Anda di halaman 1dari 9

BAB II

ISI

A. Masalah gizi kurang

Gizi kurang banyak menimpa balita sehingga golongan ini disebut


golongan rawan gizi. Gizi kurang berdampak langsung terhadap kesakitan
dan kematian, gizi kurang juga berdampak terhadap pertumbuhan,
perkembangan intelektual dan produktivitas. Anak yang kekurangan gizi
pada usia balita, akan tumbuh pendek dan mengalami gangguan
pertumbuhan serta perkembangan otak yang berpengaruh pada rendahnya
tingkat kecerdasan (Adisasmito, 2008).

Menurut sensus yang dilakukan World Health Organization(WHO)


tahun 2012 diketahui bahwa 42 % dari 1 5,7 juta kematian anak dibawah 5
tahun terjadi di negara berkembang. Dari data tersebut juga didapati
sebanyak 84% kasus kekurangan gizi anak usia dibawah lima tahun(balita)
terjadidi Asiadan Afrika. Sedangkan diIndonesia tahun 2012 terdapat sekitar
53% anak di bawah usia 5 tahun menderita gizi buruk disebabkan oleh
kurangnya makanan untuk mencukupi kebutuhan gizi sehari-hari (Depkes,
2012: 12).

Berdasarkan hasil Riskesdas (2013), diperoleh prevalensi gizi kurang


pada balita secara nasional (BB/U<-2SD), memberikan gambaran yang
fluktuatif dari 18,4% (2007) menurun menjadi 17,9% (2010) kemudian
meningkat lagi menjadi 19,6% (tahun 2013) terdiri dari 5,7% gizi buruk dan
13,9% gizi kurang. Dari data di atas prevalensi gizi kurang naik sebesar
0,9% dari 2007 sampai 2013. Prevalensi gizi buruk juga mengalami
perubahan yaitu dari 5,4% tahun 2007, 4,9% pada tahun 2010, dan 5,7%
pada tahun 2013.

Sedangkan untuk provinsi Sumatera Barat berdasarkan Riskesdas


(2013) didapatkan prevalensi balita yang mengalami gizi buruk dan gizi
kurang yaitu sebanyak 21,2%, diman Sumatera barat belum mencapai
sasaran dari MDGs pada tahun 2015 (18,5%) .

Gizi kurang merupakan keadaan tidak sehat karena konsumsi energi


dan protein yang kurang selama jangka waktu yang tertentu (Budiyanto
(2002:13).Menurut almatsier ( 2006) dampak dari gizi kurang berpengaruh
pada pertumbuhan anak-anak yang tidak tumbuh sesuai potensinya. Protein
digunakan sebagai pembakar sehingga otot-otot menjadi lembek, rambut
mudah rontok,menyebabkan kekurangan tenaga,mudah terkena infeksi,dan
juga menimbulkan kematian.

Kekurangan gizi sacara terus menerus dapat menyebabkan balita


mengalami KEP (kurang energi dan protein) dalam proporsi yang berbeda
beda dari derajat ringan sampai berat. Kurang Energi Protein (KEP)
disebabkan oleh kekurangan makan sumber energi secara umum dan
kekurangan sumber protein. Pada anak-anak, KEP dapat menghambat
pertumbuhan rentan terhadap penyakit terutama penyakit infeksi
mengakibatkan rendahnya tingkat kecerdasan. (Almatsier,2001),Tidak hanya
KEP dampak dari kekurangan gizi secara terus menerus melainkan juga
Gaky dimana terjadinya pembesaran kelenjer tiroid,kva terjadi karena
kekurangan vitamin A yang menyebabkan anak anak mudah terkena infeksi
serta menyebabkan kematian.

B. Asupan Zat Gizi

Zat gizi makro adalah zat gizi yang dibutuhkan dalam jumlah besar.
Zat gizi yang termasuk kelompok zat gizi makro adalah karbohidrat, lemak,
dan protein. Zat gizi mikro adalah zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh dalam
jumlah kecil atau sedikit tetapi ada dalam makanan. Zat gizi yang termasuk
kelompok zat gizi mikro adalah mineral dan vitamin.
1. Energi
Energi dalam makanan terutama diperoleh dari karbohidrat, protein, dan
lemak. Energi diperlukan untuk kelangsungan proses-proses di dalam tubuh
seperti proses peredaran dan sirkulasi darah, denyut jantung, pernafasan,
pencernaan, proses fisiologi lainnya, untuk bergerak atau melakukan
pekerjaan fisik. Energi dalam tubuh dapat timbul karena adanya pembakaran
karbohidrat, protein dan lemak, karena itu agar energi tercukupi perlu
pemasukan makanan yang cukup dengan mengkonsumsi makanan yang
cukup dan seimbang(Almatsier,2002). Energi dai karbohidrat 4 kalori,lemak
9kalori, protein 4 kalori,Distribusi kalori dalam makanan anak yang dalam
keseimbangan diet (balanced diet) ialah 15% berasal dari protein, 35% dari
lemak dan 50% dari karbohidrat (Soediaoetama, 2004)

