Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Perdarahan obstetrik yang terjadi pada kehamilan trimester ketiga dan
yang terjadi setelah anak atau plasenta lahir pada umumnya adalah perdarahan
yang berat, dan jika tidak mendapat penanganan yang cepat bisa mendatangkan
syok yang fatal. Perdarahan antepartum yang bersumber dari kelainan plasenta
yang secara klinis biasanya tidak terlampau sukar untuk menentukannya ialah
plasenta previa dan solusio plasenta serta perdarahan yang belum jelas
sumbernya. Perdarahan antepartum terjadi kira-kira 3 % dari semua persalinan.
Tidak jarang ditemukan kasus kegawatdaruratan terkait kelainan plasenta yang
terjadi di tempat pelayanan kesehatan seperti BPM maupun Puskesmas yang
memerlukan rujukan ke fasilitas pelayanan kesehatan yang lebih lengkap.
Perempuan dalam masa inpartu yang ditengarai menderita plasenta previa atau
solusio plasenta harus segera dirujuk ke rumah sakit tanpa melakukan periksa
dalam karena akan memprovokasi perdarahan berlangsung semakin deras dan
cepat. Dalam hal ini bidan tidak memiliki wewenang untuk memberikan asuhan
kepada klien akan tetapi bidan diharapkan mampu melakukan penanganan awal
untuk menolong klien sebelum dikirim ke tempat rujukan.

1.2 Tujuan
Tujuan dibuat makalah ini adalah:
- Mengetahui pengertian plasenta previa dan solusio plasenta,
- Mengetahui penyebab plasenta previa dan solusio plasenta,
- Patofisiologi plasenta previa dan solusio plasenta,
- Diagnosis dan gambaran klinis plasenta previa dan solusio plasenta,
- Penanganan kegawatdaruratan plasenta previa dan solusio plasenta.

BAB II

PEMBAHASAN

1
2.1 Plasenta Previa
2.1.1 Definisi
Plasenta previa adalah plasenta yang berimplantasi rendah sehingga
menutupi sebagian atau seluruh ostium uteri internum. Diagnosis plasenta
previa ditegakkan berdasarkan pada pembukaan 4-5 cm. Ostium uteri yang
secara dinamik mendatar dan meluas dalam persalinan kala satu bisa mengubah
luas permukaan serviks yang tertutup plasenta. Fenomena ini berpengaruh pada
derajat atau klasifikasi dari plasenta previa ketika pemeriksaan dilakukan baik
dalam masa antenatal maupun dalam masa intranatal, baik dengan
ultrasonografi maupun pemeriksaan digital. Oleh karena itu, pemeriksaan
ultrasonografi perlu diulang secara berkala dalam asuhan antenatal ataupun
intranatal. (Sarwono, 2011: 495)
Macam-macam plasenta previa, yaitu :
Plasenta previa totalis (sentralis): seluruh osteum uteri internum
ditutupi plasenta.
Plasenta previa parsialis (lateralis): sebagian osteum uteri internum
ditutupi plasenta.
Plasenta previa letak rendah (marginalis): hanya pada pinggir ostium
terdapat jaringan plasenta.

2.1.2 Etiologi
Gangguan kesuburan endometrium sehingga perlu perluasan implantasi :
Multiparitas dengan jarak hamil pendek.
Beberapa kali menjalani seksio sesarea.
Bekas dilatasi dan kuretase.
Ibu dengan gizi rendah.
Usia hamil pertama diatas 35 tahun.
Perubahan inflamasi atau atrofi, misalnya pada wanita perokok.
Kadang-kadang pada malnutrisi.
Pelebaran implantasi plasenta :
Kehamilan ganda, memerlukan perluasan plasenta untuk memenuhi
kebutuhan nutrisi janin karena endometrium kurang subur.

