Anda di halaman 1dari 34

Laboratorium/SMF Rehabilitasi Medik

Laporan Kasus
Fakultas Kedokteran
Universitas Mulawarman

SKOLIOSIS THORAKOLUMBAL

Disusun oleh :

Andi Merdi Prianda A.L (1610029009)


Jesika (1610029013)
Metyana Cahyaningtyas (1610029005)

Pembimbing
dr. Nurindah Isty Rachmayanti, Sp. KFR

Dibawakan Dalam Rangka Tugas Kepaniteraan Klinik


SMF/Laboratorium Rehabilitasi Medik
Program Studi Profesi Dokter
Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman
2017

1
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Skoliosis adalah deviasi garis vertikal normal tulang belakang, yang terdiri dari
kelengkungan lateral dengan rotasi tulang belakang di dalam kurva. Pada kasus skoliosis
dipertimbangkan harus ada setidaknya 10 dari kelengkungan tulang belakang pada
pemeriksaan foto polos posterior-anterior berhubungan dengan rotasi vertebra. Mayoritas
kasus skoliosis yang akan dihadapi oleh dokter umum adalah idopatik tanpa penyebab yang
jelas (Janicki & Alman, 2007).
Angka kejadian skoliosis adalah kira-kira dua kali lebih sering pada perempuan
daripada laki-laki. Hal ini dapat dilihat pada semua umur, namun sering terlihat pada usia
lebih dari 10 tahun. Seringkali seseorang dengan xskoliosis telah mengalami kondisi ini sejak
masa kanak-kanak, namun karena xskoliosis berkembang sangat cepat, kebanyakan kasus
skoliosis tidak terdiagnosa sampai usia 10-14 tahun (Suyono, 2001).
Berdasarkan pada The National Scoliosis Foundation, di Amerika Serikat didapatkan
skoliosis pada 6.000 orang. Dan 2% hingga 4% adalah idiopatik skoliosis pada dewasa.
Idiopatik skoliosis pada dewasa atau Adolescent Idiopathic scoliosis (AIS) terhitung pada
80% dari kasus idiopatik skolisosis dan sering terjadi berumur antara 10 hingga 16 tahun.
Infantile idiopathic scoliosis atau idiopatik skoliosis pada bayi sering ditemukan pada umur 6
bulan dan banyak terjadi pada laki-laki dan keturunan Eropa. Kelengkungannya sering terjadi
pada tulang belakang segmen thoraks dan melengkung ke arah kiri. Pada banyak kasus,
kelengkungan tersebut dapat diobati pada saat umur 3 tahun. uvenile idiopathic soliosis atau
Skoliosis pada anak-anak hampir sama dengan dewasa. Perempuan lebih banyak terkena pada
tipe ini. Kelengkungan skoliosis pada anak-anak seringnya ke arah kanan (Kuester, 2015).
Dari aspek rehabilitasi medik, skoliosis dapat menyebabkan nyeri pada tulang
belakang/punggung (impairment), keterbatasan dalam melakukan aktifitas sehari-hari
(disabilitas), dan keterbatasan dalam melakukan pekerjaan dan aktivitas sosial (handicap).
Sehingga diperlukan penanganan dari segi rehabilitasi medik dengan tujuan yaitu agar
penderita dapat kembali kepada kondisi semula atau mendekati keadaan sebelum sakit,
menghindari semaksimal mungkin timbulnya cacat sekunder, mengusahakan sedapat mungkin
penderita cepat kembali ke pekerjaan semula atau pekerjaan baru, serta psikologi penderita
menjadi lebih baik (Braddon, 2011).

1.2 Tujuan
2
1. Untuk memenuhi syarat dalam Kepanitraan Klinik di bidang Rehabilitasi Medik
2. Untuk menambah wawasan ilmiah dan pengetahuan dokter muda tentang kasus kasus
Skoliosis

3
BAB 2
LAPORAN KASUS

Dipresentasikan pada kegiatan kepaniteraan klinik, Laboratorium Rehabilitasi Medik.


Pemeriksaan dilakukan pada hari Senin, 3 Juli 2017, di Poliklinik Rehabilitasi Medik RSUD
Aji Muhammad Parikesit, Tenggarong. Sumber data: Autoanamnesis.

IDENTITAS PASIEN

Nama : An. PT
Jenis Kelamin : Laki-laki
Usia : 13 tahun
Status Perkawinan : Belum Menikah
Agama : Katholik
Pendidikan : SMP (kelas 1)
Pekerjaan : Pelajar
Suku : Tionghoa
Alamat : Jl. KHL Akhmad Miliksin Kel. Timbau Tenggarong

ANAMNESIS

Keluhan Utama
Punggung membungkuk

Riwayat Penyakit Sekarang


Autoanamnesis
Pasien datang dengan keluhan punggung terasa semakin membungkuk sejak 3 bulan yang
lalu. Awalnya orang tua pasien yang menyadari bahwa anak terlihat membungkuk baik saat
duduk maupun berjalan. Pasien mengatakan terkadang punggungnya terasa pegal terutama
saat menunduk. Saat disekolah pasien terbiasa duduk dengan posisi sedikit membungkuk dan
menulis miring ke kiri. Selain itu, pasien memiliki kebiasaan sering main game di handphone
dengan posisi duduk sedikit menyandar.

4
Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien pernah mengalami DBD saat kecil.

Riwayat Penyakit Keluarga


Tidak ditemukan keluarga yang menderita keluhan serupa seperti pasien.Riwayat
penyakit sistemik seperti DM (-) Hipertensi (-) asam urat (-) dan Penyakit jantung (-).

Riwayat Kebiasaan
Pasien sering bermin game di handphone dengan posisi duduk setengah bersandar. Saat
di sekolah pasien menulis dengan posisi sedikit menunduk dan sedikit miring kekiri. Pasien
ke sekolah menggunakan ransel diantar oleh ayah naik motor dan sampai sekitar 30 menit.
Olahraga yang dilakukan bulutangkis namun jarang.kebiasaan merokok (-), minuman
beralkohol (-) konsumsi obat-obatan terlarang (-).

