Anda di halaman 1dari 57

SKRIPSI

ANALISA SIFAT MEKANIK DAN TERMAL KOMPOSIT GEOPOLIMER


BERBAHAN ABU TERBANG DAN ABU SEKAM PADI
UNTUK APLIKASI PANEL DINDING BANGUNAN

AGIL SYAHRIR
1212140001

PROGRAM STUDI FISIKA


JURUSAN FISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
2016
BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Indonesia sebagai negara berkembang dengan jumlah penduduk semakin

meningkat tiap tahunnya sampai akhir tahun 2014 mencapai 252,20 juta jiwa

(BPS, 2014). Seiring meningkatnya jumlah penduduk Indonesia maka semakin

bertambah pula kebutuhan pokok masyarakat dalam bahan bangunan, hal ini

terbukti dengan adanya penambahan jumlah dari perumahan, gedung-gedung,

jembatan, serta jalan raya. Dengan bertambahnya proses konstruksi dalam Negara

Indonesia ini berarti menambah keperluan akan bahan dasar utama pembangunan

yaitu semen. Semen merupakan bahan yang dibuat dengan cara membakar secara

bersamaan campuran calcareous (batu gamping) dan argillaceous (batuan yang

mengandung alumina) pada suhu 1555 oC sampai menjadi klinker sehingga

menghasilkan karbon dioksida yang dapat mencemari lingkungan. (Iswanto,

2011)

Untuk mengurangi penggunaan semen sebagai bahan dasar utama

pembangunan khususnya dibidang konstruksi. Maka perlu penyediaan bahan

bangunan dalam jumlah yang cukup, baik dalam kualitas maupun kuantitas, serta

harganya terjangkau oleh daya beli masyarakat. Untuk memenuhi kebutuhan

tersebut berbagai alternatif dapat dilakukan diantaranya adalah dengan aneka

usaha peningkatan bahan limbah anorganik maupun limbah pertanian. Adapun

limbah anorganik di Indonesia biasanya banyak ditemukan di berbagai industri

yakni limbah anorganik Abu Terbang (fly ash) yang merupakan sisa hasil

1|FMIPA Universitas Negeri Makassar


pembakaran batubara, sedangkan potensi Iimbah pertanian cukup besar. Salah

satunya adalah abu sekam padi yang memiliki kandungan silika yang cukup

tinggi dan dapat dimanfaatkan sebagai bahan pozzolan untuk pengganti

sebagian semen dalam pembuatan beton.

Pembuatan beton merupakan suatu hal yang cukup potensial untuk

dikembangkan lebih lanjut. Seperti yang kita ketahui bahwa pembuatan semen

dapat menyebabkan efek yang buruk bagi lingkungan, karena produksi semen

dapat menimbulkan gas karbondioksida yang berbahaya bagi lingkungan, untuk

mengatasi efek buruk yang merusak lingkungan dan memperbaiki masalah

durabilitas pada material beton yang menggunakan semen portland, maka

diperlukan material lainnya sebagai pengganti semen portland (Manuahe, et al.,

2014). Beton geopolimer kemudian hadir sebagai solusi untuk mensubtitusi

penggunaan semen portland sehingga mampu mengurangi emisi karbon dioksida

di udara (Ekaputri & Triwulan, 2013).

Beton geopolimer juga marupakan jenis beton yang 100% tidak

menggunakan semen (Ekaputri, et al., 2007). Beton geopolimer dapat disintesis

dari bahan produk sampingan seperti abu terbang (fly ash), abu sekam padi (rice

husk ash) dan bahan yang mengandung banyak silika dan alumina (prekursor)

membentuk sebuah senyawa silikat alumina anorganik (Pujianto. Asat. et al.,

2013). Penggunaan abu terbang (fly ash) sepenuhnya sebagai bahan dasar

pengganti semen lewat proses yang disebut polimerisasi anorganik, biasanya

disebut geopolimer (Davidovits, 1999). Namun penggunaan fly ash sebagai

material pengganti semen merupakan proses yang agak rumit karena fly ash harus

2|FMIPA Universitas Negeri Makassar


diaktifkan terlebih dahulu dengan alkali aktifator (natrium hidroksida dan sodium

silikat) ditambah lagi kesulitan yang dihadapi pada saat pembuatan beton

geopolimer yang memiliki waktu pengikatan yang sangat cepat serta workabilitas

yang rendah karena tingginya daya serap terhadap air (Triwulan, dkk, 2007).

Penelitian ini beton geopolimer adalah beton yang menggunakan fly ash

dan abu sekam padi sebagai bahan pengganti semen. Di Indonesia, fly ash dan abu

sekam padi dapat dengan mudah ditemukan dan justru menjadi limbah buangan

yang sudah tidak digunakan lagi. Karena itu penggunaannya sebagai bahan

pengganti semen mendapatkan dua keuntungan sekaligus yaitu mengurangi polusi

akibat industri semen dan memanfaatkan limbah buangan berupa fly ash dan abu

sekam padi yang sudah tidak digunakan lagi. Diharapkan dengan adanya beton

geopolimer ini dapat dibuat beton mutu tinggi yang lebih ramah terhadap

lingkungan.

Berdasarkan latar belakang, maka penulis berinisiatif mengembangkan

komposit geopolimer dengan melakukan penelitian untuk mengetahui Analisa

Sifat Mekanik dan Termal Komposit Geopolimer Berbahan Abu Terbang dan Abu

Sekam Padi untuk aplikasi Panel Dinding Bangunan.

2. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah penelitian ini sebagai berikut :

1. Bagaimana sifat mekanik dan termal panel dinding bangunan berbahan abu

terbang (fly ash) dan abu sekam padi ?

2. Bagaimana struktur mikro komposit geopolimer panel dinding bangunan

berbahan abu terbang (fly ash) dan abu sekam padi ?

3|FMIPA Universitas Negeri Makassar


3. Tujuan

Adapun tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Untuk mengetahui sifat mekanik dan termal panel dinding bangunan berbahan

abu terbang (fly ash) dan abu sekam padi.

b. Untuk mengetahui struktur mikro komposit geopolimer panel dinding

bangunan berbahan abu terbang (fly ash) dan abu sekam padi.

4. Manfaat

Adapun manfaat penelitian ini sebagai berikut :

1. Dari hasil penelitian dapat digunakan sebagai dasar untuk penelitian

selanjutnya.

2. Menambah pengetahuan dan wawasan pembaca mengenai beton

geopolimer dengan agregat penambahan pasir kuarsa.

3. Mengetahui pengaruh abu terbang (fly ash) dan abu sekam padi untuk panel

dinding bangunan terhadap analisa sifat mekanik dan sifat termal komposit

geopolimer.

4. Bagi penulis, penelitian ini sebagai praktek konkret dalam menerapkan

ilmu yang diperoleh selama kuliah di Jurusan Fisika Fakultas MIPA UNM.

4|FMIPA Universitas Negeri Makassar


BAB II
LANDASAN TEORI

1. Komposit

Komposit merupakan pencampuran dua material dalam skala makro yang

secara fisik dan secara mekanik dapat dipisahkan antara yang satu dengan yang

lainnya. Pada material penyusun bahan (bahan pengisi dan bahan pengikat) akan

menentukan sifat akhir dari komposit. Matrik memiliki fungsi utama untuk

mentransfer beban yang diberikan ke bahan pengisi komposit dan bahan pengisi

memiliki tugas utama untuk beban tersebut, bahwa jenis matrik bisa dikatakan

akan berpengaruh lebih besar terhadap sifat fisik seperti, ketahanan kimia,

ketahanan thermal, dan terhadap radiasi ultraviolet, sedangkan bahan pengisinya

akan mempengaruhi sifat mekanik dari material komposit secara keseluruhan

(Sudarsono,2012)

1.1 Bahan penyusun Komposit

Penyusun (konstituen) sebuah komposit tetap mempertahankan

identitasnya dan dapat diidentifikasi secara fisik serta memperlihatkan

adanya antar-muka (interface) antara yang satu dengan yang lainnya.

Antar-fase
(agen pengikat)
matriks
Serat/agrega
t
Zona transisi
antarmuka

Gambar 1.1 Skema komposit (Mitchell, 2004)

5|FMIPA Universitas Negeri Makassar


Konsep ini dilukiskan pada gambar 1.1 Penyusun utama komposit (bulk)

disebut matriks, dan komponen lainnya disebut penyusun struktural (kadang-

kadang disebut sebagai reinforcement atau filler) yang berperan sebagai

struktur internal komposit. Daerah antara matriks dengan penyusun struktural

disebut antar-fase (interphase) (kadang-kadang disebut antar-muka

(interface), sekalipun istilah ini tidak terlalu tepat). Istilah antar-fase

menunjukkan fase tiga-dimensi antara penyusun komposit. Dengan demikian,

dapat difahami bahwa sifat antar-fase sangat penting dalam penentuan sifat

utama komposit. Sebagai contoh, daerah antar-fase merupakan daerah

dimana stres-mekanik ditransfer antara matriks dan reinforcement. Selain itu,

daerah antar-fase berperan penting dalam stabilitas jangka panjang komposit.

Komposisi kimia dan penyusun komposit dan antar-fase tidak terbatas

pada kelompok material tertentu. Terdapat matriks-logam, matriks-keramik,

dan matriks-polimer, semuanya memiliki aplikasi industri yang poenting.

Reinforcement dapat berupa baja, serat gelas, serat karbon, pasir kuarsa, dan

lain sebagainya.

1.2 Klasifikasi Komposit

Terdapat sejumlah cara untuk mengklasifikasikan komposit, antara lain

berdasarkan pada; (i) kombinasi material, seperti logam-matriks, atau

komposit yang diperkuat dengan serat-gelas, (ii) karakteristik bentuk bulk,

seperti komposit laminar atau komposit matriks, (3) distribusi penyusun

6|FMIPA Universitas Negeri Makassar


komposit, misalnya kontinyu atau tidak kontinyu, dan (iv) fungsi, misalnya

komposit struktural atau elektrik.

Pada gambar 1.2 diperlihatkan lima tipe komposit dari kategori bentuk

bulk. Komposit serat (fiber composite) terdiri atas serat, dengan atau tanpa

matriks. Serat didefinisikan sebagai partikel yang lebih panjang dari 100 m

dengan rasio panjang diameter (aspek rasio) lebih besar dari 10:1.

Komposit lempeng (flake composite) terdiri atas material yang berbentuk

lempengan. Komposit partikulasi (particulate composite) dengan atau tanpa

matriks. Material partikulasi berfungsi sebagai penguat (reinforcement) dan

umumnya lebih bulat bila dibandingkan dengan bentuk serat atau lempengan.

