Anda di halaman 1dari 31

Laporan Kunjungan ke Pabrik SidoMuncul, UII, dan LAFI-AD

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Farmasi merupakan suatu profesi kesehatan yang berhubungan dengan pembuatan dan
distribusi dari produk yang berkhasiat obat. Farmasi juga meliputi profesi yang sah dan fungsi
ekonomi dari distribusi produk yang berkhasiat obat yang baik dan aman. Dalam kegiatan
farmasi utamanya sangat diperlukan instansi-instansi kesehatan, balai pengobatan ataupun
konsumen lainnya yang telah ditentukan oleh Menteri Kesehatan. Salah satu distribusi dalam
farmasi adalah Pedagang Besar Farmasi (PBF).
Selain itu, Laboratorium juga sangat berperan penting dalam bidang kefarmasian, beberapa
fungsi dari laboratorium adalah sebagai berikut:
1. Laboratorium Sebagai Sumber Belajar
Tujuan pembelajaran fisika dengan banyak variasi dapat digali, diungkapkan, dan dikembangkan
dari laboratorium. Laboratorium sebagai sumber untuk memecahkan masalah atau melakukan
percobaan. Berbagai masalah yang berkaitan dengan tujuan pembelajaran terdiri dari 3 ranah
yakni: ranah pengetahuan, ranah sikap, dan ranah keterampilan/afektif.

2. Laboratorium Sebagai Metode Pembelajaran


Di dalam laboratorium terdapat dua metode dalam pembelajaran yakni metode percobaan dan
metode pengamatan.

3. Laboratorium Sebagai Prasarana Pendidikan


Laboratorium sebagai prasarana pendidikan atau wadah proses pembelajaran. Laboratorium
terdiri dari ruang yang dilengkapi dengan berbagai perlengkapan dengan bermacam-macam
kondisi yang dapat dikendalikan, khususnya peralatan untuk melakukan percobaan.

Mengingat bahwa pentingnya fungsi dan peranan dari laboratorium dalam proses pembuatan
obat yang baik (CPOB) demi terwujudnya obat sesuai dengan tujuan penggunaannya, Sehingga
melatar belakangi penulis menyusun makalah ini, dengan harapan dapat menambah pengetahuan
mahasiswa tentang laboratorium skala industry yang terstandarisasi CPOB, CPOTB, dan GMP,
sebagai bekal untuk menuju dunia kerja.

B. Tujuan
Pada dasarnya tujuan penulisan makalah ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu tujuan umum dan
khusus. Tujuan umum dalam penyusunan makalah ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas
mata kuliah Teknologi sediaan steril.
Khususnya, KKL (Kunjungan Kerja Lapangan) yang telah dilakukan pada tanggal 29 Februari
2014 di Sidomuncul di Semarang, dan pada tanggal 3 februari 2014 di UII (Universitas Islam
Indonesia) di Yogyakarta, serta pada tanggal 4 Februari 2014 di LAFI AD (Lembaga Farmasi
Angkatan Darat), bertujuan untuk melakukan pengamatan terhadap perbedaan-perbedaan yang
signifikan dan persamaan yang ada di laboratorium semi solida dan steril di AKFAR AL-
FATAH Bengkulu, dengan Laboratorium yang telah dikunjungi. Selain itu bertujuan untuk
menambah ilmu pengetahuan, serta pengalaman dalam peninjauan dari segi persiapan untuk
turun ke dunia kerja nanti.

BAB II
TINJAUAN UMUM

A. Kefarmasian
Farmasi adalah ilmu yang mempelajari cara membuat, mencampur, meracik
formulasiobat, identifikasi, kombinasi, analisis dan standarisasi / pembakuan obat serta
pengobatan, termasuk pula sifat - sifat obat dan distribusiserta penggunaannya yang aman.
Farmasi dalam bahasa Yunani disebut FARMAKON yang berarti MEDIKA / OBAT, sedangkan
Ilmu Resep adalah ilmu yang mempelajari tentang cara penyediaan obat - obatan menjadi bentuk
tertentu ( meracik ) hingga siap digunakan sebagai obat.

Ada anggapan bahwa ilmu ini mengandung arti seni sehingga dapat dikatakan bahwa Ilmu
Resep adalah ilmu yang mempelajari seni meracik obat (art of drug compounding), terutama
ditujukan untuk melayani resep dokter. Oleh karena itu, Profesi Farmasi merupakan profesi yang
berhubungan dengan seni dan ilmu dalam penyediaan (pengolahan) bahan sumber alam dan
bahan sintetis yang cocok dan menyenangkan untuk didistribusikan dan digunakan dalam
pengobatan dan pencegahan suatu penyakit.
Obat adalah benda atau zat yang dapat digunakan untuk merawat penyakit,
membebaskan gejala, atau mengubah proses kimia dalam tubuh. Obat ialah suatu bahan atau
paduan bahan-bahan yang dimaksudkan untuk digunakan dalam menetapkan diagnosis, mencegah,
mengurangkan, menghilangkan, menyembuhkan penyakit atau gejala penyakit, luka atau kelainan
badaniah dan rohaniah pada manusia atau hewan dan untuk memperelok atau memperindah badan
atau bagian badan manusia termasuk obat tradisional.
Penyediaan obat - obatan disini mengandung arti pengumpulan, penenalan, pengawetan,
dan pembakuan bahan obat- obatan. Melihat ruang lingkup dunia farmasi yang cukup luas, maka
mudah dipahami bahwa ilmu resep tidak dapat berdiri sendiri tanpa kerja sama yang baik dengan
cabang ilmu lain, seperti fisika, kimia, biologi, dan farmakologi.

B. Laboratorium

1. Definisi Laboratorium

Laboratorium adalah unit penunjang akademik pada lembaga pendidikan, berupa ruangan
tertutup atau terbuka, bersifat permanen atau bergerak, dikelola secara sistematis untuk kegiatan
pengujian, kalibrasi, dan/atau produksi dalam skala terbatas, dengan menggunakan peralatan dan
dan/atau pengabdian kepada masyarakat.

Definisi laboratorium menurut:


1. Procter
Laboratorium adalah tempat atau ruangan di mana para ilmuwan bekerja dengan peralatan untuk
penyelidikan dan pengujian terhadap suatu bahan atau benda.
2. ISO / IEC Guide
Laboratorium adalah instalasi atau lembaga yang melaksanakan pengujian.

