Anda di halaman 1dari 4

PEMBAHASAN SISTEM SARAF PUSAT (OTAK) PADA AYAM

Sistem saraf merupakan salah satu sistem yang paling penting didalam tubuh makhluk
hidup. Dalam tubuh makhluk hidup, sistem saraf terbagi menjadi 2 bagian yaitu sistem saraf
pusat dan sistem saraf tepi. Sistem saraf pusat merupakan sistem yang berfungsi untuk
mengkoordinasikan atau mengatur seluruh aktivitas saraf didalam tubuh. Sistem saraf pusat ini
terdiri dari otak, dan medula spinalis atau yang biasa disebut dengan sumsum tulang belakang.
(Iskandar 2008).
Sistem saraf pada ayam merupakan satu kesatuan yang berfungsi untuk mengontrol
semua aktivitas dalam tubuh. Dalam sistem saraf ayam, terdapat beberapa pusat saraf yaitu
otak, medula spinalis atau sumsum tulang belakang dan juga ganglia (terdapat pada tubuh).
(Nesheim et al 1979). Salah satu sistem saraf pusat yang dimiliki oleh ayam yaitu otak, terdiri
dari 4 bagian yaitu otak besar (serebrum), otak tengah, otak kecil (serebelum) dan juga sumsum
lanjutan (medula oblongata). Pada ayam, serebrum dan serebelumnya berkembang dengan
baik. Hal ini dikarenakan ayam memerlukan aktivitas tinggi saat bergerak dengan cepat.
Berbeda dengan otak pada mamalia, pada permukaan serebrum atau otak besar ayam, tidak
terdapat girus atau lekukan lekukan otak. Hal ini menyebabkan ayam tidak dapat merasakan
emosi seperti pada hewan mamalia. Ayam memiliki korteks serebral atau neokorteks kecil
(pada hewan berintelegensia tinggi berkembang baik). Selain itu ayam juga mempunyai
hipotalamus yang berfungsi untuk mengatur kebutuhan pakan dan air, sekresi pituitari anterior,
agresivitas dan juga tingkah laku sosial. (Akoso 1993)

Gambar bagian-bagian otak ayam


Serebrum atau yang biasa disebut dengan otak besar merupakan bagian otak yang
memiliki fungsi untuk mengatur semua aktivitas mental. Bagian otak ini merupakan pusat dari
kegiatan atau aktivitas sadar. Pada bagian korteks, terdapat warna kelabu yang berfungsi
sebagai penerima rangsang yang letaknya ada dibelakang area motor yang mengatur gerakan
sadar. Untuk pusat pengelihatan terdapat di area belakang. Pada anak ayam, pada bagian otak
ini, terdapat struktur yang bernama immunoreaktif yang terletak oada bagian telensefalon dan
diensefalon. Bagian otak yang terletak dibelakang serebrum adalah bagian otak tengah. Bagian
ini terletak didepan otak kecil atau serebelum dan jembatan varol. Pada bagian depan otak
tengah terdapat talamus dan kelenjar hipofisis yang akan mengatur kerja kelenjar endokrin.
Selain itu pada bagian otak tengah juga terdapat lobus optikus yang terletak dibagian dorsal.
Lobus optikus yang terletak pada otak ayam ini berfungsi untuk mengatur refleks mata dan
berhubungan dengan kepekaan ayam terhadap suatu gerakan. bagian otak yang terletak
dibelakang otak tengah adalah otak kecil. Otak kecil pada ayam memiliki girus atau lekukan-
lekukan yang memperluas permukaan sehingga neuron berkembang cukup banyak. Pada ayam,
perkembangan bagian serebelum ini memiliki fungsi untuk keseimbangan tubuh.
Dalam kegiatan nekropsi, pemeriksaan keadaan otak merupakan salah satu yang
penting untuk dilakukan. Pemeriksaan ini dapat dilakukan dengan melihat keadaan otak dan
juga dapat pula dilakukan dengan pemeriksaan melalui pembuatan preparat histologi. Pada
kegiatan nekropsi ayam, pemeriksaan otak dapat dilakukan dengan cara membuka bagian
tulang tengkorak ayam untuk melihat keadaan fisik dari otak ayam. Dalam keadaan normal,
otak ayam akan memiliki warna merah muda dengan permukaan licin, pada bagian serebelum
terdapa girus, tidak ada pembengkakan serta tidak terdapat pengendapan cairan maupun darah
dalam selaput otak. Pada kegiatan nekropsi ayam yang telah dilakukan, didapatkan bahwa otak
ayam tidak mengalami kelainan. Hal ini didasarkan, pada saat pemeriksaan setelah
dilakukannya pembukaan kepala, otak dari kedua ayam yang diperiksa memiliki warna merah
muda cerah, dan memiliki permukaan yang licin. Selain itu pada bagian otak juga tidak terdapat
membengkakan yang dapat dilihat dari kedua bagian serebrum yang sama besar. Pada bagian
sekitar otak juga tidak terdapat akumulasi atau pengendapan cairan maupun darah.