Komposit isian (filled composites) dapat berupa struktur pori tiga dimensi

yang kontinyu. Komposit laminar (laminar composites) terdiri atas sejumlah

lapisan yang dapat berupa material yang sama atau material yang berbeda.

a b c
a a

d e
a a

Gambar 1.2 Kelas komposit dari kategori bentuk bulk, (a) serat, (b)
partikulasi, (c) laminar, (d) lempeng, dan (e) isian (Mitchell, 2004)

7|FMIPA Universitas Negeri Makassar


2. Geopolimer

Geopolimer pertama kali diperkenalkan oleh Davidovits J. diawal tahun

1980-an, geopolimer dapat didefinisikan sebagai material yang dihasilkan dari

geosintesis aluminasilikat polimerik dan alkali-silikat yang menghasilkan

kerangka polimer SiO4 dan AlO4 yang terikat secara tetrahedral (Subaer, 2015).

Dari segi komposisi kimia dan proses pembentukan, geopolimer dapat dipandang

ekivalen dengan zeolit sintetik sekalipun geopolimer bersifat amorf. Pada tahun

1988 Davidovits mengusulkan bahwa geopolimer diperoleh dari disolusi dan

polikondensasi polimerik mineral aluminasilikat dan larutan alkali tinggi

(Andriani. Nur, 2012).

Geopolimer bisa dibentuk oleh berbagai unsur mineral, dimana salah

satunya yaitu Si dan Al, yang biasa dikenal dengan istilahpoli (sialate). Rumus

empiris dari poly(sialate) yaitu:

Mn (-(SiO2)z AlO2)n . w H2O

Dimana M adalah kation monovalen seperti kalium atau natrium, n merupakan

derajat polikondensasi, dan z merupakan suatu bilangan sebagai jumlah atau

banyak. Kekuatan baik dibangun oleh interaksi-interaksi elektron pada pada atom

Si, Al dan O. Kekuatan ikatan terbaik terjadi pada Si-O-Si dibanding dengan Si-

O-Al atau Al-O-Al. Oleh sebab itu, kekuatan geopolimer ini dipengaruhi

oleh rasio unsur Si, Na, Al, K, kandungan air, untuk membentuk kekuatan

geopolimer yang optimum. Selain itu, Kesempurnaan dari polimerisasi

sedemikian hingga membentuk struktur dengan sifat mekanik, kima, atau fisika

tertentu, tergantung dari proses aktivasi dan juga derajat polimerisasinya.

8|FMIPA Universitas Negeri Makassar


Poly (sialate) ini dibagi menjadi 3 tipe yaitu tipe poly (sialate), tipe poly

(sialate-siloxo) dan tipe poly (sialate-disiloxo). Gambar struktur jaringan

molekular geopolimer dapat dilihat di bawah ini (Davidovits 1999).

Gambar 1.3 Jaringan molekular geopolimer.

Bahan dasar utama yang diperlukan untuk pembuatan material geopolimer

adalah bahan-bahan yang banyak mengandung unsur-unsur silika dan alumina

yang diaktifkan dengan suatu larutan aktivator (Manuahe, et al., 2014 dan

Ekaputri, et al., 2007). Alkali aktifator merupakan bahan kimia yang digunakan

untuk mengaktifkan prekursor sehingga dapat menghasilkan ikatan polimerisasi

yang kuat. Alkali mengaktifkan prekursor dengan mendisolusikan SiO2 dan Al2O3

ke dalam monomer Si(OH)4 dan Al(OH)4. Selama proses curing, monomer-

monomer tadi terkondensasi dan membentuk jaringan polimer tiga dimensi dan

berikatan silang (Septia, 2011). Alkalin aktivator yang digunakan adalah Na2SiO3

(sodium silikat) dengan larutan pengaktif dibuat dengan melarutkan NaOH

(sodium hidroksida) ke dalam aquades (Manuahe, et al., 2014 dan Kusumastuti,

2012). Sodium silikat berfungsi untuk mempercepat reaksi polimerisasi sedangkan

sodium hidroksida berfungsi untuk mereaksikan unsur-unsur Al dan Si sehingga

9|FMIPA Universitas Negeri Makassar


dapat menghasilkan ikatan polimer yang kuat (Manuahe, et al., 2014). Sebelum

digunakan untuk membuat pasta, larutan aktivator ini didiamkan selama sehari

atau 24 jam sehingga suhunya mencapai suhu ruang dan reaksi eksotermisnya

berhenti (Ekaputri & Triwulan, 2013 dan Puspitasari & Atmaja, 2010).

Pada sintesis geopolimer ada beberapa parameter penting yang harus

diperhatikan diantaranya komposisi awal, rasio SiO2/Al2O3 dan konsentrasi

larutan pengaktif (rasio NaOH/H2O). Parameter-parameter tersebut saling

berhubungan satu sama lain dan tidak dapat dipisahkan antara satu dengan

lainnya. Komposisi bahan awal akan mempengaruhi rasio SiO2/Al2O3. Rasio

SiO2/Al2O3 juga akan mempengaruhi bahan pengaktif yang dibutuhkan, karena

jumlah atau konsentrasi larutan pengaktif akan mempengaruhi seberapa besar

SiO2 dan Al2O3 yang dapat larut untuk membentuk monomer-monomer aktif,

sehingga reaksi polimerisasi dapat berjalan. Berdasarkan penelitian sebelumnya

telah disintesis geopolimer dengan memvariasikan jumlah Na Silikat, jumlah

NaOH dan jumlah H2O (Kusumastuti, 2012).

Perbandingan molar atomik Si:Al di dalam struktur geopolimer memainkan

peranan yang sangat penting dalam penentuan sifat dan aplikasi material tersebut.

Secara umum, aplikasi tersebut meliputi produk struktural seperti sebagai bahan

penguat dalam manufaktur mold (mould), pengganti semen dan beton. Untuk rasio

Si:Al dengan perbandingan 2:1 diperoleh material geopolimer dengan jaringan 3

dimensi yang sangat keras dan cocok untuk manufaktur beton dan semen (Subaer,

2012).

10 | F M I P A U n i v e r s i t a s N e g e r i M a k a s s a r
Geopolimer dapat bereaksi, terpolikondensasi dan mencapai kestabilan

dimensional pada suhu di bawah 100C dan geopolimer yang dihasilkan bersifat

keras dan tahan terhadap cuaca, serangan bahan kimia dan suhu tinggi

(Subaer,2012). Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa geopolimer

poly(sialate) dapat disintesis dari bahan dasar yang murah seperti lempung

(kaolinitic clays), sisa produk (bahan buangan industri) seperti abu sekam padi

(rice husk ash), furnace slag dan abu terbang (fly ash) (Subaer,2012).

3. Abu Terbang (Fly ash)

Abu terbang adalah debu yang dihasilkan dari sisa pembakaran

Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbahan bakar batubara (Sudjatmiko

Nugroho, 2003).

Bahan bangunan abu terbang dapat digunakan sebagai bahan baik untuk

pembuatan agregat buatan dalam campuran beton, bahan tambahan paving blok,

mortar, batako, bahan tambah beton aspal, beton ringan dan sebagainya. Sebagai

bahan tambah beton, abu terbang dinilai dapat meningkatkan kualitas beton dalam

hal kekuatan, kekedapan air, ketahanan terhadap sulfat dan kemudahan dalam

pengerjaan (workability) beton (Sofwan Hadi, 2000). Penggunaan abu terbang

juga dapat mengurangi penggunaan semen dan sekaligus sebagai bentuk

pemanfaatan limbah yang akan membantu menjaga kelestarian lingkungan.

11 | F M I P A U n i v e r s i t a s N e g e r i M a k a s s a r
Abu terbang sepertinya cukup baik untuk digunakan sebagai bahan ikat

karena bahan penyusun utamanya adalah silikon dioksida (SiO2), alumunium

(Al2O3) dan Ferrum oksida (Fe2O3). Oksida-oksida tersebut dapat bereaksi dengan

kapur bebas yang dilepaskan semen ketika bereaksi dengan air. Clarence (1966:

24) menjelaskan dengan pemakaian abu terbang sebesar 20 30% terhadap berat

semen maka jumlah semen akan berkurang secara signifikan dan dapat menambah

kuat tekan beton. Pengurangan jumlah semen akan menurunkan biaya material

sehingga efisiensi dapat ditingkatkan.

Fly ash dapat dibedakan menjadi 3 jenis (ACI Manual of Concrete

Practice 1993 Parts 1 226.3R-3), yaitu :

a. Kelas C

Fly ash yang mengandung CaO di atas 10% yang dihasilkan dari

pembakaran lignite atau sub-bitumen batubara (batubata muda).

1. Kadar (SiO2 + Al2O3 + Fe2O3) > 50%

2. Kadar CaO mencapai 10%.

Dalam campuran beton digunakan sebanyak 15% - 35% dari total berat

binder.

b. Kelas F

Fly ash yang mengandung CaO lebih kecil dari 10% yang dihasilkan

dari pembakaran anthracite atau bitumen batubara

1. Kadar (SiO2 + Al2O3 + Fe2O3) > 70%

2. Kadar CaO < 5%.

12 | F M I P A U n i v e r s i t a s N e g e r i M a k a s s a r
Dalam campuran beton digunakan sebanyak 15% - 25% dari total berat

binder.

c. Kelas N

Pozzolan alam atau hasil pembakaran yang dapat digolongkan

antara lain tanah diatomic, opaline chertz dan sholes, tuff dan abu vulkanik,

yang mana biasa diproses melalui pembakaran atau tidak melalui proses

pembakaran. Selain itu juga mempunyai sifat pozzolan yang baik. (Nugraha

dan Antoni, 2007:105)

Abu terbang memiliki sifat pozolan yang terdiri dari unsur-unsur silikat dan

atau aluminat yang reaktif. Komposisi kimia masing-masing jenis abu terbang

sedikit berbeda dengan komposisi kimia semen. Tabel 2.4 berikut ini menjelaskan

komposisi kimia abu terbang dan semen menurut Ratmaya Urip (2002).