Berdasarkan definisi di atas dapat disimpulkan bahwa laboratorium (disingkat lab)


adalah suatu bangunan yang di dalamnya dilengkapi dengan peralatan dan bahan-bahan
berdasarkan metode keilmuan tertentu untuk melakukan percobaan ilmiah, penelitian, praktek
pembelajaran, kegiatan pengujian, kalibrasi, dan/atau produksi bahan tertentu.

Laboratorium dibedakan sesuai bidang keilmuan yang dipelajari, misalnya laboratorium


kimia yang berkecimpung dalam bidang ilmu kimia. Laboratorium kimia terbagi lebih spesifik
lagi seperti laboratorium kimia fisika, laboratorium kimia organik, laboratorium kimia
anorganik, laboratorium kimia analitik, laboratorium biokimia, laboratorium kimia instrumen,
dsb.

2. Tipe-Tipe Laboratorium
Tipe Laboratorium berdasarkan PERMENPAN No. 3 tahun 2010, terbagi dalam 4 kategori:
1. Laboratorium Tipe I adalah laboratorium ilmu dasar yang terdapat di sekolah
pada jenjang pendidikan menengah, atau unit pelaksana teknis yang menyelenggarakan
pendidikan dan/atau pelatihan dengan fasilitas penunjang peralatan kategori I dan II, dan
bahan yang dikelola adalah bahan kategori umum untuk melayani kegiatan pendidikan
siswa.
2. Laboratorium Tipe II adalah laboratorium ilmu dasar yang terdapat di
perguruan tinggi tingkat persiapan (semester I, II), atau unit pelaksana teknis yang
menyelenggarakan pendidikan dan/atau pelatihan dengan fasilitas penunjang peralatan
kategori I dan II, dan bahan yang dikelola adalah bahan kategori umum untuk melayani
kegiatan pendidikan mahasiswa.
3. Laboratorium Tipe III adalah laboratorium bidang keilmuan terdapat di jurusan atau program
studi, atau unit pelaksana teknis yang menyelenggarakan pendidikan dan/atau pelatihan dengan
fasilitas penunjang peralatan kategori I, II, dan III, dan bahan yang dikelola adalah bahan
kategori umum dan khusus untuk melayani kegiatan pendidikan, dan penelitian mahasiswa dan
dosen.
4. Laboratorium Tipe IV adalah laboratorium terpadu yang terdapat di pusat studi
fakultas atau universitas, atau unit pelaksana teknis yang menyelenggarakan pendidikan
dan/atau pelatihan dengan fasilitas penunjang peralatan kategori I, II, dan III, dan bahan
yang dikelola adalah bahan kategori umum dan khusus untuk melayani kegiatan
penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, mahasiswa dan dosen.

3. Fungsi dan Peranan Laboratorium

Fungsi laboratorium yaitu sebagai sumber belajar dan mengajar, sebagai metode
pengamatan dan metode percobaan, sebagai prasarana pendidikan atau sebagai wadah dalam
proses belajar mengajar.
Menurut Sukarso (2005), secara garis besar fungsi laboratorium dalam proses pendidikan
adalah sebagai berikut:
1. Sebagai tempat untuk berlatih mengembangkan keterampilan intelektual melalui kegiatan
pengamatan, pencatatan dan pengkaji gejala-gejala alam.
2. Mengembangkan keterampilan motorik siswa. Siswa akan bertambah keterampilannya dalam
mempergunakan alat-alat media yang tersedia untuk mencari dan menemukan kebenaran.
3. Memberikan dan memupuk keberanian untuk mencari hakekat kebenaran ilmiah dari sesuatu
objek dalam lingkungn alam dan sosial.
4. Memupuk rasa ingin tahu siswa sebagai modal sikap ilmiah seseorang calon ilmuan.
5. Membina rasa percaya diri sebagai akibat keterampilan dan pengetahuan atau penemuan yang
diperolehnya.
Lebih jauh dijelaskan dalam Anonim (2003), bahwa fungsi dari laboratorium adalah
sebagai berikut:
1. Laboratorium Sebagai Sumber Belajar
Tujuan pembelajaran fisika dengan banyak variasi dapat digali, diungkapkan, dan dikembangkan
dari laboratorium. Laboratorium sebagai sumber untuk memecahkan masalah atau melakukan
percobaan. Berbagai masalah yang berkaitan dengan tujuan pembelajaran terdiri dari 3 ranah
yakni: ranah pengetahuan, ranah sikap, dan ranah keterampilan/afektif.

2. Laboratorium Sebagai Metode Pembelajaran


Di dalam laboratorium terdapat dua metode dalam pembelajaran yakni metode percobaan dan
metode pengamatan.

3. Laboratorium Sebagai Prasarana Pendidikan


Laboratorium sebagai prasarana pendidikan atau wadah proses pembelajaran. Laboratorium
terdiri dari ruang yang dilengkapi dengan berbagai perlengkapan dengan bermacam-macam
kondisi yang dapat dikendalikan, khususnya peralatan untuk melakukan percobaan.

Menurut Soejitno (1983) secara garis besar fungsi laboratorium adalah sebagai berikut:
1. Memberikan kelengkapan bagi pelajaran teori yang telah diterima sehingga antara teori dan
praktik bukan merupakan dua hal yang terpisah. Keduanya saling kaji-mengkaji dan saling
mencari dasar.
2. Memberikan keterampilan kerja ilmiah bagi mahasiswa/siswa.
3. Memberikan dan memupuk keberanian untuk mencari hakikat kebenaran ilmiah dari sesuatu
obyek dalam lingkungan alam dan lingkungan sosial.
4. Menambah keterampilan dalam menggunakan alat dan media yang tersedia untuk mencari dan
menemukan kebenaran.
5. Memupuk rasa ingin tahu mahasiswa/siswa sebagai modal sikap ilmiah seorang calon ilmuwan.

Engkoswara (1982) mengatakan bahwa melalui kegiatan praktikum yang biasanya


dilakukan di laboratorium, siswa diharapkan dapat:
1. Mengembangkan berbagai keterampilan secara terintegrasi.
2. Mengenal berbagai peralatan laboratorium.
3. Mengenal berbagai desain dan peralatan untuk eksperimen.
4. Mengembangkan keterampilan mengumpulkan dan menginterprestasikan data.
5. Mengembangkan sikap untuk melakukan sesuatu secara tepat dan akurat.
6. Mengembangkan keterampilan dalam mengobservasi.
7. Mengembangkan kemampuan dalam mengkomunikasikan hasil eksperimen.
8. Mengembangkan kecakapan dalam menulis laporan.
9. Mengembangkan kemampuan untuk belajar dan melakukan percobaan sendiri.
10. Menambah keberanian berfikir sendiri dan menanggung resiko.
11. Merangsang berfikir siswa melalui eksperimen.
12. Mengembangkan keterampilan dalam memecahkan masalah dengan berbagai variabel yang
banyak dan berbagai kemungkinan pemecahannya.

