Anda di halaman 1dari 36

LAPORAN PRAKTIKUM

TEKNIK PAKAN BUATAN DAN PEMBERIAN PAKAN BUATAN

FORMULASI DAN PROSES PEMBUATAN PAKAN BUATAN


BERBENTUK PELLET DENGAN JUMLAH DAN KONSENTRASI
TERTENTU

OLEH :

WA ODE SITTI RADIA


13 410 020

PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERAIRAN


FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS DAYANU IKHSANUDDIN
BAUBAU
2016
HALAMAN PENGESAHAN

LAPORAN PRAKTIKUM
TEKNIK PAKAN BUATAN DAN PEMBERIAN PAKAN BUATAN

FORMULASI DAN PROSES PEMBUATAN PAKAN BUATAN


BERBENTUK PELLET DENGAN JUMLAH DAN KONSENTRASI
TERTENTU

WA ODE SITTI RADIA


13 410 020

Telah diperiksa dan Disetujui Oleh Koordinator Mata Kuliah dan Asistensi
Praktikum Pada Tanggal Seperti Tertera Dibawah ini :

Baubau, Agustus 2016

Ir.WARDHA JALIL, M.Si YUMAN DARMANSYAH, S.Pi


Koordinator Mata Kuliah Asisten Praktikum

Mengetahui :

SUPASMAN EMU, S.Pi., M.Si Ir. WARDHA JALIL, M.Si


Ketua Program Studi Dekan

2
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas

limpahan Rahmat dan Hidayah-Nya sehingaa laporan praktikum ini dapat

terselesaikan. Tulisan ini dimaksudkan untuk membantu mahasiswa untuk dapat

menyelesaikan berbagai masalah yang dihadapi dalam mata kuliah Produktivitas

Perairan .

Akhir kata dengan segala kerendahan hati, kami mengucapkan terima kasih

yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah memberikan bantuannya

sehingga laporan ini dapat terselesaikan. Penulis menyadari bahwa laporan

praktikum ini masih perlu perbaikan, olehnya itu sumbangan saran dari pembaca

sangat diharapkan.

Semoga laporan praktikum ini bermanfaat bagi yang menggunakannya,

Amin.

Baubau, Agustus 2016

Penyusun

3
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

HALAMAN PENGESAHAN ....................................................................... ii

KATA PENGANTAR ..................................................................................... iii

DAFTAR ISI.................................................................................................... iv

DAFTAR TABEL............................................................................................ vi

BAB I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang ................................................................................ 1

1.2. Tujuan dan Kegunaan ...................................................................... 2

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pakan Buatan ................................................................................... 3

2.2. Kebutuhan Nutrisi Pakan ................................................................ 4

2.3. Formulasi Pakan .............................................................................. 12

2.4. Pemberian Pakan ............................................................................. 13

BAB III. METODE PRAKTIKUM

3.1. Waktu dan Tempat ........................................................................... 19

3.2. Alat dan Bahan ................................................................................ 19

3.3. Prosedur Kerja ................................................................................. 20

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil ................................................................................................ 21

4.2. Pembahasan .................................................................................... 21

4.2.1. Bahan Baku dan Komposisi Pakan ..................................... 21

4.2.2. Penggilingan dan Pencampuran Pakan ................................ 22

4
4.2.3. Pengukusan dan Pencetakan ................................................ 23

4.2.4. Pengeringan ......................................................................... 24

4.2.5. Sifat Fisik Pakan .................................................................. 24

BAB V. PENUTUP

5.1. Kesimpulan ..................................................................................... 25

5.2. Saran ................................................................................................ 25

DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 26

DOKUMENTASI ........................................................................................... 27

LAMPIRAN ................................................................................................... 28

5
DAFTAR TABEL

Tabel 1. Alat praktikum ................................................................................... 19


Tabel 2. Bahan praktikum ................................................................................ 19
Tabel 3. Bahan Baku dan komposisi pakan...................................................... 21
Tabel 4. Sifat fisik pakan ................................................................................. 21

6
BAB I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Pakan yang berkualitas kegizian dan fisik merupakan kunci untuk mencapai

tujuan-tujuan produksi dan ekonomis budidaya ikan. Pengetahuan tentang gizi

ikan dan pakan ikan berperan penting di dalam mendukung pengembangan

budidaya ikan (aquaculture) dalam mencapai tujuan tersebut. Konversi yang

efisien dalam memberi makan ikan sangat penting bagi pembudidaya ikan sebab

pakan merupakan komponen yang cukup besar dari total biaya produksi. Bagi

pembudidaya ikan, pengetahuan tentang gizi bahan baku dan pakan merupakan

sesuatu yang sangat kritis sebab pakan menghabiskan biaya 40- 50% dari biaya

produksi. (Herry.S.si,2008)

Bahan bahan baku yang dipakai dalam pembuatan pakan buatan berfungsi

sebagai sumber protein, energi, mineral dan vitamin. Faktor utama yang harus

diperhatikan dalam pemilihan bahan pakan adalah kandungan nutrisi bahan,

tingkat kecernaan, ketersediaan, kontinuitas dan harga. Bahan-bahan ini bisa

didapatkan dari tumbuhan (nabati) dan hewan (hewani). Penggunaan bahan baku

lokal potensial untuk kepentingan budidaya tidak hanya berfungsi untuk menekan

biaya produksi, tetapi sekaligus menjamin kontinuitas bahan untuk kepentingan

pembuatan pakan. Pakan ikan dikatakan bermutu jika mengandung nilai nutrisi

dan gizi yang dibutuhkan oleh ikan.

Menurut Murtidjo (2001) bahwa Pakan yang berkualitas mengandung 70 %

protein, 15 % karbohidrat, 10 % lemak, dan 5 % vitamin, air, dan mineral.

Suryaingsih (2010) menyatakan bahwa kualitas pakan tidak hanya sebatas pada

1
nilai gizi yang dikandungnya melainkan pada sifat fisik pakan seperti

kelarutannya, ketercernaanya, warna, bau, rasa dan anti nutrisi yang dikandung.

