Anda di halaman 1dari 20

SINUSITIS

PENGERTIAN
Infeksi sinus paranasal dengan gejala ISPA yang menetap atau makin berat dalam waktu kurang
dari 30 hari.

ANAMNESIS
Batuk kronik berulang, pilek dengan cairan hidung berwarna kuning hijau, gejala infeksi
respiratorik atas tidak sembuh sampai lebih dari 7 hari, nyeri kepala dan nyeri di wajah yang
menjalar ke geraham atas, kadang pendengaran menurun dan penciuman serta sensorik wajah
berkurang, demam dijumpai pada 30% kasus, nafas dan bau mulut dapat dijumpai.

PEMERIKSAAN FISIK
Nyeri tekan di lokasi sinus maksilaris dan frontalis, post nasal drip di dinding belakang faring,
bagian bawah hidung atau faring hiperemis, dapat ditemukan deviasi septum atau polip hidung
atau efusi cairan di telinga tengah.

DIAGNOSIS BANDING
Infeksi saluran respiratorik atas akibat virus
Rhinitis alergika

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Foto sinus
CT-Scan
MRI

TERAPI
Terapi Suportif :
Pembersihan secret, pengurangan edema dan inflamasi, perbaikan fungsi pembersihan
oleh mukosilier.
Medikamentosa :
Antibiotik : pilihan utama ampisilin dan amoksisilinselama 2-3 minggu jika alergi
golongan penisilin maka diberitrimetoprim-sulfametoksazol, untuk sinusitis subakut atau
kronik paling sedikit 21 hari, jika ada kecurigaan pada kuman anaerob diberikan
klindamisin atau metronidazole.
Pembedahan :
Sinusitis masih menetap atau rekuren setelah pemberian antibiotic yang tepat

EDUKASI
Edukasi kepada keluarga dalam penggunaan antibiotik dan mengurangi pemberian
antibiotic profilaksis untuk mencegah resistensi bakteri.
Paien dianjurkan untuk menghindari pajanan iritan dari lingkungan seperti aasap rokok.

PROGNOSIS
Sembuh

KEPUSTAKAAN
1. American Academy of Pediatrics, Sub Commitee on Mangement of Sinusitis and
Committee on quality Improvement. Clinicpractice guideline : management of sinusitis
Pediatrics 2001; 108 (3):798-808
2. Arruda LK, Mimica IM, Sole D, dkk. Abnormal maxillary sinus radiographs in children :
do they represent infection? Pediatrics 1990;85:553-8
3. Ramadan HH Pediatrics sinusitis medical treatment medicine. Diunduh dari :
http://www.emedicine.com/ent/TOPIC612.HTM
4. Wald ER. Microbiology of acute and chronic sinusitis in children. J Allergy Clin
Immunol 1992;90:452-6.
SINDROM GAWAT NAFAS
PENGERTIAN
Sindrom gawat nafas merupakan kelompok gejala gawat nafas yang dapat terjadi oleh berbagai
kelainan semasa neonates.

ANAMNESIS
Adanya riwayat sesak nafas dan pernafasan cepat
Gerakan pernafasan dijumpai tidak sepeti biasanya
Adanya riwayat henti nafas

PEMERIKSAAN FISIK
Dijumpai takipnoe (pernafasan cepat)
Adanya retraksi pada gerakan pernafasan (retraksi interkostalis, tarikan pada otot dinding
dada ketika menghirup udara)
Pernafasan cuping hidung dijumpai
Apnoe
Sianosis
Edema pada tungkai atau lengan

KRITERIA DIAGNOSIS
Sesak nafas dengan frekuensi > 60 x/menit
Sianosis
Merintih saat ekspirasi
Retraksi otot pernafasan saat inspirasi

DIAGNOSIS BANGDING
Kelainan saluran nafas atas :
1. Sindrom Pierre Robin
2. Atresia Koana
3. Fistula trakea-esofagus
Kelainan paru atau rongga toraks :
1. Sindrom membrane hialin
2. Sindrom Wilson Mikity
3. Aspirasi meconium
4. Aplasia tau hypoplasi paru
5. Pneumotoraks atau pneumomediastinum
Kelainan bawaan lain :
1. Hernia diafragma
Kelainan di luar paru :
1. Asidosis
2. Dehidrasi
3. Perdarahan intracranial

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Foto toraks (AP dan lateral)
Transiluminasi
Tes kocok (shake test)
USG Kepala

TERAPI
Terapi Umum
1. Bebaskan saluran nafas atas
2. Pertahankan suhu tubuh diantara 36-37C
3. Pemberian oksigen intranasal atau perkaya udara pernafasan dengan oksigen
4. Nutrisi diberikan secara intravena
5. Berikan antibiotic berspektrum luas untuk mencegah infeksi sekunder
Terapi Khusus
1. Tindakan bedah bagi pasien yang memerlukan (fistulia, hernia, diafragma, dll)
2. Pemasangan respirator bila terjadi gagal nafas.