Tabel 1.1. Komposisi kimia berbagai jenis abu terbang dan semen Portland

Komposisi Jenis Abu Terbang


No Semen
Kimia Jenis F Jenis C Jenis N
1 SiO2 51.90 50.90 58.20 22.60
2 Al2O3 25.80 15.70 18.40 4.30
3 Fe2O3 6.98 5.80 9.30 2.40
4 CaO 8.70 24.30 3.30 64.40
5 MgO 1.80 4.60 3.90 2.10
6 SO2 0.60 3.30 1.10 2.30
Na2O dan
7 0.60 1.30 1.10 0.60
K2 O

Sumber: Ratmaya Urip, 2003

Abu terbang merupakan limbah dari pembakaran batubara yang banyak

dihasilkan oleh PLTU dan mesin-mesin di pabrik. Abu terbang termasuk bahan

pozolan buatan yang memiliki sifat pozolanik. Sifat abu terbang tersebut membuat

13 | F M I P A U n i v e r s i t a s N e g e r i M a k a s s a r
abu terbang dapat digunakan sebagai bahan pengganti semen dan bahan tambah

untuk bangunan yang dapat meningkatkan ketahanan / keawetan beton terhadap

ion sulfat dan juga menurunkan panas hidrasi semen.

4. Abu Sekam Padi

Secara global, sekitar 600 juta ton beras dari padi diproduksi setiap tahun.

Rata-rata 20% dari padi adalah sekam, dengan kata lain sekitar 120 juta ton sekam

diproduksi setiap tahun (Bronzeoak Ltd., 2003). Perlakuan sekam padi sebagai

sumber produksi energi mengubah persepsi banyak orang akan masalah

pembuangan sampah. Sebenarnya, sekam padi merupakan sumber biomassa yang

paling besar dan siap digunakan sebagai bahan bakar untuk pembangkit listrik.

Abu sekam padi (rice husk ash) didapatkan dari pembakaran sekam padi.

Abu yang dihasilkan dari pembakaran normal, permukaan partikelnya akan

terkristalisasi dan memiliki aktivitas pozzolan yang rendah. Namun, jika

pembakaran dikontrol pada suhu antara 500 C 700 C lapisan pozzolan

pada permukaan partikel abu dapat terbentuk hasil dari pembakaran tersebut

akan melepaskan carbon dan meningkalkan silika sebagai residu dalam

jumlah besar. Namun, abu sekam padi sama sekali tidak mengandung alumina

(Al2O3) seperti halnya abu terbang ( Pugar Septia, 2011).

Sekam padi bila dibakar akan menghasilkan sekitar 20% abu sekam. Abu

tersebut mengandung silika antara 92-95%, dengan tingkat porositas yang tinggi,

ringan dan permukaan eksternal yang luas. Abu sekam padi sangat bermanfaat

sebagai absorbent dan isolator. Secara praktis, variasi kandungan silika dari abu

sekam padi bergantung teknik pembakarannya (waktu dan suhu). Pembakaran

14 | F M I P A U n i v e r s i t a s N e g e r i M a k a s s a r
pada suhu antara 550C-800C menghasilkan silika amorf dan pembakaran pada

suhu yang lebih tinggi akan menghasilkan kristal silika fase kristobalit dan

tridimat (Hara, 1986).

Mikrograf SEM abu sekam padi yang diperoleh dari pembakaran bebas di

udara diperlihatkan pada gambar 5.18. Gambar tersebut memperlihatkan partikel

abu sekam padi yang berbentuh pipih, tipis dan panjang.

Gambar 5.18 Mikrograf SEM abu sekam padi (Subaer, dkk., 2006).

Komposisi elemental abu sekam padi dari hasil pengukuran EDS diperlihatkan

pada Tabel 5.4 berikut ini.

Tabel 5.4 Komposisi elemental abu sekam padi berdasarkan hasil EDS

Element (KeV) Mass (%) Error% At% Compound Mass% Caution K


O - 43.83 - - - - - -
Mg K 1.253 2.49 0.69 6.84 MgO 4.13 0.90 2.8986
Si K 1.739 23.17 0.68 55.01 SiO2 49.57 7.23 39.0561
PK 2.013 4.69 1.01 5.05 P2O5 10.75 1.33 8.1587
KK 3.312 3.27 0.65 2.79 K2O 3.94 0.73 6.6415
Ca K 3.690 13.95 0.88 23.21 CaO 19.52 3.05 29.5981
Cu K 8.040 3.24 3.32 3.39 CuO 4.05 0.45 5.8988
Mo L 2.293 5.35 1.79 3.72 MoO3 8.03 0.49 7.7483
Total 100.00 100.00 100.00 14.17
(Subaer, dkk., 2006).

15 | F M I P A U n i v e r s i t a s N e g e r i M a k a s s a r
Tabel 5.4 memperlihatkan bahwa komponen utama abu sekam padi adalah

SiO2 dan CaO. Kandungan SiO2 sesungguhnya berada jauh di bawah komposisi

yang diharapkan. Hal ini dipengaruhi antara lain oleh suhu dan lama waktu

pembakaran.

Potensi dan penggunaan abu sekam padi

Dewasa ini, abu sekam padi telah dimanfaatkan sebagai isolator (juga

penyerap kadar air di udara) dan sebagai pozzolan pada industri semen dan

industri baja. Abu sekam padi merupakan isolator yang sangat baik karena

memiliki konduktivitas termal yang rendah, titik didih yang tinggi, densitas bulk

yang rendah dan porositas yang tinggi. Dengan sifat demikian, abu sekam padi

dimanfaatkan sebagai bahan untuk mencegah pendinginan yang terlalu cepat pada

baja dan meningkatkan homogenitas baja pada proses pemadatan.

Terdapat sejumlah penelitian yang menyelidiki penggunaan silika amorf

dalam manufaktur beton. Dalam hal ini, ada dua aspek penggunaan abu sekam

padi, manufaktur blok bangunan yang murah dan di dalam produksi semen

berkualitas tinggi.

Hasil penelitian dalam bidang semen memperlihatkan bahwa (Bronzeoak

Ltd, 2003):

Penambahan abu sekam padi pada semen portland mempercepat waktu

setting sekalipun jumlah air yang digunakan bertambah.

Penambahan abu sekam padi sekitar 35%, memperbesar kekuatan tekan

(compressive strength) akibat tingginya persentase silika.

16 | F M I P A U n i v e r s i t a s N e g e r i M a k a s s a r
Semen yang dicampur dengan abu sekam padi memiliki daya tahan

(resistansi) serangan zat asam yang lebih tinggi

Beton yang dibuat dengan menambahkan 10% abu sekam padi dapat

meningkatkan daya tahan semen terhadap serangan klorida.

Abu sekam padi mengandung silika antara 92-95%, dengan tingkat porositas yang

tinggi, ringan dan permukaan eksternal yang luas. Abu sekam padi sangat

bermanfaat sebagai absorben dan isolator.

5. Pasir Kuarsa

Pasir silika atau pasir kuarsa adalah salah satu material alam yang

melimpah di Indonesia, tercatat bahwa total sumber daya pasir silika sebesar

18 miliyar ton. Permintaan pasir silika dengan kadar kemurnian yang tinggi untuk

pemenuhan kebutuhan industri sangat tinggi. Di dunia perindustrian pemakaian

pasir silika saat ini cukup pesat, seperti dalam industri ban, karet, gelas, semen,

beton, keramik, tekstil, kertas, kosmetik, elektronik, cat, film, pasta gigi, dan lain-

lain (Byantech, 2011).

Pasir kuarsa adalah bahan galian yang terdiri atas kristal-kristal silika

(SiO2) dan mengandung senyawa pengotor yang terbawa selama proses

pengendapan. Pasir kuarsa mempunyai komposisi gabungan dari SiO2, Fe2O3,

Al2O3, TiO2, CaO, MgO, dan K2O. Pasir kuarsa berwarna putih bening atau warna

lain bergantung pada senyawa pengotornya, kekerasan 7 skala Mohs, berat jenis

2,655 g/cm3, titik lebur 17.150 0C, bentuk kristal heksagonal, panas spesifik 0,185

kJkg-1K-1 dan konduktivitas panas12-1000 Wm-1K-1 (Fairus dkk., 2009).

17 | F M I P A U n i v e r s i t a s N e g e r i M a k a s s a r
Bahan ini sebagai pembawa oksida silika (SiO2) dengan kadar yang cukup

tinggi yaitu sekitar 90%. Dalam keadaan murni berwarna putih sampai kuning

muda. Selain mengandung SiO2. Pasir silika juga mengandung oksida alumunium

dan oksida besi. Pasir silika banya terdapat di daerah pantai. Derajat kemurnian

pasir silika dapat mencapai 95-99,8% SiO2

Secara umum, pasir silika Indonesia mempunyai komposisi kimia yang

ditunjukkan pada Tabel 1.3 sebagai berikut :

Nama Senyawa Kadar Persentase


SiO2 55,3 - 99,87%
Fe2O3 0,01 - 9,14 %
A12O3 0,01 - 18 %
TiO2 0,01 - 0,49 %
CaO 0,01 - 3,24 %
MgO 0,01 - 0,26 %
K2O 0,01 - 17 %

(Fairus dkk., 2009)

BAB III
METODE PENELITIAN

1. Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat pengembangan

(development research) yang mengarah pada pengembangan produk geopolimer

dengan memanfaatkan abu terbang (fly ash) dan abu sekam padi.

2. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Fisika Material Jurusan Fisika

FMIPA UNM. Adapun analisis struktur mikro dilakukan di Laboraturium

18 | F M I P A U n i v e r s i t a s N e g e r i M a k a s s a r
Mikrostruktur Jurusan Fisika FMIPA UNM menggunakan SEM EDS dan XRD.

Sedangkan analisis makro yakni pengujian panas kejut dilakukan di Laboratorium

Fisika Material dan untuk pengujian kuat tekan serta kekerasan vickers dilakukan

di Laboratorium Jurusan Teknik Mesin UNM.

3. Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Desember 2017 sampai Juni 2017.

4. Fokus Kajian

Fokus kajian dalam penelitian ini adalah mensintesis pasta geopolimer

berbahan dasar fly ash tipe C dengan cara memvariasikan komposisi sodium

silika, abu sekam padi dan pasir kuarsa sebagai hardener, Hasil sintesis pasta

geopolimer selanjutnya dilakukan pengujian secara makro yakni pengujian secara

mekanik dan termal. Analisis struktur mikro dengan menggunakan SEM EDS

(Scanning Electron Microscopy). Struktur kristal pada sampel geopolimer diuji

dengan XRD (X-ray Diffractometer)

5. Alat dan Bahan

Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai

berikut :

Tabel 2.1 Alat dan bahan

Alat Bahan
a. Cetakan akrilik a. Fly ash
b. Oven b. Abu sekam padi
c. Neraca digital c. Pasir kuarsa
d. Crusible d. Sodium Silicate
e. Gelas kimia (Na2O.3SiO2)
f. Wadah plastik e. Sodium Hidroksida pellet
g. Pengaduk/Spatula kaca (NaOH)
h. Jangka sorong f. Aquades(H2O)

19 | F M I P A U n i v e r s i t a s N e g e r i M a k a s s a r
i. Mortar dan pastel g. Plastik pembungkus
h. Label

6. Tahap Pelaksanaan Penelitian

a. Sintesis Geopolimer

1) Menyiapkan bahan dasar yaitu fly ash tipe C.

