Anda di halaman 1dari 32

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kehamilan merupakan proses fisiologis yang terjadi dalam tubuh seorang wanita,
dimana kehamilan merupakan proses fertilisasi atau menyatunya spermatozoa dan
ovum yang dilanjutkan dengan proses nidasi atau implantasi yang berlangsung selama
40 minggu (prawihardjo, 2008). Meskipun merupakan suatu proses fisiologis banyak
sekali penyulit yang biasanya menyertai kehamilan yang dapat mengakibatkan
tingginya kematian maternal, salah satu penyulit tersebut adalah pre eklamsi. pre
eklamsi berat merupakan komplikasi dari pre eklamsi ringan yang nantinya akan
berisiko untuk kematian janin dan neonatus, serta menyebabkan kematian ibu hamil
(Bobak, 2005)
Hasil penelitian yang dilakukan Sri Rejeki pada tahun 2009, menyebutkan bahwa
kasus preeklampsia berat diderita oleh ibu hamil yang usianya < 20 tahun (11,2%)
dan >35 tahun (18,37%). Berdasarkan hasil analisis, dapat disimpulkan bahwa
kehamilan di atas usia 35 tahun sangat memungkinkan terjadi preeklampsia berat
dibanding kehamilan pada usia 20-35 tahun serta kehamilan dengan usia < 20 tahun.
Selain itu, pada penelitian tersebut menunjukkan bahwa 11(22,45%) ibu hamil
yang mengalami preeklampsia, memiliki riwayat preeklampsia sebelumnya. Dari
analisis yang dilakukan, diperoleh hasil bahwa ada hubungan antara riwayat
preeklampsia pada kehamilan sebelumnya dengan kejadian preeklampsia berat pada
kehamilan saat ini.
Preeklampsia yang terjadi pada ibu hamil, dapat menyebabkan berbagai macam
komplikasi (Cohen,2009) yaitu pada ibu (eklampsia, edema paru hingga kematian)
dan pada janin (persalinan preterm, pertumbuhan janin terhambat hingga kematian
perinatal). Salah satu komplikasi pada bayi yang sering terjadi yaitu persalinan
preterm. Hal ini disebabkan karena hipoksia plasenta yang akan meningkatkan
inflamasi yang akan memacu pengeluaran CRH (Corticotrophin Releasing Hormone),
prostaglandin dan sitokin sehingga dapat merangsang miometrium berkontraksi dan
mengalami dilatasi serviks. Hal inilah yang menyebabkan persalinan preterm pada
penderita preeklampsia. (Cunningham,2006)

1
Dengan besarnya angka morbiditas dan mortalitas akibat kasus preeklampsia
pemerintah mencanangkan program yang sejalan dengan program yang dianjurkan
WHO yaitu kunjungan antenatal minimal 4 kali dalam 1 siklus kehamilan. Deteksi
dini komplikasi pada kehamilan, khususnya preeklampsia dilakukan pada kunjungan
antenatal ke-2. Pada kunjungan tersebut selain pemeriksaan tekanan darah dan
pemeriksaan obstetri lainnya, dilakukan pula pemeriksaan labotatorium, khususnya
urine. Pemeriksaan ini merupakan salah satu upaya dalam melakukan deteksi dini
komplikasi terjadinya preeklampsia dan eklampsia.
Pemerintah juga mencanangkan program baru untuk mengatasi angka morbiditas
dan mortalitas ibu yaitu program Emas atau Expanding Maternal and Newborn
Survival mulai tahun 2012 yang bekerjasama dengan pemerintah Amerika Serikat.
Program Emas ini intinya ialah memperkuat pelayanan di tingkat puskesmas,
pelayanan di tingkat rumah sakit dengan pelayanan 24 jam, para bidan dan dokter di
wilayah tersebut ditingkatkan kemampuannya untuk menolong persalinan dan
mendiagnosis kasus rujukan saat persalinan. (Yuwono,2012)
Pencegahan dan penanganan kasus preeklampsia tidak terlepas dari peran tenaga
kesehatan. Tenaga kesehatan yang kompeten dan berkualitas sangat dibutuhkan.
Ketepatan diagnosis dan penatalaksanaan yang cepat merupakan hal yang sangat
penting dilakukan. Melakukan deteksi dini resiko preeklampsia, perawatan yang tepat
pada ibu dengan preeklampsia serta pemberian antikonvulsan (MGSO4) pada
penderita preeklampsia merupakan beberapa hal yang seharusnya dilakukan oleh
tenaga kesehatan.
Berdasarkan data statistik di ruang VK RS Ciawi Bogor, angka kejadian
Preeklampsia pada tahun 2014 yaitu sebanyak 78 kasus.

B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mengetahui dan mengaplikasikan asuhan kebidanan pada klien dengan kasus
Preeklamsi Ringan di Ruang Bersalin, RSUD Ciawi melalui pendekatan manajemen
kebidanan.
2. Tujuan Khusus
a. Diperoleh data subjektif pada Ny. T dengan Preeklamsi Ringan di Ruang Bersalin
RSUD Ciawi.

2
b. Diperoleh data objektif melalui pemeriksaan fisik pada Ny. T dengan Preeklamsi
Ringan di Ruang Bersalin RSUD Ciawi Ditegakkan analisa pada Ny. T dengan
Preeklamsi Ringan di Ruang Bersalin RSUD Ciawi.
c. Dibuat penatalaksanaan asuhan sesuai dengan manajemen kebidanan untuk
memenuhi kebutuhan klien dan menatalaksanakan tindakan-tindakan kebidanan
sesuai dengan rencana asuhan yang diberikan serta mengevaluasi hasil dari
asuhan tersebut
d. Mengetahui faktor penghambat dan penunjang terhadap kasus preeklamsi Ringan.

3
BAB II
TINJAUAN TEORI

1. Preeklampsi
1.1 Pengertian
Preeklampsi adalah sekumpulan gejala yang secara spesifik hanya
muncul selama kehamilan dengan usia lebih dari 20 minggu (kecuali pada
penyakit trofoblastik) dapat didiagnostik dengan adanya peningkatan tekanan
darah dan proteinuria. (Varney, 2008)
Preeklampsia adalah sindrom spesifik-kehamilan berupa berkurangnya
perfusi organ akibat vasospasme dan aktivitas endotel (Cunningham, 2006).
Preeklamsi ialah penyakit dengan tanda-tanda hipertensi, edema,
proteinuria yang timbul karena kehamilan. Penyakit ini umumnya terjadi
dalam triwulan ke-3 kehamilan, tetapi dapat terjadi sebelumnya.
(Wiknjosastro, 2005:282)
Dari beberapa pengertian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa yang
dimaksud dengan preeklampsia adalah suatu penyakit yang terjadi dalam
kehamilan dengan usia kehamilan lebih dari 20 minggu yang ditandai dengan
peningkatan tekanan darah dan proteinuria.

1.2 Etiologi dan Faktor Predisposisi


Menurut Winknjosastro (2005), apa yang menjadi penyebab preeklamsi
dan eklamsi sampai sekarang belum diketahui. Telah terdapat banyak teori
yang mencoba menerangkan sebab-musabab penyakit tersebut akan tetapi
tidak ada yang dapat memberi jawaban yang memuaskan. Teori yang banyak
dikemukakan sebagai sebab preeklamsi ialah iskemia plasenta. Akan tetapi,
dengan teori ini tidak dapat diterangkan semua hal yang berkaitan dengan
penyakit itu. Rupanya tidak hanya satu faktor, melainkan banyak faktor yang
menyebabkan preeklamsi dan eklamsi. Diantara faktor-faktor yang ditemukan
sering kali tidak ditemukan mana yang sebab dan mana yang akibat.

