Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN

1. LATAR BELAKANG MASALAH


Retensio urine adalah ketidak mampuan untuk melakukan urinasi meskipun terdapat
keinginan atau dorongan terhadap hal tersebut. (Brunner & Suddarth). Retensio urine adalah
sutau keadaan penumpukan urine di kandung kemih dan tidak punya kemampuan
untuk mengosongkannya secara sempurna. (PSIK UNIBRAW).
Urin merupakan hasil dari ekskresi manusia yang dihasilkan dari penyaringan darah
yang dilakukan di ginjal. Urin normal berwarna kekuning-kuningan atau terang dan
transparan.Urin terdiri dari air dengan bahan terlarut berupa sisa metabolisme (seperti urea),
garam terlarut, dan materi organik. Cairan dan materi pembentuk urin berasal dari darah atau
cairan interstisial. Komposisi urin berubah sepanjang proses reabsorbsi ketika molekul yang
penting bagi tubuh, misal glukosa, diserap kembali ke dalam tubuh melalui molekul
pembawa. Cairan yang tersisa mengandung urea dalam kadar yang tinggi dan berbagai
senyawa yang berlebih atau berpotensi racun yang akan dibuang keluar tubuh. Materi yang
terkandung di dalam urin dapat diketahui melalui urinalisis.
Dalam urin bisa terdapat amonia. Amonia adalah suatu produk yang dihasilkan ketika
proses pencernaan protein. Hati memproduksi amonia yang berbahaya terutama jika fungsi
hati juga tidak berjalan dengan baik.
Setiap menit akan mengalir sejumlah 1060 ml darah (1/5 cardic out put) menuju ke 2
ginjal melalui arteri renalis. Dari jumlah tersebut darah yang akan kembali melalui vena
renalis sejumlah 1059 ml sedangkan sisanya sebesar 1 ml akan keluar sebagai urin.
Proses Miksi (Rangsangan Berkemih)
Distensi kandung kemih, oleh air kemih akan merangsang stres reseptor yang terdapat
pada dinding kandung kemih dengan jumlah 250 cc sudah cukup untuk merangsang
berkemih (proses miksi). Akibatnya akan terjadi reflek kontraksi dinding kandung kemih, dan
pada saat yang sama terjadi relaksasi spinser internus, diikuti oleh relaksasi spinter eksternus,
dan akhirnya terjadi pengosongan kandung kemih. Rangsangan yang menyebabkan kontraksi
kandung kemih dan relaksasi spinter interus dihantarkan melalui serabut serabut para
simpatis. Kontraksi sfinger eksternus secara volunter bertujuan untuk mencegah atau
menghentikan miksi. kontrol volunter ini hanya dapat terjadi bila saraf saraf yang
menangani kandung kemih uretra medula spinalis dan otak masih utuh. Bila terjadi kerusakan

1
pada saraf saraf tersebut maka akan terjadi inkontinensia urin (kencing keluar terus
menerus tanpa disadari) dan retensi urine (kencing tertahan).

2. RUMUSAN MASALAH
Adapun permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini adalah :
a) Apa yang dimaksud denganRetensi urine ?
b) Bagaimana anatomi dan fisiologi Perkemihan ?
c) Apa penyebab dari Retensi urine?
d) Apa saja faktor resiko dari Retensi urine?
e) Bagaimana klasifikasi dari Retensi urine ?
f) Bagaimana patofisiologi dan pathway dari Retensi urine?
g) Apa saja manifestasi klinis dari Retensi urine?
h) Apa komplikasi yang akan ditimbulkan dari Retensi urine ?
i) Bagaimana pemeriksaan diagnostik dariRetensi urine ?
j) Bagaimana penatalaksanaan dari Retensi urine?
k) Bagaimana pencegahan dari Retensi urine?

3. TUJUAN PENULISAN
Tujuan penulisan ini dibedakan menjadi dua yakni :
A. TUJUAN UMUM
Tujuan penulisan ini secara umum adalah agar penulis dapat memahami
LANDASAN TEORI Retensi urine dan bisa di terapkan dalam praktek keperawatan
nantinya.

B. TUJUAN KHUSUS
Tujuan penulisan dari makalah ini diantaranya sebagai berikut :
a. Memahami tentang pengertian dari Retensi urine
b. Memahami tentang penanganan pasien dengan retensi urine.
c. Untuk memenuhi syarat perpanjang kontrak BLUD RSUD Suradadi.

2
BAB II
TINJAUAN TEORI

A. PENGERTIAN
Retensi urine adalah suatu keadaan penumpukan urine di kandung kemih dan tidak
mempunyai kemampuan untuk mengosongkannya secara sempurna. Retensio urine
adalah kesulitan miksi karena kegagalan urine dari fesika urinaria. (Mansjoer, 2000).
Retensio urine adalah tertahannya urine di dalam kandung kemih, dapat terjadi
secara akut maupun kronis. (Depkes RI Pusdiknakes 1995).
Retensio urine adalah ketidak mampuan untuk melakukan urinasi meskipun
terdapat keinginan atau dorongan terhadap hal tersebut.(Brunner & Suddarth).
Retensio urine adalah suatu keadaan penumpukan urine di kandung kemih dan
tidak punya kemampuan untuk mengosongkannya secara sempurna. (PSIK UNIBRAW).
Deri beberapa pengertian di atas penulis menyimpulkan retensi urine merupakan
penumpukan dikandung kemih serta ketidak mampuan untuk mengosongkan kandung
kemih secara sempurna.

