Anda di halaman 1dari 19

PRESENTASI KASUS

ERITODERMA

Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Program Kepaniteraan Klinik Bagian


Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Diajukan Kepada:
dr. H. Aris Budiarso, Sp.KK

Disusun Oleh:
Siti Novita Kuman
20110310223

BAGIAN ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN RSUD WONOSOBO


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
2017
PRESENTASI KASUS

ERITODERMA

Telah dipresentasikan pada tanggal:


Juli 2017
Bertempat di RSUD Setjonegoro Wonosobo

Disusun oleh:

Siti Novita Kuman


20110310223

Disahkan dan disetujui oleh:


Dokter Pembimbing Kepaniteraan Klinik
Bagian Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin
RSUD KRT Setjonegoro Wonosobo

dr. H. Aris Budiarso, Sp.KK

PENGANTAR

Assalamualaikum Wr.Wb
Puji syukur atas kehadirat Allah SWT atas segala limpahan nikmat, petunjuk dan
kemudahan yang telah diberikan, sehingga penulis dapat menyelesaikan presentasi
kasus yang berjudul:

ERITODERMA.
Penulisan presentasi kasus ini dapat terwujud atas bantuan berbagai pihak, oleh
karena itu maka pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih
kepada:

1. dr. H. Aris Budiarso, Sp.KK selaku dokter pembimbing dan dokter


Spesialis Kulit Kelamin di RSUD KRT Setjonegoro Wonosobo
2. Seluruh perawat, tenaga medis dan staf di RSUD KRT Setjonegoro
Wonosobo.
3. Ny. A selaku pasien di bangsal Edelweis yang sudah bersedia meluangkan
waktunya untuk dilakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik secara
menyeluruh
4. Teman-teman coass atas dukungan dan kerjasamanya .

Dalam penyusunan presentasi kasus ini penulis menyadari bahwa masih


memiliki banyak kekurangan. Penulis mengharapkan saran dan kritik demi
kesempurnaan penyusunan di masa yang akan datang. Semoga dapat menambah
pengetahuan bagi penulis khususnya dan pembaca pada umumnya.

Wassalamualaikum Wr.Wb

Wonosobo, Juli 2017

Siti Novita Kuman

DAFTAR ISI

PENGANTAR iii
DAFTAR ISI iv

BAB I PENDAHULUAN 1

BAB II KASUS 3

BAB III PEMBAHASAN 6

BAB IV KESIMPULAN 11

DAFTAR PUSTAKA 12
BAB I
PENDAHULUAN
Eritroderma atau sering juga disebut sebagai dermatitis eksfoliativa
didefinisikan sebagai eritema kulit yang generalisata atau hampir generalisata,
meliputi lebih dari 90% dari permukaan tubuh dimana memberikan berbagai
derajat pengelupasan. Beberapa kasus juga dikaitkan dengan erosi (kehilangan
epidermis beserta dasar epidermis), krusta (serous, sanguineous, atau pustular)
dan disertai perubahan rambut dan kuku.
Beberapa penelitian besar telah melaporkan variasi insidensi dari
dermatitis eksfoliativa dari 0,9 sampai 71 per 100.000 pasien rawat jalan.
Umumnya sering pada pria, dengan rasio pria : wanita 2:1 atau 4:1. Berbagai
kelompok usia dapat terkenda dan pada kebanyakan penelitian tidak melibatkan
anak-anak, rata-rata umur dari onset penyakit bervariasi dari 41-61. Dermatitis
eksfoliativa jarang pada anak-anak dan hanya sedikit data epidemiologi yang
meliputi populasi pediatri. Satu penelitian menemukan 17 pasien, yang didapat
selama 6 tahun, dengan rata-rata usia 3,3 tahun dan perbandingan pria dan wanita
yaitu 0,89:1. Dermatitis eksfoliativa dapat terjadi pada berbagai ras.(1,2)
Dermatosis yang sudah terjadi sebelumnya memegang peranan penting
pada lebih dari satu setengah kasus dermatitis eksfoliativa. Psoriasis merupakan
penyakit yang mendasari yang paling sering (hampir seperempat dari kasus). Pada
penelitian terbaru mengenai psoriasis yang berat, dermatitis eksfoliativa
dilaporkan 87 dari 160 kasus.(1) Gangguan yang paling umum disebabkan oleh
psoriasis, kontak dermatitis, dan dermatitis atopi. Untuk keganasan yang paling
sering adalah cutaneous T-cell lumphoma (CTCL). Namun berdasarkan beberapa
kepustakaan sebelumnya 25% kasus tidak ditemukan penyebab dari eritroderma
karena kesulitan dalam mendiagnosis kondisi yang mendasari.
Orang dengan eritroderma dapat bersifat stabil secara medis atau
berlangsung kronis atau dapat juga akut dan bahkan membahayakan nyawa.
Mereka sebaiknya masuk ke dalam perawatan inap oleh karena luasnya derajat
kerusakan kulit dan disertai gejala sistemik. (3) Kami melaporkan satu laporan
kasus pasien eritroderma disebabkan dermatitis kontak iritan.