PROGNOSIS
Sembuh
Sesak nafas yang menetap (chronic lung disease)

KEPUSTAKAAN
1. Monintja HE. Masalah umum sindrom gawat nafas pada neonates. Dalam : Monintja HE,
Aminullah A, boedjang RF, Amir I, penyunting. Sindrom gawat nafas pada neonates.
Naskah lengkap Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan Ilmu Kesehatan Anak FKUI
XXIII. FKUI; 1991 8-9 Juli; Jakarta: Balai Penerbit FKUI, 1991.
2. Gomella TL, Cunningham MD, Eyal FG, Zenk KE. Hyalin Membrane Disease. Dalam :
Lange, penyunting. Neonatology; management, procedures, on call problems, disease and
drugs. Connecticut: A Simon and Schuster company, 1999.h.503-04
3. Gorbet A. Respiratory disorder in the newborns. Dalam: Cherninck V, Kendig LE,
penyunting. Disorders of the respiratory tract in children. Edisi ke 5. Philadelphia:
Saunders, 1995.h.268-81.
4. Mellins RB, Jobe AH. Respiratory Distress of the Newborn infants. Dalam : Fishman AP,
Penyunting. Pulmonary Distress and disorders, Edisi ke-2. USA: Mc Grawhill Coy, 1998,
h.2251-61.
5. Stoll BJ, Kliegman RM. Noninfectious disorders, penyunting. Dalam : Behrman RE,
Klliegman RM, Jenson HB. Nelson textbook of Pediatrics. Edisi ke 16. Philadelphia :
Saunders 2000.h.451-504.
6. Tyrala LA. Respiratory disorders of the newborn infant. Dalam : Schildlow PV, Smith
PS, penyunting. A practical guide to pediatric respiratory disease. Philadelphia : Hanley
& Belfus Inc.h.127-40.
PNEUMONIA
PENGERTIAN
Pneumonia adalah infeksi parenkim paru yang umumnya disebabkan oleh bakteri, virus,
mikopalsma dan klamidia dengan gambaran klinis berupa sesak nafas, tarikan dinding dada dan
demam.

ANAMNESIS
Selalu didahului gejala infeksi saluran nafas atas dalam beberapa hari seperti batuk dan
pilek
Demam
Sesak nafas
Sakit Kepala
Gelisah
Malaise
Penurunan nafsu makan
Keluhan gastrointestinal, seperti mual, muntah, diare

PEMERIKSAAN FISIK
Suhu meninggi (bisa tiba-tiba menjadi 39-40C)
Sesak nafas dengan pernafasan dangkal, anak menjadi gelisah
Pernafasan cuping hidung
Sianosis sekitar hidung dan mulut
Retraksi sela iga
Ronki basah
Takikardi atau bradikardi

KRITERIA DIAGNOSIS
Anamnesis :
1. Selalu didahului gejala infeksi saluran nafas atas dalam beberapa hari seperti
batuk dan pilek.
Pemeriksaan fisik :
1. Suhu meninggi (bisa tiba-tiba menjadi 39-40C)
2. Sesak nafas dengan penafasan dangkal, anak menjadi gelisah
3. Pernafasan cuping hidung
4. Sianosis sekitar hidung dan mulut
5. Retraksi sela iga
6. Ronki basah

DIAGNOSIS BANDING
Bronkiolitis
Atelektasis
Abses Paru
Aspirasi benda asing
Gagal jantung
Tuberkulosis paru

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Darah tepi : leukositosis, pergeseran hitung jenis darah ke kiri
Foto Toraks AP dan lateral (atas indikasi)
AGDA
Elektrolit

TERAPI
Beri oksigen
Atasi dehidrasi, koreksi cairan, kalori dan elektrolit serta asidosis metabolic
Antibiotika polifarmasi ;
Penisillin 50.000 U/kgBB/ hari atau ampisillin 100-200 mg/kgBB/hari dengan
kloramfenikol 50-100 mg/kgBB/hari selama 7-10 hari (4 hari bebas demam).
Catatan :
Untuk usi kurang dari 3 bulan igunakan gentamisin.
Jika setelah 3 hari tidak ada respons yang baik maka diganti dengan golongan
sefalosporin.