C. CPOB
Good Manufacturing Practice (GMP)-Cara Pembuatan Obat Baik (CPOB) adalah sistem
yang memastikan produk dibuat dan dikontrol secara konsisten sesuai kualitas standar. Dibuat
untuk meminimalkan risiko pada produk farmasi yang tidak dapat disingkirkan lagi saat produk
diuji saat sudah jadi. Risiko utama adalah : kontaminasi, menyebabkan gangguan kesehatan
bahkan kematian; label yang tidak benar; bahan aktif yang terlalu sedikit atau terlalu banyak,
berakibat pengobatan tidak efektif atau menimbulkan efek samping. CPOB meliputi semua
proses produksi; mulai dari bahan awal, tempat, dan alat sampai pelatihan dan kebersihan dari
pekerja. Prosedur tertulis dari tiap proses produksi adalah komponen penting yang dapat
mempengaruhi kualitas akhir dari produk. WHO telah mengeluarkan panduan untuk CPOB.
CPOB adalah bagian dari Pemastian Mutu yang memastikan bahwa obat dibuat dan
dikendalikan secara konsisten untuk mencapai standar mutu yang sesuai dengan tujuan
penggunaan dan dipersyaratkan dalam izin edar dan spesifikasi produk.
Industri Farmasi harus membuat obat sedemikian rupa agar sesuai dengan tujuan
penggunaannya, memenuhi persyaratan yang tercantum dalam dokumen izin edar (registrasi) dan
tidak menimbulkan resiko yang membahayakan penggunanya karena tidak aman, mutu rendah
atau tidak bertanggung jawab. Untuk pencapaian tujuan ini melalui Kebijakan Mutu, yang
memerlukan komitmen dari semua jajaran di semua departemen di dalam perusahaan, para
pemasok dan para distributor. Untuk mencapai tujuan mutu secara konsisten dan dapat
diandalkan, diperlukan manajemen mutu yang di desain secara menyeluruh dan diterapkan
secara benar.

CPOB mencakup Produksi dan Pengawasan Mutu. Persyaratan dasar dari CPOB adalah:
a) semua proses pembuatan obat dijabarkan dengan jelas, dikaji secara sistematis berdasarkan
pengalaman dan terbukti mampu secara konsisten menghasilkan obat yang memenuhi
persyaratan mutu dan spesifikasi yang telah ditetapkan;
b) tahap proses yang kritis dalam pembuatan, pengawasan proses dan sarana penunjang serta
perubahannya yang signifikan divalidasi;
c) tersedia semua sarana yang diperlukan dalam CPOB termasuk:

- personil yang terkualifikasi dan terlatih;


- bangunan dan sarana dengan luas yang memadai;
- peralatan dan sarana penunjang yang sesuai;
- bahan, wadah dan label yang benar;
- prosedur dan instruksi yang disetujui; dan
- tempat penyimpanan dan transportasi yang memadai.

d) prosedur dan instruksi ditulis dalam bentuk instruksi dengan bahasa yang jelas, tidak
bermakna ganda, dapat diterapkan secara spesifik pada sarana yang tersedia;
e) operator memperoleh pelatihan untuk menjalankan prosedur secara benar;
f) pencatatan dilakukan secara manual atau dengan alat pencatat selama pembuatan yang
menunjukkan bahwa semua langkah yang dipersyaratkan dalam prosedur dan instruksi yang
ditetapkan benar-benar dilaksanakan dan jumlah serta mutu produk yang dihasilkan sesuai
dengan yang diharapkan. Tiap penyimpangan dicatat secara lengkap dan diinvestigasi;
g) catatan pembuatan termasuk distribusi yang memungkinkan penelusuran riwayat bets secara
lengkap, disimpan secara komprehensif dan dalam bentuk yang mudah diakses;
h) penyimpanan dan distribusi obat yang dapat memperkecil risiko terhadap mutu obat;
i) tersedia sistem penarikan kembali bets obat manapun dari peredaran; dan
j) keluhan terhadap produk yang beredar dikaji, penyebab cacat mutu diinvestigasi serta
dilakukan tindakan perbaikan yang tepat dan pencegahan pengulangan kembali keluhan.

ASPEK2 CPOB :
1. MANAJEMEN MUTU
Industri farmasi harus membuat obat sedemikian rupa agar sesuai dengan tujuan penggunaannya,
memenuhi persyaratan yang tercantum dalam dokumen izin edar (registrasi) dan tidak
menimbulkan risiko yang membahayakan penggunanya karena tidak aman, mutu rendah atau
tidak efektif. Manajemen bertanggung jawab untuk pencapaian tujuan ini melalui suatu
Kebijakan Mutu, yang memerlukan partisipasi dan komitmen jajaran di semua departemen di
dalam perusahaan, para pemasok dan para distributor. Untuk mencapai tujuan mutu secara
konsisten dan dapat diandalkan, diperlukan sistem Pemastian Mutu yang didesain secara
menyeluruh dan diterapkan secara benar serta menginkorporasi Cara Pembuatan Obat yang Baik
termasuk Pengawasan Mutu dan Manajemen Risiko Mutu. Hal ini hendaklah didokumentasikan
dan dimonitor efektivitasnya.

2. PERSONALIA
Sumber daya manusia sangat penting dalam pembentukan dan penerapan sistem pemastian mutu
yang memuaskan dan pembuatan obat yang benar. Oleh sebab itu industri farmasi bertanggung
jawab untuk menyediakan personil yang terkualifikasi dalam jumlah yang memadai untuk
melaksanakan semua tugas. Tiap personil hendaklah memahami tanggung jawab masing-masing
dan dicatat. Seluruh personil hendaklah memahami prinsip CPOB serta memperoleh pelatihan
awal dan berkesinambungan, termasuk instruksi mengenai higiene yang berkaitan dengan
pekerjaannya.

3. BANGUNAN DAN FASILITAS


Bangunan dan fasilitas untuk pembuatan obat harus memiliki desain, konstruksi dan letak yang
memadai, serta disesuaikan kondisinya dan dirawat dengan baik untuk memudahkan pelaksanaan
operasi yang benar. Tata letak dan desain ruangan harus dibuat sedemikian rupa untuk
memperkecil risiko terjadi kekeliruan, pencemaran silang dan kesalahan lain, serta memudahkan
pembersihan, sanitasi dan perawatan yang efektif untuk menghindarkan pencemaran silang,
penumpukan debu atau kotoran, dan dampak lain yang dapat menurunkan mutu obat.

