Anda di halaman 1dari 19

BAB II

TINJAUAN TEORI

2.1 Kejang
2.1.1 Pengertian
Kejang adalah suatu aritmia serebral (Brown, 1974). Kejang adalah
perubahan secara tiba-tiba fungsi neourologi baik fungsi motorik
maupun fungsi otonomik karena kelebihan pancaran listrik pada otak
(Pelayanan Obstetrik Emergensi Dasar). Kejang pada bayi baru lahir
adalah kejang yang timbul pada masa neonatus atau dalam 28 hari
sesudah lahir. (Buku Kesehatan Anak).
(Anik Maryunani, 2013, P:336)
Kejang neonatus adalah peubahan aritmia serebral yang terjadi
secara tiba-tiba baik fungsi motorik maupun fungsi otonomik karena
kelebihan pancaran listrik pada otak yang terjadi dalam 28 hari sesudah
bayi lahir.

2.1.2 Etiologi
1. Komplikasi perinatal
a. Hipoksi-iskhemik ensefalopati. Biasanya kejang timbul pada 24
jam pertama kelahiran
b. Trauma susunan saraf pusat. Dapat terjadi pada persalinan
presentasi bokong, ekstraksi cunam atau ekstraksi vakum berat
c. Perdarahan intrakranial
2. Kelainan metabolisme
d. Hipoglikemia
e. Hipokalsemia
f. Hipomagnesemia
g. Hiponatremia
h. Hipernatremia
i. Hiperbilirubinemia
j. Ketergantungan piridoksin
3. Infeksi
Dapat disebabkan oleh bakteri dan virus termasuk TORCH
- Ketergantungan obat
- Polisitemia
- Penyebab yang tidak diketahui (3-25%)

(Abdul Bari Saifuddin, 2009; P:391)

2.1.3 Klasifikasi

3
Berdasarkan gambaran klinisnya, kejang dapat diklasifikasikan
menjadi 3 (tiga) yaitu kejang tonik, kejang klonik dan kejang
mioklonik.
1. Kejang Tonik
Kejang ini biasanya terjadi pada bayi baru lahir dengan berat
badan lahir rendah (BBLR) dengan masa kehamilan kurang dari 34
minggu dan bayi dengan komplikasi prenatal berat. Bentuk klinis
kejang tonik yaitu berupa pergerakan tonik satu ekstremitas atau
pergerakan tonik umum dengan ekstensi lengan dan tungkai yang
menyerupai desebrasi, atau ekstensi
tungkai dan fleksi lengan bawah dengan
bentuk dekortifikasi, tungkai dan badan
kaku dan kadang-kadang disertai
dengan deviasi mata yang tetap.
2. Kejang Klonik
Kejang klonik dapat berbentuk fokal,
unilateral, bilateral dengan permulaan
fokal dan multifokal yang berpindah-
pindah. Bentuk klinik kejang fokal
berlangsung antara 1 - 3 detik,
terlokalisasi dengan baik, tidak disertai gangguan kesadaran, dan
biasanya tidak diikuti oleh fase tonik. Bentuk kejang ini disebabkan
oleh kontusio serebri akibat trauma fokal pada bayi besar dan cukup
bulan atau oleh ensefalopati metabolik.
3. Kejang Mioklonik
Kejang Mioklonik merupakan jingkatan-jingkatan setempat atau
menyeluruh tungkai atau badan sebentar yang cenderung melibatkan
kelompok otot distal. Gambaran klinis yang terlihat adalah gerakan
ekstensi dan fleksi lengan atau keempat anggota gerak yang berulang
dan terjadinya cepat. Gerakan tersebut menyerupai gerakan refleks
moro. Kejang ini merupakan pertanda kerusakan susunan saraf pusat
yang luas dan hebat. Gambaran EEG kejang mioklonik pada bayi
tidak spesifik.

