Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sebuah peradaban akan menurun apabila terjadi demoralisasi pada

masyarakatnya. Banyak pakar, filsuf, dan orang-orang bijak yang mengatakan

bahwa faktor moral akhlak adalah hal utama yang harus dibangun terlebih dahulu

agar bisa membangun sebuah masyarakat yang tertib, aman dan sejahtera. Salah

satu kewajiban utama yang harus dijalankan oleh orang tua kepada anak-anak kita.

Nilai-nilai moral kepada anak-anak kita. Nilai-nilai moral yang ditanamkan akan

membentuk karakter akhlak mulia yang merupakan pondasi penting bagi

terbentuknya sebuah tatanan masyarakat yang beradab dan sejahtera.

Indonesia saat ini sedang menghadapi masalah berat yang harus dilalui, yaitu

terjadinya krisis multidimensi yang berkepanjangan. Masalah ini sebetulnya

mengakar pada menurunnya kualitas moral bangsa yang dicirikan oleh

membudayanya praktek KKN, konflik, antar etnis, agama, politisi, remaja, antar RW,

dsb meningkatnya kriminalitas, menurunnya etos kerja, dan banyak lagi. Budaya-

budaya tersebut adalah penyebab utama negara kita sulit untuk bangkit dari krisis

ini. Karakter yang berkualitas perlu dibentuk dan dibina sejak usia dini. Usia dini

merupakan masa kritis bagi pembentukan karakter seseorang. Banyak pakar

mengatakan bahwa kegagalan penanaman karakter sejak usia dini, akan

membentuk pribadi yang bermasalah dimasa dewasanya kelak. Selain itu,

menanamkan moral kepada generasi muda adalah usaha yang strategis. Oleh

karena itu penanaman moral melalui pendidikan karakter sedini mungkin kepada

anak-anak adalah kunci utama untuk membangun bangsa.

1
Pembentukan karakter merupakan salah satu tujuan pendidikan nasional.

Pasal I UU Sisdiknas tahun 2003 menyatakan bahwa di antara tujuan pendidikan

nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik untuk memiliki kecerdasan,

kepribadian dan akhlak mulia.

Amanah UU Sisdiknas tahun 2003 itu bermaksud agar pendidikan tidak hanya

membentuk insan Indonesia yang cerdas, namun juga berkepribadian atau

berkarakter, sehingga nantinya akan lahir generasi bangsa yang tumbuh

berkembang dengan karakter yang bernafas nilai-nilai luhur bangsa serta agama.

Sekolah MI DDI Tandakan memiliki tujuan untuk mempersiapkan generasi

muda yang taat beribadah, unggul, berakhlak mulia, cerdas, menguasai IPTEK,

terampil, kreatif dan mandiri. Dalam mencapai tujuan tersebut, sekolah

mengembangkan budaya 5S (Senyum, Sapa, Salam, Salim dan Santun), slogan,

doa dan hadist sehari hari yang ditempatkan di beberapa lokasi strategis yang

diharapkan dapat membentuk karakter positip siswa.

B. Rumusan Masalah

Berkaitan dengan pemaparan di atas, maka penulis merumuskan masalah

yang akan dibahas dalam karya tulis ini, antara lain :

a) Apa pengertian pendidikan karakter itu?

b) Bagaimana pelaksanaan pendidikan karakter siswa di MI DDI Tandakan?

c) Apa saja kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan pendidikan karakter

siswa di MI DDI Tandakan?

C. Pokok Masalah

Berdasarkan rumusan masalah yang diajukan pada karya tulis ini maka penulisan

Karya tulis ini bertujuan untuk :

a) Menjelaskan pengertian pendidikan karakter

2
b) Mendeskripsikan pelaksanaan pendidikan karakter siswa di MI DDI Tandakan

c) Mendeskripsikan kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan pendidikan

karakter di MI DDI Tandakan.

3
BAB II

FAKTA DAN MASALAH

A. Keadaan sekarang

Persolan budaya dan karakter bangsa kini menjadi sorotan tajam masyarakat,

baik itu melalui media cetak, wawancara, dialog dan lain sebagainya. Persoalan

yang muncul di masyarakat seperti korupsi, kekerasan, kejahatan seksual,

perusakan yang terjadi dimana-mana, sirkulasi ekonomi yang terhambat serta dunia

politik yang menuai pro dan kontra menjadi salah satu topik yang hangat di

masyarakat. Berbagai alternatif penyelesaian masalah ini telah dilakukan seperti

peraturan, undang-undang.

