Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PRAKTIKUM ANALISA KEHALALAN OBAT, MAKANAN,

DAN KOSMETIK

PENETAPAN NATRIUM BENZOAT

Kelompok 4-B:
Elsa Elfrida 1111102000032
Karimah Yulianti A. 1111102000033
Laila Novilia M. 1111102000050
Syaima 1111102000056
M. Saiful Amin 1111102000043
Tiara Aprilia 1111102000044
Sonia Ulfah 1111102000116

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2014
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Keberadaan bahan pengawet pada bahan makanan tidak bisa dipungkiri
keberadaannya. Pengawet merupakan bahan yang ditambahkan untuk mencegah atau
menghambat terjadinya kerusakan atau pembusukan minuman atau makanan. Dengan
penambahan pengawet tersebut, produk minuman diharapkan dapat terpelihara
kesegarannya. Namun, produsen hendaknya tidak menambahkan bahan pengawet
sesuka hati karena bahan pengawet akan jadi berbahaya jika dikonsumsi secara
berlebihan.
Bahan pengawet benzoat banyak digunakan sebagai pengawet salah satunya
digunakan pada minuman soft drink. Meski kandungan bahan pengawet tersebut
umumnya tidak terlalu besar, akan tetapi jika dikonsumsi secara terus-menerus tentu
akan berakumulasi dan menimbulkan efek terhadap kesehatan. Dampak lain dari
bahan pengawet minuman adalah kanker, dikonsumsi secara berlebihan dapat timbul
efek samping berupa edema (bengkak) yang dapat terjadi karena retensi atau
tertahannya cairan di dalam tubuh. Bisa juga naiknya tekanan darah sebagai akibat
bertambahnya volume plasma lantaran pengikatan air oleh natrium (Fadliwdt, 2007).
Maka diperlukan penelitian lebih lanjut terhadap pengawet benzoat pada minuman
jenis soft drink.

1.2 Tujuan

Menghitung kadar zat pengawet Na-Benzoat yang terdapat pada suatu bahan pangan.
BAB II

LANDASAN TEORI

Menurut FDA, bahan tambahan pangan (BTP) adalah zat yang secara sengaja
ditambahkan ke dalam makanan untuk menghasilkan sifat fungsional tertentu pada makanan
baik secara langsung atau tidak langsung dan menjadi bagian dari makanan tersebut
(termasuk zat yang digunakan selama produksi, pengemasan, pengolahan, transportasi,
penyimpanan). Kegunaan BTP adalah untuk meningkatkan nilai nutrisi, nilai sensori, dan
umur simpan makanan (Belitz dan Grosch 1999). BTP tidak boleh digunakan bila bertujuan
untuk menyembunyikan kerusakan atau kebusukan makanan atau untuk menipu konsumen
(Fennema 1996).

Salah satu golongan BTP adalah bahan pengawet. Sejak dahulu, bahan kimia telah
ditambahkan untuk mengawetkan pangan segar. Beberapa bahan pengawet kimia seperti
gula, garam, nitrit, dan sulfit telah digunakan selama bertahun-tahun. Salah satu alasan
meningkatnya penggunaan bahan pengawet kimia adalah perubahan dalam cara produksi dan
pemasaran makanan.

Sekarang ini, konsumen mengharapkan makanan yang selalu tersedia, bebas dari
mikroba patogen, dan memiliki umur simpan yang panjang. Walaupun telah dikembangkan
sistem pengolahan dan pengemasan untuk mengawetkan makanan tanpa bahan kimia, namun
bahan pengawet tetap memiliki peranan yang penting dalam melindungi suplai makanan. Hal
ini disebabkan perubahan pemasaran makanan menjadi sistem yang lebih global sehingga
makanan jarang dipasarkan secara lokal seperti zaman dahulu.

