Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar belakang


Kehamilan adalah pertumbuhan dan perkembangan janin intra uteri
mulai sejak konsepsi dan berakhir sampai permulaan persalinan.
(Manuaba, 2008)
Kehamilan adalah fertilisasi atau penyatuan dari spermatozoa dan
ovum dan dilanjutkan dengan nidasi atau implantasi. (Sarwono, 2008)
Kehamilan resiko tinggi adalah keadaan yang dapat mempengaruhi
keadaan ibu maupun janin pada kehamilan yang dihadapi. Kehamilan
muda rentan dengan resiko, dintaranya terdiri dari abortus, mola
hidatidosa, kehamilan ektopik terganggu dan hiperemesis gravidarum.
(Sarwono, 2009)
Hiperemesis gravidarum adalah mual muntah berlebihan pada ibu
hamil sehingga menimbulkan gangguan aktivitas sehari hari dan bahkan
membahayakan hidupnya. (Manuaba, 2001)
Hiperemesis jarang menyebabkan kematian, namun angka
kejadiannya masih cukup tinggi. Hampir 25% pasien hiperemesis
gravidarum dirawat inap lebih dari 1 kali. Terkadang, kondisi hiperemesis
yang terjadi terus-menerus dan sulit untuk sembuh membuat pasien
depresi. Pada kasus-kasus ekstrim, ibu hamil bahkan dapat merasa ingin
melakukan terminasi kehamilan. (J Indon Med Assoc, 2011)
Angka kejadian hiperemesis gravidarum memanglah tidak besar,
hanya berkisar 4 dari 1000 kehamilan, namun apabila hiperemesis
gravidarum tidak mendapatkan penatalaksanaan dengan segera akan
berdampak buruk bagi bayi seperti terjadinya IUGR dan berdampak buruk
bagi ibu seperti terjadinya gangguan pada hati, jantung, otak, maupun
ginjal. (J Indon Med Assoc, 2011)
Setelah mengetahui angka kejadian hiperemesis gravidarum dan
mengetahui dampak yang akan terjadi akibat hiperemesis gravidarum bagi

1
ibu dan janin, maka penulis tertarik untuk mengetahui dan memberikan
asuhan kepada pasien dengan hiperemesis gravidarum.

1.2. Tujuan
a. Tujuan Umum
Dapat memberikan asuhan kebidanan pada ibu hamil dengan
hiperemesis gravidarum tingkat I di RSUD Ciawi dengan standar yang
berlaku.

b. Tujuan Khusus
Tujuan khusus dilakukannya asuhan ini yaitu:
1. Untuk mengetahui data subjektif pada Ny. I usia 22 tahun G1P0A0 Usia
Kehamilan 9 minggu dengan Hiperemesis Gravidrum Tingkat 1.
2. Untuk mengetahui data objektif pada Ny. I usia 22 tahun G1P0A0 Usia
Kehamilan 9 minggu dengan Hiperemesis Gravidrum Tingkat 1.
3. Untuk dapat menegakkan analisa pada Ny. I usia 22 tahun G1P0A0
Usia Kehamilan 9 minggu dengan Hiperemesis Gravidrum Tingkat 1.
4. Untuk mengetahui dan melaksanakan asuhan kebidanan pada Ny. I
usia 22 tahun G1P0A0 Usia Kehamilan 9 minggu dengan Hiperemesis
Gravidrum Tingkat 1.

2
BAB II
TINJAUAN TEORI

2.1 Konsep Kehamilan


2.1.1 Pengertian Kehamilan
Kehamilan adalah pertumbuhan dan perkembangan janin
intra uterin mulai sejak konsepsi dan berakhir sampai permulaan
persalinan (Manuaba, 2008). Kehamilan adalah fertilisasi atau
penyatuan dari spermatozoa dan ovum dan dilanjutkan dengan nidasi
atau implantasi (Sarwono, 2008).
Kehamilan adalah penyatuan sperma dari laki-laki dan ovum
dari perempuan. Masa kehamilan dimulai dari konsepsi sampai
lahirnya janin. Wiknjosastro (2008)
Kehamilan disimpulkan sebagai masa dimana wanita
membawa embrio dalam tubuhnya yang diawali dengan keluarnya
sel telur yang matang pada saluran telur yang kemudian bertemu
dengan sperma dan keduanya menyatu membentuk sel yang akan
tumbuh yang membuat terjadinya proses konsepsi dan fertilisasi
sampai lahirnya janin.

2.1.2 Faktor Resiko Pada Ibu Hamil


Ibu hamil dengan kehamilan resiko tinggi adalah ibu hamil
yang mempunyai resiko atau bahaya yang lebih besar pada
kehamilan/persalinannnya dibandingkan dengan ibu hamil dengan
kehamilan/persalinan normal.
Faktor resiko pada ibu hamil meliputi riwayat kehamilan dan
persalinan yang sebelumnya kurang baik yaitu riwayat keguguran,
perdarahan pasca kelahiran, lahir mati; Ibu hamil yang kurus/berat
badan kurang; sudah memiliki 4 anak atau lebih; jarak antara dua
kehamilan kurang dari 2 tahun; Ibu menderita anemia atau kurang
darah; perdarahan pada kehamilan ini; tekanan darah yang meninggi
dan sakit kepala hebat dan adanya bengkak pada tungkai; kelainan

3
letak janin atau bentuk panggul ibu tidak normal; riwayat penyakit
kronik seperti diabetes, darah tinggi, asma dan lain-lain (Suririnah,
2007).
Kehamilan muda rentan dengan resiko, dintaranya terdiri
dari abortus, mola hidatidosa, kehamilan ektopik terganggu dan
hiperemesis gravidarum. (Sarwono, 2009)

