Anda di halaman 1dari 4

MUHAMMAD IBTIHAJ HAN | 15323091 | UAS ANALISIS H.I.

KONTEMPORER

Di bawah Presiden Donald Trump, Amerika Serikat menarik diri dari perundingan iklim
Paris 2015. Hal tersebut membuat banyak pihak yang merasa menyesalkan keputusan
Trump tersebut. Menurut anda apakah yang akan terjadi terhadap masa depan lingkungan
dunia dengan kondisi tersebut? Menurut anda apakah hal tesebut akan menjadi preseden
bagi pemerintahan AS ke depannya?

Kebijakan Trump dalam menarik AS dari perjanjian iklim Paris bukan kali pertama AS
mangkir dari komitmen untuk menyelamatkan dunia dari ancaman perubahan iklim. Sebelumnya,
sikap arogansi AS sebagai negara adidaya nampak dari keengganannya meratifikasi Protokol
Kyoto. Hal ini bukan tanpa sebab, selain dikarenakan hampir semua perjanjian internasional
mengenai lingkungan bersifat tidak mengikatyang hal ini menjadi dilemma bagi rezim global
mengenai lingkunganjuga karena AS menganggap bahwa keikutsertaannya dalam perjanjian
tersebut hanya akan merugikan AS. Hal yang sama yang mendasari Trump menarik mundur AS
dari perjanjian iklim Paris pada 1 Juni lalu. Trump menilai bahwa perjanjian Paris tidak adil,
bertentangan dengan kepentingan nasional AS dan hanya menciptakan kondisi ekonomi-politik
AS yang memburuk.

1. Apa yang akan terjadi terhadap masa depan lingkungan dunia dengan kondisi
tersebut?

Dalam melihat dampak nyata dari keputusan mundurnya AS dari Perjanjian Paris, kita
harus melihat bumi sebagai sebuah kesatuan, dan jangan melihat batas territorial maupun
kepentingan nasional sebagai titik tolak. Kita juga harus memandang jauh ke depan, tidak untuk
semata-mata saat ini, akan tetapi dampaknya 10-20 tahun ke depan bila hal ini tetap dilakukan.
Penurunan maupun kenaikan bumi 1 derajat celcius didasarkan pada kalkulasi yang tidak
sederhana, 1 derajat Celsius tersebut merupakan suhu bumi rata-rata dari belahan bumi yang
berbeda-beda. Adalah fatal yang dikatakan Trump bahwa Perjanjian Paris hanya berdampak
sedikit saja bagi penurunan suhu dunia.

Saya membayangkan dua scenario yang berbeda, dengan asumi bahwa kita mengetahui
posisi Amerika di mata dunia sebagai negara adidaya yang berpengaruh. Skenario pertama,
(seandainya) Amerika tetap dalam perjanjian Paris, hal ini akan membuat negara lain untuk ikut
terlibat, dikarenakan kuatnya posisi AS dalam konstelasi politik dunia. AS bagaikan seorang imam
yang berdiri di shaf terdepan dalam proses ini, di mana negara-negara dunia selalu bermakmum
di belakangnya. Sehingga, keputusan AS untuk mundur akan mengakibatkan negara-negara lain
mengikuti jejaknya. Negara-negara lain kehilangan imam yang menyadarkan arti penting
menjaga lingkungan, dengan dalih bahwa AS sendiri sebagai penyumbang emisi terbesar kedua
di dunia tidak terlibat aktif di dalamnya. Bila hal ini terjadi, maka goal utama perjanjian Paris, yakni
penurunan suhu rata-rata bumi di bawah 2 derajat Celsius akan semakin sulit tercapai. Dan bila
hal ini terjadi terus menerus hingga tahun 2100 justru akan mengancam keselamatan umat
manusia.

Skenario kedua adalah sebaliknya, saat AS mundur, negara-negara lain berusaha tetap
pada komitmennya untuk memperjuangan goal utama perjanjian Paris, sehingga mereka perlu
berupaya lebih (dua atau tiga kali lipat) dari seharusnya. Setelah mundurnya AS, negara-negara
industri seperti China, Perancis, India dan Jerman mengumumkan bahwa mereka tetap
berkomitmen terhadap perjanjian ini. Namun, dengan keluarnya AS, apakah cita-cita tersebut
tetap akan tercapai? Rasa-rasanya sulit juga dicapai, mengingat AS adalah penyumbang emisi
terbesar kedua setelah China.

Kedua scenario di atas sama-sama menghadirkan fakta yang menyedihkan: Amerika


telah keluar dan itu berarti bahwa pada saat negara-negara lain berkomitmen untuk menekan
emisi, Amerika sebagai penyumbang 1/5 emisi dunia dengan leluasa tetap dapat menyumbang
lebih banyak emisi demi kemakmuran negaranya, sehingga apakah gunanya negara-negara lain
untuk melakukan apa yang AS sendiri tidak lakukan?

