Anda di halaman 1dari 29

Bab II

Tinjauan Pustaka

1. Faktor Fisika

a. Penerangan

- Dasar Teori

Pencahayaan didefinisikan sebagai jumlah cahaya yang jatuh pada permukaan.


Satuannya adalah lux (1 lm/m2), dimana lm adalah lumens atau lux cahaya. Salah
satu faktor penting dari lingkungan kerja yang dapat memberikan kepuasan dan
produktivitas adalah adanya penerangan yang baik. Penerangan yang baik adalah
penerangan yang memungkinkan pekerja dapat melihat obyek-obyek yang
dikerjakan secara jelas, cepat dan tanpa upaya-upaya yang tidak perlu.

Penerangan yang cukup dan diatur dengan baik juga akan membantu menciptakan
lingkungan kerja yang nyaman dan menyenangkan sehingga dapat memelihara
kegairahan kerja. Telah kita ketahui hampir semua pelaksanaan pekerjaan
melibatkan fungsi mata, dimana sering kita temui jenis pekerjaan yang
memerlukan tingkat penerangan tertentu agar tenaga kerja dapat dengan jelas
mengamati obyek yang sedang dikerjakan. Intensitas penerangan yang sesuai
dengan jenis pekerjaannnya jelas akan dapat meningkatkan produktivitas kerja.
Armstrong (1992) menyatakan bahwa intensitas penerangan yang kurang dapat
menyebabkan gangguan visibilitas dan eyestrain. Sebaliknya intensitas
penerangan yang berlebihan juga dapat menyebabkan glare, reflections, excessive
shadows, visibility dan eyestrain. Semakin halus pekerjaan dan menyangkut
inspeksi serta pengendalian kualitas, atau halus detailnya dan kurang kontras,
makin tinggi illuminasi yang diperlukan, yaitu antara 500 lux sampai dengan
1000 lux (Sumamur, 1996).

Tenaga kerja disamping harus dengan jelas dapat melihat obyek-obyek yang
sedang dikerjakan juga harus dapat melihat dengan jelas pula benda atau alat dan
tempat disekitarnya yang mungkin mengakibatkan kecelakaan. Maka penerangan
umum harus memadai. Pekerjaan yang berbahaya harus dapat diamati dengan
jelas dan cepat, karena banyak kecelakaan terjadi akibat penerangan kurang
memadai.

Secara umum jenis penerangan atau pencahayaan dibedakan menjadi dua yaitu
penerangan buatan (penerangan artifisial) dan penerangan alamiah (dan sinar
matahari). Untuk mengurangi pemborosan energi disarankan untuk mengunakan
penerangan alamiah, akan tetapi setiap tempat kerja harus pula disediakan
penerangan buatan yang memadai. Hal ini untuk menanggulangi jika dalam
keadaan mendung atau kerja di malam hari. Perlu diingat bahwa penggunaan
penerangan buatan harus selalu diadakan perawatan yang baik oleh karena lampu
yang kotor akan menurunkan intensitas penerangan sampai dengan 30%. Tingkat
penerangan pada-tiap tiap pekerjaan berbeda tergantung sifat dan jenis
pekerjaannya.

Pengaruh dan penerangan yang kurang memenuhi syarat akan mengakibatkan


dampak, yaitu:

1. Kelelahan mata sehingga berkurangnya daya dan efisiensi kerja.


2. Kelelahan mental.
3. Keluhan pegal di daerah mata dan sakit kepala di sekitar mata.
4. Kerusakan indra mata dan lain-lain.

Selanjutnya pengaruh kelelahan pada mata tersebut akan bermuara kepada


penurunan performansi kerja, sebagai berikut:

1. Kehilangan produktivitas
2. Kualitas kerja rendah
3. Banyak terjadi kesalahan
4. Kecelakan kerja meningkat

Intensitas penerangan yang dibutuhkan di masing-masing tempat kerja ditentukan


dan jenis dan sifat pekerjaan yang dilakukan. Semakin tinggi tingkat ketelitian
suatu pekerjaan, maka akan semakin besar kebutuhan intensitas penerangan yang
diperlukan, demikian pula sebaliknya. Standar penerangan di Indonesia telah
ditetapkan seperti tersebut dalam Peraturan Menteri Perburuhan (PMP) No. 7
Tahun 1964, tentang syarat-syarat kesehatan, kebersihan dan penerangan di
tempat kerja. Secara ringkas intensitas penerangan yang dimaksud dapat
dijelaskan, sebagai berikut:
1. Penerangan untuk halaman dan jalan-jalan di lingkungan perusahaan harus
mempunyai intensitas penerangan paling sedikit 20 lux.
2. Penerangan untuk pekerjaan-pekerjaan yang hanya membedakan barang
kasar dan besar paling sedikit mempunyai intensitas penerangan 50 lux.
3. Penerangan yang cukup untuk pekerjaan yang membedakan barang-barang
kecil secara sepintas paling sedikit mempunyai intensitas penerangan 100
lux.
4. Penerangan untuk pekerjaan yang membeda-bedakan barang kecil agak teliti
paling sedikit mempunyai intensitas penerangan 200 lux.
5. Penerangan untuk pekerjaan yang membedakan dengan teliti dan barang-
barang yang kecil dan halus, paling sedikit mempunyai intensitas penerangan
300 lux.
6. Penerangan yang cukup untuk pekerjaan membeda-bedakan barang halus
dengan kontras yang sedang dalam waktu yang lama, harus mempunyai
intensitas penerangan paling sedikit 500 - 1000 lux.
7. Penerangan yang cukup untuk pekerjaan membeda-bedakan barang yang
sangat halus dengan kontras yang kurang dan dalam waktu yang lama, harus
mempunyai intensitas penerangan paling sedikit 2000 lux.