Kualitas pakan juga dipengaruhi oleh bahan baku yang digunakan. Pemilihan

baku yang baik dapat dilihat berdasarkan indikator nilai gizi yang dikandungnya;

digestibility (kecernaanya); dan biovaibility (daya serap). Pakan yang berkualitas

akan mendukung tercapainya tujuan produksi yang optimal. Oleh karena itu

pengetahuan tentang nutrisi, gizi, komposisi serta kualitas secara fisik perlu

diketahui.

1.2. Tujuan dan Kegunaan

Adapun tujuan dari pelaksanaan praktikum ini adalah mengetahui cara

persiapan bahan baku dan cara pembuatan pakan serta mengetahui teknik

pembuatan pakan buatan yang baik


Kegunaan dari praktikum ini yaitu mahasiswa dapat mengetahui berbagai

macam bahan baku yang dapat digunakan untuk pembuatan pakan buatan, serta

bagaimana cara membuatnya.

2
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pakan Buatan

Menurut Gusrina (2008), Pakan buatan adalah pakan yang dibuat oleh

manusia untuk ikan peliharaan yang berasal dari berbagai macam bahan baku

yang mempunyai kandungan gizi yang baik sesuai dengan kebutuhan ikan dan

dalam pembuatannya sangat memperhatikan sifat dan ukuran ikan. Pakan buatan

dibuat oleh manusiauntuk mengantisipasi kekuranganpakan yang berasal dari

alam yang kontinuitas produksinya tidak dapat dipastikan. Dengan membuat

pakan buatan diharapkan jumlah pakan yang dibutuhkan oleh ikan akan terpenuhi

setiap saat. Pakan buatan yang berkualitas baik harus memenuhi kriteria-kriteria

seperti:

Kandungan gizi pakan terutama

protein harus sesuai dengan kebutuhan ikan

Diameter pakan harus lebih kecil dari ukuran bukaan mulut ikan

Pakan mudah dicerna

Kandungan nutrisi pakan mudah

diserap tubuh

Memiliki rasa yang disukai ikan

Kandungan abunya rendah

Tingkat efektivitasnya tinggi

Menurut Gusrina (2008) Pengelompokkan jenis-jenis pakan ikan dapat

dibuat berdasarkan bentuk, berdasarkan kandungan airnya, berdasarkan sumber

3
dan berdasarkan konstribusinya pada pertumbuhan ikan. Jenis-jenis pakan buatan

berdasarkan bentuk antara lain adalah:

Bentuk larutan, Digunakan sebagai pakan burayak ikan (berumur 2 20

hari). Larutan ada 2 macam

Bentuk tepung/meals, Digunakan sebagai pakan larva sampai benih

(berumur 2-40 hari).

Bentuk butiran/granules Digunakan sebagai pakan benih gelondongan

(berumur 40-80 hari).

Bentuk remahan/crumble, Digunakan sebagai pakan gelondongan besar/ikan

tanggung (berumur 80-120 hari).

Bentuk lembaran/flake, Biasa diberikan pada ikan hias atau ikan laut

Bentuk pellet tenggelam/sinking Biasa digunakan untuk kegiatan

pembesaran ikan air tawar maupun ikan air laut yang mempunyai kebiasaan

tingkah laku ikan tersebut berenang di dalam perairan.

Bentuk pellet terapung/floating Biasa digunakan untuk kegiatan pembesaran

ikan air tawar maupun ikan air laut yang mempunyai kebiasaan tingkah laku

ikan tersebut berenang di permukaan perairan.

2.2. Kebutuhan Nutrisi Pakan

Kebutuhan nutrisi pada ikan secara alami sudah tersedia, baik di kolam

maupun diperairan lain. Pada usaha agribisnis budidaya ikan yang dilakukan

secara tradisional, kebutuhan pakan ikan dapat dipenuhi oleh pakan alami yang

tumbuh di kolam. Akan tetapi pada skala usaha agribisnis budidaya ikan yang

dilakukan secara intensif, ketersediaan pakan alami tersebut sudah tidak mampu

4
lagi menopang pertumbuhan dan perkembangan ikan secara optimal, mengingat

kepadatan populasi pemeliharaan ikan sangat tinggi. Oleh karena itu, kebutuhan

nutrisi pada ikan ini harus disediakan melalui pemberian pakan buatan.

1. Protein

Protein merupakan suatu polimer heterogen yang tersusun atas monomer

asam amino dalam jumlah banyak, mencapai ribuan bahkan ratusan yang saling

berhubungan satu sama lain melalui ikatan peptida dan ikatan silang antara ikatan

hidrogen, ikatan sulfhidril, dan ikatan van der waal. Protein merupakan penyusun

utama makhluk hidup, molekul protein ini mengandung unsur oksigen, nitrogen,

hidrogen, karbon, sulfur, serta fosfor yang sangat dibutuhkan oleh makhluk hidup.

Pada makhluk hidup, protein memegang peranan penting, baik sebagai antibodi

(sistem kekebalan tubuh), sistem kendali (hormon), sumber asam amino bagi

organisme heterotof (tidak mampu membentuk asam amino), sumber gizi,

maupun dalam fungsi struktural atau mekanis (pembentuk batang dan sendi

sitoskeleton). Pada ikan, protein memegang peranan penting karena material

organik utama dalam jaringan dan organ tubuh ikan tersusun oleh protein berkisar

antara 18-30 %. Bahkan bersama dengan komponen nitrogen lain, protein

berperan dalam membentuk vitamin, enzim, asam nukleat, hormon dan lain-lain.

Fungsi Utama Protein Pada Ikan:

Berperan dalam pembentukan antibodi, hormon, enzim, vitamin.

Berperan dalam pertumbuhan maupun pembentukan jaringan tubuh.

Sebagai sumber gizi.

