Anda di halaman 1dari 42

BAB II

KONDISI UMUM DAERAH

Kabupaten Sukabumi merupakan bagian wilayah pembangunan Provinsi Jawa Barat, dengan
posisi geografis berada di bagian selatan. Karakter wilayah kabupaten Sukabumi tergolong
khusus, apalagi dengan predikat: Kabupaten terluas di pulau Jawa, (masih tergolong)
Kabupaten tertinggal di Jawa Barat, Kabupaten dengan jumlah kecamatan terbanyak di Jawa
Barat dan sebagainya. Bila ditinjau dari konstelasi kebijakan nasional maupun regional,
nampaknya masih terjadi kebijakan dengan tingkat konsistensinya belum optimal sedangkan
ditinjau dari sudut karakteristik wilayah bagian Selatan Jawa Barat sendiri, masih banyak
keterbatasan alamiah yang menunggu penanganan yang semakin ilmiah.

Secara umum posisi tersebut senasib dengan beberapa wilayah kabupaten tetangga dengan
posisi geografis yang sama yang kurang sangat menguntungkan tersebut. Bentuk topografi
wilayah Kabupaten Sukabumi pada umumnya meliputi permukaan yang bergelombang di
daerah selatan dan bergunung di daerah bagian utara dan tengah. Dengan ketinggian berkisar
antara 0 - 2.960 m. Dengan adanya daerah pantai dan gunung-gunung antara lain Gunung Salak
dan Gunung Gede yang masing-masing mempunyai puncak ketinggian 2.211 m dan 2.958 m
menyebabkan keadaan lereng sangat miring (lebih besar dari 35o) meliputi 29 persen dari luas
Kabupaten Sukabumi. Sementara kemiringan antara [13o - 35o] meliputi 37 persen dan
kemiringan antara [2o -13o] meliputi 21 persen dari luas kabupaten. Sisanya daerah datar
meliputi 13 persen dari luas kabupaten. Keadaan topografi yang demikian menyebabkan
wilayah Kabupaten Sukabumi menjadi rawan terhadap longsor, erosi tanah dan lain-lain.

Perkembangan pembangunan wilayah selatan Provinsi Jawa Barat khususnya Kabupaten


Sukabumi cukup tertinggal dibandingkan dengan kabupaten/kota lainnya, kondisi ini sangat
berpengaruh pada kualitas manusia, ekonomi, perkembangan sosial budaya dan lingkungan.
Namun demikian, kiranya segala hambatan yang merupakan permasalahan kebijakan dan
karakter wilayah seperti dikemukakan sebelumnya lebih dianggap sebagai tantangan, untuk
dapat ditangani bersama para pihak berdasarkan kearifan dan komitmen daerah dalam
membangun kebersamaan dan kepedulian.

2.1 Kondisi Saat Ini


2.1.1 Kependudukan dan Perkembangan Indeks Pembangunan Manusia
a. Kondisi Kependudukan
Di bidang kependudukan, upaya untuk mengendalikan laju pertumbuhan penduduk harus terus
menerus dilakukan sehingga dari waktu ke waktu laju pertumbuhan penduduk telah dapat
diturunkan. Perkembangan penduduk Kabupaten Sukabumi selama tujuh tahun terakhir
meningkat dari 2.075.141 jiwa pada tahun 2000 menjadi sekitar 2.391.736 jiwa pada tahun
2007, rata-rata per-tahun terjadi penambahan penduduk sebanyak 45.228 jiwa atau 2,18 %.
Ditinjau dari struktur kependudukan telah terjadi perubahan/pergeseran struktur umur

Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Sukabumi 2005-2025 II - 1


penduduk, yaitu jumlah penduduk usia produktif cukup besar yaitu umur 15 50 tahun
jumlahnya + 43 %. sementara jumlah penduduk usia non-produktif relataf kecil yaitu penduduk
usia muda umur 0 4 tahun senbanyak + 30 % dan penduduk usia tua yaitu > 50 tahun
sebayak + 27 %.

Jumlah tersebut dengan komposisi penduduk laki-laki sebanyak 1.199.698 orang dan penduduk
perempuan sebanyak 1.192.038 dengan Rasio jenis kelamin sebesar 100,64 yang berarti bahwa
dalam 100 penduduk perempuan terdapat 101 penduduk laki-laki. Kepadatan penduduk
Kabupaten Sukabumi dirata-ratakan sebesar 573,39 orang per Km2, tingkat kepadatan
penduduk tertinggi berada di bagian utara dan tingkat kepadatan terendah di bagian selatan.

Jumlah Penduduk Miskin dan Keluarga Miskin di Kabupaten Sukabumi tergolong masih cukup
tinggi. Pada tahun 2006 tercatat sebanyak 20,3 % keluarga dikatagorikan keluarga pra sejahtera
dan tercatat 26,1 % masuk kedalam katagori keluarga sejahtera I. Katagori terakhir ini sangat
rentan akan turun kedalam katagori pertama jika penanganannya tidak secara menyeluruh
(comprehensive). Oleh karena itu, kemiskinan masih menjadi perhatian penting dalam
pembangunan 20 tahun yang akan datang. Luasnya wilayah dan beragamnya kondisi sosial
budaya masyarakat menyebabkan masalah kemiskinan di Kabupaten Sukabumi menjadi sangat
beragam dengan sifat-sifat lokal yang kuat dan pengalaman kemiskinan yang berbeda. Masalah
kemiskinan bersifat multidimensi, karena bukan hanya menyangkut ukuran pendapatan,
melainkan karena juga kerentanan dan kerawanan masyarakat untuk menjadi miskin. Selain itu,
kemiskinan juga menyangkut kegagalan dalam pemenuhan hak dasar dan adanya perbedaan
perlakuan seseorang atau kelompok masyarakat dalam menjalani kehidupan secara bermartabat.

Karakteristik kemiskinan di Kabupaten Sukabumi termasuk kedalam katagori kemiskinan


struktural. Faktor penyebab kemiskinan struktural terjadi akibat lingkaran kemiskinan dalam
struktur keluarga yang terjadi secara turun-temurun. Berdasarkan wilayah penduduk miskin
terbagi menjadi penduduk miskin perkotaan dan penduduk miskin pedesaan. Jumlah penduduk
miskin perkotaan cenderung lebih besar dibandingkan dengan penduduk miskin pedesaan yaitu
perbandingan antara 60 : 40. Kemiskinan perkotaan cenderung diakibatkan oleh rendahnya
daya saing yang dimiliki penduduk miskin sehingga sulit untuk mendapatkan pekerjaan di kota.
Sementara kemiskinan di pedesaan dikarenakan rendahnya kepemilikan lahan oleh keluarga
miskin, rata-rata keluarga miskin memiliki luas lahan 0,2 Ha. Ketidakstabilan harga kebutuhan
pokok berdampak pada menurunnya daya beli masyarakat. Bagi keluarga miskin kenaikan
harga bahan pokok akan menambah beban pengeluaran rumah tangga. Sementara kebutuhan
lainnya pendidikan dan kesehatan akan terabaikan.

Penduduk Bekerja berdasarkan indikator Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) dan
Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT). TPAK pada tahun 2005 telah mencapai 54,31 %
sedangkan TPT 10,30 %, yang berarti telah mencapai target yang ditetapkan yaitu TPAK
48,61% dan TPT kurang dari 9 %. TPAK pada tahun 2006 mencapai 53,99 % sedangkan TPT
7,54 %. Walaupun target TPAK dan TPT telah tercapai namun perkembangannya menunjukkan
masih tingginya pertumbuhan jumlah angkatan kerja dan jumlah pengangguran, sementara
lapangan kerja yang tersedia cukup terbatas khususnya lapangan kerja untuk laki-laki. Dalam
tahun 2006 pencari kerja yang tercatat di Disnakertrans sebanyak 3.650 orang dengan

Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Sukabumi 2005-2025 II - 2


komposisi 1.914 laki-laki dan 1.736 perempuan. Mayoritas pencari kerja berpendidikan tamatan
SLTA dan terbanyak pada bulan Juni dan Juli terkait dengan masa kelulusan sekolah atau
perguruan tinggi yang jatuh pada bulan tersebut.

Alternatif penanganan jumlah pencari kerja dilakukan melalui pengiriman TKI ke luar negeri.
Alternatif ini dilakukan selain dapat mengurangi jumlah pengangguran di daerah, juga dapat
meningkatkan kesejahteraan rumah tangga pekerja yang pada akhirnya dapat menambah devisa
negara. Beberapa permasalahan yang muncul diantaranya sebagian besar TKI yang dikirim
hanya memiliki keterampilan rendah dan bekerja disektor informal. Jumlah TKI asal Sukabumi
yang sudah diseleksi oleh Disnakertrans tahun 2006 ini sebanyak 80 perempuan. Sedangkan
berdasarkan data Dinas KBPP, secara keseluruhan jumlah TKI asal Sukabumi yang bekerja di
luar negeri sebanyak 18.625 orang dengan tujuan utama Saudi Arabia, Kuwait dan Malaysia.
Penanganan masalah ketenagakerjaan masih merupakan agenda yang perlu mendapat perhatian
serius, karena masalah tersebut memiliki kepekaan terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat
maupun terhadap keamanan dan stabilitas daerah/ regional. Tingkat keterampilan yang rendah
sudah seharusnya menjadi perhatian utama, sehingga bila Sukabumi dapat menjawab
permasalahan ini, maka kesan yang jauh lebih baik akan dapat disandang di masa depan,
apalagi bila ditinjau dalam konstelasi internasional, maka misi ini pun bukan sekedar misi
kedaeahan saja namun telah menjadi misi nasional. Tidak boleh dilupakan juga tentunya adalah
perhatian dalam pemrosesan berangkat dan pulangnya TKI dan TKW ke dan dari negara tujuan.
Pemrosesan harus dapat ditingkatkan, sehingga berbagai kemudahan bisa dinikmati para
pahlawan devisa ini.

b. Perkembangan Indeks Pembangunan Manusia


Pembangunan dalam rangka meningkatkan kualitas sumber daya manusia diukur salah satunya
dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM), dimana indikator tersebut mampu menunjukan
seberapa jauh keberhasilan (performance) suatu wilayah dalam meningkatkan kualitas sumber
daya manusianya. Oleh karena itu, IPM dapat dijadikan dasar buat penentuan dan pengukuran
kamajuan target dari program-program pembangunan secara keseluruhan yang langsung
menyentuh pada kualitas masyarakatnya. Upaya membangun kualitas manusia tetap menjadi
perhatian penting. Sumber daya manusia merupakan subjek dan sekaligus objek pembangunan,
mencakup seluruh siklus hidup manusia sejak di dalam kandungan hingg akhir hayat.
Angka IPM Kabupaten Sukabumi yang berhasil dicapai tahun 2006 adalah 69,20 atau tercapai
99,20% dari target yang ditetapkan dalam RPJMD Kabupaten Sukabumi sebesar 69,76. Angka
IPM tahun 2006 naik sebesar 1,64 dibandingkan IPM tahun 2005 yaitu 67,56. Secara rinci,
peningkatan indeks tersebut merupakan komposit dan berkaitan erat dengan terjadinya
peningkatan pada beberapa indikator komponen pendukung IPM yakni angka harapan hidup
saat lahir (66,8 tahun), angka melek aksara penduduk usia 15 tahun ke atas (87,9 persen), angka
partisipasi kasar jenjang pendidikan dasar sampai dengan pendidikan tinggi (66 persen), dan
produk domestik bruto (PDB) per kapita yang dihitung berdasarkan paritas daya beli
(purchasing power parity) sebesar US $3.361. Indeks pembangunan manusia (IPM) Kabupaten
Sukabumi saat hingga tahun 2007 menempati urutan ke-14 dari 26 kabupaten/ kota di Provinsi
Jawa Barat. Selengkapnya mengenai perkembangan angka IPM Kabupaten Sukabumi dapat
dilihat Tabel 2.1.

Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Sukabumi 2005-2025 II - 3


Tabel 2.1
Perkembangan IPM Kabupaten Sukabumi
Tahun 2002-2007

Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Sukabumi 2005-2025 II - 4


2.1.2 Sosial Budaya dan Kehidupan Beragama
Pembangunan daerah bidang sosial budaya dan kehidupan beragama berkaitan dengan kuantitas
dan kualitas hidup penduduk seperti kependudukan, pendidikan, kesehatan, pemberdayaan
perempuan dan anak, pemuda, olah raga, seni budaya, dan keagamaan.

1. Pembangunan Bidang Pendidikan telah dilaksanakan dengan menitikberatkan pada upaya


peningkatan peningkatan akses pendidikan yang berkualitas, yakni meliputi upaya
meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pendidikan, meningkatkan kompetensi lulusan
dan relevansi pendidikan, serta meningkatkan efektivitas dan efisiensi manajemen
pendidikan. Berbagai upaya tersebut tercermin dalam peningkatan kuantitas dan kualitas
sarana prasarana pendidikan, peningkatan partisipasi anak usia sekolah, pengembangan
pendidikan luar sekolah, pengembangan sekolah alternatif, serta peningkatan jumlah dan
pemerataan distribusi tenaga pendidik.
Dalam kaitannya dengan pembangunan melalui pendekatan IPM, keberhasilan
pembangunan pendidikan dapat dilihat dari Angka Melek Huruf (AMH) dan Rata-rata
Lama Sekolah (RLS). Kemudian analisis dilanjutkan terhadap indikator makro yang
terkait dan ikut mempengaruhi angka tersebut baik secara langsung maupun tidak langsung
seperti Angka Partisipasi Kasar (APK) dan Angka Partisipasi Murni (APM).
Angka Melek Huruf (AMH) memperlihatkan rasio jumlah penduduk yang mampu
membaca/menulis dengan jumlah penduduk berusia di atas 10 tahun. Angka Melek Huruf
(AMH) penduduk Kabupaten Sukabumi tahun 2006 mencapai 97,05%. AMH tahun 2006
mengalami kenaikan sebesar 0,82% apabila dibandingkan dengan AMH tahun 2005 yaitu
mencapai 96,23%. Angka tersebut menunjukan masih terdapat sekitar 2,95 % penduduk
Kabupaten Sukabumi yang belum bisa membaca dan menulis. Penduduk Kabupaten
Sukabumi yang masih buta aksara sebagian besar yaitu penduduk usia lanjut dan penduduk
yang secara geografis sulit menjangkau sarana dan prasarana pendidikan.
Rata-rata Lama Sekolah (RLS) menunjukkan rata-rata lamanya penduduk berumur 15
tahun ke atas yang bersekolah. Angka Rata-rata Lama Sekolah (RLS) penduduk Kabupaten
Sukabumi tahun 2006 mencapai 6,71 tahun. RLS tahun 2006 apabila dibandingkan dengan
RLS tahun 2005 mengalami kenaikan sebesar 0,26 tahun yaitu dari 6,45 tahun menjadi 6,71
tahun. Masih rendahnya RLS Kabupaten Sukabumi sangat dipengaruhi oleh angka
partisipasi sekolah baik Angka Partisipasi Kasar (APK) maupun Angka Partisipasi Murni
(APM) terutama pada jenjang pendidikan dasar dan menengah.
Angka Partisipasi Kasar (APK) adalah indikator yang menunjukkan banyaknya jumlah
anak usia sekolah yang terserap oleh pendidikan jalur sekolah dengan norma 100%. TA
2005/2006 APK pada tingkat pendidikan Sekolah Dasar relatif sudah tercapai dengan
norma yang diinginkan mencapai 101,76 %. APK untuk tingkat SLTP/MTs 75,72 %.
Walaupun terjadi peningkatan APK SLTP/MTs masih dibawah norma yang diinginkan
(target nasional 78,5%). Pada APK tingkat SLTA/MA/SMK sebesar 44,44 % telah
mencapai target nasional yaitu 42,3%, namun perlu ditingkatkan kembali.
Angka Partisipasi Murni (APM) dalam tahun 2006 pada tingkat pendidikan Sekolah
Dasar mencapai 98,55 %, tingkat SLTP mencapai 65,60 % dan tingkat SLTA mencapai
20,79 %. Makin tinggi jenjang pendidikan semakin rendah pencapaian APK/APM. Hal ini
Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Sukabumi 2005-2025 II - 5
terkait dengan ketidakmerataan akses masyarakat terhadap pendidikan menengah. Bagi
masyarakat miskin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi akan menambah
beban pengeluaran. Selain itu ketersediaan sarana dan prasana pada daerah terpencil sangat
kurang untuk sekolah-sekolah menengah.
Namun, dari aspek aksesibilitas masyarakat terhadap pendidikan masih rendah, angka putus
sekolah masih tinggi, kualitas dan relevansi serta tata kelola pendidikan belum sesuai
dengan kebutuhan dan tuntutan dalam rangka peningkatan daya saing.

2. Peningkatan akses masyarakat terhadap kesehatan dan pengembangan pelayanan kesehatan


berbasis masyarakat terus dilakukan.
Dalam kaitannya dengan pembangunan melalui pendekatan IPM, derajat kesehatan
Kabupaten Sukabumi telah mengalami kemajuan cukup berarti, hal ini dapat dillihat dari
perkembangan beberapa indikator kesehatan antara lain :
Angka Harapan Hidup (AHH) pada tahun 2006 sebesar 65,89 tahun (angka proyeksi
BPS), sedangkan pada tahun 2005 sebesar 65,70 tahun. Peningkatan ini relevan dengan
penurunan angka kematian bayi, peningkatan pelayanan kesehatan yang lebih baik dan
kedekatan pelayanan kesehatan yang lebih terjangkau kepada masyarakat.
Angka Kematian Bayi (AKB) pada tahun 2006 terjadi penurunan yaitu menjadi sebesar
44,39 per 1.000 Kelahiran, dari tahun 2005 sebesar 53,25 per 1.000 kelahiran. Faktor-faktor
yang mempengaruhinya antara lain meningkatnya persalinan oleh Bidan Desa,
meningkatnya kesadaran masyarakat untuk memeriksa kehamilan lebih dini, adanya
peningkatan Gizi pada Ibu hamil, bertambahanya tenaga bidan desa serta semakin
terkendalinya penanganan kelahiran.
Peningkatan gizi buruk sebagian besar pada usia anak 1 2 tahun, hal ini disebabkan antara
lain faktor ekonomi keluarga. kasus ini terutama terdapat pada lingkungan industri.
Tuntutan pemenuhan ekonomi keluarga telah mendorong ibu rumah tangga untuk bekerja
sehingga kewajiban seorang ibu memberikan ASI pada anaknya tidak optimal sesuai
dengan kebutuhan gizi balita.
Sarana Kesehatan. Jumlah Puskesmas yang memiliki kondisi baik hingga akhir tahun
2006 telah mencapai 58 unit dan Pustu 102 unit, yang berarti telah mencapai target kondisi
baik yang ditetapkan. Pencapaian ini berkaitan erat dengan pelaksanaan program
peningkatan upaya kesehatan masyarakat.