4
1.3 Faktor resiko preeklamsi
Adapun faktor resiko terjadinya preeklampsia yaitu:
1) Primigravida, terutama primigravida muda (Varney,2008)
2) Mempunyai dasar penyakit vaskular (Varney,2008)
Robson (2012) menyebutkan bahwa pada ibu dengan diabetes
mellitus, resiko kejadian preeklampsia meningkat 3,5 kali lebih besar
dibandingkan dengan yang tidak. Sedangkan Penyakit hipertensi
kronik yang dimiliki ibu merupakan faktor resiko terjadinya
preeklampsia superimposed. (Trogstad,2011)
3) Usia < 20 tahun atau > 35 tahun (Bobak,2005)
Usia reproduksi sehat untuk kehamilan dan persalinan adalah
20-30 tahun (Wiknjosastro, 2007). Keadaan alat reproduksi yang
belum siap hamil meningkatkan kejadian keracunan kehamilan
dalam bentuk preeklampsia atau eklampsia (Manuaba, 2010). Wanita
yang lebih tua, yang memperlihatkan peningkatan insiden hipertensi
kronis seiring dengan pertambahan usia, berisiko lebih besar
mengalami preeklampsia pada hipertensi kronis. Dengan demikian,
wanita di kedua ujung usia reproduksi lebih rentan. (Cunningham,
2006)
Hasil penelitian yang dilakukan Sri Rejeki pada tahun 2009,
menyebutkan bahwa kasus preeklampsia berat diderita oleh ibu
hamil yang usianya < 20 tahun (11,2%) dan >35 tahun (18,37%).
Berdasarkan hasil analisis, dapat disimpulkan bahwa kehamilan di
atas usia 35 tahun sangat memungkinkan terjadi preeklampsia berat
dibanding kehamilan pada usia 20-35 tahun serta kehamilan dengan
usia < 20 tahun.
4) Riwayat preeklampsia terdahulu (Varney,2008) dan Bobak (2005)
Penelitian Sri Rejeki (2009) menunjukkan bahwa 11(22,45%)
ibu hamil yang mengalami preeklampsia memiliki riwayat
preeklampsia sebelumnya. Sehingga diperoleh hasil analisis bahwa
ada hubungan antara riwayat preeklampsia sebelumnya dengan
kejadian preeklampsia pada kehamilan saat ini.

5
Selain itu, Robson (2012) menyebutkan bahwa pada ibu hamil
yang pernah mengalami preeklampsia sebelumnya memiliki resiko 7
kali lebih besar mengalami preeklampsia pada kehamilan saat ini
dibandingkan dengan yang tidak pernah mengalami preeklampsia.
Hal ini kemungkinan disebabkan karena respon imun maternal
(Trogstad,2011) yang mungkin disebabkan 2 hal yaitu respon
maternal yang terlalu berlebihan atau stimulus plasenta yang
berlebihan. Faktor ini dapat dipengaruhi oleh kontribusi genetic
paternal (suaminya) yang terdapat di dalam sperma paternal sehingga
terjadi reaksi yang berlebihan seperti alergi hingga menyebabkan
maladapatasi plasenta yang berakibat terjadinya preeklampsia.

5) Mempunyai riwayat preeklampsia/eklampsia dalam keluarganya


(Varney,2008)
Robson (2012) menjelaskan bahwa ibu hamil yang memiliki
riwayat eklampsia/preeklampsia di keluarganya memiliki resiko 3
kali lipat lebih tinggi mengalami kejadian serupa dibandingkan
dengan yang tidak.
6) Faktor spesifik dalam kehamilan (Trogstad,2011)
Biasanya terjadi pada kehamilan ganda dan kehamilan
molahidatidosa.

1.4 Tanda dan gejala preeklamsi


Menurut Arif dkk (2010), diagnosis preeklamsi ditegakan berdasarkan
adanya dua dari tiga gejala yaitu penambahan berat badan yang berlebihan,
edema, hipertensi, dan proteinuria. Penambahan berat badan yang berlebihan
yaitu bila terjadi kenaikan 1 kg seminggu beberapa kali. Edema terlihat
sebagai peningkatan berat badan, pembengkakan kaki, jari tangan dan muka.
Tekanan darah 140/90 mmHg atau tekanan sistolik meningkat > 30 mmHg
atau tekanan diastolik > 15 mmHg yang diukur setelah pasien beristirahat
selama 30 menit. Tekanan diastolik pada trimester kedua yang lebih dari 85
mmHg patut dicurigai sebagai bakat preeklamsi. Proteinuria bila terdapat
protein sebanyak 0,3 g/l dalam air kencing 24 jam atau pemeriksaan kualitatif
menunjukan +1 atau 2 atau kadar protein 1 g/l dalam urin yang

6
dikeluarkan dengan kateter, diambil minimal 2 kali dengan jarak waktu 6
jam. Disebut preeklamsi berat jika ditemukan gejala berikut :
a. Tekanan darah sistolik 160 mmHg atau diastolik 110 mmHg
b. Proteinuria +2 5 g/24 jam atau 3 pada tes celup
c. Oliguria (< 400 ml dalam 24 jam)
d. Sakit kepala hebat atau gangguan penglihatan
e. Nyeri epigastrium atau ikterus
f. Edema paru atau sianosis
g. Trombositopenia
h. Pertumbuhan janin terhambat
Sedangkan menurut Gulardi (2008), tanda dan gejala dari preeklamsi
adalah sebagai berikut :
1. Preeklamsi ringan :
a. Tekanan darah 140/90 mmHg setelah usia kehamilan 20 minggu
b. Proteinuria 1+ pada pengukuran dengan dipstik urine atau kadar
protein total 300 mg/24 jam
2. Preeklamsi berat :
a. Tekanan darah sistolik > 160 mmHg atau diastolik 110/mmHg
b. Proteinuria 2+ pada pengukuran dengan dipstik urine atau kadar
protein total sebesar 2 mg/24 jam
c. Kadar kreatinin darah melebihi 1,2 mg/dl kecuali telah diketahui
meningkat sebelumnya
d. Sakit kepala yang terus bertahan atau gangguan serebral atau visual
lain
e. Nyeri epigastrik yang terus menerus
f. Enzim hati yang meningkat (SGOT, SGPT, LDH)
g. Hitung trombosit < 100.000/mm3

1.5 Patofisiologi
Penjelasan singkat mengenai patofisiologi terjadinya preeklampsia
menurut Cunningham (2006) yang terdapat pada gambar 2.3, sejalan
dengan penjelasan Wiknjosastro (2006) yang mengatakan bahwa
perubahan-perubahan patofisiologis dalam preeklampsia adalah
berkurangnya perfusi uteroplasental dan mengarah ke:
7
a. Disfungsi endotel yang menyebabkan edema, proteinuria dan
hemokonsentrasi.

b. Vasospasme yang menyebabkan hipertensi, oliguria, iskemia organ,


solusio plasenta dan terjadinya kejang-kejang.
c. Aktifasi koagulasi yang menyebabkan trombositopenia dan pelepasan
zat molekul berbahaya (sitokin dan lipid peroksidase) yang
menyebabkan penurunan perfusi uteroplasenta lebih lanjut.
d. Pelepasan molekul vasoaktif seperti prostaglandin, nitrit oksida dan
endotelin yang seluruhnya menurunkan perfusi uteroplasenta.

