Anda di halaman 1dari 4

Nama: Muhammad Adil, S.

Ked

NIM: 04084821618241

Judul: CAN INTRAPARTUM CARDIOTOCOGRAPHY PREDICT UTERINE RUPTURE AMONG


WOMEN WITH PRIOR CAESAREAN DELIVERY?: A POPULATION BASED CASE-CONTROL
STUDY

a. Latar Belakang
Ruptur uteri komplit merupakan komplikasi kebidanan yang jarang terjadi
namun merupakan kasus yang berat, dimana di Denmark mempengaruhi sekitar
0,45% dari wanita yang berencana melahirkan pervaginam dengan riwayat persalinan
sesar sebelumnya (Vaginal Birth After Caesarean/VBAC). Sejak peningkatan risiko
ruptur uteri kecil dan melahirkan secara pervaginam menghadirkan manfaat dalam
mengurangi angka morbiditas maternal, wanita dengan riwayat persalinan caesar
(Caesarean Delivery/CD) umumnya tidak dianggap sebagai kontraindikasi untuk
persalinanpervaginam di Denmarkatau di Skandinavia.
Perubahan denyut jantung janin dalam hal bradikardia berat atau denyut
jantung janin yang tidak terdeteksi dan berhentinya kontraksi dan atau hilangnya
penentuan bagian presentasi janin adalah gejala dari ruptur uterus komplit. Bahkan
jika CD darurat dilakukan, risiko hasil perinatal yang merugikan dan morbiditas
maternal berat sangatlah tinggi. Intervensisebelum terjadinya ruptur dianggap sangat
penting, dan dengan demikian mengidentifikasi awal tanda-tanda ruptur uterus selama
persalinan juga sangat penting.
Tanda-tanda ruptur uteri mengancam seperti nyeri perut, perdarahan
pervaginam, danberbagai kelainan cardiotocography sulit untuk ditafsir dan
dievaluasi karena tanda-tanda tersebut sangat umum.
Kebanyakan penelitian mengenai kelainan cardiotocography telah
mengevaluasi sensitivitas dan spesifisitas metode ini dalam memprediksi asidemia
janin. Secara keseluruhan, pemantauan intrapartum dengan cardiotocography
memiliki sensitivitas tinggi tetapi spesifisitas rendah karena kelainannya sangatlah
umum. Spesifisitas dapat ditingkatkan dengan mengombinasikan metode dengan
analisis gelombang ST otomatis (STAN).
Hanya beberapa studi yang telah mengevaluasi penggunaan cardiotocography
selama percobaan persalinan setelah caesar (Trial of Labour After
Caesarean/TOLAC), dan hasilnya pun bertentangan. Di Denmark, pedoman nasional
merekomendasikan untuk merekam jantung janin secara kontinu selama percobaan
persalinan setelah CD (TOLAC). Hasil rekaman ini diinterpretasikan sesuai dengan
pedoman internasional, tetapi panduan spesifik mengenai interpretasi pencatatan
jantung janin selama VBAC tidak ada.Namun, rekomendasi dalam pedoman untuk
TOLAC menyiratkan bahwa perubahan dalam pencatatan jantung janin adalah yang
paling sering dan kadang-kadang satu-satunya indikator dari ruptur uteri.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membandingkan hasil
rekamancardiotocogram (CTG) pada wanita yang menjalani TOLAC dengan dan
tanpa ruptur uteri, dengan tujuan untuk mengidentifikasi perubahan yang bisa
meramalkan terjadinya ruptur uteri yang akan datang.