Riwayat Sosial Ekonomi


Pasien berasal dari keluarga ekonomi cukup. Pasien tinggal dengan kedua orang tua
dan beraktivitas seperti biasa.

PEMERIKSAAN FISIK

Status Generalis
Kesan sakit : Sakit ringan
Kesadaran : CM, GCS E4V5M6
Tinggi Badan : 170 cm
Berat Badan : 61 Kg
IMT : 21,11 (Ideal Weight)

Tanda Vital
Tekanan Darah : 120 / 80 mmHG
Frekuensi nadi : 76 x/menit, reguler, kuat angkat
Frekuensi napas : 20 x/menit, reguler
Suhu aksiler : 36C
VAS skor :1

5
Kepala / leher
Anemis (-/-), ikterik (-/-),sianosis (-), pembengkakan KGB (-/-) trakea tepat di tengah
(+)

Toraks
Jantung
Auskultasi : S1S2 reguler, bising jantung(-)
Paru
Inspeksi : Gerakan pernafasan simetris kiri=kanan
Auskultasi : Suara pernafasan vesikuler,ronki -/-, wheezing -/-

Abdomen
Inspeksi : Flat (+), distended (-)
Palpasi : Soefl (+), nyeri tekan (-)
Perkusi : Timpani (+) Asites (-)
Auskultasi : Peristaltik usus (+) normal

Ekstremitas
Akral hangat, sianosis (-), edema (-) pada kedua tungkai

STATUS LOKALIS DAN NEUROLOGIS

Inspeksi
Thorax : deviasi prosessus spinosus v.thorakolumbal (+) ke arah kiri, tampak bahu
kanan lebih rendah, asimetris skapula (skapula kiri tampak lebih tinggi), rib hump (-)
Pelvis : pelvis tampak asimetris
Ekstremitas bawah : panjang tungkai simetris kanan dan kiri
Anggota gerak atas
6
Motorik Kanan Kiri
Pergerakan : (+) (+)
Kekuatan : 5-5-5 5-5-5
Tonus : N N
Trofi : Eutrofi Eutrofi
Refleks Kanan Kiri
Refleks biceps : (+) (+)
Refleks triceps : (+) (+)
Refleks radius : (+) (+)
Refleks ulna : (+) (+)
Refleks Hoffmann : (-) (-)
Refleks Tromner : (-) (-)
Sensibilitas Kanan Kiri
Sensibilitas taktil : (+) (+)
Perasaan nyeri : (+) (+)
Termal : (+) (+)
Diskriminasi dua titik : (+) (+)
Perasaan lokalis : (+) (+)
Posisi : (+) (+)
Perasaan getar : tidak diperiksa
Perasaan posisi : tidak diperiksa
Parestesi : (-)

Anggota gerak bawah


Motorik Kanan Kiri
Pergerakan : (+) (+)
Kekuatan : 5-5-5 5-5-5
Tonus : N N
Trofi : E E
Refleks Kanan Kiri
Refleks Patella : (+) (+)
Refleks Achilles : (+) (+)
Refleks Babinsky : (-) (-)
Refleks Chaddock : (-) (-)
Refleks Schaefer : (-) (-)
7
Refleks Oppenheim : (-) (-)
Refleks Gordon : (-) (-)
Refleks Gonda : (-) (-)
Refleks Bing : (-) (-)
Refleks Mendel-Bechterew : (-) (-)
Refleks Rosolimo : (-) (-)
Klonus paha : (-) (-)
Klonus kaki : (-) (-)
Tes Laseque : >70 >70
Tes Kernig : (-)
Sensibilitas Kanan Kiri
Sensibilitas taktil : (+) (+)
Perasaan nyeri : (+) (+)
Termal : (+) (+)
Diskriminasi dua titik : (+) (+)
Perasaan lokalis : (+) (+)
Posisi : (+) (+)
Perasaan getar : tidak diperiksa
Perasaan posisi : tidak diperiksa

Koordinasi, Gait dan Keseimbangan


Cara berjalan : normal gait
Test Romberg : tidak diperiksa
Ataxia : tidak diperiksa
Disdiadokinesia : tidak diperiksa
Rebound phenomenon : tidak diperiksa
Dismetri : (-)

Gerakan gerakan abnormal


Tremor : (-)
Athetose : (-)
Myocloni : (-)
Chorea : (-)

8
Alat Vegetatif
Miksi : dalam batas normal
Defekasi : dalam batas normal

STATUS LOKALIS
Regio Lumbosakral
Inspeksi : Alignment vertebra deviasi, edema (-), kemerahan (-),
deformitas (-)
Palpasi : Nyeri tekan paravertebral (-), nyeri tekan sacroiliaca (-),
nyeri tekan piriformis (-)/(-), spasme otot (-),
kalor (-)

Lingkup Gerak Sendi


LGS Trunkus Hasil Pemeriksaan Normal

Fleksi 0 80 0 80

Ekstensi 0 45 0 45

Lateral Banding D/S 0 45 0 45

Rotasi D/S 0 60 0 60

LGS Hip Dekstra Sinistra Normal

Fleksi Ekstensi 100 0 30 100 0 30 1200 30

Abduksi Adduksi 45 0 35 45 0 35 45-0-35

Internal Rotasi Eksternal Rotasi 45 0 45 45 0 45 45-0-45

Pemeriksaan neuromuskular
Ekstremitas Inferior
Pemeriksaan
Dekstra Sinistra

Gerakan Normal Normal

Kekuatan Otot (miotom) 5/5/5 5/5/5

9
Tonus Otot Normal Normal

Atrofi Otot - -

Refleks Fisiologis Normal Normal

Refleks Patologis - -

L2 (fleksor panggul) 5 5

L3 (ekstensor lutut) 5 5

L4 (dorsofleksor
5 5
pergelangan kaki)

L5 (ekstensor jempol kaki) 5 5

S1 (plantarfleksor
5 5
pergelangan kaki)

Sensibilitas Normal Normal

Tes Provokasi
Tes Nafziger : (-)
Tes Valsava : (-)
Tes Laseque : (-)/(-)
Tes Patrick : (-)/(-)
Tes Kontra Patrick : (-)/(-)
Tes Bragard : (-)/(-)
Tes Sicard : (-)/(-)
Femoral Nerve Test : tidak dilakukan pemeriksaan

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Foto Polos

10
Interpretasi:

Kesan: Skoliosis thorakolumbalis sudut cobb 50.