3. Pemberdayaan perempuan dan anak, telah menunjukkan peningkatan yang tercermin dari
peningkatan kualitas hidup perempuan dan anak, tetapi belum di semua bidang
pembangunan. Kebijakan yang memiliki keberpihakan terhadap peningkatan peran kaum
perempuan di seluruh sektor dan aspek pembangunan telah dilakukan. Namun upaya
pengarusutamaan gender ini masih perlu lebih diaktualisasikan di segala bidang.

4. Pemuda sebagai salah satu unsur sumber daya manusia dan tulang punggung bangsa serta
penerus cita-cita bangsa, disiapkan dan dikembangkan kualitas kehidupannya, mulai dari
tingkat pendidikan, kesejahteraan hidup dan tingkat kesehatannya. Organisasi kepemudaan

Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Sukabumi 2005-2025 II - 6


merupakan salah satu elemen masyarakat yang potensial untuk menjadi generasi muda yang
lebih berkualitas dan mandiri.

5. Pembinaan olahraga belum tertata secara sistematis antara olahraga pendidikan di


lingkungan persekolahan, olahraga rekreasi di lingkungan masyarakat dan olahraga prestasi
untuk kelompok elit atlet yang menjadi tulang punggung Kabupaten Sukabumi dalam
pentas kompetisi olahraga provinsi dan nasional sehingga terkesan bahwa pembinaan
olahraga cenderung eksklusif dan tidak berfondasi pada angka partisipasi masyarakat untuk
berolahraga secara luas.

6. Pembangunan kebudayaan di Kabupaten Sukabumi ditujukan untuk melestarikan dan


mengembangkan kebudayaan daerah serta mempertahankan jati diri dan nilai-nilai budaya
daerah di tengah-tengah semakin derasnya arus informasi dan budaya global. Pembangunan
seni dan budaya di Kabupaten Sukabumi sudah mengalami kemajuan yang ditandai dengan
meningkatnya pemahaman masyarakat terhadap nilai budaya dan penggunaan bahasa
daerah Sunda sebagai bahasa ibu masyarakat Kabupaten Sukabumi. Kemajuan lain juga
ditandai dengan meningkatnya pemahaman terhadap keberagaman budaya, pentingnya
toleransi, dan pentingnya sosialisasi penyelesaian masalah tanpa kekerasan, serta mulai
berkembangnya interaksi antar-budaya. Namun, di sisi lain upaya pembangunan jatidiri
masyarakat Kabupaten Sukabumi, seperti penghargaan pada nilai budaya dan bahasa, nilai
solidaritas sosial, kekeluargaan, dan rasa cinta tanah air dirasakan makin memudar. Hal
tersebut, disebabkan antara lain, karena belum optimalnya upaya pembentukan karakter
masyarakat, kurangnya keteladanan para pemimpin, lemahnya budaya patuh pada hukum,
cepatnya penyerapan budaya global yang negatif, dan kurang mampunya menyerap budaya
global yang lebih sesuai dengan karakter masyarakat, serta ketidakmerataan kondisi sosial
dan ekonomi masyarakat.

7. Kualitas kehidupan beragama di Kabupaten Sukabumi menunjukkan kesadaran masyarakat


untuk melaksanakan ajaran agama dalam kehidupan bermasyarakat. Kondisi tersebut
menciptakan hubungan yang harmonis dan kondusif baik antara sesama pemeluk agama
maupun antar-umat beragama.
Dalam bidang agama, kesadaran melaksanakan ajaran agama dalam masyarakat tampak
beragam. Pada sebagian masyarakat, kehidupan beragama belum menggambarkan pengha-
yatan dan penerapan nilai-nilai ajaran agama yang dianutnya. Kehidupan beragama pada
masyarakat itu masih pada tataran simbol-simbol keagamaan dan belum pada substansi
nilai-nilai ajaran agama. Akan tetapi, ada sebagian masyarakat yang kehidupannya sudah
mendekati, bahkan sesuai dengan ajaran agama. Dengan demikian, telah tumbuh kesadaran
yang kuat di kalangan pemuka agama untuk membangun harmoni sosial dan hubungan
internal dan antar-umat beragama yang aman, damai, dan saling menghargai. Namun, upaya
membangun kerukunan intern dan antar-umat beragama belum juga berhasil dengan baik,
terutama di tingkat masyarakat. Ajaran agama mengenai etos kerja, penghargaan pada
prestasi, dan dorongan mencapai kemajuan belum bisa diwujudkan sebagai inspirasi yang
mampu menggerakkan masyarakat untuk membangun. Selain itu, pesan-pesan moral agama
belum sepenuhnya dapat diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Sukabumi 2005-2025 II - 7


2.1.3 Ekonomi
1. Menjelang timbulnya krisis ekonomi pada tahun 1997, pembangunan ekonomi
sesungguhnya sedang dalam optimisme yang tinggi sehubungan dengan keberhasilan
pencapaian pembangunan jangka panjang pertama. Namun, berbagai upaya perwujudan
sasaran pembangunan praktis terhenti akibat krisis yang melumpuhkan perekonomian
nasional. Pertumbuhan cukup tinggi yang berhasil dipertahankan cukup lama lebih banyak
didorong oleh peningkatan akumulasi modal, tenaga kerja dan pengurasan sumber daya
alam daripada peningkatan dalam produktivitas perekonomian secara berkelanjutan. Dari
krisis tersebut terangkat kelemahan mendasar bahwa kemajuan selama ini belum diikuti
oleh peningkatan efisiensi dan perbaikan tata kelola kelembagaan ekonomi yang akhirnya
meruntuhkan kepercayaan para pelaku. Oleh karena itu, di samping rentan terhadap
gangguan eksternal, struktur perekonomian seperti itu akan sulit berkembang jika
dihadapkan pada kondisi persaingan yang lebih ketat, baik pada pemasaran hasil produksi
maupun pada peningkatan investasi, dalam era perekonomian daerah yang makin terbuka.

2. Dengan berbagai program penanganan krisis yang diselenggarakan selama periode transisi
politik, kondisi mulai membaik sejak tahun 2000. Walaupun demikian, kinerja tersebut
belum mampu memulihkan pertumbuhan ekonomi ke tingkat seperti sebelum krisis. Hal
tersebut karena motor pertumbuhan masih mengandalkan konsumsi. Sektor produksi belum
berkembang karena sejumlah permasalahan berkenaan dengan tidak kondusifnya
lingkungan usaha, yang menyurutkan gairah investasi, di antaranya praktik ekonomi biaya
tinggi, dan berbagai aturan yang terkait dengan pelaksanaan otonomi daerah. Selain itu,
sulitnya pemulihan sektor investasi dan ekspor juga disebabkan oleh lemahnya daya saing
daerah Lemahnya daya saing tersebut, juga diakibatkan oleh rendahnya produktivitas SDM
serta rendahnya penguasaan dan penerapan teknologi di dalam proses produksi.
Permasalahan lain yang juga punya pengaruh kuat ialah terbatasnya kapasitas infrastruktur
di dalam mendukung peningkatan efisiensi distribusi. Penyelesaian yang berkepanjangan
dari semua permasalahan sektor riil di atas akan mengganggu kinerja kemajuan dan
ketahanan perekonomian, yang pada gilirannya dapat mengurangi kemandirian daerah.

3. Indikator makro ekonomi Kabupaten Sukabumi selama tahun 2006 hingga awal semester
pertama tahun 2007 menunjukan perkembangan yang cukup memberikan harapan yang
ditandai dengan pertumbuhan ekonomi diatas 3,0 persen dan kecenderungan penurunan laju
inflasi. Pencapaian keberhasilan di atas akan terpengaruh oleh kondisi ekternal dan internal.
Di sisi eksternal, dampak dari kebijakan pemerintah pada awal tahun 2007 dengan
menurunkan suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI), diharapkan dapat menurunkan
suku bunga kredit modal usaha dan investasi. Kebijakan ini dapat menggerakan sektor riil
terutama usaha kecil dan menengah yang selama ini belum dapat tumbuh secara optimal.
Namun kondisi ini masih terdapat berbagai ketidakpastian yang dapat mengganggu proses
pemulihan ekonomi, diantaranya belum stabilnya harga minyak dunia masih memiliki
dampak yang cukup kuat dalam mempengaruhi penetapan subsidi BBM, stabilitas harga
bahan pokok melemahkan daya beli masyarakat, merebaknya isu virus flu burung (H5N1)
yang senantiasan akan mempengaruhi pemulihan perekonomian secara lokal maupun
nasional, serta adanya pengaruh perkembangan politik di masa datang. Dari sisi internal,
perekonomian Kabupaten Sukabumi masih dihadapkan pada berbagai masalah pokok antara
Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Sukabumi 2005-2025 II - 8
lain: (i) belum pulihnya investasi; (ii) belum sepenuhnya pulih fungsi intermediasi
perbankan dalam keberpihakan kepada usaha kecil dan menengah, serta (iii) masih
terbatasnya stimulus fiskal karena beratnya beban keuangan pemerintah daerah untuk
memenuhi kewajiban belanja tidak langsung.
Dengan berbagai masalah pokok yang berkembang dan yang harus segera ditangani.
Kebijakan ekonomi yang ditempuh selama ini lebih diarahkan pada peningkatan investasi
padat modal dan padat karya guna mendorong pertumbuhan ekonomi yang mampu
menciptakan lapangan pekerjaan dan meningkatkan pendapatan masyarakat. Investasi
tersebut diharapkan berbasis potensi daerah yang memiliki keunggulan komparatif maupun
kompetitif sehingga value added (nilai tambah) yang didapatkan lebih tinggi. Semua ini
diharapkan memiliki multy player effect terhadap penurunan jumlah keluarga miskin dan
peningkatan IPM sebagai agregat dari peningkatan kemampuan daya beli masyarakat. Hal
ini menuntut masyarakat untuk dapat lebih kreatif dan inovatif dalam melihat peluang.
Peningkatan kapabilitas masyarakat menjadi tuntutan yang perlu segera ditangani agar
terjadi percepatan dalam menyelesaikan masalah kemiskinan. Peningkatan kapabilitas
masyarakat dapat dilakukan dengan mendorong masyarakat untuk berperanserta dalam
kelompok/ organisasi usaha atau koperasi, peningkatan keterampilan, peningkatan
pengetahuan dan kemampuan berwirausaha serta pengetahuan dalam akses pembiayaan.
Selain itu perlu adanya dukungan pemerintah mulai dari manajemen, produksi, kepemilkan
lahan, pendanaan dan pemasaran. Dukungan lainnya dapat dilakukan dengan mengurangi
hambatan-hambatan yang ada yaitu dengan menyederhanakan prosedur perijinan,
mengurangi tumpang tindih kebijakan antar sektor, meningkatkan kepastian hukum
terhadap usaha, menyehatkan iklim ketenagakerjaan dan penyediaan infrastruktur.

4. Dalam kaitannya dengan pembangunan melalui pendekatan IPM, Kemampuan Daya Beli
(PPP=Purchasing Power Parity) penduduk Kabupaten Sukabumi tahun 2006 mencapai Rp
558.940,00 atau tercapai 100,44% dari target dalam RPJMD sebesar Rp 556.500,00.
Kemampuan daya beli tahun 2006 apabila dibandingkan dengan Kemampuan daya beli
tahun 2005 mengalami kenaikan sebesar Rp 2.030,00 yaitu dari Rp 554.470,00. menjadi Rp
558.940,00. Kenaikan Kemampuan Daya Beli tersebut belum cukup siginifikan dapat
mendongkrak angka IPM.
Kemampuan Daya Beli dipengaruhi beberapa komponen berikut :
PDRB perkapita atas dasar harga berlaku Kabupaten Sukabumi tahun 2005 sebesar Rp.
4.186.955,00 dan meningkat pada tahun 2006 menjadi sebesar Rp. 5.244.460,00 (angka
proyeksi BPS). Kenaikan secara rata-rata mencapai 25 % persen. Kendati demikian
peningkatan PDRB perkapita di atas masih belum mengambarkan secara riil kenaikan daya
beli masyarakat Kabupaten Sukabumi secara umum. Hal ini disebabkan pada PDRB
perkapitan atas dasar harga berlaku masih terkandung faktor inflasi yang sangat
berpengaruh terhadap daya beli masyarakat.
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku pada tahun 2006
sebesar Rp 12.154.587.150.000, meningkat dibandingkan dengan tahun 2005 sebesar Rp
11.104.911.970.000 (9,45 %). Hal ini disebabkan terjadinya peningkatan pada beberapa

Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Sukabumi 2005-2025 II - 9


sektor / lapangan usaha diantaranya Bangunan dan Konstruksi, Industri Pengolahan,
pertanian dan jasa-jasa.
Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) berdasarkan harga berlaku pada tahun 2006 sebesar
12,9 % dan pada tahun 2005 sebesar 19,26 %. Sedangkan LPE berdasarkan harga konstan
pada tahun 2006 diperkirakan sebesar 3,01 % dan pada tahun 2005 sebesar 4,12 %. Dalam
tahun 2006 terjadi penurunan laju pertumbuhan disebabkan beberapa hal diantaranya (1)
kenaikan harga BBM, (2) Terjadi musim kemarau yang cukup panjang yaitu sekitar 6
(enam) bulan menyebabkan beberapa daerah di Kaupaten Sukabumi tidak dapat melakukan
penanaman.
Inflasi dalam tahun 2006 di Kabupaten Sukabumi tercatat sebesar 8,16 % (angka estimasi)
dan tahun 2005 sebesar 5,18 %. Terjadi kenaikan angka inflasi dari tahun sebelumnya
antara lain disebabkan pengaruh kenaikan BBM dalam tahun 2005 yang mempengaruhi
harga barang dan jasa yang cukup tinggi namun dalam tahun 2006 terjadi penyesuaian
harga kembali.

2.1.4 Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup


Sumber daya alam dan lingkungan hidup memiliki peran ganda, yaitu sebagai modal
pembangunan dan, sekaligus sebagai penopang sistem kehidupan. Adapun jasa-jasa lingkungan
meliputi keanekaragaman hayati, penyerapan karbon, pengaturan air secara alamiah, keindahan
alam, dan udara bersih merupakan penopang kehidupan manusia.
Desentralisasi pembangunan dan otonomi daerah juga telah mengakibatkan meningkatnya
konflik pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya alam, baik antar-wilayah, antara pusat dan
daerah, serta antar-penggunaan. Untuk itu, kebijakan pengelolaan sumber daya alam dan
lingkungan hidup secara tepat akan dapat mendorong perilaku masyarakat untuk menerapkan
prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan dalam 20 tahun mendatang agar Kabupaten
Sukabumi tidak mengalami krisis sumber daya alam, khususnya krisis air, krisis pangan, dan
krisis energi.

Pencemaran air, udara, dan tanah juga masih belum tertangani secara tepat karena semakin
pesatnya aktivitas pembangunan yang kurang memerhatikan aspek kelestarian fungsi
lingkungan. Keberadaan masyarakat adat yang sangat bergantung pada sumber daya alam dan
memiliki kearifan lokal dalam pengelolaan sumber daya alam juga belum diakui. Kearifan lokal
sangat diperlukan untuk menjamin ketersediaan sumber daya alam dan kelestarian fungsi
lingkungan hidup.

Berikut diuraikan kondisi sumber daya alam Kabupaten Sukabumi


a. Sumber Daya Lahan
Berdasarkan sifat dan persyaratan sumber daya maka lahan ditempatkan sebagai sumber
daya utama. Lahan mempunyai produktifitas untuk dapat mengahasilkan bahan nabati, dari
hasil bahan nabati selanjutnya dihasilkan bahan hewani. Selain itu lahan memiliki
kemampuan sebagai daya tumpu bangunan, manjadi bahan mentah pembuatan aneka barang,
menyerap, menyalurkan dan menyimpan cairan. Sehingga lahan merupakan sumber daya
serba guna yang mampu memenuhi kebutuhan sumber daya lain.

Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Sukabumi 2005-2025 II - 10


Kabupaten Sukabumi dengan luas wilayah kurang lebih 4.148 km2 atau kepadatan
penduduknya sebesar 528 jiwa/ km2 atau 52.782 jiwa/ ha. Apabila melihat angka antara
rasio penduduk dengan ketersediaan lahan kelihatannya potensi lahan yang dapat
dimanfaatkan sangat besar. Namun kenyataannya tidak semua luas wilayah dapat
dimanfaatkan karena kondisinya tidak homogen. Misalkan dengan adanya sungai, lahan
dengan kemiringan curam, bahkan daerah padang ilalang dan semak belukar. Jadi ukuran
kepadatan penduduk hanya untuk mengetahui jumlah manusia yang mendiami persatuan
areal. Sehingga tidak terlihat apakah lahan tersebut dapat dimanfaatkan atau tidak ikut
terhitung. Manfaat dari pengukuran ini hanya mengetahui apakah suatu daerah padat atau
jarang penduduknya. Berikut ini digambarkan penggunaan lahan di Kabupaten Sukabumi :

Tabel 2.1
Penggunaan lahan di Kabupaten Sukabumi

No Penggunaan Lahan Luas (Ha) Persentase


1 Hutan Primer 64.398,08 15,65
2 Hutan Sekunder 15.423,14 3,71
3 Kebun Campuran 27.986,30 6,73
4 Ladang 95.908,50 23,20
5 Lahan Terbuka 5.022,72 1,21
6 Permukiman 3.947,04 0,95
7 Perkebunan 70.220,16 16,88
8 Rumput/ilalang 51.056,24 12,26
9 Sawah 39.903,64 9,59
10 Semak Belukar 29.924,64 7,19
11 Tidak Teridentifikasi 10.618,56 2,55
12 Tubuh Air 367,20 0,09
Jumlah 414.770,52 100
Sumber : RTRW Kabupaten Sukabumi

Lahan di Kabupaten Sukabumi berdasarkan pemanfaatannya antara lain digunakan untuk


budidaya pertanian (43,6 %), Budidaya non pertanian (9,7 %), Hutan produksi (16,9 %) dan
Hutan Lindung (29,8 %). Untuk budidaya pertanian yang dapat dimanfaatkan sebagian lahan
basah hanya 51.268 Ha. Sebagian besar merupakan Lahan kering yaitu 130.306 Ha. Hal ini
disebabkan topografi wilayah Kabupaten Sukabumi hampir 68,6 % berada pada kemiringan
di atas 15 %. Daerah dengan kemiringan tersebut sangat sulit dikembangkan sistem jaringan
irigasi. Diperlukan inovasi dan teknologi dalam pengembangan lebih lanjut. Lahan seperti
itu juga sangat rawan terhadap bahaya erosi. Pencegahan yang dapat dilakukan misalnya
dengan terasering (pembuatan teras-teras). Sementara lahan dengan kemiringan 40 % atau
lebih harus selalu diproteksi secara tetap.
Status kapemilikan lahan berdasarkan luasan yang dikelola oleh masyarakat sangat kecil
sekali dibandingkan luasan yang dikelola pemerintah dan swasta. Potensi lahan yang
dimiliki masyarakat meliputi lahan basah (sawah) dan ladang sekitar 27 % dari luas potensi
lahan yang ada. Kepemilikan lahan di tingkat petani dari 591.369 orang yang bergerak di
Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Sukabumi 2005-2025 II - 11
sektor pertanian hanya 15,4 % yang memiliki lahan pertanian. Sisanya merupakan buruh di
sektor pertanian. Lahan yang menjadi kawasan hutan lindung dan hutan produksi, hak
pengelolaannya dipegang oleh pemerintah pusat (Departemen Kehutanan dan Perkebunan).
Sementara lahan untuk perkebunan pengelolaannya oleh swasta dan BUMN. Perkebunan
swasta memiliki Hak Guna Usaha (HGU) dalam mengelola perkebunan. Izin HGU
dikeluarkan oleh Departemen terkait. Status kepemilikan lahan berdasarkan luasan yang
dikelola sudah sepantasnya ditinjau dari segi kewenangan; apakah merupakan wewenang
penuh pemerintah daerah Kabupaen Sukabumi ataukah lebih merupakan wewenang
pemerintah pusat/ propinsi yang menanti koordinasi yang intens dari pemerintah daerah.
Status kepemilikan lahan sepantasnya juga menjadi salah satu dasar pertimbangan dalam
menyusun berbagai kebijakan tata ruang di daerah.
Pemanfaatan lahan untuk kepentingan lain yang memiliki nilai ekonomis, misalnya lokasi
obyek wisata. Keunggulan komparatif yang dimiliki wilayak Kabupaten Sukabumi seperti
variasi ketinggian lahan antara 0 1000 + diatas permukaan laut (dpl) memiliki potensi
obyek wisata alam yang diminati wisatawan. Obyek wisata tersebut diantaranya Gunung,
Rimba (hutan), Laut, Pantai dan Sungai atau disingkat dengan GURILAPS. Namun
demikian potensi lahan sebagai obyek wisata tersebut belum semuanya dikelola oleh
pemerintah maupun swasta.
b. Sumber Daya Air
Sumber daya air menjadi sumber daya terpenting setelah lahan, disebabkan air mampu
menambah kesuburan tanah sehingga memungkinkan tumbuh sumber daya lain seperti flora
dan fauna. Bentuk permukaan tanah secara alami pada hakekatnya mempengaruhi aliran air
(Sukanto 1998). Potensi sumber daya air yang ada terbagi kedalam dua jenis yaitu air
permukaan dan air bawah tanah. Air permukaan merupakan air yang berada diatas
permukaan baik yang mengalir atau tertampung yang berasal dari air hujan seperti air
sungai, danau, waduk dan lain sebagainnya. Sementara air bawah tanah adalah air hujan
yang menyerap kedalam tanah yang tertahan pada lapisan tanah dan membentuk aquifer.
Berdasarkan kemnfaatannya sumber daya air dapat digunakan sebagai bahan baku air
minum, irigasi pertanian, perikanan darat dan pembangkit listrik.
Topografi wilayah Kabupaten Sukabumi yang ditandai oleh bayaknya bukit dan gunung
dengan lereng-lereng yang curam menentukan pola aliaran air (drainase) air permukaan
yang berasal dari hujan. Air yang mengalir masuk ke dalam aliran air dan sungai-sungai
kecil, mempertemukan di anak sungai, dan akhirnya air masuk ke dalam sungai yang besar.
Dengan derajat kemiringan yang tinggi dan lembah-lembah sungai yang sempit
memperlihatkan bahwa potensi air sungai kurang dapat termanfaatkan untuk irigasi
pertanian. Sebaliknya kondisi ini sangat potensial digunakan sebagai Pembangkit Listrik
Tenaga Air (PLTA), seperti halnya PLTA Ubrug yang menhasilkan daya 9 MW dari anak
sungai Cimandiri.
Berdasarkan area hulu sungai terdapat dua jenis sungai yang melalui wilayah Kabupaten
Sukabumi. pertama terdiri dari sungai-sungai yang berasal dari lereng-lereng gunung berapi
disebelah utara, yaitu sungai Cimandiri dan sungai Cibareno. Sungai-sungai ini memiliki
debit air yang relatif stabil. kedua sungai-sungai yang berasal dari daerah non-vulkanik di
sebelah selatan dalam musim kemarau mengalami kekeringan yang cukup parah, yaitu

Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Sukabumi 2005-2025 II - 12


sungai sungai Ciletuh, Cikaso, Cikarang dan Cibuni. Kondisi ini sangat memberatkan
masyarakat yang sebagian besar bergerak pada sektor pertanian.
Sehubungan dengan keadaan diatas, maka pemanfaatan air sungai untuk irigasi sangat
terbatas sekali. Jaringan irigasi yang dibangun pada suatu areal hanya dapat mengairi sekitar
100 500 Ha sawah atau 63 % yang dapat ditangani oleh irigasi teknis. Sisanya ditangani
oleh irigasi pedeseaan. Menghadapi kondisi demikian Pemerintah Propinsi Jawa Barat
merencanakan pembangunan irigasi seluas 7.745 Ha dengan membangun bendungan di
sungai Ciletuh, Cikarang dan Cigangsa. Namun sampai sekarang rencana tersebut belum
terealisasikan.
Potensi air bawah tanah di Kabupaten Sukabumi sangat besar. Hal ini dipengaruhi oleh
keadaan geologi dengan adanya Gunung Salak dan Gede-Pangrango sebagai aquifer yang
besar menyimpan air. Sumber air pada lokasi tersebut menjadi bahan baku air minum
PDAM. Selain itu Beberapa perusahaan telah melakukan eksploitasi sebagai bahan Air
Minum Dalam Kemasan (AMDK) seperti perusahaan dengan merk AQUA, ADES. Lokasi
potensi air bawah tanah yang telah dimanfaatkan terdapat di Kecamatan Cidahu dan
Kecamatan Kadudampit. Pada lokasi tersebut ditemukan banyak sumber mata air dan sumur.
Untuk daerah lain air tanah hanya tersedia dalam jumlah terbatas atau sama sekali tidak
tersedia, kecuali daerah karst di dekat Jampangkulon.
c. Sumber Daya Pesisir dan Kelautan
Sumber daya pesisir dan kelautan yang terdapat di Kabupaten Sukabumi terutama tersebar di
7 (tujuh) wilayah kecamatan yang berbatasan langsung dengan Samudera Indonesia, yaitu
sepanjang 117 km yang memanjang dari wilayah kecamatan Cisolok, Palabuhanratu,
Ciemas, Ciracap, Surade, Cibitung, dan Tegalbuleud.
Adapun jenis potensi sumber daya pesisir dan kelautan yang ada antara lain:
Perikanan
Terumbu karang
Hutan mangrove
Rumput laut
Penyu
Bahan tambang dan mineral, dan
Pariwisata
Sejauh ini, pemanfaatan pesisir dan kelautan di wilayah Kabupaten Sukabumi, selain
dimanfaatkan untuk pariwisata pantai juga sebagai pelabuhan nelayan dan sarana bagi
penangkapan ikan. Daerah Palabuhanratu dan sekitarnya yang saat ini menjadi pusat
kunjungan wisatawan, merupakan titik tumbuh dalam pengembangan daerah wisata pantai di
bagian selatan Sukabumi.
Beberapa permasalahan dalam pengelolaan sumber daya wilayah pesisir dan lautan:
1) Pihak yang berkepentingan menyusun rencana kerja secara sendiri-sendiri.
2) Belum tersedianya data dan informasi sumber daya wilayah Pesisir dan lautan secara
akurat.
3) Lemahnya kemampuan dan kelembagaan dalam pengelolaan sumber daya wilayah
pesisir dan lautan.
Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Sukabumi 2005-2025 II - 13
4) Jumlah dan tingkat (laju) kegiatan pembangunan di kawasan pesisir dan lautan belum
ditetapkan atas dasar pertimbangan daya dukung lingkungan.
5) Pesatnya laju degradasi dan depresi sumber daya laut, dimana 60% ekosistem telah
punah.

d. Sumber Daya Mineral


Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral menggolongkan mineral ke alam 3 kelompok
(Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1980), yaitu :
1) Kelompok A (Mineral Strategik), penguasaannya oleh pemerintah, dapat dilakukan
kerjasama dengan perusahaan domestik maupun asing. Termasuk dalam kelompok ini
adalah minyak bumi, gas alam, batu bara, timah dan lain sebagainya
2) Kelompok B (Mineral Vital), yang dapat ditambang oleh BUMN, swasta, koperasi
maupun pribadi. Perusahaan asing dapat menjalankan eksplorasi melalui pemegang izin
swasta Indonesia. Kelompok ini meliputi emas, perak, platina, mangan dan lain
sebagainya
3) Kelompok C (Mineral Lain), hanya dapat ditambang oleh prusahaan swasta nasional.
Perusahaan asing dapat memberikan dana dan mengadakan kontrak pembelian mineral
ini. Kelompok ini meliputi gamping, tanah liat, kwarsa,, marmer dan lain sebainya.
Potensi Sumber Daya Mineral yang ada di Kabupaten Sukabumi termasuk kedalam
kelompok B dan C. Bahan mineral kelompok B diantaranya emas yang merupakan bahan
tambang logam yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Lokasi berada di Kecamatan Ciemas
yang terdapat pada lapisan kwarsa yang terbentang dari Barat-Laut ke arah Tenggara.
Penambangan dilakukan secara tradisional oleh perorangan atau kelompok dengan cara
menggali lubang sedalam 10 meter, dan mengikuti arah lapisan. Penggalian cara ini
memiliki resiko besar bagi penambang. Kandungan emasnya 8 12 gram per ton, namun
ada beberapa lokasi yang menghasilkan 30 gram per ton. Karena potensi yang ada tidak
begitu besar sehingga minat perusahaan rendah sekali untuk berinvestasi. Potensi emas yang
lainnya terdapat di Kecamatan Palabuhanratu dan Kecamatan Jampangkulon. Selain emas
terdapat beberapa bahan tambang logam yang masih dijajagi untuk dieksploitasi seperti pasir
titan, besi, tembaga dan batu kawi (mangaan).
Bahan mineral non logam (bahan tambang Kelompok C) termasuk yang memiliki potensi
yang cukup besar. Kurang lebih ada 12 jenis diantaranya kwarsa, marmer, bentonit, batu
gamping, pasir besi, tras, tanah liat, posfat, ball clay, batu apung, batu aji dan felsfar. Bahan
tambang yang tersebar di 17 kecamtan. Sebagian besar bahan tambang tersebut sudah
diusahakan oleh perusahaan lokal maupun menjalin kemitraan dengan perusahaan besar.
Contohnya pabrik semen di Cibinong (Bogor) melakukan eksploitasi pasir kwarsa yang ada
di Gunung Walat Kecamatan Cibadak. Sementara yang diusahakan oleh pengusaha lokal
biasa membuat bahan bangunan seperti batu bata, betako genting dan lain sebagainya.
Potensi lain yang belum dieksploitasi tetapi memiliki nilai ekonomis tinggi yaitu pasir besi.
Wilayah selatan Kabupaten Sukabumi termasuk salah satu kawasan yang memiliki potensi
pasir besi yang sangat besar. Beberapa negara telah menjajaki kerjasama dalam eksploitasi
pasir besi ini seperti Cina dan Korea. Karena kendala yang dihadapi adalh infrastruktur jalan
yang tidak layak maka kerjasama tersebut belum terealisasikan.

Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Sukabumi 2005-2025 II - 14


2.1.5 Sarana dan Prasarana Wilayah
Sarana dan prasarana wilayah yang meliputi infrastruktur, sumber daya air dan irigasi,
transportasi dan perhubungan, energi, ketenagalistrikan, pos dan telekomunikasi, serta sarana
dan prasarana dasar permukiman memiliki peran yang penting bagi peningkatan perekonomian
dan kehidupan sosial masyarakat. Pembangunan prasarana dan sarana adalah bagian integral
dari pembangunan daerah, serta merupakan roda penggerak pertumbuhan sosial dan ekonomi
masyarakat.

Kondisi sarana dan prasarana di Kabupaten Sukabumi saat ini masih ditandai oleh rendahnya
aksesibilitas, kualitas, ataupun cakupan pelayanan. Akibatnya, sarana dan prasarana yang ada
belum sepenuhnya dapat menjadi tulang punggung bagi pembangunan sektor riil termasuk
dalam rangka mendukung kebijakan ketahanan pangan di daerah, mendorong sektor produksi,
serta mendukung pengembangan wilayah.

a. Pengelolaan Sumber Daya Air


Air merupakan kebutuhan pokok manusia untuk melangsungkan kehidupan dan
meningkatkan kesejahteraannya. Pembangunan di bidang sumber daya air pada dasarnya
adalah upaya untuk memberikan akses secara adil kepada seluruh masyarakat untuk
mendapatkan air agar mampu berperikehidupan yang sehat, bersih, dan produktif. Selain itu,
pembangunan di bidang sumber daya air juga ditujukan untuk mengendalikan daya rusak air
agar tercipta kehidupan masyarakat yang aman.
Ancaman terhadap keberlanjutan daya dukung sumber daya air meningkat, baik air
permukaan maupun air tanah. Kerusakan lingkungan yang semakin luas akibat kerusakan
hutan secara signifikan telah menyebabkan penurunan daya dukung Daerah Aliran Sungai
(DAS) dalam menahan dan menyimpan air. Hal yang memprihatinkan adalah indikasi
terjadinya proses percepatan laju kerusakan daerah tangkapan air. Kecenderungan meluas
dan bertambahnya jumlah DAS kritis telah mengarah pada tingkat kelangkaan dan
peningkatan daya rusak air yang semakin serius. Selain itu, kelangkaan air yang terjadi
cenderung mendorong pola penggunaan sumber air yang tidak bijaksana, antara lain pola
eksploitasi air tanah secara berlebihan sehingga mengakibatkan terjadinya penurunan
permukaan dan kualitas air tanah.
Kemampuan penyediaan air menurun. Berkembangnya daerah permukiman dan industri
telah menurunkan area resapan air dan mengancam kapasitas lingkungan dalam
menyediakan air. Pada sisi lain, kapasitas infrastruktur penampung air seperti waduk dan
bendungan makin menurun akibat meningkatnya sedimentasi, sehingga menurunkan
keandalan penyediaan air untuk irigasi maupun air baku. Kondisi ini diperparah dengan
kualitas operasi dan pemeliharaan yang rendah sehingga tingkat layanan prasarana sumber
daya air menurun semakin tajam.
Dalam mendukung pembangunan pertanian khususnya dalam upaya peningkatan produksi
padi/beras diperlukan penanganan irigasi yang dapat memenuhi kebutuhan areal sawah
60.373 hektar. Kondisi Irigasi Teknis baik 60% dan kondisi rusak 40% mengairi areal sawah
seluas 20.792 hektar. Sedang Irigasi Non Teknis kondisi baik 40% dan kondisi rusak 60%
mengairi sawah 35.123 hektar.
Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Sukabumi 2005-2025 II - 15
Pengembangan prasarana penampung air, seperti waduk, embung, danau, dan situ, masih
belum memadai sehingga belum dapat memenuhi penyediaan air untuk berbagai kebutuhan,
baik pertanian, rumah tangga, perkotaan, maupun industri terutama pada musim kering yang
cenderung makin panjang di beberapa wilayah sehingga mengalami krisis air. Dukungan
prasarana irigasi yang mengalami degradasi masih belum dapat diandalkan karena umumnya
hanya mengandalkan ketersediaan air di sungai. Selain itu, laju pengembangan sarana dan
prasarana pengendali daya rusak air juga masih belum mampu mengimbangi laju degradasi
lingkungan penyebab banjir. Sejalan dengan perkembangan ekonomi wilayah, banyak
daerah telah mengalami defisit air permukaan, sedangkan di sisi lain konversi lahan
pertanian telah mendorong perubahan fungsi prasarana irigasi sehingga perlu dilakukan
penyesuaian dan pengendalian. Pada sisi pengembangan institusi pengelolaan sumber daya
air, lemahnya koordinasi antar-instansi dan antar-daerah otonom telah menimbulkan pola
pengelolaan sumber daya air yang tidak efisien, bahkan tidak jarang saling berbenturan.
Pada sisi lain, kesadaran dan partisipasi masyarakat, sebagai salah satu prasyarat terjaminnya
keberlanjutan pola pengelolaan sumber daya air, masih belum mencapai tingkat yang
diharapkan karena masih terbatasnya kesempatan dan kemampuan yang dimiliki.

b. Transportasi dan Perhubungan


Transportasi secara umum berfungsi sebagai katalisator dalam mendukung pertumbuhan
ekonomi dan pengembangan wilayah, Pada umumnya infrastruktur transportasi mengemban
fungsi pelayanan publik. Di sisi lain transportasi juga berkembang sebagai industri jasa.
Secara prinsip, ada dua hal pokok ysng menyangkut aspek Transportasi dan Perhubungan :
aspek konsepsional manajemen transportasi dan aspek fisik prasarana transportasi atau
kebinamargaan (berhubungan dengan jalan dan jembatan).

