Anda di halaman 1dari 22

BAB 2

KAJIAN PUSTAKA

2.1. Landasan Teori


2.1.1. Air dan Gambaran Umum Tentang Air
Air merupakan senyawa kimia yang sangat penting bagi kehidupan
umat manusia dan mahluk hidup lainnya dan gungsinya bagi
kehidupan tersebut tidak akan dapat digantikan oleh senyawa lainnya.
Hampir semua kegiatan yang dilakukan manusia membutuhkan air,
mulai dari membersihkan diri (mandi), membersihkan ruangan tempat
tinggalnya, menyiapkan makanan dan minuman sampai dengan
aktivitas-aktivitas lainnya (Achmad,2004).
Begitu pula dalam kegiatan industri kebutuhan akan air tidak kalah
penting terutama air dapat digunakan sebagai pendingin pada mesin-
mesin produksi. Penggunaan air untuk kepentingan industri harus
memenuhi syarat tertentu agar mesin-mesin yang digunakan tetap
terpelihara secara baik. Dalam keadaan murni, air adalah suatu cairan
yang tidak mempunyai rasa, tidak berbau dan tidak berwarna. Air
murni merupakan suatu persenyawaan kimia yang sangat sederhana
yang terdiri dari dua atom Hidrogen (H) berkaitan dengan suatu atom
oksigen (O). Secara simbolik air dinyatakan sebagai H2O (Kordi dan
Tancung,2005).
Air dialam dijumpai dalam tiga bentuk, yakni bentuk padat sebagai
es, bentuk cair sebagai air, dan bentuk seperti uap. Bentuk mana yang
akan ditemui, tergantung keadaan cuaca setempat. Seperti hal nya
terbentuk juga tergantung pada temperatur dari suatu tempat (Kordi
dan Tancung,2005).
Tubuh manusia sebagian besar terdiri dari air. Proses kimia yang
terjadi dalam tubuh kita, yaitu yang disebut metabolisme, berlangsung
dalam medium air. Air merupakan alat untuk

5
6

mengangkut zat dari bagian tubuh yang satu ke bagian yang lainnya.
Tubuh manusia terdiri dari 60-70% air. Transportasi zat-zat makanan
dalam tubuh semuanya dalam bentuk larutan dengan pelarut air. Juga
hara-hara dalam tubuh hanya dapat diserap oleh akar dalam
laurtannya. Oleh karena itu kehidupan ini tidak mungkin
dipertahankan tanpa air (Achmad,2004).
Kuantitas dan kualitas air yang sesuai dengan kebutuhan manusia
merupakan faktor penting yang menentukan kesehatan hidupnya.
Kuantitas air berhubungan dengan adanya bahan-bahan lain terutama
senyawa-senyawa kimia baik dalam bentuk senyawa organik maupun
anorganik juga adanya mikroorganisme yang memegang peranan
penting dalam menentukan komposisi kimia air (Achmad,2004).
Air serta bahan-bahan energi yang dikandung didalamnya
merupakan lingkungan bagi kehidupan yang ada didalam air.
Pengaruhnya terhadap kehidupan yang ada didalamnya memiliki 2
sifat umum yaitu sifat fisika dan sifat kimia. Sifat-sifat fisikanya yaitu
sebagai medium tempat hidup tumbuh-tumbuhan dan hewan, dan
sifat-sifat kimianya sebagai zat-zat hara yang diperlukan bagi
pembentukan bahan-bahan organik oleh tumbuh-tumbuhan dengan
produksi primernya (Kordi dan Tancung,2005).
Sifat fisik inilah yang memisahkan lingkungan air dari lingkungan
udara. Berat jenis, panas jenis, kekentalan dan tegangan permukaan
adalah faktor-faktor yang paling banyak mempengaruhi kehidupan.
Berat jenis air murni adalah 775 kali lebih besar dari pada udara (00C,
760 mmHg). Perbedaan berat jenisdapat disebabkan oleh perbedaan
tekanan atau bahan-bahan suspensi, tetapi yang lebih penting
disebabkan oleh suhu dan salinitas (kadar garam) (Kordi dan
Tancung,2005).
Air mempunyai sifat yang khusus diantaranya zat-zat cair, karena
molekul-molekulnya cenderung membentuk kelompok atau agregasi
7

akibat sifat-sifat listriknya dan sifat-sifat tersebut bergantung pada


suhu (Kordi dan Tancung,2005).