Makanan yang diproduksi di satu wilayah, dikirim ke wilayah lain untuk diolah
maupun untuk didistribusikan. Oleh karena itu, dibutuhkan waktu berbulan-bulan atau
bertahun-tahun dari sejak makanan diproduksi hingga dikonsumsi. Untuk mencapai
kebutuhan umur simpan yang panjang, beberapa cara pengawetan sering diperlukan.U.S.
Food and Drug Administration (FDA; 21CFR 101.22(a)(5)) mendefinisikan bahan pengawet
kimia sebagai any chemical that, when added to food, tends to prevent or retard
deterioration thereof, but does not include common salt, sugars, vinegars, spices, or oils
extracted from spices, substances added to food by direct exposure thereof to wood smoke, or
chemicals applied for their insecticidal or herbicidal properties. Bahan pengawet digunakan
untuk mencegah atau memperlambat kerusakan baik kerusakan kimia maupun kerusakan
biologis. Bahan pengawet yang digunakan untuk mencegah kerusakan kimia di antaranya
antioksidan, untuk mencegah autoksidasi pigmen, flavor, lipid, dan vitamin; antibrowning,
untuk mencegah pencoklatan enzimatik dan nonenzimatik; dan antistaling untuk mencegah
perubahan tekstur. Bahan pengawet yang digunakan untuk mencegah kerusakan biologis
disebut dengan antimicrobial agents (Davidson dan Branen 2005).

FDA mendefinisikan antimicrobial agents (21CFR 170.3(o)(2)) sebagai substances


used to preserve food by preventing growth of microorganism and subsequent spoilage,
including fungistats, mold, and rope inhibitors. Fungsi utama bahan antimikroba adalah
untuk memperpanjang umur simpan dan mempertahankan kualitas makanan melalui
penghambatan mikroba pembusuk (Davidson dan Branen 2005). Mekanisme penghambatan
bahan antimikroba pada umumnya adalah reaksi dengan membran sel mikroba yang
menyebabkan perubahan permeabilitas atau gangguan pada pengambilan dan transpor,
inaktivasi enzim-enzim yang penting, gangguan pada mekanisme genetik, atau penghambatan
sintesis protein (Davidson dan Branen 2005).

Bahan antimikroba juga telah banyak digunakan untuk penghambatan atau inaktivasi
mikroorganisme patogen di dalam makanan. Beberapa bahan antimikroba telah digunakan
untuk mengontrol pertumbuhan patogen tertentu. Misalnya, nitrit dapat menghambat
Clostridium botulinum pada cured meats; asam organik bertindak sebagai sanitizer terhadap
patogen pada karkas sapi; nisin dan lysozyme menghambat Clostridium botulinum dalam
keju pasteurisasi; laktat dan diacetate dapat menginaktivasi Listeria monocytogenes dalam
daging olahan (Davidson dan Branen 2005).

Menurut Winarno (1992), bahan pengawet terdiri dari senyawa organik dan anorganik
dalam bentuk asam atau garamnya. Bahan pengawet organik lebih banyak dipakai daripada
bahan pengawet anorganik karena bahan pengawet organik lebih mudah dibuat. Bahan
pengawet organik yang sering dipakai yaitu asam sorbat, asam propionat, asam benzoat, asam
asetat, dan epoksida. Sementara bahan pengawet anorganik yang masih sering dipakai adalah
sulfit, nitrit, dan nitrat.

Dalam memilih bahan antimikroba, ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan
(Branen 1983). Pertama, spektrum bahan antimikroba dari komponen yang digunakan. Hal
ini bertujuan agar penggunaan bahan antimikroba sesuai dengan target mikroba yang dituju.
Bahan pengawet ini memiliki daya kerja yang berbeda-beda, ada yang khusus menghambat
bakteri atau khamir atau kapang. Bahan pengawet yang baik adalah bahan yang memiliki
spektrum antimikroba yang luas sehingga untuk menghambat beberapa jenis mikroba cukup
menggunakan satu jenis bahan pengawet.

Kedua, sifat fisik dan kimia bahan antimikroba dan produk pangan. Faktor faktor
seperti pKa, kelarutan bahan antimikroba dan pH dari makanan akan mempengaruhi efisiensi
penggunaan bahan antimikroba. Bahan antimikroba seperti asam-asam organik mempunyai
efektivitas hanya pada makanan berasam tinggi dengan pH kurang dari pH 4.5 (Davidson dan
Branen 2005)Faktor ketiga adalah kondisi penyimpanan produk dan interaksi produk dengan
proses yang lain. Hal ini untuk memastikan bahan antimikroba tetap berfungsi selama
penyimpanan produk. Proses pengawetan tertentu akan berpengaruh pada jenis dan kadar
bahan antimikroba yang dibutuhkan.

