Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PENDAHULUAN

STRUMA

A. KONSEP TEORITIS
1. Pengertian
Struma adalah pembesaran kelenjar gondok yang disebabkan oleh
penambahan jaringan kelenjar gondok yang menghasilkan hormon tiroid dalam
jumlah banyak, sehingga menimbulkan keluhan sepeti berdebar-debar, keringat,
gemetaran, bicara jadi gagap, mencret, berat badan menurun, mata mebesar,
penyakit ini dinamakan hipertiroid (Nuratif & Kusuma, 2016).
Hipertiroid adalah suatu ketidakseimbangan metabolik yang merupakan
akibat dari produksi hormon tiroid yang berlebihan. Bentuk yang umum dari
masalah ini adalah penyakit Graves, sedangkan bentuk yang lain adalah toksik
adenoma, tumor kelenjar hipofisis yang menimbulkan sekresi TSH meningkat,
tiroiditis subakut dan berbegai bentuk kanker tiroid (Doenges, 2012).
2. Etiologi
Adanya gangguan fungsional dalam pembentukan hormon thyroid
merupakan faktor penyebab pembesaran kelenjar thyroid antara lain:
1. Defisiensi iodium
2. Kelainan metabolik kongenital yang menghambat sintesa hormon thyroid
3. Penghambatan sentesa hormon oleh zat kimia (seperti sustansi dalam kol,
lobak, kacang kedelai).
4. Penghambatan sintesa hormon oleh obat-obatan
Penyebab kelainan ini bermacam-macam, pada setiap orang dapat dijumpai
masa karena kebutuhan terhadap tiroksin bertambah, terutama masa pubertas,
pertumbuhan, menstruasi, kehamilan, laktasi, menopause, infeksi atau stress
lain. Pada masa-masa tersebut dapat dijumpai hiperplasia dan involusi kelenjar
tiroid. Perubahan ini dapat menimbulkan nodularitas kelenjar tiroid serta
kelainan arsitektur yang dapat berlanjut dengan berkurangnya aliran darah di
daerah tersebut sehingga terjadi iskemia.

Departemen Keperawatan Kritis


STIKes WIDYA NUSANTARA PALU
3. Klasifikasi
Klasifikasi dan karakteristik struma nodusa menurut Manjoer dalam Nuratif &
Kusuma (2016) antara lain :
a. Bersdasarkan jumlah nodul
- Struma nodusa soliter: jika jumlah nodul hanya satu
- Struma multi nodusa: jika jumlah nodul lebih dari satu
b. Berdasarkan kemampuan menangkap yodium radioaktif
- Nodul dingin
- Nodul hangat
- Nodul panas
c. Berdasarkan konsistensinya
- Nodul lunak
- Nodul kristik
- Nodul keras
- Nodul sangat keras
4. Patofisiologi
Penyebab hipertiroidisme biasanya adalah penyakit graves, goiter toksika.
Pada kebanyakan penderita hipertiroidisme, kelenjar tiroid membesar dua
sampai tiga kali dari ukuran normalnya, disertai dengan banyak hiperplasia dan
lipatan-lipatan sel-sel folikel ke dalam folikel, sehingga jumlah sel-sel ini lebih
meningkat beberapa kali dibandingkan dengan pembesaran kelenjar. Juga,
setiap sel meningkatkan kecepatan sekresinya beberapa kali lipat dengan
kecepatan 5-15 kali lebih besar daripada normal.
Pada hipertiroidisme, kosentrasi TSH plasma menurun, karena ada sesuatu
yang menyerupai TSH, Biasanya bahan bahan ini adalah antibodi
immunoglobulin yang disebut TSI (Thyroid Stimulating Immunoglobulin), yang
berikatan dengan reseptor membran yang sama dengan reseptor yang mengikat
TSH. Bahan bahan tersebut merangsang aktivasi cAMP dalam sel, dengan
hasil akhirnya adalah hipertiroidisme. Karena itu pada pasien hipertiroidisme
kosentrasi TSH menurun, sedangkan konsentrasi TSI meningkat. Bahan ini
mempunyai efek perangsangan yang panjang pada kelenjar tiroid, yakni selama
12 jam, berbeda dengan efek TSH yang hanya berlangsung satu jam.