2.1.2. Sumber Air di Lingkungan Sekitar


Sumber air merupakan salah satu komponen utama yang ada
pada suatu system penyediaan air bersih, karena tanpa sumber air
maka system penyedian air bersih tidak akan berfungsi
(Sutrisno,2000). Macam-macam sumber air yang dapat
dimanfaatkan sebagai sumber air minum sebagai berikut :
a. Air laut
Laut merupakan sumber air yang paling banyak. Air laut banyak
mengandung garam dan mineral dengan kadar tinggi. Air laut tidak
akan bisa langsung dipakai sebagai air minum dan air bersih untuk
keperluan sehari-hari sehingga diperlukan diperlukan pengolahan air
untuk mendapatkan air yang bersih (Yana Hidayat,2007).
b. Air Permukaan Tanah
Air permukaan tanah adalah semua air yang berada di atas
permukaan tanah, seperti sungai, kolam dan danau. Air pada
permukaan tanah ini biasanya mengandung kotoran-kotoran di
antaranya yaitu partikel-partikel debu, sampah, dedaunan, ranting
pohon dan limbah industri. Industri-industri yang nakal sering
membuang limbahnya kesungai sehingga air sungai menjadi bau,
warna air sungai tidak bening, dan air sungai berasa asam atau pahit.
Oleh karena air permukaan tanah mengandung pengotor maka perlu
dilakukan pengolahan air sehingga air permukaan tanah dapat
digunakan sebagai sumber air bersih dan air minum. Air permukaan
tanah biasanya juga digunakan sebagai bahan baku dari perusahaan
air minum (PAM) (Yana Hidayat,2007)
c. Air Dalam Tanah
Air dalam tanah adalah air yang berasal dari lapisan tanah
bagian dalam yang terkumpul dari rembesan air permukaan tanah
8

dan air hujan, misalnya air sumur. Air dalam tanah ini lebih bersih
dari pada air hujan dan air permukaan tanah. Akan tetapi, air dalam
tanah juga biasanya mengandung kadar mineral yang terlalu tinggi.
Mungkin, di daerah tertentu, air dalam tanah berwarna kuning karena
mengadung zat besi yang terlalu tinggi. Oleh karena air dalam tanah
mengandung zat besi yang terlalu tinggi maka perlu dilakukan
pengolahan air sehingga air dalam tanah tersebut dapat digunakan
sebagai sumber air bersih dan air minum (Yana Hidayat,2007).

2.1.3. Persyaratan Kualitas Air

Karakteristik air dipengaruhi oleh factor-faktor


manusia,sehingga kualitas air sangat beragam dari suatu tempat ke
tempat lain. Standar-standar kualitas air merupakan harga-harga
yang ekstrim yang digunakan untuk meningkatkan tingkat-tingat air
dimana air menjadi ofensif secara estetik,tidak sesuai secara
ekonomik maupun tidak layak secara higenik untuk penggunaan air
(Juli Soemirat Slamaet,2013).

Untuk keperluan air minum diperlukan kualitas air yang


memenuhi persyaratan baik secara fisik, kimia dan bakteriologis.
2.1.3.1. Persyaratan fisik air minum
Persyaratan fisik adalah persyaratan air yang dapat di indera,
baik dengan indra penglihatan, penciuman maupun indera perasa,
meliputi (Juli Soemirat Slamaet,2013) :
a. Rasa
Kualitas air bersih yang baik adalah tidak berasa. Rasa dapat
ditimbulkan karena adanya zat organic atau bakteri/unsure lain yang
masuk ke badan air (Juli Soemirat Slamaet,2013).
b. Bau
Kualitas air bersih yang baik adalah tidak berbau,karena bau ini
dapat ditimbulkan oleh pembusukan zat organic seperti bakteri serta
9

kemungkinan akibat tidak langsung dari pencemaran lingkungan,


terutama dari system sanitasi (Juli Soemirat Slamaet,2013).
c. Suhu
Secara umum,kenaikan suhu perairan akan mengakibatkan
kenaikan aktifitas biologi sehingga akan membentuk O2 lebih
banyak lagi. Kenaikan suhu perairan secara alamiah biasanya
disebabakan oleh aktivitas penebangan vegetasi disekitar sumber air
tersebut, sehingga menyebabkan banyaknya cahaya matahari yang
masuk tersebut mempengaruhi akuifer yang ada secara langsung
ataupun tidak langsung(Juli Soemirat Slamaet,2013).
d. Kekeruhan
Keruhan air dapat ditimbulkan oleh adanya bahan-bahan organic
dan anorganik,kekeruhan juga dapat mewakili warna. Sedang dari
segi estetika kekeruhan air dihubungkan dengan kemungkinan
hadirnya pencemaran melalui buangan sedang warna air tegantung
pada warna buangan yang memasuki badan air (Juli Soemirat
Slamaet,2013).
e. TDS atau jumlah padatan terlarut (total dissolved solids)
Adalah bahan padat yang tertinggal sebagai residu pada
penguapan dan pengeringan pada suhu 103oC-105oC, dalam portable
water kebanyakan bahan bakar terdapat dalam bentuk terlarut yang
terdiri dari garam anorganik selain itu juga gas-gas yang terlarut.
Kandungan total solid pada portable water biasanya berkisar antara
20 sampai dengan 1000 mg./L dan sebagai salah satu pedoman
kekerasan dari air akan mengakibatkan total solid, disamping itu
pada semua bahan cair jumlah koloid yang tidak terlarut dan bahan
yang tersuspensi akan meningkat sesuai derajat pencemaran. Zat
padat selalu terdapat dalam air dan kalau jumlahnya terlalu banyak
tidak baik sebagai air minum, banyaknya zat padat yang disyaratkan
untuk air minum adalah < 500 mg/L. Pengaruh yang menyangkut
aspek kesehatan dari pada penyimpangan kualitas air minum dalam
10

