Anda di halaman 1dari 18

BAB II

RANCANGAN AKTUALISASI

A. Konsep Aktualisasi
Aktualisasi nilai-nilai dasar diawali dengan penyusunan rancangan aktualisasi
nilai-nilai dasar, yang akan menghasilkan sebuah dokumen yang disebut dengan
Rancangan Aktualisasi Nilai-Nilai Dasar ANEKA serta Kedudukan dan Peran PNS
Dalam NKRI. Dalam merancang aktualisasi nilai-nilai dasar ini, setiap peserta
pendidikan Latsar dituntut mampu menyusun daftar rencana kegiatan (rancangan)
aktualisasi yang akan dilaksanakan ketika kembali ke tempat tugas atau tempat
magang. Selama proses penyusunan rancangan aktualisasi, setiap peserta dibimbing
dalam kelompok kecil oleh pembimbing yang ditunjuk penyelenggara Diklat. Daftar
rancangan kegiatan aktualisasi dapat bersumber dari Sasaran Keja Pegawai (SKP),
penugasan khusus dari atasan, dan/atau kegiatan lain yang merupakan inisiatif
sendiri yang mendapat persetujuan dari atasan langsung, dan atau kombinasi diantara
ketiganya. Dari tiga sumber kegiatan ini, setiap peserta dituntut untuk merencanakan
6 (enam) kegiatan atau lebih, dengan pertimbangan bahwa kegiatan tersebut dapat
dilaksanakan selama masa aktualisasi nilai-nilai dasar di tempat tugas.
1. Nilai nilai dasar ASN
Nilai dasar ASN yang diperlukan untuk menjalankan peran sebagai pelaksana
kebijakan, pelayan publik dan perekat pemersatu bangsa yaitu: Akuntabilitas,
Nasionalisme, Etika Publik, Komitmen Mutu, dan Anti Korupsi yang biasa
diakronimkan menjadi ANEKA. Penjelasan masing-masing nilai dasar ASN
(ANEKA) sebagai berikut :
1.1 Akuntabilitas
Akuntabilitas adalah bentuk kewajiban mempertanggungjawabkan
keberhasilan atau kegagalan pelaksanaan misi organisasi dalam mencapai tujuan
dan sasaran yang telah ditetapkan sebelumnya, melalui suatu media
pertanggungjawaban yang dilaksanakan secara periodik (Stanbury, 2003 dalam
Mardiasmo, 2006). Akuntabilitas merupakan sebuah kewajiban individu,
kelompok, atau institusi untuk memenuhi tanggung jawab yang menjadi
amanahnya. Amanah aparatur sipil negara (ASN) adalah menjamin terwujudnya
nilai-nilai publik, meliputi:

4
1. Mampu mengambil pilihan yang tepat dan benar ketika terjadi konflik
kepentingan antara kepentingan publik dengan sektor, kelompok dan
pribadi.
2. Memiliki pemahaman dan kesadaran untuk menghindari dan mencegah
keterlibatan PNS dalam politik praktis.
3. Memperlakukan warga negara secara sama dan adil dalam
penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan publik.
4. Menunjukkan sikap dan prilaku yang konsisten dan dapat diandalkan
sebagai penyelenggara pemerintah.
Menurut Lembaga Administrasi Negara (2015), akuntabilitas terdiri dari
beberapa aspek, yaitu:
1. Akuntabilitas adalah sebuah hubungan
2. Akuntabilitas berorientasi pada hasil
3. Akuntabilitas membutuhkan adanya laporan
4. Akuntabilitas memerlukan konsekuensi
5. Akuntabilitas memperbaiki kinerja
Berdasarkan aspek-aspek tersebut seorang PNS harus memiliki tanggung
jawab dalam menjalankan setiap tugasnya. Bovens dalam LAN RI (2015)
menyatakan bahwa akuntabilitas publik memiliki tiga fungsi utama, yaitu:
1. Sebagai kontrol demokratis (peran demokrasi)
2. Mencegah korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan (peran konstitusional)
3. Meningkatkan efisiensi dan efektivitas (peran belajar)
Selain itu, untuk mewujudkan akuntabilitas di lingkungan unit kerja, ada 5
(lima) langkah yang harus dilakukan, yaitu sebagai berikut.
1. menentukan tujuan yang ingin dicapai dan tanggungjawab yang harus
dilakukan;
2. melakukan perencanaan yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan;
3. melakukan implementasi dan montoring untuk tehadap program yang
dilakukan;
4. memberikan laporan secara lengkap, mudah dipahami, dan tepat waktu;
dan
5. melakukan evaluasi dan menerima masukan untuk memperbaiki kinerja
terhadap program yang dilakukan.
1.1. Nasionalisme
Nasionalisme dalam arti sempit adalah suatu sikap yang meninggikan
bangsanya sendiri dan tidak menghargai bangsa lain sebagaimana mestinya
(chauvinism). Sedangkan dalam arti luas, nasionalisme merupakan pandangan
tentang rasa cinta yang wajar terhadap bangsa dan negara, dan sekaligus
menghormati bangsa lain (Latief et al, 2015).

