Anda di halaman 1dari 18

PORTOFOLIO KASUS EMERGENCY

SNAKE BITE

OLEH
dr. Lili Hasanah

PENDAMPING
dr. Sherly Monalisa

PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA


KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
RSUD KOTA PARIAMAN
2015

1
PORTOFOLIO KASUS EMERGENCY

Topik : Snake Bite

Nama Pasien :S

Tanggal Kasus : 8 Juli 2015

Tanggal Presentasi : 13 Agustus 2015

Tempat Presentasi : RSUD Pariaman

Nama Presentan : dr. Lili hasanah

Nama Pendamping : dr. Sherly Monalisa

Nama Wahana : RSUD Pariaman

Objektif Presentasi : Keilmuan dan Diagnostik

Bahan Bahasan : Kasus dan Tinjauan Pustaka

Cara Membahas : Presentasi dan Diskusi

2
BORANG PORTOFOLIO KASUS BEDAH

Nama Peserta dr. Lili Hasanah


Nama Wahana RSUD Pariaman
Topik Snake bite
Tanggal Kasus 8 juli 2015
Nama Pasien S No. RM 0810321
Tanggal Presentasi 13 Agustus 2015 Pendamping dr. Sherly monalisa
Tempat Presentasi RSUD Pariaman
Objektif Presentasi
Keilmuan Keterampilan Penyegaran Tinjauan Pustaka
Diagnostik Manajemen Masalah Istimewa
Neonatus Bayi Anak Remaja Dewasa Lansia Bumil
Perempuan , usia 31 tahun, datang dengan keluhan nyeri pada kaki kanan setelah
Deskripsi
digigit ular satu jam yang lalu

Tujuan Menegakkan diagnosis dan menatalaksana pasien dengan appendisitis akut

Bahan Bahasan Tinjauan Pustaka Riset Kasus Audit


Cara Membahas Diskusi Presentasi dan Diskusi Email Pos
Data Pasien Nama : S No. Registrasi : 0810321
Nama RS : RSUD Pariaman Telp : Terdaftar sejak :

Data Utama untuk Bahan Diskusi :

1. Diagnosis / Gambaran Klinis : Snake bite

2. Riwayat Pengobatan :
Pasien belum ada berobat sebelumnya
3. Riwayat Kesehatan / Penyakit :
Pasien tidak pernah menderita penyakit seperti ini sebelumnya
4. Riwayat Keluarga :
Tidak ada berhubungan

3
5. Riwayat Pekerjaan :
Pasien seorang ibu rumah tangga
6. Kondisi Lingkungan Sosial dan Fisik :
Pasien tinggal bersama suami dan anak-anaknya di rumah semipermanen.
Hasil Pembelajaran :
1. Diagnosis Snake bite
2. Tatalaksana snake bite
3. Edukasi keluarga
Daftar pustaka
1) Gold, Barry S.,Richard C. Dart.Robert Barish. 2002. Review Article : Current Concept Bites
Of Venomous Snakes. N Engl J Med, Vol. 347, No. 5August 1, 2002
2) WHO. 2005. Guidelines for The Clinical Management of Snake Bite in The South East Asia
Region.
3) Kasturiratne A, Wickremasinghe AR, de Silva N, Gunawardena NK, Pathmeswaran A, et al.
2008. The Global Burden of Snakebite: A Literature Analysis and Modelling Based on
Regional Estimates of Envenoming and Deaths. PLoS Med 5(11): e218.
doi:10.1371/journal.pmed.0050218
4) Sentra Informasi Keracunan Nasional Badan POM, 2012. Penatalaksanaan Keracunan
Akibat Gigitan Ular Berbisa. Available from : www.pom.id

RANGKUMAN HASIL PEMBELAJARAN PORTOFOLIO

4
1. Subjektif :
nyeri pada kaki kanan setelah digigit ular satu jam yang lalu saat pasien sedang
berjalan di pinggir jalan yang dekat dengan sawah. Nyeri seperti ditusuk-
tusuk dan menjalar hingga ke betis pasien.
Pasien mengaku tidak tahu jenis maupun warna kulit ular yang menggigitnya
Pasien mengeluhkan nyeri dada dan sesak nafas saat ini
Mual dan muntah tidak ada
Demam tidak ada
Pusing dan Nyeri kepala tidak ada
Pandangan kabur tidak ada
BAB dan BAK setelah digigit ular tidak ada keluhan