Gambar 2.3 Patofisiologi preeklampsia menurut Cunningham (2006)

8
Keadaan diatas menyebabkan perubahan patologis seperti yang
diuraikan oleh Wiknjosastro (2006), yaitu:
a. Perubahan Pada Plasenta dan Uterus
Menurunnya aliran darah ke plasenta mengakibatkan gangguan fungsi
plasenta.Pada hipertensi yang agak lama pertumbuhan janin terganggu, pada
hipertensi yang lebih pendek bisa terjadi gawat janin sampai kematiannya
karena kekurangan oksigenasi.Kenaikan tonus uterus dan kepekaan terhadap
perangsangan sering didapatkan pada preeklampsia dan eklampsia, sehingga
mudah terjadi partus prematurus.

b. Perubahan Pada Ginjal


Pada ginjal, hipertensi menyebabkan vasospasme arteriol aferen yang
menurunkan aliran darah ginjal, menimbulkan hipoksia dan edema sel
endotelial kapiler glomerulus. Glomeruloendoteliosis (kerusakan endotel
glomerulus) memungkinkan protein plasma, terutama dalam bentuk albumin,
tersaring masuk ke dalam urine, menyebabkan terjadinya proteinuria.
Kerusakan ginjal diperlihatkan dengan penurunan bersihan kreatinin dan
peningkatan serum kreatinin serta kadar asam urat dalam darah (Fraser,
2009). Fungsi ginjal pada preeklampsia tampaknya agak menurun bila dilihat
dari clearance asam uric. Filtrasi glomerulus dapat turun sampai 50% dari
normal, sehingga menyebabkan diuresis turun, pada keadaan lanjut dapat
terjadi oliguria atau anuria (Wiknjosastro, 2006).
Hal ini sejalan dengan pernyataan Cunningham (2006) yang menyebutkan
bahwa memburuknya hipertensi terutama apabila disertai dengan proteinuria,
merupakan pertanda buruk. Sebaliknya, proteinuria tanpa hipertensi hanya
menimbulkan efek keseluruhan yang kecil pada kematian bayi. Beberapa
peneliti menyimpulkan bahwa proteinuria +2 atau lebih yang menetap atau
ekskresi protein urine 24 jam sebesar 2 g atau lebih merupakan indikasi
preeklampsia berat. Apabila kelainan ginjalnya parah, maka filtrasi
glomerulus akan terganggu yang mengakibatkan peningkatan kreatinin
plasma.

9
c. Perubahan Pada Hati
Vasokontriksi dasar muskular hepatik akan menyebabkan hipoksia dan
edema sel hati. Pada kasus yang berat, pembengkakan edema hati
menyebabkan nyeri epigastrik dan dapat mengakibatkan terjadinya
perdarahan intrakapsular, dan pada sedikit kasus terjadi ruptur hati.
Perubahan fungsi hati dicerminkan dengan penurunan kadar albumin dan
peningkatan kadar enzim hati.(Fraser, 2009)
d. Perubahan Pada Otak
Hipertensi yang disertai dengan disfungsi endotelial serebral,
meningkatkan permeabilitas barier darah otak yang mengakibatkan edema
serebral dan mikrohemoragi. Secara klinis, keadaan ini ditandai dengan
terjadinya sakit kepala, gangguan penglihatan, dan konvulsi (Fraser, 2009).
Terjadi resistensi pembuluh darah dalam otak pada hipertensi dalam
kehamilan, lebih meninggi lagi pada eklampsia. Walau demikian, aliran
darah ke otak dan pemakaian oksigen pada preeklampsia tetap dalam batas
normal (Wiknjosastro, 2006)
e. Metabolisme Air dan Elektrolit
Hipertensi yang disertai dengan kerusakan sel endotelial akan
mempengaruhi permeabilitas kapiler. Protein plasma akan keluar dari
pembuluh darah yang rusak menyebabkan penurunan tekanan koloid plasma
dan peningkatan edema (karena terjadi pergeseran cairan di ruang
intravaskuler ke ruang ekstravaskuler). Volume plasma intravaskuler yang
berkurang menyebabkan hipovolemia dan hemokonsentrasi, yang
diperlihatkan dengan adanya peningkatan hematokrit. Pada kasus berat, paru-
paru akan terkongesti dengan cairan dan terjadi edema pulmonar, gangguan
oksigenasi, dan sianosis. (Fraser, 2009)

10
1.6 Komplikasi
Cohen (2009) menyebutkan beberapa komplikasi yang mungkin terjadi
akibat preeklampsi, yaitu :
a. Komplikasi Maternal
1) Abrupsio Plasenta
2) HELLP Syndrome (Hemolysis, Elevated Liver Enzyme, Low Platelet
Count)
3) Edema Paru
4) Gagal Ginjal Akut
5) Eklampsia
6) Gagal/kerusakan Hati dan Perdarahan
7) Stroke
8) Kematian
b. Komplikasi Neonatal
1) Persalinan Preterm
Preeklampsia merupakan penyebab utama prematuritas iatrogenik.
Banyak ibu preeklampsia diinduksi atau melahirkan preterm
(Chapman,2006). Hal ini disebabkan karena pada penderita
preeklampsia terjadi hipoksia plasenta. Tahap pertama terjadinya
hipoksia plasenta oleh karena berkurangnya aliran darah dalam arteri
spiralis. Hal ini terjadi karena kegagalan invasi sel tropoblast pada
dinding arteri spiralis pada awal kehamilan dan trimester kedua
kehamilan sehingga arteri spiralis tidak dapat melebar dengan
sempurna dengan akibat penurunan aliran darah dalam ruang intervilus
di plasenta sehingga terjadilah hipoksia plasenta.
Hipoksia plasenta yang berkelanjutan ini akan membebaskan zat-
zat toksik seperti sitokin, radikal bebas dalam bentuk lipid peroksidase
dalam sirkulasi darah ibu, dan akan menyebabkan terjadinya oxidative
stress yaitu suatu keadaan, dimana radikal bebas jumlahnya lebih
dominan dibanding antioksidan. Oxidative stress pada tahap berikutnya
bersama dengan zat toksik yang beredar dapat merangsang terjadinya
kerusakan pada sel endotel pembuluh darah yang disebut sebagai
disfungsi endotel, yang merupakan suatu keadaan terjadinya kerusakan