4. PERALATAN
Peralatan untuk pembuatan obat hendaklah memiliki desain dan konstruksi yang tepat, ukuran
yang memadai serta ditempatkan dan dikualifikasi dengan tepat, agar mutu obat terjamin sesuai
desain serta seragam dari bets-ke-bets dan untuk memudahkan pembersihan serta perawatan agar
dapat mencegah kontaminasi silang, penumpukan debu atau kotoran dan, hal-hal yang umumnya
berdampak buruk pada mutu produk.

5. SANITASI DAN HIGIENE


Tingkat sanitasi dan higiene yang tinggi hendaklah diterapkan pada setiap aspek pembuatan obat.
Ruang lingkup sanitasi dan higiene meliputi personil, bangunan, peralatan dan perlengkapan,
bahan produksi serta wadahnya, bahan pembersih dan desinfeksi, dan segala sesuatu yang dapat
merupakan sumber pencemaran produk. Sumber pencemaran potensial hendaklah dihilangkan
melalui suatu program sanitasi dan higiene yang menyeluruh dan terpadu.

6. PRODUKSI
Produksi hendaklah dilaksanakan dengan mengikuti prosedur yang telah ditetapkan; dan
memenuhi ketentuan CPOB yang menjamin senantiasa menghasilkan produk yang memenuhi
persyaratan mutu serta memenuhi ketentuan izin pembuatan dan izin edar.

7. PENGAWASAN MUTU
Pengawasan Mutu merupakan bagian yang esensial dari Cara Pembuatan Obat yang Baik untuk
memberikan kepastian bahwa produk secara konsisten mempunyai mutu yang sesuai dengan
tujuan pemakaiannya. Keterlibatan dan komitmen semua pihak yang berkepentingan pada semua
tahap merupakan keharusan untuk mencapai sasaran mutu mulai dari awal pembuatan sampai
kepada distribusi produk jadi. Pengawasan Mutu mencakup pengambilan sampel, spesifikasi,
pengujian serta termasuk pengaturan, dokumentasi dan prosedur pelulusan yang memastikan
bahwa semua pengujian yang relevan telah dilakukan, dan bahan tidak diluluskan untuk dipakai
atau produk diluluskan untuk dijual, sampai mutunya telah dibuktikan memenuhi persyaratan.

8. INSPEKSI DIRI, AUDIT MUTU DAN AUDIT & PERSETUJUAN PEMASOK


Tujuan inspeksi diri adalah untuk mengevaluasi apakah semua aspek produksi dan pengawasan
mutu industri farmasi memenuhi ketentuan CPOB. Program inspeksi diri hendaklah dirancang
untuk mendeteksi kelemahan dalam pelaksanaan CPOB dan untuk menetapkan tindakan
perbaikan yang diperlukan. Inspeksi diri hendaklah dilakukan secara independen dan rinci oleh
petugas yang kompeten dari perusahaan yang dapat mengevaluasi penerapan CPOB secara
obyektif.
Inspeksi diri hendaklah dilakukan secara rutin dan, di samping itu, pada situasi khusus, misalnya
dalam hal terjadi penarikan kembali obat jadi atau terjadi penolakan yang berulang. Semua saran
untuk tindakan perbaikan supaya dilaksanakan. Prosedur dan catatan inspeksi diri hendaklah
didokumentasikan dan dibuat program tindak lanjut yang efektif.

9. PENANGANAN KELUHAN TERHADAP PRODUK DAN PENARIKAN KEMBALI


PRODUK
Semua keluhan dan informasi lain yang berkaitan dengan kemungkinan terjadi kerusakan obat
harus dikaji dengan teliti sesuai dengan prosedur tertulis.
Untuk menangani semua kasus yang mendesak, hendaklah disusun suatu sistem, bila perlu
mencakup penarikan kembali produk yang diketahui atau diduga cacat dari peredaran secara
cepat dan efektif.

10. DOKUMENTASI
Dokumentasi adalah bagian dari sistem informasi manajemen dan dokumentasi yang baik
merupakan bagian yang esensial dari pemastian mutu. Dokumentasi yang jelas adalah
fundamental untuk memastikan bahwa tiap personil menerima uraian tugas yang relevan secara
jelas dan rinci sehingga memperkecil risiko terjadi salah tafsir dan kekeliruan yang biasanya
timbul karena hanya mengandalkan komunikasi lisan. Spesifikasi, Dokumen Produksi
Induk/Formula Pembuatan, prosedur, metode dan instruksi, laporan dan catatan harus bebas dari
kekeliruan dan tersedia secara tertulis. Keterbacaan dokumen adalah sangat penting.

11. PEMBUATAN DAN ANALISIS BERDASARKAN KONTRAK


Pembuatan dan analisis berdasarkan kontrak harus dibuat secara benar, disetujui dan
dikendalikan untuk menghindarkan kesalahpahaman yang dapat menyebabkan produk atau
pekerjaan dengan mutu yang tidak memuaskan. Kontrak tertulis antara Pemberi Kontrak dan
Penerima Kontrak harus dibuat secara jelas yang menentukan tanggung jawab dan kewajiban
masing-masing pihak. Kontrak harus menyatakan secara jelas prosedur pelulusan tiap bets
produk untuk diedarkan yang menjadi tanggung jawab penuh kepala bagian Manajemen Mutu
(Pemastian Mutu).

12. KUALIFIKASI DAN VALIDASI


Bab ini menguraikan prinsip kualifikasi dan validasi yang dilakukan di industri farmasi. CPOB
mensyaratkan industri farmasi untuk mengidentifikasi validasi yang perlu dilakukan sebagai
bukti pengendalian terhadap aspek kritis dari kegiatan yang dilakukan. Perubahan signifikan
terhadap fasilitas, peralatan dan proses yang dapat memengaruhi mutu produk hendaklah
divalidasi. Pendekatan dengan kajian risiko hendaklah digunakan untuk menentukan ruang
lingkup dan cakupan validasi.
BAB II
TINJAUAN KHUSUS
A. Kunjungan PT. Sido Muncul

Waktu kunjungan : 29 Januari 2014

PT. SidoMuncul bermula dari sebuah industri rumah tangga pada tahun 1940, dikelola
oleh Ibu Rahkmat Sulistio di Yogyakarta, dan dibantu oleh tiga orang karyawan. Banyaknya
permintaan terhadap kemasan jamu yang lebih praktis, mendorong beliau memproduksi jamu
dalam bentuk yang praktis (serbuk), seiring dengan kepindahan beliau ke Semarang , maka pada
tahun 1951 didirikan perusahan sederhana dengan nama SidoMuncul yang berarti "Impian yang
terwujud" dengan lokasi di Jl. Mlaten Trenggulun.