5
Sebagai sumber energi utama, terutama apabila komponen lemak dan

karbohidrat yang terdapat di dalam pakan tidak mampu memenuhi

kebutuhan energi.

Berperan dalam perbaikan jaringan tubuh yang rusak.

Turut berperan dalam pembentukan gamet.

Berperan dalam proses osmoregulasi di dalam tubuh.

2. Lemak (Lipids)

Lemak adalah senyawa organik yang tersusun atas unsur-unsur karbon (C),

hidrogen (H), dan oksigen (0). Molekul-molekul penyusun lemak meliputi asam

lemak, sterol, monogleserida, fosfolipida, glikolipida, digliserida, malam,

terpenoida (getah dan steriod), vitamin larut dalam lemak seperti vitamin A, D, E,

K, dan lain-lain. Lemak pada ikan merupakan sumber energi yang paling tinggi.

Secara khusus, lemak juga disebut minyak hewani pada suhu kamar yang terdapat

pada jaringan tubuh adiposa. Pada jaringan adiposa, sel lemak mengeluarkan

hormon sitokina, hormon leptin dan resistin. Hormon sitokina yang dihasilkan

oleh jaringan adiposa ini berperan penting dalam komunikasi antarsel, sedangkan

hormon leptin dan resistin berperan penting dalam sistem kekebalan. Sebenarnya

lemak dan minyak adalah senyawa organik yang tersusun oleh molekul yang

sama, perbedaannya hanya terletak pada titik cair dan bobot molekul. Titik cair

pada lemak lebih tinggi jika dibandingkan dengan minyak, selain itu lemak juga

memiliki bobot molekul yang lebih berat dengan rantai yang lebih panjang.

Fungsi Lemak Secara umum fungsi lemak bagi makhluk hidup adalah :

Sebagai cadangan energi dalam bentuk sel lemak.

6
Menopang fungsi senyawa organik sebagai penghantar sinyal.

Menjadi suspensi bagi vitamin A, D, E dan K yang berperan penting dalam

proses biologis.

Berfungsi sebagai penahan goncangan terutama dalam melindungi organ

vital dan melindungi tubuh dari suhu luar yang kurang bersahabat.

Sebagai sarana sirkulasi energi di dalam tubuh dan komponen utama yang

membentuk membran semua jenis sel.

Lemak dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu lemak sederhana, lemak

campuran, dan lemak turunan.

1. Lemak sederhana (simple lipids) terdiri atas lemak netral (trigliserida), ester

gliserol, wax (ester kolesterol, ester vitamin A atau D), dan lain-lain. Wax

merupakan ester asam lemak dari alkohol berantai panjang, berperan

sebagai sumber energi dan memperbaiki karakteristik fisika dan kimia.

2. Lemak campuran (compound lipids), misalnya fosfolipid yang merupakan

ester asam lemak dan asam fosfatidik. Lemak ini merupakan komponen

utama lemak pada membran sel.

3. Lemak turunan (derived lipids), yaitu produk hidrolisis dari lemak

sederhana dan lemak campuran. Komponen utama lemak turunan adalah

asam lemak.

3. Karbohidrat

Karbohidrat merupakan salah satu komponen sumber energi bagi makhluk

hidup atau senyawa organik kompleks yang terdiri atas unsur karbon, hidrogen,

oksigen, yang secara biokimia mengandung gugus fungsi karbonil (sebagai

7
aldehida atau keton) dan banyak gugus hidroksil. Fungsi karbohidrat dalam tubuh

adalah sebagai :

cadangan makanan (misalnya pati pada tumbuhan dan glikogen pada

hewan),

sebagai bahan bakar (misalnya glukosa), materi pembangun (misalnya

selulosa pada tumbuhan, kitin pada hewan dan jamur).

Peranan lain dari karbohidrat adalah sebagai prekursor dalam berbagai

metabolisme internal (intermediate metabolism) dimana produk yang

dihasilkan dibutuhkan untuk pertumbuhan, misalnya asam amino

nonesensial dan asam nukleat.

Karbohidrat dalam tubuh ikan disimpan di dalam hati dan otot dalam bentuk

glikogen, dan berfungsi sebagai cadangan energi. Meskipun demikian,

peranan karbohidrat sebagai sumber energi bagi ikan belum bisa dipahami

sepenuhnya karena ikan masih dapat hidup dengan baik meskipun tanpa

pemberian karbihodrat. Hal ini diperkirakan bahwa ikan tidak mempunyai

kebutuhan karbohidrat secara khusus meskipun pemberian pakan ikan yang

mengandung karbohidrat memberikan peningkatan pertumbuhan dan

perkembangan ikan secara optimal. Contoh bahan baku pakan ikan yang

mengandung karbohidrat adalah jagung, beras, dedak, tepung terigu,

tapioka, serta sagu. Sebagian contoh bahan pakan ikan di atas dapat

berfungsi sebagai alat perekat (hinder) untuk mengikat komponen bahan

baku dalam pembuatan pakan ikan.

8
karbohidrat juga berperan dalam penghematan penggunaan protein yang

digunakan sebagai sumber energi utama bagi tubuh ikan. Apabila pakan

yang diberikan kekurangan karbohidrat, maka seluruh energi yang

dikeluarkan ikan harus dipenuhi melalui penyerapan protein. Dengan

demikian, penggunaan protein dalam penggunaan protein untuk

menghasilkan energi dan proses metabolik lainnya menjadi kurang efisien.

Penggunaan protein yang kurang efisien akan menghambat pertumbuhan

dan perkembangan ikan. Penghematan protein melalui peran karbohidrat ini

disebut protein sparing effect dari karbohidrat, di mana karbohidrat dapat

menghemat protein. Beberapa referensi menyebutkan bahwa pemberian

0,23 g karbohidrat dalam 100 g pakan dapat menghemat protein sebesar

0,05 gram.

Berdasarkan jumlah molekul yang dimilikinya, karbodidrat dibedakan

menjadi monosakarida, polisakarida, disakarida, dan oligosakarida.