(a) (b)
Gambar hasil nekropsi otak ayam A & B

Iskandar R. 2008. Sistem Saraf. Makassar (ID): Unhas Press

Akoso, B. T. 1993. Manual Kesehatan Unggas : Panduan bagi petugas teknis penyuluhan dan
peternakan. Yogyakarta : Kanisius
Neshei,, M.C.R.E, Austic dan L. E. Card. 1979. Poultry Production, 12th cd. Lea and afaebiger,
Philadelphia
PEMBAHASAN JANTUNG AYAM

Sistem peredaran darah atau sistem sirkulasi darah, merupakan salah satu sistem dalam
tubuh yang memiliki fungsi yaitu mengangkut dan mengedarkan berbagai bahan seperti hasil
metabolisme, oksigen, garam-garam, hormon, antibodi kedalam jaringan tubuh, serta
mengangkut karbondioksida untuk dikeluarkan dari tubuh. Sistem peredaran ini terbagi
menjadi 2 macam yaitu sistem peredaran terbuka dan tertutup. Sistem peredaran darah terbuka
biasanya dimiliki oleh hewan-hewan invertebrata. Sistem peredaran darah tertutup merupakan
sistem yang dimiliki oleh hewan-hewan vertebrata yang semuanya terjadi dalam pembuluh
darah. (Karmana, 2008). Dalam sistem sirkulasi atau peredaran darah, terdapat 2 organ yang
sangat penting yang berperan dalam menjalankan tugas dari sistem ini, yaitu jantung dan
pembuluh darah. (Yatim 2007).
Ayam merupakan salah satu jenis hewan vertebrata atau bertulang belakang yang
memiliki sistem sirkulasi darah tertutup dan ganda atau melewati jantung sebanyak 2 kali. Pada
ayam, jantung terletak pada rongga dada, memiliki bentuk kerucut dan terbungkus oleh selaput
perikardium. Pada jantung ayam, terdapat 4 ruang yaitu 2 atrium dan 2 ventrikel. Pembagian
ruang jantung tersebut untuk mengefektifitaskan kerja jantung sehingga akan terjadi sirkulasi
oksigen dan karbondioksida dari kantung udara dengan tingkat metabolisme yang tinggi.
(Suprijatna et al 2005)
Dalam kegiatan nekropsi, pemeriksaan jantung merupakan salah satu jenis pemeriksaan
yang harus dilakukan. Hal ini dikarenakan kondisi jantung dapat megindikasikan hewan
terjangkit penyakit atau sehat. Pada ayam, kondisi jantung yang sehat memiliki warna merah,
tidak terdapat bintik-bintik pada selaput perikardium, memiliki konsistensi kenyal, permukaan
licin, serta tidak terdapat pembengkakan.(Jahja et al 2006). Pada kegiatan nekropsi ayam yang
telah dilakukan, didapatkan hasil bahwa keadaan jantung pada ayam yang telah dinekropsi
dalam keadaan normal dan tidak menunjukkan adanya kelainan. Hal ini dikarenakan keadaan
jantung sesuai dengan literatur yang menyatakan keadaan normal jantung yaitu berwarna
merah, tidak terdapat bintik pada selaput, kenyal serta permukaan yang licin. Selain
pemeriksaan keadaan fisik jantung, pemeriksaan dilanjutkan dengan pemeriksaan
kebengkakan pada jantung. Pemeriksaan dilakukan dengan cara menyayat organ jantung secara
horinzontal, kemudian bekas sayatan disatukan kembali, apabila sayatn tidak menyatu
sempurna maka diindikasikan bahwa jantung mengalami pembengkakan. Pada kegiatan
pemeriksaan jantung yang telah dilakukan, pemeriksaan kebengkakan jantung dilakukan dan
didapatkan hasil bahwa jantung tidak mengalami kebengkakan karena bekas sayatan menyatu
dengan sempurna. Pada kegiatan nekropsi yang telah dilakukan, dilakukan juga kegiatan
pengambilan darah secara intracardiac, pengambilan darah ini dilakukan langsung pada
jantung. Pada saat pembukaan tubuh ayam setelah euthanasia, didapatkan bahwa jantung pada
salah satu ayam yang dinekropsi, tampak sedikit mengempis dengan darah yang banyak keluar.
Hal ini disebabkan oleh proses pengambilan darah yang dilakukan pada saat sebelum
dieuthanasia dan dianggap normal, karenaa darah keluar bukan karena kelainan melainkan
karena akibat perlakuan pengambilan darah intracardiac.
(a) (b)
Gambar. (a) hasil nekropsi jantung ayam, (b) hasil nekropsi jantung ayam yang sebelumnya
sudah dilakukan pengambilan darah intracardiac

Karmana. 2008. Biologi SMA Untuk Kelas IX. Jakarta : Gafindo Media Pratama
Suprijatna, E, Umiyati, A dan Ruhyat, K. 2005. Ilmu Dasar Ternak Unggas. Cetakan I. Jakarta:
Penebar Swadaya
Jahja, J. 2006. Penyakit Penyakit Penting Pada Ayam. Bandung : Medion
Yatim, W. 2007. Kamus Biologi. Jakarta ; Yayasan Obor Indonesia