5
Berdasarkan Undang-undang Nomor 5 tahun 2014 tentang Aparatur Sipil
Negara (ASN), ASN berfungsi sebagai (1) pelaksana kebijakan publik, (2)
pelayan publik, serta (3) perekat dan pemersatu bangsa. Pelaksana kebijakan
publik harus memiliki integritas yang tinggi, berorientasi pada kepentingan
publik, dan mengimplementasikannya. Sebagai pelayan publik, ASN dituntut
untuk profesional serta melayani publik dengan integritas yang tinggi dimana di
dalamnya terkandung beberapa nilai, yaitu sebagai berikut.
1. Gotong Royong
2. Persamaan etnis
3. Cinta tanah air
4. Patriotisme
5. Musyawarah/mufakat
6. Keadilan
7. Rela berkorban
8. Tidak diskriminatif
9. Kerjasama
10. Tenggang rasa
11. Kerja keras
Selain itu, ASN memiliki peran sebagai perencana, pelaksana, dan
pengawas penyelenggaraan tugas umum pemerintahan dan pembangunan
nasional melalui pelaksanaan kebijakan dan pelayanan publik yang profesional,
bebas dari intervensi politik, serta bersih dari praktik korupsi, kolusi, dan
nepotisme (UU Nomor 5 Tahun 2014).
Prinsip nasionalisme berlandaskan pada nilai-nilai pancasila yang
diarahkan agar bangsa Indonesia senantiasa:
1. Mendapatkan persatuan dan kesatuan, kepentingan dan keselamatan
bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi dan kelompok
2. Menunjukkan sikap rela berkorban demi kepentingan bangsa dan
negara
3. Bangga sebagai bangsa Indonesia dan bertanah air Indonesia serta
tidak merasa rendah diri.
4. Mengakui persamaan derajat, persamaan hak dan kewajiban antara
sesama manusia dan sesama bangsa
5. Menumbuhkan sikap saling mencintai sesama manusia
6. Mengembangkan sikap tenggang rasa
1.2. Etika Publik
Menurut Kumorotomo et al (2015) etika publik merupakan refleksi tentang
standar/norma yang menentukan baik/buruk, benar/salah perilaku, tindakan dan
keputusan untuk mengarahkan kebijakan publik dalam rangka menjalankan

6
tanggungjawab pelayanan publik. Ada 3 (tiga) fokus utama dalam pelayanan
publik, yaitu sebagai berikut :
a. Pelayanan publik yang berkualitas dan relevan;
b. Berfungsi sebagai bantuan dalam menimbang pilihan sarana kebijakan
publik dan alat evaluasi (sisi dimensi reflektif); dan
c. Modalitas etika, menjembatani antara norma moral dan tindakan
faktual.
Berdasarkan undang-undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil
Negara Pasal 4 dijelaskan bahwa nilai-nilai dasar etika publik adalah sebagai
berikut.
1. Memegang teguh ideologi Pancasila;
2. Setia dan mempertahankan Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945 serta pemerintahan yang sah;
3. Mengabdi kepada negara dan rakyat Indonesia;
4. Menjalankan tugas secara profesional dan tidak berpihak;
5. Membuat keputusan berdasarkan prinsip keahlian;
6. Menciptakan lingkungan kerja yang non diskriminatif;
7. Memelihara dan menjunjung tinggi standar etika yang luhur;
8. Mempertanggungjawabkan tindakan dan kinerjanya kepada publik;
9. Memiliki kemampuan dalam melaksanakan kebijakan dan program
pemerintah;
10. Memberikan layanan kepada publik secara jujur,
11. Tanggap, cepat, tepat, akurat, berdaya guna, berhasil guna, dan santun;
12. Mengutamakan kepemimpinan berkualitas tinggi;
13. Menghargai komunikasi, konsultasi, dan kerja sama;
14. Mengutamakan pencapaian hasil dan mendorong kinerja pegawai;
15. Mendorong kesetaraan dalam pekerjaan; dan
16. Meningkatkan efektivitas sistem pemerintahan yang demokratis
sebagai perangkat sistem karier.
Dimensi etika publik, meliputi (1) dimensi tujuan pelayanan publik yang
bertujuan untuk mewujudkan pelayanan yang berkualitas dan relevan, (2) dimensi
modalitas yang terdiri dari akuntabilitas, transparansi, dan netralitas; serta 3)
dimensi tindakan integritas publik. Ketiga dimensi tersebut menjadi dasar pelayan
publik yang beretika.
Pelayanan publik yang profesional tidak hanya membutuhkan kompetensi
teknis dan leadership, namun kompetensi etika. Tanpa memiliki kompetensi etika,
pejabat cenderung menjadi tidak peka, tidak peduli dan bahkan seringkali
diskriminatif, terutama pada masyarakat kalangan bawah yang tidak beruntung.
Ada 6 (enam) prinsip yang mendasari etika publik, yaitu sebagai berikut.
1. Keindahan (beauty), yakni prinsip yang berkaitan/dapat menghasikan
rasa senang

