Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Infeksi Menular Seksual (IMS) sampai saat ini masih merupakan
masalah kesehatan masyarakat di seluruh dunia, baik di negara maju
(industri) maupun di negara berkembang. Insiden maupun prevalensi yang
sebenarnya diberbagai negara tidak diketahui dengan pasti. IMS merupakan
satu kelompok penyakit yang penularannya terutama melalui hubungan
seksual. Berdasarkan laporan laporan yang dikumpulkan oleh WHO (World
Health Organization), setiap tahun diseluruh negara terdapat sekitar 250 juta
penderita baru yang meliputi penyakit gonore, sifilis, herpes genetalis dan
jumlah tersebut menurut hasil analisis WHO cenderung meningkat dari waktu
kewaktu (Daili, 2004, p.251).
IMS sangat erat kaitannya dengan HIV/AIDS karena orang yang
mengidap IMS sangat beresiko tertular HIV/AIDS. HIV/AIDS telah
menyebar dengan cepat ke seluruh dunia, sebagian besar ditularkan melalui
hubungan seks dan penggunaan jarum suntik terkontaminasi HIV pada
pengguna narkotika suntik (penasun).
Kasus HIV/AIDS pertama kali dilaporkan di Indonesia pada bulan
April 1987 di Bali, dan kasus kedua dilaporkan pada bulan November 1987
di Jakarta. Kedua penderita adalah warganegara asing yang sedang berada
di Indonesia dan meninggal disini (Danny, 1994). Indonesia merupakan
salah satu negara yang mengalami peningkatan kasus HIV/AIDS yang cukup
tinggi.
Selain berkaitan dengan HIV/AIDS, IMS juga dapat mengakibatkan
infertilitas. Meskipun IMS bukan menjadi penyebab utama terjadinya
infertilitas, akan tetapi dengan semakin meningkatnya jumlah penderita IMS
maka angka infertilitas pun semakin bertambah.

1
B. Tujuan

1. Mengetahui apa yang dimaksud dengan infeksi menular seksual,


HIV/AIDS, dan infertilitas.
2. Mengetahui penyebab infeksi menular seksual dan infertilitas.
3. Mengetahui cara penanganan atau penatalaksanaan pada kasus infeksi
menular seksual, HIV/AIDS, dan infertilitas.

C. Manfaat
Menambah wawasan mahasiswa mengenai infeksi menular seksual,
HIV/AIDS, dan infertilitas.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Infeksi Menular Seksual


Infeksi Menular Seksual atau IMS adalah infeksi yang ditularkan
melalui hubungan seksual baik melalui vagina, anus atau mulut. Gejala yang
timbul tergantung pada jenis IMS yang diderita. Beberapa gejala IMS yang
mungkin timbul adalah:
a Keluarnya sekret atau nanah dari penis, vagina atau anus
b Nyeri atau terasa panas waktu kencing
c Benjolan, bintil atau luka pada penis, vagina, anus atau mulut
d Pembengkakan di pangkal paha
e Perdarahan setelah berhubungan kelamin
f Nyeri pada perut bawah (wanita)
g Nyeri pada buah pelir

Faktor-faktor yang mempengaruhi


1. Faktor dasar
a) Adanya penularan penyakit
b) Berganti-ganti pasangan
2. Alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) dan pil KB
3. Faktor Sosial
a) Mobilitas penduduk
b) Prostitusi
c) Waktu yang santai
d) Kebebasan individu
e) Ketidaktahuan
Selain faktor-faktor tersebut, masih ada beberapa faktor lain yang
mempengaruhi perbedaan prevalensi antara negara maju dan berkembang :
1. Diagnosis yang kurang tepat karena keterbatasan sarana dan sarana
penunjang.
2. Komplikasi lebih banyak ditemukan di negara berkembang, karena
keterlambatan diagnosis dan pengobatan

3
Tabel 1. Infeksi menular seksual dan penyebabnya

Penyakit Etiologi
Bakteri :
- Gonore - Neisseria gonorrhoeae
- Sifilis - Treponema pallidum
- UNS - Chlamydia trachomatis
Mycoplasma hominis
Ureaplasma urealyticum
- Limfogranuloma venereum - Chlamydia trachomonas
(LGV) - Haemophilus ducreyi
- Ulkus mole, chancroid - Calymatobactyerium
- Granuloma inguinale, granulomatis
donovanosis - Gardnerella vaginalis
- Vaginosis Mycoplasma hominis
Kuman anerob

