Anda di halaman 1dari 11

Jurnal Jalan dan Jembatan

KAJIAN PENGGUNAAN LAPIS PONDASI AGREGAT


YANG DISTABILISASI SEMEN
Nono
Pusat Litbang Jalan dan Jembatan
Jl. A.H. Nasution 264 Bandung 40294
E-Mail : sunaryono_nn@yahoo.com
Diterima : 12 Mei 2009; Disetujui : 31 Juli 2009

ABSTRAK
Jalan mempunyai peran yang sangat strategis dalam bidang sosial, ekonomi,
budaya dan hankam (integritas nasional), namun untuk memperoleh kinerja
perkerasan yang laik atau sesuai dengan tuntutan pengguna jalan adalah cukup
sulit dicapai. Salah satunya sebagai akibat kekurang-tepatan dalam penggunaan
bahan lapis pondasi atau pondasi bawah. .Makalah ini membahas tentang
penggunaan lapis pondasi, baik lapis pondasi atas maupun lapis pondasi bawah
agregat yang distabilisasi semen. Berdasarkan hasil kajian, diperoleh bahwa
penggunaan lapis pondasi yang disatabilisasi semen memberikan beberapa
keuntungan, antara lain memiliki koefisien kekuatan relatif yang lebih tinggi
sehingga dapat meningkatkan nilai struktur. Keuntungan lainnya adalah
mengurangi penggunaan material baru sehingga mencegah kerusakan lingkungan.
Kata kunci: pondasi dan pondasi bawah, agregat, stabilisasi semen, Kerusakan
dini, Lapis Pondasi Bersemen

ABSTRACT
Roads have a strategic role in social, economic, cultural area and National
defence and security. However, to provide an adequate performance of pavements
as expected by road users is hard to be achieved. One of the problems is caused by
inaccurate use of base and sub-base materials. The paper discusses the use of
aggregate base and sub-base that stabilized by cement. Based on analysis result,
shown that the use of cement-treated base has several advantages, namely, high
layer coefficient which can increase service life and more economical. Another
advantage is to decrease the use of new aggregate and environmental impact.
.
Key words: base and sub-base, aggregate, cement stabilized, early damage, cement
treated base

1 Volume 26 No. 2, Agustus 2009


Jurnal Jalan dan Jembatan

PENDAHULUAN agregat (unbound) sangatlah diperlukan,


baik untuk pondasi jalan baru ataupun
Jalan merupakan salah satu moda untuk memperbaiki pondasi jalan lama
yang mempunyai peran yang sangat dengan daya dukung rendah.
strategis dalam bidang sosial, ekonomi, Tujuan penelitian ini adalah untuk
budaya dan hankam (integritas nasional). mengevaluasi kelebihan lapis pondasi
Hal ini terbukti dari kenyataan bahwa agregat yang distabilisasi semen, baik
jalan melayani 80% - 90% dari seluruh untuk pondasi jalan baru ataupun untuk
angkutan barang dan orang. Untuk memperbaiki lapis pondasi jalan lama
kelancaran perjalanannya, para pengguna dengan daya dukung rendah. Adapun
jalan menuntut agar jalan yang untuk menganalisis kelebihan lapis
dilewatinya selalu memberikan pondasi dengan stabilisasi semen, ditinjau
kenyamanan dan keselamatan. Namun dari nilai struktur (structural number, SN)
demikian, jalan mengalami penurunan dan nilai ekonomisnya.
kondisi sesuai dengan bertambahnya
umur sehingga pada suatu saat, jalan KAJIAN PUSTAKA
tersebut akan mempunyai kondisi yang
dipandang mengganggu kelancaran Umum
perjalanan. Kinerja perkerasan akan
sesuai dengan rencana apabila dalam Struktur perkerasan lentur, umumnya
pemilihan bahan sesuai dengan spesifikasi terdiri atas lapis pondasi bawah (subbase
yang ditetapkan, baik untuk lapis course), lapis pondasi atas (base course),
permukaan maupun lapis pondasi jalan. dan lapis permukaan (surface course).
Kinerja perkerasan lentur yang Tipikal susunan lapis perkerasan lentur
berada pada daerah-daerah yang memiliki seperti diperlihatkan pada Gambar 1.
muka air tanah relatif tinggi sering Lapisan pada konstruksi perkerasan
mengalami kerusakan dini sehingga tidak memiliki fungsi masing-masing, yaitu:
dapat diatasi melalui program penanganan Lapis permukaan beraspal berfungsi
pemeliharaan rutin dan periodik. untuk mengamankan perkerasan dari
Kerusakan yang terjadi umumnya sebagai pengaruh air, mengurangi tegangan dan
akibat lemahnya daya dukung pada Menahan beban paling tinggi akibat
bagian bawah konstruksi perkerasan. beban lalu-lintas sehingga harus
Permasalahan tersebut dapat dipahami mempunyai kekuatan yang cukup
bahwa daerah dengan muka air yang Lapis pondasi atas (base) berfungsi
relatif tinggi dapat memperlemah daya untuk mendukung lapis permukaan dan
dukung tanah dasar dan juga daya dukung mengurangi tegangan serta regangan.
lapis pondasi agregat, baik lapis pondasi Lapis pondasi bawah (subbase)
atas maupun lapis pondasi bawah. berfungsi sebagai lantai kerja,
Lemahnya daya dukung lapis pondasi atas menyebarkan beban di atasnya,
dan lapis pondasi bawah adalah akibat mengalihkan infiltrasi air dan
naiknya butiran halus dari tanah dasar ke mengurangi tegangan serta regangan.
lapis pondasi bawah dan bahkan sampai Tanah dasar berfungsi mendukung
ke lapis pondasi atas. Untuk itu, beban yang didistribusikan melalui
penggunaan alternatif lapis pondasi selain lapisan pondasi yang berada di atasnya.

