Anda di halaman 1dari 25

MATA PELAJARAN :

MEKANISME TRANSAKSI TENAGA LISTRIK

TUJUAN PELAJARAN : Setelah mengikuti pelajaran Mekanisme


Transaksi Tenaga Listrik peserta
diharapkan mampu menjelaskan tata cara
melakukan transaksi ketenagalistrikan.

DURASI : 8 JP

Simple Inspiring Performing Phenomenal i


DAFTAR ISI

TUJUAN PELAJARAN ................................................................................................................... i


DAFTAR ISI................................................................................................................................. ii
DAFTAR GAMBAR..................................................................................................................... iii
DAFTAR TABEL ......................................................................................................................... iv
MEKANISME TRANSAKSI TENAGA LISTRIK ................................................................................1
1. Struktur Pasar Tenaga Listrik.............................................................................................1
1.1. Monopoli ...........................................................................................................................2
1.2. Single Buyer .......................................................................................................................2
1.3. Wholesale Competition.....................................................................................................3
1.4. Retail Competition ............................................................................................................4
1.5. Regulasi dan Pasar Tenaga Listrik di Indonesia .................................................................6
2. Proses Bisnis Tenaga Listrik ...............................................................................................9
2.1. Pola Transaksi Tenaga Listrik .............................................................................................9
2.2. Proses Transaksi Tenaga Listrik .......................................................................................11
3. Pengukuran Transaksi .....................................................................................................13
3.1 Sistem Pengukuran Transaksi..........................................................................................13
3.2 Titik Pengukuran Transaksi .............................................................................................13
3.3 Alat Pengukuran Transaksi ..............................................................................................14
3.4 Cara Pengambilan Data Transaksi ...................................................................................14
3.5 Pengolahan Data Pengukuran .........................................................................................15
3.6 Penggunaan Hasil Pengukuran ........................................................................................16
3.7 Berita Acara Pengiriman Tenaga Listrik ..........................................................................17
4. Operasi Sistem Tenaga Listrik .........................................................................................17
4.1. Operasi Sistem ................................................................................................................17
4.2. Kriteria Operasi Sistem ....................................................................................................18
4.3. Aspek Ekonomi Operasi Sistem .......................................................................................20

Simple Inspiring Performing Phenomenal ii


DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Penyaluran tenaga listrik.................................................................................... 1


Gambar 2 Struktur Single Buyer ......................................................................................... 3
Gambar 3 Struktur wholesale competition ........................................................................ 4
Gambar 4 Struktur retail competition ................................................................................ 5
Gambar 5 Pola transaksi struktur single buyer ................................................................. 10
Gambar 6 Alur Proses Transaksi Tenaga Listrik ................................................................ 12
Gambar 7 Lokasi titik pengukuran .................................................................................... 14

Simple Inspiring Performing Phenomenal iii


DAFTAR TABEL

Tabel 1 Perbandingan berbagai struktur pasar listrik ......................................................... 5

Simple Inspiring Performing Phenomenal iv


MEKANISME TRANSAKSI TENAGA LISTRIK

1. Struktur Pasar Tenaga Listrik


Secara fisik, bisnis tenaga listrik dibagi dalam tiga bagian, yaitu pembangkitan,
transmisi, dan distribusi. Tenaga listrik yang diperlukan oleh konsumen akhir
dibangkitkan oleh pembangkit, disalurkan melalui sistem penyaluran (transmisi)
dan didistribusikan melalui jaringan distribusi seperti pada Gambar 1.

Gambar 1 Penyaluran tenaga listrik

Pasar tenaga listrik adalah interaksi antara pembeli tenaga listrik dan penjual
tenaga listrik. Struktur pasar tenaga listrik adalah penggolongan sistem penjualan
dan pembelian tenaga listrik berdasarkan banyaknya perusahaan dalam industri,
mudah tidaknya keluar atau masuk kedalam industri.
Struktur pasar tenaga listrik pada dasarnya dapat dibagi menjadi 4 tingkatan,
sebagai berikut :
Monopoli
Single Buyer
Wholesale
Retail
Keempat struktur tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :

Simple Inspiring Performing Phenomenal 1


1.1. Monopoli

Struktur pasar monopoli adalah suatu struktur pasar dimana penjualan di suatu
daerah atau area di monopoli oleh satu perusahaan. Pada bisnis tenaga listrik,
perusahaan yang mempunyai monopoli umumnya berbentuk integrasi vertical,
yaitu semua fungsi, mulai dari pembangkit sampai penjualan ke konsumen akhir
di laksanakan oleh satu perusahaan. Pada struktur ini, tidak ada persaingan di
sisi pembangkitan dan tidak ada pilihan untuk menentukan pemasok.
Perusahaan monopoli menangani bisnis tenaga listrik dari sisi pembangkitan
sampai dengan distribusinya.
Struktur monopoli mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
a. Suplai dari vertically integrated utility
b. Penerapan kebijakan energi pemerintah lebih mudah
c. Proses perencanaan terpusat
d. Accountability dan cost transparency rendah
e. Tidak ada kompetisi
Dalam struktur monopoli tidak ada ada jual beli, kecuali antar utilitas.
Kebutuhan tenaga listrik meningkat terus seiring dengan perkembangan beban
(demand), yang berakibat meningkatnya kebutuhan investasi untuk
pembangunan pembangkit, transmisi, dan distribusi. Kebutuhan investasi yang
besar tidak dapat lagi ditanggung sendiri oleh sistem monopoli yang umumnya
dikelola oleh institusi milik pemerintah yang memonopoli bisnis tenaga listrik
tersebut. Kebutuhan investasi yang besar dan tuntutan akan aspek transparansi
dan effisiensi menyebabkan sistem monopoli tidak dapat dipertahankan lagi.