Pendidikan karakter sebenarnya bukan hal yang baru. Sejak awal

kemerdekaan, masa orde lama, masa orde baru, dan masa reformasi sudah

dilakukan dengan nama dan bentuk yang berbeda-beda.

Situasi sosial, kultural masyarakat kita akhir-akhir ini memang semakin

mengkhawatirkan. Ada berbagai macam peristiwa dalam pendidikan yang semakin

merendahkan harkat dan martabat manusia. Hancurnya nilai-nilai moral,

merebaknya ketidakadilan, menjamurnya kasus korupsi, terkikisnya rasa solidaritas

telah terjadi dalam dunia pendidikan kita? Rupanya usaha perbaikan di bidang

pendidikan dirasa tidak hanya cukup dengan perbaikan sarana dan prasarana

pendidikan saja, melainkan membutuhkan perencanaan kurikulum yang sangat

matang yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan bangsa.

Namun hingga saat ini belum menunjukkan hasil yang optimal, terbukti dari

fenomena sosial yang menunjukkan perilaku yang tidak berkarakter sebagaimana

disebut di atas.

4
B. Keadaan yang diinginkan

Saat setiap manusia belajar untuk mengatasi dan memperbaiki

kelemahannya, serta memunculkan kebiasaan positif yang baru, inilah yang disebut

dengan Karakter. Misalnya, seorang dengan kepribadian Sanguin yang sangat suka

bercanda dan terkesan tidak serius, lalu sadar dan belajar sehingga mampu

membawa dirinya untuk bersikap serius dalam situasi yang membutuhkan

ketenangan dan perhatian fokus, itulah Karakter. Pendidikan Karakter adalah

pemberian pandangan mengenai berbagai jenis nilai hidup, seperti kejujuran,

kecerdasan, kepedulian dan lain-lainnya Dan itu adalah pilihan dari masing-masing

individu yang perlu dikembangkan dan perlu di bina, sejak usia dini (idealnya).

Karakter tidak bisa diwariskan, karakter tidak bisa dibeli dan karakter tidak

bisa ditukar. Karakter harus dibangun dan dikembangkan secara sadar hari demi

hari dengan melalui suatu proses yang tidak instan. Karakter bukanlah sesuatu

bawaan sejak lahir yang tidak dapat diubah lagi seperti sidik jari.Banyak kami

perhatikan bahwa orang-orang dengan karakter buruk cenderung mempersalahkan

keadaan mereka. Mereka sering menyatakan bahwa cara mereka dibesarkan yang

salah, kesulitan keuangan, perlakuan orang lain atau kondisi lainnya yang

menjadikan mereka seperti sekarang ini. Memang benar bahwa dalam kehidupan,

kita harus menghadapi banyak hal di luar kendali kita, namun karakter Anda tidaklah

demikian. Karakter Anda selalu merupakan hasil pilihan Anda.

Ketahuilah bahwa Anda mempunyai potensi untuk menjadi seorang pribadi

yang berkarakter, upayakanlah itu. Karakter, lebih dari apapun dan akan menjadikan

Anda seorang pribadi yang memiliki nilai tambah. Karakter akan melindungi segala

sesuatu yang Anda hargai dalam kehidupan ini. Setiap orang bertanggung jawab

atas karakternya. Anda memiliki kontrol penuh atas karakter Anda, artinya Anda

5
tidak dapat menyalahkan orang lain atas karakter Anda yang buruk karena Anda

yang bertanggung jawab penuh.

Mengembangkan karakter adalah tanggung jawab pribadi Anda.

6
BAB III

PEMBAHASAN

A. ANALISIS

Menurut Lickona, karakter berkaitan dengan konsep moral (moral knonwing),

sikap moral (moral felling), dan perilaku moral (moral behavior). Berdasarkan ketiga

komponen ini dapat dinyatakan bahwa karakter yang baik didukung oleh

pengetahuan tentang kebaikan, keinginan untuk berbuat baik, dan melakukan

perbuatan kebaikan. Bagan dibawah ini merupakan bagan keterkaitan ketiga

kerangka piker.