1
Reaksi eksematous merupakan respon inflamasi yang ditandai dengan
eritema, gelembung, eksudasi, papul dan pengelupasan kulit dan diberi sebutan
dermatitis yang umumnya merupakan sinonim dari eczema. Dermatitis merupakan
respon yang diakibatkan oleh efek toxin eksternal, non infeksius, immunological,
kimia atau fisik. Hal ini merupakan kasus klasik dari dermatitis kontak. Namu
reaksi eksem dari kulit dapat juga dicetuskan melalui jalur endogen atau oleh
intake alergen sistemik. Dari sudut etiologi, pembedaan dibuat berdasarkan
alergik umumnya hipersensitifitas tipe lambat (type IV) dan juga tipe immediate
(type 1), dan iritan (non-allergik) bentuk dari kontak dermatitis. Bentuk alergik
diawali dengan sensitasi dari suatu alergen atau cross reaktif alergen. Banyak
pasien yang menunjukkan gambaran klinis dari gabungan mekanisme iritan dan
alergi. Sehingga gambaran klinis saja susah untuk mengklasifikasikan antara
dermatitis kontak iritan atau alergi. Gambaran akut, sub akut dan kronis dapat
ditentukan berdasarkan morfologi, perkembangan penyakit dan waktu terpapar
dengan toksin. Dimana hal ini juga penting untuk pemilihan pengobatan.(4)

2
BAB II

KASUS

Seorang wanita 48 tahun datang ke Poliklinik RSUD KRT Setjonegoro

dengan keluhan utama gatal diseluruh tubuh. Pasien mengeluhkan gatal diseluruh

tubuh kurang lebih sejak 6 hari yang lalu. Awalnya gatal hanya disekitar lengan

kemudian meluas sampai diseluruh tubuh. Gatal dirasakan pada awalnya setelah

pasien mengambil rerumputan. Rasa gatal yang dirasakan terus menerus

sepanjang hari terutama saat berkeringat. Pasien juga mengeluh kulit diseluruh

tubuh tampak kemeraha , pecah dan mengelupas serta terasa perih. Akibat

keluhannya pasien sulit istirahat dan tidur. Tiga hari yang lalu, pasien sudah

berobat kebidan diberikan obat cetirizin dan salep namun tidak membaik bahkan

pasien merasa keluhan semakin memberat. Pasien tidak mengeluhkan demam,

nyeri , pusing maupun nafsu makan menurun .

Riwayat penyakit dahulu pasien mengaku belum pernah mengalami sakit

seperti ini. Penyakit paru-paru , riwayat penyakit ginjal ,riwayat alergi makanan

dan obat riwayat penggunaan obat obatan dalam jangka waktu lama disangkal.

Riwayat penyakit keluarga, tidak ada anggota keluarga dengan keluhan

yang sama seperti pasien serta riwayat alergi pada keluarga juga disangkal. Pasien

adalah seorang ibu rumah tangga yang tinggal bersama suami dan dua orang

anaknya. Pasien seringkali bekerja mengambil rerumputan untuk makanan ternak.

Pada pemeriksaan fisik keadaan umum pasien tampak baik. Pada

pemeriksaan ujud kelainan kulit (UKK) pada hampir seluruh tubuh tampak

makula eritema bentuk tidak teratur ukuran bervariasi berbatas tegas tepi irreguler

3
disertai squama kasar berwarna putih hingga kecoklatan distribusi generalisata.

4
5
6
Gambar 1. Lesi pada lengan, leher, perut dan ekstremitas pasien

Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik maka pasien didiagnosis

eritoderma dengan diagnosis banding dermatitis kontak iritan, psoriasis, dan

dermatitis seboroik. Penyebab eritoderma pada kasus ini belum bisa diketahui

7
namun kemungkinan besar disebabkan oleh dermatitis kontak iritan. Untuk

penyebab yang pasti diusulkan untuk pemeriksaan biopsi kulit untuk investigasi

penyebab utama.