2.1.3 Patofisiologi
Umumnya pada trimester III, tapak plasenta akan mengalami pelepasan
karena terbentuknya segmen bawah rahim. Tapak plasenta terbentuk dari

2
jaringan maternal yaitu bagian desidua basalis yang bertumbuh menjadi bagian
dari plasenta. Dengan melebarnya isthmus uteri menjadi segmen bawah rahim,
maka plasenta yang berimplantasi sedikit banyak akan mengalami laserasi
akibat pelepasan pada desidua sebagai tapak plasenta. Demikian pula pada
waktu serviks mendatar (effacement) dan membuka (dilatation) ada bagian
tapak plasenta yang terlepas. Pada tempat laserasi itu akan terjadi perdarahan
yang berasal dari siklus maternal yaitu dari ruangan intervillus dari plasenta
karena otot serviks tidak mampu berkontraksi dengan kuat.

2.1.4 Diagnosis dan Gambaran Klinis


Anamnesis.
Keluhan utama pasien ketika datang, biasanya karena ada
perdarahan pada kehamilan setelah 22 minggu atau pada
kehamilan lanjut (Trimester III).
Sifat perdarahannya tanpa sebab, tanpa nyeri, dan berulang.
Kadang terjadi pada bangun tidur di pagi hari, tanpa disadari
tempat tidur sudah penuh dengan darah. Jumlah darah yang
keluar biasanya akan bertambah banyak dari jumlah darah yang
keluar sebelumnya. Banyak sedikitnya darah yang keluar
bergantung pada seberapa besar bagian plasenta yang lepas dan
pembuluh darah yang putus oleh pelepasan/robeknya plasenta.
Inspeksi.
Adanya perdarahan pervaginam dengan jumlah banyak atau
sedikit dan berwarna merah segar atau kehitaman dengan
bekuan.
Jika perdarahan banyak, ibu akan tampak pucat dan mengganggu
sirkulasi retroplasenter yang dapat menimbulkan asfiksia
intrauterin sampai kematian janin.
Palpasi abdomen.
Janin sering dalam keadaan belum cukup bulan, sehingga TFU
masih rendah.
Perut ibu lemas sehingga mudah meraba bagian terendah.
Sering dijumpai kelainan letak janin (sungsang, lintang).

3
Bagian terbawah janin belum masuk PAP, jika presentasi kepala,
biasanya masih dapat digoyangkan.
Pemeriksaan inspekulo.
Dengan memakai spekulum secara hati-hati, untuk melihat sumber
perdarahan, apakah dari dalam uterus, kelainan vagina, atau pecahnya
varises.
Pemeriksaan USG.
Pada pemeriksaan USG terlihat letak plasenta di segmen bawah
rahim.

2.1.5 Pengaruh Plasenta Previa Terhadap Partus


1. Letak janin yang tidak normal, menyebabkan partus akan menjadi
patologik.
2. Bila pada plasenta previa lateralis, ketuban pecah atau dipecahkan
dapat terjadi prolaps funikuli.
3. Sering dijumpai inersia primer.
4. Perdarahan.
Komplikasi plasenta previa, yaitu:
1. Prolaps tali pusat,
2. Prolaps plasenta,
3. Plasenta melekat, sehingga harus dikeluarkan manual dan jika perlu
dibersihkan dengan robekan,
4. Perdarahan postpartum,
5. Infeksi karena perdarahan yang banyak,
6. Bayi prematur atau lahir mati.

2.1.6 Penatalaksanaan

Terapi Aktif

Wanita hamil di atas 22 minggu dengan perdarahan pervaginam yang aktif


dan banyak, harus segera ditatalaksana tanpa memandang maturitas janin.
Untuk diagnosis plasenta previa dan menentukan cara menyelesaikan
persalinan, setelah semua persyaratan dipenuhi, lakukan PDMO jika:
Infus/transfusi telah terpasang, kamar dan Tim Operasi telah siap.
Kehamilan 37 minggu (berat badan 2500 gram) dan inpartu, atau
Fetus telah meninggal atau terdapat anomali kongenital mayor (misal:
anensefali),

4
Perdarahan dengan bagian terbawah janin telah jauh melewati pintu

atas panggul ( pada palpasi luar).