DIAGNOSIS

Diagnosis Klinis :Skoliosis thorakolumbalis


Diagnosis Etiologik : Skoliosis fungsional

Problem Rehabilitasi Medik


Impairment: Vertebra thorakolumbal membengkok ke sebelah kiri.
Disability :Pasien terkadang merasa pegal namun dapat melakukan aktivitas sehari-hari
dengan normal.
Handicapt :Tidak ada keterbatasan dalam melakukan aktifitas/kegiatan sebagai pelajar
maupun di masyarakat

PENATALAKSANAAN

Medikamentosa: -
Non medikamentosa :
Fisioterapi
Evaluasi:- Postur tubuh

11
- Alignment vertebra
- Simetrisitas skapula dan pelvis
Program: -Infrared di regio thorakolumbal 6x/evaluasi
-Back exercise

Okupasi Terapi
Evaluasi: - Postur tubuh
- Kebiasaan mengangkat atau membawa beban berat menggunakan salah satu sisi
tubuh
- Kebiasaan bertumpu dengan menggunakan satu sisi tubuh (seperti menulis, duduk
dan berbaring)
Program: - Edukasi cara melakukan AKS dengan proper body mechanism
- Postural Training
- menggunakan korset pada penderita skoliosis

Ortotik Prostetik
Evaluasi: - Postur tubuh
Program: penggunaan alat bantu penyangga belum diperlukan

Psikologi
Evaluasi : - Kontak, pengertian, dan komunikasi baik
- Semangat untuk melakukan terapi
Program :
- memberi dukungan mental pada pasien dan keluarga untuk menjalani pengobatan
- motivasi untuk berobat teratur

Sosial Medik
Evaluasi :
- Pasien tinggal di rumah permanen, 1 WC jongkok di dalam rumah. Rumah cukup jauh
dari sekolah serta lokasi rumah agak jauh dari rumah sakit
- Menilai kasur yang digunakan dan kursi
- Menilai cara penderita menggangkat dan membawa barang yang bertumpu pada tulang
belakang seperti kegiatan membawa tas dll
- Tidak ada masalah dalam biaya pengobatan
Program :
- Edukasi penderita untuk menggunakan kasur yang padat dan datar.
- Edukasi penderita untuk menggunakan kursi dengan punggung kursi berbentuk huruf S.

12
- Edukasi penderita cara mengangkat dan membawa barang tanpa menimbulkan nyeri
dengan proper back mechanism

Edukasi
Waktu beraktivitas:
Dianjurkan pada saat beraktivitas penderita jangan dulu mengangkat barang terlalu
berat pada satu sisi tubuh.
Dianjurkan untuk sementara waktu menggunakan korset.
Waktu berjalan:
Berjalanlah dengan posisi tegak, rileks dan jangan tergesa-gesa.
Waktu duduk:
Bila duduk seluruh punggung sebanyak mungkin kontak dengan punggung kursi.
Waktu tidur:
Sebaiknya menggunakan alas yang padat.
Sebaiknya tidur tidak miring pada satu sisi

Home program
Melakukan latihan-latihan dan edukasi di rumah:
- Menghindari mengangkat beban yang berat
- Back exercises
- Proper body mechanism : (cara berdiri, cara berjalan, cara duduk, cara tidur yang benar)

13
BAB 3
TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Anatomi Vertebra


Tubuh bagian belakang terdiri dari ruas-ruas yang disebut vertebrae. Masing-masing
dari keempat vertebrae (cervical, thoracal, lumbal dan sacral) memiliki lengkung curvature
tersendiri bila dilihat dari lateral. Columna vertebrae bentuknya tidak lurus seperti tiang,
tetapi terdapat pembengkokan-pembengkokan. Pada Gambar 1, tampak tulang belakang
dalam posisi lateral dan menunjukkan gambaran kurva tulang belakang yang. Poin A
mewakili daerah cervical dan menunjukkan sedikit lordotic. Poin B mewakili torakal dan
menunjukkan kifosis normal. Poin C merupakan daerah pinggang dan poin D merupakan
daerah sakral atau panggul yang masing-masing menunjukkan masing-masing kurva
normalnya (Anderson, 2007).

Gambar 1. Posisi lateral tulang belakang

14
Bentuk kolumna vertebralis tidak lurus, pada beberapa tempat membentuk lengkungan,
yaitu (Apley, 2013):
Lordosis servikalis : melengkung ke anterior didaerah servical
Kifosis torakalis : melengkung ke dorsal didaerah torakal
Lordosis lumbalis : melengkung ke anterior daerah lumbal
Kifosis sakralis : melengkung ke daerah sakral

Apabila kita lihat sebelah lateral, columna vertebralis itu berbentuk huruf S.
Lordosis : pembengkokan ke arah anterior
Kifosis : pembengkokan ke arah posterior
Apabila kolumna vertebralis kita lihat dari posterior, tampak juga tidak lurus. Terjadi
juga pembengkokan meskipun hanya sedikit. Pembengkokan itu disebut skoliosis (tampak
pada gambar 2). Skoliosis merupakan pembengkokan vertebra ke arah lateral. Ini terjadi
karena penggunaan posisi badan yang tidak simetris antara dextra dan sinistra (Anderson,
2007).

Gambar 2. Skoliosis dan Tulang Belakang Normal

3.2 Definisi Skoliosis


Skoliosis berasal dari bahasa Yunani yang berarti lengkungan dan merupakan suatu
kondisi patologik. Vertebra servikal, torakal, dan lumbal membentuk kolumna vertikal dengan
pusat vertebra berada pada garis tengah. Skoliosis adalah deformitas tulang belakang yang
menggambarkan deviasi vertebra ke arah lateral dan rotasional (Murphy, 2010). Bentuk
skoliosis yang paling sering dijumpai adalah deformitas tripanal dengan komponen lateral,
anterior posterior dan rotasional (Satria, 2011).
Skoliosis merupakan kelainan tulang belakang dimana tulang belakang mengalami
pembengkokan ke arah samping (lateral curvature) membentuk huruf S atau C, dapat
15
dilihat ketika kelengkungannya semakin parah dan juga mengakibatkan ketidaknyamanan
(Suyono, 2001). Skoliosis adalah suatu kelainan kelengkungan tulang belakang atau spinal
kurvatura yang terdiri dari kelengkungan kearah lateral yang disertai dengan pemutaran atau
rotasi dari tulang belakang (Tirza, 2010).