2 Volume 26 No. 2, Agustus 2009


Jurnal Jalan dan Jembatan

maupun air permukaan, terhadap tanah


dasar dan lapis perkerasan.
Ditinjau dari letak permukaan air
tanah, Overseas Road Note 31 (TRL,
1993) membagi tanah dasar di bawah
perkerasan kedap di daerah tropis menjadi
tiga kategori sebagai berikut:
1) Katagori 1: tanah dasar dimana muka
Gambar 1. Tipikal konstruksi perkerasan air tanah cukup tinggi
lentur Untuk kategori ini, letak muka tanah
yang mempengaruhi tanah dasar
Kerusakan dini, diantaranya dapat tergantung pada jenis tanah. Untuk
diakibatkan karena kurang tepatnya dalam tanah dasar tidak plastis (non plastis),
pemilihan dan pelaksanaan lapisan air tanah akan mempengaruhi tanah
beraspal atau karena lemahnya bagian dasar, apabila permukaannya terletak
bawah konstruksi perkerasan, seperti pada kedalaman kurang dari 1 meter
lemahnya daya dukung tanah dasar dan dari permukaan perkerasan; untuk
kurang baiknya daya dukung lapis tanah dasar jenis lempung kepasiran
pondasi, baik lapis pondasi atas ataupun (PI<20), air tanah akan
lapis pondasi bawah. mempengaruhi tanah dasar, apabila
Pemilihan dan penggunaan lapisan permukaannya terletak pada
beraspal yang tepat adalah menggunakan kedalaman kurang dari 3 meter dari
bahan (agregat dan aspal) yang sesuai permukaan perkerasan; untuk tanah
dengan kondisi lingkungan dimana dasar jenis lempung berat (PI>40), air
campuran beraspal itu akan dilaksanakan. tanah akan mempengaruhi tanah
Hal lain, yang mempengaruhi kinerja dasar, apabila permukaannya terletak
campuran atau lapisan beraspal di pada kedalaman kurang dari 7 meter
lapangan adalah tergantung terhadap sifat dari permukaan perkerasan.
campuran beraspal pada saat konstruksi. Daerah dimana muka air tanah
Perubahan sifat campuran beraspal dapat dipertahankan oleh air hujan
dipengaruhi karena proses densifikasi mencangkup juga daerah pantai dan
akibat beban lalu lintas dan kondisi daerah banjir dimana muka air tanah
lingkungan yang dapat mempengaruhi dikendalikan oleh air laut, air danau
kualitas aspal (Giovanni, 2000). dan air sungai.
Kerusakan dini akibat lemahnya 2) Kategori 2: tanah dasar dimana muka
bagian bawah konstruksi perkerasan dapat air tanah dalam (deep) dan curah
disebabkan pengaruh air. Untuk itu, letak hujan sangat mempengaruhi kadar air
permukaan perkerasan dari permukaan di bawah perkerasan.
tanah di sekitar jalan sangatlah Kondisi ini terjadi apabila air hujan
menentukan terhadap kinerja perkerasan. melampaui penguapan
Letak permukaan perkerasan dari (evapotranspiration) untuk sekurang-
permukaan tanah di sekitar jalan terkait kurangnya selama dua bulan dalam
dengan pengaruh air, baik air tanah satu tahun. Curah hujan pada daerah
yang termasuk katagori ini biasanya

