Anda di halaman 1dari 24

5 Tips Menjadi Public Relation (PR) yang

Kompeten
Konon, program PR melulu berkutat menggarap media lewat strategi media relations atau
pemerintah lewat strategi goverment relations. Namun sekarang, aplikasinya jauh lebih
kompleks dengan konsep-konsep kreatif dan otentik. Program PR saat ini juga tidak semata
ditujukan untuk satu stakeholder, melainkan langsung menyentuh publik ataupun konsumen,
yang belakangan populer disebut Marketing PR.

Ong Hock Chuan, Technical Advisor Maverick.

Adapun Ong Hock Chuan, Technical Advisor Maverick, yang juga salah satu tokoh dan praktisi
PR di Tanah Air, menggarisbawahi kesadaran para pemilik merek/korporasi untuk membangun
dan mempertahankan relevansi dengan khalayak meningkat. Untuk itu, ia pun membeberkan
sejumlah tips yang bisa diterapkan ataupun dilakukan praktisi PR masa kini agar menjadi PR
yang kompeten dan mampu memberikan nilai tambah bagi para stakeholder.

1. Clear Thingking Clean Execution. Sebagai seorang PR (konsultan komunikasi) pertama harus
mengetahui kebutuhan dasar dan utama yang dibutuhkan klien lewat analisa masalah (tantangan,
objektif, kekuatan, kelemahan) untuk kemudian dibuatkan strategi komunikasi yang sesuai
dengan karakter klien. Sehingga jika kita mampu memahami klien dan karakter perusahaan dan
personalnya secara baik maka kita akan dapat memberikan masukan (rekomendasi komunikasi)
yang tepat.
2. Strategic Thinking, Setelah mampu menganalisa dengan baik kemudian seorang PR yang baik
harus mampu menyusun strategi komunikasi yang mampu memenuhi kebutuhan dan permintaan
baik antara pemberi informasi (klien) dan penerima informasi (masyarakat, media massa (cetak
dan elektronik), pemerintah, maupun yang lainnya). Selain strateginya harus tepat sasaran juga
konten yang disampaikan harus bisa dicerna secara baik dan cepat oleh penerima.

3. Berani. Orang PR harus berani untuk membuat hal hal yang tidak biasa menjadi luar biasa,
terutama dalam keputusannya menetapkan strategi. Selain itu di case study lain, misalnya saat
proses pitching, orang PR harus bisa menetapkan kualitas dan standar mutu yang tinggi sehingga
klien pun bisa menghargai apa yang sudah kita kerjakan. Kualitas akan menuntun kita kepada
klien yang berkualitas juga.

4. Relevan. Ketika kita mengerjakan suatu pekerjaan dan tantangan, hal yang paling utama dari
seorang PR untuk bertindak adalah relevan. Artinya tidak neko neko, daya kreatifitasnya juga
harus disesuaikan dengan situasi kondisi yang ada sehingga dalam berpikir dan bertindak relevan
dengan apa yang diinginkan klien dan kebutuhannya, serta nyambung dengan konten yang akan
dikomunikasikan.

5. Make a Different. Diferensiasi menjadi salah satu kunci bagi seorang PR untuk menjadi
berbeda dibandingkan lainnya (kompetitor). Sehingga seorang PR juga harus bisa, tidak hanya
sekedar out of the box tapi juga mampu menemukan ceruk, channel, dan selalu update dengan
perkembangan jaman (baik teknologi, sosial, budaya, dan lainnya).

Menjadi Seorang Public Relation yang Baik


Selasa, 04 November 2014

Tips Menjadi Seorang PR (Public Relation)

Jobs, Saya baru saja diterima disalah satu perusahaan advertising sebagai Public Relation (PR). Sebagai
PR pastinya saya akan sering melalukan presentasi. Kebetulan saya orangnya agak gugup. Mohon kiat-
kiatnya Jobs?

PR, humas, marketing, tenant officer pada dasarnya sih pekerjaannya hampir sama yaitu menjaga hubungan
baik dengan konsumen, media partner, komunitas dan sejenisnya. PR juga berfungsi sebagai juru bicara yang
mewakili perusahaan / organisasi. Berdasarkan fungsi-fungsi PR maka tidak heran kalau seorang PR sering
melakukan presentasi.

Agar presentasi Anda mendapatkan hasil yang baik, sebaiknya Anda pahami materi dari presentasi Anda.
Kalau Anda sendiri tidak memahami presentasi Anda, ya bagaimana orang lain akan mengerti. Kemudian coba
kenali audience Anda, dan berlatih. Ya salah satu cara agar presentasi Anda baik adalah berlatih. Semoga bisa
membatu
Sumber http://konsultanpendidikan.com/2013/09/13/mengupas-tuntas-curtin-jurusan-hubungan-masyarakat-
public-relations-curtin-university-australia/

Diposkan oleh marialita saca di 01.45 Tidak ada komentar:

Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

Tips Menjadi Public Relations yang Baik

Seorang public relations (PR) mengemban tugas utama untuk meningkatkan reputasi perusahaan.
Untuk itu, PR harus mampu menyajikan citra sebuah perusahaan kepada publik atau masyarakat
dalam gambaran yang terbaik. Bagi Anda yang berkecimpung di dunia komunikasi dan ingin sukses
sebagai PR yang profesional, berikut ini tips untuk PR professional.