hal total solids ini yaitu bahwa air akan memberikan rasa tidak enak
pada lidah dan rasa mual(sumardiono,2013).
2.1.3.2. Persyaratan kimia
Persyaratan kimia air minum adalah persyaratan yang
menyangkut kadar atau kandungan zat kimia dalam air. Air minum
tidak boleh mengandung zat zat yang dapat mengganggu kesehatan
manusia atau zat korosif yang dapat merusak pipa air minum (Juli
Soemirat Slamaet,2013). Persyaratan lain dapat dilihat pada table
sebagai berikut :
a. pH (derajat keasaman)
Penting dalam proses penjernihan air karena keasaman air pada
umumnya disebabkan gas oksida yang larut dalam air terutama CO2
.Pengaruh yang menyangkut aspek kesehatan daripada
penyimpangan standart kaualitas air minum dalam hal pH adalah <
6, 5 dan > 9, 2 namun demikian, hal itu dapat menyebabkan
beberapa senyawa kimia berubah menjadi racun yang sangat
menggangu kesehatan (Juli Soemirat Slamaet,2013).
b. Kesadahan
Kesadahan ada dua macam yaitu kesadahan sementara dan
kesadahan permanent. Kesadahan sementara akibat keberadaan
Calsium dan Magnesium Bikarbonat yang dihilangkan dengan
memanaskan air hingga mendidih atau menambahkan kapur dalam
air.Kesadah permanen disebabkan oleh Sulfat dan Karbonat,
Chlorida dan Nitrat dari Magnesium dan Calsium disamping Besi
dan Aluminium (Juli Soemirat Slamaet,2013).
c. Besi
Air yang mengandung banyak besi akan berwarna kuning dan
menyebabkan rasa logam besi dalam air, serta menimbulkan korosi
pada bahan yang terbuat dari metal. Besi merupakan salah satu
unsure yang merupakan hasil pelapukan batuan induk yang banyak
ditemukan diperairan umum. Batas maksimal yang terkandung
11

didalam air adalah 1, 0 mg/L (Permenkes 416/1990) (Juli Soemirat


Slamaet,2013).
d. Aluminium
Batas maksimal yang terkandung didalam air menurut
Peraturan Mentri Kesehatan No 82/2001 yaitu 0, 2 mg/L. Air yang
mengandung banyakaluminium menyebakan rasa yang tidak enak
apabila tidak dikomsumsi (Juli Soemirat Slamaet,2013).
e. Zat Organik
Larutan zat organic yang bersifat komplek ini dapat berupa
unsure hara makanan maupun sumber energi lainnya bagi flora dan
fauna yang hidup diperairan (Juli Soemirat Slamaet,2013).
f. Sulfat
Kandungan sulfat yang berlebihan di dalam air dapat
mengakibatkan kerak air yang keras pada alat merebus air (panci /
ketel) selain mengakibatkan bau dan korosi pada pipa. Sulfat yang
berlebihan sering dihubungkan dengan penanaganan dan pengolahan
air bekas (Juli Soemirat Slamaet,2013).
g. Nitrat dan Nitrit
Pencemaran air dari Nitrat dan Nitrit bersumber dari tanah dan
tanaman. Nitrat dapat terjadi baik dari NO2 atmosfer maupun dari
pupuk yang digunakan dan dari oksida NO2 oleh bakteri dari
kelompok nitrobacter. Jumlah Nitrat yang lebih besar dalam usus
cenderung untuk berubah menjadi Nitrit yang dapat bereaksi
langsung dengan Hemoglobin dalam darah sehingga menbentuk
Methaemoglobine yang dapat menghalang perjalanan oksigen
didalam tubuh (Juli Soemirat Slamaet,2013).
h. Chlorida
Dalam konsentrasiyang layak, tidak berbahaya bagi
manusia.Chlorida dalam jumlah kecil dibutuhkan untuk desinfektan
namun apabila berlebihan dan berinteraksi dengan ion Na+ dapat
12

menyebabkan rasa asin dan korosi pada pipa air (Juli Soemirat
Slamaet,2013).
i. Fluorida
Fluorida adalah senyawa fluor. Fluor (F) adalah halogen yang
sangat reaktif, karenanya dialam selalu didapat dalam bentuk
senyawa. Fluorida anorganik bersifat lebix toxis dan lebih iritant
daripada yang organik . Pada kasus keracunan berat akan terjadi
cacat tulang, kelumpuhan, dan kematian. Para ahli penyedia air
bersih perlu meninjau kembali manfaat fluoridasi air, serta standar
air bagi minum bagi fluorida (Juli Soemirat Slamaet,2013).
j. Mangan
Mangan (Mn) adalah metal kelabu-kemerahan. Keracunan
seringkali bersifat khronis sebagai akibat inhalasi debu dan uap
logam. Di dalam penyediaan air, seperti halnya Fe, Mn juga
menimbulkan masalah warna, hanya warnanya ungu/hitam (Juli
Soemirat Slamaet,2013).
k. Ammonia
Ammonia adalah penyebab iritasi dan korosi, meningkatkan
pertumbuhan mikroorganisme, dan mengganggu proses desinfeksi
dengan khlor (Juli Soemirat Slamaet,2013).
l. CO2 agresif
Gas asphyxiant, merusak pipa dan dapat melarutkan logam
(Juli Soemirat Slamaet,2013).
m. COD (Chemical Oxygen Demand)
COD yaitu suatu uji yang menentukan jumlah oksigen
misalnya kalium duntuk mengoksidasi bahan bahan yang terdapat di
dalam air. Kandungan COD dalamair bersih berdasarkan peraturan
Menteri Kesehatan RI No 416/1990. Mengenai baku mutu air minum
golongan B maksimum yang dianjurkan adalah 12 mg/L. Apabila
nilai COD melebihi batas dianjurkan, maka kualitas air tersebut
buruk (Juli Soemirat Slamaet,2013).
13

