Anda di halaman 1dari 298

Sanksi Pelanggaran Pasal 72 Undang-Undang N0. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta

1. Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 49 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara masing-masing paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp 1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 5.000.000.000,00 (lima milyar rupiah).

2. Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedar-

kan, atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelang- garan Hak Cipta atauHak Terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

PUTU SETIA

MENGGUGAT

BALI

Menelusuri Perjalanan Budaya

Menggugat Bali: Menelusuri Perjalanan Budaya Putu Setia Ilustrasi oleh: S. Prinka

Penerbit PT Pustaka Utama Grafiti, Jakarta Cetakan Pertama 1986 Cetakan Kedua 1987 Cetakan Ketiga oleh PT Pustaka Manikgeni Denpasar 2000

ISBN 979-444-032-9

Pengantar Penerbit S etiap pembangunan niscaya membawa pergeseran nilai. Dan Bali tak luput dari hukum

Pengantar Penerbit

S etiap pembangunan niscaya membawa pergeseran nilai. Dan Bali tak luput dari hukum besi itu. Bahkan di sini -- sebuah kawasan yang paling gencar dilanda industri pariwisata -- gerak laju pergeseran nilai berjalan jauh lebih

cepat dan bagi banyak pihak terasa mencemaskan: akan ke mana Bali dengan khasanah kebudayaannya yang luhur itu? Putu Setia, seorang putra Bali asli, bisa disebut pengamat per- manen atas perubahaan yang terjadi di pulaunya. Ia bergelut erat dengan budaya Bali dengan segala pernik-perniknya, kemudian

meninggalkan Bali pada awal 978, merantau di budaya yang lain. Dalam suatu kesempatan, ia berkunjung kembali ke tanah kelahirannya pada awal 986 yang memungkinkan baginya untuk mengamati dari dekat serta merenungkan secara intens perkem- bangan berbagai aspek budaya Bali. Hasilnya: ia menggugat. Atau

dengan kata lain, ia mempertanyakan perubahan sosial budaya yang terjadi akibat pembangunan yang diterapkan secara menggebu, dan

mungkin ada sebagian yang salah. Meski menggugat, Putu Setia masih melihat celah. Ia bukan orang yang emoh dengan perubahan, melainkan sekadar mendam- bakan perubahan yang berakar. Ia ingin melihat suatu dinamika yang sehat dari masyarakat Bali sebagai perbenturan nilai yang tidak terelakkan. Hasil pengamatan itu adalah buku Menggugat Bali, terbit 986 oleh Penerbit PT Pustaka Utama Grafiti, grup Tempo di mana Putu Setia bekerja. Buku ini mendapat hadiah pertama sebagai buku non-fiksi terbaik dari Yayasan Buku Utama Departemen Pendidi- kan dan Kebudayaan pada 986. Buku ini pun diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang dan menjadi rujukan wisatawan Jepang yang ingin mempelajari budaya Bali. Untuk menjaga keaslian buku ini, pada edisi online ini tak ada perubahan apa pun yang dilakukan penulisnya. Dengan demikian rekaman perjalanan budaya Bali ini dampai dengan tahun 986 pada saat buku edisi cetak ini diterbitkan. Ada rencana untuk melanjutkan menulis perjalanan budaya Bali itu untuk menguji apakah yang ditulis dalam buku ini berubah atau tida. Tunggu Menggugat Bali edisi Update. Selamat menikmati Bali yang bergerak dengan sangat dina- mis.

Daftar Isi

I.

SEBUAH PROLOG UNTUK BALI (Pengantar

Penulis di Buku “Menggugat Bali” 986) -- 9

II.

PADA AWALNYA I KETUT BANGBANG GDE

RAWI, (Tentang Kalender Bali dan Baik Buruknya

Hari) -- 0

III.

SALAH KAPRAH. KATA I GUSTI AGUNG GDE PUTRA (Selintas Arsitektur Bali dan Kelengkapan Upacara yang Berubah Fungsi) -- 6

IV.

BEBAN I WAYAN NESA WISUANDHA (Upacara

Pembakaran Mayat (Ngaben) yang Sederhana) -- 7

V.

PENYAKIT GURUN TEKO (Berbagai Bentuk Judi Tradisional Bali) -- 6

VI.

I DEWA PUTU KARSA DALANG LEAK (Menge-

nai Ilmu Hitam dan Mahkluk Halus) -- 9

VII.

KETIKA IDA BAGUS NGURAH MEMBANYOL

(Nasib Arja, Teater Rakyat Bali yang Merana) -- 08

VIII.

DEWA AYU PUTU RAI ALIAS N1 LUH SUKE-

TI (Perjalanan Teater Rakyat Topeng, Janger, dan Drama Gong) -- 9

IX.

MADE TARO DI SASIH KARO (Pasang Surut Sas-

tra Bali Moderen & Tradisi) -- 9

X.

MADU DAN RACUN ANAK AGUNG MADE

CAKRA (Cerita Tentang Lagu Pop Bali yang

Marak) -- 6

XI.

BUAH UPAKARTI I NYOMAN TOGOG (Seni

Kerajinan di Tengah Arus Pariwisata) -- 7

XII.

LANGKAH-LANGKAH PANDE WAYAN SUT-

JA NEKA (Lukisan Bali dan Museum Seni) -- 86

XIII.

I GUSTI ADNYA SUBRATA DI KUTA MIMBA

(Kasus Desa Kuta di Tengah Arus Pariwisata) -- 0

XIV.

PARA PEWARIS RATU SAKTI PANCERING

JAGAT (Kasus Kepariwisataan di Desa Trunyan) -- 9

XV.

KECEMASAN DARI DESA KI PATIH TU-

JUNG BIRU (Kasus Kepariwisataan di Desa Kuno Tenganan) --

XVI. NYONYA GEDONG BAGUS OKA, GOOD

NIGHT (Ashram Hindu Gerakkan Dunia Wisata Candi Dasa) --

XVII. ASSALAMU’ALAIKUM NENGAH IBRAHIM

(Melihat Kampung Muslim Pegayaman) -- 7

XVIII. RINI WAHYUNI SEBUAH EPILOG (Ritual Bali

dan Wajah Hindu Nusantara) -- 80

KEPUSTAKAAN -- 96 TENTANG PENULIS -- 98

I Pengantar Penulis di Buku “Menggugat Bali” 986 Sebuah Prolog Untuk Bali Di Bali: pantai,

I

Pengantar Penulis di Buku “Menggugat Bali”

986

Sebuah Prolog Untuk Bali

Di Bali:

pantai, gunung, tempat tidur, dan pura telah dicemarkan.

T EMAN saya, seorang penyair muda di Yogyakarta, mem- baca sajak Rendra yang berjudul Sajak Pulau Bali yang diambil dari buku Potret Pembangunan dalam Puisi

yang diterbitkan Lembaga Studi Pembangunan, Jakarta. Sajak itu tidak dibacanya di panggung, tetapi di ruang kerja saya, ketika saya bermukim di Yogyakarta. la membacanya dengan keras dan lebih keras lagi ketika sampai pada tiga baris penutup seperti di atas. Maksudnya mengejek saya, tentu. Apalagi, setelah pembacaan sajak gratis itu, ia menambahkan, “Bali benar-benar komersial.

Daerah itu berjalan menuju neraka.” Saya tersenyum. Rentetan umpatan sang penyair muda ini memang masih panjang. Upacara adat dan upacara agama di Bali, katanya, sudah

bisa dibeli. Tari sakral sudah bisa dijinakkan oleh dolar. Tari itu bisa main di mana saja, kapan saja, asal ada dolar. Bahkan bisa diperpanjang dan diperpendek, tergantung acara tamu. “Apa lagi yang bisa dipertahankan oleh Bali-mu?” Tetapi, teman saya tak membutuhkan jawaban dari mulut saya. Ia menjawab sendiri, “Kukira tidak ada lagi. Pasir putih di pantai dan lambaian nyiur bukan lagi milik nelayan Bali. Pantai itu milik orang Jakarta, atau mungkin orang asing. Kau dengar, lelaki Bali sekarang cukup menjadi budak cewek bule? Kau tahu, sepasang turis dari Jepang atau Australia, aku tak jelas, kawin dengan upacara Bali secara besar-besaran? Kau tahu, Kuta sekarang ini sudah menjadi daerah asing seperti bukan bagian dari Indonesia ”

ini? Kau tahu Saya agak malu menyebutkan sejumlah umpatan teman saya seterusnya. Juga tidak lagi ingat kata-katanya yang persis. Yang saya ingat, rasanya saya bertanya kepadanya, berapa lama ia mengunjungi Bali. “Saya tiga hari penuh berkeliling dengan me- nyewa sepeda motor. Ini kunjungan saya yang pertama, dan saya kecewa.”

* * *

SEHARI itu dua puluh empat jam. Tiga hari berarti tujuh pu- luh dua jam. Tak mungkin ia terus-menerus bepergian tanpa tidur. Katakanlah sehari tidur enam jam, berarti ia menikmati Bali selama jam. “He, Bung, apa yang kau lihat selama jam itu? Bali tidak hanya Denpasar, Pantai Kuta, Sanur, Ubud, Tanah Lot, atau Sangeh. Bali seluas .808,8 km dengan penduduk hampir tiga juta jiwa. Kesenian Bali tak cuma kecak, barong, fragmen Ramayana. Teman, kukira kesimpulanmu keluar terlalu eepat.” Teman saya, tentu saja, tidak mendengarnya. Pledoi saya ini, hanya dalam batin, setelah teman saya pergi.

0

Saya yakin, tuduhan teman saya berlebihan. Banyak suara sum- bang tentang Bali, dari orang-orang yang melakukan kunjungan serba singkat. Namun, saya pun menyadari, tuduhan itu sebagian benar. Perubahan telah menimpa pulau kelahiran saya, ini tak mungkin saya bantah. Dinamika perubahan itu tak cuma melanda daerah-daerah turis di Bali bagian selatan dan timur, tetapi juga keseluruhan Bali. Hanya memang, di kantung-kantung turis di Bali itu, gerak laju perubahan terasa lebih cepat. Perubahan, seperti pula yang terjadi di mana saja di dunia ini, tentu tak semuanya menakutkan. Saya bersyukur, menyaksikan sebagian perubahan itu berjalan. Saya mengikuti sebagian jalannya, walau tidak dengan kecermatan. Boleh jadi, saya berada di dalamnya, dan ikut menggelinding bersama perubahan itu. Ketika Hotel Bali Beach dibangun di pantai Sanur — hotel pertama yang paling tinggi di Bali — saya termasuk sekian bocah yang merengek-rengek kepada Ibu, agar diantarkan melihat proyek raksasa itu. Dalam usia seorang anak sekolah dasar, dan tinggal di pegunungan, saya terbengong-bengong menyaksikan bagaimana bangunan luar biasa itu dikerjakan. Dan, malam harinya, saya menggigil ketakutan, ketika ibu saya bercerita, betapa banyak hantu dan leak yang mengganggu buruh yang sedang bekerja di proyek itu. Kata Ibu, malam-malam, hantu di pantai Sanur gentayangan. Di adonan pasir dijumpai tengkorak, begitu diangkat, hilang. Di tangga dijumpai rangda dengan mukanya yang seram. Kata Ibu, leak dan hantu itu protes, karena hotel itu dibangun di atas peku- buran, tanpa menggusur kerangka-kerangka yang ada di sana. Desa Sanur, ketika saya masih bocah, adalah desa yang meny- eramkan, pusat segala yang menakutkan. Mendengar nama Sanur saja, seperti bercanda dengan maut. Ibu saya sering bercerita tentang leak Sanur, untuk menidurkan adik-adik saya. Siang hari, kalau kami bermain kelereng, untuk menghardik anak yang bandel dan curang, saya biasanya mengumpat dengan kata-kata, “Pantas curang, nenekmu dari Sanur, ya?” Juga untuk menunjukkan suatu tempat yang jauh, misalnya, kelereng lawan bisa saya pukul jauh,

saya berteriak, “Hore,

Bukankah suatu perubahan yang besar, jika sebuah pusat ilmu hitam, sebuah daerah yang menjadi lambang keangkeran, tiba-tiba

di atasnya berdiri sebuah hotel besar? Dan, kini menjadi kawasan

wisata yang ramai? Terbawa nasib, saya berada lebih dekat dengan kancah pe- rubahan itu — kalau biang perubahan di Bali disepakati karena faktor pariwisata. Selama tiga tahun, saya bekerja sebagai juru gambar di sebuah perusahaan instalatir listrik. Waktu itu, setiap permohonan pemasangan listrik perlu disertai gambar instalasi yang lebih ruwet dibandingkan sekarang. Puluhan hotel, losmen, bungalow, home stay — apa pun namanya lagi — baik yang baru berdiri, yang dipugar, yang ditambah, memerlukan gambar instalasi untuk pengadaan daya listrik yang lebih besar. Di sektor ini saya banyak terlibat. Bahkan jaringan listrik di seluruh kawasan Sanur dan sekitarnya, dan juga ke jalur Nusa Dua yang dikerjakan oleh perusahaan tempat saya bekerja, bukan saja gambar perencanaan- nya yang saya buatkan, tetapi saya ikut mengawasi pekerjaan di lapangan. Mau tak mau, saya menyaksikan dari dekat, dari hari ke hari, bagaimana sebuah desa, sebuah kawasan, mengalami perubahan. Jalan hidup saya ikut berubah — dan perubahan ini saya senangi karena semakin dekat dengan perjalanan perubahan pulau

saya. Awal 97, saya memulai karier baru sebagai wartawan, keluar dari perusahaan instalatir listrik itu. Pekerjaan sebagai wartawan, membuat saya banyak berjalan, banyak melihat, dan banyak terlibat. Lebih-lebih saya terjun di bidang kebudayaan dan pariwisata, yang saya minati setengah mati. Saya pun merasa diun- tungkan pula, banyak mengikuti perjalanan Gubernur Bali (waktu itu) Soekarmen, yang sangat suka menyelusup ke desa, menginap

di sebuah kota kabupaten — padahal berapa, sih, jarak kota kabu-

paten di Bali dengan Denpasar? — dan tak kenal lelah berjalan di perkampungan yang becek, sambil menyapa rakyat dengan bahasa Bali yang ama janggal. (Gubernur Mantra — pengganti Soekarmen

— juga banyak turun ke desa, tetapi saya sudah meninggalkan Bali

kelerengmu tiba di Sanur.”

beberapa saat sebelum budayawan ini dilantik).

***

KETIKA saya meninggalkan Bali di akhir 977, saya mera- sakan, saya banyak tahu tentang perjalanan pulau ini. Ada kece- masan yang saya bawa ke Pulau Jawa, tetapi lebih banyak ketidak- cemasan yang saya taruh di Bali. Yang tak perlu saya cemaskan itu, alasannya, masyarakat Bali sejak dulu kala terbukti pandai menyaring, bagian mana kebudayaan luar yang bisa diserap, dan bagian mana yang tidak. Ada filter pengaman yang ampuh. Ada dinamisme dalam menyesuaikan diri dengan faktor luar yang datang. Lihat saja upacara keagamaan atau berbagai bangunan, unsur budaya Cina sangat dominan. Uang kepeng, misalnya, masih merupakan alat kelengkapan sesajen, yang barangkali di daratan Cina sana, sudah sulit ditemukan. Berbagai bentuk tari-tarian menyerap tari dari luar, dipadukan, memperkaya, dan kemudian menjadi bagian kebudayaan Bali. Kecemasan yang saya bawa adalah terganggunya pikiran saya tentang menderunya laju pariwisata, sementara masyarakat Bali tak siap menyambut datangnya dolar yang besar itu. Akibat yang terjadi, mereka hanya mengais sisa-sisa dolar dari mereka yang lebih siap: entah itu pemilik hotel, biro perjalanan, guide — yang lebih banyak datang dari luar Bali. Dalam kais-mengais sisa ini, beberapa hal diserahkan dengan kesadaran mengalah. Misalnya saja, kesenian mutunya turun karena disesuaikan dengan keinginan turis — sesungguhnya lebih tepat disebut keinginan guide yang menggembalakan turis itu. Disesuaikan dalam hal: lama pemen- tasan, busana penari, dan tempat pertunjukan. Sebelum saya meninggalkan Bali, saya melemparkan kecema- san itu dengan kata-kata yang lebih dramatis, atau mungkin sinis. Saya katakan, biro perjalanan, termasuk di dalamnya pramuwisata, bisa memesan pertunjukan sesukanya, apakah ia perlu semangkuk kecak atau cuma setengah mangkuk. Atau sepiring barong ditambah secangkir fragmen Ramayana. Para grup tari dengan senangnya

pula meladeni pesanan itu, dengan busana yang gemerlapan, bu- kan mendukung jalannya cerita, tetapi supaya lebih pas dan wah dipotret turis. Dengan cara itulah grup tari memperoleh dolar. Jadi, sesungguhnya saya mempunyai kecemasan dan kekha- watiran tentang perjalanan pulau kelahiran saya, walau tidak sebesar kecemasan — atau ketakutan — teman saya, penyair muda kota gudeg tadi.

***

HAMPIR sepuluh tahun saya rneninggalkan Bali. Dalam rent- ang waktu yang panjang itu, saya tak seratus persen melupakan Bali. Saya masih memperhatikannya, walaupun takaran perhatian itu menyusut dari tahun ke tahun. Tahun pertama, saya masih rajin melayangkan tulisan men- genai berbagai masalah di bidang pariwisata untuk media yang terbit di Denpasar. Tahun 979, misalnya, ketika Pemda Provinsi Bali mengadakan sayembara penulisan pariwisata, saya melayang- kan tulisan dari Yogya. Saya tuangkan gagasan, betapa perlunya membuka jalur wisata baru untuk mengurangi kepadatan turis di Bali selatan dan timur. Perlu menggiring turis ke utara dan barat. Asalkan obyek dan kesenian itu ditata rapi, tak kalah menariknya. Tulisan saya itu memenangkan lomba sebagai juara pertama. Tahun-tahun berikutnya, perhatian saya mulai berkurang. Tidak lagi perhatian aktif. Saya merasa kerasan di daerah budaya baru, budaya Jawa. Lagi pula, untuk sebuah partisipasi aktif, saya merasa semakin kekurangan data aktual. Lama-lama, saya pun merasakan punya jarak. Melihat Bali di peta bumi sama saja seperti melihat Sulawesi, atau Sumatera. Memikirkan Bali — kadang-kadang masih sempat menggoda — terbagi dengan “memikirkan” jalur wisata Solo – Prambanan – Borobudur - Dieng, dan sebagainya. Malah beberapa daerah wisata lain di luar Bali mengganggu pikiran saya. Tentang Nias yang mirip Tenganan, tentang Tanah Toraja di Sulawesi yang bisa disambung ke Danau Tentena, Sulawesi Tengah, yang ada gua-gua

yang mirip kuburan Trunyan. Akhirnya, saya pun sadar betul, saya telah jadi Malin Kundang baru. Coba saja, dalam bentang waktu ribuan hari itu, saya hanya empat kali pulang ke tanah Bali. Itu pun, sungguh-sungguh, tanpa niat melihat Bali. Saya pulang ke kampung, terlibat dalam urusan persembahyangan keluarga. Letak kampung saya, kalau dicari dari pintu gerbang domestik pelabuhan laut Gilimanuk, sama sekali tak bersentuhan dengan turis asing. Lewat pintu itulah saya pulang, dan kemudian balik lagi ke tanah Jawa.

***

SI anak durhaka, Malin Kundang, mulai terbunuh di dada saya, Agustus 98. Sebuah awal yang sangat sepele. Saya ditugasi ke Bali, menulis tentang upacara ngaben — pembakaran mayat — me- lengkapi tulisan Pemimpin Redaksi Majalah Tempo, Goenawan Mohamad, yang sebelumnya mereportase pembakaran jenazah keluarga Puri Gianyar. Saya menyiapkan rencana yang matang, karena tulisan ini untuk rubrik Selingan, lembaran khusus yang halamannya panjang. Inilah saat saya bercumbu lagi dengan Bali. Banyak hal yang mengejutkan. Banyak perubahan yang saya lihat. Hotel yang dulu dibanggakan tiba-tiba jadi bangkrut. Kegersangan yang dulu mena- kutkan, disulap jadi kemewahan tiada tara. Juga tentang manusia- manusia Bali. Lalu, ada kekagetan jenis lain, katakanlah kaget positif. Apa yang dikhawatirkan orang luar, bahwa Bali menuju neraka, sebenarnya kekhawatiran berlebihan. Dalam beberapa hal, perjalanan Bali menuju surga. Bercumbu selama tiga setengah hari dengan Bali mengental- kan keyakinan saya bahwa saya benar-benar telah punya jarak. Keyakinan ini penting, karena dengan itu rangsangan saya untuk menyetubuhi Bali sampai orgasme bergelora. Delapan tahun lebih, cukup untuk membuahkan rindu. Ibarat gadis, dulu saya kenali betul lekuk-lekuk tubuhnya, sampai debur jantungnya. Kini, saya ingin memeriksanya, apakah lekuk itu masih ada, masih di tem-

patnya semula, atau sudah pindah, atau bertambah. Kesempatan itu datang. Saya boleh mengambil cuti sejak akhir Januari sampai pertengahan Februari 986. Saya ke Bali, tanpa ada persembahyangan, tanpa ada hari besar keagamaan. Betul-betul ingin melihat Bali. Dan lantaran ada jarak itu, kini saya merasa mampu melihat dengan lebih jernih, suatu hal yang mungkin sulit saya lakukan kalau saja saya tak pernah “bercerai” dengan gadis Bali.

***

BUKU ini adalah hasilnya. Tidak! Buku ini tidak merupakan hasil penelitian yang ilmiah. Saya tak melakukan penelitian, sep- erti yang dilakukan para ahli. Dan, tentu saja, saya tak sanggup melakukan hal itu, saya tak punya dasar yang baik sebagai peneliti. Buku ini hanya coretan dari sebuah perjalanan. Dengan amat sadar, perjalanan yang saya lakukan sejak awal dibekali semangat untuk mencari perbandingan dengan masa “lampau” yang saya kenali itu. Tentu saja, terbatas pada bidang-bidang yang saya minati. Saya tak menulis soal olah raga, misalnya, walau kini ada yang membuat saya takjub, seperti olah raga menyelam itu. Tidak, itu dunia yang tidak saya kenali. Saya berjalan, mencari lekuk-lekuk wanita yang bernama Bali ini. Saya mendengar dari orang-orang, apa saja yang telah terjadi pada gadis saya. Lalu, saya membuka catatan lama. Kemudian saya menuliskannya, menuturkannya, dan sedikit berkomentar. Saya tulis kasus per kasus sesuka hati saya, kadang mirip laporan seorang wartawan, kadang ikut menuangkan opini, dan ada pula seperti menulis sepotong otobiografi. Pada akhirnya pula, lewat buku ini saya melampiaskan sekadar rasa kurang puas saya, mengenai banyak buku tentang Bali, baik oleh para penulis asing maupun para penulis domestik. Memang, jasa para sarjana asing yang melakukan penelitian di Bali — dan kemudian membukukan hasil penelitiannya itu — besar manfaat- nya bagi kemajuan pariwisata di Bali. Sampai-sampai di luar neg-

6

eri, konon, nama Bali lebih terkenal dari nama Indonesia. Mereka, sebut saja: R. Gorris, Vicki Baum, Jane Belo, Miguel Covarru- bias, Clifford Geertz dan istrinya Hildred, Geoffrey Gorer, Colin McPhee, Hiekman Powell, Willard A. Hanna, dan mungkin masih banyak yang lain, yang bukunya belum sempat saya miliki. Saya bisa mengatakan bahwa buku-buku mereka ini adalah

hasil penelitian di bawah tahun 960-an, tetapi sampai kini me- wakili kepustakaan mengenai Bali. Padahal, zaman berubah, Bali juga. Sejumlah prasasti ditemukan, lembaga adat dan lembaga keagamaan mulai menata diri setelah berakhirnya masa gontok- gontokan di zaman PKI. Sejumlah lontar mulai dikaji. Maka, buku para penulis asing itu, yang terbit atau diterbitkan ulang setelah 970-an, terasa sebagai sebuah dongeng masa silam. Karya Hugh Mabbett, The Balinese, tergolong buku baru, ha-

sil perjalanan baru, terbit 98. Karena itu, Hugh Mabbett sudah

banyak menyuarakan ketakutan, termasuk juga celaan. Namun,

di luar data baru itu, ia pun banyak mengacu kepada kepustakaan

buku-buku penulis asing di atas, terutama karya Geertz — yang tak lagi relevan. Yang lebih parah, justru buku yang dihasilkari penulis domes- tik, berbahasa Indonesia, yang umumnya dibuat dengan tergesa- gesa tanpa berkencan lebih lama dengan wanita yang bernama Bali itu. Kesalahan yang diperbuatnya bisa dimaklumi, karena mereka tidak mengenal rohnya Bali. Bayangkanlah, kalau ada yang tidak mengetahui beda antara puri dan pura, sehingga menyebutkan pura sudah begitu dikomersialkan. Lalu ada yang mencaci-maki subak, bahwa itu bukan khas Bali. Penulis ini rupanya mendapat informasi, subak itu adalah sawah di pegunungan yang meliuk-liuk dengan petak yang indah, seperti tertulis di brosur pariwisata. Di Pangalengan, Jawa Baral — dan di daerah pegunungan lainnya

— banyak dijumpai bentuk sawah seperti itu, tentu saja.

Padahal, subak, pada mulanya, memang khas Bali, karena

ia sistem pengairan yang dikaitkan dengan adat dan upacara

keagamaan — agama Hindu. Kalau sistem pengairan itu sudah diekspor ke Jawa dan wilayah lain, memang benar. Di Jawa Tengah,

7

misalnya, dikenal organisasi Dharma Tirta, sistemnya mencontoh subak, minus upacara keagamaannya. Jadi, subak bukanlah bentuk fisik petak-petak sawah.

***

PADA saat catatan perjalanan ini dalam proses penulisan, awal April 986, saya berkesempatan lagi pulang ke Bali selama satu minggu. Kesempatan baik ini saya pergunakan untuk — apa yang lazim dilakukan seorang wartawan — cheek and recheek. Mencocokkan kembali data dan bahan yang telah saya peroleh. Antara lain, saya bertemu dengan I Ketut Suwija, Ketua Yayasan Gedong Kirtya, Singaraja. Di “gedong” inilah tersimpan sejarah masa lampau Bali. Jika kemudian catatan perjalanan ini banyak menyebutkan sejumlah nama orang, maka sepanjang tidak ada penjelasan tambahan di belakang nama-nama itu, orang itu benar-benar ada. Tidak semuanya tokoh yang terkenal, tetapi pasti mereka punya kaitan dengan konteks yang saya ketengahkan. Adapun tentang nama-nama yang dijadikan judul setiap permasalahan, tidak berarti orang itu paling banyak tahu dan paling banyak dikutip. Judul itu sebuah kenakalan yang disengaja, dengan maksud sampingan, memperkenalkan berbagai variasi nama orang Bali. Kepada mereka yang namanya disebutkan itu sudah selayaknya saya menyampaikan terima kasih. Khusus kepada Gde Aryantha Suthama, Wayan Budiartha, Ketut Syahruwardi Abbas, mereka yang banyak memberikan informasi dan kadang-kadang menjadi teman selama perjalanan, saya menyampaikan terima kasih yang tulus. Ketiga anak muda ini sedang berjuang keras untuk menghad- irkan sebuah media yang menulis masalah-masalah kebudayaan di Denpasar, melalui penerbitan yang bernama Karya Bhakti. Saya salut pada perjuangan mereka, yang hingga kini masih menghadapi berbagai tantangan — terutama permodalan. Cita-cita mereka juga cita-cita saya, sejak dulu. Lalu, ada seorang mahasiswa Fakultas Hukum Universitas

8

Udayana yang banyak membantu saya, terutama mengumpulkan catatan-catatan dan arsip-arsip tulisan saya yang oleh suatu sebab tidak dibawa ke Jawa. Mahasiswa itu, Wayan Supartha, adik kan- dung saya sendiri. Made Sukarnithi, Rini Wahyuni, Wirya Suniatmaja, istri dan kedua anak saya, rasanya tak patut dilewatkan untuk sebuah terima kasih. “Kehidupan” tiga orang yang dekat dengan saya ini menggampangkan saya menulis sebuah epilog — yang banyak menyinggung soal praktek menjalankan ibadat. Terutama Rini dan Wirya, dua anak yang dibesarkan dalam lingkungan budaya Jawa, berbahasa Jawa, akrab dengan masjid dan gereja, tetapi keduanya mempelajari agama Hindu secara intensif di Pura Rawamangun Jakarta — suatu pelajaran yang tidak pernah diterima ayah ibunya di sekolah. Bagi saya sendiri, catatan perjalanan ini adalah sebuah per- tanda, sampai kini saya masih memperhatikan Bali — dari seberang laut.

Ciputat, Mei 986

9

II Tentang Kalender Bali dan Baik Buruknya Hari Pada Awalnya I Ketut Bangbang Gde Rawi

II

Tentang Kalender Bali dan Baik Buruknya Hari

Pada Awalnya I Ketut Bangbang Gde Rawi

J IKA kamu mengadakan perjalanan jauh, perhatikanlah hari baik dan hari buruk. Perjalanan pada hari yang baik sudah

merupakan awal dari suatu keberhasilan. Ayah sudah menga-

jarkan bagaimana caranya mencari hari yang baik.”

Itulah kira-kira pesan ayah saya, kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Pesan yang disampaikan ketika usia saya berja- lan sebelas tahun pada 96, sehari sebelum saya meninggalkan keluarga. Saya pergi “jauh”, untuk pertama kalinya dilepas seorang diri, ke kota kecamatan melanjutkan di SMP. Kakak dan ibu saya bersedih dengan perpisahan ini. Maklum, saya anak lelaki pertama, dan pergi seorang diri sejauh 26 km. Ya, cuma 26 km. Pesan Ayah pasti tidak mengada-ada. Dalam usia sebelas tahun, saya menguasai sebagian ilmu wariga, khususnya yang berkenaan dengan pedewasaan — mencari hari buruk dan hari

0

baik. Misalnya, kalau bepergian ke arah barat sebaiknya pada hari ini, kalau mau potong rambut pada hari itu. Yang paling mudah saya hafalkan, tentulah kalau berkaitan dengan judi. Saya gemar berjudi di waktu kecil. Ayah punya sedikitnya tujuh lontar mengenai ilmu wariga. Saya boleh membacanya. Mencari hari baik dan hari buruk itu (ala ayuning dewasa) umumnya memakai unsur pawukon (per- wuku-an). Dalam penanggalan tradisional Bali, ada 0 wuku, masing-masing berumur 7 hari. Wuku pertama bernama Sinta dan yang ketiga puluh bernama Watugunung, hampir sama dengan penanggalan Jawa. Jadi, setiap hari untuk wuku yang sama beru- lang setelah 0 hari. Selain wuku ada kelompok-kelompok hari berdasarkan siklus edarnya, yang disebut wewaran, yang terdiri dari sepuluh wara. Yaitu, ekawara, dwiwara, triwara, caturwara, pancawara, sad- wara, saptawara, astawara, sangawara, dan dasawara. Dilihat dari namanya saja, masing-masing beranggotakan satu, dua, tiga sampai sepuluh hari. Sebuah hari dalam kalender Bali tradisional, “isi”-nya harus sama. Yang saya maksudkan, misalnya, hari Senin wuku Sinta 6 Januari 986, harus sama komponennya dengan hari Senin wuku Sinta tanggal Agustus 986. Begitu pula harus sama dengan Senin wuku Sinta di tahun 987 dan seterusnya. Isinya itu, beteng dari unsur triwara, laba dari unsur caturwara, pon dari unsur pancawara, dan seterusnya. Untuk triwara yang terdiri dari pasah, beteng, kajeng, pan- cawara yang terdiri dari umanis (di Jawa: legi), pahing, pon, wage, kliwon, sadwara yang terdiri ari tungleh, aryang, urukung, pan- iron, was, mahulu, dan saptawara yang rinciannya redite, coma, anggara, buda, wraspati, sukra, saniscara, tidak timbul masalah dengan peredaran ini, karena 0 hari habis dibagi tiga, lima, enam, tujuh. Tetapi untuk caturwara yang beranggotakan sri, laba, jaya, menala, astawara yang beranggotakan shri, indra, guru, yama, rudra, brahma, kala, uma, dan sangawara yang beranggotakan dangu, jangur, gigis, nohan, ogan, erangan, urungan, tulus, dadi, akan timbul masalah karena 0 tidak habis dibagi empat, delapan,

dan sembilan. Maka, agar peredaran hari itu tetap membuat sebuah hari komponennya sama, terjadi penyesuaian pada wuku tertentu, dan ini telah ditetapkan rumusnya, tak bisa diubah-ubah. Untuk caturwara dan astawara penyimpangan terjadi di wuku Dungulan (wuku ke sebelas), dari hari Minggu sampai Selasa isinya berturut-turut jaya (unsur caturwara) dan kala (unsur astawara). Orang Bali menyebut penyimpangan ini kala-tiga (karena selama tiga hari kala melulu), dan esoknya Rabu wuku Dungulan adalah Hari Raya Galungan. Sedang untuk sangawara, penyimpangan di- lakukan pada wuku Sinta mulai hari Minggu sampai Rabu. Selama empat hari itu isinya dangu melulu. Adapun ekawara yang ang- gotanya cuma luang, dwiwara yang beranggotakan menga, pepet, dan dasawara yang beranggotakan pandita, pati, suka, duka, shri, manuh, manusha, raja, dewa, raksasa, walaupun 0 hari itu bisa dibagi habis satu, dua, dan sepuluh, penempatan anggota wara-nya tidak berurutan. la bergantung pada urip (nilai hari) yang dihitung dari urip unsur triwara dan pancawara pada saat itu. Rumus-rumus seperti itu sudah saya kuasai sejak — kalau tak salah — kelas empat sekolah dasar. Mencari hari dengan segala komponennya cukup menggunakan ruas jari tangan kiri dan telun- juk kanan menghitungnya. Kalau unsur-unsur hari itu sudah dik- etahui, urip juga diperoleh, tinggal dicocokkan dengan keperluan, baik atau tidak hari itu melaksanakan keperluan tadi. Saya masih ingat, ketika Ayah meninggal dunia. Saat itu menjelang kenaikan ke kelas dua SMP, dan pemberitahuan saya terima di dalam kelas. Yang pertama kali saya lakukan ketika men- dengar berita sedih itu, mencari dewasa untuk penguburan mayat. Saya hitung-hitung ruas tangan kiri, seperti memijit kalkulator — tapi waktu itu ‘kan belum ada kalkulator. Dan akhirnya saya bisa mempersiapkan diri pulang kampung lebih tenang, dan tidak terburu-buru mencari kendaraan, karena saya agak yakin, jenazah Ayah baru bisa dikuburkan dua hari kemudian. Ternyata, benar. Sebab, saya tahu kapan hari pantang menguburkan jenazah, dan kapan kesempatan pertama diperbolehkan. Dalam hal mengubur- kan jenazah, tak ada hari baik, yang ada hari pantangan.

