Anda di halaman 1dari 20

PENDEKATAN SISTEM

Diajukan untuk tugas mata kuliah


KONSEP DASAR KEPERAWATAN II

Disusun Oleh :
SAMSIAH
(214.01.15.008)

S1 KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN NUSANTARA


2015
PENDEKATAN SISTEM

1. Pendekatan sistem dalam pelayanan kesehatan

Pembangunan kesehatan pada dasarnya bertujuan untuk meningkatkan kesadaran,


kemauan, dan kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap penduduk agar dapat mewujudkan
derajat kesehatan yang optimal (undang-undang kesehatan, 1992).untuk mencapai tujuan
kesehatan ini, dan sesuai dengan visi pemerintah Indonesia sehat tahun 2010, Departemen
kesehatan telah mengubah paradigmanya menjadi paradigma sehat (Healthy Paradigm) yang
fokusnya pada upaya preventif dan promotif selain Kuratif /curatif, bertujuan untuk
meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap individu.
Hal ini sesuai dengan definisi keperawatan menurut Virginia Henderson: The unique
function of the nurse is to assist the individual, sick or well, in the performance of those
activities contributing to health or its recovery (or to peaceful death) that he would perform
unaided if he had the necessary strength, will or knowledge and to do this in such a way as to
help him regain independencess soon as possible

Perkembangan Keperawatan di Indonesia saat ini sangat pesat, hal ini disebabkan oleh

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat cepat sehingga informasi
dengan cepat dapat diakses oleh semua orang dan informasi dengan cepat diketahui
oleh masyarakat.
Perkembangan era globalisasi yang menyebabkan keperawatan di Indonesia harus
menyesuaikan dengan perkembangan keperawatan di negara yang telah berkembang.
Sosial ekonomi masyarakat semakin meningkat sehingga masyarakat menuntut
pelayanan kesehatan yang berkualitas tinggi, tapi di lain pihak bagi masyarakat
ekonomi lemah mereka ingin pelayanan kesehatan yang murah dan terjangkau.

Masalah-masalah kesehatan yang ada di Indonesia saat ini di pengaruhi oleh factor-factor
antara lain:

Pertambahan jumlah penduduk yang pesat dan semakin meningkatnya usia harapan
hidup bagi masyarakat Indonesia menyebabkan semakin banyaknya usia lansia.
Krisis moneter yang berkepanjangan yang menyebabkan perekonomian masyarakat
menjadi terpuruk dan semakin banyak masyarakat menjadi miskin, dan pelayanan
kesehatan semakin tidak terjangkau
Berubahnya pola penyakit selain dari penyakit-penyakit infeksi, penyakit degenatif
semakin mening kat, sehingga memerlukan perawatan yang lebih lama
Letak demografi Indonesia yang terdiri dari pulau-pulau sulit untuk di jangkau. Untuk
mengatasi masalah-masalah tersebut diatas diperlukan tenaga pelayanan kesehatan
yang dapat memberikan pelayanan kesehatan utama kepada individu, keluarga
maupun masyarakat secara efektif dan terjangkau. Praktik keperawatan merupakan
sumber yang paling memungkinkan memberikan pelayanan kesehatan kepada
masyarakat karena tenaga keperawatan adalah tenaga kesehatan professional yang
paling banyak tersebar sampai kepelosok sesuai dengan letak demografi, dan sosial
ekonomi masyarakat Indonesia.

Bagaimana suatu pelayanan kesehatan dapat dikatakan sebagai suatu sistem.


Pelayanan kesehatan memiliki berbagai komponen yang saling memiliki ketergantungan dan
dinamika gerak yang saling melengkapi untuk mencapai tujuan bersama. Termasuk perawat
yang memiliki peran yang besar dalam menentukan keberhasilan pelayanan kesehatan.
Karena pelayanan keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan professional yang merupakan
bagian integral dari pelayanan kesehatan yang didasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan,
berbentuk pelayanan bio-psiko- soiso- spiritual yang komprehensif, di tujukan kepada
individu, keluarga, dan masyarakat baik sakit maupun sehat yang mencagkup seluruh proses
kehidupan manusia. Pelayanan keperawatan yang di berikan berupa bantuan karena adanya
kelemahan fisik dan mental, keterbatasan pengetahuan dan kurangnya kemauan menuju
kepada kemampuan melaksanakan kegiatan hidup sehari-hari secara mandiri. Sehingga
diyakini bahwa peran perawat dalam suatu sistem pelayanan kesehatan memiliki beberapa
fungsi sekaligus yang melakukan kolaborasi dengan tenaga dan sarana-sarana serta output
lainnya dalam suatu sistem pelayanan kesehatan.

Pendekatan Sistem Dalam Pelayanan Kesehatan.