2.1.3.3. Syarat biologis


Persyaratan ini menyangkut kandungan mikoorganisme atau
jasad renik yang terdapat dalam air minum. Persyaratan yang
dimaksud antara lain :
a. Bakteri Colli
Air minum tidak boleh mengandung bakteri-bakteri penyakit
(Patogen) sama sekali tidak boleh mengandung bakteri Colli
melebihi batas-batas yang telah ditentukan yaitu 1 Colli/100 mL air
(Juli Soemirat Slamaet,2013).
b. BOD (Biochemical Oxygen Demand)
Adalah jumlah zat terlarut yang dibutuhkan oleh organisme
hidup untuk memecah bahan-bahan buangan didalam air. Nilai BOD
tidak tidak menunjukan jumlah bahan organik yang sebenarnya
tetapi hanya mengukur secara relative jumlah oksigen yang
dibutuhkan.Makin rendah BOD maka kualitas air minum tersebut
semakin baik. Kandungan BOD dalam air bersih menurut peraturan
Menteri Kesehatan RI No 416/1990 mengenai baku mutu air dan air
minum golongan B maksimum yang dianjurkan adalah 6 mg/l (Juli
Soemirat Slamaet,2013).

2.1.4. Proses Pengolahan Air

Proses pengolahan air bertujuan untuk menjernihkan air.


Pengolahan air berkaitan dengan pencemar-pencemar dan
menghilangkan atau menurunkan zat pengotor didalam air.
Pencemar-pencemar utama yang harus diperhatikan pada
kebanyakan air baku adalah bakteri phatogen, kekeruhan dan bahan-
bahan terapung, warna, rasa, bau senyawa-senyawa organik dan
kesadahan. Proses pengolahan air berikut merupakan proses
pengolahan di PDAM Tirtandi IPA Limau Manis :
14

2.1.4.1. Intake

Untuk memastikan bahwa satuan-satuan dalam instalasi


pengolahan air berkerja effisien, maka perlu dilakukan pembuangan
sampah-sampah yang mengambang dan terapug, misalnya batang-
batangan dan cabang-cabang kayu mungkin ada terikut dalam air
baku. Pada tahap penyaringan ini terdapat dua macam saringan yaitu
saringan kasar yang dipergunakan untuk melindungi pompa terhadap
bahan-bahan padat yang mengambang dan saringan halus yang
dipergunakan untuk membuang bahan-bahan yang mengambang dan
terapung.

2.1.4.2. Bak Pengendapan Awal (Prassedimentation)

Air baku dari bangunan intake di pompakan ke bangunan


prasedimentasi. Bangunan prasedimentasi berfungsi untuk
pengendapan awal berupa partikel kasar (iskrit) dan lumpur yang
tebawa aliran dari pompa intake secara gravitasi tanpa bahan
penambahan bahan koagulan serta berfungsi untuk meredam
masuknya air baku secara berlebihan beban kejut (shock loading) ke
unit proses koagulasi akibat fluktuasi kekeruhan air baku pada
musim hujan atau sungai dalam keadaan banjir. Untuk mencegah
pertumbuhan alga dan menurunkan kandungan zat organik dilakukan
proses; desinfeksi (pre chlorination) pada bak prasedimentasi ini.

2.1.4.3. Koagulasi

Koagulasi adalah proses penetralan koloid-koloid yang


umumnya bermuatan negatif dengan cara penambahan bahan kimia
yang bermuatan positif sehingga terjadi pembentukan flok-flok yang
akan mempercepat proses pengendapan dan penjernihan air. Proses
koagulasi flokulasi dipakai untuk memisahkan padatan tersuspensi
bermuatan negatif akan bergabung dengan koagulan yang bermuatan
positif dan membentuk pengelompokan yang berukuran lebih besar
15

dan berat selanjutnya mengendap. Flokulasi adalah suatu mekanisme


prinsipil dalam membentuk flok-flok untuk menghilangkan
kekeruhan air. Pertumbuhan flok sangat bergantung pada 2 faktor
yaitu gaya kimia antar molekul dan proses pengadukan.

Koagulator berfungsi untuk mempercepat dan meratakab


pencampuran koagulan yang digunakan dengan air baku. Bak
koagulasi berfungsi untuk proses pengadukan cepat antara air baku
dengan koagulan. Proses ini dilakukan dengan memanfaatkan energi
yang ada pada terjunan air (Hydraulic jump) pada coagulation
chamber. Sedangkan injeksi bahan kimia (PAC/tawas dan Soda Ash)
dilakukan pada pipa ND 800 mm melalui pompa dosing pada
bangunan chemical.

2.1.4.4. Flokulasi (flokulator)

Bak flokulasi berfungsi untuk proses pengadukan lambat


terhadap air hasil proses koagulasi. Pada proses ini flok flok yang
berukuran kecil akan diperbesar dengan cara penggabungan satu flok
dengan flok lainnya sehingga menghasilkan suatu flok berukuran
besar dan mudah mengendap. Proses penggabungan flok tersebut
berlangsung pada lubang-lubang plat beton (concrete perforated
plate) yang disusun sejajar 5 (lima) lapis dengan pola air dari atas
menuju ke bawah. Flok-flok yang telah membesar dan berat dapat
langsung mengendap pada sludge hopper.