1) Aspek Manajemen Transportasi


Dalam mendukung pertumbuhan ekonomi dan pengembangan wilayah, transportasi/
perhubungan dapat dikatakan sebagai tulang punggung dinamika pembangunan ; mulai dari
dukungan terhadap perkembangan perekonomian, kehidupan sosial hingga perkembangan
kawasan pada suatu daerah. Kenaikan biaya transportasi akan mempengaruhi berbagai
harga komoditi dan hal lainnya yang pada ujungnya akan berpengaruh terhadap peningkatan
biaya kehidupan sehari-hari. Masalah transportasi/ perhubungan darat berupa kemacetan lalu
lintas akan menurunkan kualitas sumberdaya manusia akibat siswa siswa sekolah yang
selalu terlambat ke sekolah ataupun produk sayur mayur yang sudah tidak segar lagi
terkonsumsi masyarakat. Demikian juga dengan beberapa kasus penerbitan izin
pembangunan yang mengakibatkan bangkitan arus lalu lintas pada kawasan tertentu yang
kurang memperhatikan aspek manajemen transportasi. Pertumbuhan pembangunan industri
pada jalan alternatif yang saat ini sudah menjamur pada jalur-jalur alternatif menjadi
ancaman serius bagi terjadinya kemacetan (disamping menjadikan PAD yang menggiurkan
bagi daerah).
Secara jujur, kiranya harus diakui bahwa saat ini kapasitas penanganan Pemerintah
Kabupaten Sukabumi (Dinas Perhubungan) baru menyentuh kepada sebagian masalah
perhubungan darat saja, itu pun masih dalam batasan tertentu. Urusan perhubungan ASDP
(Angkutan Sungai dan Penyeberangan), yang tergolong pada perhubungan darat pun belum
Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Sukabumi 2005-2025 II - 16
dapat ditangani secara optimal. Demikian pula yang menyangkut perhubungan laut dan
perhubungan udara. Namun khususnya perhubungan perkeretaapian, upaya yang dilakukan
tidak pernah mengenal henti, meskipun lebih terfokus kepada fungsi koordinasi dengan
instansi terkait. Upaya penanganan urusan perhubungan darat saja misalnya, sesuai peraturan
yang berlaku, peran Dinas Perhubungan Kabupaten hanya berlaku pada ruas jalan kabupaten
saja. Bagaimana halnya dengan ruas jalan Provinsi dan Nasional/ Pusat ? Padahal muara
permasalahan yang sering muncul justru pada ruas jalan Provinsi dan Nasional/ Pusat,
sedangkan instansi berwenang seringkali jarang hadir, hal ini tentu membutuhkan kepedulian
dari seluruh pihak, karena masalah ini tidak hanya terjadi di Kabupaten Sukabumi saja tetapi
juga di seluruh Indonesia.
Untuk mendukung kesejahteraan masyarakat, maka fungsi pelayanan umum transportasi
adalah menyediakan jasa transportasi guna mendorong pemerataan pembangunan, melayani
kebutuhan masyarakat luas dengan harga terjangkau baik di perkotaan maupun perdesaan,
mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat di wilayah pedalaman dan terpencil, serta
untuk melancarkan mobilitas distribusi barang dan jasa serta mendorong pertumbuhan
sektor-sektor ekonomi. Oleh sebab itu pembangunan transportasi diarahkan untuk
meningkatkan pelayanan jasa transportasi secara efisien, andal, berkualitas, aman dan harga
terjangkau.
Upaya pemerintah daerah saat ini juga dioptimalkan untuk meningkatkan pelayanan kepada
seluruh masyarakat secara merata pada tahun 2008, salah satunya melalui penyempurnaan
SOTK dimana Dinas Perhubungan telah membentuk 7 KUPTD wilayah transportasi.
Demikian juga dengan penyiapan SDM perhubungan yang memperhatikan karyawan muda
untuk memperoleh pendidikan kursus-kursus bidang perhubungan seperti: perencanaan
transportasi, kepelabuhanan, PPNS perhubungan darat, dan sebagainya. Langkah ke depan
beberapa langkah harus semakin disempurnakan, termasuk tentunya koordinasi antar
manajer transportasi perbatasan (kota-kabupaten) yang jelas-jelas semakin dibutuhkan.
Dalam menyikapi berbagai kemungkinan yang semakin nyata di masa depan, nampak
penanganan manajerial transporasi akan semakin kompleks. Tuntutan kian deras akan
pentingnya fungsi koordinasi yang tangguh. Tidak hanya sekedar melibatkan dinas
pehubungan, tata ruang dan binamarga saja, namun sedah semakin melebar sesuai dengan
permasalahan yang ada. Beberapa aspek penting mulai disadari untuk perlu dilibatkan dalam
masa yang depan sesegera mungkin, diantaranya: hal yang berkaitan dengan perizinan
bangunan yang berpotensi menimbulkan bangkitan transportasi seperti halnya: perizinan
bangunan industri dan perumahan, penanganan pasar.

2) Perkeretaapian
Perkeretaapian diselenggarakan berdasarkan azas manfaat, adil dan merata, berdasarkan
kepada keseimbangan kepentingan umum, keterpaduan dan percaya diri sendiri, dan bahwa
perkeretaapian ditujukan untuk memperlancar perpindahan orang dan/atau barang secara
massal, menunjang pemerataan, pertumbuhan dan stabilitas serta sebagai pendorong dan
penggerak pembangunan. Sampai saat ini, perkeretaapian masih berkembang terbatas, serta
kontribusi berdasarkan pangsa angkutan yang dihasilkan, masih sangat rendah dibandingkan

Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Sukabumi 2005-2025 II - 17


moda angkutan lain. Disisi lain minat masyarakat dalam pelayanan perkeretaapian sangat
tinggi, hal ini terbukti dengan sangat tingginya jumlah penumpang.
Upaya revitalisasi pengembangan kereta api yang saat ini mulai menampakkan hasil
merupakan upaya dari suatu perjalannan panjang yang berliku. Upaya ini telah dirintis sejak
tahun 2002 secara konsisten bersama berbagai instansi di lingkup Sukabumi sendiri
(Bappeda, Perhubungan, Tata Ruang) hingga kepada yang sifatnya koordinatif ke tingkat
Provinsi maupun Pusat: Bappeda Provinsi Jawa Barat, Departemen Perhubungan hingga
secara khusus ke Dirjen Perkeretaapian. Informasi terakhir sempat menyebutkan bahwa
pada tahun 2008 ini berada dalam proses revitalisasi jalur KA sedang dalam proses uji coba.
Realisasi secara utuh akan dilaksanakan mulai tahun 2009. Tidak diragukan lagi, pada masa
depan pemanfaatan jalur KA akan menjadi tuntutan masyarakat yang senantiasa meningkat.
Pada saat ini pula telah berkembang berbagai permohonan dari berbagai pihak untuk
memanfaatkannya tidak sebatas sebagai angkutan penumpang saja, tapi juga kepada
angkutan peti kemas, Air Mineral Dalam Kemasan (AMDK) serta angkutan pasir.
Keberadaan revitalisasi jalur KA juga mengundang pindahnya secara berangsur usaha-usaha
pada bidang industri dari Jakarta (Kawasan Berikat Nusantara-KBN) ke Sukabumi.

3) Aspek fisik dan prasarana transportasi kebinamargaan dan kepelabuhanan


Prasarana jalan berperan penting dalam pembangunan daerah serta mempunyai
kontribusi terbesar dalam melayani mobilitas manusia maupun distribusi komoditas
perdagangan dan industri. Prasarana jalan semakin diperlukan untuk menjembatani
kesenjangan dan mendorong pemerataan hasil-hasil pembangunan antar-wilayah,
antar-perkotaan dan antar-perdesaan.
Secara umum, panjang jalan di Kabupaten Sukabumi 2342, 622 Km yang terdiri atas
jalan negara/nasional 49,932 Km, jalan propinsi 426,448 KM, dan jalan kabupaten
1866,242 Km.
Hal penting lainnya dalam dinamika perkembangan perhubungan nampak pada
rencana realisasi pembangunan jalan tol Ciawi- Sukabumi Cianjur. Walaupun
sesungguhnya rencana pembangunan sempat dimunculkan setidaknya sekitar sepuluh
tahun yang lalu tepatnya pada tahun 1997 realisasi (pematangan rencana) nya baru
terwujud pada tahun 2008 ini. Nampaknya nasib pengembangan jalur tol Sukabumi
tidak jauh berbeda dengan pengembangan revitalisasi pada jalur Kereta Api. Kendati
demikian, tentunya saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk sekedar beragurmentasi
dan mencari siapa yang salah atau benar, melainkan lebih menyikapi dengan upaya
yang cepat dan tepat.
Pengembangan kepelabuhanan juga telah menjadi faktor penting dalam
pengembangan Kabupaten Sukabumi terutama di wilayah tengah / Teluk
Palabuhanratu dan wilayah Selatan. Proporsi pembagian tugas antar pusat dan daerah
dalam pengelolaan kepelabuhanan sebagaimana diamanatkan dalam PP Nomor 38
Tahun 2007 menjadi perhatian utama, apalagi mengingat tugas yang diemban
tersebut akan menuntut pula keterampilan aparatur maupun fasilitas yang mampu
diupayakan oleh pemerintah daerah.

Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Sukabumi 2005-2025 II - 18


Tabel
Panjang Jalan Menurut Tingkat Pemerintah Berwenang dan Keadaan Jalan
di Kabupaten Sukabumi Tahun 2005 Dan 2006 (Dalam Km)

JALAN JALAN JALAN


URAIAN NEGARA PROPINSI KABUPATEN
2005 2006 2005 2006 2005 2006
[1] [2] [3] [4] [5] [6] [7]
I. Jenis Permukaan
a. Diaspal 49.932 49.932 426.448 426.448 994.053 998.902
b. Kerikil - - - - 480.100 583.350
c. Tanah - - - - 106.450 283.990
d. Tidak Dirinci - - - - - -
Jumlah 49.932 49.932 426.448 426.448 1.580.603 1.866.24
2
II. Kondisi Jalan Aspal
a. Baik 16.200 16.200 255.869 255.869 51.810 73.002
b. Sedang 28.932 28.932 85.290 85.290 455.670 358.820
c. Rusak Sedang - - - - 282.123 427.600
d. Rusak 4800 4800 63.967 63.967 135.650 103.880
e. Rusak Berat - - 21.322 21.322 68.800 35.600
Jumlah 49.932 49.932 426.448 426.448 994.053 998.902
III. Kelas Jalan
a. Kelas I - - - - - -
b. Kelas II 49.932 49.932 - - - -
c. Kelas III - - 426.448 426.448 - -
d. Kelas III A - - - - 278.500 278.500
e. Kelas III B - - - - 18.200 18.200
f. Kelas III C - - 1.155.300 1.155.30
g. Tidak dirinci - - - - - 0-
Jumlah 49.932 49.932 426.448 426.4481.452.000 1.452.000

Sumber : Dinas Bina Marga Kabupaten Sukabumi

Krisis ekonomi berdampak pada menurunnya kualitas sarana dan prasarana, terutama jalan
dan perkeretaapian yang kondisinya sangat memprihatinkan. Di samping masalah yang
disebabkan oleh krisis ekonomi, pembangunan prasarana transportasi mengalami kendala
terutama yang terkait dengan keterbatasan pembiayaan pembangunan, operasi dan
pemeliharaan sarana dan prasarana transportasi, serta rendahnya aksesibilitas pembangunan
sarana dan prasarana transportasi di beberapa wilayah terpencil, belum terpadunya
pembangunan transportasi dan pembangunan daerah bagi kelompok masyarakat umum,
sehingga penyediaan transportasi terbatas pelayanannya. Di sisi lain, peran serta swasta
belum berkembang terkait dengan kelembagaan dan peraturan perundang-undangan yang
belum kondusif.
Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Sukabumi 2005-2025 II - 19
Demikianlah gambaran situasi pada bidang transportasi/ perhubungan yang berfungsi
sebagai katalisator dalam mendukung pertumbuhan ekonomi dan pengembangan wilayah.
Bila segala penanganan masalah perhubungan dapat senantiasa dilakukan dan didukung
secara konsisten, berbagai masalah kemacetan, keselamatan dan ketertiban transportasi akan
dapat diredam secara signifikan. Lebih jauh dari itu, kehadiran jalur kereta api, jalan tol dan
pelabuhan akan menjadikan wilayah Utara (akses jalan tol dan kereta api) menjadi salah
satu tujuan investor dalam bidang perdaganan, industri dan permukiman (termasuk pemukim
yang bekerja di luar sukabumi) yang berkembang secara signifikan.
Demikian juga pemeranan Pelabuhan di Kota Palabuhanratu. Pertumbuhan di wilayah Utara
akan menjadi pertumbuhan yang amat membutuhkan antisipasi Pemda melalui pemeranan
dan kaderisasi sumber daya manusia yang optimal. Pertumbuhan yang amat pesat akan
membutuhkan penanganan sistem transportasi yang optimal. Bila hal ini dapat diantisipasi
dengan baik, pada akhirnya akan mampu mengubah wajah Kabupaten Sukabumi tidak
menjadi tertinggal atau bahkan dapat menjadi salah satu kabupaten termaju di Jawa Barat.

c. Energi, Ketenagalistrikan, Pos Dan Telematika


1) Energi dan Ketenagalistrikan
Di bidang sarana dan prasarana energi termasuk kelistrikan, permasalahan pokok yang
dihadapi, antara lain masih besarnya kesenjangan antara pasokan dan kebutuhan energi
termasuk tenaga listrik yang kondisinya makin kritis terutama karena masih rendahnya
kemampuan investasi dan pengelolaan penyediaan sarana dan prasarana energi, masih
tingginya ketergantungan konsumen terhadap bahan bakar minyak, serta adanya
regulasi-regulasi yang tidak konsisten.
Ketersediaan energi saat ini merupakan isu nasional yang membutuhkan penanganan
yang tepat. Potensi energi Panas Bumi di Kabupaten Sukabumi cukup besar, namun
pemanfaatannya masih terbatas. Keterbatasan pemanfaatan Sumber energi tersebut
harus direncanakan, diintegrasikan dan dikonsolidasikan secara optimal.
Tenaga listrik sebagai salah satu bentuk energi vital yang memegang peranan penting
dalam mendorong berbagai aktivitas sosial ekonomi untuk meningkatkan kesejahteraan
masyarakat. Perkembangan program listrik masuk Desa di Kabupaten Sukabumi tinggal
15 Desa yang belum terlayani dari 363 Desa dan 4 Kelurahan.

2) Pos Dan Telematika


Selama satu dekade terakhir telah terjadi pergeseran paradigma dalam perekonomian
dunia, yaitu beralihnya masyarakat industri menjadi masyarakat informasi yang
didorong oleh kemajuan teknologi serta ditandai dengan semakin meningkatnya peran
informasi dan ilmu pengetahuan dalam kehidupan manusia.
Dalam era globalisasi, informasi mempunyai nilai ekonomi untuk mendorong
pertumbuhan serta peningkatan daya saing bangsa. Masalah utama dalam pembangunan
pos dan telematika adalah terbatasnya kapasitas, jangkauan, serta kualitas sarana dan
prasarana pos dan telematika yang mengakibatkan rendahnya kemampuan masyarakat
mengakses informasi.

Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Sukabumi 2005-2025 II - 20


Dalam era informasi, pos dan telematika mempunyai arti strategis karena tidak saja
berperan dalam percepatan pembangunan ekonomi, tetapi juga dalam berbagai aspek
lain seperti peningkatan kualitas hidup masyarakat, serta pendukung aspek politik dan
pertahanan keamanan. Dalam rangka menjamin kelancaran arus informasi, perlu
dilakukan perluasan jangkauan serta peningkatan kapasitas dan kualitas
penyelenggaraan pos dan telematika.
Di Kabupaten Sukabumi secara umum layanan pos baru mecapai pada tingkat
Kecamatan, namun untuk menjangkau keseluruh pelosok Desa/ Kelurahan perlu adanya
upaya-upaya penanganan secara bertahap.

d. Perumahan Dan Permukiman


Di Kabupaten Sukabumi, penyediaan perumahan khususnya untuk masyarakat
berpendapatan menengah ke bawah, selama ini difasilitasi oleh Perum Perumnas sebagai
developer milik pemerintah, namun di dalam melakukan pembangunan perumahannya masih
terbatas.
Pembangunan prasarana dan sarana permukiman yang meliputi air bersih dan penyehatan
lingkungan (air limbah, persampahan dan drainase) banyak kemajuan yang telah dicapai,
namun demikian cakupan pelayanan air bersih dan penyehatan lingkungan di Kabupaten
Sukabumi masih jauh dari memadai. Tingkat pelayanan air bersih perpipaan di kawasan
perkotaan baru mencapai 14%, sedangkan di kawasan perdesaan baru mencapai 46,79%.
Akses penduduk ke prasarana dan sarana pengolahan air limbah dasar (tidak diolah)
mencapai 55%. Tingkat pengelolaan persampahan masih sangat rendah (cakupan pelayanan
baru mencapai 18%). Data menunjukkan bahwa jumlah sampah terangkut baru mencapai
30%. Terkait dengan pelayanan sistem drainase, hingga kini masih terdapat rumah tangga
yang mendiami kawasan-kawasan rawan banjir akibat buruknya kualitas dan kuantitas
sistem jaringan drainase.
Mengingat sifatnya sebagai kebutuhan dasar manusia yang pada umumnya tidak cost-
recovery maka keterlibatan badan usaha milik swasta dan masyarakat dalam penyediaan dan
pengelolaan prasarana dan sarana dasar permukiman sangat diperlukan karena
keterlibatannya sampai saat ini masih terbatas.

