Anda di halaman 1dari 8

ANALISIS PERENCANAAN OBAT BPJS

DENGAN METODE KONSUMSI


DI INSTALASI FARMASI RSUD TIDAR KOTA MAGELANG
PERIODE JUNI-AGUSTUS 2014

ANALYSIS OF DRUG PLANNING BASED ON


CONSUMPTION METHOD IN PHARMACY UNIT TIDAR
MAGELANG HOSPITAL PERIOD JUNE-AUGUST OF 2014
Lailatul Murtafiah1, Fitriana Yuliastuti2, Imron Wahyu Hidayat3

Abstrak
Pengelolaan merupakan serangkaian kegiatan yang salah satu prosesnya adalah perencanaan.
Perencanan adalah suatu kegiatan yang dilakukan dengan tujuan untuk menyusun kebutuhan obat
yang tepat dan sesuai kebutuhan untuk mencegah terjadinya kekurangan ataupun kelebihan obat.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran proses perencanaan obat di Instalasi
Farmasi RSUD Tidar Kota Magelang dengan menggunakan metode konsumsi. Penelitian ini
merupakan penelitian deskriptif dengan pengambilan data secara retrospektif terhadap laporan
jumlahpemakaian dan sisa obat BPJS di InstalasiFarmasi RSUD Tidar Kota MagelangPeriodeJuni-
Agustus 2014.
Dengan menggunakan metode konsumsi, hasil penelitian menunjukkan bahwa 166 item
pengadaan dan 48 item tidak diadakan. Buffer stock yang digunakan adalah 30%, sedangkan lead
time 7 hari. Pemakaian rata-rata terbesar adalah RL sebanyak 16.321 plabot. Perbandingan dengan
perencanaan RSUD Tidar Kota Magelang 61% sesuai dengan perencanaan dan 39% tidak sesuai
dengan perencanaanpenelitian. Penetapan kebutuhan obat menggunakan analisa konsumsi dapat
dilakukan dengan mempertimbangkan beberapa aspek dalam perencanaan obat di rumah sakit
yaitu standarisasi obat atau formularium, anggaran, pemakaian periode sebelumnya, stok akhir
dan kapasitas gudang, lead time dan stok pengaman, jumlah kunjungan dan pola penyakit dan
standar terapi.

Kata kunci: Perencanaan Obat, Metode Konsumsi, Instalasi Farmasi RSUD Tidar Kota Magelang

Abstract
Management is proses series which one of step is planning. Planning is the activity with purpose to
compile the appropriate medication needs and as needed to prevent deficiency or excess medications.
This study aimed at finding out drug planning in Pharmacy Unit Tidar Hospital in Magelang
using consumption method. This study is a descriptive study with retrospective data collection on
report drugs use and the residue drugs of BPJS in Tidar Magelang Pharmacy unit month period
from June to August in 2014.
By using the consumption method, the results showed that 166 necessery procurement and 29
not procurement. Buffer stock uses 30% and lead time used 7 days. The largest avarage usage is RL
16321 plabots. Comparison with procurement from Tidar Magelang Hospital that 61% appropriate
with procurement and 39% not appropriate with procurement research. Determination of the drug
need to use consumption analysis can be done by considering some aspects of the planning of
hospital medicine is the standardization of drugs or formulary, the budget, the use of the previous
period, the final stock and warehouse capacity, lead time and safety stock, the number of visits and
patterns of disease and treatment standards .