Sebagai contoh, penurunan Aw akan menyebabkan tumbuhnya kapang dan khamir,


sehingga membutuhkan bahan antimikroba yang berbeda (Davidson dan Branen 2005).
Keempat, keadaan mikroba awal bahan pangan sebelum ditambahkan bahan pengawet.
Bahan pangan harus memiliki kualitas awal mikrobiologi yang tinggi yang berarti bahwa
jumlah mikroba awal pada bahan pangan tersebut berada pada level yang rendah. Oleh karena
itu, bahan pengawet dilarang digunakan jika tujuannya untuk menyembunyikan cara kerja
yang bertentangan dengan cara produksi yang baik untuk makanan. Pertimbangan lain dalam
memilih bahan antimikroba adalah keamanan dan legalitas komponen bahan antimikroba.

Natrium benzoat berupa bubuk kristalin yang stabil, tidak berbau, berwarna putih
dengan rasa menyengat (astringent) yang manis. Natrium benzoat sangat larut dalam air
(62.8, 66.0, dan 74.2 gram larut dalam 100 ml air pada 0oC, 20oC, dan 100 oC), higroskopik
pada RH di atas 50 %, memiliki pH sekitar 7.5 pada konsentrasi 10 g/liter air, larut dalam
etanol, metanol, dan etilen glikol (WHO 2000; Chipley 2005). Karena kelarutan natrium
benzoat dalam air jauh lebih besar daripada asam benzoat, maka natrium benzoat lebih
banyak digunakan.
Menurut FDA, benzoat hingga konsentrasi 0.1 % digolongkan sebagai generally
recognized as safe (GRAS). Di negara-negara selain Amerika Serikat, natrium benzoat
digunakan hingga konsentrasi 0.15% dan 0.25%. Batas European Commision untuk asam
benzoat dan natrium benzoat adalah 0.015-0.5%. Di Indonesia, penggunaan asam benzoat
dan natrium benzoat telah diatur dalam SNI 01-0222-1995 tentang Bahan Tambahan
Makanan yang kadarnya berkisar dari 0.06 %-0.1 %. Batas maksimum penggunaan asam
benzoat dan natrium benzoat pada berbagai jenis makanan dapat dilihat pada Tabel
Bahan makanan atau minuman yang menggunakan bahan pengawet seperti natrium
benzoat, jika dikonsumsi jangka panjang akan menimbulkan penyakit Lupus atau Systemic
Lupus Erithematosus (SLE).

Dalam beberapa literatur, penetapan kadar kombinasi natrium benzoat dapat


ditentukan antara lain dengan metode spektrofotometri UV (AOAC, 1995;SNI, 1992),
kromatografi gas (AOAC, 1995) dan kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT) dengan
menggunakan fase gerak methanol-dapar fosfat (8:92) dengan laju alir 0,3 ml/menit pada
panjang gelombang 225 nm (Tekto, 2009)

Penentuan kadar natrium benzoat menurut Association of Official Analytical Chemist


(AOAC) dilakukan dengan cara Spektrofotometri UV.
Metode analisis mempunyai atribut tertentu seperti ketepatan, ketelitian, spesifisitas,
sensitivitas, kemandirian, dan kepraktisan yang harus dipertimbangkan ketika memilih
metode yang cocok untuk memecahkan masalah tertentu (Garfield et al. 2000).

Pemilihan metode yang tepat sangat penting dalam analisis. Pemilihan sebuah metode
sangat tergantung dari tujuan pengukuran. Metode yang dipilih adalah metode yang telah
diuji dan divalidasi; metode yang telah direkomendasikan dan diadopsi oleh organisasi
internasional; metode yang sederhana, biaya rendah, atau cepat; metode yang banyak
diaplikasikan ke banyak substrat atau analit (Garfield et al. 2000).

Untuk mendapatkan data yang valid, di samping pengujian dilakukan oleh personel
yang kompeten dengan peralatan dan instrumentasi yang telah dikalibrasi, penggunaan
metode yang valid juga memegang peranan yang sangat penting (Hadi 2007). Dengan metode
yang valid, tingkat akurasi dan presisi data hasil pengujian dapat diketahui. Konsekuensinya,
laboratorium harus memvalidasi metode sebelum metode tersebut digunakan.

Validasi metode adalah suatu proses untuk mengkonfirmasi bahwa prosedur analisis
yang dilakukan untuk pengujian tertentu sesuai dengan tujuan yang diharapkan (Huber 2001).
Sedangkan menurut Garfield et al (2000), validasi metode adalah sebuah proses yang penting
dari program jaminan mutu hasil uji dimana sifat-sifat dari sebuah metode ditentukan dan
dievaluasi secara obyektif. Hasil dari validasi metode dapat digunakan untuk menilai kualitas,
tingkat kepercayaan (reliability), dan konsistensi hasil analisis; itu semua menjadi bagian dari
praktek analisis yang baik (Huber 2001).