Yang di maksud dengan pelayanan kesehatan adalah sebuah upaya yang
diselenggarakan sendiri atau secara bersama-sama dalam suatu organisasi untuk memelihara
dan meningkatkan kesehatan, mencegah dan menyembuhkan penyakit serta memulihkan
kesehatan baik itu perorangan, keluarga, kelompok, ataupun masyarakat.
Demikian pengertian pelayanan kesehatan menurut Lovey dan Loomba. Sedangkan
yang dimaksud dengan sistem kesehatan suatu kesatuan dari serangkaian usaha teratur yang
terdiri atas berbagai komponen guna mencapai suatu tujuan derajat kesehatan yg optimal bagi
masyarakat.
Sedangkan yang dimaksud dengan sistem pelayanan kesehatan adalah suatu tatanan
yang menghimpun berbagai upaya bangsa indonesia secara terpadu dan saling mendukung
guna menjamin derajat kesehatan yg setinggi-tingginya sebagai perwujudan kesejahteraan
umum seperti dimaksud dalam UUD 45. Demikian yang dimaksud dengan sistem pelayanan
kesehatan yang ada dalam negara kita ini.
Menurut Leavel & Clark dalam memberikan pelayanan kesehatan harus memandang
pada tingkat pelayanan kesehatan yang akan diberikan, yaitu:
1) Health Promotion. (Promosi Kesehatan)
Tingkat pelayanan kesehatan ini merupakan tingkat pertama dalam memberikan
pelayanan melalui peningkatan kesehatan. Pelaksanaan ini bertujuan untuk
meningkatkan status kesehatan agar masyarakat atau sasarannya tidak terjadi
gangguan kesehatan.
2) Specific Protection (Perlindungan Khusus).
Perlindungan khusus ini dilakukan dalam melindungi masyarakat dari bahaya yang
akan menyebabkan penurunan status kesehatan, atau bentuk perlindungan terhadap
penyakit-penyakit tertentu, ancaman kesehatan, yang masuk dalam tingkat
perlindungan pada penyakit tertentu seperti imunisasi BCG (Bacillus Calmette
Guerin) untuk mencegah TB (Tuberculosis), DPT (Difteri Pertusis Tetanus),Hepatitis,
campak, dan lain-lain.
3) Early diagnosis and prompt treatment (diagnosis dini & pengobatan segera).
Tingkat pelayanan kesehatan ini sudah masuk kedalam tingkat dimulainya atau
timbulnya gejala dari suatu penyakit.
4) Disability Limitation (Pembatasan Cacat)
Pembatasan kecacatan ini dilakukan untuk mencegah agar pasien atau masyarakat
tidak mengalami dampak kecacatan akibat penyakit yang ditimbulkan.
5) Rehabilitation (Rehabilitasi)
Tingkat pelayanan ini dilaksanakan setelah pasien didiagnosis sembuh.
2. Pendidikan tinggi keperawatan ditinjau dari perspektif sistem

PENDIDIKAN KEPERAWATAN
Pendidikan dalam keperawatan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan
suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan
potensi dirinya sesuai dengan ilmu dan kiat keperawatan yang dimilikinya sehingga dapat
diaplikasikan dalam bentuk pelayanan professional yang berbentuk bio-psiko-sosio-spiritual
yang komprehensif, ditujukan kepada individu, keluarga kelompok dan masyarakat, baik
sehat maupun sakit yang mencakup seluruh proses kehidupan manusia.
Tujuan Pendidikan Dalam Keperawatan
Tujuan pendidikan sering bersifat sangat umum, seperti menjadi manusia yang baik,
bertanggung jawaab, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, mengabdi kepada masyarakat,
bangsa dan negara, dan sebagainya.
Dalam dunia pendidikan dikenal sejumlah usaha untuk menguraikan tujuan yang sangat
umum tersebut. Salah seorang diantaranya adalah Herbert Spencer (1860) yang menganalisis
tujuan pendidikan dalam lima bagian, yang berkenaan dengan:
1) Kegiatan demi kelangsungan hidup.
2) Usaha mencari nafkah.
3) Pendidikan anak.
4) Pemeliharaan hubungan dengan masyarakat dan negara.
5) Penggunaan waktu senggang.
Tujuan pendidikan yang dikemukakan Herbert Spencer tersebut didasarkan atas apa
yang dianggapnya paling berharga dan perlu untuk setiap orang bagi kehidupannya dalam
masyarakat.
Bloom cs mebedakan tiga kategori tujuan pendidikan, yaitu :
1. Kognitif (head)
Tujuan kognitif berkenaan dengan kemampuan individual mengenal dunia sekitarnya yang
meliputi perkembangan intelektual atau mental. Tujuan kognitif dibagi dalam 6 bagian, yaitu;
a) Knowledge (Pengetahuan)
Meliputi informasi dan fakta yang dapat dikuasai melalui hafalan untuk
diingat.
b) Comprehension (Pemahaman)
Merupakan kesanggupan untuk menyatakan suatu definisi, rumusan,
menafsirkan suatu teori.
c) Application (Penerapan)
Merupakan kesanggupan menerapkan atau menggunakan suatu pengertian,
konsep, prinsip, teori yang memerlukan penguasaan pengetahuan dan
pemahaman yang lebih mendalam.
d) Analysis (Analisis)
Yaitu kemampuan untuk menguraikan sesuatu dalam unsur-unsurnya misalnya
analisis hubungan antara masyarakat dengan alam dan jagad raya.
e) Synthesis (Sintesis)
Yaitu kesanggupan untuk melihat hubungan antara sejumlah unsur.
f) Evaluation (Penilaian)
Penilaian berdasarkan bukti-bukti atau kriteria tertentu.

