Anda di halaman 1dari 4

Abiekhans

Kisah Alam
Sabtu, 25 Februari 2012Sejarah Pecinta Alam Di Indonesia
Sebenarnya Kalau kita putar mesin waktu kita, Pecinta alam sudah ada sebelum Negara
kita merdeka. Pada tahun 1912, di Nusantara sudah ada yang namanya DE NEDERLANDSH
INDISCHE VEREENIGING TOT NATUUR RESCHERMING kita memang tidak tahu apa arti dari
nama tersebut, tapi dilihat dari katanya yang jelas ada Natuur-nya. Dan pada tahun
1937 terbentuklah BESCHERMING AFDELING VANT LAND PLANTETUIN. Inilah kegiatan
kepencintaalaman mulai aktif. Tapi kapankah kegiatan pencinta alam secara resmi
dimulai di jaman Republik Indonesia..???

Mengapa istilah Pencinta Alam yang dipilih..???


Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin pernah terlintas di benak kita dan juga sering
jadi bahan perdebatan. Untuk mencoba menjawabnya, ini saya ringkaskan artikel dari
alm. Norman Edwin berjudul Awibowo Biang Pencinta Alam Indonesia (Mutiara, 20
Juni-3 Juli 1984). Awibowo adalah pendiri dari salah satu perkumpulan pencinta alam
pertama di Indonesia. Nama perkumpulannya yaitu PERKOEMPOELAN PENTJINTA
ALAM(PPA). Berdiri 18 Oktober 1953 dan bubar pada akhir tahun 1950. Dan setelah
itu berdirilah WANADRI (PERHIMPUNAN PENEMPUH RIMBA DAN PENDAKI GUNUNG), merupakan
salah satu organisasi tertua yang bergerak dalam kegiatan alam bebas.
Wanadri mempunyai sekretariat di kota Bandung. Wanadri berdiri tahun 1964, tahun
yang sama dengan tahun lahirnya MAPALA SASTRA UI. Gagasan untuk mendirikan
Perhimpunan Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung Wanadri dicetuskan oleh sekelompok
pemuda yang sebagian besar adalah bekas pandu pada bulan Januari 1964. Perhimpunan
ini kemudian diresmikan pada tanggal 16 Mei 1964. Wanadri terdiri dari sekelompok
orang yang mencintai kehidupan di alam bebas. Wanadri lebih jauh lagi merupakan
masyarakat tersendiri, yang memiliki aturan dan norma baik tertulis maupun tidak,
namun semua itu berlaku dan dihormati. Nama Wanadri berasal dari bahasa Sansekerta.
Wana berarti hutan dan adri itu gunung. Wanadri berarti gunung di tengah-tengah
hutan. Visinya berdasar AD/ART adalah menjadi organisasi pendidikan untuk mendidik
manusia, khususnya anggotanya untuk mempunyai nilai-nilai yang terkandung dalam
hakekat dan janji Wanadri. Tujuan Wanadri adalah membentuk manusia yang mandiri,
ulet, tabah. Mendidik anggotanya menjadi manusia Pancasilais sejati, percaya pada
kekuatan sendiri. Di Fakultas Sastra UI, sebelum berdirinya Mapala UI, sudah
terdapat kelompok kelompok mahasiswa yang gemar bertualang di alam bebas. Mereka
yang terdiri dari mahasiswa Arkeologi dan Antropologi yang banyak turun ke lapangan
serta mereka yang pernah tergabung dalam organisasi kepanduan. Sayangnya kelompok
kelompok ini tidak terkoordinir dengan baik dalam satu wadah dan mereka juga tidak
pernah membuka diri dengan peminat peminat baru di luar jurusannya. Adalah
seorang Soe Hok Gie yang mencetuskan ide pembentukan suatu organisasi yang dapat
menjadi wadah untuk mengkoordinir kelompok kelompok tadi, berikut kegiatan mereka
di alam bebas. Gagasan ini mula mula dikemukakan Soe Hok Gie pada suatu sore, 8
November 1964, ketika mahasiswa FSUI sedang beristirahat setelah mengadakan
kerjabakti di TMP Kalibata. Sebenarnya gagasan ini, seperti yang dikemukakan Sdr.
Soe sendiri, diilhami oleh organisasi pencinta alam yang didirikan oleh beberapa
orang mahasiswa FSUI pada tanggal 19 Agustus 1964 di Puncak gunung Pangrango.
Organisasi yang bernama IKATAN PENCINTA ALAM MANDALAWANGI itu keanggotaannya tidak
terbatas di kalangan mahasiswa saja. Semua yang berminat dapat menjadi anggota
setelah melalui seleksi yang ketat. Sayangnya organisasi ini mati pada usianya yang
kedua. Adapun organisasi yang diidamkan Sdr. Soe itu merupakan organisasi yang
dapat menampung segala kegiatan di alam bebas, dan ini dikhususkan bagi mahasiswa
FSUI saja. Kegiatan ini terutama pada masa liburan. Bedanya dengan kelompok yang
ada, gagasan ini terutama ditekankan pada perlunya memberikan kesempatan pada