Monosakarida merupakan golongan karbohidrat yang paling sederhana,

terbentuk oleh satu molekul gula sederhana. Karbohidrat dalam bentuk

monosakarida diantaranya adalah galaktosa, triosa, pentosa, dan heksosa.

Monosakarida yang paling banyak terdapat di dalam sel adalah pentosa

(ribosa dan dioksiribosa) dan heksosa (glukosa dan fruktosa).

Polisakarisa merupakan molekul karbohidrat terbentuk oleh molekul gula

yang terangkai menjadi rantai yang panjang serta dapat pula bercabang-

cabang. Karbohidrat dalam bentuk polisakarida diantaranya pati, kitin,

selulosa, glikogen, pektin, lignin, amilosa, dan amilopektin.

9
Disakarida merupakan molekul karbohidrat yang terbentuk oleh dua

monosakarida. Karbohidrat dalam bentuk disakarida siantaranya maltosa

(gula anggur), laktosa (gula susu), sukrosa (gula tebu), dan selubiosa (hasil

hidrolisis tidak sempurna dari selulosa).

Oligosakarida merupakan molekul karbohidrat yang terbentuk oleh

beberapa monosakarida.

4. Vitamin

Vitamin merupakan senyawa organik yang berbobot molekul kecil yang

mutlak diperlukan oleh tubuh meskipun dalam jumlah yang relatif kecil. Senyawa

organik esensial ini tidak dapat diproduksi oleh tubuh ikan. Vitamin memegang

peranan vital dalam metabolisme terutama untuk menjaga agar proses-proses yang

terjadi di dalam tubuh ikan tetap berlangsung dengan baik. Pada dasarnya,

senyawa vitamin ini digunakan oleh tubuh untuk tumbuh dan berkembang secara

normal.

Dalam proses osmoregulasi tubuh, vitamin mempunyai peranan yang

penting, di antaranya sebagai berikut:

Vitamin merupakan senyawa yang berfungsi sebagai katalisator (pemacu)

dalam proses metabolisme ikan. Sebagai bagian dari enzim atau koenzim

vitamin sangat berperan dalam pengaturan berbagai proses metabolisme

tubuh ikan. Selain itu, vitamin mampu mempercepat proses perombakan

pakan tanpa mengalami perubahan.

Vitamin berfungsi untuk membantu protein dalam memperbaiki dan

membentuk sel baru.

10
Vitamin berperan dalam mempertahankan fungsi berbagai jaringan tubuh

ikan sehingga mekanisme jaringan tubuh tersebut tetap bisa berjalan

sebagaimana mestinya.

Vitamin turut berperan dalam pembentukan senyawa-senyawa tertentu di

dalam tubuh.

5. Mineral

Mineral merupakan elemen anorganik yang dibutuhkan oleh ikan dalam

pembentukan jaringan dan berbagai fungsi metabolisme dan osmoregulasi. Ikan

juga menggunakan mineral untuk mempertahankan keseimbangan osmosis antara

cairan tubuh dan cairan di sekitarnya. Meskipun dibutuhkan dalam jumlah relatif

kecil, namun mineral memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga

kelangsungan hidup, karena mineral sangat dibutuhkan dalam beberapa proses

yang berlangsung di dalam tubuh ikan.

Fungsi Mineral pada ikan terutama dalam proses pembentukan rangka,

pernapasan, dan metabolisme. Kalsium (Ca), Phosphor (P), Flourine (F), dan

Magnesium (Mg) merupakan kelompok mineral pembentuk rangka yang berperan

dalam pembentukan struktur tubuh ikan, seperti tulang, gigi, dan sisik ikan.

Sedangkan kelompok mineral yang berperan dalam proses pernafasan meliputi

Ferum (Fe), Kalsium (Ca), dan Cuprum (Cu). Fungsi utama lain dari mineral, baik

esensial maupun nonesensial, terhadap pertumbuhan dan perkembangan ikan

adalah untuk membantu proses metabolisme. Mineral-mineral tersebut berperan

dalam pembentukan enzim dan pengaturan keseimbangan antara cairan tubuh dan

cairan lingkungannya.

11
Beberapa fungsi lain dari mineral pada ikan :

1. Natrium (Na), Kalium (K), Kalsium (Ca), dan Klor (Cl) berfungsi untuk

mengatur keseimbangan asam basa dan proses osmosis antara cairan tubuh

ikan dan lingkungannya.

2. Ferum (Fe), Cuprum (Cu), dan Cobalt (Co), memegang peranan penting

dalam proses pembekuan darah dan pembentukan hemoglobin pada tubuh

ikan.

3. Klor (Cl), Magnesium (Mg), dan Phosphor (P), memegang peranan penting

dalam proses metabolisme tubuh ikan.

4. Cuprum (Cu) dan Zinc (Zn) berperan untuk mengatur fungsi sel; Sulfur (S)

dan Phosphor (P) berperan untuk membentuk fosfolipid dan bahan inti sel,

Bromine (Br) berperan untuk mematangkan kelenjar kelamin, dan Iodin (I)

berperan untuk membentuk hormon tiroid

2.3. Formulasi Pakan

Menurut Gusrina (2008) Metoda segiempat kuadrat adalah suatu metode

yang pertama kali dibuat oleh ahli pakan ternak dalam menyusun pakan ternak

yang bernama Pearsons.. Metode ini ternyata dapat diadaptasi oleh para ahli pakan

ikan dan digunakan untuk menyusun formulasi pakan ikan. Dalam menyusun

formulasi pakan ikan dengan metode ini didasari pada pembagian kadar protein

bahan-bahan pakan ikan. Berdasarkan tingkat kandungan protein, bahan-bahan

pakan ikan ini terbagi atas dua bagian yaitu :

Protein Basal, yaitu bahan baku pakan ikan, baik yang berasal dari nabati,

hewani dan limbah yang mempunyai kandungan protein kurang dari 20%.