Cara menyelesaikan persalinan dengan plasenta previa adalah:

1. Seksio Sesar
Prinsip utama dalam melakukan seksio sesar adalah untuk
menyelamatkan ibu, sehingga walaupun fetus meninggal atau tak
punya harapan hidup, tindakan ini tetap dilaksanakan.
Tujuan seksio sesar:
Melahirkan fetus dengan segera sehingga uterus dapat segera
berkontraksi dan menghentikan perdarahan.
Menghindarkan kemungkinan terjadinya robekan pada serviks
uteri, jika fetus dilahirkan pervaginam.
Tempat implantasi plasenta previa terdapat banyak vaskularisasi
sehingga serviks uteri dan segmen bawah rahim menjadi tipis dan
mudah robek. Selain itu, bekas tempat implantasi plasenta sering
menjadi sumber perdarahan karena adanya perbedaan vaskularisasi
dan susunan serabut otot dengan korpus uteri.
Siapkan darah pengganti untuk stabilisasi dan pemulihan kondisi ibu.
Lakukan perawatan lanjut pascabedah termasuk pemantauan
perdarahan, infeksi, dan keseimbangan cairan masuk-keluar.

2. Melahirkan pervaginam

Hanya dilakukan pada kasus plasenta previa marginalis atau plasenta


letak rendah di mana perdarahan yang terjadi tidak menyebabkan syok atau
memperburuk kondisi ibu. Selain itu, perkiraan lahirnya bayi dapat terjadi
dalam waktu yang relatif singkat dan bayi dengan presentasi kepala. Perdarahan
diharapkan akan berhenti jika ada penekanan pada plasenta. Penekanan tersebut
dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut:

5
Amniotomi dan akselerasi
Dengan memecah ketuban, plasenta akan mengikuti segmen bawah
rahim dan ditekan oleh kepala fetus. Jika kontraksi uterus belum ada atau
masih lemah, akselerasi dengan infus oksitosin.
Versi Braxton Hicks
Tujuan melakukan Versi Braxton Hicks adalah mengadakan tamponade
plasenta dengan bokong (dan kaki) fetus. Versi Braxton Hicks tidak
dilakukan pada fetus yang masih hidup.
Traksi dengan Cunam Willet
Kulit kepala fetus dijepit dengan Cunam Willet, kemudian beri beban
secukupnya sampai perdarahan berhenti. Tindakan ini kurang efektif untuk
menekan plasenta dan seringkali menyebabkan perdarahan pada kulit
kepala. Tindakan ini biasanya dikerjakan pada fetus yang telah meninggal
dan perdarahan yang tidak aktif.

2.2 Solusio Plasenta


2.2.1 Definisi
Solusio plasenta adalah suatu keadaan di mana plasenta yang letaknya
normal terlepas sebagian atau seluruhnya dari insersinya di fundus uteri
sebelum waktu persalinan. Plasenta dapat terlepas hanya pada pinggirnya saja
(ruptura sinus marginalis), dapat pula terlepas lebih luas (solutio plasenta
parsialis), atau bisa seluruh permukaan maternal plasenta terlepas (solutio
plasenta totalis). Solutio plasenta dibagi menjadi 3 macam, yaitu :
Solutio plasenta ringan :
Perdarahan kurang 500cc dengan lepasnya plasenta kurang dari 1/5
bagian.
Perut ibu masih lemas sehingga bagian janin mudah diraba.
Tanda fetal distres belum tampak.
Terdapat perdarahan hitam pervaginam.
Solutio plasenta sedang :
Lepasnya plasenta antara 1/4 - 2/3 bagian dengan perdarahan sekitar
1000cc.
Perut mulai tegang dan bagian janin sulit diraba.
Janin sudah fetal distres berat sampai IUFD.
Tanda persalinan telah ada dan dapat berlangsung cepat sekitar 2 jam.
Solutio plasenta berat :

6
Lepasnya plasenta sudah melebihi 2/3 bagian.
Perut nyeri dan tegang, bagian janin sulit diraba seperti papan.
Janin sudah fetal distres berat sampai IUFD.