EDUKASI
Pemberian ASI eksklusif kepada bayi untuk menurunkan risiko terjadinya pneumonia
Menjaga kebersihan dalam rumah tangga
Mencuci tangan dengan sabun
Indikasi perawatan terutama berdasarkan berat ringannya penyakit, misalnya ada atau
tidaknya penyakit dasar yang lain, komplikasi dan usia pasien.

PROGNOSIS
Sembuh total
Mortalitas kurang dari 1 %
Mortalitas lebih tinggi pada penderita yang datang terlambat dan malnutrisi.

KEPUSTAKAAN
1. Alberta medical association, guideline for the diagnosis and management of community
acquired pneumonia pediatric ; 2001.
2. Bhandari N Bahl R, Taneja S, Strand T, Molbak K, Ulnvik RJ dll. Effect of routine
supplementation on pneumonia in children aged 6 months to 3 years: randomized
controlled trial in urbans slum. BMJ 2202; 324 (7350)1358-60.
3. British Thotacic Society of Standard of care committee <BTS guidelinesfor the managing
of community acquired pneumonia in childhood>thorax 2002;57
4. Cunningham AF, Johston SL, Julios SA, Lampe FC, Ward ME, Chronic Chlamydia
Pneumonia infection and asthma exacerbation in children. Eur Respir J 1998. 11;345-9.
5. Dilbert E, Cakir M, Kalyoncu M, Okten A. C Reaktive Protein : a sensitive marker in the
management of treatment response in parapneumonie empyema of children Turk J
Pediatric 2003; 45-311-4.
6. WHO/UNICEF joint Statement . Mangement of pneumonia in in community testing New
York : The United National Childrens Fund/WHO;2004.

TUBERKULOSIS
PENGERTIAN
Tuberkulosis adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosisyang
dapat mengenai paru, kelenjar limfe, susunan saraf pusat, system skeletal, kulit, mata, system
pencernaan, ginjal, dan organ lainnya.

ANAMNESIS
Demam tidak terlalu tinggi dan hilang timbul, > 2 minggu
Batuk > 3 minggu, dan sebab lain telah disingkirkan
Berat badan tidak naik atau turun tanpa sebab yang jelas
Anoreksia (nafsu makan tidak ada)
Malaise (letih,lesu, lemah,lelah)
Diare persisten yang tidak sembuh dengan pengobatan baku diare

PEMERIKSAAN FISIK
Manifestasi spesifik pada organ bergantung pada organ yang terkena, misalnya kelenjar limfe,
susunan saraf pusat, tulang, dan kulit.
1. Pembesaran kelenjar limfe
Pembesaran kelenjar limfe superfisialis sebagai manifestasi TB sering dijumpai
2. Susunan Saraf pusat
Penurunan kesadaran, kaku kuduk
3. Sistem skeletal
Nyeri, bengkak pada sendi yang terkena
4. Kulit
Skrofuloderma
5. Paru
Air trapping, hiperaktivitas saluran respiratori
KRITERIA DIAGNOSIS
Gejala klinis : demam berulang atau demam lama, penurunan nafsu makan, penurunan
berat badan atau berat badan sulit naik, batuk lama, kontak dengan penderita TB dewasa,
adanya benjolan pada leher, selangkangan paha, kejang, kaku, muntah dan kesadran
menurun, pembesaran hepar.
Uji tuberculin positif
Foto toraks (AP dan lateral) : sugestif tuberculosis (Tb)
Analisa likuor serebrospinalis ; sugestif Tb

DIAGNOSIS BANDING
Infeksi Mikobakterium Atipikal
Sarkoidosis

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Uji tuberculin
Hapusan langsung bakteri tahan asam (BTA) dan kultur Mycobacterium Tuberkulosa,
dari sputum, insuksi sputum atau bilas lambung
Foto toraks (AP dan lateral)
Pemeriksaan darah lengkap
Foto tulang lutut/pelvis/tulang punggung sesuai indikasi
Funduskopi
Biopsi jaringan atas indikasi
Pungsi pleura dan pungsi lumbal atas indikasi