Departemen Keperawatan Kritis


STIKes WIDYA NUSANTARA PALU
Tingginya sekresi hormon tiroid yang disebabkan oleh TSI selanjutnya
juga menekan pembentukan TSH oleh kelenjar hipofisis anterior.
Pada hipertiroidisme, kelenjar tiroid dipaksa mensekresikan hormon
hingga diluar batas, sehingga untuk memenuhi pesanan tersebut, sel-sel
sekretori kelenjar tiroid membesar. Gejala klinis pasien yang sering berkeringat
dan suka hawa dingin termasuk akibat dari sifat hormon tiroid yang kalorigenik,
akibat peningkatan laju metabolisme tubuh yang diatas normal. Bahkan akibat
proses metabolisme yang menyimpang ini, terkadang penderita hipertiroidisme
mengalami kesulitan tidur. Efek pada kepekaan sinaps saraf yang mengandung
tonus otot sebagai akibat dari hipertiroidisme ini menyebabkan terjadinya
tremor otot yang halus dengan frekuensi 10-15 kali perdetik, sehingga penderita
mengalami gemetar tangan yang abnormal. Nadi yang takikardi atau diatas
normal juga merupakan salah satu efek hormon tiroid pada sistem
kardiovaskuler.
Eksopthalmus yang terjadi merupakan reaksi inflamasi autoimun yang
mengenai daerah jaringan periorbital dan otot-otot ekstraokuler, akibatnya bola
mata terdesak keluar.
5. Menifestasi Klinis
a. Akibat berulangnya hyperplasia dan involusi dapat terjadi berbagai bentuk
degenerasi sebagai fibrosis, nekrosis, klasifikasi, pembentukan kista dan
perdarahanke dalam kista tersebut. Pada umumnya kelainan yang dapat
menampakkan diri sebagai struma nodusa adalah edenoma, kista perdarahan
tiroditis dan karsinoma.
b. Sedangkan menifestasi klinis penderita dengan hipotiroidisme nyata, berupa
: kurang energi, rambut rontok, intoleransi dingin, berat badan naik,
konstipasi, kulit kering dan dingin, suara parau, serta lambat dalam berpikir.
c. Pada hipotiroidisme, kelenjar tiroid sering tidak teraba. Kemungkinan
terjadi karena atrofi kelenjar akibat pengobatan hipotiroiddisme memakai
yodium radioaktif sebelumnya tau setelah tiroditiditis autoimun.

Departemen Keperawatan Kritis


STIKes WIDYA NUSANTARA PALU
6. Pemeriksaan penunjang
a. Pemeriksaan sidik tiroid
b. Pemeriksaan USG
c. Biopsi aspirasi jarum halus
d. Termografi
(Nuratif & Kusuma, 2016).
Dalam Buku Asuhan Keperawatan yang disusun oleh Doenges (2012),
pemeriksaan diagnostik yang dapat dilakukan berupa:
a. Tes ambilan RAI : meningkat pada penyakit Graves dan toksik goiter
noduler, menurun pada tiroiditis.
b. T4 dan T3 serum : meningkat
c. T4 dan T3 bebas serum: Meningkat
d. TSH : tertekan dan tidak berespon pada TRH (tiroid releasing hormon)
e. Tiroglobulin : meningkat
f. Stimulasi TRH : dikatakan hipertiroid jika TRH dari tidak ada sampai
meningkat setelah pemberian TRH.
g. Ambilan tiroid : meningkat
h. Ikatan protein iodium: meningkat
i. Gula darah : meningkat (sehubungan dengan kerusakan pada adrenal)
j. Kortisol plasma: turun (menurunya pengeluaran oleh adrenal)
k. Fosfat alkali dan kalsium serum: meningkat
l. Pemeriksaan fungsi hepar: abnormal
m. Elektrolit: hiponatremia mungkin sebagai akibat dari respon adrenal dan
efek dilusi dalam terapi cairan pengganti. Hipokalemia terjadi dengan
sendirinya pada kehilangan melalui gastrointestinal dan deuresis.
n. Katekolamin serum: menurun
o. Kreatinin urine : Meningkat
p. EKG : fibrilasi atrium, waktu sistolik memendek, kardiomegali.