4
4. Kejang Tersamar
Kejang tersamar disebut juga kejang subtle hampir tidak
terlihat,menggambarkan perubahan tingkah laku. Bentuk kejang
tersamar diantaranya ada gerakan menyeringai pada otot muka dan
otot lidah. Gerakan terkejut-kejut pada mulut dan pipi tiba-tiba. Ada
gerakan bola mata: deviasi bola mata secara horizontal, kelopak
mata berkedip-kedip, serta gerakan cepat dari bola mata. Gerakan
pada ekstremitas pergerakan seperti berenang, mengayuh pada
anggota gerak atas dan bawah.
(Anik Maryunani, 2013, P:337)

2.1.4 Penilaian
1. Anamnesis yang teliti tentang keluarga, riwayat kehamilan, riwayat
persalinan dan kelahiran
a. Riwayat kehamilan
- Bayi kecil untuk masa kehamilan
- Bayi kurang bulan
- Ibu tidak disuntik toksoid tetanus
- Ibu menderita diabetes mellitus
b. Riwayat persalinan
- Persalinan pervaginam dengan tindakan (cunam, ekstraktor
vakum)
- Pesalinan presipitatus
- Gawat janin
c. Riwayat kelahiran
- Trauma lahir
- Lahir asfiksia
- Pemotongan tali pusat dengan alat
2. Pemeriksaan kelainan fisik bayi baru lahir
a. Kesadaran (normal, apatis, somnolen, sopor, koma)
b. Suhu tubuh normal (normal, hipertermi atau hipotermi_
c. Tanda-tanda infeksi lainnya
3. Penilaian kejang
a. Bentuk kejang
b. Gerakan bola mata yang abnormal, nystagmus, kedipan mata
psroksismal, gerakan mengunyah, gerakan otot-otot muka,
timbulnya apnu yang episode, adanya kelemahan umum yang
periodik, tremor, jitternes, gerakan klonik sebagian ekstremitas,
tubuh kaku.
c. Lama kejang
d. Apakah pernah terjadi sebelumnya
4. Pemeriksaan laboratorium

5
a. Punksi lumbal
b. Punksi subdural
c. Gula darah
d. Kadar kalsium (Ca++)
e. Kadar magnesium
f. Kultur darah
g. TORCH

Pada jitterness dapat dibedakan dari kejang:

1. Tidak didapatkan kelainan pandang dan pergerakan mata


2. Timbulnya karena stimulasi, sedangkan kejang biasanya spontan
3. Gerakan berupa tremor, bukan hentakan klonik
4. Biasanya menghilang apabila dilakukan felksi pasif
5. Pada umunya disebabkan oleh hipokalsemia, hipoglikemia, hipokdi-
iskhemik ensefalopati, drug withdrawal.

Kelainan fisik dan diagnosis banding kejang pada bayi baru lahir

Kelainan fisik Diagnosis banding


Kejang dengan kondisi:
Biru, gagal nafas Anoksia susunan saraf pusat
Trauma lahir pada kepala bayi Perdarahan otak
Mikrosefall Cacat bawaan
Perut buncit Sepsis
Hepatosplenomegali Sepsis
Mulut mencucu Tetanus
(Abdul Bari Saifuddin, 2009; P:393)

2.1.5 Pencegahan

Mencegah terjadinya kejang dengan menemukan penyebab dan


menghindarinya misal : kejang karena demam dicegah dengan
menurunkan suhu tubuh bayi.

2.1.6 Penanganan
Prinsip dasar tindakan mengatasi kejang pada bayi baru lahir:
1. Mengatasi kejang dengan memberikan obat anti kejang
(misalnya Diazepam, Fenobarbital, Fenitoin/Dilantin)
2. Menjaga jalan nafas tetap bebas
(perhatikan ABCD resusitasi)
3. Mencari faktor penyebab kejang

6
(perhatikan riwayat kehamilan, persalinan dan kelahiran, kelainan
fisik yang ditemukan, bentuk kejang, dan hasil laboratorium)
4. Mengobati penyebab kejang
(mengobati hipoglikemia, hipokalsemia, dll)

(Abdul Bari Saifuddin, 2009; P:393)

2.1.7 Obat anti kejang


1. Diazepam
Dosis 0,1-0,3 mg/kgbb i.v. disuntikkan perlahan-lahan sampai kejang
berhenti. Dapat diulangi pada kejang berulang, tetapi tidak
dianjurkan untuk digunakan pada dosis pemeliharaan.
2. Fenobarbital
Dosis 5-10% mg/kgbb i.v. disuntikkan perlahan-lahan selama
beberapa menit. Apabila kejang berlanjut, fenobarbital dapat diulangi
dengan dosis maksimal 20 mg/kgbb. Dosis pemeliharaan 5-8%
mg/kgbb/hari dibagi dalam 2 dosis.
3. Fenitoin (Dilantin)
Dosis 5-10% mg/kgbb i.v. disuntikkan dalam 5-10 menit. Dapat
diulangi lagi dalam 5-10 menit. Fenitoin diberikan apabila kejang
tidak dapat diatasi dengan Fenobarbital dosis 10-20 mg/kgbb.
Sebaiknya Fenitoin diberikan 10-15 mg/kgbb i.v. pada hari pertama,
dilanjutkan dengan dosis pemeliharaan 4-7 mg/kgbb i.v. atau oral
dalam 2 dosis.