1.2. Single Buyer

Struktur Pembeli Tunggal (Single Buyer) merupakan perkembangan dari struktur


monopoli, yang ditandai dengan adanya kompetisi pada fungsi pembangkitan.
Pada struktur ini, akses transmisi tidak dibuka dan Single Buyer masih
memonopoli jaringan transmisi dan penjualan tenaga listrik ke konsumen.
Struktur Single Buyer mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :

Simple Inspiring Performing Phenomenal 2


Gambar 2 Struktur Single Buyer

a. Terdapat kompetisi di sisi pembangkitan


b. Hanya Single Buyer boleh membeli dari pembangkit
c. Memerlukan kontrak jangka panjang antara pembangkit dan Single
Buyer
d. Resiko pasar dan resiko perkembangan teknologi diteruskan (pass-
through) ke pelanggan
Dalam struktur Single Buyer terdapat Power Purchase Agreement, Transmission
Service Agreement dan Power Sales Agreement.

1.3. Wholesale Competition

Perusahaan Distribusi (Distribution Company, Disco) bisa membeli langsung


tenaga listrik dari perusahaan pembangkit yang disalurkan melalui jaringan
transmisi, dengan demikian akses transmisi harus dibuka. Perusahaan Distribusi
masih punya monopoli penjualan tenaga listrik ke konsumen.
Struktur Wholesale Competition mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
a. Terdapat kompetisi di sisi pembangkitan
b. Disco berhak membeli langsung dari pembangkit
c. Akses penggunaan jaringan transmisi dibuka
d. Memerlukan kontrak penggunaan jaringan transmisi
Struktur 3: Transmission Service Agreement, Bidding melalui Pool, Ancillary
Service Agreement, Kontrak Finansial (mis. Contract for Differences / CfDs)

Simple Inspiring Performing Phenomenal 3


Gambar 3 Struktur wholesale competition

1.4. Retail Competition

Konsumen mempunyai pilihan untuk membeli tenaga listrik. Akses transmisi dan
distribusi harus dibuka. Perusahaan distribusi terpisah dengan Perusahaan
Retail. Antara Perusahan Retail ada kompetisi.
Struktur Retail Competition mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
a. Kompetisi di pembangkitan dan ritel
b. Konsumen ritel berhak memilih pemasok
c. Akses ke jaringan distribusi dibuka
d. Perlu kontrak penggunaan distribusi
e. Tidak ada perencanaan terpusat, investasi oleh pelaku pasar atas
sinyal dari pasar
f. Financial contracts berkembang dengan sendirinya untuk mengurangi
resiko pasar
Stuktur 4: = Struktur 3 + Distribution Service Agreement

Simple Inspiring Performing Phenomenal 4


Gambar 4 Struktur retail competition

Perbandingan berbagai struktur di atas dapat dilihat pada Tabel


Tabel 1 Perbandingan berbagai struktur pasar listrik

Struktur 1 Struktur 2 Struktur 3 Struktur 4

Karakteristik Agen Kompetisi Kompetisi


Monopoli
Pembelian Wholesale Retail

- Kompetisi sisi -Kompetisi sisi -Kompetisi sisi


Monopoli di semua Pembangkitan Pembangkitan Pembangkitan
Definisi
sektor - Pembeli Tunggal -Dist. punya pilihan -Kon. punya pilihan

Kompetisi
Tidak Ya Ya Ya
Pembangkitan

Pilihan untuk
Tidak Tidak Ya Ya
Retailer

Pilihan untuk
Tidak Tidak Tidak Ya
Konsumen

Simple Inspiring Performing Phenomenal 5


1.5. Regulasi dan Pasar Tenaga Listrik di Indonesia

1.5.1. Regulasi

Macam regulasi yang mengatur ketenagalistrikan di Indonesia adalah :