Pengertian karakter menurut Pusat Bahasa Depdiknas adalah bawaan, hati,

jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat, tabiat, temperamen,

watak. Adapun berkarakter adalah berkepribadian, berperilaku, bersifat, bertabiat,

dan berwatak. Menurut Tadkiroatun Musfiroh (UNY, 2008), karakter mengacu

kepada serangkaian sikap (attitudes), perilaku (behaviors), motivasi (motivations),

dan keterampilan (skills). Karakter berasal dari bahasa Yunani yang berarti to mark

atau menandai dan memfokuskan bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan dalam

bentuk tindakan atau tingkah laku, sehingga orang yang tidak jujur, kejam, rakus dan

perilaku jelek lainnya dikatakan orang berkarakter jelek. Sebaliknya, orang yang

perilakunya sesuai dengan kaidah moral disebut dengan berkarakter mulia.

Suyanto (2009) mendefinisikan karakter sebagai cara berpikir dan berperilaku

yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam

lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, maupun negara. Sedangkan menurut

Kertajaya, karakter adalah ciri khas yang dimiliki oleh suatu benda atau individu. Ciri

khas tersebut adalah asli dan mengakar pada kepribadian benda atau individu

tersebut, serta merupakan mesin yang mendorong bagaimana seorang bertindak,

7
bersikap, berucap, dan merespon sesuatu (Kertajaya, 2010). Menurut kamus

psikologi, karakter adalah kepribadian ditinjau dari titik tolak etis atau moral,

misalnya kejujuran seseorang, dan biasanya berkaitan dengan sifat-sifat yang relatif

tetap (Dali Gulo, 1982: p.29).

Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter

kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau

kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut. Dalam pendidikan

karakter di sekolah, semua komponen (pemangku pendidikan) harus dilibatkan,

termasuk komponen-komponen pendidikan itu sendiri, yaitu isi kurikulum, proses

pembelajaran dan penilaian, penanganan atau pengelolaan mata pelajaran,

pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas atau kegiatan ko-kurikuler,

pemberdayaan sarana prasarana, pembiayaan, dan etos kerja seluruh warga

sekolah/lingkungan. Di samping itu, pendidikan karakter dimaknai sebagai suatu

perilaku warga sekolah yang dalam menyelenggarakan pendidikan harus

berkarakter.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa pendidikan karakter adalah segala sesuatu

yang dilakukan guru, yang mampu mempengaruhi karakter peserta didik. Guru

membantu membentuk watak peserta didik. Hal ini mencakup keteladanan

bagaimana perilaku guru, cara guru berbicara atau menyampaikan materi,

bagaimana guru bertoleransi, dan berbagai hal terkait lainnya.

Menurut T. Ramli (2003), pendidikan karakter memiliki esensi dan makna

yang sama dengan pendidikan moral dan pendidikan akhlak. Tujuannya adalah

membentuk pribadi anak, supaya menjadi manusia yang baik, warga masyarakat,

dan warga negara yang baik. Adapun kriteria manusia yang baik, warga masyarakat

yang baik, dan warga negara yang baik bagi suatu masyarakat atau bangsa, secara

8
umum adalah nilai-nilai sosial tertentu, yang banyak dipengaruhi oleh budaya

masyarakat dan bangsanya. Oleh karena itu, hakikat dari pendidikan karakter dalam

konteks pendidikan di Indonesia adalah pedidikan nilai, yakni pendidikan nilai-nilai

luhur yang bersumber dari budaya bangsa Indonesia sendiri, dalam rangka

membina kepribadian generasi muda.