(Abdul Bari Saifuddin, 2009; P:394)

2.1.1 Penanganan kejang pada bayi baru lahir


1. Bayi diletakkan dalam tempat yang hangat. Pastikan bahwa bayi
tidak kedinginan. Suhu bayi dipertahankan 36,5-370C
2. Jalan nafas bayi dibersihkan dengan tindakan penghisapan lendir di
seputar mulut, hidung sampai nasofaring
3. Bila bayi apnea, dilakukan pertolongan agar bayi bernafas lagi
dengan alat bantu balon dan sungkup, diberi oksigen dengan
kecepatan 2 liter/menit
4. Dilakukan pemasangan infus intra vena di pembuluh darah perifer;
di tangan, kaki atau kepala. Bila bayi diduga dilahirkan oleh ibu

7
berpenyakit diabetes mellitus , dilakukan pemasangan infus melalui
vena umbilikalis
5. Bial infus sudah terpasang, diberi obat anti kejang Diazepam 0,5
mg/kg supositoria/i.m. setiap 2 menit samai kejang teratasi.
Kemudian ditambah luminal (fenobarbital) 30 mg i.m/i.v
6. Nilai kondisi bayi selama 15 menit. Perhatikan kelainan fisik yang
ada
7. Bila kejamg sudah teratasi, diberi cairan infus Dekstrose 10%
dengan kecepatan 60 ml/kgbb/hari
8. Dilakukan anamnesis mengenai keadaan bayi untuk mencari faktor
penyebab kejang (perhatikan riwayat kehamilan, persalinan dan
kelahiran):
a. Apakah kemungkinan bayi dilahirkan oleh ibu berpenyakit
diabetes mellitus
b. Apakah kemungkinan bayi prematur
c. Apakah kemungkinan bayi mengalami asfiksia
d. Apakah kemungkinan ibu bayi pengidap/menggunakan bahan
narkotika
9. Bila kejang sudah teratasi, diambil bahan untuk pemeriksaan
laboratorium untuk mencari faktor penyebab kejang, misalnya:
a. Darah tepi
b. Elektrolit darah
c. Gula darah
d. Kimia darah (kalsium, magnesium)
e. Kultur darah
f. Pemeriksaan TORCH, dll
10. Bila ada kecurigaan ke arah sepsis, dilakukan pemeriksaan pungsi
lumbal
11. Obat diberikan sesuai dengan hasil penilaian ulang
12. Apabila kejang masih berulang. Diazepam dapat diberikan lagi
selama 2 kali
a. Bila masih kejang terus, diberi Fenitoin (Dilatin) dalam dosis 15
mg/kgbb sebagai bolus i.v. diteruskan dalam dosis 2 mg/kgbb i.v.
setiap 2 jam
b. Untuk hipoglikemia (hasil dextrosit x/gula darah < 40 mg%)
diberi infus Dekstrose 10%
c. Untuk hipokalsemia (hasil kalsium darah < 8 mg%) diberi
Kalsium glukonas 10% 2 ml/kgbb dalam waktu 5-10 menit
d. Apabila belum teratasi juga, diberi Piridoksin 25-50 mg i.v.
Bagan Penanganan Kejang pada

8
Tanda-tanda : Tremor, hiperaktif, kejang-kejang, tiba-tiba menangis
melengking, tonus otot hilang disertai atau tidak dengan
hilangnya kesadaran, pergerakan-pergerakan yang tidak
terkendali (Involuntary movements), nistagmus atau
mata mengedip-ngedipparoksismal.

Kategori Tetanus neonatorum Gangguan metabolik


Sepsis (hipoglikemi atau
Meningitis hipokalsemi)
Ensefalitis Anoksia susunan saraf
pusat
Perdarahan otak
Penilaian
Bentuk kejang Seluruh badan/lokal Seluruh badan/local
Lama kejang Sekejap atau > 1 menit Sekejap atau > 1 menit
Suhu tubuh Dengan panas Tanpa panas
Kesadaran Kesadaran berkurang Sadar
Tanda-tanda Lesu/ngantuk/tak mau Normal, mau minum.
infeksi lainnya minum
Penanganan
Bidan atau Bersihkan jalan nafas
Puskesmas Masukkan sendok/spatel dibungkus kain untuk menekan
lidah
Beri oksigen
Infus Dekstrose 10%
Atasi kejang dengan Diazepam 0,5 mg/kg/i.m. atau
supositoria/i.m. tiap 2 menit sampai kejang teratasi
Diberi fenobarbital 30 mg i.m.
Antibiotika 1 dosis
Rujuk ke Rumah Sakit
Rumah Sakit Sama seperti di atas
Bayi dalam inkubator/dihangatkan
Beri oksigen
Beri Diazepam 0,5 mg/kg supositoria/i.m./i.v.