Percaya diri
Percaya diri adalah kunci utama menjadi PR yang profesional. Bagaimana bisa membawa citra baik
perusahaan ke publik kalau Anda sendiri merasa ragu dengan kemampuan diri dan perusahaan
yang dinaungi? Kepercayaan diri akan membuat Anda jadi orang yang siap menghadapi segala
kemungkinan, dari yang terbaik maupun terburuk.

Banyak belajar
PR & Social Media Manager The Body Shop Ratu Ommaya (Maya) menekankan, "Dunia
komunikasi itu dinamis harus terus belajar, juga harus membuka diri dengan hal-hal baru. Harus
sering baca, harus sering belajar dalam arti apapun, selalu mengasah kemampuan."

Pintar mengatur mood


"Yang namanya PR itu secapek dan setidakbahagia apapun, saat berhadapan dengan media atau
publik harus tetap tampil menyenangkan. Tidak menunjukkan bagaimana capek kita," saran Maurin
Handayani, media expert Inke Maris & Associates, perusahaan yang bergerak di bidang
communications consultant.

Memiliki kepribadian yang baik


Menurut Herlina Widowati, Brand Manager yang pernah menjadi PR kafe SHY Rooftop, seorang PR
harus memiliki kepribadian yang baik bukan hanya secara individu. Tapi juga dalam berprofesi dan
berhubungan dengan orang lain. "Kalau aku awalnya harus menjadikan pribadi kita yang menarik,
bukan penampilan aja. Kita harus menghormati orang lain. Jangan berpikiran negatif terhadap orang
lain, nanti orang lain akan percaya kepada kita," tutur Herlina.

Cepat beradaptasi
Seorang PR pasti akan bertemu dengan banyak orang, dengan karakter dan sikap yang sangat
beragam. Di sinilah kemampuan Anda untuk cepat beradaptasi diperlukan agar bisa 'nyambung'
saat berkomunikasi dengan berbagai orang.

Berpikiran terbuka
"PR Pikirannya harus sangat terbuka, nggak boleh kaku, selalu update. Aku megang social media
juga, jadi harus bisa teknologi juga," ujar Maya.

Jaga hubungan baik dengan rekan kerja


Jangan hanya berhubungan terbatas karena urusan pekerjaan. Untuk menjaga hubungan baik
dengan rekan kerja (partner bisnis, klien, media), tunjukkan sedikit perhatian. Misalnya
mengucapkan selamat di hari ulang tahunnya, mengirimkan kartu ucapan di hari raya atau sekadar
mengajak makan siang sambil berbincang santai.

Sumber http://okirozaliansha.blogspot.com/

Diposkan oleh marialita saca di 01.40 Tidak ada komentar:

Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

ETIKA DALAM PUBLIC RELATION

POSTED ON DECEMBER 22, 2013 BY INCIDENTALWORDS


Etika sebagai ilmu yang menyelidiki tentang tanggapan kesusilaan atau etis,
yaitu sama halnya dengan berbicara moral. Manusia disebut etis, ialah manusia
secara utuh dan menyeluruh mampu memenuhi hajat hidupnya dalam rangka
asas keseimbangan antara kepentingan pribadi dengan pihak yang lainnya,
antara rohani dengan jasmaninya, dan antara sebagai makhluk berdiri sendiri
dengan penciptanya. Termasuk didalamnya membahas nilai-nilai atau norma-
norma yang dikaitkan dengan etika (Keraf, 1991 : 23).

Kata etiket adalah berkaitan dengan nilai sopan santun, tata krama dalam
pergaulan formal. Persamaannya adalah mengenai perilaku manusia secara
normatif yang etis. Artinya memberikan pedoman atau norma-norma tertentu
yaitu bagaimana seharusnya seseorang itu melakukan perbuatan dan tidak
melakukan perbuatan dan tidak melakukan sesuatu perbuatan.

Pengertian etiket menurut pendapat ahli yaitu merupakankumpulan tata cara


dan sikap baik dalam pergaulan antar manusia yang beradab. Pendapat lain
berkaitan dengan etiket adalah tata aturan sopan santun yang disetujui oleh
masyarakat tertentu dan menjadi norma serta panutan dalam bertingkah laku
sebagai anggota masyarakat yang baik dan menyenangkan.

Menurut K. Bertens, dalam buku berjudul Etika, 1994 Penerbit Gramedia


Jakarta, selain ada persamaannya, ada empat perbedaan
antara etika dan etiket yaitu secara umumnya sebagai berikut:

Etika adalah niat. Apakah perbuatan itu boleh dilakukan atau tidak sesuai
pertimbangan niat baik atau buruk sebagai akibatnya. Etiket adalah
menetapkan cara, untuk melakukan perbuatan benar sesuai dengan yang
diharapkan.
Etika adalah nurani (bathiniah). Bagaimana harus bersikap etis dan baik
yang sesungguhnya timbul dari kesadaran dirinya. Etiket adalah
formalitas (lahiriah), tampak dari sikap luarnya penuh dengan sopan
santun dan kebaikan.
Etika bersifat absolut, artinya tidak dapat ditawar-tawar lagi, kalau
perbuatan baik mendapat pujian dan yang salah harus mendapat sanksi.
Etiket bersifat relatif, yaitu yang dianggap tidak sopan dalam suatu
kebudayaan daerah tertentu, tetapi belum tentu di daerah lainnya.
Etika berlakunya tidak tergantung pada ada atau tidaknya orang lain
yang hadir. Etiket hanya berlaku, jika ada orang lain yang hadir, dan jika
tidak ada orang lain maka etiket itu tidak berlaku.
Manfaat etika dan etiket dalam PR sebagai landasan dan pedomandalam
melakukan pekerjaan, karena pekerjaan PR yang berhubungan
dengan tanggung jawab moral.
Tugas dan Fungsi PR

Untuk mengkaji tentang fungsi PR sebagaimana diutarakan dari berbagai


pendapat para ahli PR adalah sebagai berikut :

Betrand and Canfield

Dalam bukunya Public Relations Principles and Problems mengemukakan


tiga fungsi PR:

It should serve the publics interest Mengabdi kepada kepentingan


publik
Maintain good communication Memelihara komunikasi yang baik.
And stress good morals and manners Menitikberatkan pada moral dan
tingkah laku yang baik.
Cutlip and Center

Dalam bukunya Efective Public Relations tiga fungsi PR:

To ascertain and evaluate public opinion as it relates to his organization


Menjamin dan menilai opini publik yang ada dari organisasi.
To counsel executives on ways of dealing with public opinion as it exist
memberikan nasihat/penerangan pada manajemen dalam hubungannya
dengan opini publik yang ada
To use communication to influence public opinion menggunakan
komunikasi dalam rangka mempengaruhi opini publik.
Onong Uchjana Effendy
Dalam bukunya Hubungan Masyarakat mengemukakan empat fungsi PR:

Menunjang kegiatan manajemen dalam mencapai tujuan


Membina hubungan harmonis antara organisasi dengan publik, baik
publik eksternal maupun internal
Menciptakan komunikasi dua arah timbal balik dengan menyebarkan
informasi dari organisasi kepada publik dan menyalurkan opini publik
kepada organisasi
Melayani publik dan menasihati pimpinan organisasi demi kepentingan
umum.
Berdasarkan tiga pendapat tersebut di atas, secara umum tugas dan fungsi
PR adalah sebagai berikut:

Menyampaikan kebijaksanaan manajemen kepada publik.

Haruslah disadari bahwa keberhasilan suatu organisasi adalah atas dasar


kepedulian orang lain dalam hal ini adalah publik yang berhubungan dengan
organisasi. Bahwa usaha untuk mendapatkanimage yang baik adalah dalam
rangka menciptakan publik.

Understanding
Confidence
Support
Cooperation
Oleh karena itu agar tujuan untuk dapat mencapai adanya imageyang baik maka
dalam hal ini PR officer. Berfungsi menyampaikanpolicy/kebijaksanaan yang
berlaku dalam organisasi kepada publik misalnya: mempromosikan suatu
produk, kebijaksanaan kenaikan gaji/gaji tidak mengalami kenaikan walaupun
harga tetap naik.

Sebagai marketing departemen organisasi, seorang PR berfungsi menjual


organisasi. Dengan istilah lain PR berfungsi menjual citra yang baik/image yang
baik tentang organisasi dengan harapan akan memperoleh bayaran berupa
citra/image/good will.

Tujuan kebijaksanaan disampaikan kepada publik dimaksudkan adalah selain


publik dapat mengetahui kebijaksanaan manajemen organisasi juga agar publik-
publik tersebut dapat menyesuaikan diri dengan apa yang tercakup dalam
kebijaksanaan tersebut. Dengan demikian seorang PR officer haruslah seorang
yang cepat tanggap dalam menjalankan fungsinya khususnya dalam
menyampaikan kebijaksanaan manajemen pada publiknya harus secara cepat
diberitahukan/disampaikan.

Menyampaikan opini publik pada manajemen

Seorang PR officer haruslah cepat tanggap terhadap permasalahan-


permasalahan yang timbul dalam organisasinya. Untuk itu kewajiban yang
utama dari seorang PR officer dalam menjalankan fungsinya adalah merekam
pendapat yang dikemukakan oleh publik yang berkepentingan terhadap
organisasi, baik itu pendapat yang positif maupun pendapat yang negatif.

Selanjutnya seorang PR officer harus juga dapat mengevaluasi opini publik yang
diterimanya tersebut yang kemudian menginformasikannya/menyampaikannya
kepada manajemen tentang opini publik tersebut.
Seorang PR harus memperhatikan bahwa pendapat/opini publik haruslah
berdasarkan fakta-fakta yang ada dengan tidak dicampuri dengan pendapat
seorang PR itu sendiri. Walaupun dalam kenyataannya fungsi ini lebih sulit
prosesnya dibandingkan dengan fungsi menyampaikan kebijaksanaan, karena
biasanya komunikasi yang disampaikan oleh bawahan ke atasan itu sangat
kompleks, apalagi jika yang dihadapi adalah seorang pemimpin yang keras,
yang hanya membawa kemauannya sendiri saja tanpa mempertimbangkan
pendapat orang lain, tetapi jika komunikasi dapat berjalan lancar maka fungsi
seorang PR dapat dilaksanakan dengan baik.