12
Protein Suplement, yaitu bahan baku pakan ikan, baik yang berasal dari

nabati, hewani dan limbah yang mempunyai kandungan protein lebih dari

20%.

Banyak cara yang dapat dilakukan untuk menentukan komposisi pakan

buatan, namun cara yang paling mudah adalah dengan metode kuadrat. Metode ini

didasarkan pada pembagian bahan bahan pakan ikan menurut kandungan

proteinnya.

Secara garis besar, proses pembuatan pakan ikan meliputi tahapan kegiatan

pengecilan ukuran, premixing, pencampuran, pencetakan, penjemuran,

pengemasan, dan penyimpanan. Proses proses tersebut bertujuan untuk

meningkatkan nilai nutrisional, memperbaiki nilai organoleptik, menekan biaya

produksi, memudahkan konsumen, dan memperpanjang umur simpan (Djunaidah,

1984).

2.4. Pemberian Pakan

Pemberian pakan buatan untuk ikan harus dilakukan secara benar dan hati-

hati supaya pertumbuhan ikan dapat berlangsung normal. Dengan demikian

diharapkan tidak akan terjadi pemborosan. Pemakaian pakan ikan buatan

dipengaruhi oleh unsur cara pemberiannya, frekuensi pemberian, jumlah ransum

perhari, suhu air dan keadaan lingkungan.

Cara Pemberian Pakan

Untuk benih yang masih kecil pakan diberikan dengan menyerakkannya

secara merata diseluruh permukaan air apabila makanan ikan berbentuk cairan

maka sebaiknya pemberian pakan dilakukan dengan alat penyemprot

13
(sprayer). Dan apabila pakan ikan yang berbentuk tepung dan remah dapat

diberikan dengan cara ditaburkan menggunakan tangan pada tempat dan waktu yg

sama (tetap). Tempat pemberian pakan sebaiknya ditetapkan didekat pintu

pengeluaran air agar ikan terbiasa untuk menunggu makanannya di tempat

tersebut pada waktu yg telah ditentukan, selain itu sisa-sisa pakan yang tidak

termakan oleh ikan tidak tersebar kemudian membusuk di seluruh kolam.

Pakan ikan buatan diberikan secara berangsur-angsur sedikit demi sedikit

sesuai kebiasaan makannya. Apabila kira-kira sepertiga dari jumlah ikan-ikan

yang ada sudah tidak mau lagi memakan makanan yang dilemparkan maka

pemberiannya segera dihentikan, jika sudah diberikan pakannya secara teratur

maka ikan anda akan jauh lebih sehat dan siap untuk dipanen.

Cara memberikan pakan yang baik juga wajib diketahui oleh para pelaku

usaha ternak ikan agar tatacara pemberian pakan menjadi lengkap dan tepat guna.

1. Cara memberikan pakan yang berbentuk pelet apung harus dilakukan

dengan cara menyebar pelet menjadi tiga bagian untuk mudahnya kita

umpamakan tiga bagian kolam adalah ujung kanan, tengah dan ujung kiri

langkah pertama adalah sebar pelet secukupnya pada sisi ujung kanan kolam

setelah pelet habis sebar lagi secukupnya pada sisi tengah kolam setelah

habis sebar lagi pada sisi ujung kiri kolam dan lakukan proses tersebut

sampai ikan kenyang terlihat beberapa butir pelet yang tersisa pada saat

ditebar dipermukaan kolam hingga habis. Metode pemberian pakan seperti

ini dilakukan agar ikan lebih aktif bergerak sehingga membantu

14
pertumbuhan ikan selain itu dengan cara ini para pelaku usaha ternak ikan

juga dapat mengontrol tingkat responsif ikan.

2. Untuk pelet tenggelam cara memberikannya berbeda pelet tenggelam tidak

disebar melainkan hanya ditebarkan pada satu titik sesuai namanya sifat

pelet tenggelam akan tenggelam pada saat ditebar jadi tebarkanlah sedikit-

sedikit karena ikan tersebut suka mengejar pakan yang bergerak jadi

dikhawatirkan pelet yang terlanjur tenggelam tidak akan dimakan jika pada

titik pemberian pakan pelet tenggelam respon ikan sudah nampak menurun

sebaiknya pemberian pakan dihentikan lalu ulangi dan lakukan lagi

prosesnya pada setiap pemberian pakan pelet tenggelam.

3. Pada segmen pembenihan pakan alami seperti cacing sutera diberikan

dengan cara disebar di sudut di sisi dan di bagian tengah kolam cacing

sutera yang telah dibersihkan/dibilas lalu diambil seujung tangan kemudian

diletakkan pada titik yang berbeda teknik ini sangat efektif karena larva ikan

yang berjumlah ribuan yang tersebar di seluruh bagian kolam akan rata

mendapatkan makanan. Sementara pada segmen pembesaran pemberian

pakan tambahan seperti ayam tiren sebaiknya digantung hal ini dilakukan

agar meminimalisasikan sisa tulang yang berserakan pada dasar kolam

dengan cara seperti ini tulang yang tersisa di tali gantungan dapat segera

dibuang dan sisa tulang yang berserakan bisa sangat berbahaya bagi pelaku

ternak ikan pada saat panen atau menguras kolam karena bisa saja terinjak

dan melukai kaki atau dapat merobek terpal bagi pengguna kolam terpal.

15
Pemberian Vitamin

Probiotik merupakan mikroorganisme hidup yang sangat bermanfaat bagi

makhluk hidup karena mikroorganisme yang terkandung pada Probiotik mampu

membantu pencernakan makanan pada tubuh ikan sehingga makanan yang

mengandung probiotik akan mampu dicerna dan diserap tubuh dengan baik.

Selain itu probiotik mampu meningkatkan kekebalan tubuh dari serangan

penyakit.