B. ANATOMI DAN FISIOLOGI SISTEM PERKEMIHAN


Struktur anatomi dan fisiologi system urinaris bagian bawah
Sistem urinaria bagian bawah terdiri atas buli-buli dan uretra yang keduanya harus
bekerja secara sinergis untuk dapat menjalankan fungsinya dalam menyimpan (storage)
dan mengeluarkan (voiding) urine. Buli-buli merupakan organ berongga yang terdiri atas
mukosa, otot polos destrusor, dan serosa. Pada perbatasan antara buli-buli dan uretra,
terdapat sfingter uretra interna yang terdiri atas otot polos. Sfingter interna ini selalu
tertutup pada saat fase miksi atau pengeluaran (evacuating). Di sebelah distal dari uretra
posterior terdapat sfingter uretra eksterna yang terdiri atas otot bergaris dari otot dasar
panggul. Sfingters ini membuka pada saat miksi sesuai dengan perintah dari korteks
serebri. ( buku dasar-dasar urologi )
Pada fase pengisian, terjadi relaksasi otot destrusor dan pada fase pengeluaran
urine terjadi kontraksi otot detrusor. Selama pengisian urine, buli-buli mampu untuk
melakukan akomodasi yaitu meningkatkan volumenya dengan mempertahankan
tekanannya dibawah 15 cm H2O, sampai volumenya cukup besar. ( buku dasar-dasar
urologi )
(Smeltzer, Suzanne C. 2001)

3
Perubahan normal pada sistem renal dan urinaria akibat penuaan dirangkum dalam tabel

TABEL : PERUBAHAN NORMAL SISTEM RENAL DAN URINARIA AKIBAT


PENUAAN
Perubahan Normal TerkaitUsia ImplikasiKlinis
Penebalan dasar membran Filtrasi darah kurang efisien
Penurunan area permukaan glomerular
Penurunan panjang dan volume tubulus
proksimal
Penurunan aliran darah vaskuler
Penurunan masa otot yang tidak Penurunan total cairantubuh
berlemak Resiko dehidrasi
Peningkatan total lemaktubuh
Penurunan cairan intra sel
Penurunan sensasi haus
Penurunan kemampuan untuk
memekatkan urine Peningkatan resiko osteoporosis
Penurunanhormon yang penting untuk
absorpsi kalsium dari saluran
gastrointestinal Peningkatan resiko inkontinensia
Penurunan kapasitas kandung kemih
Peningkatan volume residu peningkatan
kontraksi kandung kemih yang tidak
disadari
Atropi pada otot kandung kemih secara
umum

4
C. ETIOLOGI
Adapun penyebab dari penyakit retensio urine adalah sebagai berikut:
a. Supra vesikal berupa kerusakan pada pusat miksi di medulla spinallis S2 S4 setinggi
T12L1.Kerusakan saraf simpatis dan parasimpatis baik sebagian ataupun seluruhnya,
misalnya pada operasi miles dan mesenterasi pelvis, kelainan medulla spinalis, misalnya
miningokel,tabes doraslis, atau spasmus sfinkter yang ditandai dengan rasa sakit yang hebat.
b. Vesikal berupa kelemahan otot detrusor karena lama teregang, anatomi pada pasien DM
atau penyakit neurologist, divertikel yang besar.
c. Intravesikal berupa pembesaran prostate, kekakuan leher vesika, striktur, batu kecil,tumor
pada leher vesika, atau fimosis.
d. Dapat disebabkan oleh kecemasan, pembesaran porstat, kelainan patologi urethra(infeksi,
tumor, kalkulus), trauma, disfungsi neurogenik kandung kemih.
e. Beberapa obat mencakup preparat antikolinergik antispasmotik (atropine), preparat anti
depressant antipsikotik (Fenotiazin), preparat anti histamin (Pseudoefedrin hidroklorida=
Sudafed), preparat penyekat adrenergic (Propanolol), preparat anti hipertensi (hidralasin)
(Mansyoer Arif, dkk. 2001)

Etiologo dari retensi urin juga dapat di kelompokan berdasarkan bentuk- bentuknya :
no Bentuk-bentuk retensi Penyebab
1 ObstruksiMekanis Struktururetha
malformasi saluran kemih
Malformasi sum-sum belakang
2 Kongenital Kalkulus Inflamasi
Trauma Tumor
Hyperplasia kehamilan
3 Yang di dapat disfungsi neurologic
refluks ureter oversikalis
berkurangnya aktifitas peristaltic ureter
4 Obstruksi fungsional Atrofiobat detrusor
Cemas, seperti takut nyeri setelah operasi
Obat-obatan, seperti anesthesia, narkotika
sedatif, adananti, histamin

