Anda di halaman 1dari 12

Nama : Arif Nurkalim

NIM : 112015065

Pr Ujian Tanggal 2 Juni 2017

Posyandu

Pengertian Posyandu adalah suatu wadah komunikasi alih teknologi dalam pelayanan
kesehatan masyarakat dari Keluarga Berencana dari masyarakat, oleh masyarakat dan untuk
masyarakat dengan dukungan pelayanan serta pembinaan teknis dari petugas kesehatan dan
keluarga berencana

Sistem Posyandu

Meja I:
- Mendaftarkan bayi/ balita yaitu menulis nama bayi dan balita pada KMS dan secarik kertas
yang diselipkan pada KMS/buku KIA.
- Mendaftarkan ibu hamil yaitu menulis nama ibu hamil pada formulir atau registrasi ibu
hamil/buku KIA.

Meja II:
- Menimbang bayi dan balita.
- Mencatat hasil penimbangan pada secarik kertas yang akan dipindahkan pada KMS atau
buku KIA.

Meja III:
- Mengisi KMS atau memindahkan catatan hasil penimbangan balita dari secarik kertas ke
dalam KMS anak tersebut.

Meja IV:
- Menjelaskan data KMS/buku KIA atau keadaan anak berdasarkan data kenaikan berat yang
digambarkan grafik KMS pada Ibu dari Anak yang bersangkutan.
- Memberikan nasehat pada setiap ibu dengan mengacu pada KMS anaknya atau dari hasil
pengamatan mengenai masalah yang dialami sasaran.S
- Memberikan rujukan ke Puskesmas apabila diperlukan untuk balita, ibu hamil dan
menyusui berikut ini:
Balita: Apabila berat badannya dibawah garis merah (BGM), atau KMS 2 kali
berturut-turut berat badannya tidak naik, kelihatan sakit (lesu, kurus, busung
lapar, diare rabun mata dsb.)
Ibu hamil atau menyusui: Apabila keadaannya kurus, pucat, kaki bengkak,
pusing terus menerus, perdarahan, sesak nafas, gondokan dsb.
Orang sakit.
1
Memberikan pelayanan gizi dan kesehatan dasar misalnya pemberian tablet
besi, vi. A, oralit dsb.

Meja V:
Merupakan kegiatan pelayanan kesehatan yang biasanya dilakukan oleh petugas kesehatan,
pelayanan yang diberikan antara lain:
Pelayanan imunisasi
Pelayanan keluarga berencana (KB)
Pengobatan
Pemberian tablet besi, vitamin A dan obat-obatan lainnya
Pemeriksaan kehamilan

Sasaran Posyandu :
Bayi/Balita.
Ibu hamil/ibu menyusui.
WUS dan PUS.

Strata Posyandu

Untuk meningkatkan kualitas dan kemandirian posyandu diperlukan intervensi sebagai


berikut :
1. Posyandu pratama (warna merah)
Posyandu tingkat pratama adalah posyandu yang masih belum mantap, kegiatannya
belum bisa rutin tiap bulan dan kader aktifnya terbatas. Keadaan ini dinilai gawat
sehingga intervensinya adalah pelatihan kader ulang. Artinya kader yang ada perlu
ditambah dan dilakukan pelatihan dasar lagi.

2. Posyandu madya (warna kuning)


Posyandu pada tingkat madya sudah dapat melaksanakan kegiatan lebih dari 8 kali
per tahun dengan rata-rata jumlah kader tugas 5 orang atau lebih. Akan tetapi
cakupan program utamanya (KB, KIA, Gizi, dan Imunisasi) masih rendah yaitu
kurang dari 50%.
Ini berarti, kelestarian posyandu sudah baik tetapi masih rendah cakupannya.
Intervensi untuk posyandu madya ada 2 yaitu :
Pelatihan Toma dengan modul eskalasi posyandu yang sekarang sudah
dilengkapi dengan metoda simulasi.
Penggarapan dengan pendekatan PKMD (SMD dan MMD) untuk menentukan
masalah dan mencari penyelesaiannya, termasuk menentukan program
tambahan yang sesuai dengan situasi dan kondisi setempat.

