Anda di halaman 1dari 4

PROBLEM BASED LEARNING (PEMBELAJARAN BERBASIS

MASALAH)

Pembelajaran berbasis masalah (problwm based learning), selanjutnya disingkat


PBL, mula-mula dikembangkan pada sekolah kedokteran di Ontario, Kanada pada
1960-an. Strategi ini dikembangkan sebagai respon atas fakta bahwa para dokter
muda yang baru lulus dari sekolah kedokteran itu memiliki pengetahuan yang
sangat kaya, tetapi kurang memiliki keterampilan yang memdai untuk
memanfaatkan pengetahuan tersebut ke dalam praktik sehari-hari. Perkembangan
selanjutnya PBL secara lebih luas diterapkan di berbagai mata peajaran di sekolah
maupun perguruan tinggi.

Model Problem Based Learning (PBL) adalah model pembelajaran dengan


pendekatan pembelajaran siswa pada masalah autentik sehingga siswa dapat
menyusun pengetahuannya sendiri, menumbuhkembangkan keterampilan yang
lebih tinggi dan inquiry, memandirikan siswa dan meningkatkan kepercayaan diri
sendiri. Model ini bercirikan penggunaan masalah kehidupan nyata sebagai suatu
yang dipelajari siswa untuk melatih dan meningkatkan keterampilan berpikir kritis
dan pemecahan masalah serta mendapatkan pengetahuan konsep-konsep penting,
dimana tugas guru harus memfokuskan diri untuk membantu siswa mencapai
keerampilan mengarahkan diri. Pembelajaran berbasis masalah penggunaannya di
dalam tingkat berpikir yang lebih tinggi, dalam situasi berorientasi pada masalah,
termasuk bagaimana belajar.

PBL meliput pengajuan pertanyaan atau masalah, memusatkan pada keterkaitan


antardisiplin, penyelidikan autentik, kerja sama dan menghasilkan karya serta
peragaan. PBL tidak dirancang untuk membantu guru memberikan informasi
sebanyak-banyaknya pada siswa. Penilaian yang sesuai dengan model PBL adalah
menilai pekerjaan yang dihasilkan oleh siswa sebagai hasil pekerjaan dari mereka
dan mendiskusikan hasil pekeraan secara besama-sama. Penilaian proses dapat
digunakan untuk menilai pekerjaan siswa tersebut. Penilaian proses bertujuan agar
guru dapat melihat bagaimana siswa merencanakan pemecahan masalah, melihat
bagaimana siswa menunjukkan pengetahuan dan keterampilannya.

Ketika siswa memasuki kelas mereka tidak dalam kondisi kosong melainkan
merek atelah memiliki pengetahuan awal. Berdasark pemikiran tersebut, maka
pembelajaran perlu diawali dengan mengangkat permasalahn yang sesuai dengan
lngkungannya. menurut arends (1997: 13), pertanyaan dan masalah yang diajukan
haruslah memenuhi kriteria sebagai berikut :

a. Autenik, yaitu masalah harus lebih berakar pada kehidupan dunia nyata siswa
daripada berakar pada prinsip-prinsip disiplin ilmu tertentu.

b. Jelas, yaitu masalah dirumuskan dengan jelas, alam arti tidak menimbulkan
masalah baru bagi siswa yang pada akhirnya menyulitkan penyelesaian siswa.

c. Mudah dipahami, yaitu masalah yang diberikan hendaknya mudah dipahami


siswa. Selain itu, masalah disusun dan dibuat sesuai dengan tingkat
perkembangan siswa.

d. Luas dan sesuai dengan tujuan pembelajaran, yaitu maslah yang disusun
hendaknya besifat luas, artinya masalah tersebut mencakup seluruh isi
pelajaran yang akan diajarkan sesuai dengan waktu, ruang, dan sumber yang
tersedia. Selain itu, masalah yang disusun tersebut haruslah didasarkan pada
tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.

e. Bermanfaat, yaitu masalah yang telah disusun dan dirumuskan haruslah


bermanfaat baik bagi siswa sebagai pemecah masalah maupun guru sebagai
pembuat masalah. Masalah yang bermanfaat adalah masalah yang dapat
meningkatkan kemampuan berpikir memecahkan masalah siswa.

PBL menuntu siswa untuk menghasilkan produk tertentu dalam bentuk karya
nyata atau atefak dan peragaan yang menjelaskan aatau mewakili bentuk
penyelesaian masalah yang mereka temukan. Produk itu dapat berupa transkip
debat, laporan, model fisik, video atau program komputer. Pengajaran berbasis
masalah dicirikan oleh siswa bekerja sama satu sama lain. Mereka bekerja sama
memberikan motivasi untuk secara berkelanjutan terlibat dalam tugas-tugas
kompleks dan memperbanyak peluang untuk berbagi inquiry dan dialog untuk
mengembangkan keerampilan sosial dan keterampilan berpikir.

Tujuan utama PBL, bukanlah penyampaian sjumlah besar pengetahuan kepada


peserta didik, melainkan pada pengembangan kemampuan berpikir kritis dan
kemampuan pemecahan masalah dan sekaligus mengembangkan kemampuan
peserta didik untuk aktif membangun pengetahuan sendiri.

Ciri-ciri PBL

PBL memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

a. Pengajuan masalah atau pertanyaan. Pengaturan pembelajaran berdasarkan


pada masalah atau pertanyaan yang penting bagi siswa maupun masyarakat.

b. Keterkaitan dengan berbagai masalah disiplin ilmu. Masalah yang diajukan


dalam PBL hendaknya mengaitkan atau melibatkan berbagai disiplin ilmu.

c. Penyelidikan yang autentik. Penyelidikan yang dierlukan dalam PBL bersifat


autentik. Selain itu penyelidikan diperlukan untuk mencari penyelesaian
masalah yang bersifat nyata. Siswa menganalisis dan merumuskan masalah,
mengembangkan dan meramalkan hipotesis, mengumpulkan dan menganalisis
informasi, melaksanakan eksperimen, menarik kesimpulan, dan
menggambarkan hasil akhir.

d. Menghasilkan dan memamerkan hasil karya. Pada pembelajaran berbasis


masalah, siswa bertugas menyusun hasil penelitiannya dalam bentuk karya
dan memamerkan hasil karyanya. Artinya, Hasil penyelesaian masalah
ditampilkan dan dibuatkan laporannya.

e. Kolaborasi. Pada pembelajaran berbasis masalah, tugas-tugas belajar berupa


masalah harus diselesaikan bersama-sama antarsiswa, baik dalam kelompok
kecil mapupun besar, dan bersama-sama antarsiswa dengan guru.
Langkah-Langkah PBL