Anda di halaman 1dari 13

POTENSI EKOWISATA GUNUNG NOKILALAKI

DI DESA TONGOA KECAMATAN PALOLO KABUPATEN


SIGI

Jati Purnomo
A 351 14 053
Program Studi Pendidikan Geografi
Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial
Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
E-mail: Jaty.Purnomo@gmail.com

Abstrak
Penelitian ini mengkaji tentang Potensi Ekowisata gunung Nokilalaki di
Desa Tongoa, kecamatan Palolo, kabupaten Sigi. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui potensi apa saja yang ada di gunung Nokilalaki di desa Tongoa,
Kabupaten Sigi dengan menggunakan metode observasi, wawancara dan angket
serta menggunakan analisis kwalitatif. Hasinya dapat dijadikan Objek Ekowisata
karena beberapa potensi yang dimiliki baik itu dari segi Ekologi, akses
transportasi, sosial masyarakat serta izin dari pemerintah ditambah lagi gunung
nokilalaki merupakan salah satu gunung yang cukup populer dikalangan
masyarakat sulawesi tengah. Maka dapat disimpulkan bahwa obyek wisata
gunung Nokilalaki memiliki potensi untuk pengembangan objek Ekowisata yang
menarik dan potensi yang dimiliki sangat bermanfaat bagi masyarakat yang
disekitar kawasan gunung Nokilalaki. Dengan potensi yang dimiliki dapat
menarik bagi wisatawan yang secara langsung dapat meningkatkan
perekonomian masyarakat desa tongoa disamping itu juga kelestarian alam
sekitar gunung nokilalaki tetap terjaga.

Kata Kunci : Ekowisata, Gunung Nokilalaki, Potensi wisata

I. Pendahuluan
Pariwisata adalah suatu perpindahan sementara yang dilakukan
manusia dengan tujuan keluar dari pekerjaan rutin, keluar dari tempat
kediamannya. Aktivitas dilakukan selama mereka tinggal di tempat yang
dituju dan fasilitas dibuat untuk memenuhi kebutuhan mereka. Pelajaran
pariwisata adalah suatu pelajaran yang keluar dari keadaan biasanya dan
ini dipengaruhi oleh keberadaan ekonomi, fisik dan kesejahteraan sosial
wisatawan yang akan melakukan kegiatan wisata, (Happy Marpaung,
2002: 13).

Kepariwisataan adalah hakekat dari pada perlawatan serta masa


tinggal dari pengunjung-pengunjung asing ke suatu daerah Negara atau
tempat, sepanjang tinggalnya itu tidak mengakibatkan suatu keadaan
tinggal menetap dan tidak pulang mengakibatkan suatu hubungan yang
bersifat employemet, (R.S Damardjati, 2007: 77).

Ekowisata atau ekoturisme merupakan salah satu kegiatan


pariwisata yang berwawasan lingkungan dengan mengutamakan aspek
konservasi alam, aspek pemberdayaan sosial budaya ekonomi masyarakat
lokal serta aspek pembelajaran dan pendidikan.

Ekowisata dimulai ketika dirasakan adanya dampak negatif pada


kegiatan pariwisata konvensional. Dampak negatif ini bukan hanya
dikemukakan dan dibuktikan oleh para ahli lingkungan tetapi juga para
budayawan, tokoh masyarakat dan pelaku bisnis pariwisata itu sendiri.
Dampak berupa kerusakan lingkungan, terpengaruhnya budaya lokal
secara tidak terkontrol, berkurangnya peran masyarakat setempat dan
persaingan bisnis yang mulai mengancam lingkungan, budaya dan
ekonomi masyarakat setempat.

