Anda di halaman 1dari 40

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Tumor odontogenik merupakan suatu kelainan yang terjadi pada rongga mulut dan

asalnya berhubungan dengan jaringan yang berasal dari perkembangan gigi. Jaringan

abnormal dari masing-masing tumor sering dihubungkan dengan jaringan yang sama pada

odontogen normal dari pembentukan hingga erupsi gigi. 1,2

Tumor odontogenik merupakan neoplasma pada rahang yang berdiferensiasi dari

struktur gigi. Lesi ini sering ditemukan pada mandibula dan maksila sedangkan pada

gingiva jarang. Etiologi dan patogenesisnya tidak jelas. Secara klinis, tumor odontogenik

merupakan tipe asimptomatik, namun dapat menyebabkan ekspansi rahang, bergesernya

gigi, dan resorbsi tulang. 2

Seperti neoplasma lain di dalam tubuh, tumor odontogenik cenderung untuk mirip

secara mikroskopik dengan sel atau jaringan asalnya. Secara histologis, tumor odontogenik

ini dapat mirip dengan jaringan lunak enamel organ atau pulpa gigi atau mengandung

jaringan keras seperti enamel, dentin, cementum atau campuran bahan bahan tersebut. Lesi

odontogenik ini dapat berproliferasi secara jinak sampai ganas dengan kemampuan

metastase. 3

Tumor odontogenik adalah kelompok tumor yang jarang terjadi tapi termasuk

kelompok yang berbeda dan kompleks dari kelompok tumor yang ada. Jenis tumor ini

berasal dari dari jaringan epitel atau mesenkim, atau keduanya,dan berhubungan dengan

struktur gigi. Kebanyakan dari tumor odontogenik adalah tumor ganas, tapi beberapa ada

juga yang tumbuh sebagai hamartomatous. Tumor odontogenik biasanya muncul sebagai
suatu pembengkakan tanpa nyeri, yang dapat mengakibatkan hilangnya struktur tulang,

pergeseran gigi dan pembesaran rahang. Tumor ini jarang menyebabkan disfungsi saraf

sensoris.4

Odontoma adalah tumor odontogenik campuran di mana kedua komponen epitel dan

mesenchymal mengalami diferensiasi fungsional dan membentuk enamel dan

dentin.Merupakan lesi hamartomatous bukan neoplasma sejati.5

Odontoma adalah malformasi atau lesi perkembangan hamartoma non-agresif yang

berasal dari odontogenik, terdiri dari email, dentin, sementum dan jaringan pulpa (oleh

karena itu disebut juga campuran yang terdiri dari multiple atau lebih dari satu tipe).

Odontoma dibedakan dengan ameloblastik odontoma dengan tidak adanya jaringan

ameloblastik. Bukan lesi yang statis tetapi merupakan produk akhir dari suatu kelainan,

yaitu tumor odontogenik campur dimana sel-sel berdiferensiasi lebih tinggi dan

membentuk struktur kalsifikasi yang banyak.6

Odontoma memiliki prevalensi 21% sampai 67% dari semua tumor odontogenik. Odontoma

adalah lesi yang mempengaruhi anak-anak dan dewasa muda, terutama dalam dekade kedua

kehidupan, tanpa kecenderungan gender yang signifikan. Odontoma kompleks lebih jarang terjadi

daripada odontoma compound dan biasanya terjadi pada penderita usia yang lebih tua.7

Pada perkembangan awal dari lesi ini menunjukkan proliferasi epitel odontogen dan

jaringan mesenkim, kemudian pada perkembangan selanjutnya diikuti pembentukan

enamel, dentin dan variasi dari pulpa dan sementum.8 Ada beberapa teori yang sudah

diajukan,seperti trauma lokal, infeksi, riwayat keluarga dan mutasi genetik, ada pula yang

menambahkan bahwa odontoma diwariskan kemungkinan dari gen mutant post natal

dengan kontrol genetik perkembangan gigi.9


1.2 Tujuan Penelitian

1. Mengetahui definisi, etiologi,epidemiologi, klasifikasi, manifestasi klinis, patogenesis,

diagnosa, dan komplikasi dari odontoma.

2. Mengetahui lebih lanjut tentang laporan kasus odontoma.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tahap Pembentukan Gigi

Selama prosedur odontogenesis, struktur yeng berbentuk mangkuk (cap) meluas dan

lapisan terdalam dari epitelium memisah dari lapisan atasnya (terluar). Daerah yang terpisah

tersebut tersusun atas sel epitel berbentuk bintang (retikulum stellate). Bersamaan dengan

pemanjangan dari keseluruhan sel epitel yang nantinya akan membentuk mahkota gigi.

Kejadian ini disebut sebagai early bell stage.10

Epitel tertentu merangsang jaringan konektif yang berdekatan untuk berubah menjadi

suatu daerah embrionik yang terbatas dan jaringan konektif mixomatous yang mungkin ke

depannya akan membentuk jaringan pulpa dan dentin. Perubahan jaringan konektif disekitar

daerah yang nantinya akan membentuk akar gigi disebut sebagai papilla dental. Pembentukan

jaringan konektif pada daerah bagian dalam dari struktur embrio gigi juga terjadi pada tahap

odontogenesis ini. Daerah terluar jaringan konektif yang membungkus perkembangan dari gigi

tebal dan fibrous (dental follicle). Dental folikel ini yang tersisa pada saat gigi erupsi, folikel

pada bagian mahkota akan menjadi jaringan konektif dari free margin gingiva dan pada bagian

akar menjadi ligamentum periodontal yang memisahkan sementum dari tulang.10

Sejak tahap late bell stage, sel epitel bagian dalam menjadi panjang dan berderet.

Bersamaan dengan terjadinya migrasi dari nukleus menjauhi membrane basalis, proses ini

disebut sebagai reverse polarization. Reverse polarization menyebabkan sel yang tidak

berdifrensiasi pada papila dental berdifrensiasi menjadi presecretory odontoblas. Sejak tahap

ini pada proses odontogenesis, dental lamina memutuskan dan membentuk suatu tonjolan kecil

pada jaringankonektif. Penonjolam dari sisa epitel menjadi tidak aktif sehingga disebut rest of
the dental lamina rest of Serres. Setelah bentuk spesifik dari mahkota gigi selesai, epitel

tersebut membentuk lingkaran luar dari organ email bell-shaped memanjang membentuk akar

gigi. Epitel ini membentuk suatu lapisan membran yang tipis disebut hartwigh root sheath.

Selanjutnya sel jaringan konektif dari folikel dental yang berbatasan dengan akar bertemu dan

membentuk suatu dentin baru. Dentin tersebut menstimulasi sel untuk berdifrensiasi menjadi

sementoblas yang akan membrntuk sementum. Setelah pembentukan sementum selesai, epitel

Hertwigh root sheath yang tersisa pada ligamentum periodontal disebut sebagai rest of

Malassez. Tumor odontogenik terjadi akibat adanya gangguan (interupsi) pada sekuens normal

odontogenesis atau adanya reaktifasi jaringan yang terlibat dalam sekuens normal

odontogenesis.10

2.2 Definisi Odontoma

Odontoma adalah tumor odontogenik campuran di mana kedua komponen epitel dan

mesenchymal mengalami diferensiasi fungsional dan membentuk enamel dan dentin, yang

merupakan lesi hamartomatous bukan neoplasma sejati.5

Odontoma adalah malformasi atau lesi perkembangan hamartoma non-agresif yang

berasal dari odontogenik, terdiri dari email, dentin, sementum dan jaringan pulpa (oleh karena

itu disebut juga campuran yang terdiri dari multiple atau lebih dari satu tipe). Odontoma

dibedakan dengan ameloblastik odontoma dengan tidak adanya jaringan ameloblastik. Bukan

lesi yang statis tetapi merupakan produk akhir dari suatu kelainan, yaitu tumor odontogenik

campur dimana sel-sel berdiferensiasi lebih tinggi dan membentuk struktur kalsifikasi yang

banyak.6

Pada perkembangan awal dari lesi ini menunjukkan proliferasi epitel odontogen dan

jaringan mesenkim, kemudian pada perkembangan selanjutnya diikuti pembentukan enamel,

dentin dan variasi dari pulpa dan sementum.8


2.3 Etiologi Odontoma

Etiologi odontoma tidak diketahui. Ada beberapa teori yang sudah diajukan,seperti

trauma lokal, infeksi, riwayat keluarga dan mutasi genetik, ada pula yang menambahkan bahwa

odontoma diwariskan kemungkinan dari gen mutant post natal dengan kontrol genetik

perkembangan gigi.9

Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan kelainan pertumbuhan odontoma. Faktor

ini antara lain tidak berhasilnya atau perubahan interaksi ectomesenchymal pada fase awal

pertumbuhan benih gigi dan/atau membuat berbeda pada fase subsekuen pada perkembangan

jaringan ini. Diasumsikan pula bahwa yang membuat berbeda pada mekanisme mineralisasi

dengan modifikasi komponen mineral pada email dapat menyebabkan maturasi inkomplet.9

2.4Epidemiologi Odontoma

Odontoma memiliki prevalensi 21% sampai 67% dari semua tumor odontogenik.