Ruang lingkup kegiatan PR

Tujuan umum dari program kerja dan berbagai kegiatan PR adalah cara
menciptakan hubungan harmonis antara organisasi/perusahaan yang diwakilinya
dengan publiknya atau stakeholder. Hasil yang diinginkan yaitu terciptanya citra
positif (good image), kemauan baik (good will), saling menghargai (mutual
appreciation), saling timbul pengertian (mutual understanding), toleransi
(tolerance) antara kedua belah pihak.

Tujuan dari proses perencanaan kerja adalah untuk mengelola berbagai


aktivitas humas tersebut dapat diwujudkan jika terorganisasi dengan baik
melalui manajemen yang dikelola secara profesional dan dapat
dipertanggungjawabkan hasilnya.

Program kerja PR dilaksanakan melalui berbagai kegiatan yang diantaranya


adalah:

Special event
Social marketing public relations
Marketing public relations
Press and media relationship
Business communication public relations
Advertising public relations
Crisis management and complaint handling public relations
Public relations writing
Public relations campaign
Kegiatan PR tersebut bukanlah pekerjaan yang sangat mudah, akan tetapi harus
dikelola secara profesional dan serius serta penuh konsentrasi, karena berkaitan
dengan kemampuan PR dalam manajemen teknis dan sebagai keterampilan
manajerial agar dapat mencapai tujuan atau sasaran sesuai dengan rencana yang
diharapkan. Aktivitas praktisi humas mencakup sebagai:

Konseptor
Penasihat
Komunikator
Scott Cutlip & Allen H. Center (printice-hall inc, 1982:139)menyatakan bahwa
proses perencanaan program kerja melalui proses empat tahapan, atau langkah-
langkah pokok yang menjadi landasan acuan untuk pelaksanaan program kerja
kehumasan adalah sebagai berikut:

Meneliti dengan mendengarkan (research listening). Penelitian yang


dilakukan berkaitan dengan opini, sikap dan reaksi dari mereka yang
berkepentingan dengan aksi dan kebijaksanaan-kebijaksanaan suatu organisasi.
setelah itu baru dilakukan pengevaluasian fakta-fakta, dan informasi yang
masuk untuk menentukan keputusan berikutnya. Pada tahap ini akan ditetapkan
suatu faktor dan informasi yang berkaitan langsung dengan kepentingan
organisasi yaitu: whats our problem (apa yang menjadi problem kita).

Merencanakan pengambilan keputusan (planning decision). Sikap, opini,


ide-ide dan reaksi yang berkaitan dengan kebijaksanaan serta penetapan
program kerja organisasi yang sejalan dengan kepentingan atau keinginan-
keinginan, pihak yang berkepentingan mulai diberikan: heres what we can
do ? (apa yang dapat kita kerjakan)

Mengkomunikasikan pelaksanaan (communication action). Informasi yang


berkenaan dengan langkah-langkah yang akan dilakukan dijelaskan sehingga
mampu menimbulkan kesan-kesan yang secara efektif dapat mempengaruhi
pihak-pihak yang dianggap penting dan berpotensi untuk memberikan dukungan
sepenuhnya. Heres what we did and why (apa yang telah kita lakukan dan
mengapa begitu)

Mengevaluasi (evaluation)
PR mengadakan penilaian terhadap hasil-hasil program-program kerja atau
aktivitas PR yang telah dilaksanakan. Termasuk mengevaluasi keefektivitasan
dari teknik-teknik manajemen dan komunikasi yang telah dipergunakan. How
did we do? (bagaimana yang telah kita lakukan?)

Langkah-langkah kegiatan public relations adalah:

Menganalisis perilaku umum dan hubungan organisasi terhadap


lingkungan
Menentukan dan memahami secara benar perilaku tiap-tiap kelompok
terhadap organisasi
Menganalisis tingkat opini publik, baik yang internal maupun yang
eksternal
Mengantisipasi kecenderungan-kecenderungan, masalah-masalah yang
potensial, kebutuhan-kebutuhan dan kesempatan-kesempatan
Menentukan formulasi dan merumuskan kebijakan-kebijakan.
Merencanakan alat atau cara yang sesuai untuk meningkatkan atau
mengubah perilaku kelompok masyarakat sasaran
Menjalankan dan melaksanakan aktivitas-aktivitas sesuai dengan program
yang telah direncanakan
Menerima umpan balik untuk dievaluasi kemudian mengadakan
penyesuaian-penyesuaian diperlukan.
Konsekuensi dari proses perencanaan kerja public relations adalah tuntutan
terhadap kemampuan yang tinggi dari para praktisi PR=. Untuk dapat berperan
ganda dalam menjalankan tugasnya. Suatu saat apabila pimpinan ingin
mengetahui secara pasti mengenai reaksi publik terhadap salah satu
kebijaksanaan organisasinya, PR harus bisa mengemukakan fakta-fakta yang
diperlukan. Jika menghadiri pertemuan dengan staf bagian pemasaran dan
periklanan yang membahas rencana perkenalan produk baru, maka PR harus
siap untuk memberikan sumbang saran dan mengajukan proposal program
PR yang tepat untuk menunjang usaha tersebut.