3. Posyandu purnama (warna hijau)


Posyandu pada tingkat purnama adalah posyandu yang frekuensinya lebih dari 8
kali per tahun, rata-rata jumlah kader tugas 5 orang atau lebih, dan cakupan 5
program utamanya (KB, KIA, Gizi dan Imunisasi) lebih dari 50%. Sudah ada

2
program tambahan, bahkan mungkin sudah ada Dana Sehat yang masih sederhana.
Intervensi pada posyandu di tingkat ini adalah :
Penggarapan dengan pendekatan PKMD untuk mengarahkan masyarakat
menetukan sendiri pengembangan program di posyandu.
Pelatihan Dana Sehat, agar di desa tersebut dapat tumbuh Dana Sehat yang kuat
dengan cakupan anggota minimal 50% KK atau lebih.

4. Posyandu mandiri (warna biru)


Posyandu ini berarti sudah dapat melakukan kegiatan secara teratur, cakupan 5
program utama sudah bagus, ada program tambahan dan Dana Sehat telah
menjangkau lebih dari 50% KK. Intervensinya adalah pembinaan Dana Sehat, yaitu
diarahkan agar Dana Sehat tersebut menggunakan prinsip JPKM.

Penilaian Keberhasilan Posyandu

SKDN adalah status gizi balita yang digambarkan dalam suatu balok SKDN, dimana
balok tersebut memuat tentang sasaran balita di suatu wilayah (S), balita yang memiliki KMS
(K), balita yang ditimbang berat badannya (D), balita yang ditimbang dan naik berat
badannya (N), SKDN tersebut diperoleh dari hasil posyandu yang dimuat di KMS dan
digunakan untuk memantau pertumbuhan balita (Depkes RI, 2003).

SKDN merupakan hasil kegiatan penimbangan balita yang dilakukan setiap bulan
dalam bentuk histogram sederhana. Indikator pelayanan di Posyandu atau di Pos
Penimbangan Balita menggunakan indiktor-indikator SKDN. SKDN adalah singkatan dari
pengertian kata-katanya yaitu:

1. S adalah jumlah seluruh balita yang ada dalam wilayah kerja posyandu.
2. K adalah jumlah Balita yang ada di wilayah kerja posyandu yang mempunyai KMS
(Kartu Menujuh Sehat).
3. D adalah Jumlah Balita yang datang di posyandu atau dikunjungan rumah dan
menimbang berat badannya sesuai atau jumlah seluruh balita yang Ditimbang.
4. N adalah jumlah balita yang ditimbang bebrat badannya mengalami peningkatan
bebrat badan dibanding bulannya sebelumnya dengan garis pertumbuhan.
5. Dan O adalah jumlah anak yang tidak ditimbang bulan lalu.
Berdasarkan SKDN dari bulan ke bulan disimak untuk mengetahui kemajuan program
perbaikan gizi. Naik turunnya D atau S dapat diinterprestasikan sebagai tingkat partisipasi
masyarakat dalam kegiatan di posyandu, sedangkan naik turunnya N terhadap S dapat
diartikan sebagai keberhasilan atau kegagalan mencapai tujuan program dalam kegiatan
UPGK di posyandu (Suhardjo 2003).
Dari uraian SKDN dapat digabungkan satu sama lain sehingga dapat memberikan
informasi tentang perkembangan kegiatan pemantauan pertumbuhan anak di posyandu yaitu :
1. Indikator K/S

3
K/S adalah indikator yang menggambarkan jangkauan atau liputan program.
Indikator ini dihitung dengan cara membandingkan jumlah balita yang dapat di
posyandu dan memiliki KMS dengan jumlah balita yang ada di wilayah posyandu
tersebut dikalikan 100%.
2. Indikator D/S
D/S adalah indikator yang menggambarkan tingkat partisipasi masyarakat dalam
kegiatan di posyandu.
3. Indikator N/D
N/D adalah memberikan gambaran tingkat keberhasilan program dalam kegiatan
UPGK di posyandu. Indikator ini lebih spesifik dibanding dengan indikator lainnya
sehingga dapat digunakan sebagai gambaran dasar gizi balita.
4. Indikator N/S
N/S adalah memberikan gambaran tentang tingkat keberhasilan program di
posyandu. Indikator ini menunjukkan balita yang ditimbang dan naik berat badannya.