mereka yang sebelumnya pernah keluyuran , untuk melihat dari dekat tanah airnya.
Namun pada akhirnya usaha ini gagal karena ada kesalahan teknis pada saat akan
diadakan pendeklarasian di Cibeureum pada November 1964.
Meskipun usaha pertama gagal, para perintis ini tidak menyerah. Sementara
mematangkan ide, mereka bertukar pikiran dengan Pembantu Dekan III bidang Mahalum,
yaitu Drs. Bambang Soemadio dan Drs. Moendardjito yang ternyata menaruh minat
terhadap organisasi tersebut dan menyarankan agar mengubah nama IMPALA menjadi
MAPALA PRAJNAPARAMITA. Alasannya nama IMPALA terlalu borjuis. Dan pada waktu itu
segala yang borjuis, habis diganyang. Nama ini diberikan oleh Bpk Moendardjito.
MAPALA merupakan singkatan dari MAHASISWA PENCINTA ALAM. Dan Prajnaparamita
berarti dewi pengetahuan. Selain itu Mapala juga berarti berbuah atau berhasil.
Jadi dengan menggunakan nama ini diharapkan segala sesuatu yang dilaksanakan oleh
anggotanya akan selalu berhasil berkat lindungan dewi pengetahuan. Dewi
Prajnaparamita juga menjadi lambang dari senat FSUI saat itu. Lambang yang
digunakan adalah gambar dua telapak kaki dengan tulisan MAPALA PRAJNAPARAMITA
dibawahnya. Telapak kaki kiri terletak lebih kedepan dari telapak kaki kanan. Hal
ini melambangkan kehadiran di alam bebas dalam bentuk penjelajahan dan sebagainya.
Selain itu lambang telapak kaki ini juga diilhami penggunaan tapak kaki oleh raaja
Purnawarman dalam prasasti prasastinya yang dapat diartikan lambang kebesaran.
Dibawah tulisan MAPALA PRAJNAPARAMITA ditambah tulisan FSUI yang menunjukkan tempat
bernaungnya organisasi ini. Pada tanggal 11 Desember pukul 06.30 semua peserta yang
mencapai lebih dari 30 orang berkumpul di lapangan Banteng dan berangkat. Pada
pukul 11.00, mulailah rombongan mendaki lereng lereng terjal dari bukit kapur
Ciampea. Hari yang panas waktu itu membuat beberapa peserta anak mami kelelahan
dan merepotkan panitia. Jam 14.30 peserta tiba di bukit. Tenda segera didirikan.
Pada malam hari angin bertiup sangat kencang dan hujan lebat. Tenda banyak yang
roboh, sehingga peserta banyak yang berteduh di gubuk yang kebetulan ada disitu.
Hampir saja peresmian Mapala dibatalkan karena sampai dengan jam 20.00 hujan masih
lebat. Namun akhirnya pada pukul 21.00 hujan berhenti dan bulan bersinar terang.
Semua peserta yang basah kuyup dikumpulkan untuk mengadakan rapat pembentukan
MAPALA yang dipimpin Sdr. Soe. Ketika rapat sedang berjalan, tiba tiba datang
tamu dari Jakarta yaitu Bpk Soemadio, Bpk soemadjito dan Mang Jugo Sarijun yang
sengaja datang untuk menyaksikan upacara peresmian MAPALA. Sdr Maulana terpilih
sebagai ketua pertama dan formatur tunggal. Sampai dengan tahun pertama, Mapala
telah memiliki 12 orang anggota yaitu AS Udin, Rahaju, Surtiarti, Ratnaesih, Endang
Puspita, Mayangsari, Soe Hok Gie, Judi Hidajat, Edhi Wuryantoro, Koy Gandasuteja,
Wahjono, dan Abdurrahman. Sampai tahun 1970-an, di beberapa fakultas di UI terdapat
beberapa organisasi pencinta alam antara lain : Ikatan Mahasiswa Pencinta alam
(IMPALA) di Psikologi, Climbing And Tracking Club (CATAC) di Ekonomi, Yellow Xappa
Student Family (Yexastufa) di Teknik, Climbing And Tacking (CAT) di Kedokteran dll.
Setelah berjalan beberapa waktu di fakultasnya masingmasing, organisasiorganisasi
ini merasakan dan menyadari bahwa Mapala UI yang telah terbentuk dan disetujui oleh
Rektor UI (Prof. DR. Sumantri Brojonegoro (Alm.)) dan Dewan Perwakilan Mahasiswa
adalah milik seluruh mahasiswa UI. Oleh karena itu organisasiorganisasi tersebut
setuju untuk bersatu dalam satu wadah yaitu MAPALA UI. Kemudian pada tahun 1970,
WANADRI memprakarsai Gladian Nasional yang merupakan pertemuan akbar pecinta alam
se Indonesia. Menurut bahasa berasal dari gladi (bahasa Jawa) yang mempunyai arti
latihan sehingga Gladian Nasional bisa diartikan sebagai ajang latihan bagi
para pecinta alam guna meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan kemampuan dalam
bidang kepecintaalaman dan kegiatan alam bebas. Gladian Nasional juga berperan