Pemilihan parameter validasi tergantung pada beberapa faktor seperti aplikasi, sampel
uji, tujuan metode, dan peraturan lokal atau internasional. Parameter-parameter validasi
meliputi ketepatan/recovery, ketelitian, spesifisitas, limit deteksi, limit kuantisasi, linearitas,
rentang, robustness, dan ruggedness (ICH 1996).
BAB III

METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1 Alat dan Bahan


Alat :
Labu ukur
Gelas ukur
Erlenmeyer
Gelas piala
Pipet tetes
Corong dan kertas saring whatman no 4
Kertas pH
Corong pemisah
Buret
Hot plate
Bahan :
Fanta (minuman ringan)
Kloroform
NaOH 10%
NaCl 30%
Aquades
HCl (1:3)
Alkohol (4:1)
NaOH 0,05 N
Indikator PP
3.2 Langkah Kerja

Dimasukkan 50 mL sampel (Fanta) dan diencerkan sampai 150 mL

Ditambahkan 5 mL NaOH 10% dan 5 mL NaCl 30%, kemudian ditambahkan dengan air
sampai volumenya 200 mL dan disaring, kemudian dikocok selama 15 menit

Ditambahkan air suling ke dalam labu takar sampai volumenya 250 mL kemudian disaring
dengan kertas saring whatman no.4

Dipipet 50 mL filtrat hasil saringan dalam botol pengocok lalu dinetralkan dengan HCl
(1:3) dan dites dengan kertas pH

Ditambahkan 25 mL kloroform dan dikocok perlahan-lahan untuk menghindari


terbentuknya emulsi

Dipindahkan ke dalam botol pemisah dan dipisahkan larutannya, kemudian diambil 12,5
mL cairan melalui kran (bagian bawah), dan dimasukkan ke dalam gelas piala, didiamkan
beberapa waktu sampai kloroform menguap habis

Dilarutkan residu dengan 5 mL alkohol (4:1), kemudian ditambahkan 5 mL air suling dan
dititrasi dengan NaOH 0,05 N sampai pH tepat 0,1 atau merah jambu dengan
menggunakan indikator PP
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

N NaOH = 0,05 N
Berat jenis Na Benzoat = 144
Berat sampel awal = 50 ml
Volume larutan pada persiapan sampel = 250 ml
Volume larutan sampel yang diambil = 12,5 ml
Volume hasil titrasi pertama = 0,1 mL
Volume hasil tirasi kedua = 0,1 mL

Perhitungan kadar natrium benzoat (hidrat) dalam minuman Fanta


= V.Titer x N NaOH x BJ Na Benzoat x V. Larutan pada persiapan sampel x 106
V. larutan sampel yang diambil x berat awal sampel x 1000
= 0,1 ml x 0,05 N x 144 x 250 ml x 106
12,5 ml x 50 ml x 1000
= 180000000
625000
= 288 ppm (b/b)
= 288 mg/kg

Menurut SNI 01-0222-1995, batas penggunaan sodium benzoat untuk produk


minuman adalah sebesar 600 ppm. Hal ini menunjukan bahwa sampel minuman yang
kami uji yaitu Fanta masih dalam rentang normal dalam penggunaan sodium benzoat.

3.2 Pembahasan

Pada praktikum kali ini kami melakukan penetapan kadar natrium benzoat yang
terdapat pada bahan pangan. Natrium benzoat merupakan garam dari senyawa asam benzoat.
Senyawa tersebut banyak digunakan sebagai pengawet dalam makanan dan minuman yang
dikemas, salah satunya minuman ringan. Sampel yang kami gunakan adalah minuman ringan
bermerk Fanta yang didapat dari Mini Market di daerah Kertamukti, Ciputat. Pada label
minuman ringan tersebut tercantum komposisi pengawet berupa natrium benzoat. Namun,
tidak tercantum kadar natrium benzoat yang digunaka pada tiap botol minuman ringan
tersebut. Analisis penetapan kadar natrium benzoat perlu dilakukan untuk mnegetahui apakah
bahan pangan yang beredar memenuhi syarat sesuai peraturan peredaran bahan pangan yang
berlaku atau tidak.