2. Afektif (heart)
Tujuan afektif mengenai perkembangan sikap, perasaan, dan nilai-nilai atau perkembangan
emosional dan moral. Tujuan afektif dibagi dalam 5 bagian, yaitu;
a) Receiving
Menerima, menaruh perhatian terhadap nilai tertentu.
b) Responding (Merespon)
Yaitu memperlihatkan reaksi terhadap norma tertentu, menunjukan kesediaan
dan kerelaan untuk merespon, merasa puas dalam merespon.
c) Valuing (Menghargai)
Yaitu menerima suatu norma, menghargai suatu norma, dan mengikat diri
pada norma tersebut.
d) Organization (Organisasi)
Membentuk suatu konsep tentang suatu nilai, menyusun suatu sistem nilai-
nilai.
e) Characterization by Value or Value Complex
Mewujudkan nilai-nilai dalam pribadi sehingga merupakan watak seseorang,
norma itu menjadi bagian diri pribadi.

3. Psikomotor (hand)
Tujuan psikomotor menyangkut perkembangan keterampilan yang mengandung unsur
motoris.
.
PRAKTIK KEPERAWATAN
Praktik keperawatan adalah tindakan keperawatan profesioanal menggunakan
pengetahuan teoritis yang manatp dan kukuh dari berbagai disiplin ilmu, terutama ilmu
keperawatan selain berbagai ilmu dasar
1. Memberikan asuhan keperawatan pada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat
dalam menyelesaikan masalah kesehatan sederhana dan kompleks.
2. Memberikan tindakan keperawatan langsung, pendidikan, nasehat, konseling, dalam
rangka penyelesaian masalah kesehatan melalui pemenuhan kebutuhan dasar manusia
dalam upaya memandirikan system klien.
3. Memberikan pelayanan keperawatan di sarana kesehatan dan tatanan lainnya.
4. Memberikan pengobatan dan tindakan medik terbatas, pelayanan KB, imunisasi,
pertolongan

TANGGUNG JAWAB DAN PERAN PROFESIONAL


Perawat memelihara dan meningkatkan kompetensi di bidang keperawatan melalui
belajar terus menerus. Perawat senantiasa memelihara mutu pelayanan keperawatan yang
tinggi disertai kejujuran profesional dalam menerapkan pengetahuan serta ketrampilan
keperawatan sesuai dengan kebutuhan klien. Perawat dalam membuat keputusan didasarkan
pada informasi yang kuat dan mempertimbangkan kemampuan serta kualifikasi seseorang
bila melakukan konsultasi, menerima delegasi dan memberikan delegasi kepada orang
lain. Perawat senantiasa menjunjung tinggi nama baik profesi keperawatan dengan selalu
menunjukkan perilaku profesional.

PERAN PROFESIONAL
1) Membina sikap pandangan dan kemampuan professional
Pendidikan tinggi keperawatan sangat berperan dalam membina sikap, pandangan dan
kemampuan professional, lulusannya. Diharapkan perawat mampu bersikap dan
berpandangan professional, berwawasan keperawatan yang luas, serta mempunyai
pengetahuan ilmiah keperawatan yang memadai, dan menguasai keterampilan
professional secara baik dan benar (Husin, 1966).
Sebagai perawat profesioanal diperoleh kepuasaan kerja yang selanjutnya memacu
pencapaian kemampuan melalui penampilan kerja yang lebih baik lagi. Kemampuan
berpikir kritis dalam mengambil keputusan serta mampu mempertanggungjawabkan
keputusan dan tindakan yang dilakukan merupakan salah satu factor utama tercapainya
kepuasaan kerja (Jones dan Beck, 1996). Kepuasaan kerja perawat akan menghasilkan
kepuasaan pada pemakai jasa keperawatan, baik masyarakat maupun intitusi tempat
bekerja.
2) Meningkatkan mutu pelayanan/ askep dan kesehatan
Pendidikan keperawatan menghasilkan perawat yang bersikap professional mencakup
intelektual, interpersonal, dan tekhnikal, mampu mempertanggungjawabkan secara legal,
keputusan dan tindakan yang dilakukan sesuai dengan standar dan kode etik profesi, serta
dapat menjadi contoh peran bagi perawat lain
3) Meningkatkan kehidupan keprofesian melalui organisasi profesi
Pendididkan tinggi keperawatan akan memfasilitasi perkembangan kehidupan organisasi
keperawatan untuk lebih professional. Dengan pendidikan profesioanal, perawat sebagai
anggota dari suatu organisasi profesi akan lebih memahami dan menghayati peran,
tanggung jawab, dan haknya sebagai anggota organisasi profesi yang memiliki sifat,
pandangan, dan kemampuan professional sangat memungkinkan organisasi keperawatan
berperan sabagai pengendali mutu pelayanan asuhan keperawatan kepada masyarakat
melalui pengaturan hak, tanggung jawab, dan kewengan tiap perawat berdasarkan
kompetensi yang dimiliki (SCHMALE,1996).
Selain itu, organisasi profesi akan lebih berperan dalam proses pengembangan dan
pembinaan keterampilan professional dan menerapkan kode etik profesi bagi tiap
anggotanya melalui pengaturan dan pengadaan system pendidikan berkelanjutan serta
mengendalikan pemanfaatan dan pengembangan IPTEK keperawatan(husin, 1999).