Pada Budidaya Ikan probiotik diberikan sebagai campuran makanan dan ada

yang ditaburkan pada kolam pemeliharaan. Untuk Probiotik yang dicampur pakan

bisa dicampurkan dengan pakan buatan pabrik (pelet) maupun pakan alami dari

tumbuh-tumbuhan seperti daun-daunan dan lain-lain. Penebaran probiotik pada

kolam akan membantu tumbuhnya plankton-plankton dan mikroorganisme

lainnya dalam air kolam sebagai makanan alami ikan. Probiotik jenis ini akan

menggemburkan dasar kolam sekaligus memelihara kualitas air seperti Nature

atau Super Plankton. Probiotik ini cukup diguyurkan ke air kolam pada pagi hari

setiap dua minggu sekali supaya air selalu sehat tidak blooming dan penuh dengan

plankton sebagai pakan alami. Para petani Ikan sudah terbiasa memakai probiotik

dicampur pakan. Dengan campuran probiotik dan pelet membuat metabolisme dan

pencernaan ikan sempurna, sebagian besar 90% pakan yang masuk ke dalam

tubuh akan menjadi daging.

Ikan pemberian probiotik sangat membantu pertumbuhan ikan dari berbagai

riset probiotik memang terbukti baik untuk pemeliharaan air kolam dan pemacu

pertumbuhan ikan. Karena ada introduksi mikroba positif maka kolam menjadi

16
lebih sehat dan ikan juga lebih kuat terhadap stres dan penyakit. sehingga

pertumbuhan ikan sangat pesat karena probiotik juga merangsang nafsu makan.

Selanjutnya pemberian probiotik untuk pemeliharaan air cukup dua minggu sekali

atau ketika kondisi air menurun kualitasnya.

Frekuensi Pemberian Pakan Ikan

Frekuensi pemberian pakan untuk burayak dan benih harus lebih sering

dilakukan yaitu kurang lebih 6 kali sehari. Untuk ikan-ikan besar yang pakannya

sudah berbentuk pelet sebaiknya diberikan sebanyak 4 kali sehari tenggang waktu

antara pemberian pakan yg pertama dengan yang berikutnya sekitar 2 jam dan

sebaiknya dilakukan pada waktu pagi dan sore hari, apabila pakannya hanya

sebagai tambahan saja cukup 2 kali sehari.

Jumlah Ransum Harian

Untuk burayak atau benih ikan relatif membutuhkan ransum harian lebih

banyak yaitu sekitar 7% dari beratnya. Sedangkan untuk yang sudah berumur

lebih dari 120 hari dapat diberikan pelet dan jumlah ransum hariannya berkisar

antara 1-4% dari berat badannya.

Unsur Lingkungan

Keadaan lingkungan seperti suhu air dan kadar oksigen sangat berpengaruh

terhadap pemberian pakan, suhu air yang terlalu rendah atau terlalu tinggi dapat

mengakibatkan nafsu makan ikan akan terganggu sehingga pakan yg diberikan

banyak yang tidak termakan demikian pula jika kadar oksigen dalam air menurun

maka akan berdampak pada kondisi ikan.

17
Jika lingkungan tidak baik atau tercemar maka pertumbuhan ikan akan

terhambat dan bisa juga mengalami kematian yang sangat tinggi diakibatkan

kondisi lingkungan kurang baik maka lingkungan sangat berpengaruh sekali

terhadap pemeliharaan ikan baik secara internal maupun secara eksternal.

18
BAB III. METODE PRAKTIKUM

3.1. Waktu dan Tempat

Praktikum dilaksanakan pada hari Jumat, 05 Agustus 2016, Pukul 08.00

WITA, bertempat di Laboratorium Terpadu Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

UNIDAYAN Baubau.

3.2. Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang akan digunakan pada praktikum ini dapat dilihat pada

Tabel 1 dan Tabel 2 dibawah ini.

Tabel 1. Alat Praktikum


No Alat Kegunaan
1 Panci Untuk mengukus adonan
2 Kompor Untuk memanaskan adonan pakan
3 Blender Untuk menghaluskan bahan baku
4 Nampan Sebagai wadah bahan baku
5 Timbangan Untuk menimbang bahan baku
6 Sendok Untuk menakar dan mengaduk
7 Baskom Sebagai wadah adonan pakan yang telah dikukus
8 Spoit Untuk mencetak adonan
9 Alat tulis Untuk mencatat

Tabel 2. Bahan praktikum

No Bahan Protein Karbohodrat Lemak


1 Tepung ikan teri 63,76 4,1 3,7
2 Tepung rebon 59,40 3,20 3,60
3 Tepung kedelai 39,6 29,50 13,30
4 Dedak halus 11,35 28,62 12,15
5 Tepung terigu 8,90 77,30 1,30
6 Vitamin & Mineral - - -
7 Air - - -

19
3.3. Prosedur Kerja

Prosedur kerja pembuatan pakan ikan laut dengan Cp 50% adalah sebagai

berikut :

1. Menghitung kebutuhan bahan baku pakan dengan metode bujur sangkar.

2. Pembuatan pakan berbentuk pellet, dengan prosedur :

a. Bahan baku yang telah ada disangrai dan digiling menggunakan blender.

b. Bahan-bahan yang telah halus, lalu ditimbang dengan menggunakan

timbangan dengan nilai yang telah ditentukan jumlah masing-masing

bahannya melalui metode bujur sangkar.

c. Bahan-bahan yang telah ditimbang dicampur sesuai dengan jumlahnya.

Yang dicampur terlebih dahulu bahan-bahan yang merupakan protein

basal. Setelah itu masukkan bahan protein/suplemen, serta ditambahkan

vitamin dan mineral sebanyak 6 gram. Diaduk perlahan-lahan sambil

diberi air hangat secukupnya sampai berbentuk adonan.

d. Bahan yang telah berbentuk adonan tadi dikukus selama 40 menit.

e. Pakan buatan yang telah dikukus lalu digiling dan dibentuk pellet,

dengan besar pellet sesuai besar bukaan bukaan mulut ikan yang akan

diberikan

f. Pellet yang telah jadi lalu dijemur sampai kering.