2. Objektif :
a. Vital Sign
Keadaan umum : Sedang
Kesadaran : Composmentis Cooperative
Tekanan darah : 120/80 mmHg
Frekuensi nadi : 84x/menit
Frekuensi nafas : 28x/menit
Suhu : 37,10C
b. Pemeriksaan Sistemik
Mata : Konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik, pupil isokor 3 mm /
3 mm, refleks cahaya +/+ normal.
Thoraks :
o Jantung
I : Ictus cordis tidak terlihat.
P : Ictus cordis teraba 1 jari medial LMCS RIC V.
P : Batas jantung normal.

5
A : Bunyi jantung murni, irama teratur, bising (-).
o Paru
I : Gerak dada simetris kiri dan kanan.
P : Fremitus dada kiri dan kanan sama.
P : Sonor.
A : Suara nafas vesikuler, rhonki tidak ada, wheezing tidak ada.
Abdomen : supel,Bising usus (+) normal
Ekstremitas : Akral hangat, perfusi baik.

Status Lokalis :
Regio pedis (D):
Tampak luka bekas gigitan berupa 2 buah lubang bekas taring di
punggung kaki disertai edema dan eritem disekitar luka.

c. Pemeriksaan Penunjang
Darah Rutin
o Hb : 15,5 gr/dl
o Leukosit : 11.300/mm3
o Eritrosit : 5.210.000/mm3
o Trombosit : 253.000/mm3
o Hematokrit : 43%

EKG : Dalam batas normal

3. Assessment :
Telah dilaporkan kasus seorang pasien perempuan, umur 31 tahun,
dengan diagnosis snake bite. Dasar penegakkan diagnosis pada pasien ini
berdasarkan anamnesis, pasien mengeluhkan nyeri pada kaki kanan setelah
digigit ular satu jam yang lalu saat pasien sedang berjalan di pinggir jalan yang
dekat dengan sawah. Nyeri seperti ditusuk-tusuk dan menjalar hingga ke betis
pasien. Pasien mengaku tidak tahu jenis maupun warna kulit ular yang
menggigitnya. Pasien mengeluhkan nyeri dada dan sesak nafas. Dari

6
pemeriksaan fisik pasien tampak luka bekas gigitan berupa 2 buah lubang
bekas taring di punggung kaki disertai edema dan eritem disekitar luka.
Pada kasus gigitan ular penting untuk mengetahui apakah ular tersebut
berbisa atau tidak berbisa. Gigitan ular berbahaya jika ularnya tergolong jenis
berbisa. Berdasarkan teori, untuk membedakan apakah ular berbisa atau tidak
diketahui berdasarkan jenis ular, gambaran luka gigitan, serta gambaran klinis
dari korban gigitan ular. Pada kasus ini, diketahui bahwa korban tidak tahu
jenis, corak, maupun warna ular yang menggigitnya, sehingga untuk
menentukan ular tersebut berbisa atau tidak didapatkan berdasarkan
gambaran bekas gigitan berupa 2 buah lubang bekas taring yang merupakan
tanda ular berbisa.
Tujuan penatalaksanaan pada kasus gigitan ular berbisa adalah
menghalangi/ memperlambat absorbsi bisa ular, menetralkan bisa ular yang
sudah masuk ke dalam sirkulasi darah, serta mengatasi efek lokal dan
sistemik. Pada pasien ini segera dilakukan cross insision dan pemberian anti
bisa ular.
4. Plan :

Diagnosis klinis :
Snake bite

Tatalaksana :
Cross insision
Infiltrasi ABU 0,5 cc ditiap luka gigitan
IVFD D5% + 2 vial ABU 8 jam/kolf, dialnjutkan IVFD RL 12 jam/kolf
Levofloksasin Infus 1x500 mg
Ketorolac 2x1 amp
Ranitidin 2x1 amp

TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi

7
Luka gigitan adalah cidera yang disebabkan oleh mulut dan gigi hewan atau
manusia. Kasus Snake Bite atau kasus gigitan ular temasuk kasus yang sering
dijumpai di Unit Gawat Darurat.
Spesies ular dapat dibedakan atas ular berbisa dan ular tidak berbisa.
Tabel. Perbedaan Ular Berbisa dan Ular Tidak Berbisa
Tidak berbisa Berbisa
Bentuk Kepala Bulat Elips, segitiga
Gigi Taring Gigi Kecil 2 gigi taring besar
Bekas Gigitan Lengkung seperti U Terdiri dari 2 titik
Warna Warna-warni Gelap

B. Sifat Bisa ular


Bisa adalah suatu zat atau substansi yang berfungsi untuk melumpuhkan
mangsa dan sekaligus juga berperan pada sistem pertahanan diri. Bisa ular tidak
hanya terdiri atas satu substansi tunggal, tetapi merupakan campuran kompleks,
terutama protein, yang memiliki aktivitas enzimatik.
Berdasarkan sifatnya pada tubuh mangsa, bisa ular dapat dibedakan menjadi
bisa hemotoksik, yaitu bisa yang mempengaruhi jantung dan sistem pembuluh darah;
bisa neurotoksik, yaitu bisa yang mempengaruhi sistem saraf dan otak; dan bisa
sitotoksik, yaitu bisa yang hanya bekerja pada lokasi gigitan.
a. Bisa ular yang bersifat racun terhadap darah (hematotoksik)
Bisa ular yang bersifat racun terhadap darah, yaitu bisa ular yang menyerang
dan merusak (menghancurkan) sel-sel darah merah dengan jalan
menghancurkan stroma lecethine (dinding sel darah merah), sehinggga sel
darah merah menjadi hancur dan larut (hemolysis) dan keluar menembus
pembuluh-pembuluh darah, mengakibatkan timbulnya perdarahan pada
selaput mukosa (lendir) pada mulut, hidung, tenggorokan, dan lain-lain

b. Bisa ular yang bersifat racun terhadap saraf (neurotoksik)


Yaitu bisa ular yang merusak dan melumpuhkan jaringan-jaringan sel saraf
sekitar luka gigitan yang menyebabkan jaringan-jaringan sel saraf tersebut
mati dengan tanda-tanda kulit sekitar luka tampak kebiruan dan hitam
(nekrotik). Penyebaran dan peracunan selanjut nya mempengaruhi susunan

8
saraf pusat dengan jalan melumpuhkan susunan saraf pusat, seperti saraf
pernapasan dan jantung. Penyebaran bisa ular ke seluruh tubuh melalui
pembuluh limfe.

C. TANDA DAN GEJALA GIGITAN ULAR BERDASARKAN JENIS ULAR


1. Gigitan Elapidae
(misalnya : ular kobra, ular weling, ular sendok, ular anang, ular cabai, coral
snake, mambas, kraits)
a) Semburan kobra pada mata dapat menimbulkan rasa sakit yang berdenyut,
kaku pada kelopak mata, bengkak di sekitar mulut.
b) Gambaran sakit yang berat, melepuh, dan kulit rusak
c) Setelah digigit ular
15 menit : muncul gejala sistemik
10 jam : paralisis otot-otot wajah, bibir, lidah, tenggorokan, sehingga
sukar berbicara, susah menelan, otot lemas, ptosis, sakit kepala, kulit
dingin, muntah, pandangan kabur, parestesia di sekitar mulut. Kematian
dapat terjadi dalam 24 jam
2. Gigitan Viporidae/Crotalidae
(misalnya ular tanah, ular hijau, ular bandotan puspo)
a) Gejala lokal timbul dalam 15 menit, setelah beberapa jam berupa bengkak
di dekat gigitan yang menyebar ke seluruh anggota tubuh.
b) Gejala sistemik muncul setelah 5 menit atau setelah beberapa jam
c) Keracunan berat ditandai dengan pembengkakan di atas siku dan lutut
dalam waktu 2 jam atau ditandai dengan perdarahan hebat.
3.Gigitan Hydropiridae
(misalnya ular laut)
1. Segera timbul sakit kepala, lidah terasa tebal, berkeringat, dan muntah.
2. Setelah 30 menit sampai beberapa jam biasanya timbul kaku dan nyeri
menyeluruh, dilatasi pupil, spasme otot rahang, paralisis otot,
mioglobinuria yang ditandai dengan urin berwarna coklat gelap (penting
untuk diagnosis), kerusakan ginjal, serta henti jantung