2) Menimbang fly ash dan abu sekam padi dengan perbandingan massa yang

bervariasi yaitu 0%, 2.5%, 5%, 7.5%, 10% (% massa abu sekam padi

terhadap massa abu terbang).

3) Membuat larutan alkali dengan mencampurkan 30 gram sodium silicate

(Na2O.3SiO2), 10 gram sodium hydroxide pellet (NaOH) dan 37,5 gram

aquades (H2O).

(Catatan : Dalam proses pembuatan larutan ini, sodium silicate dan sodium

hydroxide pellet dicampurkan terlebih dahulu kemudian mengaduknya

hingga temperatur larutan tersebut turun kemudian mencampur larutan

tersebut dengan aquades dan mengaduknya kembali hingga larutan

menjadi homogen.

4) Mencampur abu terbang, pasir kuarsa dan abu sekam padi dengan cara

mengaduknya selama beberapa menit kemudian menambahkan larutan

alkali sedikit demi sedikit hingga diperoleh campuran pasta geopolimer

yang homogen.

(Catatan: Dalam pembuatan sampel geopolimer aquades dipakai dalam

proses pembuatan larutan alkali dan lainnya dimasukkan ke dalam pasta

geopolimer setelah diperoleh campuran pasta geopolimer yang homogen)

20 | F M I P A U n i v e r s i t a s N e g e r i M a k a s s a r
5) Memasukkan pasta geopolimer tersebut ke dalam cetakan yang telah

dibuat.

(Catatan: Setelah campuran pasta geopolimer dimasukkan ke dalam

cetakan kemudian menghitung waktu setting-nya)

6) Menyiapkan cetakan yang berisi pasta geopolimer selanjutnya disimpan

selama 30 menit sebelum di-curing.

7) Memasukkan sampel geopolimer di dalam oven suhu rendah untuk di

curing pada temperatur tertentu selama beberapa jam sehingga proses

polikondensasi sempurna dapat dicapai.

8) Membuka sampel geopolimer dari cetakan setelah berusia 2-3 hari.

9) Sampel yang diproduksi disimpan selama 28 hari di udara bebas sebelum

dilakukan berbagai pengujian.

10) Mengulang kembali langkah (c) hingga (i) untuk komposisi variasi abu

sekam padi yang berbeda.

Tabel 2.2 Komposisi Geopolimer

Fly ash Abu sekam padi (%) Pasir Na2O3SiO2 NaOH H2 O


150 g 0 48,75 g 30 g 12 g 37,5 g
150 g 3.75 g (2.5) 48,75 g 30 g 12 g 37,5 g
150 g 7.5 g (5) 48,75 g 30 g 12 g 37,5 g
150 g 11.25 g (7.5) 48,75 g 30 g 12 g 37,5 g
150 g 15 g (10) 48,75 g 30 g 12 g 37,5 g

7. Karakterisasi, Pengujian Mekanik dan Termal Geopolimer

1. Scanning Electron Microscopy-Energy Dispersiv Spectroscopy (SEM-

EDS)

21 | F M I P A U n i v e r s i t a s N e g e r i M a k a s s a r
SEM-EDS digunakan untuk mengetahui struktur mikro dan morfologi

sampel serta komposisi elemental sampel. Jenis sampel untuk karakterisasi

SEM berbentuk serbuk dan padatan. Pada penelitian sampel akan

dipreparasi dalam bentuk padatan untuk melihat morfologi dan kerapatan

sampel geopolimer, seiring dengan perubahan persentase abu sekam padi.

Analisis morfologi sampel geopolimer dilakukan dengan menggunakan

alat SEM merk Vega3 Tescan di Laboratorium Mikrostruktur Jurusan Fisika

FMIPA UNM. Alat mikroskop ini bekerja pada tegangan 30 kV. Sampel yang

akan diuji terlebih dahulu di-coating menggunakan gas argon. Hal ini

dilakukan untuk melapisi sampel dengan emas sebelum dimasukkan kedalam

alat SEM. Gas argon yang mengantar emas menyapu permukaan sampel. Jenis

sampel untuk karakterisasi SEM berbentuk serbuk dan padatan. Pada penelitian

ini sampel akan dipreparasi dalam bentuk padatan untuk melihat kerapatan

sampel geopolimer. Perbesaran untuk melihat sampel pada mikroskop dari 200

kx hingga 10000 kx.

Sampel geopolimer yang di produksi di karakterisasi dengan

menggunakan alat karakterisasi SEM. Hal ini dimaksudkan untuk melihat

morfologi dan elemen yang terdapat dalam sampel geopolimer.

22 | F M I P A U n i v e r s i t a s N e g e r i M a k a s s a r
Gambar 2.1 SEM Tescan Vega3 Jurusan Fisika Universitas Negeri
Makassar

2. X-Ray Difraction (XRD)

Karakterisasi XRD dilakukan untuk melakukan analisis fase dan untuk

mempelajari struktur kekristalan dari sampel yang digunakan. Selain itu,

informasi tentang tingkat kekristalan, nilai FWHM (full width half maximum)

dapat diperoleh dengan menggunakan alat ini. Teknik difraksi yang paling

umum digunakan adalah metode serbuk. (Subaer, 2012).

Struktur kristal pada geopolimer dikarakterisasi dengan menggunakan alat

XRD merk Rigaku MiniFlexII di Laboratorium Mikrostruktur Jurusan Fisika

FMIPA UNM. Alat ini menggunakan tegangan sebesar 30 kV dengan arus

sebesar 15 mA. Analisis fasa dan kandungan mineral pada geopolimer dapat

diketahui dengan menggunakan bantuan PDXL2 yang terdapat pada alat XRD.

Analisis ini menggunakan sudut difraksi (2) antara 50-900. Data yang akan

diambil pada penelitian ini adalah intensitas dan sudut difraksi (2) pada

rentang 100-700 kemudian dikarakterisasi jenis mineralnya dengan cara

23 | F M I P A U n i v e r s i t a s N e g e r i M a k a s s a r
mencocokkan sudut difraksi dengan pola difraktogram standar pada data base

dengan metode search and match.

Gambar 2.2 X-Ray Diffraction (XRD) type Rigaku MiniFlex II Jurusan Fisika
Universitas Negeri Makasar

Karakterisasi XRD dilakukan dengan tujuan untuk melihat komposisi

dari bahan dasar dan sampel geopolimer berupa informasi kualitatif dan

kuantitatif fasa pada sampel. Proses identifikasi fasa tersebut diperoleh

dengan pencocokan grafik karakterisasi terhadap posisi data base yang

terukur berdasarkan PDF (Powder Difraction File), apakah dengan perubahan

rasio molar struktur kristal atau fase yang diperoleh mengalami pergeseran atau

justru menambah level kekristalan geopolimer tersebut.

3. Kuat Tekan (compressive strenght)

24 | F M I P A U n i v e r s i t a s N e g e r i M a k a s s a r
Gambar 2.3 X-Ray Diffraction (XRD) type Rigaku MiniFlex II Jurusan Fisika
Universitas Negeri Makasar.

Sifat mekanik geopolimer dapat diketahui dengan pengujian kuat tekan

yang menggunakan alat penguji kuat tekan yang berada di Laboratorium

Jurusan Teknik Mesin UNM. Sampel geopolimer yang diuji berbentuk balok

dengan panjang 6 cm dan tinggi serta lebar 3 cm.

Pengujian kekuatan tekan dilakukan setelah sampel berusia 28 hari.

Salah satu mesin uji yang sering digunakan pada pengujian kekuatan tekan

adalah Wykeham Farrance 50 ton compression test machine dengan laju beban

sebesar 0.33 mm/menit, atau yang lebih modern dengan tipe Tinius Olsen

(Gambar 6) (Subaer, 2012).

Pengujian kekuatan tekan menggunakan sampel yang berbentuk silinder

atau berbentuk persegi panjang dengan dimensi perbandingan antara panjang

dengan diameter sebesar 2:1 dan memenuhi persyaratan compression test

25 | F M I P A U n i v e r s i t a s N e g e r i M a k a s s a r
ASTM-C773. Kekuatan tekan sebuah sampel dihitung dengan menggunakan

persamaan:

P
C
A

dengan C = kekuatan tekan (MPa), P = beban total hingga sampel rontok (N),

dan A = luas permukaan sampel yang ditekan (m2) (Subaer, 2012).

Uji kuat tekan sampel geopolimer dilakukan untuk melihat sifat

mekanik seperti kekuatan tekan dari geopolimer tersebut.

4. Uji Resistansi Panas

Uji resistansi api sampel Komposit Geopolimer Pengujian ini dilakukan untuk

mengetahui kekuatan sampel terhadap api. Gas flame torch adalah alat yang

digunakan dalam pengujian ini. Sampel pipa geotermal diletakkan pada sumber

api yang suhunya mencapai 350 0C selama 30 menit.

26 | F M I P A U n i v e r s i t a s N e g e r i M a k a s s a r
BAGAN ALIR PENELITIAN
Analisa Sifat Mekanik dan Termal Komposit Geopolimer Berbahan Abu
Terbang (Fly Ash) dan Abu Sekam Padi untuk Panel Dinding Bangunan

Menyiapkan Bahan Dasar

Na2O. 3SiO2 , NaOH , Fly Ash Abu Sekam Padi Pasir Kuarsa
H2O

Fly Ash + Abu Sekam Padi


Membuat Larutan Alkali
+ Pasir Kuarsa

Pasta Geopolimer

Curing Sampel pada


temperatur tertentu selama
4 jam pada suhu 70oC

Sampel Geopolimer
didiamkan selama 28
hari

Pengujian Sampel
(Karakterisasi Struktur
Mikro dan Makro)

Interpretasi dan Pengolahan Data

27 | F M I P A U n i v e r s i t a s N e g e r i M a k a s s a r
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini akan dibahas mengenai hasil penelitian yang telah dilakukan meliputi

analisis kandungan kimia dengan menggunakan EDS, struktur kekristalan dan komposisi

mineral menggunakan XRD dan struktur mikro semen geopolimer menggunakan SEM.