7
2. Persamaan (equality), yakni prinsip yang berkaitan dengan kesamaan
harkat dan derajat/tidak diskriminatif
3. Kebaikan (goodness), yakni prinsip yang berkaitan dengan cita
rasa/perasaan
4. Keadilan (justice), yakni prinsip yang berkaitan dengan rasa adil
(didasarkan kebutuhan)
5. Kebebasan (liberty), yakni prinsip yang berkaitan dengan keleluasaan
namun tidak mengganggu orang lain
6. Kebenaran (truth), yakni prinsip yang didasarkan pada kebenaran baik
secara ilmiah maupun mutlak
Supaya etika publik dapat dihayati, diperlukan kode etik diantara aparatur
sipil negara (ASN). Dengan rumusan kode etik yang baik dan diikuti sebagai
pedoman bertindak dan berperilaku, membuat para aparatur negara dapat melihat
kedudukan mereka sebagai alat bukan sebagai tujuan.
1.3. Komitmen mutu
Komitmen mutu merupakan janji pada diri sendiri atau orang lain yang
tercermin dalam tindakan untuk menjaga mutu kinerja pegawai. Aspek utama
yang menjadi target stakeholder adalah layanan yang komitmen pada mutu
melalui penyelenggaraan tugas secara efektif, efisien, inovatif dan berorientasi
mutu.
a. Efektif
Efektif menunjukan tingkat ketercapaian target yang telah
direncanakan, baik menyangkut jumlah maupun mutu hasil kerja
sedangkan efektivitas organisasi berarti sejauh mana organisasi dapat
mencapai tujuan yang ditetapkan, atau berhasil mencapai apapun yang
coba dikerjakannya. Efektivitas organisasi berarti memberikan barang
atau jasa yang dihargai oleh pelanggan.
b. Efisien
Efisien adalah jumlah sumber daya yang digunakan untuk mencapai
tujuan atau tingkat ketepatan realisasi penggunaan sumberdaya dan
bagaimana pekerjaan dilaksanakan sehingga tidak terjadi pemborosan
sumber daya sedangkan efisiensi organisasi adalah jumlah sumber
daya yang digunakan untuk mencapai tujuan organisasi. Efisiensi
organisasi ditentukan oleh berapa banyak bahan baku, uang, dan
manusia yang dibutuhkan untuk menghasilkan jumlah keluaran
tertentu. Efisensi dapat dihitung sebagai jumlah sumber daya yang
digunakan untuk menghasilkan barang dan jasa.

8
c. Inovasi
Inovasi adalah cara utama dimana suatu organisasi beradaptasi
terhadap perubahan di pasar, teknologi dan persaingan.
d. Mutu
Mutu mencerminkan nilai keunggulan produk/jasa yag diberikan
kepada pelanggan sesuai dengan kebutuhan dan keinginannya, dan
bahkan melampaui harapannya. Mutu merupakan salah satu standar
yang menjadi dasar untuk mengukur capaian hasil kerja.
Untuk memberikan layanan yang prima, dibutuhkan nilai-nilai dasar orientasi
mutu yang mencakup hal-hal berikut.
a. Mengedepankan komitmen terhadap kepuasan pelanggan.
b. Memberikan layanan yang menyentuh hati, untuk menjaga dan
memelihara agar pelanggan tetap setia.
c. Menghasilkan produk/jasa yang berkualitas tinggi tanpa cacat, tanpa
kesalahan, dan tidak ada pemborosan.
d. Beradaptasi dengan perubahan yang terjadi, baik berkaitan dengan
pergeseran tuntutan kebutuhan pelanggan maupun perkembangan
teknologi.
e. Menggunakan pendekatan ilmiah dan inovatif dalam pemecahan
masalah dan pengambilan keputusan.
f. Melakukan upaya perbaikan secara berkelanjutan melalui berbagai
cara, antara lain pendidikan, pelatihan, pengembangan ide kreatif,
kolaborasi, dan benchmark.
Untuk mewujudkan nilai-nilai dasar tersebut, diperlukan ilustrasi tentang perilaku
yang semestinya ditampilkan dalam memberikan pelayanan yang prima
(Djamaludin et al, 2014 dalam Yuniarsih dan Taufiq, 2015), yaitu sebagai berikut.
1. Menyapa dan memberi salam
2. Ramah dan senyum manis
3. Cepat dan tepat waktu
4. Mendengar dengan sabar dan aktif
5. Penampilan yang rapi dan bangga akan penampilan
6. Menjelaskan apa yang dilakukan
7. Mengucapkan terima kasih
8. Perlakukan teman sekerja seperti pelanggan
9. Mengingat nama Pelanggan.
1.4. Anti korupsi
Korupsi adalah perbuatan yang tidak baik, curang , tidak bermoral, dapat
disuap, perbuatan menyimpang, dan melanggar norma-norma agama, material,
mental, dan hukum (Tim Penulis KPK, 2015). Secara etimologi, korupsi berasal
dari bahasa Latin Corruptio/Corruptus yang berarti kerusakan atau kebobrokan

9
(Dirdjosisworo, 1984). Berdasarkan konteks hukum di Indonesia, korupsi
dipersempit maknanya menjadi setiap orang, baik itu pejabat pemerintah maupun
swasta yang secara hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau
korporasi yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara.
Menurut Alatas (1983), korupsi dikelompokkan ke dalam 7 jenis, yaitu (1)
korupsi transaktif, (2) korupsi ekstroaktif, (3) korupsi investif, (4) korupsi
nepotistic, (5) korupsi autogenic, (6) korupsi suportif, dan korupsi defensif.
Selain itu, berdasarkan Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 jo Nomor 20
Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, ada 7 (tujuh)
kelompok tindak pidana korupsi, meliputi (1) kerugian keuangan negara, (2)
suap-menyuap, (3) pemerasan, (4) perbuatan curang, (5) penggelapan dalam
jabatan, (6) benturan kepentingan dalam pengadaan, dan (7) gratifikasi.
Anti Korupsi adalah sikap dan perilaku untuk tidak mendukung yang
menyebabkan kerugian keuangan dan perekonomian negara atau dengan kata
lain, anti korupsi adalah sikap menentang terhadap korupsi (Tim Penulis KPK,
2015). Ada 9 (sembilan) nilai dasar anti korupsi yang telah diidentifikasi oleh
KPK bersama para pakar, yaitu (1) jujur, (2) peduli, (3) mandiri, (4) disiplin, (5)
tanggungjawab, (6) kerja keras, (7) sederhana, (8) berani, (9) adil.