5
D. MANIFESTASI KLINIS
Pada retensi urin akut di tandai dengan nyeri, sensasi kandung kemih yang penuh
dan distensi kandung keimih yan ringan. Pada retensi kronik ditandai dengan gejala iritasi
kandung kemih ( frkuensi,disuria,volume sedikit) atau tanpa nyeri retensi yang nyata.
Adapun tanda dan gejala dari pnyakit retensi urin ini adalah :
1. Di awali dengan urin mengalir lambat
2. Terjadi poliuria yang makin lama makin parah karena pengosongan kandung
kemih tidak efisien.
3. Terjadi distensi abdomen akibat dilatasi kandung kemih
4. Terasa ada tekanan, kadang trasa nyeri dan kadang ingin BAK
5. Pada retensi berat bisa mencapai 2000-3000 cc
Tanda klinis retensi:
a. Ketidak nyamanan daerah pubis
b. Distensi vesika urinia.
c. Ketidak sanggupan untuk berkemih.
d. Ketidak seimbangan jumlah urin yang di keluarkan dengan asupannya.
Retensi urine dapat menimbulkan infeksi yang bisa terjadi akibat distensi kandung
kemih yang berlebihan gangguan suplai darahpada dinding kandu kemih dan proliferasi
bakteri. Gangguan fungsi renal juga dapat terjadi, khususnya bila terdapat obstruksi
saluran kemih.
(Smeltzer, Suzanne C. 2001)

E. FATOFISIOLOGI
Patofisiologi penyebab retensi urin dapat dibedakan berdasarkan sumber penyebabnya
antara lain :
1.Gangguan supravesikal adalah gangguan inervasi saraf motorik dan sensorik.
Misalnya DM berat sehingga terjadi neuropati yang mengakibatkan otot tidak mau
berkontraksi.
2.Gangguan vesikal adalah kondisi lokal seperti batu di kandung kemih, obat
antimuskarinik/antikolinergik (tekanan kandung kemih yang rendah) menyebabkan
kelemahan pada otot detrusor.
3.Gangguan infravesikal adalah berupa pembesaran prostat (kanker, prostatitis),
tumor pada leher vesika, fimosis, stenosis meatus uretra, tumor penis, striktur uretra,
trauma uretra, batu uretra, sklerosis leher kandung kemih (bladder neck sclerosis).
Pada retensio urine, penderita tidak dapat miksi, buli-buli penuh disertai rasa
sakit yang hebat di daerah suprapubik dan hasrat ingin miksi yang hebat disertai
mengejan. Retensio urine dapat terjadi menurut lokasi, factor obat dan factor lainnya
seperti ansietas, kelainan patologi urethra, trauma dan lain sebagainya.

6
Berdasarkan lokasi bisa dibagi menjadi supra vesikal berupa kerusakan pusat
miksi di medulla spinalsi menyebabkan kerusaan simpatis dan parasimpatis sebagian
atau seluruhnya sehingga tidak terjadi koneksi dengan otot detrusor yang
mengakibatkan tidak adanya atau menurunnya relaksasi otot spinkter internal, vesikal
berupa kelemahan otot detrusor karena lama teregang, intravesikal berupa hipertrofi
prostate, tumor atau kekakuan leher vesika, striktur, batu kecil menyebabkan
obstruksi urethra sehingga urine sisa meningkat dan terjadi dilatasi bladder kemudian
distensi abdomen. Factor obat dapat mempengaruhi proses BAK, menurunkan
tekanan darah, menurunkan filtrasi glumerolus sehingga menyebabkan produksi urine
menurun. Factor lain berupa kecemasan, kelainan patologi urethra, trauma dan lain
sebagainya yang dapat meningkatkan tensi otot perut, peri anal, spinkter anal eksterna
tidak dapat relaksasi dengan baik.
Dari semua factor di atas menyebabkan urine mengalir labat kemudian terjadi
poliuria karena pengosongan kandung kemih tidak efisien. Selanjutnya terjadi distensi
bladder dan distensi abdomen sehingga memerlukan tindakan, salah satunya berupa
kateterisasi urethra.
(Smeltzer, Suzanne C. 2001)

7
F. PATHWAY
Supra vesikal Vesikal Intra vesikal
(diabetes milletus) (Batu kandung kemih) (obstruksi kandung kemih)

Kerusakan medula
Spinalis (kerusakan
Saraf simpatis dan
Para simpatis Otot detrusor pentumbatan/penyempitan
Melemah uretra

Neuropati (otot tidak


mau kontraksi)

Distensi kandungkemih

RETENSI URINE

Perubahan Distensi Vesika urinaria


Status kesehatan vesika urinaria penuh

ANSIETAS
Ansietas menekan gangguan neurologi
Syaraf sekitar

Gangguan
NYERI AKUT eliminasi urine

Brunner and Suddarth. (2010).