2.1.6 Politik
1. Perkembangan proses demokratisasi sejak tahun 1998 sampai dengan proses
penyelenggaraan Pemilu tahun 2004 telah memberikan peluang untuk mengakhiri masa
transisi demokrasi menuju arah proses konsolidasi demokrasi. Perubahan Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang dilaksanakan sebanyak empat kali
telah mengubah dasar-dasar konsensus dalam penyelenggaraan kehidupan berbangsa dan
bernegara, baik pada tataran kelembagaan negara maupun tataran masyarakat sipil. Sebagai
negara yang baru beberapa tahun memasuki proses demokratisasi, proses penataan
kelembagaan tidak jarang menimbulkan konflik-konflik kepentingan.
2. Berkenaan dengan Pemilu, keberhasilan penting yang telah diraih adalah telah
dilaksanakannya pemilu langsung anggota DPR, DPD, dan DPRD, serta pemilihan
presiden dan wakil presiden secara langsung, aman, dan demokratis pada tahun 2004.
Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Sukabumi 2005-2025 II - 21
Selain itu, pemilihan kepala daerah secara langsung pun sudah mampu dilaksanakan secara
baik di seluruh Indonesia sejak tahun 2005. Hal itu merupakan modal awal yang penting
bagi lebih berkembangnya demokrasi pada masa selanjutnya.
3. Perkembangan demokrasi selama ini ditandai pula dengan terumuskannya format
hubungan pusat-daerah yang baru. Akan tetapi, hal itu terlihat masih berjalan pada konteks
yang prosedural dan sifatnya masih belum substansial. Format yang sudah dibangun
didasarkan pada Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah
serta Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara
Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah yang pada intinya lebih mendorong kemandirian
daerah untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan mengatur mengenai
hubungan wewenang antara pemerintah pusat dan pemerintahan daerah provinsi,
kabupaten, dan kota, serta hubungan antarpemerintah daerah. Dewasa ini, pelaksanaan
desentralisasi dan otonomi daerah masih mengalami berbagai permasalahan, antara lain
disebabkan kurangnya koordinasi pusat-daerah dan masih belum konsistennya sejumlah
peraturan perundangan, baik antardaerah maupun antara pusat dan daerah.
4. Perkembangan demokrasi ditandai pula dengan adanya konsensus mengenai format baru
hubungan sipil-militer, telah terwujudnya suatu kesepakatan nasional baru mengenai
netralitas pegawai negeri sipil (PNS), TNI, dan Polri terhadap politik.
5. Kemajuan demokrasi terlihat pula dengan telah berkembangnya kesadaran-kesadaran
terhadap hak-hak masyarakat dalam kehidupan politik, yang dalam jangka panjang
diharapkan mampu menstimulasi masyarakat lebih jauh untuk makin aktif berpartisipasi
dalam mengambil inisiatif bagi pengelolaan urusan-urusan publik. Kemajuan itu tidak
terlepas dari berkembangnya peran partai politik, organisasi non-pemerintah dan
organisasi-organisasi masyarakat sipil lainnya. Walaupun demikian, perkembangan visi
dan misi partai politik ternyata belum sepenuhnya sejalan dengan perkembangan kesadaran
dan dinamika kehidupan sosial politik masyarakat dan tuntutan demokratisasi. Di samping
itu, kebebasan pers dan media telah jauh berkembang yang antara lain ditandai dengan
adanya peran aktif pers dan media dalam menyuarakan aspirasi masyarakat dan melakukan
pengawasan terhadap penyelenggaraan pemerintahan.
6. Kemajuan demokrasi juga telah mendorong masyarakat untuk lebih berani mengemukakan
aspirasinya. Salah satunya adalah keinginan untuk membentuk daerah otonom baru
(pemekaran wilayah) baik pada level kabupaten maupun desa. Aspirasi pembentukan
daerah otonom kabupaten berkembang sejalan dengan tuntutan untuk ikut serta dalam
berpemerintahan dan peningkatan pelayanan publik sesuai dengan peraturan perundang-
undangan.

2.1.7 Ketentraman dan Ketertiban


Kondisi ketentraman dan ketertiban masyarakat ditentukan oleh perkembangan kriminalitas,
termasuk terkendali dan berkurangnya kecenderungan friksi dan konflik sosial berdasarkan
perkembangan kepentingan masyarakat yang beragam. Penciptaan kondisi ketentraman dan
ketertiban masyarakat, juga berkaitan dengan konsistensi dalam penegakan hukum, dan
supremasi hukum yang dihormati

Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Sukabumi 2005-2025 II - 22


Ketentraman dan ketertiban masyarakat merupakan faktor utama yang memiliki peran sangat
penting dalam menciptakan kondisi yang kondusif dalam menyelenggarakan pembangunan di
Kabupaten Sukabumi. Upaya untuk mewujudkan ketentraman dan ketertiban masyarakat dalam
mewujudkan masyarakat yang aman, tenteram, tertib dan damai, telah dibangun peningkatan
peran masyarakat, pemerintah daerah dan lembaga kemasyarakatan. Akan tetapi, partisipasi
masyarakat dalam mendukung ketentraman dan ketertiban masyarakat berkurang yang
ditunjukkan dengan berkurangnya masyarakat dalam menjaga ketentraman dan ketertiban
dilingkungannya. Hal ini juga dapat diakibatkan dengan lemahnya penegakan peraturan daerah.

2.1.8 Hukum dan Hak Asasi Manusia


Pembangunan Bidang Hukum di daerah diarahkan untuk mewujudkan harmonisasi produk
hukum yang dapat mendukung pelaksanaan otonomi daerah, penegakkan hukum dan hak asasi
manusia. Namun proses demokratisasi mendorong penggantian berbagai aturan perundang-
undangan di tingkat nasional yang pada akhirnya berdampak terhadap daerah. Berbagai
perundang-undangan yang ditetapkan pemerintah pusat pada implementasinya mengalami
berbagai kendala karena belum didukung oleh sistem hukum yang mapan, aparatur hukum yang
bersih serta prasarana dan sarana yang memadai. Kondisi tersebut lebih lanjut menyebabkan
penegakkan hukum yang lemah dan perlindungan hukum dan hak asasi manusia (HAM) belum
dapat diwujudkan. Peraturan perundang-undangan yang baru, selain banyak yang saling
bertentangan juga tidak segera ditindaklanjuti dengan peraturan pelaksanaannya. Hal tersebut
mengakibatkan daerah mengalami kesulitan dalam menindaklanjuti dengan peraturan daerah
dan dalam implementasinya. Sampai dengan 2007 masih banyak peraturan daerah yang belum
dapat disesuaikan dengan peraturan perundang-undangan yang baru. Kondisi tersebut
menghambat penyelenggaraan pemerintahan di daerah, yang dapat berpengaruh terhadap
pelayanan kepada masyarakat.

Dalam penegakkan HAM telah disusun Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia (RAN-
HAM) yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan pembangunan. Rencana aksi tersebut
menjadi acuan semua pihak di daerah dalam implementasi peraturan perundang-undangan
mengenai HAM, terutama lembaga pemerintah yang memiliki kewajiban untuk memberikan
perlindungan dan memenuhi hak asasi warga negara.

2.1.9 Aparatur
Reformasi sistem politik yang diarahkan pada demokratisasi telah mendorong reformasi
birokrasi melalui penataan struktur, sistem dan kultur. Upaya penataan struktur masih
berlangsung setelah penetapan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 sebagai pengganti
Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. Pembenahan dan
penataan struktur organisasi pemerintahan di daerah masih mencari bentuk antara kebutuhan
daerah dengan tuntutan peraturan perundang-undangan. Hal tersebut menunjukkan bahwa
meskipun daerah diberi otonomi yang luas, tetapi dalam menetapkan struktur organisasi masih
bergantung kepada Pusat.

Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Sukabumi 2005-2025 II - 23


Penataan sistem untuk lebih memudahkan penyelenggaraan administrasi pemerintahan
mengalami kendala, karena dipengaruhi oleh peraturan perundang-undangan yang tidak sinkron
atau belum ada peraturan pelaksanaannya. Penetapan standar pelayanan minimal untuk
beberapa bidang sudah dapat diimpelementasikan meskipun pengawasan terhadap
pelaksanaannya belum dapat dilakukan. Untuk standar operasional prosedur (SOP) dalam setiap
alur kegiatan administrasi pemerintahan belum dapat diimplementasikan.

Hingga saat ini, pelaksanaan program pembangunan aparatur masih menghadapi berbagai
permasalahan dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan. Permasalahan tersebut,
antara lain masih terjadinya praktik-praktik penyalahgunaan kewenangan dan belum
terwujudnya harapan masyarakat atas pelayanan yang cepat, murah, manusiawi, dan
berkualitas.

Reformasi birokrasi menginginkan perubahan kultur birokrasi yang mengarah pada


profesionalisme, beretika, impersonal, dan taat aturan. Transisi dalam reformasi birokrasi masih
mengalami kendala dalam mewujudkan birokrasi yang ideal. Kultur tradisional dan primordial
masih mewarnai birokrasi Pemerintah Kabupaten Sukabumi walaupun dari sisi sarana dan
prasarana telah cukup modern, namun dukungan teknologi komunikasi belum dimanfaatkan
secara optimal. Hal lainnya adalah masih rendahnya tingkat kesejahteraan aparatur.

Jumlah aparatur yang secara kuantitas mencukupi, tetapi aspek kualitasnya masih rendah dalam
arti dari sisi kedisiplinan, profesionalisme dan etika. Hal tersebut mempengaruhi kinerja
aparatur secara umum dan terutama dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Kondisi sarana dan prasarana aparatur sudah cukup baik dengan gedung kantor yang layak dan
seluruh organisasi perangkat daerah telah memiliki gedung tersendiri. Namun sarana dan
prasarana yang secara langsung memberikan pelayanan kepada masyarakat masih perlu
ditingkatkan karena belum sesuai dengan standar pelayanan minimal, seperti unit pengelola
teknis daerah dalam pemungutan pajak daerah, dan unit perijinan.

2.1.10 Tata Ruang


1. Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi (RTRWP) Jawa Barat mengamanatkan proporsi
kawasan lindung sebesar 45% dan kawasan budidaya 55%. Namun pengendalian
pemanfaatan ruang menjadi kendala dalam mewujudkan proporsi tersebut. Belum
tertata dan terkendalinya pertumbuhan lahan terbangun yang cenderung acak dan
menyebar, serta degradasi lingkungan di wilayah Jabar Selatan merupakan ancaman
terhadap daya dukung lingkungan. Selain itu, terjadinya pergeseran tutupan lahan hutan dan
sawah menjadi permukiman dan industri merupakan permasalahan dalam upaya
pengendalian tata ruang.
2. Pengembangan wilayah dalam struktur tata ruang Jawa Barat sampai saat ini masih
timpang. Dalam konteks wilayah utara-tengah-selatan Jawa Barat, terjadi pemusatan
pertumbuhan perkotaan yang sangat pesat di wilayah utara dan tengah, sementara wilayah
perdesaan di selatan Jawa Barat, termasuk Kabupaten Sukabumi, yang seharusnya
dikembangkan menjadi wilayah pendukung dari aspek lingkungan dan pertanian agro
kurang mendapat sentuhan pemerataan pembangunan. Sementara itu di wilayah perbatasan

Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Sukabumi 2005-2025 II - 24


masih terjadi ketidaksetaraan dalam penyediaan sarana dan prasarana dasar permukiman
maupun prasarana jalan.
3. Secara umum, tata ruang Indonesia saat ini, termasuk Jawa Barat dan Kabupaten Sukabumi,
dalam kondisi krisis. Krisis tata ruang terjadi karena pembangunan yang dilakukan di suatu
wilayah masih sering dilakukan tanpa mengikuti rencana tata ruang, tidak
mempertimbangkan keberlanjutan dan daya dukung lingkungan, serta tidak memperhatikan
kerentanan wilayah terhadap terjadinya bencana alam. Keinginan untuk memperoleh
keuntungan ekonomi jangka pendek seringkali menimbulkan keinginan untuk
mengeksploitasi sumber daya alam secara berlebihan sehingga menurunkan kualitas dan
kuantitas sumber daya alam dan lingkungan hidup, serta memperbesar risiko timbulnya
korban akibat bencana alam. Selain itu, sering terjadi konflik pemanfaatan ruang antar-
sektor, contohnya konflik antara kehutanan dan pertambangan. Beberapa penyebab utama
terjadinya permasalahan tersebut adalah (a) belum tepatnya kompetensi sumber daya
manusia dalam bidang pengelolaan penataan ruang, (b) rendahnya kualitas dari rencana tata
ruang, (c) belum diacunya perundangan penataan ruang sebagai payung kebijakan
pemanfaatan ruang bagi semua sektor; dan (d) lemahnya penerapan hukum berkenaan
dengan pemanfaatan ruang dan penegakan hukum terhadap pelanggaran berkenaan dengan
pemanfaatan ruang.
4. Pada umumnya masyarakat yang berada di wilayah-wilayah tertinggal masih mempunyai
keterbatasan akses terhadap pelayanan sosial, ekonomi, dan politik serta terisolir dari
wilayah di sekitarnya. Oleh karena itu, kesejahteraan kelompok masyarakat yang hidup di
wilayah tertinggal memerlukan perhatian dan keberpihakan pembangunan yang besar dari
pemerintah.
Permasalahan yang dihadapi dalam pengembangan wilayah tertinggal, termasuk yang masih
dihuni oleh komunitas adat terpencil, antara lain, (1) terbatasnya akses transportasi yang
menghubungkan wilayah tertinggal dengan wilayah yang relatif lebih maju; (2) kepadatan
penduduk relatif rendah dan tersebar; (3) kebanyakan wilayah-wilayah tersebut miskin
sumber daya, khususnya sumber daya alam dan manusia; (4) belum diprioritaskannya
pembangunan di wilayah tertinggal oleh pemerintah daerah karena dianggap tidak
menghasilkan pendapatan asli daerah (PAD) secara langsung; dan (5) belum optimalnya
dukungan sektor terkait untuk pengembangan wilayah-wilayah tersebut.
5. Banyak wilayah yang memiliki produk unggulan dan lokasi strategis di setiap wilayah
Kabupaten Sukabumi belum dikembangkan secara optimal. Hal itu disebabkan, antara lain
(1) adanya keterbatasan informasi pasar dan teknologi untuk pengembangan produk
unggulan; (2) belum adanya sikap profesionalisme dan kewirausahaan dari pelaku
pengembangan kawasan di daerah; (3) belum optimalnya dukungan kebijakan daerah yang
berpihak pada petani dan pelaku usaha swasta; (4) belum berkembangnya infrastruktur
kelembagaan yang berorientasi pada pengelolaan pengembangan usaha yang berkelanjutan
dalam perekonomian daerah; (5) masih lemahnya koordinasi, sinergi, dan kerja sama
diantara pelaku-pelaku pengembangan kawasan, baik pemerintah, swasta, lembaga non-
pemerintah, dan masyarakat, serta antara pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten/kota,
dalam upaya meningkatkan daya saing produk unggulan; (6) masih terbatasnya akses petani
dan pelaku usaha skala kecil terhadap modal pengembangan usaha, input produksi,

Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Sukabumi 2005-2025 II - 25


dukungan teknologi, dan jaringan pemasaran, dalam upaya mengembangkan peluang usaha
dan kerja sama investasi; (7) keterbatasan jaringan prasarana dan sarana fisik dan ekonomi
dalam mendukung pengembangan kawasan dan produk unggulan daerah; serta (8) belum
optimalnya pemanfaatan kerangka kerja sama antar-wilayah untuk mendukung peningkatan
daya saing kawasan dan produk unggulan.
6. Wilayah perbatasan, termasuk wilayah laut memiliki potensi SDA yang cukup besar serta
merupakan wilayah yang sangat strategis bagi pertahanan dan keamanan negara. Walaupun
demikian, pembangunan di beberapa wilayah perbatasan masih sangat jauh tertinggal.
Permasalahan utama dari ketertinggalan pembangunan di wilayah perbatasan adalah arah
kebijakan pembangunan kewilayahan yang selama ini cenderung berorientasi inward
looking sehingga seolah-olah kawasan perbatasan hanya menjadi halaman belakang dari
pembangunan daerah. Akibatnya, wilayah-wilayah perbatasan dianggap bukan merupakan
wilayah prioritas pembangunan oleh pemerintah pusat, provinsi maupun kabupaten.
7. Pertumbuhan perkotaan yang ditimbulkan oleh tumbuh-kembang kota-kota kecamatan saat
ini masih sangat terpusat di wilayah Utara Kabupaten Sukabumi, sedangkan pertumbuhan
kota-kota kecamatan di wilayah Tengah dan Selatan Kabupaten Sukabumi, berjalan lambat
dan tertinggal. Pertumbuhan perkotaan yang tidak seimbang ini ditambah dengan adanya
kesenjangan pembangunan antar-wilayah menimbulkan urbanisasi yang cenderung tidak
terkendali.
Dampak negatif yang ditimbulkan, antara lain, adalah (1) terjadinya eksploitasi yang
berlebihan terhadap sumber daya alam di sekitar kota-kota tersebut untuk mendukung dan
meningkatkan pertumbuhan ekonomi; (2) terjadinya kecenderungan konversi lahan
pertanian produktif menjadi kawasan permukiman, perdagangan, dan industri; (3)
menurunnya kualitas lingkungan fisik kawasan perkotaan akibat terjadinya perusakan
lingkungan dan timbulnya polusi; (4) menurunnya kualitas hidup masyarakat di perkotaan
karena permasalahan sosial-ekonomi, serta penurunan kualitas pelayanan kebutuhan dasar
perkotaan; serta (5) tidak mandiri dan terarahnya pembangunan kota-kota baru sehingga
justru menjadi tambahan beban bagi kota inti. Dampak negatif lain yang ditimbulkan
terhadap kota-kota di wilayah lain, yaitu (1) tidak meratanya penyebaran penduduk; (2)
tidak optimalnya fungsi ekonomi perkotaan, terutama di kota-kota kecil, dalam menarik
investasi dan tempat penciptaan lapangan pekerjaan; dan (3) tidak optimalnya peranan kota-
kota dalam memfasilitasi pengembangan wilayah.
8. Kondisi sosial ekonomi masyarakat yang tinggal di perdesaan umumnya masih jauh
tertinggal dibandingkan dengan yang tinggal di perkotaan. Hal itu merupakan konsekuensi
dari perubahan struktur ekonomi dan proses urbanisasi, baik investasi ekonomi oleh swasta
maupun pemerintah, sehingga infrastruktur dan kelembagaan cenderung terkonsentrasi di
daerah perkotaan. Selain itu, kegiatan ekonomi di wilayah perkotaan masih banyak yang
tidak sinergis dengan kegiatan ekonomi yang dikembangkan di wilayah perdesaan.
Akibatnya, peran kota yang diharapkan dapat mendorong perkembangan perdesaan justru
memberikan dampak yang merugikan pertumbuhan perdesaan.

Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Sukabumi 2005-2025 II - 26


2.2 Tantangan
2.2.1 Perkembangan Penduduk dan Indeks Pembangunan Manusia

1. Kondisi Kabupaten Sukabumi dalam 20 tahun mendatang akan menghadapi tekanan jumlah
penduduk cukup tinggi. Pada tahun 2025 jumlah penduduk Kabupaten Sukabumi
diperkirakan sekitar 3.240.357 jiwa. Peningkatan ini dipengaruhi beberapa faktor
diantaranya dengan semakin tingginya Angka Harapan Hidup dan perkawinan usia subur.
Pengendalian jumlah penduduk dan laju pertumbuhannya perlu diperhatikan untuk
terwujudnya penduduk yang tumbuh dengan seimbang guna peningkatan kualitas, daya
saing dan kesejahteraannya. Selain itu persebaran dan mobilitas penduduk perlu
mendapatkan perhatian sehingga ketimpangan persebaran dan kepadatan penduduk wilayah
Utara dan Selatan yang dapat menimbulkan ketimpangan pemberian pelayanan sosial
ekonomi di masing-masing wilayah.
2. Dalam hal pembangunan manusia yang diukur melalui IPM, konsentrasi penanganan
diarahkan kepada tiga parameter yaitu indeks pendidikan, indeks kesehatan dan indeks daya
beli. Berdasarkan kecenderungan masing-masing parameter memiliki kinerja yang cukup
baik terutama indeks pendidikan dan indeks kesehatan yang telah menjadi komitmen
nasional, sementara agak sedikit lambat peningkatannya pada indek daya beli.
Memperhatikan fakta yang ada tantangan peningkatan IPM pada masa datang akan lebih
terfokus pada peningkatan indeks daya beli. Namun demikian pelayanan pendidikan dan
kesehatan bagi masyarakat harus senantiasa ditingkatkan untuk menjamin peningkatan
indeks pendidikan dan indeks kesehatan.
3. Prediksi jumlah angkatan kerja pada akhir tahun 2025 diperkirakan mencapai 60 % dengan
jumlah penduduk bekerja diperkirakan sekitar 50 % dan pencari kerja diperkirakan 10 %.
Meningkatnya jumlah angkatan kerja yang merupakan kelompok usia produktif perlu
disikapi dengan berbagai upaya untuk membuka kesempatan kerja yang lebih besar,
meningkatkan produktivitas dan keterampilan tenaga kerja, mengurangi permasalahan
perburuhan dalam rangka mengendalikan jumlah pengangguran yang diprediksi semakin
besar di masa mendatang.
4. Masalah kemiskinan juga akan sangat berkaitan dengan ketidakmampuan individu untuk
memenuhi kebutuhan dasar minimal untuk hidup layak. Kebutuhan akan sandang, pangan,
papan serta pendidikan dan kesehatan merupakan tantangan yang harus mendapatkan
perhatian dalam rangka penanggulangan kemiskinan. Oleh sebab itu upaya penanggulangan
kemiskinan merupakan prioritas utama dalam pembangunan jangka panjang sehingga
diharapkan pada tahun 2025 jumlah penduduk miskin terus berkurang.

2.2.2 Sosial Budaya dan Kehidupan Beragama

Berdasarkan kecenderungan, tantangan pembangunan bidang social budaya dan kehidupan


dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Tantangan yang dihadapi pembangunan pendidikan adalah menyediakan pelayanan
pendidikan yang berkualitas untuk meningkatkan jumlah proporsi penduduk yang
menyelesaikan pendidikan dasar sampai ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi,

Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Sukabumi 2005-2025 II - 27


menurunkan jumlah penduduk yang buta aksara, serta menurunkan kesenjangan tingkat
pendidikan yang cukup tinggi antar-kelompok masyarakat, termasuk antara penduduk kaya
dan penduduk miskin, antara penduduk perkotaan dan perdesaan, antara penduduk di
wilayah maju dan tertinggal, dan antar-jenis kelamin.
Pembangunan bidang pendidikan perlu didorong untuk mencapai dimensi kualitatif
sumberdaya manusia yang selain memiliki keterampilan berdasarkan pencapaian proses
akademis, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta moralitas dan juga komitmen
terhadap perkembangan kemajuan masyarakat. Hal tersebut mengandung makna, bahwa
pembangunan pendidikan semestinya dilandasi oleh tujuan, kebijakan dan sasaran yang
berdampak positif secara langsung terhadap kinerja pembangunan daerah. Termasuk di
dalamnya pengembangan inovasi penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan sebagai
bagian tak terpisahkan dari proses transformasi nilai kehidupan dalam tata kehidupan ber-
peradaban global.
Pada tingkat pendidikan dasar dan menengah, kualitas lulusan harus menjadi perhatian
utama karena semakin tingginya persaingan untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang
lebih tinggi dan semakin kompetitifnya ketersediaan lapangan pekerjaan. Demikian pula
halnya dengan pemberdayaan lembaga pendidikan tinggi dalam penyelenggaraan
pembangunan daerah, menjadi kebutuhan yang perlu diprioritaskan. Dalam hal pe-
ngembangan sains dan teknologi, peningkatan kemampuan masyarakat perdesaan dalam
pemanfaatan teknologi tepat guna (TTG) juga perlu mendapatkan penanganan yang
optimal.
Berkaitan dengan semakin pesatnya perkembangan metodologi dan teknologi dalam bidang
pendidikan, perlu dilakukan antisipasi melalui pengembangan inovasi dan sistem tata kelola
pendidikan, pemberdayaan profesi guru dengan meningkatkan kompetensinya,
penyempurnaan pembangunan sarana dan prasarana yang lebih tanggap teknologi, serta
pengembangan kurikulum berbasis kompetensi yang dilandasi oleh nilai-nilai kecerdasan
dan kearifan budaya lokal.

2. Di bidang kesehatan, tantangan pembangunan yang dihadapi, antara lain, adalah


mengurangi kesenjangan status kesehatan masyarakat dan akses terhadap pelayanan
kesehatan antar-wilayah, tingkat sosial ekonomi, dan gender; meningkatkan jumlah dan
penyebaran tenaga kesehatan yang kurang memadai; meningkatkan akses terhadap fasilitas
kesehatan; dan mengurangi beban ganda penyakit yaitu pola penyakit yang diderita oleh
sebagian besar masyarakat adalah penyakit infeksi menular, namun pada waktu yang
bersamaan terjadi peningkatan penyakit tidak menular serta meningkatnya penyalahgunaan
narkotik dan obat-obat terlarang.
Masalah kesehatan masyarakat di Kabupaten Sukabumi masih dihadapkan pada beberapa
hal yang perlu menjadi perhatian semua pihak mengingat tantangan dan kondisi ke depan
dengan segala perubahan-perubahan yang ada. Kabupaten Sukabumi selain masih harus
menghadapi penyakit infeksi berbasis lingkungan juga harus menghadapi penyakit-penyakit
menular lainnya. Tingginya kesenjangan status kesehatan dan rendahnya akses terhadap
pelayanan kesehatan antar wilayah, penggunaan teknologi di bidang kesehatan merupakan
kondisi yang menjadi tantangan bagi para stakeholder untuk mengatasinya. Yang perlu juga

Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Sukabumi 2005-2025 II - 28


menjadi perhatian adalah bagaimana pemerintah memfasilitasi masyarakat sebagai mitra
pemerintah dalam pelaksanaan berbagai program pembangunan masyarakat.
Memperhatikan kondisi tersebut, dalam kurun waktu 2005-2025, pembangunan kesehatan
lebih didorong pada tercapainya kondisi yang memungkinkan terciptanya perilaku sehat dan
lingkungan yang sehat baik fisik maupun sosial yang mendukung produktivitas masyarakat.
Untuk mencapai keadaan tersebut, pembangunan kesehatan diarahkan pada peningkatan
upaya pelayanan kesehatan yang berkualitas, pembiayaan kesehatan, SDM kesehatan, obat
dan perbekalan kesehatan, pemberdayaan masyarakat, penggunaan teknologi maju yang
menjangkau seluruh lapisan masyarakat dan manajemen kesehatan yang berkualitas. Upaya
tersebut dilakukan dengan memperhatikan epidemiologi penyakit, perubahan lingkungan
dengan semangat kemitraan, tuntutan jaman, sosial budaya setempat dan juga peningkatan
perilaku dan kemandirian masyarakat pada upaya promotif dan preventif. Selain itu, perlu
juga didorong kepada berlangsungnya paradigma hidup sehat yang terintegrasi pada
pencapaian kualitas hidup penduduk yang sehat dan berumur panjang.

3. Di bidang pemberdayaan perempuan dan anak, tantangan pembangunan yang dihadapi


adalah kualitas hidup dan peran perempuan dan anak di berbagai bidang pembangunan
masih rendah. Selain itu, tantangan yang masih harus dihadapi adalah masih adanya stigma
di masyarakat terhadap perempuan terutama di perdesaan dimana perempuan merupakan
makhuk lemah, porsi perempuan adalah rumah, perempuan merupakan objek kaum laki-laki
dan diskriminasi perlakuan di dunia usaha maupun politik. Oleh karena itu, kesetaraan
gender menjadi masalah penting dalam penyusunan perencanaan dan pelaksanaan program
pembangunan sehingga kondisi yang diarahkan pada tahun 2025 adalah peningkatan
pemahaman mengenai kesetaraan gender, advokasi/hukum, peningkatan kualitas hidup dan
peran perempuan, penurunan tindak kekerasan, penurunan eksploitasi dan diskriminasi
terhadap perempuan di berbagai sektor serta penguatan kelembagaan, kelompok
masyarakat (khususnya perempuan) dan jaringan kemitraan pengarusutamaan gender.

4. Berdasarkan gambaran kondisi kepemudaan di Kabupaten Sukabumi, pemuda Kabupaten


Sukabumi memilki potensi dan peluang yang cukup besar, sekaligus kelemahan dan
tantangan yang tidak ringan. Potensi dalam hal ini adalah jumlah yang cukup besar, pola
pikir dan semangat yang tinggi. Kelemahannya adalah kondisi perkembangan psikologis
pemuda yang belum stabil, masih pada tahap pencarian identitas diri dan lemahnya
sandaran nilai serta norma. Tantangan yang muncul di kalangan pemuda adalah masa depan
yang penuh kompetisi baik keterampilan, idealisme maupun nilai budaya. Sementara
peluang yang dimiliki oleh pemuda Kabupaten Sukabumi adalah ruang gerak atau ekspresi
idealisme yang terbuka, baik dalam konteks sistem nilai, sistem pendidikan, sistem ekonomi
maupun sistem politik.

5. Di bidang keolahragaan, Kabupaten Sukabumi memiliki potensi olahraga yang baik namun
demikian masih ada cabang-cabang olahraga yang tidak menyumbangkan medali dalam
event-event yang berskala regional dan nasional. Ini berarti bahwa pembinaan olahraga
prestasi di Kabupaten Sukabumi belum dilakukan secara optimal. Untuk itu perlu
diperhatikan peran organisasi-organisasi masing-masing cabang olahraga. Kondisi lain yang
menjadi tantangan adalah potensi olahraga di Kabupaten Sukabumi bersifat menyebar.

Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Sukabumi 2005-2025 II - 29


Untuk itu perlu pembinaan yang komprehensif agar seluruh potensi olahraga di Kabupaten
Sukabumi dapat dikembangkan secara baik. Untuk itu, prioritas utamanya adalah
melanjutkan proses pembangunan bidang olah raga yang telah berlangsung selama ini, serta
penguatan peran dan tanggungjawab masyarakat dalam mengembangkan sarana, prasarana,
dan kegiatan olah raga.
Seiring dengan kondisi aktual pembangunan keolahragaan saat ini, dirasa perlu
mengembangkan institusi birokrasi pemerintahan di bidang keolahragaan guna
memperhatikan sinergitas sistem pembinaan olahraga baik menyangkut olahraga
pendidikan, olahraga rekreasi maupun olahraga prestasi. Di samping itu pengembangan
ruang publik dan fasilitas olahraga agar bisa bertambah sehingga para pelajar dan
masyarakat luas dapat terlayani secara baik untuk berolahraga. Demikian pula
pengembangan sarana dan prasarana keolahragaan demi kepentingan pembinaan maupun
prestasi olahraga regional dan nasional secara terpadu perlu segera diwujudkan agar
Kabupaten Sukabumi dapat menjadi kekuatan salah satu kekuatan inti olahraga Jawa Barat.
Oleh karena itu, pengembangan olahraga ke depan mesti ditangani secara sungguh-sungguh
untuk mewujudkan kualitas kehidupan masyarakat yang berbudaya seiring dengan lahirnya
Undang Undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan.

6. Derasnya arus globalisasi yang didorong oleh kemajuan teknologi komunikasi dan
informasi menjadi tantangan bangsa Indonesia dan khusunya masyarakat Kabupaten
Sukabumi untuk dapat mempertahankan jati diri sekaligus memanfaatkannya untuk
pengembangan toleransi terhadap keragaman budaya dan peningkatan daya saing melalui
penerapan nilai-nilai Pancasila dan penyerapan nilai-nilai universal. Kondisi kebudayaan
dua dasawarsa ke depan akan menghadapi berbagai perubahan sebagai imbas perubahan
global dunia yang sekaligus menjadi tantangan bagi terwujudnya kondisi yang diinginkan
sampai dengan tahun 2025. Nilai-nilai tradisional, peninggalan sejarah, kepurbakalaan dan
permuseuman, pada masa yang akan datang perkembangannya akan semakin bertentangan
dengan arus perubahan teknologi informasi dan era komputerisasi, sehingga diperlukan
upaya perlindungan dan pelestarian terhadap keempat aspek kebudayaaan tersebut, agar
terhindar dari kepunahan dan dapat memberikan manfaat bagi pembangunan budaya daerah.
Untuk itu perlu upaya konkrit yang berkesinambungan terhadap pelestarian dan
pengembangan bahasa dan budaya daerah. Berbagai upaya yang perlu dilakukan sebagai
bentuk pencegahan terhadap menurunnya nilai-nilai luhur budaya di masyarakat, perlu
dilakukan sejak dini. Diterapkannya muatan pendidikan nilai-nilai budaya daerah terhadap
anak usia dini dan usia pendidikan dasar, akan menjadi salah satu strategi yang optimal.
Selan itu diperlukan upaya revitalisasi terhadap lembaga/organisasi kesenian dan
kebudayaan yang didukung sepenuhnya oleh pemerintah daerah bekerjasama dengan pihak
swasta, juga upaya pelestarian cagar dan desa budaya, dan pengembangan nilai-nilai yang
ada di dalamnya.

7. Pembangunan manusia pada intinya adalah pembangunan manusia seutuhnya. Tantangan


yang dihadapi dalam pembangunan agama adalah mengaplikasikan ajaran agama dalam
kehidupan sehari-hari, mewujudkan kerukunan intern dan antar-umat beragama, serta
memberikan rasa aman dan perlindungan dari tindak kekerasan.

Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Sukabumi 2005-2025 II - 30


Pembangunan di bidang keagamaan mesti didorong untuk menciptakan kondisi terbaik bagi
berlangsungnya proses pendidikan dan pengamalan nilai-nilai agama di lingkungan
keluarga. Semakin derasnya arus informasi dan pengaruh budaya asing yang masuk melalui
berbagai media, perlu mendapat perhatian serius dari berbagai pihak. Bersamaan dengan
pembangunan sarana dan prasarana keagamaan, dalam proses pembangunan jangka panjang
Kabupaten Sukabumi 2005-2025, pengkajian dan aplikasi ajaran agama memperoleh
prioritas. Dalam kerangka pembangunan agama, seluruh organisasi kemasyarakatan,
lembaga pendidikan, dan pemangku kepentingan lainnya bertanggungjawab untuk
mengembangkan seluruh potensi umat beragama untuk menciptakan kondisi kehidupan
beragama secara fungsional dan proporsional. Terkait dengan hal itu, pengelolaan sumber
dana keumatan terutama zakat, infak dan sodaqoh perlu dikelola sesuai dengan prinsip-
prinsip tata kelola yang baik. Pembangunan sektor keagamaan juga memberi prioritas bagi
pemberdayaan potensi ekonomi umat, sesuai prinsip-prinsip dasar keagamaan yang dianut.

8. Tantangan yang dihadapi dalam pembangunan bidang sosial adalah beban permasalahan
kesejahteraan sosial yang semakin beragam dan meningkat akibat berbagai krisis sosial.
Untuk meningkatkan kesejahteraan sosial masyarakat terutama dalam penanganan
penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) perlu dilakukan berbagai upaya oleh
pemerintah Kabupaten Sukabumi diantaranya pengembangan peran lembaga swadaya
masyarakat, karang taruna, dan panti rehabilitasi sosial agar dikelola secara lebih
profesional dan komprehensif, memberikan motivasi dan inovasi kepada pemerintah di
bawahnya guna merespon berkembangnya permasalahan sosial seperti perjudian, prostitusi
dan penyalahgunaan narkoba. Tantangan ke depan, beban permasalahan kesejahteraan
sosial akan semakin beragam dan meningkat akibat terjadinya berbagai krisis sosial seperti
menipisnya nilai budaya dan agama, meningkatnya ekses dan gejala sosial dampak dari
disparitas kondisi sosial ekonomi, serta terjadinya bencana sosial dan bencana alam.
Berdasarkan kondisi tersebut, dalam kurun waktu 2005-2025 taraf kesejahteraan sosial
masyarakat diarahkan pada upaya pemberdayaan, pelayanan, pencegahan, rehabilitasi,
pengembangan dan perlindungan sosial bagi masyarakat rentan termasuk penyandang
masalah kesejahteraan sosial (PMKS). Disamping itu, penanggulangan PMKS menjadi
PSKS (potensi kesejahteraan sosial) perlu diupayakan terus menerus melalui penggalian dan
pendayagunaan potensi yang dimiliki, meningkatkan sarana dan prasarana, peningkatan
mutu sekolah serta pelatihan/optimalisasi bagi organisasi/lembaga sosial serta partisipasi
masyarakat dalam upaya pemberdayaan masyarakat sehingga tercipta kondisi sosial
kemasyarakatan yang sesuai norma-norma agama dan budaya.

2.2.3 Ekonomi

Peningkatan pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan dan berkualitas guna mewujudkan


secara nyata peningkatan kesejahteraan sekaligus mengurangi kemiskinan dan kesenjangan
ekonomi serta pengangguran merupakan agenda pembangunan ekonomi Kabupaten Sukabumi
dalam 20 tahun mendatang.
1. Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) Kabupaten Sukabumi tahun 20052025 diperkirakan
akan berada pada kisaran 5 % sampai 7 % per tahun. Struktur ekonomi Kabupaten

Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Sukabumi 2005-2025 II - 31


Sukabumi ke depan masih didominasi oleh empat sektor utama yaitu sektor Pertanian,
pertambangan, industri pengolahan, perdagangan hotel dan restoran, jasa lainnya. seiring
dengan era perdagangan bebas yang akan terus mewarnai perkembangan ekonomi dunia di
masa mendatang, peningkatan daya saing ekonomi daerah menjadi faktor penentu bagi
keberlanjutan pembangunan ekonomi daerah. Penguatan Koperasi, Usaha Mikro, Kecil dan
Menengah akan menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi daerah, yang didukung oleh
reorientasi ekonomi kepada basis penelitian dan teknologi serta pasar.