Tabel 1. Angka Kecukupan Energi Untuk Anak Balita


Umur Kecukupan Energi Kal/kg/hari
1 990 110
1-3 1200 100
4-6 1620 90

Sumber : Soediaoetama, 2004


2. Protein
Nilai gizi protein ditentukan oleh kadar asam amino esensial. Akan tetapi
dalam praktek sehari-hari umumnya dapat ditentukan dari asalnya. Protein
hewani biasanya mempunyai nilai yang lebih tinggi bila dibandingkan
dengan protein nabati. Protein telur dan protein susu biasanya dipakai
sebagai standar untuk nilai gizi protein.Nilai gizi protein nabati ditentukan
oleh asam amino yang kurang (asam amino pembatas), misalnya protein
kacang-kacangan. Nilai protein dalam makanan orang Indonesia sehari-hari
umumnya diperkirakan 60% dari pada nilai gizi protein telur (Soediaoetama,
2004).
Tabel 2. Angka Kecukupan Protein Anak Balita (gr/kgBB sehari )
umur gram
1 1,27
2 1,19
3 1,12
4 1,06
5 1,01

Sumber : Soediaoetama, 2004

3. Lemak
Lemak merupakan komponen struktural dari semua sel-sel tubuh, yang
dibutuhkan oleh ratusan bahkan ribuan fungsi fisiologis tubuh (McGuire &
Beerman, 2011). Lemak terdiri dari trigliserida, fosfolipid dan sterol yang
masing-masing mempunyai fungsi khusus bagi kesehatan manusia.
Sebagian besar (99%) lemak tubuh adalah trigliserida. Trigliserida terdiri
dari gliserol dan asam-asam lemak. Disamping mensuplai energi, lemak
terutama trigliserida, berfungsi menyediakan cadangan energi tubuh,
isolator, pelindung organ dan menyediakan asam-asam lemak esensial
(Mahan & Escott-Stump, 2008).
Tabel 3. Tingkat Kecukupan Lemak Anak Balita

Umur gram
1-3 tahun 44
4-6 tahun 62

Sumber : Hardinsyah, 2012


4. Vitamin dan Mineral
Menurut Almatsier (2001), vitamin adalah zat-zat organik kompleks
yang dibutuhkan tubuh dalam jumlah sangat kecil. Vitamin dibagi menjadi 2
kelompok yaitu vitamin yang larut dalam air (vitamin B dan C) dan vitamin
yang tidak larut dalam air (vitamin A, D, E dan K).
Mineral merupakan bagian dari tubuh dan memegang peranan
penting dalam pemeliharaan fungsi tubuh, baik pada tingkat sel, jaringan,
organ maupun fungsi tubuh secara keseluruhan, berperan dalam berbagai
tahap metabolisme, terutama sebagai kofaktor dalam aktivitas enzim-enzim
(Almatsier, 2001).
Tabel 4. Tingkat Kecukupan Vitamin dan Mineral Anak Balita
umur Kalsium Fosfor Zat besi Vitamin A Vitamin C
(mg) (mg) (mg) (mg) (mg)

1-3
tahun 500 400 8 400 40
4-6
tahun 500 400 9 450 45

Sumber : Angka Kecukupan Gizi, 2004

A. Masalah Kesulitan Makan Pada Anak

Beberapa istilah dipakai untuk menggambarkan kesulitan makan


pada anak, seperti pickiness (Amerika Serikat) dan faddiness (Inggris), yang
berarti suka memilih-milih makanan. Picky Eating atau hanya mau makanan
tertentu merupakan proses normal yang sering terjadi pada balita dan tidak
akan berlangsung lama. Ada yang berpendapat bahwa anak sehat yang waktu
makannya lebih lama dari 30 menit tergolong gangguan perilaku
makan(Rudolph,2002)
Penelitian di Amerika menemukan empat pola makan pada anak
yaitu (1) menolak makan; (2) meminta jenis makanan tertentu, (3) makan
hanya sedikit; (4) picky. Umumnya hal yang disebutkan diatas ini tidak
mengalami pengu-rangan masukan zat gizi sehingga tumbuh kembang tidak
mengalami gangguan. Terdapat enam situasi makan yang merupakan bagian
dari dinamika tumbuh kembang anak yang normal yaitu (1) food jag (makan
hanya satu jenis makanan); (2) food strikers ( menolak apa yang disajikan
dan minta makanan yang lain); (3) tv habbit (akan makan bila menonton
televisi); (4) the complainers (selalu mengeluh apa yang disajikan);(5). white
food diet (hanya makan yang berwarna putih seperti roti, kentang ,
makaroni,atau nasi saja); dan (6)takut mencoba makanan baru
(Hamzah,2006)

Kesulitan makan yang berat dan berlangsung lama berdampak negatif


pada keadaan kesehatan anak, keadaan tumbuh kembang dan aktifitas sehari-
harinya. Dampak kesulitan makan pada umumnya merupakan akibat
gangguan zat gizi yang terjadi. Beberapa macam gizi, berapa berat
kekurangannya, jangka waktu singkat atau lama. Peran orangtua terhadap
anak merupakan hal penting dalam pembentukan prilaku makan . Peran
orangtua terutama ibu dengan mendorong anaknya untuk makan serta
membentuk prilaku makan yang baik.