2. Kedudukan dan peran PNS dalam NKRI


Terdapat 3 (tiga) nilai dasar yang harus PNS terapkan dalam agenda
kedudukan dan peran pegawai negeri sipil (PNS) dalam NKRI, meliputi
Manajemen ASN, Whole of Government, dan Pelayanan Publik. Penjelasan dari
masing-masing nilai dasar tersebut adalah sebagai berikut:
2.1 Manajemen ASN
Pada dasarnya, manajemen ASN merupakan kebijakan dan praktik dalam
mengelola aspek manusia atau sumberdaya manusia (SDM) dalam organisasi
termasuk dalam hal pengadaan, penempatan, mutasi, promosi, pengembangan,
penilaian, dan penghargaan (Fatimah dan Irawati, 2016). Manajemen ASN adalah
pengelolaan ASN untuk menghasilkan pegawai ASN yang profesional, memiliki
nilai dasar, etika profesi, bebas dari intervensi politik, bersih dari praktik korupsi,
kolusi dan nepotisme dengan memahami kedudukan, peran, hak dan kewajiban
(Undang-undang Nomor 5 Tahun 2014).
Manajemen ASN akan diselenggarakan dengan sistem merit. Sistem merit
adalah kebijakan dan manajemen ASN yang berdasarkan pada kualifikasi,

10
kompetensi, dan kinerja secara adil dan wajar dengan tanpa membedakan latar
belakang politik, ras, warna kulit, agama, asal usul, jenis kelamin, status
pernikahan, umur, atau kondisi kecacatan (Undang-undang Nomor 5 Tahun
2014). Manajemen ASN meliputi manajemen PNS dan manajemen PPPK
(Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja).
Mekanisme Pengelolaan ASN, meliputi: (1) penyusunan dan penetapan
kebutuhan, (2) pengadaan, (3) pangkat dan jabatan, (4) pengembangan karier, (5)
pola karier, (6) promosi, (7) mutasi, (8) penilaian kinerja, (9) penggajian dan
tunjangan, (10) penghargaan, (11) disiplin, (12) pemberhentian, (13) jaminan
pensiun dan jaminan hari tua, dan (14) perlindungan.
Manajemen PPPK, meliputi (1) penetapan kebutuhan, (2) pengadaan, (3)
penilaian kinerja, (4) penggajian dan tunjangan, (5) pengembangan kompetensi,
(6) pemberian penghargaan, (7) disiplin, (8) pemutusan hubungan perjanjian
kerja, dan (9) perlindungan.
2.2 Pelayanan Publik
Pelayanan publik adalah segala bentuk kegiatan pelayanan umum yang
dilaksanakan oleh Instansi Pemerintahan di Pusat dan Daerah, dan di lingkungan
BUMN/BUMD dalam bentuk barang dan/atau jasa, baik dalam pemenuhan
kebutuhan masyarakat (Purwanto, et al, 2016). Ada 3 (tiga) unsur penting dalam
pelayanan publik, yaitu:
1. Setiap institusi penyelenggara negara, korporasi, lembaga independen
yang dibentuk berdasarkan Undang-undang untuk kegiatan pelayanan
publik, dan badan hukum lain yang dibentuk semata-mata untuk
kegiatan pelayanan publik.
2. Orang, masyarakat atau organisasi yang berkepentingan atau
memerlukan layanan (penerima layanan).
3. Kepuasan pelanggan menerima pelayanan, unsur kepuasan pelanggan
menjadi perhatian penyelenggara pelayanan (Pemerintah), untuk
menetapkan arah kebijakan pelayanan publik yang berorientasi untuk
memuaskan pelanggan, dan dilakukan melalui upaya memperbaiki
dan meningkatkan kinerja.
Nilai dasar pelayanan publik yang baik untuk mewujudkan pelayanan
prima, meliputi (1) partisipatif, (2) transparan, (3) responsif, (4) tidak
diskriminatif, (5) mudah dan murah, (6) efektif dan efisien, (7) aksesibel, (8)
akuntabel, dan (9) berkeadilan. Budaya pelayanan dibentuk oleh sikap pekerja

11
serta manajemen organisasi sebagai pelayanan. Sikap pelayanan dapat
digambarkan melalui 7 (tujuh) P, (1) passionate, (2) progressive, (3) proactive,
(4) prompt, (5) patience, (6) proporsional, dan (7) punctional.
2.3 Whole of Government (WoG)
WOG adalah sebuah pendekatan penyelenggaraan pemerintahan yang
menyatukan upaya kolaboratif pemerintahan dari keseluruhan sektor dalam ruang
lingkup koordinasi yang lebih luas guna mencapai tujuan-tujuan pembangunan
kebijakan, manajemen program, dan pelayanan publik. Ada 3 (tiga) alasan yang
menyebabkan WOG menjadi penting dan tumbuh sebagai pendekatan yang
mendapatkan perhatian dari pemerintah, yaitu sebagai berikut.
1. Faktor eksternal, seperti dorongan publik dalam mewujudkan integrasi
kebijakan, program pembangunan, dan pelayanan agar tercipta
penyelenggaraan pemerintahan yang lebih baik.
2. Faktor internal, dengan adanya fenomena ketimpangan kapasitas
sektoral sebagai akibat dari adanya nuansa kompetisi antar sektor
dalam pembangunan.
3. Keberagaman latar belakang nilai, budaya, adat istiadat, serta bentuk
latar belakang lainnya mendorong adanya potensi disintegrasi bangsa.
Terdapat beberapa cara pendekatan WOG yang dapat dilakukan, baik dari
sisi penataan institusi formal maupun informal, yaitu sebagai berikut.
1. Penguatan koordinasi antar lembaga
2. Membentuk lembaga koordinasi khusus
3. Membentuk gugus tugas
4. Koalisi sosial
Selain itu, dalam menerapkan WOG ada beberapa tantangan yang akan
dihadapi, yaitu (1) kapasitas SDM dan institusi, (2) nilai dan budaya organisasi,
dan (3) kepemimpinan.
B. Isu Aktual
1. Isu yang Diangkat : Belum tersedianya database potensi energi baru
terbarukan Provinsi Riau di Dinas Energi dan
Sumber Daya Mineral Provinsi Riau
2. Gagasan Pemecahan Isu : Membantu membuat database potensi energi
baru terbarukan Provinsi Riau dan
mempublikasikan di web Dinas Energi dan
Sumber Daya Mineral Provinsi Riau
C. Kegiatan Pemecahan Isu