Departemen Keperawatan Kritis


STIKes WIDYA NUSANTARA PALU
7. Penatalaksanaan
a. Operasi
b. Yodium radioaktif
Memberikan radioaktif dengan dosis yang tinggi pada kelanjar tiroid
sehingga menghasilkan ablasi jaringan. Pasien yang tidak mau dioperasi
maka pemberian yodium radioaktif dapat menguranggi gondok sekitar 50%
c. Pemberian tiroksin dan Anti-Tiroid
Digunakan untuk menyusutkan ukuran struma
8. Komplikasi
Komplikasi hipertiroidisme yang dapat mengancam nyawa adalah krisis
tirotoksik (thyroid strom). Hal ini dapat berkembang secara spontan pada pasien
hipertiroid yang menjalani terapi, selama pembedahan kelenjar tiroid, atau
terjadi pada pasien hipertiroid yang tidak terdiagnosis. Akibatnya adalah
pelepasan HT dalam jumlah yang sangat besar yang menyebabkan takikardia,
agitasi, tremor, hipertermia (sampai 1060 F), dan apabila tidak diobati
menyebabkan kematian.
9. Discharge planing
a. Anjurkan untuk tidak bicara terus menerus post operasi hari pertamadan
kedua, pertahankan komunikasi yang sederhana
b. Pertaankan li ngkungan yang tenang dan istirahat yang cukup.
c. Sarankan untuk menghindari makanan yang bersifat goitrogenik, misalnya
makanan laut yang berlebihan, kacang kedelai, lobak dan merupakan
kontraindikasi setelah thyroidectomy karena makanan tersebut dapat
menghambat aktivitas thyroid
d. Pada masyarakat struma timbul akibat kekurangan yodium, garam dapur
harus diberikan tambahan yodium
e. Konsumsikan makanan tinggi kalsium dan vit. D
f. Jaga kebersihan luka post operasi thyroidectomi.

Departemen Keperawatan Kritis


STIKes WIDYA NUSANTARA PALU
B. KONSEP KEPERAWATAN
1. Pengkajian
a. Aktivitas/ istirahat
Gejala : Insomnia. Sensitivitas meningkat, otot lemah, gangguan
koordinasi, kelelahan berat.
Tanda : Atrofi otot
b. Sirkulasi
Gejala : Palpitasi, nyeri dada (angina)
Tanda : Disritmia (vibrilasi atrium), irama gallop, murmur, peningkatan
tekanan darah dengan tekanan nada yang berat. Takikardia saat
istirahat, sirkulasi kolaps, syok (krisis tirotoksikosis)
c. Eliminasi
Gejala : urine dalam jumlah banyak, perubahan dalam feses (diare)
d. Integritas ego
Gejala : mengalami stres yang berat baik emosional maupun fisik.
Tanda : emosi labil (euforia sedang sampai delirium), depresi.
e. Makanan/ cairan
Gejala : Kehilangan berat badan yang mendadak, nafsu makan meningkat,
makan banyak,makanannya sering, kehausan, mual dan muntah.
Tanda : Pembesaran tiroid, goiter, edema non-pitting terutama daerah
pretibial.
f. Neurosensori
Tanda : Bicara cepat dan parau, gangguan status mental dan perilaku,
seperti: binggung, disorientasi, gelisah, peka rangsang,
delirium,psikosis, stupor, koma. Tremor halus pada tangan, tanpa
tujuan, beberapa bagian tersentak-sentak, hiperaktif refleks
tendon dalam (RTD).
g. Nyeri/ kenyamanan
Gejala : Nyeri orbital, fotofobia
h. Pernapasan
Tanda : Frekuensi pernapasan meningkat. Takipnea, dispnea, edema paru
(pada krisis tirotoksikosis)