11
pada seluruh permukaan endotel pembuluh darah dan organ-organ
penderita preeklampsia.
Dengan banyak inflamasi yang terjadi, maka jumlah sitokin akan
meningkat sehingga akan merangsang peningkatan jumlah
prostaglandin. Tidak hanya itu, sebagai respon inflamasi yang terjadi ,
janin akan mengeluarkan Corticotrophin Releasing Hormone (CRH),
yang berefek pula dengan peningkatan jumlah produksi prostaglandin.
Jumlah prostaglandin yang semakin bertambah akan memacu
miometrium berkontraksi dan dilatasi serviks. Jika keadaan ini terus
berlangsung, maka akan menyebabkan persalinan preterm.
(Cunningham,2006)
2) Pertumbuhan Janin Terhambat
Hal ini merupakan salah satu akibat dari hipoksia yang terjadi pada
preeklampsia.Menurunnya aliran darah ke plasenta menyebabkan
gangguan fungsi plasenta, sehingga terjadi gangguan pertumbuhan
janin dan dapat terjadi gawat janin sampai kematian janin karena
kekurangan oksigenasi. (Wiknjosastro,2006)
3) Hipoksia
Pada penderita preeklampsia terjadi penurunan cardiac output
akibat dari vasospasme pembuluh darah sehingga menyebabkan
terjadinya kerusakan endotel yang akan mengakibatkan gangguan
keseimbangan antar kadar hormon vasokonstriktor (endotelin,
tromboksan, angiostensin) dan vasodilator (nitritoksida dan
prostasiklin), serta gangguan pada sistem pembekuan darah.
Menurunnya aliran darah ke plasenta mengakibatkan gangguan fungsi
plasenta (Wiknjosastro,2006). Bila suplai darah ke plasenta berkurang
maka janin akan mengalami hipoksia.
4) Kematian perinatal
Akibat lanjut dari hipoksia adalah gangguan pertukaran gas antara
oksigen dan karbondioksida sehingga terjadi asfiksia.Jika keadaan ini
terus berlanjut dan tidak mendapatkan penanganan yang adekuat maka
dapat menyebabkan kematian (Wiknjosastro, 2006).

12
1.7 Magnesium sulfat untuk preeklamsi dan eklamsi
1. Dosis Awal
- MgSO4 4 gram IV sebagai larutan 20 % selama 5 menit
- Diikuti dengan MgSO4 (50%) 5 gram IM dengan 1 ml lidokain 2
% (dalam spuit yang sama)
- Pasien akan merasa agak panas sewaktu pemberian MgSO4
2. Dosis Pemeliharaan
- MgSO4 (50%) 5 g + lidokain 2 % 1 ml IM setiap 4 jam
- Lanjutkan 24 jam pasca persalinan atau kejang terakhir
3. Syarat Pemberian MgSO4
- Frekuensi pernafasan minimal 16 kali/menit
- Reflex patella (+)
- Urin minimal 30 ml/jam dalam 4 jam terakhir
4. Stop pemberian MgSO4 jika :
- Frekuensi pernafasan < 16 kali per menit
- Refleks patella (-)
- Urin < 30 ml/jam
5. Siapkan antidotum
Jika terjadi henti nafas :
- Bantu dengan ventilator
- Beri kalsium glukonas 2 g (20 ml dalam larutan 10%) IV
perlahan-lahan sampai pernafasan stabil lagi
( Sarwono Prawirohardjo, 2010)

1.8 Penatalaksanaan Preeklamsia Ringan


Menurut Cuningham (2005), tujuan dasar penatalaksanaan untuk setiap
kehamilan dengan penyulit preeklamsi adalah :
a. Terminasi kehamilan dengan trauma sekecil mungkin bagi ibu dan janinya
b. Lahirnya bayi yang kemudian dapat berkembang
c. Pemulihan sempurna kesehatan ibu
Secara umum penatalaksanaan preeklamsi yaitu pertimbangkan rawat
inap, paling tidak bagi wanita dengan hipertensi awitan baru apabila hipertensi
menetap atau memburuk atau timbul proteinuria. Evaluasi sistemik yang
dilakukan mencakup :

13
a. Pemeriksaan terinci diikuti oleh pemantauan setiap hari untuk mencari
temuan-temuan klinis seperti nyeri kepala, gangguan penglihatan, nyeri
epigastrium dan pertambahan berat yang pesat.
b. Analisa untuk proteinuria saat masuk dan kemudian paling tidak setiap 2
hari.
c. Pengukuran tekanan darah dalam posisi duduk dengan ukuran manset yang
sesuai setiap 4 jam.
d. Pengukuran kreatinin plasma atau serum, hematokrit, trombosit dan enzim
hati dalam serum serta frekuensi yang ditentukan oleh keparahan hipertensi.
e. Evaluasi yang sering terhadap ukuran janin dan volume cairan amnion baik
secara klinis maupun USG.
Pengurangan aktivitas fisik sepanjang hari akan bermanfaat. Tirah
baring total perlu dilakukan dan pasien tidak diberi sedatif atau obat penenang.
Diet harus mengandung protein dan kalori dalam jumlah banyak, tetapi tidak
berlebihan. Asupan natrium dan cairan jangan dibatasi atau dipaksakan.
Penatalaksanaan selanjutnya bergantung pada :
a. Keparahan preeklamsi, ditentukan oleh ada tidaknya keadaan-keadaan yang
telah disebutkan.
b. Umur kehamilan
c. Keadaan serviks
Sedangkan menurut Arief dkk (2001) pentalaksanaan preeklamsi pada
kehamilan dilakukan berdasarkan kriteria preeklamsi yang didederita oleh
pasien yaitu :
1. Preeklamsi Ringan
a. Pada pasien rawat jalan, anjurkan istirahat baring 2 jam siang hari dan
tidur > 8 jam malam hari. Bila sukar tidur dapat diberikan fenobarbital 1-
2 x 30 mg. Dapat juga diberikan asetosal 1 x 80 mg. Kunjungan ulang
dilakukan 1 minggu kemudian untuk menilai perkembangan kehamilan
dan kesejahteraan janin, apakah ada perburukan keluhan subyektif,
peningkatan berat badan berlebihan, kenaikan tekanan darah dan
melakukan pemeriksaan penunjang lain sesuai kebutuhan terutama
protein urine.
b. Rawat pasien bila tidak ada perbaikan dalam 2 minggu pengobatan,
rawat jalan, berat badan meningkat berlebihan (> 1kg/minggu, selam 2
14
kali bertirut-turut) atau tampak tanda-tanda preeklamsi berat. Berikan
obat antihipertensi metildopa 3 x 125 mg (dapat ditingkatkan sampai
dosis maksimal 1.500 mg), nifedipin 3-8 x 5-10 mg atau Adalat Retard
2-3 x 20 mg atau pindolol 1-3 x 5 mg (dosis maksimal 30 mg). Tidak
perlu diberikan diet rendah garam dan jangan diberi diuretik.
c. Bila keaadaan ibu membaik dan tekanan darah dapat dipertahankan 140-
150/90 mmHg, tunggu persalinan sampai aterm sehingga ibu dapat
berobat jalan dan ajurkan memeriksakan diri tiap minggu. Kurangi dosis
obat hingga tercapai dosis optimal. Bila tekanan darah sukar
dikendalikan, berikan kombinasi obat. Tekanan darah tidak boleh lebih
rendah dari 120/80 mmHg.
d. Tunggu pengakhiran kehamilan sampai 40 minggu, kecuali terdapat
pertumbuhan janin terhambat, kelainan fungsi hepar/ginjal dan
peningkatan proteinuria (3. Pada kehamilan > 37 minggu dengan
serviks matang, lakukan induklsi persalinan. Persalinan dapat dilakukan
dengan spontan atau dipercepat dengan bantuan ekstraksi.