Pengujian kuat tekan untuk mengetahui sifat mekanik beton geopolimer dan pengujian

sifat termal yakni resistansi api untuk mengetahui daya hantar panas sampel pada saat

diberikan semprotan api.

A. Hasil Karakterisasi Bahan Dasar


1. Pasir Kuarsa

Salah satu senyawa penting dalam pembuatan zeolit sintesis adalah silika.

Dalam penelitian ini abu sekam padi digunakan sebagai bahan dasar karena memiliki

kandungan silika yang tinggi.

Gambar 3.1 Citra SEM pasir kuarsa

Gambar 3.1 memperlihatkan citra SEM pasir kuarsa yang digunakan sebagai agregat

halus pada penelitian ini. Gambar tersebut memperlihatkan partikel pasir kuarsa yang

28 | F M I P A U n i v e r s i t a s N e g e r i M a k a s s a r
berbentuk panjang dan tebal dengan ukuran berbeda-beda yang cukup beragam, juga

menunjukkan kerenggangan dan distribusi partikel yang masih tampak dan padat.

Dengan menggunakan fasilitas EDS diketahui komposisi elemental dari pasir kuarsa

tersebut. Hasil EDS menunjukkan pada table 2.3 untuk fase SiO2 yaitu 99,43 wt% dan

pengotor berupa kalium sebesar 0,57 wt% seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2.1.

cps/eV

12

10

6 O
K Si K

0
2 4 6 8 10 12 14 16 18 20
keV

Gambar. 3.2 Spektrum EDS pasir kuarsa

Pada Gambar 3.2 terlihat spektrum komposisi atomik penyusun pasir kuarsa

yang terdiri atas unsur silikon, potassium, dan oksigen. Untuk informasi komposisi

unsur dan oksida yang lebih lengkap dapat dilihat pada Tabel 3.1 berikut :

Tabel. 3.1 Hasil analisis spektrum EDS pasir kuarsa


No Unsur Oksida Kandungan Oksida (wt %)
1 Silicon SiO2 99,43
2 Potassium K2O 0,57
3 Oxygen - 0,00
Total = 100,00

29 | F M I P A U n i v e r s i t a s N e g e r i M a k a s s a r
2. Abu Terbang (Fly ash)

Fly ash material utama dalam penelitian ini untuk pembentukan geopolimer

yang memiliki ikatan alumino-silikate kaya akan Silikon (Si) dan aluminium (Al).

Digunakan sebagai bahan dasar yang bersumber dari PLTU Bosowa-Jeneponto.

Untuk menentukan morfologi dan senyawa kimia yang terkandung didalam fly ash,

maka dilakukan karakterisasi Scanning Electron Microscopy-Energy Dispersive X-

Ray Spectroscopy (SEM-EDS).

Gambar 3.4 Citra SEM fly ash

Hasil karakterisasi SEM-EDS dari fly ash, dapat dilihat pada gambar 3.4

merupakan Citra SEM fly ash pada perbesaran 10 m yang menunjukaan butiran fly

ash berbentuk bola berwarna keabu-abuan dengan ukuran yang bervariasi.

Hasil analisis EDS (Energy Dispersive Spectorscopy) memberikan informasi

mengenai komposisi kimia abu terbang (Fly ash) tersebut sebagaimana diperlihatkan

pada gambar 3.5 yang terdiri atas Aluminium, Silika, Calsium, Besi/Fe, Oksigen,

Natrium, Magnesium.

30 | F M I P A U n i v e r s i t a s N e g e r i M a k a s s a r
cps/eV

5
K
S Fe Al
4 O Mg Ca
C Na Si S K Fe
Ca
3

0
2 4 6 8 10 12 14 16 18 20
keV

Gambar 3.5. Spektrum EDS Fly ash

Tabel 3.2. Hasil analisis spectrum EDS Fly ash

No Unsur Oksida Kandungan Oksida (wt %)


1 Carbon - 0,00
2 Oxygen - 0,00
3 Sodium Na2O 1,06
4 Magnesium MgO 8,22
5 Aluminium Al2O3 13,94
6 Silicon SiO2 24,30
7 Sulfur SO3 1,78
8 Potassium K2O 1,25
9 Calcium CaO 27,91
10 Iron FeO 21,53
Total = 100,00

Dari hasil analisis pengukuran diketahui bahwa unsur pembentuk abu

terbang (fly ash) PLTU Bosowa-Jeneponto dengan komposisi kimia yang paling

31 | F M I P A U n i v e r s i t a s N e g e r i M a k a s s a r
tinggi adalah CaO sebesar 27,91 wt% dan termasuk golongan fly ash tipe C

karena memiliki kandungan CaO > 10%. Selain CaO terdapat senyawa kimia SiO2

sebesar 24,30 wt%, FeO sebesar 21,53 wt%, Al2O3 sebesar 13,94 wt% dan MgO

sebesar 8,22 wt%. Fly ash ini merupakan limbah industri hasil pembakaran

batu bara sehingga mengandung berbagai pengotor seperti sodium, potassium

dan sulfur dengan fase minimum sekitar 1 wt%.

3. Abu Sekam Padi

Abu sekam padi (rice husk ash) diperoleh dari hasil pembakaran sekam

padi memiliki kandungan silika yang tinggi dan digunakan sebagai bahan dasar

dalam mensintesis beton geopolimer. Abu sekam padi yang digunakan

bersumber dari kebupaten Sidrap yang telah melalui proses pembakaran

selanjutnya dimurnikan dengan berbagai proses. Setelah melalui proses

pemurnian dilakukan karaterisasi Scanning Electron Microscopy-Energy

Dispersive X-Ray Spectroscopy (SEM-EDS) untuk melihat morfologi dan

senyawa kimia yang terkadung dalam abu sekam padi.

Gambar 3.6 Citra SEM abu sekam padi

32 | F M I P A U n i v e r s i t a s N e g e r i M a k a s s a r
Gambar 3.6 memperlihatkan citra SEM abu sekam padi pada perbesaran

20m menggunakan SEM merk Tescan Vega3SB. Morfologi sampel didominasi

oleh senyawa silika SiO2 yang terdistribusi secara seragam, tersebar merata dan

memperlihatkan warna terang pada gambar tersebut. Data tersebut diperoleh dengan

analisis senyawa kimia dengan menggunakan Energy Dispersive X-Ray

Spectroscopy (EDS) yang dapat dilihat pada gambar 3.7.

cps/eV

22

20

18

16

14

12 K
Cl
10 O Si Cl K

0
2 4 6 8 10 12 14 16 18 20
keV

Gambar 3.7 Spektrum EDS Abu Sekam Padi

Gambar 3.7 Spektrum EDS abu sekam padi memperlihatkan unsur

penyusun sampel beton geopolimer yang didominasi oleh unsur silika yang juga

mengandung unsur O, K, Cl sebagai pengotor. Unsur-unsur yang terlihat

tersebut bereaksi membentuk senyawa yang dapat dideteksi dengan

menggunakan Energy Dispersive X-Ray Spectroscopy (EDS). Hasil analisis

spektrum EDS abu sekam padi dapat dilihat pada tabel 3.3.

33 | F M I P A U n i v e r s i t a s N e g e r i M a k a s s a r
Tabel 3.3. Hasil analisis spectrum EDS Abu Sekam Padi

Kandungan Oksida (wt


No Unsur Oksida
%)
1 Oxygen - 0,00
2 Silicon SiO2 97,41
3 Chlorine - 1,03
4 Potassium K2O 1,56
Total = 100,00

Berdasarkan hasil analisis EDS, abu sekam padi tersebut menunjukkan fase

SiO2 sebesar 97.41 wt% dengan berbagai unsur pengotor seperti clorine dan

Potasium sekitar 1 wt%.

B. Karakterisasi SEM-EDS Sampel Komposit Geopolimer

Analisis morfologi sampel komposit geopolimer dilakukan dengan

menggunakan alat SEM merk Vega3 Tescan di Laboratorium Mikrostruktur

Jurusan Fisika FMIPA UNM.

Gambar 3.8 Gambar analisis SEM sampel KG_ASP 0 %

34 | F M I P A U n i v e r s i t a s N e g e r i M a k a s s a r
Gambar 3.8 menunjukkan hasil analisis SEM dengan panjang 5 m dan 10

m pada sampel KG_ASP 0 % berbahan dasar abu terbang (matriks) dan pasir

kuarsa (agregat halus) tanpa penambahan abu sekam padi. Citra SEM

memperlihatkan ukuran butir fly ash terdistribusi secara merata dan bereaksi dengan

partikel pasir kuarsa yang berbentuk panjang, padat dan tebal. Secara penampakan

fisik masih terselimuti oleh partikel-partikel putih yang menunjukkan formasi gel

sodium hidroksida (NaOH) yang bereaksi dengan kalsium dioksida (CaO) diudara

bebas, yang akan berperan dalam pembentukan kristalin dalam geopolimer.

Gambar 3.9 Gambar analisis SEM sampel KG_ASP 2,5 %

Gambar 3.9 menunjukkan hasil analisis SEM dengan panjang 5 m dan 20

m pada sampel KG_ASP 2,5 % berbahan dasar abu terbang (matriks) dan pasir

kuarsa (agregat halus) dengan penambahan abu sekam padi sebesar 2,5% dari massa

fly ash. Analisis SEM menunjukkan bahwa partikel pasir kuarsa berikatan dengan

partikel abu sekam padi dan beberapa partikel fly ash nampak tersebar dipermukaan.

Keretakan yang muncul pada sampel diakibatkan oleh kesalahan dalam preparasi

sampel yaitu pada saat pemotongan sampel dengan menggunakan mesin pemotong,

35 | F M I P A U n i v e r s i t a s N e g e r i M a k a s s a r
mengalami vibrasi yang cukup kuat sehingga berpengaruh pada sampel dan juga

pengaruh pada saat proses penghalusan sampel dengan menggunakan amplas.

Gambar 3.10 Gambar analisis SEM sampel KG_ASP 5 %

Gambar 3.10 menunjukkan hasil analisis SEM dengan panjang 5 m dan 10

m pada sampel KG_ASP 5 % berbahan dasar abu terbang (matriks) dan pasir

kuarsa (agregat halus) dengan penambahan abu sekam padi sebesar 5% dari massa

fly ash. Analisis SEM menunjukkan bahwa partikel pasir kuarsa berikatan dengan

baik pada matriks fly ash, hal ini terlihat begitu nampak pelekatan partikel fly ash

pada sampel. Partikel yang nampak berwarna putih terang yaitu partikel abu sekam

padi tidak tersebar secara merata dan hanya nampak pada bagian tertentu dari

permukaan sampel, hal ini disebabkan karena proses pembuatan sampel pasta

geopolimer abu sekam padi kurang homogen pada saat pencampuran bahan.