Pendiri PT.Sidomuncul
Ibu Rahmat Sulistio

Dengan produk pertama dan andalan, Jamu Tolak Angin, produk jamu buatan Ibu
Rakhmat mulai mendapat tempat di hati masyarakat sekitar dan permintaannyapun selalu
meningkat. Dalam perkembangannya, pabrik yang terletak di Jl. Mlaten Trenggulun ternyata
tidak mampu lagi memenuhi kapasitas produksi yang besar akibat permintaan pasar yang terus
meningkat, dan di tahun 1984 pabrik dipindahkan ke Lingkungan Industri Kecil di Jl. Kaligawe,
Semarang.

Kawasan Pabrik PT.Sidomuncul

Guna mengakomodir demand pasar yang terus bertambah, maka pabrik mulai dilengkapi
dengan mesin-mesin modern, demikian pula jumlah karyawannya ditambah sesuai dengan
kapasitas yang dibutuhkan ( kini jumlahnya mencapai lebih dari 2000 orang ). Untuk
mengantisipasi kemajuan dimasa mendatang, dirasa perlu untuk membangun unit pabrik yang
lebih besar dan modern, maka di tahun 1997 diadakan peletakan batu pertama pembangunan
pabrik baru di Klepu, Ungaran oleh Sri Sultan Hamengkubuwono ke-10 dan disaksikan Direktur
Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan saat itu, Drs. Wisnu Kaltim.Saat peresmian pabrik,
SidoMuncul sekaligus menerima dua sertifikat yaitu Cara Pembuatan Obat Tradisional yang
Baik (CPOTB) dan Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) setara dengan farmasi, dan
sertifikat inilah yang menjadikan PT. SidoMuncul sebagai satu-satunya pabrik jamu berstandar
farmasi. Lokasi pabrik sendiri terdiri dari bangunan pabrik seluas 7 hektar, lahan Agrowisata ,1,5
hektar, dan sisanya menjadi kawasan pendukung lingkungan pabrik.

Secara pasti PT. SidoMuncul bertekad untuk mengembangkan usaha di bidang jamu
yang benar dan baik. Tekad ini membuat perusahaan menjadi lebih berkonsentrasi dan inovatif.
Disamping itu diikuti dengan pemilihan serta penggunaan bahan baku yang benar, baik
mengenai jenis, jumlah maupun kualitasnya akan menghasilkan jamu yang baik. Untuk
mewujudkan tekad tersebut, semua rencana pengeluaran produk baru selalu didahului oleh studi
literatur maupun penelitian yang intensif, menyangkut keamanan, khasiat maupun sampling
pasar. Untuk memberikan jaminan kualitas, setiap langkah produksi mulai dari barang datang ,
hingga produk sampai ke pasaran, dilakukan dibawah pengawasan mutu yang
ketat. (http://sidomuncul.com/).

Tempat pertama yang kami kunjungi yaitu gudang bahan baku. Gudang bahan baku ini
memiliki luas 60 hektar. Didalam gudang ini berisi bahan-bahan baku yang diperoleh dari berbagai
tempat misalnya dari Boyolali, Magelang, Kulon Progo, Papua dan lain-lain. Bahan-bahan baku
yang diperoleh dari alam yang berfungsi sebagai tanaman obat (simplisia nabati). Digudang ini
kurang lebih 160 jenis tanaman obat.
Bahan baku yang ada digudang ini sudah distandarisasi yaitu dengan proses sortasi
(memisahkan kotoran pada bahan). Bahan baku yang sudah lolos namun dicurigai terdapat
karakteristik yang belum terpenuhi maka harus melalui proses karantina, bahan baku yang
dikarantina diberi perlakuan selanjutnya yaitu diamati, diambil tindakan sesuai masalah yang ada
misalnya meneganai karakteristik visual, fisik, misalnya masalah warna pada sirih, akar yang
belum cukup umur pada tanaman pasak bumi dan zat aktif yang kurang maksimal. Penanganan
masalah ini tergantung spesifikasi masing-masing tanaman.
Tanaman-tanaman obat juga harus dijaga temperaturnya, sehingga bangunan gedung
penimpanan bahan bakusudah diatur sedemikian rupa agar temperature tetap terjaga. Kadar air
pada tanaman minimal 10%, sehingga tanaman harus dikeringkan melalui penguapan (solvasi),
pencucian dan pengeringan. Apabila tanaman tersebut termasuk non simplisia yaitu bahan-bahan
untuk minuman kotak maka tidak perlu full standaritation, karena sudah ada standarisasi
patennya.
Melanjutkan perjalanan ke area pabrik di samping gudang bahan baku dan kami melihat
proses pengemasan untuk produk-produk dari PT. Sido Muncul baik produk cair maupun serbuk.
Setelah itu kita juga melihat proses pengepakan (packing) yang melalui proses primer dan
sekunder, proses primer ini dilakukan dengan mesin tanpa mengabaikan efisiensi dan kualitas.
Selanjutnya, proses sekunder yaitu pengemasan. Menuju ke Laboratorium, di L aboratorium
terdapat kegiatan formulasi dan produksi. Dibagian formulasi dimana menciptakan inovasi-inovasi
terhadap sediaan produk seperti cair, instan ataupun tablet. Sedangkan dibagian produksi
terdapat proses peninjauan terhadap hal yang dilakukan dilapangan.
Perjalanana dilanjutkan ke lantai dua yaitu Laboratorium microbiologi danLaboratorium
farmakologi. Uji terhadap kondisi microbiokimia dari sejak awal diterima bahan, proses produksi,
bahan jadi ini terdapat di Laboratorium microbiologi. Di Laboratorium ini harus dipastikan bahwa
produk angka kuman, patogen harus negatif. Dilantai dua ini juga terdapat ruang instrumentasi,
alat-alat yang digunakan diantaranya GC, Spektrofotometer UV-VIS, UVLC, AAS, GCMS. Selain
ruang instrumentasi juga terdapat Laboratorium stabilitas dan perpustakaan, yang membuat kami
terkesan yakni adanya perpustakaan karena hal ini tidak kami bayangkan sebelumnya, diantara
Laboratorium-Labora torium yang ada ternyata terdapat perpustakaan. Hal ini menunjukan bahwa
di PT. Sido Muncul ini masih mementingkan membaca untuk tetap memperbaharui ilmu dan
membuka teori-teori untuk mendukung kinerja para laboran yang mungkin sudah terlupakan.
Selanjutnya mengunjungi pabrik tolak angin cair. Informasi yang kami peroleh dan
berdasarkan apa yang kami lihat, proses pembuatan tolak angin ini mula-mula dengan cara
dimasak, disalurkan dengan selang pendingin dimana suhu kelembabannya diatur, dan dilakukan
juga packing primer diruang antara pengecekan barang dang packing sekunder. Ketika disortir
akan terdapat produk yang lolos atau tidak reject. Bagi yang lolos akan melalui proses kartoni
digudang sedangkan produk yang tidak lolos akan dicek ulang.
Selanjutnya kami mengunjungi pabrik Kuku Bima Energi. Kuku Bima Energi ini terdapat
beberapa farian diantaranya rasa anggur, pada saat kunjungan kami ini kebetulan PT. Sido Muncul
sedang banyak produksi Kuku Bima rasa anggur dimana produksi kuku bima rasa anggur ini atas
dasar banyaknya minat konsumen pada kuku bima rasa anggur.
Tempat terakhir yang kami kunjungi yaitu kawasan agro wisata PT.Sido Muncul. Disini kami
melihat beberapa tanaman obat koleksi PT. Sido Muncul dan binatang-binatang seperti harimau,
monyet, burung, singa dan lain-lain.
Dengan standar pabrik CPOB ( Standard pabrik Farmasi ), maka fasilitas yang ada di PT.
SidoMuncul antara lain :