***

PESAN almarhum Ayah yang sudah berumur tahun tiba- tiba terngiang kembali, ketika saya merencanakan pulang ke Bali melakukan perjalanan ini. Saya merasa perlu mencari hari baik untuk melakukan perjalanan. Akhirnya sia-sia, dan saya ketawa dalam hati. Saya telah lupa pada banyak hal ilmu pedewasaan. Kalau nama wuku yang 0 biji itu masih bisa saya ucapkan di luar kepala dengan lancar. Nama wara-wara masih juga lancar, paling yang tersendat astawara, sangawara, dan dasawara. Tetapi kapan suatu hari ada unsur kliwon yang bercampur dengan dangu dan beteng, misalnya, sudah lupa rumusnya, apalagi cara menghi- tungnya. Juga saya lupa pada urip. Dan yang paling penting, saya juga lupa berapa urip yang baik untuk berjalan ke arah timur, dari Jakarta ke Bali. Saya mencoba cara lain. Ada kalender Bali karya I Ketut Bang- bang Gde Rawi. Saya telusuri ala ayuning dewasa di situ. Ternyata, tak ada tertulis hari baik untuk melakukan perjalanan. Yang ada hari baik untuk menanam benih, menanam padi, memelihara sapi, membuat pancing, dan sebagainya. Tiba-tiba saya merasa tak puas pada cara Gde Rawi mencantumkan hari baik itu, lebih banyak masalah pertanian dan peternakan. Saya memutar waktu ke belakang, kenapa saya sampai melu- pakan ilmu warisan orangtua. Ayah meninggal saat saya menginjak usia tahun, pada 96. Ibu melarang saya membawa lontar Ayah ke tempat kos di kota, dan itu sudah saya duga. Anak-anak di zaman saya kecil tidak boleh membaca lontar, aja wera — bisa kualat belajar ilmu untuk orang tua. Ayah saya melawan arus, me- mang. Pada Ayah tak ada istilah aja wera. Lalu, di SMP dan SLTA saya tak menerima pelajaran agama Hindu. Bahkan di SLTA saya tak menerima pelajaran huruf Bali sama sekali. Faktor itu yang menyebabkan saya jadi melupakan ilmu wariga. Kalau pun ada yang masih saya ingat sekarang adalah hari baik untuk memotong rambut. Yaitu hari Rabu Umanis. Disebut di sana istilah mitra asih, artinya kurang lebih “membuat disenangi

banyak kawan, terutama bisa jadi daya tarik perempuan”. Kalau sampai sekarang saya ingat hal itu, dan sering rnemotong rambut pada hari Rabu — tanpa peduli umanis atau kliwon — pasti tak lagi karena arti yang tersirat dari mitra asih. Kebetulan hari Rabu waktu saya banyak kosong dari pekerjaan kantor, majalah tempat saya bekerja sudah naik cetak dan beredar. Begitulah, saya pun berangkat ke Bali tanpa pusing apakah harinya baik atau tidak. Setiba saya di kampung, dan selama saya berjalan di pulau kelahiran saya, sering saya menguji seseorang, apakah dia tahu bagaimana menentukan hari baik dan hari buruk untuk suatu hal. Jawaban yang saya terima, sebagian besar respon- den saya tidak tahu, dan tidak pernah belajar. Di sekolah pun tak lagi diajarkan, kecuali di SMP Dwijendra (milik swasta dari sebuah yayasan keagamaan) dan di Institut Hindu Dharma. “Untuk apa? Lihat saja kalender Gde Rawi. Kalau toh tidak dicantumkan, tanya saja pada sulinggih (ulama/pendeta),” ini jawaban dari generasi saya, juga dari generasi yang lebih tua. Memasyarakatnya kalender Gde Rawi mempunyai dampak buruk terhadap jalannya ilmu wariga dan ilmu pedewasaan. Ka- laupun Gde Rawi tak mencantumkan hari baik tertentu, karena lembar kalender sudah penuh, setiap hari dalam kalender itu sudah dilengkapi dengan unsur-unsurnya. Bahkan tabiat sebuah hari juga ditulis lengkap. Tinggal mencocokkan dengan keperluan. Kebanyakan orang Bali, jika mereka melakukan pekerjaan yang penting, menyangkut kehidupan, berkaitan dengan keagamaan dan kepereayaan, pada awalnya selalu mencari kalender I Ketut Bangbang Gde Rawi.

***

DIA, kini, sudah memasuki usia senja. Menginjak 76 tahun. Ia menjadi perbekel (kepala desa) di kampungnya, Desa Celuk, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar, sejak sebelum ke- merdekaan, pada 9. Dalam tugasnya itulah ia sering dimintai tolong oleh warga desanya, untuk mencarikan dewasa. Gde Rawi

memang tahu banyak soal itu, ia mewarisi banyak lontar. Ia pun ringan tangan membantu orang. Selain sebagai perbekel — pekerjaan ini benar-benar peng- abdian tanpa tanah catu seperti umumnya di Jawa — Gde Rawi bekerja di kantor distrik (sekarang kecamatan) di Ubud. Rekan sekerjanya pun sering meminta tolong supaya dicarikan hari baik untuk berbagai hal. Lama-lama, kemampuan Gde Rawi itu semakin tersiar luas dan diketahui banyak oleh para sulinggih, sebutan pendeta di kalangan Hindu. Berkali-kali Gde Rawi didesak oleh para sulinggih di sekitar Gianyar, agar bersedia menyusun ilmunya itu secara tertulis dalam huruf Latin. Awalnya Gde Rawi menolak. “Wewenang membe- berkan wariga dan pedewasaan adalah wewenang para pendeta, saya ini orang kecil,” begitu alasannya. Tetapi ia terus didesak dan akhirnya terpojok. Ia mengajukan syarat: bersedia menuliskan wariga dan menyusunnya dalam sebuah kalender yang juga berlaku umum, asalkan ada anugerah (izin) dari para sulinggih. Pada 98 atau 99 (Gde Rawi lupa), ada rapat para sulinggih se-Bali dan Lombok. Salah satu keputusan rapat itu, memberi kepercayaan ke- pada Gde Rawi membuat kalender yang dilengkapi wariga. Maka, 90 lahirlah kalender Gde Rawi yang pertama dalam bentuk yang amat sederhana. Penerbitnya Pustaka Balimas, penerbit dan toko buku terbesar di Bali, saat itu. Nama Gde Rawi dengan cepat dikenal orang. Pergaulannya yang luas, terutama dekatnya dengan para ulama, menyebabkan ia diangkat menjadi anggota DPRD GR (Gotong Royong) Provinsi Bali pada 9. Setelah itu, kalender ciptaannya dipasangi potret dirinya. Sebuah potret yang gagah, memakai kaca mata dan dasi, maklum diambil di dalam gedung DPRD-GR. Uniknya, potret itu terus terpampang sampai kini, tak pernah diganti-ganti, bahkan mungkin seterusnya. Gde Rawi boleh saja tua renta, muka keriput dengan rambut memutih, berjalan memakai tongkat karena rema- tik, tetapi potret yang menyertai lembar demi lembar kalendernya selalu yang itu, foto diri sewaktu muda. “Kalau foto itu diganti, banyak orang yang ragu-ragu mem-

beli kalender saya, apa betul karangan saya atau tidak,” kata Gde Rawi. Sekali pernah foto diganti, sekitar tahun 960-an (ia tidak ingat kapan persisnya, ia mengaku sangat pelupa sekarang). Di- pasang foto baru, disesuaikan dengan dirinya yang semakin tua, dan karena tak lagi menjadi anggota DPRD-GR, ia merasa kikuk dengan potret berdasi. Ternyata, kalender itu tak laku dan malah ada protes datang ke rumahnya. Maka, jika kini atau nanti masih juga didapati kalender dengan lelaki ganteng berkaca mata dan berdasi, itu lebih merupakan merk dagang ketimbang identitas yang tertulis di bawahnya: disusun oleh I Ketut Bangbang Gde Rawi. Nama Bangbang ini pun sama uniknya dengan potret. Mestinya Bambang. Karena salah cetak, nama Bambang ditulis Bangbang, dan itu terus dipakai. Tetapi untuk diucapkan, tetap Bambang. “Bambang itu nama anak lelaki perkasa, anak lelaki saya semua memakai Bambang,” katanya. Kalender Gde Rawi pernah mendapat saingan di awal tahun 960-an. Kalender tandingan itu dikeluarkan oleh Djawatan Agama Otonom (begitu namanya dulu). Penyusunnya enam orang, tokoh- tokoh yang dikenal sebagai sulinggih dan ahli sastra Bali. Adanya dua kalender ini membuat umat Hindu bingung, karena terjadi perbedaan pada perhitungan wariga. Bukan saja pedewasaan menjadi kacau, hari raya pun menjadi berbeda. Ada beda pendapat dalam menentukan peredaran bulan, dan terjadi selisih walau cuma sehari. Akibatnya, perayaan Hari Raya Nyepi berbeda di antara dua kalender itu. Gde Rawi menuturkan contoh kekacauan itu. Di sebuah desa, orang merayakan Nyepi berdasarkan kalender Djawatan Agama Otonom, sementara desa tetangganya mengadakan tawur kesanga berdasarkan kalender Gde Rawi, pada hari yang sama. Tawur Kesanga adalah ritual sehari sebelum Nyepi yang hingar-bingar, sementara Nyepi adalah hari yang sangat sepi. Karena umat bingung, Gde Rawi siap mengalah dan menarik diri sebagai penyusun kalender. Tapi umat menghendaki, Gde Rawi yang jalan terus. Alasannya, selain sudah berpengalaman, sebuah

6

kalender disusun oleh lebih dari seorang, apalagi enam orang, tidak bisa dipegang kesatuan pendapatnya. Akhirnya, Gubernur Bali, waktu itu, Anak Agung Sutedja, memerintahkan Gde Rawi agar tetap menyusun kalender, dan Djawatan Agama Otonom tidak boleh menerbitkan kalender lagi. Setelah Parisada Hindu Dharma berdiri (99), lembaga tertinggi umat Hindu inilah yang meminta agar Gde Rawi tetap membuat kalender, sampai sekarang. “Jadi, saya selalu diberi ke- percayaan. Sekarang saya tinggal menyerahkan naskah, Parisada yang mencetak dan menerbitkan, juga yang menyalurkan. Soal honor juga tak pernah saya tanyakan, anak saya yang mengurusnya. Karena saya tak boleh mundur, dan selalu diberi anugerah, tujuan saya cuma meladeni umat, agar terjadi ketenteraman, tidak ada tumpang tindih dalam wariga,” kata Gde Rawi. Upaya peningkatan setiap tahun dilakukan Gde Rawi, me- masukkan penanggalan dari daerah lain, misalnya, penanggalan Jawa, Arab, Cina, dan kini Jepang. Para pemuka umat agama di luar Hindu juga memberikan bahan-bahan. “Dulu kalender saya, yang berisi tahun Cina, pada kolom hari rayanya saya tulis hari raya Cina, ternyata salah. Pemuka agama Kong Hu Cu datang ke sini, meminta supaya istilah itu diganti menjadi hari raya Kong Hu Cu. Ya, saya turuti, dia lebih ahli,” ujar Gde Rawi.

***

BALI punya dua jenis hari raya, berdasar cara menghitungnya. Yang satu peredaran pawukon dan wewaran, jadi siklusnya 0 hari. Satunya lagi berdasarkan peredaran bulan atau disebut sasih. Yang pertama, misalnya, Hari Raya Galungan yang jatuh pada Rabu Kliwon wuku Dungulan, Hari Raya Kuningan jatuh pada Sabtu Kliwon wuku Kuningan, Hari Raya Saraswati (turunnya ilmu pengetahuan) hari Sabtu Umanis (Sabtu Legi) wuku Watugunung, Hari Raya Pagerwesi hari Rabu Kliwon wuku Sinta. Ini yang be- sar-besar. Kemudian hari raya yang lebih khusus dan tingkatannya kecil, misalnya Tumpek Landep, hari Sabtu Kliwon wuku Landep,

7

untuk mengupacarai segala jenis benda yang dibuat dari besi: keris, tombak, gergaji, pahat, sampai mobil. Pada saat itu mobil di Bali pasti ada hiasan di depannya, dan para pengukir tidak akan bekerja. Lalu ada Tumpek Kandang hari Sabtu Kliwon wuku Uye, semacam hari raya untuk binatang-binatang peliharaan. Ibu-ibu rumah tangga “membuang” sesajen di kandang peliharaan ini, dan tentu memerciki air suci ke binatang itu. Kemudian, persembahyangan di tempat-tempat suci juga banyak ditentukan oleh siklus ini. Bahkan pada orang Bali, ulang tahun secara tradisional (otonan) memakai peredaran pawukon dan wewaran ini. Untuk menentukan hari raya berdasarkan hitungan hari yang 0 ini, tak akan terjadi salah hitung, biarpun ada dua atau lebih kalender yang disusun para ahli wariga yang berbeda. Bahkan tanpa melihat kalender pun orang bisa mencari hari-hari itu se- cara mudah, seperti yang pernah saya hafalkan sewaktu “kanak- kanak”. Yang dapat berbeda adalah hari raya berdasarkan peredaran bulan. Misalnya, Hari Raya Nyepi atau tahun baru Caka, yang sudah dijadikan hari libur nasional. Hari raya ini jatuh pada tang- gal pisan (tanggal satu) sasih Kedasa. Sehari sebelum ini, yaitu pada penutup tahun, dilangsungkan upacara tawur kesanga, yang dilakukan di perempatan jalan. Dalam perhitungan kalender Bali, jika hari menuju bulan be- sar (bulan purnama) disebut tanggal atau penanggal. Kalau hari menuju bulan mengecil atau bulan mati (tilem) disebut pengelong. Jadi, ada penanggal sampai lalu disusul pengelong sampai . Masalahnya, tidak selalu satu sasih terdiri dari tanggal dan pengelong yang berumur hari. Adakalanya berumur hari. Penyimpangan inilah yang sering menimbulkan silang pendapat di antara para ahli, kapan penyimpangan itu terjadi. Selisihnya tidak banyak, paling satu hari. Tetapi justru selisih satu hari itu menim- bulkan masalah besar, kalau dua pendapat itu tak bisa disatukan. Sebab, ini akan mempengaruhi Hari Raya Nyepi. Di Kota Denpasar, yang dibelah Sungai Badung, pernah terjadi keganjilan, ketika beredar dua kalender. Di sebelah timur

8

sungai, orang merayakan tawur kesanga, di sebelah barat sungai merayakan Nyepi. Tentu yang menjalankan ibadat Nyepi sangat terganggu, karena upacara tawur kesanga dan rentetannya yang disebut ngerupuk, sebuah upacara ingar-bingar. Kentongan dipu- kul, anak-anak memukul drum, membuat petasan bambu, dan pawai obor. Bagaimana suasana Nyepi bisa khusyuk kalau tetangga berpesta-pora. Seperti halnya menentukan Hari Raya Idulfitri — sama-sama berdasarkan peredaran bulan — sering dijumpai silang pendapat di antara umat muslim. Namun, beda pendapat — dan beda pelak- sanaan salat Ied — tidak mencuat ke permukaan, karena Departe- men Agama, lewat suatu surat keputusan, menetapkan kapan hari raya itu. Di Bali tak ada ketetapan pemerintah mengenai Nyepi. Selama ini orang selalu berpedoman kepada kalender Gde Rawi. Apalagi, kalender ini dicetak, diterbitkan, dan disalurkan oleh lembaga tertinggi umat Hindu itu. Boleh disebut, kalender itulah SK yang patut dijadikan pegangan.

***

SAMPAI kapan Gde Rawi memonopoli penyusunan kalender? Ini sudah terjawab memasuki tahun 986. Sangat mengagetkan, ada tiga jenis kalender yang beredar di Bali, kalender yang dilengkapi wariga. Yakni susunan Gde Rawi, tanpa keterangan tambahan, dan satu lagi disusun oleh I Wayan Gina dengan embel-embel “Di- periksa oleh Parisada Hindu Dharma Kabupaten Daerah Tingkat II Karangasem”. Pada setiap lembar kalender ini, di bagian atasnya terpampang lambang besar Golkar, dan ada tulisan DPD Golkar Tingkat II Karangasem. Seolah-olah partai itu ikut menyebarkan kalender ini. Kalender Gde Rawi mudah dikenali, karena begitulah coraknya selama bertahun-tahun. Berbingkai ukiran dedaunan, di atasnya ada lambang swastika dengan tulisan kecil Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat. Lalu foto Gde Rawi di masa masih menjadi ang-

9

gota DPRGR. Pada kolom hari, ada empat versi nama-nama hari. Versi bahasa Indonesia paling atas dan paling besar, dengan ejaan khas Gde Rawi: Ahad, Senen, Selasa, Rebo, Kemis, Jumat, Sabtu. Kecu- ali Ahad, yang asing bagi lidah orang Bali, ejaan Gde Rawi itu memang sesuai yang diucapkan orang Bali pada umumnya. Jadi, bukan Rabu, tetapi Rebo. Di bawah nama hari versi Indonesia ini ada versi bahasa Bali. Tentu yang dicantumkan di sana anggota- anggota Saptawara: Redite, Coma, Anggara, Buda, Wraspati, Sukra, Saniscara. Di bawahnya lagi dalam bahasa Inggris. Nah, di bawahnya ini sejak 986 — sesuai dengan awal dimasukkannya penanggalan Jepang — terdapat nama hari dalam bahasa negeri Sakura itu: Nieiyobi, Getsuyobi, Kayobi, Suiyobi, Mokuyobi, Kinyobi, Doyobi. Di setiap lembar kalender Gde Rawi, tak ada bidang kosong. Dalam satu kotak hari, ada tanggal (tanggal internasional, bukan tanggal Bali) yang ditulis besar mencolok. Tanggal ini dikelilingi “huruf-huruf” kecil. Jika diamati secara saksama, ada penanggalan Jawa, penanggalan Cina, yang semuanya dilengkapi dengan nama bulannya. Lalu ada penanggalan Bali, yang ditulis cuma tanggal atau pengelong saja. Tanggal ditulis kecil dalam huruf berwarna merah, dan jika tanggal atau bulan purnama, ada bulatan merah yang cukup besar. Pengelong ditulis dengan huruf juga, berwarna hitam. Jadi, pada bulan mati (tilem) ada bulatan hitam. Dalam kotak ini pun segala anggota wewaran dimasukkan, tentu dengan huruf kecil-kecil. Juga nama sasih, watak hari untuk menentukan hari baik atau buruk. Pokoknya, penuh. Pada pinggir kanan tercantum ala ayuning dewasa yang harus dikupas artinya, dan ini hanva bisa dimengerti oleh mereka yang mempelajari ilmu wariga. Misalnya, untuk tanggal Agustus 986, yang jatuh pada hari Minggu. Ciri-ciri hari itu tertulis: Semut sedulur, Kl (singkatan dari kala) dangu, pepedan, bojog munggah, laku bintang, lebu ketiup angin, Ek (singkatan dari ekajala resi) kemertaan, Per (singkatan dari pertiti) jati. Nah, apa artinya? Tak ada dicantumkan di kalender ini. Tetapi para sulinggih, dan banyak

0

orang tua di Bali, tahu arti ungkapan-ungkapan itu. Dulu, sebagian dari ungkapan itu saya pelajari, tetapi sekarang sudah banyak yang saya lupa. Yang saya ingat cuma semut sedulur, yaitu sebuah hari yang tidak boleh (pantang) untuk menguburkan jenazah. Saya selalu mengingat ini karena teringat pada kematian Ayah. Untuk masyarakat awam, di bagian bawah kalender ini ada ala ayuning dewasa yang tak memakai ungkapan, dan tak perlu dikupas lagi. Misalnya, hari baik belajar menari, lengkap dengan jamnya. Hari baik memancing, hari baik membangun sumur, dan banyak lagi — tapi tak ada hari baik melakukan perjalanan dan hari baik berjudi. Di sebelah petunjuk praktis ini ada lagi seleret petunjuk, di mana ada persembahyangan. Tentu itu bisa diketahui, karena persembahyangan di pura yang besar selalu mengikuti siklus hari yang 0 itu. Gde Rawi betul-betul anti bidang kosong. Kalau ketemu bidang kosong, ia menyelipkan kata-kata mutiara dari falsafah Hindu, yang terjemahannya ke dalam bahasa Indonesia, maaf, jelek sekali. Sering pula tak jelas apa maunya. Lihat contoh lembar kalender 986 bulan Januari. Di pojok kanan bawah, ia menulis, saya kutip asli dengan ejaannya: “PERHATIAN: PARA WISATAWAN dari dalam-Luar Negeri semakin meningkat berkembang dengan baik dan mengagumkan yang bersumber dari pada aslinya. Sehingga terwujud PESTA SENI, hiburan hati nurani yang mendalam”. Apa maksudnya? Pesta seni itu sendiri diadakan pemerintah daerah antara bulan Juli dan Agustus. Di sini amat kentara bahwa tak ada editor untuk karya besar yang mulia ini, baik dari putra- putra Gde Rawi, dari penerbit, dan dari tokoh lain di Parisada, mis- alnya. Leiaki usia senja ini sudah membentuk pola kalender yang persis di lembar besar yang dikerjakan di rumahnya. Ia menulis dengan balpoin biasa, berwarna hitam dan merah. Di kertas itu, Gde Rawi sudah memenuhi bidang yang dikehendakinya. Ketika saya menyaksikan bagaimana Gde Rawi bekerja membuat lembar kalender untuk bulan Juni 987, saya tanyakan kenapa kata-kata mutiara bahasanya janggal, dan seperti ada yang salah. Jawabnya, “Memang ada kata yang salah, tapi terpaksa diteruskan. Kalau

dihapus tak bisa, ini tinta bukan pensil.” Ketika saya katakan ada penghapus tinta atau bisa memakai tipp-ex, ia menjawab, “Nanti bisa kotor.” Lho, ini ‘kan bukan barang jadi, ‘kan baru naskah? “Bagi saya ini hasil jadi, ini lukisan. Toh orang bisa mengerti mem- bacanya.” Begitulah, naskah awal kalender itu merupakan hasil seni coretan tangan Gde Rawi, tak sekadar naskah percetakan. Namun, perkara nama-nama hari, Gde Rawi ingin pula meng- gantinya. “Tapi saya pikir, nanti ada yang protes lagi, dikiranya bukan kalender saya. Ya, biarlah tertulis Rebo dan Kemis. Ma- syarakat payah, potret saya saja tak boleh diganti-ganti,” ujarnya sambil tertawa. Dua kalender yang lain tak lagi orisinil. Bahkan kalender yang tidak mencantumkan nama penyusunnya itu jelas-jelas jiplakan dari kalender Gde Rawi. Kalender ini hanya memindahkan kolom men- genai hari raya, digeser-geser, dikurangi, dan sebagainya. Isinya sama, malah kotak-kotak hari itu tak berbeda sedikit pun. Tulisan dan lambang Parisada Hindu Dharma dihilangkan. Kalender ini ternyata laku, karena diedarkan sebelum kalender Gde Rawi terbit. Kalender jiplakan ini untuk tahun 986 sudah beredar September 98, sementara kalender Gde Rawi — seolah seperti disengaja — baru diedarkan pertengahan November 98. Banyak orang terjebak, karena mengira kalender jiplakan itu adalah susunan Gde Rawi, yang hanya mencopot potretnya saja. Bahkan ada yang menduga, Gde Rawi sudah meninggal dunia. Kenapa hal itu bisa terjadi? “Saya menyerahkan semua lembar kalender terlalu cepat. Untuk kalender 986 saya menyerahkan ke penerbit bulan Juni 98,” ujar Gde Rawi dengan polos. Ia merasa dirugikan, tetapi tak tersirat untuk protes atau menuntut atau mempersoalkan. “Saya bekerja untuk menenteramkan umat. Tak pernah berpikir soal uang, honor kalender ini pun diurus anak saya, saya tak tahu berapa jumlahnya,” kata Gde Rawi lagi. Asal tahu saja, tahun 98 kalender Gde Rawi konon dicetak 600.000 eksemplar dan setiap tahun kebutuhan akan kalender yang lengkap wariga ini bertambah. Setiap rumah tangga di Bali hampir punya kalender model ini. Bahkan sudah diedarkan ke Jawa. Apalagi

harganya relatif murah, Rp 800. Karena dicetak dalam jumlah ratusan ribu eksemplar, kalen- der memang jadi bisnis menarik. Dan kalender ketiga, karangan I Wayan Gina, tampaknya asli karya dia sendiri, walau unsur peniruan terhadap karya Gde Rawi juga besar sekali. Sepanjang tahun 986 tidak ada perbedaan pawukon dan wewaran (kalau ini sampai beda keterlaluan), juga tak ada perbedaan sasih. Jadi, aman, tak ada bahayanya. Tetapi ala ayuning dewasa (baik buruknya waktu) ada perbedaan kecil. Untuk sekadar contoh, tanggal Agustus 986 itu, versi I Wayan Gina ini menambahkan satu tabiat hari: Kala Tampak. Ternyata, “tabiat” hari ini tak banyak dikenal orang, apa artinya. Yang menarik pada karya I Wayan Gina, ia sudah memakai ejaan baku. Ia tak menulis Rebo, tetapi Rabu. Bukan Kemis, tetapi Kamis. Ahad tidak dipakainya, diganti Minggu. Bahasanya pun lebih segar. Petunjuk praktis untuk hari baik dan hari buruk sedikit sekali, seperti ia menyadari, orang sudah mulai tak menghiraukan hal itu lagi. Yang juga menarik — dan ini kelebihannya — pada lembar kosong ia memberikan pelajaran dasar ilmu wariga. Ia membuat rumus wewaran, ia menyusun tabel-tabel bagaimana mencari we- waran dan pawukon, dan itu berlaku sampai tahun 0 Masehi. Dan tabel itu pun, konon, bisa diprogram ke mesin komputer. Jadi, ia menjanjikan masa depan yang baik untuk generasi muda Hindu, bagaimana mencari tabiat hari menggunakan kotak ajaib yang bernama komputer itu. Selebihnya, kalender I Wayan Gina ini terpengaruh Gde Rawi. Dan unsur “peniruan” ini besar, karena kalender ini beredar ber- samaan dengan kalender Gde Rawi. Apalagi, ketiga kalender ini dicetak di tempat yang sama, percetakan milik Parisada Hindu Dharma Pusat di Denpasar. Besar kemungkinan ada oknum per- cetakan yang curang, memanfaatkan bisnis ini untuk kepentingan prihadi, bukan kepentingan umat. Dari Parisada, anehnya, belum ada tanda-tanda mempermasalahkan hal ini.

***

APAKAH di masa datang nanti, setiap orang yang merasa mampu dan punya uang bisa menerbitkan kalender yang lengkap dengan wariga itu? Perkembangan ini sangat menarik. Apalagi, ka- lau misalnya terjadi perbedaan dalam menghitung peredaran bulan, pemerintah daerah Bali atau Parisada toh bisa meniru Departemen Agama yang mengeluarkan SK untuk Idul Fitri. Atau, karena Nyepi sudah jadi libur nasional, sekalian Departemen Agama melahirkan SK untuk penentuan Nyepi. Kenapa tidak? Lantas bagaimana dengan tabiat hari untuk menentukan hari baik dan hari buruk? Akankah kesimpangsiuran terjadi, jika beredar banyak kalender? Ini kekhawatiran para orang tua di Bali, tetapi tidak pada anak-anak muda. Sepanjang baik-buruknya hari yang berkaitan dengan upacara keagamaan, itu sudah ada ketetapannya, sudah menjadi ilmu yang eksak. Pemuka desa adat punya hak menentukan hari baik dan hari buruk untuk upacara keagamaan yang berlaku di wilayahnya. Ini disesuaikan dengan falsafah Hindu: desa, kala, patra — tempat, waktu, dan keadaan, maksudnya situasi dan kondisi setempat. Yang dikhawatirkan orang tua — dan sekaligus sebaliknya bagi anak muda — tak ada lagi yang hirau hari baik dan hari buruk untuk kegiatan non-agama, misalnya: mulai belajar menari, mem- beli hewan piaraan, membuat sumur, dan bepergian. Juga, orang tua khawatir, anak muda sekarang kurang menangkap pertanda alam. Misalnya, kalau terjadi gempa bumi pada hari Senin, harus dicarikan rumusnya, apa arti gempa itu. Bagi anak muda, gempa itu artinya ada gunung mau meletus, atau pergeseran kerak bumi, dan kalau ukurannya besar berarti bencana. Bagi orang tua di Bali, gempa bisa berarti pertanda kemakmuran kalau terjadinya di sasih ini, wara-nya ini, ini, ini Pergeseran nilai-nilai terus terjadi di masyarakat Bali, dan ini tak selalu berarti buruk. Aktivitas kehidupan, faktor ekonomi, juga pendidikan, ikut menguburkan sebagian ilmu pedewasaan, teruta- ma yang “mengatur” kehidupan non-agama. Di kampung halaman,

suatu hari saya menegur sahabat lama yang mencukur rambutnya pada hari Jumat. “Cukur rambut hari Jumat tidak baik. Itu hari buruk,” kata saya. Teman saya, pedagang hasil bumi, menjawab dengan kalem, “Hari baik dan hari buruk, itu urusan orang masa

lalu. Tak ada hari yang perlu ditakuti, kecuali harimau

.”

III Selintas Arsitek- tur Bali dan Keleng- kapan Upacara yang Berubah Fungsi Salah Kaprah, Kata

III

Selintas Arsitek- tur Bali dan Keleng- kapan Upacara yang Berubah Fungsi

Salah Kaprah, Kata I Gusti Agung Gde Putra

K ITA sudah tiba di Bali. Lihat gapura itu,” seorang ayah

menunjuk candi bentar besar di dermaga Gilimanuk.

Empat anak beserta ibunya segera berpaling ke arah yang

ditunjuk ayahnya. Ferry membunyikan peluit pertanda sebentar lagi akan berlabuh. Mesin mobil truk pun sudah menderu tak sabar, walau pintu ferry belum dibuka. Candi bentar, gapura yang terbelah dua itu, sepintas bentuknya mirip gapura yang biasa dijumpai di Jawa Timur, atau juga di Jawa Tengah. Perbedaan mencolok tentu saja pada bentuk candi bentar yang lebih langsing meninggi dan ukiran-ukiran yang lebih rumit. Juga warna candi bentar kebanyakan warna merah bata, sedang gapura di Jawa sering berwarna hitam. Candi bentar di Gilimanuk memang dibuat lebih tinggi sehingga mudah terlihat dari kejauhan, dari tengah Selat Bali. Selepas Gilimanuk, di mana-mana candi bentar. Boleh dise-

6

butkan, simbol Bali dalam dasawarsa ini adalah candi bentar. Di Bandara Ngurah Rai pun ada candi bentar, dalam bentuk yang lebih disesuaikan dengan bangunan di sekitarnya. Kira-kira sepa- ruh dari candi bentar dermaga Gilimanuk. Di jalan-jalan raya, sebelum menjumpai sebuah desa, bisa dilihat ada bangunan candi

bentar, satu bidang di kiri jalan, satu bidang di kanan jalan. Kita berjalan di tengah candi bentar. Lalu ada tulisan: Selamat Datang

Di Desa

Candi bentar saat ini juga simbol selamat datang. Sebagai pintu gerbang memasuki apa saja: pulau, kota, desa, rumah, stadion, gedung pertunjukan, bahkan terdapat juga di kuburan Trunyan

di tepi Danau Batur. Pada obyek-obyek pariwisata, keberadaan

candi bentar itu seperti sebuah keharusan, tak peduli apakah itu sudah sepantasnya atau mengganggu obyek itu sendiri. Di sepan- jang jalan raya dari Desa Kapal sampai Desa Lukluk, Kabupaten Badung, berderet-deret orang menjual candi bentar dalam bentuk mini. Pabrik candi bentar —juga berbagai bentuk sanggah — yang berbahan baku campuran pasir plus semen termasuk laris. Alat cetaknya sedemikian rupa, sehingga begitu diangkat dari cetakan, ukirannya sudah menyembul. Tentu, bentuknya lebih besar dan

kaku. Barang seharga Rp .000 sampai Rp 70.000 (di Jakarta Rp .000 sampai Rp 00.000) itu sudah banyak menghias rumah- rumah penduduk. Adakah yang salah? Ketika Drs. I Gusti Agung Gde Putra ma-

sih menjabat Kanwil Departemen Agama Provinsi Bali — beliau

sejak 98 menjabat Dirjen Bimas Hindu dan Budha Departemrn Agama — dalam berbagai ceramah dan kuliahnya di Institut Hindu

Dharma selalu menilai “kemajuan” ini sebagai salah kaprah. Me- wabahnya candi bentar sebagai pajangan barang seni — dan seni

ini pun bisa diperdebatkan lagi dengan munculnya candi bentar ce-

takan — membuat “roh” bangunan itu sudah tidak ada lagi. Dalam bahasa Bali dikenal dengan istilah campah — kurang lebih berarti hambar, tak punya nilai magis. Akibat lain, banyak orang di Bali sudah mulai tak mengerti lagi falsafah bangunan ini. Mereka tak lagi ingin tahu kenapa bangunan itu dulu didirikan para leluhurnya,

7

dan bagaimana asal-usulnya. Candi bentar adalah bangunan suci. Ia bagian tak terpisahkan dari bangunan suci di sebuah pura. Tempat ibadat umat Hindu, sebagai lambang bersemayamnya Yang Mahakuasa dalam mani- festasinya sebagai Dewa Ciwa adalah kompleks pura dengan tiga bangunan: candi bentar, kori agung, dan meru. Ketiganya ini adalah simbol Gunung Mahameru. Candi bentar sebagai pangkal gunung, kori agung sebagai tubuh (badan tengah) gunung, meru sebagai puncak. Memang dari ketiga bangunan ini, candi bentar yang nilai sakralnya paling “rendah”. Tetapi, pembangunan candi bentar di halaman rumah, atau perkantoran, apalagi di kuburan, oleh kalangan orang tua dianggap sebagai satu bentuk penghinaan. Berarti, kori agung dan meru sama nilainya dengan kantor, atau rumah, atau kuburan.

***

BERUBAH fungsinya bangunan suci menjadi hiasan, memang tak cuma candi bentar. Di beberapa hotel besar, sanggah — yaitu hangunan kecil untuk persemhahyangan keluarga yang biasa juga disebut tunggun karang — sudah dijadikan tempat lampu taman. Atau bangunan itu didirikan begitu saja untuk aksi-aksian, lalu diselimuti kain poleng yang hitam putih berkotak-kotak seperti papan catur itu — padahal bangunan itu tanpa diupacarai sama sekali. Bangunan itu betul-betul disesuaikan dengan keindahan lingkungan, tidak ada lagi fungsinya secara sakral. Sanggah atau tunggun karang ini didirikan oleh setiap ke- luarga penganut Hindu, tak terkecuali yang menetap di Jakarta — sepanjang ia punya rumah. Semiskin-miskinnya orang Bali, ia pasti mengusahakan adanya tempat ibadat kecil ini. Bisa dibuat dari bata, batako, atau beli jadi di “pabrik” Desa Kapal itu. Dalam keadaan darurat, tancapkan saja empat pohon dadap, lalu dipasang anyaman bambu tempat menaruh sesajen di atas tiang dadap itu. Biarkan pohon itu tumbuh. Fungsi sakral bangunan ini adalah untuk menjaga keselamatan

8

seluruh isi rumah dari kekuatan-kekuatan luar yang mengganggu.

Di sana bersemayam Bhatara Kala. Dalam mitologi Hindu, Bhatara

Kala ini selalu merusak dan mengambil korban. Untuk itulah

dibuatkan sanggah agar ia tenang dan justru dimanfaatkan untuk menjaga seisi pekarangan. Tunggun karang, dalam arti harfiahnya, penunggu pekarangan. Jadi, sejenis satpam atau tentara yang men- jaga rumah pejabat penting. Bangunan sanggah ini kebetulan pula mirip rumah monyet atau gardu jaga. Umbul-umbul — kain panjang yang menghias bambu tinggi melengkung itu — yang biasanya bergambar naga atau wayang dari tokoh kera, Hanoman, juga jatuh nilai sakralnya. Umbul-umbul ini sudah dipasang di jalan-jalan menyambut ulang tahun proklamasi atau pekan olah raga, juga di depan toko kerajinan yang bertebaran di jalur pariwisata. Ia dipasang untuk hiasan, bukan lagi sebagai petunjuk bahwa di sana ada persembahyangan. Sementara itu, di tempat suci yang ada upacara persembahy- angannya, umbul-umhul yang dipasang sudah dekil tak terawat, dan terkesan asal-asalan. Ini sudah gejala umum dalam dasawarsa terakhir, dan memprihatinkan banyak pemuka Hindu. Yang lebih parah lagi adalah penjor. Ia mirip umbul-umbul. Cuma di bambu tinggi melengkung itu bukan hiasan kain, tetapi dari janur. Penjor yang semula dipasang di depan pura pada saat upacara persembahyangan, atau dipasang di jalan depan rumah pada saat Hari Raya Galungan, kini sudah dijumpai di mana-mana sebagai hiasan semata. Pembukaan penataran, peresmian gedung, penyambutan grup turis, bahkan di Jakarta — bukan cuma pemeluk Hindu —penjor sudah umum dipasang sebagai pertanda, di sana ada “keramaian” atau orang punya hajat, pesta perkawinan atau sunatan. Penjor dengan segala kelengkapannya adalah perwujudan rasa terima kasih kepada Ida Sanghyang Widhi (Tuhan Yang Maha Esa) karena manusia terhindar dari segala bencana terutama kelaparan. Karena itu, di penjor digantungkan berbagai hasil bumi. Pada pangkal hiasan janur, digantungkan kelapa, jagung, ketela. Naik

ke atas dihias dengan padi.

9

Penjor juga sebagai simbol Sang Hyang Naga Basuki, yang dalam mitologi Hindu bermukim di Gunung Agung. Di lereng gu- nung ini ada Pura Besakih — asalnya dari Basukian, tempat (Naga) Basuki. Sanggah kecil di depan penjor itulah simbol kepala Naga Basuki. Kemudian hiasan janur yang melengkung dengan bulatan

kecil-kecil itu simbol bulu Naga Basuki, dan ekornya adalah ujung penjor yang ada hiasan rangkaian janur yang disebut sampean. Satu bentuk lagi yang sudah “dikomersialkan” untuk dunia wisata adalah canang sari. Ini sesajen kecil, dibuat dari rang- kaian janur, ada kembang, beras, uang kepeng. Ini bentuk paling sederhana dari sebuah sesajen vang dipersembahkan kepada Yang Mahakuasa untuk memohon keselamatan. Sekarang, tamu penting, juga turis, yang turun dari pesawat

di Bandara Ngurah Rai, selalu disambut tari Pendet dan pada kli-

maksnya tamu itu mendapat sekuntum canang sari. Nah, semakin jatuhlah nilai suci alat keagamaan ini. Persembahan kepada Tuhan diterima seorang manusia yang entah beragama apa. Dalam kaitan seperti inilah — candi bentar yang terlihat di mana-mana, sanggah yang dijumpai di hotel mewah, dan canang sari untuk para tamu atau hiasan meja — orang luar lalu punya alasan menuding, upacara keagamaan di Bali sudah mulai dikomer- sialkan hanya untuk tujuan menarik wisatawan. Yang menuding tidak salah.

