Anda di halaman 1dari 135

STRATEGI PERTAHANAN

Menelisik
INDUSTRI PERTAHANAN
NASIONAL
( Potensi, Kendala & Prospek )

Oleh :
Yan Daryono

BANDUNG
2015
PENGANTAR PENULIS
Wilayah NKRI yang sangat luas menuntut jaminan
keamanan dan pertahanan yang mumpuni. Oleh karena itu - sesuai
dengan amanat undang-undang - pihak yang paling
bertanggungjawab terhadap keamanan dan pertahanan tersebut
adalah TNI ( Tentara Nasional Indonesia ). Karena para ksatria itulah
yang bertugas menjaga keamanan dan pertahanan wilayah NKRI,
baik di darat, di laut mau pun di udara. Melindungi kedaulatan
negara dan bangsa seperti ditegaskan dalam Undang-Undang RI
No.3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara dan Undang-Undang
RI No.34 Tahun 2004 tentang TNI.
Maka untuk melaksanakan tugas pokok dan fungsinya, TNI
memerlukan berbagai dukungan, di antaranya adalah dukungan
alutsista yang memadai. Terkait dengan dukungan alutsista itulah,
Pemerintah RI menyelenggarakan industri pertahanan nasional
sebagai industri strategis yang berkelanjutan seperti tercantum dalam
Undang-Undang RI No.16 Tahun 2012 tentang Industri Pertahanan.
Meski tidak menjadi perhatian publik, industri pertahanan
nasional terus berproduksi menghasilkan berbagai jenis alutsista
dan kelengkapan pendukungnya. Baik untuk pertahanan darat, laut,
mau pun udara. Semua produk yang dihasilkan adalah karya anak
bangsa yang patut diapresiasi dan dibanggakan, bahkan didukung
sepenuhnya.
Karya tulis ini hanya mengungkap sebagian kecil tentang
industri pertahanan nasional dengan segala aspeknya. Namun
demikian, mudah-mudahan karya tulis ini tetap memberi manfaat
yang turut menunjang peningkatan industri pertahanan tersebut.
Bukankah negara yang kuat dan disegani oleh negara-negara lain
di dunia, tidak lain karena pertahanannya yang kuat. Pertahanan
yang kuat tentu haruslah ditunjang dengan alutsista yang kuat pula.

Terimakasih.

Bandung, Agustus 2015

Yan Daryono

2
untuk mengenang ayahanda tercinta
Almarhum SoedarjonoWreksomindojo
Ex Brigade XVII - Tentara Pelajar Surakarta
Rame ing gawe sepi ing pamrih.
Rawe-rawe rantas, malang-malang putung.
Jer besuki mawabea....

3
Daftar Isi

- Pengantar Penulis
- Daftar Isi

1. Kondisi Wilayah NKRI :


A. Latarbelakang
B Perkiraan Ancaman
C. Agenda Keamanan Nasional
D. Strategi Pertahanan Nasional

2. Industri Pertahanan Nasional :


A. Gambaran Umum
B. Industri Alat Utama Sistem Persenjataan
C. Industri Komponen Utama
D. Industri Pendukung

3. Analisis Permasalahan :
A. Kendala dan Tantangan
B. Peluang
C. Solusi

4. Potensi dan Prospek

5. Kesimpulan dan Penutup

- Daftar Pustaka

4
1. Kondisi Wilayah NKRI

A. Latarbelakang

Iwan Gayo, mantan wartawan yang menyusun


Buku Pintar Indonesia sejak tahun 1986, menulis data di
dalam buku yang diterbitkannya itu bahwa Negara
Kesatuan Republik Indonesia ( NKRI ) merupakan salah
satu negara kepulauan terbesar ke lima di dunia. Berabad-
abad silam, negara kepulauan ini dijuluki sebagai negeri
rempah-rempah. Bahkan Ktut Tantri, penulis keturunan
Inggris yang berkebangsaan Amerika, menyebut negeri
rempah-rempah ini sebagai negeri di balik bulan. Sungguh
memang negeri yang eksotik.
Negara yang memiliki 17.508 pulau besar dan kecil
bagai untaian zamrud di khatulistiwa ini, berada pada
kordinat 60 Lintang Utara - 110 Lintang Selatan dan di
antara Garis Meredian 950 dan 1410 Timur Greenwich
dengan garis pantai membujur dari Barat ke Timur
Khatulistiwa sepanjang 5.110 kilometer serta Garis
Meredian yang membujur dari Utara ke Selatan sepanjang
1.888 kilometer.
Luas wilayah seluruhnya meliputi 5.193.252 km2
yaitu 1.904.569 km2 merupakan luas wilayah daratan dan
3.288.683 km2 adalah luas lautan 1. Secara geografis,
Indonesia terletak di antara Benua Asia dan Benua
Australia, serta Samudra Hindia dan Samudra Pasific.
Kemudian sesuai dengan Konvensi PBB tentang Hukum
Laut ( UNCLOS ) tahun 1982, Indonesia juga memiliki 3

1 Iwan Gayo Buku Pintar Indonesia Seri Senior ( Upaya Warga Negara
cet. 29 th 2000 ) hal 7
5
(tiga) ALKI atau Alur Laut Kepulauan Indonesia seperti
Selat Sunda, Selat Lombok dan Selat Makassar 2.
Sedangkan batas negaranya berada di dua matra, yaitu di
laut ( batas maritim) dengan 10 (sepuluh) negara tetangga
dan di darat ( batas kontinen) dengan 3 (tiga) negara
tetangga. Negara-negara yang mempunyai kawasan
perbatasan maritim dengan Indonesia antara lain
Singapura, Thailand, India, Filipina, Vietnam, Papua New
Guinea, Australia, Palau dan Republik Demokratik Timur
Leste ( RDTL). Sedangkan negara-negara yang mempunyai
perbatasan kontinen dengan Indonesia yaitu Malaysia,
Papua New Guinea dan Republik Demokratik Timor Leste (
RDTL ).
Menurut data BPS ( Biro Pusat Statistik ) tahun
2009, jumlah penduduk Indonesia sudah mencapai lebih
dari 230 juta jiwa. Bahkan pada tahun 2050 mendatang -
menurut prediksi PBB - jumlah penduduk Indonesia
akan mencapai 350 juta jiwa sehingga melebihi populasi
penduduk di Tiongkok atau pun India, atau disebut juga
sebagai bonus demografi. Oleh sebab itu di kawasan Asia
Tenggara saat ini, Indonesia dinilai sebagai negara yang
populasi penduduknya terbilang paling banyak dan padat.
Terdiri atas 370 suku bangsa dengan 67 bahasa induk serta
hidup dalam keanekaragaman budaya ( multi etnik ) 3.
Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam
yang berlimpah ruah seperti minyak bumi, gas alam, emas,
timah, mangan, bauksit, batu bara dan berbagai mineral
alam lainnya. Termasuk juga hasil hutan, perkebunan dan
hasil laut yang luas, yang turut mendukung kebutuhan
dunia internasional. Sehingga dengan demikian Indonesia
dinilai sebagai negara yang memiliki potensi strategis di

2 Buku Putih PERTAHANAN INDONESIA 2008 2013 . Kemenhan RI 2008,


hal 17.
3 Iwan Gayo Buku Pintar Indonesia Seri Senior ( Upaya Warga Negara
ct.29 th 2000 ) hal 7
6
dunia internasional. Dampaknya kemudian adalah
mendorong negara - negara besar dengan perekonomiannya
yang mapan, memiliki banyak kepentingan terhadap
Indonesia. Bahkan sejak sepuluh abad silam, Indonesia
sudah memiliki peran penting dalam perekonomian dunia.
Sejarah panjang Nusantara telah mencatat dengan jelas
bangsa-bangsa yang berdatangan ke negeri rempah-
rempah ini untuk kepentingan ekonomi, budaya sekaligus
penyebaran agama. Mulai dari bangsa Cina dan India
yang sering melintas di perairan Selat Malaka dan Selat
Makassar, lalu singgah dan menetap. Ada yang menetap
sementara namun tidak sedikit pula yang menetap
permanen. Selanjutnya bangsa Eropa pun berdatangan,
khususnya bangsa Belanda dan Portugal yang kemudian
melakukan koloni dan penjajahan di berbagai daerah di
Indonesia, sampai akhirnya datang pula bangsa Arab
untuk berniaga serta menyebarkan agama 4.
Kini, setelah sepuluh abad berselang, kondisi
Indonesia sebagai suatu negara telah banyak mengalami
perubahan. Baik perubahan peradaban, mau pun perubahan
kebudayaannya. Bahkan teknologi Informasi dan
komunikasi atau pun satelit, mulai merambah di
kalangan masyarakat Indonesia di berbagai lapisan.
Sehingga saat ini, sepertinya bagi sebagian besar
masyarakat di Indonesia, dunia telah menjelma seolah
menjadi tanpa batas.
Kondisi demikian tentu memberi dampak positif
mau pun negatif. Dampak positifnya, sekarang ini berkat
dukungan perangkat teknologi informasi dan komunikasi
yang semakin modern dan canggih, masyarakat Indonesia
dengan mudahnya mengakses informasi dari negara
mana pun. Sedangkan dampak negatifnya, sekarang ini
berbagai pengaruh asing mulai melanda kehidupan
4 Lihat buku Sejarah Indonesia : NUSANTARA karya Bernard H.M. Vlekke
( KPG dan Freedom Institute 2008 )
7
sebagian masyarakat Indonesia, khususnya dalam hal
gaya hidup ( life style ). Kelak semua pengaruh asing itu
dapat saja berubah menjadi ancaman terhadap bangsa dan
negara. Ancaman sosial budaya, ancaman ekonomi,
ancaman lingkungan hidup dan sebagainya yang pada
akhirnya menjadi ancaman terhadap keamanan dan
pertahanan negara.

B. Perkiraan Ancaman

Menurut Richard Ullman, ancaman terhadap


keamanan nasional suatu negara dipahami atau
didefinisikan sebagai suatu tindakan atau serangkaian
peristiwa yang dapat memberikan ancaman. Pertama
ancaman secara langsung mau pun tidak langsung untuk
membahayakan kehidupan masyarakat di suatu negara
dan ke dua untuk membatasi pilihan-pilihan kebijakan
pemerintah suatu negara atau berbagai entitas yang tidak
terkait dengan pemerintahan di negara tersebut. Maka jelas
bahwa keamanan bukan hanya terbatas pada dimensi
militer, seperti sering diasumsikan dalam diskusi tentang
konsep keamanan bahwa ancaman ini tidak hanya dihadapi
dengan kekuatan militer, namun dihadapi oleh keamanan
secara menyeluruh (comprehensive security), yang
menempatkan keamanan sebagai konsep multidimensional
sehingga sistem keamanan akan tewujud bila lingkungan
hidupnya terjamin. Dan di sisi lain - menurut TNI -
ancaman ke depan tidak lagi bersifat tunggal melainkan
jamak dan multidimensional sehingga perlu direspons
dengan penyiapan kekuatan terpadu dalam kerangka
Trimatra Terpadu TNI.5

5 MABES TNI PEMBANGUNGAN KEKUTAN POKOK MINIMUM TNI Tahun


2010 2024. Lampiran Peraturan Panglima TNI Nomor Perpang/15/V/2010.
Tanggal 5 Mei 2010. Hal 12
8
Selanjutnya ancaman tersebut terbagi menjadi 2
( dua ) jenis, yaitu ancaman militer dan ancaman
nirmiliter. Ada pun yang dimaksud dengan ancaman
militer yaitu ancaman yang bersifat invasi militer dari
negara lain terhadap kedaulatan Republik Indonesia. Baik
dalam bentuk Perang Konvensional mau pun Perang
Modern atau Revolution in Military Affairs. Sedangkan
pengertian terhadap ancaman nirmiliter lebih komplek
dan multidimenional seperti pengaruh ideologi, politik,
ekonomi, budaya, industri dan sebagainya.
Meskipun kemungkinan potensi ancaman militer
sangat kecil dan nyaris tidak mungkin terjadi, tetapi ada
baiknya kita semua tetap waspada dan bersiap-siaga
bilamana ancaman tersebut justru menjadi kenyataan.
Lihat saja kondisi di Timur Tengah saat ini yang dilanda
perang tak kunjung akhir. Begitu pula di kawasan Eropa
Timur, Pemerintah Rusia telah melakukan invasi ke
wilayah Ukraina, Kroasia dll. Kemudian Pemerintah
Tiongkok mulai berkonflik dengan Pemerintah Vietnam dan
Taiwan terkait Laut Cina Selatan. Konflik Korea Utara
dengan Korea Selatan, konflik Palestina dengan Israel yang
terus meruncing, konflik agama dan etnik di Afrika serta
lain sebagainya. Singkat kata, di beberapa negara di
belahan bumi ini sedang dilanda perang yang melelahkan
dan menelan banyak korban jiwa.
Kondisi yang digambarkan di atas, tidak boleh
dipandang remeh sebelah mata. Karena selama ini
Indonesia juga tidak luput dari gangguan keamanan oleh
kalangan separatis bersenjata, misalnya Gerakan Aceh
Merdeka ( GAM ), Republik Maluku Selatan ( RMS ),
Organisasi Papua Merdeka ( OPM ) dan sebagainya yang
merongrong kedaulatan NKRI. Ditambah lagi dengan aksi-
aksi terorisme yang mengemban ideologi Islam
transnasional, peredaran narkoba, pencurian ikan,
pembalakan hutan, perdagangan manusia dan masih
9
banyak lagi. Semua itu adalah ancaman terhadap
pertahanan dan keamanan negara.
Maka untuk menghadapi berbagai ancaman
pertahanan dan keamanan tersebut, Pemerintah Indonesia
perlu memperkuat potensi militernya yaitu TNI ( Tentara
Nasional Indonesia ). Apalagi bila menyimak ketentuan
dalam Undang-Undang No.3 Tahun 2002 tentang
Pertahanan Negara yang menegaskan bahwa :

sistem pertahanan negara adalah sistem pertahanan


yang bersifat semesta yang melibatkan seluruh warga
negara, wilayah dan sumber daya nasional lainnya, serta
dipersiapkan secara dini oleh pemerintah dan
diselenggarakan secara total, terpadu, terarah dan
berlanjut untuk menegakkan kedaulatan negara,
keutuhan wilayah, dan keselamatan segenap bangsa dari
segala ancaman. 6

Selanjutnya dalam ayat 5 Bab I Pasal 1,


disebutkan bahwa TNI memiliki peran penting sebagai
komponen utama yang dipersiapkan untuk melaksanakan
tugas-tugas pertahanan tersebut. Penegasan atas tugas-tugas
pertahanan dimaksud semakin jelas tercantum dalam
Undang-Undang No.34 Tahun 2004 tentang TNI. Yaitu
tugas pokok TNI adalah bertanggungjawab melindungi
dan menjaga keutuhan wilayah NKRI dari berbagai
ancaman. Baik ancaman dari luar mau pun ancaman dari
dalam negeri. Sehingga di dalam Undang-Undang No.34
Tahun 2004 itu, ditegaskan bahwa TNI melaksanakan 2
( dua ) jenis tugas operasi yaitu : Operasi Militer Perang
( OMP ) dan Operasi Militer Selain Perang ( OMSP ) 7.

6 Undang Undang No.3 Tahun 2002. Tentang PERTAHANAN NEGARA -


Bab I, Pasal 1 ayat 2.
7 Undang-Undang TNI No.34 Th 2004. Bab IV Bagian ke Tiga. Pasal 7
ayat 2 a dan 2 b.
10
C. Agenda Keamanan Nasional

Langkah utama yang paling ideal dalam


membangun kekuatan pertahanan dan keamanan negara,
ialah dengan meningkatkan kekuatan militer dan
persenjataannya. Sehingga di saat menapak abad 21 ini,
negara-negara di seluruh dunia ( khususnya negara-negara
maju ) semakin memperkuat peran militernya sebagai
bagian penting dari agenda keamanan nasional negerinya.
Contohnya Amerika Serikat, Australia, negara-negara di
Eropa dan kawasan Asia. Bahkan Pemerintah Jepang yang
selama ini tidak terlalu mengutamakan peran militernya,
sekarang justru merumuskan program mengembalikan
pembangunan kekuatan militer beserta persenjataannya.
Singkat kata hampir semua negara di dunia berlomba
meningkatkan kekuatan peran militernya untuk
menunjukkan kepada dunia internasional, bahwa mereka
sudah siap siaga menghadapi kontestasi kekuatan militer
dan persenjataannya demi melindungi kedaulatan negara
masing-masing.
Pemerintah RI telah sejak lama memprioritaskan
upaya peningkatan kekuatan militer ( TNI ) sebagai salah
satu agenda pertahanan dan keamanan nasional. Yaitu
dengan meningkatkan kemampuan ( skill ) profesional para
prajurit TNI dalam program Tri Matra terpadu, sekaligus
memodernisasi persenjataannya. Baik itu alutsista yang
dibeli dari negara lain, mau pun persenjataan hasil industri
nasional. Karena permasalahan vital yang selama ini terjadi
adalah penggunaan atau pengadaan alutsista yang belum
mencerminkan keterpaduan matra. Sehingga terkait hal
tersebut diperlukan industri pertahanan nasional yang
tangguh dan mandiri. Namun harus diakui, untuk memiliki
industri pertahanan yang tangguh dan mandiri itu
dibutuhkan banyak faktor pendukung. Misalnya
sumberdaya manusia yang ahli dan profesional di bidang
11
industri tersebut, dukungan pasokan bahan baku yang
cukup, serta dukungan pendanaan yang memadai pula.
Namun sebelum lebih jauh kita membahas tentang
industri pertahanan ini, ada baiknya dipahami dahulu apa
yang dimaksud dengan industri pertahanan ? Secara
sederhana, industri pertahanan dapat didefinisikan sebagai
suatu industri nasional ( pemerintah mau pun swasta ) yang
produknya baik secara sendiri atau kelompok, termasuk
jasa pemeliharaan dan perbaikan yang atas penilaian
pemerintah dapat dimanfaatkan untuk kepentingan
pertahanan negara 8. Selain itu industri pertahanan dapat
juga disebut sebagai industri militer karena kegiatannya
yang sebagian besar meliputi kegiatan penelitian,
pengembangan, produksi dan pelayanan peralatan serta
fasilitas militer. Sedangkan hakekat dari industri pertahanan
ialah sebagai bagian dari tatanan industri nasional yang
secara khusus memiliki kemampuan atau potensi yang
dapat dikembangkan untuk menghasilkan produk berupa
sistem senjata, peralatan dan perlengkapan termasuk
berbagai jasa pekerjaan yang terkait dengan kepentingan
penyelenggaraan pertahanan negara.

Kriteria industri pertahanan antara lain adalah :

- Industri pertahanan merupakan bagian dari industri


nasional dan tergolong dalam kelompok industri
strategis.

- Industri pertahanan bersumber dari potensi industri


nasional ( pemerintah mau pun swasta ).

8 http://www.ristek.go.id. Wikipedia : Ensiklopedia bebas.

12
- Industri pertahanan berkemampuan menghasilkan
sistem senjata, peralatan dan dukungan logistik serta
berbagai jasa yang terkait dengan kepentingan
pertahanan di samping mampu menghasilkan produk-
produk komersial dalam rangka mendukung
pertumbuhan ekonomi nasional.

- Industri pertahanan dalam pengelolaannya tidak


terlepas dari prinsip-prinsip ekonomi yang berlaku.

- Industri pertahanan harus mampu mengkonversikan


atau mentransformasikan kapasitas dan kapabilitas
produksinya secara cepat selaras dengan tuntutan
kebutuhan pertahanan, khususnya jika dalam keadaan
darurat. Misalnya dalam keadaan perang.

- Industri pertahanan dikembangkan secara bertahap


sesuai perkembangan postur TNI dan tuntan
perkembangan teknologi sistem persenjataan.

- Industri pertahanan harus mampu berperan dalam


mengurangi ketergantungan terhadap luar negeri,
khususnya terhadap pemenuhan kebutuhan sarana
pertahanan.