2.1.3 Tanda Bahaya Kehamilan


Pada umumnya 80-90 % kehamilan akan berlangsung normal
dan hanya 10-12 % kehamilan yang disertai dengan penyulit atau
berkembang menjadi kehamilan patologis. Kehamilan patologis
tidak terjadi secara mendadak karena kehamilan dan efeknya
terhadap organ tubuh berlangsung secara bertahap dan berangsur-
angsur. Deteksi dini gejala dan tanda bahaya selama kehamilan
merupakan upaya terbaik untuk mencegah terjadinya gangguan yang
serius terhadap kehamilan ataupun keselamatan ibu hamil. Faktor
predisposisi dan adanya penyulit penyerta sebaiknya diketahui sejak
awal sehingga dapat dilakukan berbagai upaya maksimal untuk
mencegah gangguan yang berat baik terhadap kehamilan dan
keselamatan ibu maupun bayi yang dikandungnya, diantaranya
perdarahan, preeklamsi, nyeri hebat di daerah abdominopelvikum.
(Sarwono, 2008)
Gejala dan tanda lain yang harus diwaspadai yang terkait
dengan gangguan serius selama kehamilan adalah muntah berlebihan
(hyperemesis gravidarum), disuria, menggigil atau demam, ketuban
pecah dini atau sebelum waktunya, uterus lebih besar atau lebih kecil
dari kehamilan yang sesungguhnya. (Sarwono, 2008)

4
2.2 Hiperemesis Gravidarum
2.2.1 Definisi
Hiperemesis gravidarum adalah mual muntah berlebihan pada ibu
hamil sehingga menimbulkan gangguan aktivitas sehari hari dan
bahkan membahayakan hidupnya. (Manuaba, 2001)
Wanita hamil memuntahkan segala apa yang dimakan dan
diminum hingga berat badannya sangat turun, turgor kulit berkurang,
diuresis berkurang dan timbul aseton dalam urine, keadaan ini disebut
hiperemesis gravidarum. (Sastrawinata, 2004)
Hipermesis Gravidarum juga dapat diartikan keluhan mual
muntah yang dikatagorikan berat jika ibu hamil selalu muntah setiap
kali minum ataupun makan. Akibatnya, tubuh sangat lemas, muka
pucat, aktifitas sehari-hari menjadi terganggu dan keadaan umum
menurun. (Rukiyah, 2010)
Sehingga dapat disimpulkan bahwa hiperemesis gravidarum
adalah suatu keadaan yang terjadi pada ibu hamil dimana ibu hamil
mengalami mual dan muntah secara terus menerus atau berlebihan yang
kemudian akan menyebabkan dehidrasi, berat badan menurun,
gangguan keseimbangan elektrolit dan mengganggu aktivitas sehari-
hari dan terdapat aseton dalam urine.

2.2.2 Etiologi
Penyebab pasti mual dan muntah yang dirasakan ibu hamil belum
diketahui, tetapi terdapat beberapa faktor-faktor yang terlibat. Faktor
biologis yang paling berperan adalah perubahan kadar hormon selama
kehamilan. Menurut teori terbaru, peningkatan kadar Human Chorionic
Gonadotropin (HCG) akan menginduksi ovarium untuk memproduksi
estrogen, yang dapat merangsang mual dan muntah.
Perempuan dengan kehamilan ganda atau mola hidatidosa yang
diketahui memiliki kadar HCG lebih tinggi daripada perempuan hamil
lain mengalami keluhan mual dan muntah yang lebih berat.
(Cunningham, 2005).

5
Progesteron juga diduga menyebabkan mual dan muntah dengan
cara menghambat motilitas lambung dan irama kontraksi otot-otot polos
lambung (Sarwono, 2008).
Hiperemesis gravidarum merefleksikan perubahan hormonal yang
lebih drastis dibandingkan kehamilan biasa.
Beberapa faktor predisposisi dan faktor lain yang telah ditemukan
oleh beberapa penulis sebagai berikut (Sarwono, 2007):
a. Faktor predisposisi :
1) Pada sebagian kecil primigravida belum mampu beradaptasi
terhadap hormon esterogen dan chorionic gonadotropin.
2) Overdistensi rahim
Biasa terjadi pada kehamilan dengan hidramnion, kehamilan
ganda, estrogen dan HCG tinggi dan mola hidatidosa. Pada
kehamilan ini, produksi hormon estrogen dan chorionic
gonadotropin terlalu tinggi sehingga menyebabkan hiperemesis
gravidarum.
b. Faktor organik :
1) Masuknya villi khorialis dalam sirkulasi maternal
Pada kehamilan, dimana diduga terjadi invasi jaringan villi
korialis yang masuk ke dalam peredaran darah ibu, akan
menimbulkan reaksi alergi, sehingga faktor alergi dapat
menyebabkan hiperemesis gravidarum.
2) Perubahan metabolik akibat hamil
Resistensi yang menurun dari pihak ibu.
c. Faktor psikologis :
Hubungan faktor psikologis dengan kejadian hiperemesis
gravidarum masih belum jelas. Namun, beberapa kejadian di bawah
ini diduga dapat menyebabkan terjadinya hiperemesis gravidarum,
yaitu :
1) Rumah tangga yang retak
2) Hamil yang tidak diinginkan
3) takut terhadap kehamilan dan persalinan

6
4) takut terhadap tanggung jawab sebagai ibu
5) Kehilangan pekerjaan
Diduga kejadian di atas dapat menimbulkan konflik mental yang
dapat memperberat mual dan muntah sebagai ekspresi tidak
sadar terhadap keengganan menjadi hamil atau sebagai pelarian
kesukaran hidup.

2.2.3 Patofisiologi
Ada yang menyatakan bahwa, perasaan mual dan muntah adalah
akibat dari meningkatnya kadar hormon estrogen, oleh karena itu
hiperemesis gravidarum umunya terjadi pada trimester pertama.
Pengaruh fisiologik hormon ini masih belum jelas, mungkin berasal
dari sistem saraf pusat atau akibat berkurangnya pengosongan lambung.
Hiperemesis gravidarum yang merupakan komplikasi mual dan
muntah pada hamil muda bila terjadi terus menerus dapat menyebabkan
dehidrasi dan tidak imbangnya elektrolit dengan alkalosis
hipokloremik. Belum jelas mengapa kejadian ini hanya terjadi pada
sebagian kecil wanita, namun faktor psikologis diperkirakan memiliki
pengaruh paling utama disamping faktor hormonal. Pada penderita yang
sebelum hamil sudah menderita lambung spastik dengan gejala tak suka
makan dan mual, akan mengalami emesis gravidarum yang lebih parah.
Hiperemesis gravidarum dapat mengakibatkan cadangan
karbohidrat dan lemak habis terpakai untuk keperluan energi. Karena
oksidasi lemak yang tidak sempurna terjadilah ketosis dengan
tertimbunnya asam aseton asetik, asam hidroksi butirik dan aseton
dalam darah.
Kekurangan cairan yang diminum dan kehilangan karena muntah
menyebabkan dehidrasi sehingga cairan ekstraseluler dan plasma
berkurang. Natrium dan khlorida darah dan khlorida air kemih turun.
Selain itu juga dapat menyebabkan hemokonsentrasi sehingga aliran
darah ke jaringan berkurang.