D. Diagnosa

9
1. Anamnesis
Anamnesis yang tepat seputar gigitan ular serta progresifitas gejala dan tanda baik
lokal dan sistemik merupakan hal yang sangat penting.
Empat pertanyaan awal yang bermanfaat :
1. pada bagian tubuh mana anda terkena gigitan ular?
Dokter dapat melihat secara cepat bukti bahwa pasien telah digigit ular
(misalnya, adanya bekas taring) serta asal dan perluasan tanda envenomasi lokal.
2. kapan dan pada saat apa anda terkena gigitan ular?
Perkiraan tingkat keparahan envenomasi bergantung pada berapa lama waktu
berlalu sejak pasien terkena gigitan ular. Apabila pasien tiba di rumah sakit
segera setelah terkena gigitan ular, bisa didapatkan sebagian kecil tanda dan
gejala walaupun sejumlah besar bisa ular telah diinjeksikan. Bila pasien digigit
ular saat sedang tidur, kemungkinan ular yang menggigit adalah Kraits (ular
berbisa), bila di daerah persawahan, kemungkinan oleh ular kobra atau russel
viper (ular berbisa), bila terjadi saat memetik buah, pit viper hijau (ular berbisa),
bila terjadi saat berenang atau saat menyebrang sungai, kobra (air tawar), ular
laut (laut atau air payau).
3. perlakuan terhadap ular yang telah menggigit anda?
Ular yang telah menggigit pasien seringkali langsung dibunuh dan dijauhkan
dari pasien. Apabila ular yang telah menggigit berhasil ditemukan, sebaiknya
ular tersebut dibawa bersama pasien saat datang ke rumah sakit, untuk
memudahkan identifikasi apakah ular tersebut berbisa atau tidak. Apabila spesies
terbukti tidak berbahaya (atau bukan ular samasekali) pasien dapat segera
ditenangkan dan dipulangkan dari rumah sakit

4. apa yang anda rasakan saat ini?


Pertanyaan ini dapat membawa dokter pada analisis sistem tubuh yang terlibat.
Gejala gigitan ular yang biasa terjadi di awal adalah muntah. Pasien yang
mengalami trombositopenia atau mengalami gangguan pembekuan darah akan
mengalami perdarahan dari luka yang telah terjdi lama. Pasien sebaiknya
ditanyakan produksi urin serta warna urin sejak terkena gigitan ular. Pasien yang

10
mengeluhkan kantuk, kelopak mata yang serasa terjatuh, pandangan kabur atau
ganda, kemungkinan menandakan telah beredarnya neurotoksin.

2.Pemeriksaan fisik
Tidak ada cara yang sederhana untuk mengidentifikasi ular berbisa yang berbahaya.
Beberapa ular berbisa yang tidak berbahaya telah berkembang untuk terlihat hampir
identik dengan yang berbisa. Akan tetapi, beberapa ular berbisa yang terkenal dapat
dikenali dari ukuran, bentuk, warna, pola sisik, prilaku serta suara yang dibuatnya
saat merasa terancam.
Beberapa ciri ular berbisa adalah bentuk kelapa segitiga, ukuran gigi taring kecil, dan
pada luka bekas gigitan tedapat bekas gigi taring.

Gambar. Bekas gigitanan ular. (A) Ular tidak berbisa tanpa bekas taring, (B) Ular
berbisa dengan bekas taring (Sumber : Sentra Informasi Keracunan Nasional adan
POM, 2012)

Tidak semua ular berbisa pada waktu menggigit menginjeksikan bisa pada
korbannya. Orang yang digigit ular, meskipun tidak ada bisa yang diinjeksikan ke
tubuhnya dapat menjadi panik, nafas menjadi cepat, tangan dan kaki menjadi kaku,
dan kepala menjadi pening.
Tanda dan Gejala Lokal pada daerah gigitan:
a. Tanda gigitan taring (fang marks)
b. Nyeri lokal
c. Perdarahan lokal

11
d. Kemerahan
e. Limfangitis
f. Pembesaran kelenjar limfe
g. Inflamasi (bengkak, merah, panas)
h. Melepuh
i. Infeksi lokal, terbentuk abses
j. Nekrosis