8
G. KOMPLIKASI
a. Urolitiasis atau nefrolitiasis
Nefrolitiasis adalah adanya batu pada atau kalkulus dalam velvis renal, sedangkan
urolitiasis adalah adanya batu atau kalkulus dalam sistem urinarius. Urolithiasis mengacu
pada adanya batu (kalkuli) ditraktus urinarius. Batu terbentuk dari traktus urinarius ketika
konsentrasi subtansi tertentu seperti kalsium oksalat, kalsium fosfat, dan asam urat
meningkat.
b. Pielonefritis
Pielonefritis adalah radang pada ginjal dan saluran kemih bagian atas. Sebagian besar
kasus pielonefritis adalah komplikasi dari infeksi kandung kemih (sistitis). Bakteri masuk ke
dalam tubuh dari kulit di sekitar uretra, kemudian bergerak dari uretra ke kandung kemih.
Kadang-kadang, penyebaran bakteri berlanjut dari kandung kemih dan uretra sampai ke
ureter dan salah satu atau kedua ginjal. Infeksi ginjal yang dihasilkan disebut pielonefritis.
c. Hydronefrosis merupakan penggembungan ginjal yang disebabkan oleh
tersumbatnya aliran air kemih sehingga mengakibatkan tekanan balik terhadap ginjal.
d. Pendarahan adalah keluarnya darah dari pembuluh darah, biasanya akibat cedera.
(Smeltzer, Suzanne C. 2001)

H. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Adapun pemeriksaan diagnostic yang dapat dilakukan pada retensio
urine adalah sebagai berikut :
Pemeriksaan specimen urine.
Pengambilan: steril, random, midstream.
Penagmbilan umum: pH, BJ, Kultur, Protein, Glukosa, Hb, KEton, Nitrit.
Sistoskopy, BNO IVP

Table urinalitis
no Pemeriksaan Normal Abnormal
Warna Kekuning-kuningan Merah: menunjukan hematuri ( kemungikan
obstruksi urun kalkulus, renalis tumor,
kegagalan ginjal )

9
Kejernihan Jernih Keruh : terdapat kotoran , sendimen bakteri (
infeksi urinaria)
Bobotjenis 1.003-100351 Biasanya menunjukan intake cairan semakin
sedikit iritan cairan semakin tinggi bobot
jenis
Bila bobot jenih tetap rendah (1.010-1.014)
di duga terdapat penyakit ginjal.

Protein 0-8 mg/dl Proteinuria dapat terjadi karena diet tinggi


protein dan karena banyak gerakan (
terutama yang lama )
Gula 0 Terlihat pada penyakit renal

Eritrosit 0-4 Cedera jaringan ginjal

Leukosit 0-5 Infeksi saluran kemih

Cast/silinder 0 Infeksi saluran ginjal, penyakit renal

PH 4.6-6.8 ( rata-rata 6.0 ) Alkali bila dibiarkan atau pada infeksi


saluran Kemih .tingkat asam meningkat
pada asidosis tubulus renalis
Keton 0 Keton uria terjadi karena kelaparan dan
keton asidosis diabetic

I. PENATALAKSANAAN
Bila diagnosis retensi urin sudah ditegakkan secara benar, penatalaksanaan ditetapkan
berdasarkan masalah yang berkaitan dengan penyebab retensi urinnya.
Pilihannya adalah

1. Kateterisasi

2. Sistostomi suprapubik

10
- trokar

- terbuka

3. Pungsi suprapubik

1.) Kateterisasi
Syarat-syarat
- dilakukan dengan prinsip aseptik
- digunakan kateter nelaton/sejenis yang tidak terlalu besar, jenis Foley
- diusahakan tidak nyeri agar tidak terjadi spasme dari sfingter.
- diusahakan dengan sistem tertutup bila dipasang kateter tetap.
- diberikan antibiotika profilaksis sebelum pemasangan kateter 1 X saja (biasanya
tidak diperlukan antibiotika sama sekali). Kateter tetap dipertahankan sesingkat
mungkin, hanya sepanjang masih dibutuhkan.

Teknik kateterisasi
- Kateter Foley steril, untuk orang dewasa ukuran 16-18 F.
- Desinfeksi dengan desinfektans yang efektif, tidak mengiritasi kulit genitalia (tidak
Mengandungalkohol)
- Anestesi topikal pada penderita yang peka dengan jelly xylocaine 2-4% yang
dimasukkan dengan semperit 20cc serta "nipple uretra" diujungnya. Jelly tersebut
sekaligus berperan sebagai pelicin. (Pada batu atau striktura uretra, akan dirasakan
hambatan pada saat memasukkan jelly tersebut)
- Kateter yang diolesi jelly K-Y steril dimasukkan kedalam uretra. Pada penderita
wanita biasanya tidak ada masalah. Pada penderita pria, kateter dimasukkan dengan
halus sampai urin mengalir (selalu dicatat jumlah dan warna / aspek urin), kemudian
balon dikembangkan sebesar 5-10 ml. .
- Bila diputuskan untuk menetap, kateter dihubungkan dengan kantong penampung
steril dan dipertahankan sebagai sistem tertutup.
- Kateter di fiksasi dengan plester pada kulit paha proksimal atau didaerah inguinal dan
diusahakan agar penis mengarah kelateral, hal ini untuk mencegah terjadinya nekrosis
akibat tekanan pada bagian ventral uretra di daerah penoskrotal Perawatan Kateter
tetap Penderita dengan kateter tetap harus
- Minum banyak untuk menjamin diuresis