2. Tantangan peningkatan investasi di daerah ke depan tidak lepas dari stabilitas keamanan
dan ketertiban yang diiringi oleh kepastian hukum, ketersediaan infrastruktur wilayah,
ketersediaan dan kepastian lahan, perburuhan dan masalah lainnya termasuk proses
perijinan pembangunan. Pemecahan masalah tersebut sangat menentukan keberhasilan
untuk menarik investasi agar dapat menanamkan modal di Kabupaten Sukabumi. Upaya
promosi investasi juga menjadi faktor lain yang menentukan untuk menarik investasi baru.

3. Permasalahan utama dalam pengembangan pertanian di Kabupaten Sukabumi adalah skala


usaha tani yang semakin mengecil sehingga kurang kompetitif, rendahnya akses terhadap
teknologi baru, permodalan, informasi, dan pasar. Pada sisi lain adanya konversi lahan
usaha tani ke non-pertanian menyebabkan terjadi konsentrasi kapital di non-pertanian yang
semakin menekan posisi rebut tawar sektor pertanian. Pengembangan sarana dan prasarana
yang ada relatif belum dapat memperbaiki kinerja pertanian, peningkatan kesempatan kerja
maupun pengurangan kemiskinan. Di level pemerintahan atau perumus kebijakan,
permasalahan utama yang dihadapi adalah cara pandang yang masih parsial, sehinggga
timbul masalah koordinasi dan sinkronisasi antar subsistem dalam sistem pertanian.
Berdasarkan permasalahan di atas, pengembangan pertanian diarahkan menjadi penggerak
perekonomian daerah dan menjadi bagian integral dari arah dan pembangunan. Tingkat
kebutuhan konsumsi pangan di masa yang akan datang untuk beberapa komoditi relatif
akan meningkat secara perlahan. Peningkatan ini berhubungan erat dengan tingkat
pertumbuhan penduduk serta proyeksi tingkat konsumsi per kapita per tahun.

4. Upaya untuk mendukung pencapaian pertumbuhan sektor industri jangka panjang,


diarahkan pada penguatan struktur industri dan peningkatan daya saing industri yang
berkelanjutan. Pembangunan industri yang berkelanjutan didasarkan pada industri yang
berbasis pada sumber daya alam lokal dan penguasaan teknologi dengan didukung oleh
sumber daya manusia yang kompeten. Dengan demikian diharapkan sektor industri dapat
menjadi penggerak utama perekonomian daerah yang memiliki struktur keterkaitan dan
kedalaman yang kuat serta memiliki daya saing yang berkelanjutan dan tangguh di pasar
domestik dan internasional.

5. Adapun tantangan ke depan untuk pengembangan perdagangan di Kabupaten Sukabumi


adalah di fokuskan peningkatan akses pasar ekspor diiringi dengan peningkatan kualitas dan
desain produk, serta memperluas kawasan dan tujuan ekspor. Selain itu, untuk penguatan
perdagangan dalam negeri di tujukan peningkatan sarana distribusi barang, penguatan pasar
domestik, menggalakkan pemberdayaan produk dalam negeri dan peningkatan
perlindungan konsumen.

Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Sukabumi 2005-2025 II - 32


6. Tantangan pengembangan pariwisata 20 tahun mendatang adalah mewujudkan Kabupaten
Sukabumi sebagai daerah kunjungan wisata utama, dimana Potensi wisata Kabupaten
Sukabumi cukup banyak dengan objek dan atraksi wisata yang variatif dan menarik.
Proyeksi jumlah kunjungan wisatawan ke Kabupaten Sukabumi sebesar 2.000.000
wisatawan per tahunnya dengan rincian 1.950.000 untuk wisatwan domestik dan 50.000
wisatawan asing. Guna mendukung pertumbuhan wisatawan ke Kabupaten Sukabumi, maka
pengembangan pariwisata difokuskan pada pengembangan daya tarik wisata yang berakar
pada alam dan budaya sehingga dapat mencerminkan jati diri masyarakat Kabupaten
Sukabumi, yang didukung oleh kompetensi sumber daya manusia, pengelola daya tarik
wisata dan fasilitas penunjang wisata.

2.2.4 Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup

Tantangan besar yang dihadapi Kabupaten Sukabumi sampai tahun 2025 adalah memulihkan
dan menguatkan kembali daya dukung lingkungan dalam pelaksanaan pembangunan.

1. Pada satu sisi, kemajuan dapat diperoleh dengan memanfaatkan potensi daerah berupa : (a)
sumber daya alam daratan (seperti hutan, tambang, dan lahan untuk budidaya yang
cakupannya dibatasi oleh wilayah administrasi) dan (b) sumber daya kelautan, yang tersebar
di wilayah laut teritorial, zona ekonomi ekslusif sampai dengan 200 mil laut dan hak
pengelolaan di wilayah laut lepas yang jaraknya dapat lebih dari 200 mil laut.
Mengoptimalkan pendayagunaan sumber daya kelautan untuk perhubungan laut, perikanan,
pariwisata, pertambangan, industri maritim, bangunan laut, dan jasa kelautan menjadi
tantangan yang perlu dipersiapkan agar dapat menjadi tumpuan masa depan. Pembangunan
kelautan pada masa mendatang memerlukan dukungan politik dan pemihakan yang nyata
dari seluruh pemangku kepentingan.
Bersamaan dengan itu keterlibatan seluruh potensi masyarakat juga diperlukan untuk
melakukan berbagai penguatan bagi terwujudnya perilaku dan budaya ramah lingkungan
serta sadar risiko bencana perlu terus ditumbuhkembangkan. Pengelolaan sumber daya alam
dan lingkungan dengan prinsip berkelanjutan menjadi tumpuan bagi upaya peningkatan
kualitas lingkungan hidup ke depan. Pendayagunaan sumber daya alam harus dilakukan
seefektif dan seefisien mungkin, ditopang IPTEK yang memadai sehingga memberikan nilai
tambah yang berarti.
Kabupaten Sukabumi dengan keanekaragaman potensi sumber daya alamnya tidak hanya
menjadi pengekspor sumber daya alam bernilai rendah dan mengimpornya kembali dalam
bentuk produk bernilai tinggi, melainkan harus menjadi pengekspor sumber daya alam yang
telah diolah dan bernilai tinggi.

2. Namun, dengan menelaah kondisi sumber daya alam dan lingkungan hidup saat ini, apabila
tidak diantisipasi dengan kebijakan dan tindakan yang tepat akan dihadapkan pada tiga
ancaman, yaitu krisis pangan, krisis air, dan krisis energi.

Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Sukabumi 2005-2025 II - 33


Ketiga krisis itu menjadi tantangan nasional dan daerah jangka panjang yang perlu
diwaspadai agar tidak menimbulkan dampak buruk bagi kehidupan masyarakat dan bangsa,
yaitu terancamnya persatuan bangsa, meningkatnya semangat separatisme, dan menurunnya
kesehatan masyarakat. Meningkatnya jumlah penduduk yang pesat menyebabkan
kemampuan penyediaan pangan semakin terbatas. Hal itu disebabkan oleh meningkatnya
konversi lahan sawah dan lahan pertanian produktif lainnya, rendahnya peningkatan
produktivitas hasil pertanian, dan menurunnya kondisi jaringan irigasi dan prasarana irigasi.
Selain itu, praktik pertanian konvensional mengancam kelestarian sumber daya alam dan
keberlanjutan sistem produksi pertanian. Di lain pihak, bertambahnya kebutuhan lahan
pertanian dan penggunaan lainnya akan mengancam keberadaan hutan dan terganggunya
keseimbangan tata air. Memburuknya kondisi hutan akibat deforestasi yang meningkat
pesat dan memburuknya penutupan lahan di wilayah hulu daerah aliran sungai
menyebabkan menurunnya ketersediaan air yang mengancam turunnya debit air waduk dan
sungai pada musim kemarau serta berkurangnya pasokan air untuk pertanian dan
pengoperasian pembangkit listrik tenaga air (PLTA). Sementara itu, kelangkaan
ketersediaan energi tak terbarukan juga terus terjadi karena pola konsumsi energi masih
menunjukkan ketergantungan pada sumber energi tak terbarukan.

3. Meningkatnya kasus pencemaran lingkungan yang diakibatkan oleh laju pertumbuhan


penduduk yang terkonsentrasi di wilayah perkotaan, perubahan gaya hidup yang konsumtif,
serta rendahnya kesadaran masyarakat perlu ditangani secara berkelanjutan. Kemajuan
transportasi dan industrialisasi, pencemaran sungai dan tanah oleh industri, pertanian, dan
rumah tangga memberi dampak negatif yang mengakibatkan terjadinya ketidakseimbangan
sistem lingkungan secara keseluruhan dalam menyangga kehidupan manusia. Keberlanjutan
pembangunan dalam jangka panjang juga menghadapi tantangan akan adanya perubahan
iklim dan pemanasan global yang berdampak pada aktivitas dan kehidupan manusia.
Sementara itu, pemanfaatan keanekaragaman hayati belum berkembang sebagaimana
mestinya. Pengembangan nilai tambah kekayaan keanekaragaman hayati dapat menjadi
alternatif sumber daya pembangunan yang dapat dinikmati, baik oleh generasi sekarang
maupun mendatang, sehingga memerlukan berbagai penelitian, perlindungan, dan
pemanfaatan secara lestari selain upaya ke arah pematenan (hak atas kekayaan
intelektual/HAKI). Oleh karena itu, penyelamatan ekosistem beserta flora-fauna di
dalamnya menjadi bagian integral dalam membangun daya saing Indonesia.

4. Pembiayaan penataan lingkungan merupakan aspek penting yang selama ini sulit
dilaksanakan karena terkait kerja sama dan komitmen antar-pihak atau antar-daerah.
Penerapan prinsip yang mencemari dan merusak harus membayar, pola pembagian peran
hulu hilir atau pusat-daerah, bagi hasil pajak untuk lingkungan, dana lingkungan, serta pola
pembiayaan pemulihan lingkungan harus mulai dilakukan. Pengawasan secara
berkesinambungan dan penegakan hukum secara konsisten adalah sasaran dalam rangka
pemulihan daya dukung lingkungan lebih maksimal. Pemahaman risiko bencana harus
mulai diintegrasikan pada proses pembangunan ke depan, guna meminimalisasi risiko dan
kerugian yang mungkin timbul atas hasil hasil pembangunan yang dicapai.

Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Sukabumi 2005-2025 II - 34


2.2.5 Sarana dan Prasarana Wilayah

Pada masa yang akan datang, tantangan yang dihadapi dalam pengembangan sarana dan
prasarana wilayah di Kabupaten Sukabumi adalah meningkatkan aksesiilitas, kualitas dan
cakupan pelayanan. Tantangan lain yang dihadapi dalam pengembangan sarana dan prasarana
wilayah adalah meningkatkan efisiensi dan efiktivitas pengelolaan sarana dan prasarana
wilayah antara lain dengan mengoptimalkan kerjasama antara pemerintah dan swasta serta
kemampuan lembaga pengelola.
1. Tantangan utama dalam rangka pemenuhan kebutuhan penyediaan air baku di berbagai
sektor kehidupan, yaitu meningkatkan pasokan air baku yang ditempuh melalui
pengembangan prasarana penampung air yang dapat dikelola bersama oleh masyarakat,
baik yang bersifat alami maupun buatan. Untuk itu diperlukan upaya :
1) meminimalisir terjadinya bencana banjir dan kekekeringan, dengan menormalisasi
infrastruktur penampung air baku;
2) mengembangkan infrastruktur penampung air baku, baik yang bersifat buatan maupun
yang alami; dan
3) merehabilitasi jaringan irigasi teknis dan semi teknis serta mengembangkan jaringan
irigasi tadah hujan menjadi jaringan irigasi teknis.
Selain itu, pengembangan sarana dan prasarana pengendali daya rusak air harus mampu
mengantisipasi perkembangan daerah-daerah permukiman dan industri baru. Intervensi
sarana dan prasarana juga perlu dilakukan untuk mengurangi laju sedimentasi sejalan
dengan upaya-upaya konservasi dan reboisasi terutama dengan mengembangkan bangunan-
bangunan pengendali sedimen yang dapat dikelola oleh masyarakat. Pengelolaan jaringan
irigasi belum diselenggarakan dengan pengutamaan peran masyarakat petani dengan
dukungan penuh dari pemerintah dan pihak pengguna air irigasi.
Peningkatan kemampuan kelembagaan pengelola sarana dan prasarana sumber daya air
harus terus dikembangkan sesuai prinsip-prinsip pengelolaan sumber daya air terpadu
(integrated water resources management). Upaya mempertahankan kondisi kualitas air
yang ada serta pemulihan terhadap kualitas air yang telah tercemar diwujudkan melalui
pendekatan pengelolaan lingkungan hidup dan penerapan teknologi.

2. Tantangan yang dihadapi dalam pelayanan transportasi dan perhubungan pada masa yang
akan datang adalah mengembangkan sistem transportasi daerah yang efisien dan efektif,
terjangkau, ramah lingkungan, dan berkelanjutan. Untuk itu diperlukan :
1) peningkatan transportasi yang terpadu antar-moda dan intra-moda serta selaras dengan
pengembangan wilayah;
2) pelayanan transportasi yang mendukung pembangunan ekonomi sosial dan budaya;
3) penyusunan Rencana Sistem Jaringan Transportasi Jalan yang mengcover seluruh
wilayah Kabupaten Sukabumi;
4) pengembangan jaringan jalan primer yang efektif dan efisien, baik berupa jaringan jalan
Tol maupun non Tol , yang menghubungkan pusat-pusat kegiatan utama dalam skala
regional dan lokal;
5) Penataan angkutan umum sesuai dengan permintaan dan penawaran;

Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Sukabumi 2005-2025 II - 35


6) pengaturan hirarki peran serta fungsi Jaringan transportasi yang lebih baik agar
menghasilkan pergerakan yang efisiensi dan efektif;
7) peningkatan sarana dan prasarana pelabuhan yang ada dan mengembangkan pelabuhan
baru dengan tujuan untuk meningkatkan kapasitas tangkap; serta
8) revitalisasi dan pengembangan jaringan jalan rel KA untuk melayani pergerakan antar-
kota kecamatan.
Tantangan utama dalam rangka meningkatkan kapasitas sumber daya agar dapat
melaksanakan pembangunan transportasi daerah adalah meningkatkan kapasitas
kelembagaan dan peraturan yang kondusif, meningkatkan iklim kompetisi yang sehat,
meningkatkan peran serta pemerintah, swasta, dan masyarakat dalam pelayanan transportasi
publik, mengembangkan alternatif pembiayaan dan investasi, dan mengembangkan
kapasitas sumber daya manusia dan teknologi transportasi yang tepat guna, hemat energi,
dan ramah lingkungan.

3. Tantangan utama yang dihadapi dalam pemenuhan energi dan ketenagalistrikan adalah
meningkatkan keandalan pasokan energi dan tenaga listrik, sarana dan prasarana, serta
proses dan penyalurannya untuk keperluan permukiman dan kegiatan lainnya;
Mengembangkan potensi-potensi energi baru yang terbarukan, seperti mikro hidro, panas
bumi, tenaga uap, tenaga surya dan angin; serta mengembangkan jaringan listrik pedesaan
dengan memanfaatkan energi listrik alternatif.
Tantangan utama dalam penyediaan energi adalah memperbanyak infrastruktur energi untuk
memudahkan layanan kepada masyarakat, serta mengurangi ketergantungan terhadap
minyak dan meningkatkan kontribusi gas, batubara, serta energi terbarukan seperti biogas,
biomassa, panas bumi (geothermal), energi matahari, arus laut, dan tenaga angin.

4. Globalisasi, kemajuan teknologi, dan tuntutan kebutuhan masyarakat yang makin


meningkat untuk mendapatkan akses informasi menuntut adanya penyempurnaan dalam hal
penyelenggaraan pembangunan pos dan telematika. Oleh karena itu, perlu adanya integrasi
antara pendidikan dengan teknologi informasi serta sektor-sektor strategis lainnya.
Walaupun pembangunan pos dan telematika saat ini telah mengalami berbagai kemajuan,
informasi masih merupakan barang yang dianggap mewah dan hanya dapat diakses dan
dimiliki oleh sebagian kecil masyarakat. Oleh sebab itu, tantangan utama yang dihadapi
dalam sektor itu adalah meningkatkan penyebaran dan mengembangkan pemanfaatan
jaringan informasi baik yang menggunakan jaringan kabel maupun nirkabel, terutama pada
wilayah-wilayah yang teledensitasnya masih rendah. Tantangan lainnya adalah konvergensi
teknologi informasi dan komunikasi yang menghilangkan sekat antara telekomunikasi,
teknologi informasi dan penyiaran, pendidikan dan etika moral.

5. Tantangan yang dihadapi untuk memenuhi kebutuhan hunian bagi masyarakat dan
mewujudkan daerah khususnya perkotaan tanpa permukiman kumuh, adalah
mengembangkan sarana dan prasarana dasar pemukiman, meningkatkan jaringan air bersih
dan sanitasi lingkungan, serta mengembangkan pengelolaan sampah yang berskala
regional.

Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Sukabumi 2005-2025 II - 36


Disamping itu, tantangan lain yang dihadapi adalah menciptakan pelayanan dan
ketersediaan bagi pemakaman umum dan ruang terbuka hijau yang terpadu dengan kegiatan
permukiman.

6. Dengan makin terbatasnya sumber dana yang dapat dimobilisasi oleh pemerintah untuk
memenuhi kebutuhan pembangunan sarana dan prasarana, anggaran pemerintah akan lebih
difokuskan pada penyediaan sarana dan prasarana yang secara ekonomi dan sosial
bermanfaat, tetapi secara finansial kurang layak. Untuk proyek sarana dan prasarana yang
layak secara finansial akan dibangun dengan memanfaatkan dana-dana masyarakat dan
membuka peluang kerja sama dengan badan usaha, terutama swasta dalam rangka
penyelenggaraan pembangunan sarana dan prasarana. Hal itu, merupakan tantangan yang
menuntut dilakukannya berbagai penyempurnaan aturan main, terutama yang berkaitan
dengan struktur industri penyediaan sarana dan prasarana serta pentingnya reformasi di
sektor keuangan guna memfasilitasi kebutuhan akan dana-dana jangka panjang masyarakat
yang tersimpan di berbagai lembaga keuangan.