Tabel 1 . Intensitas cahaya di ruang kerja

Jenis Kegiatan Tingkat Keterangan


Pencahayaan
Minimal (lux)
Pekerjaan kasar 100 Ruang penyimpanan dan peralatan
dan tidak terus- atau instalasi yang memerlukan
menerus pekerjaan kontinyu
Pekerjaan kasar 200 Pekerjaan dengan mesin dan
dan terus- perakitan kasar
menerus
Pekerjaan rutin 300 Ruang administrasi, ruang kontrol,
pekerjaan mesin dan perakitan
Pekerjaan agak 500 Pembuatan gambar atau bekerja
halus dengan mesin kantor, pemeriksaan
atau pekerjaan dengan mesin
Pekerjaan halus 1000 Pemilihan warna, pemrosesan tekstil,
pekerjaan mesin halus dan perakitan
halus
Pekerjaan 1500 Mengukir dengan tangan,
sangat halus pemeriksaan pekerjaan mesin, dan
tidak
perakitan yang sangat halus
menimbulkan
bayangan
Pekerjaan 3000 Pemeriksaan pekerjaan, perakitan
terinci sangat halus
tidak
menimbulkan
bayangan

b. Suhu
- Alat Pengukur
Alat yang digunakan untuk pengukuran suhu lingkungan adalah Wet Bulb Globe
Temperature Index.

Gambar 1. Wet Bulb Globe Temperature Index

Alat ini terdiri dari tiga komponen yaitu pengukur suhu basah, suhu bola dan
suhu kering. Dapat digunakan di luar ruangan (outdoor) maupun dalam ruangan
(indoor). Perbedaan pengukuran antara indoor dan outdoor adalah pada
pengukuran outdoor harus dihitung juga faktor panas radiasi. Data dari ketiga
jenis suhu tersebut digunakan untuk menentukan indeks suhu basah dan bola.
Berikut merupakan rumus untuk menentukan indeks suhu basah dan bola dalam
ruangan dan luar ruangan.

WBGT Indoor = 0,7 x suhu basah + 0,3 x suhu bola


WBGT Outdoor = 0,7 x suhu basah + 0,2 x suhu bola + 0,1 x suhu kering
Idealnya pengukuran dilakukan pada beberapa titik dalam satu ruangan kemudian
diambil nilai rata-rata untuk ruangan tersebut. Pengukuran harus dilakukan
setidaknya selama 10 menit untuk menunggu kestabilan suhu.

- Dasar Teori
Penyakit, kecelakaan pada bidang okupasi yang berhubungan dengan panas
terjadi pada situasi di mana total beban panas (panas lingkungan ditambah panas
dari metabolism tubuh) melebihi kapasitas tubuh untuk menjalankan fungsi tubuh
normal. Situasi yang dapat meningkatkan potensi terjadinya heat strain yaitu
tingginya suhu udara, sumber panas dari radiasi (matahari, oven, dsb), kontak
langsung dengan objek yang panas, kelembapan tinggi, serta aktivitas fisik yang
berat serta terus menerus. Keadaan lingkungan yang panas dan lembab, dapat
menghalangi pendinginan tubuh melalui evaporasi, dan jika disertai dengan beban
kerja yang berat, menimbulkan resiko tinggi bagi pekerja karena beban metabolik
pada tubuh juga menghasilkan panas; tetapi pada pekerja di tempat yang cukup
dingin juga tetap memiliki resiko, berkaitan dengan kemampuan individu dalam
menoleransi panas.

Total beban panas (heat stress) oleh National Institute for Occupational Safety
and Health (NIOSH) diartikan sebagai jumlah panas yang dihasilkan oleh tubuh
(metabolisme), ditambah panas dari lingkungan, dikurangi panas yang keluar dari
tubuh ke lingkungan (terutama melalui evaporasi). Heat strain diartikan sebagai
respon tubuh akan heat stress yang dialami. Syarat untuk kelangsungan fungsi
tubuh normal adalah temperatur suhu inti tubuh yang dipertahankan sekitar
37o1o. Pertukaran panas tubuh ke lingkungan terjadi melalui fungsi dari
temperatur udara, kelembapan, temperatur kulit, ketinggian, evaporasi keringat,
temperatur radiasi, serta macam, jumlah, karakteristik dari pakaian.

Efek Paparan Panas Pada Kesehatan


Efek yang timbul pada pekerja akibat panas sangat bergantung pada individu
serta toleransi pada panas yang berbeda beda pada tiap individu. Umur, berat
badan, kekuatan fisik, derajat aklimatisasi, metabolisme, penggunaan obat atau
alcohol, kondisi medis, seperti hipertensi dan diabetes, semuanya mempengaruhi
sensitivitas seseorang terhadap panas. Kelainan dan gangguan kesehatan yang
disebabkan oleh paparan panas terhadap pekerja meliputi (secara berurutan
menurut keparahannya) iritabilitas, gangguan dalam mengambil keputusan dan
kehilangan kemampuan berpikir logis, kelainan kulit (heat rash), heat syncope,
heat cramps, heat exhaustion, dan heat stroke.

Heat syncope disebabkan karena aliran darah diarahkan ke kulit untuk


pendinginan, sehingga aliran ke otak berkurang, seringkali terjadi pada pekerja
yang berdiri terlalu lama pada lingkungan yang panas. Heat cramps terjadi karena
deplesi sodium akibat berkeringat, biasanya terjadi pada pekerja yang melakukan
pekerjaan fisik yang cukup lama. Heat cramps dan syncope seringkali disertai
dengan heat exhaustion, rasa lemas, bingung, mual, dan gejala lain yang dapat
menyebabkan ketidakmampuan untuk bekerja setidaknya 24 jam. Heat
exhaustion dapat menyebabkan heat stroke jika pasien tidak didinginkan dan
direhidrasi secepatnya. Heat stroke merupakan emergensi yang mengancam
nyawa jika tidak ditangani secepatnya. Gejalanya yaitu iritabilitas, confusion,
mual, kejang atau kehilangan kesadaran, kulit kering dan panas, dan suhu inti
tubuh > 41oC. Kenaikan suhu tubuh yang lama serta paparan heat stress yang
kronik dapat menyebabkan gangguan fertilitas sementara, naiknya detak jantung,
gangguan tidur, lemas, dan iritabilitas. Pada trimester pertama, kenaikan suhu inti
tubuh lebih dari 39oC dapat membahayakan fetus.