7
Kekurangan kalium sebagai akibat dari muntah dan bertambahnya
ekskresi lewat ginjal menambah frekuensi muntah muntah lebih
banyak, dapat merusak hati dan terjadilah lingkaran setan yang sulit
dipatahkan.
Selain dehidrasi dan terganggunya keseimbangan elektrolit dapat
terjadi robekan pada selaput lendir esofagus dan lambung (Sindroma
Mallory-Weiss) dengan akibat perdarahan gastro intestinal (Sarwono,
2007).

2.2.4 Diagnosis
1. Menegakkan Diagnosis Kehamilan dan Hiperemesis
Gravidarum
Penegakkan diagnosis hiperemesis gravidarum dimulai
dengan menegakkan diagnosis kehamilan terlebih dahulu. Pada
anamnesis dapat ditemukan keluhan amenore, serta mual dan muntah
berat yang mengganggu aktivitas sehari-hari. Pemeriksaan obstetrik
dapat dilakukan untuk menemukan tanda-tanda kehamilan, yakni
uterus yang besarnya sesuai usia kehamilan dengan konsistensi lunak
dan serviks yang livid. Pemeriksaan penunjang kadar HCG dalam
urine dapat membantu menegakkan diagnosis kehamilan.
Tabel 1 menjelaskan hal-hal yang perlu diperhatikan untuk
membedakan beberapa kondisi mual dan muntah dalam kehamilan.
Tabel 1. Definisi-Definisi Mual dan Muntah dalam Kehamilan
Emesis Gravidarum Hiperemesis Gravidarum
- Mual dan muntah dikeluhkan - Mual dan muntah mengganggu
melewati 20 minggu pertama aktivitas sehari-hari
- Mual dan muntah menimbulkan
kehamilan
- Tidak mengganggu aktivitas komplikasi (ketonuria, dehidrasi,
sehari-hari hipokalemia, penurunan berat
- Tidak menimbulkan komplikasi
badan)
patologis

2. Deteksi Komplikasi Hiperemesis Gravidarum


Muntah yang terus-menerus disertai dengan kurang minum
yang berkepanjangan dapat menyebabkan dehidrasi. Jika terus
berlanjut, pasien dapat mengalami syok. Dehidrasi yang

8
berkepanjangan juga menghambat tumbuh kembang janin. Oleh
karena itu, pada pemeriksaan harus dicari apakah terdapat
abnormalitas tanda-tanda vital, seperti peningkatan frekuensi nadi
(>100 kali per menit), penurunan tekanan darah, kondisi subfebris,
dan penurunan kesadaran. Selanjutnya dalam pemeriksaan fisik
lengkap dapat dicari tanda-tanda dehidrasi, tampak pucat dan
penurunan berat badan.
Hiperemesis gravidarum yang berat juga dapat membuat
pasien tidak dapat makan atau minum sama sekali, sehingga
cadangan karbohidrat dalam tubuh ibu akan habis terpakai untuk
pemenuhan kebutuhan energi jaringan. Akibatnya, lemak akan
dioksidasi. Namun, lemak tidak dapat dioksidasi dengan sempurna
dan terjadi penumpukan asam aseton-asetik, asam hidroksibutirik,
dan aseton, sehingga menyebabkan ketosis. Salah satu gejalanya
adalah bau aseton pada napas.

3. Menentukan Derajat Hiperemesis Gravidarum


Hiperemesis gravidarum dapat diklasifikasikan secara klinis
menjadi hiperemesis gravidarum tingkat I, II dan III.
a. Tingkat I
Hiperemesis gravidarum tingkat I ditandai oleh muntah yang
terus-menerus disertai dengan penurunan nafsu makan dan
minum. Terdapat penurunan berat badan dan nyeri epigastrium.
Pertama-tama isi muntahan adalah makanan, kemudian lendir
beserta sedikit cairan empedu, dan dapat keluar darah jika
keluhan muntah terus berlanjut. Frekuensi nadi meningkat
sampai 100 kali per menit dan tekanan darah sistolik menurun.
Pada pemeriksaan fisik ditemukan mata cekung, lidah kering,
penurunan turgor kulit dan penurunan jumlah urin.
b. Tingkat II
Pada hiperemesis gravidarum tingkat II, pasien
memuntahkan semua yang dimakan dan diminum, berat badan
cepat menurun, dan ada rasa haus yang hebat. Frekuensi nadi

9
berada pada rentang 100-140 kali/menit dan tekanan darah
sistolik kurang dari 80 mmHg. Pasien terlihat apatis, pucat, lidah
kotor, kadang ikterus, dan ditemukan aseton serta bilirubin
dalam urin.
c. Tingkat III
Hiperemesis gravidarum tingkat III sangat jarang terjadi.
Keadaan ini merupakan kelanjutan dari hiperemesis gravidarum
tingkat II yang ditandai dengan muntah yang berkurang atau
bahkan berhenti, tetapi kesadaran pasien menurun (delirium
sampai koma). Pasien dapat mengalami ikterus, sianosis,
nistagmus, gangguan jantung dan dalam urin ditemukan
bilirubin dan protein.

4. Pencegahan
Prinsip pencegahan adalah mengobati emesis agar tidak terjadi
hiperemesis gravidarum dengan cara (Sarwono, 2007) :
a. Memberikan penjelasan tentang kehamilan dan persalinan
sebagai suatu proses yang fisiologis.
b. Memberikan keyakinan bahwa mual dan kadang kadang
muntah merupakan gejala yang fisiologis pada kehamilan muda
dan akan hilang setelah kehamilan 4 bulan.
c. Menganjurkan mengubah makan sehari hari dengan makan
dalam jumlah kecil tapi sering.
d. Menganjurkan pada waktu bangun pagi jangan segera turun dari
tempat tidur, terlebih dahulu makan roti kering atau biskuit
dengan teh hangat.
e. Makanan yang berminyak dan berbau lemak sebaiknya
dihindarkan
f. Defekasi teratur
g. Menghindari kekurangan karbohidrat merupakan faktor penting,
dianjurkan makanan yang banyak mengandung gula.