12
1. Mengklasifikasikan jenis-jenis sumber energi baru terbarukan
2. Mengumpulkan dan mengolah data sumber energi baru terbarukan
3. Menganalisa potensi energi baru terbarukan di Provinsi Riau
4. Membantu membuat database potensi energi baru terbarukan
5. Membuat buku database potensi energi baru terbarukan di Provinsi Riau
6. Membuat bahan display untuk ditampilkan di web Dinas Energi Dan
Sumber Daya Mineral Provinsi Riau
Tabel Kegiatan 1. Mengklasifikasikan jenis-jenis sumber energi baru
terbarukan
No URAIAN KETERANGAN
1 KEGIATAN Mengklasifikasikan jenis- jenis sumber energi
baru terbarukan
Mengklasifikasikan jenis- jenis sumber energi baru
terbarukan yang ada di Provinsi Riau secara tepat
dan akurat sebagai Whole of Government dalam
bentuk koordinasi kepada atasan dan sharing ilmu
dengan rekan sejawat untuk menyediakan data
yang spesifik tentang energi baru terbarukan.
2 TAHAPAN 1. Berkonsultasi dengan atasan;
KEGIATAN 2. Mengumpulkan regulasi energi baru
terbarukan;
3. Mencari bahan referensi jenis-jenis sumber
energi baru terbarukan melalui studi
literatur dan media online;
4. Menyusun bahan referensi yang
dibutuhkan untuk kegiatan pembuatan
database energi baru terbarukan.
3 OUTPUT / HASIL Tersedianya bahan referensi jenis-jenis sumber
energi baru terbarukan melalui tahapan:
1. Berkonsultasi dengan atasan; target
capaian kegiatan (10%).
2. Mengumpulkan regulasi energi baru
terbarukan; target capaian kegiatan
(20%).
3. Mencari bahan referensi jenis-jenis sumber
energi baru terbarukan melalui studi
literature dan media online; target capaian
kegiatan (30%).
4. Diskusi dengan teman sejawat ; target
capaian kegiatan (10%).
5. Menyusun bahan referensi yang
dibutuhkan untuk kegiatan pembuatan
database energi baru terbarukan; target
capaian kegiatan (30%).
4 KETERKAITAN Dalam mengklasifikasikan jenis-jenis sumber
SUBSTANSI energi baru terbarukan yang ada di Provinsi
MATA Riau saya akan berkonsultasi dengan atasan

13
PELATIHAN untuk meminta izin melakukan pembuatan
database dengan teknik berkomunikasi yang
ramah, hormat, sopan, dan santun (Etika
Publik) dan juga akan mengedepankan etika
dalam kehidupan sehari-hari (Nasionalisme-sila
1). Saya akan menentukan jenis-jenis sumber
energi baru terbarukan secara benar dan
bertanggungjawab (Akuntabilitas). Kegiatan
mengklasifikasikan jenis- jenis sumber energi
baru terbarukan terkait dengan materi Whole of
Government karena dalam mengklasifikasi
jenis-jenis sumber energi terbarukan
berkonsultasi dengan atasan, dan rekan sejawat.
Dalam mencari masukan dari teman sejawat
saya akan menciptakan lingkungan kerja non-
diskriminatif, saya tidak akan memilih-milih
teman untuk diajak berkonsultasi (Etika Publik).
Mengklasifikasikan sumber energi baru
terbarukan ini berdasarkan UU No. 30 tahun
2007.
5 KONTRIBUSI Dengan mengklasifikasikan jenis-jenis sumber
THD VISI/ MISI energi baru terbarukan akan memberikan
ORG kontribusi terhadap misi Dinas ESDM no 4:
mewujudkan data dan informasi potensi energi
dan sumber daya mineral yang lengkap dan
akurat.
6 PENGUATAN Dengan memahami dasar pengklasifikasian
NILAI sumber energi terbarukan dan pelaksanaan
ORGANISASI pengklasifikasian sumber energi terbarukan maka
nilai organisasi Dinas ESDM Provinsi Riau yaitu
professional dapat diperkuat.