2. Preeklamsi Berat
Upaya pengobatan ditujukan untuk mencegah kejang, memulihkan
organ vital pada keadaan normal dan melahirkan bayi dengan trauma
sekecil-kecilnya pada ibu dan bayi.
Segera rawat pasien di Rumah Sakit. Berikan MgSO4 2 gr intravena
dalam 10 menit selanjutnya 2g/jam dalam drip infus sampai tekanan
darah stabil (140-150/90-100 mmHg). Ini diberikan sampai 24 jam
pascapersalinan atau hentikan bila 6 jam pascapersalinan ada perbaikan
nyata ataupun tampak tanda-tanda intoksikasi. Syarat pemberian MgSO4
adalah reflek patella kuat, frekuensi pernafasan 16 kali per menit dan
diuresis > 100 cc dalam 4 jam sebelumnya (0,5 ml/kg berat badan/jam).
Harus tersedia antidot MgSO4 yaitu kalsium glukonas 10% yang dapat
segera diberikan secara intravena dalam 3 menit selama pemberian
MgSO4, perhatikan tekanan darah, suhu, perasaan panas serta wajah
merah.
Berikan nifedipin 3-4 10 mg oral. Bila pada jam ke-4 tekanan
diastolik belum turun sampai 20%, berikan tambahan 10 mg oral (dosis
15
maksimum 80 mg/hari). Bila tekanan diastolik meningkat 110 mmHg,
berikan tambahan sublingual. Tujuannya adalah penurunan tekanan
darah 20% dalam 6 jam, kemudian diharapkan menjadi stabil (140-
150/90-100 mmHg). Bila sulit dikendalikan dapat dikombinasi dengan
pendolol.
Periksa tekanan darah, nadi dan pernafasan tiap jam.Pasang kateter
dan kantong urine.Ukur urine setiap 6 jam.Bila < 100 ml/4jam, kurangi
dosis MgSO4 menjadi 1g/jam.Dilakukan USG dan kardiotokografi
(KTG).Pemeriksaan KTG diulangi sekurang-kurangnya 2 kali/24
jam.Dilakukan :
a. Penanganan konservatif bila kehamilan < 35 minggu tanpa disertai
tanda-tanda impending eklamsi dan keadaan janin baik. Prinsip terapi
serupa dengan yang aktif, hanya tidak dilakukan terminasi kehamilan.
Pemberian MgSO4 2 mg intravena dilanjutkan 2 g/jam dalam drip
infus dekstrosa 5% 500 ml tiap 6 jam dapat dihentikan bila sudah
mencapai tanda-tanda preeklamsi ringan, selambat-lambatnya dalam
waktu 24 jam. Bila tidak ada perbaikan atau bila dalam 6 jam selama
pengobatan terdapat peningkatan tekanan darah, terapi dianggap gagal
dan dilakukan terminasi kehamilan.
b. Penanganan aktif bila kehamilan 35 minggu, ada tanda-tanda
impending eklamsi, kegagalan terapi konservatif, ada tanda gawat
janin atau pertumbuhan janin terhambat dan sindrom HELLP.
Berikan diuretik apabila ada edema paru, payah jantung, kongestif
atau edema anasarka berupa furosemid 40 mg. Lakukan oksigenasi 4-
6 l/menit.Periksa gas darah secara berkala untuk koreksi
asidosis.Dengan pemberian nifedipin, oksigen, posisi setengah duduk
dan furosemid bolus, diharapkan tekanan darah dan beban jantung
berkurang.Tapi, bila ada tanda payah jantung, dapat diberikan
digitalis.Berikan ventilasi mekanik bila tidak ada perbaikan dalam 6
jam, pCO2 > 70 mmHg dan pO2< 60 mmHg.
Berikan antipiretik bila suhu rektal diatas 38,5oC dan dibantu
kompres dingin atau alkohol.Antibiotik diberikan atas indikasi.
Antinyeri seperti petidin HCl sebanyak 50-70 mg diberikan satu kali

16
selambat-lambatnya 2 jam sebelum janin lahir bila pasien gelisah atau
kesakitan karena kontraksi rahim.
Lakukan terminasi kehamilan secara seksio memakai anastesi
umum N2O mengingat keuntungan rileksasi sedasi pada ibu dan
dampaknya relatif kecil bagi janin.Bila dari hasil laboratorium tidak
ada tanda KID (koagulasi intravaskular diseminata), dapat dilakukan
anastesi epidural atau spinal.Anastesi lokal diperlukan pada indikasi
terminasi segera dengan keadaan ibu kurang baik.
1.9 Protap RSUD Ciawi penatalaksanaan Pre Eklamsi Ringan
Pemeriksaan fisik diagnostic
No Diagnosa Tujuan intervensi
1 Pre eklamsi ringan Tidak terjadi pre 1. Pantau tekanan
Data Subjektif eklamsi berat/ darah
- Klien merasa eklamsi 2. Pantau
hamil, pusing, laboratorium;protei
mual dan sakit di nuria
ulu hati 3. Monitoring
- Klien mengeluh keadaan janin; DJJ
penglihatan 4. Anjurkan klien
kunang-kunang lebih banayk
Data objektif istiratah dan diet
- Tanda vital; biasa
hipertensi 5. Jelaskan kepada
- TFU sesuai usia klien dan keluarga
kehamilan untuk deteksi dini
- DJJ + kelainan
- Lab; urine +
2 Pre eklamsi Berat 1. Lakukan informed
Data Subjektif consent
- Klien mengatakan 2. Observasi tanda
hamil > 20 minggu vital, DJJ dan tanda
- Klien mengeluh persalinan
nyeri ulu hati dan 3. Kolaborasi
penglihatan pemberian infus
kunang-kunang D5% + daur kateter
- Klien mengeluh 4. UKUR
nafas kadang sesak KESEIMBANGAN
- Perut kadang cairan

17
mulas 5. Bebaskan jalan
- Dari jalan lahir nafas
belum atau sudah 6. Pantau keadaan
keluar lendir umum, jangan
Data Objektif tionggalkan klien
- Tanda vital sendirian
hipertensi 7. Kolaborasi
- TFU sesuai pemberian obat anti
dengan usia konvulsan,
kehamilan antihipertensi
- DJJ (jelas, tidak sesuai order
jelas, tidak ada)
- Pemeriksaan
dalam :
V/v; tidak ada
kelainan
pembukaan
tertutup/terbuka
Ketuban +/-
Portio lunak/ tidak
lunak
Presentasi kepala/
bokong
-hiperreflaksia
Lab; proteinuria
2+
3 Kelebihan volume cairan Volume cairan 1. Timbang BB tiap
berhubungan dengan sirkulasi adekuat hari
peningkatan retensi urine dan dengan criteria 2. Periksa Tekanan
edema berkaitan dengan - Edema darah, nadi tiap 4
terjadinya hipertensi pada minimal jam
kehamilan - TTV 3. Laporkan bila
dalam terdapatr
batas peningkatan CVP,
normal distensi vena leher,
rales paru, sianosis
4. Ukur masukan dari
haluaran
5. Periksa protein
urine

18
6. Pertahankan diet
7. Kolaborasi dengan
dokter untuk
pemberian obat-
obatan dan cairan
parenteral
8. Pertahankan infuse
IV terpisah untuk
pemberian
magnesium sulfat
dan oksitosin
4 Kurang pengetahuan Pasien 1. Diskusikan dengan
berhubungan dengan kurangnya mengungkapkan pasien tentang
informasi tentang oerwatan di tujuan memenuhi kehamilannya
rumah terhadap hipertensi pada rencana perwatan 2. Diskusikan dengan
kehamilan dan membantu pasien untuk
dalam intervensi pemeriksaan urine
sesuai 3. Tekankan
kemampuan dan pentingnya
pasien serta fetus merencanakan
mempunyai waktu istirahat
hasilkelahiran 4. BERI
yang baik PENJELASAN
cara minum obat
yang benar,
anjurkan untuk
kontrol secara
teratur
5. Jelaskan
pentingnya tirah
baring sesuai
indikaasi
6. Jelaskan tanda
persalinan dan
kapan harus
menghubungi
dokter