a. Undang-undang Ketenagalistrikan (UUK)
b. Peraturan Pemerintah (PP)
c. Peraturan Presiden (PerPres)
d. Peraturan Menteri (PerMen)
UUK adalah regulasi yang tertinggi, telah mengalami perubahan sebagai berikut:
a. UUK No. 15/1985
b. UUK No. 20/2002.
c. Dibatalkan oleh Mahkamah Konstitusi. Regulasi kembali ke UUK No.
15/1985
d. UUK No. 30/2009, ditandatangani oleh Presiden RI tanggal 23
September 2009.
Intisari dari UUK No 30/2009 yang berlaku saat ini adalah sebagai berikut :
a. Tidak ada Pemegang Kuasa Usaha Ketenagalistrikan (PKUK), PLN tidak
lagi memonopoli bisnis tenaga listrik.
b. Usaha penyediaan tenaga listrik untuk kepentingan umum meliputi jenis
usaha :
pembangkitan tenaga listrik;
transmisi tenaga listrik;
distribusi tenaga listrik; dan/atau
penjualan tenaga listrik
Usaha penyediaan tenaga listrik tersebut dapat dilakukan secata terpisah
(separately) atau terintegrasi (integrated)
c. Pihak yang dapat berpartisipasi dalam bisnis tenaga listrik adalah : Badan
Usaha Milik Negara (BUMN), Badan Usaha Milik Daerah (BUMD),
swasta, koperasi, dan swadaya masyarakat
d. Struktur pasar tenaga listrik adalah Single Buyer, tidak ada pasar
kompetisi
e. Subsidi diberikan oleh Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah
f. Pemerintah Pusat menentukan wilayah kerja untuk distribusi dan/atau
penjualan tenaga listrik, dan terintegrasi

Simple Inspiring Performing Phenomenal 6


g. Dalam satu wilayah usaha, tarif listrik bisa berbeda
h. Penyediaan tenaga listrik dikuasai oleh negara yang penyelenggaraannya
dilakukan oleh Pemerintah dan Pemerintah Daerah berlandaskan prinsip
otonomi daerah. Pemerintah dan Pemerintah Daerah menyediakan dana
untuk :
- kelompok masyarakat tidak mampu;
- pembangunan sarana penyediaan tenaga listrik di daerah yang
belum berkembang;
- pembangunan tenaga listrik di daerah terpencil dan perbatasan; dan
- pembangunan listrik pedesaan.
i. BUMN diberi prioritas pertama melakukan usaha penyediaan tenaga
listrik untuk kepentingan umum.
j. BUMN wajib melistriki suatu daerah bila tidak ada institusi kelistrikan yang
melayani daerah tersebut.
k. Rencana umum ketenagalistrikan nasional disusun berdasarkan pada
kebijakan energi nasional, dan ditetapkan oleh Pemerintah setelah
berkonsultasi dengan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia.
Rencana umum ketenagalistrikan daerah disusun berdasarkan pada
rencana umum ketenagalistrikan nasional dan ditetapkan oleh
Pemerintah Daerah setelah berkonsultasi dengan Dewan Perwakilan
Rakyat Daerah.
1.5.2. Pasar Listrik di Indonesia

Struktur pasar tenaga listrik di Indonesia pada awalnya adalah monopoli dan
berubah ke model Single Buyer sejak tahun 1996, ditandai dengan mulai
beroperasinya pembangkit listrik swasta (Independent Power Producer, IPP).
PLN sebagai satu-satunya BUMN kelistrikan dan Pemegang Kuasa Usaha
Kelistrikan di Indonesia (PKUK) diberi kewenangan untuk bertindak sebagai
pembeli tunggal (Single Buyer).
Sebagai pembeli tunggal maka PLN bisa membeli tenaga listrik dari Anak
Perusahaan maupun IPP dan menyalurkannya ke konsumen melalui jaringan
transmisi dan distribusi yang asetnya masih milik PLN.
Di internal PLN sendiri institusi/bidang yang terkait dengan penanganan fungsi
single buyer dapat dijelaskan dibawah ini :

Simple Inspiring Performing Phenomenal 7


i. Struktur Monopoli
Sampai dengan Tahun 1995 kelistrikan di Indonesia dimonopoli oleh PLN yang
mengoperasikan sistem tenaga listrik dari pembangkitan sampai dengan
distribusinya.
ii. Stuktur Single Buyer, diuraikan sebagai berikut :
a. 1996-2000
Dengan mulai beroperasinya IPP maka era monopoli berakhir. Pasar
tenaga listrik di Indonesia beralih ke model Single Buyer. Yang
melaksanakan Fungsi Single Buyer adalah institusi transmisi yaitu PLN
P3B.
b. 2001-2003
Pada periode ini Fungsi Single Buyer dilaksanakan oleh PLN Pusat.
Untuk mengantisipasi UUK No. 20/2002, dimungkinkan pembentukan 3
institusi baru yang selama ini pengoperasiannya ditangani PLN P3B, yaitu
System Operator (SO), Transmission Owner (TO), dan Market Operator
(MO) yang ketiganya dikenal dengan SoToMo.
c. 2004-2006
Pada periode ini fungsi Single Buyer tetap di PLN Pusat. Wacana
SoToMo tidak berlanjut seiring dibatalkannya UUK 20/2002. Dengan
diberlakukannya bidding energy untuk alokasi energi pembangkit Anak
Perusahaani (AP), maka di PLN Pusat dibentuk fungsi IPP Trader.
Pembentukan IPP trader dimaksudkan agar pembangkit AP dan IPP
mendapat perlakuan yang sama (fair) dalam mendapatkan alokasi energi.
Dengan demikian IPP trader diharapkan dapat menjadi peserta dalam
bidding energy sebagai wakil IPP.
Pada era ini, PLN Distribusi/Wilayah telah banyak melakukan pembelian
tenaga listrik dari para pemasok skala kecil, seperti distibuted generation,
captive power, dan embeded generation.
d. 2007-sekarang
Fungsi Single Buyer tetap di PLN Pusat dan IPP Trader ditiadakan.
Pemasok tenaga listrik di sisi tegangan tinggi semakin beragam dengan
dibentuknya Unit Pembangkitan PLN. PLN juga membeli kelebihan
(excess) tenaga listrik dari Konsumen Tegangan Tinggi (KTT) yang
mempunyai/membangun pembangkit skala besar. Demikian juga di sisi

Simple Inspiring Performing Phenomenal 8


tegangan menengah dan tegangan rendah telah dibuka akses sebesar-
besarnya bagi pengembang pembangkitan tenaga listrik skala kecil yang
menggunakan energi terbarukan (renewable energy) untuk menjual
produknya kepada PLN.