PERAWAT MASA DEPAN


Perkembangan keperawatan sebagai pelayanan profesional didukung oleh ilmu
pengetahuan dan teknologi yang diperoleh dari pendidikan dan pelatihan yang terarah dan
terencana.
Di Indonesia, keperawatan telah mencapai kemajuan yang sangat bermakna bahkan
merupakan suatu lompatan yang jauh kedepan. Hal ini bermula dari dicapainya kesepakatan
bersama pada Lokakarya Nasional Keperawatan pada bulan Januari 1983 yang menerima
keperawatan sebagai pelayanan profesional (profesional service) dan pendidikan keperawatan
sebagai pendidikan profesi (professional education). Tenaga keperawatan yang merupakan
jumlah tenaga kesehatan terbesar seyogyanya dapat memberikan kontribusi essensial dalam
keberhasilan pembangunan kesehatan. Untuk itu tenaga keperawatan dituntut untuk dapat
meningkatkan kemampuan profesionalnya agar mampu berperan aktif dalam pembangunan
kesehatan khususnya dalam pelayanan keperawatan profesional.
Pengembangan pelayanan keperawatan profesional tidak dapat dipisahkan dengan
pendidikan profesional keperawatan. Pendidikan keperawatan bukan lagi merupakan
pendidikan vokasional/ kejuruan akan tetapi bertujuan untuk menghasilkan tenaga
keperawatan yang menguasai ilmu keperawatan yang siap dan mempu melaksanakan
pelayanan / asuhan keperawatan profesional kepada masyarakan. Jenjang pendidikan
keperawatan bahkan telah mencapai tingkat Doktoral.
Keyakinan inilah yang merupakan faktor penggerak perkembangan pendidikan
keperawatan di Indonesia pada jenjang pendidikan tinggi, yang sebenarnya telah dimulai
sejak tahun 1962 yaitu dengan dibukanya Akademi Keperawatan yang pertama di Jakarta.
Proses ini berkembang terus sejalan dengan hakikat profesionalisme keperawatan.
Dalam Lokakarya Keperawatan tahun 1983, telah dirumuskan dan disusun dasar-dasar
pengembangan Pendidikan Tinggi Keperawatan. Sebagai realisasinya disusun kurikulum
program pendidikan D-III Keperawatan, dan dilanjutkan dengan penyusunan kurikulum
pendidikan Sarjana (S1) Keperawatan.
Pendidikan tinggi keperawatan diharapkan menghasilkan tenaga keperawatan
profesional yang mampu mengadakan pembaruan dan perbaikan mutu pelayanan / asuhan
keperawatan, serta penataan perkembangan kehidupan profesi keperawatan. Pendidikan
tinggi keperawatan diharapkan menghasilkan tenaga keperawatan professional yang mampu
mengadakan pembaharuan dan perbaikan mutu pelayanan/asuhan keperawatan, serta
penataan perkembangan kehidupan profesi keperawatan.
Keperawatan sebagai suatu profesi, dalam melaksanakan tugas dan tanggungjawab
pengembanggannya harus mampu mandiri. Untuk itu memerlukan suatu wadah yang
mempunyai fungsi utama untuk menetapkan, mengatur serta mengendalikan berbagai hal
yang berkaitan dengan profesi seperti pengaturan hak dan batas kewenangan, standar praktek,
standar pendidikan, legislasi, kode etik profesi dan peraturan lain yang berkaitan dengan
profesi keperawatan.
Diperkirakan bahwa dimasa datang tuntutan kebutuhann pelayanan kesehatan
termasuk pelayanan keperawatan akan terus meningkat baik dalam aspek mutu maupun
keterjangkauan serta cakupan pelayanan. Hal ini disebabkan meningkatkan kesadaran
masyarakat akan kesehatan yang diakibatkan meningkatnya kesadaran masyarakat secara
umum, dan peningkatan daya emban ekonomi masyarakat serta meningkatnya komplesitas
masalah kesehatan yang dihadapi masyarakat. Masyarakat semakin sadar akan hukum
sehingga mendorong adanya tuntutan tersedianya pelayanan kesehatan termasuk pelayanan
keperawatan dengan mutu yang dapat dijangkau seluruh lapisan masyarakat. Dengan
demikian keperawatan perlu terus mengalami perubahan dan perkembangan sejalan dengan
perubahan yang terjadi diberbagai bidang lainnya.
Perkembangan keperawatan bukan saja karena adanya pergeseran masalah kesehatan
di masyarakat, akan tetapi juga adanya tekanan perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi keperawatan serta perkembangan profesi keperawatan dalam menghadapi era
globalisasi. Dalam memnghadapi tuntutan kebutuhan dimasa datang maka langkah konkrit
yang harus dilakukan antara lain adalah : penataan standar praktek dan standar
pelayanan/asuhan keperawatan sebagai landasan pengendalian mutu pelayanan keperawatan
secara professional, penataan sistem pemberdayagunaan tenaga keperawatan sesuai dengan
kepakarannya, pengelolaan sistem pendidikan keperawatan yang mampu menghasilkan
keperawatan professional serta penataan sistem legilasi keperawatan untuk mengatur hak dan
batas kewenangan, kewajiban, tanggung jawab tenaga keperawatan dalam melakukan praktek
keperawatan.