19
BAB III

TINJAUAN KASUS

Hari, Tanggal Pengkajian : Kamis, 5 Maret 2015

Waktu Pengkajian : 23.00 WIB

Tempat Pengkajian : VK Mawar RSUD Ciawi

Nama Pengkaji : Lelih Amaliah

A. DATA SUBJEKTIF
1. Identitas Klien
Istri Suami
Nama : Ny. T Tn. S
Usia : 35 tahun 23 tahun
Suku : Betawi Betawi
Agama : Islam Islam
Pendidikan : SMP SMK
Pekerjaan : IRT PNS
Alamat : Kp. Cileutuk
2. Keluhan
Ibu dikirim dari ruang PONEK ke ruang VK, dengan tekanan darah tinggi
150/100 mmHg. Ibu mengeluh mulas sejak 17 jam yang lalu. Keluar lendir darah
sejak 11 jam yang lalu. Hasil pemeriksaan di ponek TD 150/90 mmHg dan telah
di pasang infus RL 500 ml dan dipasang DC, dengan urine 100 cc. Ibu rujukan
dari bidan karena Tekanan darah tinggi.
3. Riwayat Kehamilan Sekarang
Ini adalah kehamilannya yang kedua dan belum pernah keguguran. Hari
pertama haid terakhir ibu tanggal 15- 5- 2014 dengan taksiran persalinan pada
tanggal 20- 2- 2015, Pertama kali ibu merasakan gerakan janin pada usia
kehamilan 4 bulan yaitu pada bulan september dan gerakan janinnya aktif
dirasakan ibu hingga sekarang terakhir baru saja, setiap harinya sekitar 1 sampai
2 kali dalam 1 jam.

20
Selama hamil ibu tidak pernah mengkonsumsi obat-obatan atau jamu-jamuan
dari warung, ibu hanya meminum obat-obatan yang diberikan oleh bidan seperti
Fe, vitamin B1, vitamin B6, vitamin Bc, vitamin C dan kalk. Tidak ada penyulit
atau kekhawatiran apapun yang berkaitan dengan kehamilan dan persalinannya.
Hasil pemeriksaan di usia kehamilan 1 bulan sampai 5 bulan janin dan ibu dalam
keadaan baik namun di usia 6 bulan kehamilan tekanan darah ibu tinggi dan pada
usia kehamilan 8 bulan, terdapat protein +1.

4. Riwayat Kehamilan Sebelumnya


Anak pertama lahir pada tahun 2012 di bidan berat lahir 3.300 gram. Ibu
mempunyai riwayat preeklampsia dikehamilan pertama. Tidak ada penyulit saat
hamil, bersalin dan nifas.
5. Riwayat Kesehatan Ibu dan Keluarga
Tidak memiliki penyakit berat, menular atau penyakit keturunan, seperti darah
tinggi, gula darah, penyakit jantung dan penyakit ginjal. Ibu tidak mempunyai
riwayat kehamilan kembar

6. Riwayat Psikososial
Ibu dan suami serta keluarganya sangat senang dengan kehamilan ini dan
mendukung kehamilan ibu serta selalu menemani ibu saat memeriksakan
kehamilannya ke bidan. Pengambil keputusan di keluarga adalah suami.
7. Riwayat KB
Tidak pernah menggunakan KB sebelumnya

B. DATA OBJEKTIF
1. Pemeriksaan Umum
1. Keadaan Umum : Baik
2. Kesadaran : Compos Mentis
3. Tanda-Tanda Vital
a) Tekanan Darah : 150/100 mmHg
b) Nadi : 84 x/menit
c) Respirasi : 20 x/menit
d) Suhu : 37oC

21
2. Pengukuran Antropometri
BB sebelum hamil : 52 kg
BB sekarang : 60 kg
Kenaikan BB : 8 Kg
3. Pemeriksaan Fisik
a. Wajah dan leher
Wajah tidak oedema, konjungtiva merah muda,sklera putih
b. Payudara
Bentuk simetris, puting susu menonjol, tidak ada nyeri tekan, tidak ada
massa, kolostrum sudah keluar.

c. Abdomen
Tidak ada luka bekas operasi. Tinggi fundus uteri 2 jari di bawah
prosesus xypoideus (TFU 34 cm), bokong, punggung kanan, bagian terendah
adalah kepala, sejajar, perlimaan 3/5. Taksiran berat janin 3565 gram.
Frekuensi Denyut Jantung Janin (DJJ) 138 kali per menit, teratur. His 3 kali
dalam 10 menit, lamanya 42 detik, kandung kemih kosong.
d. Ekstremitas
Atas : Simetris, tidak ada oedema, kuku tidak pucat.

Bawah : Simetris, tidak ada oedema, tidak ada varises, kuku tidak pucat, reflek
patella positif di kedua kaki.

e. Genetalia
Vulva dan vagina tidak ada varises atau pembengkakan, terdapat
pengeluaran lendir darah, portio tipis lunak pembukaan 7 cm, selaput ketuban
utuh, presentasi kepala, ubun ubun kecil kanan depan, tidak ada moulage,
penurunan kepala di hodge II.

f. Anus : Tidak ada haemoroid


4. Pemeriksaan Penunjang
- Protein urine : +1
- Hemoglobin : 10 gr%

22
C. ANALISA
G2P1A0, hamil 42 minggu dengan preeklamsi ringan. Inpartu kala 1 fase aktif.
Janin tunggal, hidup presentasi kepala dengan keadaan baik.
D. PENATALAKSANAAN
1. Melakukan informed consent sebelum melakukan pemeriksaan kepada ibu
2. Kolaborasi dokter, advice dokter :
- Jam 23.10 WIB memberikan therapy oral nifedipine 10 mg setiap 20 menit sekali
sebanyak 4 tablet sesuai advice dokter spesialis obgyn.
3. Menganjurkan ibu untuk beristirahat total dan tidak turun dari tempat tidur.
4. Menganjurkan ibu untuk miring kiri.
5. Mengajarkan ibu teknik ralaksasi ketika terasa mules.
6. Mengobservasi keadaan ibu dan janin

Tekanan
Waktu DJJ His Nadi Suhu Respirasi
No. darah
150/90
1. 22.40 139x/mnt 3x1044 80x/mnt 37C 22x/mnt
mmHg
2. 23.00 140x/mnt 4x10x35 150/90 85x/mnt 37C 23x/mnt
mmHg
3. 00.00 142x/mnt 4x10x40 150/90 84x/mnt 37C 22x/mnt
mmHg
4. 01.00 142x/mnt 5x10x42 1400/90 88x/mnt 37C 22x/mnt
mmHg
5. 02.00 148x/mnt 5x10x48 140/90 82x/mnt 37C 22x/mnt
mmHg

23
CATATAN PERKEMBANGAN
Hari, Tanggal Pengkajian : Jumat, 6 Maret 2015
Waktu Pengkajian : Pukul 02.00 WIB
Tempat Pengkajian : VK RSUD Ciawi

A. DATA SUBJEKTIF
Ibu mengatakan mulesnya semakin sering dan kuat, ada dorongan untuk
meneran dan keluar air-air berwarna jernih jam 02.00 WIB.