9
Kemudian diberi Fenobarbital 30 mg i.v./i.m.
Bila masih kejang diberi Fenitoin 15 mg/kg i.v. dilanjutkan
2 mg/kg tiap 12 jam
Infus Dekstrose 10% 60 cc/kg
Beri kalsium glukonas 2 ml/kg dalam waktu 5-10 menit
(Abdul Bari Saifuddin, 2009; P:396)

2.2 Infeksi Neonatus


2.2.1 Pengertian
Infeksi neonatal adalah sindroma klinis dari penyakit sistematik
akibat infeksi selama satu bulan pertama kehidupan. Bakteri, virus,
jamuar dan protozoa dapat menyebabkan sepsis bayi baru lahir.
(Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Dasar cetakan ke II, 2007).
Sepsis neonatorum adalah infeksi berat yang diderita neonatus
dengan gejala sistemik dan terdapat bakteri dalam darah. Perjalanan
penyakit sepsis dapat berlangsung cepat sehingga sering kali tidak
terpantau tanpa pengobatan yang memadai sehingga neonatus dapat
meninggal dalam waktu 24 sampai 48 hari. (Surasmi, 2003). Sepsis
neonatal adalah merupakan sindroma klinis dari penyakit sistemik
akibat infeksi selama satu bulan pertama kehidupan. Bakteri, virus,
jamur, dan protozoa dapat menyebabkan sepsis bayi baru lahir.
(DEPKES 2007). Sepsis neonatorum adalah infeksi yang terjadi pada
bayi dalam 28 hari pertama setelah kelahiran. (Mochtar, 2005).
(USU, diakses tanggal 15 Mei 2014 pukul 10.00 WIB)
Infeksi pada bayi baru lahir lebih sering ditemukan pada BBLR dan
juga lebih sering ditemukan pada bayi yang lahir di rumah sakit
dibandingkan dengan bayi yang lahir di luar rumah sakit. Bayi baru
lahir mendapat kekebalan tubuh transplasenta terhadap kuman yang
berasal dari ibunya. Sesudah lahir, bayi terpapar dengan kuman yang
juga berasal dari orang lain dan terhadap kuman dari orang lain, dalam
hal ini bayi tidak mempunyai imunitas.

2.2.2 Prinsip Dasar

10
1. Tanda awal sepsis pada bayi baru lahir tidak spesifik, sehingga
skrining sepsis dan pengelolaan terhadap faktor risiko perlu
dilakukan.
2. Mekanisme daya tahan tubuh neonatus masih imatur sehingga
memudahkan invasi mikroorganisme, sehingga infeksi mudah
menjadi berat dapat menimbulkan kematian dalam waktu bebrapa
jam atau beberapa hari bila tida mendapatkan pengobatan yang tepat.
3. Infeksi pada bayi baru lahir dapat terjadi in utero (antenatal), pada
waktu persalinan (intranatal) atau setelah lahir dan selama periode
neonatal (pasca natal).
4. Penyebaran transplasenta merupakan jalan tersering masuknya
mikroorganisme kedalam tubuh janin. Infeksi yang di dapat saat
persalinan terjadi akibat aspirasi cairan amnion yang terinfeksi atau
dari cairan vagina, tinja, urin ibu. Semua infeksi yang terjadi setelah
lahir disebabkan oleh pemgaruh lingkungan.
5. Faktor resiko terjadinya sepsis neonatorum:
a. Ibu demam (2 minggu) sebelum dan selama persalinan
b. Ketuban pecah dini (lebih dari 18 jam)
c. Persalinan dengan tindakan
d. Timbul asfiksia pada saat lahir
e. BBLR
6. Terapi awal pada neonatus yang mengalami infeksi harus segera
dilakukan tanpa harus menunggu hasil kultur.
2.2.3 Patogenesis
Infeksi pada neonatus dapat melalui beberapa cara. Blanc (1961)
membaginya dalam 3 golongan, yaitu:
1. Infeksi antenatal
Kuman mencapai janin melalui sirkulasi ibu ke plasenta. Disini
kuman itu melalui batas plasenta dan menyebabkan intervilositis.
Selanjutnya nfeks melalui sirkulas umbilicus dan masuk ke janin.
Kuman yang dapat menyerang janin melalui jalan ini ialah: (a) virus,
yaitu rubella, poliomyelitis, coxsackie, variola, vaccnia, cytomegalic
inclusion; (b) spirokaeta, yaitu treponema palidum, (lues); (c) bakteri
jarang sekali dapat melalui plasenta kecuali E.Coli dan Listeria
monocytogenes. Tuberculosis congenital dapat terjadi melaui infeksi
plasenta. Focus pada plasenta pecah ke cairan amnion tersebut.
2. Infeksi Intranatal