Keywords: Drug Planning, Consume Method, Tidar Magelang Hospital Pharmacy

1
Prodi Farmasi, Universitas Muhammadiyah Magelang
2
Prodi Farmasi, Universitas Muhammadiyah Magelang
3
Prodi Farmasi, Universitas Muhammadiyah Magelang

Jurnal Farmasi Sains dan Praktis, Vol. I, No. 2, Februari 2016 22


Analisis Perencanaan Obat BPJS dengan Metode Konsumsi di Instalasi Farmasi RSUD Tidar Kota Magelang Eriode Juni-Agustus 2014

PENDAHULUAN dibayar oleh pemerintah (Anonim, 2013)


Rumah sakit adalah salah satu dari sarana Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
kesehatan tempat menyelenggarakan upaya mengetahui hasil perencanaan obat di Instalasi
kesehatan. Upaya kesehatan adalah setiap Farmasi Rumah Sakit UmumTidar Magelang
kegiatan untuk memelihara dan meningkatkan dengan metode konsumsi serta mengetahui
kesehatan, bertujuan untuk mewujudkan derajat lead time, buffer stock, sisa stok dan pemakaian
kesehatan yang optimal bagi masyarakat. Rumah rata-rata.
sakit merupakan rujukan pelayanan kesehatan
untuk pusat kesehatan masyarakat (Siregar, METODE PENELITIAN
C.J.P., 2003). Jenis penelitian ini menggunakan jenis
Keputusan Menteri Kesehatan Nomor penelitian diskriptif dengan metode retrospektif
1333/Menkes/SK/XII/1999 tentang Standar yaitu menggunakan data sebelumnya yang
Pelayanan Rumah Sakit, yang menyebutkan bertujuan untuk menganalisis perencanaan
bahwa pelayanan farmasi RS adalah bagian obat berdasarkan metode konsumsi di Instalasi
yang tidak terpisahkan dari sistem pelayanan Farmasi Rumah Sakit Umum Tidar Kota
kesehatan RS yang berorientasi kepada pelayanan Magelang Notoatmodjo, S., 2012).
pasien, penyediaan obat yang bermutu, termasuk Batasan pengertian penelitian yang dilakukan
pelayanan farmasi klinik, yang terjangkau bagi adalah sebagai berikut:
semua lapisan masyarakat. a. Perencanaan adalah salah satu proses
Instalasi Farmasi Rumah Sakit (IFRS) pengelolaaan obat yang bertujuan untuk
adalah suatu departemen/ unit/ bagian mendapatkan jenis dan jumlah yang tepat
di suatu rumah sakit di bawah pimpinan sesuai kebutuhan, menghindari terjadinya
seorang apoteker dan dibantu oleh beberapa kekosongan obat dan meningkatkan
orang apoteker yang memenuhi persyaratan penggunaan obat secara rasional (Quick,
peraturan perundang-undangan yang berlaku 1997).
dan kompeten secara profesional, tempat atau b. Metode konsumsi yaitu perencanaan
fasilitas penyelenggaraan yang bertanggung berdasarkan jumlah kebutuhan riil obat
jawab atas seluruh pekerjaan serta pelayanan pada periode tahun lalu dengan penyesuaian
kefarmasian, yang terdiri atas pelayanan dan koreksi berdasarkan pada penggunaan
paripurna, mencakup perencanaan; pengadaan; obat tahun sebelumnya. Metode konsumsi
produksi; penyimpananperbekalankesehatan/ membutuhkan beberapa data, antara lain :
sediaanfarmasi; dispensing obat; pengendalian pemakaian rata-rata, buffer stock, sisa stock
mutu dan pengendalian distribusi (Siregar, dan waktu tunggu (Quick, 1997).
C.J.P., 2003) c. Pemakaian rata-rata adalah pemakaian obat
Badan Penyelenggara Jaminan Sosial dalam kurun waktu tertentu (Quick, 1997).
yang selanjutnya disingkat BPJS adalah badan d. Buffer stock adalah stock penyangga untuk
hukum yang dibentuk untuk menyelenggarakan mengantisipasi terjadinya kekurangan obat
program jaminan sosial (UU No 24 Tahun (Quick, 1997).
2011). BPJS terdiri dari BPJS Kesehatan dan BPJS e. Sisa stock adalah stock yang tidak digunakan
Ketenagakerjaan. BPJS Kesehatan adalah badan dalam kurun waktu yang telah ditentukan.
hukum yang dibentuk untuk menyelenggarakan f. Waktu tunggu atau lead time adalah waktu
program jaminan kesehatan (Anonim, 2002). yang diperlukan untuk menunggu dari SP
Jaminan Kesehatan adalah jaminan diserahkankepada PBF sampeobat dating
berupa perlindungan kesehatan agar peserta (Quick, 1997).
memperoleh manfaat pemeliharaan kesehatan g. Obat BPJS adalah obat yang terdiri dari obat
dan perlindungan dalam memenuhi kebutuhan generik atau obat paten yang ditanggung
dasar kesehatan yang diberikan kepada setiap oleh pemerintah.
orang yang telah membayar iuran atau iurannya