Departemen Keperawatan Kritis


STIKes WIDYA NUSANTARA PALU
i. Keamanan
Gejala : Tidak toleransi terhadap panas, keringat yang berlebihan, alergi
terhadap iodium (mungkin digunakan terhadap pemeriksaan).
Tanda : Suhu meningkat diatas 37,40C, diaforesis, kulit halus, hangat dan
kemerahan, rambut tipis, mengkilap dan lurus, eksoftalmus:
retraksi, iritasi pada konjungtiva, dan berair. Pruritus, lesi eritema
(sering terjadi pada pretibial) yang menjadi sangat parah.
2. Diagnosa keperawatan
a. Penurunan curah jantung berhubungan dengan peruahan irama jantung
b. Ketidakefektifan bersihan jalan napas berhubungan dengan obstruksi
trakea, pembengkakan, perdarahan dan spasme laringeal.
c. Ketidakseimbangan nutrisi kurang adari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan intake nutrisi kurang, disfagia.
d. Nyeri akut berhubungan dengan tindakan bedah terhadap jaringan /otot dan
edema pasca operasi
e. Gangguan rasa nyaman
f. Hambatan komunikasi verbal berhubungan dengan cedera pita
suara/kerusakan laring, edema jaringan, nyeri, ketidaknyamanan.
g. Resiko infeksi.

Departemen Keperawatan Kritis


STIKes WIDYA NUSANTARA PALU
3. Intervensi keperawatan
NANDA NOC NIC
Ketidakefektifan bersihan jalan napas Respirasi status : ventilation Airway Suction
Defenisi: ketidakmampuan untuk Respiratory status: airway patency - Pastikan kebutuhan oral/ tracheal suctioning
membersihkan sekresi atau obstruksi dari Kriteria hasil - Auskultasi suara nafas sebelum dan sesudah
saluran pernapasan untuk mempertahankan Mendemonstrasikan batuk efektif suara suctioning
kebersihan jalan nafas. nafas yang bersih, tidak ada sianosis dan - Informasikan kepada klien dan keluarga
Batasan karakteristik: dispneu ( mampu mengeluarkan tentang suctioning
- Tidak ada batuk sputum, mampu bernafas dengan - Minta klien nafas dalam sebelum suctioning
- Suara nafas tambahan mudah, tidak ada persed lips) - Berikan O2 dengan menggunakan nasal
- Perubahan frekuensi nafas Menunjukkan jalan nafas yang paten untuk memfasilitasi suksion nasotrakheal
- Perubahan irama nafas (klien tidak merasa tercekik, irama - Gunakan alat yang streril setiap melakukan
- Sianosis nafas, frekuensi nafas, dan rentang tindakan
- Kesulitan berbicara atau mengeluarkan normal, tidak ada suara abnormal) - Anjurkan klien untuk beristirahta dan nafas
suara Mampu mengidentifikasikan dan dalam setelah kateter dikeluarkan dari
- Penurunan bunyi nafas mencegah faktor yang dapat nasotrakheal
- Dispneu menghambat jalan nafas - Monitor status oksigen pasien
- Sputum dalam jumlah yang berlebihan - Ajarakan keluarga bagaimana cara
- Batuk yang tidak efektif melakukan suction
- Orthopneu - Hentikan suction dan berikan oksigen
- Gelisah apabila pasien menunjukkan bradikardi,
- Mata terbuka lebar peningkatan saturasi O2, dll
Faktor-faktor yang berhubungan Airway Management
- Lingkungan - Buka jalan nafas gunakan teknik chin lift
Perokok pasif atau jaw trust bila perlu
Mengisap asap - Posisikan pasien untuk memaksimalkan
merokok ventilasi
- Obstruksi jalan nafas - Identifikasi pasien perlunya pemasangan alat
Spasme jalan nafas jalan nafas buatan
Mukus dalam jumlah berlebihan - Pasang mayo bila perlu
Eksudat dalam jalan alveoli - Lakukan fisoterapi dada bila perlu