Pemakaian asam benzoat relatif menguntungkan karena dapat mempertahankan mutu


bahan dengan memberikan daya tahan kualitas produk makanan / minuman lebih lama. Akan
tetapi asam benzoat yang berlebih dapat menimbulkan efek atau pengaruh tertentu bagi yang
mengkonsumsinya seperti : penyakit kulit dermatitis (penyakit kulit yang ditandai dengan
gatal-gatal dan bentol-bentol), asma, artikaria (biduran yang ditandai dengan timbulnya
cairan pada lapisan kulit yang dalam yang dapat terjadi pada saluran pernafasan atau
pencernaan) dan jika dikonsumsi jangka panjang akan menimbulkan penyakit Lupus atau
Systemic Lupus Erithematosus (SLE).
Untuk menjamin keamanan dari produk yang beredar penggunaan natrium benzoat
pada makanan dan minuman perlu dibatasi. Penggunaannya ke dalam minuman ringan dan
dibatasi oleh ketentuan dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor:
722/Menkes/Per/IX/88, tentang Bahan Tambahan Makanan (BTM) yang mencatumkan batas
maksimum penggunaan natrium benzoat 600 mg/kg.
Menurut prosedur kami menimbang 50 gr sampel, namun karena sampel kami berupa
cairan dan dianggap memiliki masa jenis yang sama kami menakar sampel sebanyak 50 ml
(b/v=1), lalu kami mengencerkannya sampai 150ml. Selanjutnya kami menambahkan 5ml
NaOH 10% dan 5 ml NaCl 30% dengan tujuan menjenuhkan menggunakan NaCl , larutan
sampel dari asam benzoat menjadi natrium benzoat yang larut air dengan penambahan
NaOH, kemudian dilakukan penambahan air sampai volume 200ml dan disaring memisahkan
endapan yang terbentuk dari filtratnya, kemudian di kocok selama 30 menit namun kami
hanya melakukan pengocokan selama 15 menit karena tujuan pengocokan adalah
menyempurnakan pancampuran dari zat-zat yang ditambahkan dan menurut kelompok kami
telah tercampur sempurna. Setelah itu tambahkan air suling ke labu takar sampai volumenya
250ml, jika masih terlihat adanya endapan disaring lagi dengan kertas whatman no 4, namun
kelompok kami tidak melakukan penyaringan karena sudah jernih.
Lalu filtrat hasil penyaringan diambil 50 ml lalu ditambahkan dengan HCl (1:3) dan si
tes dengan kertas pH sampai didapatkan pH netral, perubahan yang terjadi saat kami
melakukan proses penetralan adalah pada saat perpindahan pH dari basa ke netral warna
larutan kami sedikit mengalami perubahan dari merah menjadi merah muda. Penambahan
HCl ini akan mengubah natrium benzoat menjadi asam benzoat yang akan larut dalam air,
yang dapat di ekstrak dengan kloroform untuk memisahkan fase nonpolar dengan fase
polarnya. Selanjutnya kami memindahkan filtrat yang telah netral ke corong pisah, lalu
ditambahkan 25ml kloroform dan dikocok perlahan (agar tidak terbentuk emulsi) tujuan
penambahan kloroform adalah untuk mengekstraksi natrium benzoat agar tertarik seluruhnya
ke fraksi kloroform. Pada praktikum yang kami lakukan kami hanya melakukan satu kali
proses ekstraksi, seharusnya proses ekstraksi dengan tujuan penarikan natrium benzoat
dilakukan berulang agar dapat semua natrium benzoat yang terdapat pada filtrat tsb tertarik
seluruhnya.
Setelah itu kami mengambil cairan bagian bawah (fraksi kloroform) sebanyak 12,5ml
lalu diuapkan kloroformnya sehingga didapatkan residu natrium benzoat. Setelah itu residu
dilarutkan dengan 5ml alkohol (4:1), kemudian ditambah 5 ml air suling dan dititrasi dengan
NaOH 0,052 N sampai warna berubah merah muda, sebelumnya ditambahkan PP sebagai
indikator. Berikut reaksi yang terjadi :
Hasil praktikum kami menunjukan bahwa NaOH yang digunakan hanyalah 0,1ml
dalam dua kali pemgulangan. Sehingga di dapat bahwa kadar Natrium benzoat yang berada
pada minuman ringan tersebut adalah 288 mg/kg. Kadar tersebut telah memenuhi peraturan
pemerintah mengenai pembatasan jumlah Natrium benzoat yang digunakan. Namun pada
praktikum yang kami lakukan ada beberapa kelemahan sehingga kadar Natrium benzoat pada
minuman ringan tersebut tidak mutlak seperti hasil praktikum kami. Kelemahan-kelemahan
tersebut diantaranya:
1. Tidak digunakannya standar Natrium benzoat sehingga tidak ada yang dapat dijadikan
sebagai kontrol pembanding.
2. Pada proses pengocokan kami hanya melakukan pengocokan selama 15 menit jika
sesuai prosedur seharusnya 30 menit.
3. Penyaringan kami lakukan hanya 1 kali, karena menurut kami larutan sudah jernih
jika sesuai prosedur seharusnya 2 kali.
4. Pada proses ekstraksi tidak dilakukan berulang, sehingga kami tidak dapat
memastikan apakah Natrium benzoat yang ada telah tertarik seutuhnya atau belum.
Kesalahan-kesalahan dalam proses preparasi sampel tentu saja akan mempengaruhi kadar
yang didapat. Namun kami tidak dapat membdaningkan hasil praktikum dengan label pada
minuman ringan tersebut, karena pada minuman ringan tsb hanya di cantumkan komposisi
tanpa mencantumkan kadar natrium benzoat.
Penetapan kadar natrium benzoat menggunakan metode titrasi merupakan metode yang
sederhana. Dalam beberapa literatur, penetapan kadar kombinasi natrium benzoat dapat
ditentukan antara lain dengan metode spektrofotometri UV (AOAC, 1995;SNI, 1992),
kromatografi gas (AOAC, 1995) dan kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT) dengan
menggunakan fase gerak methanol-dapar fosfat (8:92) dengan laju alir 0,3 ml/menit pada
panjang gelombang 225 nm dan penentuan kadar natrium benzoat menurut Association of
Official Analytical Chemist (AOAC) dilakukan dengan cara Spektrofotometri UV.
BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Hasil analisa kadar natrium benzoat dari sampel kami memenuhi persayaratan
peraturan penggunaan bahan tambahan yaitu kadarnya 288 mg/kg dari kadar
maksimal yang diperboleh kan adalah 600 mg/kg.
Hasil analisa kadar natrium benzoat kami tidak bisa dibandingkan dengan label di
kemasan karena pada kemasan minuman ringan tidak dicantumkan kadarnya.
Hasil analisa yang kami dapatkan tidaklah mutlak kadar yang sebenarnya berada
di dalam minuman ringan tersebut, karena terdapat kesalahan-kesalahan pada
prosedur praktikum yang kami lakukan.
DAFTAR PUSTAKA