3.3 Epidemiologi
Angka kejadian Skoliosis adalah kira-kira dua kali lebih sering pada perempuan
daripada laki-laki. Hal ini dapat dilihat pada semua umur, namun sering terlihat pada usia
lebih dari 10 tahun. Seringkali seseorang dengan Skoliosis telah mengalami kondisi ini sejak
masa kanak-kanak, namun karena Skoliosis berkembang sangat cepat, kebanyakan kasus
skoliosis tidak terdiagnosa sampai usia 10-14 tahun (Suyono, 2001).
Berdasarkan pada The National Scoliosis Foundation, di Amerika Serikat didapatkan
skoliosis pada 6.000 orang. Dan 2% hingga 4% adalah idiopatik skoliosis pada dewasa.
Idiopatik skoliosis pada dewasa atau Adolescent Idiopathic scoliosis (AIS) terhitung pada
80% dari kasus idiopatik skolisosis dan sering terjadi berumur antara 10 hingga16 tahun
(Kuester, 2015).
Infantile idiopathic scoliosis atau idiopatik skoliosis pada bayi sering ditemukan pada
umur 6 bulan dan banyak terjadi pada laki-laki dan keturunan Eropa. Kelengkungannya sering
terjadi pada tulang belakang segmen thoraks dan melengkung ke arah kiri. Pada banyak kasus,
kelengkungan tersebut dapat diobati pada saat umur 3 tahun (Kuester, 2015).
Juvenile idiopathic soliosis atau Skoliosis pada anak-anak hampir sama dengan dewasa.
Perempuan lebih banyak terkena pada tipe ini. Kelengkungan skoliosis pada anak-anak
seringnya ke arah kanan (Kuester, 2015).

3.4 Etiologi
Walaupun penyebab skoliosis adalah idiopatik, namun beberapa perbedaan teori yang
menunjukkan penyebabnya yaitu seperti faktor genetik, hormonal, abnormalitas pertumbuhan,
gangguan biomekanik dan neuromuskular tulang, otot dan jaringan fibrosa (Soultanis, 2008).
Faktor genetik
Dilaporkan bahwa adanya peningkatan insiden pada keluarga pasien dengan skoliosis
idiopatik dibandingkan dengan pasien yang tidak mempunyai riwayat keluarga dengan
skoliosis (Nachemson AL & Sahlstrand A, 2007).
Faktor hormonal
Defisiensi melatonin menjadi salah satu penyebab skoliosis. Sekresi melatonin pada
malam hari menyebabkan penurunan progresivitas skoliosis dibandingkan dengan pasien
16
tanpa progresivitas. Hormon pertumbuhan juga diduga mempunyai peranan pada
perkembangan skoliosis. Kecepatan progresivitas skoliosis pada umumnya dilaporkan pada
pasien dengan gangguan hormone pertumbuhan.
Perkembangan spinal dan teori biomekanik
Abnormalitas dari mekanisme pertumbuhan spinal juga menunjukkan penyebab dari
perkembangan dan progresivitas skoliosis. Dimana dihubungkan dengan waktu kecepatan
pertumbuhan pada remaja (Nachemson AL & Sahlstrand A, 2007)..
Abnormalitas jaringan
Beberapa teori menyatakan bahwa komponen struktural pada komponen tulang
belakang (otot, tulang, ligamentum dan atau discus) bila terdapat kelainan maka bisa menjadi
penyebab skoliosis. Beberapa teori didasari atas observasi pada kondisi seperti Marfan
syndrome (gangguan fibrillin), duchenne muscular dystrophy (gangguan otot) dan displasia
fibrosa pada tulang.

3.5 Faktor Resiko


Ada beberapa hal yang termasuk dalam faktor resiko yang mengakibatkan terjadinya
skoliosis, yaitu (Anderson, 2007):
a. Jenis kelamin : Lengkung curvature tulang belakang pada anak perempuan
progresivitasnya cenderung cepat memburuk daripada anak laki-laki.
b. Usia : Semakin muda usia munculnya skoliosis, semakin besar kemungkinannya menjadi
lebih parah lengkung curvaturenya.
c. Sudut kurva : Semakin besar sudut, semakin besar kemungkinan akan memburuk keadaan
tulang belakangnya.
d. Lokasi : Skoliosis di tulang belakang bagian atas lebih besar kemungkinannya menjadi
buruk daripada skoliosis di tulang belakang bagian bawah.
Resiko tinggi perkembangan lengkung curvature dikaitkan dengan jenis kelamin, pola
kurva (toraks kanan dan kurva ganda pada anak perempuan dan kurva lumbal pada anak laki-
laki), waktu terjadinya (anak perempuan sebelum menstruasi), usia (waktu percepatan
pubertas) dan lengkung kurvanya (>30 derajat), disisi lain kurva toraks kiri menunjukkan
kecenderungan lemah untuk mengalami perbaikan (Soultanis K, 2008).

3.6 Klasifikasi
Deskripsi kurva skoliosis yaitu :
a. Arah skoliosis ditentukan berdasarkan letak apexnya.
17
b. Kurva mayor/kurva primer adalah kurva yang paling besar, dan biasanya
struktural. Umumnya pada skoliosis idiopatik terletak antara T4 s/d T12
c. Kurva kompensatori adalah kurva yang lebih kecil, bisa kurva struktural
maupun non struktural. Kurva ini membuat bahu penderita sama tingginya.
d. Kurva mayor double, disebut demikian jika sepadan besar
e. Apex kurva adalah vertebra yang letaknya paling jauh dari garis tengah tulang
belakang (Sariani S, 2013).