Partikel abu sekam padi dan beberapa partikel fly ash nampak tersebar

dipermukaan. Keretakan yang muncul pada sampel diakibatkan oleh kesalahan

dalam preparasi sampel yaitu pada saat pemotongan sampel dengan menggunakan

mesin pemotong yang mengalami vibrasi yang kuat sehingga berpengaruh pada

36 | F M I P A U n i v e r s i t a s N e g e r i M a k a s s a r
sampel dan juga pengaruh pada saat proses penghalusan sampel dengan

menggunakan amplas.

Gambar 3.11 Gambar analisis SEM sampel KG_ASP 7,5 %

Gambar 3.11 menunjukkan hasil analisis SEM dengan panjang 5 m dan 10

m pada sampel KG_ASP 7,5 % berbahan dasar abu terbang (matriks) dan pasir

kuarsa (agregat halus) dengan penambahan abu sekam padi sebesar 7,5% dari massa

fly ash. Analisis SEM menunjukkan bahwa partikel pasir kuarsa, fly ash dan abu

sekam padi begitu nampak dan tersebar secara merata.

Gambar 3.12 Gambar analisis SEM sampel KG_ASP 10 %

37 | F M I P A U n i v e r s i t a s N e g e r i M a k a s s a r
Gambar 3.12 menunjukkan hasil analisis SEM dengan panjang 5 m dan 10

m pada sampel KG_ASP 10 % berbahan dasar abu terbang (matriks) dan pasir

kuarsa (agregat halus) dengan penambahan abu sekam padi sebesar 10% dari massa

fly ash. Analisis SEM menunjukkan bahwa partikel pasir kuarsa berikatan kuat

dengan matriks fly ash dan partikel abu sekam padi yang tidak terlalu nampak hal

ini disebabkan oleh ikatan yang terjadi begitu rapat dan pada proses pembuatan

sampel pasta geopolimer bahan tercampur secara homogen. Meskipun ada sedikit

keretakan halus disekitar partikel fly ash hal ini disebabkan karena proses preparasi

sampel yang kurang baik dan mengalami vibrasi pada saat pemotongan dan

penghalusan sampel.

Tabel 3.4. Hasil analisis spektrum EDS beton geopolimer

Komposisi Jenis Sampel


Oksidasi KG_ASP KG_ASP KG_ASP KG_ASP KG_ASP
(wt%) 0% (wt %) 2,5% (wt 5% (wt %) 7,5% (wt 10% (wt
%) %) %)
Al2O3 16,68 6,17 20,10 18,11 10,06
SiO2 31,65 72,79 34,14 28,30 60,52
Na2O 13,97 4,09 12,57 12,54 7,41
MgO 3,31 1,93 3,49 3,55 3,09
SO3 0,25 - 0,32 0,23 -
K2O 1,06 0,50 1,54 1,36 0,80
CaO 22,15 9,03 17,74 24,90 10,52
TiO2 0,88 0,56 0,85 0,61 0,71
FeO 10,05 4,93 9,26 10,39 6,88

Tabel 4,3 terlihat bahwa Hasil analisis Energy Dispersive X-Ray Spectroscopy

(EDS) beton geoppolimer didominasi oleh senyawa SiO2 (silika), Al2O3

(Alumina), dan CaO (Kalsium) sehingga beton geopolimer semakin kuat dengan

kadar kalsium yang tinggi dibanding kadar kalsium yang rendah dan tingginya

kandungan alumina dan silika dapat mengikat beton geopolimer dengan baik.

38 | F M I P A U n i v e r s i t a s N e g e r i M a k a s s a r
C. Karakterisasi XRD Sampel Komposit Geopolimer

Hasil Karakterisasi XRD Sampel Komposit Geopolimer

Sampel komposit-geopolimer disintesis dengan cara mencampurkan fly ash,

abu sekam padi, pasir kuarsa, NaOH, Na2O3SiO2 dan aquades dengan komposisi

tertentu secara manual hingga diperoleh campuran yang homogen. Sampel

dimasukkan ke dalam cetakan dan dipanaskan pada suhu 70oC selama 4 jam.

Setelah berusia 24 jam, sampel dikeluarkan dari cetakan dan dilakukan curing

udara (didiamkan diudara bebas) selama 28 Hari. Hal ini bertujuan untuk

meningkatkan level kekristalan dari sampel agar fase zeolit terbentuk. Pada

penelitian ini dibuat 5 sampel dengan komposisi yang bervariasi dan

mempertahankan parameter lain. Komposisi dari masing-masing sampel diberikan

pada Tabel 3.5.

Table 3.5 Perbandingan komposisi sampel komposit geopolimer.

Abu sekam
Nama Sampel Fly ash Pasir Na2O3SiO2 NaOH H2 O
padi (%)
KG_ASP 0% 150 g (0) 48,75 g 30 g 12 g 37,5 g
KG_ASP 2,5% 150 g 3.75 gr (2.5) 48,75 g 30 g 12 g 37,5 g
KG_ASP 5% 150 g 7.5 gr (5) 48,75 g 30 g 12 g 37,5 g
KG_ASP 7,5% 150 g 11.25 gr (7.5) 48,75 g 30 g 12 g 37,5 g
KG_ASP 10% 150 g 15 gr (10) 48,75 g 30 g 12 g 37,5 g

Pada Tabel 3.5 ditunjukkan bahwa untuk setiap sampel komposit geopolimer

yang divariasikan adalah massa abu sekam padi. Parameter komposisi abu sekam

padi sangat mempengaruhi jenis dan karakter dari sampel hasil sintesis karena

mempengaruhi jumlah komponen dari silika.

39 | F M I P A U n i v e r s i t a s N e g e r i M a k a s s a r
1. Karakterisasi sampel KG_ASP 0%

Gambar 3.13 menunjukkan difraktogram hasil karakterisasi XRD sampel

KG_ASP 0% dari bahan dasar abu terbang dan pasir kuarsa tanpa penambahan

abu sekam padi. Pola difraksi tersebut menunjukkan bahwa sampel KG_ASP

0% memiliki struktur kristal yang hampir sempurna. Dapat dilihat bahwa

sampel KG_ASP 0% didominasi kandungan silika dalam bentuk kristal coesite

(SiO2). Adapun fase minor yang terkandung yaitu gismondine

(Ca.92(Al1.8Si2.2O8)(H2O)) dan kumdykolite (Na(AlSi3)O8).

4500
C
4000
3500
3000
Intensitas (cps)

C
2500 K G C
C C
C C
2000 C
GK G
1500 C
G
1000
500
0
10 20 30 40 50 60 70
2-theta

Gambar 3.13 Hasil karakterisasi XRD sampel KG_ASP 0%.

Berdasarkan hasil tersebut diperoleh kandungan fase dalam sampel

KG_ASP 0% yaitu coesite sebesar 83 wt%, kumdykolite 13 wt%, dan

gismondine 4 wt %.

40 | F M I P A U n i v e r s i t a s N e g e r i M a k a s s a r
2. Karakterisasi Sampel KG_ASP 2,5%

Gambar 3.14 merupakan difraktogram hasil karakterisasi sampel KG_ASP

2,5% dengan perbandingan massa abu sekam padi sebesar 2,5% dari fly ash .

Dapat dilihat bahwa sampel KG_ASP 2,5% didominasi kandungan silika dalam

bentuk kristal coesite (SiO2), dan cristobalite alpha (SiO2). Adapun fase minor

yang terkandung yaitu clintone-1M (AlCa3Al3O10(OH)2) dan margarite-2M1

(CaAl2(Al2Si2)O10(OH)2.

6000

C
5000

Cl
4000
Intensitas (cps)

M
3000
C C M
Cl Cr M Cl
2000 C M M

1000

0
10 20 30 40 50 60 70
2-theta

Gambar 3.14 Hasil karakterisasi XRD sampel KG_ASP 2,5%.

Hasil karakterisasi tersebut menunjukkan bahwa sampel mengandung coesite

sebesar 60 wt%, clintonite-1M sebesar 21 wt%, cristobalite-alpha sebesar 10

wt% dan margarite-2M1 sebesar 9 wt%.

3. Karakterisasi Sampel KG_ASP 5%

41 | F M I P A U n i v e r s i t a s N e g e r i M a k a s s a r
Gambar 3.15 menunjukkan difraktogram hasil karakterisasi XRD sampel

KG_ASP 5% dari bahan dasar abu terbang dan pasir kuarsa dengan penambahan

abu sekam padi 5% dari massa fly ash. Pola difraksi tersebut menunjukkan

bahwa sampel KG_ASP 5% memiliki struktur kristal yang hampir sempurna.

Dapat dilihat bahwa sampel KG_ASP 5% didominasi kandungan silika dalam

bentuk kristal quartz HP (SiO2), cristobalite beta (SiO2) dan coesite (SiO2).

Adapun kandungan kristal lain muncul dalam fase minor seperti bikitate,

caesian (Cs0,35(Al0,35Si2,65O6)

5000

4500 C

4000

3500
B Q Cr
Intensitas (cps)

3000
C
B
2500 B
Cr B Q
2000

1500

1000

500

0
10 20 30 40 50 60 70
2-theta

Gambar 3.15 Hasil karakterisasi XRD sampel KG_ASP 5%.

Hasil tersebut juga menunjukkan bahwa sampel mengandung coesite sebesar 46

wt%, bikitate/caesian sebesar 32 wt%, cristobalite beta sebesar 14 wt%, dan

quartz HP sebesar 8 wt%.

42 | F M I P A U n i v e r s i t a s N e g e r i M a k a s s a r
4. Karakterisasi Sampel KG_ASP 7,5%

Gambar 3.16 menunjukkan difraktogram hasil karakterisasi XRD sampel

KG_ASP 7,5% dari bahan dasar abu terbang dan pasir kuarsa dengan

penambahan abu sekam padi 7,5% dari massa fly ash. Pola difraksi tersebut

menunjukkan bahwa sampel KG_ASP 7,5% memiliki struktur kristal yang

hampir sempurna. Dapat dilihat bahwa sampel KG_ASP 7,5% didominasi

kandungan silika dalam bentuk kristal silicon dioxide, coesite (SiO2) dan

moganite (SiO2). Adapun kandungan kristal lain muncul dalam fase minor

seperti sodium aluminosilicate (Na6Al4Si4O17), sodium aluminate (Na(AlO2))

dan gibbsite, syn (Al(OH)3

4000 M
3500
C C
3000 S-As
C
Intensitas (cps)

2500 S-A
S-A
S-As G G
2000 G S-A
G
1500

1000

500

0
10 20 30 40 50 60 70
2-theta

Gambar 3.16 Hasil karakterisasi XRD sampel KG_ASP 7,5%.

