Anda di halaman 1dari 11

M-II

GRAIN COUNTING

2.1 Tujuan Praktikum


Pada laporan awal mengenai kominusi ini, adapun tujuannya yaitu
sebagai berikut:
Memisahkan Material pada sifat fisiknya
Menentukan kadar dari suatu mineral yaitu kasiterit (SnO2).
2.2 Landasan Teori
Pengolahan Bahan galian merupakan sebuah proses pengolahan dengan
memanfaatkan perbedaan yang terjadi terutama pada sifat fisik dari suatu
sampel yang akan diolah tersebut untuk nantinya mendapatkan produkta dari
bahan galian tersebut. Dan khusus pada pengolahan batubara proses
pengolahannya disebut dengan pencucian batu bara atau Coal Washing,
sementara pada preparasi pada batubara tersebut dinamakan coal preparation.

Sumber: www.isaacplains.com.au
Gambar 2.1
Proses Pengolahan Batubara
Pada gambar di atas merupakan alur proses pengolahan pada Batubara
dari mulai crushing, preparation sampai pada proses pencucian pada batubara
tersebut dan hingga menghasilkan produk batubara yang siap untuk dijual dan
memenuhi kualitas yang diinginkan oleh konsumen tersebut. Seperti pada
gambar diatas produk-produk tersebut digolongkan berdasarkan kualitasnya.
Lalu proses pengolahan bahan galian ini terbagi kedalam beberapa tahapan
diantaranya yaitu:
Kominusi (Comminution)
Kominusi secara definisi yaitu proses pengecilan ukuran pada tahapan
pertamapada proses PBG yang memiliki tujuan diantaranya yaitu:
Membebaskan mineral berharga dari pengotornya
Menghasilkan ukuran dan bentuk sesuai dengan kebutuhan pada
proses berikutnya.
Memperluas permukaan pada partikel agar nantinya mempercepat
kontak dengan unsur zat lain.

Sumber: www.isaacplains.com.au
Gambar 2.2
Proses Kominusi Pada Bijih
Peremukan (Crushing)
Peremukan ini merupakan sebuah proses reduksi ukuran dari bahan
galian atau bijih langsung dari tambang. Yang memiliki ukuran yang relatif
besar yang memiliki ukuran kurang lebih berdiameter 100cm menjadi
ukuran 20cm sampai 25cm bahkan 2,5cm. biasanya pada proses ini
digunakan sebuah alat yaitu:
Jaw Crusher
Cone Crusher
Roll Crusher
Impact Crusher
Sumber: www.isaacplains.com.au
Gambar 2.3
Alat Jaw Crusher
Penggerusan (Grinding)
Pada penggerusan ini merupakan proses lanjutan dari proses peremukan
yang sudah dijelaskan diatas. Pada penggerusan ini, ukuran pada sampel
yaitu kurang lebih 2,5cm dan bisa juga lebih halus lagi tergantung pada
alat dan bahan yang digunakan. Alat yang digunakan pada proses ini
yaitu:
Ball Mill
Rod mill

Sumber: www.isaacplains.com.au
Gambar 2.4
Alat Ball Mill
Pada penjelasan diatas merupakan proses pengolahan bahan galian, dan
adapun proses pengolahan bahan galian berdasarkan pemisahan bahan galian
dengan ukuran yaitu prosesnya diantaranya:
Pengayakan atau penyaringan (Screening atau Sieving)
Yaitu sebuah proses pemisahan secara mekanik berdasarkan pada
perbedaan ukuran dari partikel sampel tersenut. Proses pengayakan ini
dipaka dalam skala industri yaitu Screening sedangkan pada skala
laboratorium

Sumber: www.isaacplains.com.au
Foto 2.1
Alat Screening

Sumber: www.isaacplains.com.au
Foto 2.2
Alat Sieving
Klasifikasi (Classification)
Merupakan sebuah proses pemisahan pada partikel yang berdasarkan
pada kecepatannya, pada sampel tersebut ketika mengendap pada suatu
media seperti udara maupun air.
2.2.1 Grain Counting
Dan setelah proses pemisahan berdasarkan alat dan ukuran yang telah
dijelaskan pada penjelasan di atas tersebut. Selanjutnya yaitu pemisahan bahan
galian berdasarkan kadar dari bahan galian tersebut salah satunya yaitu disebut
dengan Grain Counting.
Secara definisi Grain Counting itu sendiri merupakan cara sederhana
yang dilakukan dengan cara manual untuk memperkirakan kadar dari suatu
endapan bahan galian yang diolah tersebut. Dan cara kerja dari proses ini yaitu
adalah dengan melakukan sebuah teknik dengan menjatuhan sebagian dari
sampel tersebut ke dalam suatu wadah berbentuk kotak persegi dengan ukuran
tertentu, yang kemudian banyaknya butiran dari konsentrat dan tailingnya dari
sampel tersebut akan dihitung.
Dan pada grain counting ini digunakan alat bantu berupa kertas ukur
berbentuk bujur sangkar dengan dimensi dan terbagi dalam ke beberapa ukuran.
Tahapan ini dilakukan untuk melakukan penyeleksian terhadap material yang
berbeda berdasarkkan sifat fisik dengan tujuan untuk menentukan kadar dari
suatu mineral.