B. DATA OBJEKTIF
1. Pemeriksaan Umum
Keadaan umum baik, Kesadaran Compos Mentis, Tekanan Darah 140/90
mmHg, Nadi 82 x/menit, pernafasan 22 x/menit, Suhu 37 oC, DJJ: 148 x/menit,
teratur, His : 5x10 48, tampak di genetalia lendir darah semakin banyak dan
terdapat pengeluaran air-air berwarna jernih, Pemeriksaan dalam : vulva dan
vagina tidak ada kelainan, portio tidak teraba, pembukaan 10cm, penurunan H.IV,
ketuban tidak teraba

C. ANALISA
Inpartu kala II, Janin hidup

D. PENATALAKSAAN
1. Membantu posisi senyaman ibu.ibu dalam posisi litotomi
2. Mengajarkan ibu cara meneran efektif
3. Memimpin ibu untuk meneran dengan teknik asuhan persalinan normal Bayi
lahir pukul 02.30 WIB spontan, pervaginam, menangis kuat, warna kulit
kemerahan, tonus otot aktif, jenis kelamin perempuan.
4. Mengecek apakah ada janin kedua.

24
CATATAN PERKEMBANGAN
Hari, Tanggal Pengkajian : Jumat, 6 Maret 2015
Waktu Pengkajian : Pukul 02.35 WIB
Tempat Pengkajian : VK RSUD Ciawi

A. DATA SUBJEKTIF
Ibu masih merasakan mules setelah lahirnya bayi.
B. DATA OBJEKTIF
Keadaan umum baik, tidak ditemukan janin kedua, TFU sepusat, tidak
ditemukan janin kedua, kontraksi baik, kandung kemih kosong, tali pusat menjulur
di depan vulva, Terdapat pengeluaran darah 150 cc.
C. ANALISA
Inpartu kala III
D. PENATALAKSANAAN
1. Memberitahu ibu bahwa akan di suntik oksitosin menyuntikkan oksitosin 10
IU pada sepertiga paha luar secara IM
2. Menjepit dan memotong tali pusat
3. Melakukan IMD
4. Melakukan PTT (penegangan tali pusat terkendali) plasenta lahir spontan
pukul 02:50 WIB
5. Melakukan masase uterus selama 15 detik uterus berkontraksi
6. Mengecek kelengkapan plasenta
7. Mengevaluasi perdarahan dan laserasi

CATATAN PERKEMBANGAN
Hari, Tanggal Pengkajian : Jumat, 6 Maret 2015
Waktu Pengkajian : Pukul 02.51 WIB
Tempat Pengkajian : VK RSUD Ciawi
A. DATA SUBJEKTIF
Ibu mengatakan lega atas kelahiran bayi dan ari-arinya.

25
B. DATA OBJEKTIF
TD 110/70 mmHg, TFU 2 jari bawah pusat, kontraksi baik, kandung kemih
kosong, plasenta lahir lengkap, tampak ada robekan pada kulit dan otot perenium,
Perdarahan 150 cc
C. ANALISA
Inpartu kala IV dengan laserasi derajat II

D. PENATALAKSANAAN
1. Menyuntikan lidokain 2 yang di encerkan dengan aquades 2 cc, untuk
anastesi local
2. Melakukan penjahitan luka dengan teknik jelujur
3. Memasukan misoprostol 2 tablet melalui anus
4. Memberikan obat asam mefenamat 500 mg sebanyak 10 tablet 3x1, cefadroxil
500 mg sebanyak 10 tablet 3x1, tablet fe 60 mg sebanyak 10 tablet, 1x1 sebelum
tidur,
5. Mengevaluasi perdarahan
6. Mengobservasi keadaan umum ibu, tanda-tanda vital pada 2 jam post partum.
CATATAN PERKEMBANGAN
Hari, Tanggal Pengkajian : Jumat, 6 Maret 2015
Waktu Pengkajian : Pukul 08.00 WIB
Tempat Pengkajian : Ruang Teratai RSUD Ciawi

A. DATA SUBJEKTIF
Ibu mengatakan senang dan lega atas kelahiran bayinya, ibu mengeluhkan
masih merasakan mules. Ibu sudah dapat turun dari tempat tidur untuk BAK.
B. DATA OBJEKTIF
Keadaan umum baik, kesadaran compos Mentis, Tekanan Darah 110/70
mmHg, nadi 74 x/menit, respirasi 20 x/menit, suhu 36,5oC, konjungtiva merah
muda, sklera putih, Payudara Simetris, puting susu menonjol, tidak ada massa dan
nyeri tekan saat di palpasi kolostrum sudah keluar, TFU 2 Jari dibawah pusat,
globuler, kontraksi baik, kandung kemih kosong, Genetalia bersih, perdarahan 50
cc, lochea rubra
C. ANALISA
P1A0, Postpartm 6 jam dengan keadaan baik

26
D. PENATALAKSAAN
1. Mengobservasi TTV, TFU, kontraksi, kandung kemih, jumlah perdarahan setiap
15 menit pada 1 jam pertama dan setiap 30 menit pada 1 jam berikutnya.
2. Membantu ibu untuk melakukan personal hygiene.

27
BAB IV
PEMBAHASAN

Setelah melakukan asuhan intranatal pada Ny. T usia 35 tahun G2P1A0 usia kehamilan 42
minggu ditemukan tinjauan kasus sebagai berikut :
A. Subjektif
Ibu datang dengan ke RSUD Ciawi sejak pukul 23:00 mengeluh mulas sejak
17 jam yang lalu. Keluar lendir darah sejak 11 jam yang lalu. Hasil pemeriksaan di
TD 150/100 mmHg, menurut teori varney, 2008 dan arif dkk tahun 2010 hasil
anamnesa sesuai dengan teori bahwa keluhan tekanan darah tinggi saat kehamilan
merupakan tanda ibu mengalami preeklamsi.
Ibu berusia 35 tahun menurut Wiknjosastro, 2007 Usia reproduksi sehat untuk
kehamilan dan persalinan adalah 20-30 tahun. Wanita yang lebih tua, yang
memperlihatkan peningkatan insiden hipertensi kronis seiring dengan pertambahan
usia, berisiko lebih besar mengalami preeklampsia pada hipertensi kronis. Dengan
demikian, wanita di kedua ujung usia reproduksi lebih rentan, menurut Cunningham,
2006.
Ibu memiliki penyakit hipertensi sejak usia kehamilan 6 bulan menurut Varney,
2008 Preeklampsi adalah sekumpulan gejala yang secara spesifik hanya muncul
selama kehamilan dengan usia lebih dari 20 minggu (kecuali pada penyakit
trofoblastik) dapat didiagnostik dengan adanya peningkatan tekanan darah dan
proteinuria.
Ibu memiliki riwayat preeklampsia di kehamilan pertama menurut, Varney, 2008
dan Bobak 2005 menunjukkan bahwa ibu hamil yang mengalami preeklampsia
memiliki riwayat preeklampsia sebelumnya. Sehingga diperoleh hasil analisis bahwa
ada hubungan antara riwayat preeklampsia sebelumnya dengan kejadian preeklampsia
pada kehamilan saat ini.