Faktor faktor yang mempengaruhi kesulitan makan adalah nafsu


makan, kondisi psikologi, kondisi fisik, perilaku makan orangtua, dan peran
orangtua-anak. Hilangnya nafsu makan dapat mempengaruhi kesulitan
makan pada balita mulai dari tingkat yang ringan hingga yang berat
(Judarwanto, 2006). Ketika kondisi psikologi balita terganggu akan membuat
makanan yang dikonsumsi balita menjadi berkurang dan kecenderungan
terhadap rasa manis (Priyanah, 2008).

Peran ibu dalam mengatasi kesulitan makan pada balita ada tiga
,Yang pertama Melatih anak makan secara mandiri menurut Mueser (2007)
biarkan anak aktif makan sendiri secepat mungkin. Doronglah anak untuk
makan sendiri begitu dia menunjukkan keinginan untuk melakukannya. Jika
ibu terus menyuapinya ketika anak bisa makan sendiri, kemungkinan ia akan
terus bergantung pada ibu selama waktu makan, dan menjadi kebiasaan yang
sulit dihentikan.Dengan kemandirian yang dimilikinya maka anak memiliki
rasa percaya diri yang tinggi,serta mendapatkan wawasan berkaitan dengan
memilih makanan yang baik,mengenal berbagai macam makanan serta rasa
aroma makanan tersebut.Sehingga anak tidak merasa terpaksa untuk makan.

Yang kedua ,menurut Santoso (2009) suasana makan juga


menentukan mood anak, jika di lingkungan rumah ada taman bermain lebih
baik ibu mengajak anak main di sana. Suasana bertemu teman-teman
sepermainannya akan membuat anak cenderung lebih bersemangat
makan.Sehingga anak terpacu untuk makan,serta dapat membangun
perkembangan psikologis anak ,yang membuat suasana makan menjadi
menyenangkan . Selain itu ibu sebaiknya membangun interaksi makan yang
positif, seperti kontak mata, komunikasi dua arah pujian dan sentuhan dan
menghindari interaksi negatif seperti memaksa makan, membujuk,
mengancam, dan perilaku yang mengganggu anak seperti melempar
makanan (Claude, Anne dan Bernard Bonning, 2006),Sehingga tercipta
suasana makan yang nyaman bagi anak .

Yang ketiga , menurut Suhardjo (2009) selama ini yang terjadi di


masyarakat, ibu kurang memperhatikan pola makan balitanya di mana
jumlah, jenis dan frekuensi makan kurang diperhatikan serta ibu tidak
mengetahui kebutuhan dan kecukupan makan anak, hal ini membuat anak
cepat bosan pada satu makanan,makan hanya sedikit,dan tidak mau mencoba
makanan baru.Oleh karena itu ibu harus pintar dalam memilih bahan
makanan dan cara penyajian yang menarik agar anak mau menerima
makanan yang diberikan sehingga kebutuhan akan gizi tetap
terpenuhi.Dalam Pemberian makan, ibu dapat membuat variasi makanan
setiap kali makan untuk mengatasi kejenuhan pada anak dan memperbaiki
nafsu makan anak ,selanjutnya tepat waktu untuk membentuk kebiasaan
makan yang benar dan pemberian makan pada anak tidak pada kondisi
sangat lapar, dibiasakan porsi kecil terlebih dahulu,dalam pemberian
makanan ibu dapat melakukan variasi terhadap makanan , baik dari bahan
makanan bisa dilakukan modifikasi resep ,variasi tekstur dan warna. Dengan
variasi makanan anak dapat mengenal berbagai macam makanan.
Bab III
Penutup

A. Kesimpulan

Peran ibu sangat berpengaruh terhadap mengatasi kesulitan makan


pada anak karena ibu faktor sentral yang menyajikan makanan di rumah
tangga,kesulitan makan pada balita seperti menolak makanan
tertentu,memilih makanan tertentu,sering mengeluh. Jadi Peran ibu dalam
mengatasinya yaitu melatih anak untuk makan sendiri,menjaga suasana agar
tetap menyenangkan,memperhatikan pola makan,frequensi,porsi serta variasi
makanan yang diberikan.Sehingga anak tidak mengalami gizi kurang dan
terpenuhi asupan sesuai kebutuhan dan kecukupan anak

B. Rekomendasi

Penulisan ini hanya bersifat teoritis sehingga perlu dilakukan


penelitian lebih lanjut yang bersifat kuantitaif,