Adapun klasifikasi dari derajat kurva skoliosis :


a. Skoliosis ringan : kurva kurang dari 20
b. Skoliosis sedang : kurva 20 40/50. Mulai terjadi perubahan struktural vertebra
dan costa.
c. Skoliosis berat : lebih dari 40 /50. Berkaitan dengan rotasi vertebra yang lebih besar,
sering disertai nyeri, penyakit sendi degeneratif, dan pada sudut lebih dari 60 - 70
terjadi gangguan fungsi kardiopulmonal bahkan menurunnya harapan hidup
(Tirza,2010)

Menurut bentuknya dapat diklasifikasikan menjadi :


a. Kurva C : umumnya di thoracolumbal, tidak terkompensasi, kemungkinan karena
posisi asimetri dalam waktu lama, kelemahan otot, atau sitting balance yang tidak
baik.
b. Kurva S : lebih sering terjadi pada skoliosis idiopati, di thoracal kanan dan lumbal
kiri, umumnya structural (Suriani S, 2013).

Skoliosis pada klasifikasi berdasarkan usia penderita terdiri atas tipe; Infantile
terjadi pada usia 0 hingga 3 tahun, Juvenile muncul di antara usia 4 hingga 9 tahun,
dan Adolescent kelainannya muncul di antara usia 10 tahun hingga akhir masa
pertumbuhan tulang (16-17 tahun). Sebab-sebab pembengkokan (skoliosis) belum
seluruhnya diketahui (Soultanis K, 2008).
a. Nonstruktural
Skoliosis tipe ini bersifat reversibel (dapat dikembalikan ke bentuk semula) dan
tanpa perputaran (rotasi) dari tulang belakang
1) Skoliosis postural : disebabkan oleh kebiasaan postur tubuh yang buruk
2) Spasme otot dan rasa nyeri yang dapat berupa:
Nyeri pada spinal nerve roots : skoliosis skiarik
Nyeri pada tulang belakang : dapat disebabkan oleh inflamasi atau
keganasan
Nyeri pada abdomen : dapat disebabkan oleh apendisitis

18
3) Perbedaan panjang antara tungkai bawah
Actual shortening
Apparent shortening
Kontraktur adduksi pada sisi tungkai yang lebih pendek
Kontraktur abduksi pada sisi tungkai yang lebih panjang
b. Struktural
Skoliosis tipe ini bersifat irreversibel dan dengan rotasi dari tulang belakang
1) Idiopatik (tidak diketahui penyebabnya) : 80% dari seluruh skoliosis
Bayi : dari lahir-3 tahun
Anak-anak : 4-9 tahun
Remaja : 10-19 tahun (akhir masa pertumbuhan)
Dewasa : > 19 tahun
2) Osteopatik
Kongenital (didapat sejak lahir)
Terlokalisasi :
Kegagalan pembentukan tulang belakang
(hemivertebrae)
Kegagalan segmentasi tulang belakang (unilateral bonny
bar)

General
Osteogenesis imperfecta
Arachnodactily
Didapat
Fraktur dislokasi dari tulang belakang, trauma
Rickets dan Osteomalasia
Emfisema, Thoracoplasty

3) Neuropatik
Congenital
Spina bifida
Neurofibromatosis
Didapat
Poliomielitis
Paraplegia
Cerebral palsy
Friedreichs ataxia
Syringomielia

Sedangkan menurut letaknya, dapat diklasifikasikan menjadi thoracal, lumbal,


atau kombinasi (Sabatini, 2002)

19
Gambar 3. Skoliosis berdasarkan letak vertebranya.

3.7 Patofisiologi
Skoliosis diakibatkan salah satunya dari posisi tubuh yang salah misalnya duduk dengan
berulang-ulang, punggung terlalu membungkuk, kepala terlalu terangkat, menyandarkan
tubuh pada posisi yang salah pada satu sisi tubuh, maka hal tersebut kerja otot tidak akan
pernah seimbang. Sikap tubuh yang tidak natural atau tidak baik bisa disebabkan oleh
berbagai faktor antara lain peralatan kerja, lingkungan kerja, jenis pekerjaan atau
ketidaktahuan seseorang tentang sikap tubuh yang optimal baik dalam pengertian statis
maupun dinamis (Suriani S, 2013).
Skoliosis merupakan kelainan postur dimana sekilas penderita tidak mengeluh sakit atau
yang lain, tetapi suatu saat dalam posisi yang dibutuhkan suatu kesiapan tubuh membawa
beban tubuh misalnya berdiri, duduk dalam waktu yang lama maka kerja otot tidak akan
pernah seimbang (Paul, 2005).
Hal ini akan mengakibatkan suatu mekanisme proteksi dari otot-otot tulang belakang
untuk menjaga keseimbangan, manifestasinya yang terjadi justru overuse pada salah satu sisi
otot yang dalam waktu terus menerus dan hal yang sama terjadi ketidak seimbangan postur
tubuh ke salah satu sisi tubuh. Jika hal ini berlangsung terus-menerus pada sistem
musculoskeletal tulang belakang akan mengalami bermacam-macam keluhan antara lain nyeri
otot, keterbatasan gerak, dari tulang belakang, back pain, kontraktur otot, dan menumpuknya
masalah yang lebih serius seperti gangguan pada sistem pernapasan, sistem pencernaan dan
system kardiovaskuler (Suyono, 2001).
Pembengkokan yang disebabkan karena salah sikap terjadi pada masa anak-anak antara
umur 6-17 tahun dan dapat disebabkan karena kebiasaan yang salah, terutama dalam sikap
duduk di sekolah. Ketegangan otot pada vertebra salah satu sisi dapat meningkatkan derajat
lengkungan ke arah lateral atau skoliosis (Suriani, 2013).

20
3.8 Manifestasi Klinis

Berikut ini merupakan gejala-gejala klinis yang dapat dijumpai pada penderita skoliosis
(Harjono, 2005).:
a. Badan condong ke lateral flexion
b. Salah satu bahunya lebih tinggi dari yang lain
c. Salah satu hip lebih tinggi dari yang lain
d. Terdapat penonjolan salah satu scapula (shoulder blade)
e. Payudara yang asimetris pada wanita
f. Rib cage menonjol di satu sisi
g. Kepala tidak sejajar langsung dengan panggul

Ketidaklurusan tulang belakang ini akhirnya akan menyebabkan nyeri persendian


di daerah tulang belakang pada usia dewasa dan kelainan bentuk dada, hal tersebut
mengakibatkan (Paul, 2005):
a. Penurunan kapasitas paru, pernafasan yang tertekan, penurunan level oksigen akibat
penekanan rongga tulang rusuk pada sisi yang cekung.