Aklimatisasi

Aklimatisasi memperkenankan pekerja bertahan pada heat stress dan heat strain
melalui beberapa adaptasi fisiologi. Pekerja yang teraklitimasi dapat berkeringat
lebih banyak dan lebih seragam pada permukaan tubuhnya, dan juga berkeringat
lebih cepat dibandingkan dengan pekerja yang tidak teraklimatisasi, sehingga
menyebabkan menurunnya simpanan panas dalam tubuh dan menurunnya beban
jantung. Pekerja yang teraklimatisasi juga mengeluarkan lebih sedikit garam dari
keringatnya. Aklitimasi pada temperatur tertentu hanya efektif pada temperature
tersebut. Selain itu, jika paparan tersebut dihilangkan, aklimatisasi juga akan
menghilang, penurunan bermakna terlihat setelah 4 hari paparan hilang.

Mengevaluasi Heat Stress pada Pekerja


Mengevaluasi kemungkinan heat stress pada pekerja termasuk mengukur suhu
lingkungan pada tempat kerja dan menghitung metabolic rate untuk setiap tugas
yang diberikan. WBGT merupakan sarana yang dapat digunakan untuk mengukur
kontribusi lingkungan yang menyebabkan heat stress yang terdiri dari pergerakan
udara, suhu, kelembapan dan panas radiasi. Sedangkan untuk mengukur
metabolic rate dapat digunakan tabel dari NIOSH.

WHO menetapkan bahwa tidak dianjurkan Core Body Temperature melebihi


38oC atau suhu oral melebihi 37,5o C saat bekerja maupun terkena paparan panas
dalam 1 hari. Menurut NIOSH, suhu inti tubuh yang melebihi 39 o C dapat
menjadi alasan untuk mengakhiri pajanan bahkan pada saat suhu tubuh masih
dimonitor, disebabkan karena resiko terjadinya kecelakaan karena gangguan
konsentrasi dari pekerja dapat meningkat.

Menurut Sutalaksana, dkk (1979) berbagai tingkat suhu lingkungan akan


memberikan pengaruh yang berbeda-beda sebagai berikut:

a. 49 C: Temperatur yang dapat ditahan sekitar 1 jam, tetapi jauh diatas tingkat
kemampuan fisik dan mental.
b. 30 C: Aktivitas mental dan daya tanggap mulai menurun dan cenderung
untuk membuat kesalahan dalam pekerjaan, timbul kelelahan fisik.
c. 24 C: Kondisi optimum.
d. 10 C: Kelakuan fisik yang extreme mulai muncul.

Harga-harga diatas tidak mutlak berlaku untuk setiap orang karena sebenarnya
kemampuan beradaptasi tiap orang berbeda-beda, tergantung di daerah bagaimana
dia biasa hidup. Tichauer telah menyelidiki pengaruh terhadap produktifitas para
pekerja penenunan kapas, yang menyimpulkan bahwa tingkat produksi paling
tinggi dicapai pada kondisi temperatur 750F - 800F (240C - 270C).

Nilai Ambang Batas (NAB) untuk iklim kerja adalah situasi kerja yang masih
dapat dihadapi tenaga kerja dalam bekerja sehari-hari dimana tidak
mengakibatkan penyakit atau gangguan kesehatan untuk waktu kerja terus
menerus selama 8 jam kerja sehari dan 40 jam seminggu. Menurut Keputusan
Menteri Kesehatan Nomor: 405/Menkes/SK/XI/2002) NAB terendah untuk
temperatur ruangan adalah 18 C dan NAB tertinggi adalah 30 pada kelembaban
nisbi udara antara 65% sampai dengan 95%.

2. Faktor Kimia
a. Asam Klorida (HCl)

- Identifikasi Bahaya:

Dampak Pajanan Akut pada Kesehatan


Asam klorida sangat berbahaya pada kontak kulit (korosif,iritan, dan masuk ke
dalam tubuh), terpapar pada mata (korosif, iritan), tertelan, dan sedikit berbahaya
bila terhirup (sensitisasi paru). Tidak korosif pada paru. Pada bentuk cair atau uap
dapat menyebabkan kerusakan jaringan terutama pada membrane mukosa mata,
mulut, dan saluran pernafasan. Pada pajanan kulit, dapat menyebabkan luka
bakar. Bila uap terhirup dapat menyebabkan iritasi berat pada saluran napas, yang
bergejala batuk, tersedak, dan sesak napas. Pada pajanan sangat banyak dapat
menyebabkan kematian. Inflamasi pada mata bergejala merah, berair, dan gatal.
Inflamasi kulit dapat bergejala gatal, deskuamasi, kemerahan dan terbentuk lepuh.

Dampak Pajanan Kronis pada Kesehatan


Pada pajanan kronis dapat menyebabkan sedikit bahaya pada kulit (sensitisasi
reaksi alergi). Efek karsinogenik belum terbukti pada manusia (klasifikasi 3).
Tidak ada efek mutagenik dan teratogenik. Pajanan mungkin berefek toksik pada
ginjal, hati, selaput lendir, saluran pernafasan atas, kulit, mata, sistem peredaran
darah, dan gigi. Pajanan berulang atau berkepanjangan dapat menyebabkan
kerusakan organ. Kontak berulang atau berkepanjangan berupa uap dapat
menyebabkan iritasi mata kronis dan iritasi kulit yang berat. Pajanan berulang
atau berkepanjangan dari bentuk uap dapat menyebabkan iritasi saluran
pernafasan sehingga beresiko terkena infeksi saluran napas. Paparan berulang dari
bahan yang sangat beracun dapat menyebabkan akumulasi zat dan mengakibatkan
masalah kesehatan dan kerusakan pada banyak organ tubuh manusia.

- Tatalaksana

Pertolongan Pertama:

1. Kontak mata
Periksa penggunaan lensa kontak pada pekerja. Apabila terjadi kontak dengan
mata, segera bilas mata dengan air selama minimal 15 menit. Segera cari
pertolongan medis.