Tabel Kegiatan 2. Mengumpulkan dan mengolah data sumber energi baru


terbarukan
No URAIAN KETERANGAN
1 KEGIATAN Mengumpulkan dan mengolah data sumber
energi baru terbarukan
Mengumpulkan dan mengolah data sumber energi
baru terbarukan yang ada di Provinsi Riau secara
tepat dan akurat sebagai bentuk Whole of
Government dimana dalam aktivitas mencari data
yang dibutuhkan berkoordinasi dengan subbagian
perencanaan program dan staf sistem informasi
geografis.
2 TAHAPAN 1. Menetapkan tahun awal pembuatan
KEGIATAN database;
2. Berkoordinasi dengan Subbagian
Perencanaan Program dan staf sistem
informasi geografis;
3. Pengumpulan data energi baru terbarukan;
4. Pengumpulan laporan studi kelayakan;

14
5. Pengelompokan proposal berdasarkan
klasifikasi sumber energi baru terbarukan.
3 OUTPUT / HASIL Terkumpulnya data energi baru terbarukan melalui
tahapan:
1. Menetapkan tahun awal pembuatan
database; target capaian kegiatan (10%).
2. Berkoordinasi dengan Subbagian
Perencanaan Program dan staf sistem
informasi geografis; target capaian
kegiatan (10%).
3. Pengumpulan data energi baru terbarukan;
target capaian kegiatan (25%).
4. Pengumpulan laporan studi kelayakan;
target capaian kegiatan (25%).
5. Pengelompokan data berdasarkan
klasifikasi sumber energi baru terbarukan;
target capaian kegiatan (30%).
4 KETERKAITAN Pengumpulan data merupakan kegiatan mencari
SUBSTANSI data yang kita butuhkan dimana validitas
MATA instrument pengumpulan data sangat diperlukan
PELATIHAN untuk memperoleh data yang berkualitas agar
dapat dipertanggungjawabkan (Akuntabilitas).
Saat mengumpulkan data saya akan sabar, tekun
dan tidak boleh putus asa (Nasionalisme sila 1).
Dan juga berkoordinasi dengan subbagian
perencanaan program untuk memperoleh data,
informasi dan dokumen pembangunan dan
perencanaan pembangunan energi baru
terbarukan sehingga berjalan Whole of
Government dengan terlebih dahulu menetapkan
tahun dasar pengambilan data karena sebaik
apapun ide kreatif yang lahir dari pemikiran
individual ataupun kelompok, tidak akan
memiliki makna apa-apa jika tidak
dikomunikasikan dengan baik kepada
stakeholder. Menurut Ahmad Fuad Afdhal (2003:
131) Komunikasi dalam pekerjaan sangat
esensial dalam proses untuk membangun
kualitas jasa dan produk. (Komitmen mutu)
dan akan menggunakan bahasa komunikasi yang
ramah, hormat, sopan, dan santun (Etika Publik
- Menghargai komunikasi, konsultasi dan
kerja sama).
5 KONTRIBUSI Dengan mengumpulkan dan mengolah data
THD VISI/ MISI energi baru terbarukan yang valid dan
ORG berkualitas akan memberikan kontribusi
terhadap misi Dinas ESDM no 4: mewujudkan
data dan informasi potensi energi dan sumber
daya mineral yang lengkap dan akurat.
6 PENGUATAN Melalui pengumpulan dan pengolahan data
NILAI sumber energi terbarukan lalu dipilah berdasarkan
ORGANISASI jenisnya sehingga terkumpul data energi baru

15
terbarukan maka nilai organisasi Dinas ESDM
Provinsi Riau yaitu professional dan akuntabilitas
dapat diperkuat.

Tabel Kegiatan 3. Menganalisa potensi energi baru terbarukan di Provinsi Riau


No URAIAN KETERANGAN
1 KEGIATAN Menganalisa potensi energi baru terbarukan
yang ada di Provinsi Riau
Menganalisa potensi energi baru terbarukan yang
ada di Provinsi Riau secara teliti dan akurat
sebagai bentuk pelayanan publik yang dilakukan
oleh Dinas ESDM untuk mengoptimalkan potensi
EBT guna pengembangan sumber energi alternatif
dalam pemenuhan kebutuhan listrik.
2 TAHAPAN 1. Merekapitulasi data eksisting atau yang
KEGIATAN sudah terbangun;
2. Merekapitulasi lokasi/tempat yang
potensial dibangun;
3. Analisa kapasitas daya listrik yang
dihasilkan;
4. Analisa potensi energi masa depan.
3 OUTPUT / HASIL Terdapat analisa potensi energi baru terbarukan
melalui tahapan:
1. Merekapitulasi yang sudah terbangun;
target capaian kegiatan (20%).
2. Merekapitulasi potensi lokasi/tempat yang
layak dibangun; target capaian kegiatan
(20%).
3. Analisa kapasitas daya listrik yang
dihasilkan; target capaian kegiatan
(30%).
4. Analisa potensi energi masa depan; target
capaian kegiatan (30%).
4 KETERKAITAN Untuk menganalisa potensi energi baru terbarukan
SUBSTANSI saya akan merekapitulasi jumlah pembangkit
MATA listrik dari energi baru terbarukan yang terbangun
PELATIHAN dan yang mempunyai potensi untuk dibangun
secara cermat dan teliti (Akuntabilitas). Saya
akan mengidentifikasi daerah yang memiliki
potensi pengembangan energi terbarukan untuk
mendapatkan suatu rancangan pengembangan
potensi energi terbarukan. Dari data-data yang
terkumpul dianalisa kelaikan teknis dan non-teknis
pengembangan potensi berdasarkan prinsip
keahlian (Etika publik). Begitupula, dalam
pelaksanaan analisa data potensi energi baru
terbarukan ini, saya akan menggunakan teknik
berpikir kreatif untuk meningkatkan mutu analisa
data sehingga diperoleh peningkatan kualitas
data (Komitmen mutu). Kegiatan menganalisa
potensi energi baru terbarukan yang ada di

16
Provinsi Riau merupakan bentuk pelayanan publik
kepada masyarakat dalam bentuk merekapitulasi
jumlah pembangkit yang sudah ada dan yang
mempunyai potensi untuk dibangun.
5 KONTRIBUSI Kegiatan menganalisa potensi energi baru
THD VISI/ MISI terbarukan yang ada di Provinsi Riau ini
ORG memberikan kontribusi terhadap misi Dinas
ESDM no 4: mewujudkan data dan informasi
potensi energi dan sumber daya mineral yang
lengkap dan akurat.
6 PENGUATAN Melalui analisa data sumber energi terbarukan
NILAI dengan metode analisis dokumen sehingga
ORGANISASI diperoleh data yang valid dan berkualitas maka
nilai organisasi Dinas ESDM Provinsi Riau yaitu
professional dan akuntabilitas dapat diperkuat.