Pendidikan karakter berpijak dari karakter dasar manusia, yang bersumber

dari nilai moral universal (bersifat absolut) yang bersumber dari agama yang juga

disebut sebagai the golden rule. Pendidikan karakter dapat memiliki tujuan yang

pasti, apabila berpijak dari nilai-nilai karakter dasar tersebut. Menurut para ahli

psikolog, beberapa nilai karakter dasar tersebut adalah: cinta kepada Allah dan

ciptaan-Nya (alam dengan isinya), tanggung jawab, jujur, hormat dan santun, kasih

sayang, peduli, dan kerjasama, percaya diri, kreatif, kerja keras, dan pantang

menyerah, keadilan dan kepemimpinan; baik dan rendah hati, toleransi, cinta damai,

dan cinta persatuan. Pendapat lain mengatakan bahwa karakter dasar manusia

terdiri dari: dapat dipercaya, rasa hormat dan perhatian, peduli, jujur, tanggung

jawab; kewarganegaraan, ketulusan, berani, tekun, disiplin, visioner, adil, dan punya

integritas. Penyelenggaraan pendidikan karakter di sekolah harus berpijak kepada

nilai-nilai karakter dasar, yang selanjutnya dikembangkan menjadi nilai-nilai yang

lebih banyak atau lebih tinggi (yang bersifat tidak absolut atau bersifat relatif) sesuai

dengan kebutuhan, kondisi, dan lingkungan sekolah itu sendiri.

Para pakar pendidikan pada umumnya sependapat tentang pentingnya upaya

peningkatan pendidikan karakter pada jalur pendidikan formal. Namun demikian, ada

perbedaan-perbedaan pendapat di antara mereka tentang pendekatan dan modus

pendidikannya. Berhubungan dengan pendekatan, sebagian pakar menyarankan

penggunaan pendekatan-pendekatan pendidikan moral yang dikembangkan di

9
negara-negara barat, seperti: pendekatan perkembangan moral kognitif, pendekatan

analisis nilai, dan pendekatan klarifikasi nilai. Sebagian yang lain menyarankan

penggunaan pendekatan tradisional, yakni melalui penanaman nilai-nilai sosial

tertentu dalam diri peserta didik. Ki Hadjar Dewantara dari Taman Siswa di

Yogyakarta bulan Oktober 1949 pernah berkata bahwa "Hidup haruslah diarahkan

pada kemajuan, keberadaban, budaya, dan persatuan.

Sedangkan menurut Prof. Wuryadi, manusia pada dasarnya baik secara

individu dan kelompok, memiliki apa yang jadi penentu watak dan karakternya yaitu

dasar dan ajar. Dasar dapat dilihat sebagai apa yang disebut modal biologis

(genetik) atau hasil pengalaman yang sudah dimiliki (teori konstruktivisme),

sedangkan ajar adalah kondisi yang sifatnya diperoleh dari rangkaian pendidikan

atau perubahan yang direncanakan atau diprogram.

B. PEMECAHAN MASALAH

1) Pendidikan Karakter di Madrasah

Faktor keluarga sangat berperan dalam membentuk karakter anak. Namun

kematangan emosi sosial ini selanjutnya sangat dipengaruhi oleh lingkungan

madrasah sejak usia dini sampai usia remaja. Bahkan menurut Daniel Goleman,

banyaknya orang tua yang gagal dalam mendidik anak-anak, kematangan, emosi

sosial anak dapat dikoreksi dengan memberikan latihan pendidikan karakter kepada

anak-anak di madrasah terutama sejak usia dini.

Madrasah adalah tempat yang strategis untuk pendidikan karakter karena

anak-anak dari semua lapisan akan mengenyam pendidikan di madrasah. Selain itu

anak-anak menghabiskan sebagian besar waktunya di madrasah, sehingga apa

yang didapatkannya di madrasah akan mempengaruhi pembentukan karakternya.

Indonesia belum mempunyai pendidikan karakter yang efektif untuk menjadikan

10
bangsa Indonesia yang berkarakter (tercermin dari tingkah lakunya). Padahal ada

beberapa mata pelajaran yangberisikan tentang pesan-pesan moral, misalnya

pelajaran agama, kewarganegaraan, dan pancasila.

Namun proses pembelajaran yang dilakukan adalah dengan pendekatan

penghafalan (kognitif). Para siswa diharapkan dapat menguasai materi yang

keberhasilannya diukur hanya dengan kemampuan anak menjawab soal ujian

(terutama dengan pilihan berganda). Karena orientasinya hanyalah semata-mata

hanya untuk memperoleh nilai bagus, maka bagaimana mata pelajaran dapat

berdampak kepada perubahan perilaku, tidak pernah diperhatikan. Sehingga apa

yang terjadi adalah kesenjangan antara pengetahuan moral (cognition) dan perilaku

(action). Semua orang pasti mengetahui bahwa berbohong dan korupsi itu salah dan

melanggar ketentuan agama, tetapi banyak sekali orang yang tetap melakukannya.