11
- Melaksanakan kegiatan sehari-hari secepatnya bila keadaan mengijinkan
Membersihkan ujung uretra dari sekrit dan darah yang mengering agar pengaliran
sekrit dan lumen uretra terjamin.
- Mengusahakan kantong penampung urin tidak melampaui ketinggian buli-buli agar
urin tidak mengalir kembali kedalamnya
- Mengganti kateter (nelaton) setiap dua minggu bila memang masih diperlukan untuk
mencegah pembentukan batu (kateter silikon : penggantian setiap 6-8 minggu sekali)

2). Sistostomi suprapubik


Sistostomi Trokar
Indikasi
1. Kateterisasi gagal : striktura, batu uretra yang menancap (impacted).
2. Kateterisasi tidak dibenarkan : kerobekan uretra path trauma.
Syarat-syarat:
- Retensi urin dan bull-buli penuh, kutub atas lebih tinggi pertengahan jarak antara
simfisis -umbilikus
- Ukuran kateter Foley lebih kecil daripada celah dalam trokar (< - > 20F)dorongan
kelewatan sehingga trokar menembus dinding belakang buli-buli.
Sistostomi Terbuka
Indikasi
- lihat sistostomi trokar
- bila sistostomi trokar gagal
- bila akan melakukan tindakan tambahan seperti mengambil batu di dalam bull-buli,
evaluasigumpalan darah, memasang "drain" di rongga Retzii, dan sebagainya.
- Perawatan kateter sistostomi jauh lebih sederhana daripada kateter tetap melalui uretra.
Demikianpula penggantian kateter sistostomi setiap dua minggu, lebih mudah dan tidak
menimbulkan nyeriyang berarti. Kadang-kadang saja urin merembes di sekitar kateter.
3). Pungsi Buli-Buli
Merupakan tindakan darurat sementara bila keteterisasi tidak berhasil dan fasilitas /
sarana untuksistostomi baik trokar maupun terbuka tidak tersedia. Digunakan jarum pungsi
dan penderitasegera dirujuk ke pusat pelayanan dimana dapat dilakukan sistostomi. Penderita
dan keluarga harus diberi informasi yang jelas tentang prosedur ini karena tanpatindakan
susulan sistostomi, buli-buli akan terisi penuh kembali dan sebagian urin merembesmelalui
lubang bekas pungsi.

12
J. DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL
NANDA (2000) dan NIC NOC (2012) :

a. Gangguan pola eliminasi urin (Retensi urin) berhubungan dengan ketidak


mampuan kandung kemih untuk berkontraksi dengan adekuat, infeksi bladder,
gangguan neurology, hilangnya tonus jaringan perianal, efek terapi.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3 X 24 jam masalah retensi urine
dapat teratasi.
Kriteria hasil : - Berkemih dengan jumlah yang cukup
- Tidak teraba distensi kandung kemih
Intervensi :
1) Dorong pasien utnuk berkemih tiap 2-4 jam dan bila tiba-tiba dirasakan.
R : Meminimalkan retensi urin dan distensi berlebihan pada kandung kemih.
2) Awasi dan catat waktu dan jumlah tiap berkemih.
R : Retensi urin meningkatkan tekanan dalam saluran perkemihan atas.
3) Perkusi/palpasi area suprapubik
R: Distensi kandung kemih dapat dirasakan diarea suprapubik.
b. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan distensi pada kandung kemih.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3 X 24 jam masalah nyeri dapat
teratasi.
Kriteria hasil : - Menyatakan nyeri hilang / terkontrol
- Menunjukkan rileks, istirahat dan peningkatan aktivitas dengan
tepat
Intervensi :
1) Kaji nyeri, perhatikan lokasi, intensitas nyeri.
R : Memberikan informasi untuk membantu dalam menetukan intervensi.
2) Pertahankan tirah baring bila diindikasikan nyeri.
R : Tirah baring mungkin diperlukan pada awal selama fase retensi akut.
3) Pasang kateter
R : untuk kelancaran drainase.
4) Plester selang drainase pada paha dan kateter pada abdomen.
R : Mencegah penarikan kandung kemih dan erosi pertemuan penis-skrotal.
5) Kolaborasi dalam pemberian obat sesuai indikasi, contoh eperidin.

13
c. Ansietas berhubungan dengan status kesehatan.
Tujuan:
- Tampak rileks, menyatakan pengetahuan yang akurat tentang situasi.
- Menunjukkan rentang tepat tentang perasaan dan penurunan rasa takutnya.
Intervensi:
1) Berikan informasi tentang prosedur dan apa yang akan terjadi, contoh kateter,
iritasi kandung kemih.
2) Pertahankan perilaku nyata dalam melakukan prosedur atau menerima pasien.
3) Dorong pasien atau orang terdekat untuk menyatakan masalah / perasaan
d. Resiko infeksi berhubungan dengan terpasangnya kateter urethra.
Tujuan:
Mencapai waktu penyembuhan dan tidak mengalami tanda infeksi.
Intervensi:
1) Pertahankan system kateter steril, berikan perawatan kateter regular dengan sabun
di sekitar sisi kateter.
2) Awasi tanda tanda vital, perhatikan demam ringan, menggigil, nadi dan
pernafasan cepat, gelisah.
3) Observasi sekitar kateter suprapubik

14
BAB III

LAPORAN KASUS

Asuhan Keperawatan pada Ny.S

dengan Rentensi Urine di Ruang IGD (Instalasi Gawat Darurat)