sebagai wahana silaturahmi dan berbagi pengetahuan antar perkumpulan pecinta alam
se Indonesia. Pada awalnya kegiatan ini diadakan oleh WANADRI sebagai ajang latihan
bagi anggotanya untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan. Kegiatan-kegiatan
yang dilaksanakan dalam gladian ini antara lain mountaineering, pengenalan SAR,
acara kekeluargaan, serta tukar menukar informasi dan pengalaman. Selain anggota
WANADRI dalam kegiatan ini diundang pula beberapa perhimpunan- perhimpunan pencinta
alam dan pendaki gunung yang ada di Jawa. Dalam acara gladian yang kemudian dikenal
sebagai Gladian Nasional I ini hadir 109 orang dari 18 perhimpunan. Pada kesempatan
itu pula akhirnya disepakati bersama untuk menyelenggarakan gladian-gladian
selanjutnya sebagai media pertemuan dan latihan pencinta alam dan pendaki gunung di
Indonesia. Salah satu Gladian Nasional yang fenomenal adalah Gladian Nasional IV
yang berlangsung di Sulawesi Selatan di mana dalam gladian ini berhasil disepakati
KODE ETIK PENCINTA ALAM INDONESIA yang masih dipergunakan oleh berbagai perkumpulan
pecinta alam di Indonesia hingga sekarang. Meskipun tidak rutin dilaksanakan dalam
rentang waktu tertentu namun Gladian Nasional telah berhasil dilaksanakan beberapa
kali.
Berikut adalah daftar pelaksanaan Gladian Nasional:
* Gladian Nasional I diselenggarakan oleh WANADRI pada tanggal 25 29 Februari
1970 di tebing Citatah Jawa Barat.
* Gladian Nasional II diselenggarakan pada tahun 1971 di Malang Jawa Timur yang
diselenggarakan oleh TMS 7 Malang.
* Gladian Nasional III diselenggarakan di Pantai Carita, Labuhan, Jawa Barat pada
bulan Desember 1972. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Badan Koordinasi Pencinta
alam dan Penjelajah Alam se-Jakarta.
* Gladian Nasional IV diselenggarakan di P. Lae-Lae dan Tana Toraja Sulawesi
Selatan pada bulan Januari 1974. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Badan Kerja sama
Club Antarmaja Pencinta Alam se-UjungPandang. Dalam gladian IV yang dihadiri oleh
44 perhimpunan organisasi pecinta alam ini berhasil menyepakati Kode Etik Pecinta
Alam Indonesia yang masih dipergunakan hingga sekarang.
* Gladian Nasional V diselenggarakan di Jawa Barat pada bulan Mei 1978. Gladian ini
semula direncanakan dilaksanakan pada tahun 1974 namun baru bisa berhasil
diselenggarakan pada tahun 1978 oleh WANADRI bekerja sama dengan berbagai
perhimpunan organisasi Pecinta Alam (dan sejenisnya) se Jawa Barat.
* Gladian Nasional VII diselenggarakan di Kalimantan Tengah.
* Gladian Nasional IX dilaksanakan di Lampung pada bulan Januari 1989.
* Gladian Nasional X diselenggarakan di Jawa Barat pada tanggal 510 September
1994.
* Gladian Nasional XI dilaksanakan di Yogyakarta pada tanggal 411 Agustus 1996.
* Gladian Nasional XII dilaksanakan di Jawa Timur dari tanggal 28 Mei- 5 Juni 2001.
* Gladian Nasional XIII direncanakan dilaksanakan pada tanggal 7-17 Agustus 2009 di
Mataram Nusa Tenggara Barat.
Sedangkan divisi pemanjatan tebing mencatat pada tahun 1977, Skygers Amateur Rock
Climbing Group didirikan di Bandung oleh Harry Suliztiaito, Agus Resmonohadi, Heri
Hermanu, Deddy Hikmat. Inilah awal tersebarnya kegiatan panjat tebing di Indonesia
ANTARA DULU DAN SEKARANG HAKEKAT YANG TELAH BERGESER
Setelah puluhan tahun berlalu, hakekat pencinta alam itu sudah banyak bergeser dari
hakekatnya, dan tidak di terapkan pada kehidupan sehari-hari. Padahal seharusnya
mereka yang masuk organisasi pencinta alam harus mempunyai poin lebih dari pada
yang tidak masuk tentang kelestarian lingkungan. Bukannya inti dari kode etik itu
adalah soal kesadaran tentang alam dan upaya untuk mencintai alam, berarti pula
mencintai Sang Pencipta melalui kegiatannya tersebut.
Sudah saatnya organisasi pencinta alam bersatu guna mengembangkan ide dan
kegiatan yang bermanfaat dalam bentuk yang kongkrit. Hal ini untuk dirinya sendiri,
golongan, masyarakat,terutama sekali buat Ibunda kita sendiri yaitu alam dimana
kita bermain dan berkegiatan.