Gambar . Gejala Umum Gigitan Ular (Sumber : www.doctorsecret.com)

Tanda dan gejala sistemik :


a. Umum (general)
mual, muntah, nyeri perut, lemah, mengantuk, lemas.
b. Kardiovaskuler (viperidae)
gangguan penglihatan, pusing, pingsan, syok, hipotensi, aritmia jantung, edema paru,
edema konjunctiva (chemosis)

12
c. Perdarahan dan gangguan pembekuan darah (Viperidae)
perdarahan yang berasal dari luka yang baru saja terjadi (termasuk perdarahan yang
terus-menerus dari bekas gigitan (fang marks) dan dari luka yang telah menyembuh
sebagian (oldrus-mene partly-healed wounds), perdarahan sistemik spontan dari
gusi, epistaksis, perdarahan intrakranial (meningism, berasal dari perdarahan
subdura, dengan tanda lateralisasi dan atau koma oleh perdarahan cerebral),
hemoptisis, perdarahan perrektal (melena), hematuria, perdarahan pervaginam,
perdarahan antepartum pada wanita hamil, perdarahan mukosa (misalnya
konjunctiva), kulit (petekie, purpura, perdarahan diskoid, ekimosis), serta perdarahan
retina.
d. Neurologis (Elapidae, Russel viper)
mengantuk, parestesia, abnormalitas pengecapan dan pembauan, ptosis,
oftalmoplegia eksternal, paralisis otot wajah dan otot lainnya yang dipersarafi nervus
kranialis, suara sengau atau afonia, regurgitasi cairan melaui hidung, kesulitan untuk
menelan sekret, paralisis otot pernafasan dan flasid generalisata.
e. destruksi otot Skeletal ( sea snake, beberapa spesies kraits, Bungarus niger and B.
candidus, western Russells viper Daboia russelii)
nyeri seluruh tubuh, kaku dan nyeri pada otot, trismus, myoglobinuria, hiperkalemia,
henti jantung, gagal ginjal akut.
f. Sistem Perkemihan
nyeri punggung bawah, hematuria, hemoglobinuria, myoglobinuria, oligouria/anuria,
tanda dan gejala uremia ( pernapasan asidosis, hiccups, mual, nyeri pleura, dan lain-
lain)

g. gejala endokrin
insufisiensi hipofisis/kelenjar adrenal yang disebabkan infark hipofisis anterior. Pada
fase akut : syok, hipoglikemia. Fase kronik (beberapa bulan hingga tahun setelah
gigitan) : kelemahan, kehilangan rambut seksual sekunder, kehilangan libido,
amenorea, atrofi testis, hipotiroidism

F. Penatalaksanaan
Langkah-langkah yang harus diikuti pada penatalaksanaan gigitan ular adalah:

13
1. Pertolongan pertama, harus dilaksanakan secepatnya setelah terjadi gigitan
ular sebelum korban dibawa ke rumah sakit. Hal ini dapat dilakukan oleh
korban sendiri atau orang lain yang ada di tempat kejadian. Tujuan
pertolongan pertama adalah untuk menghambat penyerapan bisa,
mempertahankan hidup korban dan menghindari komplikasi sebelum
mendapatkan perawatan medis di rumah sakit serta mengawasi gejala dini
yang membahayakan. Langkah-langkah pertolongan yang dilakukan adalah
menenangkan korban yang cemas; imobilisasi (membuat tidak bergerak)
bagian tubuh yang tergigit dengan cara mengikat atau menyangga dengan
kayu agar tidak terjadi kontraksi otot, karena pergerakan atau kontraksi otot
dapat meningkatkan penyerapan bisa ke dalam aliran darah dan getah bening;
pertimbangkan pressure-immobilisation pada gigitan Elapidae; hindari
gangguan terhadap luka gigitan karena dapat meningkatkan penyerapan bisa
dan menimbulkan pendarahan lokal.
2. Korban harus segera dibawa ke rumah sakit secepatnya, dengan cara yang
aman dan senyaman mungkin. Hindari pergerakan atau kontraksi otot untuk
mencegah peningkatan penyerapan bisa. Beberapa alat transportasi yang
dapat digunakan untuk membawa pasien adalah tandu, sepeda, motor, kuda,
kereta, kereta api, atau perahu, atau pasien dapat dipikul (dengan firemans
metode). Pasien diposisikan miring (recovery posotion) bila ia muntah dalam
perjalanan
3. Pengobatan gigitan ular
Pada umumnya terjadi salah pengertian mengenai pengelolaan gigitan ular.
Metode penggunaan torniket (diikat dengan keras sehingga menghambat
peredaran darah), insisi (pengirisan dengan alat tajam), pengisapan tempat
gigitan, pendinginan daerah yang digigit.