Departemen Keperawatan Kritis


STIKes WIDYA NUSANTARA PALU
Materi asing dalam jalan nafas - Keluarkan secret dengan batuk atau suction
Adanya jalan nafas buatan - Auskultasi suara nafas, catat aadanya suara
Sekresi bertahan atau sisa sekresi tambahan
Sekresi dalam bronki - Lakukan suction pada mayo
- Fisiologis - Berikan bronkodilator bila perlu
Jalan napas alergik - Berikan pelembab udara dengan kasa basah
Asma NaCl lembab
PPOM - Atur intake atau cairan mengoptimalkan
Jiperplasi dinding bronkial keseimbangan
Infeksi - Monitor respirasi dengan status O2
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari Nutritional status: food and fluid Nutrition Management
kebutuhan tubuh intake - Kaji adanya alergi makanan
Defenisi: asupan nutrisi tidak cukup untuk Nutritional status: nutrient - Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan
memenuhi kebuthan metabolik intake jumlah kalori dan nutrisi yang dibuthkan
Batasan karakteristik: Weight control pasien
- Kram abdomen Kriteria hasil: - Anjurkan pasien untuk meningkatkan intake
- Nyeri abdomen Adanya peningkatan berat badan - Anjurkan pasien untuk meningkatkan protein
- Menghindari makanan sesuai dengan tujuan dan vit. C
- Berat badan 20% atau lebih dibawah Berat badan ideal sesuai dengan - Berikan subtansi gula
berat badan ideal tinggi badan - Berikan makanan yang terpilih
- Kerapuhan kapiler Mampu mengidentifikasi kebuthan - Monitor jumlah nutrisi dan kalori
- Diare nutrisi - Berikan informasi tentang kebutuhan nutrisi
- Kehilangan rambut berlebihan Tidak ada tanda malnutrisi Nutrition Monitoring
- Bising usus hiperaktif Menunjukkan peningkatan dari - BB pasien dalam batas normal
- Kurang makan fungsi pengecapan dari menelan - Monitoring adanya penururnan BB
- Kurang informasi Tidak terjadi penurunan berat - Monitor tipe dan jumlah aktivitas yang biasa
- Kurang minat pada makanan badan yang berarti dilakukan
- Penururnan berat badan dengan - Monitor lingkungan selama makan
asupan makanan adekuat - Monitor kulit kering dan pigmentasi
- Kesalahan konsepsi - Monitor turgor kulit
- Kesalahan informasi - Monitor kekeringan, rambut kusam, dan