- Industri pertahanan harus didukung oleh kemampuan


RDT & E yaitu Research Development Test and
Evaluation yang tangguh dan konsisten bagi
perkembangan iptek.

13
Industri pertahanan yang kuat memiliki 2 ( dua )
efek utama yaitu efek langsung terhadap pembangunan
kemampuan pertahanan, kemudian efek terhadap
pembangunan ekonomi dan teknologi nasional. Di bidang
pembangunan kemampuan pertahanan misalnya, industri
pertahanan yang kuat akan menjamin pasokan kebutuhan
alutsista dan sarana pertahanan secara berkelanjutan.
Ketersediaan pasokan alutsista secara berkelanjutan
menjadi prasyarat mutlak bagi keleluasaan dan kepastian
untuk menyusun rencana pembangunan pertahanan dalam
jangka panjang, tanpa adanya kekhawatiran terhadap fakor-
faktor politik dan ekonomi seperti embargo atau restriksi.
Industri pertahanan dapat memberikan efek
pertumbuhan ekonomi dan industri nasional, yaitu ikut
menggairahkan industri nasional yang berskala
internasional, penyerapan tenaga kerja dalam jumlah yang
cukup signifikan, transfer teknologi yang dapat
menggairahkan sektor penelitian dan pengembangan,
sekaligus memenuhi kebutuhan sektor pendidikan nasional
di bidang sains dan teknologi.
Maka untuk memenuhi prasyarat pembangunan
industri pertahanan tersebut, mau tidak mau Kementerian
Pertahanan R.I. selaku penanggungjawab utama sistem
pertahanan Indonesia, memerlukan kerjasama dengan pihak
lain untuk mewujudkan pengembangan industri pertahanan
yang mandiri. Dengan kata lain pemberdayaan industri
nasional untuk pembangunan pertahanan memerlukan
kerjasama di antara tiga pilar industri pertahanan yaitu a)
Badan Penelitian dan Pengembangan, b) kalangan
perguruan tinggi, c) kalangan industri, sementara
Kementerian Pertahanan R.I. berfungsi sebagai koordinator
dan pengawas kegiatan industri tersebut. Ketiga pilar itu
pun harus didukung dan dibentengi oleh kebijakan nasional
yang jelas untuk menggunakan berbagai produk hasil
industri dimaksud.
14
Namun keberhasilan pembangunan industri
pertahanan nasional, tentu juga tidak terlepas dari peran dan
fungsi Balitbang Indhan ( Badan Penelitian dan
Pengembangan Industri Pertahanan ) yang bernaung di
bawah Kementerian Pertahanan R.I.9 Yakni sesuai dengan
ketentuan Undang-Undang R.I. No.3 Tahun 2002 tentang
Pertahanan Negara, Pasal 23 ayat (1) yang menyebutkan ;
Bahwa dalam rangka meningkatkan kemampuan
pertahanan negara, Pemerintah melakukan penelitian dan
pengembangan industri dan teknologi di bidang
pertahanan. Kemudian pada pasal yang sama namun di
ayat (2) ditegaskan ; Dalam menjalankan tugas
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), Menteri mendorong
dan memajukan pertumbuhan industri pertahanan.
Terkait dengan ketentuan Pasal 23 ayat (1) dan (2)
di atas, Undang-Undang R.I. No.18 Tahun 2002 tentang
Sistem Nasional Penelitian, Pengembangan dan Penerapan
Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Pasal 4, mendukung
ketentuan Pasal 23 di atas tadi. Yakni disebutkan ; Sistem
Nasional Penelitian Pengembangan dan Penerapan Iptek
bertujuan memperkuat daya dukung Iptek bagi keperluan
mempercepat pencapaian tujuan negara, serta
meningkatkan daya saing dan kemandirian
memperjuangkan kepentingan negara dalam pergaulan
internasional . Maka akhirnya tidak disangsikan lagi
bahwa keberhasilan industri pertahanan nasional, juga
mengandalkan peran dan fungsi serta kemampuan
Balitbang Indhan tersebut.

D. Strategi Pertahanan dan Keamanan Nasional

9 Tim Puslitbang Indhan Balitbang Dephan


http://www.balitbang.kemhan.go.id.

15
Buku Putih Pertahanan Indonesia periode 2008-
2013 menegaskan, sistem pertahanan Negara Indonesia
meliputi 3 ( tiga ) fungsi yaitu (1) fungsi penangkalan, ( 2)
fungsi penindakan dan (3) fungsi pemulihan 10.
Penjelasannya seperti berikut :

Fungsi Penangkalan :

Fungsi penangkalan merupakan keterpaduan usaha


pertahanan untuk mencegah atau meniadakan niat dari
pihak tertentu yang ingin melakukan serangan militer ke
Indonesia. Fungsi penangkalan tersebut dilaksanakan
dengan strategi penangkalan yang bertumpu kepada
instrumen penangkalan berupa instrumen politik, ekonomi,
psikologi, teknologi dan militer. Instrumen politik
misalnya, menempatkan diplomasi sebagai lini terdepan
pertahanan negara yang bersinergi dengan faktor-faktor
politik lainnya yang saling memperkuat. Instrumen
ekonomi melalui pertumbuhan ekonomi yang sehat dan
cukup tingi akan mewujudkan pencapaian tujuan nasional,
yakni masyarakat yang sejahtera dan berkeadilan serta
berdaya saing pada lingkup regional mau pun global.
Instrumen psikologis yang diemban oleh semua komponen
pertahanan dalam mengembangkan kemampuan dilakukan
dengan memanfaatkan penggunaan media komunikasi,
teknologi, serta faktor-faktor psikologis lainnya bagi
terwujudnya daya tangkal psikologis secara efektif.
Psikologis berintikan faktor-faktor non fisik berupa tata nilai
serta segenap pranata sosial yang didayagunakan dalam
mewujudkan motivasi, tekad dan jiwa juang. Instrumen
teknologi dibangun secara bertahap dan berlanjut melalui
pengembangan industri pertahanan dalam negeri demi
terwujudnya kemandirian dalam penyediaan alutsista yang
10 Buku Putih PERTAHANAN INDONESIA Periode 2008 - 2013, Kemhan RI
tahun 2008. Hal 46 - 48
16
berdaya saing dengan produk-produk negara lain.
Instrumen militer yaitu TNI, sebagai komponen utama
pertahanan negara harus mampu mengembangkan strategi
militer dengan efek daya tangkal yang tinggi, serta
profesional dalam melaksanakan setiap tugas operasi, baik
OMP mau pun OMSP.

Fungsi Penindakan :

Fungsi penindakan merupakan keterpaduan usaha


pertahanan untuk mempertahankan, melawan dan mengatasi
setiap tindakan militer dari suatu negara yang mengancam
kedaulatan NKRI, keutuhan wilayah NKRI, serta menjamin
keselamatan bangsa dari segala ancaman. Fungsi
penindakan dilaksanakan melalui tindakan pre-emptif dan
perlawanan, sampai kepada mengusir musuh keluar dari
wilayah Indonesia. Tindakan pre-emptif merupakan
bentuk penindakan terhadap pihak lawan yang nyata-nyata
akan menyerang Indonesia dengan cara mengerahkan
kekuatan pertahanan untuk melumpuhkan pihak lawan yang
sedang dalam persiapan untuk menyerang Indonesia.
Tindakan pre-emptif dilaksanakan di wilayah pihak lawan
atau di dalam perjalanan sebelum memasuki wilayah
Indonesia. Tindakan perlawanan merupakan bentuk
penindakan terhadap pihak lawan yang sedang menyerang
Indonesia atau telah menguasai sebagian atau seluruh
wilayah Indonesia dengan cara mengerahkan seluruh
kekuatan negara baik secara militer mau pun nirmiliter.
Tindakan perlawanan diselenggarakan dengan sistem
Pertahanan dan Keamanan Rakyat Semesta melalui
pengerahan kekuatan pertahanan yang berintikan TNI
didukung oleh segenap kekuatan bangsa dalam susunan
Komponen Cadangan dan Komponen Pendukung.

17
Fungsi Pemulihan :

Fungsi pemulihan merupakan keterpaduan usaha pertahanan


negara yang dilaksanakan baik secara militer mau pun
nirmiliter, untuk mengembalikan kondisi keamanan negara
yang telah terganggu sebagai akibat kekacauan keamanan
karena perang, pemberontakan, atau serangan separatis,
konflik vertikal atau horizontal, huru-hara, serangan teroris
atau bencana alam. TNI bersama dengan instansi
pemerintahan lainnya serta masyarakat melaksanakan fungsi
pemulihan sebagai wujud pertahanan semesta yang utuh.
Tiga fungsi yang digambarkan di atas adalah sikap
terhadap kebijakan strategis Pemerintah RI dalam
membangun kekuatan pertahanan dan keamanan
nasional. Yakni pertahanan Indonesia diselenggarakan atas
dasar keyakinan terhadap kekuatan yang mandiri. Karena
Indonesia tidak mungkin menyandarkan keselamatan
bangsa dan negaranya kepada bangsa lain. Maka dari
ketiga fungsi di atas, fungsi penangkalan merupakan fungsi
paling utama. Bahwa pertahanan Indonesia dengan sistem
pertahanan semesta dikembangkan melalui kemampuan
penangkalan yang bertumpu pada kekuatan TNI sebagai
Komponen Utama yang didukung oleh seluruh rakyat
Indonesia dalam bangunan kekuatan yang meliputi
Komponen Cadangan serta Komponen Pendukung.
Implementasi fungsi penangkalan tersebut - secara
strategis - dibangun dalam strategi pertahanan berlapis yang
mensinergikan lapis pertahanan militer dengan lapis
pertahanan nirmiliter sebagai suatu kesatuan pertahanan
terpadu. Lapis pertahanan militer mengandalkan kekuatan
dan kemampuan TNI dengan alutsista yang andal serta
prajurit profesional untuk mencapai tingkat kekuatan sesuai
standar penangkalan. Ukuran standar penangkalan adalah
18
standar di atas kekuatan pokok minimum ( minimum
essential force ) yang mampu menjaga NKRI.
Buku Putih PERTAHANAN INDONESIA periode
2008 2013 juga menyebutkan, bahwa strategi perancangan
kapabilitas pertahanan negara dilandasi 6 ( enam ) faktor
utama 11 yaitu :

Pertama, perkiraan ancaman terhadap Indonesia dari segala


kepentingannya, yakni ancaman yang menjadi domain
fungsi pertahanan, termasuk tugas-tugas pelibatan
pertahanan yang sah.

Ke dua, Strategi Pertahanan Negara yang mensinergikan


pertahanan militer dengan pertahanan nirmiliter sebagai
suatu kesatuan pertahanan negara yang utuh dan
menyeluruh.

Ke tiga, tingkat penangkalan yang memenuhi standar


maksimal penangkalan agar dapat menangkal segala
ancaman yang diperkirakan.

Ke empat, tingkat probabilitas kerawanan tertinggi bagi


Indonesia yang menjadi sumber-sumber ancaman atau
sumber-sumber konflik di masa mendatang.

Ke lima, luas wilayah dan karakteristik geografi Indonesia


yang meliputi pulau-pulau dengan wilayah maritim yang
luas dan terbuka.

11 Kemenhan RI Buku Putih PERTAHANAN INDONESIA Periode 2008


2013. Hal 119.

19
Ke enam, kemampuan rasional negara dalam membiayai
pertahanan negara, termasuk dalam pembangunan
kapabilitas pertahanan negara dengan tidak mengorbankan
sektor-sektor lain.

Maka keenam faktor utama di atas yang menjadi


landasan perancangan kapabilitas pertahanan negara,
beserta tiga fungsi utama dalam sistem pertahanan
negara, merupakan pokok penting pembangunan strategi
pertahanan dan keamanan Indonesia di masa kini dan
mendatang. Dan salah satu faktor yang terpenting dalam
upaya pembangunan pertahanan negara, ialah
pembangunan industri pertahanan yang mandiri, kompetitif
dan tangguh.

***

20
2. Industri Pertahanan Nasional

A. Gambaran Umum

Tidak dipungkiri tentunya, jika selama ini


Indonesia masih tergantung kepada berbagai produk luar
negeri, salah satunya adalah di bidang teknologi
pertahanan. Sehingga tidak sedikit alutsista TNI dan Polri
yang hampir semuanya dibeli dari negara lain. Alhasil
ketergantungan terhadap alutsista produk luar negeri itu
membuat Indonesia rentan kepada faktor politik, seperti
retriksi dan embargo. Bahkan dengan kondisi
ketergantungan itu, pihak asing dapat menetapkan berbagai
jenis pembatasan untuk pembelian alutsista tertentu atau
komponen terkait yang menjadi penghambat pembangunan
dan pemeliharaan sarana pertahanan NKRI. Contohnya
adalah embargo Pemerintah Amerika terhadap alutsista TNI
pada tahun 1999. Pemeliharaan pesawat tempur F16 yang
dibeli dari Amerika dua dasawarsa silam tidak dapat
dipelihara dengan baik dan nyaris tidak bisa digunakan
karena Pemerintah AS meng-embargo pembelian
komponen pesawat F16 yang dibutuhkan TNI AU. Juga
komponen untuk Helikopter Puma, begitu pula halnya
dengan komponen jenis senapan mesin otomatis M16
yang juga tidak dapat dipelihara dengan baik karena
pembelian komponen yang diperlukan TNI AD di-
embargo oleh Pemerintah AS serta lain sebagainya yang
terkait dengan pemeliharaan dan peremajaan alutsista
tersebut.
Maka atas dasar kondisi demikian itulah, akhirnya
Pemerintah RI mengupayakan industri pertahanan yang
mandiri sebagai salah satu industri strategis nasional.
21
Namun pemberdayaan industri strategis untuk
kepentingan pertahanan nasional tidak berarti bahwa
Indonesia ikut ambil bagian dalam kegiatan perlombaan
persenjataan dunia, tetapi justru untuk mencapai
kemandiran dalam pengadaan sarana pertahanan
nasional.
Oleh sebab itu pembangunan industri pertahanan
nasional merupakan hal yang vital dalam upaya
pemenuhan kebutuhan sarana pertahanan yang mampu
dioperasionalkan secara maksimal dalam
penyelenggaraan pertahanan. Dan menurut BAB I
KETENTUAN UMUM dalam Undang-Undang RI No.16
Tahun 2012 tentang Industri Pertahanan 12, ditetapkan
bahwa yang dimaksud sebagai industri pertahanan
nasional ialah usaha nasional ( Pemerintah atau pun
Swasta ) yang memproduksi alat peralatan pertahanan dan
keamanan berikut jasa pemeliharaannya, untuk memenuhi
kepentingan strategis bidang pertahanan dan keamanan.
Kemudian dalam BAB III KELEMBAGAAN Pasal 10
ayat (1) dijelaskan bahwa unsur-unsur dalam industri
pertahanan antara lain meliputi :

a. Industri alat utama


b. Industri komponen utama dan / atau penunjang.
c. Industri komponen dan / atau pendukung
( perbekalan ).
d. Industri bahan baku.

Kemudian untuk mengarahkan dan mengawasi


kegiatan industri pertahanan tersebut, Pemerintah
membentuk lembaga yang dinamakan Komite
Kebijakan Industri Pertahanan ( KKP ). Lembaga
tersebut bertugas mewakili Pemerintah dan memiliki
12 Undang-Undang RI No.16 / Tahun 2012 tentang INDUSTRI
PERTAHANAN.
22
peran penting dalam mendukung kegiatan industri
pertahanan nasional. Baik dalam perumusan program,
pengarahan produksi, pengawasan dan evaluasi hasil
produksi. Ada pun susunan keanggotaan KKP antara lain
seperti berikut :

Ketua : Menhan RI merangkap anggota.


Wk Ketua : Menteri BUMN merangkap anggota.
Sekretaris : Wa Menhan RI merangkap anggota.
Anggota : 1. Menteri Perindustrian
2. Menteri Riset dan Teknologi
3. Panglima TNI
4. Kapolri

Dalam melaksanakan tugas-tugasnya, KKP tersebut


dibantu oleh kelompok kerja yang berasal dari Pemerintah,
perguruan tinggi dan kalangan praktisi profesional. Mereka
itulah yang akan menentukan arah pembangunan industri
pertahanan nasional dalam memperkuat pertahanan dan
keamanan nasional.
Di sisi lain, keberadaan industri pertahanan
nasional tidak bisa dilepaskan dari peran Prof.B.J.Habibie
yang menginisiasi pembentukan industri strategis
tersebut. Keputusan Presiden RI No.59 Tahun 1983
adalah suatu langkah awal dimulainya pembangunan
industri strategis, termasuk industri pertahanan. Atas
dasar Kepres itulah sejumlah perusahaan nasional di
bidang industri pertahanan mulai dibentuk. Misalnya
PT.IPTN yang kini berubah nama menjadi PT.Dirgantara
Indonesia. Perusahaan ini membidangi industri pertahanan
kedirgantaraan. Kemudian PT.PAL yang berperan sebagai
industri pertahanan bidang kemaritiman. Selanjutnya
PT.PINDAD yang membidangi persenjataan dan
amunisi. Berikutnya PT.DAHANA yang membidangi
industri peledak dan PT.LEN yang membidangi industri
23
alat-alat elektronika untuk pertahanan dan lain sebagainya
yng terkait.
Di samping kelima perusahaan nasional di atas,
terdapat pula industri stratregis lainnya yang juga
diatur oleh Kepres yang sama yaitu PT. KRAKATAU
STEEL (KS), PT. INDUSTRI TELEKOMUNIKASI
INDONESIA (INTI ), PT. INDUSTRI KERETA API
( INKA ). Selanjutnya atas dasar Keputusan Presiden RI
No.44 Tahun 1984 sejumlah perusahaan strategis itu
mengalami perubahan nama. Misalnya PT.IPTN ( Industri
Pesawat Terbang Nusantara ) menjadi PT. Dirgantara
Indonesia, lalu PT.Lembaga Elektronika LIPI menjadi
PT.LEN ( Lembaga Elektronika Nasional ), Perum
DAHANA menjadi PT.DAHANA. Bersamaan Kepres ini
dibentuk juga PT. Boma Bima Indra dan PT. Barata
Indonesia sebagai produsen bahan baku. Kedua
perusahaan itu juga menjadi bagian dari industri
pertahanan nasional.

Sedangkan jenis-jenis produksi dalam industri


pertahanan antara lain meliputi :

Produk persenjataan pertahanan darat


Produk perenjataan pertahanan udara ( kedirgantaraan )
Produk persenjataan pertahanan maritim ( laut )
Produk pendukung

B. Industri Alat Utama Sistem Persenjataan

Produk sistem pertahanan darat :

Jenis produk utama di bidang pertahanan darat


ialah persenjataan, munisi, kendaraan khusus dan segala
pendukungnya. Dalam hal ini pelaksananya adalah PT.
PINDAD ( Pusat Industri Senjata Angkatan Darat )
24
yang dibantu oleh sejumlah rekanan resmi dari pihak
BUMN, swasta nasional mau pun asing yang telah
diseleksi, ditunjuk dan ditetapkan oleh KKP ( Komite
Kebijakan Industri Pertahanan ).
Sebagai salah satu perusahaan nasional di bidang
industri pertahanan, PT.PINDAD memiliki riwayat yang
cukup panjang. Keberadaannya tidak serta merta begitu
saja, tetapi justru melalui proses yang berliku. Berikut
adalah gambaran singkat tentang riwayat PT.PINDAD
yang dikutip dari situs PT.PINDAD 13:

Pada tahun 1808, Gubernur Jenderal Belanda


William Herman Daendels yang tengah berkuasa saat itu
mendirikan bengkel untuk pengadaan, pemeliharaan dan
perbaikan, alat-alat perkakas senjata Belanda bernama
Contructie Winkel (CW) di Surabaya. Selain bengkel
senjata, Daendels kala itu juga mendirikan bengkel munisi
berkaliber besar bernama Proyektiel Fabriek (PF) berikut
Laboratorium Kimia di Semarang. Selanjutnya pemerintah
kolonial Belanda juga mendirikan bengkel pembuatan dan
perbaikan munisi dan bahan peledak untuk angkatan laut
mereka yang bernama Pyrotechnische Werkplaats (PW)
pada tahun 1850 di Surabaya.
Tanggal 1 Januari 1851, CW diubah namanya
menjadi Artilerie Constructie Winkel (ACW). Kemudian
pada tahun 1861, bengkel persenjataan PW digabung ke
dalam ACW. Kebijakan penggabungan ini, menjadikan
ACW memiliki tiga instalasi produksi yaitu; unit produksi
senjata dan alat-alat perkakasnya (Wapen Kamer), munisi
dan barang-barang lain yang berhubungan dengan
bahan peledak (Pyrotechnische Werkplaats), serta
laboratorium penelitian bahan-bahan maupun barang-
barang hasil produksi.
13 Sejarah PT.PINDAD www.pindad.go.id.