SISTEM PENYAMPAIAN KESEHATAN


Penyampaian kesehatan salah satunya dilakukan dengan mengadakan penyuluhan
kesehatan. Beberapa factor yang perlu diperhatikan agar penyuluhan kesehatan dapat
mencapai sasaran yaitu :
1. Tingkat pendidikan
Pendidikan dapat mempengaruhi cara pandang seseorang terhadap informasi baru
yang diterimanya
2. Tingkat social ekonomi
Semakin tinggi tingkat social ekonomi seseorang, semakin mudah pula dalam
menerima informasi baru
3. Kepercayaan Masyarakat\
Masyarakat lebih memerhatikan informasi yang disampaikan oleh orang-orang yang
mereka sudah kenal, karena sudah ada kepercayaan masyarakat dengan penyampaian
informasi
4. Ketersediaan waktu di masyarakat
Waktu penyampaian informasi harus memperhatikan tingkat aktivitas masyarakat
untuk menjamin tingkat kehadiran masyarakat dalam penyuluhan
Metode yang dapat dipergunakan dalam menyampaikan penyuluhan kesehatan :
1. Metode ceramah
Suatu cara dalam menerangkan suatu ide, pengertian, dan pesan secara lisan kepada
sekelompok orang sehingga memperoleh informasi tentang kesehatan
2. Metode diskusi kelompok
Pembicaraan yang telah direncanakan dan telah dipersiapkan tentang suatu topic
dengan seorang pemimpin diskusi yang telah ditunjuk.
3. Metode curah pendapat
Suatu bentuk pemecahan masalah dimana setiap anggota mengusulkan semua
kemungkinan pemecahan masalah yang terpikirkan oleh masing-masing peserta, dan
evaluasi terhadap pendapat-pendapat tadi dilakuka kemudian
4. Metode seminar
Suatu cara dimana sekelompok orang berkumpul untuk membahas suatu masalah
dibawah bimbingan seorang yang ahli yang menguasai bidangnya

Fungsi Pendidikan Keperawatan

1. Fungsi pendidikan
Fungsi ini terdiri atas tiga hal yang perlu mendapat perhatian yaitu :
Peserta didik dalam hal kaulifikasi/persyaratan, mekanisme seleksi dan
penerimaan, serta daya tampung peserta didik.
Proses pendidikan yang mencakup tujuan pendidikan/rumusan kompetensi,
kurikulum pendidikan, proses pembelajaran/evaluasi hasil belajar, fasilitas
sumber daya pendidikan, dan rumah sakit pendidikan.
Lulusan yang mencakup kaulifikasi/persyaratan, mekanisme penilaian
akhir/keprofesian, dan jumlah yang diluluskan dan sebaran.

2. Fungsi penelitian
Fungsi ini mencakup :

Berperan aktif dalam riset dasar dan terapan, pengembangan ilmu pengetahuan
ilmu keperawatan, mengembangangkan teknologi keperawatan, meningkatkan
mutu, dan memperluas jangkauan pelayanan
Manfaatkan tekhnologi maju secara tepat dalam rangka meningkatkan mutu
dan memperluas jangkauan pelayanan professional
Melaksanakan berbagai bentuk kegiatan ilmiah yang meliputi ceramah/diskusi
ilmiah, forum ilmiah, tulisan ilmiah/majalah ilmiah dan pengawal ilmu
keperawatan.

3. Fungsi pengabdian masyarakat


Fungsi ini mencakup :

Pelayanan kepada masyarakat melalui berbagai bentuk, sifat dan jenjang


pelayanan kepada masyarakat, serta membangun model pelayanan/asuhan
keperawatan
Pendidikan dan bimbingan masyarakat dengan cara membina kemampuan
masyarakat mengatasi masalah keperawatan yang dihadapi.
Mengarahkan kemampuan masyarakat untuk mengorganisir dan melaksanakan
pelayanan/asuhan keperawatan professional
Memberi konsultasi dalam keperawatan kepada berbagai pihak yang
memerlukan.

