Anda di halaman 1dari 13

TUGAS 9, WELDING-01 | ANNISA OVILIA YASINTA | 1406532753

1. Jelaskan jenis baja tahan karat yang saudara ketahui dan perbedaan masingmasing.
Tunjukkan lokasi baja tersebut di dalam diagram Schaefler
Stainless Steel atau baja tahan karat, adalah jenis baja yang tahan terhadap korosi
karena memiliki kandungan Cr yang tinggi diatas 10%. Hal ini berguna untuk
menimbulkan lapisan pasif yang bisa mencegah reaksi antara permukaan baja dengan
oksigen. Jenis-jenis SS berdasarkan fasa yang terbentuk, dapat dilihat menggunakan
diagram Schaeffeler dibawah ini :

Berdasarkan diagram diatas, maka dapat dilihat beberapa jenis SS yaitu :

Jenis baja tahan karat Sifat-sifat

Austenitik (Ni > 7 %) Paling mudah dilas


Paling umum dipakai SS304
Cacat yang mungkin: solidification cracking,
liquation cracking, weld decay
Feritik SS 430 (16-18% Cr) dan 407 (10-12%Cr)
Masalah yang biasa terjadi :
pengkasaran butir dan ketangguhan HAZ
rendah karena laju difusi Fe tinggi HI turun
kemungkinan terbentuk martensit dari austenit
(keras dan getas) retak preheating
Sensitasi: pembentukan endapan karbida
/nitrida akibat proses pemanasan PWHT
(750-850 oC for 30-60 menit)
Feritik austenitik Terdiri dari dua fasa : austenit dan ferit
(duplex) Perbandingan fasa ideal 50:50
Problem dan penanggulangan:
sulit mendapat austenit 50 % sehingga perlu
ditambah nickel (over matching)
kemungkinan pertumbuhan butir grain growth)
dari full-ferit pada HAZ low-toughness),
sehingga masukan panas perlu dikontrol
low arc energy menyebabkan kandungan ferit
meningkat sedang sebaliknya akan terbentuk
fasa sigma
Martensitik (hi-carbon) Martensitic SS (AISI 400/UNS S 40000 series)
paling sukar di las (12 Cr low carbon grades 403,
410, 414,416,420 and high carbon grades 431)
Aplikasinya untuk material tahan aus
Problem dan penanggulangan :
retak las preheating
PWHT untuk menaikan sifat mekanis dan
mengurangi tegangan sisa
kandungan hidrogen harus rendah

Kemampulasan (weldability) adalah kemampuan suatu material untuk disambung dengan


metode pengelasan tertentu sehingga dihasilkan hasil lasan yang bagus. Material dengan
kemampulasan yang tinggi dapat dilas di bawah kondisi perakitan khusus sehingga dapat
menghasilkan hasil las sesuai dengan desain struktur dan dapat menunjukan performa
memuaskan di lapangan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kemampulasan adalah:

Desain dari lasan.


Kondisi lapangan (services).
Pemilihan proses pengelasan.
Sifat-sifat material, antara lain: temperatur titik lebur dan titik uap, sifat listrik dan
panas, afinitas lasan terhaap O, N, dan H, keberadaaan lapisan film di permukaan logam
induk.

2. Jelaskan weldability dari baja tahan karat. Dan sebutkan urutan tertinggi hingga
terendah dalam hal kemampulasannya.
Weldability dari baja tahan karat adalah baja tahan karat mudah di las dalam berbagai
metode. Dan struktur serta sifat yang terbentuk dari hasil pengelasan sangat bergantung
kepada komposisi kimia hasil lasan. Jenis struktur ditentukan diagram schaeffler & De
long.
Urutan weldabilitynya dari yang paling mudah :Austenitik-ferritic-duplex-martensitic

3. Jelaskan mekanisme terjadinya weld decay (korosi batas butir) dan bagaimana
cara pencegahannya.
Mekanisme terjadinya weld decay (korosi batas butir) :

SS pada suhu
Lack of Cr Zone
500-8000C

Terbentuk
Weld Decay
endapan Cr23C6

Cara mengatasinya :

a. Menggunakan jenis 321 (Ti stabilised) : T = 5 x % C atau 347 (Nb stabilised) :


Nb = 10 x % C
b. Penghilangan endapan karbida dengan solution treatment pada temp 1050 C
yang diikuti oleh pendinginan cepat
c. Menggunakan L grades (low carbon)
4. Jelaskan mekanisme terjadinya solidification cracking dan bagaimana cara
pencegahannya.
Solidification Cracking
Mekanisme terjadinya solidification craking: logam las membeku sebagai fasa
tunggal gamma () yaitu Crek /Niek <1.5
Hal ini karena solidifikasi SS saat mengelas pertama kali yaitu Austenit, sehingga
ketangguhan berkurang. Kemudian baru delta ferrit nya.
Cara mengatasinya: menciptakan 5-10 % ferrite pada logam las melalui pemilihan
kawat las yang tepat