2. Kontak kulit

Apabila terjadi kontak dengan kulit, segera bilas dengan air selama minimal 15
menit sambil melepaskan semua pakaian dan sepatu. Oleskan kulit yang
teriritasi dengan emolient. Cuci pakaian dan sepatu sebelum kembali
digunakan. Segera cari pertolongan medis.

Pada kontak kulit yang serius, segera cuci dengan sabun desinfektan dan
oleskan krim antibiotik pada kulit yang teriritasi. Segera cari pertolongan
medis.

3. Terhirup

Jika terhirup, segera pindahkan pekerja agar dapat menghirup udara segar. Jika
sulit bernafas, segera berikan oksigen. Segera cari pertolongan medis. Pada
kontak inhalasi yang serius, segera evakuasi pekerja ke area yang aman.
Kendurkan bagian kerah, dasi, ataupun ikat pinggang. Jika sulit bernafas,
segera berikan oksigen. Apabila pekerja tidak bernafas, lakukan resusitasi.

Peringatan: Berbahaya melakukan pemberian nafas buatan dari mulut ke mulut


apabila material yang dihirup bersifat toksik, infeksius, atau korosif. Segera
cari pertolongan medis.

4. Tertelan

Jika tertelan, jangan dimuntahkan kecuali atas instruksi petugas medis. Jangan
masukkan apapun ke dalam mulut apabila pekerja tidak sadar. Bagian kerah,
dasi, ataupun ikat pinggang dikendurkan. Segera cari pertolongan medis.

Pencegahan Paparan

1. Kontrol teknik
Sediakan ventilasi yang memadai untuk menjaga kadar konsentrasi uap kimia
di bawah nilai ambang batas. Pastikan tempat untuk mencuci mata dan shower
tersedia dekat dengan tempat kerja.

2. Perlindungan diri

Kacamata pelindung, pakaian kerja lengkap, respirator uap, sarung tangan,


sepatu boot. Peralatan untuk bernafas digunakan untuk menghindari inhalasi
produk. Konsultasikan dengan ahlinya sebelum menggunakan produk ini.

b. Natrium Hidroksida (NaOH)

- Identifikasi Bahaya:

Dampak Pajanan Akut pada Kesehatan


Bahan kimia ini sangat berbahaya jika terjadi kontak pada kulit (korosif, iritan,
permeator), kontak pada mata (iritan, korosif), tertelan dan terhirup. Jumlah
kerusakan jaringan tergantung pada lama kontak. Kontak pada mata dapat
mengakibatkan kerusakan kornea bahkan kebutaan. Kontak pada kulit dapat
mengakibatkan peradangan dan lepuhan pada kulit. Menghirup partikel debu
yang mengandung NaOH akan menghasilkan iritasi pada saluran pencernaan
maupun saluran pernafasan, yang ditandai dengan rasa terbakar pada
tenggorokan, bersin dan batuk. Kontak yang berat dengan bahan kimia ini dapat
menyebabkan kerusakan pada paru, tersedak, pingsan atau bahkan kematian.
Peradangan pada mata ditandai dengan kemerahan, berair, dan gatal-gatal.
Peradangan pada kulit ditandai dengan gatal, kemerahan bahkan dapat
menyebabkan lepuhan pada kulit.

Dampak Pajanan Kronis pada Kesehatan


Efek karsinogenik: tidak ada
Efek mutagenik: tidak ada
Efek teratogenik: tidak ada
Bahan kimia ini bersifat toksik bagi paru-paru. Paparan berulang dan
berkepanjangan dapat menyebabkan kerusakan banyak organ. Paparan berulang
dan lama pada mata dapat menyebabkan iritasi pada mata. Paparan kulit berulang
dapat menyebabkan kerusakan kulit lokal (dermatitis). Menghirup debu yang
berkepanjangan dapat menyebabkan iritasi pernafasan bahkan kerusakan paru.

- Tatalaksana

Tindakan Pertolongan Pertama Jika Terpapar Bahan Kimia Ini

Kontak pada mata:

Periksa dan lepaskan lensa kontak. Dalam kasus kontak, segera basuh mata
dengan banyak air selama minimal 15 menit. Air dingin dapat digunakan dan
segera mendapatkan pertolongan medis.

Kontak pada Kulit:

Dalam kasus kontak, segera lepaskan seluruh pakaian yang melekat pada kulit
termasuk sepatu, kemudian basuh kulit dengan air mengalir selama minimal
15 menit (mandi). Setelah itu oleskan pelembab ke seluruh kulit yang
teriritasi. Pada kasus ini disarankan menggunakan air dingin. Cucilah pakaian
dan sepatu yang terkena sebelum digunakan kembali. Serta segera
mendapatkan pertolongan medis.

Kontak serius pada kulit:

Cuci dengan sabun desinfektan dan oleskan krim antibiotik pada kulit yang
terkontaminasi serta segera mendapatkan pertolongan medis.

Inhalasi:

Jika terhirup, pindahkan korban yang terpapar ke udara terbuka. Jika tidak
bernapas, berikan pernapasan buatan. Jika sulit bernapas, berikan oksigen dan
segera mendapatkan pertolongan medis.

Inhalasi serius:
Evakuasi korban ke daerah yang aman secepatnya. Kendurkan pakaian ketat
seperti kerah, dasi, atau ikat pinggang. Jika sulit bernafas, berikan oksigen.
Jika korban tidak bernafas, melakukan pernafasan buatan dari mulut ke mulut.

Peringatan: Mungkin berbahaya bagi orang yang memberikan bantuan


pernafasan dari mulut ke mulut bila bahan yang dihirup bersifat toksik,
infeksius, korosif. Serta segera mendapatkan pertolongan medis.

Tertelan:

Jangan memberikan rangsang muntah kecuali diarahkan oleh tenaga medis.


Jangan pernah memberikan apapun melalui mulut jika korban tidak sadar. Jika
bahan kimia yang tertelan dalam jumlah besar, segera panggil dokter.
Kendurkan pakaian yang ketat seperti kerah, dasi atau ikat pinggang.