Tujuan akhir dari pendidikan karakter adalah bagaimana manusia dapat berperilaku

sesuai dengan kaidah-kaidah moral.

Menurut Berman, iklim sekolah yang kondusif dan keterlibatan kepala

madrasah dan para guru adalah faktor penentu dari ukuran keberhasilan interfensi

pendidikan karakter di madrasah. Dukungan saran dan prasarana madrasah,

hubungan antar murid, serta tingkat kesadaran kepala madrasah dan guru juga turut

menyumbang bagi keberhasilan pendidikan karakter ini, disamping kemampuan diri

sendiri (melalui motivasi, kreatifitas dan kepemimpinannya) yang mampu

menyampaikan konsep karakter pada ana didiknya dengan baik.

2) Strategi Pendidikan Karakter di Madrasah

Pelaksanaan pendidikan berkarakter sebagai salah satu inovasi dalam

pembelajaran perlu segera dilakukan dengan melakukan berbagai bentuk strategi

khusus di tingkat Madrasah. Hal ini diharapkan agar tujuan pembelajaran dengan

11
mengarah kepada pembentukan karakter dapat di capai yaitu membentuk bangsa

yang tangguh, kompetitif, berakhlak mulia, bermoral, bertoleran, bergotong royong,

berjiwa patriotik, berkembang dinamis, berorientasi ilmu pengetahuan dan teknologi

yang semuanya dijiwai oleh iman dan takwa kepada Tuhan yang Maha Esa

berdasarkan Pancasila. Strategi Pembelajaran Berkarakter di madrasah harus

disusun dengan mengacu pada beberapa komponen yaitu strategi Kegiatan

Pembelajaran, Pengembangan budaya Madrasah dan Pusat Kegiatan Belajar,

Kegiatan ko-kurikuler dan atau kegiatan ekstrakurikuler, dan Kegiatan keseharian di

rumah dan di masyarakat.

Secara rinci strategi pendidikan karakter di madrasah dapat dilakukan dengan

langkah berikut:

Kegiatan Pembelajaran

Kegiatan pembelajaran dalam kerangka pengembangan karakter peserta

didik dapat menggunakan pendekatan kontekstual sebagai konsep belajar dan

mengajar yang membantu guru dan peserta didik mengaitkan antara materi yang

diajarkan dengan situasi dunia nyata, sehingga peserta didik mampu untuk

membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya

dalam kehidupan mereka. Dengan begitu, melalui pembelajaran kontekstual

peserta didik lebih memiliki hasil yang komprehensif tidak hanya pada tataran

kognitif (olah pikir), tetapi pada tataran afektif (olah hati, rasa, dan karsa), serta

psikomotor (olah raga).

Pembelajaran kontekstual mencakup beberapa strategi, yaitu: (a)

pembelajaran berbasis masalah, (b) pembelajaran kooperatif, (c) pembelajaran

berbasis proyek, (d) pembelajaran pelayanan, dan (e) pembelajaran berbasis

kerja. Kelima strategi tersebut dapat memberikan pengaruh pada

12
pengembangan karakter peserta didik, seperti: karakter cerdas, berpikir terbuka,

tanggung jawab, rasa ingin tahu.

Pengembangan Budaya Madrasah dan Pusat Kegiatan Belajar

Budaya sekolah memiliki cakupan yang sangat luas, pada umumnya

mencakup kegiatan ritual, harapan, hubungan sosial-kultural, aspek demografi,

kegiatan kurikuler, kegiatan ekstrakurikuler, proses pengambilan keputusan,

kebijakan maupun interaksi sosial antar komponen di sekolah. Budaya sekolah

adalah suasana kehidupan sekolah dimana peserta didik berinteraksi dengan

sesamanya, guru dengan guru, konselor dengan peserta didik, antar tenaga

kependidikan, antara tenaga kependidikan dengan pendidik dan peserta didik,

dan antar anggota kelompok masyarakat dengan warga sekolah sekolah.