Odontoma adalah lesi yang mempengaruhi anak-anak dan dewasa muda, terutama dalam

dekade kedua kehidupan, tanpa kecenderungan gender yang signifikan. Odontoma kompleks

lebih jarang terjadi daripada odontoma compound dan biasanya terjadi pada penderita usia

yang lebih tua. Beberapa studi telah menunjukkan bahwa lokasi yang sering terjadi dari

odontoma compound pada rahang atas anterior, sedangkan odontoma kompleks sering

berkembang pada mandibula di berbagai lokasi. Gigi permanen dipengaruhi jauh lebih sering

daripada gigi desidui.7

2.5Klasifikasi Odontoma

Berdasarkan klasifikasi terbaru dari WHO tahun 2005, odontoma dibagi menjadi 2 jenis

yaitu : 11

1. Compound Odontoma
Compound odontoma mengandung struktur seperti gigi yang kecil dan banyak.

Mempunyai struktur yang mirip dengan gigi kecil atau denticle, diskrit, terbungkus di dalam

fibrous connective tissue stroma (stroma jaringan ikat berserabut).

2. Complex Odontoma

Odontoma complex terdiri dari campuran atau massa tak teratur dari jaringan keras dan

lunak odontogenik yang matang dan berdiferensiasi secara buruk sebagai email, dentin atau

sementum sehingga tidak memiliki kemiripan dengan gigi.

2.6 Manifestasi Klinis Odontoma

Tanda klinisnya adalah absennya satu atau beberapa gigi, seringkali mencegah erupsi

normal dan terjadi perubahan pada lengkung gigi normal. Kebanyakan odontoma asimtomatik.

Namun, terkadang terdapat pembengkakan, nyeri, bernanah, ekspansi tulang,erupsi tertunda

dan perpindahan gigi.11

Pada umumnya mereka tidak menunjukkan gejala, memiliki tingkat pertumbuhan yang

lambat dan jarang melebihi ukuran gigi. Tetapi ketika mereka yang besar dalam ukuran, mereka

dapat menyebabkan perluasan tulang kortikal.11

Odontoma complex jarang terjadi dibandingkan odontoma compound. Sering

ditemukan dengan gigi yang tidak erupsi, biasanya sering terjadi pada region molar pertama

dan molar kedua rahang bawah. Lesi kecil, jarang menjadi besar, namun bisa menjadi besar

sampai 6 cm sehingga menyebabkan ekpansi rahang. Tampak lunak, berlobus, atau berbentuk

tidak teratur. Kadang-kadang terbentuk sekitar mahkota gigi yang berkembang normal tetapi

tidak bererupsi, terutama jika terbentuk dari bagian mahkota folikel gigi. Odontoma compound

paling banyak terjadi di maksila, khususnya di anterior rahang atas (region incisive caninus),

tumor ini biasanya kecil dan tidak agresif.6,12


2.7 Patogenesis Odontoma

Karena proliferasi neoplastik sel-sel odontogenik benih gigi dimana sel-sel epitel dan

mesenkim berdiferensiasi ke tingkat ameloblastik dan odontogenik tetapi tidak berhasil

mencapai keadaan normal, jadi substansi gigi terbentuk secara abnormal.6

Sel-sel epitel dan mesenkim berdiferensiasi membentuk email, dentin, dan sementum

yang tersusun dalam susunan jaringan yang abnormal yaitu dalam bentuk dentikel, Kemudian

jaringan stroma berhenti aktivitasnya membentuk kapsul, Kadang-kadang membagi tumor

dalam septa-septa.6

Pada pertumbuhan gigi yang normal setelah pembentukan jaringan keras biasanya akan

terjadi degenerasi lamina dental, dan odontoma kompleks berhubungan dengan hal itu.

Odontoma kompleks sedikit sekali mengalami morfodiferensiasi sehingga tidak mirip bentuk

gigi normal. Sedangkan odontoma compound derajat morfodiferensiasi dan

histodiferensiasinya tinggi, sehingga akan dijumpai kalsifikasi yang memberikan gambaran

yang mirip anatomi gigi normal.6

2.8 DiagnosaOdontoma

Radiografi seringkali merupakan langkah pertama dalam diagnosis tumor odontogenik,

screening secara radiografi dilakukan dan dievaluasi. Radiografi juga dapat merupakan

langkah terakhir sebelum membuat diagnosis kerja, setelah anamnesis lengkap diambil serta

pemeriksaan fisik dan laboratorium dilakukan.13

2.9 Gambaran Radiografis

Complex odontoma menunjukkan gambaran radiopak pada struktur gigi yang

dikelilingi garis radiolusen tipis. Massa gabungan tunggal seperti material dan tak ada
kemiripan anatomi gigi apapun. Muncul sebagai massa yang buram dikelilingi oleh tepi sempit

lucent.13

Odontoma compound terlihat sebagai gigi yang mengalami malformasi atau

menyerupai gigi yang dikelilingi oleh zona radiolusen yang tipis. Compound odontoma

menunjukkan kumpulan struktur yang mirip gigi dengan ukuran dan bentuk variatif dikelilingi

daerah radiolusen yang tipis. Memiliki massa gigi lebih dari 20 gigi-gigi kecil dengan struktur

cacat serta berhubungan dengan gigi yang erupsi.13

Sifat dari lesi ini asimptomatik, secara radiografi baik odontoma tipe kompon dan kompleks

adalah massa yang radioopak dan memiliki batas yang jelas. Pada tipe kompon memperlihatkan

struktur gigi kecil kecil dan banyak, sementara tipe kompleks memperlihatkan massa padat yang

irregular.4

Gambar 1 Odontoma Complex


Gambar 2 Odontoma Compound

2.9Komplikasi Odontoma

Bentuk gigi dari odontoma ini seperti gigi normal, cenderung bererupsi tetapi tidak

aktif, kalau bererupsi sebagian, cepat terjadi karies. Jika tidak cepat ditangani, karies ini akan

berkembang dengan cepat dan dapat menginfeksi jaringan lunak dan menimbulkan neuralgia.6
BAB III

LAPORAN KASUS

Kasus 1

Erupted odontomas: a report of two unusual cases

Contoh kasus pertama seorang wanita berusia dua puluh lima tahun melaporkan ke

Klinik dengan keluhan adanya massa tanpa rasa sakit di sisi kanan rahang atas sejak lima bulan.

Pasien sehat tanpa riwayat medis dan gigi yang signifikan. Pemeriksaan intraoral menunjukkan

struktur gigi kecil berwarna putih kekuningan pada gingiva labial, secara mesio-apikal gigi 13

mempunyai ukuran sekitar 0,5 x 0,5 cm. Mukosa nya ternyata normal dan tidak menunjukkan

tanda-tanda peradangan, infeksi, eritema atau ulserasi. Massa terletak di labial, tidak halus,

mudah bergerak dan konsistensi keras. Gambaran radiografi intraoral perapikal menunjukkan

beberapa struktur radiopak yang didefinisikan dengan baik antara 11, 12 dan 13. Berdasarkan

temuan klinis dan radiologi,di diagnosis erupsi odontoma. Massa diangkat melalui

pembedahan dengan anestesi lokal. Pada eksplorasi bedah, dua struktur seperti gigi

disingkirkan dengan gigi erupsi. Ketiga spesimen tersebut dikirim untuk pemeriksaan

histopatologi. Struktur seperti gigi yang terbuat dari enamel, dentin dan sementum

dikonfirmasikan dengan diagnosis odontoma compound.

Contoh kasus dua seorang pasien laki-laki berusia dua puluh tujuh tahun melaporkan

dengan keluhan struktur keras di sisi kiri rahang sejak satu tahun. Riwayat medis dan gigi

pasien yang lalu tidak signifikan. Pemeriksaan intraoral menunjukkan empat struktur seperti

gigi, yang terletak di daerah interdental 23 dan 24, sisanya terletak pada daerah gingiva di

wilayah yang sama. Tidak ada perubahan signifikan yang dicatat pada mukosa di sekitarnya.

Strukturnya keras, tidak lunak dan mudah bergerak. Gambaran radiografi intraoral
periapikalmenunjukkan beberapa struktur dengan kepadatan bervariasi antara 23 dan 24.

Semua struktur diangkat melalui pembedahan dengan anestesi lokal. Spesimen yang

diekstraksi dikenai pemeriksaan histopatologi, yang mengungkapkan enamel, dentin dan

sementum dengan ruang pulpa. Gigi seperti susunan jaringan keras gigi dikonfirmasikan

dengan diagnosis odontoma compund.