5. Penatalaksanaan

10
Tata laksana awal dan utama untuk mual dan muntah tanpa
komplikasi adalah istirahat dan menghindari makanan yang
merangsang, seperti makanan pedas, makanan berlemak, atau
suplemen besi.
Perubahan pola diet yang sederhana, yaitu mengkonsumsi
makanan dan minuman dalam porsi yang kecil namun sering cukup
efektif untuk mengatasi mual dan muntah derajat ringan. Jenis
makanan yang direkomendasikan adalah makanan ringan, kacang-
kacangan, produk susu, kacang panjang, dan biskuit kering.
Minuman elektrolit dan suplemen nutrisi peroral disarankan sebagai
tambahan untuk memastikan terjaganya keseimbangan elektrolit dan
pemenuhan kebutuhan kalori. Menu makanan yang banyak
mengandung protein juga memiliki efek positif karena bersifat
eupeptic dan efektif meredakan mual.
Pada emesis gravidarum, obat-obatan diberikan apabila
perubahan pola makan tidak mengurangi gejala, sedangkan pada
hiperemesis gravidarum, obat-obatan diberikan setelah rehidrasi dan
kondisi hemodinamik stabil. Pemberian obat secara intravena
dipertimbangkan jika toleransi oral pasien buruk.
Penatalaksanaan utama hiperemesis gravidarum adalah rehidrasi
dan penghentian makanan peroral. Pemberian antiemetik dan
vitamin secara intravena dapat dipertimbangkan sebagai terapi
tambahan.
Tata laksana awal Pasien hiperemesis gravidarum harus dirawat
inap di rumah sakit dan dilakukan rehidrasi dengan cairan natrium
klorida atau ringer laktat, penghentian pemberian makanan per oral
selama 24-48 jam, serta pemberian antiemetik jika dibutuhkan.
Penambahan glukosa, multivitamin, magnesium, pyridoxine, atau
tiamin perlu dipertimbangkan. Cairan dekstrosa dapat menghentikan
pemecahan lemak. Untuk pasien dengan defisiensi vitamin, tiamin
100 mg diberikan sebelum pemberian cairan dekstrosa.

11
Penatalaksanaan dilanjutkan sampai pasien dapat mentoleransi
cairan per oral dan didapatkan perbaikan hasil laboratorium.
Pengaturan Diet Untuk pasien hiperemesis gravidarum tingkat
III, diberikan diet hiperemesis I. Makanan yang diberikan berupa roti
kering dan buah-buahan. Cairan tidak diberikan bersama makanan
tetapi 1-2 jam setelah makan. Diet hiperemesis kurang mengandung
zat gizi, kecuali vitamin C, sehingga diberikan hanya selama
beberapa hari. Jika rasa mual dan muntah berkurang, pasien
diberikan diet hiperemesis II. Pemberian dilakukan secara bertahap
untuk makanan yang bernilai gizi tinggi. Minuman tidak diberikan
bersama makanan. Diet hiperemesis II rendah dalam semua zat gizi,
kecuali vitamin A dan D. Diet hiperemesis III diberikan kepada
penderita dengan hiperemesis ringan. Diet diberikan sesuai
kesanggupan pasien, dan minuman boleh diberikan bersama
makanan. Makanan pada diet ini mencukupi kebutuhan energy dan
semua zat gizi.

12
BAB III
TINJAUAN KASUS

Hari/Tanggal Pengkajian : Senin, 06 April 2015


Waktu Pengkajian : 20.00 WIB
Nama Pengkaji : Fazrina Oktaviari
Tempat : Teratai A (Nifas) RSUD Ciawi

A. DATA SUBJEKTIF
a. Identitas Klien
Istri Suami
Nama : Ny. I Tn. W
Usia : 22 tahun 25 tahun
Agama : Islam Islam
Suku Bangsa : Sunda Sunda
Pendidikan : SMA SMK
Pekerjaan : IRT Karyawan
Alamat : Tajur Tajur

b. Keluhan Utama
Hamil 2 bulan mengeluh mual dan muntah sejak 1 minggu yang lalu,
muntah lebih dari 10 kali muntah berupa makanan dan cairan, dan nyeri
pada perut. Ibu mengalami kesulitan untuk makan. Ibu merasa pusing dan
lemas.

c. Riwayat Kehamilan Sekarang


Ini merupakan kehamilan yang pertama, tidak pernah keguguran. Hari
pertama haid terakhir (HPHT) tanggal 02 Februari 2015, belum merasakan
gerakan janin, periksa kehamilan 1 kali di bidan, mengkonsumsi vitamin
asam folat saja 1 kali dalam sehari dan tidak mengkonsumsi pil penambah
darah karena tidak diberi oleh bidan. Belum suntik Imunisasi Tetanus
Toksoid (TT).

d. Riwayat Kesehatan Ibu dan Keluarga


Tidak memiliki penyakit hipertensi, diabetes, nyeri saat BAK dan BAB,
nyeri pada perut bagian bawah dan ibu tidak mempunyai keturunan kembar.

e. Riwayat Keluarga Berencana (KB)


Belum pernah menggunakan KB dari setelah menikah.

13
f. Riwayat Biologis, Psikologi, Sosial dan Ekonomi
1. Biologis
a. Nutrisi
Sebelum hamil dan saat hamil ada perubahan pola makan. Setiap
makanan yang ibu makan dimuntahkan kembali, ibu hanya makan
biskuit dan roti kering per hari. Tidak ada pantangan makanan.
b. Hidrasi
Sebelum hamil dan saat hamil ibu minum air putih 5 gelas setiap hari.
c. Eliminasi
Sebelum dan selama hamil ibu buang air besar 1 kali sehari dan tidak
ada keluhan saat buang air besar, konsistensi lunak dan warnanya
kuning kecokelatan.
Sebelum hamil, ibu buang air kecil 4 kali setiap hari. Selama hamil,
ibu buang air kecil 4 kali per hari, warna agak kuning jernih, ibu
mengaku tidak ada keluhan.

