Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PENDAHULUAN

1. Masalah Utama

Harga Diri Rendah

2. Pengkajian Keperawatan

a. Pengertian

Gangguan harga diri rendah digambarkan sebagai perasaan yang negatif

terhadap diri sendiri, termasuk hilangnya percaya diri dan harga diri, merasa

gagal mencapai keinginan. (Budi Ana Keliat, 2011). Menurut Schult &

videbeck (2010) gangguan harga diri rendah adalah penilaian negatif

seseorang terhadap diri dan kemampuan, yang diekspresikan secara langsung

maupun tidak langsung.

Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa gangguan harga diri rendah

adalah penilaian yang negatif terhadap diri sendiri dan kemampuan serta

merasa tidak percaya pada diri sendiri.

b. Proses Terjadinya Masalah

Harga diri rendah kronis terjadi merupakan proses kelanjutan dari harga

diri rendah situasional yang tidak diselesaikan. Atau dapat juga terjadi karena

individu tidak pernah mendapat feed back dari lingkungan tentang perilaku

klien sebelumnya bahkan mungkin kecenderungan lingkungan yang selalu

memberi respon negatif mendorong individu menjadi harga diri rendah.


Harga diri rendah kronis terjadi disebabkan banyak faktor. Awalnya

individu berada pada suatu situasi yang penuh dengan stressor (krisis),

individu berusaha menyelesaikan krisis tetapi tidak tuntas sehingga timbul

pikiran bahwa diri tidak mampu atau merasa gagal menjalankan fungsi dan

peran. Penilaian individu terhadap diri sendiri karena kegagalan menjalankan

fungsi dan peran adalah kondisi harga diri rendah situasional, jika lingkungan

tidak memberi dukungan positif atau justru menyalahkan individu dan terjadi

secara terus menerus akan mengakibatkan individu mengalami harga diri

rendah kronis.

RENTANG RESPON KONSEP DIRI

Respon adaptif Respon maladaptif

Aktualisasi Konsep diri Harga diri Kerancuan Depersonalisasi


Diri positif rendah identitas

c. Etiologi

1. Faktor Predisposisi

Faktor predisposisi terjadinya Harga Diri Rendah adalah penolakan

orang tua yang tidak realistis, kegagalan berulang kali, kurang mempunyai

tanggung jawab personal, ketergantungan pada orang lain, ideal diri yang

tidak realistis, Fakor predisposisi (stuart dan Sundeen, 2010)


Berbagai faktor menunjang terjadi perubahan dalam konsep diri

seseorang, faktor ini dapat dibagi sebagai berikut :

1) Faktor yang mempengaruhi harga diri: Penolakan orang tua, harapan

orang tua yang tidak realistik, kegagalan yang berulang kali,

ketergantungan pada orang lain

2) Faktor yang mempengaruhi peran: tuntutan peran kerja, harapan peran

kultural.

3) Faktor yang mempengaruhi identitas diri: Ketidakpercayaan orang tua,

tekanan dari kelompok sebaya, perubahan dalam struktur sisial.

2. Faktor Presipitasi

Faktor prespitasi terjadinya Haga Diri Rendah biasanya adalah

kehilangan bagian tubuh, perubahan penampilan/bentuk tubuh, kegagalan

atau produktivitas yang menurun.

Secara umum, gangguan konsep diri harga diri rendah ini dapat

terjadi secara situasional atau kronik. Secara situsional misalnya karena

trauma yang muncul secara tiba-tiba misalnya harus dioperasi, kecelakaan,

perkosaan atau dipenjara termasuk dirawat dirumah sakit bisa

menyebabkan harga diri rendah disebabkan karena penyakit fisik atau

pemasangan alat bantu yang membuat klien tidak nyaman. Penyebab

lainnya adalah harapan fungsi tubuh yang tidak tercapai serta perlakuan

petugas kesehatan yang kurang menghargai klien dan keluarga. Harga diri
rendah kronik, biasanya dirasakan klien sebelum sakit atau sebelum

dirawat klien sudah memiliki pikiran negatif dan meningkat saat dirawat.

Stresor pencetus mungkin ditimbulkan dri sumber internal dan

eksternal

1) Trauma seperti penganiayaan seksual dan psikologis atau

menyaksikan kejadian yang mengancam kehidupan.

2) Ketegangan peran berhubungan dengan peran atau posisi yang

diharapkan dimana individu mengalaminya sebagai frustasi.