Concise International Chemical Assessment Document 26: Benzoic Acid and Sodium
Benzoate. World Health Organization, Geneva 2000.
F.G. Winarno. 1991. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta: Gramedia.
Ryan Bernhadt, 2007. Journal The Generation of Benzene in Soft Drinks: Sodium Benzoate in
the Presence of Ascorbic Acid.
Sevita, Vivi. 2013. Jurnal Pengembangan Metode Penentuan Kadar Natrium Benzoat Secara
Spektrofotometri UV Dalam Jamur Kancing Kemasan Plastik
Trenggono, dkk. 1990. Buku dan monogram bahan tambahan pangan (food aditif). Pusat
antar universitas pangan dan gizi. Yogyakarta: Ugm

Winarno F.G, 1994. Bahan Tambahan Makanan dan Kontaminan. Jakarta: Penerbit Pustaka
Sinar Harapan.
LAMPIRAN

Sampel diambil 50 mL Diencerkan sampai 150 mL Ditambah 5 mL NaOH 10%

Ditambah 5 mL NaCl 30% Ditambah air hingga 200 mL Disaring

Dikocok Disaring lagi setelah ditambah 50 mL filtrat dinetralkan dengan


air suling hingga 250 mL
HCl (1:3)
Ditambah 25 mL kloroform lalu 12,5 ml cairan hasil pemisahan Hasil titrasi (pertama) dengan
dipisahkan dengan botol diuapkan dari kloroform.
NaOH 0,05 N
Residu dilarutkan dengan 5 mL
pemisah alkohol (4:1) & 5 mL air suling

Hasil titrasi kedua