2.1.4.5. Settling Tank

Settling tank berfungsi untuk mengendapkan flok-flok yang


sudah terbentuk pada proses flokulasi. Flok-flok yang telah
mempunyai ukuran yang lebih besar tersebut kemudian dialirkan ke
bak pengendap (settling tank) melalui 3 (tiga) unit perforated pipe
yang diletakkan sejajar berdiameter 600 mm. Klarifikasi merupakan
proses pengendapan akhir dari flok-flok yang terbentuk pada proses
flokulasi setelah air keluar dari perforated pipe. Proses ini
16

berlangsung pada settling tank yang menerapkan pola aliran air ke


atas (up-flow pattern).

Flok-flok yang telah membesar dan berat dapat langsung


mengendap pada sludge hopper setiap modul settling tank, tetapi
flok-flok kecil dan ringan yang ikut aliran ke atas akan ditahan oleh
tube settlers yang merupakan media berbentuk sarang lebah (honey
comb) yang gunanya untuk memperluas bidang kontak antar flok
flok kecil dan ringan.

2.1.4.6. Filtrasi

Filtrasi berfungsi untuk menyaring sisa-sisa flok yang sangat


kecil dan ringan yang tidak mengendap dan tidak tertahan oleh tube
settler pada proses sedimentasi di settling tank. Flok flok tersebut
ikut dalam aliran masuk ke V-notch gutter. Proses filtrasi ini
berlangsung secara paralel 8 kompartamen filtration beds.

Pada setiap filtration bed, proses penyaringan flok akan


dilakukan oleh media filter sedangkan sistem under-drain filter
menggunakan nozzle yang dipasang secara merata pada plat baja
dengan ketebalan 10 mm. Pada setiap filtration bed, proses
penyaringan flok akan dilakukan oleh media filter sedangkan sistem
under-drain filter menggunakan nozzle yang dipasang secara merata
pada plat baja dengan ketebalan 19 mm.

Setiap tangki filter dioperasikan pada debit konstan, dengan


ketinggian muka air diatas media filter bervariasi. Untuk
menormalkan kembali efektivitas penyaringan akibat terjadinya
penyumbatan pada media filter setiap unit filter, maka secara berkala
media filter akan dilakukan pencucian dengan sistem aliran balik
(backwashing) dengan menggunakan udara dan air dari clearwell.
Air hasil proses filtrasi disalurkan kedalam tangki selanjutnya secara
over flow mengalir ke clear well.
17

2.1.4.7. Netralisasi

Desinfeksi dipergunakan untuk membunuh mikroorganisme


phatogen yang mungkin ada dalam air. Lebih dari 50% phatogen
didalam air akan mati dalam waktu 2 hari dan 90% akan mati pada
akhir 1 minggu, serta ada beberapa jenis phatogen mungkin tetap
hidup selama 2 tahun atau lebih karena itu dibutuhkan desinfeksi.
Klorin telah tertbukti merupakan desinfektan yang ideal. Di unit
netralisasi ini juga ditambahkan soda ash. Karena pada penambahan
koagulan di unit koagulasi menurunkan nilai pH sehingga tidak
sesuai dengan standart. Penambahan soda ash ini bertujuan untuk
menaikkan pH agar sesuai dengan standart.

2.1.4.8. Reservoir

Reservoir merupakan tempat penyimpanan terakhir air yang


telah bersih dan untuk digunakan. Setelah air jernih dan bersih
kemudian air dialirkan ke tempat penampungan yang selanjutnya
akan distribusikan sesuai dengan keperluan.

2.1.5. Tawas dan Sifat-sifatnya


Alum adalah sejenis koagulan dengan rumus kimia Al2(SO4)3, 14
H2O atau 16 H2O atau 18 H2O umumnya yang digunakan adalah 14
H2O. Alum merupakan bahan koagulan yang paling banyak
digunakan, karena bahan ini paling ekonomis, mudah diperoleh
dipasaran serta mudah penyimpanannya. Jumlah pemakaian alum
tergantung pada turbidity (kekeruhan) air baku. Semakin tinggi
turbidity air baku maka semakin besar jumlah alum yang
dibutuhkan. Pemakaian alum juga tidak terlepas dari sifat-sifat kimia
yang dikandung oleh air baku tersebut (Margaretha dkk, 2012).
Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut :
Al2(SO4)3 2 Al +3 + 3 (SO4) -2
18

Air akan mengalami :