Baik faktor predisposisi maupun prespitasi di atas bila

memengaruhi seseorang dalam berfikir, bersikap maupun bertindak, maka

dianggap akan memengaruhi terhadap koping individu tersebut sehingga

menjadi tidak efektif (mekanisme koping individu tidak efektif). Bila

kondisi pada klien tidak dilakukan intervensi lebih lanjut dapat

menyebabkan klien tidak mau bergaul dengan orang lain (isolasi sosial:

menarik diri), yang menyebabkan klien asik dengan dunia dan pikirannya

sendiri sehingga dapat muncul resiko perilaku kekerasan.

Menurur Peplau dan Sulivan harga diri berkaitan dengan

pengalaman interpersonal, dalam tahap perkembangan dari bayi sampai

lanjut usia seperti good me, bad me, not me, anak sering dipersalahkan,

ditekan sehingga perasaan amannya tidak terpenuhi dan merasa ditolak

oleh lingkungan dan apabila koping yang digunakan tidak efektif akan

menimbulkan harga diri rendah. Menurut Ceplan, lingkungan sosial akan


memengaruhi individu, pengalaman seseorang dan adanya perubahan

sosial seperti perasaan dikucilkan, ditolak oleh lingkungan sosial, tidak

dihargai akan menyebabkan stress dan menimbulkan penyimpangan

perilaku akibat harga diri rendah.

3. Mekanisme Koping

a. Pertahanan jangka pendek

a) Aktifitas yang dapat memberikan pelarian sementara dari krisis

identitas, misalnya main musik, bekerja keras, menonton televise

b) Akltifitas yang dapat memberikan identitas pengganti sementara,

misalnya ikut dalam aktifitas social, keagamaan

c) Aktifitas yang secara sementara menguatkan perasaan diri,

misalnya olah raga yang kompetitif, pencapaian akademik / belajar

giat.

d) Aktifitas yang mewakili upaya jangka pendek untuk membuat

masalah identitas menjadi kurang berarti dalam kehidupan

individu, misalnya penyalahgunaan obat.

b. Pertahanan jangka panjang

a) Penutupan identitas yaitu adapsi identitas pada orang yang

menurut klien penting, tanpa memperhatikan kondisi dirinya.

b) Identitas negatif yaitu klien beranggapan bahwa identifikasi yang

tidak wajar akan diterima masyarakat.


c. Pertahanan yang berorientasi ego :

a) fantasi

b) disosiasi

c) isolasi

d) proyeksi

e) displacement

d. Sumber-sumber koping :

a) aktifitas olah raga

b) hobi dan kerajinan tangan

c) seni yang ekspresif

d) kesehatan

e) kecerdasan

f) kreativitas

g) hubungan interpersonal

d. Tanda dan Gejala

1) Mengejek dan mengkritik diri

2) Merasa bersalah dan khawatir, menghukum atau menolak diri sendiri

3) Mengalami gejala fisik, misal: tekanan darah tinggi, gangguan

penggunaan zat

4) Menunda keputusan

5) Saat bergaul

6) Menghindari kesenangan yang dapat memberi rasa puas


7) Menarik diri dari realitas, cemas panik, cemburu, curiga, halusinasi

8) Merusak diri: haraga diri rendah yang menyokong klien untuk mengakhiri

hidup

9) Merusak atau melukai orang lain

10) Perasaan tidak mampu

11) Pandangan hidup yang pesimistis

12) Tidak menerima pujian

13) Penurunan produktivitas

14) Penolakan terhadap kemampuan diri

15) Kurang memperhatikan perawatan diri

16) Berpakain tidak rapih

17) Berkurang selera makan

18) Tidak berani menatap lawan bicara

19) Lebih banyak menunduk

20) Bicara lambat dengan nada suara lemah

21) Marah, sedih dan menagis

22) Perubahan pola makan, tidur, mimpi, konsentrasi dan aktivitas

23) Apatis, ekspresi sedih, afek tumpul

24) Komunikasi kurang/tidak ada. Klien tidak tampak bercakap-cakap

denganklien lain/perawat

25) Berdiam diri di kamar/klien kurang mobilitas


26) Menolak berhubungan dengan orang lain, klien memutuskan

percakapanatau pergi jika diajak bercakap-cakap

e. Masalah Keperawatan

a) Resiko isolasi sosial: menarik diri.

b) Gangguan konsep diri: harga diri rendah.

c) Berduka disfungsional.

f. Pohon Masalah

Resiko isolasi sosial: menarik diri

Gangguan konsep diri : Harga diri rendah


Core problem

Berduka disfungsional

3. Diagnosa Keperawatan

a. Resiko isolasi sosial

b. Gangguan konsep diri


4. Rencana Keperawatan

ASUHAN KEPERAWATAN HARGA DIRI RENDAH

Pasien Keluarga
No.
SPIP SPIk

1. Mengidentifikasi kemampuan dan Mendiskusikan masalah yang dirasakan


aspek positif yang dimiliki pasien keluarga dalam merawat pasien

2. Membantu pasien menilai Menjelaskan pengertian, tanda dan


kemampuan pasien yang masih dapat gejala harga diri rendah yang dialami
digunakan pasien beserta proses terjadinya.