Diskusi

Menurut perspektif histopatologis, odontoma dapat dikelompokkan sebagai: (a) odontoma

kompleks, di mana jaringan gigi terbentuk dengan baik namun menunjukkan pengaturan yang kurang

teratur; dan (b) odontoma komposit, di mana jaringan gigi normal, namun ukuran dan konformasinya

berubah sehingga menyebabkan beberapa struktur seperti gigi kecil yang disebut dentin. Odontoma

kompleks biasanya terletak di mandibula posterior, sedangkan odontoma komposit lebih sering

ditemukan pada maxilla anterior.14 Ada laporan terisolasi odontoma pada sinus maksila.15 Situasi yang

jarang terjadi adalah ketika odontoma telah erupsi, yaitu ketika terkena melalui jaringan lunak.16 Pada

tahun 1980 menggambarkan kasus pertama erupsi odontoma.17 Sejak saat itu hanya sembilan

kasus erupsi odontoma compond yang dilaporkan dalam literatur Secara umum, sebagian besar lesi

ini didiagnosis pada pasien berusia di bawah 40 tahun. Odontoma kompleks kurang umum

dibandingkan dengan varietas majemuk dengan rasio 1: 2.18 Mayoritas odontoma adalah laporan

asimtomatik dan literatur hanya beberapa kasus pembengkakan, letusan tertunda dan pada kasus yang

parah, infeksi atau limfadenopati.19 Pada 70%odontoma, anomali patologis diamati sehubungan dengan

gigi tetangga seperti devitalisation, malformation, aplasia, malposisi dan gigi impaksi. Tidak satu pun

kasus dilaporkan dengan gejala sekunder yang terkait dengan odontoma.20 Odontoma compound

biasanya terletak di antara puncak gigi primer dan mahkota gigi permanen yang mencegah erupsi

terakhir.21 Namun pada kedua kasus ini, odontoma terletak di luar tulang rahang, di jaringan lunak yang

menutupi bagian bantalan gigi rahang. Karakteristik radiografi odontoma selalu diagnostik. Lesi ini

terdiri dari radio-opacity yang didefinisikan dengan baik yang dikelilingi oleh halo radiolusen, yang

merupakan folikel kistik yang membesar. Pada odontoma compound banyak gigi seperti struktur
dengan ukuran dan bentuk yang bervariasi terlihat. Secara radiografi tiga tahap perkembangan yang

berbeda dapat diidentifikasi tergantung pada tingkat kalsifikasi odontoma. Pada tahap pertama, lesi

tampak radiolusen karena kurangnya kalsifikasi, tahap peralihan ditandai dengan pengapuran

parsial; Dan pada tahap akhir odontoma muncul radio-opaq yang dikelilingi oleh halo

radiolusen.18 Karena odontoma adalah lesi yang berkapsul baik dan memiliki sedikit

kesempatan untuk kambuh, Manajemen terdiri dari eksisi bedah konservatif. Secara histologis,

odontoma terdiri dari berbagai jumlah enamel, jaringan pulpa, organ enamel dan sementum.

Kapsul jaringan ikat mirip dengan folikel gigi. Sel hantu sering terlihat bersamaan dengan

kalsifikasi dystrophic bulat, konsentrat enamel dan lembaran dentin displastik.14

Kesimpulan

Laporan ini merupakan dua dari sedikit kasus yang dilaporkan dalam literatur dimana

erupsi odontoma dalam rongga mulut dan dapat diperiksa secara visual dan manual . Karena

odontoma mewakili sebagian besar tumor rahang, pengetahuan yang memadai tentang

karakteristik mereka diperlukan untuk menetapkan diagnosis dan pengelolaan yang tepat.

Kasus 2

Compound Odontoma - A Case Report

Contoh kasusseorang pasien wanita berusia 14 tahun dirujuk ke spesialis ortodontik

dengan keluhan gigi yang hilang di daerah gigi depan kiri atas dan tumbuh di atas gigi depan

bagian atas yang tidak menyenangkan baginya secara estetis. Riwayat medis pasien telah

mengalami ekstraksi gigi insisivus tengah kiri atas dua bulan yang lalu karena trauma pada

gigi. Pemeriksaan menunjukkan pola skeletal kelas I dan hubungan molar kelas I. Pemeriksaan

intraoral menunjukkan hilang 21 dan pembengkakan di palatal berukuran 1x1 cm dalam

kaitannya dengan 21, 22, 23. Pembengkakan diperpanjang dari aspek mesial 11 sampai 24.

Mukosa di atasnya berwarna normal, 23 ditempatkan secara bukal. Pada palpasi pembengkakan
sangat konsisten dengan gambaran radiografi periapikal dan OPG (Ortho Pantomo Gram)

mengungkapkan massa struktur gigi seperti kalsifikasi radiopaque dibandingkan dengan akar

gigi insisivus lateral kiri atas. Lesi itu dioperasi dibuang dengan anestesi lokal dan spesimen

dikirim ke departemen patologi oral. Temuan kotor menunjukkan massa kalsifikasi

menyerupai yang kecil gigi seperti dentin. Seluruh spesimen disimpan di bagian histologi dan

menunjukkan adanya massa gigi struktur yang terbuat dari dentin, matriks enamel, pulpa.

sehingga berkorelasi secara klinis, radiografi dan mikroskopik temuan, di diagnosis odontoma

compound.

Diskusi

Paul Broca mendefinisikan istilah odontoma sebagai "tumor yang terbentuk oleh

pertumbuhan berlebih dari jaringan gigi fana atau lengkap adalah tumor campuran, yang terdiri

dari epitel dan sel mesenkim yang menghadirkan jaringan gigi lengkap diferensiasi.22 Etiologi

odontoma sebagian besar tidak diketahui. Lesi selalu asimtomatik dan biasanya ditemukan

pada pemeriksaan radiografi rutin selama periode kedua dan dekade ketiga kehidupan.23 Studi

telah menunjukkan bahwa sebagian besar odontom terjadi di kanan sisi rahang, sedangkan di

odontoma kasus ini terlihat di atas kuadran kiri.24 Usia rata-rata kejadian ditemukan 20,3 tahun

sedangkan pasien kami jauh lebih muda dan 14 tahun.25Beberapa penelitian menganggap

odontoma terjadi lebih umum pada wanita daripada pada pria.26 Yang lainnya

mempertimbangkan lesi ini juga terdistribusi baik di antara kedua jenis kelamin.27 Sebaliknya,

Iatrous et al.28 dan Yadav dkk.29 ditemukan prediksi laki-laki. Pasien ini adalah perempuan.

Secara klinis kebanyakan odontoma asimtomatik jarang menyebabkan pembengkakan, nyeri,

supurasi, ekspansi tulang, dan perpindahan gigi.14 Odontoma bersifat kompleks atau majemuk,

dan diklasifikasikan seperti intraosseous, yang terjadi di dalam tulang dan bisa meletus (Erupsi

odontoma) ke dalam rongga mulut dan ekstraoseus atau perifer yang terjadi di jaringan lunak

yang menutupi gigi bagian dari rahang.30 Lesi ini tersusun dari lebih dari satu jenis jaringan
dan untuk alasan ini disebut odontoma compound / komposit. Dalam beberapa odontoma

komposit, enamel dan dentin diletakkan sedemikian rupa sehingga strukturnya mempunyai

kemiripan anatomi yang cukup dengan gigi normal, kecuali bahwa mereka seringkali lebih

kecil dari gigi khas.31Dan disebut senyawa odontoma komposit saat setidaknya ada kesamaan

anatomi superfisial dengan gigi normal. Biasanya terletak di anterior maxilla.31 Di sisi lain bila

jaringan gigi kalsifikasi itu sederhana massa yang tidak teratur juga memiliki kemiripan

morfologis gigi yang belum sempurna, istilah kompleks odontoma komposit, memang

biasanya terletak di mandibula posterior.31 Secara radiografi, tahap pertama ditandai oleh

radiolusen karena tidak adanya kalsifikasi jaringan gigi, tahap kedua atau menengah

menunjukkan pengapuran parsial dan pameran panggung radiopak ketiga atau kalsifikasi

jaringan utama dengan sekitarnya halo radiolusen yang dijelaskan di atas.32 Secara

histopatologis, lesi terdiri dari normal muncul enamel atau matriks enamel, dentin, jaringan

pulpa dan sementum yang tidak menunjukkan hubungan normal satu sama lain. Kapsul

jaringan ikat di sekitar odontoma mirip dengan folikel disekitar gigi normal. Ghost cel terlihat

masuk 20% kasus.14 Pengobatan odontoma adalah operasi pengangkatan. Prognosis dari tumor

ini sangat baik dengan sedikit kecenderungan kambuh.

Kesimpulan

Odontoma, senyawa dan kompleks, harus diperiksa secara mikroskopis, untuk

menetapkan diagnosis definitif. Meskipun diagnosis odontoma komposit tidak terlalu

menantang untuk ahli patologi oral, sangat penting untuk diagnosis dini dan pengelolaan

odontoma yang tepat untuk mencegahnya komplikasi kraniofasial dan masalah perkembangan

lainnya.

Kasus 3

Odontoma complex: clinical case report


Contoh kasus Pasien perempuan, 18 tahun, dirujuk untuk perawatan khusus, untuk

melakukanekstraksi gigi (48) dan operasi untuk diangkatlesi yang belum didiagnosis.Setelah

anamnesis menyeluruh, dia melaporkan rasa sakit yang sama digigi, bengkak, dan

pembengkakan yang berlangsung selama 2 tahun. Pada tahun 2011, setelah menjalani

pengobatanortodontik, cedera terdeteksi melalui radiografi panoramik,lalu dirujuk ke layanan

khusus untuk diagnosis dan pengobatan.Pemeriksaan klinis ekstraoral ditemukan asimetri di

sepertiga bagian bawah wajah dikanan. Ditemukan juga area yang mengeras di daerah

mandibula kanan, tidak nyeri pada palpasi. Dalam pemeriksaan klinis intraoral, ditemukan gusi

bengkak dan pendarahan serta terdapat fistula pada permukaan wajah di wilayahgigi 48.

Mengenai pemeriksaan radiografi, ditemukan gigi yang terkena dampak di dasar mandibula

daerah gigi 48 dengan penebalan tulang kortikal, berhubungan denganmassa radiopak yang

luas, dengan gambaran halo radiolusen. Pasien kembali 2 tahun setelah kontak awal,

dankemudian dilakukan biopsi insisi lesi, dimanahasil pemeriksaan histopatologis

menunjukkan adanyaodontoma kompleks.