25
Di tengah gejolak Perang Dunia II Pemerintah
Kolonial Belanda mulai mempertimbangkan relokasi
sejumlah instalasi penting yang dinilai lebih aman.
Bandung dinilai tepat sebagai tempat relokasi yang baik
karena selain kontur daerahnya berupa perbukitan dan
pegunungan yang bisa dijadikan benteng pertahanan alami
terhadap serangan musuh, posisi Bandung juga sangat
strategis karena sudah memiliki sarana transportasi darat
yang memadaidilalui oleh Jalan Raya Pos (De Grote
Postweg) serta dilalui jalur kereta api Staats Spoorwegen
selain itu kota Bandung juga berada tidak jauh dengan
pusat pemerintahan Hindia Belanda di Batavia. ACW
dipindahkan pertama kali ke Bandung pada rentang waktu
1918-1920. Pada tahun 1932, PW dipindahkan ke
Bandung, bergabung bersama ACW dan dua instalasi
persenjataan lain yaitu Proyektiel Fabriek (PF) dan
Laboratorium Kimia dari Semarang, serta Institut
Pendidikan Pemeliharaan dan Perbaikan Senjata dari
Jatinegara yang direlokasi ke Bandung juga dengan nama
baru, Geweemarkerschool. Keempat instalasi tersebut
dilebur ke dalam satu wadah yaitu Artilerie Inrichtingen
(AI).
Masa pendudukan Jepang, AI tidak mengalami
perubahan seperti penambahan instalasi mau pun proses
produksinya. Perubahan hanya terjadi pada aspek
administrasi dan organisasi yang disesuaikan dengan
sistem kekuasaan militer Jepang. Kemudian nama Artilerie
Inrichtingen diganti menjadi Daichi Ichi Kozo untuk
ACW, Dai Ni Kozo untuk Geweemarkerschool, Dai San
Kozo untuk PF, Dai Shi Kozo untuk PW, serta Dai Go
Kazo untuk Monrage Artilerie sebagai instalasi pecahan
ACW.
Ketika Jepang menyerah kepada Sekutu dan terjadi
kekosongan kekuasaan di Indonesia, Soekarno-Hatta
memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia.
26
Beragam upaya terjadi guna merebut instalasi-instalasi
pertahanan di kota Bandung. Pada akhirnya, tanggal 9
Oktober 1945, Laskar Pemuda Pejuang berhasil merebut
ACW dari tangan Jepang dan menamakannya Pabrik
Senjata Kiaracondong. Namun pendudukan pemuda tidak
berlangsung lama, karena sekutu kembali ke Indonesia dan
mengambil alih kekuasaan terhadap republik yang baru
didirikan itu. Maka Pabrik Senjata Kiaracondong dibagi
menjadi dua pabrik yaitu pabrik pertama yang terdiri dari
ACW, PF, dan PW digabungkan menjadi Leger Produktie
Bedrijven (LPB), serta satu pabrik lain yang bernama
Central Reparatie Werkplaats, yang sebelumnya bernama
Geweemarkerschool.
Hasil Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den
Haag, Pemerintah Belanda mengakui kedaulatan Indonesia
kepada Republik Indonesia Serikat (RIS) pada tanggal 27
Desember 1949. Seiring dengan hal itu, Belanda harus
menyerahkan asset-asetnya secara bertahap kepada
pemerintahan Indonesia di bawah pimpinan Presiden
Soekarno termasuk LPB.
LPB kemudian diganti namanya menjadi Pabrik
Senjata dan Mesiu (PSM) yang pengelolaannya
diserahkan kepada Tentara Nasional Indonesia Angkatan
Darat (TNI-AD). Sejak saat itu PSM mulai melakukan
serangkaian percobaan untuk membuat laras senjata dan
berhasil memproduksi laras senjata berkaliber 9mm.
Berikutnya pada bulan November 1950, PSM kembali
berhasil membuat laras dengan kaliber 7,7 mm.
PSM mengalami krisis tenaga ahli karena para
pekerja asing harus kembali ke negara asalnya
berdasarkan Peraturan Pemerintah. Oleh karena itu
terjadi sentralisasi organisasi dengan merampingkan lini
produksi dari 13 menjadi 6 lini dengan lini baru yaitu
Munisi Kaliber Kecil (MKK). Kemudian PSM juga
melakukan modernisasi pabrik dengan membeli mesin-
27
mesin baru untuk pembuatan senjata dan munisi, suku
cadang, material serta alat perlengkapan militer lainnya.
Setelah delapan tahun berjalan, PSM pun diubah
namanya menjadi Pabrik Alat Peralatan Angkatan Darat
(Pabal AD) pada tanggal 1 Desember 1958. Pabal AD
bukan sekedar memproduksi senjata dan munisi saja
namun juga peralatan miilter yang lain, untuk mengurangi
ketergantungan peralatan militer Indonesia kepada negara
lain. Banyak pemuda potensial yang dikirim ke luar negeri
untuk mempelajari persenjataan dan balistik.
Di era Pabal AD ini, terjadi beberapa
perkembangan dalam bidang teknologi persenjataan.Pabal
AD menjalin kerjasama dengan perusahaan senjata Eropa
untuk pembelian dan pembangunan satu unit pabrik senjata
yaitu pabrik senjata ringan. Keberhasilan tersebut
membuat Pabal AD menjadi badan pelaksana utama di
kalangan TNI-AD sebagai instalasi industri. Berbagai
produk pun berhasil diproduksi Pabal AD. Di masa ini
pula, pemerintah Belanda menyerahkan Cassava Factory,
pabrik tepung ubi kayu yang berada di Turen, Malang,
Jawa Timuryang kemudian menjadi lokasi Divisi Munisi
PT Pindad (Persero).
Sekitar tahun 1962, nama Pabal AD diubah
menjadi Perindustrian TNI Angkatan Darat (Pindad).
Tahapan pengembangan di era Pindad lebih berfokus pada
tujuan pembinaan yang disesuaikan dengan prinsip-prinsip
pengelolaan terpadu dan kemajuan teknologi mutakhir.
Proses produksi Pindad pun dilakukan untuk mendukung
kebutuhan TNI AD. Serangkaian percobaan dan evaluasi
pembuatan senjata baru pun dilakukan sehingga
diterbitkan berbagai Surat Keputusan dari Angkatan
Bersenjata untuk memakai senjata Pindad sebagai senjata
standar mereka. Setelah itu, senjata pun diproduksi secara
massal.

28
Pada awal tahun 1972, pemerintah Indonesia
melakukan penataan departemen, termasuk Departeman
Pertahanan dan Keamanan (Hankam). Karena itu Pindad
pun berubah nama menjadi Kopindad (Komando
Perindustrian TNI Angkatan Darat) pada tanggal 31
Januari 1972. Perubahan terjadi hanya pada komando
utama pembinaan yaitu unsur penyelenggara
kepemimpinan dan pengelolaan kebijakan teknik.
Reorganisasi terebut berdampak positif terhadap kinerja
yang semula dianggap lamban menjadi lincah, bergairah
dan dinamis.
Pada saat Operasi Seroja TNI-AD dalam rangka
pembebasan Timor Timur dari penjajahan Portugal,
persenjataan produksi Pindad banyak mengalami kendala
di lapangan sehingga pada tahun 1975 Kopindad menarik
kembali sebanyak 69.000 pucuk senjata yang telah
diserahkan kepada TNI-AD. Selanjutnya Kopindad
melalukan transformasi dan modifikasi terhadap
beberapa jenis senjata antara lain SMR Madsen Setter
MK III Kaliber 30mm long menjadi SPM.1 kaliber
7,62mm yang diproduksi sebanyak 4.550 pucuk serta
membuat desain senjata senapan SS77 Kaliber 223.
Dalam perkembangan selanjutnya, sebagai
realisasi Keputusan Menteri Pertahanan dan
Keamanan/Panglima Angkatan Bersenjata No.
Kep/18/IV/1976 tertanggal 28 April 1976 tentang Pokok-
pokok Organisasi dan Prosedur Tentara Nasional
Indonesia Angkatan Darat nama Kopindad dikembalikan
menjadi Pindad. Pindad berubah dari komando utama
pembinaan menjadi badan pelaksana utama di lingkungan
TNI-AD.Seiring perubahan tersebut Pindad diharapkan
dapat mengembangkan kemampuan teknologi dan
produktivitasnya dalam memenuhi kebutuhan logistik TNI-
AD sehingga mengurangi ketergantungan pada luar negeri.
Selain itu diharapkan juga dapat mengembangkan sarana
29
prasarana non-militer yang dapat menunjang
pembangunan nasional di bidang pertanian, perkebunan,
pertambangan, industri dan transportasi baik untuk
instansi pemerintah, swasta maupun masyarakat luas.
Pada Tahun 1980-an pemerintah Indonesia
semakin gencar menggalakan program alih teknologi,
saat inilah muncul gagasan untuk mengubah status Pindad
menjadi perusahaan berbentuk perseroan terbatas. Maka
berdasarkan Keputusan Presiden RI No.47 Tahun 1981,
Badan Pengkajian Penerapan Teknologi (BPPT) yang
sudah berdiri sejak tahun 1978, harus lebih
memperhatikan proses transformasi teknologi yang
ditetapkan Pemerintah Indonesia itu, termasuk pengadaan
mesin-mesin untuk kebutuhan Industri.
Perubahan status Pindad dilatarbelakangi oleh
keterbatasan ruang gerak Pindad sebagai sebuah industri
karena terikat peraturan-peraturan dan ketergantungan
ekonomi pada anggaran Dephankam sehingga tidak dapat
mengembangkan kegiatan produksinya. Selain itu, Pindad
pun dinilai membebani Dephankam karena biaya
penelitian dan pengembangan serta investasi yang cukup
besar. Karena itu Dephankam menyarankan pemisahan
antara war making activities dan war support activities.
Kegiatan Pindad memproduksi prasarana dan
perlengkapan militer adalah bagian war support activities
sehingga harus dipisahkan dari Dephankam dan menjadi
perseroan terbatas yang sahamnya dimiliki oleh
Pemerintah Indonesia.
Ketua BPPT saat itu Prof. DR. Ing. B.J. Habibie
kemudian membentuk Tim Corporate Plan (Perencana
Perusahaan) Pindad melalui Surat Keputusan BPPT No.
SL/084/KA/BPPT/VI/1981.Tim Corporate Plan diketuai
langsung oleh Habibie dan terdiri atas unsur BPPT dan
Departemen Hankam.

30
Sebagai sebuah perusahaan Pindad diharapkan
dapat memproduksi peralatan militer yang dibutuhkan
secara efisien dan menghasilkan produk-produk komersial
berorientasi bisnis. Selain itu juga memiliki biaya serta
anggaran sendiri untuk pengembangan, penelitian dan
investasi serta mengembangkan profesionalisme
industrinya.
Berdasarkan hasil kajian dari Tim Corporate Plan
diputuskan komposisi produksi Pindad adalah 20% produk
militer dan 80% komersial atau non militer. Tugas pokok
Pindad adalah menyediakan dan memproduksi produk-
produk kebutuhan Dephankam seperti munisi ringan,
munisi berat, dan peralatan militer lain untuk
menghilangkan ketergantungan terhadap pihak lain. Tugas
pokok kedua adalah memproduksi produk-produk komersial
seperti mesin perkakas, produk tempa, air brake system,
perkakas dan peralatan khusus pesanan. Kemudian pada
awal 1983 Pindad menjadi badan usaha milik Negara
(BUMN) sesuai dengan keputusan pemerintah yang
tertuang dalam Peraturan Pemerintah (PP) RI No.4 Tahun
1983 tertanggal 11 Februari 1983.

Dalam melaksanakan tugas pokok utamanya,


selama ini PT.PINDAD telah memproduksi alutsista
antara lain kendaraan khusus yang meliputi jenis kendaraan
tempur ( ranpur ) dan kendaraan perintis ( rantis ),
kemudian persenjataan seperti senapan serbu, senapan
sniper, pestol glock dan bahan peledak komersil ( seperti
granat dan dinamit ) dan semacamnya. Dari semua hasil
produksi tersebut hampir 80% komponennya bersumber
dari produksi dalam negeri. Berikut adalah gambaran
singkat dari sebagian hasil produksi PT.PINDAD yang
memiliki peran penting dalam menunjang kebutuhan
alutsista TNI 14.
14 www.pindad.com
31
Kendaraan khusus :

Jenis kendaraan khusus yang diproduksi oleh


PT.PINDAD di antaranya adalah jenis Panser ANOA 6 x
6. Kendaraan khusus tersebut dirancang bersama oleh tim
ahli dari Direktorat Teknis ( Dirjen Potensi Pertahanan )
Kemhan RI, kalangan perguruan tinggi seperti ITB
( Institut Teknologi Bandung ), Fakultas Teknik UI dan ITS
( Institut Teknologi Surabaya ) serta PT.PINDAD
Bandung.
Dimulai dengan proyek Mobil Nasional pada
tahun 1993, PT. Pindad mulai berfokus kepada
pengembangan teknologi kendaraan bermotor. Kemudian
sejak tahun 1993, PT.PINDAD telah bekerjasama dengan
berbagai pihak ( BUMN, swasta nasional dan pihak asing )
sebagai upaya dalam mengembangkan teknologi fungsi
kendaraan khusus, termasuk kendaraan anti-peluru untuk
memenuhi permintaan pasar militer dan instansi terkait.
Penelitian dan pengembangan terus menerus
dilakukan untuk mencapai tujuan masa depan sebagai
upaya meningkatkan kapasitas bisnis dan teknologi. Produk
yang dihasilkan seperti: Kendaraan Taktis, Panser untuk
TNI dan Polri, konstruksi khusus dan komponen kendaraan
khusus. Hingga saat ini Panser ANOA 6 X 6 yang telah di
produksi mencapai kurang lebih 260 unit dengan berbagai
varian yang dibuat sesuai permintaan dan kebutuhan
pelanggan.
Divisi Kendaraan Khusus PT. Pindad Persero
memproduksi kendaraan yang sesuai dengan kebutuhan
penggunanya dan menjadikan setiap kendaraan khusus
tersebut benar-benar sesuai kebutuhan pengguna.
Contoh-contoh kendaraan khusus yang telah
diproduksi oleh PT.PINDAD seperti berikut:

32
Panser Anoa 6 x 6 RCWS

Panser Anoa 6 x 6 Recovery

33
Panser Anoa 6 x 6 APC

Panser Anoa 6 x 6 Ambulance

34
Panser Anoa 6 x 6 Logistik

Kendaraan intai 4x4

Foto-foto Dok.Pindad

35
Senjata dan Munisi :

Sejak tahun 1983 PT Pindad telah memproduksi


berbagai jenis senjata mulai dari senjata laras panjang,
senjata genggam, pistol, dan lainnya. Setiap produksi
diutamakan untuk mensuplai kebutuhan peralatan
pertahanan dan keamanan nasional serta untuk memenuhi
pemesanan dari pihak lain.
Produksi senjata terus ditingkatkan kualitasnya
sesuai hasil penelitian dan pengembangan dari tenaga-
tenaga ahli Pindad bersama dengan pengguna produk,
untuk menetapkan spesifikasi yang dibutuhkan. Dalam
setiap produksi, proses optimasi dilakukan demi
memperoleh unjuk kerja dari senjata yang maksimal.
Pemeriksaan dilakukan pada setiap proses manufaktur
mulai dari penerimaan material sampai proses akhir
pembuatan produk. Seluruh produk telah diuji dan
memenuhi standar internasional, salah satunya adalah Mil
STD. Sistem mutu selalu dipelihara dengan menerapkan
sistem mutu ISO 9000-2008 yang disertifikasi oleh
LRQA.
Senjata Pindad memiliki akurasi yang baik dan
ketahanan kuat di medan peperangan sesuai dengan
kebutuhan pertahanan dan keamanan. Bahkan
beberapa senjata telah berhasil meraih prestasi lomba
tembak antar Angkatan Darat se-Asia Tenggara
(AARM) dan lomba tembak Angkatan Darat se-Asia
Pasifik (ASAM), serta Lomba Tembak tahunan yang
diselenggarakan oleh Tentara di Raja Brunei (BISAM).
Berikut adalah beberapa contoh jenis senjata yang telah
diproduksi oleh PT.PINDAD :

36
SS2-V5 Kal. 5.56 mm

SS2-V1 Kal. 5.56 mm

37
SS2-V4 Kal. 5.56 mm

SS2-V1 HB Kal. 5.56 mm

38
SS2-V2 HB Kal. 5.56 mm

SS2-V4 HB Kal. 5.56 mm

39
SS2-V5 A1 Kal. 5.56 mm

SS1-V1 Kal. 5,56 mm

40
SS1-V2 Kal. 5,56 mm

SS1-M1 Kal. 5.56 mm

41
SS1-M2 Kal. 5.56 mm

SG-1 12 GAUGE

42
G2 COMBAT Kal. 9 mm

Foto-foto Dok.Pindad.

Sebagai perusahan penyedia peralatan pertahanan


dan keamanan, PT Pindad (Persero) terus melakukan
produksi munisi dan mengembangkannya sesuai
dengan munculnya senjata-senjata yang semakin
beragam. Berbagai tipe munisi dikembangkan sesuai
kaliber senjata yang diproduksi.
Keunggulan dari munisi Pindad adalah
banyaknya varian yang dapat disesuaikan dengan hasil
yang diinginkan terhadap senjata yang ditembakkan.
Berikut adalah sebagian contoh dari berbagai jenis munisi
yang diproduksi oleh PT.PINDAD :

43
mu3-tj

mu11-tg

44
mu5-hpbt a2

gt5-off

45
GT5-AS

Foto-foto Dok.Pindad.

Produk komersil non militer :

Selanjutnya dalam melaksanakan tugas pokok


ke dua, PT.PINDAD juga menyelenggarakan usaha jasa
tempa dan pengecoran logam. Di antaranya, pada tahun
1984 telah memproduksi alat pengait rel keretaapi atau
yang disebut DE-Clips Rail Fastener sebagai lisensi
dari Hollandia Kloss dan Ewem AG. Namun pada
tahun 1997 atau tigabelas tahun kemudian,
PT.PINDAD dan PT.KERETA API INDONESIA
( KAI ) berhasil memproduksi alat penambat rel type
KA-Clip sebagai hasil rancangan produksi sendiri.
Produk rancangan PT.PINDAD dan PT.KAI ini telah
memperoleh hak patent dengan No.ID 0 007 930 pada
tanggal 19 April tahun 2000.

46
Berikut ini adalah beberapa jenis produk yang
dihasilkan oleh jasa tempa dan pengecoran logam
PT.PINDAD :

Tabung gas 3 kilogram.

KA Clip Rail Fastening

Foto-foto Dok.Pindad.