Interaksi internal kelompok dan antar kelompok terikat oleh berbagai aturan,

norma, moral serta etika bersama yang berlaku di suatu sekolah. Kepemimpinan,

keteladanan, keramahan, toleransi, kerja keras, disiplin, kepedulian sosial,

kepedulian lingkungan, rasa kebangsaan, dan tanggungjawab merupakan nilai-

nilai yang dikembangkan dalam budaya sekolah.

Budaya sekolah diyakini merupakan salah satu aspek yang berpengaruh

terhadap perkembangan anak. Menurut penelitian Dr. Teerakiat Jareonsttasin

(2000) tentang pengaruh sekolah terhadap perkembangan anak, ditemukan

empat hal utama (input dan output) yang saling mempengaruhi. Yang terpenting

adalah iklim atau budaya sekolah. Jika suasana sekolah penuh kedisiplinan,

kejujuran, kasih sayang maka hal ini akan menghasilkan output yang diinginkan

berupa katakter yang baik. Pada saat yang sama , guru akan merasakan

kedamaian dan suasana sekolah seperti itu akan meningkatkan pengelolaan

kelas.

13
Dengan pengelolaan kelas yang baik maka akan menyebebakan prestasi

akademik yang tinggi. Sebuah temuan penting lainnya adalah bila siswa

memeiliki karakter yang baik, maka hal ini akan berpengaruh langsung terhadap

prestasi akademik yang tinggi. Karena itu langkah pertama dalam

mengaplikasikan pendidikan karakter di sekolah adalah menciptakan suasana

atau iklim sekolah yang cocok yang akan membantu transformasi guru-guru dan

siswa, juga staf-staf sekolah. Hal ini termasuk di dalamnya adalah objetive atau

tujuan yang tepat untuk sekolah, misi sekolah, kepemimpinan sekolah, kebijakan

dan visi pihak manajemen moral para staf dan guru, serta partisipasi orang tua

dan siswa. Sesungguhnya, semua langkah dalam model pembelajaran nilai-nilai

karakter ini akan berkontribusi terhadap budaya sekolah.

Pengembangan budaya sekolah dan pusat kegiatan belajar dilakukan melalui

kegiatan pengembangan diri, yaitu:

Kegiatan rutin

kegiatan yang dilakukan peserta didik secara terus menerus dan konsisten

setiap saat. Misalnya kegiatan upacara hari Senin, upacara besar

kenegaraan, pemeriksanaan kebersihan badan, piket kelas, shalat

berjamaah, berbaris ketika masuk kelas, berdoa sebelum pelajaran dimulai

dan diakhiri, dan mengucapkan salam apabila bertemu guru, tenaga pendidik,

dan teman.

Kegiatan spontan

Kegiatan yang dilakukan peserta didik secara spontan pada saat itu juga,

misalnya, mengumpulkan sumbangan ketika ada teman yang terkena

musibah atau sumbangan untuk masyarakat ketika terjadi bencana.

14
Keteladanan

Merupakan perilaku dan sikap guru dan tenaga kependidikan dan peserta

didik dalam memberikan contoh melalui tindakan-tindakan yang baik

sehingga diharapkan menjadi panutan bagi peserta didik lain. Misalnya nilai

disiplin, kebersihan dan kerapihan, kasih sayang, kesopanan, perhatian, jujur,

dan kerjakeras.

Pengkondisian

Penciptaan kondisi yang mendukung keterlaksanaan pendidikan karakter,

misalnya kondisi toilet yang bersih, tempat sampah, halaman yang hijau

dengan pepohonan, poster kata-kata bijak yang dipajang di lorong sekolah

dan di dalam kelas.

Kegiatan ko-kurikuler dan atau kegiatan ekstrakurikuler

Aspek yang juga perlu diperhatikan dalam menyusun strategi adalah

merancang kegiatan ko-kurikuler dan ekstrakurikuler di tingkat sekolah. Demi

terlaksananya kegiatan ko-kurikuler dan ekstrakurikuler yang mendukung

pendidikan karakter, perlu didukung dengan dengan perangkat pedoman

pelaksanaan, pengembangan kapasitas sumber daya manusia dalam rangka

mendukung pelaksanaan pendidikan karakter, dan revitalisasi kegiatan ko dan

ekstrakurikuler yang sudah ada ke arah pengembangan karakter.