2. Proses Bisnis Tenaga Listrik


2.1. Pola Transaksi Tenaga Listrik

Pada struktur pasar tenaga listrik model Single Buyer, pola transaksi antar fungsi
usaha penyediaan tenaga listrik dapat dikelompokkan ke dalam tiga pola
transaksi utama sebagai berikut :
a. Kesepakatan/Perjanjian Pembelian Tenaga Listrik (Power Purchase
Agreement, PPA) adalah kesepakatan atau perjanjian jual beli tenaga
listrik antara entitas Pembangkit sebagai penjual dan entitas Single Buyer
sebagai pembeli tenaga listrik.
b. Kesepakatan/Perjanjian Jasa Penggunaan dan Pelayanan Sistem
Transmisi (Transmission Service Agreement, TSA) adalah kesepakatan
atau perjanjian jasa penggunaaan dan pelayanan sistem transmisi tenaga
listrik antara pengelola transmisi sebagai entitas penyedia jasa transmisi
dan Single Buyer sebagai entitas penerima jasa transmisi.
c. Kesepakatan/Perjanjian Transfer atau Penjualan Tenaga Listrik (Power
Sale Agreement, PSA) adalah kesepakatan atau perjanjian transfer atau
penjualan tenaga listrik antara entitas Single Buyer sebagai penjual dan
identitas Ditribusi sebagai pembeli tenaga listrik.
Jangka waktu kesepakatan atau perjanjian PPA, TSA dan PSA bisa dalam
kerangka waktu jangka panjang (15-30 tahun), jangka menengah (5-10 tahun)
ataupun jangka pendek (1-3 tahun). Status legal transaksi dapat dalam bentuk
Perjanjian/Kontrak/Agreement bila para pihak/entitas yang bertransaksi berada
dalam status badan hukum yang berbeda/terpisah, contoh antara Perusahaan
Listrik Swasta (Independent Power Producers; IPP) dengan PT PLN (Persero).
Atau dalam bentuk Kesepakatan bila para pihak/entitas yang bertransaksi
berada dalam status badan hukum yang sama, contoh antara PLN Unit Bisnis
dengan PLN Kantor Pusat (Holding Company) yang memiliki status badan
hukum sama yaitu PT PLN (Persero). Dalam perjanjian PPA, TSA dan PSA,

Simple Inspiring Performing Phenomenal 9


ditetapkan mengenai besaran tarif dan parameter transaksi yang disepakati para
pihak/entitas yang bertransaksi.

Gambar 5 Pola transaksi struktur single buyer

Beberapa kesepakatan/perjanjian/aturan/code yang menjadi pedoman transaksi


tenaga listrik adalah :
- Kesepakatan/Perjanjian Jual Beli / Transfer Tenaga Listrik (PPA, PSA)
dan Kesepakatan/Perjanjian Jasa Penggunaan dan Pelayanan Transmisi
(TSA): memuat aspek teknis, legal, operasional dan komersial jual beli.
- Aturan Jaringan Sistem Tenaga Listrik (Grid Code): memuat tata cara
pemrosesan data transaksi, penagihan dan pembayaran serta
penyelesaian perselisihan.
- Aturan Transaksi Pembangkitan: memuat tata cara transaksi
pembangkitan, pemrosesan data transaksi, penagihan dan pembayaran
serta penyelesaian perselisihan transaksi di sistem pembangkitan.
- Standing Operating Procedure (SOP) Transaksi Tenaga Listrik: memuat
prosedur pengambilan dan pemrosesan data transaksi, prosedur
perhitungan dan penagihan serta penyelesaian perselisihan transaksi.
- Prosedur Tetap Deklarasi Kondisi Pembangkit dan Indeks Kinerja
Pembangkit: memuat prosedur deklarasi kondisi pembangkit dan

Simple Inspiring Performing Phenomenal 10


perhitungan indeks kinerja pembangkit yang terkait dengan aspek
operasional dan komersial jual beli tenaga listrik di sistem pembangkitan.
2.2. Proses Transaksi Tenaga Listrik