Diskusi

Jenis tumor odontogenik menunjukkan perbedaan statistik setelah studi retrospektif

dilakukan, di Asia, Afrika, Eropa, dan Amerika. [16,17] Namun, bisa juga diasumsikan bahwa

variasi geografis dapat mengganggu. Perbedaan ditemukan dalam penelitian ini, karena di

beberapa negara bagian Odontoma diremehkan karena tidak adanya gejala klinis, terbatasnya

pertumbuhan beberapa tumor dan bahkan kelalaian pasien yang tidak mencari perawatan.

[18,19] Seperti dalam kasus ini, dimana pasien butuh waktu lebih lama dari 2 tahun setelah

penemuan awal lesi untuk melakukan biopsi dan mencapai diagnosis histopatologis dari

odontoma kompleks. Oleh karena itu, banyak kasus yang didokumentasikan salah atau bahkan

tidak dikirim untuk penyelidikan histopatologis. Pada populasi Brasil, dapat diamati tumor

odontogenik prevalensi odontoma 29,9% dan di luar ini, 9,7% adalah odontoma sekunder dan
15,3% odontoma kompleks. [20] Namun, odontoma dengan luas keterlibatan rahang jarang

ditemukan. [5] Dalam kasus klinis yang dimaksud adalah kasus langka dari cedera kompleks

yang luas odontoma, yang mungkin terkait dengan impaksi molar ketiga. Sebaliknya,

kebanyakan pasien dengan tumor odontogenik (86%) memiliki usia lebih dari 20 tahun, tanpa

predileksi untuk jenis kelamin.[16,21] Odontoma kompleks lebih sering terjadi pada

mandibula, di daerah posterior di sisi kanan, yang sebanding pada studi sebelumnya. [7,22]

Sesuai dengan studi ini, kasus yang dijelaskan berkaitan dengan lesi mandibular di wilayah

gigi 48 perempuan, 18 tahun. Seperti biasanya lesi asimtomatik, banyak kasus akhirnya

ditemukan selama rutinitas radiografi. [12] Gambaran radiografi Odontoma kompleks adalah

adanya kalsifikasi struktur, mirip dengan massa radiopak yang tidak menyerupai gigi, seperti

odontoma compound, dikelilingi oleh radiolusen. Komplementer dengan radiografi

konvensional, tomografi menunjukkan lebih banyak rincian struktur internal yang tidak dapat

dilihat dengan jelas pada radiografi konvensional. Dengan kemampuan untuk melihat gambar

tridimensional, menjadi sangat penting dalam diagnosis dan perencanaan bedah. [23,24] Dalam

kasus ini, pengamatan cedera itu melalui temuan radiografi panoramik yang diminta oleh

seorang ortodontis. Perkembangan kondisi patologis itu tumor odontogenik dapat dikaitkan

dengan adanya molar ketiga yang terkena dampak.Pengangkatan gigi diindikasikan pada kasus

infeksi, kista, tumor, kerusakan gigi yang berdekatan, dan tulang. Perkembangan tumor terkait

dengan adanya molar ketiga yang terkena dampak iniluar biasa langka. Selain itu, menurut

kejadian, itu diklaim relatif kecil. Namun, dalam kasus klinis yang dijelaskan di penelitian ini

mencatat adanya odontoma kompleks di daerah molar ketiga yang terkena dampak. Prognosis

lesi sangat baik, dengan kekambuhan jarang dalam kebanyakan kasus ketika eksisi lengkap

dilakukan. Untuk meminimalkan kekambuhan lesi, beberapa tindakan mungkin diambil,

seperti enukleasi dengan ostektomi perifer, dengan penghapusan mukosa di atasnya dan

penggunaan Carnoy. [27] Pengobatan dalam kasus odontoma adalah enukleasi, namun ukuran
lesi bisa mengganggu indikasi, terutama pada kasus lesi yang lebih luas, dimana pengangkatan

mungkin melibatkan kehilangan tulang yang besar, patah tulang rahang potensial dan

kerusakan saraf alveolar inferior. Dalam kasus ini, teknik yang paling tepat adalah osteotomy

split sagital (SSO). [28] Dalam kasus ini, karena ini adalah cedera yang parah kemungkinan

fraktur mandibula, akses ekstra enukleasi dilakukan.

Kesimpulan

Menurut literatur yang diulas dan kasus yang dilaporkan, memang demikian

menyimpulkan bahwa lesi yang dievaluasi adalah odontoma kompleks terkait dengan gigi yang

terkena dampak. Reseksi blok bagian dari rahang diperlukan untuk penyelesaian lengkap kasus

ini, dengan prognosis yang baik.

Kasus 4

An Erupted Compound Composite Odontoma Associated with Supernumerary Tooth

Contoh kasus seorang pasien laki-laki berusia 12 tahun dilaporkan keSpesialis

pedodontik dan preventifKedokteran gigi dengan keluhan gigi yang tidak beraturan depan atas.

Tidak ada riwayat trauma begitu juga keluarganya. Pemeriksaan Intra Oral menunjukkan

adanya struktur seperti gigi di daerah gigi insisivus sentralis maksila erupsi secara labial dengan

mesiodens lingual ke dalam garis tengah. Struktur seperti gigi berwarna putih, konsistensinya

keras dan diukur sekitar 10mm mesiodistal dan 7 mm labiolingually. Sebagai hasilnya,

insisivus sentral permanen kiri atas berpindah ke daerah gigi insisivus lateral kiri dan juga

berrotasi distolingually. Sebagai konsekuensinya ini, gigi insisivus lateral permanen

mengalami erupsi palatal. Untuk sementara waktu struktur seperti gigi didiagnosis sebagai

odontoma compound. Radiograf periapikal intra oral dan Ortopantamografi diambil untuk

evaluasi radiografi.
Investigasi

Investigasi radiografi bersifat radiografi Interpretasi mengungkapkan dua definisi dengan baik

Radiopacities yang tumpang tindih di dalam tulang alveolar Di daerah gigi insisivus sentral

kiri atas. Yang kecil Radiopacity menyerupai struktur gigi dengan Bagian mahkota berbentuk

kerucut dan akarnya Bagiannya tumpang tindih oleh radiopacity yang lebih besar. Radiopasitas

yang lebih besar memiliki definisi yang baik Perbatasan kortikal dan di dalam Aspeknya, pita

radiolusen tipis seragam. Besarnya radiopasitas serupa dengan Gigi yang berdekatan

Berdasarkan fitur tersebut Radiopacities yang lebih kecil dan lebih besar dapat didiagnosis

sebagai mesiodens dan compound odontoma. Pemeriksaan histopatologis menunjukkan bahwa

Haematoxylin dan eosin bernoda decalcified keras bagian jaringan menunjukkan meshwork

kolagen menyerupai tubulus dentinal seperti struktur dan bersama dengan itu jaringan keras

seperti struktur yang diamati.

Diskusi

Menurut definisi, odontoma mengacu pada tumor manapun asalkan odontogenik Tapi

bisa juga disebut Sebuah pertumbuhan di mana kedua epitel dan Sel mesenchymal dipamerkan

lengkap Diferensiasi yang mengarah ke enamel dan dentin Formasi meski dalam pola

abnormal. Ini Bisa jadi karena kegagalan sel odontogenik Mencapai keadaan normal

diferensiasi morfo. Sekarang odontoma mewakili kesalahan malformasi daripada sebuah

tumor, Seperti lesi yang tersusun lebih banyak Dari satu jenis jaringan, bisa juga disebut

sebagai Odontoma komposit Saat enamel dan dentin Ditetapkan sedemikian rupa sehingga ada

Kemiripan anatomis dengan gigi normal itu Disebut sebagai compound komposit odontoma

dan ketika mereka diendapkan hanya sebagai massa tidak beraturan dan tidak membawa

kesamaan morfologis bahkan sampai Gigi yang belum sempurna, istilah senyawa kompleks

Odontoma digunakan Tipe baru yang dikenal sebagai hybrid Odontoma yang juga dilaporkan
oleh beberapa penulis. Bentuk kompleks kurang umum dari pada Tipe Odontoma compound

biasanya tetap ada Kecil, tapi terkadang mereka bisa menjadi besar Menyebabkan ekspansi

tulang. Di antara semua Tumor odontogenik, odontoma terbentuk 22% tumor dari rahang

(36,37) . Odontoma memiliki predileksi untuk rahang anterior Dan odontoma kompleks

memiliki predileksi untuk Rahang posterior . Menariknya kedua jenis Odontoma terjadi lebih

sering di sisi sebelah kanan . Odontoma kompleks umumnya terjadi pada Wanita sedangkan

varietas majemuknya Sekitar merata antara Laki-laki dan perempuan. Gigi Yang permanen

tampaknya lebih sering terkena Dari pada pergantian gigi. Etiologinya tidak diketahui, Namun

telah disarankan bahwa trauma lokal atau Infeksi dapat menyebabkan produksi luka seperti itu.