Nilai nilai dalam Pendidikan Karakter

Kemdiknas (2010) menyatakan bahwa nilai-nilai yang dikembangkan dalam

pendidikan budaya dan karakter bangsa diidentifikasi dari sumber-sumber

berikut ini :

15
1. Agama: masyarakat Indonesia adalah masyarakat beragama. Oleh karena

itu, kehidupan individu, masyarakat, dan bangsa selalu didasari pada ajaran

agama dan kepercayaannya.

2. Pancasila: negara kesatuan Republik Indonesia ditegakkan atas prinsip-

prinsip kehidupan kebangsaan dan kenegaraan yang disebut Pancasila.

Artinya, nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila menjadi nilai-nilai yang

mengatur kehidupan politik, hukum, ekonomi, kemasyarakatan, budaya, dan

seni.

3. Budaya: sebagai suatu kebenaran bahwa tidak ada manusia yang hidup

bermasyarakat yang tidak didasari oleh nilai-nilai budaya yang diakui

masyarakat itu. Nilai-nilai budaya itu dijadikan dasar dalam pemberian makna

terhadap suatu konsep dan arti dalam komunikasi antaranggota masyarakat

itu.

4. Tujuan Pendidikan Nasional: sebagai rumusan kualitas yang harus dimiliki

setiap warga negara Indonesia, dikembangkan oleh berbagai satuan

pendidikan di berbagai jenjang dan jalur. Tujuan pendidikan nasional memuat

berbagai nilai kemanusiaan yang harus dimiliki warga negara Indonesia.

Berdasarkan keempat sumber nilai itu, teridentifikasi sejumlah nilai untuk

pendidikan budaya dan karakter bangsa sebagai berikut.

Religius

Sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang

dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun

dengan pemeluk agama lain.

16
Jujur

Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang

selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan.

Toleransi

Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat,

sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya.

Disiplin

Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan

dan peraturan.

Kerja Keras

Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan

dan peraturan.

Kreatif

Berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari

sesuatu yang telah dimiliki.

Mandiri

Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam

menyelesaikan tugas-tugas.

Demokratis

Cara berfikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban

dirinya dan orang lain.

Rasa Ingin Tahu

Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan

meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar.

17
Semangat Kebangsaa

Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan

bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.

Cinta Tanah Air

Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan

bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.

Menghargai Prestasi

Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang

berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang

lain.

Bersahabat/Komunikatif

Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang

berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang

lain.

Cinta Damai

Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang

berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang

lain.

Gemar Membaca

Kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang

memberikan kebajikan bagi dirinya.

Peduli Lingkungan

Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan

alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki

kerusakan alam yang sudah terjadi.

18
Peduli Sosial

Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan

masyarakat yang membutuhkan.

Tanggung Jawab

Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya,

yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan

(alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan Yang Maha Esa.

3) Tahap tahap Pembentukan Karakter

Membentuk karakter tidak bisa dilakukan dalam sekejap dengan memberikan

nasihat, perintah, atau instruksi, namun lebih dari hal tersebut. Pembentukan

karakter memerlukan teladan/role model, kesabaran, pembiasaan, dan

pengulangan. Dengan demikian, proses pendidikan karakter merupakan proses

pendidikan yang dialami oleh siswa sebagai bentuk pengalaman pembentukan

kepribadian melalui mengalami sendiri nilai-nilai kehidupan, agama, dan moral.

Menurut Ratna Megawangi, pendiri Indonesia Heritage Foundation, ada tiga tahap

pembentukan karakter, yakni:

1. Moral Knowing

Memahamkan dengan baik pada anak tentang arti kebaikan. Mengapa harus

berperilaku baik. Untuk apa berperilaku baik. Dan apa manfaat berperilaku baik.

2. Moral Feeling

Membangun kecintaan berperilaku baik pada anak yang akan menjadi sumber

energi anak untuk berperilaku baik. Membentuk karakter adalah dengan cara

menumbuhkannya.

3. Moral Action

19
Bagaimana membuat pengetahuan moral menjadi tindakan nyata. Moral action ini

merupakan outcome dari dua tahap sebelumnya dan harus dilakukan berulang -

ulang agar menjadi moral behavior.