H2O H+ + OH-

Selanjutnya:
2 Al 3+ + 6 OH- 2 Al (OH)3
Selain itu akan dihasilkan asam:
3 (SO4) -2 + 6 H+ 3 H2SO4
Dengan demikian semakin banyak dosis alum yang
ditambahkan maka pH akan semakin turun, karena dihasilkan asam
sulfat sehingga perlu dicari dosis alum yang efektif antara pH 5,8
7,4. (Margaretha dkk, 2012)
Apabila alkalinitas dalam air cukup, maka terjadi reaksi:
Al2(SO4)3 + 3 Ca(HCO3)2 2 Al(OH)3 + 3 CaSO4 + 6 CO2
Alkalinitas adalah gambaran kapasitas air untuk
menetralkan asam, atau kuantitas anion didalam air yang dapat
menetralkan kation hidrogen. Penyusun alkalinitas air adalah anion
biokarbonat (HCO3-), karbonat (CO32), dan hidroksida (OH-). Dari
ketiga ion tersebut, bikarbonat paling banyak terdapat pada
perairan alami. Dan kation utama yang mendominasi perairan
tawar adalah kalsium (Ca2+) dan magnesium (Mg2+) (Sutapa,2014).
Apabila alkalinitas alami dari air tidak cukup untuk
bereaksi dengan alum perlu ditambahkan alkalinitas, biasanya
ditambahkan larutan kapur (Ca(OH)2) (Kristijarti dkk,2013).
Reaksi yang terjadi:
Al2(SO4) + 3 Ca(OH)2 2 Al(OH)3 + 3 CaSO4
Koagulan yang berbasis aluminium seperti aluminium
sulfat dan poly aluminium klorida yang digunakan pada pengolahan
air minum untuk memperkuat penghilangan materi partikulat,
koloid dan bahan-bahan terlarut lainnya melalui proses koagulasi.
Pemakaian alum sebagai koagulan dalam pengolahan air sering
menimbulkan konsentrasi aluminium yang lebih tinggi dalam air
19

yang diolah dari pada dalam air baku itu sendiri (Kristijarti
dkk,2013).
Beberapa sifat dari alum tawas yaitu:
a. Bentuk bongkahan atau bubuk berwarna putih.
b. Kelarutan dalam air 700 gr/l.
c. Larut dalam air, bereaksi asam dan bersifat korosif.
d. Tidak mudah terbakar.
e. Larutannya berbahaya bagi paru-paru, mata, dan kulit.
f. Bila debunya terhisap menimbulkan rasa nyeri pada alat
pernapasan.
g. Bila larutan tersebut terkena mata akan menimbulkan rasa pedih.
h. Harga relatif lebih murah.

2.1.6. PAC dan Sifat-sifatnya


PAC adalah garam yang dibentuk oleh aluminium-
aluminium chlorida yang khusus diperuntukan guna memberdaya
koagulasi dan flokulasi( penggumpalan ). PAC bekerja dengan
jangkauan pH yang luas dibandingkan dengan tawas. Keefektifan
PAC biasanya pada pH 6-9 (Margaretha dkk, 2012).
PAC dalam air dirumuskan menjadi:
2 Al(OH)Cl2 + 4 H2O 2Al(OH)3 + 4 HCl
PAC sebenarnya merupakan suatu senyawa kompleks
berinti banyak dari ion-ion Aluminium yang terpolimerisasi yaitu
suatu jenis dari polimer senyawa organik. PAC dengan arti vital
yang kuat mengumpulkan setiap zat-zat yang tersuspensi atau yang
secara koloid tersuspensi dalam air, membentuk flok-flok (kepingan
gumpalan-gumpalan) yang mengendap dengan cepat membentuk
sluge (Lumpur endapan) yang dapat di saring dengan mudah. Air
merupakan satu-satunya senyawa yang merenggang ketika
membeku. Pada saat membeku, air merenggang sehingga es
mimiliki nilai densitas (massa/volume) yang lebih rendah dari pada
20

air. Dengan demikian es akan mengapung di air. Densitas air


maksimun sebesar 1 g/cm3 terjadi pada suhu 3.95oC (Sutapa,2014).
Beberapa keunggulan yang dimiliki PAC dibanding
koagulan lainnya adalah :
a. PAC dapat bekerja di tingkat pH yang lebih luas, dengan
demikian tidak diperlukan pengoreksian terhadap pH, terkecuali
bagi air tertentu.
b. Kandungan belerang dengan dosis cukup akan mengoksidasi
senyawa karboksilat rantai siklik membentuk alifatik dan gugusan
rantai hidrokarbon yang lebih pendek dan sederhana sehingga
mudah untuk diikat membentuk flok.
c. Kadar khlorida yang optimal dalam fasa cair yang bermuatan
negatif akan cepat bereaksi dan merusak ikatan zat organik
terutama ikatan karbon nitrogen yang umumnya dalam struktur
ekuatik membentuk suatu makromolekul terutama gugusan protein,
amina, amida dan penyusun minyak dan lipida.
d. PAC tidak menjadi keruh bila pemakaiannya berlebihan,
sedangkan koagulan yang lain (seperti alumunium sulfat, besi
klorida dan fero sulfat) bila dosis berlebihan bagi air yang
mempunyai kekeruhan yang rendah akan bertambah keruh.
e. PAC mengandung suatu polimer khusus dengan struktur
polielektrolite yang dapat mengurangi atau tidak perlu sama sekali
dalam pemakaian bahan pembantu, ini berarti disamping
penyederhanaan juga penghematan untuk penjernihan air.
f. Kandungan basa yang cukup akan menambah gugus hidroksil
dalam air sehingga penurunan pH tidak terlalu ekstrim sehingga
penghematan dalam penggunaan bahan untuk netralisasi dapat
dilakukan.
21