43 | F M I P A U n i v e r s i t a s N e g e r i M a k a s s a r
Hasil karakterisasi tersebut menunjukkan bahwa sampel mengandung coesite

(silicon-dioxide) sebesar 41 wt%, moganite sebesar 29 wt%, sodium-

aluminosilicate sebesar 17 wt%, sodium-aliminate sebesar 10 wt% dan gibbsite,

syn sebesar 3 %.

5. Karakterisasi Sampel KG_ASP 10%

Gambar 3.17 menunjukkan difraktogram hasil karakterisasi XRD sampel

KG_ASP 10% dari bahan dasar abu terbang dan pasir kuarsa dengan

penambahan abu sekam padi 10% dari massa fly ash. Pola difraksi tersebut

menunjukkan bahwa sampel KG_ASP 10% memiliki struktur kristal yang

hampir sempurna. Dapat dilihat bahwa sampel KG_ASP 7,5% didominasi

kandungan silika dalam bentuk kristal quartz low HP, syn (SiO2) dan coesite

(SiO2). Adapun kandungan kristal lain muncul dalam fase minor seperti

margarite-2M1 (Ca0,88Na0,12Al2Si2,12)

5000
4500 Q

4000
3500
C
Intensitas (cps)

3000
C
2500
M M
Q M
M Q Q
2000 M
1500
1000
500
0
10 20 30 40 50 60 70
2-theta

Gambar 3.17 Hasil karakterisasi XRD sampel KG_ASP 10%.

44 | F M I P A U n i v e r s i t a s N e g e r i M a k a s s a r
Hasil tersebut juga menunjukkan bahwa sampel mengandung coesite sebesar 62

wt%, quartz-low HP, syn sebesar 25 wt%, dan margarite-2M1 sebesar 13 wt%.

B = Bikitaite, Caesian (Cs0,35(Al0,35Si2,65O6) S-As = Sodium Aluminosilicate


C = Coesite HP, silicon dioxide (SiO2) S-A = Sodium Aluminate
Gi = Gismondine G = Gibbsite, syn M = Margarite-2M1
Cl = Clintonite-1M K = Kumdykolite M = Margarite-1M
Q = Quartz (SiO2) Cr = Cristobalite (SiO2) Mo = Moganite (SiO2)

21000 Q
Q C C M M Q M M
Q
18000 ASP 10% (e)
Mo
15000 C C S-A S-As
Intensitas (a.u.)

S-As G
G
C ASP 7,5% (d)
12000 B
B C Cr B Q
9000 C ASP 5 % (c)
Q C C C M M
C M C
6000 l ASP 2,5% (b)
C
3000 C C Gi C
C CC
ASP 0% (a)
0
10 20 30 40 50 60 70
2-theta

Gambar 3.18 Difraktogram sampel komposit geopolimer (a) KG_ASP 0%, (b)

KG_ASP 2,5%, (c) KG_ASP 5%, (d) KG_ASP 7,5% dan (e) KG_ASP 10% Komposit

Geopolimer

Difraktogram pada Gambar 3.18 memperlihatkan pola difraksi kelima

sampel yang telah disintesis berbahan abu terbang (matriks) dan pasir kuarsa

(agregat halus) dengan variasi abu sekam padi (0%, 2,5%, 5%, 7,5%, dan 10%)

tidak mengalami pergeseran puncak hanya saja terjadi perubahan fase, struktur

mikro dan komposisi kimia.

Berdasarkan hasil karakterisasi XRD pada setiap sampel pasta geopolimer

yang memiliki kandungan kristal dengan puncak tinggi dan memiliki fase yang

45 | F M I P A U n i v e r s i t a s N e g e r i M a k a s s a r
tetap (tidak ada perubahan fase yang signifikan), dapat dilihat pada sampel yang

memiliki penambangan abu sekam padi 0%, 2,5% dan 5% pada sudut 2=26,82o

yakni fase kristal coesite. Sedangkan pada sampel dengan penambahan abu sekam

padi 7,5% dan 10% terjadi perubahan fase dari fase kristal coesite menjadi

moganite dan quartz. Hal ini menandakan terjadinya perubahan struktur mikro

tanpa disertai perubahan komposisi kimia pada sampel yang telah diuji, seperti

kandungan silika yang masih berada pada fase tersebut.

Pada sudut 2=29,45o untuk setiap sampel dapat dipastikan bahwa tidak

ada perubahan fase kristal dan masih tetap berada pada fase kristal coesite. Pada

sudut ini memperlihatkan bahwa penambahan abu sekam padi dengan variasi (0%,

2,5%, 5%, 7,5%, dan 10%) tidak mengalami perubahan struktur mikro dan

komposisi kimia pada sampel yang telah diuji. Sedangkan pada sudut 2=27,18o

fase kristal yang lebih dominan yakni coesite dengan variasi abu sekam padi (0%,

2,5%, 7,5%, dan 10%). Untuk penambahan abu sekam padi 5% menghasilkan fase

kristal bikitaite, caesian. Hal ini menandakan terjadinya perubahan komposisi

kimia pada sampel yang telah diuji tersebut.

Pada sudut 2=21,04o, 2=33,24o, 2=35,94o, 2=45,79o dan 2=63,2o

memperlihatkan pola difraksi dari setiap sampel uji, selain mengalami perubahan

struktur mikro juga mengalami perubahan komposisi kimia.

D. Pengujian Sifat Mekanik


Kuat tekan (compressive strength) merupakan salah satu parameter yang

sangat penting khususnya untuk material keperluan struktural. Semen geopolimer

yang diproduksi dari bahan dasar abu terbang, abu sekam padi dan pasir kuarsa

diharapkan memiliki kuat tekan yang sama atau lebih besar dari kuat tekan semen

46 | F M I P A U n i v e r s i t a s N e g e r i M a k a s s a r
Portland. Hasil uji kekuatan tekan geopolimer dimaksudkan untuk mengetahui

kualitas fisik geopolimer yang dihasilkan.

Tabel 3.6. Hasil uji kuat tekan beton geopolimer

Rata-rata Kekuatan
No Sampel
Tekan (MPA)
1 KGP_ASP 0 % 44.154
2 KGP_ASP 2,5 % 46.540
3 KGP_ASP 5 % 59.031
4 KGP_ASP 7.5 % 62.598
5 KGP_ASP 10 % 62.819

Adapun penelitian yang memperlihatkan bahwa abu sekam padi

mempengaruhi kuat tekan yang dilakukan oleh Ramanuddin (2010) yaitu

penambahan abu sekam padi sebesar 10% pada semen Portland diperoleh kuat

tekan 51,71 MPa sedangkan jika hanya menggunakan pasir + semen Portland

hanya diperoleh kuat tekan sebesar 10.5 MPa (Kalu, et al., 2015).

70 62.6 62.82
59.03
60
46.54
Kuat Tekan (MPa)

50 44.15
40
30
20
10
0
ASP 0 % ASP 2,5 % ASP 5 % ASP 7.5 % ASP 10 %
Variasi Abu Sekam Padi

Gambar 3.19 kekuatan tekan pasta geopolimer

47 | F M I P A U n i v e r s i t a s N e g e r i M a k a s s a r
Gambar 3.19 memperlihatkan kuat tekan geopolimer yang telah dirawat selama 28

hari. Hasil pengujian memperlihatkan bahwa kuat tekan geopolimer mengalami

peningkatan mendekati linear dengan bahan pengikat abu terbang dan pasir kuarsa

seiring dengan penambahan abu sekam padi.sebesar 0%, 2,5%, 5%, 7,5% dan

10%. Kuat tekan untuk KGP_ASP 0 % sebesar 44.15 MPa. KGP_ASP 2,5 % sebesar

46.54 MPa. KGP_ASP 5 % sebesar 59.03 MPa. KGP_ASP 7,5 % sebesar 62,6 MPa

dan KGP_ASP 10 % sebesar 62.82 MPa.

Dari hasil pengujian terlihat pada gambar 4.7 bahwa diagram batang tidak

mengalami kenaikan secara sempurna linear, hal ini terjadi karena pada saat

dilakukan pemolesan untuk meratakan sampel dengan tujuan kuat tekan alat uji

terdistribusi secara merata pada sampel, akan tetapi hal tersebut membuat pori

sampel terbuka dan memberikan pengaruh yang cukup signifikan terhadap sampel

uji sehingga memperoleh kuat tekan yang rendah dan tidak mengalami kenaikan

secara linear.

E. Pengujian Sifat Termal


Uji Resistansi Api

Hasil pengujian resistansi api dapat dilihat pada gambar 3.20.

Gambar tersebut menujukkan kurva kenaikan temperature terhadap waktu.

Sampel tersebut terbakar pada saat diuji dengan menyemprotkan api dengan suhu

hingga 350 oC dan pengambilan data dilakukan setiap kenaikan waktu 5 menit

selama 30 menit. Sampel terdiri atas KGP_ASP 0%, KGP_ASP 2,5%, KGP_ASP

5%, KGP_ASP 7,5%, dan KGP_ASP 10% dengan bahan dasar abu terbang, pasir

kuarsa dan variasi abu sekam padi. Setelah dilakukan pembakaran selama 30

48 | F M I P A U n i v e r s i t a s N e g e r i M a k a s s a r
menit, dapat dilihat kenaikan temperature terhadap waktu seperti pada kurva pada

gambar tersebut.

400 400
(a) (b)
300 300

T (oC)
T (oC)

200 200
T1 (oC) T1 (oC)
100 100
T2 (oC) T2 (oC)
0 0
0 10 20 30 0 10 20 30
t (minute) t (minute)

400 400
300 (c) 300 (d)
T (oC)

T (oC)
200 T1 (oC) 200 T1 (oC)
100 T2 (oC) 100 T2 (oC)
0 0
0 10 20 30 0 10 20 30
t (minute) t (minute)

400
(e)
300
T (oC)

200 T1 (oC)
100 T2 (oC)
0
0 10 20 30
t (minute)

Gambar 3.20 Hasil pengujian resistansi api pada sampel (a) KG_ASP 0%, (b)

KG_ASP 2,5%, (c) KG_ASP 5%, (d) KG_ASP 7,5% dan (e) KG_ASP 10%.

Kurva diatas memperlihatkan T1 (suhu pembakaran) dan T2 (suhu hantar

pembakaran) dari sampel uji resistansi api, dari beberapa pengujian yang

dilakukan seperti KGP_ASP 0 % didapat suhu akhir T1 sebesar 338,6 oC dan T2

sebesar 64 oC, KGP_ASP 2,5 % T1 sebesar 332 oC dan T2 sebesar 66,8 oC,

49 | F M I P A U n i v e r s i t a s N e g e r i M a k a s s a r
KGP_ASP 5 % T1 sebesar 333,7 oC dan T2 sebesar 69,5 oC, KGP_ASP 7,5 % T1

sebesar 321 oC dan T2 sebesar 79,5 oC, KGP_ASP 10 % T1 sebesar 321 oC dan T2

sebesar 73,3 oC terlihat pada Tabel 3.7. Hal tersebut tidak menunjukkan adanya

perubahan temperature yang begitu signifikan terhadap waktu sebagaimana

terlihat pada gambar 3.21, sampel yang mengalami pembakaran hanya terjadi

perubahan bentuk seperti retakan dari semprotan api yang terlihat pada gambar

3.21.

400
350
300
250
T (oC)

200
150
100
50
0
0 5 10 15 20 25 30
t (minute)

Gambar 3.21 Hasil pengujian sifat termal resistansi api beton geopolimer

(KG_ASP 0%, KG_ASP 2,5%, KG_ASP 5%, KG_ASP 7,5% dan KG_ASP

10%).

Tabel 3.7 Hasil uji resistansi api beton geopolimer (KG_ASP 0%, KG_ASP

2,5%, KG_ASP 5%, KG_ASP 7,5% dan KG_ASP 10%).

No Nama Sampel Waktu (Menit) T1 (oC) T2 (oC)


0 31.7 31.7
5.00 203.5 34.4
2 KGP_ASP 0 % 10.00 226.4 41.4
15.00 259.3 49.0
20.00 274.2 55.3

50 | F M I P A U n i v e r s i t a s N e g e r i M a k a s s a r
25.00 295.1 60.0
30.00 338.6 64.0
0 32.2 32.20
5.00 203.4 36.53
10.00 226.5 45.18
2 KGP_ASP 2.5 % 15.00 259.0 49.50
20.00 274.5 53.83
25.00 290.1 62.48
30.00 332.0 66.80
0 31.5 31.50
5.00 206.6 36.25
10.00 237.5 45.75
3 KGP_ASP 5 % 15.00 260.5 50.50
20.00 277.0 55.25
25.00 295.4 64.75
30.00 333.7 69.50
0 31.9 31.90
5.00 198.5 37.85
10.00 227.3 49.75
4 KGP_ASP 7,5 % 15.00 255.6 55.70
20.00 271.8 61.65
25.00 291.6 73.55
30.00 321.00 79.50
0 32.2 32.2
5.00 204.0 36.9
10.00 231.4 44.3
5 KGP_ASP 10 % 15.00 262.2 53.2
20.00 293.8 60.6
25.00 301.0 68.6
30.00 321.00 73.7

51 | F M I P A U n i v e r s i t a s N e g e r i M a k a s s a r
Gambar. 3.22 Uji resistansi api beton geopolimer (KG_ASP 0%, KG_ASP 2,5%,

KG_ASP 5%, KG_ASP 7,5% dan KG_ASP 10%).

Berdasarkan gambar 3.22 tersebut menunjukkan bahwa sampel KGP_ASP

2,5%, KGP_ASP 5%, KGP_ASP 7,5%, dan KGP_ASP 10% kurang tahan terhadap

api, karena selama pemberian semprotan api selama 30 menit memperlihatkan

hasil pembakaran yang ditimbulkan mengalami retakan yang lebih panjang dan

terlihat keropos. Sedangkan untuk sampel KGP_ASP 0% (0% abu sekam padi)

diberikan suhu yang sama yakni 30 menit, menunjukkan bahwa sampel tanpa abu

sekam padi lebih tahan terhadap semprotan api dibanding sampel yang lain, hal ini

dapat dilihat dari pembakaran yang ditimbulkan mengalami retakan yang pendek

dan tersebar di area semprotan api.

52 | F M I P A U n i v e r s i t a s N e g e r i M a k a s s a r
BAB V
PENUTUP

A. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan

sebagai berikut :

1. Hasil uji kuat tekan geopolimer dengan variasi abu sekam padi (0%, 2,5%, 5%,

7,5 dan 10%) memperlihatkan bahwa semakin tinggi tambahan abu sekam padi

maka semakin tinggi pula kuat tekan yang diperoleh. Hasil uji kuat tekan

maksimum adalah KG_ASP 10% sebesar 62,82 MPa.

2. Hasil yang lebih baik untuk uji resistansi api adalah sampel KG_ASP 0%,

dapat dilihat setelah pembakaran hanya mengalami retakan pendek dan tersebar

diarea semprotan api, dibanding pengujian yang lain mengalami retakan yang

lebih panjang dan terlihat kropos.

3. Analisis struktur mikro beton geopolimer

a) Karakterisasi SEM menunjukkan adanya reaksi (ikatan yang baik) antara

material penyusun sampel dari abu terbang dan pasir kuarsa terhadap

penambahan abu sekam padi.

b) Hasil analisis EDS beton geoppolimer didominasi oleh senyawa SiO2

(silika), Al2O3 (Alumina), dan CaO (Kalsium)

c) Hasil analisis XRD menunjukkan adanya perubahan fase kristal, struktur

mikro dan perubahan komposisi kimia dari setiap penambahan abu sekam

padi.

53 | F M I P A U n i v e r s i t a s N e g e r i M a k a s s a r
B. Saran

1. Peneliti selanjutnya agar melakukan preparasi sampel dengan baik (gunakan

pemotong dan pemoles untuk memperkecil ukuran sampel khususnya

untuk sampel XRD dan SEM).

2. Penimbangan bahan dasar maupun larutan aktivator harus diperhatikan

karena mempengaruhi jumlah atom Si dan Al yang akan membentuk

geopolimer.

54 | F M I P A U n i v e r s i t a s N e g e r i M a k a s s a r
DAFTAR PUSTAKA

Ainsworth, J.H. and moore, R.E. 1969. Fracture behavior of thermally shocked
alumina oxide. Journal of the American ceramic Society, 52, 628-629.
Anriani, Nur. 2012. Studi Tentang Mekanik Geopolimer Sebagai Bahan Plastis
Tripleks, Skripsi S1, Universitas Negeri Makassar, Makassar.
Badan Penelitian dan Pengembangan NSPM KIMPRASWIL. 2002. Metode,
Spesifikasi dan Tata Cara (SNI dan SK SNI Edisi 2002). Jakarta:
Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah
Biro Pusat Statistik. 2014. Statistik Indonesia. Jakarta.
http://www.bps.go.id/ linkTableDinamis/view/id/960

Byan Technology Indonesia. 2011. Pengolahan Pasir Silika.


http://www.byantech.com / kategori-pabrik / pengolahan-pasir-silika
(diakses pada tanggal 5 Agustus 2014).
Clarence W Dunham. 1966. The Theory and Practice of Reinforced Concrete.
New York, United States of America: McGraw-Hill Book Company

Davidovits, Joseph dkk.1999. Proceeding 2nd Internatioanal Conference


Geopolymere.France :Universite de Picarde.
Fairus, S., dkk. 2009. Pengaruh Konsentrasi HCl dan Waktu Hidrolisis Terhadap
Perolehan Glukosa yang Dihasilkan dari Pati Biji Nangka. Prosiding
Seminar Nasional Teknik Kimia Kejuangan. Yogyakarta.
Iswanto. 2011. Tinjauan Kuat tekan dan modulus elastisitas beton dengan zeolit
sebagai bahan tambah disbanding zeolit sebagai pengganti semen pada
campuran beton. Skripsi Program S1 Teknik Sipil Universitas Sebelas
Maret.
Malhotra. 1999. Making Concrete Greener with Fly Ash. ACI Concrete
International, 21 , pp. 61-66.
Mitchell, B.S. (2004) Introduction to Material and Engineering Science, John
Wiley & Sons, Inc., New Jersey.
Nugraha, Paul & Antoni, 2007. TEKNOLOGI BETON dari Material, Pembuatan,
Kebeton Kinerja Tinggi. Yogyakarta : C.V Andi Offset (Penerbit ANDI).

Pugar Septia. 2011. Studi Literatur Pengaruh Konsentrasi NaOH dan Rasio
NaOH:Na2SiO3, Rasio Air/Prekursor, Suhu Curing, dan Jenis
Prekursor Terhadap Kuat Tekan Beton Geopolimer.

55 | F M I P A U n i v e r s i t a s N e g e r i M a k a s s a r
Ratmaya Urip. 2003. Teknologi Semen dan Beton: Fly Ash, Mengapa Seharusnya
Dipakai pada Beton. Gresik: PT. Semen Gresik Indonesia dan PT. Varia
Usaha Beton.
Sofwan Hadi. 2000. Pengaruh Ukuran Butir dan Komposisi Abu Terbang PLTU.
Surabaya sebagai Pengisi dan Pozolan.
http://digilib.itb.ac.id/go.php?id=jbptit-gdl-s2-2005-robbytriaw-1813
Subaer. 2012. Pengantar Fisika Geopolimer, Makassar: program penulisan buku
teks perguruan tinggi, Direktorak Jenderal Pendidikan Tinggi.
Subaer, Agus Susanto, M. Jaman Studi tentang Kekerasan Vickers Geopolimer
Berbahan Dasar Fly Ash dan Metakaolin. JSPF Vol. 9, Mei 2009. ISSN
: 1858-330X. Jurusan Fisika FMIPA. Universitas Negeri Makassar.
Sudarsono.2012. Kajian Sifat Mekanik Material Komposit Propeller Kincir Angin
Standard Naca 4415 Modifikasi. Prosiding Seminar Nasional Aplikasi
Sains & Teknologi (SNAST) Periode II Yogyakarta.
Triwulan, dkk. 2007. Analisa Sifat Mekanik Beton Geopolimer Berbahan fly ash
dan Lumpur Porong Kering sebagai Pengisi, TORSI Jurnal Teknologi
dan Rekayasa Sipil, 27(3),hal. 33-46
Vicran Zharvan, Muris, dan Subaer, 2013. Studi Struktur Mikro dan Kuat
Lentur Komposit Geopolimer Serat Bambu dengan Temperatur
Curing Berbeda. Jurnal Fisika Dan Aplikasinya Fisika, Universitas
Negeri Makassar. Vol. 9

56 | F M I P A U n i v e r s i t a s N e g e r i M a k a s s a r