***

TELAH berulang kali diselenggarakan Seminar Kesatuan Tafsir terhadap Aspek-Aspek Agama Hindu di Bali. Salah satu materi yang sudah pernah dibahas adalah alat-alat kelengkapan upacara yang disalah-fungsikan ini. Keputusan yang diambil me- mang longgar dan berupa kompromi. Semua alat kelengkapan itu bisa digunakan sebagai benda seni, asalkan tidak lagi “lengkap”.

Misalnya, penjor untuk hiasan seni tak boleh disertai sanggah kecil

di depannya, tak boleh digantungi kelapa dan padi. Canang sari tak

boleh disertai uang kepeng dan beras, apalagi dupa yang menyala.

0

Lalu namanya diganti. Candi bentar disebut bebentaran (tiruan dari candi bentar), penjor menjadi pepenjoran (alias penjor-penjoran), canang sari diganti menjadi urap-sari. Tapi apalah artinya nama. Orang tetap saja menyebut candi bentar, penjor, dan canang sari. Dan, tidak ada usaha mempopulerkan nama baru itu. Yang memprihatinkan sebagian orang — tetapi tidak bagi se- bagian yang lebih besar — umat Hindu di Bali mulai menganggap remeh alat kelengkapan upacara seperti itu. Gde Aryantha Suthama, penyair dan pemimpin redaksi Karya Bhakti di Denpasar, mula- mula mengaku heran, kenapa untuk upacara keagamaan orang membuat penjor asal jadi. Bambu yang dipakai asal ujungnya melengkung, tak lagi menghiraukan kemulusan lengkungan. Ke- mudian hiasan janurnya (di pegunungan yang tak tumbuh kelapa dipakai ambu — daun enau muda) tidak merata, hanya sekadar mengisi bulatan saja. Bahkan untuk mengikat bulatan janur itu tidak dibuatkan tali khusus dari bambu, tetapi dipergunakan tali rafia. “Tak ada nilai artistiknya sama sekali,” kata Gde Aryantha. Lalu, ia membantah bahwa jiwa seni orang Bali sudah macet dalam urusan penjor ini. “Ketika ada festival penjor di kawasan Nusa Dua, muncul penjor yang bagus-bagus. Soalnya, hadiahnya ratusan ribu,” ujarnya. Bahkan ketika dua hotel besar di Nusa Dua diresmikan, masyarakat Desa Bualu mendapat order rnembuat penjor. Satu penjor berharga Rp 200.000. “Ya, tentu saja dibuat teliti dengan hiasan sedemikian rapi. Dan, saya tak heran lagi. Masalahnya, faktor ekonomi.” Demikian pula nasib canang sari yang dihadiahkan kepada tamu penting di Bandara Ngurah Rai dan di hotel-hotel berbintang. Anyaman janurnya begitu rapi, bunganya segar, penuh rumbai- rumbai yang indah. Satu canang sari harganya sampai Rp .000. Lalu berapakah harga candi bentar di Ngurah Rai, di kawasan Nusa Dua, di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta? Sudah pasti jutaan rupiah. Jauh lebih mahal dari candi bentar di sebuah pura yang hingga kini berfungsi sebagai tempat suci. Pada akhirnya memang benar, apa yang dulu berkaitan erat dengan keagamaan, toh menjadi runtuh ketika uang mulai bicara.

Dalam bentuk lain, misalnya, candi bentar di kuburan Trunyan (Lihat: PARA PEWARIS RATU SAKTI PANCERING JAGAT) masalahnya tidak cuma uang, tetapi kekuasaan. Barangkali betul juga, orang Bali tidak lagi intens mengerjakan hasil seni untuk Tuhan-nya, seintens mengerjakan untuk imbalan uang.

***

DAN ini kasus yang lain, tetapi mirip, atau entah apa namanya. Pemerintah, lewat berbagai aparatnya, menganjurkan — lebih tepat memerintahkan — agar bangunan-bangunan di pinggir jalan

disesuaikan dengan arsitektur Bali. Terjemahan dari anjuran ini,

di gedung-gedung yang dibangun bertingkat, pada toko-toko dan

rumah-rumah, terutama di bagian depan, ada bidang yang berukir. Ya, pemilik bangunan menerjemahkan arsitektur tradisional Bali itu sebagai memasang ukiran. Ukiran itu lalu menempel di dinding depan, entah di pojok-pojok, di samping pintu dan jendeia, atau

menjadi bingkai nama toko. Bahkan yang banyak terlihat, di antara dinding beton itu terpajang paras — batu padas lunak yang bisa diukir — dalam keadaan aslinya. Alasannya, tentu saja, pemilik bangunan siap memenuhi anjuran itu, tetapi belum punya ongkos mencari tukang ukir. Maka, adalah pemandangan yang biasa kalau

di bangunan beton yang bagus itu tiba-tiba ada paras segi empat

yang lumutan. Atau paras itu sudah dibentuk-bentuk, tinggal di- ukir. Anehnya, yang menganjurkan juga merasa puas. Tentu saja, itu bukan arsitektur Bali. Itu hanya penempelan

ukiran Bali. Lantas, arsitektur tradisional Bali yang mana? Kom- pleks Werdi Budaya (orang lebih senang mengucapkan art centre) yang penuh ukir-ukiran itu? Kompleks gubernuran di Niti Mandala itu? Atau gedung Jaya Sabha yang dibangun secara besar-besaran

di pusat Kota Denpasar itu? “Semua itu bukan arsitektur Bali, itu

style Bali,” kata seorang arsitek asli Bali di Denpasar. Style Bali adalah bangunan yang lebih terencana penempatan ukir-ukirannya dibandingkan main tempel seperti bangunan di pinggir jalan. Jagonya dalam style Bali ini adalah Ida Bagus Tu-

gur. Dialah yang mengarsiteki bangunan induk di pusat kesenian Werdi Budaya, kompleks kantor gubernur di Niti Mandala, Renon — pinggir timur Kota Denpasar. Gedung ini, sedemikian rupa direncanakan sejak awal, di mana ada ukirannya, apa fungsi ukiran itu, apakah lingkungan di sekitarnya mendukung ukiran itu. Sayangnya, di sekitar gedung ini, “penyesuaian” terlalu men- gada-ada. Memang lebih rapi sedikit dibandingkan “asal ada ukiran Bali” seperti pada toko-toko milik Cina di Denpasar, tetapi tetap saja terkesan ganjil. Lihatlah bangunan kantor pos, gedung BKK- BN, gedung Kanwil Departemen P & K Bali, dan banyak lagi yang bertebaran di Renon. Ukiran di sana-sini sama sekali tak membuat gedung itu bertambah anggun. Ibarat perempuan mengenakan rok, tetapi berselendang dan bersanggul, serta memakai sepatu boot. Gejala seperti inilah yang mewabah di Bali belakangan ini, pada kantor-kantor pemerintah dan pada kelas menengah di kota. Arsitektur tradisional Bali, sumbernya ada dalam lontar Asta Kosala Kosali. Ini dua jenis lontar, Asta Kosala tentang cara dan ukuran membuat menara pengusung jenazah (bade) dan bangunan tinggi lainnya, Asta Kosali berisi ukuran dan aturan membuat rumah. Semua ukuran panjang di sini memakai anggota tubuh, khususnya tangan dan kaki. Misalnya, jengkal adalah panjang dari ujung ibu jari ke ujung jari tengah ketika tangan dimekarkan, ceng- kang, ukuran dari ujung ibu jari ke ujung telunjuk, hasta ukuran panjang dari siku ke pergelangan tangan, dan banyak lagi contoh lain. Terlalu teknis kalau hal ini ditulis. Yang jelas, sama sekali ti- dak memakai ukuran modern: sentimeter, meter, dan sebagainya. Pola menetap masyarakat Bali tradisional yang benar-benar mencerminkan kedua lontar tadi terdiri dari: merajan yaitu tempat persembahyangan keluarga, bale daja atau sering disebut gedong yaitu tempat tidur orangtua dan tempat untuk menyimpan harta kekayaan keluarga, bale dauh yaitu tempat tidur keluarga, bale dangin atau sering juga disebut bale adat yaitu tempat dilangsung- kannya upacara keluarga, seperti tiga bulan anak, enam bulan anak, potong gigi, membaringkan jenazah, atau ruang bermalas-malasan, paon yaitu dapur untuk kegiatan memasak. Jika tanah pekarangan

masih tersisa setelah bangunan ini lengkap, baru dibangun jineng yaitu lumbung untuk menyimpan hasil bumi. Dalam arsitektur tradisional yang bersumber dari dua lontar itu, jarak satu bangunan ke bangunan lain juga ditentukan ukuran- nya. Karena jarak ini lebih panjang, tidak memakai jengkal tetapi depa. Ada depa agung yaitu jarak kedua rentangan tangan dengan jari terbuka, dari ujung jari tangan kiri ke ujung jari tangan kanan. Yang satu lagi depa alit jarak kedua rentangan tangan dengan jari tergenggam. Begitu pula untuk saka atau tiang balai yang akan dibangun. Kalau memakai ukuran panjang 25 rahi maurip anyan kacing ber- nama Prabu Murti Jinem. Kalau panjangnya 19 rahi maurip anyan linjong bernama Mitra Asih. Arahi (satu rahi) adalah sepanjang telunjuk, dari panggal sampai ke ujungnya. Sedang anyari artinya satu ruas jari paling ujung. Racing, itu jari kelingking, linjong jari tengah. Jadi, 25 rahi maurip anyari kacing sama dengan panjang jari telunjuk ditambah satu ruas atas jari kelingking. Seseorang yang membangun rumah tentu saja sudah menentukan, sepanjang berapa saka bangunan itu, berdasarkan hari kelahiran si empunya rumah, letak pekarangan, kayu yang dipergunakan, dan banyak pertimbangan lagi. Semua ukuran itu menggunakan tangan orang dewasa, kalau tidak si pemilik rumah, bisa tangan undagi (arsitek) yang merancang bangunan itu. Tentu tidak hanya saka dan jarak bangunan punya ukuran tertentu. Yang lain juga, seperti iga-iga, tempat tidur, mengatur air jatuh dari atap. Diperlukan kitab tersendiri untuk menjelaskan segala ukuran ini, termasuk arti yang terkandung di dalamnya. Selain ukuran, ada aturan. Gedong, menurut aturan ini, nyaris merupakan bangunan tertutup tanpa jendela. Pencipta arsitektur ini — para leluhur, entah siapa dan di zaman apa — menempatkan fungsi tempat tidur benar-benar untuk tidur, tidak mengerjakan apa-apa. Karena itu, tak perlu pencahayaan terang, tak ingin dilihat dari luar, tak ingin diintip. Tetapi kesegaran udara tetap terjamin, karena dinding tak sampai penuh ke atas. Di antara dinding dan usuk ada kerenggangan yang membuat udara tetap segar.

Sebaliknya, bale dangin merupakan balai terbuka. Di sanalah anak-anak bermain, orangtua mengajari anaknya membaca lontar dan sastra kuno, juga untuk bermalas-malasan. Adapun dapur terletak paling depan. Jadi, begitu memasuki pekarangan rumah, disongsong oleh bangunan dapur. Mungkin, karena dulunya para leluhur orang Bali itu petani semua, sehingga begitu memasuki kompleks rumah langsung menyerahkan hasil buminya ke dapur. Dalam mitologi Hindu sendiri, dapur ini juga “rumah” Dewa Brahma (dewa api). Jadi, kalau orang lain bermaksud jahat, belum sampai ke gedong sudah hangus dibakar api. Hal-hal seperti inilah — kalau dijelaskan mendetail tentu luar biasa panjangnya — yang disebut arsitektur tradisional Bali. Jadi, bukan ukir-ukiran itu. Sama sekali tak disebut ada ukir-ukiran di dalam kedua lontar itu. Apakah arsitektur model begini masih bertahan sekarang? Masih, tetapi di beberapa tempat saja, dan itu pun umumnya pada orang-orang berada. Ada dua jenis kebertah- anannya. “Bertahan murni”, dalam pengertian tetap sesuai dengan pedoman lontar itu, dan tetap berfungsi seperti yang disebutkan. “Bertahan tidak murni”, semua bangunan itu masih tetap utuh dan patuh pada persyaratan-persyaratan sebuah arsitektur Bali, tetapi tidak berfungsi sebenarnya. Bale dangin untuk menjual barang kerajinan yang sudah jadi, bale dauh tempat para pengukir bekerja, paon dijadikan gudang ukiran atau hasil kerajinan lainnya. Itu rumah I Nyoman Togog, perajin yang meraih Hadiah Upakarti 98 di Desa Peliatan. Atau kompleks perumahan berfungsi seb- agai museum, seperti Museum Neka di Ubud. Bale dauh sampai dapur hanya untuk memajang lukisan. Pada kebanyakan orang, arsitektur tradisional Bali sudah merupakan “masa lalu”. Tantangan untuk kelestariannya adalah penduduk Bali yang semakin berjubel. Di mana ditempatkan keluarga-keluarga baru itu, sementara tanah pekarangan mahal dan sulit? Maka, jalan praktis ditempuh. Ketimbang menerapkan “ajaran lama”, lebih baik membangun empat rumah yang modern, masing-masing dilengkapi dapur, ruang tidur, ruang tamu, dalam satu pekarangan yang sama luasnya.

Sungguh ironis, kalau pada masa kini orang berteriak, kem- bali ke arsitektur Bali, sementara yang mereka artikan itu adalah menempelkan sebagian padas di depan rumahnya. Arsitektur tradisional Bali, sebuah ilmu warisan para leluhur yang sebenarnya tak banyak diketahui orang Bali sendiri, apalagi dipahami orang luar Bali. Di Fakultas Teknik Universitas Udayana memang diajarkan. Tetapi toh semua orang bisa mengucapkannya, dan sering terdengar orang memperbincangkannya — dengan pengertian yang salah.

6

IV

IV Upacara Pemba- karan Mayat (Nga- ben) yang Sederhana Beban I Wayan Nesa Wisuandha A DA

Upacara Pemba- karan Mayat (Nga- ben) yang Sederhana

Beban I Wayan Nesa Wisuandha

A DA asap hitam mengepul di bagian timur Kota Denpasar.

Ada tercium bau tak sedap, seperti daging panggang yang

gosong. Ada sedikit kemaeetan di jalan. Ada pengendara

sepeda motor yang mulutnya ditutupi sapu tangan. Apa yang terjadi? Ah, sesuatu yang biasa. Asap datang dari api yang berkobar di tengah kuburan. Sore itu, ada pembakaran mayat. Istilah Bali-nya ngaben. Jenazah yang dibakar, seorang penduduk dari Banjar Kelandis, tak jauh dari kuburan itu. Kuburan itu kecil. Kalau tak salah hitung, mungkin kurang dari satu hektar. Letaknya betul-betul di tengah kota. Di sisi jalan raya yang ramai, yang menghubungkan pusat kota dengan bagian timur

kota, arah pusat-pusat pendidikan, pusat kesenian, dan bahkan arah ke pantai Sanur. Dulu, jalan di sisi kuburan itu bernama Jalan Sanur, kini menjadi Jalan Hayam Wuruk. Persis di timur kuburan, terletak kompleks militer, perkantoran, dan asrama tentara. Orang

7

menyebutnya Asrama Kayumas. Di depan kuburan, sebelah utara di seberang jalan, berdiri pertokoan, yang kemudian disambung pusat perbelanjaan Pasar Kamboja. Di selatan kuburan sebagian asrama tentara, dan seba- gian lagi perkampungan. Di baratnya, mula-mula bengkel sepeda

motor, lalu ada perkantoran swasta. Awal tahun 970-an, kantor tempat saya bekerja, di lokasi itu. Jadi, bau tak sedap dan suasana seperti itu, bagi saya, tak asing lagi. Yang agak mengherankan sekarang, ada sebuah bis turis, dan dua bis yang mengangkut rombongan pelajar sebuah SMA di Jawa Timur yang nongkrong di sisi jalan dekat kuburan. Penumpangnya masuk ke lokasi kuburan, menonton pembakaran mayat. Dulu, sewaktu saya masih berkantor di sebelah kuburan itu, pembakaran mayat di sini bukanlah tontonan. Di kuburan ini, tak biasa ada pembakaran mayat yang diseleng- garakan besar-besaran, menggunakan menara pengusung jenazah yang disebut bade. Apalagi yang memakai prosesi meriah. Bukan karena lokasi kuburan di tengah keramaian kota. Atau kuburan berukuran kecil. Tetapi, penduduk desa-desa di sekitar kuburan ini sudah terbiasa ngaben scara sederhana. Juga pada sore itu. Lihatlah, hanya ada tungku pembakaran yang terbuat dari batang pohon pisang, agar tak mudah dimakan api. Lalu, sekitar empat Ielaki dengan tongkat kayu, membalik- balikkan mayat yang sedang dilalap api, bagai menggoreng ikan. Lelaki yang lain mengawasi dari jarak sekitar lima meter, sambil siap melemparkan kayu bakar, atau mengambil alih tugas. Puluhan yang lain jongkok di bawah pohon, berteduh dari panas matahari. Para wanita, tidak begitu banyak, menyiapkan sesajen. Semua memandang ke arah api. Ada sekitar sepuluh turis yang berbaur dengan puluhan pe- lajar dari seberang Bali juga memandang ke pusat api. Ada yang memotret, ada yang menutup hidung. Ada yang berteriak kecil, ketika sepotong tubuh nyangkut di tongkat pengaduk. “iih, ngeri,

kok kejam, ya,” komentar seorang pelajar putri sambil

mendekap bahu temannya. Namun, ketika kobaran api mulai

deh

8

padam, wajah-wajah mereka — terutama turis asing itu — men- gandung ketidakpuasan. “Sudah saya tanya ke mana-mana, hari- hari ini tak ada pembakaran mayat secara besar. Apa boleh buat, mereka ingin sekali, saya bawa ke sini,” kata pramuwisata (guide) yang mengantar rombongan orang asing itu. Seorang pelajar bahkan bertanya, “Ini upacara apa, Mas? “Setelah saya katakan, ini upacara ngaben, dia seolah tak percaya. “Kok rasanya tidak. Saya sudah mendengar, upacara seperti itu ‘kan meriah. Ada itunya, apa tuh namanya, yang tinggi itu. Yang ini, orang di jalan saja nggak peduli. Ngaben apaan tuh.” Temannya menimpali. “Ini ‘kan di kota, ‘kali lain. Katanya di desa di Gianyar, besar-besaran.” Saya memberi penjelasan singkat bahwa di desa pun upacara ngaben kebanyakan seperti ini, dengan pengusung jenazah yang tidak bertingkat dan dihias seadanya, dan tidak melibatkan banyak orang. “Ah, Mas kayaknya tahu aja, ‘kali yang ini bukan orang Hindu asli,” komentar mereka. Memang sulit menjelaskan. Apalagi dengan kalimat sederhana dalam waktu yang pendek. Lebih sulit lagi menuding siapakah sebenarnya yang bersalah, kalau ada yang sampai terjebak. Brosur- brosur pariwisata yang gemerlapan itu atau buku-buku yang ditulis orang asing itu. Mungkin juga para pelukis, yang kalau memberi judul ngaben dalam lukisannya selalu tentang bade yang tinggi, atau lembu indah yang dibakar. Ngaben tak selalu seperti itu. Besar-besaran, berhari-hari, melibatkan ribuan orang, berhura-hura. Ngaben adalah upacara pe- nyempurnaan jasad, mengembalikan unsur-unsur yang membentuk tubuh manusia ke asalnya. Dalam agama Hindu, tubuh manusia itu dibentuk oleh zat yang sama dengan alam semesta — karena itu dikenal istilah bhuwana agung dan bhuwana alit. Seseorang yang meninggal dunia, tubuhnya ditinggal pergi oleh roh (Sang Atma). Maka, tubuh itu tak ubahnya sebagai benda rongsokan. Ibarat sampah, ia harus segera dihanguskan, supaya baur dengan alam semesta. Unsur-unsur di dalam tubuh (bhuwana alit) sama seperti yang ada di jagat raya (bhuwana agung). Dalam agama

9

Hindu disebut Panca Maha Bhuta. Yakni: pertiwi, apah, teja, bqyu, dan akasa. Bahkan dikatakan, unsur dalam badan manusia itu bukan saja persis dengan alam, tetapi meminjam unsur alam. Pinjaman itu yang harus dikembalikan, jika Sang Atma mening- galkan badan kasar. Pengembalian pinjaman itu semakin cepat semakin baik, agar Sang Atma yang gentayangan lancar menemukan tempat istirahat- nya terakhir: surga, atau mungkin neraka. Jika mayat cuma diku- burkan di dalam tanah, proses kehancuran untuk menyatu dengan tanah tentulah berlangsung berpuluh tahun. Sementara itu, Sang Atma tetap saja berutang, dan tentu waswas ke tempatnya istirahat. Itulah sebabnya ada ngaben, yang dilakukan oleh ahli warisnya. Ngaben juga bukan hanya demi sang roh. Ritus ini pun menjadi kewajiban ahli waris, kewajiban membayar utang. Agama Hindu mengajarkan, setiap orang berutang kepada orangtua yang melahir- kannya. Yaitu utang kama bang dan kama putih — ini hormon laki dan perempuan yang menyebabkan terjadinya kelahiran. Dengan ngaben, utang dua jenis kama itu dianggap lunas. Kalau sesederhana itu masalahnya, cuma hancur-menghan- curkan agar cepat berbaur ke alam, kenapa ada upacara ngaben yang menghabiskan biaya besar dan bertele-tele? Jawabnya, bisa saja dikembalikan dengan pertanyaan: kenapa untuk meresmikan sebuah gedung, jembatan, pabrik, atau pelantikan lurah, bupati, gubernur, juga menghabiskan biaya besar dan bertele-tele? Sama dengan ngaben, ada sesuatu yang perlu mendapatkan kepuasan, yakni: emosi, citarasa, keharuan, keindahan, basa-basi, gengsi, atau sengaja pamer. Semua kepuasan itu diberi jalan oleh agama. Karena itu, ada tiga macam cara yang biasa dan bisa ditempuh umat dalam melak- sanakan kewajiban ngaben. Yaitu cara nista, madia, dan utama — tingkat rendah, menengah, dan tinggi. Dalam pelaksanaannya, ketiga cara ini masih bisa dipecah masing-masing menjadi tiga lagi. Ada nistaning nista (paling rendah), madianing nista (setengah ren- dah), dan utamaning nista (cukup rendah). Tingkat-tingkat inilah yang mempengaruhi jalannya upacara. Inilah yang membuat besar

0

kecilnya sesajen. Pada akhirnya, menyangkut waktu yang disita, orang yang dilibatkan, dan biaya yang dikeluarkan. Tingkatan ngaben ini tidak ada hubungannya dengan kasta. Kasta itu, dulu, suatu pengelompokan masyarakat karena tugas sosialnya, bukan ajaran agama. Besar kecilnya upacara, dan bi- aya ngaben, ditentukan oleh keadaan sosial ekonomi keluarga yang punya hajat. Kalau punya uang, bisa menempuh cara paling tinggi (utamaning utama) tanpa memandang asal-usul. Begitu sebaliknya. Ngaben, salah satu dari lima jenis pengorbanan suci, apa yang disebut Pancayadnya. Ia tergolong Pitra Yadnya, artinya berkorban untuk kebahagiaan leluhur. Seperti halnya setiap yadnya (pen- gorbanan suci), seseorang diwajibkan melaksanakan upacaranya, sebatas kemampuan dan seberapa jauh sudah menjadi “beban”. Dan itu, tentu saja, tidak sama pada setiap orang. Kalau seorang pen- gusaha hotel, atau pemilik toko kesenian yang punya penghasilan bersih 00 dolar sehari — jenis orang kaya baru di jalur pariwisata Bali — tentu saja tidak memikul beban berat jika ia harus ngaben dengan biaya satu juta rupiah. Sebaliknya, masyarakat pedesaan, yang hidupnya pas-pasan, yang belum menikmati gemerincing dolar yang dibawa orang asing, ngaben dengan biaya Rp ribu sudah merupakan beban seumur hidup. Untunglah, tak ada agama yang sengaja menurunkan aturan yang membuat hidup jadi susah. Ada petunjuk ngaben secara hemat. Itu dimuat dalam lontar Yama Purwana Tatwa. Misalnya diberi petunjuk, seberapa sajen yang perlu dibuat sampai memenuhi kebutuhan minimum, sehingga tidak memakan biaya besar. Dan, kalau saja orang mati itu pas harinya, artinya tidak bersamaan den- gan upacara persembahyangan di pura (Dewa Yadnya), atau tidak pada bulan purnama atau bulan tilem (bulan mati), pokoknya ada dewasa (Lihat: Pada Awalnya, I Ketut Bangbang Gde Rawi), pada hari itu pula upacara ngaben bisa diselesaikan. Sehari tuntas. Secara garis besar, pelaksanaannya begini. Mayat dibungkus kain. Sesajen disiapkan, tirta (air suci) dimohonkan kepada yang berhak, misalnya pendeta. Kemudian jenazah diusung dari rumah

ke kuburan. Di kuburan sudah siap tungku pembakaran, cukup berdindingkan pohon pisang — agar tak mudah dimakan api — lengkap dengan kayu bakarnya. Sebelum mayat dibaringkan di tungku, upacara sederhana diadakan. Kain pembungkus jenazah dibuka. Tubuh yang lemas tak bernyawa itu diperciki toya panem- bak — ini air suci untuk menyatakan jasad itu sudah tak bernyawa lagi. Kemudian diperciki lagi tirta pangentas — air suci yang dimohonkan dari pendeta tadi. Maksudnya, agar roh yang dulu menghuni tubuh manusia mati itu menjauh dari badan kasarnya. Sang roh pergi, sehingga yang dibakar benar-benar badan kasar. Di sisi tubuh yang telentang itu dipenuhi sesajen kecil. Ber- bagai bentuk, agak rumit dan terlalu panjang untuk dijelaskan. Lewat sesajen inilah dimohonkan bantuan Yang Mahakuasa, agar jenazah itu cepat hangus. Lalu, pembakaran pun dimulai. Setelah jadi abu, beberapa daging yang sulit terbakar langsung ditanam, pembakaran dihentikan. Sejumput abu diambil dari bekas kepala, tangan, punggung, dada, paha, dan kaki. Tentu, tidak persis abu kepala benar-benar dari bekas kepala. Sebab, ketika api berkobar, mayat itu diobrak-abrik, dibolak-balik. Pada akhirnya mana abu kepala, mana abu kaki, sulit ditentukan. Lalu diputuskan saja, kalau waktu telentangnya tadi kepala berada di ujung sana, maka abu yang diambil dari ujung itu dianggap saja abu kepala. Abu kakinya, tentu, di ujung yang satu lagi. Abu lain bisa diperkirakan saja. Setelah dikumpulkan abu-abu ini, kemudian dimasukkan ke dalam buah kelapa gading yang masih muda. Dilengkapi sedikit sesajen lagi, abu ini pun dibawa ke laut, dihanyutkan. Kalau upa- cara itu di sebuah desa pegunungan, sedangkan keluarga yang punya hajat tidak bisa menyewa mobil, abu cukup dihanyutkan ke sungai. Orang Bali percaya, setiap air yang mengalir di sungai bermuara ke laut jua. Sederhana dan hemat. Mungkin, jalan itu yang ditempuh oleh keluarga yang punya hajat yang melakukan pembakaran mayat di kuburan Kayumas, Denpasar, sore itu. Namun, dulu, ketika penduduk Bali masih belum membludak, sawah dan kebun masih cukup memberi kehidupan yang layak,

mereka seperti terbiasa mengadakan upacara ngaben mengikuti warisan “kebudayaan” para raja sebelum kemerdekaan. Petunjuk dalam lontar Yama Purwana Tatwa ini seperti dilupakan. Petunjuk ini baru dihidupkan lagi, dikampanyekan oleh pemerintah daerah bersama Parisada Hindu Dharma —lembaga tertinggi umat Hindu — dan Departemen Agama. Dan, memang ada sebabnya. Waktu itu, 960, sudah diren- canakan persembahyangan besar seratus tahun sekali di Pura Be- sakih, pura induk umat Hindu di lereng Gunung Agung. Upacara yang disebut Eka Dasa Rudra itu diniatkan sekitar bulan April 96. Syarat utama dari upacara luar biasa ini adalah semua jenazah umat Hindu di Bali harus sudah bersih dibakar. Semua jenazah harus sudah lebur ke alam semesta, semua roh harus sudah berada di tempatnya masing-masing. Sementara itu, pemerintah menyadari, keadaan sosial ekonomi masyarakat sedang payah. Jangankan ngaben — dalam pengertian warisan zaman raja-raja itu — penduduk waktu itu masih antre beras dan minyak tanah. Tapi, mau apa, kalau saatnya telah datang, seratus tahun sekali? Dibantu panitia upacara Karya Agung di Besakih, kampanye ngaben hemat ini berhasil di desa-desa. Ada yang mengikuti persis petunjuk dalam lontar tadi. Ada yang mengambil jalan tengah, yakni tetap membuat bade indah dan besar, tetapi biaya ditang- gung secara kolektif. Populer disebut: ngaben gerit. Bade-nya. hanya satu, sesajennya satu paket, tetapi jenazah yang diupacarai ada banyak, bisa sampai puluhan. Dengan demikian, pada puncak acaranya, kelihatan bahwa pengabenan itu seperti besar. Dampak positif dari niat upacara Eka Dasa Rudra tahun 96, umat diingatkan kepada ajaran yang lama “didiamkan” para raja, ngaben hemat itu, selain munculnya variasi baru, ngaben secara kolektif. Sayang, karya besar di Besakih itu batal. Gunung Agung meletus dengan hebat, dua bulan sebelum upacara direncanakan, pada saat Bali hampir bersih dari jenazah yang belum diaben. Dan, setelah amukan gunung itu mereda, para pemuka agama berkumpul

untuk “membaca pertanda alam”. Ditemukanlah sesuatu, yang mencengangkan masyarakat. Ternyata, tahun 96 bukan waktu yang tepat untuk upacara seratus tahun di Besakih. Para pemuka agama ternyata salah hitung. Hitungan yang tepat baru terjadi 979. Dan, seperti yang sudah diketahui, Eka Dasa Rudra dalam abad ini dilangsungkan dengan mulus tahun 979, dihadiri Presiden Soeharto sebagai simbol raja. Ini memang salah satu syarat bahwa pemimpin tertinggi masyara- kat harus hadir, sementara raja di Bali sudah tak ada lagi sejak kemerdekaan, baik formal maupun spiritual. Tentu saja, menjelang 979, di mana-mana masyarakat meny- elenggarakan upacara ngaben. Karena kehidupan sudah lebih baik, masyarakat lebih “maju”, pemerintah tak lagi mengkampanyekan ngaben hemat. Semua diserahkan kepada masyarakat. Hemat, silakan. Berhura-hura, tak dilarang.

***

ADA banyak hal yang masih saya kenang, ketika ayah saya me- ninggal dunia pada 96. Beliau wafat ketika sudah direncanakan ada ngaben kolektif yang dilaksanakan keluarga besar kami, yang terhimpun dalam satu persembahyangan — namanya warga dadia. Bahkan kepastian upacara ngaben dan harinya, ayah saya ikut menentukannya. Ketika persiapan sudah dilakukan, kira-kira sebulan sebelum harinya, Ayah tutup usia. Keluarga memutuskan, Ayah ikut diaben. Tetapi, karena keluarga kami bukan orang kaya, jenazah Ayah dikuburkan secara biasa, dan pada saatnya nanti, “digali kembali dari kubur” untuk diupacarai. Bayangkan saja, kalau jenazah disimpan di rumah, dan selama sebulan menjamu warga desa. Belum lagi merawat jenazah, supaya tidak berbau. Kenapa tidak ngaben sendirian, yang sederhana, sehari tuntas itu? Mungkin karena rencana ngaben kolektif sudah pasti, atau warga dadia ingin kelihatan ngaben secara besar. Untuk ngaben kolektif, biasanya ada seseorang yang menjadi sponsor. Tentu, ia adalah keluarga yang lebih mampu. Ketika itu,

sponsornya adalah keluarga Pemangku Puseh. Jenazah keluarga itu sudah ditanam di sebuah tanah kebun, tak jauh dari kuburan, satu setengah tahun sebelumnya. Inilah yang disebut mekingsan, artinya jenazah dititipkan dulu. Tahap penitipan ini gunanya un- tuk memberi kesempatan kepada keluarga si mati mengumpulkan biaya. Titipan di dalam tanah itu tak boleh lebih dari dua tahun. Sebabnya, selama masih ada jenazah titipan, warga desa kami tak boleh menyelenggarakan persembahyangan di Pura Luhur,

di puncak Gunung Batukaru yang tingginya .76 meter di atas

permukaan laut. Jadi, sesungguhnya, keluarga yang menitipkan jenazah itu siap untuk mengadakan upacara ngaben sendirian. Dalam hal ini, para pendompleng, termasuk keluarga kami, bisa saja ditolaknya. Tentu saja, tak tega menolak para pendompleng yang masih

satu warga dadia. Kalau tak salah ingat, waktu itu ada tujuh pen- dompleng, yang, tentu saja, jenazah yang ikut diaben itu dikubur- kan biasa di kuburan. Sebulan sebelum puncak upacara ngaben, masyarakat sudah berbondong-bondong bergotong-royong mempersiapkan upacara. Pusat upacara, tentu saja, di rumah sang sponsor. Perempuan- perempuan membuat sesajen, siang dan malam. Para lelaki mem- buat balai-balai, panggung-panggung hiburan, dan membantu membuat bade. Dikatakan membantu karena arsitek bade itu sendiri orang upahan, dari Klungkung, Bali Selatan. Tujuh hari sebelum puncak acara, jenazah yang dititipkan

di tanah kebun itu digali. Ini namanya mungkah. Yang diambil

hanya tulang-tulangnya saja karena memang seusia itu jenazah biasanya tinggal kerangka. Dan sejak tulang-tulang itu dibawa ke rumah, ditempatkan di sebuah balai khusus, tiap malam selalu ada keramaian: hiburan dan juga judi kecil-kecilan, misalnya, main

domino. Esok hari setelah mungkah, para pendompleng datang ke kuburan. Mereka tidak menggali jenazah yang dikuburkan, tetapi mengambil sejumput tanah kuburan untuk simbol jenazah — tentu lewat upacara yang banyak memakan sesajen. Masyarakat Bali

tak mengenal penggalian jenazah dari dalam kubur — kecuali belakangan ini ada beberapa untuk urusan perkara kriminalitas. Mungkah versi simbolis ini disebut nyewasta, artinya upacara ngaben yang tidak menggunakan jenazah secara langsung. Istilah ini juga digunakan untuk mengabenkan orang yang mayatnya tak diketahui lagi, misalnya, kecemplung di tengah laut. Esoknya lagi, semua jenazah — baik berupa tulang maupun yang simbolis — mulai dimandikan ke sebuah tempat perman- dian khusus, yang letaknya sekitar dua kilometer. Lagi-lagi, di sini simbol dibuatkan. Tidak tulang yang dibungkus kain putih itu digotong beramai-ramai, tetapi dibuatkan sebuah boneka pipih, mirip wayang golek, yang dibuat dari kayu cendana. Ini dinamakan pengawak. Begitu pula yang lain, yang jenazahnya diwakili tanah kuburan itu, juga dibuatkan pengawak. “Wayang golek” yang penuh hiasan plus cincin, kalung, dan perhiasan emas lainnya — tergantung kaya miskinnya keluarga itu — digendong ke permandian dalam suatu prosesi yang meriah. Sanak keluarga yang diaben rebutan ingin menggendong boneka ini, sebagai wujud bakti kepada orangtuanya. Ada sesuatu yang berkesan di benak saya, dalam perkara gendong-menggendong ini. Kakak sulung saya, suatu ketika, menggendong boneka simbol ayah saya. Ketika mendaki tebing pulang dari permandian, jalannya tertatih-tatih kepayahan sehingga berada di urutan belakang. Keluarga kami menganggap soal itu sangat biasa. Saya, saat itu pelajar kelas I SMP yang berusia sebelas tahun, tak bisa menerima alasan yang diberikan. Dan, ketika suatu kali sempat diberi kepercayaan menggendong boneka itu, ketika mendaki tebing, saya juga kepayahan dan malah jauh tertinggal. Kenapa? Menurut keyakinan, boneka itu benar-benar mewakili orang yang diupacarai, ketika hidupnya. Ayah saya memang sakit- sakitan, tak kuat mendaki tebing, bukan lelaki yang suka berburu sebagaimana kegemaran orang di kampung kami. Maka, betapapun kuatnya yang menggendong, kalau yang menjiwai boneka itu tak kuat, ya, si penggendong tetap kepayahan. Setelah kejadian “aneh” itu, saya lama berpikir, kenapa bisa be-