3 Volume 26 No. 2, Agustus 2009


Jurnal Jalan dan Jembatan

lebih dari 250 mm per tahun dan 1. Lapis Pondasi (Base) berupa CTB
sering bersifat musiman. (Cement Treated Base); CTRB
3) Kategori 3: tanah dasar di daerah (Cement Treated Recycling Base)
dimana letak muka air tanah tidak atau CMRFB (Cold Mix Recycling
tetap berada dekat permukaan tanah Foam Bitumen).
serta di daerah dimana cuaca adalah 2. Lapis Pondasi Bawah (Sub-Base)
kering di sebagian besar tahun dan berupa CTSB (Cement Treated Sub-
curah hujan per tahun adalah 250 mm Base) atau CTRSB (Cement Treated
atau kurang. Recycling Sub-Base).
Referensi lainnya menyatakan bahwa
permukaan air tanah di bawah perkerasan
perlu dipertahankan pada kedalaman Koefisien Kekuatan Relatif Lapis
sekurang-kurangnya 1,2 m (4 ft) dari Pondasi Jalan (a)
permukaaan tanah dasar (TRL, 1952).
Pt T-01-2002-B (2002) menyatakan bahwa Metoda perencanaan perkerasan jalan
daya dukung lapis pondasi atas dan lapis yang saat ini digunakan dilingkungan
pondasi bawah agregat (untreated base Bina Marga adalah metoda perencanaan
dan sub base) dipengaruhi oleh kondisi empiris. Contoh metoda yang digunakan
drainase dan curah hujan (lihat Tabel 1). adalah metoda perencanaan pererasan
Tulisan ini membahas tentang lentur berdasarkan analisa komponen
permasalahan kerusakan dini akibat yang diadopsi dari metoda AASHTO
pondasi jalan yang kurang baik. Cara 1993, yaitu Pt T-01-2002-B, 2002. Untuk
mengatasinya antara lain menggunakan itu, dalam merancang konstruksi
bahan pondasi yang distabilisasi semen. perkerasan yang akan digunakan,
Berdasarkan beberapa literatur, termasuk kekuatan masing-masing lapisan
spesifikasi khusus dari Balitbang konstruksi perkerasan harus
Departemen Pekerjaan Umum, maka dikonversikan terhadap bahan standar,
terdapat beberapa teknologi bahan lapis sesuai bahan standar yang ditetapkan
pondasi yang memiliki kekedapan yang dalam metoda perencanaan (Pt T-01-
cukup baik sehingga dapat mengeliminasi 2002-B, 2002).
pengaruh instrusi air, yaitu:
Tabel 1.
Faktor penyesuaian mutu lapis pondasi agregat
Faktor penyesuaian mutu lapis pondasi (mi)1)
Drainase
<5%2) 1-5%2) 5-25%2) >25%2)
o Sangat baik 1,40-1,35 1,35-1,30 1,30-1,20 1,20
o Baik 1,35-1,25 1,25-1,15 1,15-1,00 1,00
o Sedang 1,25-1,15 1,15-1,05 1,00-0,80 0,80
o Jelek 1,15-1,05 1,05-0,95 0,80-0,60 0,60
o Sangat jelek 1,05-0,95 0,95-0,75 0,75-0,40 0,40
1)
SN = a1D1+a2D2m2+a3D3m3;
2)
Persentase waktu per tahun dimana perkerasan kemungkinan jenuh; tergantung pada curah hujan rata-rata per
tahun dan kondisi drainase
Sumber : Pt T-01-2002-B, 2002