RSUD Suradadi - Kab. Tegal

Hari/Tanggal : Selasa , 6 Desember 2016

Tempat pengkajian : IGD RSUD SURADADI

Rumah Sakit : RSUD SURADADI

Jam : 18:00 WIB

IDENTITAS DIRI KLIEN

Nama : Ny.S

Tanggal lahir : 01 Januari 1946

No. RM : 04-19-36

Jenis kelamin : Perempuan

Agama : Islam

Alamat : Ds.Bojong sana Rt.01 Rw.01

Diagnosa Medis : Retensi Urine

Tgl masuk Rs : 06 Desember 2016

Jam : 18:00 WIB

15
A. Primary survey :
1. Airways :
a. Jalan nafas : Tidak ada sumbatan
b. Suara nafas : Vesikuler
Tindakan : -

2. Breathing :
a. Frekuensi nafas : 20x/mnt
b. Irama nafas : Teratur
c. Pola nafas : normal
d. Jenis pernafasan : Thoraco abdominal
e. Trauma dada : Tidak ada
Tindakan :-

3. Circulation :
a. Akral : Dingin
b. Irama nadi : cepat , 90 x/mnt
c. Perdarahan : tidak ada perdarahan
d. Kelembaban kulit : lembab
e. Turgor kulit : normal
Tindakan : ajarkan distraksi relaksasi

4. DisabilitY
a. Tingkat kesadaran : GCS ( E:4 ;V:5 ;M:6 ) =15
b. Pupil : Normal (isokor)
c. Respon cahaya : (+)
d. Kekuatan otot :
Tindakan :-

5. Eksposure
a. Adanya trauma : tidak ada trauma
b. Adanya jejas : tidak ada jejas
Tindakan :

16
B. Secondary Survey :

Pasien datang ke UGD diantar anaknya dalam keadaan kesakitan yang luar biasa.
pasien mengatakan sudah 2 hari pasien saat BAK keluar sedikit-sedikit serta harus mengejan
dan saat tadi pagi pasien tidak bisa BAK sama sekali, kandung kemih terasa sangat penuh.
Saat kejadian pasien merasakan kesakitan yang luar biasa pada daerah perut bagian bawah
dan merasa dingin.

C. Keluhan Utama :
Nyeri perut bagian bawah

D. Riwayat penyakit :

Pasien mengatakan tidak mempunyai riwayat penyakit DM, HT, dan Asma
dan pasien tidak mempunyai alergi makanan dan obat.

E. Pemeriksaan fisik :

KU : Lemah

Tingkat kesadaran : Compos mentis

TTV :

TD : 160/90 mmHg

Nadi : 90 x/mnt

Suhu : 36,6 c

RR : 20 x/mnt

Spo2 : 100 %

17
1. Pemeriksaan Head to toe

a). Kepala

a.1. Wajah dan kulit kepala

bentuk wajah mesosepal

a.2. Mata

mata simetris, sklera tidak ikterik, konjung tiva tidak anemis.

a.3. Hidung

tidak ada peradangan, tidak ada perdarahan dari hidung

a.4. Telinga

bentuk telunga simetris, tidak ada jejas di telinga, terdapat


serumen.

a.5. Mulut

keadaan gigi kotor, tidak memakai gigi palsu, tidak ada


radang, lidah kotor, bibir kering.

b). Leher

Tidak ada pembesaran kelenjar tyroid, tidak ada jejas di leher.

c). dada

Jantung
Inpeksi : Normal, Tidak ada pelebaran
Palpasi : Normal, tidak melebar Itus cordis teraba
Perkusi : Pekak
Auskultasi : Irama teratur

Paru-paru
Inspeksi : Bentuk, normal : kanan kiri sama
Suara pernafasan : Normal, tidak ada kelainan
Palpasi : Normal, Palpasi klien tidak ada kelainan
Auskultasi : Irama teratur
Suara nafas : vesicular, normal
Perkusi : Sonor, tidak ada cairan

18
Kebersihan : Bersih, tidak ada cairan / udara
Masalah kep : Tidak ada masalah

d.)Abdomen
Inpeksi : simetris, tidak ada tanda tanda perdarahan pada
umbilikal,
Auskultasi : Peristaltik usus ada 5 x/mnt
Palpasi : terdapat nyeri tekan pada perut bagian bawah dengan
Skala nyeri 8
Perkusi : suara tympani
Masalah kep : Masalah, nyeri akut

f). Genetalia

Terdapat prolap uteri sebesar telur ayam.

Urine tidak keluar sama sakali dari pagi.

Terdapat nyeri tekan Skala : 8

g). Ekstremitas

akral dingin, tidak ada oedema, turgor kulit lembab. Fungsi masih
normal.