Analisis SKDN

Biasanya setelah melakukan kegiatan di posyandu atau di pos penimbangan petugas


kesehatan dan kader Posyandu (Petugas sukarela) melakukan analisis SKDN. Analisisnya
terdiri dari:
1. Tingkat partisipasi masyarakat dalam penimbangan balita yaitu jumlah balita yang
ditimbang dibagi dengan jumlah balita yang ada diwilayah kerja posyandu atau dengan
menggunakan rumus (D/S x 100%), hasilnya minimal harus capai 80 % apabila
dibawah 80 % maka dikatakan partisipasi mayarakat untuk kegiatan pemantauan
pertumbuhan dan perkembangan berat badan sangatlah rendah. Hal ini akan berakibat
pada balita tidak akan terpantau oleh petugas kesehatan ataupun kader posyandu dan
memungkinkan balita ini tidak diketahui pertumbuhan berat badannya atau pola
pertumbuhan berat badannya.
2. Tingkat Liputan Program yaitu Jumlah balita yang mempunyai KMS dibagi dengan
Jumlah seluruh balita yang ada di wilayah Posyandu atau dengan menggunakan rumus
(K/S x 100%), hasil yang ducapai harus 100 %. Alasannya balita-balita yang telah
mempunyai KMS (Kartu Menujuh Sehat ) telah mempunyai alat instrumen untuk
memantau berat badannya dan data pelayanan kesehatan lainnya, Apabila tidak
digunakan atau tidak dapat KMS maka pada dasarnya program Posyandu tersebut
mempunyai liputan yang sangat rendah atau biasa juga dikatakan balita yang
seharusnya mempunyai KMS karena memang mereka (Balita) masih dalam fase
pertumbuhan ini telah kehilangan kesempatan untuk mendapat pelayanan sebagaimana
yang terdapat dalam KMS tersebut. Khusus untuk Tingkat Kehilangan Kesempatan ini
menggunakan rumus {(S-K)/S x 100%) yaitu jumlah balita yang ada diwilayah
posyandu dikurangi jumlah balita yang mempunyai KMS, hasilnya dibagi dengan
jumlah balita yang ada, semakin tinggi presentase kehilangan kesempatan maka
semakin rendah kemauan orang tua balita untuk dapat memanfaatkan KMS. Padahal

4
KSM sangat baik untuk memantau pertumbuhan Berat Badan Balita atau juga Pola
Pertumbuhan Berat Badan Balita.
3. Indikator-indikator lainnya adalah (N/D x 100%) yaitu jumlah balita yang Naik Berat
Badannya di bandingkan dengan jumlah seluruh balita yang ditimbang. Sebaiknya
semua balita yang ditimbang harus memgalami peningkatan berat-badannya.
4. Indikator lainnya dalam SKDN adalah Indikator Drop Out yaitu balita yang sudah
mempunyai KMS dan pernah datang menimbang berat badannya tetapi kemudian tidak
pernah datang lagi di posyandu untuk selalu mendapatkan pelayanan kesehatan
rumusnya yaitu jumlah balita yang telah mendapat KMS dibagi dengan Jumlah Balita
ditimbang hasilnya dibagi dengan Balita yang punya KMS atau rumusnya adalah (K-
D)/K x 100%.

Berikut adalah rumus untuk mencari persentase SKDN:

Panduan Ispa

Definisi

ISPA adalah infeksi saluran pernapasan yang berlangsung sampai 14 hari. Yang
dimaksud dengan saluran pernapasan adalah organ mulai dari hidung sampai gelembung
paru, beserta organ-organ disekitarnya seperti : sinus, ruang telinga tengah dan selaput paru
(5,7). Sebagian besar dari infeksi saluran pernapasan hanya bersifat ringan seperti batuk pilek
dan tidak memerlukan pengobatan dengan antibiotik, namun demikian anak akan menderita
pneumoni bila infeksi paru ini tidak diobati dengan antibiotik dapat mengakibat kematian.

Program ISPA

5
Program Pemberantasan Penyakit (P2) ISPA membagi penyakit ISPA dalam 2
golongan yaitu pneumonia dan yang bukan pneumonia.

Program Pemberantasan ISPA (P2 ISPA) mengklasifikasi ISPA sebagai berikut:

o Pneumonia berat: ditandai secara klinis oleh adanya tarikan dinding dada
kedalam (chest indrawing).
o Pneumonia: ditandai secara klinis oleh adanya napas cepat.

o Bukan pneumonia: ditandai secara klinis oleh batuk pilek, bisa disertai
demam, tanpa tarikan dinding dada kedalam, tanpa napas cepat. Rinofaringitis,
faringitis dan tonsilitis tergolong bukan pneumonia.