Obyek dan daya tarik wisata alam adalah obyek yang tarifnya
bersumber pada keindahan alam dan tata lingkungannya, baik dalam
keadaan alami maupun setelah ada budi daya oleh manusia. Atau sumber
daya alam yang berpotensi dan mempunyai daya tarik yang menarik
wisatawan dan upaya pembinaan cinta alam, baik dalam keadaan alarm
maupun setelah ada budi daya oleh manusia.
Peran alam sebagai sumber daya alam dalam kepariwisataan
adalah sangat besar dan penting. Hal tersebut dapat dilihat dari daya tarik
dimana wisata alam menempati presentasi yang paling tinggi. Di
Indonesia motivasi kunjungan wisata baik asing maupun domestic
sebagian adalah karena sumber daya alam, sedangkan jumlah obyek dan
daya tarik wisata untuk ini perlu ditingkatkan pengetahuan seluruh
aparat yang bergerak dalam bidang pariwisata dengan pendidikan berupa
pelatihan. Pengembangan pariwisata tidak lepas dari unsur fisik maupun
non fisik (sosial, budaya dan ekonomi), maka dari itu perlu diperhatikan
peranan unsur tersebut salah satu nya yaitu faktor Geografi yang
mendukung kegiatan.

Faktor geografi adalah merupakan faktor - faktor yang penting


untuk pertimbangan perkembangan pariwisata. Perbedaan iklim
merupakan salah satu faktor yang mampu menumbuhkan serta
menimbulkan fariasi lingkungan alam dan budaya, sehingga dalam
mengembangkan kepariwisataan karakteristik fisik dan non fisik suatu
wilayah perlu diketahui (Sujali, 1989).

Kabupaten sigi memiliki potensi wisata yang cukup


potensial dan beragam, mulai dari kekayaan alam diantaranya danau ,
gunung , air terjun, puncak dan pegunungan maupun potensi seni budaya
dan peninggalan sejarah yang beragam. Potensi ini sangat berarti
sejalan keberadaan Kabupaten sigi sebagai bagian dari Daerah
Palu yang merupakan daerah tujuan wisata bagi traveller.

Saat ini Kabupaten Sigi memiliki tempat wisata yang banyak


dikenal oleh para wisatawan, seperti Gunung Nokilalaki. Gunung
Nokilalaki merupakan sebuah Gunung yang terletak di negara Indonesia,
Provinsi Sulawesi Tengah yang memiliki ketinggian 2535 meter, atau
setara dengan 8317 kaki. Dataran tinggi berbentuk Gunung yang bernama
Gunung Nokilalaki ini berada di wilayah Asia. Apabila anda memiliki
uang serta keberanian yang cukup anda bisa mengunjungi Gunung
Nokilalaki di Indonesia, Provinsi Sulawesi Tengah, Asia untuk melakukan
pendakian maupun sekedar menikmati pemandangan alamnya (selama
diijinkan oleh pemerintah setempat). Gunung Nokilalaki merupakan
ciptaan Tuhan yang sempurna, kokoh dan indah yang harus kita syukuri
dan kita pelihara.

Pengembangan dan pembangunan sektor pariwisata alam gunung


Nokilalaki diharapkan mampu mendatangkan lebih banyak lagi
wisatawan untuk berkunjung yang nantinya dapat meningkatkan
perolehan Pendapatan Asli Daerah dan pendukung dalam upaya
pembangunan daerah di Kabupaten Sigi.

survei yang telah dilakukan menunjukkan bahwa potensi yang


dimiliki oleh gunung Nokilalaki adalah keindahan kealamian lingkungan.
Berdasarkan hal tersebut maka perlu adanya usaha untuk
mengidentifikasi kembali potensi-potensi obyek wisata gunung tersebut
sehingga dapat dimunculkan sesuai kemampuan daerah.
Latar belakang di atas maka dapat dirumuskan permasalahan,
yaitu Bagaimana Potensi Ekoeisata yang ada di wisata Gunung
Nokilalaki. Dengan tujuan penelitian sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui potensi apa saja yang ada di wisata Gunung
Nokilalaki .
II. Metode Penelitian
Metode penelitian adalah suatu cara ilmiah untuk mendapatkan
data dan kegunaan atau tujuan tertentu (Sugiyono,2012).
a. Teknik Pengumpulan Data
Adapun tehnik pengumpulan data yang digunakan dalam
penelitian ini adalah :
1. Metode wawancara
Metode wawancara atau interview adalah tehnik
pengumpulan data dengan cara Tanya jawab antara peneliti dan
responden guna memperoleh informasi yang berkaitan dengan
Ekowisata