Peran Pendidikan Tinggi Keperawatan

1) Membina sikap pandangan dan kemampuan professional


Pendidikan tinggi keperawatan sangat berperan dalam membina sikap, pandangan dan
kemampuan professional, lulusannya. Diharapkan perawat mampu bersikap dan
berpandangan professional, berwawasan keperawatan yang luas, serta mempunyai
pengetahuan ilmiah keperawatan yang memadai, dan menguasai keterampilan
professional secara baik dan benar (Husin, 1966).
Sebagai perawat profesioanal diperoleh kepuasaan kerja yang selanjutnya memacu
pencapaian kemampuan melalui penampilan kerja yang lebih baik lagi. Kemampuan
berpikir kritis dalam mengambil keputusan serta mampu mempertanggungjawabkan
keputusan dan tindakan yang dilakukan merupakan salah satu factor utama
tercapainya kepuasaan kerja (Jones dan Beck, 1996). Kepuasaan kerja perawat akan
menghasilkan kepuasaan pada pemakai jasa keperawatan, baik masyarakat maupun
intitusi tempat bekerja.
2) Meningkatkan mutu pelayanan/ askep dan kesehatan
Pendidikan keperawatan menghasilkan perawat yang bersikap professional mencakup
keterampilan intelektual, interpersonal, dan tekhnikal, mampu
mempertanggungjawabkan secara legal, keputusan dan tindakan yang dilakukan
sesuai dengan standar dan kode etik profesi, serta dapat menjadi contoh peran bagi
perawat lain.
Teori dan model keperawatan dapat dikatakan bermanfaat, jika bisa diterapkan
dipelayanan, begitu pula dengan system manajemen keperawatan yang dipelajari
selama pendidikan. Fasilitas pelayanan yang dapat digunakan sebagai sumber
pendidikan yang diharapkan cukup kondusif untuk proses pembelajaran peserta didik
(Hamid, 1997)
3) Menyelesaikan masalah keperawatan dan mengembangkan iptek keperawatan melalui
keperawatan
Kerja sama yang terjalin dengan baik antara institusi pendidikan dan pelayanan
memungkinkan terjadinya transformasi IPTEK, termasuk teridentifikasinya masalah
kesehatan, khususnya yang terkait dengan masalah keperawatan untuk penelitian
keperawatan yang bertujuan menghasilkan jawaban terhadap pertanyaan,
menghasilkan solusi masalah, baik melalui produk berupa tekhnologi atau metode
baru maupun produk jasa serta menguji teori berdasarkan kondisi atau fakta baru.
(Leddy dan Pepper, 1993; Mayer, Medden dan Lawrence, 1990)
4) Meningkatkan kehidupan keprofesian melalui organisasi profesi
Pendididkan tinggi keperawatan akan memfasilitasi perkembangan kehidupan
organisasi keperawatan untuk lebih professional. Dengan pendidikan profesioanal,
perawat sebagai anggota dari suatu organisasi profesi akan lebih memahami dan
menghayati peran, tanggung jawab, dan haknya sebagai anggota organisasi profesi
yang memiliki sifat, pandangan, dan kemampuan professional sangat memungkinkan
organisasi keperawatan berperan sabagai pengendali mutu pelayanan asuhan
keperawatan kepada masyarakat melalui pengaturan hak, tanggung jawab, dan
kewengan tiap perawat berdasarkan kompetensi yang dimiliki (SCHMALE,1996).

Penataan Pendidikan Tinggi Keperawatan

Penataan pendidikan ini dimulai dengan penataan system pendidikan keperawatan yang
dimulai dari:

1. Program pendidikan D-III keperawatan program pendidikan ini akan menghasilkan


perawat Vokasional (ahli madya keperawatan) yang dikembangkan dengan landasan
keilmuan dan keprofesian serta diharapkan memiliki tingkah laku dan kemampuan
professional serta akuntabel dalam melaksanakan asuhan keperawatan dasar secara
mandiri dibawa sepervisi. Mereka diharapkan mempunyai kemampuan mengelolah
peraktek keperawatan yang sesuai dangan kebutuhan klien.
2. Program pendidikan ners
Program pendidikan ini menghasilkan sarjana keperawatan dan professional (Ns =
first professional degree) dengan sikap, tingkah laku, dan kemampuan professional,
serta akuntabel untuk melaksanakan asuhan keperawatan dasar sampai dengan tingkat
kerumitan tertentu secara mandiri. Mereka dituntut untuk memiliki kemampuan dalam
meningkatkan mutu pelayanan dengan memanfaatkan IPTEK keperawatan yang maju
secara tepat guna, serta kemampuan melaksanakan riset keperawatan dasar dan
penerapan yang sederhana.
3. Program magister keperawatan program ini menghasilkan perawat ilmuan (scintist)
dengan sikap tingkah laku dan kemampuan sebagai ilmuan keperawatan yang
diharapkan mempunyai kemampuan: meningkatkan pelayanan profesi dengan jalan
penelitian dan pengembangan, berpartisipasi dalam pengembangan bidang ilmunya,
mengembangkan penampilanya dalam spectrum yang lebih luas dengan mengaitkan
ilmu/profesi yang serupa serta merumuskan pendekatan penyelesaian berbagai
masalah masyarakat dengan cara penalaran ilmiah (keputusan Mendikbud
Nomor.056/U/1994/pasal 2 ayat 3).
4. Program pendidikan ners spesialis
Program pendidikan ini menghasilkan perawat ilmuan (magister) dan professional (Ns
spesialis = second professional degree) dengan sikap, tingkah laku, dan keterampilan
professional serta akuntabel untuk melaksanakan prektik keperawatan spesialistik ners
spesialis merupakan ilmuan dalam bidang ilmu keperawatan klinik dengan
kemampuan dan tanggung jawab sebagai ilmuan klinik (SK Mendikbud
No.056/U/1994).

