Anda di halaman 1dari 4

Hadyu (Dam)

MAR 5

Posted by Hasan Husen Assagaf


Hadyu (Dam) Yang Wajib Dikeluarkan

Hadyu adalah binatang yang disembelih di tanah haram Mekah dalam rangka ibadah haji atau
umrah. Para ulama Fiqih menamakannya DAM, yang berarti darah, karena binatang tersebut
ditumpahkan darahnya waktu disembelih.

Hadyu ini paling sedikit berupa seekor kambing untuk 1 orang atau seekor unta atau seekor
sapi untuk 7 orang.

Siapa yang meninggalkan wajib haji, atau melakukan sesuatu yang diharamkan dalam haji,
atau melakukan haji tamattu (melakukan umrah sebelum haji), atau melakukan haji qiran
(menggabung Haji dan Umrah), maka wajib baginya membayar Dam yaitu menyembelih hewan
atau menggantikannya dengan berpuasa atau memberi makan fakir miskin. Hal ini dilakukan
demi untuk menyempurnakan hajinya. Pelaksanaan Dam dalam haji sama dengan pelaksanaan
fidyah dalam puasa.

Hadyu (Dam) terbagi atas 4 bagian

1. Dam tartib dan taqdir


2. Dam tartib dan tadil
3. Dam takhyir dan taqdir
4. Dam takhyir dan tadil
1- Dam Tartib Dan Taqdir

Dam tartib dan taqdir yaitu Dam yang dikeluarkan dengan menyembelih seekor kambing
seperti kambing kurban. Dan apabila tidak mampu, diganti dengan puasa 10 hari: 3 hari pada
waktu haji dan 7 hari setelah pulang. Penyembelihannya dilakukan pada hari Nahar dan hari-
hari Tasyriq di Mina atau di Mekah. Yang punya Dam boleh ikut memakannya. Kalau
menyembelihnya diupahkan orang, maka tidak boleh memberinya upah dari daging Dam itu.

Adapun yang mewajibkan Dam tartib dan taqdir yaitu;

1- Jika seorang haji melakukan haji tamattu

2- Jika seorang haji melakukan haji qiran

3- Jika seorang haji tidak melakukan ihram pada miqatnya (tempat ihram)

4- Jika seorang haji tidak melontar jumroh

5- Jika seorang haji tidak bermalam di Muzdalifah

6- Jika seorang haji tidak bermalam di Mina

7- Jika seorang haji tidak melakukan thawaf wada (thawaf perpisahan)


8- Jika seorang haji tidak dapat wukuf di Arafah karena terlambat yaitu terbitnya fajar hari
Nahr (10 Dzul Hijjah) ia tidak hadir di Arafah. Jika keterlambatan itu karena udzur ia tidak
berdosa dan hajinya diganti menjadi umrah. Ia harus melakukan umrah, tahallul dari manasik
umrah, tidak wajib melontar jumroh, tidak wajib mabit di Mina dan wajib baginya membayar
Dam. Jika yang ketinggalan itu adalah haji fardhu wajib mengqadha hajinya pada tahun
berikutnya (jika mampu), dan Ini menurut kesepakatan ulama.

:


( )

Sesuai dengan hadits dari Ibnu Umar ra, ia berkata: Barangsiapa yang tidak mendapatkan
Arafah sampai terbit matahari (hari Nahr), maka hajinya telah tertinggal (batal), maka ia harus
datang ke Baitullah untuk melakukan thawaf tujuh kali dan sai atara Shafa dan Marwa. Lalu
mencukur atau menggunting rambutnya, jika ia memiliki Hadyu maka disembelihnya sebelum
mencukur. Jika ia selesai thawaf dan sai maka harus mencukur atau menggunting rambutnya,
kemudian kembali kepada keluarganya. Jika ia mendapatkan haji pada tahun berikutnya, maka
harus melakukan haji jika mampu, dan melakukan hadyu dalam hajinya, jika tidak mampu
maka berpuasa 3 hari di haji dan 7 hari jika kembali kepada keluarganya (HR al-Baihaqi
dengan isnad shahih)

2- Dam Tartib Dan Tadil

Dam tartib dan tadil yaitu Dam yang dibayar oleh seorang haji karena melanggar dua
ketentuan sebagai berikut:

A Dam yang dibayar disebabkan bersetubuh sebelum tahallul awwal, maka hajinya batal dan
wajib membayar kifarat dengan menyembelih seekor unta atau sapi atau 7 ekor kambing
dan wajib mengulangi (menqadha) hajinya tahun berikutnya, jika tidak mampu atau
mendapatkan kesulitan dalam menyembelih unta maka dibayar nilainya dengan makanan
yang diberikan kepada faqir miskin di tanah Haram, atau berpuasa setiap satu mud satu
hari puasa. Hal ini sesuai dengan fatwa para shahabat Nabi saw

B Dam yang dibayar disebabkan karena ihshor yaitu terhalang tidak bisa menyelesaikan
ibadah haji atau umroh, baik karena dihadang musuh, karena kecelakaan, karena
kemataian muhrim (suami atau istri) atau karena lainnya yang membuat seseorang
terpaksa tidak bisa melanjutkan hajinya. Orang yang terhalang itu disebut Muhshor. Ia
boleh bertahallul tidak melanjutkan ibadahnya setelah menyembelih seekor kambing.
Kalau bisa dia harus mengirim Dam itu ke Mekah dan baru bertahallul sesampai Dam itu di
Mekah dan disembelih disana. Tapi kalau tidak mungkin, ia boleh menyembelihnya di
tempat ia terhalang, lalu bertahallul. Jika tidak mampu atau mendapatkan kesulitan
dalam menyembelih kambing maka dibayar nilainya dengan makanan yang diberikan
kepada orang-orang miskin, atau berpuasa setiap satu mud satu hari puasa