47
Produk sistem pertahanan udara (kedirgantaraan )
15
:

Pelaksana produksi untuk bidang pertahanan udara,


diselenggarakan oleh PT.DIRGANTARA INDONESIA
atau PT.DI yang sebelumnya bernama PT. IPTN
( Industri Pesawat Terbang Nurtanio ) lalu diubah
menjadi PT.Industri Pesawat Terbang Nusantara dan
kemudian terakhir menjadi PT.DIRGANTARA
INDONESIA.
Sama halnya dengan PT.PINDAD, perusahaan
industri pertahanan nasional di bidang kedirgantaraan ini
juga memiliki latarbelakang yang menarik. Konon sudah
direncanakan sejak tahun 1946 atau satu tahun setelah
proklamasi kemerdekaan Indonesia. Pada tahun 1946 itu
telah dibentuk Biro Perencanaan Konstruksi Pesawat di
lingkungan TNI AU di Madiun yang kemudian dipindah
dan dipusatkan di Andir Bandung. Selanjutnya pada
tahun 1953, diubah namanya menjadi Seksi Percobaan.
Tetapi pada tahun 1957 berubah lagi menjadi Sub Depot
Penyelidikan, Percobaan dan Pembuatan Pesawat
Terbang. Selanjutnya pada tahun1960, Sub Depot itu
ditingkatkan menjadi Lembaga Persiapan Industri
Penerbangan ( LAPIP ) namun kemudian berubah lagi
menjadi Komando Pelaksanaan Industri Pesawat Terbang
( KOPELAPIP ), lalu pada tahun 1966 digabung dengan
PN Industri Pesawat Terbang Berdikari menjadi Lembaga
Industri Penerbangan Nurtanio ( LIPNUR ). Sampai pada
tahun 1976, berdasarkan Akta Notaris No.15, tanggal 24
April 1976, dibentuk PT.Industri Pesawat Terbang
Nurtanio yang dipimpin langsung oleh
Prof.Dr.Ing.BJ.Habibie. Kemudian pada bulan April
1986, seiring diterbitkannya Keppres No.15/1986,
dilakukan perubahan nama menjadi PT.Industri Pesawat
15 www.indonesia-aerospace.com.
48
Terbang Nusantara ( IPTN ), tetapi pada tanggal 24
Agustus 2000 namanya diganti lagi menjadi
PT.Dirgantara Indonesia ( PT.DI ) sampai sekarang.
Saat ini di PT.DI terdapat 3 ( tiga ) unit produksi
yaitu :

Aircraft Integration :

Unit ini memproduksi pesawat terbang dan helikopter


antara lain :

- Pesawat terbang NC 212-200 dan C 212-400


- Helikopter NBELL-412
- Helikopter NAS-332
- Pesawat terbang CN 235 dan CN 295

Contoh-contoh produknya antara lain seperti berikut :

49
50
51
52
Foto-foto Dok.PT.DI.

53
Aerostructure :

Unit ini memproduksi tooling and airframe component


pesawat terbang untuk pabrik pesawat antara lain :

- Airbus A320/321/330/340/350/380
- Boeing : komponen B747-8/777/787
- Eurocopter : komponen MK2, EC725
- EADS : komponen CN235, C295, C212-400

Contoh-contoh produknya seperti berikut :

Airbus A380

54
Airbus A320 A321

Eurocopter Super Puma MK II

55
Airbus A350

CN 235 Production Sharing

56
GX Slat Skin Short Brother

Boeing 747 Korean Air

Gambar Dok.PT.DI.

57
Aircraft Services :

Unit ini melaksanakan kegiatan MORA ( Maintenance,


Overhaul, Repair, Alteration ) untuk pesawat terbang
yaitu seperti berikut :

- Produksi PTDI : CN235, NBELL412, NBO-105, NC-


212-100/200, NAS332.
- Non produksi PTDI seperti B737-200/300/400/500,
A320, F100, F27.
- Distributor sukucadang pesawat terbang ( customer
logistic support ).

Produks sistem pertahanan maritim (laut):

Pelaksana produksi pertahanan maritim adalah


PT.PAL INDONESIA yang berlokasi di Surabaya Jawa
Timur 16. Pada mulanya perusahaan ini merupakan usaha
galangan kapal bernama Marine Establishment ( ME )
milik Pemerintah Belanda yang diresmikan
pengoperasiannya pada tahun 1939. Di masa pendudukan
Jepang, perusahaan ini diganti nama menjadi Kaigun
SE2124. Dan setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia
perusahaan ini diambil alih oleh Pemerintah RI dan diberi
nama yaitu Penataran Angkatan Laut ( PAL ) yang
berikutnya menjadi PT.PAL INDONESIA sampai saat ini.
Kegiatan utama PT.PAL INDONESIA ialah
memproduksi kapal perang dan kapal niaga, memberikan
jasa perbaikan dan pemeliharaan kapal, serta rekayasa
umum dengan spesifikasi tertentu berdasarkan pesanan.
Selama dua dekade ke belakang, PT.PAL INDONESIA
telah melahirkan beragam produk perkapalan yang
mendapat pengakuan pasar internasional. Ada pun berbagai
ragam produk yang telah dihasilkan itu antara lain :
16 www.ptpal.co.id
58
- Produk Kapal Niaga :

Pengembangan produk kapal niaga diarahkan kepada


pasar internasional, yakni berupa model industri
pelayaran nasional dan pelayaran perintis bagi
penumpang mau pun barang (cargo). Untuk saat ini
kapasitas produksi per tahun baru mencapai 3 (tiga) unit
kapal dengan ukuran 50.000 DWT dan 2 (dua) unit
kapal dengan ukuran 20.000 DWT.

Selain kapasitas produksi di atas, saat ini PT.PAL


INDONESIA juga sudah mulai menguasai teknologi
produksi untuk kapal-kapal jenis Kapal Bulker sampai
dengan 50.000 DWT, kapal container sampai dengan
1.600 TEUS, kapal tanker sampai dengan 30.000 DWT,
kapal penumpang sampai dengan 500 P.A.X. Sementara
saat ini produk yang telah dikembangkan antara lain
kapal container sampai 2.600 TEUS, kapal chemical
tanker sampai dengan 30.000 DWT, kapal LPG Carrier
sampai dengan 5.500 DWT.

- Produk Kapal Cepat / Kapal Khusus :

Saat ini PT.PAL INDONESIA sedang mengembangkan


produk-produk kapal yang akan dipasarkan di dalam
negeri, khususnya untuk memenuhi kebutuhan instansi
Pemerintah seperti Kementerian Pertahanan, Kepolisian
RI, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian
Keuangan / Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, serta
otonomi daerah atau pun kalangan swasta.

59
Ada pun produk-produk yang dikuasai antara lain :

Kapal Landing Platform Dock 125 m

Kapal Patroli Cepat Lambung Baja klas 57 m

Kapal Patroli Cepat / Kapal Khusus Lambung


Alumunium klas sampai dengan 38 m

Kapal Tugboat dan Anchor Handling Tug/Supply


sampai dengan klas 6.000 BHP

Kapal ikan sampai dengan 600 GRT

Kapal Ferry dan penumpang sampai dengan 500


PAX

- Jasa Pemeliharaan dan Perbaikan ( HARKAN )

Jasa pemeliharaan dan perbaikan kapal mau pun


non kapal antara lain meliputi berbagai jenis kapal
tingkat depo dengan kapasitas docking 600.000
DWT per tahun. Selain itu, jasa yang disediakan
adalah annual / special survey dan overhaul bagi
kapal niaga dan kapal perang, pemeliharaan dan
perbaikan sistem elektronika dan senjata serta
overhaul kapal selam. Peluang pasar untuk kategori
pelayanan jasa seperti itu berasal dari TNI-AL,
60
instansi pemerintah, swasta dan kapal-kapal yang
singgah serta berlabuh di Surabaya. Usaha
pelayanan jasa pemeliharaan dan perbaikan
tersebut dalam setahun bisa mencapai 6.800 jenis
kapal.

- Rekayasa Umum :

Dalam penyelenggaraan usaha rekayasa umum,


PT.PAL INDONESIA telah mampu memproduksi
komponen pendukung untuk pembangkit tenaga
listrik seperti Boiler dan Balance of Point.
Kemampuan tersebut akan terus ditingkatkan
sampai pada taraf kemampuan modular dan EPC
bagi industri pembangkit tenaga listrik dari skala
kecil menengah sampai dengan 50 Mega Watt.Pada
saat ini PT.PAL INDONESIA juga telah menguasai
produk rekayasa umum seperti Steam Turbine
Assembly sampai dengan 600 MW, komponen
Balance of Plant dan Boiler sampai dengan 600
MW. Kemudian Compressor Module 40 MW,
Barge Mounted Power Plant 30 MW, Pressure
Vessels dan Heat Exchangers, Generator Stator
Frame sampai dengan 600 MW. Sementara itu
produk rekayasa umum yang sedang dikembangkan
saat ini adalah Steam Turbine Power Plant, Jackets
Structure sampai dengan 1000 ton serta Monopod
dan anjungan ( plaform) sampai dengan 1000 ton
juga.

61
Berikut adalah contoh berbagai produk PT.PAL
INDONESIA dan berbagai kegiatan pendukung
lainnya :

Kapal Cepat Lambung Baja 60 meter

Kapal Selam KRI Nanggala 402

62
PKR Fregate

Kapal Cepat Rudal 60 meter

Foto-foto Dok.PT.PAL

C. Industri Komponen Utama

63
Produk perangkat elektronika :

PT.LEN ( Lembaga Elektronika Nasional ) adalah


salah satu perusahaan BUMN yang ditugaskan untuk
memproduksi komponen utama industri pertahanan
nasional. Sampai saat ini, perusahaan tersebut berdomisili
di kota Bandung 17.
Menurut riwayatnya, perusahaan itu mulai dibentuk
pada tanggal 10 Juni 1965 sebagai salah satu laboratorium
elektronika Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia ( LIPI ),
sehingga namanya saat itu adalah LEN LIPI. Namun
pada tahun 1991, lembaga tersebut bertransformasi
menjadi Badan Usaha Milik Negara ( BUMN ) dengan
nama Lembaga Elektronika Nasional ( LEN - INDUSTRI )
tanpa embel-embel LIPI. Dan sejak itu pula fungsi LEN
berubah, dari kepentingan ilmiah yang bersifat non
komersil menjadi lembaga bisnis elektronika untuk industri
dan prasarana.

Saat ini, setelah 30 tahun berselang, PT.LEN


IDUSTRI telah memiliki berbagai pengalaman di bidang
indutri elektronika seperti :

- Pembuatan dan pemasangan ratusan pemancar TV dan


radio di berbagai wilayah di Indonesia.
- Pembangunan jaringan infrastruktur telekomunikasi di
kota-kota besar mau pun daerah terpencil di Indonesia.
- Pembuatan peralatan alkom dan jaringan komunikasi
untuk pertahanan nasional.
- Pembuatan dan pembangunan sistem persinyalan
keretaapi di berbagai jalur di Pulau Jawa dan Sumatera.
- Pembuatan dan pemasangan sistem elektronika daya
untuk keretaapi listrik.

17 www.len.co.id
64
- Pembuatan dan pemasangan pembangkit listrik tenaga
surya di berbagai lokasi di wilayah Indonesia.

Berikut ini adalah contoh berbagai produk alkom


militer yang telah dihasilkan oleh PT.LEN INDUSTRI :

XISCOR 100

COMBAT MANAGEMENT SYSTEM

65
Teknologi CMS LEN

RETIMAX 2000- Surveillance & Reconnassance


System

66
Interoperability System

67
Radio Base Station

Foto-foto dan gambar Dok.PT.LEN

Dalam melaksanakan perannya sebagai bagian


dari pendukung industri pertahanan, PT.LEN INDUSTRI
membantu pelaksanaan pembangunan jaringan atau sistem
dan komponen yang terkait dengan bidang elektronika.
Baik itu untuk kebutuhan produk pertahanan darat, udara
mau pun laut. Di antaranya yang terpenting adalah
pembuatan alat dan sistem komunikasi militer. Produk-
produk di atas adalah contoh dari alat komunikasi dan
sistem yang dilaksanakan PT.LEN INDUSTRI dalam
menunjang industri pertahanan nasional.

D. Industri Komponen Pendukung

Produk perangkat teknologi roket dan satelit 18:

Menurut catatan riwayatnya, proses pembentukan


Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional atau
disingkat LAPAN dimulai dari tanggal 31 Mei 1962. Yaitu
ketika Presiden R.I. pertama Ir.Soekarno mengukuhkan
Panitia Astronautika yang dipimpin oleh Ir.Djuanda yang
saat itu menjabat sebagai Ketua Dewan Penerbangan R.I.
dan R.J.Salatun sebagai Sekretaris Dewan Penerbangan
R.I. Kemudian pada tanggal 22 September 1962
diresmikanlah Proyek Roket Ilmiah dan Militer Awal
( PRIMA ) sebagai afiliasi AURI ( Angkatan Udara
Republik Indonesia ) dan ITB ( Institut Teknologi Bandung
).

18 www.lapan.go.id

68
Selanjutnya pelaksanaan proyek tersebut
membuahkan hasil berupa dua roket seri Kartika berikut
telemetrinya. Kedua roket tersebut berhasil diluncurkan
dengan lancar dan sukses. Sehingga atas keberhasilan
tersebut, pada tanggal 27 Nopember 1963 berdasarkan
Keputusan Presiden RI no.236 Tahun 1963 tentang
LAPAN, dibentuklah Lembaga Penerbangan dan Antariksa
Nasional sebagai lembaga non kementerian yang bertugas
sebagai lembaga riset dan pengembangan teknologi
penerbangan dan antariksa. Saat ini LAPAN bernaung di
bawah Kementerian Riset dan Teknologi.
Proses penyempurnaan organisasi LAPAN melalui
tahapan-tahapan seperti berikut :
Keputusan Presiden ( Keppres ) No,18 Th 1974.
Keppres Nomor 33 Tahun 1988.
Keppres Nomor 33 Tahun 1988 jo Keppres No.24
Tahun 1994.
Keppres Nomor 166 Tahun 2000 sebagaimana diubah
beberapa kali yang terakhir dengan Keppres Nomor 4
Tahun 2013.
Perpres Nomor 49 Tahun 2015.

Ada pun kompetensi utama LAPAN dalam


melaksanakan tugas dan perannya antara lain meliputi :
Sains Antariksa dan Atmosfer
Teknologi penerbangan, roket dan satelit.
Penginderaan jauh.
Kajian Kebijakan Penerbangan dan Antariksa.

Berikut di bawah ini adalah hasil riset dan


pengembangan LAPAN dalam berbagai teknologi
penerbangan dan antariksa, termasuk untuk pembangunan
pertahanan nasional. Yaitu meliputi :

69
Lapan Surveillance UAV 02 (LSU 02) :

Foto Dok.LAPAN
Pesawat yang diberi nama Lapan Surveillance UAV 02 (
LSU 02 ) ini, merupakan jenis pesawat tanpa awak yang
juga disebut PTTA ( Pesawat Terbang Tanpa Awak ) atau
PUNA ( Pesawat Udara Nir Awak ). Secara umum dikenal
juga dengan sebutan Unmanned Aerial Vechile ( UAV ),
yaitu teknologi yang tergolong baru dan sangat menarik.
Beberapa aspek perkembangan teknologi UAV ini
bertumpu kepada perfomance seperti layaknya pesawat
terbang berawak, hanya ukurannya yang berbeda. Pesawat
tanpa awak ini berukuran lebih kecil dibanding pesawat
berawak. Operasional pesawat ini dikendalikan oleh
remote control sampai pada radius tertentu seperti pesawat-
pesawat aeromodeling atau pesawat mainan.

Namun halnya dengan pesawat type Lapan Surveillance


UAV 02 ini, sangat jauh berbeda dengan jenis pesawat
mainan yang juga menggunakan remote control. Selain
perfomance-nya yang menarik, pesawat produksi LAPAN
ini memiliki kelebihan seperti berikut :

70
- Kemampuan jangkauan terbang yang cukup jauh ( long
distance ) yaitu mencapai jarak lebih dari 200 km.
- Kemampuan lama terbang ( long endurrance )
mencapai 5 jam.
- Kemampuan terbang secara otomatis ( autonomous
fliying ) yaitu tanpa awak.
- Kemampuan take off dan landing yang lancar dan mulus
seperti lazimnya pesawat berawak.

Berbagai kemampuan di atas menjadi indikator pencapaian


teknologi dan inovasi pesawat tanpa awak yang di
dalamnya termasuk aspek inovasi aircraft ( desain pesawat
terbang ) propulsi, avionic dan aerodinamika.

Pesawat LSU 02 tanpa awak itu adalah hasil produksi Pusat


Teknologi Penerbangan LAPAN sebagai pesawat UAV
yang telah digunakan untuk kepentingan misi survey oleh
sipil mau pun militer. Kemampuan terbang pesawat yang
diklasifikasikan sebagai pesawat Tactical UAV ini mampu
menempuh jarak terbang sejauh 200 kilometer dari titik
take off-nya.

Ada pun spesifikasi pesawat UAV ini meliputi :

- Panjang badan A (+/-) 200 cm ( composite ).


- Panjang bentangan sayap ( wing span ) 250 cm.
- Engine 10 hp/ 5 ltr.
- Edurrance 5 jam.
- Maksimum distance 450 km.
- Komunikasi telemetri 900 MHZ dengan daya 1 watt.
- Menggunakan sistem otomatis (Autonomouss flying
system).
- Payload capacity 3 kg.

71
Pesawat UAV tersebut telah memiliki uji pengalaman
terbang seperti berikut :

- Nusawiru sebagai tes pertama


- Rumpin sebagai tes ke empat
- Oktober 2012 melaksanakan tugas Operasi Armada Jaya
di Laut Ambalat Sulawesi Utara ( Navy Operation at
Ambalat Sea ).
- Pebruari 2013 tes jarak tempuh terbang ( test flight
endurrance ) di Pameungpeuk.
- Membantu Operasi Latgab TNI 2013 di Pulau Bawean
Situbondo, Jawa Timur.
- Memperoleh rekor MURI dari hasil jarak tempuh
Pameungpeuk Pangandaran ( PP ).

Satelit Lapan
A1 (Lapan
Tubsat) :

Dok.LAPAN.

72
LAPAN-TUBSAT merupakan satelit mikro yang
dikembangkan Lembaga Penerbangan dan Antariksa
Nasional (LAPAN) bekerja sama dengan Universitas Teknik
Berlin (Technische Universitat Berlin; TU Berlin). Wahana
ini dirancang berdasarkan satelit lain yaitu DLR-TUBSAT,
namun juga menyertakan sensor bintang yang baru.

Satelit LAPAN-TUBSAT yang berbentuk kotak dengan berat


57 kilogram dan dimensi 45 x 45 x 27 sentimeter ini akan
digunakan untuk melakukan pemantauan langsung situasi di
Bumi seperti kebakaran hutan, gunung berapi, banjir,
menyimpan dan meneruskan pesan komunikasi di wilayah
Indonesia, serta untuk misi komunikasi bergerak.

LAPAN-TUBSAT membawa sebuah kamera beresolusi


tinggi dengan daya pisah 5 meter dan lebar sapuan 3,5
kilometer di permukaan Bumi pada ketinggian orbit 630
kilometer serta sebuah kamera resolusi rendah berdaya pisah
200 meter dan lebar sapuan 81 kilometer. Manuver attitude
tersebut dilakukan dengan menggunakan attitude control
system yang terdiri atas 3 reaction wheel, 3 gyro, 2 sun
sensor, 3 magnetic coil dan sebuah star sensor untuk
navigasi satelit. Komponen-komponen itulah yang
membedakannya dengan satelit mikro lain yang hanya
mengandalkan sistem stabilisasi semi pasif gradien gravitasi
dan magneto torquer, sehingga sensornya hanya mengarah
vertikal ke bawah. Sebagai satelit pengamatan, satelit ini
dapat digunakan untuk melakukan pemantauan langsung
kebakaran hutan, gunung meletus, tanah longsor dan
kecelakaan kapal maupun pesawat.