Tabel Kegiatan 4. Membuat database potensi energi baru terbarukan


No URAIAN KETERANGAN
1 KEGIATAN Membuat database potensi energi baru
terbarukan yang ada di Provinsi Riau
Membuat database potensi energi baru terbarukan
yang ada di Provinsi Riau secara cermat dan teliti
sebagai bentuk Whole of Government di dalam
Dinas ESDM saling bekerjasama antar bidang
ilmu keahlian untuk menyediakan data yang
diperlukan di Bidang Energi Baru Terbarukan.
2 TAHAPAN 1. Pembuatan database dalam bentuk excel;
KEGIATAN 2. Pemetaan pembangkit eksisting energi
baru terbarukan;
3. Pemetaan potensi energi baru terbarukan;
4. Sinkronisasi dan integrasi database dengan
pemetaan.
3 OUTPUT / HASIL Terdapatnya database energi baru terbarukan
melalui tahapan:
1. Pembuatan database dalam bentuk excel;
target capaian kegiatan (40%).
2. Pemetaan pembangkit eksisting energi
baru terbarukan; target capaian kegiatan
(20%).
3. Pemetaan potensi energi baru terbarukan;
target capaian kegiatan (20%).
4. Sinkronisasi dan integrasi database dengan
pemetaan; target capaian kegiatan
(20%).
4 KETERKAITAN Dalam membuat database energi baru terbarukan
SUBSTANSI saya akan membuat tabulasi menggunakan
MATA Microsoft Excel yang berisi jenis energi baru
PELATIHAN terbarukan, jumlah sumber daya, kapasitas
terpasang dan rasio antara kapasitas terpasang
dan sumber daya secara cermat dan teliti
(Akuntabilitas). Saya akan berkoordinasi dengan

17
rekan sejawat yang ahli dalam pemetaan guna
mengintegrasikan data dalam bentuk excel
kedalam peta wilayah. Dalam berkoordinasi
dengan teman sejawat saya akan mengedepankan
etika sebagai prinsip dalam kehidupan sehari-hari
(Nasionalisme-sila 1), dan juga akan
menggunakan bahasa komunikasi yang ramah,
hormat, sopan, dan santun (Etika Publik
-Menghargai komunikasi, konsultasi dan kerja
sama). Bentuk bergotong royong dengan rekan
sejawat dalam memetakan potensi energi baru
terbarukan merupakan implementasi
Nasionalisme sila ke-5. Dan juga dalam
berkoordinasi dengan rekan sejawat yang ahli
dalam pemetaan saya akan menciptakan
lingkungan kerja non-diskriminatif, saya tidak
akan memilih-milih teman untuk diajak
bekerjasama sepanjang memiliki keahlian yang
dibutuhkan (Etika Publik). Kegiatan membuat
database potensi energi baru terbarukan yang ada
di Provinsi Riau sebagai bentuk Whole of
Government di dalam Dinas ESDM dimana dapat
bekerjasama antar bidang ilmu keahlian untuk
menyediakan data yang diperlukan di Bidang
Energi Baru Terbarukan.
5 KONTRIBUSI Kegiatan membuat database potensi energi baru
THD VISI/ MISI terbarukan yang ada di Provinsi Riau ini
ORG memberikan kontribusi terhadap misi Dinas
ESDM no 4: mewujudkan data dan informasi
potensi energi dan sumber daya mineral yang
lengkap dan akurat.
6 PENGUATAN Setelah diperoleh database energi baru terbarukan
NILAI dalam bentuk excel dan pemetaan wilayah maka
ORGANISASI nilai organisasi Dinas ESDM Provinsi Riau yaitu
professional dan akuntabilitas dapat diperkuat.

Tabel Kegiatan 5. Membuat buku database potensi energi baru terbarukan di


Provinsi Riau
No URAIAN KETERANGAN
1 KEGIATAN Membuat buku database potensi energi baru
terbarukan di Provinsi Riau
Membuat buku database potensi energi baru
terbarukan di Provinsi Riau secara cermat dan
lengkap sebagai bentuk pelayanan publik yang
dilakukan oleh Dinas ESDM Bidang Energi dan
Energi Baru Terbarukan yang responsif terhadap
kebutuhan data yang yang diperlukan.
2 TAHAPAN 1. Menyusun draft buku database potensi
KEGIATAN energi baru terbarukan;
2. Berkonsultasi dengan atasan materi draft
buku;