1. Laboratorium
Laboratorium Instrumentasi
Laboratorium Farmakologi
Laboratorium Formulasi
Laboratorium Farmakognosi
Laboratorium Stabilitas
Laboratorium Kimia, yang dilengkapi peralatan HPLC ( High Pressure Liquid
Chromatography ), GC ( Gas Chromatography ) dan TLC Scanner ( Thin Layer
Chromatography ). Keseluruhan laboratorium tersebut dibangun di atas lahan seluas
1200 m.
Laboratorium Kultur Jaringan
2. Kebun percobaan dan budidaya tanaman obat
3. Extraction Centre
4. Pengolahan air bersih
5. Pengolahan air limbah
6. Perpustakaan

B. Kunjungan Universitas Islam Indonesia (UII)

Universitas Islam Indonesia disingkat UII adalah perguruan tinggi swasta nasional tertua
diIndonesia yang terletak di Yogyakarta. UII semula bernama Sekolah Tinggi Islam (STI) yang
didirikan di Jakarta pada hari Ahad tanggal 27 Rajab 1364 H bertepatan dengan tanggal 8
Juli1945 M. Dengan lokasi kampus yang tersebar di beberapa wilayah, seperti Kampus Terpadu
terletak di Jalan Kaliurang KM 14,5 Kabupaten Sleman, dekat daerah wisata Kaliurang dan
berjarak 20 KM dari puncak Gunung Merapi. Kampus Fakultas Ekonomi terletak di Jalan
Ringroad Utara, Condongcatur, Kabupaten Sleman. Kampus Fakultas Hukum di Jalan
Tamansiswa, Kota Yogyakarta dan Kampus lainnya di Jalan Cik Dik Tiro, Kota Yogyakarta dan
Demangan Baru, Kabupaten Sleman. Dalam pemeringkatan 4 International College and
Universities (4ICU) maupun Webometrics pada Januari 2012 menempatkan UII sebagai
Perguruan Tinggi Swasta (PTS) peringkat pertama di Kopertis Wilayah V dan peringkat ke-2
PTS secara nasional. Selain itu, pada tahun 2009 UII terpilih sebagai perguruan tinggi dengan
nilai penjaminan mutu internal terbaik di Indonesia versi Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi
(Ditjen Dikti). Pada tahun 2013, berdasarkan SK BAN-PT No. 065/SK/BAN-PT/AK-
IV/PT/II/2013 UII berhasil meraih akreditasi institusi dengan nilai 'A', tertinggi di antara PTS
seluruh Indonesia.
Fakultas Farmasi merupakan fakultas terbaru di UI yang didirikan berdasarkan Keputusan
Rektor Universitas Indonesia Nomor 2408A/SK/R/2011 tanggal 29 November 2011. Fakultas ini
sebelumnya merupakan bagian dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA)
dalam wujud Departemen Farmasi.
Jurusan Farmasi FMIPA UI didirikan dan mulai menerima mahasiswa angkatan pertama
pada bulan September 1965. Jurusan yang semula berlokasi di Jl. Diponegoro Jakarta Pusat ini,
tergabung dalam satu fakultas yang awalnya bernama Fakultas Ilmu Pasti dan Ilmu Alam (FIPIA)
yang kemudian berdasarkan Kepres No. 44 tahun 1982 berubah menjadi Fakultas Matematika dan
Ilmu Pengetahuan Alam. Pada tahun 1971-1977 Jurusan Farmasi berlokasi di belakang Fakultas
Ekonomi UI Jl. Salemba Raya 4 Jakarta Pusat, dan tahun 1977-1987 menempati gedung di belakang
gedung Rektorat UI Jl. Salemba Raya 4 Jakarta Pusat.
Pada tahun 1987, Jurusan Farmasi menempati gedung D FMIPA UI bersama Jurusan
Matematika di Kampus Baru Universitas Indonesia Depok. Sejak tahun 2000, disamping menempati
gedung D, kegiatan administrasi Departemen Farmasi dipusatkan di Gedung C.
Pada saat kepindahan ke Depok (tahun 1987), Jurusan Farmasi baru mengelola Program S1
dan Program Apoteker dengan jumlah mahasiswa l.k. 200 orang dan jumlah dosen 30 orang.
Dewasa ini Jurusan Farmasi mengelola 4 program studi yaitu:
Program pendidikan sarjana farmasi
Program pendidikan apoteker/farmasis
Program pendidikan magister farmasi
Program pendidikan doktor farmasi
Berdasarkan Keputusan Majelis Wali Amanah Universitas Indonesia Nomor 01/SK/MWA-
UI/2003 tanggal 18 Januari 2003 tentang Anggaran Rumah Tangga UI, maka Jurusan Farmasi FMIPA
UI telah disesuaikan namanya menjadi Departemen Farmasi FMIPA UI.
Selanjutnya guna menunjang pendirian Rumpun Ilmu Kesehatan yang terintegrasi di dalam
lingkungan UI, maka berdasarkan Keputusan Rektor Nomor 2408A/SK/R/2011 tanggal 29 November
2011 tentang Pembukaan Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, maka Departemen Farmasi FMIPA
UI berubah menjadi Fakultas Farmasi UI.
Pada kunjungan kerja lapangan (KKL) di fakultas farmasi Universitas Islam Indonesia ini
kami berkunjung ke beberapa laboratorium yang terdapat di UII , seperti laboratorium kimia
farmasi, farmakologi dan farmakoterapi, teknologi farmasi, biologi farmasi, dan simulasi apotek.
Terkhusus pada laboratorium Teknologi Farmasi, laboratorium ini sudah di sesuaikan dengan
standar CPOB seperti lantai yang tidak bersudut, antara ruang satu dengan yang lain terpisah
(tidak di satukan), keadaan atau kondisi yang harus selalu steril sehingga dalam proses
produksi/pembuatan obat tidak terjadi kontaminasi zat-zat asing seperti bakteri pathogen dll.
Pada laboratorium teknologi farmasi ini, didalam nya terbagi menjadi beberapa ruang yang di
gunakan dalam pembuatan obat berdasarkan CPOB diantaranya :
Ruang cetakan
Preabelator
Untuk uji kerapuhan
Hardestester
Untuk uji kekerasan
Mesin tablet single puach
Ruang pengeringan granul
Oven
Bed drying suhu 30 40 atau penyesuaian
Ruang pengemasan
Blister
Alat untuk mengisi tablet
Ruang uji granul dan serbuk
Alat untuk ayakan
Dual tap density
Uji sifat aliran kadar air
Ruang pembuatan granul
Mixer
Pencampuran
Ruang mixing
Granul dan salut
Ruang koting atau pelapisan
Ruang pengujian
Disintergrasion tester
Disolusion tester
Spektrofoto meter
Klimatik camber
Melting poin
Viscometer
Brook field
Tisk ometer rion
Pada laboratorium steril terdapat ruang-ruang diantaranya :
Ruang pengemasan
Ruang ganti
Ruang posttest
White area
C. Kunjungan LAFI-AD