Penatalaksanaan pada kasus ini terdiri dari pelaksanaan medikamentosa

dan non medikamentosa. Penatalaksanaan medikamentosa berupa edukasi kepada

pasien menjelaskan kemungkinan penyebab penyakitnya yaitu terkena bahan

iritan saat mengambil rerumputan sehingga pasien untuk sementara berhenti untuk

melakukan kegiatan tersebut, mengurangi kegiatan yang menimbulkan banyak

keringat, sering mengganti baju serta makan teratur dan istirhat cukup.

BAB III
PEMBAHASAN

Diagnosis eritroderma pada kasus ini ditegakkan berdasarkan anamnesis,

pemeriksaan fisis sedangkan pemeriksaan penunjang tidak dilakukan . Dari

anamnesis dan pemeriksaan fisis didapatkan kulit yang eritem dan skuama pada

hampir seluruh tubuh, di mana sesuai dengan kepustakaan yang ada tentang gejala

suatu eritroderma yaitu terdapatnya eritem dan skuama di seluruh tubuh atau

hampir seluruh tubuh. Eritroderma dapat disebabkan oleh perluasan penyakit kulit

dan penyakit sistemik. Eritroderma akibat perluasan penyakit kulit paling sering

disebabkan oleh karena kelainan kulit yang mendasari (seperti psoriasis,

dermatitis, iktiosis, pemfigus foliaseous, dan skabies). Pada kasus ini eritroderma

kemungkinan disebabkan oleh Dermatitis Kontak Iritan.

8
Eritroderma merupakan penyakit yang relatif banyak terjadi di negara-

negara tropis. Insiden eritroderma lebih sering terjadi pada pria dibandingkan

wanita, dengan perbandingan 2:1 dan usia rata-rata bervariasi mulai dari 41-61

tahun. Beberapa peneliti juga menuliskan eritroderma dapat ditemukan pada

pasien hingga umur 80 tahun. Pada beberapa kepustakaan ditemukan bahwa

sangat sering pada pria, dengan perbandingan pria dan wanita yaitu 4:1, hal ini

disebabkan karena kebiasaan konsumsi alkohol dan seringnya melakukan

pekerjaan di luar rumah oleh pasien pria dimana hal tersebut diketahui dapat

mengeksaserbasi penyakit pada psoriasis dan dermatitis. Pasien kasus ini pasien

seorang wanita berumur 48 tahun yang bekerja sebagai pengambil rerumputan.

Menurut penelitian Talat et al, eritroderma paling sering disebabkan oleh

dermatitis, psoriasis, alergi obat, dan lymphoma. Namun untuk mendapatkan hasil

yang baik, biopsi kulit berulang kali diperlukan dan juga diikuti pemantauan

pasien yang ketat dan evaluasi berulang kali. Selain itu biopsi kulit merupakan

satu-satunya cara investigasi yang relevan untuk menentukan penyebab utama.

Eritroderma pada orang dewasa paling sering disebabkan oleh perluasan suatu

penyakit (52%), diikuti reaksi obat (15%), dan Cutaneous T-Cell lymphoma

(CTCL) atau sindrom Sezary (5%), dan idiopatik (28%). Pada eritroderma yang

diakibatkan oleh perluasan penyakit psoriasis merupakan penyebab utama (23%),

diikuti oleh dermatitis spongiotik (20%). Dermatitis Sspongiotik terdiri dari

dermatitis atopi, dermatitis seboroik, dermatitis kontak, dan dermatitis stasis.

Dermatitis Kontak Iritan umumnya bermanifestasi klinis sebagai inflamasi pada

kulit, oedem ringan dan skuama. Paparan yang berlebihan atau berulang dapat

9
mengakibatkan Dermatitis Kontak Iritan. Pada pasien ini terdapat paparan

beberapa kali terhadap rerumputan yang merupakan pekerjaan pasien kurang lebih

6 bulan belakangan . Sehingga, pada kasus ini eritroderma diakibatkan oleh

Dermatitis Kontak Iritan.