18
3. Mengkoreksi kembali materi draft buku;
4. Mencetak buku database potensi energi
terbarukan.
3 OUTPUT / HASIL Tercetaknya buku database potensi energi baru
terbarukan melalui tahapan:
1. Menyusun draft buku database potensi
energi baru terbarukan; target capaian
kegiatan; target capaian kegiatan (20%).
2. Berkonsultasi dengan atasan materi draft
buku; target capaian kegiatan; target
capaian kegiatan (20%).
3. Mengkoreksi kembali materi draft buku;
target capaian kegiatan; target capaian
kegiatan (30%).
4. Mencetak buku database potensi energi
terbarukan; target capaian
kegiatan(30%).
4 KETERKAITAN Dalam mencetak buku database potensi energi
SUBSTANSI baru terbarukan saya akan menyusun draftnya
MATA terlebih dahulu kemudian berkonsultasi dengan
PELATIHAN atasan mengenai isi materi. Dan juga
berkoordinasi dengan teman sejawat untuk
mengoreksi bahasa dan sistematika penulisan.
Pada saat berkoordinasi dengan atasan dan teman
sejawat saya akan mengedepankan etika sebagai
prinsip dalam kehidupan sehari-hari
(Nasionalisme-sila 1), dan juga akan
menggunakan bahasa komunikasi yang ramah,
hormat, sopan, dan santun (Etika Publik
-Menghargai komunikasi, konsultasi dan kerja
sama). Kegiatan mencetak buku database potensi
energi baru terbarukan yang ada di Provinsi Riau
merupakan bentuk Whole of Government di dalam
Dinas ESDM dimana sebelum mencetak buku
potensi energi baru terbarukan saya berkonsultasi
dengan atasan, dan rekan sejawat untuk
tersedianya buku yang yang lengkap dan
berkualitas.

5 KONTRIBUSI Kegiatan membuat buku database potensi energi


THD VISI/ MISI baru terbarukan di Provinsi Riau dalam rangka
ORG menghadirkan informasi dalam bentuk versi cetak
memberikan kontribusi terhadap misi Dinas ESDM
no 4: mewujudkan data dan informasi potensi
energi dan sumber daya mineral yang lengkap
dan akurat.
6 PENGUATAN Dengan tersedianya buku potensi energi
NILAI terbarukan yang lengkap dan akurat maka nilai
ORGANISASI organisasi Dinas ESDM Provinsi Riau yaitu
professional dan akuntabilitas dapat diperkuat.

19
Tabel Kegiatan 6. Membuat bahan display untuk ditampilkan di web Dinas
Energi Dan Sumber Daya Mineral Provinsi Riau
No URAIAN KETERANGAN
1 KEGIATAN Membuat bahan display untuk ditampilkan di
web Dinas Energi Dan Sumber Daya Mineral
Provinsi Riau
Membuat bahan display untuk ditampilkan di web
Dinas Energi Dan Sumber Daya Mineral Provinsi
Riau secara lengkap, akurat dan menarik sebagai
bentuk pelayanan publik dengan mengikuti trend
layanan berbasis online
2 TAHAPAN 1. Berkonsultasi dengan atasan format
KEGIATAN tampilan database;
2. Berkoordinasi dengan bagian Sistem
Informasi Dan Geografis yang
mengoperasikan web Dinas Energi dan
Sumber Daya Mineral Provinsi Riau;
3. Mensimulasikan tampilan database;
4. Menampilkan database di web Dinas
Energi dan Sumber Daya Mineral.
3 OUTPUT / HASIL Tersedianya database potensi energi baru
terbarukan di web Dinas ESDM Provinsi Riau
melalui tahapan:
1. Berkonsultasi dengan atasan format
tampilan database; target capaian
kegiatan (10%).
2. Berkoordinasi dengan bagian Sistem
Informasi Dan Geografis yang
mengoperasikan web Dinas Energi dan
Sumber Daya Mineral Provinsi Riau;
target capaian kegiatan (30%).
3. Mensimulasikan tampilan database; target
capaian kegiatan (10%).
4. Menampilkan database di web Dinas
Energi dan Sumber Daya Mineral; target
capaian kegiatan (50%).
4 KETERKAITAN Dalam membuat bahan display untuk ditampilkan
SUBSTANSI di web Dinas Energi Dan Sumber Daya Mineral
MATA Provinsi Riau saya akan berkonsultasi dengan
PELATIHAN atasan untuk meminta izin format tampilan
database dengan teknik berkomunikasi yang
ramah, hormat, sopan, dan santun (Etika Publik)
dan juga akan mengedepankan etika dalam
kehidupan sehari-hari (Nasionalisme-sila 1) guna
memberikan layanan kepada publik secara jujur,
tanggap, cepat, tepat, akurat, berdaya guna,
berhasil guna, dan santun (Komitmen mutu);
dengan melakukan inovasi paradigma yang
berhubungan dengan perubahan model mental
yang mengubah mindset pelanggan dalam hal
mendapatkan layanan dan mengikuti trend layanan

20
berbasis online (Komitmen mutu) dimana dalam
membuat bahan display untuk ditampilkan di web
Dinas Energi Dan Sumber Daya Mineral Provinsi
Riau merupakan Pelayanan publik dengan
menampilkan dan mengekspos tindakan dan
kerjanya kepada publik.
5 KONTRIBUSI Kegiatan membuat bahan display untuk
THD VISI/ MISI ditampilkan di web Dinas Energi Dan Sumber
ORG Daya Mineral Provinsi Riau sehingga semua
orang dapat mengaksesnya memberikan
kontribusi terhadap misi Dinas ESDM no 4:
mewujudkan data dan informasi potensi energi
dan sumber daya mineral yang lengkap dan
akurat.
6 PENGUATAN Dengan tersedianya database dan ditampilkan di
NILAI web Dinas Energi Dan Sumber Daya Mineral
ORGANISASI Provinsi Riau dimana selalu berwawasan terbuka,
selalu belajar untuk peningkatan diri, memiliki ide
baru yang bermanfaat, mampu membuat solusi
alternatif dalam pekerjaan untuk mempercepat
tercapainya target kinerja maka nilai organisasi
Dinas ESDM Provinsi Riau yaitu professional dan
inovatif dapat diperkuat.

21