bulecheck. 2004. Nursing Interventions
Classification (NIC) Fifth Edition. USA: Mosby Elseviyer
Guilon, F., 2011. Epidemiology of Abdominal Trauma. In :CT of The Acute Abdomen.
London: Springer; 15-26.
Herdman, T. Heatherd. 2012. Diagnosis Keperawatan : Definisi dan Klasifikasi 2012-
2014. Jakarta: EGC
Ignativicus, Donna D ; Workman. 2006. Medical Surgical Nursing Critical Thinking for
Collaborative Care. USA : Elsevier Saunders
Musliha. 2010. Keperawatan Gawat Darurat. Yogyakarta: Nuha Medika

Moorhead, Sue. 2004. Nursing Outcomes Classification (NOC) Fifth Edition. USA:
Mosby Elseviyer
Pearce, Evelyn C. 2009. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta: PT.
Gramedia Pustaka Utama Syaifuddin. 2011. Anatomi Fisiologi: Kurikulum
Berbasis Kompetensi untuk Keperawatan dan Kebidanan. Edisi 4.
Jakarta:EGC

Scheets,Lynda J.2002.Panduan Belajar Keperawatan Emergency.Jakarta: EGC


Sloane, Ethel. 2004. Anatomi dan Fisiologi untuk Pemula. Jakarta: EGC.

Smeltzer, S. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner Suddarth. Volume 2 Edisi
8. Jakarta : EGC. 2001.

Udeani,J.,201 Blunt abdominal trauma http://emedicine.medscape.com/article/1980980


(Diakses pada 1 Oktober 2014).

Udeani,J.,2013.Bluntabdominaltrauma.http://emedicine.medscape.com/article/1980980
(Diakses pada 1 Oktober 2014).