b. Subjek dan Metode Penelitian


Kasus dengan riwayat persalinan sesar dan ruptur uteri selama persalinan
aterm yang tercatat di Danish MedicalBirth Registry antara tahun 1997 dan 2008
ditinjau sebagai subjek penelitian. Kriteria inklusi adalah semua kasus dengan ruptur
uteri komplit dan dengan tersedianya hasil CTG. Sebuah ruptur uteri komplit
didefinisikan sebagai pemisahan penuh dari dinding rahim (termasuk atasnya serosa)
dan keterlibatan membran janin, mengakibatkan bertemunya secara langsung antara
rongga rahim dan peritoneum.
Selama masa penelitian, 62.475 ibu hamil janin tunggal dan riwayat persalinan
sesardiidentifikasi. Persalinan sesar direncanakan pada 19.767 (32%) ibu hamil, dan
TOLAC pada sisa 39.042 (63%) ibu hamil.Ruptur uteri komplit aterm berlangsung
pada 181 (0,46%) kasus Sebuah kelompok kontrol dipilih dengan mengidentifikasi
rencana dua VBAC berikutnya yang tercatat dalam Medical Birth Registry. Rekaman
CTG tersedia di 60 pada kelompok kasus dan 55 pada kelompok kontrol.Kasus dan
kontrol yang termasuk dengan ketersediaan hasil CTG disampaikan di 16 departemen
berbeda. Sebanyak 53 kasus dan 43 kontrol memenuhi kriteria (Fig. 1).

Hasil rekaman CTG dari kedua kasus dan kontrol dirahasiakan dan secara acak
diberi nomor penelitian. Hasil CTG yang tidak terbaca menurut penulis akan
dieksklusi. Hanya hasil rekaman dari 4 jam yang lalu sebelum persalinan yang
dimasukkan sebagai data. Jika hasil CTG berakhir dengan bradikardi terminal, hasil

2
rekaman ini dijadikan blinded atau dibuang dengan tujuan untuk membutakan
penaksir terhadap hasil.
Skema evaluasi dikembangkan berdasarkan pedoman Federasi Internasional
Ginekologidan Obstetri (FIGO), dan masing-masing CTG disiapkan identik dalam
rangkap tiga, dengan skema satu evaluasi tertutup per halaman CTG. Setiap Halaman
terkandung hasil rekaman CTG dari 30 menit. Penilai diminta untuk mengevaluasi
CTG dan mengklasifikasikan sebagai normal, mencurigakan, patologis atau pra-
terminal. Selain itu, deskripsi terjadinya kelainan yang berbeda diminta, termasuk
evaluasi tanda-tanda tachysystole, didefinisikan sebagai lebih dari lima kontraksi
dalam 10 menit. Dalam kasus di mana STAN surveilans telah digunakan, analisis ST
tidak dapat dinilai untuk evaluasi.
Peneliti merekrut 19 independen dokter spesialis obstetri dari Departemen
Obstetri di Denmark dan Sweden (Kelompok Studi Danish Pemonitor CTG selama
VBAC). Mereka semua adalah subspesialis dalam obstetri dan memiliki lebih dari
sepuluh tahun klinispengalaman. Mereka diminta untuk memeriksa sekitar 20 hasil
rekaman CTG yang dipilih secara acak.Penilaidari departemen obstetri yang sama
tidak mengevaluasi hasil CTG yang sama. Tiga penilai yang berbeda
mengevaluasi setiap hasil CTG.
Ketika skema evaluasi dikembalikan, semua data telah dimasukkan dalam
SPSS 20.0. Dua dari penulis (Malene Andersen dan Dorthe Thisted) independen
memasukkan semua data dalam database. Data kemudian digabung dan dalam hal
perselisihan dikoreksi dengan menggunakan informasi dari skema evaluasi. Data
menghasilkan variabel kuantitatif dari daftar kelainan. Untuk setiap hasil CTG, nilai
rata-rata untuk masing-masing variabel dihitungberdasarkan pada tiga evaluasi yang
berbeda.
Analisis statistik dilakukan dengan menggunakan tabel 2 x 2 untuk
menghitung odds rasio. Independen sample t-test digunakan ketika membandingkan
nilai rata-rata. Tes dianggap signifikan secara statistik ketika P <0,05.
Studi ini disetujui oleh Badan Perlindungan Data Denmark dan Dewan
Kesehatan Nasionalmembolehkan akses ke rekam medis.

c. Kesimpulan

3
Hasil rekam CTG yang patologis haruslah menjadi perhatian dan kewaspadaan,
namun tidak bisa menjadi prediktor yang kuat untuk terjadinya ruptur uteri karena
hasil tersebut terlalu umum terjadi pada seluruh wanita yang menjalani TOLAC.