Sistem Pendidikan Tinggi Keperawatan

Kata sistem menjadi populer dengan munculnya pendekatan sistem yang digunakan
dalam berbagai bidang ilmu. Sistem secara teknis berarti seperangkat komponen yang saling
berhubungan dan bekrja bersama sama untuk mencapai suatu tujuan . kata sistem berasal
dari bahasa latin (syst dan ema) dan bahasa yunani (sust dan ema ) adalah suatu kesatuan
yang terdiri dari komponen atau elemen yang dihubungkan bersama untuk memudahkan
aliran informasi, materi, atau energi. istilah ini sering digunakan untuk menggambarkan suatu
kesatuan yang berintraksi, ketika suatu model matematika sering kali dapat buat.

sistem merupakan kesatuan bagian bagian yang saling berhubungan yang berada
dalam suatu wilayah serta memiliki item-item penggerak. misalnya, negara yang merupakan
suatu kumpulan dalam beberapa elemen kesatuan lain seperti provinsi yang saling
berhubungan sehingga membentuk suatu negara dengan rakyat sebagai penggeraknya.
sistem sering kali digunakan baik dalam prcakapan sehari-hari , forum diskusi maupun
dokumen ilmiah.

Landasan pembangunan sistem pendidikan tinggi keperawatan di indonesia


merupakan bagian terintegrasi dari sistem pendidikan tinggi nasional karena hakikat
pendidikan tinggi keperawatan sebagai pendidikan profesi dan tuntutan kebutuhan
masyarakat. Melalui pelaksanaan tiga fungsi pokok pendidikan tinggi keperawatan, yaitu
pendidikan keperawatan, riset keperawatan dan pengabdian masyarakat ,di harapkan
pendidikan tinggi keperawatan menghasilkan berbagai karakter dan sifat lulusan yang
kompoten dalam bidang pelayanan dan konsultasi keperawatan bagi masyarakat.
Pengembangan kurikulum pendidikan keperawatan merupakan pandangan filosifis atau
paradigma tentang keperawatan , orientsi pendidikan tinggi , kerangka konsep pendidikan
tinggi keperawatan , dan kelompok ilmu keperawatan.

Pendidikan Profesi Keperawatan

Pendidikan tinggi keperawatan dikembangkan berdasarkan dan bertolak dari


paradigma keperawatan. Orientasi pendidikan tinggi keperawatan yang mantap dan kerangka
konsep pendidikan tinggi yang kokoh memungkinkan profesi keperawatan menghadapi masa
depan dan tidak tergoyangkan oleh perubahan perubahan pandangan perorangan, terutama
yang bersifat menyimpang dari hakikat keperawatan yang sesungguhnya. Kperawatan
berkeyakinan dan berpandangan bahwa manusia dan kemanusian merupakan focus utama
dari setiap upaya pelayanan keperawatan dengan menjunjung tinggi nilai dan martabatnya
sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Bertolak dari pandangan ini disusun paradigm keperawatan
yang terdiri dari 4 konsep yaitu manusia, lingkungan, sehat, dan Keperawatan.

Kelly (1981) dalam Marifin (2003) mengembangkan criteria profesi meliputi :


Layanan yang diberikan merupakan suatu hal yang sangat penting bagi kemanusiaan.
Adanya body of knowledge yang khusus dipelajari dan dikembangkan melalui proses
penelitian.
Layanan yang diberikan termasuk aktivitas intelektual, tanggung jawab dan tanggung
gugat secara individu merupakan suatu tangtangan yang besar dan harus dijawab.
Perawat praktisi relative bebas dan dapat mengontrol kebijakan dan aktivitas yang
mereka perbuat (otonomi).
Perawat praktisi harus memiliki dasar pendidikan di institusi pendidikan tinggi.
Pearwat praktisi`memberikan pelayanan dengan motivasi altruistikdan menganggap
bahwa pekerjaan yang mereka lakukan merupakan kegiatan terpenting di hidupnya
Terdapat kode etik yang memberikan panduan dalam mengambil keputusan dan
meneruskan praktik yang mereka lakukan
Terdapat organisasi profesi yang dapat memberikan bantuan dan dorongan dalam
menerapkan standar praktek keperawatan.

Pendidikan keperawatan sebagai pendidikan profesi mengarahkan hasil pendidikan menjadi


tenaga professional. Melalui sistim pendidikan ini, dihasilkan perawat yang dapat
menjalankan peran dan fungsinya sesuai dengan tuntutan profesi untuk memberikan
pelayanan professional kepada masyarakat. Peran perawat sebagai :

1. Mitra kerja
Hubungan perawat-klien merupakan hubungan yang memerlukan kerja sama yang
harmonis atas dasar kemitraan sehingga perlu dibina rasa saling percaya, mengasihi
dan menghargai.
2. Sumber informasi
Perawat harus mampu memberikan informasi yang akurat, jelas, dan rasional kepada
klien dalam suasana yang bersahabat dan akrab.
3. Pendidik
Perawat harus berupaya memberikan pendidikan, pelatihan dan bimbingan pada klien
atau keluarganya terutama dalam mengatasi masalah kesehatan.
4. Pemimpin
Perawat harus mampu memimpin klien atau keluarga untuk memecahkan masalah
kesehatan melalui proses kerja sama dan partisipasi klien.
5. Wali atau pengganti
Perawat merupakan individu yang dipercaya klien untuk berperan sebagai orang tua,
tokoh masyarakat atau rohaniawan guna membantu memenuhi kebutuhan.
6. Konselor
Perawat harus dapat memberi bimbingan terhadap masalah klien sehingga pemecahan
masalah akan mudah dilakukan.