LAFI AD (Lembaga Farmasi Direktorat Kesehatan Angkatan Darat), berasal dari MSL
(Militaire Scheikundig Laboratorium). Lembaga ini berfungsi sebagai tempat pemeriksaan obat-
obatan bagi kebutuhan tentara Belanda.
Pada tanggal 23 Januari 1950, dibentuk panitia pengalihan, sehingga pada tanggal 1 juni
1950 dilakukan serah terima dari MSL kepada TNI AD, yang menjadi dasar dalam penetapan
hari jadi LAFI AD, melalui SK No. Skep/23/1/1997 tanggal 31 Januari 1997. Setelah serah
terima pada tanggal 1 Juni 1950 MSL terbagi menjadi 2 :
1. Laboratorium kimia tentara (LKT) yang kemudian berkembang menjadi Laboratorium kimia
AD (LKAD).
2. Depot obat tentara pusat (DOTP) yang berkembang menjadi depot obat AD (DOAD).
Berdasarkan SK Ditkesad No. kpts/61/10/IX/1960 tanggal 13 September 1960, terhitung
mulai tanggal 8 Juni 1960 LKAD dan DOAD disatukan menjadi LAFI AD.
Di Lembaga Farmasi Angkatan darat (LAFI AD) terdapat beberapa ruang yaitu Ruang
INSWASTU, ruang -Lactam, ruang Non -Lactam .
Pada kunjungan kerja lapangan (KKL) di Lembaga Farmasi Angkatan Darat ini kami
berkunjung ke dua ruang, yaitu ruang INSWASTU dan ruang Non -Lactam . Ruang InSwasTu
pada dasarnya di gunakan untuk pengawasan mutu obat yang di produksi, pengembangan dan
penelitian-penelitian lebih lanjut. Sedangkan ruang Non -Lactam di gunakan untuk kegiatan
produksi, oleh sebab itu ruang ini harus steril guna menjamin mutu obat yang di produksi. Di
ruang ini juga terdapat alat-lat canggih untuk memproduksi obat dalam skala besar.
a. Ruang InSwasTu
1. R. instrument, digunakan untuk menyimpan peralatan yang tidak tahan kelembapan (<85%)
dan suhu 250C
2. Speltrometer, digunakan utuk menetapkan kadar dan kelarutan
3. R. uji coba
4. R. mikro biologi, di gunakan untuk uji steril
5. R. uji rotasi
6. R. antara
7. R. fisika , di gunakan untuk menghitung waktu hancur
8. Alneter, di gunakan untuk menghitung kekerasan
9. Keregasan
10. R. reagen, digunakan untuk menyimpan semua bahan yg masih baru
11. R. contoh tertinggal
12. R. kimia
13. Innporter, digunakan untuk mengatur suhu
14. Tungku pijar
15. Alat pengering
16. Pengatur sesut pengeringan
17. Blu fngle sfety equid ment.

b. Ruang Non -Lactam


Di ruang Non -Lactam ini terdapat beberapa ruang dan alat-alat yang di gunakan, diantaranya :
1. Ruang antara
2. Ruang cetak kapsul
Alat yang di gunakan adalah Kwang Dan (KDF-6) th. 2006. Alat ini dapat mencetak kapsul
sebanyak 25.000 kapsul perjam.
3. Ruang Cetak Tablet
Alat yang di gunakan adalah CADMACH CMB 4-35 th. 2001. Alat ini dapat mencetak kaplet
sebanyak 70.000 kaplet perjam
4. Ruang cetak Kaplet
Alat yang digunakan adalah CADMACH CMB4-D-27 th. 2002. Alat ini dapat mencetak
sebanyak 60.000 kaplet perjam
5. Ruang Karantina salut
Ruang ini di gunakan sebagai tempat pendinginan.
6. Ruang Uji
Yaitu : uji kekerasan, uji keseragaman bobot, uji ketebalan untuk tablet . sedangkan pada kapsul
hanya di uji keseragaman bobotnya saja.
7. Ruang karantina rapuh produk siap kermas primer
8. Ruang penghancur tablet (alat: multinoug)
9. Mesin pengering granul : jaw-chun/FBD 120 kapasitas 120/kg th. 2003
10. Ruang Pencampuran semi basah
Alat: super mixer. Jika bahan kering ditambahkan mucilage
11. Ruang Oven
Terdapat 2, yaitu lemari pengering granul kapasitas 500 kg th. 2006 dan mesin ayak granul
dengan kapasitas 50 kg/jam th. 2000
12. Ruang simpan alat
13. Ruang cuci alat
14. Mesin isi sirup.
Alat: jicceng jc-Fm dengan kapasitas 2500 botol/jam
15. Ruang Penimbangan
R. strif IV mesin stripping hipack/upd VII dengan kapasitas 3000/jam
R. strif III mesing tripping narong/nrt- 25 dengan kapasitas 20.000/jam 6-7 ml
R. strif II mesin stripping chen thai/ capm-A dengan kapasitas 25000/jam
R. strif mesin stripping chan tai/ ctapm-B dengan kapasitas 30000/jam