73
Gambar koleksi LAPAN

Tapi untuk tugas pengamatan banjir akan sulit dilakukan


karena kamera tidak bisa menembus awan tebal yang
biasanya menyertai kejadian banjir. Fasilitas store dan
forward-nya dapat digunakan untuk misi komunikasi dari
daerah rural yang cukup banyak di Indonesia, selain untuk
misi komunikasi data bergerak. Karena catu dayanya
terbatas (5 buah baterai NiH2 berkapasitas 12 Ah), satelit
dilengkapi mode operasi hibernasi. Saat mode itu diaktifkan,
hanya komponen data handling, unit telecommand dan
telemetri yang tetap beroperasi untuk memastikan perintah
tetap dapat diterima dari stasiun bumi. Proyek satelit mikro
ini disetujui pada tahun 2003 dan awalnya direncanakan
akan diluncurkan pada Oktober 2005, namun peluncurannya
ditunda akibat muatan utama roket Carthosat-2 yang akan
74
membawa LAPAN-TUBSAT. Satelit LAPAN-TUBSAT
adalah salah satu dari empat muatan roket tersebut yang
masih belum selesai disempurnakan. LAPAN-TUBSAT
akhirnya berhasil diluncurkan pada tanggal 10 Januari 2007
dari Pusat Antariksa Satish Dhawan di India.

Kendali Sikap

Pengendalian LAPAN-TUBSAT berdasarkan pada konsep


manajemen sudut momentum. Pengendalian kontrol
dilakukan via 3 kemudi reaksi dan 3 magnetik. Pada
pengendalian tambahan, 4 panel matahari dan 2 sel matahari
digunakan sebagai sensor matahari kasar. Pencarian bintang
digunakan untuk menyediakan penentuan yang lebih akurat
terutama untuk menemukan arah daya gerak panas/garis
vektor.

Control System

Software

Perangkat lunak pengendali LAPAN-TUBSAT


menggunakan 4 byte protocol yang dikembangkan oleh TU
Berlin dan sudah terbukti handal dalam operasi satelit seri
TUBSAT.

Hardware

PCDH LAPAN-TUBSAT menggunakan Hitachi prosesor


SH7045. Prosesor tersebut mempunyai 32 Bit RISC dengan
kecepatan maximum 28.7 MHz. Kapasitas memori
eksternalnya adalah 524 kB dan memori internal (RAM) 4
75
kB. PCDH LAPAN-TUBSAT juga memiliki 524 kB
EEPROM, 16 kB PROM, dengan kecepatan 38.4 kbps SCI.
Prosesor tersebut bertugas menyalakan atau mematikan
perangkat-perangkat dalam satelit, mengambil data
telemetri, maupun penyimpan dan membaca data dalam
memori. Prosesor menangani telemetri data dari 50 kanal
analog dengan menggunakan 8 analog mau pun digital.
Kemudian 29 dari kanal tersebut adalah untuk pengukuran
voltase dan ampere serta sebanyak 21 kanal dialokasikan
untuk pengukuran suhu atau bacaan analog lainnya. Prosesor
juga bertugas mendistribusikan perintah yang diterima dari
TTC namun tidak dialamatkan kepadanya.

Communication Ground Station Adapter

Ground adapter Station adalah salah satu perangkat dari


LAPAN-TUBSAT sistem. Fungsi perangkat ini sebagai
modem dan buffer, yang bersama-sama dengan sistem RF di
theG / S, berkomunikasi dengan LAPAN-TUBSAT. Dalam
konfigurasi sistem, adaptor stasiun ground berdiri di antara
PC pada G / S dan TTC di sisi satelit.
Adaptor G / S terdiri dari Modem FFSK, Packet Data
Interface Analog dan 16 Bit H8/536 Mikroprosesor, yang
meliputi data dan memori program. Modem dikonfigurasi
pada 1200 bps dan setengah pengaturan dupleks, berikut
kontrol modem Mikroprosesor dan analog antarmuka
data. Adaptor G / S juga menggunakan Generator ulang dan
generator tegangan untuk mengontrol pasokan listrik pada
sistemnya. Adaptor menggunakan antarmuka RS232 dengan
baud 38400 bps tingkat 8 bit, 1 stop bit dan paritas tidak
ada. Konektor DB9 hanya menggunakan 3 pin untuk Rx, Tx
dan Ground. Untuk Data Interface Analog ke transceiver
UHF dan konektor DB9 menggunakan sebanyak 3 pin
sebagai Data Packet, Push-to-Talk (PTT) dan Menerima
1200 bps.The G / S adapter menerima perintah masukan dari

76
G / S PC melalui antarmuka komunikasi serial. Perintah ini
kemudian ditangani oleh H8/536 mikroprosesor, yang
mendasarkan software pada empat byte protokol
juga. Setelah data dan perintah dikemas dengan byte
sinkronisasi, kata kode dan kode CRC, maka data akan
dikirim melalui komunikasi sinkron ke FFSK modem.
Modem tersebut akan memodulasi paket yang secara paralel
kontrol mikroprosesor Data Packet Analog Antarmuka untuk
mengaktifkan PTT guna mengirimkan data melalui radio
Transceiver.

Jika G / S adapter menerima data dari TTC, data dan


perintah akan di-demodulasi oleh modem lalu diperiksa
untuk codeword dan kode kesalahan (CRC). Jika data dan
perintah berlaku, maka data akan disimpan sementara dalam
buffer sebelum dikirim ke G / S PC. Setelah mem-validasi
protokol komunikasi antara G / S adaptor dan G / S PC,
maka G / S adapter mengirim data ke G / S PC untuk
visualisasi.

G / S perangkat adaptor yang fungsional diuji dalam sistem


stasiun ground dengan komunikasi data ke LAPAN-
TUBSAT satelit.Berdasarkan hasil pengujian, disimpulkan
bahwa Adapter G / S adalah berfungsi dengan baik.

On-Boardsystem

Sistem komunikasi satelit adalah sistem penting dalam


satelit. Fungsi dari sistem ini untuk mengirimkan data ke
stasiun bumi atau menerima perintah atau data dari stasiun
bumi untuk melakukan misi satelit. Oleh karena itu, desain
sistem komunikasi yaitu yang meliputi frekuensi, jenis
modulasi atau data rate dll, sangat tergantung pada misi.
77
Frekuensi yang digunakan untuk komunikasi satelit harus
dipilih dari band yang paling menguntungkan dalam hal
efisiensi daya, distorsi propagasi minimal dan mengurangi
kebisingan dan efek interferensi. Kondisi ini cenderung
memaksa operasi ke daerah frekuensi tertentu yang
memberikan yang terbaik. Berdasarkan misi satelit
LAPANTUBSAT ada dua jenis komunikasi untuk
satelit. Pertama adalah untuk interaksi dengan stasiun bumi
sehingga perintah yang dapat diterima oleh satelit dan
telemetri atau rumah tangga data satelit dapat diterima oleh
stasiun bumi. Sistem ini juga digunakan untuk menyimpan
data dan misi ke depan. Ke dua adalah untuk misi
surveillance, yakni di saat video streaming akan
ditransmisikan ke stasiun bumi. Kedua misi LAPAN-
TUBSAT dikomunikasikan melalui UHF dan S-band
frekuensi.

Penggunaan frekuensi UHF sebagai gateway komunikasi


adalah karena protokol sederhana LAPAN-TUBSAT dan
rumah efisien menjaga data, sehingga cukup untuk
menggunakan frekuensi yang lebih rendah, bahkan dalam
setengah mode duplex untuk keandalan
komunikasi. Kesederhanaan seperti gateway komunikasi
memberikan manfaat bagi efisiensi anggaran listrik dan juga
mengurangi kompleksitas dalam komponen yang pada
akhirnya mengurangi biaya pembangunan. Di sisi lain yaitu
di stasiun bumi, hanya modem sederhana dan decoder yang
disebut sebagai ground station adapter yang diperlukan
untuk memecahkan kode data dari LAPAN-TUBSAT.

Untuk misi pengawasan video, LAPAN-TUBSAT


menggunakan S-pita frekuensi karena data misi harus
dikomunikasikan secara real time sehingga operator satelit
langsung bisa menyadari tentang peristiwa yang terjadi pada
78
subyek yang diamati. Sekali lagi, untuk untuk
kesederhanaan pemancar Sband dengan analog modulasi FM
digunakan untuk tujuan transmisi data. Sistem komunikasi
tersebut mirip dengan siaran televisi yang khas, sehingga di
sisi stasiun bumi, hanya S-band receiver dan decoder PAL
analog TV serta TV set diperlukan to display video dari
satelit.

Struktur LAPAN-TUBSAT

Karena LAPAN-TUBSAT akan diluncurkan oleh PSLV,


maka kekuatan struktur yang harus dipenuhi adalah mampu
menahan beban dari masa komponennya yang mengalami
percepatan 7 g ke arah longitudinal roket dan 6 g kearah
lateral roket. Juga struktur tersebut harus mempunyai
frekwensi resonansi terendah di atas 90 Hz kearah
longitudinal roket dan diatas 45 Hz ke arah lateral roket.
Selain memenuhi persyaratan tersebut diatas, pada kasus
LAPAN-TUBSAT desain struktur juga dibuat agar satelit
mempunyai momen inersia maximum pada axis Y dan
sekecil mungkin insersia cross product-nya. Sehingga nutasi
dapat diminimalkan saat satelit mengadakan transfer
momentum sudut sehingga dapat memaksimalkan akses
terhadap seluruh komponen satelit yang memudahkan sistem
harness. Maka struktur LAPAN-TUBSAT dibuat dengan
sistem 2 kompartemen yang saling membelakangi yang
disebut sebagai kompartemen bawah dan atas sesuai
dengan penempatannya di roket kelak. Panjang
kompartemen bawah dibuat untuk mengakomodasi
komponen yang paling panjang yakni kamera Sony dengan
lensa Casegrain 11/1000 mm. Lebarnya akan dibuat sama
dengan panjangya agar distribusi inersia ke sumbu X dan Z
hampir sama. Tinggi kompartemen bawah disesuaikan
dengan tinggi lensa plus platform peredam kejutnya.

79
Gambar koleksi LAPAN.

Sementara tinggi kompartemen atas dibuat pas untuk


memuat baterai dengan sistem mounting-nya. Penempatan
baterai pada sisi yang berlawanan dengan platform kamera
Sony adalah untuk mengimbangi beratnya sehingga lokasi
pusat masa dapat memenuhi persyaratan PSLV. Kemudian
kedua kompartemen membentuk sebuah box dengan ukuran
450 x 450 x 275 mm. Konfigurasi ini terbuat dari 7 plat
alumunium dengan tebal 10 mm. Ketebalan ini diperlukan
agar momen inersia maximum pada axis Y didapat dan
struktur mampu mengantarkan panas (conduction) dengan
baik dari sisi yang terkena radiasi matahari serta dari
komponen yang menghasilkan panas (seperti transmiter dan
gyro) ke sisi lain. Untuk lebih memaksimalkan sifat termal
struktur (radiasi/absorpsi panas), maka plat alumunium
tersebut dihitamkan dengan anodizing. Komponen berat lain
yang dipakai untuk mengkompensasi berat platform kamera
Sony adalah Reaction Wheels yang dipasang berseberangan
dengan kamera di kompartemen bawah yang mendekati sisi
80
minus Z. Untuk meminimalisir panjang harnessnya seluruh
komponen ACS (gyro, wheel drive electronic) di tempatkan
pada bagian tersebut.

Terkait alasan yang sama pula, S-band transmiter,


diletakkan mendekati S-band antena pada sisi plus Z dan
TTC1 mendekati UHF antena pada sisi minus X. Tempat
yang tersisa pada kompartemen bawah diperuntukkan bagi
star sensor yang perlu mempunyai field of view keluar satelit
namun tidak mengarah ke bumi. Kamera Kappa dengan 50
mm lensa ditempatkan di kompartemen atas menghadap ke
sisi plus Z yang didedikasikan untuk melihat bumi.
Kemudian air coil Y yang membutuhkan area loop maksimal
ditempatkan disepanjang sudut kompartemen atas,
sementara 2 air coil lain ditempatkan secara orthogonal
melalui kedua kompartemen. Tempat yang tersisa di
kompartemen atas dialokasikan untuk TTC2 dan PCDH.

Satelit Lapan A2

81
Foto
Dok,LAPAN.

LAPAN-A2 merupakan satelit terbaru buatan Lembaga


Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN). Satelit ini
adalah suksesor dari satelit buatan LAPAN sebelumnya,
yaitu: satelit LAPAN-TUBSAT yang dibuat di Jerman.
Untuk satelit LAPAN-A2 ini sepenuhnya dibuat di
Indonesia, namun tetap menggunakan konsultan dari
Jerman. Tujuan penggunaan utama dari satelit LAPAN-A2
adalah sebagai mitigasi bencana. Satelit LAPAN-A2 sering
juga disebut dengan nama satelit LAPAN-ORARI.
Rencananya satelit LAPAN-A2 akan diluncurkan pada
pertengahan 2013 dari Sriharikota, India.

Penggarapan Lapan A2 sepenuhnya dilakukan di Pusat


Teknologi Satelit Lapan di Rancabungur - Bogor, Jawa
Barat. Berbeda dengan satelit LAPAN-TUBSAT yang
pembuatannya dilakukan di Technische Universitat Berlin,
Jerman.

Misi

82
Satelit LAPAN-A2 didesain untuk tiga misi yaitu
pengamatan bumi, pemantauan kapal dan komunikasi radio
amatir. Dengan berat sekitar 78 kg, satelit LAPAN-A2 di
antaranya membawa muatan Automatic Identification
System (AIS). Dengan teknologi ini, LAPAN-A2 dapat
melakukan identifikasi setiap kapal yang melintas di
wilayah perairan Indonesia dan berada pada jangkauan
Lapan A2. Selain itu untuk misi pengamatan bumi akan
menggunakan kamera digital 4 band multispectral scanning.
Kamera itu beresolusi 18 m dengan cakupan 120 km dan
kamera resolusi 6 m dengan cakupan 12 x 12 km.

Satelit LAPAN-A2 juga akan dilengkapi dengan Automatic


Packet Reporting System (APRS) yang mendukung
komunikasi untuk penanganan bencana. Maka terkait hal
tersebut LAPAN bekerjasama dengan Organisasi Amatir
Radio Indonesia (Orari). Yakni LAPAN-A2 akan berfungsi
sebagai penghubungung sekitar 700 ribu pengguna radio
amatir atau orari. Melalui Satelit Lapan A2, anggota Orari
dapat berkoordinasi dengan tim SAR untuk mencari jalur
evakuasi alternatif atau pengiriman bantuan. Automatic
Packet Reporting System (APRS) juga mendukung
pengiriman pesan singkat melalui gelombang radio yang
dapat diterima perangkat komunikasi radio modern.

Cara kerja

Satelit dengan bobot 78 kilogram ini akan melintasi wilayah


Indonesia secara diagonal sebanyak 14 kali sehari, dengan
kisaran 20 menit perputarannya. Pada orbitnya sensor AIS
(Automatic Identification System), Lapan A2 memiliki radius
deteksi lebih dari 100 km dan mempunyai kemampuan
untuk menerima sinyal dari maksimum 2000 kapal dalam
satu wilayah cakupan. Lapan-A2 nantinya akan menjadi

83
satelit pemantau bumi pertama di dunia yang memiliki orbit
ekuatorial.

Pengembangan Teknologi Dirgantara :

Saat ini LAPAN sedang mengembangkan teknologi


kedirgantaraan yang antara lain meliputi pembuatan
roket pendorongSONDA, satelit, pesawat angkut, pesawat
pengamat tak berawak (LAPAN Surveillance UAV) serta
LAPAN Surveillance Aircraft (LSA).
Roket Pendorong Sonda :
Disebut sebagai RX (Roket eXperimental), dipersiapkan
untuk peluncuran satelit secara mandiri pada tahun 2014 dan
pengembangan Satelite Launch Vehicle (SLV) yang
ditargetkan LAPAN dapat rampung pada tahun 2024. Semua
Roket RX diujicobakan di Pangkalan Ujicoba
Roket Pameungpeuk - Garut, Jawa Barat.

RX-100
Spesifikasi RX-100 meliputi diameter roket sebesar 110
mm, bobot 30 kg, panjang roket 1900mm dan memiliki
propelan tipe padat. RX-100 diperkirakan dapat mencapai
kecepatan maksimum 1.7 mach, menempuh jarak 11 km,
dan mencapai tinggi 7 Km. RX-100 telah berhasil
diujicobakan oleh TNI Angkatan Darat dengan PT
Pindad pada 31 Maret 2009 dengan
menggunakan panser Pindad dan menempuh jarak 24 Km.

RX-250
RX-250 sudah diujicobakan berkala sejak tahun 1987 hingga
2005.

RX-320
84
RX-320 memiliki diameter roket sebesar 320 mm. RX-320
telah berhasil diujicobakan pada 30 Mei dan 2 Juli 2008.

RX-420
RX-420 memiliki spesifikasi antara lain diameter roket
sebesar 420 mm, beban saat terbang 1000 Kg, panjang roket
6200 mm, dan memiliki propelan tipe padat. RX-420
membutuhkan waktu 13 detik untuk pengapian roket dan
diprediksikan dapat terbang selama 205 detik. Roket ini juga
diprediksikan mampu mencapai kecepatan maksimum 4.5
mach, dapat menempuh jarak 101 Km, dan mencapai tinggi
53 Km. RX-420 berhasil diujicobakan pada 2 Juli 2009,
dengan menggunakan bahan baku dalam negeri.

RX-550
RX-550 memiliki spesifikasi yakni diameter roket sebesar
550 mm, berbobot 3 ton, dan memiliki panjang 6000 mm.
RX-550 diprediksikan dapat terbang hingga ketinggian 100
Km dan jangkauan 300 Km.[4] RX-550 telah melalui uji
statis pada tahun 2012 dan direncanakan akan diujicobakan
pada pertengahan 2013.

Satelit
Proyek pengembangan satelit yang dilaksanakan oleh
LAPAN dimulai sejak tahun 2000. Satelit yang dibuat oleh
LAPAN digunakan untuk pengambilan citra bumi, mitigasi
bencana, komunikasi radio, dan pengaturan lalu lintas laut.

Indonesian Nano Satelite (INASAT-1)

85
Bagan Satelit INASAT-1 Dok.LAPAN

INASAT-1 merupakan satelit berbentuk Nano Hexagonal,


yang dibuat dan didesain sendiri oleh Indonesia untuk
pertama kalinya. INASAT-1 merupakan satelit metodologi
penginderaan untuk memotret cuaca buatan LAPAN.
Proyek ini dimulai pada tahun 2000 bekerjasama
dengan Dirgantara Indonesia (PTDI). INASAT-1 sukses
diluncurkan pada tahun 2006.

LAPAN - Technische Universitt Berlin


Satellite (LAPAN-TUBSAT / LAPAN A-1)
Proyek LAPAN-TUBSAT dilaksanakan LAPAN atas
kerjasama dengan Universitas Teknik Berlin (TUB) untuk
mempelajari basis pembuatan satelit dari Berlin. Pembuatan
satelit ini juga dilakukan sepenuhnya di Jerman,[7] karena
LAPAN belum memiliki peralatan yang memadai dan
masih mempelajari cara pembuatan satelit. Dengan dimensi
45x45x27 cm3, misi satelit ini adalah pengamatan citra
bumi dari ketinggian (Video Surveillance).

86
LAPAN - Organisasi Amatir Radio
Indonesia (LAPAN-ORARI / LAPAN A-2)

Satelit LAPAN A-2 / LAPAN-ORARI Foto Dok.LAPAN


Proyek LAPAN A-2 dilaksanakan sepenuhnya di Pusat
Teknologi Satelit, Rancabungur, Bogor, Jawa Barat. Dengan
dimensi 50x47x38 cm3 dan bobot 70 Kg, LAPAN A-2
diharapkan dapat berputar terhadap bumi setiap 20 menit
dengan pola orbit geostationer diatas khatulistiwa dan
memiliki radius deteksi lebih dari 100 Km. [8] Pada 5
November 2008, LAPAN sepakat untuk bekerjasama dengan
Organisasi Amatir Radio Indonesia (ORARI) dalam
pemanfaatan satelit LAPAN A-2. Satelit ini akan dilengkapi
dengan transponder UHF/VHF berfrekuensi
145.880 MHz dan 435.880 MHz serta digipeater APRS
berfrekuensi 145.825MHz. Satelit ini ditargetkan dapat
diluncurkan pada tahun 2013, menunggu kesiapan roket
pengangkut satelit milik India.
87
RX-550 LAPAN: Roket Balistik untuk Misi Militer
dan Sipil

Foto Dok.LAPAN.

