Anda di halaman 1dari 34

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Frozen shoulder, atau juga sering disebut sebagai adhesive capsulitis,

merupakan suatu kelainan di mana terjadi inflamasi pada kapsul sendi bahu, yaitu

jaringan ikat disekitar sendi glenohumeral, sehingga sendi tersebut menjadi kaku

dan terjadi keterbatasan gerak dan nyeri yang kronis.

Adhesive capsulitis merupakan suatu kondisi yang sangat nyeri dan

melumpuhkan dan sering menyebabkan frustrasi besar bagi pasien dan

perawatnya karena pemulihannya yang lambat. Pergerakan bahu menjadi sangat

terbatas. Nyerinya biasanya terus-menerus, bertambah parah pada malam hari,

atau saat udara menjadi lebih dingin, dan akibat keterbatasan pergerakan sehingga

membuat melakukan kegiatan sehari-hari menjadi sulit.6

Kondisi ini, dimana penyebabnya masih belum diketahui, dapat berlangsung

selama lima bulan hingga tiga tahun, dan pada beberapa kasus diduga disebabkan

oleh suatu trauma atau luka pada daerah tersebut. Diduga proses otoimun

berperan, yaitu tubuh menyerang jaringan sehat yang terdapat pada kapsul.

Adanya kekurangan cairan pada sendi juga menyebabkan keterbatasan gerak.

Selain kesulitan dalam melakukan tugas sehari-sehari, pasien dengan

adhesive capsulitis terkadang mengalami gangguan tidur akibat nyeri yang

bertambah pada malam hari. Kondisi ini dapat berlanjut menyebabkan depresi

serta nyeri pada leher dan punggung. Pengobatan mungkin menyakitkan dan berat

1
dan terdiri dari terapi fisik, pengobatan, terapi pijat, hydrodilatation atau operasi.

Seorang dokter juga dapat melakukan manipulasi di bawah anestesi, yang

membuka perlekatan dan jaringan parut pada sendi untuk membantu memulihkan

gerak sendi. Nyeri dapata diatasi dengan analgesic dan NSAID. Kondisi ini sering

kalo merupakan penyakit self-limiting, dapat sembuh tanpa operasi tapi

memerlukan waktu hingga dua tahun. Sebagian besar penderita penyakit ini dapat

mengembalika 90% dari kemampuan gerak sendi bahu. Pasien dengan frozen

shoulder dapat mengalami kesulitan bekerja dan melakukan aktivitas sehari-hari

untuk beberapa waktu.2,3

1.2 Tujuan

Untuk mengetahui tentang frozen shoulder baik definisi, etiologi,

patofisiologi, serta penatalaksanaan yang tepat apabila mendapatkan pasien

dengan frozen shoulder.

2
BAB II

STATUS PASIEN

I. ANAMNESIS

Identitas Penderita

Nama : Tn. S
Umur : 60 Tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Pekerjaan : Swasta
Pendidikan : SMA
Agama : Islam
Alamat : Blitar
Status Pernikahan : Menikah
Suku : Jawa
Tanggal periksa : 21 Juli 2017

Keluhan Utama : Nyeri bahu kanan

Riwayat Penyakit Sekarang :

Pasien datang periksa ke poli rehabilitasi medik rumah sakit mardi

waluyo dengan keluhan nyeri pada bahu kanan sejak 1 1/2 bulan yang lalu. Nyeri

bahu terasa linu, tidak menjalar. Awal mula nyeri bahu sejak 2 bulan yang lalu

jatuh terpeleset dengan tumpuan bahu sehingga bahu nya terasa sakit. Setelah

mengeluh nyeri bahu 1 bulan lalu di bawa ke tukang pijat, saat di tukang pijat

hanya di pijat di bagian bahu kanan namun keluhan tetap ada. Pasien mengaku

terdapat keterbatasan dalam melakukan kegiatan seperti mengambil sesuatu yang

letaknya tinggi. Pasien mengaku tidak pernah mengalami seperti ini, sebelum

jatuh bahu kanan tetap normal.

3
Riwayat Penyakit Dahulu:

- Riwayat trauma : 2 bulan yang lalu jatuh terpeleset


- Riwayat Asam urat : (+)
- Riwayat hipertensi : disangkal
- Riwayat sakit gula : disangkal
- Riwayat penyakit jantung : (+)
- Riwayat alergi obat/makanan : disangkal
- Riwayat Hipotiroid : (+)

Riwayat Pengobatan

Pasien mempunyai riwayat pengobatan penyakit jantung, saat ini dalam

pengobatan hipotiroid

Riwayat Penyakit Keluarga

- Riwayat tumor atau keganasan : disangkal


- Riwayat penyakit jantung : disangkal
- Riwayat hipertensi : disangkal
- Riwayat sakit gula : disangkal
Riwayat Kebiasaan

- Riwayat merokok : disangkal


- Riwayat minum alkohol : disangkal
- - Riwayat olah raga : jarang

II. PEMERIKSAAN FISIK

1. Status generalis

Keadaan Umum tampak cukup sehat, kesadaran compos mentis (GCS E4V5M6),

status gizi kesan lebih.

LLA Dextra : 33 cm

LLS Sinistra :43 cm

4
Bagian Tubuh Pergerakan Sendi Kekuatan Otot
Pergerakan ROM Otot MMT
Shoulder Fleksi 0-80o/Full Fleksor 5/5
o
Ekstensi 0-40 /Full Ekstensor 5/5
Abduksi 0-90 o/Full Abduktor 5/5
Adduksi Full Adduktor 5/5
o
Internal Rotasi 0-30 /Full Int. Rotator 5/5
Eksternal Rotasi 0-20 o /Full Eks. Rotator 5/5
Elbow Fleksi Full/Full Fleksor 5/5
Ekstensi Full/Full Ekstensor 5/5
Pronasi Full/Full Pronator 5/5
Supinasi Full/Full Supinator 5/5
Wrist Fleksi Full/Full Fleksor 5/5
Ekstensi Full/Full Ekstensor 5/5
Radial Deviasi Full/Full Radial Deviator 5/5
Ulnar Deviasi Full/Full Ulnar Deviator 5/5
Fingers Fleksi MCP Full/Full Fleksor 5/5
Ekstensi MCP Full/Full Ekstensor 5/5

2. Tes Provokasi

Spurling -/-

Lhermite -/-

Apley scrath test : +/ -

Yorgansons test : +/-

Drop arm test : + / -

Hawkin test -/-

Neer Test -/-

3. Pemeriksaan neurologis

Reflek tendon dalam

Bisep : +2/+2

Triseps : +2/+2

5
Patella : +2/+2

Achilles : +2/+2

Sensorik : N N

4. Status lokalis region N N shoulder dextra:

Krepitasi :-

Deformitas :-

Edema :-

Nyeri tekan :-

III. PEMERIKSAAN PENUNJANG

1. Foto Shoulder dextra AP/Oblique (20/7/2017)

Ossa humerus, Clavicula dan scapula kanan tampak baik.

Tidak ada fracture.

Alignment baik, tidak ada dislocation

Soft Tissue tak ada kelainan radiologis

6
Kesimpulan : tidak ada kelainan radiologis dari tulang dan sendi bahu

kanan ini

NB: Mencurigakan adanya proses fibrotic di peri pleura kanan atas. Kesan KP

IV. RESUME

Pasien datang periksa ke poli rehabilitasi medik rumah sakit mardi

waluyo dengan keluhan nyeri pada bahu kanan sejak 1 1/2 bulan yang lalu. Nyeri

bahu terasa linu, tidak menjalar. Awal mula nyeri bahu sejak 2 bulan yang lalu

jatuh terpeleset dengan tumpuan bahu sehingga bahu nya terasa sakit. Setelah

mengeluh nyeri bahu 1 bulan lalu di bawa ke tukang pijat, saat di tukang pijat

hanya di pijat di bagian bahu kanan namun keluhan tetap ada. Pasien mengaku

terdapat keterbatasan dalam melakukan kegiatan seperti mengambil sesuatu yang

letaknya tinggi. Pasien mengaku tidak pernah mengalami seperti ini, sebelum

jatuh bahu kanan tetap normal. Dari Pemeriksaan fisik didapatkan keterbatasan

pada gerakan sendi bahu kanan yaitu flexi 0-80O, ekstensi 0-40O, abduksi 0-90O ,

internalrotasi 0-30O, ekstrernal rotasi 0-300, Manual Muscle Test 5/5. Dari

pemeriksaan penunjang foto rontgen tidak ada kelainan radiologis dari tulang dan

sendi bahu kanan.

V. DIAGNOSIS

Frozen Shoulder Dextra

V. PROBLEM LIST

1. Masalah medis : Penyakit jantung, Hipotiroid, Fibrotic Pleura

2. bedah :-

3. Problem Rehabilitasi Medik :

Mobilisasi :-

7
ADL : Penurunan melakukan semua aktifitas dengan

menggunakan tangan kanan, misalnya mengangkat bahu, memakai maupun

melepas baju.

Komunikasi :-

Psikologi :-

Sosial ekonomi :-

Vocasional :-

Lainnya :-

Tujuan :

Jangka pendek : mengurangi nyeri pada bahu kanan untuk mengurangi hambatan

dari ROM sehingga funginya dapat dimaksimalkan.

Jangka panjang : mengembalikan fungsi bahu kanan seperti semula sehingga

dapat mengembalikan fungsinya seperti sebelumnya.

VI. PLANNING TERAPI

1. Terapi Rehabilitasi medik

SWD di shoulder kanan

TENS di shoulder kanan

Strengthening exercise shoulder kanan

2. KIE

Disarankan kepada pasien untuk lebih sering menggerakan bahu kanan dengan

mengangkat tangan hingga ke atas secara perlahan-lahan

Disarankan kepada pasien untuk melakukan gerakan menggantungkan tangan

kanan dengan beban rendah hingga beban maksimal, dengan fungsi

memfungsikan otot-otot bahu.

8
BAB III

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi

Frozen shoulder, atau adhesive capsulitis adalah suatu kelainan di mana

terjadi inflamasi pada kapsul sendi bahu, yaitu jaringan ikat disekitar sendi

glenohumeral, sehingga sendi tersebut menjadi kaku dan terjadi keterbatasan

gerak dan nyeri yang kronis.6

2.2 Anatomi dan Fisiologi

Sendi pada bahu terdiri dari tiga tulang yaitu tulang klavikula, skapula, dan

humerus. Beberapa sendi pada bahu yaitu glenohumeral, skapulothorakal,

sternoclavicular, akromioclavicular, suprahumeral, costosternal, dan

costovertebral. Terdapat dua sendi yang sangat berperan pada pergerakan bahu

yaitu sendi akromiklavikular dan glenohumeral. Sendi glenohumeral lah yang

berbentuk ball-and-socket yang memungkinkan untuk terjadi ROM yang luas.

Struktur-struktur yang membentuk bahu disebut juga sebgai rotator cuff. Tulang-

tulang pada bahu disatukan oleh otot, tendon, dan ligament. Tendon dan ligament

membantu member kekuatan dan stabilitas lebih. Otot-otot yang menjadi bagian

dari rotator cuff adalah m. supraspinatus, m. infraspinatus, m. teres minor, dan m.

subscapularis.2,

9
Otot-otot pada rotator cuff sangat penting pada pergerakan bahu dan menjaga

stabilitas sendi glenohumeral. Otot ini bermulai dari scapula dan menyambung ke

humerus membuat seperti cuff atau manset pada sendi bahu. Manset ini menjaga

caput humeri di dalam fossa glenoid yang dangkal. Otot-otot pada rotator cuff

menjada ball dalam socket pada sendi glenohumeral dan memberikan

mobilitas dan kekuatan pada sendi shoulder. Terdapat dua bursa untuk memberi

bantalan dan melingungi dari akromion dan memungkinkan gerakan sendi yang

lancar.

Saat terjadi abduksi lengan, rotator cuff memampatkan sendi glenohumeral,

sebuah istilah yang dikenal sebagai kompresi cekung (concavity compression),

untuk memungkinkan otot deltoid yang besar untuk terus mengangkat lengan.

Dengan kata lain, rotator cuff, caput humerus akan naik sampai sebagian keluar

dari fosa glenoid, mengurangi efisiensi dari otot deltoid.7,8

2.3 Epidemiologi

10
Nyeri pada bahu merupakan penyebab kelainan muskuloskletal tersering

ketiga setelah nyeri punggung bawah dan nyeri leher. Prevalensi dari frozen

shoulder pada populasi umum dilaporkan sekitar 2%, dengan prevalensi 11% pada

penderita diabetes.

Frozen shoulder dapat mengenai kedua bahu, baik secara bersamaan atau

berurutan, pada sebanyak 16% pasien. Frekuensi frozen shoulder bilateral lebih

sering pada pasien dengan diabetes dari pada yang tidak. Pda 14% pasien, saat

frozen shoulder masih terjadi pada suatu bahu, bahu kontralateral juga

terpengaruh. Frozen shoulder kontralateral biasanya terjadi dalam waktu 5 tahun

onset penyakit. Suatu relapse frozen shoulder pada bahu yang sama jarang

terjadi.1

2.4 Etiologi

Frozen shoulder dapat terjadi akibat suatu proses idiopatic atau akibat kondisi

yang menyebabkan sendi tidak dapat digunakan. Idiopatic frozen shoulder sering

terjadi pada dekade ke empat atau ke enam.10

Rotator cuff tendinopati, bursitis subacromial akut, patah tulang sekitar

collum dan caput humeri, stroke paralitic adalah factor predisposisi yang sering

menyebabkan terjadinya frozen shoulder. Penyebab tersering adalah rotator cuff

tendinopati dengan sekitan 10% dari pasien degan kelainan ini akan mengalamai

frozen shoulder. Pasien dengan diabetes mellitus dan pasien yang tidak menjalani

fisioterapi juga memiliki resiko tinggi. Penggunaan sling terlalu lama juga dapat

menyebabkan frozen shoulder.

11
Frozen shoulder dapat terjadi setelah imobilisasi yang lama akibat trauma

atau operasi pada sendi tersebut. Biasanya hanya satu bahu yang terkena, akan

tetapi pada sepertiga kasus pergerkannya yang terbatas dapat terjadi pada kedua

lengan.

Adapun beberapa teori yang dikemukakan AAOS tahun 2007 mengenai

frozen shoulder, teori tersebut adalah :4

a. Teori hormonal.

Pada umumnya Capsulitis adhesive terjadi 60% pada wanita bersamaan dengan

datangnya menopause.

b. Teori genetik.

Beberapa studi mempunyai komponen genetik dari Capsulitis adhesive,

contohnya ada beberapa kasus dimana kembar identik pasti menderita pada saat

yang sama.

c. Teori auto immuno.

Diduga penyakit ini merupakan respon auto immuno terhadap hasil-hasil rusaknya

jaringan lokal.

d. Teori postur.

Banyak studi yang belum diyakini bahwa berdiri lama dan berpostur tegap

menyebabkan pemendekan pada salah satu ligamen bahu.

2.5 Patofisiologi

Patofisiologi frozen shoulder masih belum jelas, tetapi beberapa penulis

menyatakan bahwa dasar terjadinya kelainan adalah imobilisasi yang lama. Setiap

nyeri yang timbul pada bahu dapat merupakan awal kekakuan sendi bahu. Hal ini

12
sering timbul bila sendi tidak digunakan terutama pada pasien yang apatis dan

pasif atau dengan nilai ambang nyeri yang rendah, di mana tidak tahan dengan

nyeri yang ringan akan membidai lengannya pada posisi tergantung. Lengan yang

imobil akan menyebabkan stasis vena dan kongesti sekunder dan bersama-sama

dengan vasospastik, anoksia akan menimbulkan reaksi timbunan protein, edema,

eksudasi, dan akhirnya reaksi fibrosis. Fibrosis akan menyebabkan adhesi antara

lapisan bursa subdeltoid, adhesi ekstraartikuler dan intraartikuler, kontraktur

tendon subskapularis dan bisep, perlekatan kapsul sendi.7

Penyebab frozen shoulder mungkin melibatkan proses inflamasi. Kapsul

yang berada di sekitar sendi bahu menebal dan berkontraksi. Hal ini membuat

ruangan untuk tulang humerus bergerak lebih kecil, sehingga saat bergerak terjadi

nyeri.

Penemuan makroskopik dari patofisiologi dari frozen shoulder adalah fibrosis

yang padat dari ligament dan kapsul glenohumeral. Secara histologik ditemukan

proliferasi aktif fibroblast dan fibroblas tersebut berubah menjadi miofibroblas

sehingga menyebabkan matriks yang padat dari kolagen yang berantakan yang

menyebabkan kontraktur kapsular. Berkurangnya cairan synovial pada sendi bahu

juga berkontribusi terhadap terjadinya frozen shoulder.

Pendapat lain mengatakan inflamasi pada sendi menyebabkan thrombine dan

fibrinogen membentuk protein yang disebut fibrin. Protein tersebut menyebabkan

penjedalan dalam darah dan membentuk suatu substansi yang melekat pada sendi.

Perlekatan pada sekitar sendi inilah yang menyebabkan perlekatan satu sama lain

sehingga menghambat full ROM. Kapsulitis adhesiva pada bahu inilah yang

disebut frozen shoulder.

13
Terdapat pula pendapat yang menyatakan adanya proses perrubahan vaskuler

pada frozen shoulder.5,7

2.6 Manifestasi Klinis

Manifestasi klinis dari frozen shoulder memiliki ciri khas yaitu terbagi dalam

tiga fase, nyeri, kaku, dan perbaikan. Proses alamiah dari fase-fase ini biasanya

berjalan selama 1 hingga 3 tahun.4

Fase pertama sering disebut juga sebagai painful atau freezing stage, fase ini

diawali dengan rasa nyeri pada bahu. Pasien akan mengeluhkan nyeri saat tidur

dengan posisi miring dan akan membatasi gerak untuk menghindari nyeri. Pasien

akan sering mengeluhkan nyeri pada daerah deltoid. Sering kali pasien tidak akan

meminta bantuan medis pada fase ini, karena dianggap nyeri akan hilang dengan

sendirinya. Mereka dapat mencoba mengurangi nyeri dewngan analgesic. Tidak

ada trauma sebelumnya, akan tetapi pasien akan ingat pertama kali dia tidak bisa

melakukan kegiatan tertentu akibat nyeri yang membatasi pergerakan. Fase ini

dapat berlangsung selama 2 sampai 9 bulan.

Fase kedua ini disebut stiff atau frozen fase. Pada fase ini pergerakan bahu

menjadi sangat terbatas, dan pasien akan menyadari bahwa sangat sulit untuk

melalukan kegiatan sehari-hari, terutama yang memerlukan terjadinya rotasi

interna dan externa serta mengangkat lengan seperti pada saat keramas atau

mengambil sesuatu yang tinggi. Saat in pasien biasanya mempunyai keluahans

spesifik seperti tidak bisa menggaruk punggung, atau memasang BH, atau

mengambil sesuatu dari rak yang tinggi. Fase ini berlangsung selama 3 bulan

hingga 1 tahun.

14
Fase terakhir adalah fase resolusi atau thawing fase. Pada fase ini pasien

mulai bisa menggerakan kembali sendi bahu. Setelah 1-3 tahun kemampuan untuk

melakukan aktivitas akan membaik, tapi pemulihan sempurna jarang terjadi.

Pada pemeriksaan fisik didapatkan hilangnya gerak pada segala arah baik

secara gerak aktif maupun pasif. Pada pemeriksaan fisik, fleksi atau elevasi

mungkin kurang dari 90 derajat, abduksi kurang dari 45 derajat, dan rotasi internal

dan eksternal dapat berkurang sampai 20 derajat atau kurang. Terdapat pula

restriksi pada rotasi eksternal.

Tes Appley scratch merupakan tes tercepat untuk mengeveluasi lingkup

gerak sendi aktif. Pasien diminta menggaruk daerah angulus medialis skapula

dengan tangan sisi kontra lateral melewati belakang kepala. Pada frozen shoulder

pasien tidak dapat melakukan gerakan ini. Nyeri akan bertambah pada penekanan

dari tendon yang membentuk muskulotendineus rotator cuff. Bila gangguan

berkelanjutan akan terlihat bahu yang terkena reliefnya mendatar, bahkan kempis,

karena atrofi otot deltoid, supraspinatus dan otot rotator cuff lainnya.

Pada prinsipnya diagnosa frozen shoulder ditegakan berdasarkan manifestasi

klinis. Pemeriksaan penunjang berupa pemeriksaan radiologis hanya dilakukan

untuk menyingkirkan kemungkinan penyakit lain. Pemeriksaan laboratorium

kadang dilakukan karena sering pada penderita fronzen shoulder merupakan

penderita diabetes yang tidak diketahui.2,9

Menurut Kisner (1996) frozen shoulder dibagi dalam 3 tahapan, yaitu :3

a. Pain ( freezing )

15
Ditandai dengan adanya nyeri hebat bahkan saat istirahat, gerak sendi bahu

menjadi terbatas selama 2-3 minggu dan masa akut ini berakhir sampai 10 -36

minggu.

b. Stiffness ( frozen )

Ditandai dengan rasa nyeri saat bergerak, kekakuan atau perlengketan yang nyata

dan keterbatasan gerak dari glenohumeral yang diikuti oleh keterbatasan gerak

skapula. Fase ini berakhir 4-12 bulan.

c. Recovery (thawing)

Pada fase ini tidak ditemukan adanya rasa nyeri dan tidak ada sinovitis tetapi

terdapat keterbatasan gerak karena perlengketan yang nyata. Fase ini berakhir

selama 6-24 bulan atau lebih.

2.8 Diagnosis

1. Anamnesis

Pada penderita didapatkan keluhan nyeri hebat dan atau keterbatasan

lingkup gerak sendi (LGS). Penderita tidak bisa menyisir rambut, memakai baju,

menggosok punggung waktu mandi, atau mengambil sesuatu dari saku belakang.

Keluhan lain pada dasarnya berupa gerakan abduksi-eksternal rotasi, abduksi-

internal rotasi, maupun keluhan keterbatasan gerak lainnya.7

2. Pemeriksaan Fisik

Capsulitis adhesive merupakan gangguan pada kapsul sendi, maka gerakan

aktif maupun pasif terbatas dan nyeri. Nyeri dapat menjalar ke leher lengan atas

dan punggung. Perlu dilihat faktor pencetus timbulnya nyeri. Gerakan pasif dan

16
aktif terbatas, pertama-tama pada gerakan elevasi dan rotasi interna lengan, tetapi

kemudian untuk semua gerakan sendi bahu.

Tes appley scratch merupakan tes tercepat untuk mengevaluasi lingkup

gerak sendi aktif pasien. Pasien diminta menggaruk daerah angulus medialis

skapula dengan tangan sisi kontralateral melewati belakang kepala (gambar 1).

Pada Capsulitis adhesive pasien tidak dapat melakukan gerakan ini. Bila sendi

dapat bergerak penuh pada bidang geraknya secara pasif, tetapi terbatas pada

gerak aktif, maka kemungkinan kelemahan otot bahu sebagai penyebab

keterbatasan.

Nyeri akan bertambah pada penekanan dari tendon yang membentuk

muskulotendineus rotatorcuff. Bila gangguan berkelanjutan akan terlihat bahu

yang terkena reliefnya mendatar, bahkan kempis, karena atrofi otot deltoid,

supraspinatus dan otot rotator cuff lainnya. 7

Gambar 1: Tes Appley scracth

17
3. Pemeriksaan Penunjang

Selain dibutuhkan pemeriksaan fisik, dalam mendiagnosa suatu penyakit

juga dibutuhkan suatu pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan penujang dilakukan

sesuai dengan masing-masing penyakit. Pada Capsulitis adhesive pemeriksaan

penunjang yang dilakukan yaitu pemeriksaan radiologi (x-ray untuk

menyingkirkan arthritis, tumor, dan deporit kalsium) dan pemeriksaan MRI atau

arthrogram (dilakukan bila tidak ada perbaikan dalam waktu 6-12 minggu), dan

pemeriksaan ultrasound.6

2.7 Penatalaksanaan

Medikamentosa

Penatalaksanaan dari frozen shoulder berfokus pada mengembalikan

pergerakan sendi dan mengurangi nyeri pada bahu. Biasanya pengobatan diawali

dengan pemberian NSAID dan pemberian panas pada lokasi nyeri, dilanjutkan

dengan latihan-latihan gerakan. Pada beberpa kasus dilakukan TENS untuk

mengurangi nyeri.

Langkah selanjutnya biasanya melibatkan satu atau serangkaian suntikan

steroid (sampai enam) seperti Methylprednisolone. Pengobatan ini dapat perlu

dilakukan dalam beberapa bulan. Injeksi biasanya diberikan dengan bantuan

radiologis, bisa dengan fluoroskopi, USG, atau CT. Bantuan radiologis digunakan

untuk memastikan jarum masuk dengan tepat pada sendi bahu. Kortison

injeksikan pada sendi untuk menekan inflamasi yang terjadi pada kondisi ini.

Kapsul bahu juga dapat diregangkan dengan salin normal, kadang hingga terjadi

rupture pada kapsul untuk mengurangi nyeri dan hilangnya gerak karena

18
kontraksi. Tindakan ini disebut hidrodilatasi, akan tetapi terdapat beberapa

penelitian yang meragukan kegunaan terapi tersebut. Apabila terapi-terapi ini

tidak berhasil seorang dokter dapat merekomendasikan manipulasi dari bahu

dibawah anestesi umum untuk melepaskan perlengketan. Operasi dilakukan pada

kasus yang cukup parah dan sudah lama terjadi. Biasanya operasi yang dilakukan

berupa arthroskopi.5,10

Penanganan Rehabilitasi Medik

Terapi dingin 9

Modalitas terapi ini biasanya untuk nyeri yang disebabkan oleh cedera

muskuloskeletal akut. Demikian pula pada nyeri akut Capsulitis adhesive lebih

baik diberikan terapi dingin.

Efek terapi ini diantaranya mengurangi spasme otot dan spastisitas,

mengurangi maupun membebaskan rasa nyeri, mengurangi edema dan aktivitas

enzim destruktif (kolagenase) pada radang sendi. Pemberian terapi dingin pada

peradangan sendi kronis menunjukkan adanya perbaikan klinis dalam hal

pengurangan nyeri.

Adapun cara dan lama pemberian terapi dingin adalah sebagai berikut:

o Kompres dingin

Teknik: masukkan potongan potongan es kedalam kantongan yang tidak tembus

air lalu kompreskan pada bagian yang dimaksud. Lama: 20 menit, dapat diulang

dengan jarak waktu 10 menit.

o Masase es

19
Teknik: dengan menggosokkan es secara langsung atau es yang telah dibungkus.

Lama: 5-7 menit. Frekuensi dapat berulang kali dengan jarak waktu 10 menit.

Terapi panas3,9

Efek terapi dari pemberian panas lokal, baik dangkal maupun dalam, terjadi

oleh adanya produksi atau perpindahan panas. Pada umumnya reaksi fisiologis

yang dapat diterima sebagai dasar aplikasi terapi panas adalah bahwa panas akan

meningkatkan viskoelastik jaringan kolagen dan mengurangi kekakuan sendi.

Panas mengurangi rasa nyeri dengan jalan meningkatkan nilai ambang nyeri

serabut-serabut saraf. Efek lain adalah memperbaiki spasme otot, meningkatkan

aliran darah, juga membantu resolusi infiltrat radang, edema, dan efek eksudasi.

Beberapa penulis menganjurkan pemanasan dilakukan bersamaan dengan

peregangan, dimana efek pemanasan meningkatkan sirkulasi yang bermanfaat

sebagai analgesik.Terapi panas dangkal menghasilkan panas yang tertinggi pada

permukaan tubuh namun penetrasinya kedalam jaringan hanya beberapa

milimeter. Pada terapi panas dalam, panas diproduksi secara konversi dari energi

listrik atau suara ke energi panas didalam jaringan tubuh. Panas yang terjadi

masuk kejaringan tubuh kita yang lebih dalam, tidak hanya sampai jaringan

dibawah kulit (subkutan). Golongan ini yang sering disebut diatermi, terdiri dari:

o Diatermi gelombang pendek (short wave diathermy = SWD)

o Diatermi gelombang mikro (microwave diathermy = MWD)

o Diatermi ultrasound (utrasound diathermy = USD)

Pada Capsulitis adhesive, modalitas yang sering digunakan adalah ultrasound

diathermy (US) yang merupakan gelombang suara dengan frekuensi diatas 17.000

20
Hz dengan daya tembus yang paling dalam diantara diatermi yang lain.

Gelombang suara ini selain memberikan efek panas/ termal, juga ada efek

nontermal/ mekanik/ mikromasase, oleh karena itu banyak digunakan pada kasus

perlekatan jaringan. Frekuensi yang dipakai untuk terapi adalah 0,8 dan 1 MHz.

Dosis terapi 0,5-4 watt/cm2, lama pemberian 5-10 menit, diberikan setiap hari atau

2 hari sekali. US memerlukan media sebagai penghantarannya dan tidak bisa

melalui daerah hampa udara. Menurut penelitian, medium kontak yang paling

ideal adalah gel.

Efek US pada Capsulitis adhesive :

Meningkatkan aliran darah

Meningkatkan metabolisme jaringan

Mengurangi spasme otot

Mengurangi perlekatan jaringan

Meningkatkan ekstensibilitas jaringan.

Modalitas lain yang digunakan adalah short wave diathermy. Disini

digunakan arus listrik dengan frekuensi tinggi dengan panjang gelombang 11m

yang diubah menjadi panas sewaktu melewati jaringan.Pada umumnya pemanasan

ini paling banyak diserap jaringan dibawah kulit dan otot yang terletak di

permukaan.

c. Elektrostimulasi : TENS (Transcutaneus Electrical Nerve Stimulation )3

Modalitas terapi fisik ini dapat dipergunakan untuk nyeri akut maupun nyeri

kronis, dan sering digunakan untuk meredakan nyeri pada Capsulitis adhesive.

21
Untuk peletakan elektroda dan pemilihan parameter perangsangan sampai

sekarang masih lebih banyak bersifat seni dan subyektif. Namun peletakkan

elektrode harus tetap berdasarkan pengetahuan akan dasar-dasar anatomi dan

fisiologi. Letak elektroda yang biasa dipilih yaitu: daerah paling nyeri, dermatom

saraf tepi, motor point, trigger point, titik akupuntur.

Stimulasi dapat juga disertai dengan latihan. Misalnya keterbatasan gerak

abduksi, elektrode aktif (negatif) ditempatkan pada tepi depan aksila dan elektroda

kedua diletakkan pada bahu atau diatas otot deltoid penderita. Pasien berdiri

disamping sebuah dinding dan diminta meletakkan jari-jarinya pada permukaan

dinding. Pada saat stimulasi, jari-jari tangan pasien diminta untuk berjalan ke atas

di dinding tersebut. Lama pemberian stimulasi bervariasi dari 30 menit sampai

beberapa jam dan dapat dilakukan sendiri oleh penderita. Angka keberhasilan

untuk menghilangkan nyeri bervariasi dari 25% sampai 8095%.

Latihan

Merupakan bagian yang terpenting dari terapi Capsulitis adhesive. Pada

awalnya latihan gerak dilakukan secara pasif terutama bila rasa nyeri begitu berat.

Setelah nyeri berkurang latihan dapat dimulai dengan aktif dibantu. Rasa nyeri

yang timbul pada waktu sendi digerakkan baik secara pasif maupun aktif

menentukan saat dimulainya latihan gerak. Bila selama latihan pasif timbul rasa

nyeri sebelum akhir pergerakan sendi diduga masih fase akut sehingga latihan

gerakan aktif tidak diperbolehkan. Bila rasa nyeri terdapat pada akhir gerakan

yang terbatas, berarti masa akut sudah berkurang dan latihan secara aktif boleh

dilakukan. Pada latihan gerak yang menimbulkan/ menambah rasa nyeri, maka

22
latihan harus ditunda karena rasa nyeri yang ditimbulkan akan menurunkan

lingkup gerak sendi. Tetapi bila gerakan pada latihan tidak menambah rasa nyeri

maka kemungkinan besar terapi latihan gerak akan berhasil dengan baik. Latihan

gerak dengan menggunakan alat seperti shoulder wheel , overhead pulleys, finger

ladder, dan tongkat merupakan terapi standar untuk penderita frozen shoulder. 9

Gambar 2 : shoulder wheel

Gambar 3 : overhead pulleys Gambar 4: finger ladder

23
Latihan Codman (Pendulum)3,9

Gravitasi menyebabkan traksi pada sendi dan tendon dari otot lengan.

Codman memperkenalkan latihan untuk sendi bahu dengan menggunakan

gravitasi. Bila penderita melakukan gerak abduksi pada saat berdiri tegak akan

timbul raa nyeri hebat. Tetapi bila dilakukan dengan pengaruh dari gravitasi dan

otot supraspinatus relaksasi maka gerakan tersebut terjadi tanpa disertai rasa nyeri.

Pada pergerakan pendulum penderita membungkuk kedepan, daerah lengan yang

sakit tergantung bebas tanpa atau dengan beban.

Tubuh dapat ditopang dengan meletakkan lengan satunya diatas meja atau

bangku, lengan digerakkan ke depan dan ke belakang pada bidang sagital (fleksi-

ekstensi). Makin lama makin jauh gerakannya, kemudian gerakan kesamping,

dilanjutkan gerakan lingkar (sirkuler) searah maupun berlawanan arah dengan

jarum jam. Pemberian beban pada latihan pendulum akan menyebabkan otot

memanjang dan dapat menimbulkan relaksasi pada otot bahu.

Gambar 5: Latihan Pendulum

Latihan dengan menggunakan tongkat 3,9

24
Latihan dengan tongkat dapat berupa gerakan fleksi, abduksi, adduksi, dan rotasi.

Gerakan dapat dilakukan dalam posisi berdiri, duduk ataupun berbaring.

Gambar 6 : Latihan dengan menggunakan tongkat

Latihan finger ladder

Finger ladder adalah alat bantu yang dapat memberikan bantuan secara obyektif

sehingga penderita mempunyai motivasi yang kuat untuk melakukan latihan

lingkup gerak sendi dengan penuh. Perlu diperhatikan agar penderita berlatih

dengan posisi yang benar, jangan sampai penderita memiringkan tubuhnya,

berjinjit maupun melakukan elevasi kepala. Gerakan yang dapat dilakukan adalah

fleksi dan abduksi. Penderita berdiri menghadap dinding dengan ujung jari-jari

tangan sisi yang terkena menyentuh dinding. Lengan bergerak keatas dengan

menggerakkan jari-jari tersebut (untuk fleksi bahu). Untuk gerakan abduksi

dikerjakan dengan samping badan menghadap dinding.3

Latihan dengan over head pulleys (katrol)

Bila diajarkan dengan benar, sistem katrol sangat efektif untuk membantu

mencapai lingkup gerak sendi bahu dengan penuh. Peralatan: dua buah katrol

25
digantungkan pada tiang dengan seutas tali dihubungkan dengan kedua katrol

tersebut. Kedua ujung tali diberi alat agar tangan dapat menggenggam dengan

baik. Posisi penderita bisa duduk, berdiri atau berbaring terlentang dengan bahu

terletak dibawah katrol tersebut. Dengan menarik tali pada salah satu tali yang lain

akan terangkat. Sendi siku diusahakan tetap dalam posisi ekstensi dan penderita

tidak boleh mengangkat bahu maupun mengangkat tubuh. Gerakan dilakukan

perlahan-lahan. 3

Latihan dengan shoulder wheel

Dengan instruksi yang benar shoulder whell dapat digunakan untuk memberi

motivasi pada penderita untuk melakukan latihan lingkup gerak sendi bahu secara

aktif. Cara penggunaan alat yaitu penderita berdiri sedemikian rupa sehingga aksis

dari sendi bahu sama dengan aksis roda pemutar sehingga gerak lengan sesuai

dengan gerak putaran roda. Penderita tidak diharuskan menggerakkan roda secara

penuh, tetapi gerakan hanya dilakukan sebesar kemampuan gerakan sendi

bahunya. Harus pula diperhatikan pada waktu melakukan gerakan endorotasi

maupun eksorotasi bahu dalam posisi abduksi 90o dan siku fleksi 90o. Dengan

meletakkan siku pada aksis roda maka gerakan dapat dilakukan sampai pada

keterbatasan lingkup gerak sendi. 3,9

2.9 Diagnosa Banding

Kekakuan pasca trauma setelah setiap cedera bahu yang berat, kekakuan

dapat bertahan beberapa bulan. Pada mulanya kekurangan ini maksimal dan

secara berangsur-angsur berkurang, berbeda dengan pola bahu beku. Kondisi

pembanding dari kondisi Capsulitis adhesive antara lain adalah bursitis

subacromial, tendinitis bicipitalis, dan lesi rotator cuff.10

26
2.10 Komplikasi

Pada kondisi capsulitis adhesive yang berat dan tidak mendapat penanganan

yang tepat dalam jangka waktu yang lama akan menimbulkan problematic yang

lebih berat antara lain kekakuan sendi bahu, kecenderungan terjadinya penurunan

kekuatan otot otot bahu, potensial terjadinya deformitas pada sendi bahu, dan

adanya gangguan AKS (Aktivitas Kehidupan Sehari-hari).2

2.11 Prognosis

Pasien dengan frozen shoulder bisa sembuh, namun sebagian besar penderita

frozen shoulder kehilangan sebagian fungsi gerak dari sendi bahu. 8

27
BAB IV

PEMBAHASAN

Pasien datang periksa ke poli rehabilitasi medik rumah sakit mardi

waluyo dengan keluhan nyeri pada bahu kanan sejak 1 1/2 bulan yang lalu. Nyeri

bahu terasa linu, tidak menjalar. Awal mula nyeri bahu sejak 2 bulan yang lalu

jatuh terpeleset dengan tumpuan bahu sehingga bahu nya terasa sakit. Setelah

mengeluh nyeri bahu 1 bulan lalu di bawa ke tukang pijat, saat di tukang pijat

hanya di pijat di bagian bahu kanan namun keluhan tetap ada. Pasien mengaku

tidak pernah mengalami seperti ini, sebelum jatuh bahu kanan tetap normal.

Dari Pemeriksaan fisik didapatkan keterbatasan pada gerakan sendi bahu

kanan yaitu flexi 0-80O, ekstensi 0-40O, abduksi 0-90O , internalrotasi 0-30O,

ekstrernal rotasi 0-300, Manual Muscle Test 5/5.

Dari pemeriksaan diatas, memenuhi kriteria diagnosa frozen shoulder,

dimana penderita merasakan keterbatasan dalam melakukan gerakan bahu, dan

pasien akan menyadari bahwa sangat sulit untuk melalukan kegiatan sehari-hari,

terutama yang memerlukan terjadinya rotasi interna dan externa serta mengangkat

lengan seperti pada saat keramas atau mengambil sesuatu yang tinggi.

Adapun diagnosa banding dari nyeri bahu adalah cervical root syndrome,

subacromial impigment syndrome. CRS bisa disingkirkan dari spurling dan

lhermite yang negatif. Pada CRS, juga tidak ada keterbatasan pergerakan sendi

bahu karena kaku, melainkan nyeri. Pada subacromial impigment syndrome, juga

didapatkan nyeri pada bahu, dan menghasilkan pemeriksaan Hawkin dan Neer test

yang positif.

28
Dari pemeriksaan penunjang foto rontgen tidak ada kelainan radiologis

dari tulang dan sendi bahu kanan. Pada pasien ini didapatkan riwayat jatuh

terpeleset yang bertumpu pada bahu, yang mengindikasikan dilakukan foto

rontgen. Pemeriksaan foto rontgen digunakan untuk mengexclude dislokasi bahu,

namun memang pada kasus frozen shoulder tidak akan ditemukan kelainan.

Pemberian modalitas terapi TENS yang bertujuan mengurangi nyeri

melalui mekanisme segmental, TENS akan menghasilkan efek analgesia dengan

jalan mengaktifasi serabut A beta yang akan menginhibisi neuron nosiseptif di

kornu dorsalis medula spinalis, yang mengacu pada teori gerbang control bahwa

gerbang terdiri dari sel internunsia yang bersifat inhibisi yang dikenal sebagai

substansia gelatinosa dan yang terletak di kornu posterior dan sel T yang merelai

informasi dari pusat yang lebih tinggi. Tingkat aktivitas Sel T ditentukan oleh

keseimbangan asupan dari serabut berdiameter besar A beta dan A alfa serta

serabut berdiameter kecil A delta dan serabut C. Asupan dari saraf berdiameter

kecil akan mengaktifasi sel T yang kemudian dirasakan sebagai keluhan nyeri.