Dengan melalui tiga tahap tersebut, proses pembentukan karakter akan

menjadi lebih mengena dan siswa akan berbuat baik karena dorongan internal dari

dalam dirinya sendiri (Widiastuti, 2012).

20
BAB IV

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Pendidikan karakter sangat penting diterapkan demi mengembalikan karakter

bangsa Indonesia yang sudah mulai luntur. Dengan dilaksanakannya pendidikan

karakter di sekolah dasar, diharapkan dapat menjadi solusi atas masalah-masalah

sosial yang terjadi di masyarakat. Pelaksanaan pendidikan karakter di sekolah dapat

dilaksanakan pada ranah pembelajaran (kegiatan pembelajaran), pengembangan

budaya sekolah dan pusat kegiatan belajar, kegiatan ko-kurikuler dan atau kegiatan

ekstrakurikuler, dan kegiatan keseharian di rumah dan di masyarakat.

B. SARAN

Diharapkan dengan diterapkannya pendidikan karakter di MI DDI Tandakan

dapat membentuk pribadi siswa yang unggul dalam berperilaku dan memiliki

kepribadian yang sesuai dengan moral-moral pancasila dan agama. Untuk itu

penerapan pendidikan karakter di Madrasah sangat diperlukan, sehingga kita dapat

menjadi orang yang bermoral dan berPancasila

21
.,hanya saja ruang lingkupnya guru berbeda, guru mendidik dan mengajar di

sekolah negeri ataupun swasta.

Tulisan ini ingin mencoba mengkaji bahwa model perilaku berbudi luhur

disekolah.

Berdasarkan uraian tentang latar belakang permasalahan tersebut di atas, maka

permasalahan yang dapat dirumuskan sebagai berikut: Bagaimana peran guru

dalam pendidikan karakter bangsa disekolah ?

Tujuan penulisan karya ilmiah ini adalah memberikan pemahaman tentang peran

guru terhadap pendidikan karakter bangsa di sekolah.

Adapun manfaatnya adalah :

1. Bagi sekolah, sebagai bahan masukan kepada kepala sekolah dan instansi

pendidikan untuk lebih memperhatikan permasalahan-permasalahan akhlak dan

budi pekerti siswa sehingga dalam perkembangan anak tersebut mampu

menghadapinya dan menyelesaikannya sesuai yang diharapkan.

2. Bagi penulis, penelitian ini sebagai sarana untuk menerapkan kebenaran teori-

teori yang ada dengan keadaan yang lebih nyata.

3. Bagi siswa, sebagai bahan masukan dan renungan bagi siswa untuk

mengintrospeksi diri terhadap masalah yang dihadapinya, sehingga mampu

menyelesaikan kesulitannya sendiri dan sanggup menghadapi tantangan hidup dan

kehidupan yang semakin berat dan sangat komplek.

Adapun pengertian guru menurut para ahli:

22
1. Menurut Noor Jamaluddin (1978: 1) Guru adalah pendidik, yaitu orang dewasa

yang bertanggung jawab memberi bimbingan atau bantuan kepada anak didik dalam

perkembangan jasmani dan rohaninya agar mencapai kedewasaannya, mampu

berdiri sendiri dapat melaksanakan tugasnya sebagai makhluk Allah khalifah di

muka bumi, sebagai makhluk sosial dan individu yang sanggup berdiri sendiri.

2. Menurut Peraturan Pemerintah Guru adalah jabatan fungsional, yaitu kedudukan

yang menunjukkan tugas, tanggung jawab, wewenang, dan hak seorang PNS dalam

suatu organisasi yang dalam pelaksanaan tugasnya didasarkan keahlian atau

keterampilan tertentu serta bersifat mandiri.

3. Menurut Keputusan Men.Pan Guru adalah Pegawai Negeri Sipil yang diberi tugas,

wewenang dan tanggung jawab oleh pejabat yang berwenang untuk melaksanakan

pendidikan di sekolah.

4. Menurut Undang-undang No. 14 tahun 2005 Guru adalah pendidik profesional

dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih,

menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur

pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.

B. Peran dan Fungsi Guru

23