Anda di halaman 1dari 5

PERBANDINGAN KONTRAK KERJA KONSTRUKSI

Perbandingan UUJK PP No. 29/2000 Perpres No. 54/2010


Proses Pemilihan 1. Pelelangan 1. Pelelangan 1. Pelelangan
Penyedia Jasa Umum Umum Umum
2. Pelelangan 2. Pelelangan 2. Pelelangan
Terbatas Terbatas Terbatas
(Pasal 18) 3. Pemilihan 3. Pemilihan
Langsung Langsung
4. Penunjukan 4. Penunjukan
Langsung Langsung
(Pasal 3) 5. Pengadaan
Langsung
(Pasal 35 ayat 3)
Proses Pemilihan Jasa Tidak disebutkan Pelelangan Umum 1. Seleksi
Perancang (Pasal 4 ayat 1) 2. Penunjukan
Langsung
3. Pengadaan
Langsung
4. Sayembara
(Pasal 41 ayat 3)
Bentuk Kontrak Kerja Tidak disebutkan 1. Lump Sum 1. Lump Sum
Konstruksi 2. Harga Satuan 2. Harga Satuan
Berdasarkan Cara 3. Gabungan Lump 3. Gabungan Lump
Pembayaran Sum dan Harga Sum dan Harga
Satuan Satuan
4. Biaya Tambah 4. Kontrak
Imbalan Jasa Persentase
5. Aliansi 5. Kontrak Turnkey
(Pasal 20 ayat 3a) (Pasal 50 ayat 3)
Tanda Bukt Tidak Disebutkan 1. Surat Perjanjian 1. Bukt Pembelian
Perjanjian 2. Dokumen Lelang 2. Kuitansi
3. Penawaran 3. Surat Perjanjian
4. Berita Acara Kerja (SPK)
5. Surat Pernyataan 4. Surat Perjanjian
(Pasal 22) (Pasal 55 ayat 1)

Penjelasan mengenai perbandingan kontrak kerja konstruksi dari ketga peraturan di atas
diuraikan pada bagian di bawah ini.

1. Proses Pemilihan
Penjelasan dari masing-masing metode adalah sebagai berikut:
a. Pelelangan Umum, yaitu pelelangan yang dilakukan secara terbuka kepada seluruh
pihak, jenis pekerjaan ini dapat dikerjakan oleh semua penyedia jasa konstruksi namun
kuanttasnya cukup besar. Metode pemilihan dilakukan dengan cara pasca kualifikasi
yaitu dengan menerima semua pendaftar dan kemudian baru menyeleksi satu per satu.
b. Pelelangan Terbatas, yaitu pelelangan yang dilakukan hanya untuk jenis pekerjaan
konstruksi yang kompleks dan hanya sedikit yang dapat mengerjakan jenis pekerjaan
konstruksi yang terkait
c. Pemilihan Langsung, yaitu metode yang dilakukan untuk jenis pekerjaan yang tdak
kompleks dan pendanaannya yang sedikit
d. Penunjukan Langsung, yaitu metode yang dilakukan pada keadaan dan sifatnya khusus
sepert keadaan mendesak pada saat tanggap darurat pasca bencana atau situasi yang
sangat krits dan butuh waktu cepat untuk dilaksanakan
e. Pengadaan Langsung, yaitu metode yang dilakukan jika terdapat satu kesatuan dalam
jenis pekerjaan konstruksi sebelumnya atau karena hanya terdapat satu penyedia jasa
yang dapat mengerjakan jenis pekerjaan tersebut