TERAPI
Obat anti tuberculosis (OAT) atas indikasi
1. Pemberian OAT untuk TB paru tanpa komplikasi da limfadenitis TB: 2RHZ4RH
2. Terapi untuk tuberculosis ekstra pulmonal : 2RHZE/2RHZS 10RH
3. Dosis OAT :
INH : 5-15 mg/kgBB
Rifampisin : 10-20 mg/kgBB
Pirazinamid : 15-30 mg/kgBB
Streptomisin : 15-40 mg/kgBB
Etambutol : 15-20 mg/kgBB
Kortikosteroid (Prednison) atas indikasi :
1. Diberikan pada meningitis TB, pericarditis TB
2. Dosis 1-2 mg/kgBB selama 4-6 minggu kemudian tapering off 2-4 minggu
Profilaksis :
1. Profilaksis primer : INH 10 mg/kgBB selama 3 bulan
2. Profilaksis sekunder : INH 10 mg/kgBB selama 6 bulan

Tabel 1 : Kelas TB dan penatalaksanaannya


Kelas Kontak Infeksi Sakit Tata laksana
0 - - - -
I + - - Profilaksis I*
II + + - Profilaksis II*
III + + + Terapi OAT

I* : Kemoprofilaksis primer
II* : Kemoprofilaksis sekunder
*)pada kelompok resiko tinggi

Tabel 2 : Kelompok Resiko Tinggi TB


Faktor Usia Balita
Pubertas
Faktor obat Steroid sistemik jangka panjang
Sitostatika
Faktor nutrisi Gizi buruk
Faktor penyakit Morbili
Varisella
HIV AIDS
Keganasan

EDUKASI
Salah satu masalah dalam terapi TB adalah keteraturan pasien dalam menjalani
pengobatan yang relative lama dengan jumlah obat yang banyak, maka perlu
kedisiplinan dari penderita TB untuk terus control selama pengobatan, pendekatan
DOTS adalah strategi yang ditetapkan WHO dalam pelaksanaan penanggulangan TB.
Lacak sumber penularan dan case finding
Aspek edukasi dan social ekonomi
Pencegahan, termasuk imunisasi BCG

PROGNOSIS
Sembuh
Kronis

KEPUSTAKAAN
1. Rahajoe, NN, Basir D, MS Makmuri, Kartasasmita CB, pedoman Nasional
tuberculosis anak, Edisi ke-1, Jakarta UKK pulmonology; 2005.25-4.
2. Starke JR, Diagnosis of tuberculosis in Children , Pediatric Infect Dis J 2000, Nov,
1095-6.
3. Depkes RI, Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberculosis , Cetakan ke 8 Jakarta;
Departeman Kesehatan RI; 2002.
4. Kabara SK, lodha R , Seth V, some curren concepts on dhidhood concepts on
childhood tuberculosis: Indian J med Res 2004: 120,387-97.
5. Shah A, Agarwal AK. Diagnosis Problem in childhood tuberculosis. Indian J Tub
1997; 44-47-9.
6. Smith KC, starke JR, Eisenach K, ong LT, Denby M, Detection of Mycobacterium
Tuberculosis in clinical specimen from children using a PCR, pediatrics 1996; 97:
155-60.

ASMA
PENGERTIAN
Mengi berulang dan /atau batuk persisten dengan karakteristik sebagai berikut : timbul secara
episodik, cenderung pada malam / dini hari (Nokturnal),musiman, setelah aktivitas fisik, serta
terdapat riwayat asma atau atopi lain pada pasien dan atau keluarga.
ANAMNESIS
Apakah anak mengalami serangan mengi atau serangan mengi berulang ?
Apakah anak terganggu oleh batuk pada malam hari ?
Apakah anak mengalami mengi atau batuk setelah olah raga ?
Apakah anak mengalami gejala mengi, dada terasa berat, atau batuk setelah terpajan
llergen tau polutn?
Apakah jika mengalami pilek ank membutuhkan waktu > 10 hari untuk sembuh?
Apakah gejala klinis membaik setelah pemberian pengobatan anti asma?

PEMERIKSAAN FISIK
- Umumnya tidak ditemukan kelainan saat pasien tidak mengalami serangan
- Pada bayi dan anak kecil (< 5 tahun ) penilaian hanya berdasarkan gejala dan
pemeriksaan fisik dan respon terhadap serangan.