Saat ini Indonesia telah mulai mencoba berusaha mandiri


dalam pengadaan alat pertahanan strategis. Misalnya untuk
sistem pertahanan yaitu berupa pembuatan missile atau
peluru kendali jarak menengah dan jauh. Usaha ini penting
mengingat keuangan Indonesia mungkin tidak sekuat
negara-negara lain.

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN)


sudah memulai mengembangkan pembuatan roket nasional
sejak tahun 1964. Indonesia bahkan menjadi negara kedua di
Asia dan Afrika setelah Jepang yang berhasil meluncurkan
roketnya sendiri, yaitu roket Kartika.

Kini dengan dana senilai Rp 5 miliar, Lapan terus


mengembangkan Roket Xperimental 550 (RX-550). Sejak
88
dikembangkan ditahun 2011, RX-550 ini masih saja bergulat
dengan serangkaian uji statis karena berbagai kendala. Bila
RX-550 terbukti sukses, merupakan bukti jaminan bahwa
LAPAN mampu membuat peluru kendali jarak jauh atau
rudal balistik sebagai bagian dari sistem pertahanan udara
nasional. Tinggal pekerjaan rumah berikutnya adalah
mempersiapkan sistem pengendali bagi rudal balistik ini.

Patut dicatat sebelum berkonsentrasi pada RX-550, pada


tahun 2009 LAPAN telah sukses melakukan uji terbang RX-
450. RX-550 di daulat sebagai roket terbesar yang pernah
dikembangkan LAPAN dengan kaliber 550 mm. Ada pun
roktet RX-550 berbahan bakar hydroxyl toluen poly
butadiene(HPTB) ini berdaya jangkau hingga 533 km dan
ketinggian terbang bisa mencapai 150 km. Roket mampu
mengorbit seperti satelit dengan memiliki panjang hingga 10
meter pada komponen tingkat pertama dan ke dua.
Kecepatan maksimum RX-550 bisa mencapai Mach 7.67,
bahkan roket dapat dimuati payload sampai 300 kg, ini
artinya dalam misi militer roket dapat membawa hulu ledak
yang lumayan berat dan berdaya hancur tinggi.

Roket berdiameter 550 mm dengan panjang 6 meter ini


merupakan penyempurnaan dari beberapa roket Lapan
sebelumnya yaitu RX-420. Roket ini juga dapat berfungsi
sebagai roket pendorong (boster) utama bagi roket pengorbit
satelit, sehingga implementasinya tidak hanya untuk
kebutuhan militer saja.

89
Roket RX-550 produksi LAPAN Foto-foto Dok.LAPAN
90
Roket RX-750 dan Masa Depan Rudal Pertahanan
(R-Han)

Foto Dok.LAPAN

Teknologi roket produksi LAPAN semakin mengalami


kemajuan pesat. Yakni setelah berhasil meluncurkan RX-
320 pada 2008, maka tahun 2009 LAPAN kembali berhasil
meluncurkan RX-420. Sukses mengembangkan RX-420,
bukan lantas Lapan berpuas diri. Pada akhir tahun 2010,
LAPAN kembali mendesain RX-520. Roket yang lebih
besar dan memiliki daya jangkau lebih jauh dibanding RX-
420.

Setelah diuji coba pada akhir tahun 2010, roket RX-520 ini
ternyata memiliki spesifikasi yang lebih hebat ketimbang
RX-420. Sesuai desain awal, RX-520 memiliki kecepatan
maksimal 1,7 km/detik. RX520 ini memiliki panjang
hingga 8,8 meter dengan bahan bakar propelan padat
seperti jenis roket lain. Daya jangkau roket RX-520
mencapai 300 km.

91
Kemudian dalam perkembangannya Roket RX-550
bermetamorfosis menjadi Roket RX-550 yang berdaya
jangkau 533 KM dengan berat 300 Kg yang memiliki
kecepatan 7 Mach. Rupanya Indonesia melalui LAPAN
juga mengembangkan Roket Peluncur Satelit yakni RX-
750 yang merupakan Roket peluncur satelit seri lanjutan
dari RX-420 yang telah sukses diluncurkan dari kawasan
timur Indonesia. Seri-seri ini akan dikembangkan menjadi
dua bagian yakni Roket Peluncur Satelit (RX Series) dan
Roket Rudal Pertahanan (R-Han).

Para petinggi TNI telah mengkaji kedua prototype yang


digunakan sebagai Rudal Pertahanan, karena masing-
masing ada kekurangan dan kelebihanya. Untuk
mengantisipasi ancaman dari utara lebih efektif
menggunakan R-Han pengembangan dari RX-550.
Sementara untuk menghadapi ancaman dari selatan lebih
tepat menggunakan R-Han pengembangan dari RX-750
yang memiliki berat 0,5 ton walau pun dari segi biaya 3X
lipat dari RX-550.

92
Foto Dok.LAPAN

Roket RX-750 yang mempunyai jangkauan 1000 km


memiliki diameter 75 cm, diluncurkan pada akhir tahun
2010 silam. RX-750 ini ternyata sudah bisa terwujud dan
dipasangi sistem kendali, sehingga jarak jelajahnya menjadi
Rudal Pertahanan Jarak Jauh (R-Han) yang memiliki jarak
jangkau 1000 km. Untuk saat ini yang baru santer
diwartakan adalah RX-420 dan RX-420 ini sudah dirancang
sebagai roket untuk peluncur satelit. edangkan generasi
lanjut dari roket peluncur satelit tadi adalah RX-750 ini.

93
Uji coba RX 420 pada 2 Juli 2009 Foto Dok. LAPAN

RX 750 mampu menjangkau jarak tempuh sampai 1000 km


sehingga roket ini termasuk kategori rudal balistik, dilepas
dari Jakarta bisa menghantam Kuala Lumpur kurang dari
satu jam. Namun memang penempatan R-Han jarak 1000
km ini lebih tepat di pesisir selatan untuk menghadapi
ancaman dari selatan.

94
Foto Dok.LAPAN

Jangkauan 1000 km dirasa masih kurang, oleh sebab itu


sejak 2011 telah diadakan beberapa pengujian yang
menghasilkan prototype yang lebih baik. Misalnya yang
diujicobakan di Jawa maupun di Morotai dan Biak yang
ternyata mengindikasikan kemajuan pesat. Semoga Rudal
Pertahanan Indonesia ini mampu mengcover seluruh
ancaman dari luar terutama dari agresor-agresor barat dan
kelompoknya. Bahkan pada akhir bulan Agustus 2015,
LAPAN melakukan tes uji dinamik R-Han 122 B sebagai
produknya yang terbaru.

95
Foto Dok.LAPAN

Selain LAPAN masih banyak lagi industri komponen


pendukung dalam pengembangan Industri Pertahanan
Nasional. Misalnya PT. DAHANA yang khusus
memproduksi peledak lalu PT.KRAKATAU STEEL yang
bertugas menyelenggarakan bahan baku logam untuk
kebutuhan industri utama mau pun industri komponen utama
dan industri komponen pendukung lainnya. PT.SRITEX
sebagai produsen seragam dan alat perlengkapan militer
seperti tenda pleton, parasut dan berbagai hal yang terkait
dengan berbasis bahan tektil atau kain berbagai jenis serta
masih banyak lagi.

96
3. Analisis Permasalahan

A. Kendala dan Tantangan

Setelah mempelajari berbagai hasil dari


pembangunan dan pengembangan industri pertahanan
nasional di atas tadi, sudah terbukti bahwa kemampuan
industri pertahanan nasional tidak kalah dengan industri
pihak asing. Hanya sedikit saja kebutuhan komponen yang
terkait dengan produk luar negeri. Bahkan hampir 75
sampai 90 % semua kebutuhan komponen dan bahan baku
sudah bisa dipasok dari dalam negeri. Artinya tingkat
ketergantungan kebutuhan alutsista untuk pertahanan
nasional kepada pihak asing semakin kecil, bahkan nyaris
tidak ada sama sekali. Kondisi demikian tentunya menjadi
pertanda bahwa Indonesia sudah mulai mampu
mewujudkan kemandirian dalam menumbuh-kembangkan
industri pertahanannya.
Namun uniknya, seperti yang telah disampaikan di
awal bagian dua pada buku ini, Indonesia masih saja
memiliki ketergantungan pada teknologi dan produk luar
negeri, khususnya yang terkait dengan industri pertahanan.
Bahkan hampir dua dekade ke belakang, kebutuhan
alutsista TNI masih berdasarkan pembelian ke luar negeri.
Seperti pesawat tempur, pesawat intai, peluncur roket,
senjata genggam dan senapan mesin, bahkan kendaraan
tank lapis baja. Alhasil untuk kebutuhan tersebut menuntut
pembiayaan anggaran yang lumayan besar, termasuk
pembelian yang bersifat kredit atau hutang luar negeri.
Kondisi yang bertolak belakang itu, tentu
menimbulkan pertanyaan : Kenapa ? Maka bermula dari
pertanyaan tersebutlah, penulis mencoba membahas apa
97
yang menjadi kendala dan tantangan dalam pembangunan
serta pengembangan industri pertahanan nasional ini.
Kendala :

Dalam makalahnya yang berjudul : Peran


Strategis Pembangunan Industri Pertahanan , Habibi
Yusuf Sarjono, ST, MHan19 menulis bahwa sejak konsep
industri strategis ditiadakan, maka perusahaan-perusahaan
BUMN besar seperti PT.Pindad, PT.DI, PT.PAL,
PT.Krakatau Steel, PT.LEN dan lain sebagainya, harus
menjalankan industri secara efisien dan ekonomis, bahkan
mandiri seperti layaknya perusahaan industri umumnya.
Padahal industri pertahanan di negara mana pun, tidak
terlepas dari peran Pemerintah sebagai stakeholder-nya
yang paling utama. Itu karena industri pertahanan
merupakan jenis industri yang melibatkan banyak elemen
institusi Pemerintah, sangat khusus dan lebih diprioritaskan
untuk kepentingan negara.
Maka ketika perusahaan-perusahaan BUMN yang
bergerak di bidang industri pertahanan itu dituntut untuk
mandiri, mau tidak mau perusahaan-perusahaan tersebut
berhadapan dengan dilema pelik. Karena untuk menunjang
kelangsungan kegiatan industri pertahanan, masih
diperlukan dukungan pendanaan dari Pemerintah. Baik
untuk biaya operasional riset, pembuatan protype dan
sebagainya. Contoh sederhana saja, menurut LAPAN biaya
untuk pembuatan prototype satu jenis roket eksperimen
( RX ) diperlukan dana lebih dari 5 milyar rupiah. Belum
lagi ketika roket tersebut harus diproduksi massal
berdasarkan permintaan customer dalam hal ini TNI atau

19 Habibi Yusuf Sarjono, ST, MHan. Peran Strategis Pembangunan Industri


Pertahanan http//www.tandef.net/peran-strategis-pembangunan-
industri pertahanan.

98
instansi lainnya yang membutuhkan roket jenis tersebut,
pendanaan yang dibutuhkan akan semakin lebih besar lagi.
Habibi Yusuf membandingkan dukungan
Pemerintah AS terhadap industri pertahanan di negerinya
20
. Dalam hal ini yang dijadikan sebagai contoh adalah
ketika pada tahun 2000 Pemerintah AS menginisiasi
proyek pembuatan pesawat tempur JSF ( Joint Strike
Fighter ) F-35. Rencananya pesawat tersebut tidak saja
untuk kebutuhan militer AS, tapi juga bisa dipasarkan ke
sekutu AS seperti NATO, Australia, Eropa dan sebagainya.
Dari berbagai calon kontraktor yang mengajukan
penawaran, Departemen Pertahanan AS memilih 2 (dua)
kontraktor yaitu Lockeed Martin yang sudah dikenal
sebagai produsen pesawat tempur unggulan militer AS dan
Boeing produsen pesawat komersil yang sedang mencoba
mencari kesempatan di bidang militer. Kemudian kedua
perusahaan tersebut diberi dana riset yang sama sehingga
pada akhirnya kedua perusahaan itu bisa bekerjasama
memproduksi satu jenis pesawat tempur yang diinginkan
yaitu JFS F-35.
Demikian pula halnya dengan 4 (empat) negara
besar di Eropa yaitu Inggris, Spanyol, Italia dan Jerman.
Dalam rangka membangun pertahanan di Eropa, mereka
berencana bekerjasama membuat pesawat tempur yang
spesifikasinya berbeda dengan JFS F-35 yaitu Eurofighter
Typhoon. Dalam kerjasama tersebut disepakati bahwa
dimulai dari riset sampai produksi dikerjakan oleh
perusahaan-perusahaan pesawat di masing-masing negara
terkait. Langkah selanjutnya, dari kerjasama tersebut
perusahaan-perusahaan di masing-masing negara Eropa itu
membuat komponen yang ketika disatukan menjadi satu
jenis pesawat Eurofighter Typhoon seperti yang
direncanakan oleh pemerintah keempat negara Eropa itu.

20 Ibid
99
Artinya dalam hal ini, pemerintah suatu negara tetap harus
ambil peran dalam mendukung industri pertahanan di
negaranya tersebut. 21
Masih dikatakan Habibi Yusuf 22, pada kisaran
tahun 2007 2008 Indonesia ambil bagian dalam misi
penjaga perdamaian PBB di Lebanon sebagai salah satu
kepentingan nasional Indonesia untuk turut serta menjaga
perdamaian di dunia. Maka dalam rangka penugasan
menjaga perdamaian di Lebanon itu, TNI memerlukan
alutsista yang memadai, salah satunya adalah kendaraan
pengangkut pasukan berupa kendaraan panser. Selain untuk
kepentingan misi PBB, tentu saja kendaraan panser juga
dibutuhkan untuk kepentingan pertahanan di Indonesia.
Sebelum ini TNI biasa membeli kendaraan panser
atau tank sesuai spesifikasi yang dibutuhkan ke produsen
di Perancis. Namun ketika itu, Wapres Jusuf Kalla meminta
agar PT.Pindad mencoba membuat kendaraan panser sesuai
spesifikasi yang dibutuhkan. Ternyata ketika PT.Pindad
mempresentasikan rancangan produksinya yaitu kendaraan
panser Anoa 6x6 kepada Wapres dan TNI, mendapat
tanggapan positif. Atas perintah Wapres Jusuf Kalla pula,
PT.Pindad mendapat order pesanan kendaraan panser dari
TNI dalam jumlah yang cukup banyak. Dampak positifnya
saat itu anggaran alutsista negara untuk pembelian
kendaraam panser menghasilkan penghematan hingga
50%. Karena jika membeli jenis kendaraan panser yang
sama dengan produsen di Perancis nilainya mencapai 14
milyar rupiah per unit, namun dengan membeli kendaraan
Panser Anoa 6x6 dengan spesifikasi dan kemampuan yang
kurang lebih sama harga per unitnya senilai 7 milyar
rupiah. Di sisi lain, dengan pembelian kendaraan Panser
Anoa 6x6 dalam jumlah banyak, menjadikan PT.Pindad

21 Ibid.
22 Op Cit.
100
dapat melanjutkan industrinya dengan baik. Termasuk
imbasnya kepada industri yang lain yaitu di antaranya
PT.Krakatau Steel yang memasok bahan baku baja armour,
PT.LEN untuk sistem komunikasi dan elektronika serta
lain sebagainya.
Masih menyinggung soal dukungan Pemerintah
terhadap perkembangan industri pertahanan nasional,
Brigjen TNI Ir.Agus Suyarso yang pernah menjadi Tim
Litbang Kemhan tahun 2009, menulis dalam makalahnya
yang berjudul : Menapaki Kemandirian Alutsista dan
di- posted pada tanggal 11 April 2014 menegaskan bahwa
dengan kondisi yang ada sekarang ini, seberapa jauh
kemampuan industri pertahanan nasional mampu
memenuhi kebutuhan alutsista TNI secara mandiri ?
Meskipun saat ini beberapa jenis alutsista yang dibutuhkan
TNI sudah bisa diproduksi sendiri oleh industri pertahanan
nasional. Namun harus diakui, setidaknya lebih dari 50%
kebutuhan alutsista TNI saat ini masih mengandalkan
pembelian ke luar negeri. Maka apa bila industri
pertahanan nasional ini bisa tumbuh dan berkembang
memenuhi kebutuhan TNI atau lebih baik lagi bisa
diekspor ke luar negeri, tentu diperlukan dukungan total
dari Pemerintah. Terutama dukungan dalam bentuk
kebijakan yang menunjang pertumbuhan industri tersebut.23
Penggambaran di atas tadi menunjukkan betapa
pentingnya peran pemerintah suatu negara dalam
menetapkan kebijakan yang menunjang industri pertahanan
di negaranya tersebut. Misalnya seperti AS dan Uni Eropa.
Bahkan terbukti di Indonesia, ketika TNI membeli
kendaraan Panser Anoa 6x6 produksi PT.Pindad mampu
memberi dampak positif yang sangat besar dalam
kelangsungan industri pertahanan nasional. Tidak saja

23 http://jakartagreater.com/menapaki-kemandirian-alutsista/

101
PT.Pindad yang mendapat keuntungan dari pesanan jumlah
besar itu, tetapi juga perusahaan-perusahaan pendukung
yang terkait dengan kebutuhan komponen kendaraan
panser tersebut seperti PT.Krakatau Steel, PT.LEN dan
sebagainya.
Kendala lainnya adalah belum ada kemauan dari
pihak Pimpinan TNI dalam menetapkan standarisasi
alutsista untuk tiga matra yaitu TNI Angkatan Darat,
Angkatan Laut dan Angkatan Udara. Pendapat tersebut
disampaikan oleh Mayor Laut (E) Andi Indra Putra selaku
perwira di Mabes TNI AL 24 dalam makalahnya yang
berjudul Awal Kehancuran Alutsista Karena Tidak Ada
Standarisasi Peralatan TNI . Menurut Mayor Andi
konsep strategi pengerahan kekuatan alutsista wajib
dipandang secara komprehensif, integral dan holistik.
Bukan hanya sekedar konsep sektoral yang terfokus kepada
tiap matra, melainkan harus dapat mendukung suatu
konsep operasi gabungan ( joint force operation ) yang
membangun sinergitas antar masing-masing sektor,
sehingga seluruh sumber daya yang dimiliki dapat
digunakan dengan efektif, efisien dan tepat sasaran.
Masih menurut Mayor Laut (E) Andi Indra Putra
lagi, tidak sedikit permasalahan teknis yang sering
dihadapi dalam operasi gabungan TNI yang disebabkan
oleh keberagaman jenis, merk dan type alutsista yang
digunakan oleh masing-masing matra yang sebagian besar
merupakan produk luar negeri. Misalnya dalam
penyelenggaraan sistem komunikasi, dengan alat
komunikasi yang berbeda jenis, merk, type dan perusahaan
produsennya, justru menyebabkan terjadinya hambatan

24 http://www.tandef.net/awal-kehancuran-alutsista-karena-tidak-ada-
standarisasi-peralatan-tni.