21
b. Pada skoliosis dengan kurva kelateral atau arah lengkungan ke kiri, jantung akan
bergeser kearah bawah dan ini akan dapat mengakibatkan obstruksi intrapulmonal
atau menimbulkan pembesaran jantung kanan, sehingga fungsi jantung akan
terganggu.
Di bawah ini adalah efek skoliosis terhadap paru dan jantung meliputi :
Efek Mild skoliosis (kurang dari 20o tidak begitu serius, tidak memerlukan tindakan
dan hanya dilakukan monitoring)
Efek Moderate skoliosis (antara 25 40o ), tidaklah begitu jelas , namun suatu study
terlihat tidak ada gangguan, namun baru ada keluhan kalau dilakukan exercise.
Efek Severe skoliosis (> 400 ) dapat menimbulkan penekanan pada paru, pernafasan
yang tertekan, dan penurunan level oksigen, dimana kapasitas paru dapat berkurang
sampai 80%. Pada keadaan ini juga dapat terjadi gangguan terhadap fungsi jantung.
Efek Very Severe skoliosis (Over 1000 ). Pada keadaan ini dapat terjadi trauma pada
pada paru dan jantung, osteopenia and osteoporosis .

3.9 Diagnosa
Pemeriksaan Fisik
Tabel 1. Pemeriksaan fisik pada skoliosis

Inspeksi
Terdapat ciri- ciri penting, yaitu (Paul, 2005):
1. Tulang belakang melengkung secara abnormal ke arah samping.

22
2. Bahu kanan dan bahu kiri tidak simetris. Salah satu bahu ada yang letaknya lebih
tinggi.
3. Pinggang yang tidak simetris, salah satu pinggul lebih tinggi atau lebih menonjol
daripada yang lain.
4. Ketika membungkuk ke depan, terlihat dadanya tidak simetris.
5. Badan miring ke salah satu sisi, paha kirinya lebih tinggi daripada paha kanan .
6. Ketika memakai baju, perhatikan lipatan baju yang tak rata, batas celana yang tak
sama panjang.
7. Untuk skoliosis yang Idiopatik kemungkinan terdapat kelainan yang mendasarinya,
misalnya neurofibromatosis yang harus diperhatikan adalah bercak caf au lait
atau Spina Bifida yang harus memperhatikan tanda hairy patches (sekelompok
rambut yg tumbuh di daerah pinggang).
8. Pasien berjalan dengan kedua kaki lebar.
9. Perut menonjol.
10. Sedangkan pada kasus yang berat dapat menyebabkan :
Kepala agak menunduk ke depan
Punggung lurus dan tidak mobile
Pangggul yang tidak sama tinggi

Palpasi
Pada palpasi dapat kita raba apakah terdapat krepitasi, adanya tanda-tanda
inflamasi dan ada tidaknya gibus.

Pemeriksaan Penunjang
X-RayProyeksi
Foto polos harus diambil pada posisi posterior dan lateral penuh terhadap tulang
belakang dan krista iliaka dengan posisi tegak, untuk menilai derajat kurva dengan
metode Cobb dan menilai maturitas skeletal dengan metode Risser. Kurva structural
akan memperlihatkan rotasi vertebra ; pada proyeksi posterior-anterior, vertebra yang
mengarah ke puncak prosessus spinosus menyimpang kegaris tengah; ujung atas dan
bawah kurva diidentifikasi sewaktu tingkat simetri vertebra diperoleh kembali
(Anderson, 2007).

23
Gambar 4. Rontgen skoliosis

Pemeriksaan Spesifik
a. The Adams Forward Bending test
Pemeriksaan dilakukan dengan melihat pasien dari belakang yaitu dengan
menyuruhnya membungkuk 90 ke depan dengan lengan menjuntai ke bawah dan
telapak tangan berada pada lutut.. Temuan abnormal berupa asimetri ketinggian iga atau
otot-otot paravertebra pada satu sisi, menunjukan rotasi badan yang berkaitan dengan
kurvatura lateral. Skoliosis torakalis kanan akan menunjukkan lengkung konveks ke kiri
pada daerah torak yang merupakan tipe kurva idiopatik yang umum. Deformitas tulang
iga dan asimetri garis pinggang tampak jelas pada kelengkungan 30 atau lebih.
Jika pasien dilihat dari depan asimetri payudara dan dinding dada mungkin
terlihat. Tes ini sangat sederhana, hanya dapat mendeteksi kebengkokannya saja tetapi
tidak dapat menentukan secara tepat kelainan bentuk tulang belakang. Pemeriksaan
neurologis (saraf) dilakukan untuk menilai kekuatan, sensasi atau reflex (Yohanes,
2009).

24
Gambar 5 The Adams Forward Bending test

b. Metode Cobb
Test ini digunakan untuk mengukur sudut kelengkungan dari tulang belakang .
Caranya:
1. Cari ruas tulang yang paling miring di bagian atas kurva dan menarik garis sejajar
dengan ujung ruas tulang belakang.
2. Cari ruas tulang yang paling miring di bagian bawah kurva dan menarik garis sejajar
dengan ujung ruas tulang belakang.