16. Ruang Staging : tempat bahan yang sudah dii timbang

BAB IV
PEMBAHASAN
kunjungan kerja lapangan (KKL) di PT. Sido Muncul pada tanggal 29 januari 2014 yang
berlokasi di Jl Soekarno Hatta Km 28 Kec Bergas Klepu, Semarang Indonesia, dan Universitas
Islam Indonesia pada tanggal 03 Februari 2014 yang berlokasi di Jl. Kaliurang Km. 14.5
Yogyakarta, serta Lembaga Farmasi Angkatan Darat (LAFI AD) pada tanggal 04 Februari 2014
yang berlokasi di Jl.Gudang Utara No.26 ( Gedung LAFI-AD DITKESAD ) Bandung 40000
Jawa Barat. Diketahui bahwa Industri Farmasi dan UII memiliki laboratorium laboratorium
yang dibuat berdasarkan standarisasi CPOB (Cara Pembuatan Obat yang Baik) dan GMP .
Terkhusus pada PT. Sido muncul selain sudah memenuhi standar Cara Pembuatan Obat
Tradisional yang Baik (CPOTB) dan Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) setara dengan
farmasi. Sedangkan Laboratorium yang di miliki Universitas Islam Indonesia Khususnya
Laboratorium Teknologi Farmasi sudah di sesuaikan dengan standar Industri Farmasi untuk
memudahkan mahasiswa dalam memahami serta proses belajar mengajar di universitas tersebut.
Seperti pada PT. SidoMuncul yang memisahkan setiap bangunan dan ruang dengan
fungsi masing-masing. Dari area pabrik gudang bahan baku, bahan baku tersebut di standardisasi
dengan cara sortasi, lalu di lakukan karantina hingga area pabrik proses produksi dan
pengemasan (primer dan skunder).
Laboratorium dan area Produksi steril yang terdapat di tempat kunjungan tersebut harus
benar2 di jaga baik dari kebersihan sampai suhu ruang yang selalu di jaga (menggunakan alat
pengatur suhu yang di cek secara berkala guna mempertahankan suhu agar tetap konstan).
Pada laboratorium (ruang produksi/steril) bangunannya dibuat tanpa sudut dan dilapisi
dengan cat khusus dengan tujuan agar bakteri, Virus, parasit dan jamur (factor biologis) tidak
dapat hidup dan debu logam berat tidak menempel (factor kimia) serta lantai dan dinding tidak
licin, Sehingga karyawan yang membawa beban berat tidak mudah terjatuh atau terpeleset serta
angka penyakit dan kecelakaan kerjapun semakin kecil. Sehingga karyawan yang membawa
beban berat tidak mudah terjatuh atau terpeleset serta angka penyakit dan kecelakaan kerjapun
semakin kecil. Selain itu alat-alat yang di gunakan pada proses produksi adalah alat-alat dengan
teknologi canggih yang tidak jarang di datangkan langsung dari luar negeri seperti jepang dll.
Pada ruang Non -Lactam yang terdapat di LAFI AD yang di gunakan sebagai ruang
produksi, saat memasuki ruangan tersebut ada ruangan yang di sebut ruang antara yang
memisahkan ruang Non steril dan ruang steril masing-masing di batasi oleh pintu . pintu pertama
dan kedua saling berhubungan, dimana pintu kedua dapat di buka jika pintu pertama sudah di
tutup atau sudah di koordinasikan. Hal ini untuk mencegah bakteri masuk ke area produksi steril.
Sedangkan laboratorium yang ada di Akademi Farmasi Al- Fatah Bengkulu belum
memenuhi persyaratan CPOB dan masih di kondisikan . seperti bangunan laboratorium yang
belum sesuai dengan ketentuan CPOB, Lantai Laboratorium yang masih sama dengan ruang
biasa dan belum sesuai dengan standar CPOB.

BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Setelah melakukan kunjungan kerja lapangan (KKL) di PT. sidomuncul, Universitas islam
Indonesia, LAFI-AD maka dapat di simpulkan bahwa laboratorium yang terdapat di ketiga
tempat tersebut sudah memenuhi standar, baik CPOB, CPOTB, maupun GMP. Sedangkan
Laboratorium yang terdapat di AKFAR AL-FATAH belum memenuhi standar tersebut di atas.
B. Saran
Penulis menyadari bahwa laporan kunjungan kerja lapangan (KKL) ini masih saranyang
membangun, agar penulis bisa lebih baik lagi dalam membuat/menyusun laporan selanjutnya.

Daftar Pustaka

Syamsuni, H.A, 2006. Ilmu Resep. Penerbit Buku Kedokteran EGC . Jakarta
Anonim. 2006. Cara Pembuatan Obat Baru (CPOB). Depkes RI. Jakarta.
BPOM RI. 2006. Pedoman Cara Pembuatan Obat yang Baik. Badan Pengawas Obat dan
Makanan Republik Indonesia. Jakarta.
http://id.wikipedia.org/wiki/Sido_Muncul
http://ptsido-muncul.blogspot.com/
http://lafi.kesad.mil.id
http://id.wikipedia.org/wiki/Universitas_Islam_Indonesia
http://id.wikipedia.org/wiki/Fakultas_Farmasi_Universitas_Indonesia
LAMPIRAN

LABORATORIUM TEKNOLOGI FARMASI UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA (UII)

1. Ruang Cetak dan Uji Fisik Tablet

Alat uji kerapuhan tablet


Alat Uji waktu hancur tablet
2. Ruang Pengemasan

Alat untuk mempacking tablet/kapsul


3. Ruang Pengeringan Granul
4. Ruang Uji Granul/Serbuk
5. Ruang Pembuatan Granul
6. Ruang Mixing Granul dan Salut
7. Ruang timbang
Timbangan analgetik

8. Ruang simulasi apotek