6

gitu. Apakah karena semalaman saya begadang, ikut main domino sehingga, ketika pas diberi kepercayaan menggendong, saya lemah. Ingin rasanya menggendong lagi, tapi tentu tak mungkin. Yang antre begitu banyak, saudara kandung, saudara sepupu, dan juga anggota grup kesenian yang dipimpin ayah saya. Dua hari sebelum puncak acara dinamai hari nyuwung. Maksudnya, menyepi menjelang karya besar. Segala kerepotan yang berurusan dengan upacara dihentikan karena memang telah selesai. Sesajen sudah komplet, bade sudah siap. Tak ada pekerjaan, prosesi memandikan pengawak sudah usai pula. Yang ada hiburan melulu, siang dan malam — meski tahap itu disebut menyepi. Siang hari, para ahli waris masing-masing mempertunjukkan keahlian- nya menari. Saya ingat betul, saat itu saya menari baris. Seadanya, karena memang tidak ahli, sekadar menunjukkan kepada roh Ayah bahwa kami, putra-putrinya, masih setia berkesenian. Malam harinya ada pementasan wayang kulit. Ceritanya, Pandawa mencari air suci, tirta amerta. Dan ketika di layar, Pan- dawa memperoleh tirta itu melalui perjuangan berat, Ki Dalang juga membuat tirta untuk kepentingan puncak acara esok harinya. Tirta ini termasuk yang dipercikkan ke jenazah di pekuburan, esok harinya. Dengan begitu, penyajian wayang kulit semalam suntuk itu tidak semata hiburan — walau penuh gelak tawa — melainkan juga pertunjukan suci. Pada puncak acara ngaben — disebut palebon — pagi-pagi, bade sudah diletakkan di jalan, dekat dengan rumah yang jadi spon- sor. Tentu saja, seisi kampung menonton bade yang baru diperlihat- kan itu. Sementara itu, undaginya membuat upacara pemelaspasan, meresmikan bade itu sebagai benda suci. Ini penting. Semua alat kelengkapan upacara sebelum dipakai pasti dipelaspas. Sebab, bukan mustahil bahan-bahan bade diperoleh dengan jalan tak suci, misalnya ada bambu hasil curian. Atau, kertas-kertas yang tergeletak ketika menghias bade ada yang dilangkahi perempuan yang sedang “kotor”. Yang masih saya kenang, setelah undagi bade melaksanakan pemelaspasan, ia segera pergi jauh. Seorang undagi bade tak akan

7

melihat hasil karya seninya diusung ke kuburan, untuk dimusnah- kan. Sampai sekarang saya belum paham — tak ada sumber yang meyakinkan yang saya peroleh — kenapa bisa begitu. Waktu masa

bocah itu, saya pikir, arsitek itu hanya tak tega melihat hasil karyan-

ya berhari-hari, ukiran kertas dan bunga-bunga kapas warna-warni

yang dibuatnya dengan tekun, musnah dalam beberapa jam. Jenazah — tulang dan tanah kuburan itu — dikeluarkan dari balai dan diusung ke ruang yang telah disediakan di bagian tengah bade. Para pemikul, dengan kain putih yang melilit kepala mas- ing-masing, sudah siap mengitari bade. Di dasar bade, persis di atas yang dipikul itu, ada seperangkat gender wayang kulit, yang ditabuh mengalunkan suara memilukan, mengiringi perjalanan sang atma meninggalkan jasad kasar. Sedang untuk mengiringi arak-arakan ke pekuburan, ada seper- angkat gong baleganjur dengan suara ingar-bingar yang memekak- kan. Selain untuk menambah semangat para pemikul bade, gong ini, konon juga berfungsi membangunkan Panca Maha Butha yang akan menerima badan kasar yang meninggal itu. Masih ada simbol penting lagi. Pada tubuh bade seorang lelaki berdiri, mengawal jenazah. Satu tangannya memegang erat tiang bade agar tidak jatuh, satu tangannya lagi membawa tongkat yang bermahkotakan seekor burung Cenderawasih — yang diawetkan, tentu. Burung itu di Bali dijuluki Manuk Dewata, konon jenis burung yang bisa mondar-mandir di dua dunia: yang fana ini, dan dunia surga-neraka. Cenderawasih itulah yang akan menuntun sang

atma pergi ke dunia lain, agar tidak kesasar. Ini legenda yang hidup

di Bali, walaupun burung Cenderawasih tak pernah hidup di Bali,

apalagi di kampung saya — entah kalau beratus tahun yang lalu. Di kuburan, sebelum jenazah diturunkan, seseorang melem- parkan ayam yang tadinya ditaruh di sekitar jenazah. Ini juga per- lambang bahwa roh siap pergi meninggalkan badan kasar. Ayam ini boleh jadi rebutan orang, tapi tidak boleh diambil oleh keluarga yang punya hajat. Dan upacara ngaben pun mendekati akhir, jen- azah — tulang yang dibungkus dan tanah kuburan simbolis itu — diturunkan. Pendeta memimpin upacara, jenazah dibakar seeara

8

simbolis dengan tiga dupa harum, kemudian ditanam. Bade dibawa ke sudut kuburan, direbahkan, dan jadi rebutan orang. Ada yang mengambil kaca-kacanya, hiasannya, gambarnya. Desa kami, Desa Pujungan, Kabupaten Tabanan, termasuk desa yang unik. Di sini tidak ada pembakaran mayat dalam arti yang sebenarnya ketika upacara ngaben berlangsung. Pembakaran mayat — termasuk pembakaran tulang-tulang itu — dianggap mengganggu kesucian Pura Luhur, yang terletak di puncak Gu- nung Batukaru, jika sampai abu jenazah terbang dibawa angin dan mengotori puncak bukit. Itulah sebabnya, di sini tak dikenal tungku pembakaran, atau lembu-lembu (petulangan). Ngaben kolektif yang meriah ini menghabiskan biaya seratus kuintal kopi — penduduk desa kami memang petani kopi, segala biaya dihitung dari berapa butir kopi yang dihabiskan. Itu masih ditambah tak kurang dari seratus lima puluh ekor babi. Biaya-biaya ini, selain untuk sesajen — banyak contoh sesajen yang berunsur- kan babi — juga untuk honorarium arsitek bade, ongkos pendeta yang didatangkan dari Bali selatan, juga untuk menjamu sekian manusia hampir selama sebulan — setidaknya dalam dua minggu menjelang pelebon — siang dan malam. Saya tak tahu persis berapa para pendompleng ditarik iuran oleh sponsor untuk upacara ini. Tapi, saya tahu pasti, keluarga kami dimintai delapan kuintal kopi. Karena tak punya stok kopi, Ibu menggadaikan sebidang kebun, dan saya sebagai lelaki tertua — walau baru berusia sebelas tahun — harus ikut membubuhkan tanda tangan di depan bendesa (sekarang Perbekel/Kepala Desa) untuk urusan surat gadai. Kebun kopi yang digadaikan itu seka- rang telah dijual, karena utang bertumpuk-tumpuk, kami tak bisa melunasi.

***

KEHIDUPAN petani kopi di kampung kami memang merosot terus setiap tahun, karena kopi yang tua-tua itu terlambat direma- jakan. Di tengah keprihatinan ini, pada 977, warga dadia kami

9

mengadakan lagi ngaben kolektif, dan sponsornya I Wayan Nesa Wisuandha. Ia memang seorang tokoh, baik formal maupun infor- mal. Ia kepala desa, dan ia juga ketua dadia. Ketika ngaben 96,

ia pula yang dimintai tolong memimpin sebagai ketua panitia. Apa yang saya bayangkan semula, ngaben ini akan berhura-

hura seperti dulu, tak terjadi. Justru saya yang kaget — mungkin pula karena saya “merantau”, tak lagi mengikuti perkembangan

di desa. Nesa tidak menitipkan jenazah kakeknya di luar kuburan.

Itu berarti, sang sponsor juga menggunakan jenazah secara sim- bolis. Tiga pendomplengnya tidak dimintai iuran sama sekali, alias gratis. Ngaben ini tidak memakai bade bertingkat tujuh, sebagaimana lazimnya di desa kami. Nesa tak membutuhkan waktu sebulan, atau seminggu, tetapi hanya tiga hari. Dan yang sangat “berani”, Wayan Nesa tidak membutuhkan seorang pendeta yang berstatus peranda — dari kalangan brahmana — sebagaimana yang sudah mentra- disi. Ia mengundang hanya seorang sri empu — sulinggih/ulama dari kalangan warga Pasek — dan tugas ulama ini cuma menga- wasi. Yang memimpin dan menyelesaikan upacara pengabenan itu Wayan Nesa sendiri. Suatu kejutan dan suatu penyimpangan buat masyarakat desa kami. Upacara mungkah — yang simbolis itu — dilakukan dua hari menjelang palebon. Bersama para penngikutnya, mereka datang ke kuburan, membangunkan roh untuk menempati badan kasar yang diwakili sejumput tanah kuburan. Esoknya diadakan upacara pembersihan, yaitu memandikan boneka-boneka yang disebut pengawak itu. Tidak ada hari nyuwung. Tak ada hiburan, tak ada pementasan wayang kulit. Masyarakat yang datang pun tidak banyak. Pada hari palebon, yang mengusung bade kecil ini tak lebih dari enam orang. Memang, ada seperangkat gong mengiringi usun- gan ke pekuburan, tetapi ditabuh sekitar delapan anak-anak kecil, dan asal bunyi saja. Tak ada gender. Tak ada burung cenderawasih. Tidak ada ayam yang dilemparkan. Tak ada hiruk-pikuk. “Toh, upacaranya selesai secara agamawi,” kata Wayan Nesa. “Kalau

menunggu sampai terkumpul uang banyak, kapan bisa ngaben? Dan, dari mana mengumpulkan uang?” Untuk upacara ngaben hemat ini, ia hanya mengeluarkan Rp 00.000 (tiga kuintal kopi). Itu sudah termasuk menjamu warga desa yang datang, dan juga beberapa undangan dari kota kecamatan dan kota kabupaten. Boleh jadi, Wayan Nesa tokoh pembaru di desa kami. Bukan cuma dalam masalah duniawi — ia membawa desa kami menjadi juara pertama lomba desa se-Provinsi Bali tahun 980 — tetapi juga urusan rohani. Ketika saya temui kembali pada awal 986 ini, ia masih tetap mengaku terus-menerus berpikir bagaimana menyederhanakan bentuk-bentuk upacara keagamaan tanpa menyimpang dari ajaran agama. “Apa yang saya renungkan adalah bagaimana menyesuai- kan upacara keagamaan dengan situasi dan kondisi,” katanya. Ketika saya singgung soal ngaben yang hemat dan cukup mem- buat banyak orang tercengang itu — untuk desa kami — ia punya alasan yang layak didengar. “Biaya ngaben yang besar itu sudah di luar batas beban. Padahal beban lain masih banyak, bagaimana membiayai pendidikan anak-anak. Apalagi kalau ngaben dengan berutang dan menjual kebun, sementara pendidikan anak-anak tidak mendapat perhatian. Saya memilih yang terakhir,” katanya lagi. Dan, Wayan Nesa mengakui, cara yang ditempuhnya itu, yang sesuai dengan ajaran agama, dan pernah dikampanyekan menjelang 96, memang sulit dipahami oleh sebagian masyara- kat yang terbiasa ngaben berfoya-foya. “Ngaben foya-foya hanya mengikuti tradisi leluhur kita, yang waktu itu memang sesuai dengan kondisi,” katanya. Wayan Nesa, di kampung kami, seorang intelektual. Lepas umur 0-an, ia tekun mempelajari agama secara otodidak dan mengumpulkan sendiri lontar-lontar dari sana-sini. Pendidikan for- malnya lumayan, drop out sekolah menengah atas di Yogyakarta. Setelah itu ia terjun di politik, menjadi pimpinan partai di tingkat kecamatan, dan bertahun-tahun menjadi anggota DPRD (GR) tingkat kabupaten mewakili Partai Nasional Indonesia. Ketika PNI

berfusi ke PDI — dan sungguh partai ini tidak populer di kampung kami yang pernah jadi basis PNI — ia keluar dari kancah politik dan tekun mempelajari agama. Hanya karena sulit mencari kepala desa (bendesa), ia mau menjalankan tugas pengabdian itu, sambil tetap menekuni agama. Ketika “ilmu agama”-nya dirasakan cukup, ia mediksa kepada seorang pendeta. Mediksa ini semacam ujian kerohanian. Ia dinyatakan “lulus” dan dianggap cukup mampu memimpin upacara vadnya, tetapi tidak meneruskan sampai ke jenjang sulinggih, pendeta Hindu. Kini ia melepaskan jabatan kepala desa — karena berhasil menciptakan kader. Ia membabat kebun kopinya, diganti ceng- kih. Ia aktif mengadakan semacam pengajian. Bahkan di kebun cengkihnya itu, ia seperti mendirikan sebuah pesantren mini, pesantren Hindu. Di kamarnya, yang selalu tercium dupa wangi, tergeletak pesawat radio komunikasi. “Saya suka ngebrik. Saya pernah menuntun seseorang yang kesurupan setan dengan radio ngebrik ini. Yang kesurupan jauhnya sebelas kilometer dari sini, saya memberi petunjuk-petunjuk lewat ngebrik,” ujar Nesa. Pesawat ORARI memang lagi mode di desa-desa pegunungan ini. Tapi, apakah mantra-mantra bisa disampaikan oleh radio ini? “Tentu tidak. Saya paling tidak setuju kalau kemajuan teknologi digunakan untuk kelengkapan upacara keagamaan. Bagaimana kalau nantinya puja-mantra ulama Hindu dikasetkan, dan kaset itu diputar untuk kepentingan agama? Itu hemat yang keblinger,” katanya sambil ketawa. Masalahnya sekarang, bagaimana menerjemahkan kata hemat itu untuk kewajiban yadnya. Nesa kembali mengajak membicara- kan hal-hal dasar dari arti yadnya, yakni beban. Ia ngaben hemat, dengan biaya Rp 00.000, karena saat itu ia sedang membabat kebun kopinya yang tua, dan membeli bibit cengkih. Ia juga ban- yak mengeluarkan biaya untuk anak-anaknya yang disekolahkan- nya di Denpasar. Semuanya adalah beban. “Kalau eengkih saya nantinya membuat saya kaya, dan kewajiban ngaben itu datang lagi, saya akan membuat ngaben yang lebih besar. Kita bekerja keras untuk mendidik anak dan membahagiakan leluhur,” katanya.

Ia memang memimpikan ngaben besar lagi, dan memandangnya perlu. “Karena ngaben bukan sekadar urusan menyempurnakan roh leluhur, tetapi ngaben yang besar berarti pula menghidupkan kesenian, menumbuhkan ikatan sosial, semangat gotong royong.” Ia kemudian merenung sesaat. “Saya percaya, ngaben besar, yang dulunya lebih banyak dilangsungkan di puri-puri, akan masih tetap ada. Kalau tidak di lingkungan puri, ya, di tempat-tempat lain di luar puri, pada keluarga-keluarga kaya,” Desa kami, 6 km dari Denpasar, sama sekali tidak berurusan dengan turis. Kegiatan upacara keagamaan berlangsung tenang, tanpa digoda. Jika pun di sana-sini perubahan cara melaksanakan upacara keagamaan berlangsung juga, itu semata-mata soal biasa, gerak dinamis sebuah agama.

V Berbagai Bentuk Judi Tradisional Bali Penyakit GurunTeko B ALI sedang dilanda gemuruh pariwisata. Hotel

V

Berbagai Bentuk Judi Tradisional Bali

Penyakit GurunTeko

B ALI sedang dilanda gemuruh pariwisata. Hotel interna-

sional bermunculan di kawasan Nusa Dua, daerah yang

sepuluh tahun lalu masih sepi dengan bukit-bukit kapur

gersang. Pulau ini dibanjiri turis asing dari tahun ke tahun, dan banyak orang menjadi kaya dengan memanfaatkan demam baru ini. Tetapi, Gurun Teko tetap saja tak peduli. Ia, Gurun Teko, jauh dari Nusa Dua, jauh dari daerah turis. Ia penduduk Banjar Merta Sari, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan. Ia selalu menyebut dirinya “orang gunung”. Dengan predikat itu, ia merasa tak berhak disangkut-pautkan dengan turis. Dari tahun ke tahun, ia tetap saja seperti itu. Badannya gemuk, suaranya keras menggelegar. Ia kocak dan tak pernah kekurangan bahan guyon — terutama menertawakan dirinya sendiri. Bukan berarti kampung itu dilewati oleh perubahan. Buah kopi sudah mulai langka. Pohon-pohon kopi robusta sudah banyak yang bertumbangan. Gantinya, berdiri cengkih atau vanili. Sepeda mo-

tor sudah pula berlalu lalang membelah kampung itu. Kuda, yang biasa ditunggangi anak-anak gunung itu, sekarang tinggal satu dua. Permainan gasing pun sudah tak lagi jadi kegemaran penduduk. Tak ada sarana bermain gasing, karena tanah padat untuk permainan itu sudah tak ada lagi. Dulu, ketika buah kopi usai dijemur, lahan itulah yang digunakan bermain gasing. Kini, empat buah meja bilyar di kampung itu, barangkali, bisa menggantikan gasing. Orang pada ngantre mengadu nasib di meja ini: ya, seperti halnya gasing, bilyar pun dipakai sarana bertaruh. Ada satu lagi kemajuan yang sangat layak dicatat. Di beberapa rumah, kelihatan ada antena menjulang. Itu antena pesawat radio komunikasi, radio dua meteran. Tetapi, Gurun Teko, tetap saja tak berubah. Menurut penuturan orang, tak pernah ada yang melihat Gurun Teko mampir bermain bilyar. Ia tetap tak bisa berpisah dengan ayam-ayamnya. “Kegema- ran saya, ya, hanya satu itu, tajen. Kalau sehari tak melihat ayam, saya bisa sakit,” katanya suatu kali. Tajen adalah sabungan ayam. Di sebuah siang yang sejuk di lereng Gunung Batukaru itu, saya melihat Gurun Teko tergopoh- gopoh dengan bungkusan di tangan kanannya. Semula, saya men- gira ia membawa pupuk, dan pergi ke kebun cengkih milik orang lain — sudah lama saya mengenalnya sebagai orang upahan. “Beh, kapan pulang dari Jawa. Ayo ikut Guru. Di Jawa, pasti tak ada tajen sehebat di Bali. Ayam Guru pasti menang. Dewa ratu, semalam Guru mimpi disambut bidadari,” katanya sambil ketawa. “Bidadari ”

menyambut Guru yang tak pernah mandi ini, ha

Ia

terpingkal-pingkal sambil mencari daki di lengannya. Guru adalah panggilan seorang anak untuk ayahnya di kam-

pung itu. Si ayah juga menyebut dirinya Guru jika berbicara kepada

si anak, atau orang lain yang bisa dianggap anak. Gurun menun-

jukkan seorang lelaki berkeluarga yang telah mempunyai anak kandung, dan nama anaknya itu melekat di belakang kata Gurun

itu. Jadi, lelaki kocak bertubuh bagai atlet angkat berat ini, punya anak sulung bernama Teko, sehingga nama panggilannya — istilah

di Bali pungkusan — menjadi Gurun Teko. Saya tak tahu siapa

nama asli Gurun Teko — seperti pula anak-anak muda di kampung

ha

ha

itu, jarang yang tahu siapa nama asli ayah-ayah mereka. “Coba pegang bungkusan ini,” ujar Gurun Teko lagi. Saya meraba, dan kaget sekali. Ada ayam terbungkus karung bekas pu- puk. Kok teganya menyiksa ayam seperti itu? “Pakai otak, pakai

otak. Kalau polisi pakai otak, bebotoh juga punya otak. Kalau ayam tidak dimasukkan karung, polisi akan cepat mengetahui ada tajen,” katanya setelah ia membaca keheranan saya. “Jangan bilang-bilang, Putu. Tajen hampir tiap hari ada. Omong kosong bisa dihapuskan begitu saja. Ini warisan nenek moyang, enak saja dihapus,

Gurun Teko kembali ketawa. Dalam angannya, mungkin,

ia telah berhasil mengecoh polisi. Kalau dipaksakan mencari perubahan pada diri Gurun Teko, selain usianya yang bertambah, ya, kebiasaannya membawa ayam aduan itu. Perubahan yang tentu bukan kemauannya. Sejak pemer- intah menghapuskan segala bentuk perjudian April 98, dan sabungan ayam ikut dibreidel, ayam yang setiap hari dielus-elus itu harus tega dimasukkan karung pupuk yang ujungnya diikat kuat- kuat. Dulu, ayam seperti itu, dimasukkan kisa — sangkar khusus yang tak jarang berukir pula. Sabungan ayam pun tak lagi mudah diketahui oleh yang bukan bebotoh (penjudi). Tempatnya berpindah-pindah, dan biasanya — untuk kawasan kampung itu — di sebuah tegalan kosong di tengah-tengah perkebunan kopi. Atau di kuburan desa. Siang itu, setelah berjalan sekitar dua kilometer ke arah gu- nung, kami sampai ke tempat sabungan ayam. Ada sekitar lima puluh petaruh yang hadir. Lalu, sejumlah anak-anak keeil. Ada yang memanjat pohon bermain-main sambil menunggu orang- tuanya berjudi. Ada pula anak kecil yang ikut berjudi. Di bawah pohon nangka, seorang perempuan paruh baya, yang dibantu anak lelakinya, berjualan nasi. Saya cepat mengenalnya, dulu, perem- puan itu pun penjudi juga. Dalam suasana seperti ini, perkebunan kopi menjadi saksi bisu sebuah kemeriahan. Kalau ayam menjelang berlaga, suara para petaruh menyatu menjagokan ayam pilihannya dan berusaha mendapat lawan taruhan. Iramanya indah, bagai paduan suara

yang diiringi sebuah orkestra. Gurun Teko bertindak sebagai saya — semacam wasit yang mengawasi pertarungan ayam itu. Dan ia satu-satunya saya di tajen gelap itu. Belum lagi dua ayam itu dilepas oleh pakembar masing-mas- ing, terdengar mesin sepeda motor menderu. Semua orang menoleh ke arah jalan setapak. Perempuan yang berjualan nasi itu juga dengan sigap mengemasi dagangannya. “Tenang, tenang. Tak ada polisi. Ini bebotoh dari Sanda datang,” teriak seorang anak dari

atas pohon kopi. “Bangsat, bangsat, dewa ratu, tolong mesin honda

.,” teriak Gurun Teko mengumpat

penjudi yang mengagetkan itu. Si penjudi yang berboncengan itu menuntun Yamaha trail ke bawah pohon nangka dekat penjual nasi — di kampung itu setiap sepeda motor, apa pun merknya, disebut honda. Si penjual nasi, perempuan bergigi emas, dengan ramah me- nerima titipan honda itu. Tapi toh, ia juga mengumpat. “Ndas keleng, bikin sakit jantung saja,” katanya. Umpatan kasar-kasar seperti ini hampir sama fungsinya dengan selamat siang atau selamat pagi di Jakarta metropolitan. 0, ya, kalau sabungan ayam sampai digerebek polisi, pedagang ikut diperiksa dan dagangan-

itu dimatikan,

nya disita, dengan tuduhan membantu perjudian, setidak-tidaknya mengetahui ada rencana perjudian tetapi tidak melaporkan ke pihak yang berwajib. “Ayo mulai, ayo mulai. Sudah ada yang berjaga-jaga menga-

wasi polisi. Ayo

ramai lagi bersuara. Cok

,” teriak Gurun Teko. Para penjudi pun mulai

Cok

buik

buik

gasal Teriakan para penjudi ini ada dua jenis: tentang ayam yang

dijagokan, dan tentang sistem taruhan. Suara itu mendadak lenyap, manakala ayam sudah dilepas oleh pakembar (pemegang ayam aduan di arena sabungan), dan ayam mulai berlaga. Hanya dua sabetan, seekor ayam kena pukul, tetapi belum ada darah mengu-

cur. “Saya

.,” teriak seorang pakembar yang ayamnya

berhasil memukul, tetapi lawannya tidak apa-apa. Teriakan ini maksudnya memberi tahu wasit, ada sesuatu yang tidak beres.

saya

Pluk! Gurun Teko memukul sepotong batang bambu di depannya, bunyinya jeiek sekali. Artinya, sebagai wasit ia sependapat, ada yang tak beres. Pakembar yang berteriak tadi langsung menyam- bar punggung ayamnya, walau kedua makhluk itu sedang asyik “bertengkar”. Agaknya, ada yang tak beres pada benang yang mengikat taji — pisau kecil bermata dua yang tajam sekali — di kaki ayam buik itu. Sementara ikatan itu diperbaiki dengan menambah tali benang, para petaruh mulai kedengaran suaranya satu dua, masih mencari

lawan taruh. Tidak seramai tadi, memang. Tentu saja, terlalu riskan bertaruh setelah melihat dua sabetan pertarungan itu.

.,” teriak Gurun Teko memberi aba-aba. Harap

maklum, perintah dalam sabungan ayam selalu harus diteriakkan secara lantang, bukan karena kebetulan Gurun Teko terbiasa ber-

kata keras-keras. Perintah tadi berarti, ayam segera dilepas lagi. Tiga kali sabetan, seekor ayam mengucurkan darah dari perutnya. Tetapi, ia tak mau menyerah begitu saja. Keduanya terus bertarung. Ayam yang mengucurkan darah itu sudah terseok-seok, tetapi bulu lehernya terus berkibar, pertanda tak gentar. Ciat… Satu pukulan lagi dari si buik. Si putih yang terseok itu telentang. Darah mengucur terus membasahi bulunya yang indah. Gurun Teko menghitung sebelas kali “sa, dua, tlu, pat, lima, nem, pitu, kutus, sia, dasa, sa.” Pluk, pluk, pluk. Gurun Teko memukul

bambu di depannya dan berteriak lagi:

khir ini berarti, ada yang telah kalah, dan ada yang telah menang. Tentu saja, tak perlu ditunjukkan kepada petaruh, yang mana kalah- menang itu. “Beh, beh, bagus sekali ayam buik itu berkelahi, tak Guru sangka. Guru bertaruh pada si putih. Kalah dua ribu,” ujar Gurun Teko kepada saya. Tak perlu heran, walaupun ia diangkat menjadi wasit, ia juga bertaruh. Tak ada larangan wasit terlibat dalam taruhan. Dan, walau yang dipertaruhkan itu sedang nahas, wasit tak akan berpihak atau berat sebelah. Risikonya adalah nama baik — dan ini penting sekali untuk seorang penjudi. Sementara itu, ayam-ayam yang akan diadu dicarikan lawan tanding. Satu per satu ayam dikeluarkan dari kantung pupuk, me-

” Teriakan tera-

“Lebang

nikmati kebebasan sesaat. Para penjudi yang tidak membawa ayam ikut berkelompok di tempat pemilik ayam. Yang lainnya membeli nasi, sambil menghitung-hitung uang. Gurun Teko mentraktir saya di warung yang satu-satunya itu. Ia kalah dua ribu, itu berarti lima ribu rupiah. Taruhan adu ayam di Bali selalu menggunakan hitun- gan ringgit (Rp ,0). Sejak dulu begitu, entah kenapa.

***

SAYA baru pertama kali menyaksikan sabungan ayam gelap seperti ini, di tengah perkebunan kopi dan tersembunyi pula. Se- bagai putra Bali yang lahir di lereng gunung, saya akrab dengan sabungan ayam yang resmi, yang dipergelarkan di sebuah balai khusus sabungan ayam yang disebut wantilan. Menyaksikan sabun- gan seperti tadi, tentu saja, saya merasakan kehilangan sesuatu. Banyak sekali sesuatu itu. Wasit — atau yang disebut saya — di sebuah sabungan besar yang resmi dengan izin pemerintah, ada lima orang. Empat saya mengawasi setiap sudut di tengah arena, karena itu dinamai saya bilang bucu. Ia bertugas menyelesaikan perselisihan yang mung-

kin timbul di antara pakembar, dan memberi aba-aba kepada saya yang satu lagi. Saya yang satu itu, duduk di atas menara, membawa kempur — itu gong keeil. Alat yang berbunyi nyaring ini sering

pula disebut kemong, karena bunyinya mong

Saya itu

pun disebut saya kemong. Sarana penting lain yang dihadapi saya kemong adalah sebuah belanga yang penuh air. Lalu ada gayung dari tempurung kelapa yang bawahnya berlubang kecil, disebut ceeng. Gayung tak ber- tangkai ini, kalau diletakkan di atas air di belanga itu, maka ia akan tenggelam perlahan-lahan. Tiga kali ia tenggelam, adalah

waktu yang konon sama dengan hitungan sebelas. Inilah penunjuk waktu dalam adu ayam. Dan kekuasaan saya kemong adalah yang tertinggi. Kalau dalam pertandingan sepak bola, dialah wasitnya, sedang saya bilang bucu adalah hakim garis. Barangkali ada baiknya saya menuturkan perihal tajen ini

mong

lebih rinci. Setidak-tidaknya, inilah upaya saya untuk merekam sebuah budaya judi, yang pada suatu masa nanti mungkin hanya tinggal dongeng. Wantilan itu hampir dipunyai setiap desa adat, sebuah wilayah yang tak sama persis dengan luas kelurahan. Bangunan ini luasnya sekitar 0 X 0 meter. Dibuat berundak-undak menurun ke tengah. Tetapi, persis di tengah itu, dibuat meninggi lagi, nah inilah arena perkelahian ayam. Arena itu bentuknya bujur sangkar dengan sisi sepuluh langkah kaki orang dewasa. Di tengah-tengah arena, ada lagi bujur sangkar kecil bersisi satu langkah, ditandai dengan garis. Ayam yang siap dengan taji dibawa oleh pakembar. Bagi pakembar yang fanatik, ia pasti ke tengah arena lebih awal, untuk kemudian memilih dari arah mana ia melepas ayamnya. Kalau pakembar pertama berada di timur, pakembar kedua mau tak mau harus berada di barat. Langkah awal adalah memperkenalkan kedua ayam kepada petaruh yang mengelilingi arena. Caranya, kedua pakembar mem- bawa ayamnya ke tengah bujur sangkar keeil, dihadap-hadapkan, diadu, tetapi tidak dilepas. Akan kelihatan bagaimana kedua jago itu berdiri tegak dengan leher menjulang. Atau ketika diadu perke- nalan, betapa bulu di leher kedua ayam itu mekar bak ekor burung cenderawasih yang kasmaran. Para penjudi mulai menebak, mana yang layak dijagokan. Ketika sudah cukup perkenalan itu, dan pak- embar berdiri, penjudi di luar arena mulai bertaruh. Pakembar itu pun mengacung-acungkan tangannya yang memegang ayam. Tak jarang, dia juga mencari lawan taruhan lagi, mungkin tidak puas bertaruh dengan pakembar apalagi kalau ayamnya itu unggulan. Ayam diberi nama dari warna dan keadaan bulunya — tidak seperti memberi nama burung perkutut. Bihing nama ayam berbulu merah. Ijo berbulu hijau. Buik, bulunya campuran, warna-warni. Wangkas, pada sayap berwarna merah sedangkan dadanya berisi bulu putih. Serawah, badan dan sayap umumnya berwarna putih, tetapi bulu leher ada yang berwarna hitam. Kelau, bulu berwarna abu-abu. Sa, artinya putih mulus. Brumbun, kombinasi warna

merah, putih, dan hitam. Grungsang, pada bulu sayapnya mel- ingkar seperti kuncir, tanpa mempedulikan warna bulu. Memang, untuk tanda-tanda yang menonjol, nama keadaan bulu itu yang disebutkan. Misalnya, walaupun bulu ayam itu putih mulus, kalau bulu di sayapnya ada kuncir naik, ayam itu disebut grungsang, bukan sa. Keadaan bulu lainnya adalah ook, yaitu bulu lehernya sangat lebat. Godeg, ini ayam yang kakinya tumbuh bulu. Godeg derupa

sama dengan godeg tadi tetapi di dekat lutut tumbuh bulu lagi. Jam- bul, ini sudah umum dikenal, yaitu ada jambul di atas kepala ayam. Khusus untuk sebutan jambul, hanya dipakai jika dua ayam yang bertarung warna bulunya sama. Misalnya, kedua ayam brumbun bertarung, ayam brumbun yang berjambul disebut jambul. Yang satunya tetap brumbun. Tetapi kalau ayam brumbun berjambul itu bertarung melawan ayam buik, maka ia disebut brumbun, bukan jambul. Kemudian ada ayam jantan — semua ayam yang diadu tentu saja ayam jantan — yang sepintas kelihatan seperti ayam betina. Ayam ini, tanpa memandang warna bulunya, disebut papak. Begitu pula kalau bulu ekornya melingkar turun, disebut ayam sangkur, apa pun warna bulunya. Untuk bertaruh, nama-nama itulah yang disebut. Pada setiap pertarungan, selalu ada ayam unggulan. Begitu pakembar mengadakan perkenalan singkat berhadap-hadapan di

bujur sangkar kecil, seseorang berteriak: bihing

Kalau sampai pakembar berdiri tidak ada teriakan yang lain, berarti ayam bihing itulah ayam unggulan. Suara petaruh selanjutnya tidak lagi bihing — atau menyebut nama ayam — tetapi sebutan yang mengarah ke sistem taruhan: cok, gasal, dapang, tindo, apit, satu teng, dan sebagainya. Cok adalah sistem taruhan dengan perband- ingan tiga lawan empat. Misalnya begini. Setelah diketahui ayam

unggulan itu bihing, jika seseorang berteriak: cok

artinya

yang berteriak cok itu memegang ayam yang jadi musuh si bihing. Dengan catatan, kalau ia menang ia mendapat uang sebesar taruhan, tapi jika kalah hanya membayar tiga perempat dari besar taruhan.

bihing

cok

Misalnya kesepakatan bertaruh empat puluh ribu (ingat: ringgit) atau Rp 00.000, jika yang bersuara cok itu menang, ia mendapat utuh Rp 00.000. Kalau kalah, ia hanya membayar Rp 7.000. Gasal artinya sistem taruhan lima banding empat. Dapang, sepuluh berbanding sembilan. Tindo, tiga berbanding dua. Apit, dua berbanding satu. Yang paling ekstrem permintaannya, satu teng atau juga disebut teluin, tiga berbanding satu. Seorang petaruh cukup meneriakkan sistem taruhan, dan yang berminat melawannya tinggal angkat tangan, tanpa berteriak apa- apa. Jadi, petaruh yang berpihak ke ayam bukan unggulan saja yang berteriak-teriak, karena ia berkepentingan mengajukan penawaran sistem taruhan. Kecuali kalau dua ayam yang bertarung padu baret — kelihatan seimbang. Dalam situasi begini, nama ayam masih sering disebut-sebut. Para penjudi bisa melakukan transaksi taruhan dari jarak jauh. Tak perlu datang berhadap-hadapan — bayangkan kalau ini terjadi, lalu lintas jadi kacau dan semrawut. Para penjudi itu memakai kode jari tangannya, sementara uang taruhan tetap di saku atau dompet masing-masing. Kalau pertandingan usai, justru yang ka- lah datang ke tempat yang menang. Atau kalau jarak cukup dekat, uang digulung dan dilemparkan. Uang-uang yang dilemparkan itu tak akan disabet orang lain yang tak berhak. Para penjudi ini tak mengenal kamus curang, misalnya, kalau ada gelagat kalah, buru-buru kabur dan menyelinap di kerumunan orang ramai, atau diam-diam menghilang dan pulang — suatu hal yang sangat mudah dilakukan. Para penjudi seperti punya etika dan mereka yakin, di tempat lain suatu hari pasti bertemu lagi. Yang tadi, cara bertaruh para penjudi yang tak ada sangkut pautnya dengan si empunya ayam. Pemilik ayam punya aturan lain lagi. Perundingan di antara sesama pemilik ayam terjadi pada saat jedah, saat ketika ayam-ayam saling dicarikan lawan. Masa jedah itu biasanya setelah lima pasang pertarungan. Pada saat jedah begini, penjudi tanpa ayam menyerbu judian lain di hala- man wantilan, atau membeli nasi, atau membeli pakaian untuk oleh-oleh anak istri di rumah, atau menonton tukang obat yang

memperagakan sulap. Sistem taruhan di antara pemilik ayam dan kelompoknya (antara lain pakembar, pemilik ayam yang tak berani sebagai pakembar, dan pemilik taji) selalu padu baret, artinya satu band- ing satu. Ini juga ketentuan panitia penyelenggara tajen, untuk memudahkan memungut komisi — yang besarnya sepuluh persen

dari jumlah taruhan. Pemilik ayam tak mengenal istilah cok, gasal, dapang, dan sebagainya. Sebagai kompensasi, karena tak mungkin dua ayam sama besar dan sama kukuh, terjadilah “penyimpangan” dalam mema- sang taji. Ayam yang lebih kecil dan dianggap lebih lemah selalu mendapat perlakuan istimewa. Taji dipasangkan sedemikian rupa

di jari tengah kaki kiri ayam itu dengan benang yang kuat dan

panjang. Pasangan taji membentuk sudut kira-kira 0 derajat dan lurus dengan kaki ayam dilihat dari arah depan. Ayam yang lebih besar mengalah, sampai pada batas-batas yang disepakati. Ada beberapa jenis pasangan yang mengalah itu, yakni merang, mesor, ngacing, ngepe. Merang dibagi lagi dua macam: merang samping,

artinya taji tetap diikat pada jari tengah ayam, tetapi arahnya agak

ke samping dilihat dari arah depan, dan merang dalem, artinya taji

juga diikat pada jari tengah tetapi sudutnya lebih dalam, sekitar derajat. Mesor, yaitu pasangan taji tidak di jari tengah, tetapi di ping- girnya. Tentu saja, tak ada yang menjepit, dan pasti tidak sekuat pasangan taji yang dijepit antara jari tengah, bagaimanapun cara mengikatnya. Ngepe lebih konyol, selain pasangan tajinya tidak kuat seperti mesor itu, taji yang dipasang lebih pendek ukurannya dari lutut ayam — taji normal sama tinggi dengan lutut ayam ketika ayam berdiri tegak. Pemasangan taji disaksikan oleh saya yang jumlahnya empat itu. Pemasang taji begitu profesional, amat cepat, tangannya ber- putar-putar mengulurkan benang yang tadinya tergulung, punya aturan-aturan baku, kapan harus menjepit, kapan berputar, dan sebagainya. Petaruh di luar arena tak harus diberi tahu adanya pe- nyimpangan pemasangan taji ini. Mereka otomatis dianggap tahu,

ketika pakembar mengadakan perkenalan di bujur sangkar kecil.