Ciri-ciri profesi PR adalah


1. Memiliki skill atau kemampuan
2. Mempunyai kode etik
3. Mempunyai tanggung jawab profesi
4. Memiliki jiwa pengabdian kepada publik
5. Otonomisasi organisasi profesional
6. Menjadi anggota organisasi profesi.
Ciri-ciri profesi
Menurut James J. Spillance (Susanto, 1992:41-48) dan artikelinternational
encyclopedia of education adalah :

1. Suatu bidang yang terorganisir dengan baik, berkembang maju dan


memiliki kemampuan intelektualitas yang tinggi
2. Teknik dan proses intelektual
3. Penerapan praktis dan teknis intelektual
4. Menjadi anggota asosiasi atau organisasi profesi tertentu sebagai wadah
komunikasi, membina hubungan baik dan saling tukar menukar informasi
sesama para anggota
5. Melalui periode panjang menjalani pendidikan, latihan dan sertifikasi
6. Memperoleh pengakuan terhadap profesi yang dimilikinya
7. Sebagai profesional memiliki perilaku yang baik dalam melaksanakan
profesi dan penuh dengan tanggung jawab sesuai dengan kode etik.

Prinsip-prinsip etika profesi (Keraf, 1993 : 49-50)

Prinsip-prinsip PR profesional adalah:


Tanggung jawab

Seorang PR harus memiliki rasa tanggung jawab terhadap profesi, hasil dan
dampak yang tampak yaitu:

Tanggung jawab terhadap pelaksanaan pekerjaan atau fungsinya artinya


keputusan yang diambil dan hasil dari pekerjaan tersebut harus baik serta
dapat dipertanggungjawabkan berdasarkan pada standar profesi.
Tanggung jawab terhadap dampak atau akibat dari tindakan serta
pelaksanaan profesi tersebut terhadap dirinya, rekan kerja dan profesi,
organisasi/perusahaan dan masyarakat umum, serta keputusan atau hasil
pekerjaan tersebut dapat memberikan manfaat dan berguna yang baik bagi
dirinya atau pihak lain. Prinsip sebagai profesional harus berbuat yang
baik dan tidak untuk berbuat sesuatu yang merugikan.
Ketidakterikatan (kebebasan) Para profesional memiliki ketidakterikatan atau
keberpihakan dalam menjalankan profesinya tanpa merasa khawatir atau ragu-
ragu, tetapi memiliki komitmen dan bertanggung jawab dalam batas-batas
aturan main yang telah ditentukan oleh kode etik sebagai standard perilaku
profesional.

Kejujuran

Jujur dan setia serta merasa terhormat pada profesi yang dimilikinya, mengakui
akan kelemahannya dan tidak menyombongkan diri, serta berupaya terus untuk
mengembangkan diri dalam mencapai kesempurnaan bidang keahlian dan
profesinya melalui pendidikan, pelatihan dan pengalaman.
Keadilan

Dalam menjalankan profesinya maka setiap profesional memiliki kewajiban dan


tidak dibenarkan melakukan pelanggaran terhadap hak atau mengganggu milik
orang lain, lembaga atau organisasi, hingga mencemarkan nama baik bangsa
dan negara. Selain itu harus menghargai hak-hak, menjaga kehormatan nama
baik, martabat dan milik bagi pihak lain agar tercipta saling menghormati dan
keadilan secara obyek dalam kehidupan masyarakat.

Otonomi

Seorang profesional memiliki kebebasan secara otonomi dalam menjalankan


profesinya sesuai dengan keahlian, pengetahuan dan kemampuannya, organisasi
dan departemen yang dipimpinnya melakukan kegiatan operasional atau
kerjasama yang terbebas dari campur tangan pihak lain. Apapun yang
dilakukannya itu adalah merupakan konsekuensi dari tangggung jawab profesi,
kebebasan otonom merupakan hak dan kewajiban yang dimiliki bagi setiap
profesional.

Sumber http://incidentalwords.wordpress.com/2013/12/22/etika-dalam-public-
relation/
Diposkan oleh marialita saca di 01.31 Tidak ada komentar:

Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

Menjadi Public Relations Corporate Tips Untuk Mahasiswa

Kemarin kebetulan kantor saya mendapatkan kunjungan dari Margareth dan teman-teman
mahasiswa London School Public Relations. Kedatangan mereka adalah untuk mengetahui seluk
beluk dari profesi Public Relations (PR) atau hubungan masyarakat (humas). Bagaimana rasanya
menjadi seorang PR, apa saja tantangan dan kendalanya, bagaimana menjadi seorang PR di
sebuah perusahaan, adalah beberapa hal yang menjadi pertanyaan teman-teman mahasiswa
London School Public Relations.
Kebetulan juga, background akademis saya memang lulusan komunikasi khususnya kehumasan,
sehingga saya bisa memberikan perspektif yang lebih lengkap, yakni perspektif praktisi dan teoritis
akademisi karena sedikit banyak saya pernah menyerap ilmu dari sejumlah dosen-dosen saya di
FISIP UI.
Bagi saya, menjadi seorang PR di sebuah perusahaan, adalah sebuah aktualisasi yang tak terkira
nilainya. Kebanyakan tenaga kerja di kota besar saat ini tidak bekerja di bidang yang sesuai dengan
latar belakang akademisnya. Tapi saya bisa berkarya di bidang yang awalnya tidak sengaja saya
masuki ketika lulus SMA. Waktu itu, saya bingung mencari jurusan apa yang tepat untuk saya ambil
di bangku kuliah. Sejumlah teman saat itu merekomendasikan saya untuk mengambil Diploma
Komunikasi di FISIP UI, yang membuka 3 program studi baru saat itu, Public Relations,
Broadcasting dan Advertising. Ketiga program studi itu, sangat populer waktu itu. Ada teman lain
yang secara khusus merekomendasikan saya untuk mengambil program studi Public Relations
hanya karena saya sering berbicara.. hahaha.. Andai saja saya tidak mendengarkan kata teman
saya waktu itu, mungkin saja saya sudah berkecimpung di dunia lain.
Saya langsung jatuh cinta kepada bidang public relations ini, dan secara kontinu terus
mengembangkan diri saya ini. Belakangan memang saya juga tertarik dengan dunia Good
Corporate Governance dan Marketing, serta hal-hal berkaitan dengan industri perbankan. Itu tentu
saja wajar, karena memang saya menjadi PR nya di Bank. Hehehehe.
Beberapa hal yang saya cermati dari dua perspektif PR, melalui praktisi dan akademisi, memang
sungguh masih ada gap-gap yang memberikan dinamika terhadap PR itu sendiri. Toh PR pun
sebuah ilmu, pendekatan komunikasi yang akan terus berkembang dan saat ini kita juga sering
mendengar istilah Corporate Communication, Investor Relations, Media Relations ataupun
Integrated Marketing Communication, arsiran antara pendekatan komunikasi dengan berbagai
disiplin ilmu lainnya. Penerapan PR tentu saja tergantung dari karakter perusahaan sesuai dengan
keperluan komunikasinya. Teori-teori komunikasi yang dipergunakan oleh dunia akademisi pun
sejatinya perlu terus menerus diperbaharui sesuai dengan praktik bisnis perusahaan yang juga terus
berkembang. Pendekatan-pendekatan teoritis yang sistematis dan terukur pun sejatinya dapat
diolah menjadi tools-tools yang bermanfaat untuk praktik PR. Ambil contoh misalnya, pengukuran
efektivitas komunikasi yang dilakukan oleh suatu perusahaan.
Selain itu akademisi PR seringkali hanya menceritakan hal-hal yang manis-manisnya saja tentang
profesi PR ataupun hanya mengupas kulit-kulitnya saja dari PR. Meskipun memang hal ini harus
saya akui sudah mulai terkikis seiring banyaknya praktisi PR yang sering menjadi dosen tamu dalam
perkuliahan. Menjadi PR disebuah perusahaan tentu saja banyak dinamikanya, menawarkan
banyak tantangan dan peluang. Bertemu dengan banyak orang dari berbagai instansi dengan
berbagai karakter dan budaya, usia, keahlian. Pekerjaan dipenuhi dengan deadline-deadline yang
mencekik. Itu semua memberikan warna pada karakter diri kita. Bertukar pikiran dengan berbagai
konsultan PR, bertukar pikiran dengan karyawan-karyawan dari unit kerja lain. Proses pertukaran
pikiran itu sendiri akan menambah pengetahuan kita.
Tidak sulit sebenarnya menjadi seorang PR. Setiap orang bisa menjadi PR. Tidak perlu menjadi
lulusan PR seperti saya. Tapi bukan berarti profesi PR bisa dilakukan oleh sembarangan orang.
Saya cukup bersyukur dengan kecenderungan bahwa profesi PR sudah kian mendapatkan porsi
penting dalam aspek strategis Perusahaan. Apalagi di industri perbankan yang salah satu indikator
manajemen risikonya adalah mengelola risiko reputasi perusahaan. Ini menjadi salah satu pekerjaan
PR di Perbankan.
Bagi anda, mahasiswa program studi PR, teruslah menimba ilmu dan teori-teori kehumasan dan
komunikasi. Itu bekal anda untuk menjadi PR Corporate yang handal. Inilah beberapa tips yang bisa
anda lakukan untuk memperkuat karakter
anda sebagai PR Corporate.

Kreatif
Menjadi seorang PR Corporate tentu saja memerlukan kreativitas karena media komunikasi yang
dimiliki oleh Perusahaan kian banyak seiring dengan perkembangan teknologi. Sudah banyak
perusahaan yang memiliki Facebook, Twitter, Youtube. Kreativitas tentu saja diperlukan untuk
materi design, bagaimana menyampaikan pesan komunikasi perusahaan kepada masyarakat.
Orang-orang kreatif tentu saja juga mudah menyelesaikan permasalahan-permasalahan dalam
pekerjaan.

Selalu Belajar.
Menjadi seorang PR Corporate tidak melulu menjadikan kita hanya berkutat pada bidang
komunikasi saja. Kita pun harus mengerti tentang ruang lingkup bisnis tempat perusahaan kita
bekerja. Ambil contoh, saya yang bekerja sebagai PR suatu bank, tentu saja harus bisa memahami
aspek-aspek perbankan. Jangan khawatir, seiring bertambahnya jam terbang anda, pengetahuan
tentang aspek industri akan anda pahami, asalkan selama anda selalu memiliki keinginan belajar.
Lebih baik lagi, apabila anda dari sekarang sudah mulai terbuka terhadap berbagai informasi-
informasi selain komunikasi.