2.2.6 Politik

Selama kurun 2005 2025 diperlukan penyelenggaraan proses komunikasi massa, komunikasi
sosial, dan komunikasi politik yang berorientasi pada penyelenggaraan proses demokratisasi
yang harmonis. Pembangunan bidang komunikasi dan informasi tidak dapat dilepaskan dari
pengembangan kualitas pemahaman terhadap fungsi kelembagaan dan media komunikasi.
Secara fungsional, kelembagaan dan media komunikasi merupakan bagian integral dari ke-
seluruhan masyarakat, dan karena itu tunduk terhadap dimensi nilai budaya yang tumbuh dan
berkembang di masyarakat.

Melihat tantangan perubahan yang dihadapi pembangunan Kabupaten Sukabumi, diperlukan


kualifikasi pemimpin daerah yang memiliki pengalaman dalam penyelenggaraan manajemen
pemerintahan, memiliki kecerdasan intelektual dan spiritual untuk menggerakkan tata kelola
pemerintahan yang baik dan pemerintahan yang inovatif dan bebas korupsi, kolusi, dan
nepotisme (KKN), dan visioner untuk menggerakkan perubahan dan pembaruan dalam
keseluruhan konteks pembangunan, serta egaliter untuk menggerakkan tata pikir, sikap, dan
tindakan yang mampu menggerakkan proses demokratisasi yang beradab dan bermuara pada
terciptantanya kondisi masyarakat yang harmonis. Proses pergantian kepemimpinan daerah
juga mempertimbangkan aspek keadilan dan kesetaraan gender untuk mencapai keseimbangan
antara ketegasan dan kecepatan, serta kecermatan dan ketepatan dalam pengambilan keputusan.

Keberhasilan pembangunan politik dapat diukur dari tingkat partisipasi warga yang meliputi
kebebasan politik dan akuntabilitas. Partisipasi warga menjadi indikator karena
menggambarkan esensi penerapan demokrasi dalam tata kelola pemerintahan. Demokrasi
secara substantif menghendaki keterlibatan secara aktif dan otonom dari seluruh komponen
masyarakat, agar aspirasi masyarakat dapat diketahui secara pasti. Di sisi lain dengan
partisipasi masyarakat tingkat legitimasi pemerintah yang berkuasa dapat dipertahankan bahkan
ditingkatkan, karena partisipasi sejalan dengan transparansi dan akuntabilitas.

Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Sukabumi 2005-2025 II - 37


Tolok ukur partisipasi adalah ketersediaan lembaga-lembaga politik dan kemasyarakatan seperti
jumlah partai politik dan ormas; ketersediaan institusi mediasi yang merupakan cerminan
masyarakat madani (civil society) seperti jumlah organisasi non pemerintah dan pers; proporsi
keterwakilan partai politik di lembaga legislatif; proporsi keterwakilan perempuan di lembaga
legislatif; tingkat partisipasi pemberian suara; jumlah unjuk rasa dan pemogokan kerja; serta
keikutsertaan warga dalam berbagai kegiatan dan tingkatan.

Proses dan mekanisme politik berdasarkan prinsip-prinsip demokrasi di masa mendatang adalah
terciptanya tata kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang aman, damai, dan
stabil. Karena itu, partisipasi warga dalam kehidupan politik merupakan suatu keniscayaan
melalui penguatan masyarakat madani (civil society) yang terbuka terhadap perubahan.
Termasuk keinginan masyarakat untuk membentuk daerah otonom (pemekaran wilayah) akan
terus bermunculan selama aspirasi masyarakat belum dapat diakomodir dengan tepat, dan
komunikasi antara pemerintah dan masyarakat mengalami hambatan.

2.2.7 Ketentraman dan Ketertiban Masyarakat

Tantangan yang dihadapi dalam rangka penciptaan ketentraman dan ketertiban masyarakat
adalah adanya potensi ancaman terjadinya friksi dan konflik sosial terkait dengan menurunnya
daya dukung lahan, air, dan lingkungan dalam proses pembangunan. Selain itu juga dari
lambannya pencapaian keseimbangan jumlah penduduk dan lapangan pekerjaan. Ancaman lain
yang cenderung meningkat adalah kejahatan transnasional, mengingat Kabupaten Sukabumi
merupakan jalur mobilitas orang dan barang yang strategis.

Gangguan ketentraman dan ketertiban masyarakat masih akan berlangsung dengan per-
tumbuhan kriminalitas yang disebabkan masih besarnya pengangguran, akibat belum seimbang-
nya jumlah angkatan kerja dengan lapangan kerja yang tersedia. Upaya penyelenggaraan tata
kehidupan bermasyarakat yang aman dan tertib melalui pengembangan motivasi hidup disiplin,
kait berkait dengan pencapaian kondisi di berbagai sektor pembangunan, khususnya ekonomi
dan politik, serta kemampuan melakukan proses transformasi terhadap berbagai nilai global
yang berkembang sangat cepat.

2.2.8 Hukum dan HAM

Tantangan ke depan di dalam mewujudkan mewujudkan harmonisasi produk hukum yang dapat
mendukung pelaksanaan otonomi daerah, penegakkan hukum dan hak asasi manusia. Saat ini
birokrasi belum mengalami perubahan mendasar. Banyak permasalahan belum terselesaikan.
Permasalahan itu makin meningkat kompleksitasnya dengan desentralisasi, demokratisasi,
globalisasi, dan revolusi teknologi informasi. Proses demokratisasi yang dijalankan telah
membuat rakyat makin sadar akan hak dan tanggung jawabnya.

Untuk itu, partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan negara termasuk dalam pengawasan
terhadap birokrasi perlu terus dibangun dalam rangka mewujudkan tata pemerintahan yang
baik. Tingkat partisipasi masyarakat yang rendah akan membuat aparatur tidak dapat
menghasilkan kebijakan pembangunan yang tepat. Kesiapan aparatur dalam mengantisipasi

Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Sukabumi 2005-2025 II - 38


proses demokratisasi perlu dicermati agar mampu memberikan pelayanan yang dapat
memenuhi aspek transparansi, akuntabilitas, dan kualitas yang prima dari kinerja organisasi
publik.

Globalisasi juga membawa perubahan yang mendasar pada sistem dan mekanisme
pemerintahan. Revolusi teknologi dan informasi (TI) akan mempengaruhi terjadinya perubahan
manajemen penyelenggaraan negara dan pemerintahan. Pemanfaatan TI dalam bentuk e-
government, e-procurement, e-business dan cyber law selain akan menghasilkan pelayanan
publik yang lebih cepat, lebih baik, dan lebih murah, juga akan meningkatkan diterapkannya
prinsip-prinsip tata kepemerintahan yang baik.

Menyikapi perkembangan pembangunan dengan berbagai perubahan yang terjadi dalam


pembangunan sosial dan ekonomi, pembangunan hukum daerah berpotensi mengembangkan
berbagai alternatif untuk menguatkan sistem hukum yang berhubungan dengan hak atas
kekayaan intelektual, cyber law, hukum agama yang melandasi penyelenggaraan zakat dan per-
kawinan, dan penguatan terhadap kepentingan pragmatis hukum tata usaha. Pemberdayaan dan
peningkatan pengetahuan masyarakat berbasis kesadaran hukum menjadi penentu berlangsung-
nya proses tata hukum daerah yang dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat secara
keseluruhan. Terutama dalam mendapatkan kepastian hukum untuk menjalankan seluruh aspek
kehidupan bermasyarakat sehari-hari.

Fungsi penegakan hukum diperlukan untuk menunjukkan komitmen pemerintah dalam


menerapkan kebijakan-kebijakan yang telah dibuatnya. Selain itu, konsistensi dalam penegakan
hukum dapat membantu memulihkan kepercayaan masyarakat pada pemegang otoritas. Oleh
karena itu, pembangunan hukum berorientasi pada upaya memenuhi kebutuhan masyarakat
melalui berbagai aturan dan penegakan aturan tersebut guna melindungi hak asasi manusia dan
memenuhi kebutuhan masyarakat, termasuk pencapaian kondisi tertib sosial kemasyarakatan
yang berimplikasi terhadap pertumbuhan ekonomi, juga berkaitan dengan penegakkan hukum
secara berkeadilan.

2.2.9 Aparatur

Aparatur pemerintah memegang peran sangat penting dalam penyelenggaraan pemerintahan.


Kedudukan aparatur pemerintah daerah tidak hanya untuk menggerakkan manajemen dan
organisasi pemerintahan, melainkan juga dalam keseluruhan konteks demokratisasi. Terkait
dengan hal tersebut, maka perencanaan sumberdaya termasuk di dalamnya penataan struktur
organisasi, penataan kesisteman, dan pembentukan budaya organisasi yang menjunjung tinggi
etika, profesional dan disiplin, khususnya dalam mewujudkan kondisi pemerintahan yang ber-
orientasi kepada pelayanan.

Tantangan besar yang dihadapi bidang aparatur adalah menanggulangi berbagai permasalahan
yang ditimbulkan oleh terjadinya disharmoni antar tingkat pemerintahan berkaitan dengan
pengelolaan kewenangan pemerintahan. Selain itu penyelenggaraan manajemen yang efektif
dan efisien juga menjadi tantangan yang besar. Birokrasi juga masih belum sederhana dan
belum mengalami perubahan, untuk menghadapi demokratisasi, globalisasi dan revolusi

Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Sukabumi 2005-2025 II - 39


teknologi informasi. Dengan adanya desentralisasi, aparatur dituntut untuk mengembangkan
sumber dayanya agar dapat lebih kreatif dalam mengembangkan daerahnya menuju
kemandirian dan siap berkompetisi dengan daerah lain untuk menarik investasi. Dalam
demokratisasi, masyarakat lebih sadar akan hak dan tanggung jawabnya, termasuk terhadap
negara, sehingga masyarakat dapat menuangkan aspirasinya dalam pembangunan daerah.
Kesiapan aparatur dalam mengantisipasi demokratisasi perlu ditingkatkan agar mampu
meningkatkan pelayanan yang lebih sederhana, murah dan cepat.

Bertolak dari pengalaman empirik penyelenggaraan pemerintahan sepanjang 1984-2005 dan


tantangan yang dihadapi sampai dengan 2025 adalah masih rendahnya kinerja aparatur karena
adanya Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN), masih rendahnya kualitas SDM aparatur, dan
rendahnya kesejahteraan Pegawai Negeri Sipil; struktur organisasi yang dapat memenuhi
kebutuhan daerah, kesisteman yang mampu menjadi acuan dalam proses administrasi
pemerintahan didukung oleh teknologi informasi dan komunikasi yang dapat dimanfaatkan
secara optimal, dan budaya organisasi yang mendorong peningkatan kinerja aparatur. Birokrasi
yang modern dan mampu menjalankan fungsinya dalam sistem pemerintahan demokratis
merupakan tantangan utama ke depan, yaitu birokrasi yang mampu memformulasikan
kebijakan sesuai dengan keinginan politik dan aspirasi masyarakat dan dapat
mengimplementasikannya secara bertanggung jawab.

2.2.10 Tata Ruang dan Pengembangan Wilayah

1. Pengaturan tata ruang sesuai peruntukan merupakan tantangan pada masa yang akan datang
yang harus dihadapi untuk mengatasi krisis tata ruang yang telah terjadi. Untuk itu
diperlukan penataan ruang yang baik dan berada dalam satu sistem yang menjamin
konsistensi antara perencanaan, pemanfaatan, dan pengendalian tata ruang. Penataan ruang
yang baik diperlukan bagi (a) arahan lokasi kegiatan, (b) batasan kemampuan lahan,
termasuk di dalamnya adalah daya dukung lingkungan dan kerentanan terhadap bencana
alam, (c) efisiensi dan sinkronisasi pemanfaatan ruang dalam rangka penyelenggaraan
berbagai kegiatan. Penataan ruang yang baik juga harus didukung dengan regulasi tata
ruang yang searah, dalam arti tidak saling bertabrakan antar-sektor, dengan tetap
memerhatikan keberlanjutan dan daya dukung lingkungan, serta kerentanan wilayah
terhadap terjadinya bencana.

2. Bagi Kabupaten Sukabumi, tantangan jangka panjang yang harus diantisipasi adalah
menjaga konsistensi antara perencanaan, pemanfaatan dan pengendalian tata ruang.
Penataan ruang ke depan perlu mempertimbangkan daya dukung dan daya tampung lahan
serta kerentanan terhadap bencana alam. Selain itu diperlukan regulasi yang jelas agar tidak
terjadi konflik pemanfaatan ruang antar-sektor dan antar wilayah khususnya antar-
kecamatan dan antar-desa/kelurahan. Tantangan lain yang perlu diantisipasi adalah
mengurangi kesenjangan pembangunan antar-wilayah khususnya antara wilayah perkotaan
dan perdesaan, dan antara wilayah Utara dan Selatan Kabupaten Sukabumi, serta
menyeimbangkan Pusat Kegiatan Wilayah dengan Pusat Kegiatan Lokal sehingga
pengembangan wilayah dapat berjalan harmonis dan berkembang secara adil dan optimal.

Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Sukabumi 2005-2025 II - 40


3. Pengurangan kesenjangan pembangunan antar-wilayah perlu dilakukan terutama untuk
meningkatkan kesejahteraan masyarakat di seluruh wilayah Kabupaten Sukabumi. Tujuan
penting dan mendasar yang akan dicapai untuk mengurangi kesenjangan antar-wilayah
bukan untuk memeratakan pembangunan fisik di setiap wilayah, terutama untuk
mengurangi kesenjangan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat, baik di masing-
masing wilayah maupun antar-wilayah. Dalam kaitan itu, perlu diperhatikan pemanfaatan
potensi dan peluang dari keunggulan sumber daya alam yang selama ini belum optimal
sebagai satu kesatuan pengelolaan sumber daya alam di dalam setiap wilayah.

4. Sementara itu, dari sisi eksternal secara pasti persaingan global yang berimplikasi pada
persaingan antar daerah akan semakin kuat berpengaruh pada pembangunan suatu daerah
termasuk Kabupaten Sukabumi pada masa yang akan datang. Perekonomian daerah akan
menjadi lebih terbuka sehingga secara langsung maupun tidak langsung akan berpengaruh
terhadap perkembangan dan pertumbuhan setiap wilayah. Sejak tahun 2003, AFTA telah
diberlakukan secara bertahap di lingkup negara-negara ASEAN, dan perdagangan bebas
akan berlangsung sepenuhnya mulai tahun 2008. Selanjutnya, mulai tahun 2010
perdagangan bebas di seluruh wilayah Asia Pasifik akan dilaksanakan. Dalam kaitan itu,
tantangan bagi daerah-daerah ialah menyiapkan diri menghadapi pasar global untuk
mendapatkan keuntungan secara maksimal sekaligus mengurangi kerugian dari persaingan
global melalui pengelolaan sumber daya yang efisien dan efektif. Oleh karena itu,
tantangannya ialah memanfaatkan potensi dan peluang keunggulan di masing-masing
daerah dan wilayahnya dalam rangka mendukung daya saing nasional sekaligus
meminimalkan dampak negatif globalisasi.

5. Tantangan lain dari aspek pola tata ruang adalah penyediaan kebutuhan lahan untuk
kawasan permukiman terutama di kawasan perkotaan dalam kondisi luasan lahan yang ada
sangat terbatas karena adanya kawasan lindung yang tidak boleh berubah fungsi dan adanya
lahan sawah yang juga harus dipertahankan keberadaannya. Selain itu pengelolaan kawasan
perkotaan akan menjadi tantangan tersendiri dalam mengatur aktivitas perkotaan dan
memenuhi penyediaan sarana dan prasarana yang dibutuhkan dengan tetap memperhatikan
prinsip pembangunan perkotaan yang berkelanjutan.

Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Sukabumi 2005-2025 II - 41


2.3 Modal Dasar

Modal dasar pembangunan daerah adalah seluruh sumber kekuatan daerah, baik yang efektif
maupun potensial, yang dimiliki dan dapat didayagunakan sebagai modal dasar pembangunan
daerah, yaitu antara lain :
1. Luas wilayah dan ketersediaan sumber daya alam yang melimpah merupakan potensi
ekonomi untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Luas wilayah Kabupaten Sukabumi
yang merupakan kabupaten terluas di Pulau Jawa sangat penting disadari karena
merupakan kekuatan sekaligus kelemahan dan memberikan peluang serta ancaman yang
menjadi basis bagi kebijakan pembangunan di berbagai bidang, baik di bidang sosial dan
budaya, ekonomi industri, wilayah, lingkungan hidup maupun hukum dan aparatur negara.
2. Karakteristik masyarakat Kabupaten Sukabumi yang religius dan memegang nilai-nilai
budaya setempat yang kuat merupakan modal social yang dapat mendorong terciptanya
kondisi yang kondusif untuk pelaksanaan pembangunan;
3. Posisi geografis Kabupaten Sukabumi yang sebagian wilayahnya merupakan lintasan
menuju ibukota negara menjadikan Kabupaten Sukabumi sebagai salah satu penyangga
DKI Jakarta dan menjadi lintasan utama arus regional penumpang dan barang di bagian
Selatan Jawa Barat;
4. Sumber daya air yang melimpah dan keanekaragaman hayati menjadi potensi
pembangunan yang dimanfaatkan untuk meningkatkan kemakmuran masyarakat;
5. Penduduk Kabupaten Sukabumi dalam jumlah yang besar menjadi sumber daya yang
potensial dan produktif bagi pembangunan daerah;
6. Keamanan dan ketertiban yang relatif stabil akan menjadi daya tarik dalam peningkatan
investasi di Kabupaten Sukabumi;
7. Ketersediaan sumber daya buatan yang dapat berfungsi sebagai daya tarik bagi investor
dan mempercepat proses pembangunan daerah;
8. Sumberdaya pariwisata yang cukup memadai sebagai modal untuk membangkitkan
perekonomian daerah dan memberdayakan masyarakat;

Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Sukabumi 2005-2025 II - 42