3. Buat garis siku dari garis yang dibuat pada point pertama dan point kedua.

4. Sudut yang terbentuk antara dua garis paralel tersebut adalah sudut Cobb.
Sudut Cobb adalah ukuran kelengkungan tulang belakang yang membantu dokter
untuk menentukan jenis pengobatan diperlukan. Sudut Cobb sebesar 10 derajat
dianggap sebagai sudut minimum untuk menentukan angulasi Skoliosis.
Sebuah kurva skoliosis 10 sampai 15 derajat biasanya tidak memerlukan
pengobatan/ perawatan kecuali pemeriksaan rutin dengan dokter ortopedi sampai pasien
telah melalui pubertas dan kelengkungan tulang belakang tidak bertambah parah setelah
pubertas.
Jika kurva scoliosis adalah 20 sampai 40 derajat, dokter ortopedi umumnya akan
menganjurkan pemakaian brace untuk menjaga tulang belakang dari pertambahan sudut
lengkungan. Ada beberapa jenis brace yang ditawarkan, di antaranya untuk dipakai
selama 18 sampai 20 jam sehari, yang lain hanya pada saat malam hari. Brace yang
dianjurkan untuk dipakai akan tergantung pada gaya hidup pasien, dan tingkat
keparahan dari kurva.
Interpretasi kurva :
1. Mild: Curve <10-15 derajat
25
2. Moderate: Curve 20-50 derajat

3. Severe: Curve >45-50 derajat

Gambar 6. Metode Cobb

c. Scoliometer (inclinometer)
Scoliometer (inclinometer) adalah sebuah alat untuk mengukur sudut kurva pada
tulang belakang pada procesus spinosus yang asimetris (Gordon,et.al, 2008). Cara
pengukuran dengan inclinometer dilakukan pada pasien dengan posisi membungkuk,
kemudian atur posisi pasien karena posisi ini akan berubah-ubah tergantung pada lokasi
kurvatura scoliosis, sebagai contoh kurva dibawah vertebra lumbal akan membutuhkan
posisi membungkuk lebih jauh dibanding kurvapada thorokal.Kemudian letakkan
inclinometer pada apeks kurva, biarkan inclinometer tanpa ditekan, kemudian baca
angka derajat kurva. Pada screening, pengukuran ini

26
signifikan apabila hasil yang diperoleh labih besar dari 5 derajat, hal ini biasanya
menunjukkan derajat adanya rib hump. Ini disebabkan karna adanya rotasi pada daerah
vertebra thorakal, dan ini juga dapat menunjukan kelengkungan vertebra. Perlu dicatat
hal ini hanya menunjukan adanya kelainan pada spine akan tetapi tidak menunjukan
tingkat keparahan dan deformitas tersebut (Gordon, 2008).

Gambar 7. Scoliometer/Inclinometer

3.10 Terapi
Jenis terapi yang dibutuhkan untuk skoliosis tergantung pada banyak faktor. Sebelum
menentukan jenis terapi yang digunakan, dilakukan observasi terlebih dahulu. Terapi
disesuaikan dengan etiologi, umur skeletal, besarnya lengkungan, dan ada tidaknya
progresivitas dari deformitas. Keberhasilan terapi sebagian tergantung pada deteksi dini dari
skoliosis.

Fisioterapi
1. Modalitas Fisik misalnya Cotrel traction

27
Gambar 8. Cotrel traction

2. Terapi Latihan
Prinsip terapi latihan pada skoliosis adalah (Romano, 2012):
Mengembangkan mobilitas sendi-sendi yang telah hilang
Meregangkan otot yang kontraktur
Meningkatkan kekuatan otot
Memutar balik dari rotasi deformitas vertebra
Mengembangkan muscular seluruh badan supaya mampu memelihara curve yang
telah dikoreksi
Memelihara keseimbangan dan keindahan sikap yang telah dikoreksi semaksimal
mungkin
Membuat kompensasi apabila koreksi tidak mungkin
Latihan peregangan sisi concave, Latihan elongasi trunk Latihan peregangan otot
leher, bahu atau hip, Latihan penguatan otot sisi convex, Latihan deep breathing untuk
meningkatkan fungsi paru, dapat dilakukan bersamaan dengan latihan penguatan
abdominal, stretching trunk, dan saat stretching otot pectoralis , Latihan derotasi trunk,
Sambil deep breathing exercise dan lateral fleksi trunk (untuk meregangkan sisi
concave), Latihan Yoga disarankan melakukan derotasi vertebra (Kaiser, 2008).
Macam-macam gerakan terapi latihan pada skoliosis adalah sebagai berikut:

28
29
Orthotik
Alat penyangga, digunakan untuk skoliosis dengan kurva 25-40 dengan skeletal yang
tidak matang (immature). Alat penyangga tersebut antara lain :
Penyangga Milwaukee
Milwaukee brace atau Cervico Torakal Lumbo Sacral Orthosis (CTLSO) merupakan
brace yang memberikan sanggahan pada pelvis dan koreksi dengan deformitas rotatorik
30
secara statik. Indikasi penggunaan Milwaukee Brace meliputi skoliosis tahap awal yang
sedang berkembang dan mendekati sudut kurvatura 20o . Kurvatura yang melebihi 50o bukan
merupakan kandidat yang tepat untuk penggunaan Milwaukee Brace
Alat ini tidak hanya mempertahankan tulang belakang dalam posisi lurus, tetapi alat ini
mendorong pasien agar menggunakan otot-ototnya sendiri untuk menyokong dan
mempertahankan proses perbaikan tersebut. Penyangga harus dipakai 23 jam sehari. Alat
penyangga ini harus terus digunakan terus sampai ada bukti objektif yang nyata akan adanya
kematangan rangka dan berhentinya pertumbuhan tulang belakang selanjutnya (Suriani,
2013).

Gambar 10. Milwaukee Brace

Penyangga Boston
Suatu penyangga ketiak sempit yang memberikan sokongan lumbal atau torakolumbal
yang rendah. Penyangga ini digunakan selama 16-23 jam sehari sampai skeletalnya matur.
Terapi ini bertujuan untuk mencegah dan memperbaiki deformitas yang tidak dikehendaki
oleh pasien (Suriani, 2013).
Pemakaian Boston brace paling efektif pada skoliosis dengan puncak kurva di T6
sampai L3.20 SpineCor merupakan bentuk ortosis yang fleksibel, dengan tujuan untuk
mengurangi hambatan fisik dan meningkatkan tingkat kepatuhan pasien menggunakan ortosis
tersebut (Emans, 2013).

