Anda di halaman 1dari 5

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Diabetes Mellitus (DM) merupakan suatu kelompok penyakit metabolik

dengan karakteristik hiperglikemia. Diabetes mellitus tipe 1 atau Insulin

Dependent Diabetes Mellitus (IDDM) disebabkan oleh destruksi sel pulau

Langerhans akibat proses autoimun. Faktor yang mempengaruhi adalah obesitas,

umur, jenis kelamin, lingkungan, genetik dan sterilisasi (Purnamasari, 2009).

Obesitas meningkatkan resiko kejadian diabetes mellitus tiga sampai lima kali

lipat. Prevalensi obesitas pada kucing dan anjing dengan umur antara 5-11 tahun

adalah >40% (Rucinsky et al., 2010)

Prevalensi kejadian diabetes mellitus pada manusia menurut International

Diabetes Federasion adalah 8,39%. Diabetes mellitus pada hewan terjadi pada pet

animal seperti anjing dan kucing, hal ini disebabkan oleh pemberian pakan yang

tinggi lemak mapun pemberian pakan melebihi kebutuhan tubuhnya. Menurut Fall

et al (2007), terjadi 13 kasus DM per 10.000 anjing tiap tahunnya pada anjing

umur lebih dari lima tahun dan ras yang sering mengalami DM adalah Australian

Terriers, Samoyeds, Swedish Elkhounds dan Swedish Lapphunds. Pada kucing

prevalensi kejadian DM sebesar 0,5%. Menurut Herrtage (2009) kejadian diabetes

mellitus pada tahun 2006-2010 terjadi peningkatan 16% untuk kucing dan

meningkat 32% untuk anjing. Menurut Rucinsky et al (2010), Anjing dan kucing

yang di diagnosa mengidap diabetes mellitus mengalami peningkatan kadar

glukosa darah yaitu pada anjing > 200 mg/dL dan pada kucing > 250 mg/dL.

1
2

Diabetes Mellitus dapat menyebabkan gangguan sistem pengendalian

hormone salah satunya hormon reproduksi akibat peningkatan jumlah radikal

bebas di dalah tubuh melalui pembuluh darah. Radikal bebas dialirkan melalui

pembuluh darah ke berbagai organ tubuh salah satunya organ otak hingga organ

testis. Gangguan pada sistem hormon reproduksi dapat menyebabkan masalah

kesehatan reproduksi yang berpengaruh buruk terhadap kesuburan dan potensi

seksual. Diabetes mellitus dapat menyebabkan impotensi, gangguan ejakulasi,

merusak spermatogenesis, dan fungsi kelenjar aksesori. Kegagalan fungsi seksual

(disfungsi seksual) sering ditemukan sebagai komplikasi diabetes lanjut.

Disfungsi seksual yang diakibatkan DM adalah menurunnya libido

(kegairahan/dorongan/ketertarikan seksual) dan disfungsi ereksi atau kesulitan

ereksi (American Diabetes Association, 2012). Menurut penelitian yang dilakukan

Napitupulu (2013) pada tikus yang mengalami diabetes mellitus terjadi gangguan

pada sistem hormonal reproduksi jantan dan mempengaruhi poliferasi dari sel

sertoli, sel leydig dan terhambatnya proses spermatogenesis.

Fitofarmaka merupakan pengobatan dengan bahan alam yang sedang

berkembang didunia medis yang saat ini banyak digunakan masyarakat seiring

dengan gaya hidup kembali ke alam (back to nature) (Pringgoutomo, 2007). Hal

ini terjadi karena semakin banyaknya ditemukan fakta bahwa bahan alam yang

dikosumsi memiliki lebih banyak manfaat dan sedikit memiliki efek samping

khususnya di bidang kesehatan (Pramono, 2002).

Apel (Malus sylvestris Mill) merupakan tanaman buah yang biasa tumbuh di

iklim sub tropis, apel di Indonesia dikembangkan di beberapa wilayah. Apel


3

mengandung serat, flavonoids, dan fruktosa. Dalam 100 g apel terdapat 2,1 g

serat. Fitokimia dalam 50 mg apel dengan kulitnya per milliliter (berat basah)

dapat menghambat perkembangbiakkan sel tumor sampai dengan 42%.

Sedangkan kandungan fitokimia dalam 50 mg apel tanpa kulitnya per milliliter

(berat basah) hanya dapat menghambat perkembangbiakkan sel tumor sampai

dengan 23%. Hal ini menunjukkan kandungan fitokimia kulit apel lebih banyak

dibandingkan dengan daging buah apel (Liu, 2003).