2. Psikologis
Senang dengan kehamilannya namun merasa cemas dengan kondisi
kehamilannya saat ini, suami dan keluarga selalu mendampingi dan
memberikan dukungan emosional.

3. Sosial
Menikah selama 1 tahun dengan status pernikahan pertama, kehamilan ini
direncanakan dan didukung oleh keluarga dan suami. Suami adalah
pengambil keputusan dalam keluarga.

4. Ekonomi
Sudah mempersiapkan dana dan ibu sudah terdaftar sebagai peserta BPJS.

5. Aktivitas
Tidak bisa melakukan aktivitas dan hanya berbaring di tempat tidur.

B. DATA OBJEKTIF
1. Pemeriksaan Umum
Keadaan Umum : Sedang

14
Kesadaran : Compos mentis
Berat badan sebelum hamil : 55 kg
Berat badan sekarang : 52 kg
Penurunan BB selama kehamilan : 3 kg
TB : 160 cm
IMT : 21,4 (Kategori Normal)
Tanda-tanda vital
Tekanan Darah : 80/50 mmHg
Nadi : 104/menit
Pernapasan : 20/menit
Suhu : 36,5 C

2. Pemeriksaan Fisik
- Kepala dan leher
Pada muka tidak ada oedema, sclera putih konjuntiva merah muda dan
tampak cekungan pada bawah mata, bibir kering dan gigi tidak ada caries
dan tidak ada pembesaran kelenjar tiroid atau limfe.

- Payudara
Pada inspeksi kedua payudara simetris dan putting susu menonjol. Palpasi
kedua payudara tidak ada nyeri tekan dan tidak ada massa atau benjolan.
Kolostrum belum ada pada kedua payudara.

- Aksila
Kedua aksila tidak ada pembengkakan kelenjar getah bening

- Abdomen
Pada inspeksi tidak ada luka bekas operasi, palpasi abdomen TFU belum
teraba, kandung kemih kosong. Nyeri tekan pada epigastrium.

- Ekstermitas
Kedua tangan tidak ada oedema dan tidak ada pucat pada kuku, dan kedua
kaki tidak ada varises dan tidak ada oedema, refleks patella positif.
Terpasang infus dextrose 5% dengan drip Neurobion 20 tpm di tangan kiri.

- Pemeriksaan Penunjang
HB : 14,2 gr%
Keton urinaria :-

C. ANALISA
Ny. I usia 22 tahun G1P0A0 Usia Kehamilan 9 minggu dengan Hiperemesis
Gravidrum Tingkat 1

15
D. PENATALAKSANAAN
1. Informed Consent
2. Memberitahukan hasil pemeriksaan saat ini kepada ibu bahwa usia
kehamilan ibu 9 minggu
3. Advice dr.SpOG, jam 21.00 WIB
- Injeksi Ondancentron 8mg/4ml 3x1 secara IV
- Injeksi Ranitidine 25mg/2ml 3x1 secara IV
- Lanjut drip neurobion apabila labu pertama habis.
4. Observasi keadaan umum dan tanda-tanda vital
5. Observasi intake dan output
6. Observasi tetesan infus
7. Memberitahu ibu untuk tidak khawatir atau cemas terhadap kehamilannya
8. Menganjurkan mengubah makan sehari hari dengan makan dalam
jumlah kecil tapi sering.
9. Menganjurkan pada waktu bangun pagi jangan segera turun dari tempat
tidur, terlebih dahulu makan roti kering atau biskuit dengan teh hangat.
10. Makanan yang berminyak dan berbau lemak sebaiknya dihindarkan.
11. Memberitahu ibu untuk istirahat yang cukup.

CATATAN PERKEMBANGAN
Hari/Tanggal Pengkajian : Selasa, 07 April 2015
Waktu Pengkajian : 08.00 WIB
Tempat : Ruang Teratai A (Nifas) RSUD Ciawi

A. DATA SUBJEKTIF
Masih merasakan mual dan muntah, muntah 5 kali, masih merasakan nyeri
pada perut. Sudah makan 3 sendok bubur, biskuit dan minum 1 gelas teh
manis hangat. Sudah BAK dan belum BAB.

B. DATA OBJEKTIF
Keadaan Umum : Sedang
Kesadaran : Compos mentis
Tanda-tanda vital
Tekanan Darah : 90/60 mmHg
Nadi : 100/menit
Pernapasan : 20/menit
Suhu : 36,7 C

Pemeriksan Fisik

16
Sclera putih konjuntiva merah muda dan tampak cekungan pada kelopak
mata, bibir kering dan nyeri tekan pada epigastrium.
Ekstremitas terpasang infus dextrose 5% dengan drip Neurobion

C. ANALISA
Ny. I usia 22 tahun G1P0A0 Usia Kehamilan 9 minggu dengan Hiperemesis
Gravidarum

D. PENATALAKSANAAN
1. Menjelaskan hasil pemeriksaan
2. Visit dr.SPOG
- Dextrose 5% + Drip Neurobion 1 Ampul 20 tpm apabila cairan sudah
habis
- Suntik Ranitidine 25mg/2ml 3x1 secara IV
- Suntik Ondansentrone 8mg/4ml 3x1 secara IV
3. Menyuntikkan ranitidine 25mg/2ml secara IV jam 13.00 WIB
4. Menyuntikkan ondansentrone 8mg/4ml secara IV jam 13.00 WIB
5. Menganjurkan ibu untuk makan sedikit sedikit tapi sering
6. Observasi keadaan umum dan tanda-tanda vital
7. Observasi intake dan output

CATATAN PERKEMBANGAN
Hari/Tanggal Pengkajian : Selasa, 07 April 2015
Waktu Pengkajian : 14.00 WIB
Tempat : Ruang Teratai A (Nifas) RSUD Ciawi

A. DATA SUBJEKTIF
Masih merasakan mual dan muntah, muntah 3 kali, nyeri pada perut sudah
berkurang. Ibu sudah makan sedikit sedikit tapi sering denagn bubur ayam
dan biskuit. Ibu sudah BAK dan belum BAB.