Tertelan serius: Tidak tersedia

Pengontrolan Pemaparan / Perlindungan Pribadi


Teknik Kontrol:
Gunakan lampiran proses, ventilasi pembuangan lokal, atau teknik kontrol
lainnya untuk menjaga kadar udara di bawah batas rekomendasikan yang
diperbolehkan. Jika mesin yang beroperasi menghasilkan debu, asap atau kabut,
buatlah ventilasi untuk menjaga paparan kontaminasi melalui udara berada di
bawah batas yang diperbolehkan.

Penyimpanan dan Pengolahan

Perhatian

Jagalah kontainer tetap kering. Jangan menghirup debu yang mengandung


bahan kimia ini. Jika ventilasi tidak cukup, pakailah peralatan pernafasan yang
dianjurkan. Jika korban merasakan adanya tanda-tanda awal keracunan, segera
cari pertolongan medis dan perlihatkan label bahan kimia tersebut jika
memungkinkan. Hindari kontak pada kulit dan mata. Jauhkan bahan kimia ini
dari bahan yang dapat mengoksidasi dan bahan yang dapat mereduksi,logam,
asam, basa, dan kelembaban.

Penyimpanan

Jagalah container tertutup dengan rapat. Jagalah container dalam udara sejuk
dan area yang mempunyai ventilasi baik. Jangan menyimpan bahan kimia ini
pada suhu di atas 23C (73,4F).

Perlindungan Pribadi :

Goggles, apron sintetis, masker khusus uap dan debu. Pastikan untuk
menggunakan masker/ respirator yang bersertifikat yang telah disetujui.
Sarung tangan.

Perlindungan pribadi jika risiko tinggi terpapar:

Goggles, pakaian lengkap, masker khusus uap dan debu. Sepatu boots. Sarung
tangan. Breathing apparatus harus digunakan untuk menghindari inhalasi
produk. Serta direkomendasikan berkonsultasi dengan spesialis sebelum
menggunakan produk ini .

Batas paparan:
CEIL : 2 dari ACGIH (TLV) [ Amerika Serikat ] [ 1995] Konsultasikan otoritas
setempat untuk batas pemaparan diterima.

c. Zink/Seng (Zn)

- Identifikasi bahaya :

Dampak Pajanan Akut pada Kesehatan: menyebabkan iritasi pada kulit, mata,
saluran cerna dan nafas.

Dampak Pajanan Kronis pada Kesehatan: (-)


- Tatalaksana

Penanganan Pertama

Mata : Periksa dan lepaskan lensa kontak, cuci mata dengan air mengalir
selama 15 menit. Jika terjadi iritasi segera hubungi dokter.
Kulit : cuci dengan sabun dan air mengalir. Jika terjadi iritasi tutupi dengan
pelembab dan hubungi dokter

Saluran napas : periksa dan bebaskan jalan napas, jika tidak bernapas berikan
bantuan napas, jika kesulitan bernapas berikan oksigen dan segra hubungi
dokter.

Tertelan : jangan dirangsang untuk muntah, jangan diberikan apapun lewat


mulut jika tidak sadar, longarkan pakaian dan segera hubungi dokter.

Penyimpanan dan Perhatian

Simpan ditempat tertutup, ditempat sejuk dan hindarin dari sumber air,
oksidan, asam, basa, dan pelembab.

Alat Pelindung Diri

Kaca mata pelindung, pakaian lab, masker pelidung debu, dan sarung tangan
pelidung

d. Asam Nitrat (HNO3)

- Identifikasi bahaya:

Dampak Pajanan Akut pada Kesehatan

Sangat berbahaya pada kontak langsung dengan kulit (korosif, iritan,


permeator), dengan mata (iritan, korosif), ataupun tertelan.
Bahaya ringan pada kasus inhalasi (lung sensitizer)
Cairan atau kabut (spray mist) dapat menimbukan kerusakan jaringan
terutama pada membran mukosa mata, mulut, dan saluran pernafasan.
Kontak kulit dapat menimbulkan luka bakar, sedangkan inhalasinya
menimbulkan iritasi berat pada saluran pernafasan yang ditandai dengan
batuk, tersedak, atau sesak nafas.

Radang pada mata ditandai dengan mata kemerahan, berair, dan rasa gatal.

Peradangan pada kulit ditandai dengan rasa gatal, mengelupas, memerah, dan
kadang berupa lepuh.

Eksposur berkepanjangan dapat menimbulkan luka bakar di kulit serta


ulserasi.

Eksposur berlebihan pada inhalasi dapat menyebabkan iritasi pernafasan.


Pada eksposur berlebihan yang berat, dapat menyebabkan kematian.

Dampak Pajanan Kronis pada Kesehatan


Bahan dapat bersifat toksik bagi paru-paru, membrane mukosa, saluran nafas
bagian atas, kulit, mata, dan gigi. Eksposur berulang atau berkepanjangan dapat
menyebabkan kerusakan organ target. Eksposur berulang atau berkepanjangan
dengan kabut (spray mist) dapat menyebabkan iritasi mata kronik dan iritasi
berat kulit, serta pada inhlasi dapat menyebabkan iritasi saluran nafas yang
berujung pada infeksi bronkus berulang.

- Tatalaksana

Pertolongan pertama pada kontak

Kontak pada mata

Periksa dan lepaskan lensa kontak . Segera basuh mata dengan banyak air
selama minimal 15 menit. Segera berikan bantuan medis.

Kontak pada kulit


Segera basuh kulit dengan banyak air selama minimal 15 menit sambil
melepaskan pakaian dan yang terkontaminasi . Tutupi kulit yang teriritasi
dengan emolien . Cuci pakain dan sepatu hingga benar-benar bersih sebelum
digunakan kembali . Segera berikan bantuan medis.

Kontak kulit berat

Cuci kulit yang terkontaminasi dengan sabun disinfektan dan beri krim
antibacterial. Segera berikan bantuan medis.

Inhalasi

Jika terhirup, segera menyingkir ke area dengan udara bersih. Jika korban
tidak bernafas, berikan pernfasan buatan. Jika korban sulit bernafas, berikan
oksigen. Segera berikan bantuan medis.

Inhalasi berat

Evakuasi korban ke area yang aman sesegera mungkin. Longgarkan ikatan


akaian seperti kerah, dasi, sabuk. Berikan oksigen jika terjadi kesulitan
bernafas. Jika korban tidak bernafas, lakukan resusitasi nafas (mouth-to-mouth
resuscitation). PERINGATAN: resusitasi nafas mulut ke mulut dapat
berbahaya bagi penolong jika bahan yang terinhalasi bersifat toksik, infeksius,
ataupun korosif. Segera berikan bantuan medis.

Tertelan

Jika tertelan , jangan dimuntahkan kecuali diarahkan untuk melakukannya oleh


tenaga medis . Jangan pernah memberikan apapun melalui mulut ke korban
yang tidak sadar . Kendurkan ikatan pakaian seperti kerah , dasi , ikat
pinggang atau karet pinggang . Segera berikan bantuan medis.

Kontrol paparan / proteksi perorangan


Teknik kontrol

Sediakan ventilasi atau kontrol teknik lain untuk menjaga konsentrasi udara
uap di bawah masing-masing nilai ambang batas. Pastikan bahwa stasiun
pencuci mata dan pancuran keselamatan dekat ke lokasi stasiun kerja.

Perlindungan pribadi

Pelindung wajah, jas lengkap, respirator uap . Pastikan untuk menggunakan


respirator yang disetujui atau bersertifikat. Sarung tangan. Sepatu boot.

Perlindungan pribadi dalam tumpahan besar

Kacamata google . Jas lengkap . Respirator uap . Boots . Sarung tangan.


Sebuah alat bantu pernapasan mandiri harus digunakan untuk menghindari
inhalasi produk . Disarankan pakaian pelindung mungkin tidak cukup ;
berkonsultasilah dengan spesialis SEBELUM menangani produk ini.

Batas paparan

TWA: 2 STEL: 4 (ppm) from ACGIH (TLV) [United States] TWA: 2 STEL: 4
from OSHA (PEL) [United States] Konsultasi dengan otoritas lokal untuk
mengetahui batas paparan.

e. Chromium (Cr)

- Identifikasi Bahaya:

Dampak Pajanan Akut pada Kesehatan

Terhisap : Mist dapat merusak saluran pernapasan bagian atas. Paparan


jangka panjang dan berulang dapat menyebabkan ulserasi dan perforasi
septum. Mungkin dapat menyebabkan kanker.
Tertelan : Dapat menyebabkan luka bakar berat ke mulut, tenggorokan dan
mungkin berakibat fatal. Bahan beracun terhadap ginjal, hati & saluran
pencernaan.

Penyerapan kulit : luka bakar berat dapat menyebabkan "chrome sores".


Pada absorbs kulit dapat menyebabkan gagal ginjal.

Mata : luka bakar parah menyebabkan kebutaan atau cedera permanen.

Dampak Pajanan Kronis pada Kesehatan


Dapat menyebabkan sensitisasi kulit, ulserasi saluran pernapasan, dan mungkin
kanker paru-paru. Terbukti karsinogenik pada manusia.

- Tatalaksana

Tindakan Pertolongan Pertama

Terhisap: Pindahkan korban ke udara segar. Jika pernapasan berhenti,


lakukan pernapasan buatan. Berikan oksigen jika tersedia, dan segera
mendapatkan pertolongan medis..
Tertelan : Jangan pernah memberikan apapun melalui mulut kepada orang
yang tidak sadar. dan segera mendapatkan pertolongan medis.

Mata : Bilas dengan air mengalir, tahan bagian kelopak mata untuk
memastikan bahwa aliran air masuk keseluruh permukaan mata.

Kulit : Bilas dengan air mengalir, jika terjadi iritasi atau luka bakar
bertambah segera mendapatkan pertolongan medis.

Alat pelindung diri

Ventilasi pembuangan lokal


Gunakan masker yang disetujui

Goggle

Sarung tangan neoprene

Pakaian dan sepatu yang tahan terhadap zat kimia

Terdapat eye wash dan shower yang terjangkau

f. Deterjen

Komposisi Deterjen terdiri dari:

Tabel 3. Komposisi Detergen

- Identifikasi Bahaya

Dampak Pajanan pada Kesehatan

Rute masuk : inhalasi, oral, kontak kulit, dan kontak mata


Mata : Tidak diketahui akibat yang ditimbulkan pada pajanan minimal.
Pajanan mendadak akan menyebabkan iritasi semnetara yang ringan pada mata

Kontak Kulit: Tidak diketahui akibat yang ditimbulkan pada pajanan minimal.
Dapat menyebabkan iritasi sementara. Kontak jangka panjang yang berulang
akan menyebabkan kulit kering.

Inhalasi: Tidak diketahui akibat yang ditimbulkan pada pajanan minimal.

Oral: Tidak diketahui akibat yang ditimbulkan pada pajanan minimal. Pajanan
oral dapat menyebabkan gangguan pencernaan, mual, muntah, dan diare.
- Tatalaksana

Pertolongan Pertama
Prosedur Pertolongan Pertama

Kontak Mata: Setelah pembilasan pertama, lepas segala jenis lensa kontak
dan lanjutkan pembilasan sekitar 15 menit. Konsultasikan ke dokter apabila
iritasi berlanjut.

Kontak Kulit: Bilas dengan air bila terjadi kontak lama. Konsultasikan ke
dokter apabila iritasi berlanjut.

Inhalasi: Pindahkan pasien ke udara bebas

Oral: Minum 1 atau 2 gelas air. Apabila menelan dalam jumlah banyak,
hubungi ahli toksikologi secepatnya.

Pengendalian Kebakaran
Pencegahan Lingkungan : Cegah deterjen agar tidak bocor dan tumpah
Peralatan Pemadaman: Air, Busa, bubuk kimia kering, CO2

Perlindungan Perorangan

Perlindungan mata/wajah: tidak terlalu diperlukan


Perlindungan kulit: diperlukan sarung tangan dalam kondisi penggunaan
jangka panjang dan berulang. Sarung tangan yang direkomendasikan adalah
berbahan karet dan neoprene

Perlindungan saluran nafas: tidak terlalu diperlukan


3. Faktor Biologi

Dasar hukum faktor biologis yang mempengaruhi lingkungan kerja adalah Kepres No.
22/1993 tentang penyakit yang timbul karena hubungan kerja (point) penyakit infeksi
yang disebabkan oleh virus, bakteri, atau parasit yang didapat dalam suatu pekerjaan
yang memiliki resiko kontaminan khusus.

Biological hazard adalah semua bentuk kehidupan atau mahkluk hidup dan produknya
yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia dan hewan. Faktor biologis dapat
dikategorikan menjadi:

a. Mikroorganisme dan toksinnya (virus, bakteri, fungi, dan produknya)


b. Arthopoda (crustacea, arachmid, insect)

c. Alergen dan toksin tumbuhan tingkat tinggi (dermatitis kontak, rhinitis, asma)

d. Protein alergen dari tumbuhan tingkat rendah (lichen, liverwort, fern) dan hewan
invertebrata (protozoa, ascaris)

Faktor biologis dapat masuk ke dalam tubuh dengan cara:

a. Inhalasi/ pernafasan (udara terhirup)


b. Ingesti/ saluran pencernaan

c. Kontak dengan kulit

d. Kontak dengan mata, hidung, mulut

Berikut pembahasan mengenai berbagai factor yang berhubungan dengan pajanan


biologis di PT Multichem:

a. Vektor Penyakit

Peraturan Pemerintah No.374 tahun 2010 menyatakan bahwa vektor merupakan


arthropoda yang dapat menularkan, memindahkan atau menjadi sumber penularan
penyakit pada manusia.

Vektor penyakit merupakan arthropoda yang berperan sebagai penular penyakit


sehingga dikenal sebagai arthropod borne diseases atau sering juga disebut sebagai
vector borne diseases yang merupakan penyakit yang penting dan seringkali
bersifat endemis maupun epidemis dan menimbulkan bahaya bagi kesehatan sampai
kematian.

Di Indonesia, penyakit penyakit yang ditularkan melalui serangga merupakan


penyakit endemis pada daerah tertentu, seperti Demam Berdarah Dengue (DBD),
malaria, kaki gajah, Chikungunya yang ditularkan melalui gigitan nyamuk. Di
samping itu, ada penyakit saluran pencernaan seperti dysentery, cholera, typhoid
fever dan paratyphoid yang ditularkan secara mekanis oleh lalat rumah.

Menurut Chandra (2003), ada 4 faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya suatu
penyakit :

Cuaca

Iklim dan musim merupakan faktor utama yang mempengaruhi terjadinya


penyakit infeksi. Agen penyakit tertentu terbatas pada daerah geografis tertentu,
sebab mereka butuh reservoir dan vektor untuk hidup. Iklim dan variasi musim
mempengaruhi kehidupan agen penyakit, reservoir dan vektor. Di samping itu
perilaku manusia pun dapat meningkatkan transmisi atau menyebabkan rentan
terhadap penyakit infeksi. Wood tick adalah vektor arthropoda yang
menyebabkan penularan penyakit yang disebabkan ricketsia.

Reservoir

Hewan-hewan yang menyimpan kuman patogen dimana mereka sendiri tidak


terkena penyakit disebut reservoir. Reservoir untuk arthropods borne disease
adalah hewan-hewan dimana kuman patogen dapat hidup bersama. Binatang
pengerat dan kuda merupakan reservoir untuk virus encephalitis. Penyakit
ricketsia merupakan arthropods borne disease yang hidup di dalam reservoir
alamiah.seperti tikus, anjing, serigala serta manusia yang menjadi reservoir untuk
penyakit ini. Pada banyak kasus,kuman patogen mengalami multifikasi di dalam
vektor atau reservoir tanpa menyebabkan kerusakan pada intermediate host.

Geografis
Insiden penyakit yang ditularkan arthropoda berhubungan langsung dengan
daerah geografis dimana reservoir dan vektor berada. Bertahan hidupnya agen
penyakit tergantung pada iklim (suhu, kelembaban dan curah hujan) dan fauna
lokal pada daerah tertentu, seperti Rocky Mountains spotted fever merupakan
penyakit bakteri yang memiliki penyebaran secara geografis. Penyakit ini
ditularkan melalui gigitan tungau yang terinfeksi.oleh ricketsia dibawa oleh
tungau kayu di daerah tersebut dan dibawa oleh tungau anjing ke bagian timur
Amerika Serikat.

Perilaku Manusia

Interaksi antara manusia, kebiasaan manusia.membuang sampah secara


sembarangan, kebersihan individu dan lingkungan dapat menjadi penyebab
penularan penyakit arthropoda borne diseases.

Peranan Vektor Penyakit


Secara umum, vektor mempunyai peranan yaitu sebagai pengganggu dan penular
penyakit. Vektor yang berperan sebagai pengganggu yaitu nyamuk, kecoa/lipas, lalat,
semut, lipan, kumbang, kutu kepala, kutu busuk, pinjal, dll. Penularan penyakit pada
manusia melalui vektor penyakit berupa serangga dikenal sebagai arthropod borne
diseases atau sering juga disebut sebagai vector borne diseases. Agen penyebab
penyakit infeksi yang ditularkan pada manusia yang rentan dapat melalui beberapa
cara yaitu :

Dari orang ke orang


Melalui udara

Melalui makanan dan air

Melalui hewan

Melalui vektor arthropoda

b. Air minum
Mengutip Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
1405/menkes/sk/xi/2002 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja
Perkantoran dan industri terdapat pengertian mengenai Air Bersih yaitu air yang
dipergunakan untuk keperluan sehari-hari dan kualitasnya memenuhi persyaratan
kesehatan air bersih sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan
dapat diminum apabila dimasak.