Proses transaksi tenaga listrik pada mekanisme niaga Single Buyer yang
diterapkan di PLN, mulai dari proses perencanaan pembangkitan, produksi
pembangkit real time, penyaluran ke jaringan transmisi sampai transfer tenaga
listrik ke distribusi dapat dijelaskan seperti pada Gambar di bawah dengan
tahapan proses sebagai berikut:
P3B sebagai operator sistem setiap bulan melakukan perencanaan
produksi tenaga listrik sesuai kebutuhan beban/demand tenaga listrik,
berdasarkan ketentuan kontrak jual beli tenaga listrik dari pembangkit
(PPA) terkait parameter biaya pembangkitan, ketentuan take or pay,
kesiapan pembangkit dan pertimbangan kendala serta kesiapan jaringan
transmisi. Hasil dari perencanaan poduksi adalah penjadwalan
pembangkit yang mencerminkan alokasi produksi tiap entitas pembangkit.
Perencanaan produksi pembangkitan ini bepedoman pada kriteria operasi
sistem yaitu: ekonomis, sekuriti dan andal.
P3B akan memerintahkan pembebanan (load dispatch) ke pembangkit
pada operasi real time berdasarkan hasil penjadwalan pembangkit, dan
pembangkit akan memproduksi tenaga listrik untuk disalurkan ke jaringan
transmisi sejumlah yang dialokasikan dalam perencanaan operasi harian
pembangkit.

Simple Inspiring Performing Phenomenal 11


Gambar 6 Alur Proses Transaksi Tenaga Listrik

Setelah operasi real time selama 1 (satu) bulan, maka pada awal bulan
berikutnya P3B melakukan pengumpulan data produksi pembangkit
melalui meter transaksi dan data operasi pembangkit terkait kesiapan
aktual pembangkit untuk transaksi PPA. Di sisi transmisi, P3B
mengumpulkan data operasional jaringan terkait kesiapan transmisi untuk
jasa transmisi (TSA), dan melakukan pengumpulan data transfer energi
ke distribusi melalui meter transaksi di gardu induk P3B untuk transaksi
PSA.
Berdasarkan data-data pada item c di atas, P3B melakukan perhitungan
transaksi yang menghasilkan nilai jumlah tagihan final transaksi terkait
PPA, PSA dan TSA.
Perusahaan pembangkit akan melakukan penagihan (invoicing) PPA ke
PLN Pusat selaku Single Buyer berdasarkan jumlah tagihan final sesuai

Simple Inspiring Performing Phenomenal 12


item d. PLN melaksanakan pembayaran atas jumlah tagihan/invoice dari
perusahaan pembangkit.
Berdasarkan item d, P3B mengajukan nilai jasa transmisi ke PLN Pusat
untuk diakui sebagai pendapatan P3B dan dicatat dalam laporan
keuangan P3B, sedangkan PLN Distribusi/Wilayah melaporkan biaya
transfer tenaga listrik PSA sebagai pembelian tenaga listrik dari P3B
untuk dicatat dalam laporan keuangan PLN Distribusi/Wilayah.
3. Pengukuran Transaksi
Pemanfaatan tenaga listrik memiliki suatu proses yang dimulai dari suatu sistem
pembangkitan, sistem penyaluran dan yang terakhir adalah suatu sistem
distribusi. Oleh karenanya selain dibutuhkan alat ukur tenaga listrik yang
digunakan untuk mengetahui besaran tenaga listrik yang dibangkitkan, disalurkan
dan digunakan, maka diperlukan pula suatu alat ukur yang dapat mengetahui
pemakaian tenaga listrik berdasarkan besaran waktu yaitu alat ukur tenaga listrik
yang terintegrasi dengan waktu yang disebut alat ukur energi listrik. Dengan
adanya alat ukur energi listrik yaitu seperti kWh meter dan kVArh meter, maka
proses pemanfaatan tenaga listrik yang dimulai dari sistem pembangkitan, sistem
penyaluran dan sistem distribusi dapat digunakan dalam suatu sistem transaksi
tenaga listrik.
3.1 Sistem Pengukuran Transaksi

Sistem pengukuran transaksi digunakan 2 buah kWh meter jenis elektronik yang
difungsikan sebagai Meter Utama (MU) dan Meter Pembanding (MP). Data
pengukuran MU digunakan sebagai dasar perhitungan transaksi. Data
pengukuran MP digunakan sebagai data pembanding dan cadangan sehingga
sebagian atau seluruh datanya dapat digunakan sebagai pengganti data MU
yang tidak valid. Apabila tidak dinyatakan lain dalam perjanjian jual beli tenaga
listrik (PJBTL), maka MU diadakan/dipasang dan dimiliki oleh pihak penjual, MP
diadakan/dipasang dan dimiliki oleh pihak pembeli.
3.2 Titik Pengukuran Transaksi

Umumnya pihak pembeli membeli energi dalam kondisi netto, artinya alat ukur
diletakkan pada titik tegangan sebagaimana tertera dalam PJBTL antara pihak
pembeli dan pihak penjual. Untuk memenuhi tingkat tegangan tersebut pihak
penjual harus menyediakan trafo penaik tegangan (step-up) atau penurun

Simple Inspiring Performing Phenomenal 13


tegangan (step-down), dengan demikian pihak pembeli tidak terbebani dengan
rugi-rugi (losses) trafo. Khusus untuk Konsumen Tegangan Tinggi (KTT), trafo
step-down disediakan oleh konsumen. Pada Gambar 8 diperlihatkan titik
pengukuran pada pembangkit, penyulang 20 KV, dan KTT.