2. Program terapi di IGD


Pemasangan DC

3. Pemeriksaan penunjang
Tidak ada

19
F. ANALISA DATA
NO/ DATA Etiologi Masalah
TGL
1. Data subjekif : Distensi pada kandung Nyeri akut
06 o Klien mengeluh tidak bisa kemih
DES BAK sejak 8 jam sebelum
16 masuk rumah sakit
o Klien mengeluh nyeri di
suprapubik
o Klien sejak 2 hari BAK
tidak lancar
Data objektif :
o Nyeri tekan suprapubik
P : Retensi urin
Q : nyeri seperti ditusuk
R :Vesika Urinaria
S : 7-8 ( nyeri berat )
T : menetap
o Ekspresi wajah meringis
saat nyeri timbul
o Klien tampak tegang
o Pemeriksaan fisik
didapatkan adanya distensi
di vesika urinaria, kandung
kemih penuh
o Diaforesis
2. Data subjektif: Gangguan neurologi Gangguan pola
06 o Klien mengeluh kandung eliminasi urine
DES kemih terasa penuh
16 o Klien mengeluhkan tidak
dapat berkemih sejak 8 jam
yang lalu

20
o Klien mengeluh urinnya
tidak keluar sama sekali.
Data objektif :
o Urin tidak keluar sama sekali
o Distensi vesika urinaria
o Pengeluaran urin < 1500 hari

G. DIAGNOSA KEPERAWATAN BERDASARKAN PRIORITAS


1. Nyeri akut b/d distensi pada kandung kemih
2. Gangguan eliminasi urine b/d gangguan neurologi

H. INTERVENSI KEPERAWATAN
No Diagnsa Tujuan dan kriteria Intervensi(NIC) Ttd
/tgl keperawatan hasil ( NOC )
1. Nyeri akut b/d Setelah dilakukan Intervensi: Teguh
distensi pada tindakan keperawatan 1. lakukan pengkajian nyeri
kandung kemih selama secara kompre hensif
1 x 2 jam pasien dapat termasuk lokasi,
mengontrol nyeri karakteristik, durasi,
Dengan indikator: frekuensi,
1. Mengenali faktor 2. kualitas dan faktor
penyebab presipitasi.
Mengenali onset 3. observasi reaksi non
(lamanya sakit) verbal dari ketidak
2. Menggunakan nyamanan
metode 4. Gunakan teknik
pencegahan komunikasi terapeutik
3. Menggunakan untuk mengetahui

21
metode non pengalaman nyeri pasien.
analgetik untuk 5. kaji kultur yang
mengurangi nyeri mempengaruhi respon
4. Menggunakana nyeri
nalgetik sesuai 6. evaluasi pengalaman nyeri
kebutuhan masa lampau
5. Mencari bantuan 7. evaluasi bersama pasien
tenaga kesehatan dan tim kesehatan lain
6. Melaporkan tentang ketidak efektifan
Gejala Pada kontrol nyeri masa lampau
tenaga kesehatan 8. bantu pasien dan
7. Menggunakan keluarga untuk mencari
sumber-sumber dan menemukan dukungan
yang tersedia 9. Kontrol lingkungan yang
8. Mengenali gejala- dapat mempengaruhi nyeri
gejala nyeri seperti suhu ruangan,
9. Mencatat pencahayaan dan
Pengalaman nyeri kebisingan kurangi faktor
Sebelumnya presipitasi
10. Melaporkan nyeri 10. pilih dan lakukan
sudah terkontrol penanganan nyeri
(farmakologi, non
farmakologi dan
interpersonal)
11. kaji tipe dan sumber nyeri
untuk menentukan
12. intervensi ajarkan tentang
teknik non farmakologi
13. evaluasi keefektifan
kontrol nyeri tingkatkan
istirahat

22
2 Gangguaneliminasi NOC : Intervensi: Teguh
urine b/d gangguan Symptom severity 1. Kaji secara verbal dan non
neurologi Urinary elimination verbal respon klien
Setelah dilakukan terhadap tubuhnya
tindakan keperawatan 2. Kaji ulang frekuensi
selama 1x 2 jam mengkritik dirinya
diharapkan pasien bisa 3. Bimbing pasien untuk
BAK dengan mencari penyebab
Kriteriahasil : perubahan tubuhnya
1. Pengosongan 4. Dorong klien
bladder secara mengungkapkan
sempurna perasaannya (identifikasi
2. Warna urin (dbn) kebiasaan positif dari
3. Bau urin (dbn) kehidupan klien untuk
4. Urin terbebas dari meningkatkan harga diri
partikel klien)
5. Balance cairan 5. Identifikasi arti
selama 24 jam pengurangan melalui
6. Urin dapat keluar pemakaian alat bantu
tanpa kesakitan (dengan menggunakan
kateterakan mengurangi
dampak mengompol,
tubuh bau pesing)
6. Jelaskan tentang
pengobatan, perawatan,
kemajuan dan prognosis
penyakit
7. Tawarkan bantuan dari
profesional lain seperti
psikolog, ahli konseling
seksual)
8. Fasilitasi kontak dengan
individu lain

23
I. IMPLEMENTASI

Nama pasien : Ny.S Alamat : Bojongsana 1/1

Tanggal lahir : 01 Januari 1946 Diagnosa : Retensi urine

No. RM : 04 19 36

Tgl/jam No. DX Tindakan Respon Pasien Ttd


6-12-16
18:00 I Memberikan pasien posisi Pasien merasa kesakitan pada Teguh
senyaman mungkin daerah perut bagian bawah.
(posisi semi fowler)