Beberapa kali odontoma bisa terwujud sebagai Bagian dari sindrom (40) . Secara klinis, saat

Odontoma yang terjadi di dalam tulang disebut Intraosseous dan bila terjadi pada Jaringan

polos mereka disebut odontoma ekstraoseus(41). Jarannya menyebar ke rongga mulut dan

Disebut sebagai erupsi odontoma (42). Rumel dkk di 1980 menggambarkan kasus pertama

odontoma compound yang erupsi tapi sejak itu hanya beberapa kasus Telah didokumentasikan

dalam literatur (43). Mekanisme letusan odontoma nampakny Berbeda dengan normal erupsi

gigi dan Beberapa merasa bahwa peningkatan ukuran Odontoma dari waktu ke waktu

menghasilkan kekuatan Cukup untuk menyebabkan resorpsi tulang (44). Lain Alasan letusan

odontoma bisa jadi kurus bila dilakukan Remodelling dari rahang. Secara klinis odontoma

Dapat ditemukan pada usia berapapun, tapi usia rata-rata Ditemukan 8-14 tahun dengan yang

kedua Dekade menjadi usia yang paling umum (45,46 ). Meski asimtomatik, odontoma sering

terjadi Menyebabkan gangguan pada erupsi gigi tersebut Sebagai impaksi, erupsi tertunda,

retensi Gigi utama atau kelainan pada posisi Gigi seperti tip atau perpindahan Gigi yang

berdekatan jarang, odontoma bisa menyebabkan akar resorpsi gigi, paresthesia (47) atau

anestesi bibir bawah (48).

Kasus 5
Intra Oral Approach for Complex dan Compound Odontomas ( Large& Small)

Contoh kasus pertama seorang pasien laki-laki berusia 15 tahun melaporkan dengan

keluhan deformitas wajah & nyeri di daerah gigi belakang bawah yang lebih renda sejak 3

bulan. Rasa sakit spontan saat onset, muncul berselang wktu, memperparah saat mengunyah

dan hilang dengan sendirinya setelah beberapa menit. Riwayat gigi dan medis masa lalunya

tidak signifikan. Pemeriksaan lainnya terdapat adanya deformitas wajah di sisi kiri wajah

bagian bawah, bertulang keras, dengan permukaan halus dan teratur. Batasan pembengkakan

membentang dari badan mandibula ke daerah ramus, dan tidak termasuk rahang bawah.

Ukurannya 3 cm. Pemeriksaan intraoral menunjukkan massa coklat kekuningan yang tidak

beraturan, kira-kira 3 cm dalam dimensi maksimal di atas area molar kiri. Gigi premolar 2 dan

semua geraham permanen tidak tampak, mukosa di sekitarnya meradang. Pada palpasi,

konsistensi massa coklat terasa kecil dan tertutup oleh kalkulus pada buccal dan lingual.

Radiografi panoramic menggambarkan daerah radiopak berukuran rata-rata diameter

maksimum 3,5 cm. Daerah molar mandibula kiri, struktur internal yang sebagian besar

radiopak menunjukkan massa tidak beraturan, jaringan kalsifikasi dengan berbagai tingkat

radiolusen. Molar & gigi premolar pertama mandibula terkena dampak sehingga kedua dan

ketiga hilang. Batas bawah mandibula sangat tipis & utuh. Dari klinis sehingga di diagnosis

odontoma kompleks. Pasien direncanakan operasi dengan anestesi umum, dengan sayatan

horisontal intral oral, & insisi vertikal anterior, odontoma diinkubasi bersamaan dengan molar

pertama, penutupan primer dilakukan dan penyembuhan berjalan dengan lancar.

Contoh kasus kedua Seorang pria berusia 40 tahun dilaporkan mengalami nyeri dan

bengkak di sisi kanan rahang bawah. Gigi pertama molar pertama hilang, pembengkakan dan

nyeri tekan terasa pada mukosa. OPG(orto phantom gram) memiliki ukuran sekitar 2 cm x 1

cm. Dari gejala klinis didiagnosis odontoma kompleks dan odontoma intraoral diangkat dengan

pendekatan intra oral di bawah lokal anestesi.


Contoh kasus ketiga seorang pria berusia 18 tahun melaporkan ke Spesialis dengan

keluhan gigi insisivus sentralis maksilaris kiri hilang dan pembengkakan. Tidak ada riwayat

nyeri bengkak dll. OPG(orto phantom gram) menggambarkan insisivus sentral yang terkena

dampak dengan struktur radioopak. Struktur seperti gigi dilepas secara intra oral dengan

anestesi lokal, pemeriksaan histopatologi didapatkan odontoma compound.

Contoh kasus keempat seorang wanita berusia 24 tahun melaporkan ke spesialis bedah

mulut & maksilofasial dengan keluhan gigi yang hilang di sebelah kanan bawah daerah

posterior. Terdapat struktur seperti gigi kecil. OPG mengungkapkan beberapa struktur seperti

gigi dikelilingi oleh batas radiolusen dengan tampak benturan premolar pertama yang terkena

dampak, sehingga di diagnosis odontoma compound. Pasien direncanakan dengan anestesi

lokal, secara intra-oral, tiga sisi diangkat, sepuluh gigi seperti struktur gigi telah diganti dengan

premolar pertama yang terkena dampak dan dibuang.

Hasil

Paling banyak empat kasus dua laki-laki berusia di bawah dua puluh tahun, satu adalah

odontoma kompleks yang erupsi ukuran 3 cm x 5 cm dengan gigi molar pertama dan ketiga

pada radiografi. Lainnya memiliki odontoma compound berukuran 2 cm x 2 cm. Semua

didiagnosis dengan melakukan pemeriksaan radiografi. Pasien dengan odontoma sekunder

bersifat asimtomatik dimana pasien dengan odontoma kompleks mengalami nyeri, bengkak,

keduanya erupsi di rongga mulut. Paling banyak empat pasien satu adalah perempuan dan tiga

laki-laki. Tiga lesi berada di daerah posterior di mandibula, dua kompleks dan satu compound,

di mana sebagai satu odontoma compoun berada di daerah anterior rahang atas. Dua odontoma

hadir di sisi kanan (1 kompleks, 1 compound), satu odontoma besar yang kompleks di sebelah

kiri sisi mandibula, dimana satu senyawa odontoma ada di daerah anterior rahang atas. Semua
odontoma kecil atau besar diobati dengan penyembuhan intra oral dilihat dari intensi primer.

Tiga kasus dilakukan dengan anestesi lokal & satu lesi besar diangkat dengan anestesi umum.

Diskusi

Istilah odontoma diciptakan oleh Paul Broca pada tahun 1867. Odontoma adalah

definisi hamartoma odontogenik. Asal & biasanya dianggap sebagai anomali perkembangan

[47]. Odontoma adalah odontogenik yang paling umum, anomali perkembangan ditemukan di

rahang [60].

Sehubungan dengan lokasi, odontoma lebih sering ditemukan di daerah anterior rahang

atas. Dalam studi Regezi dkk. [49] dan Kaugars et al. [61] Gigi yang paling umum terkena

adalah daerah anterior (gigi seri dan gigi taring) dari maxilla, diikuti oleh daerah mandibula

anterior. Kaugars dkk. [61] melaporkan kejadian itu odontoma di daerah molar berangsur-

angsur meningkat setiap dekade berturut-turut. Odontoma kompleks cenderung terjadi lebih

sering terjadi pada mandibula posterior 44%. [48] bertentangan dengan tiga odontoma berada

di daerah posterior mandibular & hanya satu senyawa odontoma adalah daerah anterior rahang

atas. Klasifikasi yang diberikan oleh H M Worth pada tahun 1937 adalah sebagai berikut [49].

odontoma epitel yang timbul dari epitel dental: Kista gigi, kista dentigerous, kista

multilokular (ada- mantinoma) Odontoma komposit yang timbul dari epitel gigi dan jaringan

mesoblastik gigi: Kompleks, compound geminated Dan melebar. Pada tahun 1946, Thoma dan

Goldman memberikan klasifikasi yaitu sebagai berikut.

odontoma komposit besar: Dua atau lebih, gigi kurang lebih berkembang dengan baik

menyatu.

Compound composite odontomas: Terdiri dari gigi yang kurang lebih sempurna.
Kompleks odontoma komposit: Struktur yang dikategorikan tidak memiliki kemiripan yang

mirip dengan anatomi normal susunan jaringan gigi.

Implantasi dilatasi: Bagian mahkota atau akar gigi menunjukkan pembesaran.

odontoma kistik: odontoma yang biasanya dienkapsulasi oleh jaringan ikat fibrosa pada kista

atau pada dinding kista. menurut klasifikasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), odontoma

dapat dibagi menjadi tiga kelompok.

odontoma kompleks: Bila jaringan gigi kalsifikasi hanya diatur dalam bantalan massa tidak

beraturan kesamaan morfologis dengan gigi yang belum sempurna.

Compound odontoma: Terdiri dari semua jaringan odontogenik dalam pola teratur, yang

berakibat banyak seperti struktur gigi, tapi tanpa kemiripan morfologis dengan gigi normal.

Ameloblastik fibro-odontoma: Terdiri dari berbagai jumlah jaringan gigi kalsifikasi dan

papila gigi. Jaringan, komponen selanjutnya menyerupai fibroma atoloblastik.

Ameloblasticfibro odontoma dipertimbangkan sebagai prekursor odontoma yang tidak matang.