2.2.2 Etiologi
Penyebab utama dari solusio plasenta, masih belum diketahui dengan
jelas
Trauma langsung abdomen.
Korioamnionitis.
Umbilikus pendek atau lilitan tali pusat.
Konsumsi nikotin dan kokain.
Trombofilia.
Disamping itu, ada juga pengaruh dari:
Umur lanjut
Multiparitas
Ketuban pecah sebelum waktunya
Defisiensi asam folat

2.2.3 Patofisiologi

Pada pasien dengan korioamnionitis, trombofilia, dan pengonsumsi


nikotin dan kokain, dapat menyebabkan pembentukan trombosis dalam
pembuluh darah desidua yang berujung kepada iskemia dan hipoksia dan dapat
menyebabkan kematian sel (apoptosis) yang akan mengakibatkan perdarahan.
Perdarahan tersebut menyebabkan desidua basalis terlepas kecuali lapisan tipis
yang melekat pada miometrium.

Pada trauma abdomen, mengakibatkan pembuluh arteria spiralis dalam


desidua basalis robek. Dengan robeknya pembuluh desidua, akan terjadi
pembentukan hematoma retroplasenter. Selanjutnya desidua akan terkelupas
dan meninggalkan lapisan tipis pada miometrium. Hal ini menyebabkan
pelepasan yang lebih luas dan kerusakan plasenta sehingga darah merembes
antara selaput ketuban dan miometrium lalu keluar melalui serviks ke vagina.
Perdarahan tidak bisa berhenti karena uterus yang sedang mengandung tidak
mampu berkontraksi optimal untuk menjepit arteria spiralis yang terputus.

2.2.4 Diagnosis dan gambaran klinis

7
Anamnesis.
Perasaan sakit tiba-tiba di perut, terkadang pasien dapat
melokalisasi tempat sakit yang tepat dengan tempat terlepasnya
plasenta.
Perdarahan pervaginam yang sifatnya bisa hebat (jika solutio
plasenta parsialis) atau perdarahan yang tidak banyak (jika
solutio plasenta totalis).
Pergerakan janin yang hebat kemudian melemah sampai dengan
tidak bergerak lagi.
Kepala terasa pusing, lemas, mual, muntah, pandangan mata
berkunang-kunang.
Inspeksi.
Pasien gelisah dan sering merintih sampai dengan mengerang
karena kesakitan.
Ibu terlihat pucat, sianosis, dan keluar keringat dingin.
Terlihat darah pervaginam.

Palpasi.
Fundus uteri tambah naik karena terbentuknya hematoma
retroplasenter.
Uterus teraba tegang dan keras seperti papan.
Nyeri tekan, terutama di tempat lepasnya plasenta.
Bagian-bagian janin susah dikenali karena uterus tegang seperti
papan.
Auskultasi.
Sulit, karena uterus tegang, bila terdengar biasanya frekuensi diatas
140 x/menit.
Pemeriksaan umum.
Nadi cepat.
Tekanan darah semula tinggi karena biasanya pasien dengan
solutio plasenta mempunyai tekanan darah yang tinggi, tetapi
kemudian turun sampai akhirnya jatuh syok.
Pemeriksaan laboratorium.
Pada pemeriksaan urin didapati adanya albumin (albumin
positif).
Hb menurun.
Pemeriksaan plasenta.

8
Dilakukan sesudah bayi lahir. Plasenta tampak tipis dan cekung di
bagian yang terlepas dan terdapat koagulum atau bekuan darah di
belakang plasenta, yang disebut hematoma retroplasenter.