Departemen Keperawatan Kritis


STIKes WIDYA NUSANTARA PALU
- Membran mukosa pucat mudah patah
- Ketidakmampuan memakan makanan - Monitor mual muntah
- Tonus otot menurun - Monitor kadar albumin, total protein dan kadar
- Mengeluh gangguan sensasi rasa ht
- Mengeluh asupan maknan kurang - Monitor pertumbuhan dan perkembangan
dari RDA - Monitor konjungtiva
- Cepat kenyang setelah makan - Monitor
- Sariawan rongga mulut
- Steatorea
- Kelemahan otot pengunyah
- Kelemahan otot untuk menelan
Faktor yang berhubugan
- Faktor biologis
- Faktor ekonomi
- Ketidakmampuan mengabsorbsi
nutrisi
- Ketidakmampuan untuk mencerna
makanan
- Ketidakmampuan menelan makanan
- Faktor psikologis
Nyeri akut Pain level - Lakukan pengkajian nyeri secara konfrensif
Defenisi : pengalaman sensori dan Pain control termasuk lokasi, karakteristik, durasi,
emosional yang tidak menyenangkan yang Comfort level frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi
muncul akibat kerusakan jaringan yang Kriteria hasil : - Observasi reaksi nonverbal dan
aktual atau potensial atau digambarkan Mampu mengontrol nyeri ( tahu ketidaknyamanan
dalam hal kerusakan sedemikian rupa ( penyebab nyeri, mampu menggunakan - Gunakan komunikasi therapeutik untuk
internatioanal Assotiation for study of pain) teknik nonfarmakologi, untuk mengetahui pengalaman nyeri pasien
: awitan yang tiba-tiba atau lambat dari menguranggi nyeri, mencari bantuan) - Kaji kultur yang mempengaruhi respon nyeri
intesnsitas ringan hingga berat dengan akhir Melaporkan bahwa nyeri berkurang - Evaluasi respon nyeri dimasa lampau
yang dapat antisipasi atau diprediksi dan dengan menggunakan menejemen nyeri - Evaluasi bersama pasien dengan tim
berlangsung< 6 bulan Mampu mengenali nyeri ( skala, kesehatan lain tentang ketidakefektifan

Departemen Keperawatan Kritis


STIKes WIDYA NUSANTARA PALU
Batasan karakteristik : intensitas, frekuensi dan tanda nyeri) kontrol nyeri masa lampau
- Perubahan selera makan Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri - Bantu pasien dan keluarga untuk mencari
- Perubahan tekanan darah berkurang dan menemukan dukungan
- Perubahan frekuensi jantung - Kontrol lingkungan yang dapat
- Perubahan frekuensi pernafasan mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan ,
- Laporan isyarat pencahayaan dan kebisiangan
- Diaforesis - Kurangi faktor presipitasi nyeri
- Perilaku distraksi - Pilih dan lakukan penanganan nyeri (
- Mengekspresikan perilaku farmakologi, nonfarmakologi dan
- Masker wajah interpersonal)
- Sikap melindungi area nyeri - Kaji tipe sumber nyeri untuk menentukan
- Fokus menyempit intervensi
- Indikasi nyeri yang dapat diamati - Ajarkan tentang teknik non farmakologi
- Perubahan posisi untuk - Berikan analgesik untutk mengurangi nyeri
menghindari nyeri - Evaluasi keefektifan kontrol nyeri
- Sikap tubuh melindungi - Tingkatkan istirahat
- Dilatasi pupil - Kolaborasi dengan dokter jika ada keluhan
- Melaporkan nyeri secara verbal dan tidakan nyeri tidak berhasil
- Gangguan tidur - Monitor penerimaan pasien tentang
Faktor berhubungan : manajemen nyeri
Agen cedera (mis; biologis, fisik, zat kimia, Analgesic administration
psikologi - Tentukan lokasi. Karakteristik, kualitas dan
derajat nyeri sebelum pemberian obat
- Cek istruksi dokter tantang jenis obat, dosis,
dan frekuensi
- Cek riwayat alergi
- Pilih analgesik yang diperlukan atau
kombinasi dengan analgesik ketika
pemberian lebih dari satu tentukan pilihan
analgesik tergantung tipe dan beratnya nyeri
- Tentukan analgesik pilihan rute pemberian,

Departemen Keperawatan Kritis


STIKes WIDYA NUSANTARA PALU
dan dosis optimal
- Pilih rute secara IV, Imuntuk pengobatan
nyeri secara teratur
- Monitor vital sign sebelum dan sesudah
pemberian analgesik
- Berikan analgesik tepat waktu terutama saat
nyeri hebat
- Evaluasi efektifitas analgesik tanda dan
gejala.