2. Metode Observasi
Metode observasi merupakan suatu cara mengumpulkan
data dengan cara mengadakan pengamatan secara langsung.
Data observasi ini di dapat dengan melakukan observasi
langsung ke lokasi Gunung Nokilalaki.
3. Kuesioner (Angket)
Metode pengumpulan data dengan cara memberi
seperangkat pertanyaan maupun pernyataan tertulis kepada
responden untuk dijawab.
b. Data yang digunakan
1. Data Primer
Data primer adalah informasi yang diperoleh langsung
dari sampel yang berkaitan langsung dengan permasalahan
yang diteliti serta pengamatan merupakan hasil gabungan dari
kegiatan melihat, mendengar dan bertanya. Data primer dalam
penelitian ini adalah data hasil observasi dan wawancara
sehubungan dengan informasi Gunung Nokilalaki di Desa
Tongoa Kabupaten Sigi.
2. Data sekunder
Data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini yaitu
berupa data dari BPS berupa data pertumbuhan penduduk.

c. Analisis Data
Adapun teknik analisa yang penulis gunakan adalah metode
analisis kualitatif deskriptif yaitu metode yang bertujuan untuk
menggambarkan dan menjelaskan hasil yang diperoleh dalam
penelitian terhadap objek wisata. Analisis kualitatif ini dicari
hubungan antara fenomena-fenomena yang ada berdasarkan data
informasi yang telah dikumpulkan serta berpedoman kepada
landasan teori dan kebijakan yang menjadi gambaran secara
lengkap mengenai objek penelitian dan fenomena-fenomena yang
melingkunginya sehingga diperoleh penjelasan tentang pokok-
pokok permasalahan serta membantu mencari pemecahan yang
baik dan tepat.
III. Hasil dan Pembahasan
a. Deskripsi Wilayah
Tongoa adalah desa yang ada di kecamatan Palolo, kabupaten
Sigi Biromaru, dengan jarak dari pusat kota 63,9 km dengan perjalanan
darat menempuh waktu sekitar 1 jam 41 menit. Secara administratif
Kabupaten Sigi ini berbatasan dengan:
o Sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Donggala dan Kota
Palu
o Sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Luwu Utara
Provinsi Sulawesi Selatan
o Sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Mamuju dan
Mamuju Utara Provinsi Sulawesi Barat dan Kabupaten Donggala
o Sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Poso dan
Kabupaten Parigi Moutong
Gunung Nokilalaki dengan ketinggian 2535 mdpl atau setara
dengan 8317 kaki, merupakan salah satu tujuan pendakian yang
cukup popular di Sulawesi Tengah. Selain jalur pendakian yang
baik, keindahan alam dan kekayaan flora dan fauna di kawasan ini
menjadi daya tarik tersendiri bagi kalangan yang menggemari
aktifitas alam bebas. Nokilalaki terletak di kecamatan Palolo
kabupaten Sigi, atau berada di sebelah timur kota Palu, dapat di
capai dengan dengan kendaraan selama 45 menit dari Kota Palu.
Gunung ini berada dalam Kawasan Taman Nasional Lore Lindu.
Sepanjang jalur pendakian menuju puncaknya akan melalui
hutan tropis dengan pepohonan yang lebat, sumber air terdapat
hampir di sepanjang jalur. Di sepanjang jalur pendakian terdapat
tiga lokasi shelter yang bisa digunakan sebagai tempat menginap
para pendaki.
Di gunung ini ada beberapa alternatif jalur, namun yang
umum digunakan para pendaki adalah jalur pendakian dari desa
Tongoa kecamatan Palolo. Dari desa yang berada di ketinggian 200
meter dari permukaan laut inilah pintu masuk yang bagus ke
gunung Nokilalaki.
Pendakian kegunung ini memakan waktu 3 hingga 4 hari
perjalanan normal dan santai. Kondisi medan juga cukup bervariasi
dari landai, menanjak hingga cukup terjal, namun kondisi hutan dan
suasana alami akan mengurangi kelelahan selama mendaki di
gunung ini.
b. Kondisi Fisik Gunung Nokilalaki
Tabel.2 Komponen Budidaya
No Komponen budayawi
. Keterangan
Kondisi Kondisi
Jenis fasilitas Jumla Kondisi tidak tidak baik,
h baik, baik, tidak
berfungsi berfungsi berfungsi
1 Areal Parkir 1
2 Pintu Gerbang -
Dan Loket Karcis