3. Membantu pasien memilih kegiatan Menjelaskan cara-cara merawat pasien


yang akan dilatih sesuai dengan isolasi social
kemampuan pasien

4. Melatih pasien sesuai kemampuan


yang dipilih

5. Memberikan pujian yang wajar


terhadap keberhasilan pasien

6. Menganjurkan pasien memasukkan


dalam jadwal kegiatan harian

SPIIP SPIIk

1. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian Melatih keluarga mempraktekkan cara


pasien merawat pasien dengan harga diri
rendah

2. Melatih kemampuan kedua Melatih keluarga mempraktekkan cara


merawat langsung kepada pasien harga
diri rendah

3. Menganjurkan pasien memasukkan


dalam jadwal kegiatan harian

SPIIIk

1. Membantu keluarga membuat jadwal


aktivitas di rumah termasuk minum
obat (discharge planning)

2. Menjelaskan follow up pasien setelah


pulang

3.
a. Tujuan umum: sesuai masalah ( problem ).
b. Tujuan khusus:
1. Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat
Tindakan:
1.1. Bina hubungan saling percaya
- Salam terapeutik
- Perkenalan diri
- Jelaskan tujuan inteniksi
- Ciptakan lingkungan yang tenang
- Buat kontrak yang jelas (waktu, tempat dan topik pembicaraan).
1.2.Beri kesempatan pada klien mengungkapkan perasaannya.
1.3.Sediakan waktu untuk mendengarkan klien.
1.4.Katakan kepada klien bahwa ia adalah seseorang yang berharga dan
bertanggung jawab serta mampu menolong dirinya sendiri.

2. Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki.


Tindakan:
2.1.Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki klien.
2.2.Hindarkan memberi penilaian negatif setiap bertemu klien, utamakan
memberi pujian yang realistis.
2.3.Klien dapat menilai kemampuan dan aspek positif yang dimiliki.

3. Klien dapat menilai kemampuan yang dapat digunakan.


Tindakan:
3.1.Diskusikan bersama klien kemampuan yang masih dapat digunakan.
3.2.Diskusikan pula kemampuan yang dapat dilanjutkan setelah pulang
ke rumah.
4. Klien dapat menetapkan / merencanakan kegiatan sesuai kemampuan
yang dimiliki.
Tindakan :
4.1.Rencanakan bersama klien aktivitas yang dapat dilakukan setiap
hari sesuai kemampuan.
4.2.Tingkatkan kegiatan sesuai dengan toleransi kondisi klien.
4.3.Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang boleh klien lakukan.

5. Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi dan kemampuan


Tindakan :
5.1.Beri kesempatan mencoba kegiatan yang telah direncanakan.
5.2.Beri pujian atas keberhasilan
5.3.Diskusikan kemungkinan pelaksanaan di rumah.

6. Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada.


Tindakan:
6.1.Beri pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat klien.
6.2.Bantu keluarga memberi dukungan selama klien dirawat.
6.3.Bantu keluarga menyiapkan lingkungan di rumah.
6.4.Beri reinforcement positif atas keterlibatan keluarga.
DAFTAR PUSTAKA

Boyd dan Nihart. (2010). Psychiatric Nursing& Contemporary Practice. 1st edition.
Lippincot- Raven Publisher: Philadelphia.

Carpenito, Lynda Juall. (2011). Buku Saku Diagnosa Keperawatan. EGC: Jakarta.

Keliat, Budi Anna dll. (2010). Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa.. EGC: Jakarta.

Schultz dan Videback. (2012). Manual Psychiatric Nursing Care Plan. 5th edition.
Lippincott- Raven Publisher: philadelphia.

Stuart dan Sundeen. (2011). Buku Saku Keperawatan Jwa. Edisi 3. EGC: Jakarta.

Townsend. (2010). Nursing Diagnosis in Psychiatric Nursing a Pocket Guide for Care Plan
Construction. Edisi 3.Jakarta : EGC

http://wadung.wordpress.com/2010/03/21/gangguan-harga-diri-rendah/

http://aswediners.blogspot.com/2012/03/harga-diri-rendah.html