Jurnal Farmasi Sains dan Praktis, Vol. I, No. 2, Februari 2016 23


Analisis Perencanaan Obat BPJS dengan Metode Konsumsi di Instalasi Farmasi RSUD Tidar Kota Magelang Eriode Juni-Agustus 2014

Populasi pada penelitian ini adalah semua penggunaan obat secara tepat dan rasional.
data perencanaan obat di Instalasi Farmasi Perencanaan adalah proses kegiatan seleksi
Rumah Sakit Umum DaerahTidar Kota Magelang. obat dan menentukan jumlah dan jenis obat dalam
Sampel dalam penelitian ini adalah beberapa rangka pengadaan. Tujuan dari perencanaan
item obat BPJS yang digunakan di Instalasi adalah untuk mendapatkan jenis dan jumlah
Farmasi Rumah Sakit Umum Daerah Tidar Kota yang tepat sesuai kebutuhan, menghindari
Magelang periode bulan JuniAgustus tahun terjadinya kekosongan obat, meningkatkan
2014. penggunaan obat secara rasional, meningkatkan
I n s t r u m e n yang d ig u n a k a n untuk efisiensi penggunaan obat serta menghindari
mengumpulkan data dalam penelitian ini antara terjadinya kelebihan stock yang mengakibatkan
lain: obat kadaluwarsa. Perencanaan obat merupakan
a. Laporan sisa stock obat periode bulan Juni salah satu proses yang paling uatama dalam
Agustus tahun 2014. pengelolaan obat, karena perencanaan adalah
b. Laporan buffer stock obat periode bulan Juni tahap awal dalam pengelolaan obat. Kelancaran
Agustus tahun 2014. dalam pelayanan juga menjadi salah satu faktor
c. Laporan pemakaia rata rata selama 3 bulan. dalam perencanaan. Perencanaan baik maka
d. Laporan lead time selama 3 bulan. proses pengelolaan sampe akhir akan baik juga.
e. Formularium Rumah Sakit. Metode perencanaan ada tiga macam yaitu
f. Data item obatbulan Juni Agustus tahun metode konsumsi, epidimiologi dan kombinasi.
2014. Metode konsumsi merupakan pemakaian
g. Referensi yang relevan dan bersumber dari periode sebelumnya.
buku, jurnal ilmiah maupun literatur lain. Penelitian ini dilakukan pada bulan Februari
h. Daftar obat e-katalog. 2015 di Instalasi Farmasi RSUD Tidar Magelang
Analisis data kuantitatif yang diperoleh dengan menggunakan laporan atau data bulan
dari hasil stock gudang IFRS yang kemudian JuniAgustus 2014. Data yang digunakan yaitu
disajikan dalam bentuk tabel atau grafik untuk data primer dan sekunder. Data primer yaitu
dapat melihat perubahaan secara visual. data pemakaian dan sisa stock pada bulan Juni
Analisis data dilakukan dengan langkah- Agustus 2014. Data sekunder yaitu beberapa
langkah sebagai berikut : pertanyaan yang menunjang data primer, seperti
1. Pengumpulan dan pengolahan data. perencanaan yang digunakan, lead time dan buffer
Diambil dari pencatatan dan pelaporan stock. Perencaan obat di Instalasi Farmasi RSUD
yang terdapat dalam kartu stock, buku Tidar Magelang berdasarkan metode kombinasi,
penerimaan dan pengeluaran, lead time, yaitu metode konsumsi dan morbiditas. Metode
buffer stock dan pemakaian rata rata konsumsi berdasarkan kebutuhan periode
2. Analisa data untuk informasi dan evaluasi sebelumnya sedangkan morbiditas berdasarkan
3. Menghitung perkiraan kebutuhan obat: pola penyebaran penyakit di wilayah tersebut.
a. Pemakaian nyata pertiga bulan. Lead time berkisar 30 hari untuk obat e-katalog
b. Pemakaian ratarata tiap bulan. karena menunggu persetujuan dari pusat dan
c. Kekurangan atau kelebihan jumlah obat. stock yag ada di PBF daerah dan 7 hari untuk
d. Menghitung obat yang akan datang. obat regular, sedangkan Buffer stock yang
digunakan adalah 30%.
HASIL DAN PEMBAHASAN Daftar obat yang ada sekarang, terdapat 684
Pengelolaan obat adalah rangkaian jenis obat yang masuk dalam daftar obat e-katalog.
kegiatan yang menyangkut aspek perencanaan, Berdasarkan hasil penelitian jumlah sampel obat
pengadaan, penyimpanan, pendistribusian dan yang diambil yaitu 214 obat terdapat 56 item obat
pengendalian obat. Tujuan dari pengelolaan obat yang masuk dalam daftar e-katalog atau sekitar
adalah terlaksananya optimalisasi penggunaan 0,2%, karena tidak semua daftar obat di dalam
obat melalui peningkatan efektifitas dan efisiensi e-katalog terdapat atau digunakan di RSUD Tidar
Magelang.