3 Pusat Pelayanan -
Pengunjung
4 Tempat Ibadah -
5 Mck -
6 Selter 3
7 Pos Jaga 1
8 Jembatan 1
9 Papan Petujuk 3
Arah
10 Papan Himbauan 2

Gunung Nokilalaki mempunyai ketinggian 2.535 Mdlp, berada di


Kec. Palolo, Desa Tongoa, Kab. Sigi Biromaru, Sulawesi Tengah yang
berjarak lebih kurang 62 Km dari kota Palu ibu kota Sulawesi Tengah.
Flora yang terkenal yaitu Ekualiptus dan Rotan, sedangkan faunanya
adalah Anoa, Kupu-kupu, Monyet dan berbagai jenis burung.

c. Keadaan jalur tiap pos


Gambar.2 wilayah dan Jalur Pendakian Gunung Nokilalaki
1. Kaki Gunung Pos (Salter) 1
Jalur menuju pos 1 melalui kebun coklat dan kebun jagung, di
sepanjang jalan terdapat beberapa ladang pertanian dari warga
warga yang tinggal di sekitar kaki gunung, juga terdengar aliran air
yang mengalir, perjalanan ke pos 1 memakan waktu sekitar 1 sampai 2
jam. Keadaan di pos 1 atau salter 1 terdapat sebuah basecamp yang
khusus di buat untuk para pendaki yang ingin menginap semalam di
pos 1.
Selter 1 memiliki ketinggian mencapai sekitar 1065 Mdpl
dengan titik kordinat LS 01-12-56,9 dan BT 120-09-51,2 dengan
panjang lereng 4,3 m dan bentuk lereng Cembung. Di pos 1 ini
terdapat sungai yang memiliki air yang sangat jernih dan dapat di
konsumsi langsung dengan suasana yang masih sangat alami dengan
suhu udara rata-rata 15 - 200C . dengan batuan di dominasi oleh
batuan sedimen dan tanah lempung berpasir denga kemiringan lereng
23 dan di pos 1 terdapat sekumpulan kupu-kupu yang berkeliaran di
sekitar tenda wisatawan.

Tabel.2 Kondisi Air Pos 1


Kualitas Air
Titik koordinat Bau Rasa Warna
LS 01-12-56,9 Tidak
dan BT 120-09- Netra Netra berwarn
51,2 l l a
Keterangan Aman di konsumsi

2. Pos 1 Pos 2
Perjalanan ke pos 2 di lalui dengan jalur yang agak sulit karena
kurangnya Stringline, tanjakan yang terjal, dan menelusuri sungai
kecil sampai sekitar 1500 meter, dari sini mulai menjauhi sungai
dengan menerobos hutan. Berjalan melalui sela sela pohon dan rotan,
kemudian tiba di pos 2 dalam waktu 4 6 jam. Di pos 2 ini memiliki
ketinggian 1732 mdpl dengan suhu 10 150 c.
Tabel.3 Kondisi Air pos 2
Kualitas Air
Titik koordinat Bau Rasa Warna
LS 01-14-24,4 Tidak
dan BT 120-09- Netra Netra berwarn
06,4 l l a
Keterangan Aman di konsumsi