Membaca dan Menulis.


Wawasan anda akan selalu berkembang jika anda sering membaca. Apa saja. Mulai dari buku,
majalah, hingga berbagai artikel di berbagai website. Selain membaca, menulis juga adalah
kemampuan terpenting yang harus dimiliki oleh seorang PR. Menulis ini bisa dilatih, mulai dari
menulis apa yang kita lakukan sehari-hari, menulis blog dan bahkan mengupdate status facebook
dan twitter.

Networking
Menjadi seorang PR akan bertemu dengan banyak orang dari berbagai pihak. Ini tentu saja akan
memperluas networking kita. Networking ini sangat diperlukan untuk proses kelancaran dalam
menyelesaikan suatu pekerjaan. Networking ini perlu dibangun dari awal. Termasuk pada saat anda
sedang berkuliah.
Profesi PR tidaklah hanya berpenampilan baik, tidaklah hanya mengandalkan rupa saja, tetapi juga
mengandalkan banyak pendekatan disiplin ilmu. Penuh dengan tantangan yang sangat menarik.
Anda mau menjadi PR?

Sumber https://fakhrurrojihasan.wordpress.com/2013/12/11/menjadi-public-relations-corporate-tips-
untuk-mahasiswa/

Diposkan oleh marialita saca di 01.28 Tidak ada komentar:

Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

Kehidupan Kuliah Mahasiswa Public Relations

"Public Relations is the deliberate, planned and sustained effort to establish and
maintain mutual understanding between an organization and its publics" atau "Humas
adalah usaha yang disengaja, direncanakan, dan berkelanjutan untuk mendirikan dan
menjaga pengertian timbal-balik antara suatu organisasi dan masyarakatnya".

Pengertian mengenai Public Relations (PR) di atas bersumber dari British Institute of
Public Relations. PR atau dalam bahasa Indonesianya adalah Hubungan Masyarakat
(Humas) adalah salah satu profesi yang pupuler dan menjanjikan di masa sekarang ini.
Begitu banyaknya orang yang ingin menjadi PR, maka jurusan PR di berbagai kampus
pun ikutan menjadi populer. Saat ini saya merupakan mahasiswi jurusan Public Relations
di London School of Public Relations-Jakarta.

Public Relations merupakan salah satu bagian dari ilmu komunikasi. Ketika kamu
memilih ilmu komunikasi sebagai jurusan di kuliahmu, pada semester-semester awal,
kamu akan mempelajari ilmu komunikasi secara umum. Baru saat semester tiga atau
semester lima (setiap kampus memiliki ketentuan yang berbeda-beda), kamu diwajibkan
untuk memlilih satu konsentrasi dari ilmu komunikasi, yang terdiri dari Public Relations,
Mass Communication/Broadcasting, Advertising, serta Marketing Communication.

Saat sudah memilih konsentrasi, barulah kamu akan fokus mempelajari satu bidang,
seperti Public Relations. Mempelajari Public Relations sangat lah menarik. Bekerja di
bidang PR juga menarik, menantang, serta tidak statis atau monoton. Jika berbicara
tentang PR, kata utamanya adalah citra, image, dan reputasi.

Yah, memang benar fungsi PR adalah menjaga citra, image, serta reputasi atau kata
lainnya adalah nama baik suatu organisasi. Banyak hal yang dipelajari di jurusan ini,
antara lain belajar bagaimana cara merencanakan, membuat, dan menyiapkan event atau
acara, seperti peluncuran produk dan konferensi pers.

PR tidak hanya bekerja di awal atau sebelum acara, tetapi hingga acara berakhir pun PR
tetap aktif bekerja dalam bagian evaluasi. Dalam membuat acara, PR bekerja dengan
melakukan melakukan analisa terhadap situasi saat ini, menetapkan tujuan, memilih
masyarakat yang akan menjadi audiens, memilih media yang cocok dengan target publik,
menyusun budget, hingga evaluasi.

Salah satu contoh evaluasi dilakukan dengan me-monitor hasil-hasil publikasi acara dari
berbagai media. Oleh karena itu, hubungan PR dengan media harus lah dijaga dengan
baik. Kamu akan mendapat mata kuliah Media Relations yang berguna untuk mengetahui
bagaimana hubungan PR dan media yang seharusnya terjalin.

Kamu akan mendapatkan mata kuliah PR & Publicity, di mana kamu akan belajar
bagaimana membuat press release atau siaran pers yang baik dan benar sehingga dapat
diterima oleh media. Press release merupakan berita yang dibuat PR lalu dikirim ke
media.

Jika press release cocok dan sesuai, maka media akan melakukanediting dari press
release menjadi artikel yang akan dipublikasikan. Yang menarik di sini adalah semua
kegiatan publikasi yang dilakukan PR dengan media adalah gratis alias tidak perlu
membayar apapun, tidak seperti halnya memasang iklan di media yang harus bayar.