Gambar 7 Lokasi titik pengukuran

3.3 Alat Pengukuran Transaksi

Alat ukur transaksi tenaga listrik adalah kWh meter. Saat ini banyak digunakan
kWh meter jenis elektronik (solid state) karena mempunyai kelebihan antara lain
dapat diseting untuk mengukur berbagai besaran listrik dan menyimpan data
hasil pengukurannya. Pengukuran dilakukan secara tidak langsung dengan
menggunakan alat bantu berupa trafo arus (current transformer, CT) dan trafo
tegangan (potential transformer, PT). Besarnya rasio CT dan PT sudah
diinputkan (upload) kedalam kWh meter melalui proses seting, dengan demikian
hasil pengukuran energi yang ditampilkan pada displai kWh meter adalah nilai
besaran yang sebenarnya.
Kelas kWh meter yang digunakan adalah 0,2 jenis elemen tiga-arus, tiga fasa,
empat kawat. Sebaiknya kWh meter yang digunakan sudah dilengkapi (build in)
dengan modem agar pengambilan data pengukuran dapat diakses melalui media
komunikasi (remote).
3.4 Cara Pengambilan Data Transaksi

Seiring dengan perkembangan teknologi dan semakin kompleknya transaksi


tenaga listrik, maka cara pengambilan data pengukuran kWh meter juga

Simple Inspiring Performing Phenomenal 14


mengalami perkembangan. Hirarki cara pengambilan data transaksi energi
adalah sebagai berikut.
Automatic Meter Reading (AMR)
Pengambilan data hasil pengukuran kWh meter jarak jauh secara otomatis
dengan menggunakan server. Frekwensi (kali) pengambilan data dapat
diprogram, misal setiap 8 jam (3 kali sehari).
Remote Reading (RR)
Pengambilan data hasil pengukuran kWh meter jarak jauh secara manual
dengan dialup melalui jaringan komunikasi
Local Download (LD)
Pengambilan data hasil pengukuran kWh meter secara lokal dengan
menghubungkan langsung kWh meter ke komputer
Pencatatan Displai
Pencatatan data hasil pengukuran melalui penunjukan displai kWh meter
adalah cara yang paling sederhana. Cara ini tidak dapat lagi dipertahankan
karena transaksi tenaga listrik saat ini sudah membutuhkan data transaksi
yang dicacah per jam.

3.5 Pengolahan Data Pengukuran

Secara umum meter transaksi di seting untuk dapat mengeluarkan data tanggal,
jam, kWh exim, kVArh exim, dan MW dengan selang waktu rekam (interval) 0,5
jam atau 1 jam. Data MU dan MP ini biasanya diambil pada tanggal 1 setiap
bulan untuk mendapatkan data transaksi 1 bulan dibelakang. Data meter
disimpan oleh pihak penjual dan pembeli dalam media penyimpanan elektronik.
Data MU dan MP harus dibandingkan terlebih dahulu untuk mengetahui nilai
deviasinya. Bila deviasi antara data MU dan MP melebihi ketentuan maka harus
dicari data meter yang benar (valid) untuk digunakan sebagai data transaksi.
Ketentuan pelaksanaan validasi data meter sebagai berikut :
Besar deviasi maksimum yang diijinkan antara data MU dan MP adalah
kumulatif dari klas meter, yaitu +/- 0,4 %
Penentuan deviasi dilihat pada angka jumlah energi yang disalurkan
dalam suatu periode (tidak dilihat per slot/ interval pada hasil
pengambilan data)

Simple Inspiring Performing Phenomenal 15


Validasi data dilakukan oleh pihak penjual dan pihak pembeli
Bila ada perbaikan data harus disebutkan dalam Berita Acara Transaksi
Tenaga Listrik. Klarifikasi beserta dokumen-dokumen pendukungnya
dilampirkan dalam BA tersebut
Teknis pemeriksaan data meter sebagai berikut :
i. Rumus Deviasi :
Dev = (MU-MP)/MU * 100 %
ii. Bila ada pekerjaan sistem metering yang mempengaruhi pengukuran
meter (MU atau MP atau MU dan MP) maka data meter langsung
dikoreksi dan hasilnya dibandingkan kembali satu sama lain.
iii. Bila tidak ada pekerjaan sistem metering :
Apabila deviasi data MU dan MP antara -0,4 % s.d. 0,4%, maka
data transaksi menggunakan data MU
Bila deviasi data MU dan MP antara -0,4% s.d. -1% atau 0,4% s.d.
1% maka data MU digunakan sebagai data transaksi sementara.
Selanjutnya dilakukan pemeriksaan data MU dan MP. Rekonsiliasi
(bila ada) dilaksanakan pada transaksi berikutnya
Apabila deviasi data MU dan MP lebih besar 1% atau lebih kecil -
1% maka dilakukan verifikasi terlebih dahulu. Bila dalam 1x24 jam
belum diperoleh data transaksi yang valid maka dibuat
kesepakatan pemakaian data MU atau MP (yang paling mendekati
kebenaran) atau data lain yang disepakati bersama (hanya jika
data MU dan MP dinyatakan tidak valid). Selanjutnya dilakukan
pemeriksaan lanjutan atas sistem metering MU dan MP.
Metode untuk mencari data yang benar secara detail telah diatur dalam Prosedur
Tetap Transaksi Tenaga Listrik.
3.6 Penggunaan Hasil Pengukuran