Waktu yang di habiskan dari Puncak ke Pos 1 sekitar 5-8 jam,


dari Pos 1 berjalan kembali ke jalan raya tempat untuk menunggu
angkot kembali ke Palu 1 jam. jika ingin istirahat sejenak di kaki
gunung terdapat sebuah warung makan Nokilalaki, ada baiknya
sebelum mendaki dan setelah melakukan pendakian melaporkan
diri pada warga setempat.
d. Kondisi Sosial Sekitar Gunung Nokilalaki
Masyarakat desa Tongoa sebagian besar berprofesi sebagai petani
kebun. Jika dilihat dari segi pendidikan, masyarakat desa Tongoa belum
sepenuhnya peduli dengan pendidikan atau belum semuanya
mengenyam bangku pendidikan. Hal ini di buktikan dengan banyaknya
masyarakat tidak lulus SD atau hanya lulusan SD.
Pengetahuan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan kaki
gunung Nokilalaki sebagian masyarakatnya sudah mengetahui adanya
wisata yang ada di desa Tongoa. Hal ini diketahui dari hasil wawancara
yang di lakukan disekitar kawasan gunung Nokilalaki. Masyarakat
mengetahui adanya wisata gunung Nokilalaki dari pemerintah, sebab
gunung Nokilalaki termasuk dalam Hutan Lindung.
Persepsi masyarakat tentang adanya wisata gunung Nokilalaki di
desa Tongoa kecamatan Palolo kabupaten Sigi, sebagian masyarakatnya
hanya setuju-setuju saja, namum mereka mengharapkan dikembalikannya
fungsi lahan masyarakat.
Tabel.4 Jawaban Responden Masyarakat desa Tongoa
ST S
Pertanyaan S TS S S
Persepsi tentang pengembangan gunung
Nokilalaki 0 8 20 2
Pengelolaan Objek Gunung Nokilalaki sebagai
tempat wisata dapat meningkatkan kesejateraan
penduduk sekitar 2 8 15 5
Jumlah responden 20

e. Potensi Ekowisata Gunung Nokilalaki


Potensi dari gunung Nokilalaki bagi daerah sekitarnya dapat
ditinjau dari beberapa aspek yaitu aspek Ekowisata dan aspek ekonomi.
Aspek wisata berkaitan dengan pengembangan dan pemanfaatan nilai-
nilai alam, misalnya wisata alam. Pada aspek alam gunung Nokilalaki
dapat dikembangkan dilihat dari banyaknya pengunjung atau para
pencipta alam baik dari wilayah Sulawesi Maupun luar Sulawesi yang
ingin mendaki gunung Nokilalaki, karena gunung Nokilalaki merupakan
gunung yang tertinggi di Sulawesi tengah, selain itu gunung Nokilalaki
memilki keindahan atau panorama alam yang masih terjaga.
Aspek ekonomi, sebagian masyarakat yang di tinggal disekitar
kawasan gunung Nokilalaki, menganggap bahwa dengan adanya gunung
Nokilalalki dapat memberikan pendapatan mereka. Misalnya penduduk
yang tinggal di dekat kaki gunung Nokilalaki dapat berjualan atau
mendirikan warung, seperti kebutuhan logistik yang dibutuhkan para
pendaki.
IV. Kesimpulan dan Saran
a. Kesimpulan

Potensi yang dimiliki gunung Nokilalaki terdiri dua aspek,


yaitu aspek wisata dan ekonomi, yang dimana setiap aspek harus
dikembangkan sesuai dengan asas Ekologi agar kelestarian alam yang
ada bisa terus terjaga dan masyarakat sekitar juga merasakan
keuntungan dari segi sosial dan ekonomi.

B. Saran

Masyarakat harus bisa menjaga kelestarian alam yang ada


diwilayah gunung nokilalaki serta mematuhi peraturan yang dibuat
oleh pemerintah terkait Objek wisata Alam Nokilalaki.

DAFTAR PUSTAKA

Artikel terkait dengan Gunung Nokilalaki. 2012. Leafleat: Jalur Pendakian


Gunung Nokilalaki.
Endar Sugiarto dan Kusmayadi. 2000. Metodologi Penelitian Dalam Bidang
Kepariwisataan. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Happy Marpaung. 2002. Pengetahuan Kepariwisataan. Bandung: Afabeta.
Kapile. Charles . 2014. Bahan Ajar Pengantar Pariwisata. ( hal. 1 dan 2)
R.S Damardjati. 2007. Istilah-Istilah Dunia Pariwisata. Jakarta: Pradya
Paramita.
Sugiyono. 2007.Metode Penelitian Kualitatif, PT. Gramedia Pustaka
Umum,Jakarta.
Wikiepedia. 2010. Ekowisata : https://id.wikipedia.org/wiki/Ekowisata
(Diakses pada 19 Juni 2017)