Wasit memukul kemong. Pakembar, yang mondar-

mandir di arena setelah melewati babak perkenalan itu, diminta kembali menghadapi garis bujur sangkar keeil. Kedua ayam kem-

bali diadu berhadap-hadapan. Ini bukan lagi perkenalan, tetapi uji coba, apakah kedua ayam masih sama beringas. Petaruh pun mulai bertambah keras suaranya, terutama yang belum dapat lawan, kare- na ini kesempatan terakhir. Pada saat inilah biasanya ada petaruh yang meneriakkan apit, atau satu teng, saking penasarannya.

,” teriak wasit kepala, yang di menara itu.

(Lebang artinya lepaskan). Artinya, wasit kepala sudah menyak- sikan kedua jago tetap bergairah berlaga, sehingga diputuskan dilepas. Pakembar berdiri, mundur beberapa langkah sampai di pinggir arena. Dari sinilah ayam itu dilepas. Dua jago itu saling menyongsong lawannya, saling tubruk dan langsung bergumul. Jika terjadi penyimpangan, misalnya, taji menusuk tanah sehingga ayam itu tak bisa bangkit, atau seekor ayam tertusuk taji lawannya, dan taji itu menancap terus tak bisa lepas, saya yang mengawasi pertarungan itu memberi tanda dengan tangannya. Wasit kepala memukul kempur: mong! Pakembar mengambil ayamnya. Setelah dibenahi sambil menggelitik jago masing-masing, ayam dilepas kembali dari jarak jauh. Pertarungan bisa berlama-lama, karena sama kuat, atau sama lemah — ayam itu hanya menggebuk sesekali dan lebih banyak berputar-putar. Atau dalam keadaan sekarat, tak jarang ayam itu hanya mendekati lawannya, tetapi tidak berlaga. Begitu ayam ti- dak berlaga, saya kemong menaruh ceeng di belanga yang penuh air. Jika tempurung kelapa itu tenggelam sampai tiga kali, ayam itu tetap juga tidak berlaga, kemong dipukul. Kedua pakembar mengambil ayamnya masing-masing, kemudian membawa ayam itu ke garis bujur sangkar kecil di tengah arena. Dalam posisi berhadapan langsung itu, ayam dilepas. Sebelumnya leher ayam dipijit, pangkal pahanya digelitik, bulu dekat hidung ditarik, mulut ayam ditiup, badan ditepuk. Maksudnya, supaya ayam itu tambah beringas. Biasanya ayam terangsang untuk berlaga lagi, sampai

Mong

Mong! “Lebang

ada yang betul-betul terkapar kalah. Ayam dinyatakan kalah jika kedua lututnya menyentuh tanah. Sering pula terjadi, ayam itu ngambek, walau sudah berhadapan langsung. (Siapa tahu mereka sadar diperdayakan manusia.) Saya kemong menghitung lagi dengan tempurung kelapa yang dibena- mkan ke air itu. Dan jika waktunya tiba, ayam tetap saja bandel, kemong dibunyikan. Seorang saya di arena berteriak: pruput. Nah, inilah adegan yang menegangkan bagi penjudi sabungan

ayam, seperti adu penalti dalam pertandingan sepak bola. Seorang saya mengambil kurungan dari anyaman bambu. Seorang saya lagi mengambil kedua ayam. Dalam posisi yang bertolak belakang, kedua ayam itu dilepas di dalam kurungan dengan perhitungan ketat dari saya kemong. Ayam mana yang mematuk lawannya lebih dulu, itu dinyatakan menang, asalkan dalam batas waktu hitungan pruput itu lawan yang dipatuk tidak membalas. Tetapi jika dalam batas waktu pruput itu terjadi patuk-mematuk, kurungan diangkat

Artinya, status kedua ayam

dinyatakan berlaga, tak ada menang, tak ada kalah. Sabar, pertand- ingan belum selesai. Ronde selanjutnya diulang seperti tadi, dilepas dari jarak panjang, lalu jarak pendek, dan jika tetap tak ada kalah, kembali pruput. Di ronde pruput ini, sering terjadi keajaiban. Ayam yang lebih parah, lebih menderita, lebih lemah, tiba-tiba mengambil inisiatif mematuk, dan tentu saja dinyatakan menang, kalau lawan- nya tak membalas. Dalam kasus seperti ini, pakembar ayam yang menang dipuji setinggi langit, karena berhasil merangsang ayam yang sekarat itu. Tak jarang, ia menerima hadiah dari petaruh yang menang banyak. Yang jelas, ia akan “laris” sebagai pakembar. Keajaiban sebaliknya, ayam yang segar tiba-tiba di ronde pruput merebahkan lututnya hingga menyentuh tanah. Wah, sial, ayam itu dinyatakan kalah. Pakembar yang sial itu bisa berbulan-bulan tak dipakai pemilik ayam. Ia disebut cali artinya tukang sial. Tidak setiap pruput persoalan kalah menang bisa diselesaikan. Sering pula terjadi, dalam jangka waktu pruput itu, kedua ayam tidak saling mematuk, tetapi juga tak ada yang runtuh sampai lu-

kembali, dan saya berteriak: palu

tutnya menyentuh tanah. Maka, dinyatakan seri, alias draw. Seri di ronde pruput ini, kedua ayam diambil pemiliknya dan langsung disembelih. Ayam yang sial. Kalau seri sebelum berlaga — pada waktu perkenalan atau saat sebelum dilepas dari jarak panjang — ada juga, misalnya, salah satu ayam mogok bertanding. Ayam yang mogok itu dipelihara baik-baik, dan tidak dinyatakan ayam sial. Ayam yang kalah menjadi hak pemilik ayam yang menang, disebut cundang. Sedang pemilik taji yang ayamnya menang mendapat bagian sepotong paha dari ayam cundang itu, selain tentu saja menang bertaruh. Pemilik taji yang ayamnya kalah mendapat betis ayam cundang — mungkin supaya praktis mengembalikan taji ke pemiliknya, tak usah lagi membuka ikatan benangnya pada saat itu. Arena sabungan ayam adalah pesta pora masyarakat pedesaan. Hura-hura yang dinanti-nantikan warga desa. Ketika saya kecil, tak jarang sampai bolos sekolah, atau pulang sebelum waktunya, agar bisa ke tempat sabungan ayam. Lebih-lebih, letak sekolah berdekatan dengan wantilan, bahkan halaman sekolah jadi tem- pat parkir dan tempat tukang sulap menjajakan obatnya. (Begitu kami menyebut, karena kami menganggap jual obat itu sambilan. Buktinya, ketika tukang sulap mulai menawarkan obat, kerumunan menghilang, dan kemudian datang lagi ketika sulapan dimulai). Di sebuah desa yang ada sabungan ayam, warga desa itu tidak dipungut karcis masuk ke kompleks wantilan. Namun, setiap ke- pala keluarga, suka atau tidak suka berjudi, wajib membawa ayam, disebut kena uran (kemungkinan besar kata ini berasal dari iuran). Ketentuan ini umum ada di mana-mana, di seluruh pelosok desa di Bali. Secara tak langsung, setiap lelaki dewasa di Bali diwajibkan menjadi penjudi — dengan wajib kena uran itu. Kalau tidak, di- denda. Maka, saya teringat seorang paman saya, yang tak fanatik berjudi. Setiap ada sabungan ayam di desa, yang panitianya dip- impin kepala adat karena untuk menggali dana guna perbaikan pura atau persembahyangan, ia meminjam ayam dari ayah saya. Kalau ayah tak punya stok ayam yang layak dipertandingkan, Paman

diberi ayam yang belum siap dengan pesan “jangan diperlagakan”. Risikonya, Paman hanya membawa ayam itu ke wantilan untuk dilaporkan ke panitia, kemudian diam-diam, ayam disembunyikan di sebuah warung. Supaya tidak ada pakembar atau petaruh lain yang coba-coba mencarikan lawan tanding. Setiap ayam berstatus uran, yang tempatnya di pinggir bawah arena, boleh diambil setiap penjudi untuk dicarikan lawan. Tetapi jadi tidaknya berlaga diten- tukan oleh pemiliknya, dengan alasan yang cukup diterima akal sehat — untuk ukuran penjudi. (Kalau alasannya tak punya uang taruhan, atau tak suka berjudi, itu sih “akal sakit” bagi penjudi, dan saya memutuskan ayam diperlagakan). Ayah saya, terutama pada saat beliau kembali punya kesibukan mengurus kesenian, juga sering membohongi panitia tajen. Beliau memasukkan ayam uran, kemudian dijaganya terus. Setiap ada yang mau mengambil, Ayah mengatakan, sudah diperlagakan tadi. Beberapa jam kemudian, Ayah keluar wantilan, dengan senyum- senyum. Kalau ditanya, dikatakannya ayamnya sudah menang. Kok tidak ada cundang? “Dijual ke warung, tanya saja anak saya ini,” jawab Ayah. Dan ketika saya ditanya, saya mengangguk, sesuai dengan pesan Ayah. (Suatu hari, saya pernah bertanya: apakah ber- bohong itu baik dan bukannya dosa, dan jawaban Ayah — sampai kini saya kenang sebagai sebuah “ajaran” — orang dibenarkan berbohong kepada lima jenis orang: antara lain, boleh berbohong kepada penjudi untuk menghindari judi itu sendiri). Sabungan ayam tetap saja pesta di tengah langkanya hiburan di pedesaan, sebelum 980-an itu. Anak-anak, yang memang bebas dari karcis masuk, lebih banyak berjudi di halaman wantilan. Atau hilir mudik mencari bulu ayam di saat jedah pertarungan. Atau melayani penjudi yang menang, misalnya, membelikan rokok akan diberi uang lelah yang cukup untuk makan mewah di warung nasi. Tapi, uang lelah ini umumnya dipakai berjudi. Di keramaian sabungan ayam, taruhan dan judi tak hanya pada ayam-ayam yang berlaga. Di luar itu, judi jenis lain bertebaran.

***

SAYA, tentu saja, sangat akrab dengan judi-judi itu. Tak ingat, kapan persisnya saya belajar berjudi. Mungkin ketika di kelas sekolah rakyat (SR), ketika usia baru saja delapan tahun. (Saya memasuki SR pada usia lima tahun). Di kelas itu, saya pertama kali

mendapat pelajaran huruf Bali. Dan, saya tak puas dengan pelajaran

di sekolah, saya pun belajar pada Ayah di rumah. Ayah banyak

memiliki lontar. Ada lontar mengenai pengobatan, dewasa ayu, upacara, dan lontar pegangan untuk penjudi. Lontar terakhir ini yang paling mudah dibaca. Hurufnya lebih besar dan lebih jelas. Selain itu, kalau saya membaca lontar yang lain, kakak-kakak saya sering mengejek, “belum apa-apa sudah membaca lontar un- tuk orang dewasa, nanti giginya putus semua.” Jadilah saya asyik membaca lontar pegangan untuk penjudi. Dan, saya pun mem- praktekkannya, bagaimana kita berebut arah kalau menghadapi

arena judi, berdasarkan baik-buruknya waktu dan juga berdasarkan “urip” sebuah hari. Kurang lebih, pada masa itulah saya mengenal judi tingkat pemula, yakni bermain dadu. Di desa saya, permainan ini disebut kocok-kocok, lantaran sebelum ditebak, dadu yang berjumlah tiga

itu dikocok dulu di kaleng yang tertutup. Lewat pengetahuan yang

diperoleh di lontar, saya memilih tempat duduk. Misalnya, hari Senin Pahing. Senin urip-nya sekian, Pahing sekian, lalu digabung, dan dicocokkan, maka duduknya sebelah sana. Selasa Umanis (di Jawa, Selasa Legi; Umanis/Manis = Legi) tentu lain lagi. Pelaja- ran-pelajaran itu komplet ada dalam lontar. Dari Ibu, saya selalu memperoleh uang untuk berjudi. Saya lelaki pertama setelah keempat kakak saya semua perempuan, jadi saya amat dimanja. Kakak sulung saya, yang kawin dengan guru sekolah — itu sebabnya saya bisa sekolah dalam usia lebih muda — sering juga memberi uang, dengan perjanjian kalau menang, hasilnya dibagi. Dia — dan suaminya — tak melarang saya berjudi. Meski sudah mempraktekkan isi lontar, saya merasa tak sering menang. Masih amat kecil, saya sering diajak Ayah ke tempat sabungan ayam yang jauh dari desa saya, dengan berkendaraan carteran.

Saya ingat, pernah diajak ke Pura Taman Ayun, Mengwi, tempat sabungan ayam yang paling bergengsi hingga tahun 970-an. Ayah selalu membawa ayam. Tapi Ayah tak pernah menjadi pakembar, karena Ayah takut memegang ayam yang sudah dipasangi taji. Lagi pula, tampaknya Ayah takut menjadi pusat perhatian ribuan

— ya, kalau di Taman Ayun ada sabungan ayam lebih dari ribuan

— penjudi. Saya tak pernah bisa bertaruh untuk ayam. Saya tak akrab den- gan ayam, jadi tak tahu mana yang pantas diunggulkan. Kalau ke tempat sabungan ayam, saya bermain judi di luar wantilan. Urutan kegemaran saya, ini sesuai dengan tingkat usia: main dadu, keles, trui. Kalau terpaksa, baru saya ikut judi togtog. Main dadu agaknya tak perlu dijelaskan. Mudah sekali. Ada tiga buah dadu ditaruh di dalam sebuah piring, kemudian ditutup kaleng, lalu dikocok, lantas ditebak oleh petaruh, lewat selembar kain yang digelarkan yang sudah berisi angka-angka berupa lam- bang, sesuai dengan mata dadu. Permainan ini pun semakin matang dalam teknik mengocok. Belakangan, tak perlu bandar mengocok keras hingga berbunyi, tetapi digoyang ringan saja. Bahkan di bawah piring ada alas yang empuk, sehingga tak kedengaran bunyi dadu berbalik di dalam kotak. Sukar sekali menebak, apakah dadu itu benar-benar berbalik, dan ke arah mana. Saya biasanya punya teknik menebak. Kalau bandar men- gangkat piring itu ke atas, maka sisi depan menjadi di atas. Kalau digeser ke kiri lalu diangkat kecil, angka di sisi kanan yang di atas. Tentu tak pasti, tergantung seberapa keras mengocoknya. Lagi pula, harus diperhatikan posisi dadu sebelum ditutup kaleng, kemudian harus pula diperhatikan, apakah bandar dadu tidak memutar piring itu. Kalau diputar, berapa sudut. Soalnya, mata dadu sudah ada ketentuannya. Di bawah bilangan satu, pasti enam, di bawah dua angka lima, di bawah tiga angka empat. Atas dan bawah selalu angkanya berjumlah tujuh. Kalau permainan dadu, petaruh langsung melawan bandar, tetapi keles, trui, dan togtog berbeda. Penyelenggara judian ini disebut belandang. Dia hanya menarik jasa dari permainan itu.

Dari setiap penjudi yang menang, belandang memungut cukai — istilahnya memang begitu — sepuluh persen. Bandar taruhan berganti-ganti di antara penjudi. Siapa yang menang taruhan paling banyak, dia yang berhak dan ditunjuk menjadi bandar taruhan. Ketiga jenis judi ini menggunakan empat bidang taruhan, ses- uai dengan arah empat mata angin: utara, barat, selatan, dan timur. “Nilai” satu yang menang utara, dua barat, tiga selatan, dan empat timur. “Nilai” selanjutnya berputar seperti itu, jadi lima dan sem- bilan yang menang utara, enam dan sepuluh barat, dan seterusnya. Kalau yang menang bidang barat, pemasang di bidang timur kalah. Utara dan selatan, draw. Petaruh yang menang di barat dibayar lebih dulu dari uang petaruh yang kalah di timur. Kalau yang menang di barat lebih banyak sehingga tak eukup dibayar dari uang taruhan yang kalah di timur, barulah bandar taruhan mengeluarkan uangnya, sampai sebatas yang diperjanjikan sebelumnya. Artinya, bandar kalah. Putaran selanjutnya, kedudukan bandar diganti oleh pemenang terbesar. Kalau yang menang di barat itu lebih kecil dari yang kalah di timur, berarti bandar taruhan menang. Ia berhak terus sebagai bandar. Kemujurannya, tergantung sisa uang dari selisih timur dan barat itu, dan berapa jumlah modal sang bandar. Misalnya, bandar hanya mengumumkan bermodal Rp 00.000, uang itu ditaruh dide- pan tempat duduknya, sementara selisih uang di timur dan barat di atas seratus ribu, kelebihan uang itu dikembalikan kepada pema- sang yang terkecil, yang kalah di timur tadi. Kenapa yang terkecil? Untuk permainan keles dan trui, yang paling berkuasa adalah jum- lah taruhan terbesar. Siapa yang besar taruhannya, ia yang paling awal menerima bayaran, dan risikonya paling awal pula diambil uangnya jika kalah. Yang kecil-kecil dilayani terakhir. Keles menggunakan uang kepeng Cina, tetapi bukan yang digunakan untuk upacara keagamaan. Bentuk uangnya lebih be- sar, tetapi lebih tipis. Gambarnya lebih indah. Disebut pipis jai. Jumlahnya seratus dua puluh biji. Uang itu digeletakkan di depan belandang. Bandar mengambil uang itu sebagian dengan tangan kanannya. Supaya lebih dramatis dan membuat asyik ditebak, cara

mengambilnya sedemikian rupa seperti memijit-mijit. Kemudian digenggam dan diangkat, tak boleh berceceran. Uang jai itu lalu dimasukkan ke tempat yang telah disediakan, biasanya mangkuk. Nah, petaruh memasang uangnya berdasarkan perkiraan, berapa jumlah uang kepeng yang diambil bandar itu. Jika petaruh sudah meletakkan uangnya di bidang yang di- ingininya, belandang bertanya kepada bandar apakah ia menaikkan modalnya. Tentu saja, bandar akan melihat posisi taruhan sebelum menentukan sikap. Ia tentunya punya tebakan, berapa jumlah uang yang diraihnya tadi. Bisa jadi tebakannya meleset, namanya saja judi. Namun, penjudi profesional selalu menebak tepat berapa jum- lah kepeng yang berada di genggamannya. Yang disebut modal itu sebesar ia tadi menang taruhan setelah dipotong cukai. Tak boleh modal dikurangi dari jumlah itu. Kalau ditambah, silakan. Setelah bandar menentukan sikapnya, ditambah atau tidak modalnya, belandang menghitung uang kepeng. Caranya, dike- luarkan empat-empat. Cepat sekali, dan persis empat-empat. (Kalau tak bisa menghitung persis dan cepat, jangan harap bisa jadi belandang yang digemari petaruh). Setelah uang kepeng itu tinggal belasan di tangan belandang, biasanya dikeluarkan dengan serentak, dilempar lurus berbaris. Kalau sisa itu sebelas, penjudi akan berteriak: selatan. Ini bagi yang menang. Sebelas dibagi emat tentu sisa tiga, nah, tiga itu milik selatan. Permainan trui hampir sama dengan keles, cuma alat yang dipakai berbeda. Yakni bola bundar putih dari sejenis batu-batuan atau kristal, lebih kecil dari telur ayam. Tidak persis bundar seperti bola, memang. Pada dua ujung yang lonjong (lonjongnya juga kentara sedikit saja) ditaruh angka kecil: satu dan dua. Tentu bu- kan angka Latin, tapi perlambang seperti halnya mata dadu atau mata domino. Kemudian sisi lain lambang bilangan tiga sampai enam. Dua bola trui itu oleh bandar taruhan diputar di sebuah pir- ing khusus, bersih mengkilat tanpa debu sedikit pun, dan letaknya rata betul. Dalam permainan keles, penjudi memasang setelah bandar mengambil uang kepeng, tetapi main trui kebalikannya. Penjudi

memasang lebih dulu pada bidang-bidang yang tersedia. Setelah usai, belandang memberi perintah kepada bandar taruhan untuk melepas dua bola trui itu ke piring. Cara memutar terserah tabiat para bandar. Bisa dua beriringan mengarah putaran jarum jam, bisa sebaliknya, bisa pula hanya satu bola diputar, yang lain diam sehingga terjadi benturan. Sekali lagi, tergantung perangai dan ulah si bandar. Namun, ada syaratnya, tentu. Kalau bola trui itu sampai keluar dari piring, satu kali dapat ampun. Dua kali dalam satu periode sebagai bandar, ia didenda. Modal dasar bandar di- ambil paksa dan dibagikan kepada pemasang dengan urutan yang terbanyak bertaruh, tak peduli bidang mana. Ini namanya bandar kena gebog. Dua bola trui itu memang bergulir sangat rawan menjelang putarannya habis. Di sini, petaruh biasanya memberi semangat dengan menggoyangkan badannya ke samping atau ke belakang. Tidak boleh menggoyangkan badan ke depan, ke arah piring itu, karena bisa menimbulkan angin dan mempengaruhi gerak bola. Setelah kedua bola berhenti, diperkirakan tidak akan bergoyang lagi, belandang mencolek piring, pertanda angka paling atas dari kedua bola trui itu sah untuk nilai kemenangan. Dua angka itu digabung. Misalnya, yang satu angka enam, satunya lagi angka empat, berarti sepuluh. Barat yang menang. Kalau ada petaruh yakin sampai bisa mengalahkan bandar, ia langsung mengambil dua mata trui itu dengan cara khas penjudi, ditangkap seperti me- nyambar ayam. Lalu dikocok-kocok sampai menimbulkan bunyi. Ini luapan kegembiraan. Petaruh jenis judi ini tak boleh meluapkan rasa senangnya melalui teriakan, seperti misalnya dalam sabungan ayam. Untuk permainan keles dan trui, petaruh bisa memegang dua bidang. Ini dinamakan pasangan ngurat. Yaitu uang ditaruh pada garis pemisah dua bidang berdekatan, utara barat, utara timur, selatan barat, selatan timur. Penjudi yang bertaruh ngurat utara barat, akan kalah kalau yang menang timur. Juga kalah, kalau yang menang selatan. Sebaliknya, ia menang jika utara atau barat yang beruntung. Tak ada istilah seri untuk sistem ini.

Cara ini juga bisa dipakai untuk mendapat hasil kemenangan berlipat, lebih besar dari uang taruhan. Disebut gandeng. Misalnya, saya bertaruh di barat Rp .000, dan Gurun Teko memasang di selatan dalam jumlah yang sama. Saya bisa berunding dengan Gurun Teko, bagaimana kalau gandeng. Kalau Gurun Teko setuju, tentu saja, pasangan ditaruh ngurat barat selatan, berarti taruhan itu bernilai Rp 0.000. Nah, kalau barat menang, saya mendapat bayaran Rp 0.000 padahal uang yang dipertaruhkan cuma Rp .000. Uang Gurun Teko dikembalikan. Celakanya, kalau kemu- juran berada di utara, uang saya ikut amblas. Padahal, kalau tidak gandeng, mestinya seri. Dalam sistem gandeng, seri hanya terjadi kalau pasangan gandeng kita yang mujur. Kemudian ada lagi petaruh tingkat tinggi, yang hanya berani memegang satu bidang saja. Namanya pasangan deris. Prinsipnya sama dengan gandeng, tetapi pemain gandeng itu sekaligus jadi lawan kita. Kalau dalam contoh tadi, kemujuran berada di barat, maka dari uang taruhan saya yang hanya Rp .000 itu, saya mendapat bayaran Rp 7.000. Lima puluh ribu bayaran biasa, Rp .000 lagi dari Gurun Teko. Dalam hal ini tak ada istilah seri. Kalau tidak kalah, ya, menang. Taruhan dalam permainan togtog sedikit beda. Togtog me- makai uang kepeng sebanyak 6 biji. Ada seonggok kayu atau bata merah sebagai alas tangan menangkap uang kepeng. Bandar memegang uang itu di tangan kanan. Tangan kiri siap menangkap uang yang dilempar tangan kanan. Menangkapnya dengan telapak tangan bertumpu ke kayu itu, seperti menepuk nyamuk di lantai. Petaruh menebak bunyi uang yang ditangkap bandar, karena tak mungkin bisa melihat uang yang ditangkap itu. Prosesnya terlalu cepat. Bedanya dengan keles atau trui, petaruh saling mendahului melempar uang taruhannya pada bidang-bidang taruhan. Yang paling cepat menebak dan memasang uangnya, berarti uangnya berada di deretan terdepan. Nantinya, paling awal pula dilayani, baik menang maupun kalah, walau jumlahnya kecil. Setelah semua petaruh memasang, dengan urutan siapa paling cepat, belandang memberi isyarat kepada bandar, apakah uang

kepeng di bawah telapak tangan kiri itu ditambah lagi atau tidak. Menambahnya tentu saja di luar, tidak dimasukkan. Jika ditambah, petaruh juga berhak berpindah sesuai dengan tambahan uang kepeng itu. Misalnya, kalau diperkirakan uang kepeng di bawah telapak tangan kiri bandar cuma lima, petaruh tentu memasang di utara. Kalau ditambah dua, berarti ada tujuh, petaruh pindah ke selatan. Apa, sih, gunanya menambah uang kepeng itu? Inilah seni tog- tog. Togtog tak mengenal nilai angka kemenangan di atas sepuluh. Kalau uang kepeng sepuluh, yang menang bidang barat — seperti judi lainnya — tetapi di atas sepuluh sampai enam belas, tetap saja yang menang bidang barat. Di sinilah bandar dan petaruh sal- ing mengadu kelicikan. Seorang profesional bisa memberi kesan uang kepeng yang ditangkap tangan kirinya sedikit sekali, padahal sebenarnya jumlah itu banyak. Atau kedengarannya banyak, tapi sesungguhnya sedikit. Teknik ini bisa dipelajari dari cara meme- gang uang kepeng — longgar atau padat — dan cembung tidaknya tangan kiri yang menangkap itu. Contohnya, bandar taruhan mengatur — memang bisa diatur sebelum dilempar oleh tangan kanan — uang kepeng itu delapan biji. Setelah ia melihat banyak petaruh memasang di timur, tentu saja ia akan kalah. Bandar pasti main coba-coba dengan jalan menambah uang kepeng itu. Mula-mula satu, pemasang di timur bergeser ke utara. Tambah satu lagi, petaruh bergeser ke barat. Tambah satu lagi, berarti sebelas, ada petaruh yang bergeser ke selatan. Tambah satu lagi, sekarang dua belas, ada petaruh yang bergeser lagi ke timur. (Kalau saya berjudi di sini, saya pasti batal bertaruh, saya mudah terjebak). Kenapa petaruh itu terus mengikuti jumlah uang kepeng tambahan? Mereka tadi memasang di timur, karena mengira uang kepeng di tangan kiri bandar hanya empat, bukan delapan. Empat ditambah empat menjadi delapan, sama saja yang menang timur. Terjebak, petaruh ini akhirnya kalah, karena uang kepeng yang dua belas itu memenangkan barat. Begitulah akal-akalan judi ini. Bandar taruhan yang cerdik bisa memasukkan uang kepeng sepuluh biji dengan bunyi seolah-olah

cuma dua. Tapi bisa memasukkan dua dengan bunyi seperti banyak. Tentu saja, petaruh pun cukup cerdik menebak. Juga dengan cerdik melihat perubahan wajah bandar taruhan. Si bandar juga pintar bermain sandiwara. Misalnya, sebelum menambah, ia pura-pura menghitung uang yang sisa, kesannya ada banyak sisa, padahal hanya beberapa biji. Penjudi togtog adalah aktor-aktor yang baik. Terus terang, saya lebih sering kalah berjudi di tempat ini, sulit menebak, apalagi dengan cepat. Saya hanya bermain togtog kalau keles dan trui sudah penuh sesak. Keles, trui, togtog, dan kocok-kocok selalu ada di luar arena tajen, di halaman wantilan. Fungsinya memanfaatkan waktu je- dah sabungan ayam. Namun judian ini juga muncul di keramaian, misalnya, di luar arena pertunjukan kesenian, bahkan tragisnya di halaman pura ketika persembahyangan berlangsung. Masih ada judi tradisional Bali, yang lebih bersifat pribadi, karena pemainnya terbatas, yaitu ceki dan domino. Ini judi kelas rumah. Ceki — dimainkan lima orang, karena itu secara bergurau disebut judi pancasila — menggunakan kartu Cina (tapi sudah dicetak di Bali), berjumlah seratus dua puluh. Semuanya punya nama. Setiap jenis berjumlah empat, jadi dari keseluruhan kartu itu ada tiga puluh macam. Tiga puluh ini terbagi lagi menjadi sepuluh persekutuan. Cara berjudi ini rumit dan sulit menjelaskan tanpa “prak- tek langsung”. Saya sudah bisa “memainkan” sejak kelas lima sekolah dasar (sekolah rakyat), dan sampai sekarang masih tetap hafal nama-nama kartu itu — walau bertahun-tahun tak pernah memainkan lagi. Akan halnya domino, saya kurang suka. Main domino di Bali menggunakan kartu lima di tangan, dan satu kartu diletakkan se- bagai pembuka, tidak diturunkan oleh pemain, seperti umumnya main gaple di Jawa. Dengan begitu, ada kartu sisa yang tidak dipakai, karena pemain domino hanya empat orang. Kalau seorang pemain tak bisa menjalankan kartunya, ia harus mematikan sebuah kartunya dan menaruh di bawah tertelungkup. Jadi, selain menebak

kartu lawan, penjudi domino versi Bali juga harus bisa menebak kartu apa yang tidak main. Penjudi profesional di Bali akan heran melihat permainan domino di Jawa yang umumnya semua kartu dimainkan, dan kalau tidak jalan lewat begitu saja. “Gampang sekali, tinggal menebak kartu di tangan pemain,” begitu komentar orang di desa saya, ketika saya memperkenalkan permainan gaple versi Jakarta. Mengocok domino di Bali tak boleh lebih dari dua kali. Kartu itu cukup dihura-hura di bawah, kemudian setelah terkumpul, dikocok sekali saja. Lebih dari sekali, apalagi berkali-kali, tidak sah. Dianggap curang, karena bisa mengatur letak kartu-kartu itu. Memang penjudi domino di Bali cerdik sekali mempermainkan kartu yang hanya 8 buah itu, kalau boleh dikocok lebih dari sekali. Beda dengan di Jawa, kartu malah dikocok berkali-kali untuk menghindari tuduhan curang. Karena agak pribadi itulah, dan sifatnya membutuhkan ke- tenangan, judi ini diselenggarakan di rumah-rumah, atau menemani begadang melayat orang kematian. Jarang menemani judi yang ingar-bingar seperti tajen itu.

***

SEJAK April 98, semua jenis judi itu, secara resmi, telah jadi hikayat masa silam. Keponakan saya bercerita, seorang polisi pernah memaksa dua anak di desa saya memakan sebuah kartu domino, sebagai bentuk hukuman. Sabungan ayam, ada kekecualian. Masih ada yang resmi dengan izin pemerintah. Tetapi tanpa embel-embel taruhan, tanpa hukum-hukum yang berlaku sebagaimana sabungan ayam untuk para bebotoh. Ini adalah jenis sabungan ayam yang berkaitan den- gan upacara keagamaan, yang disebut tabuh rah. Karena itu pula, tempatnya tidak di wantilan, tetapi di jaba pura — bagian paling luar sebuah pura. Jumlah pertarungan dibatasi hanya tiga pasang, lazim disebut tiga saet. Tabuh rah mempunyai landasan konsepsional dalam agama

Hindu. Yakni merupakan sarana untuk mengharmoniskan hubun- gan bhuwana agung dengan bhuwana alit. Di dalam pengertian harmonis, terjadilah penyatuan unsur-unsur yang sesuai. Jadi, yadnva (pengorbanan suci) kepada Panca Maha Bhuta haruslah menggunakan “sarana yang sesuai” dengan unsur-unsur di dalam Panca Maha Bhuta itu. Unsur itu, yang paling dominan, adalah zat cair. Di bhuwana agung zat cair ini diwakili oleh air, sedang di bhuwana alit diwakili oleh darah merah. Di dalam ajaran agama Hindu disebutkan, kalau menghar- moniskan hubungan antara dua jagat itu datangnya dari bhuwana agung ke bhuwana alit, maka sarananya adalah air, ini yang disebut tirta atau air suci. Sebaliknya, dari badan kecil ke dunia mahaluas, sarananya adalah darah hewan, dan ini disebut tabuh rah. Upacara ini tergolong Bhuta Yadnya, salah satu dari Panca Yadnya itu. Masalahnya adalah, kenapa untuk acara tabuh rah itu, dua ayam mesti diperlagakan. Kenapa tidak disembelih saja, dan da- rahnya dipercikkan di tempat upacara? Kembali lagi kepada ciri khas orang Bali sejak dahulu, se- lalu me-”nyeni”-kan jalannya upacara. Diperkirakan, “kesenian” tabuh rah ini muncul di awal abad ke sebelas, pada pemerintahan Raja Udayana. Ini diperkuat dengan ditemukannya prasasti Batur Abang bertahun 9 Saka (0 Masehi). Ada sepotong kalimat bertulis: “Mwang yan pakaryyakarya, masanga kunang, wegila ya manawunga makanlang tlung parahatan, ithanya. tanpamwila tan pawwata ring nayaka saksi.” Arti bebas: “Bila mengadakan upacara-upacara, misalnya tawur kesanga, patutlah mengadakan sabungan ayam tiga angkatan (saet) di desanya, tidaklah (perlu) minta izin, tidaklah memberitahukan kepada pengawas (pemer- intah).” Prasasti Batur Abang ini didukung lagi dengan prasasti Batuan yang bertahun 9 Saka (0 Masehi), yang menulis sebagai berikut: “Kunang yan manawanga ing pangudwan maka tang tlung marahatan, tan pamwitan ring nyaka saksi mwang sawung tunggur. tan hana minta pamili.” Artinya: “Adapun bila mengadu ayam di tempat suci dilakukan tiga angkatan (saet) tidak minta

izin kepada pemerintah dan juga kepada pengawas sabungan tidak dikenai pajak.” Dari kedua prasasti yang ditemukan di tempat terpisah itu, diduga penyelenggaraan tabuh rah sudah “diselewengkan” sejak beratus tahun yang lalu. Tabuh rah ini memang dilakukan tatkala tawur ke sanga (sehari sebelum Hari Raya Nyepi — tahun baru Saka), dan juga diselenggarakan di tempat suci (pura) setelah selesai upaeara Dewa Yadnya. Namun, ketika para pemuka agama di Bali mengadakan seminar Januari 98, yang membahas acara tabuh rah ini, tak ditemukan dalam lontar dan kitab suci ajaran Hindu bahwa tabuh rah mesti dengan perkelahian dua ayam. Dengan begitu, prasasti Balur Abang dan Batuan, keduanya tidak relevan untuk dikaitkan dengan agama. Prasasti itu lebih berbicara sebagai catatan tentang sabungan ayam, bukan dalam kaitan pelaksanaan tabuh rah. Semi- nar akhirnya menetapkan bahwa tabuh rah tidak harus dilakukan dengan menyabung ayam, boleh dengan menyembelih. Sebuah kesimpulan lunak untuk menjaga perasaan umat. Masyarakat Bali adalah penganut gugon tuwon. Apa yang sudah diwarisi berabad lalu seolah senilai sama dengan agama. Antara warisan budaya dan ajaran agama, terkadang sulit diadakan pemisahan, lebih-lebih bagi masyarakat pedesaan yang berpendi- dikan rendah. Jadi, mereka tak bisa melepaskan begitu saja tabuh rah dalam versi lama, yakni menyabung ayam. Dan pemerintah daerah, dalam rangka menjaga perasaan umat beragama itu, men- gizinkan adanya sabungan ayam tiga saet di tempat suci — pada bagian luar yang disebut jaba. Mencegah adanya penyimpangan, izin baru diberikan setelah pukul tiga sore hari. Maksudnya, kalau penyelenggara nakal, mengadakan lebih dari tiga pasang pertarun- gan, malam pun keburu datang. Pantang menyabung ayam pada senjakala. Tentu saja, dalam izin itu dilarang keras adanya taruhan — suatu hal yang amat sulit dikontrol, karena jaba pura adalah tempat bersenang-senang. Kalau sekarang ini ada sabungan ayam yang resmi, jenis inilah adanya.