Virus :
- Herpes genetalia - Herpes simplex virus
- Hepatitis B - Hepatitis B virus
- Moluskum kontagiosum - Malluscum contagiosum virus
- Kondiloma akuminata - Human papilloma virus
- AIDS - Human imunodeficiency virus

Jamur :
- Kandidosis - Candida albicans

Protozoa :
- Trikomoniasis - Trichomonas vaginalis
- Giardiasis - Giardia lamblia

Ektoparasit :

4
- Pedikulosis pubis - Phthirus pubis
- Kudis / gudik - Sarcoptex scabiei

Infeksi Menular Seksual Berdasarkan Penyebabnya

1. Infeksi dengan Penyebab Bakteri (Gonore)


Gonorhea merupakan penyakit infeksi yang menyerang lapisan
epitel (lapisan paling atas dari suatu jaringan) yang disebabkan oleh
Neisseria gonorrhoeae. Bila tidak diobati, infeksi ini akan menyebar ke
jaringan yang lebih dalam. Biasanya membentuk koloni di daerah
mukosa, orofaring, dan anogenital.
a. Penyebaran
Gonore dapat menginfeksi lapisan dalam uretra, leher rahim,
rahim, saluran telur, indung telur, rektum, tenggorokan, dan bagian
mata (conjungtiva). Manusia merupakan satu-satunya inang alami
bakteri ini. Untuk menginfeksi, bakteri membutuhkan kontak
langsung dengan mukosa tubuh, bisa melalui hubungan seks, bisa
menyebar melalui aliran darah ke bagian tubuh lainnya, terutama
kulit dan persendian serta penggunaan toilet duduk. Bakteri ini
menempel dengan pilinya.
Infeksi ini banyak terjadi pada perempuan. Sedangkan gejala
infeksi lebih sering timbul pada laki-laki. Infeksi pada anorektal dan
faring sering terjadi pada laki-laki yang homoseksual. Bayi yang
baru lahir juga bisa terinfeksi gonore dari ibunya selama proses
persalinan sehingga terjadi pembengkakan pada kedua kelopak
matanya dan dari matanya keluar nanah. Jika infeksi itu tidak
diobati, maka akan menimbulkan kebutaan.

b. Gejala Infeksi Gonore


Jenis
Laki-laki Perempuan
Kelamin

5
- timbul dalam 2-7 hari - penderita seringkali tidak
Gejala setelah terinfeksi merasakan gejala selama
- uretra terasa gatal dan beberapa minggu atau
panas bulan dan diketahui
- nyeri ketika berkemih menderita penyakit
(disuria) tersebut setelah pasangan
- keluarnya nanah dari hubungan seksualnya
ujung uretra kadang- tertular
kadang disertai darah - jika timbul gejala :
- nyeri saat ereksi seperti desakan untuk
berkemih, nyeri ketika
berkemih
- nyeri panggul bawah dan
ketika berhubungan
seksual
- serviks tampak merah
dengan erosi dan sekret
dan mukopurulen
Kompli- - tisonitis (radang kelenjar - servisitis gonore
kasi Tyson) - salpingitis
- littritis (radang kelenjar - penyakit randang
Littre) panggul (PRP)
- cowperitis (radang - infertilitas atau
kelenjar Cowper) kehamilan ektopik
- prostitis, vesikulitis, - parauretritis
funikulitis, epididimitis - bartolinitis
(menyebabkan infertilitas)

Jenis
Seks Anal Seks Oral
Seks
Gejala - terasakan tidak nyaman di - Umumnya tidak

6
sekitar anus menimbulkan gejala
- dari rektum keluar cairan - kadang-kadang nyeri
- daerah di sekitar anus tenggorokan
tampak merah dan kasar - gangguan untuk menelan
serta
- tinjanya terbungkus oleh
lendir dan nanah
Kompli- Gonore pada rektum gonore pada tenggorokan
kasi (faringitis gonokokal)

c. Pengobatan
1). Terapi antibiotik
a).Penisilin G prokain akua dosis 3-4,8 juta unit + 1gr
probenesid
b).Ampisilin 3,5gr + 1gr probenesid dan amoksilin 3gr + 1gr
probenesid
c). Sefalosporin : seftriakson (generasi ke-3) 250mg I.M
2). Bila keadaan tidak membaik karena ada beberapa golongan
antibiotik yang sudah resisten terhadap gonore, disarankan
untuk kultur dari spesimen dan mengganti golongan obat
tersebut.