Pemeriksaan biopsi sering menunjukkan gambaran yang tidak spesifik

termasuk, hiperkeratosis, parakeratosis, akantosis, dan infiltrat inflamasi kronis,

dimana akan menutupi gambaran penyebab utama. Gambaran histologi dapat

bervariasi tergantung derajat keparahan penyakit dan juga inflamasi. Sepertiga

hasil biopsi dari eritroderma gagLa untuk menunjukkan penyebab dari

eritroderma. Reaksi spongiotik di tandai dengan perubahan epiderma yang

berhubungan dengan akumulasi dari edema intraepidermal. Tekanan hidrostatik

menyebabkan pemisahan dari keratinosit yang mengakibatkan keluarnya

interselular desmosomal. Hal ini mengakibatkan permukaan tampak sebagai spon

sehingga disebut sebagai spongiotic. Perubahan epiderma pada dermatitis

spongiotic merupakan proses yang dinamis dan berubah seiring berjalannya

waktu. Sehingga hal ini hanya menjelaskan mengenai perubahan histologi.

Menurut kepustakaan bahwa eritroderma yang disebabkan oleh dermatitis kontak

iritan memiliki gambaran histopatologi yaitu adanya infiltrat limfosit dan eosinofil

pada daerah perivascular superfisial, spongiosis, parakeratosis. Pada kasus ini,

pasien tidak dilakukan pemeriksaan bipsi kulit oleh karena itu diusul kan untuk

dilakukan pemeriksaan histopatologis untuk mengetahu penyebab utama yang

relevan.

10
Penatalaksanaan utama dari eritroderma, apapun penyebabnya, adalah

koreksi cairan dan elektrolit. Diet protein juga diperlukan sebagai pengganti

nutrisi yang hilang. Pasien sebaiknya dirawat pada lingkungan yang hangat

(sebaiknya 300C-320C) dan lingkungan yang lembab untuk kenyamanan kulit, dan

juga mengurangi hipotermi. Perawatan kulit lokal secara lembut, termasuk

pemakaian oatmeal baths dan wet dressing untuk lesi krusta, emolien dan

kortikosteroid potensi rendah perlu diberikan. Terapi simtomatik termasuk

antihistamin sedatif untuk pruritusnya. Antibiotik sistemik diperlukan untuk

pasien dengan infeksi sekunder sistemik. Pasien tanpa adanya infeksi sekunder

dapat juga memerlukan terapi antibiotik sistemik seperti adanya kolonisasi bakteri

yang dapat menyebabkan eksaserbasi dari eritroderma. Sesuai kepustakaan, maka

pasien diterapi dengan, antihistamin cetirizine, kortikosteroid topikal, emolien

yaitu lanolin dan vaselin yang berfungsi untuk menahan penguapan air dari kulit.

Pada kasus ini, pasien diterapi dengan bethametasone cream 30 gr, cetirizin 1 x 10

mg .

Menurut kepustakaan prognosis eritroderma buruk pada pasien yang

sangat muda dan juga orang tua, selain itu prognosis eritroderma yang disebabkan

oleh keganasan buruk, dan yang diakibatkan oleh reaksi obat lebih baik . Pada

kasus ini eritroderma terjadi pada usia dewasa dan diakibatkan oleh perluasan

suatu penyakit sehingga prognosis baik.

Setelah adanya perbaikan lesi, sebaiknya pada pasien diberikan pengertian

tentang penyakit dasar dari eritroderma yang diderita tersebut. Pencegahan

eritroderma dapat dilakukan dengan menghindari faktor pencetus yang dicurigai

11
mengakibatkan eritroderma. Pada kasus ini pasien penyebab eritroderma pasti

belum diketahui namun berdasarkan anamnesis kemungkinan karena kontak

bahan iritan rerumputan. Oleh karena itu untuk mengevaluasi kondisi pasien maka

untuk sementara pasien tidak melakukan aktivitas sebagai pengambil rerumputan.

BAB IV

KESIMPULAN

Telah dilaporkan kasus Eritoderma yang ditemukan pada wanita berusia 48

tahun. Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik. Dari

anamnesis pasien mengeluhkan gatal seluruh tubuh disertai kulit kemerahan ,

mengelupas dan perih sejak 6 hari yang lalu. Keluhan tersebut dirasakan pasien

setelah mengambil rerumputan. Rasa gatal berawal dilengan lalu menyebar

hampir keseluruh tubuh dan keluhan memberat saat kondisi badan pasien

berkeringat.

Pada pemeriksaan fisik kondisi umum tampak baik. Pemeriksaan ujud

kelainan kulit didapatkan pada hampir seluruh tubuh makula eritema bentuk tidak

teratur ukuran bervariasi berbatas tegas tepi irreguler disertai squama kasar

berwarna putih hingga kecoklatan distribusi generalisata Gambaran ini sesuai

dengan gambaran eritoderma .