20
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil

Dari hasil perhitungan yang dilakukan dengan metode bujur sangkar,

didapatkan hasil komposisi pakan sebagai berikut.

Tabel 3. Bahan baku dan komposisi pakan

No Bahan Baku Komposisi Pakan (g)

1 Tepung ikan teri 91,14


2 Tepung rebon 91,14
3 Tepung kedelai 91,14
4 Dedak halus 10,29
5 Tepung terigu 10,29
6 Vitamin & Mineral 6

Tabel 4. Sifat Fisik Pakan

Uraian Hasil pengamatan


Ada atau tidaknya benda lain dalam pakan Tidak ada
Tingkat kehalusan butiran pakan Permukaan kasar
Warna Warna merata
Morfologi pakan Terdapat lubang dipermukaan
Aroma Aroma khas yang kuat

4.2. Pembahasan

4.2.1. Bahan baku dan komposisi pakan

Pada praktikum ini pakan dibuat dalam bentuk pellet. Kajian utama dalam

praktikum ini adalah formulasi dan proses pembuatan pakan dengan beberapa

bahan yang dibuat dengan komposisi yang berbeda. ( lihat tabel 3).
Komposisi bahan baku dalam pembuatan pellet tersebut yaitu tepung ikan

teri, tepung rebon, dan tepung kedelai sebanyak 91,14 g. Sedangkan dedak halus

21
dan tepung terigu sebanyak 10,29 g, serta vitamin & mineral yaitu 6 gram.

Sehingga total pakan yang dibuat adalah 300 g. Fathia (2009) menyatakan bahwa

kandungan nutrisi dari bahan baku alami tepung ikan teri, tepung rebon, tepung

kedelai, dedak halus, dan tepung terigu memiliki kandungan protein, karbohidrat,

dan lemak yang berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan pakan untuk ikan (lihat

Tabel 2).
Berdasarkan hal tersebut (Tabel 2) dapat dikatakan bahwa tepung ikan,

tepung rebon dan tepung kedelai adalah penyumbang protein terbesar dalam

pakan yang dibuat, sedangkan dedak halus dan tepung terigu berperan sebagai

sumber karbohidrat sekaligus sebagai bahan perekat. Tepung terigu memiliki serat

yang mampu mengikat kestabilan air sehingga pakan tidak mudah lapuk atau

rusak.

4.2.2. Penggilingan dan pencampuran bahan

Sebelum dilakukan penggilingan/penghalusan, bahan-bahan yang telah

dipilih dipastikan sudah disangrai terlebih dahulu. Hal ini dimaksudkan agar

dalam proses penggilingan. Penggilingan dilakukan satu persatu untuk tiap bahan.

Penghalusan bahan (pembuatan tepung) bertujuan untuk memperoleh ukuran yang

relatif halus dan seragam. Bahan baku yang halus, selain mudah dicerna juga

menghasilkan pakan yang relatif lebih kompak. Sebaliknya, bahan baku yang

kasar relatif sulit dicerna dan dapat menyebabkan kematian ikan karena sering

menyumbat kerongkongan hatau saluran pencernaan.

Aryani (2008) menyatakan bahwa Keuntungan lain dari proses penghalusan

bahan baku pakan adalah panas yang ditimbulkan selama penghalusan dapat

22
mengaktifkan beberapa senyawa toksik atau antinutrien. Pengurangan kadar air

bahan baku selama proses penghalusan juga aka meningkatkan stabilitas bahan

baku tersebut dalam mempermudah penyimpanan dan mempermudah penanganan

selama proses pencampuran serta pencetakan.

Selanjutnya bahan-bahan yang telah menjadi tepung ditimbang sesuai

jumlah masing-masing bahan, lalu dicampur secara bertahap mulai dari bahan

yang merupakan protein bassal kemudian bahan suplemen.

Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Mahyudin (2008) yang mengatakan

bahwa pencampuran bahan harus dilakukan secara bertahap, mulai dari bahan

yang volumenya kecil hingga yang besar.

Jika pencampuran bahan baku dalam praktikum dilakukan sekaligus dan

tidak bertahap hal ini dapat menyebabkan kualitas pakan yang kurang baik. Proses

pencampuran pakan yang tidak homogen dapat mengakibatkan pakan tidak dapat

tahan lama di air dan partikel-partikel pakan mudah terlepas sehingga terjadi

defisit salah satu nutrisi dalam pakan (Anonim, 2010).

4.2.3. Pengukusan dan pencetakan

Sebelum mencetak pelet, adonan pakan yang sudah dicampur terlebih

dahulu dikukus selama 40 menit. Pengukusan dilakukan untuk meningkat kan

sifat gelatin pada bahan terutama yang mengandung karbohidrat sehingga mampu

merekatkan komponen-komponen pakan. Pencetakan bahan dilakukan untuk

menghasilkan bentuk dan ukuran pakan yang sesuai dengan kebutuhan ikan.

Pakan yang telah dikukus dibentuk menggunakan spoit agar hasil yang didapat

23
lebih rapi dan sesuai dengan kebutuhan ikan. Gejala yang terjadi saat pembuatan

pakan adalah suhu pelet yang terbentuk hangat, dan terasa lebih lengket.

Selama proses pencetakan pelet akan terjadi kompresi dan ekstrusi yang

dapat menikkan suhu bahan baku pakan menjadi 72 oC dengan kadar air 17 18

%. Proses ekstrusi menghasilkan tekanan dan suhu tinggi sehingga akan

menghasilkan pelet yang mampu terapung (Floating pellet) di permukaan air.