***

KAMI pulang menjelang sore. Gurun Teko tak mau berterus terang apakah ia menang atau kalah. “Besok ada lagi tajen di dekat kuburan. Kalau mau ikul, datanglah lebih pagi,” ujarnya. Apa tidak takut digerebek polisi? Ia ketawa. “Beh, jangan takut. Di sini banyak hate. Di kuburan, ada panitia yang membawa hate, di jalan orang yang mengawasi polisi juga membawa hale.

Begitu ada polisi, hate-hate itu saling ngebrik. Beh, beh, polisi di

sini, hate saja tidak punya. Ha

alat, kalah akal, kalah macam-macam terpingkal-pingkal.

Ini memang kemajuan lain lagi dari begitu mewabahnya pe-

sawat komunikasi radio amatir, terutama jenis HT — kebanyakan pesawat liar atau setidak-tidaknya baru memperoleh izin lokal dari ORARI setempat tanpa callsign dari Perumtel. Para penjudi pun sudah memakai sarana ampuh ini, untuk mengumumkan di mana dan kapan ada sabungan ayam, juga memonitor gerak-gerik polisi. Judi gelap juga bukan milik desa-desa pegunungan. Di Den- pasar, kota yang sedikit banyak dibangun pula dari hasil judi, sabungan ayam gelap tetap ada. Dulu, sabungan ayam resmi ber- pusat di bagian barat kota dengan kompleks yang bernama Taman Hiburan Setra Gandamayu Pemedilan. Sebelum judi dihapuskan,

polisi kalah, kalah .” Gurun Teko ketawa

ha

ha

Pemda Kabupaten Badung mendapat uang rata-rata Rp 0 juta sebulan dari judi ini. Sekarang sabungan ayam gelap pindah ke bagian timur kota, di sekitar wilayah Yang Batu. Para penjudi menyebutnya branangan.

Di wilayah Bali timur — Kabupaten Gianyar, Klungkung,

dan Karangasem — lahir pula istilah baru untuk menyebut sabun- gan ayam. Yakni gamang. Gamang sebenarnya nama salah satu makhluk halus versi Bali. yang pekerjaannya menyembunyikan anak kecil. Semula saya tak mengerti, ketika suatu hari mampir di sebuah warung babi guling di Gianyar, mendengar obrolan

begini, “Sekarang, di mana ada gamang?” tanya pemilik warung. “Di Lebih ada, di Peliatan juga ada. Kalau yang ramai di Lebih, dari pagi sampai sore,” jawab lelaki perlente yang baru selesai makan. “Apa polisi tidak bisa menemukan tempat gamang”. Lelaki perlente itu menjawab santai saja, sambil mengambil tusuk gigi. “Lama-lama polisi juga malas mengurusi gamang. Polisinya juga orang Bali.” Saya tak habis pikir, urusan apa polisi dengan makhluk halus? Baru beberapa saat kemudian saya tahu, dari pemilik warung, gamang sekarang artinya sabungan ayam. Itu pun baru diberita- hukan setelah saya berbasa-basi akan ikut berjudi. Istilah seperti gamang dan branangan tentu pula tak akan ber- tahan lama, maklum, istilah gelap. Lain bulan, istilah yang dipakai bisa berganti. Penjudi segera tahu apa kata sandi yang baru. Penjudi di Bali — mungkin juga di daerah lain — seperti sebuah organisasi tanpa bentuk dan tanpa nama. Perjudian, tentu saja, haram hukumnya dalam setiap agama. Termasuk dalam agama Hindu. Uraian kitab Manawa Dharma Sastra IX seloka (bait) , , . , dan 7 jelas-jelas mela- rang umatnya berjudi. Bahkan seorang pendeta dianggap tidak sah memimpin upacara agama jika ia masih digoda nafsu bebotoh. Toh, judi tetap subur, terutama sabungan ayam. Yang mengher- ankan, keles, trui, togtog, dadu bisa menghilang. Kenapa? “Karena ada penggantinya, buntut undian harapan, dan buntut-buntut lain. Itu judi untuk orang-orang sekolahan, kutak-kutik angka. Guru tak suka judi itu. Guru tak mengerti,” ini alasan Gurun Teko. Masuk akal juga. Dan, tidak hanya di kota, tapi di pelosok desa pun beredar banyak buntut dari TSSB (Tanda Sumbangan Sosial Berhadiah) yang oleh masyarakat masih tetap disebut undian harapan. Untuk menebak angka yang keluar itu, beredar selebaran stensilan yang berisi ramalan-ramalan. Kertas yang penuh dengan angka dan gambar-gambar binatang. Jenis judi buntut ini — judi orang-orang sekolahan menurut Gurun Teko — memang berkembang dengan subur. Ditambah lagi munculnya Porkas Sepak Bola setiap minggu. Petaruh bisa

memasang nomor di kios koran, di tempat penjual rokok tertentu,

di

terminal bus antarkota, atau ada orang yang hilir mudik datang

ke

desa-desa. Tak ada bedanya dengan judi buntut di Jawa, atau di

pulau lain lagi di wilayah Nusantara ini. Ini judi yang sudah mena- sional, dan penjudi di Pulau Bali — sebagian — menemukan pe- nyaluran baru, yang ternyata tetap saja judi. Ibarat sakit keturunan, yang obatnya suatu saat hilang kini muneul obat pengganti. Hanya penyakit yang diderita Gurun Teko-Gurun Teko tak bisa sembuh oleh obat versi baru yang setengah halal ini. Beh, beh, beh

VI Mengenai Ilmu Hitam dan Mahkluk Halus I Dewa Putu Karsa Dalang Leak D IAH

VI

Mengenai Ilmu Hitam dan Mahkluk Halus

I Dewa Putu Karsa Dalang Leak

D IAH Ratna Menggali parasnya cantik. Tapi aneh tidak

ada pemuda yang melamarnya, naksir pun tidak. Men-

gapa? Ratna diduga bisa ngeleak — bisa menjadi leak.

Dugaan ini didasarkan kepada “hukum keturunan”. Kalau ibunya bisa ngeleak, anaknya pun mewarisi ilmu hitam itu. Sang ibu, Calonarang, seorang janda, sedih bercampur berang. Sedih, karena ia khawatir, putrinya bakal menjadi perawan tua. Itu berarti ia tidak bakalan pernah memomong cucu. Berang, karena putrinya dituduh bisa ngeleak. Maka, pada suatu malam yang kelam, Calonarang memanggil murid-muridnya. Di depan anak didiknya itu, Calonarang mem- berikan perintah: buatlah gerubug — wabah yang bisa mematikan — di wilayah Kediri. Betul! Kerajaan Kediri gempar. Tak sedikit penduduk yang tiba-tiba jatuh sakit, tanpa ketahuan sakit apa. Lalu, mati. Peman-

dangan yang tampak sehari-hari adalah, orang mengusung mayat ke kuburan dalam selisih waktu yang singkat. Seseorang yang ta- dinya mengantar mayat ke kuburan, tidak berselang lama, ia sendiri yang diusung ke kuburan. Anjing pun melolong-lolong sepanjang malam. Burung gagak bersenandung saban malam, menyanyikan lagu kematian. Raja Kediri pun panik. Mpu Bharadah segera dipanggil untuk dimintai nasihat. Sang mpu lalu mengatur siasat dan strategi. Mpu Bahula, putra Mpu Bharadah, diminta mengawini Diah Ratna Menggali. Bukan untuk melenyapkan kemarahan Calonarang karena putrinya ada yang meminang, tapi Mpu Bahula diharap- kan berhasil mencuri rahasia ilmu pengeleakan milik janda sakti itu. Dengan diketahuinya “ajaran” ilmu hitam itu, Mpu Bharadah tentu bisa menyiapkan ilmu penangkisnya, dan pada akhirnya bisa menanggulangi bencana gerubug. Singkat cerita, Mpu Bahula meminang Diah Ratna Menggali, lalu kawin, dan berhasil mencuri ilmu milik mertuanya. Setelah ilmu itu diserahkan ke ayahnya, maka pertarungan pun terjadi. Pertarungan yang hebat antara Mpu Bharadah dan pengikutnya, dengan Calonarang bersama anak didiknya. Peperangan seram, karena ilmu hitam yang bertempur. Penuh kejadian yang tak masuk akal, lengkingan teriakan yang menakutkan. Belum jelas, siapa yang menang dan siapa yang kalah. Tiba-tiba, kayon ditancapkan di kelir.

***

PERTUNJUKAN wayang kulit yang mengambil lakon Calo- narang itu membuat saya kecewa, karena pertunjukan itu sangat mengabaikan unsur seni dan keindahan. Tetikasan (gerak tari way- ang) semrawut, seadanya saja. Sesendon atau juga disebut tandak (nyanyian ki dalang, dalam wayang kulit Bali tak ada waranggana seperti wayang kulit Jawa) tidak serasi dengan irama gender yang mengiringi pementasan itu. Tapi, yang membuat saya heran, penonton membludak. Bahkan

pertunjukan wayang kulit, yang dulu tak pernah dikomersialkan di Bali, saat itu cukup ampuh untuk menggali dana. Wantilan — dulu arena sabung ayam — Desa Pupuan, Kecamatan Pupuan, Kabu- paten Tabanan, itu penuh sesak hingga bernapas pun terasa sulit. Desa itu hanya km dari kampung saya, dibatasi kebun kopi yang tak habis-habisnya. Sejak berangkat dari rumah, Ketut Grundung, yang mengajak saya ikut menonton, tak henti-hentinya berceloteh, “Saya ingin sekali melihat leak, bagaimana bentuknya. Siapakah yang kalah, dalang atau leak. Bli (kakak) pasti melihat pemandangan yang aneh, tapi jangan pulang sebelum pertunjukan selesai. Di tengah jalan kita bisa dihadang leak, saya takut.” Celotehan Ketut Grundung, keponakan saya yang masih kelas 6 SD, tentu saja karena pengaruh kampanye panitia pertunjukan wayang kulit Calonarang siang harinya. Juru kampanye itu berte- riak dengan mikrofon tangan mengatakan pada pertarungan Mpu Bharadah melawan Calonarang, terjadi pula pertempuran antara ki dalang dan semua leak di Kecamatan Pupuan. Ki dalang dari Yang Batu, Kabupaten Badung, itu sudah menantang dan mengundang leak se-Kecamatan Pupuan untuk mengeroyok dirinya. Karena desa kami termasuk Kecamatan Pupuan, kalau pulang sebelum waktunya, ada kemungkinan ketemu leak di jalan — leak yang berangkat perang. Begitu jalan pikiran Ketut Grundung. Ternyata, sampai kayon ditancapkan di kelir, tak terjadi apa- apa. Saya pulang dengan kecewa dan heran, bukan karena leak, tapi mutu pementasan itu. Ketut Grundung pulang mungkin dengan kecewa juga, tak bisa menemui leak yang sudah kalah dan jinak. Leak, ternyata, sudah dikomersialkan di Bali. Leak bisa ber- partisipasi dalam pembangunan, menghimpun dana.

***

TERUS terang, seperti halnya keponakan saya, seumur ini saya pun belum pernah melihat leak. Keeuali leak-leakan dalam pementasan topeng atau drama gong, malah saya sering memain- kannya. Karena belum pernah membuktikan keberadaan leak itu,

saya pun antara percaya dan tidak. Percaya, karena banyak orang bisa bercerita dengan yakin. Tidak, ya, karena tak pernah melihat, tak ada fakta. Ketika saya baru berpisah dengan keluarga kurang lebih tiga bulan — bersekolah di SMPN Bajera — Ayah mengunjungi saya di tempat kos. Ketika Ayah bertanya, apa tidak takut tidur sendirian, saya bilang takut. Takut kalau dicari leak. Ayah ketawa sambil memeluk saya — saya begitu dimanja sebagai lelaki pertama setelah empat anak Ayah perempuan melulu. Dan Ayah bilang, leak itu omong kosong. Leak itu tidak ada. Leak itu berasal dari kata liat (bahasa Indonesianya melihat). Misalnya seseorang yang me- mang penakut, dan pikirannya dibayang-bayangi makhluk seram. Di tengah malam ia melihat daun pisang yang bergoyang diembus angin, apalagi jika daun pisang itu basah dan diterpa sinar bulan, maka daun itu bisa kelihatan seperti makhluk aneh yang membawa kain putih. Itu semata-mata salah liat. Saya tak mudah percaya. Tetapi, Ayah kemudian bilang, kurang lebih begini, “Putu, keluarga kita tak akan pernah melihat leak. Melihat saja tidak, apalagi sampai diganggu. Kakekmu seorang pemangku. Ayah juga. Kita berdarah panas, dekat dengan Tuhan. Rajinlah sembahyang, leak tak akan berani.” Saya tak ingat pembicaraan selanjutnya. Mungkin saya tertidur dikeloni Ayah. Ketika Ayah meninggal dalam statusnya sebagai pemangku — rohaniawan yang memimpin persembahyangan di pura desa kami — semua kata-kata di tahun-tahun akhir hayatnya itu saya tulis. Yang membuat saya bingung, “pesan” Ayah berten- tangan. Di satu pihak mengatakan leak itu hanya dari perasaan takut kita sendiri, di lain pihak leak itu tak akan bisa mengganggu saya, keturunan pemangku di sebuah desa yang disebut orang sebagai desa suci, karena letaknya paling dekat dengan puncak Gunung Batukaru. Jadi, leak itu bisa diusir dengan rajin sembahyang, seperti kata Ayah. Kalau begitu, leak itu ada atau tidak? “Leak itu memang betul-betui ada,” kata I Gusti Ketut Kaler, seorang tokoh agama, pensiunan Kepala Bimas Hindu dan Budha

Kanwil Departemen Agama Provinsi Bali. Menurut Pak Kaler, ilmu leak ini bisa dipelajari dari lontar-lontar yang memuat serang- kaian ilmu hitam, yakni: cambrabrag, sampaian emas, tang ting mas, jung biru. Yang jelas, lontar-lontar itu tak ada dalam koleksi keluarga saya. Lontar itu, menurut Pak Kaler pula, ditulis pada zaman Er- langga, yakni pada masa Calonarang hidup. Lontar itu, berikut ajaran-ajarannya, merembet ke Bali, tak jelas sejarahnya, siapa yang membawa. Lontar itu tergolong aji wegig. Aji berarti ilmu, wegig berarti begig, yaitu suatu sifat yang suka mengganggu orang lain. Karena sifatnya yang negatif, maka ilmu itu sering disebut ngiwa, yang berarti melakukan perbuatan kiwa alias kiri. Sebagai lawannya, disebut aji usada, ilmu putih yang bisa dipakai untuk menyem- buhkan orang yang sakit karena diganggu leak. Karena aji usada berhaluan kanan, maka disebut tengen. Entah di mana lontar itu bisa diperoleh sekarang. Tetapi banyak orang mengatakan, ilmu tentang leak bisa dipelajari tanpa lewat lontar itu, cukup dibimbing oleh leak senior. Bahkan alat untuk bisa menjadi leak bisa dibeli. Ilmu yang bisa dibeli itu berupa sabuk (ikat pinggang) sehingga sebenarnya lebih tepat disebut alat ketimbang ilmu. Siapa pun yang memakai sabuk sakti itu bisa ngeleak, sesuai dengan pamor sabuk. Kalau sabuk itu memang spesialisasinya untuk jadi rangda, ya, orang itu bisa berubah rupa menjadi rangda. Kalau untuk men- jadi monyet, ya, jadi monyet. Tentu semakin tinggi tingkatannya, semakin sakti sabuk itu, semakin mahal pula harganya. Tingkatan leak, paling tinggi menjadi bade (menara pengusung jenazah), di bawahnya menjadi burung, di bawahnya binatang-binatang lain. Para pedagang yang ingin jualannya laris, konon, bisa mem- beli salah satu bagian dari ilmu hitam itu, juga sejenis sabuk. Ilmu untuk pedagang ini namanya panglatih. Tapi, bila yang empunya alat tidak mampu memelihara alat itu, tak mampu menyediakan korbannya, tak mampu menahan pantangannya, alat itu bisa mencelakakan. Amit-amit.

Di tengah-tengah penumpasan orang-orang PKI di kampung saya, 966, sejumlah pemuda mengadakan penggeledahan. Sa- sarannya tertuju pada orang-orang yang dicurigai bisa ngeleak atau yang punya ilmu hitam berupa alat-alat itu. Tak tanggung- tanggung. Seorang ibu tua ditelanjangi di sebuah balai desa, karena menyimpan sabuk di lipatan setagennya. Sabuk itu memang ditemukan, kemudian dibakar di perempatan jalan desa dengan disaksikan ratusan penduduk. Saya sendiri ikut menyaksikan, warnanya putih. Menurut Pak Kaler, kalau orang bisa menjadi leak dari cara memakai sabuk itu, maka ilmunya masih rendah, karena banyak dibantu alat yang sudah setengah jadi. Yang berilmu tinggi tak perlu alat. Ia cukup memakai kain putih di atas lutut, seperti sering dilihat dalam pementasan teater rakyat di Bali. Ada tempat-tempat tertentu. Bila ingin menjadi monyet, ngelekas (bersalin rupa dengan mengucapkan mantra-mantra) di depan pintu luar rumah. Jika ingin jadi bangkung (babi betina), berubah wujudlah di kandang babi. Bila ingin jadi rangda, tempatnya ngelekas di perempatan jalan atau di kuburan. Tentu saja pada tengah malam buta. Saya memang sejak dulu suka sekali mendengar kisah-kisah tentang leak. Mungkin karena saya “bernasib sial”, belum pernah melihat barang ajaib itu. Berikut ini, saya ceritakan beberapa kisah yang ada kaitannya dengan dunia per-leak-an, yang terjadi di ta- hun-tahun terakhir ini, yang saya kumpulkan dari beberapa sumber selama melakukan perjalanan di “tanah air leak”.

Dalang leak

I Dewa Putu Karsa, bukan nama sebenarnya, sejak kecil suka mendalang. Sewaktu bocah, ia memakai wayang daun nangka atau daun kamboja. Dengan teman-teman sebayanya, ia pentas di seputar desanya, di Kabupaten Gianyar. Penanggapnya juga dari kalangan anak-anak, dengan honor uang kepeng. Tentu tanpa pang- gung, cukup di halaman rumah dipanggang terik mentari. Menginjak remaja, ia terus mempelajari cara-cara memainkan wayang dan menghafal cerita-cerita pewayangan. Namun, pada

saat itu pula ia terkena semacam sakit ingatan. Di rumahnya, ia suka bertelanjang bulat, kadang menangis meraung-raung, kadang tertawa terbahak-bahak. Keluarganya pun mengurung Putu Karsa, dengan alasan malu dilihat orang. Sudah banyak dukun dimintai pertolongan, tak juga ada kemajuan. Seorang dukun, akhirnya, memberikan pengobatan berupa nasihat. “Seorang dalang harus mempelajari asal-usul leluhurnya lebih dahulu, sebelum mempelajari dan mengotak-atik leluhur ke- luarga Pandawa, Kurawa, Rama, dan sebagainya. Sungguh kualat kalau mempelajari asal-usul keluarga tokoh wayang itu tapi tidak tahu asal-usul leluhur sendiri,” nasihat sang dukun. Setelah menyatakan sanggup mengikuti nasihat itu, I Dewa Putu Karsa sembuh berangsur-angsur. Ia pun belajar menjadi dalang yang sebenarnya, termasuk ilmu kebatinan yang wajib di- miliki seorang dalang di Bali. Selain itu ia belajar menatah wayang

sendiri. Pekerjaan terakhir ini sangat ditekuninya. Ia sibuk mencari contoh bentuk wayang yang bagus. Di Desa Payangan, tak jauh dari desanya, ia menemukan wayang kulit dengan tokoh rangda. Wayang rangda — wayang

ini tak lazim — disimpan di sebuah pura, tentu saja keramat. Ke-

keramatannya, wayang kulit itu pantang dicontoh. Konon, sudah dua orang menjadi korban karena lancang mencontoh wayang rangda itu. I Dewa Putu Karsa, setelah sempat ragu, akhirnya punya akal.

Ia tetap mencontoh wayang rangda itu, bentuknya, besarnya, ciri- cirinya. Tapi, warnanya dibedakan. Jadi, tak persis. Putu Karsa ternyata tidak kualat. Dengan jimat wayang itu, ia menjadi terkenal sebagai dalang Calonarang — pementasan wayang kulit yang mengundang leak.

Di Nusa Penida, ia pernah membuat heboh. Ceritanya, tatkala ia

sedang pentas mengundang leak, seorang penonton pulang, padahal sudah dinasihatkan jangan pulang sebelum pementasan berakhir kalau pengecut. Penonton yang pulang itu ketemu leak yang wu- judnya berupa rangda pula. Lalu ia berlari balik ke tempat pemen- tasan dan menceritakan kepada penonton lain. Gempar. Akhirnya

pementasan wayang kulit dihentikan, karena orang-orang meminta ki dalang turun dulu mengusir leak yang gentayangan.

Di Buleleng, Putu Karsa punya pengalaman lain. Seperti

diminta oleh penanggapnya, ia kembali mengundang leak dalam pementasannya. Penonton patuh menunggu sampai pementasan berakhir. Ketika pergelaran usai, terjadilah sebuah keanehan. Dua wanita setengah haya tetap mematung berdiri di pinggir panggung. Mereka merengek-rengek minta tirta — air suci yang memang tersedia di sesajen Ki Dalang. Puluhan penonton ikut menyaksikan keajaiban itu. Penonton yang tampaknya tahu dua wanita itu adalah leak yang kalah — dan kembali menjadi manusia — mengejek,

“Apa mau tirta dari air kencingku?” Penonton lain berteriak kepada Ki Dalang. “Jangan diberi tirta, Pak Dalang” Tetapi, I Dewa Putu Karsa memberikan juga tirta. Dan wanita itu pun kembali ke rumahnya. “Saya tak tega mengikat mereka lebih lama. Mereka sudah minta ampun, ya, saya ampuni,” kata dalang itu, yang mengakui telah mengikat kedua wanita tadi dengan ilmu batinnya.

Di mana rahasia kesaktian Putu Karsa? Tanpa panjang lebar

memberi penjelasan, ia segera mengambil wayang rangda dari dalam gedog — tempat penyimpanan wayang kulit itu. Putu Karsa kini laris memainkan cerita Calonarang, dan penggemarnya jarang yang tahu siapa nama aslinya. Di setiap saat bisa berbeda, dan untuk gampangnya, ia disebut dengan Pak Dalang Leak.

Baju Harimau

Seorang tukang kayu dari Desa Tapesan, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, mendapat pekerjaan di Desa Wanagiri, Kecamatan Selemadeg, kabupaten yang sama. Ia bersama teman- temannya menginap di rumah yang diperbaiki itu. Suatu malam, ada pertunjukan joged bumbung di Desa Sarinbuana, yang jaraknya sekitar tiga kilometer dari Wanagiri. Ketut Krubuk, demikian nama tukang kayu itu, mengajak teman- temannya menonton. “Apa kalian tidak takut di jalan?” tanya tuan rumah.

“Apa yang harus ditakuti?” jawab Ketut Krubuk bernada meremehkan. “Toh terang bulan, saya tak takut leak.” “Baiklah,” kata tuan rumah, lelaki tua yang kumis dan jang- gutnya mulai memutih. Pertunjukan joged bumbung itu meriah. Tari pergaulan muda-

mudi sejenis jaipongan ini memang digemari di pedesaan, apalagi penontonnya bisa ngibing. Karena itu, Ketut Krubuk dan teman- temannya pulang sampai larut. Dalam perjalanan pulang, yang harus menempuh jalan setapak di perkebunan kopi, Ketut Krubuk dan teman-temannya mendengar suara harimau mengaum di belakangnya. Ketika Krubuk menoleh, dilihatnya harimau betulan. Tanpa aba-aba, mereka mengambil langkah seribu. Tiba di pemondokannya, tak lama kemudian, tuan rumahnya muncul. “Lha, kok pada pucat?” “Kami dikejar harimau,” jawab Ketut Krubuk.

” tuan rumah ketawa. “Kalian pengecut. Harimau

yang tadi itu, aku sendiri. Kalian mau menjadi harimau?” Semua yang mendengar bengong. Tapi, diam-diam, Ketut Krubuk ingin juga menjadi harimau, ingin merasakan kebolehan itu. Tanpa setahu teman-temannya, ia mendekati tuan rumahnya. “Baiklah, besok kau coba ilmu itu. Tapi harus di tempat yang sepi,” nasihat tuan rumahnya. Keesokan harinya, tuan rumahnya memberi sebuah baju kecil, dan mantra yang pendek saja, sebelum memakai baju itu dan sebe- lum melepasnya. Ketut Krubuk pun memanggil teman-temannya, diajaknya berjalan di kebun. Pada saat itu, Ketut Krubuk mencari tempat sepi, dan memakai baju pemberian tuan rumahnya tadi. Ia merasa biasa-biasa saja, ia tak merasa menjadi harimau. Karena itu, ia menyusul teman-temannya. Tapi, teman-temannya itu malah pada lari, karena yang dilihatnya betul-betul harimau. Ketut Kru- buk yang merasa ditinggal itu ikut mengejar kawan-kawannya sambil memanggil-manggil. Kawan-kawannya justru lari semakin kencang karena mendengar suara harimau mengaum. Sial, harimau

“Ha

ha

00

terus berlari kehilangan jejak, sementara kawan-kawan Krubuk tampaknya berlari pulang. Ketut Krubuk yang merasa dirinya biasa-biasa saja ikut pulang. Tetapi setiap ketemu orang, orang itu lari tunggang langgang. Ketut Krubuk pun akhirnya sadar, karena baju yang dipakainya

itu. Ia melepaskan bajunya itu, tapi ia lupa mantranya. Tentu saja, orang lain tetap melihat wujud harimau, sehingga penduduk desa itu pun gempar. Untung, tuan rumah tempat Ketut Krubuk menumpang segera datang. Padahal, beberapa penduduk sudah siap-siap mengeluar-

kan senapan. “Saya kapok, saya kapok

.,” berulang-ulang Ketut

Krubuk menyesal. “Tukang kayu tak sepantasnya belajar macam- macam.” Ia kini tinggal di desanya, tetap sebagai tukang kayu.

Perang Antarleak

Orang belajar leak tak cuma bisa bikin onar. Keahlian ini pun suka didemonstrasikan antardunia leak, mungkin semacam POAL (Pekan Olah Raga Antar-Leak). Perang — entah itu per- ang-perangan atau perang sungguhan — dikenal dengan sebutan siat wengi. Orang Bali di pedesaan, kalau mendadak meninggal dunia, tak ada yang sampai berpikir kena penyakit jantung atau pendarahan otak dan sebagainya. Keluarga si mati diam-diam mencari tahu, lewat menyiramkan air klungah (kelapa muda) ke tubuh mayat. Kalau ada bagian tubuh yang berwarna biru, itu berarti almarhum kalah di pertempuran malam hari, siat wengi. Jika ahli warisnya memiliki ilmu itu, akan mencari tahu, siapa yang mengalahkan, lalu ditantang. Tentu antardunia perleakan. Bagaimana suasana siat wengi itu? Tentu sulit direportase oleh mata telanjang biasa, sementara leak-man dan leak-wati akan no eomment kalau ditanya perkara ini. (0, ya, bagaimana menanyakan- nya, bukankah orang Bali sangat tersinggung kalau dituduh bisa ngeleak?) Maka, banyak cerita yang bisa dihimpun dari mereka yang kebetulan melihat selintas. Pan Miasa, misalnya, menuturkan pengalamannya sebagai berikut:

0

Suatu malam, guru sebuah SMA di Gianyar ini mencari ikan dengan temannya, membawa lampu petromaks. Alat penangkap ikannya bukan pancing, tetapi sebuah jala kecil yang disebut sau.

Ketika sedang asyik di pinggir sungai, tiba-tiba sekelebat bola api sebesar telur ayam muncul di depannya. Ia terkejut. “Wah, bahaya. Ayo kita pulang,” ajaknya kepada temannya, Ketut Karta. Temannya tak menanggapi. Tetapi tiba-tiba, temannya ketakutan juga. Malah berteriak- teriak dengan wajah pucat, dan bergerak seperti menghindari sesuatu, sampai kecemplung ke kali. Sambil basah kuyup, Ketut Karta kemudian menuturkan, ia hampir saja ditubruk pesawat terbang keeil. Karena sama-sama mengalami suatu hal yang tak beres, keduanya sepakat pulang. Keesokan harinya, Pan Miasa menuturkan peristiwa aneh itu kepada Pan Mayun, tetangganya. Ternyata, Pan Mayun juga me- lihat sesuatu dari kejauhan. “Semalam aku di gubukku. Dari jauh, aku melihat dengan jelas percikan api yang jumlahnya ratusan di kali itu. Peperangan sangat dahsyat semalam. Mengapa engkau berani menangkap ikan

di kali itu?”

Pan Miasa pun melongo. Rupanya, sungai keeil itu menjadi stadion siat wengi. Yang lebih menarik adalah siat wengi yang terjadi di seputar

pantai Padang Galak, sekitar km sebelah timur Hotel Bali Beach, Sanur. Tapi kejadian ini agak lama, di tahun 980. Siat wengi itu berlangsung beberapa malam, sempat disaksikan ratusan penonton

di sepanjang Jalan Tanjung Bungkak, pinggiran timur Kota Den-

pasar. Tua muda, laki perempuan, berebut menyaksikan peperangan antarleak itu. Koran yang terbit di Denpasar, bahkan juga sebuah majalah hiburan yang terbit di Jakarta, meliput peristiwa itu dengan

bumbu-bumbu yang menarik. Kabarnya, menurut penonton di sekitar Padang Galak — yang terdekat dengan tempat kejadian — berkali-kali terjadi benturan api. Perang leak itu betul-betul perang sungguhan, antara sekelom- pok leak dari Desa Lebih dan sekelompok leak dari Desa Sanur.

0

Kedua desa itu memang dari dulu dikenal sebagai pusat ilmu hitam. Tak jelas apa yang diperebutkan kedua kelompok leak itu. Mungkin berebut pengaruh, karena di pantai Padang Galak ada kuburan orang-orang asing korban pesawat Pan Am yang jatuh di Bali pada 97. Tempat itu sering dikunjungi orang, tentu para leak ingin menguasai daerah itu. Ini barangkali, lho. Ribuan orang yang sempat berduyun-duyun menyaksikan per- ang leak itu, ada yang mengaku bisa melihat api beterbangan, dan entah benda apa lagi. Ada pula yang tak melihat apa-apa. Konon begitu, ada orang yang bisa melihat leak, ada yang tidak, walau mereka di tempat yang sama. Yang jelas, bemo ke jurusan Tanjung Bungkak penuh sesak setiap malam. Waktu itu, saya masih di Yo - gya, dan berniat pulang ke Bali. Tapi teman di Denpasar keburu mengirim surat, kata dia, itu cuma akal-akalan sopir bemo yang trayeknya harus melewati daerah Tanjung Bungkak.

Men Rempun Sadar

Ini kisah seorang janda yang sudah tua. Panggilan sehari- harinya Men Rempun, tinggal di Desa M, Kabupaten Badung. Ia dikenal ramah. Di balik keramahannya, konon, sudah banyak orang yang jadi korban. Keponakannya, gadis cilik bernama Made Sudi, suatu hari sakit keras. Dokter Puskesmas sudah berusaha mengobati, Made Sudi tetap tak sembuh-sembuh. Pilihan terakhir, biasa, tertuju kepada seorang dukun. Hasil pemeriksaan dukun, ada musuh di dalam selimut. Lalu, orang pun menuding Men Rempun. Dan, yang dituding mengaku secara diam- diam menyakiti Made Sudi dan berjanji tidak melakukan perbuatan buruk itu lagi. Pengakuan ini disampaikan secara rahasia hanya kepada dukun itu, karena diancam. Maklum, dukun itu rupanya lebih sakti. Made Sudi pun berangsur-angsur sembuh. Beberapa bulan kemudian, Nyoman Ruta kena giliran sakit. Keponakan Men Rempun yang lain ini, sebelum jatuh sakit sempat dipijit-pijit oleh janda sakti itu. Pertolongan dokter juga tak mem- buahkan hasil. Maka, seperti juga Made Sudi, keluarga si sakit

0

menanyakan kepada seorang dukun. Hasil pemeriksaan, lagi-lagi Men Rempun disebut biang keladinya. Men Rempun pun berjanji lagi untuk tidak menyakiti Nyoman Ruta. Mengapa tega menyakiti keponakan sendiri? Memelihara “alat” atau jimat pangeleakan ada banyak syaratnya. Pada taraf awal bisa ngeleak, konon, harus berhasil membunuh sebelas bayi, agar ilmu leak-nya bertambah tinggi. Celakanya, tatkala ilmu itu sudah tinggi, orang itu akan selalu kecanduan dan selalu ingin menyakiti orang, terutama anak-anak. Kalau tak ada anak tetangga, akhirnya keluarga sendiri. Dalam keadaan kepepet dan ketagihan memuncak, konon, tega pada anaknya sendiri. Itu pulalah yang terjadi pada Men Rempun. Ia melihat ke- ponakannya sendiri sebagai “makanan” yang lezat di malam hari. Karena sudah telanjur diketahui keluarga, Men Rempun diminta melepaskan ilmu jahatnya itu. Ternyata, sulit dilakukan sendiri. Maka, dukun sakti tadi diundang untuk menghilangkan kesaktian Men Rempun. Pada saat peleburan ilmu itu, anggota keluarga yang lain ber- jaga-jaga, kalau terjadi sesuatu. Benar juga, setelah sang dukun mengucapkan mantra, tiba-tiba Men Rempun meronta sekuat tenaga. Ia dipegang erat-erat. Dalam keadaan seperti itu, janda tua ini lebih kuat dari pada biasanya. Sambil berteriak entah apa yang diucapkannya, dari lipatan kainnya keluar seekor ular kecil sebesar anak belut. Ular kecil itu berlari ke luar pintu gerbang pekarangan dan dilindas mobil yang kebetulan lewat. Men Rempun kemudian lemas, lalu ia dilepas. Esok harinya, ia seperti biasa, ramah, suka bergurau dan menampakkan kasih sayang yang lebih kepada seluruh anggota keluarganya. Ia menjadi orang tua yang sadar.

Leak mencuri vanili

Satu komplotan penjahat yang mencuri vanili di kebun-kebun sekitar Negara (Bali barat) menggunakan teknik leak. Seorang dari komplotan itu berubah wujud menjadi rangda — itu tokoh jahat dalam kepercayaan orang Bali yang bertaring serta berambut

0

panjang terurai yang biasa ditarikan sebagai musuh barong. Leak yang berupa rangda itu masuk gubuk di sebuah kebun vanili, suatu malam. Penjaga kebun yang terbangun langsung pingsan melihat makhluk yang mengerikan itu. Karena penjaga malam sudah teler, komplotan pencuri ini langsung menggasak habis buah vanili tua yang ada di pohon-pohon. Tanpa sisa lagi. Berita itu tersebar luas dengan cepat. Petani vanili lalu melaku- kan penjagaan ketat. Siskamling ditingkatkan, melibatkan pula tokoh-tokoh kebatinan. Beberapa malam kemudian, komplotan pencuri dengan se- seorang yang berupa rangda itu muncul lagi. Mula-mula yang terlihat hanya rangda saja, komplotan lainnya diduga masih mengawasi situasi. Tetapi pemilik kebun sudah siap menghadapi leak ini. Ada yang membawa pentungan dari kayu sua dan kayu peradah — jenis kayu yang ditakuti leak. Begitu leak itu muncul, langsung dikejar ramai-ramai. Rangda itu lari pontang-panting dan rambutnya tersangkut di sebuah dahan. Rambut itu, setelah diteliti, ternyata dari ijuk. Petani vanili ini pun semakin bernafsu mengejar rangda yang sudah gundul itu. Berhasil, rangda itu terkepung. Lalu, rangda itu pun melepaskan atributnya. Maka, terlihatlah seorang lelaki biasa yang meringis minta ampun, sambil memegang topeng rangda yang banyak dijual di toko-toko kesenian. Persoalan selanjutnya memang berbuntut panjang, menjadi urusan polisi. Tapi bukan pencuri yang bertopeng rangda itu yang diperiksa polisi, melainkan petani vanili. Soalnya, si pencuri telan- jur digebuki ramai-ramai sampai tewas.