Pada dasarnya hasil pengukuran digunakan untuk menghitung nilai finansial


(pembayaran) dari jual beli tenaga listrik. Hasil pengukuran juga digunakan untuk
:
a. Menghitung besarnya losses penyaluran
b. Effisiensi pembangkit
c. Parameter pembayaran retribusi air pada PLTA

Simple Inspiring Performing Phenomenal 16


d. Kepatuhan pembangkit atas perintah (dispatch) dari PLN P3B
e. Sebagai bukti atau pendukung dalam menganalisa kejadian-kejadian di
sistem tenaga listrik
3.7 Berita Acara Pengiriman Tenaga Listrik

Berita Acara (BA) Pengiriman Tenaga Listrik adalah dokumen tertulis yang
menyatakan besarnya kWh yang disalurkan dari pihak penjual ke pihak pembeli
dan kWh yang diterima oleh pihak penjual dari pihak pembeli (export-import).
Nilai kWh export-import harus ditampilkan karena perlakuan setelmennya bisa
berbeda tergantung PJBTL nya (bisa di off-set atau tidak). Pada BA ini
ditampilkan nilai kWh hasil pengukuran MU dan MP berikut deviasinya. Nilai kWh
dapat dipastikan final bila deviasi antara MU dan MP tidak melebihi ketentuan.
Apabila deviasinya melebihi ketentuan pada BA harus diberi catatan kalau nilai
kWh dalam BA adalah nilai kWh sementara. BA ini ditandatangani oleh kedua
belah pihak. Cara menetapkan nilai kWh yang valid sudah diatur dalam Prosedur
Tetap Transaksi Tenaga Listrik Antara Pihak Penjual dan Pihak Pembeli.
4. Operasi Sistem Tenaga Listrik

Secara teknis, operasi sistem tenaga listrik adalah menyeimbangkan kebutuhan


beban dengan produksi tenaga listrik (demand-supply) secara real time. Karena
itu operator sistem harus membuat rencana tahunan, bulanan dengan
mempertimbangkan Daya Mampu Pasok (DMP) pembangkit. DMP pembangkit
adalah Daya Mampu Netto (DMN) - Penurunan Kapasitas karena (Maintenance
Outage + Planned Outage + Variasi Musim + Predicted Derating). Selain faktor
teknis, faktor ekonomis juga harus mendapat perhatian untuk menghasilkan
operasi sistem yang effisien.

4.1. Operasi Sistem

Dalam pengoperasian sistem tenaga listrik ada beberapa hal yang harus
diperhatikan antara lain masalah kebutuhan bahan bakar, pemakaian sendiri
pembangkit dan rugi-rugi transmisi. Ketiga hal tersebut harus ditekan serendah-
rendahnya dengan tetap memperhatikan mutu dan keandalan.
Biaya bahan bakar merupakan merupakan biaya yang terbesar yaitu sekitar 60%
dari biaya produksi. Oleh sebab itu maka sistem tenaga listrik harus dikelola

Simple Inspiring Performing Phenomenal 17


dengan berdasarkan manajemen energi yang baik agar diperoleh keandalan
yang baik dengan biaya yang minimum.
Dengan demikian pengoperasian sistem tenaga listrik harus memperhatikan :
Keandalan / Sekuriti
Kemampuan sistem untuk menghadapi kejadian yang tidak direncanakan,
tanpa mengakibatkan pemadaman.
Mutu
Kemampuan sistem untuk menjaga agar semua batasan operasi
terpenuhi.
Ekonomi
Optimasi biaya pengoperasian tenaga listrik tanpa melanggar batasan
keamanan dan mutu.

4.2. Kriteria Operasi Sistem

Pengelolaan sistem tenaga listrik harus memenuhi kriteria sebagai berikut :


a. Effisien Secara Teknis dan Ekonomis Teknis :
- Susut rendah
Besarnya susut jaringan yang terjadi berbanding lurus dengan jarak pengiriman
dan penerimaan energi. Oleh karena itu pengelola sistem (system operator)
harus mempertimbangkan hal ini dengan menjadikannya salah satu parameter
simulasi untuk memperoleh pengelolaan sistem tenaga listrik yang ekonomis.
- Faktor Beban tinggi
Faktor beban yang tinggi akan mengoptimalkan kinerja pembangkitan, karena
pembebanan yang relatif konstan dan mengurangi pengoperasian pembangkit
peaker.
- Faktor Daya tinggi
Usia pembangkit akan berkurang bila sering dioperasikan dengan faktor daya
yang rendah. Faktor daya yang rendah sepenuhnya ditentukan oleh karakteristik
beban, karena itu pihak pembeli harus membayar kelebihan pemakaian daya
reaktif (kVAR) yang melebihi ketentuan.
- Ekonomis
Pengoperasian sistem tenaga listrik dilakukan dengan biaya paling murah (least
cost). Untuk tujuan tersebut operator sistem setiap bulan menyusun merit order