2. Proses Pemilihan Jasa Perancang


Penjelasan dari masing-masing metode adalah sebagai berikut:
a. Pelelangan Umum, dilakukan dengan cara membuka pendaftaran untuk semua
konsultan. Setelah itu konsultan memasukkan dokumen penawaran harga jasa dan
kemudian dilakukan evaluasi dengan ditambahkan kompetensi dari masing-masing
konsultan
b. Seleksi, dilakukan dengan cara melihat langsung kompetensi yang dimiliki oleh para calo
perancang
c. Penunjukan Langsung, dilakukan pada keadaan dan sifat khusus tertentu yang
membutuhkan waktu cepat dalam penanganannya, misalnya tanggap darurat pasca
bencana
d. Pengadaan Langsung, dilakukan untuk jenis pekerjaan yang sangat kecil dananya dan
telah diketahui pihak terpercaya dalam menanganinya
e. Sayembara, merupakan proses dan hasil dari gagasan, kreatfitas, inovasi dan metode
pelaksanaan tertentu. Pada metode ini tdak ditetapkan harga satuan yang diusulkan
perancang
3. Bentuk Kontrak Kerja Konstruksi Berdasarkan Cara Pembayarannya
Penjelasan dari masing-masing metode adalah sebagai berikut:
a. Kontrak Lump Sum, dijelaskan pada PP No. 29/2000, merupakan kontrak jasa tertentu
dengan jumlah harga yang past dan tetap (tdak berubah sama sekali), sehingga jika
terjadi perubahan akan mejadi resiko penyedia jasa yang harus ditanggung sepenuhnya.
Pada Perpres No. 54/2010, dijelaskan lebih dalam lagi bahwa pembayaran didasarkan
pada tahapan produk/keluaran yang dihasilkan sesuai dengan isi kontrak dan sifatnya
mengikat. Selain itu tdak diperbolehkan adanya penambahan atau pengurangan
pekerjaan
b. Kontrak Harga Satuan, dijelaskan pada PP No. 29/2000, merupakan kontrak jasa atas
berdasarkan harga satuan yang past dan tetap untuk setap satuan/unsur pekerjaan
dengan spesifikasi teknis tertentu, yang volume pekerjaannya didasarkan pada hasil
pengukuran bersama atas volume pekerjaan yang benar-benar telah dilaksanakan oleh
penyedia jasa. Pada Perpres No. 54/2010, dijelaskan lebih dalam lagi bahwa pembayaran
didasarkan pada hasil pengukuran bersama atas volume pekerjaan yang benar-benar
telah dilaksanakan penyedia jasa
c. Kontrak Gabungan Lump Sum dan Harga Satuan, merupakan jenis kontrak yang
menggabungkan metode Lump Sum dan Harga Satuan. Hal ini dilakukan karena tdak
semua jenis pekerjaan yang nilainya benar-benar tetap berdasarkan Harga Satuan dan
juga tdak dapat lagi diubah berdasarkan Lump Sum
d. Kontrak Biaya Tambah Imbalan Jasa, hanya terdapat pada PP No. 29/2000, disini
dijelaskan bahwa jenis kontrak ini digunakan jika jenis pekerjaan dan volume
kesuluruhannya belum diketahui secara past sehingga pembayaran dilakukan
berdasarkan pengeluaran biaya meliput pembelian bahan, sewa alat, upah pekerja, dan
imbalan jasa lainnya ang telah disepakat kedua belah pihak
e. Kontrak Persentase, hanya terdapat pada Perpres No. 54/2010, disini dijelaskan bahwa
jenis kontrak ini menggunakan sistem pembayaran dengan cara melihat persentase
penyelesaian pekerjaan yang telah disepakat oleh kedua belah pihak
f. Kontrak Aliansi sebagaimana dimaksud, hanya terdapat pada PP No. 29/2000, suatu
harga kontrak referensi ditetapkan lingkup dan volume pekerjaan yang belum diketahui
ataupun diperinci secara past sedangkan pembayarannya dilakukan secara biaya
tambah imbal jasa dengan suatu pembagian tertentu yang disepakat bersamaatas
penghematan ataupun biaya lebih yang tmbul dari perbedaan biaya sebenarnya dan
harga kontrak referensi
g. Kontrak Turnkey, hanya terdapat pada Perpress No. 54/2010, dilakukan dengan cara
pembayaran jumlah harga past dan tetap sampai seluruh pekerjaan selesai
dilaksanakan; dan pembayaran dilakukan berdasarkan hasil penilaian bersama yang
menunjukkan bahwa pekerjaan telah dilaksanakan sesuai dengan kriteria kinerja yang
telah ditetapkan.

4. Tanda Bukt Perjanjian


a. Pada PP No. 29/2000, disebutkan bahwa tanda perjanjian berupa:
i. surat perjanjian yang ditandatangani pengguna jasa dan penyedia jasa yang
memuat antara lain: 1) uraian para pihak; 2) konsiderasi; 3) lingkup pekerjaan; 4)
hal-hal pokok sepert nilai kontrak, jangka waktu pelaksanaan; dan 5) daftar
dokumen-dokumen yang mengikat beserta urutan keberlakuannya
ii. dokumen lelang, yaitu dokumen yang disusun oleh pengguna jasa yang merupakan
dasar bagi penyedia jasa untuk menyusun usulan atau penawaran untuk
pelaksanaan tugas yang berisi lingkup tugas dan persyaratannya (umum dan khusus,
teknis dan administratf, kondisi kontrak)
iii. usulan atau penawaran, yaitu dokumen yang disusun oleh penyedia jasa
berdasarkan dokumen lelang yang berisi metode, harga penawaran, jadwal waktu,
dan sumber daya
iv. berita acara berisi kesepakatan yang terjadi antara pengguna jasa dan penyedia jasa
selama proses evaluasi usulan atau penawaran oleh pengguna jasa antara lain
klarifikasi atas hal-hal yang menimbulkan keragu-raguan
v. surat pernyataan dari pengguna jasa menyatakan menerima atau menyetujui usulan
atau penawaran dari penyedia jasa
vi. surat pernyataan dari penyedia jasa yang menyatakan kesanggupan untuk
melaksanakan pekerjaan.
b. Pada Perpres No. 54/2010, disebutkan bahwa tanda perjanjian berupa:
i. Bukt pembelian, digunakan untuk Pengadaan Barang/Jasa yang nilainya sampai
dengan Rp5.000.000,00 (lima juta rupiah)
ii. Kuitansi, digunakan untuk Pengadaan Barang/Jasa yang nilainya sampai dengan
Rp10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah)
iii. SPK, digunakan untuk Pengadaan Barang/Pekerjaan Konstruksi/Jasa Lainnya dengan
nilai sampai dengan Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah) dan untuk Jasa
Konsultansi dengan nilai sampai dengan Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah)
iv. Surat Perjanjian digunakan untuk Pengadaan Barang/Pekerjaan Konstruksi/Jasa
Lainnya dengan nilai diatas Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah) dan untuk Jasa
Konsultansi dengan nilai diatas Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah).