Anda di halaman 1dari 4

HEMOROID

TRIAGE
Hemoroid berasal dari kata Yunani yaitu haima (darah) dan rhoos (aliran) yang
berarti aliran darah. Penyakit ini dikenal dengan varices, tetapi kemudian bergeser ke
teori baru seperti teori hiperplasia vaskuler dan teori anal cushions.

Penyebab hemoroid yaitu degenerasi jaringan penunjang, yang dapat terjadi


karena sembelit, diare, diet, herediter atau defisiensi fungsi sfingter ani interna. Wanita
hamil sering menderita henoroid karena adanya venous dilation, konstipasi kronik dan
stasis vena. Insidens terjadinya cukup sering berkisar 50-80% orang dewasa, wanita lebih
sering dari pria, semakin tinggi usia lebih sering dijumpai.

Biasanya pasien datang dengan keluhan buang air besar yang berdarah atau
timbulnya benjolan di daerah anus. Pada kondisi berat dapat terjadi prolaps dan nekrosis
dari rectum.

DIAGNOSIS
Diagnosis ditegakkan dari :
Anamnesis :
Keluhan yang sering dijumpai adalah : perdarahan yang menetes atau setelah
buang air besar yang keras
Timbul benjolan di anus atau prolaps dari benjolan tersebut
Nyeri pada anus
Kadang-kadang disertai rasa gatal
Kemungkinan yang dapat dipikirkan dalam menegakkan diagnosis hemoroid
yaitu : polip, keganasan, prolaps rekti, fistula ani.

Pemeriksaan Fisik :
Tanda vital : status gizi, demam
Pemeriksaan abdomen : biasanya tidak didapatkan kelainan, obstruksi timbul
bila prolaps yang menyumbat.
Pemeriksaan anus : benjolan dengan warna kebiruan, tanda radang, lokasi
dan nyeri tekan
Colok dubur : menilai ada tidaknya benjolan dan thrombus.

Pemeriksaan Anuskopi :
Pemeriksaan anuskopi merupakan pemeriksaan yang penting
Penilaian adanya hemoroid interna dan eksterna dengan batas linea dentate

Laboratorium :
Leukositosis sering menyertai demam dan tanda infeksi
Tidak khas
Berdasarkan berat ringanya hemoroid dapat dibagi menjadi 4 derajat :
Derajat I : perdarahan tanpa prolaps bantalan anus
Derajat II : prolaps bantalan anus yang spontan masuk kembali
Derajat III : prolaps bantalan anus yang harus didorong agar masuk kembali
Derajat IV : prolaps bantalan anus yang tidak dapat dimasukkan kembali.

KASUS BEDAH ATAU BUKAN


Kasus hemoroid derajat III dan IV adalah kasus bedah
Pada derajat I dan II diberikan medikamentosa dan pencegahan.

KONTRAINDIKASI
Tidak ada kontraindikasi mutlak
Pasien yang disertai dengan penyakit diabetes, hipertensi dan gangguan
hematologi perlu perhatian khusus.

JENIS TINDAKAN/TEKNIK OPERASI


Terapi hemoroid dapat berupa pencegahan, medikamentosa (non-invasive) atau
tindakan (invasive), tergantung dari derajat hemoroid dan keluhan penderita.

Pencegahan
Hindari konstipasi kronik dengan banyak minum air, makan sayur-sayuran
(serat), buah-buahan agar feses tidak keras
Hindari makanan yang pedas
Usahakan jangan mengedan sewaktu defekasi, posisi jongkok lebih baik
disbanding posisi duduk.
Pemakaian pencahar tidak dianjurkan, karena dapat mengiritasi hemoroid.

Medikamentosa (non-invasive)
Obat yang digunakan bertujuan untuk memperbaiki defekasi, mengurangi
keluhan, menghentikan perdarahan, atau mencegah timbulnya keluhan baru.
Untuk memperbaiki defekasi : suplemen serat dan pelicin feses (stool
softener)
Terapi dengan merendam bokong dengan air hangat atau garam pekat (Sitz
bath), diberikan salep, antiseptik, vasokonstriktor dan analgetik.
Preparat vaskuloprotektif dan phlebotropik yaitu diosmin (Ardium ).
Diosmin bekerja pada vena, system limfatik dan mikrosirkulasi, terutama
memperbaiki permeabilitas.

Tindakan (Invasive)
1. Skleroterapi
Prosedur skleroterapi dilakukan dengan menyuntikkan sklerosan ke hemoroid
(paravasal atau intravasal) sehingga menimbulkan reaksi inflamasi menjadi jaringan
parut. Skleroterapi hanya dilakukan pada hemoroid derajat I dan II.
Sklerosan yang biasa dipakai adalah :
Polidocanol 1% yang disuntikan 0,5-1 cc per hemoroid dan diulang setiap 3-4
minggu.
Phenol in almond oil 3-4 cc dengan interval 6 minggu.

2. Rubber Band Ligation (RBL)


Prosedur ini pertama kali dilaporkan oleh Blaisdell (1958) dan dikembangkan oleh
Baron (1963), sehingga dikenal dengan Baron ligation. Dengan perantara alat
khusus karet berdiameter 1 mm, dipakai menjepit pedikel hemoroid.
Dilakukan pada hemoroid derajat I-II.

3. Cryosurgery
Pemotongan hemoroid dengan menggunakan nitrogen cair yang suhunya 196oC.

4. Koagulasi
Koagulasi dapat dilakukan dengan infrared photo coagulation atau laser
coagulation.

5. Doppler ultrasound guides Hemoroid artery ligation


Dengan proctoskop yang mempunyai transduser ultrasound untuk mengetahui lokasi
arteri hemorrhoidalis, kemudian dijahit ikat. Kelebihan prosedur ini adalah setelah
tindakan dapat diketahui apakah ligasi sudah tepat atau tidak.
Prosedur ini merupakan pilihan utama pada hemoroid yang sedang berdarah.

6. Terapi operasi
Operasi dilakukan pada :
Hemoroid derajat III-IV
Prosedur lain gagal
Hemoroid sudah fibrosis
Teknik operasi yang dilakukan adalah teknik Milligan Morgan yang diperkenalkan
tahun 1937. Saat ini lebih mudah dilakukan dengan harmonic scalpel
Teknik stappled hemorrhoidectomy diperkenalkan oleh Antonio Longo (1996).
Tujuan teknik ini mengurangi prolaps dan menghentikan vaskularisasi dari
arteri hemoroidalis superior
Insisi transversal
Dilakukan reseksi mukosa dan muko-mukosal anastomosis dengan alat
intraluminal stappler

TIMING OPERASI
Dilakukan pembedahan setelah persiapan prabedah tercapai optimal, terutama bila
didapatkan penyakit sistemik.

PROBLEM PRABEDAH
Masalah nyeri : diberikan analgetik dan penenang
Hipoalbuminemia : perbaiki status nutrisi
PROBLEM INTRABEDAH
Perlu penguasaan struktur anatomi anorektum. Masalah yang timbul intraoperatif
antara lain :
Perdarahan
Cedera sfingter ani
Cedera pembuluh darah

PROBLEM PASCABEDAH
Masalah yang dapat timbul pasca bedah yaitu :
Infeksi
Abses perianal
Fistula ani
Inkontinesia alvi

FOLLOW UP
Dilakukan perawatan luka dan pencegahan untuk mengatasi rekurensi
Pencegahan merupakan terapi yang terbaik.

Anda mungkin juga menyukai