2.1.7. Soda Ash dan Sifat-Sifatnya


Soda ash merupakan garam yang berasal dari asam lemah
dan basa kuat yang apabila dilarutkan dalam air (dehidrolisasi)
akan menghasilkan larutan yang bersifat basa (Svehla,1985).
Hidrolisasi soda ash berlangsung dalam 2 tahap, yaitu :
Na2CO3 2 Na+ + CO3 -
CO32- + H2O HCO3- + OH-
HCO3- + H2O H2CO3 + OH-
Jika ditinjau dari kationnya, soda ash memiliki kation
berupa logam alkali yaitu natrium yang mempunyai kecendrungan
melepas suatu elektron. Akibatnya unsur ini bersifat logam yang
disebut dengan logam alkali, karena oksidasinya dalam air
berbentuk larutan basa (alkalis) (Syukri,1999).
Tabel 2.1. spesifikasi Soda Ash
No Karakteristik Na2CO3

1 Penampakan Padatan kecil putih

2 Densitas 2,54 g/cm3

3 Titik leleh 851oC

4 Titik didih 1600oC

5 Kelarutan dalam air 30 g/100 ml (20oC)

Sumber : Syukri,1999
Dalam pengolahan air, soda ash ditambahkan dengan dosis
tertentu yang berfungsi untuk menaikkan pH. Penambahan soda
ash yang berlebih akan menaikkan pH air yang tinggi sedangkan
kurangnya soda ash mengakibatkan pH rendah sehingga harus
ditambahkan sesuai dengan kebutuhan (Syukri,1999).
22

Soda ash bentuknya seperti tepung kasar dan berwarna


putih. Soda ash juga disebut dengan Natrium Karbonat (Na2CO3)
yang memiliki titik lebur yaitu 850oC (Syukri,1999).
Soda ash atau natrium karbonat memiliki sifat :
a. Menghisap air (higroskopis)
b. Mengeras akibat penyimpanan yang lama
c. Harus disimpan dalam ruangan yang udaranya bebas bergerak.
(Syukri,1999)
2.1.8. Faktor Yang Mempengaruhi Proses Koagulasi
Adapun faktor faktor mempengaruhi proses koagulan
adalah pH, temperatur, dosis koagulan (Kordi dan Tancung,2005).
Tabel 2.2. Zat-zat kimia yang dapat dipergunakan sebagai koagulan.
Reaksi Nilai
Nama kimia Rumus kimia Wujud Dengan Skala pH
Air
- Al2(SO4)3.14H2O
Aluminium Bongkah, 4,5 8
- Al2(SO4)3.16H2O Asam
sulfat (alum) bubuk
- Al2(SO4)3.16H2O
Sodium NaAlO2 atau 6,0 7,8
Bubuk Basa
aluminat Na2Al2O4
Poly Aluminium Cairan, 6,0 7,8
Aln(OH)mCln-m Asam
Chloride (PAC) bubuk
Kristal 49
Ferri sulfat Fe2(SO4)3.9H2O Asam
halus
Bongkah, 49
Ferri klorida FeCl3.6H2O Asam
cairan
Kristal Asam >8,5
Ferro sulfat FeSO4.7H2O
halus
Sumber : Mulyadi, 2007
23

Yang didasarkan pada faktor pemilihan koagulan yaitu,


kualitas dari raw water, kualitas yang dikehendaki sesuai dengan
penggunaan, lebih jelas dapat dijelaskan sebaga berikut:
a. pH
pH merupakan salah satu faktor yang menentukan proses
koagulasi. Pada koagulan ada daerah yang optimum, dimana
koagulasi akan terjadi dalam waktu yang sangat singkat dengan
dosis koagulan tertentu. Luasnya range pH koagulan ini
dipengaruhi oleh jenis koagulan dan konsentrasi koagulan yang
dipakai. Hal ini penting untuk menghindari adanya kelarutan
koagulan. Untuk proses koagulasi pH. Untuk proses koagulasi pH
yang terbaik berkisar 7,0 (pH netral) sehingga air yang dihasilkan
tidak mempunyai pH yang rendah (Kordi dan Tancung,2005).
b. Temperatur
Pada temperatur air yang rendah kecepatan reaksi lebih
lambat dan apabila viscositas air lebih besar maka makroflok lebih
sukar mengendap (Kordi dan Tancung,2005).
c. Dosis koagulan
Air yang turbidity tinggi memerlukan dosis koagulan yang
lebih banyak. Hal ini disebabkan kerena dalam air yang
mempunyai turbidity tinggi, kemungkinan terjadi tumbukan antara
partikel atau lebih besar. Dosis koagulan yang kurang
menyebabkan tumbukan antara partikel akan dan netralisasi
muatan tidak sempurna, sehingga mikroflok yang terbentuk hanya
sedikit akibatnya akan naik. Dosis koagulan yang berlebihan akan
menimbulkan efek samping pada partikel sehingga turbidity akan
naik (Kordi dan Tancung,2005).
d. Pengadukan (mixing)
Baiknya proses koagulan juga ditentukan oleh pengadukan.
Pengadukan diperlukan agar tumbukan antara partikel menjadi
sempurna. Distribusi air yang baik dan merat serta masukan energi
24

yang cukup untuk tumbukan antara partikel partikel yang netral


sehingga terbentuk terbentuk mikroflok. Air yang memiliki
turbidity rendah memerlukan pengadukan yang lebih cepat
dibandingkan air yang mempunyai turbidity tinggi. (Kordi dan
Tancung,2005)
e. Garam garam
Garam garam dapat juga mempengaruhi suatu proses
koagulasi. Pengaruh yang diberikan oleh garam akan berbeda
beda tergantung macam garam ion dan konsentrasinya. Semakin
besar valensi ion akan semakin besar pengaruhnya terhadap
koagulan (Kordi dan Tancung,2005).