Institut Kanker Nasional Amerika menyatakan, apel mengandung banyak zat

flavonoid. Flavonoid diketahui mampu berperan menangkap radikal bebas atau

berfungsi sebagai antioksidan alami (Youngson, 2005). Menurut Suparmi (2008)

pemberian ekstrak kulit buah apel dapat menurunkan permeabilitas vaskular pada

penderita demam berdarah dengue. Kulit buah apel memiliki kandungan senyawa

flavonoid dengan konsentrasi yang tinggi sehingga dapat mengurangi jumlah

radikal bebas di dalam tubuh melalui pembuluh darah dan mengembalikan sistem

pengendalian hormon reproduksi.

Dari data tersebut penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui

pengaruh pemberian kulit apel (Malus sylvestris Mill) terhadap morfologi

spermatozoa dan memperbaiki kerusakan jaringan tubulus seminiferus testis

ditandai dengan peningkatan jumlah sel sertoli pada membrane basalis tubulus

seminiferus, sel leydig pada interstisial tubulus seminiferus, dan spermatozoa di

bagian lumen tubulus seminiferus.


4

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalah pada penelitian ini

adalah :

1. Bagaimana pengaruh pemberian ekstrak kulit apel (Malus sylvestris Mill)

terhadap morfologi spermatozoa tikus putih (Rattus norvegicus) model

diabetes mellitus tipe 1 hasil induksi streptozotocin?


2. Bagaimana pengaruh pemberian ekstrak kulit apel (Malus sylvestris Mill)

terhadap gambaran histopatologi tubulus seminiferus testis tikus putih (Rattus

norvegicus) model diabetes mellitus tipe 1 hasil induksi streptozotocin?

1.3 Batasan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka penelitian ini dibatasi pada :

1. Hewan model yang digunakan adalah tikus putih (Rattus norvegicus) jantan

strain Wistar dewasa umur 8-12 minggu dengan berat rata-rata 200 gram yang

diperoleh dari penyedia hewan laboratorium Bandung, Jawa Barat.

Keterangan kelaikan etik No : 298-KEP-UB dari Komisi Etik Penelitian

Universitas Brawijaya.
2. Pembuatan keadaan diabetes mellitus pada hewan model tikus putih (Rattus

norvegicus) dilakukan dengan cara induksi streptozotocin Multiple low dose

yang diinduksi secara intraperitoneal dengan dosis 20 mg/kgBB selama 5 hari

(Aulaniam, 2005).
3. Kulit apel didapatkan dari industri rumahan keripik apel yang telah

mendapatkan surat keterangan determinasi tanaman dari UPT. Materia Medica

No. 074/380/101.8/2014. Pembuatan ekstrak kulit apel menggunakan etanol.


5

4. Dosis terapi ekstrak kulit apel (Malus sylvestris Mill) yang diberikan pada

tikus model diabetes mellitus tipe 1 yaitu sebesar 28 mg/200g BB, 56

mg/200g BB dan 112 mg/200g BB (Suparmi, 2008).


5. Variabel yang diamati dalam penelitian adalah abnormalitas primer dan

sekunder morfologi spermatozoa menggunakan pewarnaan eosin negrosin,

dan gambaran histopatologi tubulus seminiferus testis dengan pewarnaan

hematoxylin-eosin.

1.4 Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Mengetahui morfologi spermatozoa pada hewan tikus putih (Rattus

norvegicus) model diabetes mellitus tipe 1 setelah diberikan terapi ekstrak

kulit apel (Malus sylvestris Mill).


2. Mengetahui gambaran histopatologi tubulus seminiferus testis tikus putih

(Rattus norvegicus) model model diabetes mellitus tipe 1 setelah diberikan

terapi ekstrak kulit apel (Malus sylvestris Mill).

1.5 Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini diharapkan dapat menjadi informasi dalam kajian

ilmiah tentang manfaat dari potensi kulit apel (Malus sylvestris Mill). Sehingga

dengan penelitian ini dapat diketahui pengaruh pemberian ekstrak kulit apel

(Malus sylvestris Mill) terhadap morfologi spermatozoa dan gambaran

histopatologi tubulus seminiferus testis hewan model tikus putih (Rattus

norvegicus) diabetes mellitus tipe 1 yang diinduksi streptozotocin. Membuktikan

bahwa ekstrak kulit apel (Malus sylvestris Mill) dapat digunakan untuk

pengobatan alami dan alternatif terapi diabetes mellitus tipe 1.