Jurnal Farmasi Sains dan Praktis, Vol. I, No. 2, Februari 2016 24


Analisis Perencanaan Obat BPJS dengan Metode Konsumsi di Instalasi Farmasi RSUD Tidar Kota Magelang Eriode Juni-Agustus 2014

Data primer dari penelitian ini adalah mempertimbangkan beberapa hal. Anggaran
laporan penggunaan obat BPJS pada bulan Juni pada tahun 2014 dibuat perbulan karena
Agustus 2014. Berdasarkan laporan tersebut perencanaan obat dilakukan setiap sebulan
data yang diambil adalah pemakaian obat tiap sekali. Anggaran dibuat berdasarkan jumlah
bulan dan sisa stock obat dalam bulan tersebut. resep pada bulan sebelumnya dari masing
Data tersebut terdapat 428 item obat BPJS yang masing pasien yang besarnya berbeda tiap
mana diambil sampel dengan batas ketelitian bulannya.
5%. Sampel yang didapat adalah sebanyak 214 Apabila pembelian logistic melebihi
yang terdiri dari 83 obat generik, 57 obat tablet, anggaran yang ada, maka bagian keuangan akan
29 injeksi, 11 sirup, 13 infus dan 21 obat luar. melakukan koordinasi dengan bagian logistic dan
Dari hasil penelitian yang dilakukan di instalasi farmasi untuk kemungkinan dilakukan
Instalasi Farmasi RSU Tidar Magelang mengenai penundaan pemesanan barang, untuk lebih
proses perencanaan obat, ada beberapa hal yang memprioritaskan logistic yang banyak dibutuhkan
harus diperhatikan, yaitu: yang menunjang pelayanan. Sedangkan obat
yang bisa disubsitusi bisa dilakukan penundaan
1. Formularium atau standarisasi obat dan
pemesanan atau pemesanan dikurangi dari
standar terapi
jumlah sebelumnya, agar logistic terpenuhi
Penentuan jenis obat yang akan digunakan
semuanya.
di Instalasi Farmasi RSUD Tidar Magelang
disesuaikan dengan standarisasi yang telah 3. Jumlah Kunjungan dan Pola Penyakit
ditetapkan oleh Panitia Farmasi dan Terapi (PFT). Idealnya pemilihan obat juga harus
Menurut KepMenKes Nomor 1197/MenKes/ memperhatikan karakteristik dan pola penyakit
SK/X/2004 tentang Standar Pelayanan Farmasi pasien. Sedangkan untuk jumlah kunjungan
di Rumah Sakit, Panitia Farmasi dan Terapi berpengaruh terhadap jumlah pemesanan obat
adalah organisasi yang mewakili hubungan itu sendiri. Data atau informasi tentang jumlah