Tidak ada predileksi gender dan odontoma namun ada kontroversi mengenai distribusi

gender. Beberapa penelitian telah menunjukkan odontoma lebih sering terjadi pada wanita

daripada pada pria [62] [63], yang lain mempertimbangkan lesi ini untuk juga mendistribusikan

kedua jenis kelamin [64] [65]. Iatrous dkk. & Yadav dkk. [66] [67] telah menunjukkan laki-

laki prediksi serupa dengan penelitian kami dimana rasio wanita pria adalah 3: 1. Beberapa seri

kasus menunjukkan bahwa sebagian besar odontoma didiagnosis pada dua dekade pertama

kehidupan[64], serupa dengan penelitian kami, tiga pasien didiagnosis pada dekade ke 2 & ke-

3, mereka dapat ditemukan pada usia berapapun namun kurang dari 10% ditemukan di usia di

atas 40 tahun yang sama dengan kasus kami yang berusia 45 tahun.
Beberapa penelitian telah melaporkan adanya hubungan antara usia pasien & tipe

odontoma yang melibatkan lesi sekunder lebih sering pada pasien yang lebih muda [68], yang

mendukung penelitian kami. compound odontoma terlihat pasien dua belas antara 18 - 24

tahun. Beberapa seri kasus telah mendokumentasikan bahwa sebagian besar odontoma terjadi

lebih sering di sebelah kanan sisi rahang daripada di sebelah kiri [64], untuk mendukung

penelitian kami, dua pasien menunjukkan odontoma di sisi kanan, satu di sebelah kiri

mandibula posterior samping & satu di daerah anterior. Odontoma besar berhubungan dengan

gangguan lokal seperti erupsi gigi permanen dan erupsi perkembangan lesi kistik sebagai

dentigerouscysts [66].

Jarang odontoma dapat membentuk lesi jaringan perifer atau jaringan lunak di mana

mereka muncul di luar tulang alveolar dan mungkin terkelupas atau erupsi [65]. Kasus pertama

erupsi odontoma digambarkan pada tahun 1980 oleh Rumel et al. [66].

Sepengetahuan kami hanya 20 kasus yang telah didokumentasikan dalam literatur. Dari

20 kasus yang dilaporkan dari odontoma yang erupsi, 9 berhubungan dengan senyawa dan 11

untuk odontoma kompleks. Keadaan ini bisa menyebabkan rasa sakit, radang jaringan lunak

yang berdekatan, atau infeksi yang terkait dengan supurasi [67]. Mekanisme erupsi odontoma

nampak berbeda dengan erupsi gigi karena kurangnya ligamentum periodontal dan akar di

odontoma.

Oleh karena itu kekuatan yang dibutuhkan untuk menggerakkan odontoma tidak terkait

dengan kontraktilitasnya fibroblas, seperti pada kasus gigi. Meskipun tidak ada formasi akar

pada odontoma, ukurannya yang meningkat dapat menyebabkan untuk penyerapan tulang di

atasnya dan, karenanya gerakan oklusal atau letusan. Kenaikan ukuran odontoma dari waktu

ke waktu menghasilkan kekuatan yang cukup untuk menyebabkan resorpsi tulang [18]. Mirip
dengan dua kasus ini yang erupsi di rongga mulut di daerah posterior & menunjukkan tanda-

tanda peradangan & nyeri.

Meskipun odontoma umumnya asimtomatik, indikator klinis mungkin termasuk retensi

gugur gigi, erupsi gigi tetap, nyeri, perluasan tulang kortikal & perpindahan gigi [47]. Pada

saat ini seri kedua rasa sakit & tidak adanya gigi tercatat. Kehadiran rasa sakit bisa jadi

mungkin karena infeksi sekunder (Odontoma sangat dekat dengan mukosa alveolar) yang bisa

terjadi karena penggantian tulang secara besar jumlah jaringan keras avaskular [66].

Gigi yang tidak erupsi lebih sering terjadi pada compound dibandingkan odontoma

kompleks. [65] berbeda dengan seri sekarang di mana kami menemukan compound kompleks

dan senyawa odontoma dikaitkan dengan gigi yang tidak erupsi.

Penemuan sering terjadi karena pemeriksaan radiografi untuk penyebab tidak erupsi

permanen atau dipertahankan gigi sulung [60] [67] mirip dengan gigi yang terkena studi kami

ada dalam tiga dari empat kasus. Etiologi odontoma tidak diketahui namun faktor genetik dan

penyebab lingkungan seperti trauma dan infeksi telah diusulkan [53]. Lopez Areal telah

menyimpulkan dalam studinya bahwa jika cedera terjadi sejak dini masa kecil, lebih cenderung

membentuk odontoma [70]. Hitchin [71] menyarankan bahwa odontoma diwariskan atau

karena ke mutagen atau interferensi yang mungkin pascakelahiran dengan kontrol genetik

perkembangan gigi.

Pengobatan termasuk enukleasi odontoma secara intra oral kecil & besar & semua

pasien menunjukkan ketidaknyamanan penyembuhan berbeda dengan Vibhasingh et al. [29]

yang telah mengeluarkan odontoma besar dengan submandibular mendekat.

Kesimpulan

Odontoma bisa menjadi salah satu penyebab nyeri orofacial dan pembengkakan. Ada

hubungan yang tinggi antara odontoma dan impaksi gigi permanen seperti yang disajikan
dalam tiga kasus kami. Selalu ada bahaya kerusakan tulang menyebabkan fraktur patologis jika

lesi tidak diobati. Pengobatan intra oral lebih baik dari pada ekstra oral. Pengobatan untuk

menghilangkan odontoma kecil / besar sehingga mencegah jaringan parut yang tidak perlu pada

individu muda untuk alasan kosmetik

Kasus 6

Odontoma Complex : Study & Case Report

Seorang pasien wanita berusia 15 tahun datang ke Departemen Kedokteran Oral dan

Radiologi dengan Mengeluhkan tidak adanya gigi di daerah punggung bawah rahang. Pasien

tidak memberikan riwayat medis apapun dan ini adalah kunjungan pertamanya ke dokter gigi.

Pasien sadar, kooperatif dengan gaya berjalan normal. Semua tanda vital normal. Ekstra secara

lisan tidak ada Asimetris atau nodul getah bening. Intraoral Pemeriksaan terungkap Tidak

adanya mandibula pertama Molar di lengkung mandibular di sisi kiri. Gingiva terlihat begitu

Sehat, tegas dan tangguh dan tidak ada kalkulus atau noda . Bibir, mukosa bukal, lidah dan

lantai Dari mulut, langit-langit mulut dan pharynx menunjukkan tidak ada kelainan. Atas dasar

temuan klinis yang kami berikan Diagnosis sementara Hypodontia. Pasien itu Dirujuk untuk

radiograf panorama yang diungkapkan Massa radiopak yang terdefinisi dengan baik dengan

radiolusen Band di sekitarnya, coronal ke molar pertama yang Tampaknya telah tergusur ke

arah yang lebih rendah Batas mandibula Massa radiopak itu Seragam dengan kepadatan lebih

besar dari pada tulang dan Setara dengan gigi. dari Radiografi Diagnosa mendukung Odontoma

Kompleks Dengan diagnosis diferensial dari penyemenan atau Ossifying fibroma. Pasien

dipanggil kembali setelah 3 bulan Dimana radiograf panorama ulang menunjukkan bahwa di

Dibandingkan dengan radiografi pasca bedah gigi Telah meletus dan aspek koronal distal molar

Sekarang mendekati puncak punggung bukit. Pasien Dirujuk ke departemen Orthodontik untuk

lebih pengobatan jauh.


Diskusi:

Odontoma terjadi sekitar 22% dari 6 semua Tumor odontogenik dari rahang. Lebih dari

Tipe senyawa (62%) terjadi pada maxilla anterior pada Hubungan dengan mahkota yang tidak

erupsi dan 70% odontoma kompleks ditemukan di Daerah molar pertama dan kedua mandibula.

Dari Lain Studi menunjukkan terjadinya 67% odontome pada maxilla ini dan 33% pada

mandibula dengan tanda Predileksi untuk daerah maxillary anterior. 61% . Etiologi odontoma

tidak diketahui. Saya Telah disarankan bahwa trauma atau infeksi lokal mungkin terjadi

Menyebabkan produksi lesi. Mungkin juga disebabkan Karena mutasi atau gangguan pada

tingkat genetik. Temuan radiografi odontoma Tergantung pada tahap perkembangan dan

derajatnya Mineralisasi. Tahap pertama ditandai dengan Radiolusen karena kekurangan

kalsifikasi. Sebagian Kalsifikasi diamati pada tahap intermediate, Sementara di tahap ketiga

lesi biasanya tampak seperti Massa radiopak dikelilingi oleh daerah radiolusen Sesuai dengan

jaringan ikat

Secara histologis. Tampilan radiografi Odontoma kompleks adalah opasitas yang terletak di

Tulang, memiliki kepadatan lebih besar dari pada tulang dan Sama atau lebih besar dari pada

gigi.

Perbedaan Penampilan radiografi komposit senyawa Odontome yang paling umum

adalah sekelompok kecil Massa padat tak berbentuk yang tidak memiliki kemiripan dengan

bentuk Gigi tapi sama atau lebih besar dalam kepadatan, Tergantung ukuran ukurannya,

Manifestasi lain radiografi adalah adanya dua gigi atau lebih seperti massa yang memiliki

enamel berbentuk kerucut seperti Mahkota yang tertutup dan dengan fusi radiolusen Bagian.

Klasifikasi odontoma Thomas dan Goldman : kompartemen komposit Odontoma (dua

Atau lebih, gigi kurang lebih berkembang menyatu), Senyawa komposit Odontomes (terdiri
dari lebih Atau gigi kurang sempurna), komposit kompleks Odontomes (struktur kalsifikasi,

yang tidak besar Mirip dengan susunan anatomi normal Jaringan gigi), dilatasi Odontomes

(mahkota atau bagian akar Menunjukkan gigi ditandai pembesaran), kistik Odontomes

(biasanya dienkapsulasi dengan berserat Jaringan ikat di dinding kista).