4 Volume 26 No. 2, Agustus 2009


Jurnal Jalan dan Jembatan

Untuk mengetahui kekuatan setiap Koefisien Kekuatan Relatif Lapis


jenis lapis pondasi jalan sesuai metoda Pondasi atas (a2) dapat ditentukan dengan
perencanaan (Pt T-01-2002-B, 2002), menggunakan Rumus 1 atau Gambar 2.
harus dilakukan konversi kekuatan setiap Sedangkan Koefisien Kekuatan Relatif
jenis lapis pondasi jalan sesuai jenis Lapis Pondasi Bawah (a3) dapat
bahan dan dan fungsinya, yang disebut ditentukan dengan menggunakan Rumus
sebagai Koefisien Kekuatan Relatif. 2 atau Gambar 3. Sedangkan untuk
Jenis lapis pondasi jalan Koefisien Kekuatan Relatif Lapis Pondasi
dikelompokkan ke dalam 3 kategori, Bersemen, dapat ditentukan dengan
yaitu: lapis pondasi granular (granular menggunakan Gambar 4.
base), lapis pondasi bawah granular
a2 = 0,249 (log10EBS) 0,977 ... (1)
(granular subbase) dan Lapis Pondasi
Bersemen (cement-treated base). a3 = 0,227 (log10ESB) 0,839 ... (2)

Gambar 2. Koefisien kekuatan relatif lapis pondasi granular (a2)


(Sumber : Pt T-01-2002-B, 2002)

5 Volume 26 No. 2, Agustus 2009


Jurnal Jalan dan Jembatan

Gambar 3. Koefisien kekuatan relatif lapis pondasi bawah granular (a3)


(Sumber : Pt T-01-2002-B, 2002)

Gambar 4. Koefisien kekuatan relatif lapis pondasi bersemen


(Sumber : Pt T-01-2002-B, 2002)

6 Volume 26 No. 2, Agustus 2009


Jurnal Jalan dan Jembatan

Kekuatan lapis pondasi agregat dan struktur berbagai jenis lapis pondasi, baik
lapis pondasi yang distabilisasi lapis pondasi agregat maupun lapis
Kekuatan berbagai jenis lapis pondasi pondasi agregat yang distabilisasi semen.
agregat dan lapis ondasi yang Di samping itu, mengakaji juga biaya
distabilisasi, yaitu sesuai Spesifikasi pekerjaan berbagai lapis pondasi. Untuk
Umum Bidang Jalan dan Jembatan Tahun mengevaluasi biaya pekerjaan, dilakukan
2008, Spesifikasi Khusus Cement survey harga bahan untuk pekerjaan jalan
Treated Recycling Base and Subbase diwilayah Jawa Barat.
(CTRB & CTRSB) Dicampur di tempat Setelah data diperoleh, baik data hasil
(Mix in Place) Tahun 2007 dan kajian pustaka dan survey intansional
Spesifikasi Khusus Daur Ulang Campuran maka selanjutnya dianalisa. Adapun
Beraspal Dingin Lapis Pondasi Dengan teknik analisis data yang digunakan
Foam Bitumen (Cold Mix Recycling Base adalah analisa perbandingan kekuatan
By Foam Bitumen, CMRFB-Base) Tahun untuk berbagai jenis lapis pondasi, biaya
2007, disajikan pada Tabel 2. konstruksi serta umur pelayanannya.

HIPOTESIS HASIL DAN ANALISIS

Lapis pondasi agregat yang Mengacu pada Spesifikasi Umum Bidang


distabilisasi dengan semen, baik sebagai Jalan dan Jembatan Tahun 2008,
lapis pondasi atas maupun sebagai lapis Spesifikasi Khusus tentang Cement
pondasi bawah, lebih kedap air dan Treated Recycling Base and Subbase
memiliki nilai struktur lebih tinggi. (CTRB & CTRSB) Dicampur di Tempat
(Mix in Place) Tahun 2007 dan
METODOLOGI Spesifikasi Khusus tentang Daur Ulang
Campuran Beraspal Dingin Lapis Pondasi
Untuk mencapai sesuai dengan tujuan Dengan Foam Bitumen (Cold Mix
dan sasaran, maka kegiatan yang Recycling Base By Foam Bitumen,
dilakukan adalah mengkaji kekuatan CMRFB-Base) Tahun 2007,
Tabel 2.
Kekuatan lapis pondasi dan pondasi bawah
Kekuatan

NO Jenis pondasi Kuat Tekan Bebas (UCS)


untuk umur 7 hari CBR (%)
(kg/cm2) (psi)
I PONDASI (BASE)
1 Agregat Kelas A 90
2 CTB (Cement Treated Base) 45 640
3 CTRB (Cement Treated Recycling Base) 35 500
4 CMRFB (Cold Mix Recycling Foam Bitumen) 70 1000
II PONDASI BAWAH (SUBBASE)
1 Agregat Kelas B 60
2 CTSB (Cement Treated Sub-Base) 40 570
3 CTRSB (Cement Treated Recycling Sub-Base) 25 360