Persyaratan air bersih meliputi:

Syarat fisik, antara lain:

Air harus bersih dan tidak keruh

Tidak berwarna apapun

Tidak berasa apapun

Tidak berbau apapun

Suhu antara 10-25 C (sejuk)

Tidak meninggalkan endapan

Syarat kimiawi, antara lain:

Tidak mengandung bahan kimiawi yang mengandung racun

Tidak mengandung zat-zat kimiawi yang berlebihan

Cukup yodium

pH air antara 6,5 9,2

Syarat mikrobiologi, antara lain:

Tidak mengandung kuman-kuman penyakit seperti disentri, tipus, kolera, dan


bakteri patogen penyebab penyakit.
Seperti kita ketahui jika standar mutu air sudah diatas standar atau sesuai dengan
standar tersebut maka yang terjadi adalah akan menentukan besar kecilnya investasi
dalam pengadaan air bersih tersebut, baik instalasi penjernihan air dan biaya operasi
serta pemeliharaannya. Sehingga semakin jelek kualitas air semakin berat beban
masyarakat untuk membayar harga jual air bersih. Dalam penyediaan air bersih yang
layak untuk dikonsumsi oleh masyarakat banyak mengutip Peraturan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia No. 173/Men.Kes/Per/VII/1977, penyediaan air harus
memenuhi kuantitas dan kualitas, yaitu:

Aman dan higienis.


Baik dan layak minum.

Tersedia dalam jumlah yang cukup.

Harganya relatif murah atau terjangkau oleh sebagian besar masyarakat

Parameter yang ada digunakan untuk metode dalam proses perlakuan, operasi dan
biaya. Parameter air yang penting ialah parameter fisik, kimia, biologis dan
radiologis yaitu sebagai berikut

Parameter Air Bersih secara Fisika

Kekeruhan

Warna

Rasa & bau

Endapan

Temperatur

Parameter Air Bersih secara Kimia


Organik, antara lain: karbohidrat, minyak/ lemak/gemuk, pestisida, fenol,
protein, deterjen, dll.

Anorganik, antara lain: kesadahan, klorida, logam berat, nitrogen, pH,


fosfor,belerang, bahan-bahan beracun.

Gas-gas, antara lain: hidrogen sulfida, metan, oksigen.

Parameter Air Bersih secara Biologi

Bakteri

Binatang

Tumbuh-tumbuhan

Protista

Virus

Parameter Air Bersih secara Radiologi

Konduktivitas atau daya hantar

Pesistivitas

PTT atau TDS (Kemampuan air bersih untuk menghantarkan arus listrik)

c. Limbah

Persyaratan

Limbah Padat/Sampah
Setiap perkantoran harus dilengkapi dengan tempat sampah dari bahan
yang kuat, cukup ringan, tahan karat, kedap air dan mempunyai
permukaan yang halus pada bagian dalamnya serta dilengkapi dengan
penutup.
Sampah kering dan sampah basah ditampung dalam tempat sampah yang
terpisah.
Tersedia tempat pengumpulan sampah sementara yang memenuhi syarat

Limbah cair
Kualitas efluen harus memenuhi syarat sesuai ketentuan peraturan
perundang - undangan yang berlaku.

Syarat pembuangan sampah

Berikut ini adalah hal-hal yang wajib diperhatikan dalam mengelola tempat
sampah:

Pisahkan sampah kering / non organik dengan sampah basah / organik dalam
wadah plastik.
Tempat sampah harus terlindung dari sinar matahari langsung, hujan, angin,
dan lain sebagainya.

Hindari tempat sampah menjadi sarang binatang seperti kecoa, lalat, belatung,
tikus, kucing, semut, dan lain-lain

Buang sampah dalam kemasan plastik yang tertutup rapat agar tidak mudah
berserakan dan mengeluarkan bau yang tidak sedap. Selain itu juga
memudahkan tukang sampah dalam mengambil sampah. Jangan biarkan
pemulung mengobrak-abrik sampah yang sudah dibungkus rapi.

Tempat sampah harus tertutup aman dari segala gangguan namun mudah
dijangkau petugas kebersihan.

Jangan membakar sampah di lingkungan padat penduduk karena dapat


mengganggu kenyamanan dan kesehatan orang lain.

d. Toilet

Persyaratannya yaitu:
Toilet karyawan wanita terpisah dengan toilet untuk karyawan pria.
Setiap kantor harus memiliki toilet dengan jumlah wastafel, jamban dan
peturasan minimal seperti pada tabel -tabel berikut:

Untuk karyawan pria :

Untuk karyawan wanita

Persyaratan Ruang :

Ruang untuk buang air besar (WC)

o Lebar minimum 80 cm

o Panjang minimum 150 cm

o Tinggi plafon minimum 220 cm

Ruang untuk buang air kecil (Urinoir)


o Lebar mininum 70 cm

o Tinggi urinoir minimum 40 cm

Ruang cuci tangan dan cuci muka (Wastafel)


o Lebar 80 cm, dengan lebar bak cuci 50 cm

o Tinggi bak cuci minimum 70 cm


o Jarak bak cuci dan dinding 90 cm

o Dilengkapi cermin

Sirkulasi Udara

Mempunyai kelembaban 40 - 50 %, dengan taraf pergantian udara yang baik


yaitu mencapai angka 15 air-change per jam (dengan suhu normal toilet 20-27
derajat celcius)

Pencahayaan

Sistem pencahayaan toilet umum dapat menggunakan pencahayaan alami dan


pencahayaan buatan. Iluminasi standar 100 - 200 lux.

Konstruksi Bangunan

Lantai, kemiringan minimum lantai 1 % dari panjang atau lebar lantai.

Dinding, ubin keramik yang dipasang sebagai pelapis dinding, gysum tahan
air atau bata dengan lapisan tahan air.

Langit-langit, terbuat dari lembaran yang cukup kaku dan rangka yang kuat
sehingga memudahkan perawatan dan tidak kotor.