2. Infeksi dengan Penyebab Virus (Herpes Genitalis)


Herpes genitalis adalah infeksi pada genital yang disebabkan
oleh Herpes simplex virus (HSV) dengan gejala khas berupa vesikel
yang berkelompok dengan dasar eritema dan bersifat rekurens.

a. Etiologi

Herpes genitalis disebabkan oleh Herpes simplex virus


(HSV) atau Herpes virus Hominis (HSH), UNNA (1883) yang
pertama kali mengetahui bahwa penyakit ini dapat ditularkan melalui
hubungan seksual, sedangkan SHARLITT pada tahun 1940

7
membedakan antara HSV tipe 1 (HSV-1) dan HSV tipe 2 (HSV-2).
Sebagian besar penyebabnya adalah HSV-2 , tetapi walaupun
demikian dapat juga disebabkan oleh HSV-1 (16,1%) akibat
hubungan kelamin secara orogenital atau penularan melalui tangan.

b. Gejala klinis

Manifestasi klinis dapat dipengaruhi oleh faktor hospes,


pajanan HSV sebelumnya, episode terdahulu dan tipe virus. Masa
inkubasi umunya berkisar antara 3-7 hari, tetapi dapat lebih lama.
Gejala yang timbul dapat bersifat berat, tetapi bisa juga asimtomatis
terutama bila lesi ditemukan pada daerah serviks.

Biasanya di dahului rasa terbakar dan gatal di daerah lesi


yang terjadi beberapa jam sebelum timbulnya lesi. Setelah lesi
timbul dapat disertai gejala konstitusi seperti malaise, demam dan
nyeri otot, lesi pada kulit berbentuk vesikel yang berkelompok
dengan dasar eritem. Vesikel ini mudah pecah dan menimbulkan
erosi multipel. Tanpa infeksi sekunder, penyembuhan terjadi dalam
waktu lima sampai tujuh hari dan tidak terjadi jaringan parut; tetapi
bila ada, penyembuhan memerlukan waktu lebih lama dan
meninggalkan jaringan parut.

Tempat predileksi pada pria biasanya di preputium, glans


penis, batang penis, dapat juga di uretra dan daerah anal (pada
homoseks)sedangkan daerah skrotum jarang terkena. Lesi pada
wanita dapat ditemukan di daerah labia mayora atau labia minora,
klitoris, introitus vagina, serviks. Sedangkan pada daerah perianal,
bokong dan mons pubis jarang ditemukan. Infeksi pada wanita
sering dihubungkan dengan servisitis, karena itu perlu pemeriksaan
sitologi secara teratur.

c. Herpes Genital pada Kehamilan

8
Perlu mendapat perhatian serius. Karena melalui plasenta virus
dapat sampai ke sirkulasi fetal serta dapat menimbulkan kerusakan
atau kematian pada janin. Angka kematian neonatal memiliki angka
mortalitas 60% separuh dari yang hidup menderita cacat neurologis
atau krelainan pada mata.

Kelainan yang timbul pada bayi dapat berupa ensefalitis,


mikrosefali, koroidoretinis, keratokonjuntivitis, atau hepatitis; selain
itu dapat juga timbul lesi pada kulit.

d. Komplikasi

Herpes genitalis pada permulaan kehamilan bisa


menimbulkan abortus/malformasi kongenital berupa mikrosefali.
Pada bayi yang lahir dari ibi yang menderita herpes genitalis pada
waktu dalam kandungan ditemukan kelainan berupa hepatitis, infeksi
berat, ensefalitis, keratokonjungtivitis, erupsi kulit berupa vesikel
herpetiformis dan bahkan bisa lahir mati.

Pada orangtua, hepatitis karena HSV jarang ditemukan,


sedangkan meningitis dan esenfalitis pernah dilaporkan. Biasanya
meningitis disebabkan oleh HSV-2 sedangkan esnfalitis oleh HSV-1.
Selain itu ditemukan hipersensitivitas terhadap virus, sehingga
timbul reaksi pada kulit berupa eritema eksudativum multiforme.
Dapat juga timbul ketakutan dan depresi trauma bila terjadi salah
penanganan pada penderita.

e. Penatalaksanaan

Dengan pengobatan spesifik, obat antivirus yang kini telah


banyak dipakai ialah asiklovir, dan saat ini ada lagi 2 macam obat
antivirus yaitu valasiklovir dan famsiklovir

a) Asiklovir
Dapat diberikan secara I.V, oral dan tropikal. Pengobatan
asiklovir secara intravena pada herpes genital episode pertama,