B. DATA OBJEKTIF
Keadaan Umum : Sedang
Kesadaran : Compos mentis
Tanda-tanda vital
Tekanan Darah : 110/70 mmHg
Nadi : 80/menit
Pernapasan : 20/menit
Suhu : 36,7 C

Pemeriksaan Fisik

17
Tidak terdapat cekung pada bawah mata, bibir tidak kering dan nyeri
tekan pada epigastrium.
Terpasang infus dextrose 5% + Neurobion 1 ampul 20 tpm

C. ANALISA
Ny. I usia 22 tahun G1P0A0 Usia Kehamilan 9 minggu dengan Emesis
Gravidarum

D. PENATALAKSANAAN
1. Menjelaskan hasil pemeriksaan
2. Observasi keadaan umum dan tanda-tanda vital
3. Observasi intake dan output
4. Menganjurkan ibu untuk makan sedikit tapi sering

CATATAN PERKEMBANGAN
Hari/Tanggal Pengkajian : Selasa, 07 April 2015
Waktu Pengkajian : 20.00 WIB
Tempat : Ruang Teratai A (Nifas) RSUD Ciawi

A. DATA SUBJEKTIF
Ibu mengeluh masih merasakan mual dan tidak muntah. Ibu sudah makan
nasi dan sayur porsi sedang dan habis dan makan 3 buah biscuit, minum 1
gelas teh manis hangat. Ibu sudah BAK dan sudah BAB.

B. DATA OBJEKTIF
Keadaan Umum : Sedang
Kesadaran : Compos mentis
Tanda-tanda vital
Tekanan Darah : 120/70 mmHg
Nadi : 74/menit
Pernapasan : 20/menit
Suhu : 36,5 C
Pemeriksaan Fisik
Tidak terdapat cekung pada bawah mata, bibir tidak kering dan tidak ada
nyeri tekan pada epigastrium.

18
Terpasang infus dextrose 5% + Neurobion 1 ampul 20 tpm

C. ANALISA
Ny. I usia 22 tahun G1P0A0 Usia Kehamilan 9 minggu dengan Emesis
Gravidarum

D. PENATALAKSANAAN
1. Menjelaskan hasil pemeriksaan
2. Menyuntikkan ranitidine 25mg/2ml secara IV jam 21.00 WIB
3. Menyuntikkan ondansentrone 8mg/4ml secara IV jam 21.00 WIB
4. Mengganti cairan infus dextrose 5% dengan RL 500 ml 20 tpm
5. Observasi keadaan umum dan tanda-tanda vital
6. Observasi intake dan output
7. Menganjurkan ibu untuk makan sedikit tapi sering
8. Memberitahu ibu untuk istirahat yang cukup

CATATAN PERKEMBANGAN
Hari/Tanggal Pengkajian : Rabu, 08 April 2015
Waktu Pengkajian : 08.00 WIB
Tempat : Ruang Teratai A (Nifas) RSUD Ciawi

A. DATA SUBJEKTIF
Sudah tidak merasakan mual dan tidak muntah, ibu sudah makan bubur 1
porsi dan habis, minum 1 gelas teh manis hangat.

B. DATA OBJEKTIF
Keadaan Umum : Baik
Kesadaran : Compos mentis
Tanda-tanda vital
Tekanan Darah : 120/80 mmHg
Nadi : 78/menit
Pernapasan : 20/menit
Suhu : 36,5 C

Pemeriksaan Fisik
Tidak terdapat cekung pada bawah mata, bibir tidak kering dan tidak ada
nyeri tekan pada epigastrium.
Terpasang infus RL 20 tpm

C. ANALISA
Ny. I usia 22 tahun G1P0A0 Usia Kehamilan 9 minggu dengan Keadaan
Umum Baik

19
D. PENATALAKSANAAN
1. Menjelaskan hasil pemeriksaan
2. Mengingatkan ibu untuk makan sedikit-sedikit tapi sering.
3. Menganjurkan ibu untuk minum susu agar ibu mendapatkan cukup
nutrisi.
4. Konseling tentang:
- Ketidaknyamanan pada ibu hamil trimester 1
- Tanda-tanda bahaya kehamilan
5. Visit dr.SPOG:
- Ibu boleh pulang ibu pulang pukul 11.00 wib
- Kontrol kembali ke Poliklinik Kebidanan RSUD Ciawi pada tanggal
06 Mei 2015 atau jika ada keluhan dapat datang kapan saja.

20
BAB IV
PEMBAHASAN

Bab ini akan membahas hal yang berkaitan dengan pelaksanaan asuhan
kebidanan kepada Ny. I dengan Hiperemesis Gravidarum. Asuhan yang
dilaksanakan pada tanggal 06 April 2015 hingga 08 April 2015 bertempat di
Ruang Teratai A (Nifas) RSUD Ciawi.
Metode dan bentuk pendekatan yang digunakan dalam pelaksanaan asuhan
kebidanan didokumentasikan dalam bentuk SOAP.

A. SUBJEKTIF
Pada langkah pertama ini dikumpulkan semua informasi yang akurat dan
lengkap dari sumber yang berkaitan dengan kondisi klien. Pada kasus Ny. I
dengan hiperemesis gravidarum ditemukan data subjektif yaitu klien
mengatakan terakhir haid jatuh pada tanggal 02 Februari 2015, sehingga
dapat diketahui bahwa usia kehamilan ibu saat dilakukan pengkajian adalah 9
minggu. Hal ini sesuai dengan teori yang mengemukakan bahwa hiperemesis
gravidarum biasa terjadi pada saat usia kehamilan muda yang disebabkan
oleh peningkatan kadar hormone estrogen dan hormone gonadotropine
(Sarwono, 2007).
Menurut teori terbaru, peningkatan kadar human chorionic gonadotropine
(hCG) akan menginduksi ovarium untuk memproduksi estrogen yang dapat
merangsang mual dan muntah (Niebyl JR, 2010).
Dari keluhan utama diketahui bahwa ibu mengalami muntah yang terus
menerus sejak 1 minggu yang lalu. Muntah kurang lebih dari 10 kali dalam
sehari. Hal ini sesuai dengan teori mengenai hiperemesis gravidarum yang
mengemukakan bahwa muntah akan terjadi secara terus-menerus yang
disebabkan oleh perubahan hormone estrogen dan gonadotropin. Hiperemesis
gravidarum merupakan mual muntah yang berlebihan sehingga menimbulkan
gangguan aktivitas sehari-hari dan baahkan membahayakan hidupnya
(Manuaba, 2001).