* * *

VIEKY Baum dalam bukunya, A Tale of Bali, menulis, Bali yang dikenal sebagai pulau kahyangan, tempat para dewa dan dewi turun, juga dikenal sebagai pulau hantu, tempat setan dan roh-roh jahat gentayangan. Vieky pun sadar, dunia mistik ini sulit diteliti secara ilmiah. Ada benarnya. Tetapi seperti kebanyakan penulis asing, mereka

0

umumnya tak paham benar beda antara leak dan makhluk halus. Leak adalah perwujudan lain dari seorang manusia sakti. Orang yang ilmu leak-nya tinggi, ia bisa seperti tidur di kamarnya, dan badan halusnya yang keluar menjelma menjadi leak, gentayangan mencari mangsa. Leak jenis ini kelihatan menjadi api, cahaya, burung, pesawat, dan bentuk lain yang berkelebat dan bisa ter- bang. Sedang yang ilmunya rendah, apalagi memakai alat seperti sabuk, baju, dan sejenisnya, bentuknya menjadi monyet, kamb- ing, harimau, dan lainnya. Sedang makhluk halus, yang di Jawa, misalnya, dikenal sebagai tuyul, gendruwo, dan lain-lain, di Bali dikenal dengan nama memedi, samar alias gamang, banaspati, dan lainnya lagi. Dan makhluk halus ini bukan perwujudan lain dari manusia. Seperti umumnya di Jawa — dan mungkin pula di daerah lain — makhluk halus versi Bali itu juga menyukai tempat-tempat yang memang dengan mata telanjang menimbulkan kesan seram. Misalnya di sebuah pohon beringin yang lebat, atau di pohon kepuh yang tinggi dan rimbun. Banaspati termasuk yang paling mengerikan, ini kata orang. Wujudnya seperti barong, atau sejenis dengan itu. Ia bisa melahap orang. Memedi itu hanya makhluk halus yang profesinya menggoda orang. Ia tidak jahat, konon. Ia hanya melenggang-lenggok atau mencibir atau menari dengan tawanya yang cekikikan. Samar alias gamang termasuk makhluk halus yang paling “berbudaya”. Konon, mereka seperti manusia juga. Bentuk tubuhnya mirip dengan ma- nusia, hanya di antara bibir dan hidung tidak ada cekungan. Samar ini punya dunia tersendiri, punya perkampungan. Menu- rut cerita-cerita orang yang pernah “kesasar” ke perkampungan samar, kebudayaan mereka dan pembangunan di dunia mereka itu jauh lebih maju dari dunia kita ini. Ada seorang pemuda yang terpikat dengan gadis bangsa samar. Dan pemuda ini tatkala lepas dari dunia samar itu bisa menuturkan bagaimana keajaiban perkampungan mereka. Semuanya serba gemerlapan. Namun, kalau diintip tingkah laku pemuda itu pada saat kencan dengan

06

“pacar”-nya, yang terlihat si pemuda itu duduk merenung di pinggir sungai, atau di bawah kayu di tengah kebun yang sepi. Ada pula cerita mengenai dalang wayang kulit yang ditanggap oleh masyarakat samar. Ki dalang sama sekali tak curiga. Mereka menjamunya seperti umumnya di dunia kita ini. Mereka ketawa kalau pementasan wayang kulit itu sudah lucu. Tetapi begitu per- tunjukan usai, ki dalang melihat dirinya berada di tebing sebuah sungai. Banyak contoh lain di sekitar pertemuan manusia dengan masyarakat samar ini. Tetapi lebih banyak yang rasanya sulit dipercaya.

07

VII Nasib Arja, Teater Rakyat Bali yang Merana Ketika Ida Bagus Ngurah Membanyol S EBUAH

VII

Nasib Arja,

Teater Rakyat

Bali yang

Merana

Ketika Ida Bagus Ngurah Membanyol

S EBUAH pesta yang memprihatinkan, pada pertengahan Februari 986. Di Pusat Kesenian Bali (Art Centre) Abian Kapas, Denpasar, berlangsung Pekan Arja se-Bali. Delapan

kabupaten di Bali mengirimkan wakil-wakil untuk mempertunjuk- kan kebolehannya dalam mementaskan arja — sebuah teater rakyat yang begitu lengkap unsur-unsurnya, ada tari, tabuh, drama, vokal, seni rias, seni busana, dan entah apa lagi. Dahulu, kegiatan seperti ini selalu disertai ingar-bingar. Kalau saja pekan arja itu berlangsung dua puluh tahun yang lalu, bukan saja masyarakat Denpasar, tapi mungkin seluruh pen-

duduk Bali mengarahkan perhatiannya ke Abian Kapas. Sekarang tidak. Delapan arja yang masing-masing mewakili kabupaten ini pun datang dengan niat sekadar memenuhi undangan. Atau lebih tegas, sekadar untuk menunjukkan bukti bahwa arja masih bisa digarap.

08

Kesenian arja sudah sedemikian jatuh gengsinya di masyarakat Bali. Tontonan ini tak lagi menggetarkan pemuda dan pemudi desa. Lamban, melempem, bikin ngantuk, begitu-begitu saja, tontonan masa lalu, begitu komentar anak-anak muda. Pertunjukan ini me- mang harus dilihat dengan serius, harus dinikmati dengan telaten, tembangnya harus disimak dengan tenang. Tanpa itu, tak ada pesan apa pun yang bisa ditangkap. Tontonan ini pun tak laku dijual kepada turis asing, apalagi turis domestik. Bukan karena tergolong tari sakral, tetapi dialog- dialognya agak sulit dicerna untuk mereka yang tidak punya akar sastra Bali. Nah, kalau sastra tradisional Bali itu sendiri sudah lama pingsan, bagaimana kesenian ini bisa hidup. Arja tak laku lagi; kasarnya, tak bisa memancing dolar, juga rupiah. Maka, desa-desa yang dulu menjadi pusat kesenian ini, kini telah dilupakan. Kalaupun sekarang ini ada arja, maka itu tak lagi mewakili sebuah desa, tetapi mungkin kecamatan, atau kabupaten, seperti pekan arja se-Bali itu. Sifatnya pun temporer.

***

ARJA muncul abad ke-9, pada pemerintahan I Dewa Gde Sakti di Puri Klungkung. Menantu Gde Sakti, I Gusti Ayu Karan- gasem, mengadakan upacara pembakaran mayat untuk suaminya, I Dewa Agung Gde Kusamba, dan madunya, I Gusti Ayu Jambe. Pada upacara itu semua raja di Bali diundang. Atas prakarsa I Dewa Agung Manggis, dibuatlah suatu tontonan yang pemainnya semua lelaki, tetapi sebagian berperan sebagai wanita. Lakon yang dipentaskan, Kesayang Limbur, suatu sindiran untuk I Gusti Ayu Karangasem yang sempat dimadu. Pada saat itu, konon, musik yang mengiringinya begitu sederhana, dan para pemain bertembang bersahutan. Selesai seseorang memerankan tokohnya, ia duduk di tikar. Kalau tokoh itu diperlukan, berdiri lagi. Kesenian ini akhirnya berkembang di Singapadu, Kabupaten Gianyar. Pada awal abad ke-0 itu, dikenal dengan sebutan Arja Doyong. Penarinya masih tetap laki-laki semua. Tidak ada langse

09

(layar yang terbelah bak kelambu) tempat keluar-masuknya penari, seperti pola pertunjukan arja sekarang ini. Pemain semuanya ber- jongkok, menari pun jongkok, seperti salah satu jenis tari keraton di Yogyakarta. Dialog pemain lewat tembang-tembang yang di- ucapkan pelan dan lambat. Adalah Raja Gianyar yang kemudian mengembangkan drama tari arja ini. Mula-mula dikembangkan di Sukawati. Busana penari mulai dibenahi, musik dipakai yang sederhana, terdiri dari kend- ang, kempur, kajar, klenang, dan suling. Gamelan sederhana yang lebih banyak mengalun sedih ini disebut geguntangan. Lakon yang dipentaskan Pakangraras, salah satu jenis cerita panji. Tentu saja, para pemainnya masih tetap laki-laki. Pada 90 revolusi drama tari arja terjadi. Pemain wanita mulai masuk. Bukan saja untuk peran-peran wanita, tetapi juga untuk peran raja yang pembawaannya halus, yang disebut Mantri. Pe- main laki-laki hanyalah Punta dan Wijil — yang berfungsi sebagai panakawan kakak beradik. Dan sejak itu, lakon yang dipentaskan selalu soal raja, terutama Raja Daha, Raja Pajarakan, Raja Kediri atau cerita Jayaprana yang ada Raja Kalianget. Pokoknya, raja sentris. Arja jenis inilah yang berkembang dan mendapat tempat di masyarakat. Pertumbuhannya sampai melewati batas Kerajaan Gianyar. Bahkan ketika raja-raja sirna dari Bali, diganti dengan pemerintahan republik, arja hidup subur. Di mana-mana muncul arja. Di kampung halaman saya pun muncul juga sekeha (grup) arja. Dan Ayah, almarhum, adalah pelatihnya, tepatnya pelatih pendamping untuk merangkai cerita, sementara pelatih tarinya dari Kabupaten Gianyar. Saya nyaris diikutkan bermain, tetapi karena masih kecil dan “belum cukup umur” menjadi Wijil, saya hanya puas menjadi tukang pukul klenang — yang dibuat dari bambu.

Bunyinya, plir

plir

plir.

***

KALAU diukur dengan begitu beragamnya drama tari sekarang

0

ini, arja memang membosankan. Soalnya, ia punya pakem yang sulit dikembangkan lagi — kalau masih mau disebut arja. Yang bisa dibuat variasinya, paling-paling ceritanya; itu pun harus mencari (dengan membuat karangan baru) yang ada tokoh raja. Pakem itu menyangkut jumlah pemain dan urutan-urutan keluarnya. Yang pertama muncul Inya, seorang pelayan yang setia. Se- belum keluar dari langse, ia menyanyi. Sambil terus menyanyi ia membuka langse perlahan-lahan, sampai satu bait sekar alit — biasanya pupuh Sinom — lalu diteruskan satu bait lagi dengan menari mengitari panggung. Usai tari dan nyanyi ini, ia berdialog seorang diri (monolog) dan menceritakan kegembiraannya men- jadi emban seorang putri yang cantik. Setelah cukup menjelaskan kegembiraan dan keberadaannya (di kerajaan mana), maka ia pun pura-pura baru sadar, kok ngomong sendiri. Maka, tuan putri pun dipanggil sambil bersimpuh di depan langse. Tuan putri itu adalah Galuh. Pola keluarnya juga sama dengan Inya— bahkan semua pola keluar pelaku arja sama saja, menyanyi di dalam, diteruskan menyanyi sambil menari di langse lalu men- gitari panggung. Hanya saja, ketika Galuh menyanyi dan menari setelah lepas dari langse, setiap baris nyanyiannya diselingi dia- log pujian dari Inya. Begitulah sampai bait lagu berakhir. Di sini yang dipamerkan adalah kemahiran menembang dan kepintaran menari. Setelah pamer nyanyi dan tari, cerita pun dimulai. Inya bertanya dengan dialog yang lambat mengalun — seperti dia- log wayang wong Jawa tetapi diakhiri bunyi meninggi, kadang melengking — apa yang menyebabkan tuan putri keluar. Galuh, yang tadi membelakangi Inya, menoleh dengan gerak tari halus, lalu menceritakan maksudnya. Galuh tak boleh berbicara seperti Inya. Galuh selalu menembang. Itulah sebabnya, drama tari arja ini dianggap sebagai cikal-bakal perkembangan sastra tradisional jenis sekar alit. Walau bahasa yang dipakai Galuh dalam tembangnya bahasa Bali madya, dan penonton umumnya paham, Inya selalu mener- jemahkan lewat dialog tanpa tembang, dengan bahasa yang lebih

lumrah. Dan, dari dialog-tembang itu, penonton mudah menebak apa yang keluar selanjutnya. Kalau Galuh menceritakan menemui ibunya, maka yang keluar nanti adalah pasangan Limbur dengan embannya bernama Desak Rai. Tapi, kalau yang dicari suaminya atau ayahnya (Raja), pokoknya orang laki, yang keluar setelah itu pasangan Punta dan Wijil. Tapi, tunggu dulu, pasangan yang keluar selanjutnya, selalu setelah pasangan yang ada di panggung masuk ke dalam. Katakanlah yang keluar adalah pasangan Limbur dan Desak Rai. Walau Desak Rai ini emban, yang lebih dulu keluar selalu Limbur. Setelah melewati “aturan-aturan keluar panggung” itu, Limbur berdialog sendiri. Nah, bahasanya adalah bahasa Kawi. Intinya sama, menceritakan keberadaan dirinya. Setelah keha- bisan bahan (kalau arja dari desa yang pelakunya berpendidikan rendah, kadar improvisasinya miskin sekali, apa yang dilatih, itu saja yang dikeluarkan) Limbur memanggil Desak Rai. Bahasanya kasar, maklum bicara dengan pembantu. Desak Rai ini seorang pembantu yang urakan. Ia pun pura-pura sedang tidur, lalu men- dengar orang berteriak, dan ia ngomel dari dalam dengan bahasa yang kasar juga. Maksudnya memancing ketawa. Limbur tentu marah, kemu- dian berbicara lebih kasar sambil mengatakan apakah Desak Rai tidak tahu siapa yang memanggil. Desak Rai pun menjawab, tahu siapa yang memanggil itu, yakni: pedagang garam (kalau arja itu bermain di desa pinggir laut), atau buruh pemetik kopi (kalau pentas di pegunungan). Dan keduanya berdebat, tetapi tetap Desak Rai berada di dalam langse, belum dilihat penonton. Debat-debat ini — perdebatannya pun sudah ada pakemnya — terus berlanjut sampai penonton tidak ada yang ketawa. Akhirnya, ya, Desak Rai sadar siapa yang diajaknya bicara. Maka, ia pun berjanji akan ke- luar, cuma perlu mempersiapkan diri, misalnya, perlu berdandan. (Bagi pemain arja yang pengetahuannya banyak, di sini kesempa- tan mengkritik bagaimana wanita hanya bersoiek saja, misalnya. Tetapi, ketika ayah saya memimpin arja di tahun 960-an, sepuluh kali pentas, bicaranya tetap saja itu-itu, ya, maklum pemainnya

SD pun tidak tamat). Saat Desak Rai mengucapkan janji bersiap keluar, itu berarti pertanda agar Limbur masuk ke dalam langse, mengaso dulu. Setelah panggung kosong, Desak Rai keluar, juga dengan “aturan-aturan” tadi, tari dan tembang. Setelah satu bait lagu sele- sai, baru Desak Rai menyanyikan satu bait lagu gembira, diiringi tari yang rada “miring”. Juga diselingi ucapan-ucapan yang jenaka. Soal keperawanannya, soal tak ada pemuda yang melamar, soal gemah-ripahnya kerajaan. Terakhir, ia bicara soal pribadi induk semangnya, si Limbur itu. Mula-mula diceritakannya baik, lalu cerita buruk-buruk. Saat menceritakan segi negatif ini, diam-diam Limbur keluar dari langse. Desak Rai pura-pura tidak tahu. Akh- irnya nanti berdebat lagi. Lelucon lagi. Pasangan selanjutnya, Punta dan Wijil. Yang keluar dulu Punta, dengan tembang Durma dan tabuh berbunyi keras. Pola pepeson (keluarnya pemain) sama dengan Limbur. Punta pun, setelah cukup menari dan monolog, memanggil adiknya, Wijil. Perdebatan pun terjadi, mirip Limbur-Desak Rai. Hanya saja, Wijil keluar tak perlu “mempersiapkan diri”, langsung membuka langse dengan mata diusap-usap. Maka, Wijil dimarahi dan dinasehati bagaimana ber- tingkah sebagai seorang pemuda harapan kerajaan, yang tahu tata krama. Penonton digurui oleh sopan santun dan berbagai wejangan — kalau pemain memang punya bekal yang cukup. Setelah Wijil — di beberapa desa juga disebut Kartala — sa- dar cara keluarnya tadi salah, ia pun menuju langse kembali, dan menari dengan iringan tembang Dangdang Gula. Karena ini pupuh sedih, isi tembang itu tentang kesengsaraan menjadi pemuda yang menghamba — yang tentu saja dikomentari oleh Punta: jangan berputus asa. Kedua panakawan ini mengabdi ke seorang raja (tergantung cerita, bisa pula anak raja) yang disebut Mantri Cenik. (Cenik berarti kecil, karena drama tari arja punya dua mantri). Mantri Cenik ini diperankan seorang wanita yang sangat pandai men- embang — karena ia memang tak boleh berdialog biasa — dan paling cantik di antara pelaku. Bertubuh langsing, karena ia me-

merankan seorang laki-laki dan berpakaian mirip Punta. Selama Punta dan Wijil mendampingi Mantri Cenik ini, tidak boleh ada lelucon. Mantri yang satu ini selalu serius dan memang tak boleh menghadirkan humor. Pasangan terakhir adalah pasangan yang paling banyak ditung- gu penonton, karena biasanya paling meriah dengan lelucon. Punta dan Wijil yang mengabdi kepada seorang raja yang tamak — dise- but Mantri Buduh (buduh berarti gila). Pola keluarnya sama saja dengan Punta dan Wijil yang pertama. Cuma, kedua panakawan ini tidak memanggil rajanya, tetapi raja gila itulah yang memang- gil-manggil, dengan bahasa campur aduk. Kadang kasar, kadang halus, kadang dengan bahasa asing, Cina — entah beneran atau tidak -- yang penting lancar. Punta dan Wijil pun menerjemahkan kata asing ini sekenanya — ini memang maksudnya melucu. Rangkaian cerita baru disusun kembali setelah semua pemain keluar. Siapa yang menemui siapa, siapa yang membunuh siapa. Teater rakyat Bali hampir selalu ada bunuh-bunuhan (supaya sedih dan penonton menangis), tetapi cerita harus happy ending, jadi yang mati tadi dihidupkan oleh seorang yang sakti — dilambang- kan dengan teriakan dari dalam langse, diiringi gamelan keras- keras, kemudian bunga dilempar. Soalnya, tak ada sisa pemain lagi yang memerankan tokoh sakti, karena pemain sudah ditentukan jumlahnya. Kecuali untuk cerita yang mengharuskan adanya dua putri, yang biasanya kedua putri itu bertengkar memperebutkan raja yang masih perjaka. Maka, ada pemain tambahan, yakni anak dari Lim- bur. Ia disebut Liku — yaitu putri yang serakah, gila, suka merebut pacar orang, pokoknya yang negatif. Orang yang memerankan ini biasanya dicari yang pintar, sama pintarnya dengan Mantri Buduh. Dituntut improvisasi yang tinggi, karena ia tak hanya pintar men- embang, melainkan juga berbicara kasar, halus, sembrono. Juga pada cerita tertentu, seperti Jayaprana, yang mengharus- kan ada seorang mahapatih, yang bertugas khusus membunuh. Disisipkan pemain pria yang disebut Pengrancab. Ia pun orang pintar, yang bisa berkhotbah, bagaimana membunuh tanpa kena

dosa, bagaimana perjalanan roh orang yang akan dibunuhnya, bagaimana menceritakan kesangsian melakukan pekerjaan mem- bunuh itu, dikaitkan kemudian dengan kewajiban seorang mahap- atih yang mengabdi pada raja. Dalam sejarah arja di Bali, tokoh yang tiada duanya memerankan ini adalah Ida Bagus Ngurah dari Desa Buduk, seorang dalang wayang kulit yang amat tersohor, dan kini sudah almarhum. Permainan arja semalam suntuk, dan panggungnya memakai tapal kuda. Tak ada dekorasi apa-apa. Bahkan pemain pria (Punta dan Wijil) bisa saja di tengah-tengah pentas memompa lampu petromaks yang mau mati, atau menghalau anjing yang masuk arena pentas. Masa jaya arja mulai kelihatan suram ketika drama gong muncul di tahun 968. Drama gong ini kesenian ingar-bingar yang meriah, karena diiringi seperangkat gong lengkap — jauh beda dengan arja yang memakai gamelan dari bambu. Masyarakat pun tersentak. Di mana-mana muncul grup drama gong. Rupanya, para karyawan kesenian daerah RRI Denpasar — yang setiap Minggu siang, sampai sekarang, menyiarkan arja se- lama tiga jam — tak kekurangan akal dalam upaya menghidupkan arja. Mereka menghimpun penari arja terkenal dari seluruh Bali, yang populer kemudian dengan sebutan Arja Bon Bali. Bahkan belakangan diberi nama baru, Arja Candra Metu RRI Denpasar. Kelompok ini melakukan revolusi dengan membuang gamelan geguntangan (dari bambu itu) dan digantinya dengan seperangkat gong lengkap, seperti drama gong. Jadinya lebih meriah. Bahkan pola pepeson dijungkir-balikkan. Desak Rai, dalam suatu kali (tidak selalu) keluar lebih dahulu, tak lagi menjadi sim- bol wanita malas. Perubahan besar terjadi pada pasangan Punta dan Wijil yang menghamba Mantri Buduh. Punta dimainkan oleh Sadru, Wijil dimainkan oleh Monjong, dan Mantri Buduh oleh Ribu. Trio Sadru-Monjong-Ribu (entah siapa nama-nama lengkap ketiga seniman ini) sangat populer di Bali. Punta keluar ke pentas pertama kali, bahkan tak perlu menyanyi. Ia langsung berdialog, kadang-kadang memakai bahasa Indonesia dan menyebut dirinya

pemimpin. Untuk membuktikan dirinya pemimpin, ia memerin- tahkan juru tabuh menari, maka para penabuh gong lengkap yang tak kurang dari orang ini menari kecak, mengikuti perintah Punta. Monjong pun jarang menembang — walau suaranya bagus sekali. Ia menyanyi dengan irama lagu Jawa atau lagu Sunda atau mungkin lagu Batak, ditingkah ilustrasi gamelan yang memang sudah berpadu. Humor trio ini selalu segar dengan kritiknya yang tajam. Misalnya, ketika ia menceritakan bagaimana makmurnya kerajaan, ia pun menyebutkan, penduduk menyimpan pakaiannya yang begitu banyak di lumbung, sampai-sampai turis asing tak bisa membeli pakaian — karena setiap muncul pakaian baru diborong penduduk. Turis pun berpakaian setengah bugil. Para pejabat, pemuka agama, tak lewat dari kritikannya. Ida Bagus Ngurah, yang dikenal sebagai Pengrancab tiada duanya dalam memamerkan ilmu filsafatnya, ikut-ikutan mem- banyol. Ketika dalam cerita ia bertugas membunuh Galuh, ia pun berkata ke arah penonton, “Tak usah berpanjang lebar, ini perintah atasan. Namanya monoloyalitas, kalau tak mau memilih perintah ini, nanti dipecat,” begitu kira-kira ucapannya dengan bahasa campuran, Indonesia—Bali, sambil memberi isyarat kepada pe- main yang akan “dibunuh” masuk ke langse saja. Ucapan seperti ini membuat gedung pertunjukan bergemuruh dan tepuk tangan berkepanjangan. Bayangkanlah, kalau ucapan itu dikeluarkan menjelang Pemilu 7, saat ketika mayoritas PNI digiring menjadi mayoritas Golkar, dan pegawai negeri kena garis monoloyalitas memilih Golkar. Lakon paling populer Arja Bon Bali ini adalah Sampik In- gthai — ejaan ini sudah amat populer di Bali. Ini kisah tentang Sampik yang bersekolah di kota dan indekos bersama Ingthai yang menyamar sebagai pria. Mereka berjanji sehidup semati sebagai teman. Tetapi ketika tamat sekolah dan ketahuan Ingthai seorang wanita, Sampik pun penasaran jatuh cinta, sembari menyesal berkepanjangan karena selama sekamar sudah sering tidur saling peluk. Sampik terlambat melamar Ingthai karena kurang cerdik

6

menafsirkan perjanjian. Ingthai dikawinkan dengan Macun (ini cerita dari Cina, entah bagaimana ejaan yang benar). Sampik pun patah hati, tidur terus-menerus di kamar. Yang memerankan ayah Sampik ini adalah Ida Bagus Ngurah, sebagai tokoh sisipan — dan pola arja membenarkan, karena Pen- grancab tidak ada. Bisa dibayangkan, bagaimana nasihat-nasihat yang keluar dari Ida Bagus Ngurah, dan kritiknya yang tajam kepada anak-anak sekolah. Kerewelan ayah Sampik ini akhirnya membuat marah ibu Sampik (Limbur), apalagi ternyata — dan ini tentu dicari-cari — ayah Sampik itu kawin nyentana. Ini perkawi- nan adat Bali di mana lelaki yang menumpang ke rumah sang istri. Dalam status perkawinan begini, yang berhak atas anak-anak adalah ibu. Limbur pun mempreteli pakaian ayah Sampik di atas pentas, yang tinggal hanya celana kolor. Tubuh Ida Bagus Ngurah yang gendut dengan celana kolor kedodoran, dan sikapnya yang kemudian bloon — pergi ke kursi penonton minta rokok dan ulah- ulah lain — membuat penonton terpingkal-pingkal. Belum lagi adegan trio Sadru-Monjong-Ribu. Ribu, sebagai Macun (Mantri Buduh) yang kaya, keluar dengan tari kreasi baru yang melambangkan naik mobil sedan mewah, maklum pengusaha Cina. Sadru dan Monjong tidak menyebut dirinya Punta atau Wijil, tetapi memakai nama-nama Cina, diambil dari nama-nama pengusaha terkenal. Populernya Arja Bon Bali ini tak lepas dari kritikan. Para seniman tua gelisah, karena arja ini merusakkan pakem yang telah ada, dan mengarah ke drama gong. Tetapi mayoritas orang menga- cungkan jempol, karena kreasi mereka — terutama tabuhnya dan humornya — selalu berganti-ganti. Maklum, mereka karyawan kesenian daerah RRI yang tiap hari berkumpul. Arja kelompok ini bertahan terus, seirama dengan mewabahnya drama gong, kesenian modern berlatar belakang tradisional — cerita dan musiknya. Akibatnya, jika orang menyebut arja, maka yang dimaksud adalah kelompok Arja Bon Bali itu. Sudah tentu, kelompok Arja Sebunan — grup yang anggotanya tinggal di satu desa — berangsur mati. Kalaupun masih ada, sudah tidak berarti

7

lagi, paling dipertunjukkan di lingkungan desanya sendiri jika ada upacara keagamaan dengan gratis. Sampai datang 986. Tak ada lagi grup arja selain milik RRI Denpasar dan “arja mendadak” dari mahasiswa Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) Bali. Sampai pemerintah merasa perlu membuat Pekan Arja se-Bali — dan menurut sebuah sumber pemainnya juga dari mahasiswa ASTI yang “pulang ke desa”, hanya untuk keperluan mewakili kabupaten dalam pekan ini. Kesenian arja yang tragis. Kepada siapakah tuduhan harus dialamatkan, sebagai penanggungjawah kepunahan teater rakyat Bali yang satu ini? Sadru, Monjong, Ribu, Ida Bagus Ngurah, atau masyarakat sendiri yang selalu menoleh, membuat perbandingan, dan terpengaruh pada kesenian yang datang menyusul?

8

VIII Perjalanan Teater Rakyat Topeng, Janger, dan Drama Gong Dewa Ayu Putu Rai Alias Ni

VIII

Perjalanan Teater Rakyat Topeng, Janger, dan Drama Gong

Dewa Ayu Putu Rai Alias Ni Luh Sukerti

S ATU bentuk kesenian yang sudah memasyarakat bisa saja

tiba-tiba lenyap. Setidak-tidaknya, ia berangsur-angsur

ditinggalkan masyarakat penontonnya. Orang terguncang

oleh satu bentuk kesenian yang baru muncul. Masyarakat merasa diwakili oleh bentuk kesenian yang datangnya belakangan. Itulah sisi lain perjalanan teater rakyat di Bali. Gambuh, yang di masa sebelum kemerdekaan, konon, mendapat tempat di hati masyarakat, tiba-tiba menyurut ketika topeng muncul sebagai teater yang lebih akrab. Topeng dan arja yang bisa hidup berdampingan, yang sempat menggebu-gebu itu, pudar juga ketika drama gong mewabah di Bali. Dalam perjalanannya kemudian — saat ini — drama gong pun sudah sampai pada titik gawat ketika layar tancep memasuki pedesaan dengan cerita-cerita yang mudah dikenal masyarakat, legenda Jaka Tarub, Nyai Blorong, Nyai Roro

9

Kidul, Jaka Gledek, Jayaprana, dan banyak lagi. Dibandingkan dengan gambuh dan arja, topeng barangkali tak akan mati sungguh-sungguh. Masalahnya, topeng dalam penger- tian penutup wajah itu — di Bali disebut tapel — masih banyak disimpan dan di beberapa tempat ditaruh di sebuah pura. Dengan kata lain, tapel itu dikeramatkan. Tetapi topeng sebagai seni pertunjukan tidak digolongkan tari sakral, seperti misalnya Tari Sang Hyang. Drama tari ini digolong- kan jenis tari bebali — artinya suatu pertunjukan yang sering kali diadakan dalam rangkaian upacara persembahyangan di sebuah pura, sebagai hiburan umat yang datang bersembahyang. Cerita yang dipergelarkan selalu diambil dari sejarah Bali. Karena itu, tidaklah salah kalau kesenian ini disebut pengungkap sejarah, entah itu sejarah yang lebih besar — kisah-kisah para raja di Bali — atau sejarah berdirinya sebuah desa, sebuah pura, dan sebagainya. Tentu saja, semua kisah ini tak bisa dikarang-karang. Adapun ceritanya diambil dari Babad Bali, dari Prabu Mayadanawa, Kerajaan Gelgel di abad ke-, sampai perang Puputan Badung di abad ke-0. Adalah kesenian ini yang paling banyak punya beban untuk membentuk “manusia Bali seutuhnya”. Lewat teater topeng, ma- syarakat diajak membuka lembar-lembar sejarah masa lalunya, di- kuliahi masalah agama, digurui soal sopan santun. Bentuk kesenian ini adalah sarana pendidikan, penerangan, dan bahkan propaganda politik. Di masa penjajahan, para penari topeng banyak yang dije- bloskan ke penjara karena menghina pemerintah kolonial. Drama tari topeng memang kelanjutan gambuh — sebuah drama tari klasik yang lebih tua dari arja. Gambuh dan arja tidak menggunakan tapel, dan kedua drama tari ini lebih ketat dengan pakem, baik tari maupun ucapan. Tetapi topeng lebih banyak menyediakan tempat untuk improvisasi, baik itu improvisasi tari maupun dialog. Musik pengiring (gamelan) dalam topeng sudah tersedia dalam bentuknya yang pendek-pendek. Dan itu kemudian diulang sesuai dengan keinginan pemain. Dalam drama tari ini, pemainlah yang memberi isyarat, tabuh apa yang dibunyikan. Itu bedanya dengan gambuh yang penarinya terikat oleh pakem tabuh,

0

yang tak bisa diubah seenaknya dalam satu pergelaran. Bagi pemain yang tidak boleh berdialog, misalnya Dalem (Raja) dan Pepatih, pada drama tari gambuh gerak tari pemain itu lebih indah, luwes, dan mengesankan gerakan yang abstrak. Sedang penari topeng dalam tokoh yang sama memungkinkan gerak yang lebih lincah dengan gaya pantomim. Begitu pula untuk pemain yang bebas berdialog. Pada gambuh dialog-dialog itu diucapkan halus, nyaris berlagu, dan sangat serius tanpa humor. Sebaliknya pada topeng. Apalagi kalau sudah muncul topeng bebondresan, topeng-topeng lucu yang menggambarkan berbagai perangai dan bentuk wajah manusia di masyarakat. Tapel hanya menutup wajah di atas bibir, sehingga pemain tak terhalang suaranya. Pemain bebas mengekspresikan tapel yang digunakan, ada yang pura-pura tuli bisu, suka marah-marah, dan sebagainya. Seperti halnya pada setiap bentuk teater rakyat Bali, tak ada skenario tertulis sebelum pementasan itu dimulai. Kendatipun be- gitu, sebelum pementasan para pemain berkumpul dan seseorang membeberkan cerita. Siapa yang lebih menguasai cerita, dialah yang biasanya menjadi penasar (panakawan), karena dari pemain ini — yang bebas berdialog -- cerita diuraikan ke penonton. Yang tak menguasai cerita — atau kurang sreg dengan cerita yang di- pentaskan — bermain sebagai dalem atau pepatih, yang tugasnya hanya menari dan memberi gerak-gerak bergaya pemain pantomim. Atau menjadi pemain bebondresan, topeng yang boleh bicara ngawur, hanya membuat lelucon. Pembeberan cerita beberapa saat sebelum pentas itu pent- ing karena para penari topeng tak mesti menghimpun diri dalam satu sekeha (grup) permanen. Bisa saja para penari dicomot dari desa-desa yang berlainan dan mereka baru berkumpul pada saat pementasan itu. Jumlah penari untuk satu pementasan juga tidak tentu. Berapa pun jumlah penari yang tersedia, pementasan bisa jalan — jadi beda lagi dengan gambuh atau arja. Hal ini dimungkinkan, karena terbukanya kesempatan untuk main rangkap. Dengan tiga penari saja, pementasan cerita sudah komplet, asalkan tentu saja tapel

tersedia dalam jumlah yang cukup banyak. Bahkan ada pementasan topeng yang dimainkan oleh seorang saja. Disebut topeng pajegan. Untuk jenis ini, tentulah pemain harus matang betul. Selain setiap saat berganti tapel ia harus bisa memberi kesan kepada penonton, ada tokoh yang tidak terlihat, hanya bayang-bayang. Teater topeng yang digolongkan tari bebali ini pernah diangkat menjadi tari bali-balian — yaitu bentuk kesenian yang bisa dipen- taskan setiap saat untuk hiburan (dan dikomersialkan) dan tidak harus dalam rangkaian upacara keagamaan. Ada yang mencapai sukses, yaitu grup topeng dari Carangsari, Kabupaten Badung. Di tahun-tahun 970-an, grup ini begitu digemari masyarakat. Tentu saja bukan tarinya yang digemari, tetapi leluconnya, yang lebih banyak mengarah ke porno. Apalagi, di antara topeng bebondresan itu, grup ini punya tapel yang menggambarkan seorang wanita yang nakal. Dari sinilah lelucon itu diangkat. Dan karena para pemainnya orang-orang yang punya wawasan lebih luas, lelucon mengalir dengan lebih banyak mengaitkan pada masalah-masalah aktual di masyarakat, termasuk melontarkan kritik. Bahkan porsi ini yang lebih dominan, sehingga “pengungkapan sejarah” yang menjadi misi teater ini, pada grup Topeng Carangsari, hampir hanya menjadi sampiran. Jika grup ini akhirnya menanggalkan statusnya sebagai tari bali-balian — karena sudah mulai jarang ditanggap — ada sebab lain yang mempercepat kejatuhannya, yakni kaset. Cerita-cerita grup topeng ini banyak yang direkam, tentu saja atas izin. Dan ka- set ini diperjual-belikan secara luas. Celakanya, penyebaran kaset —juga lewat pemutaran di radio amatir — lebih cepat ketimbang “memproduksi” banyolan baru. Akibatnya, pementasan grup to- peng ini tak lagi menggigit, banyolannya banyak yang mengulang. Sering terjadi, penonton berteriak mengejek, dan bahkan penonton lebih pintar dengan mengucapkan kata-kata yang belum diucapkan pemain. Jadilah, kesenian ini kembali memasuki sangkarnya, sebagai tari bebali — sebagai sarana hiburan pada upacara keagamaan. Di sana ia memang tak tertandingi, salah satu sebab karena bentuk

tari arja dan drama gong yang berlarut-larut itu tidak cocok untuk hiburan di saat menjalankan ibadat agama. Topeng, keistimewaan- nya yang lain, bisa dipersingkat, bisa diperpanjang tergantung waktu yang disediakan. Bisa pula hanya beberapa puluh menit, yang dipentaskan beberapa topeng pengelembar — yakni topeng tanpa cerita. Yang membuat jenis teater rakyat ini menyingkir dari pang- gung-panggung pertunjukan komersial, munculnya satu bentuk ke- senian baru yang tidak jelas pakemnya, tidak mudah ditebak urutan ceritanya — karena lebih banyak fiktif. Yakni: drama gong.