Diagnosis banding meliputi hiperpanosis Yang melekat pada bagian akar dan biasanya

Dipisahkan dari tulang periapikal dengan radiolusen Ruang ligamen periodontal, yang

mengelilingi Seluruh akar Kondensasi osteitis biasanya dapat diperintah Keluar karena

biasanya terjadi pada periapex nonvital Gigi dan tidak memiliki pelek radiolucent. Periapikal

osteosclerosis biasanya cukup tidak teratur Bentuk dengan tidak adanya batas radiolusen.

Pengobatan sebagian besar waktu adalah kuratif dan Eksisi bedah Karena dikelilingi oleh

penghubung.

Kesimpulan:

Pemeriksaan klinis menyeluruh dan diperlukan pemeriksaan Radiografi biasanya untuk

diagnosis yang baik. Temuan rutin jika tidak terjawab bisa menyulitkan rencana perawatan,

Oleh karena itu, tugas moral seorang ahli diagnosa yang cerdik Mengevaluasi dan

mendiagnosis lesi secara menyeluruh.


BAB IV

PENUTUP
4.1 Kesimpulan

Odontoma adalah malformasi atau lesi perkembangan hamartoma non-agresif yang

berasal dari odontogenik, terdiri dari email, dentin, sementum dan jaringan pulpa (oleh karena

itu disebut juga campuran yang terdiri dari multiple atau lebih dari satu tipe). Odontoma

complex jarang terjadi dibandingkan odontoma compound. Sering ditemukan dengan gigi yang

tidak erupsi, biasanya sering terjadi pada region molar pertama dan molar kedua rahang bawah.

Perawatannya adalah dengan enukleasi atau kuretase jika odontoma merupakan sumber

potensial obstruksi pada gigi yang erupsi sebagai fokal infeksi. Odontoma compound dapat

dideteksi dengan mudah karena membentuk struktur mirip dengan anatomi gigi

normal.Gambaran radiografis , lokasi , batas jelas usia okurensi, zona lusen di sekitar lesi

dapat membedakan complex odontoma dari lesi opak lain pada rahang, seperti focal scleroting

osteomyelitis, idiopathic osteosclerosis, periapical cemental dysplasia, cementoossifying

fibroma, cementoblastoma, osteoma, osteoblastoma dan osteoid osteoma.

Odontoma merupakan tumor jinak dan berkapsul sehingga eksisi dapat dilakukan

dengan sempurna sehingga mempunyai prognosis yang baik karena tidak menunjukkan adanya

kekambuhan. Bentuk gigi dari odontoma ini seperti gigi normal, cenderung bererupsi tetapi

tidak aktif, kalau bererupsi sebagian, cepat terjadi karies. Jika tidak cepat ditangani, karies ini

akan berkembang dengan cepat dan dapat menginfeksi jaringan lunak dan menimbulkan

neuralgia.

DAFTAR PUSTAKA
1. Sapp, Eversole, Wysocki. Contemporary Oral and Maxilofasial pathology. Second Edition.

Mosby. 2004.

2. Smith, R.M, Turner J, Robbins LM, Atlas Oral Pathology. C.V Mosby. St. Louis. 1981.

3. Neville, Damm, Allen, Bouquot. Oral and Maxilofacial Pathology. Second Edition. Saunders

Elsevier.2002

4. Johnson Jonas T et Rosen Clark A. Baileys Head & Neck Surgery Otolaryngology ., fifth

edition. Wolters Kluwer.

5. Prabhakar C, Sheetal H, Satish H. Compound-Complex odontoma-An important clinicalentity.

Journal of International Oral Health. Vol 4;issue 1: April 2012. 2.

6. Sudiono J, et al. Ilmu Patologi. Jakarta: EGC, 2003.

5. Amado Cuesta, Gargallo Albiol J, Berini Aytes L, Gay Escoda C (2003). Review of 61 cases

of odontoma. Presentation of an erupted complex odontoma. Med oral 8 (5):366-73. PMID

14595262

7. Krichen ghassen, et al. Odontoma associated with supernumerary and impacted teeth.

International Dental Journal of Students Research. Vol 1: issue 4. 2013.

8. Syafriadi mei. Patologi Mulut Tumor Neoplastik & Non Neoplastik Rongga Mulut.

Yogyakarta: C.V Andi Offset. 2008.

9. Reichart PA, Philipsen HP. Odontogenic Tumors and Allied Lesions. Quontessence

Publishing Co Ltd. United Kingdom. 2004: 140-6.

10. Sapp, Eversole, Wysocki. Contemporary Oral and Maxilofasial pathology. Second Edition.

Mosby. 2004.

11. Vyasarayani P, Krishna M, Pratheeth G. Treatment of compound odontoma causing delayed

eruption of maxillary central incisor assisted by diode laser. RUJODS, Ranchi University, vol1,

no 2. 2012.
12. Preetha A, Balikai BS, Sujatha D, Pai A, Ganapathy KS. Complex odontoma. Gen Dent.

2010 May-Jun;58(3):e100-2. PubMed PMID: 20478785.

13. Pranata Ocky M, Borman S, Kiki A. Penanganan complex odontoma pada rahang bawah.

Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjajaran. Bandung. 2010.

14. Cohen DM, Bhattacharyya I. Ameloblastic fibroma, ameloblastic fibro-odontoma, and

odontoma. Oral Maxillofacial Surg Clin N Am. 2004 Aug;16(3):375-84.

1 5 . Mupparapu M, Singer SR, Rinaggio J. Complex odontoma of unusual size involving the

maxillary sinus: report of a case and review of CT and histopathologic features. Quintessence

Int. 2004 Sep;35(8):641-5.

16. Rumel A, de Freitas A, Birman E, Tannous L, Chacon P, Borkas S. Erupted complex

odontoma. Report of a case. Dentomaxillofac Radiol. 1980;9:5-9.

17. Serra-Serra G, Berini-Aytes L, Gay-Escoda C. Erupted odontomas: a report of three cases

and review of the literature. Med Oral Patol Oral Cir Bucal. 2009 Jun 1;14(6):E299-303.

18. Vengal M, Arora H, Ghosh S, Pai KM. Large erupting complex odontoma: a case report. J

Can Dent Assoc. 2007 Mar;73:169-72.

19. Hidalgo-Sanchez O, Leco-Berrocal MI, Martinez-Gonzalez JM. Metaanalysis of the

epidemiology and clinical manifestations of odontomas. Med Oral Patol Oral Cir Bucal. 2008

Nov;13(11):E730-4.

20. Kaneko M, Fukuda M, Sano T, Ohnishi T, Hosokawa Y. Microradiographic and

microscopic investigation of a rare case of complex odontoma. Oral Surg Oral Med Oral Pathol

Oral Radiol Endod. 1998 Jul;86(1):131-4.


21. Reichart PA, Philipsen HP. Complex odontoma. In: Odontogenic tumours and allied

lesions. Chicago: Quintessence; 2004. p. 141-9.

22.Gulsun YO, Gul T, Dilek K, Ercan D, Yagmur S. An unusual association of Odontomas

with primary teeth. Eur J Dent 2007; 1:45-49.

23. Trivedi A, Gupta SD, Dua N, Mehta R, Mahajan S. Infected compound odontoma. A case

report. BFUDJ 2010; 1(1)63-5.

24. Shafer GW, Hine MK, Levy BM. A textbook of oral pathology (Edn 4) Philadelphia: WB

Saunders 1983; 308-11.

25. Slootweg PJ. An analysis of the interrelationship of the mixed odontogenic tumors:

Ameloblastic fibroma, ameloblastic fibroodontoma and odontomas. Oral Surg 1981; 51:266-

26. Garcia-Consuegra L, Junquera LM, Albertos JM, Odontomas RO. A clinicalhistological

and retrospective epidemiological study of 46 cases. Med Oral 2000; 5:367-72.

27. An S, An C, Choi K. Odontoma: a retrospective study of 73 cases. Imaging Sci Dent 2012;

42:77-81.

28. Iatrous I, Vardas E, Theologie-Lygidakis N, Leventis M.A retrospective analysis of the

characteristics, treatment and follow-up of 26 odontomas in Greek children. J Oral Sci 2010;

52:439-47.

29. Yadav M, Godge P, Meghana S, Kulkarni S. Compound odontoma. Contemp Clin Dent

2012; 3:S13-5.

30. Wood NK, Goaz PW, Lehnert J. Mixed radiolucent radiopaque lesions associated with

teeth. In: Wood NK, Goaz PW, editors. Differential diagnosis of oral and maxillofacial lesions.

Singapore: Harcourt Brace and Company Asia Pvt Ltd 1998, 289-314.
31. Rajendran R, Sivapathsundaram B. Shafers textbook of Oral Pathology. Edn 5, Elsivier

2006, 405-406.

32. Philipsen H, Reichart P, Praetorius F. Mixedodontogenic tumours and odontomas.

Considerations on interrelationship. Review of the literature and presentation of 134 new acses

of odontomas Oncol 1997; 32:86-99.

33. Junquera l, de Vicentene JC, Roig P, et al. Intraosseous odontoma erupted into the oral

cavity: an unusual pathology. Med Oral Patol Oral Cir Bucal. 2005:10(3):248-51.