komunikasi antara para staf medis dengan staf kunjungan harus tepat, karena berpengaruh
farmasi, sehingga anggotanya terdiri dari dokter terhadap perencanaan berdasarkan metode
yang mewakili spesialisasi-spesialisasi yang ada konsumsi.
di rumah sakit dan apoteker wakil dari farmasi Jumlah kunjungan dan pola penyakit sebagai
rumah sakit, serta tenaga kesehatan lainnya acuan di RSUD Tidar Kota Magelang karena
(Anonim, 2004). Proses perencanaan obat yang pengajuan atau perencanaan obat dilakukan
akan diadakan oleh RS ebelumnya harus melalui setiap bulan, asumsinya adalah pemakaian untuk
konsultasi terlebih dahulu dengan manajement satu bulan kedepan, maka peningkatan atau
RS, apoteker dan dokter melalui PFT. Salah satu menurunnya jumlah kunjungan serta adanya
tugas PFT adalah membuat formularium Rumah trend penyakit secara langsung berpengaruh
Sakit agar dapat memaksimalkan penggunaan pada pemakaian. Perkiraan jumlah kunjungan
obat. Users (dokter) yang meresepkan obat dan pola penyakit tidak diperhitungkan sebelum
diluar dari daftar yang ada formularium RS adanya perubahan jumlah kunjungan dan pola
akan mengakibatkan proses perencanaan penyakit tersebut, melainkan pada saat atau
terkendala dan berimbas pada proses distribusi setelah trend penyakit tersebut ada, maka dilihat
atau pelayanan kepada pasien. Akibat lain akan dari meningkatnya pemakaian akibat pemesanan
terjadi penumpukan obat atau kadaluwarsa atau pembelian obat secara cito tidak dapat
serta item obat yang diperlukan tidak ada. Bila dihindari.
peresepan berada diluar daftar formularium,
4. Pemakaian Periode Sebelumnya
maka apoteker mengajukan usulan kepada PFT
Pemakaian periode sebelumnya yaitu jumlah
untuk dimasukkan kedalam standarisasi RS.
obat yang dibutuhkan pada bulan sebelumnya.
2. Anggaran Pemakaian dilihat dari kartu stock dan laporan
Anggaran adalah jumlah dana yang bulanan pemakaian Instalasi Farmasi Rumah
telah direncanakan dan disesuaikan dengan Sakit (IFRS). Data ini merupakan faktor penting

Jurnal Farmasi Sains dan Praktis, Vol. I, No. 2, Februari 2016 25


Analisis Perencanaan Obat BPJS dengan Metode Konsumsi di Instalasi Farmasi RSUD Tidar Kota Magelang Eriode Juni-Agustus 2014