www.vhilugredink.com

Diposkan oleh abiekhans di Sabtu, Februari 25, 2012 Kirimkan Ini lewat
EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookTidak ada komentar:

Poskan Komentar

Link ke posting ini


Buat sebuah Link

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda


Langganan: Poskan Komentar (Atom) Pengikut

Arsip Blog
? 2012 (19)
? Maret (1)
Syair Shalawat Salam
? Februari (18)
Sejarah Pecinta Alam Di Indonesia
Soe Hok Gie
Wajah Subuh
Hujan dibawah pepohonan belantara
Gerimis yang syahdu
Huuffft .. Ternyata tak mudah menghilangkan sesak ...
Aku ingin nyanyikan laguBuat orang orang yang te...
Spesifikasi Yamaha RX-King 2 Tak 135 cc Tahun 2003...
Alam Peraduan Jiwa ku
5 Gunung Terindah Yang Ada di Indonesia (bersyukur...
CURUG LUHUR Bogor Jawa Barat
MAHAMERU
Curug Cibereum Taman Nasional Gede Pangrango Punca...
Dewi Sinta
3265 DPL
Keinginan
Sabar Tak Bertepi
Laut biru begitu lapang Dan gelombang menghalau bo...
Mengenai Saya

abiekhans Jakarta, Jakarta, Indonesia


Maybe You can Fly so High But I can Run So Faster
Lihat profil lengkapku

Template Awesome Inc.. Diberdayakan oleh Blogger.

Anda mungkin juga menyukai