Berdasarkan hasil pemeriksaan dapat dibuat suatu klasifikasi penyakit ISPA.


Klasifikasi ini dibedakan untuk golongan umur dibawah 2 bulan dan untuk golongan umur 2
bulan sampai 5 tahun.

Untuk golongan umur kurang 2 bulan ada 2 klasifikasi penyakit yaitu :

o Pneumonia berada: diisolasi dari cacing tanah oleh Ruiz dan kuat dinding
pada bagian bawah atau napas cepat. Batas napas cepat untuk golongan umur
kurang 2 bulan yaitu 60 kali per menit atau lebih.
o Bukan pneumonia: batuk pilek biasa, bila tidak ditemukan tanda tarikan
kuat dinding dada bagian bawah atau napas cepat.

Untuk golongan umur 2 bulan sampai 5 tahun ada 3 klasifikasi penyakit yaitu :

o Pneumonia berat: bila disertai napas sesak yaitu adanya tarikan dinding
dada bagian bawah kedalam pada waktu anak menarik napas (pada saat
diperiksa anak harus dalam keadaan tenang tldak menangis atau meronta).
o Pneumonia: bila disertai napas cepat. Batas napas cepat ialah untuk usia 2 -
12 bulan adalah 50 kali per menit atau lebih dan untuk usia 1 -4 tahun adalah
40 kali per menit atau lebih.

o Bukan pneumonia: batuk pilek biasa, bila tidak ditemukan tarikan dinding
dada bagian bawah dan tidak ada napas cepat.

Sumber Penularan

ISPA dapat ditularkan melalui air ludah, darah, bersin, udara pernapasan yang
mengandung kuman yang terhirup oleh orang sehat kesaluran pernapasannya. Kelainan pada
6
sistem pernapasan terutama infeksi saluran pernapasan bagian atas dan bawah, asma dan
fibro kistik, menempati bagian yang cukup besar pada lapangan pediatri. Infeksi saluran
pernapasan bagian atas terutama yang disebabkan oleh virus, sering terjadi pada semua
golongan masyarakat pada bulan-bulan musim dingin. Tetapi ISPA yang berlanjut menjadi
pneumonia sering terjadi pada anak kecil terutama apabila terdapat gizi kurang dan
dikombinasi dengan keadaan lingkungan yang tidak hygiene.

Tanda dan Bahaya

Pada umumnya suatu penyakit saluran pernapasan dimulai dengan keluhankeluhan


dan gejala-gejala yang ringan. Dalam perjalanan penyakit mungkin gejalagejala menjadi
lebih berat dan bila semakin berat dapat jatuh dalam keadaan kegagalan pernapasan dan
mungkin meninggal. Bila sudah dalam kegagalan pernapasan maka dibutuhkan
penatalaksanaan yang lebih rumit, meskipun demikian mortalitas masih tinggi, maka perlu
diusahakan agar yang ringan tidak menjadi lebih berat dan yang sudah berat cepat-cepat
ditolong dengan tepat agar tidak jatuh dalam kegagalan pernapasan.

Tanda-tanda bahaya dapat dilihat berdasarkan tanda-tanda klinis dan tanda-tanda


laboratoris. Tanda-tanda klinis:

o Pada sistem respiratorik adalah: tachypnea, napas tak teratur (apnea), retraksi
dinding thorak, napas cuping hidung, cyanosis, suara napas lemah atau hilang,
grunting expiratoir dan wheezing.
o Pada sistem cardial adalah: tachycardia, bradycardiam, hypertensi, hypotensi
dan cardiac arrest.

o Pada sistem cerebral adalah : gelisah, mudah terangsang, sakit kepala, bingung,
papil bendung, kejang dan coma.

o Pada hal umum adalah : letih dan berkeringat banyak. Tanda-tanda laboratoris
hypoxemia, hypercapnia dan acydosis (metabolik dan atau respiratorik).