dalam perencanaan karena dapat dirinci dengan 7. Penetapan Obat Berdasarkan Metode
tepat dan sebagai acuan. Perencanaan obat di Konsumsi
IFRS RSU Tidar Magelang menggunakan metode Data yang digunakan untuk analisis
kombinasi yang mana salah satu faktornya perencanaan obat berdasarkan metode konsumsi
menggunakan pemakaian periode sebelumnya. adalah data periode Juni Agustus 2014 khusus
Keseluruhan obat yang digunakan, terdapat obat BPJS. Perhitungan perencanaan obat
beberapa obat yang mempunyai nilai pemakaian berdasarkan metode konsumsi dalam penelitian
terbesar, peringkat pemakaian rata-rata perbulan ini dihitung berdasarkan rumus yang ditentukan
dari yang paling besar ditampilkan dalam Tabel oleh factorfaktor antara lain : pemakaian rata-
1 sebagai berikut : rata perbulan, lead time, buffer stock, dan sisa stock
bulan tersebut.
Tabel 1. Peringkat pemakaian terbesar Setelah diketahui pemakaian rata rata
NO Nama Obat Sediaan Jumlah tiap bulan, buffer stock, sisa stock dan lead time
1. RL Infus 4133 pada bulan Juni Agustus 2014, maka dapat
2. NaCl 500ml Infus 967 dihitung kebutuhan obat untuk bulan berikutnya
3. Celocid 750 Injeksi 800 berdasarkan metode konsumsi dengan hasil
4. Irbesartan 150mg Tablet 548 yang terdapat pada tabel hasil pengolahan data
5. Omeprazole 40mg Injeksi 392 obat BPJS periode Juni Agustus 2014.
Jumlah obat yang harus diadakan maupun
tidak diadakan ditampilkan dalam Tabel 2
5. Buffer Stock dan lead time
sebagai berikut :
Safety stock atau buffer stock yang digunakan
di RSU Tidar Magelang sebesar 30%. Nilai Buffer Tabel 2. Jumlah pengadaan
stock diambil berdasarkan perkiraan pemakaian
Jumlah Jumlah Tidak Total
obat. Namun ada rumus yang menyatakan diadakan diadakan
bahwa buffer stock adalah jumlah pemakaian
ratarata dikurangi pemakaian sebelumnya 166 48 214
dikurangi lead time. Lead time yang dibutuhkan
adalah 7 hari karena proses prencanaan secara
online, jadi antara pihak Rumah Sakit, Dinas Keseluruhan dari semua sampel tersebut
Kesehatan Pusat dan distributor atau PBF daerah hanya 48 obat yang hasilnya negatif atau tidak
saling terhubung secara online. perlu dilakukan pengadaaan karena stok masih
cukup untuk kebutuhan periode berikutnya,
6. Sisa Stock
sedangkan 166 obat harus dilakukan pengadaan
Hal ini dibutuhkan terkait dengan perencaan
karena obat banyak digunakan dan sisa stok
yang akan datang untuk mengetahui banyaknya
tidak memungkinkan untuk periode sesudahnya.
yang harus direncanakan dan diadakan. Sisa
Rencana kebutuhan obat BPJS dihitung
stock dapat dilihat dari kartu stock bulanan
dengan cara menjumlahkan pemakaian rata
tiap obat. Hal ini bertujuan agar tidak terjadi
rata tiap bulan, buffer stock, lead time kemudian
kekosongan obat ataupun kelebihan obat yang
dikalikan 3 lalu dikurangi sisa stock, karena
mengakibatkan obat kadaluwarsa.
untuk pemakaian selama 3 bulan.
Sisa stock adalah sisa pemakaian pada
Perencanaan dilakukan untuk persediaan
periode tersebut. Dari data yang didapatkan,
dalam kurun waktu 3 bulan, berikut adalah
ada 32 item obat yang mengalami kekosongan
Tabel 3 perbandingan jumlah obat yang sesuai
atau tidak mempunyai sisa stock. Hal ini
dan tidak sesuai untuk dilakukan pengadaan
berarti dalam proses pelayanan terhambat dan
terhadap penelitian perencanaan yang dilakukan.
pasien yang membutuhkan obat tersebut tidak
Jumlah kesesuaian perencanaan ditampilkan
mendapatkan obatnya. Sedangkan untuk sisa
dalamTabel 3 sebagai berikut :
stock terbesar yaitu RL infus sebesar 2600 flabot.