Simple Inspiring Performing Phenomenal 18


pembangkit dengan berdasarkan masukan dari harga energi primer dan heat rate
unit pembangkit.
b. Transparan
Operasi sistem tenaga listrik banyak melibatkan penjual (seller) dan pembeli
(buyer) yang tentunya ingin mengetahui apakah pengelolaan operasi sistem
tenaga listrik telah sesuai dengan aturan-aturan yang berlaku dan tidak ada
perlakuan yang berbeda (diskriminasi) bagi para pemain (player).
Untuk meningkatkan transparansi dalam pengoperasian sistem tenaga listrik
yang akan berdampak pada transaksi, telah diberlakukan (Mei 2006) :
Prosedur Tetap Tentang Indeks Kerja Pembangkit (IKP) yang
berbasis NERC/GADS (North American Electric Reliability Council -
Generating Availability Data System).
Informasi mengenai IKP akan digunakan sebagai masukan dalam
pengambilan keputusan pembebanan pembangkit. Akurasi tingkat
sekuriti dan keandalan sistem akan bergantung pada kebenaran atau
kemutakhiran dari informasi tentang kondisi dan kesiapan pembangkit
tersebut.
Prosedur Tetap Deklarasi Kondisi Pembangkit Antara Perusahaan
Pembangkit dan PT PLN (Persero), yang disingkat HDKP (Harian
Deklarasi Kondisi Pembangkit).
Aplikasi berbasis web untuk mencatat event (outage, derating, dsb) berikut
penyebabnya (cause code) hingga ke level komponen dan sub-komponen
dengan mengikuti klasifikasi NERC/GADS. Dalam pencatatan event dan cause
code, dispatcher P3B berkoordinasi dengan supervisor di pembangkit, dan
selanjutnya memperoleh validasi dari manajemen perusahaan pembangkit.
Aplikasi ini disebut GAIS (Generation Availability Information System), dipasang
di operator system, berfungsi menyimpan data base event secara real time,
menghitung IKP untuk 3 metoda perhitungan yaitu : i) sesuai NERC, ii) komersial
dan iii) operasional, dan dapat menampilkan statistik, angka dan chart dari
AF/EAF, FOR/EFOR/EFORd, dsb
c. Fair
Dalam kondisi khusus terkadang PLN P3B memerlukan bantuan pembangkit
untuk menjaga keandalan sistem dan/atau mempertahankan mutu tenaga listrik.

Simple Inspiring Performing Phenomenal 19


Dalam situasi seperti ini tentunya ada tambahan biaya (cost) yang harus
dikeluarkan oleh pembangkit.
Agar transaksi bisa berlangsung dengan adil (fair) maka biaya tambahan
seyogyanya mendapatkan penggantian dari Pembeli. Biaya-biaya tambahan ini
dikelompokan pada biaya ancillary services, sebagai berikut :
Start up
Reactive Power
Black Start
Host Load

4.3. Aspek Ekonomi Operasi Sistem

Effiensi secara sistem adalah hal yang utama ditinjau dari sisi Single Buyer.
Effiensi hanya bisa dilakukan untuk komponen biaya variable. Komponen biaya
terbesar dalam operasi tenaga listrik adalah energi primer. PLTG bisa sangat
mahal bila dioperasikan dengan menggunakan HSD. PLTA merupakan
pembangkit tenaga listrik dengan sumber energi termurah, namun sumber
energinya sudah mulai susut karena pemanasan global dan rusaknya lingkungan
daerah tangkapan air (catchment area). Dalam usaha mengeffisienkan operasi
sistem PLN telah banyak melakukan usaha, sebagai contoh diberlakukannya
bidding energy untuk penetapkan alokasi energi pembangkit. Mulai Januari 2009
telah diterapkan mekanisme alokasi energi berbasis heat rate.
Perihal energi primer perlu dukungan dari berbagai pihak, baik dari manajemen
PLN maupun Pemerintah. Kebijakan tersebut antara lain :
a. Mengurangi prosentase pemakaian Bahan Bakar Gas/BBM untuk operasi
pembangkitan dalam komposisi penggunaan energi primer PLN. Contoh :
dari perkiraan 19 % lebih pada tahun 2009 menjadi 8 % paling lambat
pada tahun 2011.
b. Pemanfaatan energi primer non BBM (batubara, gas alam, panas bumi
dan tenaga air) pada pembangkitan PLN.
c. Pemanfaatan sumber energi terbarukan lain (biomass, matahari dan
angin, dll) sepanjang masih dalam batasan layak secara teknis dan
ekonomis.
d. Menyusun program jaminan pasokan energi primer untuk operasi
pembangkitan PLN.

Simple Inspiring Performing Phenomenal 20


e. Prioritas pengembangan pembangkit non BBM.
f. Program konversi bahan bakar minyak (gasifikasi, Marine Fuel Oil/MFO-
nisasi dan Liquefied Petroleum Gas/LPG)
g. Program efisiensi bahan bakar (fuel additive engineering).
h. Diversifikasi bahan bakar gas (Liquefied Natural Gas/LNG, Compressed
Natural Gas/CNG).
i. Program Gasifikasi Batubara.

Simple Inspiring Performing Phenomenal 21