Pengobatan

o Pneumonia berat : dirawat di rumah sakit, diberikan antibiotik parenteral,


oksigendan sebagainya.
o Pneumonia: diberi obat antibiotik kotrimoksasol peroral. Bila penderita
tidak mungkin diberi kotrimoksasol atau ternyata dengan pemberian
kontrmoksasol keadaan penderita menetap, dapat dipakai obat antibiotik
pengganti yaitu ampisilin, amoksisilin atau penisilin prokain.
o Bukan pneumonia: tanpa pemberian obat antibiotik. Diberikan perawatan
di rumah, untuk batuk dapat digunakan obat batuk tradisional atau obat batuk
lain yang tidak mengandung zat yang merugikan seperti
kodein,dekstrometorfan dan, antihistamin. Bila demam diberikan obat penurun
panas yaitu parasetamol.
7
Perawatan dirumah
Beberapa hal yang perlu dikerjakan seorang ibu untuk mengatasi anaknya yang menderita
ISPA.

o Mengatasi panas (demam) Untuk anak usia 2 bulan samapi 5 tahun demam
diatasi dengan memberikan parasetamol atau dengan kompres, bayi dibawah
2 bulan dengan demam harus segera dirujuk. Parasetamol diberikan 4 kali
tiap 6 jam untuk waktu 2 hari. Cara pemberiannya, tablet dibagi sesuai
dengan dosisnya, kemudian digerus dan diminumkan. Memberikan kompres,
dengan menggunakan kain bersih, celupkan pada air (tidak perlu air es).
o Mengatasi batuk Dianjurkan memberi obat batuk yang aman yaitu ramuan
tradisional yaitu jeruk nipis sendok teh dicampur dengan kecap atau madu
sendok teh , diberikan tiga kali sehari.
o Pemberian makanan Berikan makanan yang cukup gizi, sedikit-sedikit
tetapi berulang-ulang yaitu lebih sering dari biasanya, lebih-lebih jika
muntah. Pemberian ASI pada bayi yang menyusu tetap diteruskan.
o Pemberian minuman Usahakan pemberian cairan (air putih, air buah dan
sebagainya) lebih banyak dari biasanya. Ini akan membantu mengencerkan
dahak, kekurangan cairan akan menambah parah sakit yang diderita.
o Lain-lain Tidak dianjurkan mengenakan pakaian atau selimut yang terlalu
tebal dan rapat, lebih-lebih pada anak dengan demam. Jika pilek, bersihkan
hidung yang berguna untuk mempercepat kesembuhan dan menghindari
komplikasi yang lebih parah. Usahakan lingkungan tempat tinggal yang sehat
yaitu yang berventilasi cukup dan tidak berasap. Apabila selama perawatan
dirumah keadaan anak memburuk maka dianjurkan untuk membawa kedokter
atau petugas kesehatan. Untuk penderita yang mendapat obat antibiotik,
selain tindakan diatas usahakan agar obat yang diperoleh tersebut diberikan
dengan benar selama 5 hari penuh. Dan untuk penderita yang mendapatkan
antibiotik, usahakan agar setelah 2 hari anak dibawa kembali kepetugas
kesehatan untuk pemeriksaan ulang.

Kader kesehatan

o Dilatih untuk bisa membedakan kasus pneumonia (pneumonia berat dan


pneumonia tidak berat) dari kasus-kasus bukan pneumonia.

8
o Memberikan penjelasan dan komunikasi perihal penyakit batuk pilek
biasa (bukan pneumonia) serta penyakit pneumonia kepada ibu-ibu serta
perihal tindakan yang perlu dilakukan oleh ibu yang anaknya menderita
penyakit
o Memberikan pengobatan sederhana untuk kasus-kasus batuk pilek (bukan
pneumonia) dengan tablet parasetamol dan obat batuk tradisional obat batuk
putih.
o Merujuk kasus pneumonia berat ke Puskesmas/Rumah Sakit terdekat.
o Atas pertimbangan dokter Puskesmas maka bagi kader-kader di
daerahdaerah yang terpencil (atau bila cakupan layanan Puskesmas tidak
menjangkau daerah tersebut) dapat diberi wewenang mengobati kasus-kasus
pneumonia (tidak berat) dengan antibiotik kontrimoksasol.
o Mencatat kasus yang ditolong dan dirujuk

Metode 2 Menit

M2M dipersiapkan sebagai suatu wawancara sederhana setengah terstruktur (brief


semi-structured interview) untuk dipergunakan di pelayanan kesehatan primer/dasar dalam
melakukan deteksi kasus-kasus gangguan jiwa dengan pendekatan eklektik holistik,
digunakan dalam pelayanan kesehatan umum. Disebut metode dua menit, karena diharapkan
dalam tahap-tahap dua menit dapat dicapai target-target tertentu. Hal ini juga berdasarkan
saran dokter Puskesmas yang mengharapkan adanya suatu metode yang singkat (maksimal
dalam dua menit) yang dapat menyaring dengan cepat walaupun secara kasar ada tidaknya
masalah kesehatan jiwa pada pasien yang berkunjung ke Puskesmas.