21
Dari pola nutrisi diketahui bahwa sejak 1 minggu yang lalu ibu menjadi
sulit untuk makan, setiap makanan yang masuk ke mulut ibu akan
dimuntahkan kembali. Sementara dari pola aktivitas sehari-hari diketahui
bahwa semenjak mengalami mual dan muntah pekerjaan rumah tangga ibu
terganggu karena ibu merasa lemas. Menurut Manuaba (2001), hiperemesis
gravidarum terjadi pada hamil muda dimana penderita mengalami mual
muntah berlebihan sehingga mengganggu aktivitas dan kesehatan penderita.
Secara fisiologis mual dan muntah merupakan gejala yang wajar dan
sering didapati pada kehamilan trimester awal. Gejala-gejala ini kurang lebih
terjadi 6 minggu setelah HPHT dan berlangsung selama kurang lebih selama
10 minggu. Menurut Prawirohardjo perasaan mual disebabkan oleh
meningkatnya kadar hormon estrogen dan HCG dalam serum. Hiperemesis
gravidarum adalah mual dan muntah berlebihan sehingga pekerjaan
terganggu dan keadaan umum menjadi buruk. Kondisi-kondisi yang telah
diuraikan tersebut merupakan kondisi yang sama seperti yang dialami oleh
Ny. I.

B. OBJEKTIF
Pada langkah ini dilakukan pengumpulan data dari hasil pemeriksaan
yaitu keadaan umum, tanda-tanda vital, pemeriksaan fisik meliputi
pemeriksaan inspeksi dan palpasi serta pemeriksaan penunjang lainnya.
Adapun hasil yang didapat melalui pemeriksaan tanda-tanda vital adalah klien
terlihat lemah, tekanan darah 80/50 mmHg, nadi 104 kali per menit,
pernapasan 20 kali per menit dan suhu 36,5oC. Dari pemeriksaan tanda-tanda
vital terdapat tanda terjadinya hiperemesis gravidarum yaitu tekanan darah
yang menurun dan nadi ibu yang meningkat. Hal tersebut sesuai dengan teori
mengenai tanda dan gejala hiperemesis gravidarum yang dikemukakan oleh
Sarwono tahun 2007.
Hal ini dikarenakan kekurangan cairan yang diminum dan kehilangan
karena muntah menyebabkan dehidrasi sehingga cairan ekstraseluler dan
plasma berkurang. Natrium dan khlorida darah dan khlorida air kemih turun.
Selain itu juga dapat menyebabkan hemokonsentrasi sehingga aliran darah ke

22
jaringan berkurang sehingga tekanan darah berkurang. Ketika aliran darah ke
jaringan berkurang, maka jantung akan bekerja lebih keras dengan cara
peningkatan aktivitas yang terlihat dari peningkatan nadi.
Pada pemeriksaan fisik diketahui bahwa pada mata terdapat daerah
cekung bawah mata dan bibir yang terlihat kering yang diakibatkan ibu
mengalami dehidrasi. Pada abdomen, terdapat nyeri tekan pada epigastrium.
TFU belum teraba.
Dari pemeriksaan fisik yang telah dilakukan terhadap Ny. I terdapat
kesamaan dengan tanda dan gejala terjadinya hiperemesis gravidarum yang
dijelaskan oleh Sarwono tahun 2007, dimana pada hiperemesis gravidarum
pemeriksaan fisik akan didapatkan mata yang cekung dan bibir terlihat kering
akibat terjadinya dehidrasi. Dehidrasi terjadi karena cairan ekstraseluler dan
plasma yang berkurang akibat muntah yang terjadi secara terus-menerus
tanpa diimbangi dengan asupan yang cukup. Pada epigastrium akan terdapat
nyeri pada saat di tekan yang disebabkan oleh asam lambung yang meningkat
tanpa diimbangi oleh asupan makanan, sehingga terjadi iritasi lambung.

C. ANALISA
Pada Analisa ini penulis menentukan diagnosa dan rumusan masalah
berdasarkan hasil pengkajian yang dilaksanakan pada Ny. I dengan hiperemesis
gravidarum tingkat 1. Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik sudah dapat
disimpulkan bahwa diagnosis yang didapat sesuai dengan kriteria diagnosis
bahwa manifestasi klinik pada hiperemesis gravidarum tingkat 1 adalah muntah
terus menerus sehingga menimbulkan dehidrasi yang ditandai dengan penurunan
turgor kulit, nafsu makan berkurang, berat badan turun dan mata cekung serta
bibir kering. Gejala lain adalah adanya nyeri epigastrium karena asam lambung
meningkat, nadi meningkat dengan frekuensi dan tekanan darah turun serta
keadaan umum klien tampak lemah.