11
Infeksi melalui jalan ini lebih sering terjadi daripada cara yang
lain. Mikroorganisme dari vagina naik dan masuk ke dalam rongga
amnion setelah ketuban pecah. Ketuban pecah lama ( jarak waktu
antara pecahnya ketuban dan lahirnya bayi lebih dari 12 jam)
mempunyai peranan penting terhadap timbulnya plasentitis dan
amniontis. Infeksi dapat pula terjad walaupun ketuban masih utuh
misalnya pada partus lama dan seringkali dilakukan manipulasi
vagina. Infeksi janin terjadi dengan inhalasi likuor yang septic
hingga terjadi pneumonia congenital. Selain itu infeksi dapat
menyebabkan septisemia. Infeksi intranatal dapat juga melalui
kontak langsung dengan kuman yang berasal dari vagina misalnya
blenorea dan oral trush.
3. Infeksi pascanatal
Infeksi ini terjadi sesudah bayi lahir lengkap. Sebagian besar
infeksi yang berakibat fatal terjadi sesudah lahir sebagai akibat
kontaminasi pada saat penggunaan alat atau akibat perawatan yang
tidak steril atau akibat dari infeksi silang. Infeksi pascanatal ini
sebetulnya sebagian besar dapat dicegah. Hal ini penting sekali
karena mortalitas infeksi pascanatal ini sangat tinggi. Seringkali bayi
mendapat infeksi dengan kuman yang sudah tahan terhadap semua
antibiotika sehingga pengobatannya sulit.
(Staf Pengajar Ilmu Kesehtan Anak FK UI. 2005)
2.2.2 Diagnosis
1. Anamnesis
a. Riwayat ibu mengalami infeksi intrauterin, demam dengan
kecurigaan infeksi berat atau ketuban pecah dini.
b. Riwatat persalinan tindakan, penolong persalinan, lingkungan
persalinan yang kurang higinis.
c. Riwayat lahir asfiksia berat, bayi kurang bulan, berat lahir rendah
d. Riwayat air ketuban keruh, purulen atau bercampur mekonium
dan berbau.
e. Riwayat bayi malas minum, penyakitnya cepat memberat

12
f. Riwayat keadaan bayi lunglai (letargi), mengantuk atau aktivitas
berkurang atau iritabel/ rewel, bayi malas minum, demam tinggi
atau hipotermi, gangguan napas, kulit ikterus, sklerema atau
sklerederma, kejang.
2. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan umum
- Suhu tubuh tidak normal (hipotermi atau hipertermi), letargi
atau lunglai, mengantuk atau aktivitas berkurang.
- Malas minum padahal sebelumnya minum dengan baik.
- Iritabel atau rewel
- Kondisi memburuk secara cepat dan dramatis
b. Gastrointestinal: Muntah, diare, perut kembung, hepatomegali.
Tanda mulai muncul sesudah hari ke empat.
c. Kulit: perfusi kulit kurang, sianosis, pucat, petekie, ruam,
sklerema, ikterik.
d. Kardiopulmoner: Takipnea, penurunan kesadaran, kejang, ubun-
ubun membenjol, kaku kuduk sesuai dengan meningitis.