5. Jelaskan problem yang umumnya terjadi pada pengelasan baja tahan karat
feritik.
Problem umum pengelasan Ferritic Duplex :

Masalah Cara Mengatasi

Terjadi pengkasaran butir dan Heat input perlu diturunkan


ketangguhan HAZ rendah karena laju
difusi Fe tinggi
Kemungkinan terbentuk martensit dari Sebelum dilakukan welding, perlu
austenit (keras dan getas) yang dapat dilakukan preheating
menyebabkan retak

Sensitasi = pembentukan endapan Post Weld Heat Treatment (PWHT) pada


karbida/nitrida akibat proses pemanasan 750-850 oC selama 30-60 menit

6. Jelaskan problem yang umumnya terjadi pada pengelasan baja tahan karat
dupleks.
Problem umum pengelasan baja Duplex SS:
Fase Austenit susah untuk didapat sehingga perlu penambahan Ni
Kemungkinan terjadi pertumbuhan butir (dari full-ferit pada HAZ low-
toughness), sehingga masukan panas perlu dikontrol
low arc energy menyebabkan kandungan ferit meningkat, high arc energy
menyebabkan terbentuknya fasa sigma.

7. Jelaskan problem yang umumnya terjadi pada pengelasan baja tahan karat
martensitik.
Problem umum pengelasan Martensitik SS :
a. Retak Las akibar terbentuknya struktur yang keras dan rapuh (martensit) di
HAZ
b. Terdapat tegangan sisa karena pada saat pengelasan mencapai suhu martensit

8. Proses finishing apa yang dilakukan pada pengelasan baja tahan karat austenitik,
apa yang terjadi bila hal tersebut tidak dilakukan.
Apabila tidak dilakukan maka akan terjadi proses korosi karena disebabkan adanya besi
oksida dipermukaan yang meningkatkan terjadinya resiko korosi

9. Jelaskan metoda pengelasan dissimilar metal antara baja karbon dan baja
tahan karat austenitik. Jelaskan pengaruh kawat las bila a) kawat las tidak
diberikan (tanpa filler metal/autogeneous) dan b) bila kawat las diberikan dengan
menggunakan ER390. Gambar secara skematis di diagram schaeffler.
Untuk melakukan pengelasan beda logam antara baja karbon dengan baja tahan
austenitik maka digunakan proses pengelasan SMAW dengan arus sebesar 60 amper.
Masukan panas dijaga rendah untuk menghindari crack atau embrittlement. Elektroda
yang dapat digunakan antara lain (tergantung jenis baja) E 304 and R 990.
a) Kawat Las Tidak Diberikan Filler Metal
Penggunaan kawat las akan berpengaruh terhadap besarnya daerah dilusi. Dilusi
adalah perbandingan daerah base metal yang berfusi dibagi seluruh daerah kampuh
las. Berikut merupakan diagram Schaeffler untuk pengelasan dissimiliar baja tahan
karat austenitik dengan baja karbon tanpa filler.

b) Kawat Las E309


Berikut merupakan diagram Schaeffler untuk pengelasan dissimilar baja tahan karat
austenitik dengan baja karbon menggunakan kawat las E309 :

10. Apa yang dimaksud dengan dillution dalam pengelasan dissimilar metal dan
sarat-sarat dalam mengelas dissimilar metal agar dicapai struktur mikro dan
kekuatan yang baik. Ambil kasus 9 b diatas.
Dilusi ialah perbandingan daerah base metal yang berfusi dibagi dengan seluruh
daerah kampuh las. Dilusi pada dissimilar metal adalah perbandingan daerah base metal
yang berfusi dibagi dengan seluruh daerah kampuh las.
Syarat-syarat dalam mengelas dissimilar metal agar dicapai struktur mikro dan
kekuatan yang baik antara lain:
Pemilihan Jenis filler elektroda yang tepat
Analisis diagram Schaffler menunjukkan bahwa penggunaan elektroda jenis E
308 sudah memenuhi syarat untuk menyambung bahan dissimilar metal antara
baja stainless SUS 304 dengan baja karbon rendah.
Heat input yang tepat
Masukan panas dijaga rendah untuk menghindari crack atau
embrittlement

11. Jelaskan sifat (properties) dasar aluminium yang sangat berpengaruh dalam
pengelasan melalui metoda las fusi (fusion welding).
Sifat aluminium:

- Tahan korosi
- Ringan
- Kekuatan tinggi
- Kemampulasan baik
- Beberapa paduan Al memiliki kekuatan yang sama dengan baja