KRITERIA DIAGNOSIS
Batuk, sesak dan mengi berulang, rasa dada tertekan
Ekspirasi memanjang
PER/FEV 1 menurun
Riwayat atopi atau atopi pada keluarga

DIAGNOSIS BANDING
Bronkialitis pada bayi dan anak kecil

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Darah rutin dan eosinofil total
Uji tuberkulin dan uji alergi kulit
Foto toraks dan foto sinus paranesal
Uji faal baru, uji provokasi dan uji inhalasi bronkodilator
IgG, IgA, IgM, dan IgE
Analisis gas darah atas indikasi

TERAPI
Penghidaran alergen atau iritan
Bronkodilator oral dan inhalasi
Steroit oral dan inhalasi

EDUKASI
Tujuan tata laksan asma adalah menjamin tercapainya tumbuh kembang anak secara optimal
dengan jalan :
- Pengandalian lingkungan
- Pemberian ASI ekslusif minimal 4 bulan
- Penghindaran faktor resiko seperti mkanan yang berpotensi alergenik, mengurangi
pajanan terhadap tungau debuh rumah dan rontokan bulu binatang
- Pembuatan rencana tata laksana jangka panjang seperti penggunaan anti histemine non
sedative jangka panjang untuk mencegah terjadinya asma pada anak dengan dermatitis
atopi
- Anjuran kepada keluarga untuk memelihara binatang berbulu dan memperbaiki ventilasi
ruangan serta menghindarkan anak dari asap rokok

PROGNOSIS
Sembuh
Kronis

KEPUTAKAAN
1. Barry PW, fouroux B, Pederso S, OCallaghan C. Nebulizers in childhood. Eur Respir
Rev 200;10:527-35
2. Global Initiative for for Asthma . Global Strategy for asthma Management and
Prevention. National Institute for Health . national Heart, Lung and Blood Institute; NIH
publ.No.02-3659,2002.
3. Konsensus Nasional Asma Anak. Unit KoordinasiKerja Pengurus Pusat Ikatan Dokter
Anak Indonesia .2001
4. Global Initiative for Asthma . Global Strategy for Asthma Management and Prevention.
Naational Institute of Health. 2006
5. Behrman RE , Kliegman RM, Jenson HB, Asthama dalam : NelsonText book of
Pediatrics. Edisi

Tabel 1.Penilaian derajat serangan asma


BATUK KRONIK BERULANG
PENGERTIAN
Keadaan klinis yang disebabkan oleh berbagai etiologi dengan gejala batuk yang berlangsung
sekurang-kurangnya 2 minggu berturut-turut atau paling sedikit 3 episode dalam 3 bulan dengan
atau tanpa disertai gejala respiratori/non respitorik lainnya
ANAMNESIS
- Batuk dan lamanya batuk
- Frekuensi serangan
- Waktu serangan
- Faktor pencetus apakah dimulai dengan bersin atau tidak dan sebagainya
- Umur pertama kali mendapat serangan
- Keluarga yang menderita batuk
- Riwayat alergi

PEMERIKSAANN FISIK
- Pada paru dan saluran pernafasandidapatkan ronki dan wheezing
- Pada faring bisa didapatkan faring yang hiperemis

KRITERIA DIAKNOSIS
Batuk yang berlansung sekurang-kurnagnya 2 minggu berturut-turut dan atau terjadi 3 kali dalam
3 bulan berturut-turut dengan atau tanpa disertai gejala respiratori dan non respiratori
DIAGNOSIS BANDING
Bronkitis
Asma
Infeksi spesifik
Penyakit paru supuratif
Lesi fokal
Batuk psikogen
Batuk reflek

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Uji tuberkulin
Pemeriksaan darah lengkap
IgH, IgA, IgM, IgE
Uji kulit
Foto toraks
Foto sinus paranasal
Uji faal paru
Uji provokasi
Bronkoskopi atau bronkografi atas indikasi

TERAPI
Sesuai dengan penyakit dasarnya
EDUKASI
- Hindari faktor pencetus yang bisa menyebabkan alergi
- Cuci tangan sebelum makan

PROGNONIS
- Sembuh
- Kronis

KEPUSTAKAAN
1. Hendarmin H, Kelainan Telinga, hidung Tenggorokan yang menyebabkan batuk
kronik,penanggulangan secara rasional FK UI Jakarta ,1985
2. Rahjoe,N , Batuk Kronik dan berulang pada anak. Batuk kronik penanggulangan secara
rasional , FK UI , Jakarta1985
3. Pheland PD, landau LL, Olinsky A:Respiratory Illness in chidren Scond Edition ,99;1982