Penatalaksanaan medikamentosa pada pasien ini adalah pemberian

cetirizin 1 x 10 mg , prednison 4 x 10 mg, bethametason Salp untuk obat luar.

edukasi kepada pasien menjelaskan kemungkinan penyebab penyakitnya yaitu

terkena bahan iritan saat mengambil rerumputan sehingga pasien untuk sementara

berhenti untuk melakukan kegiatan tersebut, mengurangi kegiatan yang

12
menimbulkan banyak keringat, sering mengganti baju serta makan teratur dan

istirahat cukup.

13
DAFTAR PUSTAKA

1. Goldsmith LA, Fitzpatrick TB. Fitzpatricks dermatology in general

medicine. New York: McGraw-Hill Medical; 2012.


2. Banerjee S, Ghosh S, Mandal RK. A study of correlation between clinical and

histopathological findings of erythroderma in North Bengal population.

Indian journal of dermatology. 2015;60(6):549.


3. Mistry N, Gupta A, Alavi A, Sibbald RG. A Review of the Diagnosis and

Management of Erythroderma (Generalized Red Skin). Advances in skin &

wound care. 2015;28(5):22836.


4. Csar A, Cruz M, Mota A, Azevedo F. Erythroderma. A clinical and

etiological study of 103 patients. Journal of Dermatological Case Reports

[Internet]. 2016 Mar 31 [cited 2016 Dec 22];10(1). Available from:

http://www.jdcr.eu/index.php?journal=jdcr&page=article&op=view&path

%5B%5D=10.3315/jdcr.2016.1222
5. Egeberg A, Thyssen J, Gislason G, Skov L. Prognosis after Hospitalization

for Erythroderma. Acta dermato-venereologica. 2016;


6. Hulmani M, Nandakishore B, Bhat MR, Sukumar D, Martis J, Kamath G, et

al. Clinico-etiological study of 30 erythroderma cases from tertiary center in

South India. Indian dermatology online journal. 2014;5(1):25.


7. Talat H, Zehra U, Wahid Z. Afrequency of common etiologies of

erythroderma in patients visiting a tertiary care hospital in Karachi. Journal of

Pakistan Association of Dermatologists. 2016 Jan;26(1):4852.


8. Shirazi N, Jindal R, Jain A, Yadav K, Ahmad S. Erythroderma: A clinico-

etiological study of 58 cases in a tertiary hospital of North India. Asian

Journal of Medical Sciences. 2015;6(6):2024.


9. Khaled A, Sellami A, Fazaa B, Kharfi M, Zeglaoui F, Kamoun M. Acquired

erythroderma in adults: a clinical and prognostic study: Acquired

14
erythroderma in adults. Journal of the European Academy of Dermatology

and Venereology. 2009 Dec 17;24(7):7818.


10. Mose M, Sommerlund M, Koppelhus U. Severe acute irritant contact

dermatitis presenting as exfoliative erythroderma: SEVERE CONTACT

DERMATITIS CAUSED BY A SHOWER GEL. Contact Dermatitis. 2013

Aug;69(2):11921.
11. Lisby S, Baadsgaard O. Mechanisms of irritant contact dermatitis. In: Contact

dermatitis. Springer; 2006. p. 6982.


12. Skotnicki S. Allergic Contact Dermatitis versus Irritant Contact Dermatitis.

2008;
13. Billings SD, Cotton J. Spongiotic Dermatitis. In: Inflammatory

Dermatopathology [Internet]. Boston, MA: Springer US; 2010 [cited 2016

Dec 23]. p. 519. Available from: http://link.springer.com/10.1007/978-1-

60327-838-6_2
14. Brasch J, Becker D, Aberer W, Bircher A, Krnke B, Jung K, et al. Guideline

contact dermatitis: S1-Guidelines of the German Contact Allergy Group

(DKG) of the German Dermatology Society (DDG), the Information Network

of Dermatological Clinics (IVDK), the German Society for Allergology and

Clinical Immunology (DGAKI), the Working Group for Occupational and

Environmental Dermatology (ABD) of the DDG, the Medical Association of

German Allergologists (AeDA), the Professional Association of German

Dermatologists (BVDD) and the DDG. Allergo Journal International. 2014

Jun;23(4):12638.
15. Mohd Noor N, Hussein SH. Transepidermal water loss in erythrodermic

patients of various aetiologies. Skin Research and Technology. 2013

Aug;19(3):3203.

15