2.2.5 Penatalaksanaan
Terapi Spesifik
1. Atasi syok
Infus NS/RL untuk restorasi cairan, berikan 500 ml dalam 15 menit
pertama dan 2L dalam 2 jam pertama.
Ganti darah yang keluar dengan darah segar untuk memperbaiki faktor
pembekuan akibat koagulopati.
2. Tatalaksana oliguria atau nekrosis tubuler akut
Tindakan restorasi cairan, dapat memperbaiki hemodinamika dan
mempertahankan fungsi eksresi sistem urinaria. Tetapi apabila syok
terjadi secara cepat dan telah berlangsung lama (sebelum dirawat),
umumnya akan terjadi gangguan fungsi ginjal yang ditandai dengan
oliguria (produksi urin < 30ml/jam). Pada kondisi yang lebih berat
dapat terjadi anuria yang mengarah pada nekrosis tubulus renalis.
Setelah restorasi cairan, lakukan tindakan untuk mengatasi gangguan
tersebut dengan:
Furosemida 40mg dalam 1L kristaloid dengan 40-60 tetes/menit.
Bila belum berhasil, gunakan manitol 500 ml dengan 40
tetes/menit.
3. Atasi hipofibrinogenemia
Restorasi cairan/darah sesegera mungkin dapat menghindarkan terjadi
koagulopati.
Lakukan uji beku darah (bedside coagulation test) untuk menilai
fungsi pembekuan darah (penilaian tak langsung kadar ambang
fibrinogen).
Caranya sebagai berikut:
Ambil darah vena 2ml, masukkan dalam tabung kemudian
diobservasi.
Genggam bagian tabung yang berisi darah.
Setelah 4 menit, miringkan tabung untuk melihat lapisan koagulasi
di permukaan.

9
Lakukan hal yang sama setiap menit.
Bila bagian permukaan tidak membeku dalam waktu 7 menit,
maka diperkirakan titer fibrinogen dianggap di bawah nilai normal
(kritis).
Bila terjadi pembekuan tipis yang mudah robek bila tabung
dimiringkan, keadaan ini juga menunjukkan kadar fibrinogen di
bawah ambang normal.
Bila darah segar tidak dapat segera diberikan, berikan plasma beku
segar (15ml/kgBB).
Bila plasma beku segar tidak tersedia, berikan cryoprecipitate
fibrinogen.
Pemberian fibrinogen, dapat memperberat terjadinya koagulasi
diseminata intravaskuler yang berlanjut dengan pengendapan fibrin,
pembendungan mikrosirkulasi di dalam organ-organ vital, seperti
ginjal, glandula adrenalis, hipofise, dan otak.
Bila perdarahan masih berlangsung (koagulopati) dan trombosit di
bawah 20.000, berikan konsentrat trombosit.
4. Atasi anemia
Darah segar merupakan bahan terpilih untuk mengatasi anemia karena
disamping mengandung butir-butir darah merah, juga mengandung
unsur pembekuan darah.
Bila restorasi cairan telah tercapai dengan baik tetapi pasien masih
dalam kondisi anemia berat, berikan packed cell.

Tindakan Obstetrik

1. Seksio Sesar
Seksio sesar dilakukan apabila:
Janin hidup dan pembukaan belum lengkap.
Janin hidup, gawat janin tetapi persalinan pervaginam tidak dapat
dilaksanakan dengan segera.
Janin mati tetapi kondisi serviks tidak memungkinkan persalinan
pervaginam dapat berlangsung dalam waktu yang singkat
sehingga keselamatan ibu terancam oleh komplikasi lanjutan.