23
D. PENATALAKSANAAN
Langkah ini merencanakan semua asuhan yang dilakukan pada klien
sesuai dengan masalah dan kebutuhan klien. Semua rencana asuhan
dituangkan dalam rangkaian yang teratur dan disesuaikan dengan peranan
bidan di rumah sakit dimana diperlukan tindakan kolaborasi dengan dokter.
Rencana asuhan yang diberikan juga disesuaikan dengan Standar Asuhan
Keperawatan/Kebidanan pada klien dengan HEG. Pemberian Ondancentron
injeksi 3x1, Ranitidine injeksi 3x1, dan pemberian neurobion 1 ampul/8 jam
drip dalam cairan dextrose 5 %, yang dilakukan atas advice dr. Sp.OG
dimaksudkan untuk mengurangi mual yang dirasakan (Ondancentron injeksi,
Ranitidine injeksi) dan untuk mengurangi rasa lemas (neurobion 1 ampul drip
dalam dextrose 5%). Pemberian terapi sudah tepat berdasarkan prosedur yang
harus dilakukan, karena berfokus pada kebutuhan dan keluhan utama yang
dirasakan oleh ibu.
Pemberian dukungan emosional kepada ibu dan keluarga menjadi hal
yang penting karena pada kasus ini ibu memang memiliki kecemasan karena
keadaannya yang terus-menerus mual dan muntah. Dengan pemberian
dukungan emosional diharapkan ibu dan keluarga dapat lebih tenang dan
mengetahui bahwa mual muntah adalah hal yang wajar terjadi saat awal
kehamilan ibu dan akan menghilang pada saat usia kehamilan ibu sudah 4
bulan ke atas sehingga factor psikologis yang merupakan salah satu faktor
terjadinya hiperemesis gravidarum dapat diatasi.
Pada asuhan selanjutnya, menganjurkan ibu untuk makan sedikit-sedikit
tapi sering dimaksudkan agar lambung dapat terisi. Pemberian makan
langsung dalam porsi yang besar hanya akan menambah rasa mual dan
dimuntahkan kembali. Selain itu, penghitungan setiap 12 jam intake dan
output dilakukan untuk mengetahui keseimbangan pemasukan dan
pengeluaran cairan yang terjadi karena pada hipermemesis kekurangan cairan
akan menimbulkan oliguria. Dengan penghitungan intake dan output cairan
maka akan diketahui perkembangan keadaan ibu setelah mendapatkan
penanganan.

24
Tindakan yang dilakukan oleh bidan di Ruang Teratai A (Nifas) RSUD
Ciawi Kabupaten Bogor sudah sesuai dengan Standar Asuhan
keperawatan/kebidanan pada klien dengan HEG, dimana bidan sudah
melakukan delegasi dengan dokter untuk tindakan pemberian terapi,
memberikan support mental kepada ibu dan keluarga, maupun memantau
intake dan output klien.

25
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Ibu mengalami muntah yang terus menerus, muntah kurang lebih dari 10
kali dalam sehari. Hal ini sesuai dengan teori mengenai hiperemesis
gravidarum yang mengemukakan bahwa muntah akan terjadi secara terus-
menerus yang disebabkan oleh perubahan hormone estrogen dan
gonadotropin. Hiperemesis gravidarum merupakan mual muntah yang
berlebihan sehingga menimbulkan gangguan aktivitas sehari-hari dan
baahkan membahayakan hidupnya (Manuaba, 2001).
Adapun hasil yang didapat melalui pemeriksaan tanda-tanda vital adalah
klien terlihat lemah, tekanan darah 80/60 mmHg, nadi 104 kali per menit,
pernapasan 20 kali per menit dan suhu 36,5oC. Dari pemeriksaan tanda-tanda
vital terdapat tanda terjadinya hiperemesis gravidarum yaitu tekanan darah
yang menurun dan nadi ibu yang meningkat. Hal tersebut sesuai dengan teori
mengenai tanda dan gejala hiperemesis gravidarum yang dikemukakan oleh
Sarwono tahun 2007.
Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik sudah dapat disimpulkan
bahwa diagnosis yang didapat sesuai dengan kriteria diagnosis bahwa
manifestasi klinik pada hiperemesis gravidarum tingkat 1 adalah muntah terus
menerus sehingga menimbulkan dehidrasi yang ditandai dengan penurunan
turgor kulit, nafsu makan berkurang, berat badan turun dan mata cekung serta
bibir kering. Gejala lain adalah adanya nyeri epigastrium karena asam
lambung meningkat, nadi meningkat dengan frekuensi dan tekanan darah
turun serta keadaan umum klien tampak lemah. Selain itu diagnosa ini dapat
ditegakkan karena berdasarkan hasil pemeriksaan urin didapatkan keton
positif 2.
Rencana asuhan yang diberikan juga disesuaikan dengan Standar Asuhan
Keperawatan/Kebidanan pada klien dengan HEG. Pemberian Ondancentron
injeksi 3x1, Ranitidine injeksi 2x1, dan pemberian neurobion 1 ampul/8 jam
drip dalam cairan dextrose 5 %, yang dilakukan atas advice dr. Sp.OG
dimaksudkan untuk mengurangi mual yang dirasakan (Ondancentron injeksi,

26
Ranitidine injeksi) dan untuk mengurangi rasa lemas (neurobion 1 ampul drip
dalam dextrose 5%). Pemberian terapi sudah tepat, karena berfokus pada
kebutuhan dan keluhan utama yang dirasakan oleh ibu.
Dari asuhan kebidanan yang telah diberikan, diketahui bahwa faktor
psikologis memiliki peranan terhadap terjadinya hiperemesis gravidarum.
Sehingga penatalaksanaan yang dilakukan tidak hanya berfokus pada
pemberian terapi oral ataupun observasi keadaan ibu secara berkala.
Pemberian dukungan emosional sangatlah berarti pada kasus hiperemesis
gravidarum yang dapat diberikan dengan memberikan semangat, terus
mendampingi ibu, dan memberikan nasihat kepada ibu maupun anggota
keluarga lainnya.
Asuhan kebidanan yang diberikan kepada klien dengan hiperemesis
gravidarum juga telah disesuaikan dengan Standar Asuhan
Keperawatan/Kebidanan RSUD Ciawi Kabupaten Bogor pada kasus
Hiperemesis Gravidarum. Asuhan diberikan berdasarkan diagnosa yang
mungkin timbul yang meliputi nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan asupan nutrisi yang kurang, cemas berhubungan dengan
ketidaktahuan mengenai penyakitnya dan defisit volume cairan berhubungan
dengan output yang berlebihan. Sehingga asuhan yang diberikan berfokus
kepada diagnosa yang telah ditegakkan.

5.2 Saran
1. Bagi Mahasiswa
Diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan yang
berhubungan dengan Asuhan Patologis dengan hiperemesis gravidarum
sehingga dapat memberikan pelayanan dengan cepat dan tepat sesuai
kewenangannya dan dapat berbagi pengalamannya kepada oranglain.

2. Bagi Lahan Praktik


Agar dapat meningkatkan mutu layanan terhadap klien dengan
hiperemesis gravidarum dalam memberikan pelayanan dengan cepat dan
tepat.

27

Anda mungkin juga menyukai