2.1.9. Mekanisme Pengendapan


Turbidity (kekeruhan) terjadi disebabkan oleh adanya zat
zat kloid yaitu zat yang terapung serta terurai secara halus, jasad
jasad renik, lumpur, tanah liat dan zat kloid yang serupa atau benda
yang terapung yang tidak menegendap dengan segera. Kerana tiap
tiap zat terapung itu dilapisi oleh air sehingga dengan adanya
penguraian hidrolisis butiran itu sama mengandung muatan listrik
yang negatif. Dengan adanya muatan listrik yang bersamaan itu
maka butiran lumpur halus tadi akan selalu saling tolak menolak
kesegala arah, dengan demikian butiran lumpur tersebut senantiasa
bergerak dan tidak mengendap (Kordi dan Tancung,2005).
Untuk menghilangkan (menetralisasi) muatan listrik negatif
tersebut, diperlukan ion dengan muatan listrik yang positif, yaitu
dalam hal ini ion H+. Untuk mendapatkan ion H+ dengan muatan
listrik positif, biasanya digunakan koagulan yang larut dalam air
dan terurai sebagai berikut:
Dalam air Aluminium Sulfat akan menghasilkan:
Al2(SO4)3 2Al3+ + 3SO42-
25

Ion OH diperoleh dari ionisasi air, sebagai berikut:


H2O H+ + OH-
Selanjutnya ion Al3+ bereaksi dengan ion OH-
2Al3+ + 6OH- 2Al(OH)3
Selain terbentuknya aluminium hidroksida akan terbentuk pula
asam sulfat
3SO42- + 6H+ 3H2SO4
Maka reaksi yang terjadi secara umum adalah sebagai berikut:
Al2(SO4)3 + 6H2O 2Al(OH)3 + 3H2SO4
Dan PAC yang secara umum dalam air menjadi :
2Al(OH)Cl2(s) + 4H2O2(l) Al(OH)3(s) + 4HCl(l).
Ion H+ dengan muatan listrik positif inilah yang
menetralisir butiran lumpuran lumpur halus yang bermuatan listrik
negatif. Gerakannya berhenti, berkelompok kelompok menjadi
keping keping besar dan mengendap bersama Aluminium
Hidroksida. Masing masing molekul tersebut akan berkumpul
membentuk gumpalan yang besar. Partikel tersuspensi dalam air
akan menempel satu dengan lainnya sehingga gumpalan akan
bertambah besar dan akan mengendap (Margaretha dkk, 2012).
2.2. Kajian Penelitian yang Relevan
2.1.1. Intan Purnama Sari (2016) meneliti PENGARUH JENIS
KOAGULAN TERHADAP KEBUTUHAN SODA ASH YANG
DIGUNAKAN PADA UNIT NETRALISASI DALAM
PROSES PENGOLAHAN AIR DI PDAM TIRTANADI
LIMAU MANIS TANJUNG MORAWA, kesimpulan dari
penelitian ini yaitu pada proses penjernihan air digunakan koagulan
yang berbeda menggunakan tawas dan PAC. Tawas dan PAC
memiliki kadar keasaman yang berbeda yang akan mempengaruhi
keasaman air tersebut. Untuk menurunkan kadar pH yang sesuai
standart mutu kualitas air bersih yaitu dengan menambahkan soda
ash di unit netralisasi pada proses pengolahan air. Pada percobaan
26

ini menggunakan dosis tawas 30 ppm untuk mendapatkan pH yang


sesuai dengan standart mutu dengan penambahan dosis soda ash 8
ppm maka didapatkan pH 7,0. Pada pemakaian dosis PAC 20 ppm
untuk mendapatkan pH yang sesuai dengan standart mutu dengan
penambahan dosis soda ash 4 ppm maka di dapatkan pH 7,1.
2.1.2. Sartika Purba (2015) meneliti PERBANDINGAN
EFEKTIVITAS POLY ALUMINIUM CHLORIDE (PAC) DAN
TAWAS DALAM MENURUNKAN TURBIDITY
(KEKERUHAN) DAN DERAJAT KEASAMAAN (PH) PADA
TURBIDITY 590 NTU, kesimpulan dari penelitian ini yaitu PAC
memiliki kemampuan yang lebih bagus dalam menurunkan air
dibanding tawas, dimana pada dosis 29 ppm kekeruhan air yang
ditambahkan PAC 0,09 NTU, sedangkan pada air yang ditmbahkan
tawas 2,35 NTU (tidak memenuhi syarat air minum). Tetapi
perubahan pH antara kedua jenis koagulan tersebut, tawas lebih
efektif menurunkan pH dibandingkan PAC.
2.3. Kerangka Konseptual

Air Baku

Proses penambahan PAC


dan tawas

Unit Flokulasi

Unit Sedimentasi

Unit Filtrasi

Unit Netralisasi,proses
penambahan soda ash