4.2.4. Pengeringan

Tahap akhir dalam pembuatan pakan berbentuk pellet adalah tahap

pengeringan. Pelet yang dihasilkan dari pencetakan segera dikeringkan. Proses

pengeringan dilakukan hingga kadar air pakan mencapai 10 12%. Pakan dengan

kadar air yang terlalu tinggi (Aw) kurang menguntungkan karena mudah

ditumbuhi mikroba (jamur) dan disukai serangga. Sebaliknya, pakan dengan Aw

rendah juga kurang menguntungkan karena akan terjadi peningkatan laju proses

oksidasi dan pencokelatan. Pellet yang telah jadi dijemur 2 hari untuk

menghilangkan kadar air dalam pakan tersebut.

4.2.5. Sifat fisik pakan

Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan tidak terdapat benda lain

dalam pakan yang dibuat. Pakan yang dibuat memiliki permukaan yang kasar dan

terdapat lubang pada permukaannya. Warna pakan yang dihasilkan merata dan

memiliki aroma khas yang kuat. Aroma yang khas sangat disukai ikan dan dapat

meningkatkan nafsu makan ikan (Anonim, 2010). Shingga pakan yang dibuat

dalam praktikum ini dapat diberikan pada ikan untuk menunjang kehidupannya.

24
BAB V. PENUTUP

5.1. Kesimpulan

Dari hasil praktikum yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa :

Pencampuran bahan-bahan dalam pembuatan pakan harus dimulai dari

bahan-bahan yang tergolong dalam protein bassal, kemudian menyusul

bahan-bahan yang tergolong dalam protein suplemen.

Pakan yang dihasilkan memiliki aroma yang kuat, sehingga memungkinkan

menambah nafsu makan pada ikan.

Pakan yang dihasilkan dapat dijadikan sebagai pakan buatan untuk ikan,

namun masih perlu adanya penambahan suplemen lain agar pakan yang

dihasilkan lebih bernutrisi lagi.

5.2. Saran

Dalam praktikum selanjutnya sebaiknya setiap kelompok diberikan

perlakuan yang berbeda dalam pembuatan pakannya sehingga dapat dilihat

perbedaan dari setiap perlakuan tersebut.

25
DAFTAR PUSTAKA

Anonim,2010. Modul Program Keahlian Budidaya Ikan Membuat Pakan Ikan


Buatan. http:// pijvedca.depdiknas.go.id/perikanan bdat.pdf. (Kamis, 30
Desember 2010).

Aryani,E. 2008. Pakan Ikan. Kanisius. Yogyakarta.

Djunaidah I.S. 1984. Makanan Buatan. Balai Budidaya Air Payau. Jepara.

Fathia, S.D. (2009). Pengaruh Pakan Campuran Kayambang (Salvinia Molesta)


Terhadap Pertumbuhan Lele Sangkuriang (Clarias Sp) Usia Pembesaran.
Jurusan Pendidikan Biologi UPI: tidak diterbitkan.

Gusrina. 2008. Budidaya Ikan Jilid 1 untuk SMK. Direktorat Pembinaan Sekolah
Menengah Kejuruan, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar
dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta.

https://nurhasanblogger.wordpress.com/2015/01/28/teknik-pemberian-pakan-ikan/

http://dwitiya-martharini.blog.ugm.ac.id/2012/08/13/analisis-proksimat-tepung-
ikan/

http://arryfishmeal.blogspot.com/2012/10/pengertian-tepung-ikan-dan-
pemakaiannya.html

Herry. 2008. Pengenalan Bahan Baku Pakan Ikan. http://www.forumsains.com/. Diakses pada
tanggal 6 mei 2012

Mahyuddin, K. 2008. Panduan Lengkap Agribisnis Lele. Penebar Swadaya,


Jakarta.171 hlm.

Murtidjo, Bambang Agus. 2001. Pedoman Meramu Pakan Ikan. Kanisius:


Yogyakarta.

Suryaningsih, 2010. Makanan Ikan. ITB. Bandung.

26
DOKUMENTASI

Penimbangan bahan baku Pencampuran bahan baku

Pengukusan Pencetakan

27
Penjemuran

28
LAMPIRAN

Untuk menghitung kebutuhan pakan ikan dengan kebutuhan kadar protein

sebesar 50% sebanyak 300 gram, maka perlu ditentukan terlebih dahulu kadar

protein yang akan digunakan, hal ini dikarenakan terdapat vitamin dan mineral

didapam bahan baku pakan tersebut sehingga perlu dilakukan perhitungan sebagai

berikut:

Kadar protein = (50%) X (300) / 294


= 51 %

Selanjutnya menghitung komposisi pakan yang akan digunakan namun,

terlebih dahulu menentukan golongan protein bassal dan protein suplemen.

Tepung ikan teri = 63,76 %


Tepung rebon = 59,40 %
Tepung kedelai = 39,6 %
Dedak halus = 11,35 %
Tepung terigu = 8,90 %
Vitamin & Mineral = 2%

Protein Suplemen (>20%) =

Tepung ikan teri + Tepung rebon +Tepung kedelai


3
63,76% + 59,40% + 39,6%
= 3

= 54,25%
Dedak Halus + Tepung terigu
Protein Bassal (<20%) = 2

29
11,35% + 8,90%
= 2

= 10,13%

Kemudian dihitung kebutuhan bahan baku menggunakan metode bujur

sangkar.

Protein Suplemen 54,25% 40,87%


51%

Protein Bassal 10,13% 3,25 % +


44,12%

Sehingga Bahan Baku Suplemen : ( 40,87% : 44,12% ) = 0,93%

Bahan Baku Bassal : ( 3,25% : 44,12% ) = 0,07%

Jadi untuk membuat 300 gram pakan ikan ini, dapat mencampur :

Tepung ikan teri : (0,93% : 3) x 294 = 91,14 gram

Tepung rebon : (0,93% : 3) x 294 = 91,14 gram

Tepung kedelai : (0,93% : 3) x 294 = 91,14 gram

Dedak halus : (0,07% : 2) x 294 = 10,29 gram

Tepung terigu : (0,07% : 2) x 294 = 10,29 gram

30