Sumber: www.isaacplains.com.au
Foto 2.3
Contoh Grain Counting
2.3 Alat dan Bahan
2.3.1 Alat
Timbangan
Splitter
Sendok
Nampan
Kantong plastik
Mikroskop/loope
Corong
Papan Grain Counting
2.3.2 Bahan
Mineral Kasiterit (SnO2)
Mineral Kuarsa (SiO2)

2.4 Prosedur Praktikum


1. Lakukan mixing/blending kurang lebih
20 kali.
2. Lakukan coning dan quartering.
3. Reduksi jumlahnya dengan splitter,
sehingga didapat sampel sebanyak 3 gr.
4. Taburkan secara merata pada papan
grain counting berukuran 10 x 10 cm2.
5. Hitung jumlah butir kuarsa dan kasiterit
pada setiap kotak yang berukuran 1 x 1cm2 dengan bantuan loope atau
ukura 0,5 x 0,5 cm2 dengan mikroskop.
6. Hitung kadar kasiterit untuk masing-
masing kotak
7. Hitung kadar rata-rata kasiterit total
8. Buatlah tabel perhitungannya.

Sumber: Hasil Dokumentasi Kelompok 2 PBG, 2016


Gambar 2.5
Diagram Alir Proses Grain Counting
2.5 Rumus Yang Digunakan
Adapun rumus yang digunakan pada perhitungan penentuan kadar grain
counting (bila mineral kasiterit dan kuarsa yang digunakan, mengetahui kadar
kasiterit)

n SnO 2 x SnO 2
KSnO 2= x 100
( n SnO 2 x SnO 2 )+(n SiO 2 x SiO2)
Dimana : K = Kadar Kasiterit pada tiap kotak (%)
n SnO2 = Jumlah butir materisal1 pada tiap kotak
SnO2 = Density Kasiterit (7 ton / m3)
n SiO2 = Jumlah butir Kuarsa pada tiap kotak
SiO2 = Density Kuarsa (2,65 ton / m3)

2.6 Hasil Percobaan


Tabel 2.1
Hasil Grain counting
No SnO2 SiO2 No SnO2 SiO2
1 1 8 26 2 12
2 1 8 27 6 13
3 0 11 28 2 8
4 1 10 29 1 8
5 1 9 30 1 7
6 1 12 31 0 11
7 2 12 32 0 6
8 3 9 33 0 9
9 3 9 34 1 10
10 2 4 35 1 12
11 0 15 36 1 8
12 1 11 37 4 11
13 1 9 38 0 8
14 4 13 39 1 7
15 1 6 40 9 15
16 5 12 41 1 12
17 5 11 42 6 12
18 2 7 43 1 8
19 1 10 44 2 8
20 0 7 45 2 10
21 0 10 46 3 10
22 12 21 47 5 11
23 1 9 48 1 10
24 1 9 49 4 8
25 2 6 50 3 7
Sumber: Data Hasil Praktikum Kelompok 2, 2016
Tabel 2.2
Hasil Perhitungan
Feed (F)
Mineral
Berat (gr) Kadar (%)
SnO2 190,35 38,07
500
SiO2 309,65 61,93
Sumber: Data Hasil Praktikum Kelompok 2, 2016

2.7 Perhitungan

nSnO 2 X SnO 2
( nSnO 2 X SnO 2 ) +(nSiO 2 X SiO2)
x 100 %

108 X 7
(108 X 7 )+(464 X 2,65) X 100 % = 38,07 %
Berat : SnO2 = 500gr X 38,07% = 190,35 gr
SiO2 = 500gr X 61,93% = 309,65gr

2.8 Analisa
Pada praktikum kali ini yaitu grain counting dapat dianalisakan yaitu
pada saat kegiatan mixing menggunakan Coning bahan-bahan seperti
SnO2 dan SiO2 mungkin saja tidak tercampur dengan rata. Karena oleh beberapa
faktor yang menyebabkan bahan tersebut tidak tercampur dengan rata. Dan
pada saat pembagian dengan menggunakan metode quartering pembagian
menjadi 4 bagian pun bisa jadi bahan-bahan seperti yang dijelaskan sebelumnya
pun juga tidak tercampur dengan rata, diantara empat bagian itu bisa saja satu
dari tiga bagian terebut banyak terdapat SnO2 yang lebih banyak atau SiO2 yang
lebih banyak.
2.2 Kesimpulan
Hasil daari praktikum ini dapat disimpulkan pada percobaan ini didapat
hasil dari proses penggunaan coning dan quartering yaitu sebesar 38,07%. Dan
berat dari bahan-bahan yang diuji coba seperti SnO2 yaitu 190,35 gr dan SiO2
yaitu 309,65 gr.
DAFTAR PUSTAKA

Satria. 2012. Pengolahan Bahan Galian.http://satriadragsjr.blogspot.com/


2012/05/jawaban-take-home-tes-pengolahan-bahan.html. Diakses pada
Tanggal 23 Maret 2016
Effendy, Nasir . 2010. Pengertian Grain Counting. http://effendy.wordpress.
com/2010/pengertian_grain_counting.html. Diakses pada 23 Maret 2016.
Anonymous. 2009 Pengolahan Bahan Galian. https://tambangunhas.
wordpress.com/tag/pengolahan-bahan-galian/. Diakses pada tanggal 23
Maret 2016
LAMPIRAN