4. Terapi yang dianjurkan meliputi:


a. Bersihkan bagian yang terluka dengan cairan faal atau air steril.
b. Untuk efek lokal dianjurkan imobilisasi menggunakan perban katun elastis
dengan lebar + 10 cm, panjang 45 m, yang dibalutkan kuat di sekeliling
bagian tubuh yang tergigit, mulai dari ujung jari kaki sampai bagian yang
terdekat dengan gigitan. Bungkus rapat dengan perban seperti membungkus
kaki yang terkilir, tetapi ikatan jangan terlalu kencang agar aliran darah tidak
terganggu. Penggunaan torniket tidak dianjurkan karena dapat mengganggu

14
aliran darah dan pelepasan torniket dapat menyebabkan efek sistemik yang
lebih berat.
c. Pemberian tindakan pendukung berupa stabilisasi yang meliputi
penatalaksanaan jalan nafas; penatalaksanaan fungsi pernafasan;
penatalaksanaan sirkulasi; penatalaksanaan resusitasi perlu dilaksanakan bila
kondisi klinis korban berupa hipotensi berat dan shock, shock perdarahan,
kelumpuhan saraf pernafasan, kondisi yang tiba-tiba memburuk akibat
terlepasnya penekanan perban, hiperkalaemia akibat rusaknya otot rangka,
serta kerusakan ginjal dan komplikasi nekrosis lokal.
d. Pemberian suntikan antitetanus, bila korban pernah mendapatkan toksoid
maka diberikan satu dosis toksoid tetanus.
e. Pemberian suntikan penisilin kristal sebanyak 2 juta unit secara
intramuskular.
f. Pemberian analgesik untuk menghilangkan nyeri.
g. Pemberian serum antibisa.

SERUM ANTI BISA ULAR


Gunannya untuk pengobatan terhadap gigitan ular berbisa. Serum anti bisa ular
merupakan serum polivalen yang dimurnikan dan dipekatkan, berasal dari plasma
kuda yang dikebalkan terhadap bisa ular yang mempunyai efek neurotoksik dan
hematotoksik, yang kebanyakan ada di Indonesia.
Kandungan Serum Anti Bisa Ular
Tiap ml dapat menetralisasi :
a. Bisa ular Ankystrodon rhodosoma 10-50 LD50
b. Bisa ular Bungarus fascinatus 25-50 LD50
c. Bisa Ular Naya sputatrix 25-50 LD50
d. Dan mengandung Fenol 0,25% sebagai pengawet

Cara Pemakaian Serum Anti Bisa Ular


Pemilihan antibisa ular tergantung dari spesies ular yang menggigit. Dosis
yang tepat untuk ditentukan karena tergantung dari jumlah bisa ular yang masuk
peredaran darah dan keadaan korban sewaktu menerima anti serum. Dosis pertama
sebanyak 2 vial @5 ml sebagai larutan 2% dalam NaCl dapat diberikan sebagai infus
dengan kecepatan 40-80 tetes per menit, lalu diulang setiap 6 jam. Apabila
diperlukan (misalnya gejala-gejala tidak berkurang atau bertambah) antiserum dapat
diberikan setiap 24 jam sampai maksimal (80-100 ml). antiserum yang tidak
diencerkan dapat diberikan langsusng sebagai suntikan intravena dengan sangat