18:00 II Mengukur tanda-tanda vital TD : 160/90 mmHg Teguh

Nadi : 90 x/mnt

Suhu : 36,6 c

RR : 20 x/mnt

Spo2 : 100 %

18:05 I Mengkaji KU pasien KU : Baik, kasadaran Teguh


Composmentis.pasien
kooperatif

18:05 I Mengkaji nyeri P : Retensi urine Teguh


Q : seperti di tusuk - tusuk
R : Perut bagian bawah
S : Skala 7-8
T : Terus - menerus

18:10 I Mengajarkan pasien teknik Pasien mau melakukan teknik Teguh


distraksi relaksasi ( nafas distraksi nafas dalam yang
dalam ) ajarkan oleh perawat.
Tarik nafas dalam dalam
lewat hidung dan hembuskan
kembali lewat mulut, lakukan
minimal 3X

18:25 II Memasang DC sesuai advis Pasien mau dipasang selang Teguh


dokter DC

18:25 II Memantau urine yang keluar Urine langsung keluar banyak Teguh
350 cc, warna kuning jernih

18:35 I Menganjurkan pasien untuk pasien mau mengompres Teguh

24
mengompres bagian yang sakit bagian yang sakit dengan air
menggunakan air hangat. hangat

19:00 I Mengkaji ulang nyeri P : Retensi urine Teguh


Q : seperti di tusuk - tusuk
R : Perut bagian bawah
S : Skala 3-4
T : hilang timbul

19:05 I,II Mengukur TTV TD : 130/80 mmHg Teguh

Nadi : 88 x/mnt

Suhu : 36,5 c

RR : 20 x/mnt

Spo2 : 100 %

19:10 II Memotifasi pasien untuk rawat Pasien menolak untuk di Teguh


inap rawat inap

19:15 II Menganjurkan pasien untuk Pasien mau kontrol ke dokter Teguh


kontrol ke dokter SPOG SPOG hari berikutnya

25
J. EVALUASI ( S O A P )
Nama pasien : Ny.S Alamat : Bojongsana 1/1

Tanggal lahir : 01 Januari 1946 Diagnosa : Retensi urine

No. RM : 04 19 36

Tgl/jam No.DX EVALUASI ( S O A P ) Ttd


06-12-16 1 S : Klien mengatakan nyeri berkurang
O : Klien tampak tenang
P : Nyeri berkurang
Q : seperti di tusuk - tusuk
19.30 Teguh
R : Perut bagian bawah
S : Skala 4
T : hilang timbul

A : Masalah teratasi

P : Pertahankan Intervensi

06-12-16 2 S : Pasien mengatakan sudah bisa BAK meski pakai selang


DC
O : tampak urine keluar di urine bag 350 cc
19.30 Kandung kemih sudah kosong
TD : 130/80 mmHg
Nadi : 88 x/mnt
Teguh
Suhu : 36,5 c
RR : 20 x/mnt
Spo2 : 100 %

A : masalah sudah teratasi


P : pertahankan intervensi
Kontrol pada dokter SPOG

26
BAB IV
PENUTUP
1. KESIMPULAN
Berdasarkan uraian dan hasil analisa dari bab I sampai pada bab III dapat
disimpulkan bahwa : Retensio urine adalah ketidakmampuan melakukan urinasi
meskipun terdapat keinginan atau dorongan terhadap hal tersebut atau tertahanya urine
didalam kandung kemih.
Klien dengan retensio urine dapat terjadi karena berbagai factor seperti:
Vesikal berupa kelemahan otot detrusor karena lama teregang,
Terjadinya prolap Uteri
kelainan patologi urethra.
Oleh karena itu perlu dilakukan perawatan dan Penatalaksanaan pada kasus
retensio urine dengan cara :
a. Kateterisasi urethra.
b. Dilatasi urethra dengan boudy.
c. Drainage suprapubik.

2. SARAN
Sebagai seorang perawat, sudah menjadi kewajiban untuk memberikan
tindakan perawatan dalam asuhan keperawatan yang diarahkan kepada pembentukan
tingkat kenyamanan pasien, manajemen rasa sakit dan keamanan. Perawat harus mampu
mamahami faktor psikologis dan emosional yang berhubungan dengan diagnosa
penyakit, dan perawat juga harus terus mendukung pasien dan keluarga dalam menjalani
proses penyakitnya.

27
Daftar Pustaka
1. Brunner and Suddarth. (2010). Text Book Of Medical Surgical Nursing 12th Edition.
China : LWW.
2. Doenges E. Maril ynn, Moorhouse Frances Mary, Geisster C
Alice.(2000). RencanaAsuhan Keperawatan: Pedoman untuk perencanaan dan
pendokumentasian perawatan pasien Edisi 3. Jakarta: EGC.
3. Smeltzer, Suzanne C. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal BedahBrunner &
Suddarth Edisi 8. Jakarta: EGC.
4. Mansyoer Arif, dkk. 2001. Kapita selekta kedokteran Jilid 1 Edisi ke tiga.
Jakarta:Media Aesculapius.
5. Depkes RI Pusdiknakes. 1995. Asuhan Keperawatan Pasiendengan Gangguan dan
Penyakit Urogenital. Jakarta: Depkes RI.
6. www.Google.com

28

Anda mungkin juga menyukai