Selain itu, menurut Robson, 2012 menyebutkan bahwa pada ibu hamil yang
pernah mengalami preeklampsia sebelumnya memiliki resiko 7 kali lebih besar
mengalami preeklampsia pada kehamilan saat ini dibandingkan dengan yang tidak
pernah mengalami preeklampsia.

28
B. Objektif
Dari hasil pemeriksaan TTV didapatkan bahwa tekanan darah ibu 150/100
mmHg, dan didapatkan data penunjang bahwa protein urin + 1. Sedangkan menurut
Gulardi (2008), tanda dan gejala dari preeklamsi adalah tekanan darah 140/90
mmHg setelah usia kehamilan 20 minggu Proteinuria 1+ pada pengukuran dengan
dipstik urine atau kadar protein total 300 mg/24 jam.
C. Analisa
Berdasarkan data subjektif nama Ny. T usia 35 tahun, ini merupakan
kehamilan kedua belum pernah keguguran sebelumnya, HPHT 15- 5- 2014 dengan
taksiran persalinan pada tanggal 20- 2- 2015 serta data objektif Tekanan darah
150/100 mmHg, abdomen di fundus teraba bokong, punggung kanan, ,bagian
terendah kepala, DJJ : 138 kali/menit, bunyi jantung teratur, pembukaan 7 cm, serta
pemeriksaan penunjang protein urin + 1 maka,
Ditegakkan analisa Ny. T usia 35 tahun G1P0A0 usia kehamilan 42 minggu
inpartu kala I fase aktif dengan Pre Eklamsi Ringan, janin tunggal hidup presentasi
kepala dengan keadaan baik
D. Penatalaksanaan
Berdasarkan protap RSUD Ciawi terhadap tatalaksana pada klien PER adalah
pantau tekanan darah, pantau laboratorium; proteinuria, monitoring keadaan janin; DJJ,
menganjurkan ibu lebih banyak istirahat dan diet biasa sudah sesuai dengan teori yang
dikemukakan oleh menurut Arief dkk (2001) penatalaksanaan preeklamsi pada
kehamilan dilakukan berdasarkan kriteria preeklamsi yang didederita oleh pasien
yaitu: istirahat/ tidur > 8 jam malam hari dan pemberian nifedipin 3-8 x 5-10 mg
setiap 20 menit sekali sebanyak 4 tablet, jam 23.10 WIB dilakukan tatalaksana kepada
klien yaitu diberikan therapy oral nifedipine 10 mg setiap 20 menit sekali sebanyak 4
tablet sesuai advice dokter spesialis obgyn.

Catatan Perkembangan Jumat, 6 Maret 2015. Pukul 02.00 WIB


A. Subjektif
Berdasarkan keluhan ibu semakin sering dan kuat, ada dorongan untuk
meneran, menandakan bahwa ibu memasuki tanda-tanda persalinan.
B. Objektif
Berdasarkan data pengkajian, portio tidak teraba pembukaan 10 cm didapatkan
bahwa ibu dalam tanda persalinan, ibu dapat dipimpin persalinan menurut APN

29
karena berdasarkan pemantauan kondisi ibu tidak mengalami komplikasi dan DJJ
152x/menit, bunyi janjtung teratur tidak gawat janin tidak mengharuskan ibu untuk
dilakukan tindakan SC, menurut Arif dkk,2010
C. Analisa
Berdasarkan data subjektif dan data objektif maka dapat ditegakkan bahwa
diagnose yang ditegakkan inpartu kala II, janin hidup dengan keadaan baik.
D. Penatalaksanaan
Asuhan intranatal yang diberikan pada ibu sudah menerapkan teori dan
kebijakan yang berlaku di ruang Kamar Bersalin RSUD Ciawi. Bayi lahir secara
spontan pukul 02.30 WIB Bayi menangis kuat, tonus otot aktif, warna kulit merah
muda, jenis kelamin perempuan
Dilakukan manajemen aktif kala III sesuai dengan APN, plasenta lahir 15
menit kemudian yaitu pukul 02:50 WIB setelah dilakukan penyuntikkan oksitosin
plasenta lahir lengkap dan kontraksi uterus baik darah yang keluar 150 cc, Dalam
observasi 2 jam postpartum ibu tekanan darah ibu turun menjadi 110/70 mmHg.

E. Faktor Pendukung dan Penghambat


1. Factor pendukung
Terdapatnya protap yang jelas mengenai penatalaksanaan Pre Eklamsi Ringan
Petugas kesehatan baik bidan maupun dokter sigap dalam penanganan pasien
Pre Eklamsi Berat
2. Factor penghambat
Terdapat pasien yang kurang koperatif
Terdapat banyaknya pasien dengan kasus yang berbeda-beda sehingga kurang
komprehensip dalam menangani kasus Pre Eklamsi Ringan
Hasil lab yang tidak langsung dapat di ketahui karena keterbatasan petugas lab,
jadi penentuan diagnose yang belum dapat di pastikan dalam pengkajian.

30
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Preeklampsia adalah sekumpulan gejala yang secara spesifik hanya muncul

selama kehamilan dengan usia lebih dari 20 minggu (kecuali pada penyakit

trofoblastik) dapat didiagnostik dengan adanya peningkatan tekanan darah dan

proteinuria. (Varney, 2008). Kasus yang telah dibahas diatas pada Ny.T merupakan

kasus patologi di bidang kebidanan yang sangat membahayakan keselamatan ibu

dan bayi. Untuk itu dibutuhkan tindakan yang sesuai dengan kasus tersebut sepeti

tindakan segera dalam menyelamatkan nyawa ibu yang telah dilakukan pada kasus

Ny.T.

Dari pembahasan kasus di atas dapat disimpulkan bahwa setiap temuan-

temuan baik yang bersifat subjektif maupun objektif sesuai dengan teori yang

telah di ungkapkan oleh para ilmuan kebidanan. Contohnya pada data subjektif

dimana semua hasil pemeriksaan yang didapat dari kasus Ny.T sesuai dengan teori

yang ada yaitu tensi darah 150/100 mmHg. Dan sebagai bidan tindakan yang telah

dilakukan dalam kasus diatas sudah baik.

Dalam mendiagnosa kasus Ny.T telah tepat dimana tanda dan gejala yang

dialami oleh Ny.T sesuai dengan teori tanda dan gejala

Asuhan kebidanan telah diberikan dengan menerapkan landasan teori, APN

dan kebijakan yang berlaku di RSU Ciawi, dapat disimpulkan bahwa Ny. T

mengalami Preeklamsia Ringan diagnosa sangat tepat ketika hasil tensi darah

150/100 mmHg dan protein urine +1. Tekanan darah ibu berangsur-angsur turun

hingga kembali normal setelah persalinan.

31
B. Saran
Sebagai tenaga kesehatan kita harus berkompeten dalam mendeteksi suatu
penyakit serta mampu mengidentifikasi tanda dan gejala agar dapat menegakkan
diagnosa secara cepat dan tepat untuk mempercepat penanganan. Oleh karena, itu
sebagai bidan profesional, kita dituntut untuk terus memperdalam ilmu
pengetahuan, khususnya masalah patologi pada masa kehamilan, persalinan, nifas,
dan pada seluruh siklus kehidupan wanita, agar kita dapat menurunkan angka AKI
dan AKB yang masih relatif cukup tinggi.

32