10
Persiapan untuk Seksio Sesar, cukup dilakukan penanggulangan awal
(stabilisasi dan tatalaksana komplikasi yang sedang terjadi) kemudian
lahirkan bayi dengan segera karena operasi merupakan satu-satunya
cara efektif untuk menghentikan perdarahan dan beratnya kondisi
koagulopati.
Hematoma miometrium tidak mengganggu kontraksi uterus.
Observasi ketat kemungkinan perdarahan ulangan (koagulopati).
2. Partus Pervaginam
Partus pervaginam dilakukan apabila:
Janin hidup, gawat janin dan syarat untuk melahirkan pervaginam
dengan segera dapat dipenuhi (pembukaan lengkap, bagian
terendah sudah di dasar panggul dan tindakan untuk akselerasi
persalinan dapat diaplikasikan).
Kondisi ibu baik, janin telah meninggal dan hasil evaluasi kondisi
serviks cukup baik untuk induksi/akselerasi.
Partus pervaginam dengan bayi hidup, dilakukan amniotomi (bila
ketuban belum pecah) kemudian percepat kala II dengan ekstraksi
forceps atau vakum.
Partus pervaginam pada bayi yang telah meninggal, dilakukan
amniotomi (bila ketuban belum pecah) kemudian akselerasi dengan 5-
10 unit oksitosin dalam Dextrose 5% atau RL, tetesan diatur sesuai
dengan kondisi kontraksi uterus.
Setelah persalinan, gangguan pembekuan darah akan membaik secara
perlahan dalam waktu 24 jam, kecuali bila jumlah trombosit sangat
rendah (perbaikan baru terjadi dalam 2-4 hari kemudian).

BAB IV

11
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Plasenta previa adalah plasenta yang berimplantasi rendah sehingga
menutupi sebagian atau seluruh ostium uteri internum. Diagnosis plasenta previa
ditegakkan berdasarkan pada pembukaan 4-5 cm. Ostium uteri yang secara
dinamik mendatar dan meluas dalam persalinan kala satu bisa mengubah luas
permukaan serviks yang tertutup plasenta.
Solusio plasenta adalah suatu keadaan di mana plasenta yang letaknya
normal terlepas sebagian atau seluruhnya dari insersinya di fundus uteri sebelum
waktu persalinan. Plasenta dapat terlepas hanya pada pinggirnya saja (ruptura
sinus marginalis), dapat pula terlepas lebih luas (solutio plasenta parsialis), atau
bisa seluruh permukaan maternal plasenta terlepas (solutio plasenta totalis).

4.2 Saran
Sebaiknya seluruh ibu hamil dapat mengetahui tanda bahaya kehamilan
agar saat terjadi tanda-tanda tersebut, ibu dapat mengambil keputusan untuk
segera berkonsultasi dengan petugas kesehatan. Petugas kesehatanpun harus
sangat memahami tanda bahaya kehamilan agar dapat memberikan asuhan
dengan tepat.

ASUHAN KEBIDANAN KEPADA Ny. L

Hari/ Tanggal : Rabu, 4 Juni 2014

12
Waktu Pengakajian : 10.00 WIB

Tempat Pengkajian : BPM Bidan D

Nama Pengkaji : Bidan D

DATA SUBJEKTIF

A. Identitas Istri Suami


Nama : Ny. L Tn. M
Umur : 37 tahun 40 tahun
Kebangsaan : jawa jawa
Agama : Islam Islam
Pendidikan : SMP SMA
Pekerjaan : ibu rumah tangga pegawai swasta
Alamat : ciomas ciomas

B. Anamnesa
1. Alasan Kunjungan :
Ibu mengatakan ingin memeriksakan kehamilannya karena pada pagi hari
tadi ibu mengeluarkan gumpalan darah.
2. Keluhan Utama :
Ibu datang dengan keluhan mengeluarkan darah berupa gumpalan dari jalan
lahir tanpa disertai rasa nyeri.
3. Riwayat Penyakit Sekarang : tidak ada
4. Riwayat Penyakit Masa Lalu : tidak ada
5. Riwayat Penyakit Keluarga : tidak ada
6. Riwayat Psiko-Sosial :
Ibu mengatakan selama ini tidak ada adat budaya yang dapat
mengganggu kondisi kesehatannya.
Ibu mengatakan cemas dengan keluhan yang dialaminya sekarang. Ibu
khawatir keluhan yang dialami akan berpengaruh terhadap
kehamilannya.
7. Riwayat kehamilan, persalinan, dan nifas yang lalu
Umur : 35 tahun
Usia Kehamilan : 38 minggu
Jenis persalinan : SC
Tempat persalinan : Rumah Sakit
Penolong : dr.SpOG