( )



Ibnu Abbas berkata: Adapun barang siapa dihalangi oleh musuh atau lainnya, maka dia
bertahallul dan tidak harus kembali (mengulang tahun depan). Dan apabila telah membawa
serta hadyu, padahal dia muhshor ia boleh menyembelihnya apabila ia tidak bisa mengirimnya
(ke Mekah). Dan apabila dia bisa mengirimnya, maka dia tidak bertahallul sehingga hadyu itu
sampai di tempat penyembelihannya. (H.R. Bukhari)

Firman Allah:





Artinya: Jika kamu terkepung (terhalang oleh musuh atau karena sakit), maka (sembelihlah)
korban yang mudah didapat, dan jangan kamu mencukur kepalamu, sebelum korban sampai di
tempat penyembelihannya. (Qs al-Baqarah ayat: 196)

Keterangan (Taliq):

Mengadakan akad nikah saat masih ihram maka pernikahannya batal, tetapi hajinya tetap sah
dan tidak wajib membayar Dam.

( ) :

:

Dari Utsman bin Affan, bahwasanya Rasulullah Saw bersabda: Orang yang sedang berihram
tidak boleh menikah dan tidak boleh dinikahkan serta tidak boleh meminang. (HR. Muslim)

3- Dam Takhyir Dan Taqdir

Dam takhyir dan taqdir yaitu Dam yang dibayar dengan menyembelih seekor kambing seperti
kambing kurban atau berpuasa tiga hari atau bersedekah sebanyak setengah sha (kurang lebih
1.75 liter) kepada 6 orang fakir miskin

Adapun yang mewajibkan Dam takhyir dan taqdir yaitu;

Mencukur atau menggunting rambut

Allah berfirman:




Artinya: Jika ada di antaramu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu ia bercukur),
maka wajiblah atasnya berfidyah, yaitu: berpuasa atau bersedekah atau berkorban. (Qs Al-
Baqarah ayat: 196)
Memotong kuku
Memakai minyak rambut disaat haji
Memakai wangi-wangian disaat haji
Memakai pakaian berjahit (bagi laki-laki)
Berjima setelah jima pertama sebelum tahallul awal
Berjima setelah tahallul awal
Bercanda dengan istri yang bisa menimbulkan birahi
Keterangan (Taliq):

Berjima (bersetubuh) diwaktu haji:

Berjima (bersetubuh) sebelum tahallul awal, yaitu sebelum melempar jumrah Aqobah pada
pagi hari tanggal 10 Dzul-hijjah. Ini hukumnya berat, yaitu:

hajinya batal dan wajib membayar kifarat dengan menyembelih seekor unta atau sapi atau 7
ekor kambing dan wajib mengulangi (menqadha) hajinya tahun berikutnya, jika tidak mampu
atau mendapatkan kesulitan dalam menyembelih unta maka dibayar nilainya dengan makanan
yang diberikan kepada faqir miskin di tanah Haram, atau berpuasa setiap satu mud satu hari
puasa. Hal ini sesuai dengan fatwa para shahabat Nabi saw

Berjima (bersetubuh) setelah tahallul awal, yaitu setelah melempar jumrah Aqobah pada
pagi hari tanggal 10 Dzul-hijjah, setelah mecukur rambut atau memotongnya. Pada saat itu ia
diperbolehkan melakukan apa saja yang diharamkan dalam perbuatan haji kecuali berjima
dengan istri sampai selesai mengerjakan thawaf ifadhah (tahallul kedua). Tahu-tahu dia
melanggarnya (yaitu berjima setelah tahallul awal), maka hukum hajinya sah tapi dia harus
bayar dam. Dam ini disebut Dam takhyir dan taqdir yaitu Dam yang dibayar dengan
menyembelih seekor kambing seperti kambing kurban atau berpuasa tiga hari atau bersedekah
sebanyak setengah sha (kurang lebih 1.75 liter) kepada 6 orang fakir miskin.

4- Dam Takhyir Dan Tadil

Dam takhyir dan tadil ialah Dam yang dikeluarkan karena membunuh binatang darat diwaktu
melakukan manasik haji ((kecuali ular, kala jengking , tikus dan lain-lain yang dipandang
membahayakan), Maka orang bersangkutan harus menyembelih hewan yang sepadan dengan
hewan yang dibunuhnya (kalau kambing harus dibayar dengan kambing. Kalau ayam harus
dibayar dengan ayam. Dan seterusnya), atau dibayar nilainya dengan makanan yang diberikan
kepada orang-orang miskin, atau berpuasa setiap satu mud satu hari puasa.

Allah berfirman:





Artinya: janganlah kamu membunuh binatang buruan, ketika kamu sedang ihram. Barang
siapa di antara kamu membunuhnya dengan sengaja, maka dendanya ialah mengganti dengan
binatang ternak seimbang dengan buruan yang dibunuhnya, menurut putusan dua orang yang
adil di antara kamu, sebagai had-ya yang di bawa sampai ke Kakbah, atau (dendanya)
membayar kafarat dengan memberi makan orang-orang miskin, atau berpuasa seimbang
dengan makanan yang dikeluarkan itu, supaya dia merasakan akibat yang buruk dari
perbuatannya (Qs al-Maidah ayat: 95)