3.11 Komplikasi
Skoliosis adalah penyakit 3 dimensi yang sangat komplek walaupun prinsipnya berasal
dari kurva ke arah lateral yang kemudian membuat vertebra berputar. Perputaran vertebra
merubah bentuk dan volume dari rongga thorak maupun rongga abdominal. Sehingga

31
berujung pada organ di dalamnya misalnya berkurangnya sistem kerja kardiopulmonal dan
dapaat menimbulkan nyeri (Harjono, 2005).
Komplikasi-komplikasi yang dapat timbul antara lain :
a. Gangguan jantung dan paru karena adanya perubahan struktur rib cage
b. Gangguan punggung terkait dengan struktur terlibat misalnya spasme otot, saraf terjepit
yang menyebabkan nyeri, fatigue, ataupun muscle weakness.
c. Deformitas berat
d. Memperburuk penampilan
e. Penyakit sendi degeneratif

3.12 Prognosis
Prognosis tergantung atas besarnya derajat kurva, deformitas dan maturitas. Derajat
kurva yang ringan dengan skeletal yang sudah matur umumnya tidak mengalami progresif
(Suriani S, 2013). Pada umumnya skoliosis tidak akan memburuk dalam waktu yang singkat.
Semakin muda usia munculnya skoliosis, semakin besar kemungkinan menjadi lebih parah,
sebab waktu perkembangan skoliosis juga menjadi lebih lama. Semakin besar sudut, semakin
besar skoliosis kemungkinan akan memburuk (Safitri, 2010). Adapun kondisi yang dapat
memperburuk scoliosis adalah:
a. Obesitas
Kelebihan berat badan dapat memperberat beban terhadap tulang belakang disamping
memengaruhi keberhasilan pemakaian brace dan latihan.
b. Usia
Semakin muda usia munculnya skoliosis, semakin besar kemungkinan gangguan ini akan
menjadi semakin parah jika tidak diperbaiki.
c. Sudut kurva
Semakin besar sudut, semakin besar kemungkinan akan mengalami perburukan apabila
tidak dilakukan tindakan.
d. Lokasi
Skoliosis di bagian tengah atau bawah tulang punggung kemungkinan menjadi buruk
ketimbang skoliosis di bagian atas karena beban berat badan di bagian bawah lebih besar.

32
DAFTAR PUSTAKA

Anderson S. 2007. Spinal Curves and Scoliosis Radiologic Technology September-October


Vol.79/No.1. Virginia.
Apley GA, Solomon L. 2013. Buku Ajar : Ortopedi dan Fraktur Sistem Apley . Edisi 7.
Jakarta : Widya Medika,.

Ballinger P, Frank E. 2003. Merrills Atlas of Radiographic Positions and Radiographic


Procedures. 10th ed. St. Louis, MO: Mosby Inc.
Braddon L Randall, Chan L, Harrast MA,. 2011. Physical Medicine & Rehabilitation. Ed
4th.Elsevier.
Emans JB, Hedequist D, Miller R, Cassella M, Hresko MT, Karin L, et al. Reference Manual
for the Boston Scoliosis Brace. Boston Brace International, Inc. 2003
Gordon.C.M., Katzman. D.K., Rausen. D.S., Woods.E.R. 2006. Adolescent Health Care A
practical Guide. Fifth Edition.

Harjono, J. 2005 . Scoliosis Temu Ilmiah Tahunan Fisiterapi XX. Cirebon


Jamaludin. 2006. Pertumbuhan Tulang Tidak Normal. Medan.
Janicki, J. A., & Alman, B. (2007). Scoliosis: Review of Diagnosis and Treatment. Paediatr
Child Health, 771-776.
Kaiser. 2008. Scoliosis Exercises Physical Therapy Department. Harvard Medical School.
Kuester V. Idiopathic Scoliosis [homepage on the Internet]. Nodate [cited June 2017].
Available from: http://w3.cns. org/university/pediatrics/Scoliosis.html
Murphy K, Wunderlich CA, Pico EL, Driscoll SW, Moberg-Wolff E, Rak M. 2010.
Orthopaedic and musculoskeletal condition. In: Alexander MA, Matthews DJ
(editors). Pediatic Rehabilitation Principles and Practice (Fourth Edition). New
York: Demos Medical Publishing
Nachemson AL & Sahlstrand A. 2007. Etiologic factors in adolescent idiopathic scoliosis.
Spine. 2:176-84
Parjoto, S. 2007. Pentingnya Memahami Sikap Tubuh Dalam Kehidupan. Majalah Fisioterapi
Indonesia Vol. 7 No. 11/Mei 2007. Jakarta: IFI Graha Jati Asih.
Paul SM. 2005. Scoliosis and other spinal deformities. In: DeLisa JA, Frontera FW, Gans
BM, Walsh NE, Robinson LR, editors. Physical Medicine and Rehabilitation:
Principles and Practice (Fourth Edition). Philadelphia: Lippincott Williams &
Wilkins 679-97.

33
Romano M, Minozzi S, Bettany-Saltikov J, Zaina F, Chockalingam N, Kotwicki T, et al.
Exercises for adolescent idiopathic scoliosis (Protocol). The Cochrane Library.
Issue 4. New Jersey: JohnWiley & Sons, Ltd.; 2012
Sabatini. 2002. Radiologic Evaluation of Scoliosis in Young People. Harvard Medical School
Year III.

Safitri. W. P.,2010. Waspadai Scoliosis Pada Anak. FK Unair: Surabaya.

Satria M. 2011. Deskripsi Gangguan Bentuk Tulang Belakang. FKUI: Jakarta.


Soultanis K. 2008. Identification of a high-risk young population for progressive idiopathic
scoliosis. from 5th International Conference on Conservative Management of
Spinal Deformities Athens, Greece. 35 April 2008

Suriani S. 2013. Tesis Swiss Ball Exercise dan Koreksi Postur Tidak Terbukti Lebih Baik
Dalam Memperkecil Derajat Skoliosis Idiopatik Daripada Klapp Exercise dan
Koreksi Postur Pada Anal Usia 11-13 tahun. Udayana Denpasar.

Suyono, Slamet KE. dkk. 2001. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid ll Edisi Ketiga. Jakarta:
Balai Penerbit FKUI.

Tirza Z.Tamin. 2010. Bahan Mata Ajar Fisioterapi Pediatri. Fisioterapi UI. Jakarta: Vokasi
Kedokteran

Yohanes, P. 2009. Terapi latihan pada penderita skoliosis dengan metode klapp. FKUA:
Surabaya.

34