7 Volume 26 No. 2, Agustus 2009


Jurnal Jalan dan Jembatan

serta Gambar 2, Gambar 3 dan Gambar 4, Tabel 3 diperoleh bahwa kekakuan atau
maka diperoleh koefisien kekuatan relatif modulus lapis pondasi yang distabilisasi
masing-masing jenis lapis pondasi. Data semen lebih tinggi dibandingkan modulus
koefisien kekuatan relatif lapis pondasi lapis pondasi agregat. Dengan modulus
atas dan lapis pondasi bawah disajikan yang lebih tinggi maka dihasilkan
pada Tabel 3 dan pada Gambar 5 (khusus koefisien kekuatan relatif yang lebih
untuk lapis pondasi bersemen). Pada tinggi juga.

Tabel 3.
Koefisien kekuatan relatif lapis pondasi dan pondasi bawah

Kekuatan
Koefisien
NO Jenis pondasi Kuat Tekan* CBR Modulus kekuatan relatif
(kg/cm2) (psi) (%) (x 1000 psi)
I PONDASI (BASE)
1 Agregat Kelas A 90 30 a2 = 0,140
2 CTB (Cement Treated Base) 45 640 730 a2 = 0,200
3 CTRB (Cement Treated Recycling Base) 35 500 640 a2 = 0,170
4 CMRFB (Cold Mix Recycling Foam Bitumen) 70 1000 900 a2 = 0,250
II PONDASI BAWAH (SUBBASE)
1 Agregat Kelas B 60 28 a3 = 0,130
2 CTSB (Cement Treated Sub-Base) 40 570 670 a3 = 0,180
3 CTRSB (Cement Treated Recycling Sub-Base) 25 360 570 a3 = 0,145
*) Kuat Tekan Bebas (UCS) untuk umur 7 hari

Gambar 5. Koefisien kekuatan relatif lapis pondasi bersemen

8 Volume 26 No. 2, Agustus 2009


Jurnal Jalan dan Jembatan

Untuk mengevaluasi nilai struktur distabilisasi semen dengan lapis


(Structural Number, SN) dan nilai pondasi agregat, baik pondasi atas
ekonomis biaya konstruksi yang maupun pondasi bawah, diperoleh
diperlukan untuk lapis pondasi agregat bahwa pondasi bersemen memiliki
dan lapis pondasi yang distabilisasi semen koefisien kekuatan reltif lebih tinggi.
maka diambil asumsi tebal lapis pondasi Dengan acuan biaya dan acuan nilai
20 cm (8 inci). struktur adalah lapis pondasi agregat,
Mengacu terhadap data koefisien baik untuk lapis pondasi atas maupun
kuatan relatif untuk masing-masing jenis lapis pondasi bawah, maka lapis
lapis pondasi sesuai pada Tabel 3 dan pondasi atas`yang memiliki rasio biaya
tebal asumsi lapis pondasi sebesar 20 cm tertinggi adalah CMRFB (2,53), CTB
maka seperti terlihat pada Tabel 4 nilai (1,63) dan CTRB (1,24). Sedangkan
struktur lapis pondasi agregat yang untuk lapis pondasi bawah adalah CTSB
distabilisasi semen lebih tinggi. Namun (1,28) dan CTRSB (1,25).
demikian, apabila mengkaji terhadap
biaya pekerjaan masing-masing jenis lapis Apabila membandingkan antara rasio
pondasi dengan menggunakan Program biaya dan rasio nilai struktur (SN) untuk
Analisa Harga Satuan (PAHS) pekerjaan lapis pondasi agregat yang distabilisasi
jalan dari Bina Marga dan harga bahan semen diperoleh rasio biaya lebih tinggi
Tahun 2008 dan yang berlaku di daerah dibandingkan dengan rasio nilai struktur
Propinsi Jawa Barat. Hasil kajian atau kurang ekonomis. Namun apabila
menunjukkan harga pekerjaan lapis memperhatikan keuntungan lainnya,
pondasi yang distabilisasi semen lebih yaitu:
mahal (lihat Table 4). Lapis pondasi agregat yang distabilisasi
semen relatif tidak sensitif terhadap
PEMBAHASAN pengaruh air (lihat Tabel 1) sehingga
nilai strukturnya relatif stabil pada
Berdasarkan data koefisien kekuatan musim panas atau musih hujan.
relatif, data nilai struktur (Structural Untul lapis pondasi CTRB, CMRFB dan
Number, SN) serta rasio biaya pekerjaan CTRSB agregat yang digunakan
pada Tabel 4. Pada Tabel 4 diperoleh sebagian besar agregat lama (existing),
bahwa: untuk itu mencegah kerusakan
Membandingkan antara koefisien lingkungan.
kekuatan relatif lapis pondasi