Ada pula mata kuliah fotografi. Fotografi di sini bukannya mengajari kamu bagaimana
memotret layaknya seorang fotografer profesional, tapi di sini menekankan bagaimana
menghasilkan foto yang sesuai dengan pesan yang akan dikomunikasikan kepada
masyarakat. Dalam hal fotografi, PR akan mengambil peran yang aktif dalam memilih
jasa fotografer yang akan dipergunakan, memberikan penjelasan kepada fotografer
mengenai foto seperti apa yang harus dihasilkan, dan saat pemotretan dilakukan.

Jika ada suatu isu, rumor, bahkan krisis di perusahaan, inilah saatnya PR untuk bekerja
menjaga bahkan mengembalikan reputasi perusahaan yang sudah menjadi negatif di mata
masyarakat melalui berbagai strategi dan taktik. Masih banyak mata kuliah lainnya yang
akan dipelajari di jurusan Public Relations.

Bisa dilihat bukan, bahwa pekerjaan PR itu menantang, tidak monoton sehingga tidak
membosankan, dan beraneka macam hal bisa dilakukan oleh PR. Oleh karena itu,
pendapatan orang yang berprofesi menjadi PR pun juga menjanjikan.
Ingat, segala hal yang berhubungan dengan PR selalu tidak jauh-jauh dari yang namanya
komunikasi. Buat kamu yang tertarik, gak ada salahnya untuk mendaftar di jurusan
Public Relations. Semoga berhasil!

Feliciana

Mahasiswa London School of Public Relations Jakarta


(ade)

Sumber http://news.okezone.com/read/2014/06/18/367/1000474/kehidupan-kuliah-
mahasiswa-public-relations
Diposkan oleh marialita saca di 01.26 Tidak ada komentar:

Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

Syarat-syarat menjadi praktisi PR yang baik.

Permintaan akan jasa konsultasi PR dan manajer PR (PR manager) yang handal sangatlah
tinggi. Mereka bahkan acapkali dipandang sebagai dewa penyelamat dan diharapkan akan
mampu menciptakan kajaiban. Tapi tentu saja sehebat dan sepandai apa pun, mereka tidak
mungkin mampu mengerjakan semua hal dengan sempurna. Lagipula, bidang PR memang
demikian luas. Di banyak biro iklan yang mewakili divisi PR, biasanya bidang tugas dan
strukturnya tidak dibakukan guna mengantisipasi aneka rupa perkembangan dalam profesi
tersebut. Konsekuensinya, seorang pejabat PR senantiasa dituntut untuk belajar. Ia
haruslah rendah hati, tekun, serta cepat menyesuaikan diri. Kemampuan dan kemauan
untuk mempelajari hal-hal baru mutlak diperlukan. Berikut ini adalah enam kriteria yang
merangkum keahlian seorang praktisi PR yang baik, terlepas dari latar belakang pribadinya.
1. Mampu menghadapai semua orang yang memiliki aneka ragam karakater dengan
baik. Itu berarti ia harus mampu dan mau berusaha untuk memahami serta,
terkadang, bersikap toleran kepada setiap orang yang di hadapinya tanpa harus
menjadi seorang penakut atau penjilat.
2. Mampu berkomunikasi dengan baik. Artinya, ia mampu menjelasakan segala
sesuatu dengan jernih, jelas dan lugas, baik itu secara lisan maupun tertulis, atau
bahkan secara visual (misalnya melalui gambar atau foto-foto).
3. Pandai mengorganisasikan segala sesuatu. Hal ini tetnunya menuntut di dalam
kehidupan pribadi.
4. Memiliki integritas personal, baik di dalam profesi maupun di dalam kehidupan
pribadinya.
5. Memiliki imajinasi. Artinya, daya kreatifnya cukup baik sehingga ia mampi membuat
jurnal internal, menulis naskah untuk film dan video, menyusun rencana kampanye
PR yang rinci dan jelas, serta mampu mencari dan menemukan cara-cara yang
semula tak terbayangkan guna memecahkan berbagai masalah.
6. Kemampuan mencari tahu. Seorang praktisi PR dituntut untuk memiliki akses
informasi yang seluas-luasnya. Dalam hal ini, ia memang dituntut untuk menjadi
seorang yang serba tahu.
7. Mampu melakukan penelitian dan mengevaluasi hasil-hasil dari suatu kampanye
PR, serta belajar dari hasil-hasil tersebut.
Diposkan oleh marialita saca di 01.18 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

PR Harus Melakukan Riset


Diposkan oleh marialita saca di 01.16 Tidak ada komentar:

Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

Posting Lama Beranda

Langganan: Entri (Atom)


Mengenai Saya
marialita saca

Lihat profil lengkapku

Arsip Blog

2014 (10)
o November (10)
Tips Menjadi Seorang PR (Public Relation)
Tips Menjadi Public Relations yang Baik
ETIKA DALAM PUBLIC RELATION
Menjadi Public Relations Corporate Tips Untuk Maha...
Kehidupan Kuliah Mahasiswa Public Relations
Syarat-syarat menjadi praktisi PR yang baik.
PR Harus Melakukan Riset
Tips Menjadi Praktisi PR Profesional
Menjadi PR di Zaman Sekarang
5 Tips Menjadi Public Relation (PR) yang Kompeten

Template Kelembutan. Diberdayakan oleh Blogger.