Kelompok temuan yang berhubungan dengan infeksi neonatorum


Kategori A Kategori B
1) Kesulitan bernafas (misal: apnea, 1) Tremor
nafas kurang dari 40 kali permenit, 2) Letargi atau lunglai
retraksi dinding dada, grunting 3) Mengantuk atau aktivitas
pada waktu ekspirasi, sianosis berkurang
sentral) 4) Iritabel atau rewel
2) Kejang 5) Muntah (menyokong ke arah
3) Tidak sadar sepsis)
4) Suhu tubuh tidak normal, (tidak 6) Perut kembung (menyokong ke
normal sejak lahir & tidak memberi arah sepsis)
respon terhadap terapi atau suhu 7) Tanda-tanda mulai muncul
normal selama tiga kali atau lebih, sesudah hari keempat
menyokong ke arah sepsis) (menyokong ke arah sepsis)
5) Persalinan dilingkungan yang 8) Air ketuban bercampur

13
kurang higinis (menyokong ke arah mekonium
sepsis) 9) Malas minum sebelumnya
6) Kondisi memburuk secara cepat minum dengan baik
dan dramatis (menyokong kearah (menyokong ke arah sepsis).
sepsis).
(Modul Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Dasar, 2007 )

3. Pemeriksaan Penunjang
Fasilitas penunjang di puskesmas biasanya jarang tersedia, sehingga
pemeriksaan atau ketajaman klisnis sangat diutamakan.
Bila tersedia fasilitas, maka dapat dilakukan pemeriksaan penunjang
sebagai berikut :
a. Pemeriksaan jumlah leukosit dan hitung jenis secara serial untuk
menilai perubahan akibat infeksi. Dapat ditemukan adanya
leukositosis atau leukopeni, trombositopenia
b. Ditemukan kuman pada pemeriksaan pengecatan gram dari
darah.
c. Gangguan metabolik
d. Hipoglikemia atau hiperglikemi, asidosis metabolik
e. Peningkatan kadar bilirubin
4. Manajemen Umum
Dugaan Sepsis
a. Jika tidak ditemukan riwayat infeksi intra uterin, ditemukan satu
kategori A dan satu atau dua kategori B maka kelola untuk tanda
khususnya (mis. Kejang). Lakukan pemantauan.
b. Jika ditemukan tambahan tanda sepsis, maka dikelola sebagai
kecurigaan besar sepsis.
5. Kecurigaan besar sepsis
a. Pada bayi umur sampai dengan 3 hari
Bila ada riwayat dengan infeksi rahim, demam dengan
kecurigaan infeksi berat atau (ketuban pecah dini) atau bayi
mempunyai 2 atau lebih kategori A atau lebih kategori B
b. Pada bayi umur lebih dari 3 hari

14
Bila bayi mempunyai dua atau lebih temuan kategori A atau tiga
atau tiga atau lebih temuan kategori B.
(Modul Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Dasar, 2007 )

2.2.4 Penanganan
1. Pertahankan tubuh bayi tetap hangat
2. ASI tetap diberikan atau diberi gula
3. Diberi injeksi antibiotika berspektrum luas
4. Penggunaan antibiotika yang banyak dan tidak terarah dapat
menyebabkan tumbuhnya jenis mikroorganisme yang tahan terhadap
antibiotika dan mengakibatkan tumbuhnya jamur yang berlebihan,
misalnya jenis candida albicans.
5. Perawatan sumber infeksi, misalnya pada infeksi tunggal tali pusat
(omfalitis) diberi salep yang mengandung neomisin dan basitrasin.
Jenis Antibiotika Dosis Frekuensi Pemberian
Injeksi Benzil Penisilin 50.000 IU/kg/kali i.m Tiap 12 jam
atau 50 mg/kg/kali i.m/i.v Tiap 8 jam
Injeksi Ampisilin
Dikombinasikan dengan
Injeksi Aminoglikosida 2,5 mg/kg/ kali i.m/i.v Tiap 12 jam
(Gentamisin)
Eritromisin 50 mg/kg/hari Dalam 3 dosis
(Abdul Bari Saifuddin, 2009; P:387)

Bagan Penanganan Infeksi Atau Sepsis


TANDA-TANDA Suhu tubuh panas atau hipotermia, sesak napas,
merintih, menangis lemah atau tidak ada tangis, susah
minum, fontanel cembung, tali pusat memerah.
KATEGORI Sepsis Infeksi Lokal
PENILAIAN Tanda-tanda tersebut di Biasanya hanya
atas disertai: ditemukan:
1. Kadang-kadang 1. Panas
kejang 2. Tali pusat merah
2. Tali pusat merah atau kotor atau
atau kotor atau bau bau

