Anda di halaman 1dari 6

Well Seismic Tie

Adalah proses pengikatan data sumur (well) terhadap data seismik. Data sumur yang diperlukan untuk
well seismic tie adalah sonic (DT), density (RHOB), dan checkshot. Sebelum diproses, data well tersebut
harus dikoreksi terlebih dahulu untuk menghilangkan efek washout zone, cashing shoe, dan artifak-
artifak lainya.

Sebagaimana yang kita ketahui, data seismic umumnya berada dalam domain waktu (TWT) sedangkan
data well berada dalam domain kedalaman (depth). Sehingga, sebelum kita melakukan pengikatan,
langkah awal yang harus kita lakukan adalah konversi data well ke domain waktu. Untuk konversi ini, kita
memerlukan data sonic log dan checkshot.

Data sonic log dan checkshot memiliki kelemahan dan keunggulan masing-masing. Kelemahan data sonic
diantaranya adalah sangat rentan terhadap perubahan lokal di sekitar lubang bor seperti washout zone,
perubahan litologi yang tiba-tiba, serta hanya mampu mengukur formasi batuan sedalam 1-2 feet.

Sedangkan kelemahan data checkshot adalah resolusinya tidak sedetail sonic. Untuk menutupi
kelemahan satu sama lain ini, maka kita melakukan koreksi dengan memproduksi sonic corrected
checkshot. Besarnya koreksi checkshot terhadap sonic disebut dengan DRIFT.

Contoh proses matematis koreksi sonic oleh chekshot adalah sbb:


Checkshot data:
Kedalaman 1 = 1000 ft, Waktu 1 = 140 msec
Kedalaman 2 = 1250 ft, Waktu 2 = 170 msec
Checkshot time = 170 - 140 = 30 msec

Jika kecepatan sonic dari 1000 sampai 1250 ft adalah 125 usec/ft, maka waktu tepuhnya (1250 - 1000) x
0.125 = 31.25 msec
DRIFT = 30 - 31.25 = -1.25 msec.

Tahapan berikutnya adalah membuat reflectivity log (dari data sonic dan density), lalu membuat
seismogram sintetik dengan cara meng-konvolusi-kan reflectivity log dengan sebuah wavelet.

Berikut contoh nya:


Courtesy Dutch Thompson, Landmark Graphics Corporation, 2003

Pemilihan wavelet merupakan hal yang sangat penting. Karena fasa data seismic akan berubah sejalan
dengan bertambahnya kedalaman. Pada SRD (Seismic Reference Datum) mungkin kita akan memiliki
wavelet dengan fasa nol (setelah di-zero phase kan dalam prosesing, yang sebelumnya mengikuti
signature sumber gelombang sebagai minimum phase), akan tetapi pada kedalam tertentu fasanya dapat
berubah.

Dalam membuat sintetik, untuk pertama kali kita dapat menggunakan wavelet sederhana seperti zero
phase ricker dengan frekuensi tertentu katakanlah 25Hz. Lalu dengan membandingkan trace sintetik dan
trace-trace seismic disekitar bor, kita meng-adjust apakah frekuensi wavelet lerlalu besar atau terlalu
kecil. Setelah itu lihatlah fasanya, dan perkirakan fasa wavelet di sekitar zona target.

Lalu anda dapat melakukan shifting dan mungkin (stretching atau squeezing) dari data sumur. Akan
tetapi proses shifting janganlah terlalu excessive, katakanlah ~20ms (?), demikian juga dengan proses
stretching-squeezing, janganlah melebihi 5-10% (?) dari perubahan sonic atau kecepatan interval.
Jika anda memiliki data well-tops dan seismic horizon yang diperoleh dari interpreter, anda dapat
menggunakannya sebagai guidance didalam melakukan well-seismic tie. Jadi sebelum melakukan proses
detail di atas, anda dapat melakukan korelasi well-tops terhadap horizon terlebih dahulu.

Untuk kasus sumur bor miring, prosesnya serupa dengan sumur bor vertical, akan tetapi anda harus
membandingkan sintetik seismogram dengan data seismic disepanjang sumur bor. Lebih detail lagi, anda
dapat melakukan koreksi anisotropi terutama untuk log sonic. Ingat penembakan sonic dilakukan tegak
lurus dengan sumur bor, jadi untuk sumur bor horizontal, kita mengukur sonic kearah vertical.
Sedangkan data seismik diasumsikan mengukur secara horizontal.

Berikut contoh hasil well-seismic tie untuk sumur bor miring (deviated). Trace synthetic ditunjukkan
dengan warna pink, perhatikan peak pada sintetik cukup berkorelasi dengan baik dengan peak seismik,
demikian juga dengan trough-nya.

POSTED BY AGUS ABDULLAH, PHD AT 8:16 PM


Marine Acquisition 2D (Akuisisi data seismik laut 2D)
Akuisisi data seismik laut 2D dilakukan untuk memetakan struktur geologi di bawah laut dengan
menggunakan peralatan yang cukup rumit seperti: streamer, air gun, perlengkapan navigasi dll.

Skema akuisisi marin 2D dapat dilihat pada gambar dibawah ini:

Dalam praktiknya akuisisi seismic marin terdiri atas beberapa komponen: kapal utama, gun, streamer,
GPS, kapal perintis dan kapal pengawal dan kadang-kadang perlengkapan gravity (ditempatkan di dalam
kapal) dan magnetik yang biasanya ditempatkan 240 meter di belakang kapal utama (3 meter di dalam
air)
Didalam kapal utama terdapat beberapa departemen: departemen perekaman (recording), navigasi,
seismic processing, teknisi peralatan, ahli komputer, departemen yang bertanggung jawab atas
keselamatan dan kesehatan kerja, departemen lingkungan, dokter, juru masak, dan kadang-kadang di
lengkapi dengan departemen survey gravity dan magnetik, dll. Jumlah orang yang terlibat dalam
keseluruhan operasi berjumlah sekitar 40 orang.

Untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan, selama operasi ini disertai pula dua buah kapal perintis
(chase boat) yakni sekitar 2 mil di depan kapal utama. Selain bertanggung jawab membersihkan lintasan
yang akan dilewati (membersihkan rumpon, perangkap ikan, dll) , kapal perintis bertugas untuk
menghalau kapal-kapal yang dapat menghalagi operasi ini. Selain itu di belakang streamer, terdapat juga
sebuah kapal pengawal.

Operasi akuisisi data seismik memakan waktu dari mulai beberapa minggu sampai beberapa bulan,
tergantung pada 'kesehatan' perangkat yang digunakan, musim, arus laut, dll.

Mengingat mahalnya operasi data akuisisi (mencapai 150 ribu dollar per hari, dalam operasi 3D bisa
mencapai 250 ribu dollar per hari!) maka Quality Control dari operasi ini harus betul-betul diperhatikan,
seperti apakah semua hidrophon bekerja dengan baik, apakah air gun memiliki tekanan yang cukup,
apakah streamer dan air gun berada pada kedalaman yang dikehendaki, apakah feather tidak terlalu
besar, dll.

Beberapa parameter geofisika yang dipakai dalam akuisisi marin adalah sbb (contoh):
Record length: 9500ms
Sample rate: 2ms
Start of data: 50ms
Low cut filter: 3 Hz/ 6dB
Hi Cut filter: 200Hz @ 370dB / Octave
Tape format: Demux SEGD rev 1, 8058
Polarity: first break is negative
Shot point interval 25 m
No of streamer: 1
Streamer length: 8100m
Number of channels: 648
Group interval: 12.5 m
Operating depth: 7 m +/- 1m
Offset CSCNG (inline) 125m (center of source to center of near group)
Array volume: 4140 cu inc
Operating pressure: 2000 psi +/- 10%
Array configuration: 3 strings (each string = 9 segments)
Array separation: 15 m
Source depth: 6m +/- 1m
Center source to nav. mast: 185m