Pasien datang ke Puskesmas pertama kali ke loket untuk mendaftarkan diri dan
dibuatkan kartu rawat jalannya dengan identitasnya, setelah itu ke poliklinik. Di Poliklinik
diterima oleh perawat untuk ditanyakan keluhan utamanya; keluhannya bisa keluhan fisik
dan/atau keluhan kejiwaan, bila hanya ada keluhan fisik maka diagnosisnya gangguan fisik;
bila keluhannya berupa keluhan kejiwaan saja maka diagnosisnya gangguan kejiwaan; bila
ada keluhan fisik dan keluhan kejiwaan, dicari tahu hubungan antara kedua jenis keluhan
tersebut, bisa hubungan sebab-akibat atau bisa sebagai komorbiditas; yang pasti ada masalah
kesehatan jiwa. Hal ini bila telah terlatih dapat dilakukan kurang dari dua menit.

Kemudian pasien akan diperiksa oleh dokter, dokter dengan menggunakan pedoman
diagnosis gangguan jiwa di Puskesmas yang disederhanakan dari PPDGJ-III, juga bila telah
terlatih dapat membuat diagnosis kerja dan terapi yang sesuai dalam kurun waktu kurang dari
dua menit. Pasien dipesankan untuk kembali kontrol pada satu minggu kemudian dan
direevaluasi diagnosis dan terapi yang telah diberikan, bila belum ada kemajuan dijanjikan
waktu tersendiri untuk diteliti lebih lanjut, atau bila perlu konseling, atau bila perlu
dikonsulkan ke psikiater pembina. Metode dua menit ini sudah digunakan dalam pedoman
pelayanan kesehatan terpadu di Puskesmas oleh Departemen Kese-hatan Republik Indonesia

Pemeriksaan Metode 2 Menit


9
Tahap I ( 2 menit pertama):

I. Anamnesis:

Dilakukan perawat dan Dokter

Tanyakan KU atau alasan berobat yg dikemukan secara spontan.

KU dibagi:

1. Kel. FM: Kel Fisik tanpa ada Kel.ME

2. Kel. FG : Kel Fisik disertai Kel. ME sebgi penyerta

3. Kel. PS : Kel fisik yg berltr blkg ME, berhub dg 7 sistem tubuh ( CV, TGI, TR,
Dermis,Muskulo-skeletal, Endokrin dan TU)

4. Kel.ME berkaitan perasaan, pikiran dan perilaku ).

Ada 6 kel. Keluhan:

susah tidur, gg tidur

gelisah, ngamuk, perilaku kacau, curiga, suara bisikan

murung, sedih, >> tertawa

cemas irasional, panik, fobia

sering mengggunakan NAPZA

kesulitan belajar, menentang, ngompol

Tahap II ( 2 menit kedua ):

A.Penegakan D/& Th/: Berdasarkan anamnesis dibuat DS/ sesuai kriteria Ps diberi
pertolongan sementara dg obat atau dirujuk ke RS.

D/ pd kel. FM - D/ Fisik - T/ obat fisik

D/ pd kel. PS bisa dua aksis:

D/ Fisik - Th/ obat Fisik

D/ Mental - Th/ Psikotropik

D/ pd kel. ME- D/ Mental - Th/ psikotropik

B. Rencana Tindakan:

Terapi farmakologi (lihat pedoman th/)

Psikoterapi suportif
10
ECT

Rencana follow up

Rujuk ke RSU/RSJ

Tahap III ( 2 menit ketiga ): Pemeriksaan Psikiatrik

Pd kunjungan berikut, sediakan waktu khusus ( tdk dicampur dg


pelayanan umum)

Wawancara psikiatrik: data

Beberapa hal yg perlu diperhatikan untuk menciptakan suasana


hubungan terapeutik (rapport):

Bersikap positif, penuh perhatian, menerima ps apa adanya

Empati

Tidak memberikan penilaian: menghina, mengkritik, mengejek,


menyalahkan

11
12