15
3. Kulit ikterik 3. Nanah di telinga
4. Bisul atau
pustule di kulit
PENANGANAN
PUSKESMAS 1. Pertahankan tubuh
bayi tetap hangat
(tidak hipotermia)
2. ASI tetap diberikan
atau diberi air gula
3. Injeksi antibiotika
1 kali
4. Rujuk ke rumah
sakit
5. Diberi injeksi
antibiotika
6. Dilanjutkan dengan
antibiotika oral
7. Nasehat perawatan
infeksi
8. Kontrol kembali
dalam 2 hari
RUMAH SAKIT 1. Sama seperti di atas
2. Diberi antibiotika ampisilin + gentamisin i.v.
3. Bila perlu diberikan oksigen
4. Infus untuk mencegah dehidrasi
ASI tetap diberikan
(Abdul Bari Saifuddin, 2009; P:387)

2.3 Tetanus Neonatorum


2.3.1 Pengertian
Penyakit tetanus neonaturus adalah penyakit tetanus yang terjadi
pada neonatus (bayi berusia kurang 1 bulan) yang disebabkan oleh
Clostridium tetani, yaitu kuman yang mengeluarkan toksin (racun) dan
menyerang sistem saraf pusat.

16
(Abdul Bari Saifuddin, 2009; P:388)

2.3.2 Patofisiologis
Penyakit tetanus neonaturus disebabkan oleh Clostridium tetani,
yaitu kuman yang mengeluarkan toksin (racun) dan menyerang sistem
saraf pusat. Spora kuman tersebut masuk ke dalam tubuh bayi melalui
pintu masuk satu-satunya, yaitu tali pusat, yang dapat terjadi pada saat
pemotongan tali pusat ketika bayi lahir maupun pada saat perawatannya
sebelum puput (terlepasnya tali pusat). Masa inkubasi 3-28 hari, rata-
rata 6 hari. Apabila masa inkubasi kurang dari 7 hari, biasanya peyakit
lebih parah dan angka kematiannya tinggi.

(Abdul Bari Saifuddin, 2009; P:388)

Kelainan patologik biasanya terdapat pada otak, sumsum tulang


belakang, terutama pada nukleus motorik kematian disebabkan oleh
asfiksia akibat spasmus laring pada kejang yang lama. Selain itu dapat
disebabkan oleh pengaruh langsung pada pusat pernafasan dan
peredaran darah.

(Anik Maryani, 2013; P:332)

2.3.3 Faktor Resiko Terjadinya Tetanus Neonaturus

1. Pemberian imunisasi tetanus toksoid (TT) pada ibu hamil tidak


dilakukan, atau tidak lengkap, atau tidak sesuai dengan ketentuan
program.
2. Pertolongan persalinan tidak memenuhi syarat-syarat 3 Bersih.
3. Perawatan tali pusat tidak memenuhi persyaratan kesehatan.
Kekebalan terhadap tetanus hanya dapat diperoleh melalui imunisasi
TT. Sembuh dari tetanus bukan berarti seseorang/bayi selanjutnya kebal
terhadap tetanus. Toksin tetanus dalam jumlah yang cukup untuk
menyebabkan penyakit tetanus, tidak cukup untuk merangsang tubuh
penderita dalam membentuk zat anti (antibodi) terhadap tetanus. Itulah
sebabnya seseeorang/bayi penderita tetanus harus menerima imunisasi
TT pada saat didiagnosis dan/atau setelah sembuh.

17
TT akan merangsang pembentukan antibodi spesifik yang
mempunyai peranan penting dalam perlindungan terhadap tetanus. Ibu
hamil yang mendapatkan imunisasi TT dalam tubuhnya akan
membentuk antibodi tetanus. Seperti difteri, antibodi tetanus terasuk
dalam golongan IgG yang mudah melewati sawar plasenta, masuk dan
menyebar melalui aliran darah ke janin ke seluruh tubuh janin, yang
akan mencegah terjadinya tetanus neonatorum.
Imunisasi TT pada ibu hamil diberikan 2 kali (2 dosis). Jarak
pemberian TT pertama dan kedua, serta jarak antara TT kedua dengan
saat kelahiran, sangat menentukan kadar atibodi tetanus dalam darah
bayi. Semakin lama interval antara pemberian TT pertama dan kedua,
serta antara TT kedua dengan kelahiran bayi, maka kadar antibodi
tetanus dalam darah bayi akan semakin tinggi, karena interval yang
panjang akan mempertinggi respon imunologik dan diperoleh cukup
waktu untuk menyeberangkan antibodi tetanus dalam jumlah yang
cukup dari tubuh ibu hamil ke tubuh bayinya. Interval imunisasi TT
dosis pertama dengan dosis kedua minimal 4 minggu.
TT adalah antigen yang sangat aman dan juga aman untuk wanita
hamil. Tidak ada bahaya bagi janin apabila ibu hamil mendapatkan
imunisasi TT. Pada ibu hamil yang mendapatkan imunisasi TT tidak
didapatkan resiko cacat bawaan ataupun abortus dengan mereka yang
tidak mendapatkan imunisasi.
(Abdul Bari Saifuddin, 2009; P:388)
2.3.4 Penilaian
Gejala klinik tetanus neonaturum antara lain sebagai berikut:
1. Bayi yang semula dapat menetek menjadi sulit menetek karena
kejang otot rahang dan faring (tenggorok).
2. Mulut bayi mencucu seperti mulut ikan.
3. Kejang terutama apabila terkena rangsang cahaya, suara serta
sentuhan.
4. Kadang-kadang disertai sesak nafas dan wajah bayi membiru.
Tetanus neonaturum harus memenuhi kriteria berikut:
1. Bayi lahir hidup, dapat menangis dan menetek dengan normal
minimal 2 hari