Syarat agar kualitas las terpenuhi perlu perhatian yaitu:

1. Harus dihindari terbentuknya retak las (forming cracks).


2. Harus memenuhi kekuatan sesuai standar.
3. Kemampuan untuk dideformasi
4. Ketahanan korosinya harus baik
5. Kesamaan warna setelah di anodizing
6. Cacat porositas maupun inklusi seminimum mungkin dan sesuai dengan standar
penerimaan (acceptance criteria)
Sehingga selama proses pengelasan pengaruh pada material aluminium perlu diperhatikan
sbb:
Saat pembekuan banyak unsur yang terbakar (burn-off) sehingga perlu dieliminir dengan
menggunakan logam pengisi (filler metal). Akibat proses pemanasan dan pendinginan
selama pengelasan, akan terjadi pelunakan/pelemahan (weakening) di daerah HAZ. Untuk
itu perlu diatur masukan panas (heat input) las agar hal tsb terhindari (sebagai akibat
solution heat treatment, recrystallisation, ageing atau recovery annealing)

12. Jelaskan mengapa pada pengelasan Aluminium dengan las TIG lebih disukai
menggunakan arus AC dengan frekuensi tinggi dibandingkan dengan arus DCEN
(DCSP) maupun DCEP DCRP).
Pengelasan Al dengan metode pengelasan TIG lebih disukai menggunakan arus AC
dengan frekuensi tinggi, hal ini disebabkan karena dengan menggunakan arus AC
berfrekuensi tinggi, akan didapatkan heat balance pada busur yaitu 50% pada benda
kerja dan 50% pada elektroda. Sehingga dihasilkan pembersihan terhadap permukaan
benda kerja (alumunium mudah membentuk lapisan oksida Al2O3), selain itu elektroda
juga tidak cepat habis digunakan. Penetrasi yang dihasilkan juga cukup baik.

13. Jelaskan faktor apa saja yang mempengaruhi pemilihan jenis kawat las yang
dipakai untuk menghindari terjadinya solidification cracking maupun liquation
cracking dalam mengelas
Solidification cracking, terjadi didaerah leburan (weld metal) dan tergantung dari
karakteristik pembekuan.

Liquation cracking, umumnya terjadi didaerah HAZ dan disebabkan saat peleburan oleh
adanya fasa eutektik unsur pengotor yang memiliki titik lebur rendah dengan dibarengi
oleh adanya tegangan termal.

Faktor yang mempengaruhi pemilihan jenis kawat las:

a. Komposisi kimia dari logam induk.

b. Weldability dari logam induk.

c. Syarat kekuatan, keuletan, dan sifat mekanis lainnya.

d. Ketahanan terhadap korosi.

e. Anodic coating untuk kesamaan warna.


f. Kebutuhan sesuai aplikasi terutama untuk mencegah solidificatian cracking.

Skema cacat solidification cracking (kiri) dan liquation cracking (kanan)

14. Jelaskan penyebab utama terjadinya cacat porositas pada aluminium dan
paduannya dan bagaimana cara penanggulangannya.

Penyebab utama terjadinya cacat porositas pada alumunium dan paduannya adalah
karena adanya gas hidrogen yang larut di leburan alumuniun. Adanya gas yang
terperangkap selama proses pembekuan oleh akibat pelindung gas yang terkontaminasi
oleh udara luar yang terakumulasi didaerah leburan.

Cara penanggulangannya adalah:

a. Logam induk dan logam pengisi harus dihindari dari sumber-sumber hidrogen dan gas
pelindungnya harus murni.
b. Adanya oli atau gemuk dipermukaan material harus dihilangkan sebelum pengelasan.

Skema cacat porositas


15. Jelaskan mengapa kekuatan las di HAZ maupun Weld metal di lasan Aluminium
paduan, baik yang Heat-treatable maupun Non-Heat-treatable, mengalami
penurunan yang sangat signifikan akibat proses lasan Fusi.
Pada pengelasan paduan aluminium non-heat treatable dan telah di cold deforming
maka akan terjadi pelunakan (softening) sebagai akibat dari penggunaan masukan panas
(heat input) selama las sehingga terjadi recrystallisation dan recovery. Selain itu terjadi
pula pembesaran butir (coarse grain). Oleh sebab itu, pengelasan dalam kondisi O-
temper akan lebih kecil pengaruh pelunakannya selama pengelasan.

Pada pengelasan paduan aluminium heat treatable akan terjadi kehilangan / penurunan
kekuatan akibat pertumbuhan dan kelarutan presipitat (growing or dissolving of phase
precipitations). Untuk meminimalisir perlu dikontrol proses pendinginan khususnya
masalah the quenching sensitivity of the material agar proses aging terjadi sewaktu
pendinginan setelah las.