Pada kenyataannya, dampak perubahan iklim terhadap kenaikan suhu bumi adalah
nyata. Keputusan pemimpin negara dalam hal ini adalah perlu, rezim internasional yang
mewadahinya juga perlu. Asumsi bahwa perjanjian Paris tidak berdampak, seperti yang Trump
katakan dalam pidatonya, tidak dapat dijadikan dasar bagi negara untuk melepas tanggung
jawabnya dalam menjaga keselamatan iklim dunia. Semakin panas suhu bumi rata-rata, akan
menjadikan kutub es mencair dan naiknya permukaan air laut. Beberapa negara kepulauan
pasifik seperti Kiribati dan Vanuatu, bahkan dikabarkan akan tenggelam dalam 5 tahun ke depan
dan saat ini sedang mempersiapkan pulau lain untuk dihuni. Padahal apa kontribusi negara-
negara kecil tersebut bagi emisi global? Di salah satu bagian bumi, ada negara industri yang
menyumbang emisi secara massif dan justru negara kecil di bagian bumi lainnya lah yang paling
merasakan akibatnya. Adalah fakta bahwa perubahan iklim akan berdampak pada kestabilan
ekosistem laut dan darat, yang akan mengancam pula keselamatan manusia di mana depan.

2. Kemudian apakah keputusan Trump mundur dalam perjanjian Paris akan menjadi
preseden bagi pemerintahan AS ke depannya?
Saya justru melihat, bahwa keputusan Trump pun tidak beda dari keputusan
pendahulunya yang tidak meratifikasi Protokol Kyoto karena pertimbangan ekonomi. Namun
apakah keputusan keluar dari perjanjian Paris akan menjadi preseden bagi Pemerintahan AS ke
depannya? jawabannya adalah tergantung pada situasi AS di masa depan, kondisi politik global,
maupun individu Presiden AS di masa depan. Mungkin iya, bila Trump mencalonkan diri di pemilu
AS yang akan datang kemudian dia menang.

Namun perlu digarisbawahi bahwa pernyataan Trump untuk keluar dari Perjanjian Paris
tidak serta merta mengakibatkan AS dapat memberhentikan segala bentuk implementasi
perjanjian ini. Sebagaimana tertuang dalam article 28 Perjanjian Paris bahwa proses mundur
sebuah negara dari perjanjian Paris secara formal membutuhkan waktu 4 tahun. Sehingga tempo
tersebut jatuh pada November 2020, atau pasca pemilihan Presiden AS selanjutnya. Oleh
karenanya presiden selanjutnya bisa saja memilih untuk kembali bergabung ke dalam Perjanjian
Paris dan saya rasa hal itu mungkin terjadi bila bukan Trump orangnya.

Di sisi lain kita tidak dapat memastikan apakah Trump akan menjadi presiden AS lagi,
ataukah presiden AS selanjutnya memiliki gaya kepemimpinan yang bertolak belakang dari
Trump. Untuk itu perlunya analisa nasional di kemudian hari, seandainya AS tetap bersikeras
untuk mempertahankan jargonnya Make America Great Again yaitu kesejahteraan dan
pekerjaan warga AS. Namun, bila presiden berikutnya tidak cukup arogan untuk dapat
mendengarkan kecaman negara-negara lain, atau lebih bertingkah secara normatif dengan
mewujudkan kembali citra AS sebagai pemimpin global, agaknya keputusan yang sama bukanlah
hal yang bijak untuk diimplemantasikan kembali di kemudian hari. Kemudian, bisa jadi pada
tahun-tahun berikutnya, negara-negara beralih kepada teknologi baru ramah lingkungan yang
menjadi trend dunia, di mana para perusahaan multinasional tersebut bercokol di Amerika, maka
keputusan untuk keluar dari perjanjian Paris atas dasar ekonomi menjadi tidak relevan.
Daftar Pustaka

Bodansky, D., The Legal Character of the Paris Agreement, In: Review of European, Comparative
and International Environmental Law; vol. 25 (2016), hal 142-150.

Fildman, Noah. The Paris Accord and the Reality of Presidential Power
https://www.bloomberg.com/view/articles/2017-06-02/trump-paris-climate-change-and-
constitutional-realities diakses pada 20 Juli 2017.

Korppo, Anna. Tynkkynen, and Geir Honneland. Russia And The Politics of International
Environmental Regime. Edward Elgar Publishing Limited. UK. 2015.

Sarlin, Benji. A Climate Scientist Explains the Worst can Happen After Paris Withdrawal.
http://www.nbcnews.com/politics/white-house/climate-scientist-explains-worst-can-happen-after-
paris-withdrawal-n767811 diakses 19 Juli 2017

Situs Resmi The White House. President Trump Puts American Jobs First
https://www.whitehouse.gov/the-press-office/2017/06/01/president-trump-puts-american-jobs-
first diakses 19 Juli 2017

Trigt, Van. Make our planet great again. The impact of Trumps decision to leave the Paris
Agreement. https://www.peacepalacelibrary.nl/2017/06/make-our-planet-great-again-the-impact-
of-trumps-decision-to-leave-the-paris-agreement/ diakses 19 Juli 2017

Trump's Speech On Paris Climate Agreement Withdrawal, Annotated.


http://www.npr.org/2017/06/01/531090243/trumps-speech-on-paris-climate-agreement-
withdrawal-annotated

Vogler, J., Climate Change in World Politics, Houndsmill, Basingstoke, New York, NY, Palgrave
Macmillan, 2016.

Zahar, A., International Climate Change Law and State Compliance, London, New York,
Earthscan from Routledge, Taylor and Francis Group, 2015.