36 . Neville Wb, Damm DD, Allen MC, et al. Odontogenic cysts and tumors. Oral &

maxillofacial pathology. WB Saunders Company Philadelphia London Toronto Montreal

Sydney Tokyo. 1995;531-3.

37. Dunn RH, Roberts WL, de Boom GW. Well circumscribed, radiopaque, and radiolucent

lesion of the anterior maxilla. Journal of American Dental Association. 1989;118(4):467-8.

38. Mupparapu M, Singer SR, Rinaggio J. Complex odontome of unusual size involving the

maxillary sinus: report of a case and review of ct and histopathologic features. Quintessence

International. 2004;35(8):641-5.

39. Tomizawa M, Otsuka Y, Noda T. Clinical observations of odontomas in japanese children:

39 cases including one recurrent case. Int J Paediatr Dent. 2005;15(1):37 43.

40. Shekar SE, Roopa SR, Gunasheela B, et al. Erupted compound odontoma. Journal of Oral

and Maxillofacial Pathology. 2009;13(1):47- 50.

41. Ramel A, Freitas A, Birmar EG, et al. Erupted complex odontoma: report of a case.

Dentomaxillofac radiol. 1980;9(1):5 9.


42. Serra-Serra G, Berini-ayts l, Gay-Escoda C. Erupted odontomas: a report of three cases

and review of the literature. Med Oral Patol Oral Cir Bucal. 2009;14(6):e299-303.

43. Vengal M, Arora H, Ghosh S, et al. Large erupting complex odontoma: a case report.

Journal of Canadian Dental Association. 2007;73:169-72.

44. Tandon S, Radhika M. Compound composite odontoma in primary dentition

a case report. Journal of indian Society of Pedodontics and Preventive Dentistry

1998;16(4):111-4.

45. Masayuki Kaneko, Megumi Fukuda, Tomoaki Sano, et al. Microradiographic and

microscopic investigation of a rare case of complex odontoma. Oral Surgery Oral Medicine

Oral Pathology Oral Radiology Endodontics. 1998;86(1):131-4.

46. Merva Soluk Tekkesin, Sevim Pehlivan, Vakur Olgac, et al. Clinical and histopathological

investigation of odontomas: review of the literature and presentation of 160 cases. Journal of

Oral and Maxillofacial Surgery. 2012;70(6):1358-61.

45. Nisha D, Rishabh K, Ashwarya T, et al. An unusual case of erupted composite

complex odontoma. Journal of Dental sciences and research 2011;2(2):59-61.

46. Shafer, W.G., Hine, M.K. and Levy, B.M. (1993) A Text Book of Oral Pathology. 4th

Edition, WB Saunders & Co., Philadelphia, 308-312.

47. Vengal, M., Arora, H., Osh, S. and Pai, K.M. (2007) Large Erupting Complex Odontoma

A Case Report. Journal of the Canadian Dental Association, 73, 169-172.

48. Shafer, W.G., Hine, M.K. and Levy, B.M. (1983) Text Book of Oral Pathology. 4th Edition,

West Washington Square, WB Saunders Company, Philadelphia.


49. Regezi, J.A. and Sciubba, J.J. Oral Pathology Clinical Pathologic Correlation. 3rd Edition,

WB Saunders, Philadelphia, 350-352.

50. Cawson, R.A., Binnie, W.H. and Eveson, J.W. (1993) Color Atlas of Oral Disease. Clinical

and Pathological Correlations. Mosby-Wolfe, Hong Kong, 6-19.

51. Owens, B.M., Schuman, N.J., Mincer, H.H., Turner, J.E. and Oliver, F.M. (1997) Dental

Odontomas: A Retrospective Study of 104 Cases. Journal of Clinical Pediatric Dentistry, 21,

261-264.

52. Katz, R.W. (1989) An Analysis of Compound and Complex Odontomas. ASDC Journal of

Dentistry for Children, 56, 445-449.

53. Bengston, A.L., Bengston, N.G. and Benassi, L.R.D.C. (1993) Odontomas em pacientes

peditricos. Revista de Odontopediatria, 2, 25-33.

54. Philipsen, H.P., Reichart, P.A. and Praetorius, F. (1997) Mixed Odontogenic Tumours and

Odontomas. Considerations on Interrelationship. Review of the Literature and Presentation of

134 New Cases of Odontomas. Oral Oncology, 33, 86-99. http://dx.doi.org/10.1016/S0964-

1955(96)00067-X.

55. Daley, T.D., Wysoki, G.P. and Pringle, G.A. (1994) Relative Incidence of Odontogenic

Tumors and Oral Jaw Cyst in a Canadian Population. Oral Surgery, Oral Medicine, Oral

Pathology, Oral Radiology, and Endodontology, 77, 276- 280. http://dx.doi.org/10.1016/0030-

4220(94)90299-2

56. Ibsen, O.A. and Phelan, J.A. (2002) Oral Pathology for the Dental Hygienist. 3rd Edition,

WB Saunders Co., Philadelphia, 626-632.


57. Yldrm-z, G., Tosun, G., Kzlolu, D., Durmu, E. and ener, Y. (2007) An Unusual

Association of Odontomas with Primary Teeth. European Journal of Dentistry, 1, 45-49.

58. Singh, S., Singh, M., Singh, I. and Khandelwal, D. (2005) Compound Composite

Odontoma Associated with an Unerupted Deciduous IncisorA Rarity. Journal of the Indian

Society of Pedodontics and Preventive Dentistry, 23, 146- 150. http://dx.doi.org/10.4103/0970-

4388.16889

59. Mupparapu, M., Singer, S.R. and Rinaggio, J. (2004) Complex Odontoma of Unusual Size

Involving the Maxillary Sinus: Report of a Case and Review of CT and Histopathologic

Features. Quintessence International, 35, 641-644.

60. Kaugars, G.E., Miller, M.E. and Abbey, L.M. (1989) Odontomas. Oral Surgery, Oral

Medicine, Oral Pathology, Oral Radiology, and Endodontology, 67, 172-176.

http://dx.doi.org/10.1016/0030-4220(89)90324-1

61. Garcia-Consuegra, L., Junquera, L.M., Albertos, J.M. and Odontomas, R.O. (2000) A

Clinical-Histological and Retro spective Epidemiological Study of 46 Cases. Medicina Oral,

5, 367-372.

62. Hisatomi, M., Asaumi, J., Konouchi, H., Honda, Y., Wakasa, T. and Kishi, K. (2002) A

Case of Complex Odontoma Associated with an Impacted Lower Deciduous Second Molar

and Analysis of the 107 Odontomas. Oral Diseases, 8, 100-105.

http://dx.doi.org/10.1034/j.1601-0825.2002.1c778.x

63. Nelson, B.L. and Thompson, L.D. (2010) Compound Odontoma. Head and Neck

Pathology, 4, 290-291. http://dx.doi.org/10.1007/s12105-010-0186-2


64. Serra-Serra, G., Berini-Ayts, L. and Gay-Escoda, C. (2009) Erupted Odontomas: A Report

of Three Cases and Review of the Literature. Medicina Oral Patologia Oral y Cirugia Bucal,

14, E299-E303.

65. Iatrous, I., Vardas, E., Theologie-Lygidakis, N. and Leventis, M. (2010) A Retrospective

Analysis of the Characteristics, Treatment and Follow-Up of 26 Odontomas in Greek Children.

Journal of Oral Science, 52, 439-447.http://dx.doi.org/10.2334/josnusd.52.439

66. Yadav, M., Godge, P., Meghana, S. and Kulkarni, S. (2012) Compound Odontoma.

Contemporary Clinical Dentistry, 3, S13-S15. http://dx.doi.org/10.4103/0976-237X.95095

67. An, S., An, C. and Choi, K. (2012) Odontoma: A Retrospective Study of 73 Cases. Imaging

Science in Dentistry, 42, 77-81. http://dx.doi.org/10.5624/isd.2012.42.2.77

68. Chandra, S., et al. (2010) Compound Composite Odontoma Erupting into the Oral Cavity.

Contemporary Clinical Dentistry, 1, 123-126. http://dx.doi.org/10.4103/0976-237X.68591

69. Rumel, A., de Fritas, A., Birman, E., Tannous, L., Chacon, P. and Borker, S. (1980) Erupted

Complex Odontoma: Report of a Case. Dentomaxillofacial Radiology, 9, 5-9.

70. Nisha, D., Rishabh, K., Ashwarya, T., Sukriti, M. and Gupta, S.D. (2011) An Usual Case

of Erupted Composite Complex Odontoma. Journal of Dental Sciences & Research, 2, 1-5.

71. Tuzum, M.S. (1990) Orofacial Pain Associated with an Infected Complex Odontoma. Case

Report. Australian Dental Journal, 35, 352-354. http://dx.doi.org/10.1111/j.1834-

7819.1990.tb00784.x

72. Sood, P.B., et al. (2010) Multiple Supernumerary Tooth and Odontoma in the Maxilla: A

Case Report. Contemporary Clinical Dentistry, 1, 45-46. http://dx.doi.org/10.4103/0976-

237X.62528
73. Shekar, S.E., et al. (2009) Erupted Compound Odontoma. Journal of Oral and Maxillofacial

Pathology, 13, 47-50. http://dx.doi.org/10.4103/0973-029X.48758

74. Singh, V., Dhasmana, S., Mohammad, S. and Singh, N. (2010) The Odontomas: Report of

Five Cases. National Journal of Maxillofacial Surgery, 1, 157. http://dx.doi.org/10.4103/0975-

5950.79220.