15
perlahan-lahan. Dosis untuk anak-anak sama atau lebih besar daripada dosis untuk
dewasa.
Efek Samping Serum Anti Bisa Ular
Meskipun pemberian antiserum akan menimbulkan kekebalan pasif dan
memberikan perlindungan untuk jangka waktu pendek, tapi pemberiannya harus
hari-hati, mengingat kemungkinan terjadinya reaksi sampingan yang dapat berupa :
1. Reaksi anafilaktik (anaphylactic shock)
Dapat timbul dengan segera atau beberapa jam setelah suntikan
2. Penyakit serum (serum sickness)
Dapat timbul 7-10 hari setelah suntikan dan dapat berupa kenaikan suhu,
gatal-gatal, sesak nafas dan lain-lain gejala alergi. Reaksi ini jarang timbul
bila digunakan serum yang sudah dimurnikan
3. Kenaikan suhu (demam) dengan menggigil
Biasanya timbul setelah pemberian serum secara intravena
4. Rasa nyeri pada tempat suantikan
Biasanya timbul pada penyuntikan serum dengan jumlah besar reaksi ini
terjadi dalam pemberian 24 jam
Oleh karena itu, pemberian serum harus berdasarkan atas indikasi yang tajam.

INDIKASI PEMBERIAN SERUM ANTI BISA ULAR :


Pemberian serum anti bisa ular direkomendasikan bila dan saat pasien terbukti atau
dicurigai mengalami gigitan ular berbisa dengan munculnya satu atau lebih tanda
berikut :
Gejala venerasi sistemik
Kelainan hemostatik : perdarahan spontan (klinis), koagulopati, atau
trombositopenia.
Gejala neurotoksik : ptosis, oftalmoplegia eksternal, paralisis, dan lainnya.
Kelainan kardiovaskuler : hipotensi, syok, arritmia (klinis), kelainan EKG.
Cidera ginjal akut (gagal ginjal) : oligouria/anuria (klinis), peningkatan
kreatinin/urea urin (hasil laboratorium). Hemoglobinuria/mioglobinuria : urin coklat
gelap (klinis), dipstik urin atau bukti lain akan adanya hemolisis intravaskuler atatu
rabdomiolisis generalisata (nyeri otot, hiperkalemia) (klinis, hasil laboratorium).
Serta adanya bukti laboratorium lainnya terhadap tanda venerasi.
Gejala venerasi lokal :
Pembengkakan lokal yang melibatkan lebih dari separuh bagian tubuh yang terkena
gigitan (tanpa adanya turniket) dalam 48 jam setelah gigitan. Pembengkakan setelah

16
tergigit pada jari-jari ( jari kaki dan khususnya jari tangan). Pembengkakan yang
meluas ( misalnya di bawah pergelangan tangan atau mata kaki pada beberapa jam
setelah gigitan pada tangan dan kaki), pembesaran kelenjar getah bening pada
kelenjar getah bening pada ekstremitas yang terkena gigitan.
Pemberian anti bisa ular dapat menggunakan pedoman dari Parrish, seperti
tabel di bawah ini :

Derajat Venerasi Luka gigit Nyeri Udem/eritema Tanda sistemik

0 0 + +/- <3cm/12 jam 0

I +/- + + <3cm/12 jam 0

II + + +++ >12cm- +. Neurotoksik,


25cm/12jam mual, pusing, syok

III ++ + +++ >25cm/12jam ++,syok,


petekie,ekimosis

IV ++ + +++ Pada satu ++, gangguan faal


+ ekstremitas ginjal, koma,
secara perdarahan
menyeluruh

Pedoman terapi SABU mengacu pada Schwartz dan Way (Depkes, 2001):
Derajat 0 dan I tidak diperlukan SABU, dilakukan evaluasi dalam 12 jam,
jika derajat meningkat maka diberikan SABU

Derajat II: 3-4 vial SABU

Derajat III: 5-15 vial SABU

Derajat IV: berikan penambahan 6-8 vial SABU

17
Anti bisa ular harus diberikan segera setelah memenuhi indikasi. Anti bisa ular dapat
melawan envenomasi (keracunan) sistemik walaupun gejala telah menetap selama
beberapa hari, atau pada kasus kelainan haemostasis, yang dapat belangsung dua
minggu atau lebih. Untuk itu, pemberian anti bisa tepat diberikan selama terdapat
bukti terjadi koagulopati persisten. Apakah antibisa ular dapat mencegah nekrosis
lokal masih menjadi kontroversi, namun beberapa bukti klinins menunjukkan bahwa
agar antibisa efektif pada keadaan ini, anti bisa ular harus diberikan pada satu jam
pertama setelah gigitan.

18