Jurnal Farmasi Sains dan Praktis, Vol. I, No. 2, Februari 2016 26


Analisis Perencanaan Obat BPJS dengan Metode Konsumsi di Instalasi Farmasi RSUD Tidar Kota Magelang Eriode Juni-Agustus 2014

Tabel 3. Jumlah Kesesuaian Perencanaan


Jumlah Obat Sesuai Tidak Sesuai

214 130 84

Hasil dari perhitungan pemakaian No. 24 Tahun 2011 tentang


periode bulan September-November 2014 Badan Penyelenggara Jaminan Sosial.
didapatkan hasil bahwa 84 item obat tidak Anonim, 2013, Buku FAQ (Frequently
sesuai untuk diadakannya pengadaan dan 130 Asked Questions) BPJS Kesehatan,
item obat sesuai untuk diadakan pengadaan. Kemenkes RI, Jakarta.
Dinyatakan sesuai apabila jumlah pemakaian
Febriawati, H., 2013, Manajemen Logistik
periode September- November 2014
Farmasi Rumah Sakit, Gosyen Publishing,
jumlahnya sama dengan atau lebih dari sisa
Yogyakarta.
stock bulan Juni-Agustus 2014, sedangkan
dinyatakan tidak sesuai apabila Lasmintosari, R., 2000, Evaluasi Pengadaan
pemakaian periode September-November Obat di Rumah Sakit Panti Rapih, Tesis,
2014 kurang dari sisa stock, jadi tidak Program Studi Ilmu Kesehatan
dilakukan pengadaan karena kemungkinan Masyarakat, UGM, Yogyakarta.
akan terjadinya penumpukan barang besar. Maimun, Ali.,2008, Perencanaan Obat
Antibiotik Berdasarkan Kombinasi
KESIMPULAN Metode Konsumsi dengan Analisis ABC
Buferr Stock yang digunakan di RSUD dan Reorder Point terhadap Nilai
Tidar Kota Magelang sebesar 30%, Lead Persediaan dan Turn Over Ratio di
Instalasi Farmasi RS Darul Istiqomah
time yang dibutuhkan untuk menunggu
Kaliwungu, Tesis, Universitas
pesanan obat datang yaitus elama 7 hari,
Pemakaian rata-rata dihitung dalam kurun Diponegoro, Semarang.
waktu pertiga bulan, karena Notoatmodjo, S., 2012, Metodologi Penelitian
perencanaannya dilakukan pertiga bulan, Kesehatan, Penerbit Rineka Cipta,
sisa stok di Instalasi Farmasi terdapat 32 Jakarta.
yang mengalami kekosongan, sediaan Quick, J.D., Ranking, J.R., Laing, R.O.,
menipis dan ada juga yang over stock, dan OConnor,
hasil yang didapatkan terdapat 166 obat yang R.W., Hogerzeil, H.V., Dukes,
perlu pengadaan dan 48 item obat yang tidak M.N.G., Garnett, A., 1997, Managing
perlu pengadaan karena stok masih Drug Supply, Second edition, revised
mencukupi untuk pemakaian periode and expanded, Kumarian Press, West
berikutnya. Harford.
Kesesuaian antara perhitungan perencanaan Siregar, C.J.P., 2003, Farmasi Rumah Sakit
berdasarkan metode konsumsi dengan Teori dan Penerapan, Penerbit Buku
pemakaian obat periode September- Kedokteran EGC, Jakarta.
November 2014 yaitu 130 sesuai dengan
perencanaan dan 84 tidak sesuai dengan
perencanaan.

DAFTAR ACUAN
Anonim, 2004, SK Menkes Nomor
1197/Menkes/ SK/2004 tentang Standar
Pelayanan Farmasi di Rumah Sakit,
Departemen Kesehatan Republik
Indonesia, JakartaAnonim, 2011, UU RI
Jurnal Farmasi Sains dan Praktis, Vol. I, No. 2, Februari 2016 27
Analisis Perencanaan Obat BPJS dengan Metode Konsumsi di Instalasi Farmasi RSUD Tidar Kota Magelang Eriode Juni-Agustus 2014

Jurnal Farmasi Sains dan Praktis, Vol. I, No. 2, Februari 2016 28


Analisis Perencanaan Obat BPJS dengan Metode Konsumsi di Instalasi Farmasi RSUD Tidar Kota Magelang Eriode Juni-Agustus 2014

Jurnal Farmasi Sains dan Praktis, Vol. I, No. 2, Februari 2016 29