Resiko infeksi NOC NIC


Defenisis : mengalami peningkatan Imune status Infection control
terserang organisme patogenik Knowledge: infection control - Bersihkan lingkungan setelah dipakai
Faktor-faktor resiko: Risk control pasien lain
Penyakit kronis : DM, obesitas Kriteria hasil : - Pertahankan teknik isolasi
Pengetahuan yang tidak cukup untuk - Klien bebas dari tanda dan gejala - Batasi pengunjung bila perlu
menghindari pemanjangan patogen infeksi - Instruksikan pada pengunjung untuk
Pertahanan tubuh primer yang tidak - Mendeskripsikan proses penularan mencuci tangan sangat berkunjung dan
adekuat penyakit, faktor yang stelah berkunjung menemui pasien
- Gangguan peristalsis mempengaruhi, penularan serta - Gunakan sabun antimikroba untuk cuci
- Kerusakan integritas kulit penatalaksanaannya tangan
- Perubahan sekresi pH - Menunjukkan kemampuan untuk - Cusi tangan setiap sebelum dan sesudah
- Penururnan kera siliaris mencegah timbuknya infeksi melakukan tindakan keperawatan
- Pecah ketuban dini - Jumlah leokosit dalam batas normal - Gunakan baju, saruga tangan sebagai
- Pecah ketuban lama - Menunjukkan prilaku hidup sehat pelindung
- Merokok - Pertahankan lingkungan aseptikselama
- Status cairan tubuh pemasangan alat
- Trauma jaringan - Ganti letak dan IV perifer dengan line
Ketidakadekuatan pertahanan central dan dressing sesuai dengan
sekunder petunjuk umum
- Penurunan hemoglobin - Gunakan kateter intermiten untuk

Departemen Keperawatan Kritis


STIKes WIDYA NUSANTARA PALU
- Imunosupresi menurunkan infeksi kandung kencing
Vaksinasi tidak adekuat - Tingkatkan intake nutrisi
Pemajangan terhadap patogen - Beriakan terapi antibiotik bila perlu
lingkungan meningkat infection
Prosedur invasif - Monitor tand adan gejala sistemik dan
Malnutrisi lokasi
- Monitor hitung granulosit, WBC
- Monitor kerentangan terhadap infeksi
- Batasi pengunjung
- Pertahankan teknik isolasi
- Berikan perawatan kulit pada daerah
epidema
- Inspeksi kulit dan membran mukosa
terhadap kemerahan, pesan dan drainase
- Inspeksi kondisi luka
- Dorong masukan nutrisi yang cukup
- Dorong istirahat
- Instruksikan pasien untuk minum
antibiotik sesuai rasa
- Ajarkan pasien dan keluarga tentang
tanda dan gejala infeksi
- Ajarkan cara menghindari infeksi
- Laporkan kecurigaan infeksi
- Laporkan kultur posisitif.

Departemen Keperawatan Kritis


STIKes WIDYA NUSANTARA PALU
DAFTAR PUSTAKA

Doengoes,Mailynn E. (2012) . Rencana Asuhan Keperwatan..Penerbit Buku


kedokteran EGC. Jakarta

Nuratif & Kusuma. (2016). Asuhan Keperawatan Praktik Berdasarkan Penerapan


Diagnosa NANDA, NIC, NOC Dalam Berbagai Kasus. Mediaaction.
Yogyakarta
Longmore, et all. (2014). Buku Saku Kedokteran Oxfort Edisi 8. Jakarta. EGC

Price and Wilson. 2008. Patofisiologi, Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, alih
bahasa : Peter Anugerah. edisi 4. Jakarta : EGC

Departemen Keperawatan Kritis


STIKes WIDYA NUSANTARA PALU