***

DI masa pergolakan partai-partai, kesenian janger berkembang

di Bali. Tari muda-mudi ini digemari karena seleret remaja laki

berbalas pantun dengan seleret remaja wanita. Di sela-sela pantun

itu ada tari-tari gembira. Seorang pemain — ibarat seminar ia men-

jadi moderator — disebut dag. Ia yang memimpin dan mengawasi pantun-pantun itu, yang umumnya soal percintaan dan janji-janji gombal — memang sengaja dibuat lucu. Karena kemasukan “semangat partai”, syair-syair itu tak melulu soal cinta, tetapi sudah diracuni kampanye partai. Lekra merancang syair untuk PKI, LKN merancang syair janger untuk PNI. Temanya sama saja. Mula-mula penari lelaki merayu si wanita, si wanita mula-mula menolak. Kemudian penari lelaki menyebutkan, ia adalah kader partai yang ingin menikah dengan kader partai sealiran. Nah, si wanita menerimanya, karena ia juga kader partai. Begitulah, dengan syair-syair yang dilagukan secara kompak, program partai dikumandangkan. Dag kemudian ber- fungsi sebagai komentator, tak kalah dengan juru kampanye yang akan berpidato di podium. (Kesenian janger ini lebih banyak pentas sebagai hiburan menunggu pemimpin partai berbicara). Tarian kaum lelaki dalam janger itu pun kemudian berkem- bang. Tak lagi asal saling tuding, berlenggang berkacak pinggang, tetapi sudah kena “jurus-jurus partai”. Janger Lekra, misalnya,

membuat tarian orang mengetukkan palu dan menyabit rumput, sambil meneriakkan koor: “Sama rasa, sama rata”. Janger LKN memperagakan banteng yang mendengus dengan membungkuk- kan tubuh dan mengibaskan kepalanya, sambil berkoor: “Marhaen Menang, Pancasila Jaya”. Ketika konfrontasi dengan Malaysia sedang digalakkan, dan para sukarelawan dilatih di mana-mana, kesenian janger ikut pula terpengaruh. (Ini memang kesenian gampangan, di kelas III SMP itu, 96, saya ikut sebagai penari Janger dari kelompok GSNI — Gerakan Siswa Nasional Indonesia). Para penari lelaki pun dalam syairnya bercerita akan berangkat ke medan perang, meng- hancurkan negara boneka Malaysia. Baik syair maupun slogan dan komentar dag diucapkan dalam bahasa gado-gado, campuran bahasa Bali dan bahasa Indonesia. Pada masa konfrontasi ini, muncul pula di Tabanan, janger yang bercerita. Tidak memakai dag. Sederet penari lelaki keluar, bernyanyi, lalu duduk. Kemudian sederet penari wanita muncul satu per satu bernyanyi, lalu duduk berhadapan dengan deretan pria. Mereka bersyair sebentar sebagai pembuka dan basa-basi kepada penonton. Lalu menceritakan keadaan masa sekarang yang sedang berjuang menghancurkan Malaysia. Muncullah drama, pemain-pemain keluar. Walaupun ceritanya soal pengiriman sukarelawan ke Malaysia, kemudian ada adegan perang segala, pemain lelaki (dari kelompok drama, bukan penari laki janger itu) selalu menyebut identitas dirinya. Misalnya, “aku si marhaen, orang yang akan membawa rakyat menuju adil mak- mur, akan berangkat bersama marhaen-marhaen lain ke pedala- man Kalimantan,” memakai bahasa Indonesia yang secara tata bahasa — apalagi dialek — tak ketulungan jeleknya. Tapi penonton kagum, ya, kesenian ini memang untuk orang-orang desa yang mungkin sulit menangkap bahasa Indonesia. , Setelah era hitam G-0-S/PKI lewat, janger pun menguap. Kampanye politik memang sudah tak ada lagi. PNI tak punya sain- gan lagi, setelah PKI dibubarkan. Ada satu dua janger yang masih pentas. Dan menariknya, pementasan itu sudah mulai komersial,

penonton membayar karcis. Janger jenis ini, janger yang bercerita, yang memang cerita itu yang diharap-harapkan penontonnya. Tidak lagi banyak mengumbar kata-kata marhaen — mungkin karena saingannya tak ada lagi — walau kelompok kesenian ini tetap mengatasnamakan LKN. Ceritanya pun lebih panjang, lebih urut, misalnya, kepahlawanan Untung Surapati. Janger inilah embrio drama gong. Janger itu sendiri meng- hilang, dan tinggal dramanya. Karena tak lagi ada “berbalas pan- tun”, musik pengiringnya diganti dengan yang lebih meriah, yakni seperangkat gong. Bahasa yang dipakai tetap bahasa Indonesia, kecuali pada leluconnya yang agak dicampur-campur. Drama gong ini boleh disebut lahir di Kabupaten Gianyar, tokohnya Anak Agung Raka Payadnya dari Desa Abian Base. Pemunculan drama gong ini segera menjalar ke kabupaten lain- nya. Mula-mula Klungkung lalu Badung, kemudian Bangli, dan akhirnya di seluruh Bali. LKN memprakarsai festival drama gong se-Bali pada 968. Sementara itu, polemik pun muncul di surat-surat kabar, soal nama. Kenapa harus memakai gong, kenapa tidak cukup drama saja. Polemik ini juga menandakan bahwa drama gong tidak sekadar kesenian orang desa, tetapi sudah menjadi kesenian orang kota. Dramawan “tanpa gong”, seperti Abu Bakar, Hemannegara, Yudha Paniek, Sutikno, terlibat dalam urusan ini. Mungkin karena bahasa Indonesianya itu, atau semangat kepartaian yang saat itu masih tetap lengket. Wabah drama gong merayapi Bali. Di desa, di kota, di sekolah, muncul drama gong. Ketika orang desa saya mendengar, saya ikut drama gong di Denpasar, saya pun berkali-kali disuruh pulang kam- pung, melatih drama gong. Yang diharapkan para pemuda-pemudi desa bukan latihan akting, cara bermain, vokal, dan sebagainya. Itu soal mudah buat mereka, tak perlu latihan, cukup meniru pemen- tasan sebelumnya. Yang mereka maui, buatkan cerita, dan buatkan dialog-dialog. Jadi, pada mulanya drama gong muncul, teater ini sudah memakai skenario tertulis. Tetapi begitulah, dialog pendek-pendek. Kalau menonton

drama gong di desa, banyak sekali kata-kata janggal. Misalnya, pada adegan pertengkaran antar pepatih, terdengar ucapan “kuseret darahmu”. Bagaimana darah diseret? Sabar, seret itu dalam bahasa Bali berarti meneguk. Jadi, “kuseret darahmu” berarti darah itu diteguk setelah lawan dicekik tak berkutik. Atau kata-kata ini: “Apa kataku?” Maksudnya, “apa katamu?” Atau lagi: “Jangan mencuci maki begitu”, maksudnya “mencaci maki”. Penonton tak ada yang ketawa dengan kata yang salah itu, mungkin pula tak menangkap apa artinya. Yang dilihat, pemain bertengkar, habis perkara. Kira-kira dua tahun setelah festival drama yang diselenggara- kan LKN, Drama Gong Abian Base pimpinan Raka Payadnya ini mengubah pementasannya, bukan saja ceritanya mulai “mendekati” Bali, tetapi bahasanya memakai bahasa Bali. Terkenal saat itu, la- kon Jayaprana. Sambutan penonton luar biasa. Hampir tiap malam drama gong ini ditanggap. Penanggap bahkan memesan sampai empat bulan di muka. Para petani Abian Base sudah melepaskan cangkulnya. Sawah-sawah di desa itu dicarikan penggarap orang luar. Pembaruan ini tentu membawa akibat lain. Bahasa Bali ternyata lebih sulit dipelajari orang desa, terutama di desa-desa Tabanan, Buleleng, Badung. Sulitnya, karena cerita drama gong selalu mengenai raja-raja, sehingga jika memakai bahasa Bali tentu berbagai bentuk hormat dipakai. Adegan di kerajaan, para pepatih atau rakyat akan berbicara dengan bahasa Bali halus kepada raja. Dalam adegan di luar kerajaan, dipakai bahasa Bali menengah. Ad- egan pertengkaran memakai bahasa Bali kasar. Dan tingkat-tingkat bahasa ini sangat sulit untuk daerah-daerah yang jauh dari puri. Apalagi buat anak-anak muda. Maka, banyak grup yang rontok tiba-tiba — termasuk grup di sekolah saya. Ada yang bertahan dengan tetap memakai bahasa Indonesia, misalnya Drama Gong Kacang Dawa di Klungkung. Sebagai pemikat, grup ini menyelipkan tiupan seruling, seperti banyak terlihat dalam film-film India. Bunyi seruling itu mengalun dit- ingkahi bunyi gong, merupakan eksperimen baru dilihat dari segi musiknya. Yang populer dari grup ini, lakon Sukrasena, seorang

6

manusia yang mengawini bidadari. Seruling itu berbunyi kalau sang tokoh memanggil bidadari. Musik seruling itu pun ditiru di banyak grup. Karena tak lagi punya keistimewaan, drama gong dari Kabupaten Klungkung ini ikut memakai bahasa Bali, tetapi kalah pamornya dari drama gong Gianyar yang begitu menguasai tata krama bahasa Bali. Masyarakat Gianyar sehari-harinya memang menggunakan bahasa Bali dalam berbagai tingkat ini, sehingga pemain drama gong dari sini ting- gal mengangkat bahasa Bali keseharian itu ke pentas. Itu bedanya dengan drama gong di luar Gianyar, yang harus berkutat berbulan- bulan mempelajari bahasa Bali dalam bentuk hormat. Di Kabupaten Buleleng, Jembrana, dan sebagian Tabanan, untuk menutupi kelemahan berbahasa Bali, grup drama gong melengkapi pentasnya dengan layar-layar bergambar, seperti pe- mentasan ketoprak di Jawa. Bahkan tidak sekadar layar yang bisa digulung-diturunkan, tetapi juga berbagai kreasi, misalnya, hujan buatan, awan buatan, tetamanan dengan air mancur buatan, sampai dengan sungai yang berair deras yang dibuat dari berbagai layar tipis, benang, dan tata cahaya. Pemilihan umum pertama di masa Orde Baru, 97, ternyata membawa pengaruh juga. Drama gong di beberapa tempat beran- takan, karena wadah bernaung kesenian itu, LKN, rontok. Golkar masuk dengan cepat dan mendadak, membuat PNI bubar seketika, dibubarkan atau membubarkan diri. Kesenian yang sudah merakyat ini pun pingsan pula. Setelah situasi “normal”, ekses peng-Golkar-an rampung dan dilupakan masyarakat, pemerintah dengan aparat Listibiya (Majelis Pertimbangan dan Pembinaan Kebudayaan) menyelenggarakan festival drama gong. Tidak antargrup, tetapi mewakili delapan kabupaten se-Bali. Bahkan juga difestivalkan drama gong anak- anak — maksudnya pemainnya adalah anak-anak sekolah dasar. Dari sinilah lalu muncul grup drama gong dengan nama tertentu, tidak memakai nama desanya, karena memang para pemainnya tidak bergabung dalam satu desa. Grup bon ini tumbuh banyak di Bali bagian selatan, sementara di Bali utara grup bekas LKN

7

di beberapa tempat masih tetap bertahan, tinggal mencopot kata

LKN-nya. Denpasar punya stasiun pemancar dan stasiun produksi televisi. Drama gong pun masuk ke kotak ajaib itu. Setiap Ahad malam, TVRI Denpasar menyiarkan acara drama gong. Ternyata, acara ini semacam publikasi terselubung untuk grup-grup yang muncul. Grup yang muncul itu memang lebih profesional, baik dari segi penguasaan pada drama-drama sebenarnya, akting, vokal, cara bercerita, maupun tata bahasanya. Maka, semakin rontoklah grup drama gong yang berada di desa-desa.

Kini, menginjak 986, grup drama gong sudah bisa dihitung dengan jari. Pemain-pemain yang baik pun tidak begitu banyak.

Pementasan juga sangat jarang. Grup yang masih aktif, baik pentas maupun rekaman kaset, semuanya grup bon di Bali bagian selatan. Yakni, grup Dewan Kesenian Denpasar, Kerti Bhuwana, Duta Bon Bali, Bintang Bali Timur. Itu pun dengan pemain yang sering pindah-pindah. Misalnya, Dewa Ayu Rai, yang sekarang bermain

di Drama Gong Kerti Bhuwana, suatu saat bisa saja bermain di

Drama Gong Duta Bon Bali. Dewa Ayu Rai adalah pemain putri yang paling populer saat ini di Bali. Pemain putranya, I Wayan Lodra, dikenal sangat ahli berfilsafat dengap tutur bahasanya yang bagus. Memang, ia karyawan Kanwil Departemen Agama yang biasa mengadakan penyuluhan-penyuluhan di desa. Kepopuleran I Wayan Lodra

periode 980-an ini sama dengan populernya Anak Agung Raka Payadnya pada periode 970-an.

***

SEBAGAI salah satu bentuk teater rakyat, drama gong me- mang lebih bebas dibandingkan gambuh, arja, maupun topeng. Jumlah pemain tidak terbatas. Jumlah tabuh (jenis musik pengir- ingnya) tidak pula dibatasi, bahkan sangat dimungkinkan eksperi- men baru. Namun, pola ceritanya hampir seragam. Dan selalu tentang

8

raja-raja, walau itu dibuat-buat. Tiru-meniru — dengan mengubah judul dan nama tokoh dalam cerita — selalu terjadi ketika wabah drama gong itu melanda. Abian Base punya cerita top berjudul Tapa Lara, seminggu kemudian muncul drama gong lain dengan judul Made Lara. Menyusul Sukra Tapa. Ceritanya itu-itu juga, tinggal dibolak-balik, atau dibongkar sana-sini. Selalu ada dua raja muda (pangeran), yang satu raja muda yang sopan jujur, bahasanya bagus, dan biasanya diambil dari pemain yang ganteng. Masyarakat menyebutnya pemain muda. Yang satu lagi, raja muda yang kasar, bicaranya ngawur, rakus, dan masyarakat Bali menyebutnya raja buduh — arti persisnya raja gila. Kedua raja ini diiringi panakawan yang sifat-sifatnya sama dengan raja mudanya. Lalu ada raja tua, raja yang masih memegang tampuk pemer-

intahan. Bisa ada dua, tiga, atau lebih. Raja ini pun punya pepatih.

Di antara pepatihnya itu, ada dua “golongan”, yang bertabiat

buruk — suka memfitnah dan menjilat untuk kepentingan jelek

— ada pepatih yang setia. Dalam sidang kerajaan, dua pepatih ini

berdebat, dan mengalirlah berbagai pelajaran keagamaan, filsafat, masalah kenegaraan menurut agama, dan bermacam-macam. Selain kelompok raja, ada kelompok masyarakat biasa. Dan selalu sepasang suami istri yang mandul, sehingga disebut Pan Bekung dan Men Bekung. Tokoh-tokoh ini menjadi semacam jembatan, di antara dua raja yang bertengkar. Ciri yang lain lagi adalah celuluk — sejenis rangda yang kepalanya botak-- topeng yang banyak dijual di toko-toko kes- enian. Celuluk ini bisa simbol binatang buas, atau bisa pula naik tingkat menjadi “utusan Bethara” yang akan menghidupkan tokoh yang meninggal dunia. Teater rakyat Bali sangat menghindari cerita berakhir sedih. Karena itu, setelah kematian ada adegan

menghidupkan kembali. Pokoknya, setiap pertengkaran, setiap pergulatan, pada akhirnya selalu yang menang pihak yang benar.

Dan kalau yang benar ini pada pertengahan cerita meninggal dari tokoh jahat, Tuhan berbaik hati untuk menghidupkannya. Celuluk

itu pun muncul di pentas.

9

Saya berkali-kali mengikuti grup drama gong di desa saya, memainkan lakon Jayaprana — lakon yang “angker” karena cerita ini benar-benar pernah terjadi. Kalau bermain di kota, atau pinggiran kota, cerita dibiarkan berakhir dengan kesedihan. Yaitu meninggalnya Jayaprana secara pasrah di Teluk Terima setelah dibunuh Pepatih Sawunggaling atas perintah Raja Kalianget. Ini memang adegan yang memilukan. Sawunggaling sebenarnya tak tega membunuh Jayaprana, karena bukan lawan, dan bukan orang jahat. Pepatih ini menusuk leher Jayaprana di pangkuannya dengan pelan, dengan linangan air mata. Jayaprana memang pasrah, karena ia sejak kecil diasuh di kerajaan, dibesarkan dan dididik di tembok puri. Kalau raja mem- besarkannya, dan kini atas perintah raja pula kematiannya datang, untuk apa harus dicegah? Justru Jayaprana bersyukur, hidupnya bisa diperpanjang oleh raja, karena dipungut dalam keadaan sekarat di masa keeil, ditinggal mati ayah ibunya. Adegan antara Sawunggaling dan Jayaprana yang penuh kes- edihan ini bisa menguras air mata penonton. Apalagi adegan itu berlanjut terus dengan sedih, bagaimana Layonsari mencari tahu, kenapa suaminya belum pulang dari Teluk Terima. Bagaimana Sawunggaling tak tega menceritakan kematian itu kepada Layon- sari. Dan akhirnya Layonsari bunuh diri, setelah tahu, kematian Jayaprana atas kehendak raja dengan maksud raja menikahi Lay- onsari. Cerita berakhir. Bagi penduduk pedesaan, cerita model begini tidak bisa diterima. Itu sebabnya, setiap cerita di luar Jayaprana — walaupun polanya meniru Jayaprana — tak akan berakhir dengan tragedi seperti itu. Maka, pada suatu pentas, atas permintaan penanggap yang ingin cerita Jayaprana tetapi tak ingin cerita berakhir sedih, saya memelencengkan cerita di bagian akhir. Setelah Layonsari bunuh diri, Raja Kalianget mengamuk. Rakyat ramai-ramai me- nyerang kerajaan dan memaki-maki raja yang sudah tewas. Den- gan banyolan itu — yang dalam kisah sebenarnya tak pernah ada — penonton melupakan kesedihannya. Atau suatu kali ada teknik baru. Begitu selesai Layonsari bunuh

0

diri, layar tipis bergambar awan diturunkan. Tata cahaya lampu diatur. Jayaprana keluar dari “awan” mendatangi mayat Layonsari, dibawanya naik ke awan. Lalu, layar awan digulung naik, diganti layar tetamanan. Jayaprana dan Layonsari muncul lagi, kali ini menari gembira dengan gamelan riang dan dialog-dialog yang menandakan kebahagiaan, bahwa mereka toh berkumpul di surga. Penonton puas dan bergembira.

***

INILAH cerita Ni Luh Sukerti, yang kasetnya direkam atas nama Drama Gong Bintang Bali Timur, produksi Aneka Stereo Record. Cerita ini tamat dalam empat kaset dan menurut produser, sudah dicetak lebih dari 00.000 kaset. Raja Kauripan punya dua putra. Yang pertama bernama Angga Pati, adiknya bernama Jaya Semara. Angga Pati, yang digambar- kan sebagai anak yang bodoh, gemar berjudi, agak sinting, sudah mengambil istri, yakni Putri Pejarakan — anak Raja Pajarakan. Jaya Semara masih membujang. Dalam suatu sidang kerajaan, Raja mengutarakan maksudnya untuk menyerahkan tahtanya ke Angga Pati, karena sesuai dengan tradisi sebagai putra tertua. Tetapi Angga Pati menolak. Alasannya ngawur saja, tidak suka menjadi raja. Dibujuk-bujuk oleh adiknya, dengan alasan akan dibantu memimpin kerajaan, Angga tetap tidak bersedia. Malah dia menawarkan tahta itu kepada adiknya. Pembicaraan belum selesai, karena ayam yang dibawa panakawan Angga Pati lari. Pangeran sinting ini ikut mengejar ayam itu, dan tak muncul-muncul lagi. Sepeninggal Angga Pati, Raja bingung mengambil keputusan. Patih Anom, yang dimintai pendapatnya, memberikan usul agar Jaya Semara saja dikukuhkan sebagai raja. Setelah cukup mengadu argumentasi, Jaya Semara menyanggupi, dengan catatan ia diperke- nankan menumut ilmu ke tengah hutan kepada seorang resi. Keputusan ini di pihak lain menjadi bibit pertentangan antara

Patih Anom dan Patih Agung — yang tak setuju Jaya Semara menjadi raja. Sementara itu, Putri Pejarakan juga kesal, karena suaminya belum bisa menjadi raja. Padahal, sebelum ia dibawa ke Kauripan, ia sudah mengajukan syarat, bersedia diajak kawin asal nantinya menjadi permaisuri. Pada saat ia mengumbar kekesalan itu, Jaya Semara datang mengabarkan tentang Angga Pati yang menolak menjadi raja. Jaya Semara pun mengabarkan, dirinya akan segera

menuntut ilmu, karena dipersiapkan menjadi raja. Putri Pejarakan terpukul, walau itu disimpannya dalam-dalam. Ketika Jaya pergi, muncul Angga, katanya baru pulang dari tempat sabungan ayam. Langsung saja pangeran ini disemprot habis-habisan oleh istrinya. Sekali lagi istrinya meminta agar Angga tetap menjadi raja. Tersebutlah kisah lain, di tengah hutan. Ada seorang resi atau dukuh yang bijak. Ia punya dua anak: Ni Luh Sukerti dan Luh Mongkeg. Keduanya juga punya perangai yang berbeda. Sukerti halus, tutur bahasanya baik; sementara Mongkeg suka ceplas-ce- plos, urakan, dan sering mengumpat-umpat.

Di tempat inilah Jaya Semara belajar. Bukan saja ilmu yang

diperolehnya, tetapi juga ia mengikat tali cinta dengan Sukerti. Dan akhirnya, lewat berbagai teknik dan taktik, Jaya Semara berhasil mengawini Sukerti dan diboyongnya ke Puri Kauripan. Sementara itu, di Kauripan, pada saat Angga Pati meminta uang kepada ayahnya untuk bekal berjudi, Jaya Semara muncul dan langsung memperkenalkan Sukerti. Ketika Raja bertanya, apakah ilmu yang didapat Jaya Semara cukup, pangeran ini menjawabnya, belum. Untuk itu, besok pagi, ia akan pergi ke tempat resi yang lain untuk melengkapi ilmunya. Sepeninggal Jaya, Angga pun terpikat pada Sukerti. Angga berusaha membujuk dan memaksa Sukerti meladeni nafsu jahat-

nya. Pada saat tarik-tarikan ini, Putri Pejarakan datang. Tentu sang putri marah dan langsung mengusut siapa yang membuat onar lebih dulu. Putri semakin dendam pada Sukerti.

Di bagian lain, di tengah perjalanan, Jaya Semara diingatkan

oleh panakawannya karena tak membawa keris pusaka. Ia balik pu- lang dan sebelum sampai di puri berjumpa dengan Putri Pejarakan. Sang putri langsung mengatakan, memang ada niat menyusul Jaya. Ada sesuatu yang ingin disampaikannya, yakni niat jahat Sukerti yang menggoda suaminya. Singkat kata Sukerti difitnah. Jaya pun marah luar biasa. Akhirnya Jaya menyiksa istrinya, rnengumpat dengan kata-kata yang kasar. Sukerti diusir. Sukerti yang malang itu pulang ke tempat ayahnya. Semula ayahnya marah, tetapi ketika Sukerti menjelaskan ia kena fitnah, dan dilakukan oleh Putri Pejarakan, sang resi diam terpaku. Rupa- nya, ada suatu misteri. Dan benar, beberapa saat, resi itu sungkem dan menyembah Sukerti. Ia menjelaskan, Sukerti dipungut sejak keeil, tak lain dari Putri Daha — anak Kerajaan Daha. Negeri ini hancur karena suatu pertempuran licik. Yang menghancurkan Kerajaan Pejarakan. Sukerti pun lantas bangkit dan menantang Putri Pejarakan, suatu saat nanti. Kembali kisah ke Istana Kauripan. Putri Pejarakan memanggil Patih Agung untuk menyusun siasat, bagaimana caranya mem- bunuh Raja. Targetnya, setelah mertuanya terbunuh, lalu disusul membunuh suaminya. Patih Agung meminta agar mencuri keris Angga Pati. Keris itulah yang nantinya akan dipakai Patih Agung membunuh Raja. Rencana buruk itu berjalan lancar. Raja mati di kamar tidurnya, sesuai dengan skenario Patih Agung. Rakyat pun gempar. Ketika dilacak, ditemukanlah keris Angga Pati. Tuduhan langsung kepada pangeran yang agak sinting ini. Pada saat diusut, Angga Pati tak mengakui telah berbuat jahat seperti dituduhkannya. Tetapi karena banyak suara yang menuduh dirinya dan dengan alasan ketentera- man, Angga bersedia dibunuh. Jaya Semara langsung mencabut kerisnya, dan berkata kepada rakyat: hukum tak pandang bulu, siapa pun yang bersalah harus dibunuh, tak terkecuali saudara sendiri. Pada saat ia menusuk kakaknya, Patih Anom menghalangi. Patih ini berjanji akan mencari si pembunuh dalam waktu tiga hari. Jaya akhirnya setuju. Patih Anom melihat gerak-gerik Patih Agung mencurigakan.

Tetapi yang ia usut adalah panakawan Angga Pati, orang yang dibawa dari Pejarakan. Panakawan ini mengaku, melihat Patih Agung membawa keris menuju kamar Raja. Maka, Patih Agung dikejar, dan Putri Pejarakan pun diusir oleh suaminya sendiri. Angga Pati juga berjanji untuk mengubah tabiatnya, sementara Jaya Semara menyesal telah mengusir Luh Sukerti. Ia berjanji mencari Sukerti dan meminta maaf. Kaset berakhir.

***

CERITA drama gong memang sederhana. Selalu hitam dan putih. Tetapi setelah dipergelarkan secara khusus dengan penon- ton terbatas untuk kepentingan rekaman, pemain drama gong ini bisa menyuguhkan cerita dalam masa putar lebih dari empat jam. Banyak sekali variasi. Bisa diurut dari awal. Satu pangeran didampingi dua panakawan, berarti ada empat panakawan. Bayangkanlah berapa waktu tersita untuk banyolan para panakawan ini, apalagi kalau sedang menggoda seorang dayang — emban Putri Pejarakan. Kemudian pertengkaran Angga Pati dengan istrinya mengalir berbagai ajaran, bagaimana seharusnya menjadi raja dan mening- galkan mental penjudi. Di tengah hutan, pun diselipkan pertengkaran Sukerti dengan Mongkeg, dan di sini berhamburan pula sopan santun, bagaimana menghormati orangtua. Lalu gaya bercinta Jaya Semara dengan Sukerti, yang sudah memakai rayuan gaya modern, seperti pada film-film Indonesia. Terselip pula masalah kasta, karena Sukerti mempersoalkan hal itu, sebagai “orang kebanyakan” yang akan dikawini orang ningrat. Jaya Semara, dengan segala keahliannya, membentangkan bagaimana soal kasta itu sudah kuno, apalagi dikaitkan dengan perkawinan. Pada saat bercinta secara gombal, lalu berfilsafat dan sebagainya, tak terasa hari menjadi malam. Nah, kepergok Mongkeg, lalu dilaporkan kepada ayahnya. Maka, khotbah pun meluncur, bagaimana seharusnya hubungan lelaki dan

perempuan sebelum perkawinan. Perpisahan Sukerti dengan ayahnya pun penuh dengan nasihat, tentu dari sang ayah. Begitu pula perpisahan Sukerti ketika diting- gal Jaya Semara di puri, banyak nasihat meluncur. Yang paling ber- panjang-panjang, tetapi mengasyikkan didengar, cara Jaya Semara mencaci-maki Sukerti, setelah adanya fitnah itu. Diperbandingkan penderitaan Sukerti di hutan dan gemerlapan istana. Kesedihan Sukerti berjalan pulang ke hutan juga panjang, dan di sini musik berkesempatan memamerkan lagu-lagu duka. Sebagai puncak tentu saja cara Patih Anom mengusut panakawan, dan sebelum itu ada kisah kebimbangan Jaya Semara untuk membunuh kakaknya. Pemain drama ini boleh disebut kalangan “intelektual”. Orang seperti I Wayan Lodra (yang menjadi Jaya Semara), I Gde Yudana (Angga Pati), Dewa Ayu Putu Rai (Sukerti), Anak Agung Rai Ka- lam (Patih Anom), sehari-harinya memang sudah terlibat dalam berbagai masalah keagamaan. Kalau lakon Luh Sukerti itu dipentaskan tanpa maksud di- rekam, tentu cerita tak berakhir di situ. Kisah akan dilanjutkan, sampai Sukerti kembali ke Puri Kauripan dan perkawinan di- langsungkan besar-besaran. Dan rakyat berperang melawan Putri Pejarakan — yang tentu saja dilukiskan bisa menjadi leak. Boleh jadi pula, untuk mengulur-ulur waktu — pementasan drama gong di pedesaan berakhir sampai pagi — beberapa sisi- pan adegan dilakukan. Misalnya, adegan Angga Pati ke tempat sabungan ayam, dan sabungan ayam itu sendiri. Adegan ini untuk memperjelas betapa jeleknya tabiat pangeran ini, selain untuk bahan lelucon. Juga adegan Sukerti menangis ke tengah hutan akan lebih berpanjang-panjang dalam pementasan biasa. Mun- cul burung-burung, binatang-binatang — dan apa saja yang ada topengnya — membantu Sukerti berjalan, mencarikan makanan. Pokoknya, seisi hutan solider dalam tangis. Penonton biasanya ikut larut dalam tangis. Dewa Ayu Putri Rai, gadis berlesung pipit yang sehari-hari karyawan sipil di Polda Nusa Tenggara di Denpasar, kini tak lagi

dipanggil Rai, atau Ayu Rai, atau Putu Rai. Nama pemberian orang- tuanya itu seperti tak laku lagi untuk panggilan. Ia kini dipanggil Sukerti. Bahkan ia sendiri sampai mengaku sering lupa, punya nama yang panjang. I Wayan Lodra, ketika mengadakan penyuluhan agama di desa- desa, sering dipanggil Pak Jaya Semara. Begitu pula I Gde Yudana, sehari-hari adalah letnan polisi, sudah terbiasa — dan tidak marah — kalau teman-temannya memanggil Raja Buduh. Kenyataan ini menunjukkan perkembangan baru, drama gong sudah mulai mengenal sistem bintang. Masyarakat di pedesaan juga mulai menokohkan para pemain teater rakyat itu sejajar dengan bintang-bintang film yang mereka kenal baik. Dulu ma- syarakat tak peduli dengan “bintang-bintang” itu. Mereka hanya mengenal, drama gong ini baik, yang ini jelek. Mungkin, karena begitu banyaknya drama gong, masyarakat penonton tidak sempat menokohkan para bintang. Akibat sistem bintang ini, pemain-pemain top yang merasa dirinya jadi bintang suka mengembara dari satu grup ke grup yang lain. Dewa Ayu Rai, misalnya, pernah bermain di grup Bin- tang Bali Timur, lalu ke grup Kerti Bhuwana, kemudian di grup Dewan Kesenian Denpasar. I Wayan Lodra bahkan lebih leluasa, selain di tiga grup di atas, ia juga sering nampang di grup Bhara Budaya — grup drama gong yang di bawah pembinaan Polda Nusa Tenggara. Sudah tentu pasangan-pasangan dalam permainan tidak tetap. I Wayan Lodra sebagai raja muda kadang berpasangan den- gan Komang Anggreni yang bermain sebagai putri (peran utama wanita). Dewa Ayu Rai sekali waktu berpasangan dengan Supadma yang bermain sebagai raja muda (peran utama pria). Jadi, sudah mirip pembuatan film. Ada yang diuntungkan dengan sistem ini. Tentu saja pemain top itu. Ia bisa mengajukan harga tinggi untuk sebuah pementasan. Dewa Ayu Rai dibayar Rp 0.000 sampai Rp 0.000 untuk setiap pementasan. Dibandingkan dengan artis nasional — katakanlah penyanyi atau bintang film — tentu angka itu tak seberapa. Tetapi sebagai ukuran pendapatan seorang seniman di Bali, harga untuk

6

Dewa Ayu Rai sudah kelewat tinggi. Bandingkanlah dengan pe- main pembantu yang hanya dibayar Rp .000. Atau para penabuh yang hanya dibayar Rp 0.000 untuk satu grup yang beranggotakan sekitar 0 orang. Ini berarti para seniman di Bali — walaupun baru terbatas pada pemain top drama gong — sudah menghargai keahli- annya dengan uang. Suatu hal yang dulunya tak begitu dipikirkan para seniman tradisional. Karena itu, pertunjukan drama gong sekarang ini sudah men- jadi mahal. Hampir mencapai jumlah Rp 00.000 untuk sekali pentas. Panitia amal di desa-desa berpikir banyak kali untuk me- mutuskan apakah memilih drama gong atau yang lainnya, untuk menarik dana dari masyarakat. Jika mereka memilih drama gong, mereka harus merebut pemain top, kalau bisa pasangan yang pop- uler dalam lakon Sukerti itu — walau ceritanya boleh diganti. Juga harus diperhitungkan, apakah hari cerah atau hujan. Dan pilihan yang risikonya kecil sudah tersedia. Mendatangkan layar tancep alias film keliling. Dengan modal Rp 150.000 sampai Rp 200.000 sudah bisa mendatangkan dua film cerita, yang diputar berurutan. Dengan modal yang jauh lebih kecil, penonton yang digaet sama banyak, sehingga keuntungan lebih besar. Soalnya harga karcis masuk untuk pentas drama gong itu ditarik sama besar untuk dua film cerita itu. Pilihan ini yang banyak terjadi sekarang. Apakah drama gong menjadi kian mati? Tidak. Karena grup yang ada sekarang itu — jumlahnya di bawah sepuluh tetapi kian profesional — masih tetap melayani pementasan-pementasan. Pada akhirnya, memang, kalau jumlah yang kecil itu melayani seluruh luas Pulau Bali, terasa sekali ketidak-beradaannya. Bukti lain, masyarakat tetap berbondong-bondong menatap televisi se- tiap Ahad malam, ketika TVRI Stasiun Denpasar memancarkan siaran drama gong. Julukan yang paling tepat, barangkali seperti apa yang dikatakan Gde Dharna, seniman drama — baik drama gong maupun drama modern — yang mengatakan drama gong sekarang sedang pingsan. “Kesenian ini musiman. Nanti pasti tumbuh lagi,” katanya.

7

Pingsannya drama gong itu, karena faktor dari dalam, juga karena faktor luar: terdesak film-film yang masuk desa. Mudah- mudahan betul hanya pingsan.

8

IX Pasang Surut Sastra Bali Moderen & Tradisi Made Taro di Sasih Karo Sasih karo

IX

Pasang Surut

Sastra Bali

Moderen

& Tradisi

Made Taro di Sasih Karo

Sasih karo ring Bali sediain saput alembar suryane ngedengang raga, nanging kenyem ipun dingin katiba ring kopine acangkir

Angin daret tur angin pesisi mayus ipun ngupinin taru-taruan rauh ring puncak meru nenten wenten kidung rahina mangkin mawinan nenten rahinan katur ring suryan jagat, angin tur garba

Sasih karo ring Bali ambil saput alembar

9

kurung ragane serahina ngiring mapaos raga-raga sareng kopi acangkir

T EMAN saya agak heran ketika menemukan sajak berbahasa Bali di atas, di antara tumpukan buku tentang kesusastraan Indonesia. Ia menyebutkan, belum pernah mendengar ada

sajak berbahasa Bali. Dan lebih luas, ia belum pernah mendengar kesusastraan Bali modern ada di tengah-tengah kesusastraan In- donesia. “Bisa diterjemahkan?” pintanya. Sajak karya Made Taro di atas yang berjudul Sasih Karo Ring Bali saya terjemahkan untuk menghormati seorang kawan yang tampaknya begitu berminat.

Sasih Karo di Bali

Sasih karo di Bali sedialah selembar selimut matahari menampakkan diri, tapi senyumnya dingin pada secangkir kopi

Angin darat dan angin laut kemalasannya menerpa pepohonan sampai ke puncak-puncak meru tiada yang didendangkan hari ini karena tiada hari raya bagi matahari, angin dan hati nurani

Sasih karo di Bali ambillah selembar selimut dan bungkuslah diri sehari-hari mari berdialog sendiri bersama secangkir kopi

Sajak ini ditulis Made Taro pada 976 dan sudah dimuat dalam

0

kumpulan puisi Galang Kangin yang diterbitkan Yayasan Saba Sastra Bali Denpasar. Ia melukiskan suasana Bali pada Sasih Karo (bulan kedua tahun Saka, atau sekitar bulan Agustus) yang memang udaranya agak dingin. “Apakah puisi jenis ini masih banyak di Bali? Apakah penyair sastra Bali ini cukup banyak jumlahnya?” Pertanyaan teman saya yang agak kekanak-kanakan ini hampir saja membuat saya terpingkal-pingkal. Tentu saja banyak. Di Jakarta, saya masih memiliki beberapa koleksi, antara lain, kumpulan puisi Ganda Sari (97) dan Joged Bungbung (97). Ada lagi, Kembang Rampe Kasusastraan Bali Anyar (978), yang diterbitkan Balai Penelitian Bahasa Singaraja yang memuat bunga rampai kesusastraan Bali modern dalam ben- tuk prosa dan puisi. Buku-buku ini memang tipis, dicetak seder- hana, dan karena itu terselip di antara buku-buku lain. Memang sebuah buku yang sama sekali tidak menarik perhatian. Saya berjanji kepada teman saya, dalam perjalanan pulang ke Bali ini akan mengumpulkan buku mengenai sastra Bali yang lebih banyak. Ketika saya meninggalkan Bali, pemerintah daerah Bali tampaknya berminat sekali mengembangkan sastra ini. Har- ian Bali Post, pada edisi Minggunya, sering memuat puisi Bali modern — begitu istilahnya untuk sajak sejenis karya Made Taro ini. Sayembara pun sering diadakan oleh pemerintah. Saya pikir, sastra Bali modern masih menggairahkan.