18
2. Pada bulan pertama kehidupan timbul gejala sulit menetek disertai
kekakuan dan/atau kejang otot.
(Abdul Bari Saifuddin, 2009; P:389)
2.3.5 Penanganan
1. Mengatasi kejang dengan memberikan suntikan anti kejang
2. Menjaga jalan nafas tetap bebas dengan membersihan jalan nafas.
Pemasangan spitel lidah yang dibungkus kain untuk mencegah lidah
tergigit
3. Mencari tempat masuknya spora tetanus, umumnya di tali pusat atau
di telinga
4. Mengobati penyebab tetanus dengan anti tetanus serum (ATS) dan
antibiotika
5. Perawatan yang adekuat: kebutuhan oksigen, makanan,
keseimbangan cairan dan elektrolit
6. Penderita/bayi ditempatkan di kamar yang tenang dengan sedikit
sinar mengingat penderira sangat peka akan suara dan cahaya yang
dapat merangsag kejang

Bagan penanganan tetanus neonaturum

Tanda-tanda : Tiba-tiba bayi demam/panas, mendadak bayi


tidak bisa menyusu (mulut tertutup atau trismus),
mulut mencucu seperti ikan, mudah sekali kejang
(misalnya jika dipegang, terkena sinar, atau
kaget-kaget), disertai sianosis, kuduk kaku, posisi
punggung melengkung, kepala mendongak ke
atas (opistotonus).

Penilaian Tetanus Neonatorum Tetanus Neonatorum


Sedang Berat
Umur bayi >7 hari 0-7 hari
Frekuensi kejang Kadang-kadang Sering
Bentuk kejang mulut mencucu mulut encucu
trismus kadang-kadang trismus terus menerus
kejang rangsang (+) kejang rangsang (+)
Posisi badan Opistotonus kadang-kadang Selalui opistotonus
Kesadaran Masih sadar Masih sadar

19
Tanda-tanda tali pusat kotor tali pusat kotor
infeksi lubang telinga bersih/kotor lubang telinga
bersih/kotor
Penanganan

Puskesmas Bersihkan jalan nafas


Masukkan sendok/spatel dibungkus kain untuk
menekan lidah
Beri oksigen
Atasi kejang dengan:
Diazepam 0,5 mg/kg/i.m. atau supositoria
Apabila masih kejang, ulangi tiap 30 menit
Ditambah Luminal 30 mg mg i.m. sampai
kejang berhenti
Infus glukose 10% sebanyak 80 ml/kg/hari
Antibiotika 1 kali (Penisilin Prokain 50.000
U/kg/hari i.m.)
Bersihkan tali pusat
Rujuk ke rumah sakit
Rumah Sakit Sama seperti diatas
Umur lebih dari 24 jam ditambah Bikarbonas
Natrikus 1,5% (4:1)
Dosis anti kejang i.v. dengan dosis rumat
Diazepam 8-10 mg/kg i.v. diganti tiap 6 jam
ATS 10.000 U/hari i.m.
Ampisilin 100 mg/kg i.v atau Prokain Penisilin
50.000 U/kg i.m selama 3 hari
Ruang perawatan tenang
(Abdul Bari Saifuddin, 2009; P:390)

2.3.6Pencegahan
1. Mencegah terjadinya luka dengan menjaga sterilitas pemotongan tali
pusat.
2. Perawatan yang adekuat pada tali pusat.
3. Pemberian imunisasi TT pada anak yang belum mendapat imunisasi.

20
21