Akan tetapi pendidikan profesi keperawatan yang bertujuan mewujudkan pelayanan


professional harus dilandasi oleh kemampuan meneliti dari peserta didiknya. Kemampuan ini
ditimbulkan melalui keingintahuan yang tinggi selama proses pendidikan yang dipelihara
sedemikan rupa sehingga setelah lulus perawat dapat memberikan pelayanan keperawatan
yang berbasis fakta (Evidence based practice).

3. Pendekatan sistem dalam proses keperawatan

Pendekatan yang digunakan dalam proses keperawatan adalah Pendekatan Sistem.


Pendekatan dalam proses keperawatan mcrupakan suatu pendekatan dalam melakasanakan
pelayanan keperawatan, artinya dalam dalam memberikan pelayanan keperawatan terdiri atas
beherapa kegiatan, dimana kegiatan yang pertama dengan yang lain sating berkaitan.
Pendekatan sistem dalam pelaksanaan asuhan keperawatan mcmpunyai komponen antara
lain:

Pasien
Perawat
Komponen proses keperawatan (yang saling berkaitan dan terintegrasi dalam
mencapai hasil asuhan keperawatan.)

Proses keperawatan meliputi masukan (kegiatan pengkajian masalah kesehatan dan


perawatan pasien); pengelolaan (pengelolasan kcempat langkah dalam proses keperawatan,
setiap langkah diperbarui hila situasi berubah, dinamis); hasil (analisa data sebagai hasil
pengumpulan data, diagnosa keperawatan sebagai hasil analisa data, tindakan kcperawatan
sebagai hasil rencana keperawatan yang telah dilaksanakan); umpan halik (adalah umpan
batik terhadap proses keseluruhan asuhan keperawatan yang diberikan pada pasien).
Digarnbarkan sebagai berikut:
Keempat proses di atas dilaksanakan oleh perawat dengan partisipasi pasien atau keterlibatan
pasien sepenuhnya untuk kepentingan pasien sendiri dalam mcmenuhi kebutuhan
keperawatan dan kesehatannya yang merupakan faktor penting dalam peningkatan kesehatan
pasien.

Pendekatan
Pendekatan pemecahan masalah
Pada dasarnya proses keperawatan merupakan pendekatan pemecahan masalah guna
memelihara kesehatan pasien untuk meningkatkan kesehatan, pemenuhan kebutuhan
dalam kcadaan sakit serta meningkatkan status keschatannya.
Pendekatan pemecahan masalah artinya hahwa setiap masalah keperawatan dan kesehatan
yang dihadapi pasien akan dapat di atasi melalui intervensi (tindakan keperawatan)
dengan menggunakan tahap-tahap proses keperawatan.
Sebagai contoh seorang pasien dengan masalah peningkatan suhu tuhuh dapat dibantu
oleh perawat mclalui tindakan kompres dingin di dahi, pasien dengan masalah defekasi
(kesulitan huang air besar, BAB) diatasi dengan huknah atau gliserin, gangguan dalam
mikturisi dibantu dengan pemasangan kateter urinal (setalah kolaborasi dengan dokter),
sesak napas dibantu dengan pemherian oksigen.
Pendekatan perilaku
Adalah pendekatan yang dipakai dalam memberikan asuhan keperawatan dengan
memperhatikan aspck perilaku manusia, karena penyakit dan masalah
keperawatanikeschatan pasien lcbih banyak disebabkan oleh
perilaku pasien itu sendiri. Seperti kehiasaan merokok, kurang memperhatikan atau
merawat diri sendiri, tidak memperhatikan kebersihan lingkungan, kurang memperhatikan
kebutuhan gizi, pekerjaan-pekerjaan yang dapat merugikan kesehatan yang tidak
memakai pelindung dan sehagainya. Tujuan dari pendekatan perilaku ini adalah
bagaimana perawat dapat memberikan pendidikan kesehatan untuk mcruhah perilaku
pasien ke arah perilaku sehat.
Sasaran
Sasaran dalam proses keperawatan adalah: individu, keluarga, dan masyarakat yang
mempunyai masalah keperawatan karena ketidakmampuannya dalam memenuhi
kehutuhan hidup seharihari baik kebutuhan fisik, mental, sosial dan spiritual. Tetapi dapat
juga terjadi karena kurangnya pengetahuan dan faktor ketidaktahuan pasien tentang
perawatan diri atau karena kclemahan fisik, mental dan sosial.
Dalam pelaksanaan proses keperawatan ada heherapa kotnponen yang terlibat berkaitan
dengan proses pcnyemhuhan pasien, diantaranya adalah:
1) Klian/Pasien (individu, keluarga dan masyaralat), yang menjadi objck
keperawatan.
2) Provider (pemberi pelayanan keperawatan) di sini adalah perawat dart herhagai
jenjang/tingkat pendidikan.
3) Anggota tim kesehatan lainnya seperti dokter, analis, ahli ahli gizi dan sebagainya
yang bekerja secara tim dengan anggota perawatan untuk penyembuhan pasien.
DAFTAR PUSTAKA
https://rhyerhiathy.wordpress.com/2012/12/14/sebuah-pendekatan-sistem-pelayanan-
kesehatan/
http://azmirhamsah-bloggers.blogspot.co.id/2013/04/pendekatan-sistem-dalam-
keperawatan_30.html

Anda mungkin juga menyukai