102
komunikasi dalam penyelenggaraan sistem komunikasi
yang diperlukan.
Kondisi tersebut tentu sangat tidak mendukung
kelancaran tugas operasi gabungan, terlebih bilamana
dihadapkan pada ketentuan C41SR ( Command, Control,
Communication, Computer, Inteligent, Surveilllance and
Reconnaissance ) yang menuntut kompatibilitas integrasi
mau pun interoperability antar peralatan yang
membutuhkan aspek kecepatan, kerahasiaan, ketepatan dan
kehandalan peralatan dalam menunjang pengambilan
keputusan dan tindakan dalam operasi gabungan tersebut.
Dari penjelasan Mayor Laut (E) Andi Indra Putra
tersebut, dapat disimpulkan bahwa diperlukan kebijakan
Pimpinan TNI untuk menetapkan standarisasi alutsista bagi
tiap-tiap matra dengan mengutamakan penggunaan
alutsista yang diproduksi oleh industri pertahanan nasional.
Selain menunjang kebutuhan alutsista TNI, akan
mendukung pula pertumbuhan dan perkembangan industri
alutsita nasional termasuk kemudahan dalam pengadaan
suku cadang mau pun pelayanan purna jual.
Contohnya adalah kebijakan yang ditetapkan oleh
US Departement of Defence ( DOD ) terkait dengan
standarisasi dan pengadaan logistik alutsista untuk
kepentingan militer AS. Dalam hal itu US Departemen of
Defence mengesahkan yang disebut Military Standard
( ML-STD) atau Military Specification ( MIL-SPEC )
terhadap pembelian dan penggunaan alutsista militer AS
sepeti untuk Joint Force Operation, Army, Air Force dan
Navy. Yaitu mengutamakan pembelian hasil produksi
industri pertahanan dalam negerinya.
Sehingga dengan kebijakan yang demikian itu,
berdampak positif terhadap kemajuan teknologi alutsista
dalam perkembangan industri pertahanan di AS. Maka
tidak ditampikkan lagi, kebijakan model itu pula sebagai
103
salah satu yang dibutuhkan dalam menunjang pertumbuhan
serta perkembangan industri pertahanan nasional di
Indonesia.

Tantangan :

Ada pun yang dimaksud dengan tantangan terdiri


atas dua hal yaitu : tantangan dalam arti persaingan atau
kompetisi dan tantangan dalam arti tingkat kebutuhan
alutsista TNI sesuai dengan Renstra yang telah
dirumuskan.
Tantangan dalam arti persaingan atau kompetisi
bertitik tolak dari melihat begitu tingginya persaingan
kualitas dan kecanggihan alutsista di ajang internasional.
Apalagi saat ini kontestasi kekuatan alutsista di kancah
global semakin ketat dan semakin berlomba-lomba
menghasilkan produksi alutsista yang terbaik dan
tercanggih untuk melindungi kedaulatan wilayah negara
masing-masing di dunia. Misalnya kemampuan produksi
alutsista Republik Korea Utara yang memproduksi kapal
selam canggih yang tidak mudah dideteksi oleh radar
musuhnya. Republik Iran yang telah memproduksi senjata
nuklir berbahaya dan mampu menempuh jarak tembak
yang sangat jauh, sehingga merisaukan negara-negara
adidaya seperti Amerika Serikat dan para sekutunya.
Begitu pula halnya dengan senjata nuklir yang diproduksi
oleh Republik India atau pun Republik Tiongkok dan
negara-negara lainnya yang dari waktu ke waktu selalu
mempublikasikan kecanggihan serta kemampuan sistem
alutsistanya.
Bahkan belum lama ini, persisnya pada tanggal 9
Mei 2015 di Moskow Rusia, ditampilkan tiga alutsista
terbaru produksi Rusia. Yaitu Main Battle Tank ( MBT )

104
T14 armata, lalu ranpur VPK-7829 Bumerang 8x8 dan
panser beroda rantai Kurganets-25. Tentang ketiga alutsista
terbaru buatan Rusia itu diulas oleh Aryo Nugroho dalam
majalah Commando Volume IX-Edisi No3-Th 2015 25
seperti berikut : Panser VPK-7829 Bumerang 8x8
merupakan ranpur produksi Rusia yang memiliki desain
menarik dan mengagumkan. Tahan terhadap hantaman
peluru kaliber 14,5 mm serta mudah dioperasikan di segala
medan lapangan. Fungsinya yang utama ialah sebagai alat
angkut prajurit AD Rusia di berbagai medan pertempuran.
Namun tidak dipungkiri juga, karena masih baru panser ini
belum digunakan dalam pertempuran, tetapi sudah
berulangkali melaksanakan uji coba yang hasilnya selalu
memuaskan. Panser ini juga dilengkapi dengan berbagai
alat canggih seperti JPS, deteksi radar, alkom modern dan
piranti digital lainnya. Singkat kata ranpur ini memiliki alat
dan sistem proteksi yang canggih serta mumpuni.
Kabinnya mampu menampung 9 (sembilan) penumpang
dan 1 (satu) juru tembak yang menangani sistem remote
untuk kubah senjata. Keamanan penumpang terjamin
berkat penggunaan kursi gantung di langit-langit kabin,
sehingga membantu mengurangi resiko cedera akibat
gelombang kejut ranjau atau bahan peledak lainnya saat
meledak di bawah kendaraan.

25 Majalah Commando Vol XI-Edisi No.3 / Th 2015 hal 21 33.

105
Panser VPK 7829 buatan Rusia
Berikutnya adalah tank Kurganets-25, sebagai
kendaraan infantri hasil inovasi terhadap kendaraan tempur
sebelumnya yaitu dinasti BMP ( Boyevaya Maschina
Piekhota ) seri 1,2 dan 3. Tank Kurganets-25 ini
merupakan hasil produksi pabrik Kurganmashzavod yang
sudah berhasil mengembangkan tank BMP seri 1,2 dan 3.
Tank Kurganets-25 dibuat dalam dua versi yaitu
Obieckt 695 dan Obieckt 693. Perbedaan dari keduanya
ialah sistem senjata dan kapasitas angkut pasukan. Jika
tank Obieckt 695 merupakan kendaraan tempur dengan
persenjataan lengkap, sedangkan tank Obieckt 693 lebih
berfungsi sebagai kendaraan angkut pasukan. Spesifikasi
Kurganets25 kurang lebih seperti berikut :

106
Tank Kurnagets 25 buatan Rusia
Awak : 3 ( tiga ) orang
Mesin : Diesel turbocharged berdaya 800 hg
Kecepatan: 80 km/jam di jalan raya
10 km/ jam di air
Kapasitas : 8 9 penumpang

107
Desain Kurnagets 25

Berikutnya adalah MBT T14 armata sebagai Main


Battle Tank produksi terbaru Rusia. Kendaraan lapis baja
keluaran baru ini mampu menyedot perhatian berbagai
negara mapan di Eropa, bahkan Amerika Serikat.
Desainnya lebih baik dan lebih canggih dibanding MBT
generasi sebelumnya. Singkat kata, MBT T14 armata ini
merupakan mesin perang yang handal dan memiliki banyak
kelebihan atau keistimewaan.

Spesifikasi MBT T14 armata ini antara lain seperti


berikut :
Bobot tempur : 48 55 ton
Awak : 3 personil ( komandan, juru tembak
dan pengemudi )

108
Deteksi sasaran : 5000 meter
Jarak operasi : 500 km
Meriam : 125mm 2A82 M-1
Kapasitas auto leader : 32 peluru
Mesin : Diesel 12 silinder, konfigurasi X
dengan daya 1.500 hp supercharged
dan 2000 hp dengan gas turbin.
Kecepatan maksimum : 80 90 km perjam.

MBT T4 Armata buatan Rusia

109
Desain MBT T14 Armata

Kemajuan inovasi dalam industri pertahanan


berbagai negara di dunia menjadi tantangan tersendiri bagi
Indonesia. Meskipun Indonesia tidak ambil peran dalam
kancah kontestasi persenjataan dunia, namun tetap perlu
melakukan inovasi dan modernisasi produk untuk
meningkatkan kekuatan pertahanan nasional. Hal itu pula
yang disampaikan oleh May.Jend.TNI.Puguh Santoso
( Dirjen Strahan Kemenhan RI ) dalam artikelnya yang
berjudul : Strategi Modernisasi Alutsista TNI Dalam
Mewujudkan Pertahanan Negara Yang Tangguh26 Yaitu
strategi untuk menciptakan pertahanan yang tangguh salah
satunya dengan melakukan pengembangan kekuatan
militer melalui modernisasi alutsista yang sejalan dengan
berkembangnya berbagai macam ancaman serta
penyesuaian terhadap pola peperangan modern ( modern
warfare ). Namun, ditandaskan May.Jend.TNI.Puguh

26 Jurnal Yudhagama Vol.32.No.1.Maret 2012 hal 6 sampai 11.

110
Santoso lagi, bahwa modernisasi alutsista tersebut harus
dilaksanakan dengan beberapa pertimbangan di antaranya;
Pertama, bertujuan untuk menciptakan suatu
kekuatan pertahanan negara yang memiliki daya tempur
handal. Ke dua, kondisi negara dalam keadaan ekonomi
yang kuat sehingga mampu menunjang kekuatan
militernya. Ke tiga, sebagai wujud realisasi dalam
melaksanakan program Minimum Essential Force (MEF)
komponen utama untuk melaksanakan fungsi negara di
bidang pertahanan berdasarkan keputusan politik. Ke
empat, modernisasi alutsista TNI masih jauh tertinggal
dibanding alutsista negara-negara lain termasuk negara
tetangga, sehingga efek tangkal ( deterrent efect ) Negara
Indonesia dinilai masih perlu ditingkatkan. Ke lima,
modernisasi alutsista TNI sangat berhubungan dengan
kemampuan anggaran pertahanan. 27
Selain pandangannya di atas, May.Jend.TNI. Puguh
Santoso juga menyarankan agar dalam memodernisasi
alutsista TNI hendaknya berdasarkan konsep dual
function sehingga sebagian alutsista yang diproduksi tidak
sekedar untuk kegiatan Operasi Militer Perang ( OMP )
tetapi juga bisa digunakan untuk kegiatan Operasi Militer
Selain Perang ( OMSP ). Misalnya untuk membantu
penanggulangan bencana alam, bantuan transportasi,
pembangunan konstruksi jembatan dan perumahan untuk
masyarakat dan sebagainya.28
Di sisi lain, May.Jend.TNI.Ir.Drs.Subekti,
M.Sc,M.P.A. mantan Asrena Kasad yang kemudian
menjabat Pangdam VI/Mulawarman, menyampaikan
pendapatnya dalam artikel yang berjudul : Modernisasi
Alutsista TNI AD Untuk Mencapai Pembangunan
Kekuatan Minimum seperti berikut : Ada pun modernisasi

27 Ibid
28 Ibid
111
alutsista yang diharapkan secara bertahap dilaksanakan
penggantian dan pengadaan senjata yang baru sesuai
dengan perkembangan teknologi dan melaksanakan
pembentukan satuan baru di setiap wilayah NKRI,
khususnya wilayah perbatasan dengan negara lain, daerah
rawan konflik, pulau-pulau terluar serta seluruh wilayah
sesuai dengan luas wilayah dan ancaman yang mungkin
timbul, baik dari dalam mau pun dari luar negeri. Sehingga
modernisasi dipandang sangat mendesak, karena dengan
meningkatnya intensitas dan eskalasi ancaman akibat
perkembangan lingkungan strategis, menuntut
profesionalisme TNI AD dalam menjalankan tugas dan
kewajibannya. Untuk dapat meningkatkan profesionalitas
itu, prioritas utamanya adalah memenuhi dan melengkapi
alutsista TNI AD dengan peralatan modern, bukan dengan
alutsista yang sudah tua dan usang.29
Pendapat yang kurang lebih sama juga dipaparkan
oleh Laksamana Muda TNI Among Margono, S.E.
( Asrenum Panglima TNI ) dalam jurnalnya yang berjudul :
Kebijakan Modernisasi Alutsista TNI Dihadapkan Pada
Tuntutan Tugas30. Menurut Laksamana Muda TNI Among
Margono, dalam menunjang kebutuhan alutsista TNI
terkait dengan penggantian, pemenuhan dan pemeliharaan,
perlu dipertimbangkan beberapa aspek antara lain prioritas
alutsista yang dibutuhkan, strategi dan metode pemenuhan
alutsista, persyaratan standard alutsista TNI, cost benefit
analisis dan aspek ekonomi serta lokasi anggaran
berdasarkan Minimum Essential Force ( MEF ).
Dengan demikian jelaslah bagi kita, apa yang
sebenarnya menjadi kendala dan tantangan dalam upaya
meningkatkan industri pertahanan nasional ke depan. Yaitu
pertama, perlu adanya kebijakan Pemerintah yang

29 Op Cit hal 20 -25.


30 Jurnal Yudhagama Vol.32 No.1 Maret 2012 hal 12-19
112
mendukung sepenuhnya upaya industri pertahanan dalam
menunjang pembangunan pertahanan negara termasuk
dukungan anggaran yang dibutuhkan. Kemudian ke dua,
perlu dilaksanakan inovasi dan modernisasi alutsista TNI
untuk menunjang pelaksanaan tugas-tugasnya sebagai
Komponen Utama dalam pertahanan negara. Selanjutnya
yang ke tiga, kemampuan produksi massiv sesuai dengan
kebutuhan dan permintaan.

Bengkel produksi PT.PINDAD Foto Majalah Kina 2 - 2012

113
B. Peluang

Menurut Habibi Yusuf Sardjono, ST,Mhan, ada


enam indikasi yang menjadi peluang bagi industri
pertahanan nasional yaitu31 :

1. Indonesia sebagai negara dengan wilayah yang luas


:

Seperti yang telah disebutkan pada bab pertama


buku ini, bahwa Indonesia adalah negara kepulauan
terbesar di dunia. Memiliki batas negara di dua matra,
yaitu di laut ( batas maritim) dengan 10 (sepuluh) negara
tetangga dan di darat ( batas kontinen) dengan 3 (tiga)
negara tetangga. Negara-negara yang mempunyai kawasan
perbatasan maritim dengan Indonesia antara lain
Singapura, Thailand, India, Filipina, Vietnam, Papua New
Guinea, Australia, Palau dan Republik Demokratik Timur
Leste ( RDTL). Sedangkan negara-negara yang mempunyai
perbatasan kontinen dengan Indonesia yaitu Malaysia,
Papua New Guinea dan Republik Demokratik Timor Leste (
RDTL ).
Sehingga atas dasar wilayah geografi yang sangat
luas itu, diperlukan titik-titik yang menjadi batas
pengawasan dan penjagaan di perbatasan wilayah tersebut.
Maka untuk menunjang kegiatan pengawasan dan
penjagaan yang dilakukan oleh TNI itu, tentu diperlukan
berbagai jenis alutsista yang disesuaikan dengan kondisi
lapangan. Misalnya senjata dan amunisi untuk prajurit

31 Habibi Yusuf Sardjono, ST,Mhan. : Peran Strategis Pembangunan


Pertahanan http://tandef.net.28 sept2010.

114
penjaga perbatasan, kendaraan angkut dan kendaraan
perintis, kapal patroli, alat komunikasi dan sebagainya.
Ada pun Brigjend TNI Makmur Supriyatno B.Sc.,
S.Pd,.M.Pd. selaku Direktur Kerjasama Antar Kelembagaan
Universitas Pertahanan Indonesia menjelaskan dalam
jurnalnya yang berjudul : Geograf dan Teknologi Militer
32
seperti berikut : Geograf Indonesia secara umum
memang terdiri atas pulau-pulau. Pulau-pulau tersebut
terdiri dari pulau besar dan kecil yang memiliki beragam
bentuk topograf atau geomorfologinya. Pulau besar,
terutama Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan dan Irian.
Namun selain mencermati bentuk topograf dan
geomorfologis, juga harus dilihat geografis lain yaitu
adanya garis perbatasan darat dengan negara tetangga....
Dalam jurnalnya itu, Brigjend TNI Makmur
Supriyatno juga mengingatkan tentang pentingnya
pengadaan alutsista TNI yang memadai dan sesuai dengan
kondisi lapangannya. Dan mempersiapkan alutsista itu,
hendaknya jangan menunggu terjadinya perang dulu. Tapi
sebelum perang terjadi, persiapan dan pengadaan alutsista
harus sudah siap terselenggara.
Maka dengan kondisi yang demikian itu, TNI sudah
pasti akan membutuhkan berbagai jenis alutsista dalam
jumlah yang tidak sedikit. Baik untuk pertahanan darat, laut
mau pun udara. Kebutuhan untuk pengawasan dan
penjagaan perbatasan itu, sudah termasuk sebagai peluang
untuk menunjang kegiatan industri pertahanan nasional.
Belum lagi kebutuhan alutsista untuk masing-masing matra
sesuai dengan spesifikasi kebutuhannya. Semua itu jelas
menjadi peluang bagi industri pertahanan nasional, apa bila
Pemerintah memberi dukungan dan kesempatan untuk hal
tersebut.

2. Dukungan lembaga riset dan sdm :


32 Jurnal Yudhagama Vol32. No.1 Maret 2012 hal 26-23.
115
Dalam rangka meningkatkan mutu dan modernisasi
alutsista TNI, dibutuhkan riset yang serius dengan segala
aspeknya. Untuk itu tentu diperlukan keterlibatan tenaga-
tenaga akhli profesional di bidang rancang bangun alutsista
serta kalangan perguruan tinggi. Sehingga melalui riset dan
uji coba yang serius, tentu akan menghasilkan alutsista
seperti yang diharapkan oleh TNI. Yaitu alutsista yang
mampu bersaing dengan produk-produk negara lain,
termasuk negara-negara maju.
Program riset dan uji coba tersebut, hendaknya juga
mendapat dukungan penuh dari Pemerintah dalam bentuk
kebijakan yang memberi peluang bagi upaya riset
berlandaskan prinsip-prinsip ilmu pengetahuan dan
teknologi modern.

3. Kebijakan normatif Pemerintah :

Mengingat kegiatan sistem produksi industri


pertahanan melibatkan banyak elemen Pemerintah seperti
Kementerian Perindustrian, Kementerian Pendidikan
Nasional, Lembaga Riset dan Teknologi, Kementerian
Perdagangan, Kementerian Keuangan dan Perbankan,
Kepolisian RI dan seterusnya, upaya revitalisasi industri
pertahanan nasional memerlukan kebijakan normatif dari
Pemerintah yang mendukung upaya-upaya industri
pertahanan nasional sebagai industri strategis.
Pandangan demikian juga pernah disampaikan oleh
Jaleswari Pramodhawardani peneliti LIPI dan The
Indonesian Institute dalam makalahnya yang berjudul :
Dilema Industri Pertahanan 33 yaitu dengan kondisi
ekonomi Indonesia yang masih mengalami pelambatan
pertumbuhan ekonomi, agak sulit untuk
mengimplementasikan suatu pembangunan industri
33 Media Indonesia 5 Oktober 2010 humasristek.
116
strategius pertahanan yang akan menyedot anggaran dan
investasi yang besar. Apa bila hal tersebut berhasil, tentu
akan membuat Indonesia memiliki potensi strategis dalam
persaingan dengan industri pertahanan di tingkat global.
Pilihan revolusioner ini dianggap sebagai jalan pintas
paling tepat untuk kondisi Indonesia saat ini. Karena pada
dasarnya membangun industri pertahanan tidaklah sama
dengan membangun industri komersil pada umumnya.

4. Kebijakan normatif Pemerintah dalam hal


prioritas penggunaan produk pertahanan dalam
negeri :

Dalam jurnalnya34 , May.Jend.TNI.Puguh Santoso


menulis bahwa kebutuhan dan modernisasi alutsista wajib
menggunakan produksi dalam negeri, sehingga diharapkan
dapat menumbuhkan industri pertahanan dalam negeri
yang secara mutualisme akan turut mempertangguh
pertahanan negara. Untuk mendorong peningkatan
produksi industri pertahanan dalam negeri, pemerintah
telah membentuk Komite Kebijakan Industri Pertahanan
( KKIP ) yang dipimpin dan dibina oleh Menteri
Pertahanan dibantu sejumlah menteri teknis lainnya. Maka
ditegaskan oleh May.Jend.TNI.Puguh Santoso, strategi
mendorong majunya industri pertahanan dalam negeri
sangat penting, karena diharapkan Indonesia akan mampu
memodernisasi alutsista sendiri tanpa adanya
ketergantungan dari negara lain. Bahkan dengan kemajuan
industri pertahanan dalam negeri dapat mencapai dua
sasaran sekaligus yaitu pertama akan turut mendorong
pertumbuhan ekonomi nasional dengan terciptanya
lapangan kerja dam ke dua dapat menembus pasar ekspor
ke negara lain. Kedua sasaran tersebut secara langsung
34 Jurnal Yudhagama Vol.12 No.1. Maret 2012 hal 6 sampai 11.