9 Volume 26 No. 2, Agustus 2009


Jurnal Jalan dan Jembatan

Tabel 4.
Rasio umur pelayanan dan biaya bahan lapis pondasi

Koefisien Rasio
Structural
NO Jenis pondasi kekuatan
number (SN) SN BIAYA
relatif
I PONDASI (BASE)
1 Agregat Kelas A a2 = 0,140 1,10 1,00 1,00
2 CTB (Cement Treated Base) a2 = 0,200 1,57 1,43 1,63
3 CTRB (Cement Treated Recycling Base) a2 = 0,170 1,34 1,21 1,24
4 CMRFB (Cold Mix Recycling Foam Bitumen) a2 = 0,250 1,97 1,79 2,53
II PONDASI BAWAH (SUBBASE)
1 Agregat Kelas B a3 = 0,130 1,02 1,00 1,00
2 CTSB (Cement Treated Sub-Base) a3 = 0,180 1,42 1,38 1,28
3 CTRSB (Cement Treated Recycling Sub-Base) a3 = 0,145 1,14 1,12 1,25

KESIMPULAN DAN SARAN pondasi agregat distabilisasi semen


dengan teknologi recycling memiliki
Kesimpulan nilai tambah karena sebagian besar
menggunakan agregat lama (existing)
Berdasarkan hasil pembahasan maka sehingga dapat menghemat penggunaan
dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut: agregat baru.
Koefisien kekuatan relatif lapis pondasi
distabilisasi semen, baik pondasi atas Saran
maupun pondasi bawah, lebih tinggi
dibandingkan dengan koefisien Meskipun kinerja lapis pondasi agregat
kekuatan relatif lapis pondasi agregat. yang stabilisasi semen cukup baik,
Lapis pondasi atas`yang memiliki rasio namun apabila ditinjau dari tingkat
biaya dan rasio nilai struktur tertinggi kemudahan kerjanya maka untuk pondasi
berturut-turut adalah CMRFB, CTB dan bersemen memerlukan ketelitian dan
CTRB. Sedangkan untuk lapis pondasi kedisiplinan yang tinggi, terutama pada
bawah adalah CTSB dan CTRSB. pelaksanaan, terutama kehomogenan
Apabila membandingkan antara rasio campuran. Untuk itu, keberhasilan
biaya dengan rasio nilai struktur (SN) pondasi agregat yang distabilisasi semen
maka untuk seluruh lapis pondasi yang tergantung terhadap keberhasilan pada
distabilisasi semen, baik untuk lapis pelaksanaan dan perawatan.
pondasi atas maupun untuk lapis
pondasi bawah, diperoleh rasio biaya
masih lebih tinggi atau kurang DAFTAR PUSTAKA
ekonomis dari segi biaya.
Apabila memperhatikan ketahanan Bina Marga, 2008. Spesifikasi Umum
terhadap pengaruh air (kondisi drainase Bidang Jalan dan Jembatan (Buku
dan curah hujan) maka lapis pondasi V), Jakarta: Bina Marga.
distabilisasi semen lebih tahan Giovanni Parmeggiani, 2000. Three
pengaruh air. Khusus untuk lapis Dimensional Asphalt Mix Design,

10 Volume 26 No. 2, Agustus 2009


Jurnal Jalan dan Jembatan

World of Asphalt Pavements 1ST Subbase (CTRB & CTRSB)


International Conference. Sydney. Dicampur di Tempat (Mix in
Departemen Pekerjaan Umum, 2002: Place), Bandung: Pusjatan.
ARRB. Pedoman Perencanaan Pusat Litbang Jalan dan Jembatan, 2007.
Tebal Perkerasan Lentur. Pt T-01- Spesifikasi Khusus tentang Daur
2002-B, Jakarta: Departemen Ulang Campuran Beraspal Dingin
Pekerjaan Umum. Lapis Pondasi Dengan Foam
Pusat Litbang Jalan dan Jembatan, 2007. Bitumen (Cold Mix Recycling Base
Spesifikasi Khusus tentang Cement By Foam Bitumen, CMRFB-Base),
Treated Recycling Base and Bandung: Pusjatan.

11 Volume 26 No. 2, Agustus 2009