13
Bayi : BB 2500 gram, PB 48 cm
Jenis Kelamin : laki-laki
Laktasi : 1 tahun

8. Riwayat KB
Ibu mengatakan pernah menjadi akseptor KB suntik 3 bulanan selama
1 tahun
Terakhir berhenti : tahun 2012 alasan ibu ingin hamil anak ke-2
Efek samping: tidak ada
Alat kontrasepsi yang sedang dipakai : tidak ada

9. Riwayat Kehamilan Sekarang :


HPHT : 26-09-2013
HTP : 03-07-2014
Pergerakan janin : 20x/hari

10. Aktifitas Sehari-hari :


Pola makan dan minum : makan 4x/hari, minum 8 gelas/hari
Pola BAB
Frekuensi : 1-2x/ hari
Konsistensi : lunak
Warna : kuning kecoklatan
Pola BAK
Frekuensi : 6-7x/ hari
Konsistensi : encer
Warna : kuning jernih
Istirahat dan tidur : 7 jam/hari
Aktifitas sehari-hari :
Ibu mengatakan sehari-hari mengurus anak dan semua kegiatan di
rumah secara mandiri.
Ibu mengatakan selama hamil, istirahat cukup dan tidak melakukan
aktifitas rumah tangga yang berat.

DATA OBJEKTIF
1. Keadaan umum : baik
2. Kesadaran : composmentis
3. Emosional : cemas
4. Tanda-tanda vital
Tekanan darah : 100/70 mmHg
Nadi : 85x/menit
Pernafasan : 20x/menit

14
Suhu : 36,5C
5. Tinggi badan : 154cm
6. Berat badan sebelum hamil : 50kg
7. Berat badan sekarang : 62kg
8. Wajah
Turgor kulit : baik
9. Mata
Sklera : putih
Konjungtiva : merah muda
10. Mulut
Bibir : pucat
Bau mulut : tidak bau keton
11. Abdomen
Palpasi uterus
Leopold I
TFU = 28 cm, TBBJ = (TFU-12) x 155= (28-12) x 155= 2480 gram
Bagian atas perut ibu teraba bulat, keras dan melenting.
Leopold II
Bagian kanan perut ibu teraba bagian-bagian kecil janin
Bagian kiri perut ibu teraba tahanan keras dan memanjang.
Leopold III
Bagian bawah perut ibu teraba bulat, lunak dan tidak melenting, masih
bisa digoyangkan.
Auskultasi
DJJ : 140x/menit, teratur
12. Genitalia
Inspeksi
Perineum : tidak ada luka
Vagina : perdarahan merah segar
Fistula : tidak ada
Varises : tidak ada
Palpasi
Kelenjar skene : tidak bengkak
Kelenjar bartholini : tidak bengkak
Nyeri tekan : tidak ada
13. Ekstermitas
Kuku : tidak pucat
Refleks patella :+
Oedema :-

ANALISA

15
G2P1A0, usia kehamilan 36 minggu dengan plasenta previa.
Janin tunggal, hidup, presentasi bokong
PENATALAKSANAAN
1. Menyampaikan hasil pemeriksaan kepada ibu.
2. Memotivasi ibu untuk proses persalinan dengan SC.
3. Menganjurkan ibu untuk berkonsultasi dengan dokter obsgyn untuk pemberian
therapi.
7. Membuat kesepakatan untuk kunjungan ulang berikutnya.
8. Membantu proses rujukan ibu.

16