Namun pada saat yang bersamaan impuls juga dapat memicu sel substansia

gelatinosa yang berdampak pada penurunan asupan terhadap sel T baik yang

berasal dari serabut berdiameter besar maupun kecil dengan kata lain asupan

impuls dari serabut aferen berdiameter besar akan menutup gerbang dan

membloking transmisi impuls dari serabut aferen nosiseptor sehingga nyeri

berkurang. Tujuan penerapan SWD disini adalah untuk mengurangi nyeri pada

bahu yaitu dengan pemberian efek termal yang diberikan akan memberikan efek

sedatif yang dapat meningkatkan ambang rangsang nyeri juga dapat meningkatkan

elastisitas jaringan lunak disekitar sendi, terjadinya vasodilatasi yang kemudian

29
meningkatkan sirkulasi darah sehingga dapat mengurangi nyeri dengan adanya

pembuangan zat kimiawi penyebab nyeri.

Latihan Merupakan bagian yang terpenting dari terapi Capsulitis

adhesive. Pada pasien ini masih mengeluh nyeri, dan onsetnya baru satu bulan,

diduga masih fase akut, sehingga latihan yang diperbolehkan dengan gerakan

pasif. Latihan dapat menggunakan alat seperti shoulder wheel , overhead pulleys,

finger ladder, dan tongkat merupakan terapi standar untuk penderita frozen

shoulder. Keberhasilan dari suatu tindakan terapi tidak bisa lepas dari beberapa

faktor diantaranya, medika mentosa berupa obat-obatan yang diberikan yang

diberikan pada pasien dari dokter. Faktor lain yang juga sangat penting dalam

menentukan keberhasilan suatu terapi adalah rutinitas terapi yang dilakukan dan

juga latihan yang dilakukan pasien di rumah seperti yang telah di anjurkan oleh

terapis.

30
BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Pasien Tn.S 60 tahun dengan diagnosa Frozen Shoulder, dengan keadaan

seperti ini pasien merasa sangat mengganggu aktivitas kesehariannya terutama

yang melibatkan tangan yang notabene sangat bermanfaat karena segala sesuatu

aktivitas fungsional pasien ini banyak dilakukan dengan tangan. Dengan melihat

permasalahan tersebut penulis mencoba memberikan program fisioterapi dengan

modalitas infra red, TENS, massage friction ditambah terapi latihan menggunakan

passive exercise dengan tujuan untuk mengatasi problematik yang muncul pada

pasien ini dengan program dua kali terapi. Adapun harapan dari pemberian terapi

tersebut adalah 1)Adanya pengurangan nyeri diam, gerak, dan nyeri tekan hal ini

disebabkan dengan adanya pemberian modalitas fisioterapi SWD dan TENS, 2)

adanya peningkatan lingkup gerak sendi bahu 3) Adanya peningkatan kekuatan

otot, hal ini didapat dengan pelaksanaan terapi latihan.

5.2 Saran

Pada kasus Frozen Shoulder ini dalam pelaksanaan yasangat dibutuhkan

kerjasama antara terapis dengan penderita dengan bekerja sama dengan tim medis

lainnya, agar tercapai hasil pengobatan yang maksimal. Selain itu hal-hal lain

yang harus diperhatikan antara lain :

1. Bagi penderita disarankan untuk melakukan terapi secara rutin, serta melakukan

latihan-latihan yang jenis modalitas fisioterapi yang tepat dan efektif buat

penderita.

31
2. Bagi fisioterapis hendaknya benar-benar melakukan tugasnya secara

professional, yaitu melakukan pemeriksaan dengan teliti sehingga dapat

menegakkan diagnosa, menentukan problematik, menentukan tujuan terapi yang

tepat, untuk menentukan jenis modalitas fisioterapi yang tepat dan efektif buat

penderita, selain itu fisioterapis hendaknya meningkatkan ilmu pengetahuan serta

pemahaman terhadap hal-hal yang berhubungan dengan studi kasus karena tidak

menutup kemungkinan adanya terobosan baru dalam suatu pengobatan yang

membutuhkan pemahaman lebih lanjut.

3. Bagi Dokter / Tim Medis disarankan, jika ada pasien dengan kondisi

frozen shoulder hendaknya segera dirujuk ke Fisioterapi untuk sesegera mungkin

mendapatkan penanganan dan saling bekerjasama demi kesembuhan pasien.

4. Bagi masyarakat disarankan jika tiba-tiba merasakan nyeri hebat pada

bahu dan keterbatasan gerak pada bahu segera memeriksakan diri ke dokter

karena ditakutkan timbulnya masalah baru dan dapat memperlama proses

penyembuhan itu sendiri.

32
DAFTAR PUSTAKA

1. Binder Al, Bulgen Dy, Hazleman, Roberts S. 1984. Frozen Shoulder : A Long

Term Prospective Study. Ann Rheum Dis. 43(3): 301-4

2. Carolyn TW. Physical Therapy Frozen Shoulder. 23 September 2015. Available

from : http://www.physicaltherapyjournal.com/content/66/12/1878.full.pdf

3. Harso S. 2010. BST Frozen Shoulder. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta :

Yogyakarta.

4. Keith, Strange. 2010. Passive Range of Motion and Codmans Exercise. American

Academy of Orthopedics Surgeons.

5. Patient Information Guide Frozen ShoulderSyndrome (Adhesive Capsulitis) in

Seacost Orthopedics & Sports Medicine. Available online at :

http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=3&cad=rj

a&uact=8&ved=0CCoqfjac

6. Ph Laubhscher. 2009. Frozen Shoulder. SA Orthopedy Journal South Afrika.

Available from : http://shoulder.co.za/content/stoj%20frozen%20shoulder.pdf

7. Priguna, Sidharta. 2003. Sakit Neuromuskuloskeletal dalam Praktek Umum.

Fakultas Kedokteran Indonesia: Jakarta.

8. Setianing, Retno., Kusumawati, K., Siswarni. 2011. Pelatihan Ketrampilan Medis

Pemeriksaan Muskuloskeletal Ilmu Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi Medk .

Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta: Surakarta.

9. Sianturi, Golfried. 2008. Studi Komparatif Injeksi dan Oral Triamnicolone

Acetonide pada sindroma Frozen Shoulder. Semarang.

33
10. William E, Morgan, DC& Sarah Ptthoff, DC. Managing the Frozen Shoulder.

Available online at : http://drmorgan.info/data/documents/frozen-shoulder-

ebook.pdf diakses tanggal 24 September 2015.

34