117
mau pun tidak langsung akan sama-sama memperkuat
pertahanan negara dan merupakan dua sisi koin yang
tidak terpisahkan ( security and prosperity ).
Maka tidak disangsikan lagi tentunya, untuk
menunjang kelangsungan industri pertahanan sebagai
industri strategis dibutuhkan kebijakan pemerintah yang
mendukung penggunaan produk pertahanan dalam negeri.

5. Adanya gelombang reformasi birokrasi dan


reformasi sektor keamanan yang menghendaki
adanya transparansi dan good governance di
semua lini :

Pemerintah dengan Kabinet Kerja sekarang ini


tampaknya sedang berusaha untuk melakukan reformasi
birokrasi dan reformasi sektor keamanan secara
transparans dan merujuk kepada prinsip good governance
di semua lini. Sebagai contoh, banyak lembaga non
departemen yang dipandang tidak perlu mulai dipangkas
dan ditutup. Kemudian peran KPK, Polri dan Kejaksaan
sebagai lembaga penegak hukum semakin ditingkatkan dan
diberi ruang yang lebih luas dalam pola kerja yang
terintegrasi serta tegas terhadap penegakkan hukum. Di sisi
lain TNI pun semakin ditingkatkan kemampuan
profesionalisme para prajuritnya dan sekaligus juga
melakukan peremajaan serta modernisasi alutsistanya.

6. Menyelenggarakan kerjasama luar negeri :

Sejak Pemerintahan Presiden SBY, peluang


kerjasama luar negeri di bidang industri pertahanan sudah
dibuka lebar-lebar. Dan pada masa Pemerintahan Presiden
Jokowi sekarang ini, peluang itu pun semakin ditingkatkan.
Misalnya kerjasama dengan industri pertahanan Republik
Tiongkok, kemudian dengan Republik Korea Selatan dan
118
sebagainya. Sehingga diharapkan melalui kerjasama luar
negeri tersebut dapat terlaksana alih teknologi dan ilmu
pengetahuan tentang teknis industri pertahanan.

Proses produksi kapal di PT PAL Surabaya.

Foto Majalah Kina 2 2012.

C. Solusi

119
Faktor utama yang melatarbelakangi perlunya
industri pertahanan didorong dan ditingkatkan perannya
adalah kebutuhan negara terhadap kemandirian alutsista
dan efek penggentar yang tinggi. Kemandirian sangat
dibutuhkan, karena Indonesia merasakan berbagai
pengalaman pahit dengan membeli alutsista dari luar
negeri. Selain harganya mahal, Indonesia tidak sepenuhnya
berdaulat. Sedikit saja terjadi kasus yang dinilai oleh dunia
internasional sebagai pelanggaran HAM, maka
Pemerintah AS akan meng-embargo mulai dari suku
cadang sampai penarikan pesawat yang sedang menjalani
perawatan atau perbaikan di pabrik asalnya. Maka
jangankan berharap adanya alih teknologi dari kerjasama
pembelian itu, yang terjadi justru diciptakannya
ketergantungan terhadap produk yang dibeli dari luar
negeri tersebut. Begitu pula ketika TNI melakukan operasi
pemberantasan separatis GAM di Aceh di masa lalu,
sebagian kendaraan tempur yang dibeli dari Inggris ditarik
kembali oleh Pemerintah Inggris karena dinilai tidak sesuai
dengan kebijakan negaranya yaitu ; Pemerintah Inggris
memberi kredit ekspor kendaraan tempur kepada TNI
bukan digunakan untuk berperang di dalam negeri.
Kondisi demikian tentu menyadarkan kita, bahwa
bangsa Indonesia adalah bangsa yang memiliki
kedaulatannya sendiri. Bila ketergantungan dibiarkan terus
terjadi, bagaimana bangsa ini akan membangun postur
pertahanan yang kuat dan berwibawa di mata bangsa-
bangsa lain ?
Suatu negara yang memiliki kekuatan militer tidak
diketahui oleh negara lain, itu sudah bisa menjadi efek
penggentar meski dalam skala yang berbeda. Terlebih bila
diketahui teknologi militer yang digunakan oleh negara itu
sangat genuine, tidak bisa ditembus dan tidak bisa
ditandingi. Maka negara lain akan memperhitungkan

120
berbagai hal dari kekuatan militer yang dimiliki negara
bersangkutan.
Semua negara yang menjadi produsen alutsista
selalu menyimpan suatu teknologi yang hanya dikuasai
oleh negara tersebut dan tidak dijual atau diinformasikan
ke negara mana pun yaitu menjadi semacam rahasia militer
atau rahasia pertahanan. Hal tersebut dimaksudkan sebagai
salah satu upaya antisipasi dalam gelar kekuatan total yaitu
alutsistanya tidak bisa ditangkal oleh negara mana pun.
Jadi jelas kiranya bahwa membangun industri
pertahanan adalah supaya industri nasional tetap
berlangsung dan terlaksana secara progresif. Pada satu sisi
langkah itu akan memperkuat kemampuan pertahanan
nasional, sementara pada sisi lain akan mendukung
jalannya roda perekonomian nasional dengan efek bola
salju yang mampu menghidupkan industri-industri lain
dalam rantai produksi industri pertahanan, atau mungkin
akan melahirkan beragam industri baru lainnya. Bahkan
dalam lingkup makro, hal itu akan mendorong kemajuan
teknologi yang lebih tinggi yang pada gilirannya akan
menghasilkan efisiensi serta meningkatkan competitive
advantage negara.
Sehubungan pandangan di atas, tentu diperlukan
langkah-langkah untuk membangun dan mendorong
kemajuan industri pertahanan nasional seperti berikut :

Mempertegas arah dan kebijakan pertahanan Negara


yang berlandaskan kepentingan nasional. Yaitu
menuntut sikap Pemerintah ( dalam hal ini Presiden )
dan DPR RI memperjelas sikap kebijakan tersebut
untuk kemudian menjadi pedoman dalam
menyelenggarakan pertahanan negara sampai kepada
tahap operasionalnya.

121
Memperjelas roadmap kebutuhan alutsista nasional
dimulai dari tahap jangka pendek, menengah dan jangka
panjang. Roadmap tersebut dibutuhkan untuk
mengetahui teknologi apa saja yang diperlukan dan
yang mana saja perlu dipersiapkan. Seringkali
kelemahan industri nasional tidak mampu memenuhi
kebutuhan TNI karena perlu waktu riset dan
pengembangan teknologi lebih dahulu. Dengan adanya
roadmap tersebut, Pemerintah juga bisa membuat
kalkulasi kekuatan pertahanan nasional secara
berjangka.

Meningkatkan peran kepemimpinan dalam koordinasi


antarinstansi. Dalam hal ini Kementerian Pertahanan
sebagai pembina industri pertahanan nasional harus
memainkan peran kepemimpinan yang kuat dan efektif
dalam mengkoordinasikan antarinstansi terkait, serta
mengatur kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan.

DPR RI sebagai lembaga dengan fungsi legislasi,


pengawasan dan anggaran, harus mengoptimalkan
perannya dengan menegaskan kepada Pemerintah
seperti berikut :

a. Mempercepat pembahasan dan pembuatan


Undang-Undang Keamanan Nasional sebagai
payung utama kebijakan keamanan nasional
( termasuk di dalamnya kepentingan nasional,
persepsi ancaman, kebijakan umum pertahanan
dll ). Selanjutnya adalah tentang Undang-
Undang Revitalisasi Industri Pertahanan yang
122
mendorong industri pertahanan nasional
sekaligus juga akan mendorong perekonomian
nasional serta peraturan-peraturan yang relevan
lainnya.
b. Menekankan kepada Pemerintah ( Kemenhan
dan TNI ) agar lebih fokus kepada pengadaan
alutsista melalui industri pertahanan nasional
dan kerjasama riset sebagai upaya pelaksanaan
pembinaan kemampuan industri nasional.

c. Melaksanakan pengawasan ketat terhadap proses


akuisisi/pengadaan alutsista oleh Pemerintah,
karena tidak sedikit produsen alutsista yang
ingin memonopoli produksi dan penjualan
sehingga menimbulkan kerawanan gratifikasi
dan korupsi dalam poroses pengadaan tersebut.

d. Meminta alokasi anggaran pertahanan,


khususnya untuk pembinaan industri pertahanan
nasional sebagai wujud kepastian terhadap
realisasi dukungan kepada industri pertahanan
nasional sejak tahap riset sampai produksi.

Alhasil sampailah kita pada pemahaman solusi


bahwa membangun industri pertahanan nasional, sama
artinya dengan membangun kekuatan pertahanan nasional
yang kokoh, mandiri dan berdaya gentar tinggi. Selain itu
tidak diragukan lagi, membangun dan meningkatkan peran
industri pertahanan nasional juga akan membangun
perekonomian nasional melalui efek bola salju yang
memberi imbas positif terhadap industri-industri lainnya
yang terkait.

123
4. Potensi dan Prospek

Berbagai hal tentang industri pertahanan yang telah


disampaikan dan dipaparkan sejak awal penulisan buku ini,
tentu dapat turut serta menjadi informasi yang membuktikan
bahwa industri pertahanan nasional sangat memiliki potensi
dan prospek yang luar biasa. Khususnya dalam upaya
Pemerintah membangun postur pertahanan nasional yang
mandiri dan tangguh sehingga disegani oleh negara-negara
lain di dunia.
Mendorong tumbuh kembangnya industri
pertahanan nasional, tidak saja mendorong peningkatan
pembangunan pertahanan negara yang tangguh, tetapi juga
membangun kekuatan ekonomi nasional dari sektor industri
pertahanan. Oleh karena itu perlu dilakukan perubahan cara
pandang terhadap industri pertahanan nasional. Yakni tidak
lagi menjadikan fungsi industri pertahanan nasional sebagai
bengkel rekayasa produk luar negeri, tetapi justru menjadi
pabrikan yang memproduksi alutsista sendiri untuk
kebutuhan pertahanan nasional dan juga ekspor.

Potensi :

124
Indikasi yang menunjukkan bahwa industri
pertahanan nasional memiliki potensi yang besar yaitu
antara lain :

a. Tersedianya bahan baku yang berlimpah


dan memiliki kualitas standar
internasional. Seperti bahan baku baja
armor, bahan baku mesiu untuk munisi
senjata atau pun peledak serta lain
sebagainya yang terkait.

b. Memiliki cukup tenaga akhli yang telah


memperoleh pendidikan dan pengalaman
di berbagai negara produsen alutsista.

c. Memiliki tenaga kerja atau pun calon


tenaga kerja yang terampil dan
berdedikasi terhadap kegiatan pekerjaan
industri pertahanan dalam jumlah besar.

d. Memiliki dukungan kalangan Perguruan


Tinggi Negeri atau pun Swasta untuk
turut serta melakukan riset dan
pengembangan modernisasi alutsista.

e. Memiliki peluang besarnya kebutuhan


TNI terhadap alutsista untuk
melaksanakan tugas pokok utamanya.

f. Memiliki sejumlah kebijakan Pemerintah


yang mendukung terselenggaranya upaya
125
peningkatan pembangunan industri
pertahanan nasional.

Berdasarkan indikasi di atas tentu dapat dipastikan


bahwa Indonesia memiliki potensi besar dalam membangun
dan mengembangkan usaha industri pertahanan nasional
secara mandiri. Sehingga untuk menggali semua potensi
tersebut diperlukan pula dukungan anggaran yang cukup
besar demi terwujudnya kemajuan industri pertahanan
nasional.
Prospek :

Dengan ditingkatkannya potensi industri pertahanan


nasional serta upaya peningkatan modernisasi produk
alutsista, tentu akan menghasilkan produk alutsista yang
dapat ditawarkan kepada negara-negara di dunia, khususnya
di kawasan Asean, sehingga menjadi salah satu peluang
ekspor nasional di sektor produk pertahanan.
Berlangsungnya ekspor nasional di sektor produk
pertahanan, sudah barang tentu akan semakin meningkatkan
peluang kerja dan usaha di Indonesia. Karena meningkatnya
kegiatan usaha di sektor industri pertahanan akan semakin
banyak pula menyerap tenaga kerja, meningkatnya pemasok
bahan baku dan berbagai industri pendukung lainnya yang
akan menyokong kegiatan industri pertahanan nasional
tersebut.
Semua harapan tersebut akan dapat terwujud, apa
bila dapat terselenggara Pemerintahan yang bersih dan
berwibawa, serta peran KKIP selaku pengawas dan pembina
industri pertahanan dapat berlangsung dalam koridor yang
benar sesuai dengan tugas dan fungsinya. Kemudian di sisi

126
lain, lembaga DPR RI memberi dukungan penuh sambil
melaksanakan pengawasan yang ketat pula.

5. Kesimpulan dan Penutup

Selama ini Indonesia sebagai negara terbesar di


kawasan Asean sangat memiliki ketergantungan yang tinggi
di bidang teknologi pertahanan sehingga sangat sulit bagi
Indonesia untuk dapat menyusun rencana pembangunan
pertahanan negara jangka panjang yang memiliki kepastian.
Terlebih ketergantungan terhadap produk luar negeri sangat
rentan terhadap faktor politik, seperti restriksi dan embargo.
Kemudian permasalahan yang lain yang muncul dari
ketidak mandirian pengadaan sarana pertahanan adalah
lemahnya kesiapan dan kemampuan penangkalan yang
dimiliki bangsa Indonesia. Secara politik, kondisi tersebut
akan mengakibatkan Indonesia rentan terhadap tekanan
politik negara lain, yang dapat berakibat pada kemungkinan
terkena embargo atau pembatasan-pembatasan terhadap

127
peralatan tertentu yang menghambat pembangunan dan
pemeliharaan sarana pertahanan.
Memang harus diakui, tidak mungkin kemandirian
dalam pengembangan dan pengadaan industri pertahanan
dilaksanakan 100% oleh suatu negara di mana pun di dunia
ini. Walau bagaimana juga pasti ada ketergantungan
terhadap negara lain terkait dengan pembangunan dan
pengembangan industri pertahanan tersebut. Namun adanya
industri pertahanan yang mandiri tetap bermanfaat dalam
upaya penyelenggaraan pertahanan yang efektif.
Pemberdayaan industri strategis untuk kepentingan
pertahanan nasional tidak berarti bahwa Indonesia akan
ambil peran dalam kegiatan kontestasi persenjataan, tetapi
untuk mencapai kemandirian dalam pengadaan sarana
pertahanan nasional demi kepentingan penyelenggaraan
pertahanan dan menjaga keutuhan wilayah serta integritas
Indonesia.
Oleh sebab itu pembangunan industri pertahanan
nasional merupakan hal yang vital dan urgent dalam upaya
pemenuhan kebutuhan sarana pertahanan yang mampu
dioperasionalkan secara maksimal dalam penyelenggaraan
sistem pertahanan. Maka pemberdayaan industri pertahanan
nasional untuk pengembangan dan penyedia sarana
pertahanan sangat diperlukan. Namun industri pertahanan
tidak dapat dilaksanakan oleh sektor pertahanan secara
sepihak saja, tanpa melibatkan sektor-sektror lain yang
terkait. Pemberdayaan industri nasional untuk
pembangunan pertahanan memerlukan kerjasama di antara
tiga pilar industri pertahanan yaitu Badan Penelitian dan
Pengembangan ( BALITBANG ), Perguruan Tinggi Negeri
dan Swasta, kalangan industri dan Kementerian Pertahanan
serta TNI dibentengi oleh kebijakan nasional yang jelas
untuk menggunakan produk-produk hasil karya putra-putri
terbaik bangsa.

128
Maka di akhir kata, penulis dalam kesempatan ini
berdoa dan berharap agar apa yang telah diupayakan
dalam pembangunan dan pengembangan industri
pertahanan nasional akan terus berlanjut sehingga mencapai
tingkat kemampuan teknologi super canggih yang diakui
oleh negara-negara lain di dunia. Insya Allah.....

Bandung, Agustus/September 2015.


Yan Daryono.

Helikopter Superpuma produksi PT.DI. Foto dok Kina 2.2012

129
Kapal Cepat produksi PT. PAL. Foto dok Kina 2.2012

Panser ANOA 6x6 produksi PT.PINDAD. Foto dok PT.Pindad


130
DAFTAR PUSTAKA

Buku Putih PERTAHANAN INDONESIA 2008 2013 . Kemenhan RI 2008, hal


17.
Iwan Gayo Buku Pintar Indonesia Seri Senior ( Upaya Warga Negara cet.
29 th 2000 ) hal 7
Sejarah Indonesia : NUSANTARA karya Bernard H.M. Vlekke ( KPG dan
Freedom Institute 2008 )

131
Habibi Yusuf Sarjono, ST, MHan. Peran Strategis Pembangunan Industri
Pertahanan http//www.tandef.net/peran-strategis-pembangunan-
industri pertahanan.
http://www.tandef.net/awal-kehancuran-alutsista-karena-tidak-ada-
standarisasi-peralatan-tni.
MABES TNI PEMBANGUNGAN KEKUTAN POKOK MINIMUM TNI Tahun
2010 2024. Lampiran Peraturan Panglima TNI Nomor Perpang/15/V/2010.
Tanggal 5 Mei 2010. Hal 12
Tim Puslitbang Indhan Balitbang Dephan
http://www.balitbang.kemhan.go.id.

Undang Undang No.3 Tahun 2002. Tentang PERTAHANAN NEGARA -


Bab I, Pasal 1 ayat 2.
Undang-Undang RI No.16 / Tahun 2012 tentang INDUSTRI PERTAHANAN.
Undang-Undang TNI No.34 Th 2004. Bab IV Bagian ke Tiga. Pasal 7
ayat 2 a dan 2 b.

Jurnal Yudhagama Vol.32.No.1.Maret 2012 hal 6 sampai 11.


Majalah Commando Vol XI-Edisi No.3 / Th 2015 hal 21 33.
Media Indonesia 5 Oktober 2010 humasristek.

http://jakartagreater.com/menapaki-kemandirian-alutsista/
http://www.ristek.go.id. Wikipedia : Ensiklopedia bebas.
www.indonesia-aerospace.com.
www.lapan.go.id
www.len.co.id
www.pindad.com
www.ptpal.co.id

132
133
Yan Daryono dilahirkan di Jakarta 20 Januari 1957, anak
sulung dari empat bersaudara buah perkawinan
R.Sudarjono Wreksomindojo dengan Hj.Ida Meiharty
Abbas. Ayah dari tiga orang putri ini adalah seorang
otodidak dengan pendidikan formal yang tidak tinggi. Karir
jurnalistiknya dimulai dari sebagai wartawan majalah Famili
hingga menjabat sebagai Redaktur Pelaksana. Kemudian
menjadi Wakil Pemimpin Redaksi Harian Umum
MANDALA di Bandung dan terakhir sebagai Pimpinan
stasiun televisi swasta di Bandung ( CT Channel ). Dalam
karir jurnalistiknya, pernah mendapat penghargaan nasional
yaitu Adinegoro Bidang Metropolitan ( 1983 ).

Selain pernah menjadi wartawan dan redaksi media cetak


mau pun elektronik, juga pernah menjadi penulis skenario
serta sutradara sejumlah film televisi nasional. Baik sinetron
mau pun dokumenter yang beberapa di antaranya telah
ditayangkan di TVRI Stasiun Pusat dan Stasiun Bandung
serta di sejumlah stasiun televisi swasta nasional.

Kini di hari tuanya menetap di Bandung menjadi petani


cabai kecil-kecilan sambil terus menulis artikel, buku dan
sebagainya.

134
135