16. Jelaskan proses pengelasan aluminium dan paduannya saat ini banyak digunakan
Friction Stir Welding (FSW). Jelaskan skematis gambarnya dan keuntungan serta
kerugian dari proses tsb dibandingkan dengan pengelasan TIG atau MIG.
Prinsip kerja friction stir welding:

a. Pin diputar dengan kecepatan 3000-4000 rpm dan diletakkan pada material yang akan
disambungkan
b. Material dipanaskan karena adanya friksi
c. Material yang telah dipanaskan akan mencapai temperatur plastisasi (800 F untuk
material aluminium)
d. Material yang telah ter-plastisasi tersampir kembali ke pin
e. Material tersebut mengalami pendinginan dengan terbentuknya butir-butir yang lebih
halus (efek rekristalisasi) dibandingkan dengan material induknya.

Skema gambar FSW:


Material logam yang digunakan untuk aplikasi FSW:
a. Aluminium dan aluminium paduan
b. Magnesium
c. Copper
d. Zinc
e. Lead, dll

Keuntungan dari proses FSW:

a. Hasil sambungan yang diperoleh lebih kuat dan lebih bersih bila dibandingkan dengan
fusion welds
b. Memiliki keuletan tinggi pada las
c. Energi efisiensi yang baik
d. Simpel dan bersih (no fume, arcs, spatter)
e. Tidak diperlukan treatment lanjut dan stengthening lanjut
f. Low distortion and shringkage
g. Tidak ada porosity, lack of fusion, perubaan komposisi pada material

17. Jelaskan jenis besi tuang yang saudara ketahui dan perbedaan masing-masing
dan Jelaskan weldability dari besi tuang (cast iron) serta Jenis mana yang paling
buruk weldability-nya.

Jenis Besi Bentuk Ductility Perlakuan


Tuang Graphite
Besi tuang Tidak ada No Pendinginan cepat
putih

Besi tuang Flake No Pendinginan


kelabu lambat

Besi tuang Anneal: Yes Besi tuang putih +


malleable flake to perlakuan panas
nodule (annealing)
(rosette)

Besi tuang Nodular Yes Penambahan


nodular unsur pembulat
graphite
(nodulizer)

18. Jelaskan mengapa unsur nikel umumnya dipakai untuk pengelasan besi tuang.
Unsur nikel umumnya dipakai untuk pengelasan besi tuang karena unsur nikel tidak
sensitif terhadap carbon pick-up. Hal ini akan mencegah terbentuknya logam las yang
keras dan getas hasil dilusi karbon dari logam induk. Nikel memiliki karakteristik
sebagai berikut :

a. menghasilkan graphite
b. meningkatkan kekuatan pearlite
c. meningkatkan hardenability (2.5 sampai 4.5% Ni-Hard irons)
d. menstabilkan austenite (lebih dari 6.5%)

19. Jelaskan hubungan antara morfologi grafit dan struktur mikro besi tuang dengan
kemampulasannya.
Bentuk serpih (flake) pada besi tuang kelabu menciptakan konsentrasi tegangan. Hal
ini dapat menurunkan plastisitas material secara drastis.
Bentuk rosette (seperti kapas) memiliki plastisitas dengan elongasi sebesar 10%.
Bentuk ini dimiliki oleh besi tuang mampu tempa yang terbentuk dengan presipitasi
dan aglomerisasi grafit dari besi tuang putih (sementit).
Bentuk grafit yang memberikan nilai plastisitas yang paling baik, juga mampu las yang
paling baik adalah bentuk spheroid seperti yang dijumpai pada besi tuang ulet karena
konsentrasi tegangan yang dihasilkan minimal.
Kandungan karbon pada besi tuang dalam bentuk grafit mempengaruhi
kemampulasannya. Semakin tinggi, maka semakin sulit dilakukan pengelasan
(weldability-nya rendah/buruk). Sebaliknya, semakin rendah maka weldability semakin
baik.

20. Jelaskan bagaimana cara menentukan besarnya preheating & post heating pada
pengelasan besi tuang.
Siklus termal pada pengelasan besi cor menghasilkan struktur mikro yang tidak
diinginkan seperti terbentuknya karbida pada logam las dan martensit karbon tinggi
pada HAZ. Oleh sebab itu, Preheat sebaiknya terhadap seluruh komponen yang akan
dilas, merupakan prosedur yang disarankan dalam mengelas besi cor bertujuan untuk
menurunkan laju pendinginan sehingga kemungkinan retak pada HAZ dapat dihindari.
Contoh temperatur pre-heating pada besi tuang seperti tabel 3 dibawah ini :

Temperatur pre-heating besi tuang

Anda mungkin juga menyukai