9
ternyata tidak dapat mengurangi rekurensi. Bila secara oral
diberikan dengan dosis 200 mg 5 kali sehari selama 5-10 hari.
Pengobatan peroral mengurangi viral shedding secara dramatis.
Asiklovir topikal diberikan dalam bentuk krim 5%. Obat ini
bekerja langsung pada sel yang terinfeksi serta memperpendek
viral shedding.
b) Valasiklovir
Diberikan valasiklovir 2 kali 500-1000 mg per hari
c) Famsiklovir
Diberikan famsiklovir 3 kali 500 mg per hari selama 5 hari.

f. Penatalaksanaan wanita hamil dengan herpes genitalis

Wanita hamil yang menderita herpes genitalis primer dalam 6


minggu terakhir masa kehamilannya dianjurkan untuk dilakukan
seksio sesarea (SC) sebelum atau dalam 4 jam sesudah pecahnya
ketuban untuk mencegah bayi ditulari. Disarankan untuk melakukan
pemeriksaan virologik dan sitologik sejak kehamilan 32 dan 36
minggu. Setelah itu sekurang-kurangnya setiap minggu dilakukan
kultyur sekret serviks dan genitaliat interna. Bila kultur virus yang
diinkubasi minimal 4 hari, memberikan hasil negatif dua klai
berturut-turut, serta tidak ada lesi genital pada saat akan melahirkan,
maka dapat dianjurkan partus pervaginam.

g. Pentalaksanaan bayi lahir dari ibu dengan herpes genitalis

Banyak rumah sakit yang menganjurkan isolasi untuk bayi


yang lahir dari ibu dengan herpes genitalis. Kultur virus,
pemeriksaan fungsi hati dan cairan serebrospinalis harus dilakukan,
serta bayi harus diawasi ketat dalam satu bulan pertama
kehidupannya. Spesimen untuk pemeriksaan kultur virus diambil

10
dari konjuntiva, umbilikus, nasofaring, dan setiap lesi kulit yang
dicurigai, pada 24-48 jam pertama.
Bila ibu mengidap herpes genital primer pada saat persalinan
pervaginam, harus diberikan provfilaksis asiklovir intravena kepada
bayi selama 5-7 hari dengan dosis 3 kali 10 mg/kgBB/hari.

3. Infeksi dengan Penyebab Jamur (Kandidosis Vulvovaginal)


Kandidiasi vulvovaginal (KVV) adalah infeksi vagina dan/atau
vulva oleh kandida, khususnya C.albicans (81%) atau kadang-kadang
C.glabrata (16%) KVV banyak menyerang wanita dalam masa subur.
a. Faktor predisposisi dan faktor risiko meliputi :
1) Faktor hormonal (kehamilan, menstruasi dan kontrasepsi
hormonal/pil KB)
2) meningkatnya kadar karbohidrat (DM)
3) pemakaian antibiotik jangka panjang
4) meningkatnya suhu (saat musimpanas) dan kelembaban
(pakaian ketat dan oklusif) dan
5) iritasi atau trauma.

b. Gambaran klinis
Keluhan panas atau iritasi pada vulva dan keputihan yang
berbau. Pada pemeriksaan terdapat vulvitis dengan eritema dan
edema vulva, fisura perineal, pseudomembran, dan lesi
satelitpapulopustular disekitarnya; disamping itu terdapat vaginitis
dan eksoservisitis. Dapat terjadi koinfeksi dengan trikomoniasis
maupun vaginosis bakterial.

c. Komplikasi
Pada penderita imunokompeten, KVV jarang menimbulkan
komplikasi. KVV gestasional berisiko untuk neonatus. Insidens
kandidiasis oral meningkat sampai 2-35 kali diantara bayi yang
dilahirkan ibu dengan KVV. Dermatitis kandida, terutama di daerah

11
popok (diaper) sering terjadi. Meskipun jarang, komplikasi serius
seperti abses otak d an peritonitis bisa terjadi. Meningkatnya infeksi
aliran darah (kandidema) dari Amerika serikat.

d. Diagnosis Banding
Diagnosis : Keputihan (discharge vagina)
Vaginosis
Servisitis Vaginitis Vulvovaginalis
Bakterial
Ada faktor - Dijumpai Keputihan Gatal, iritasi,
risiko : anda-tanda berbau Keputihan tidak
- Pasangan radang pada busuk berbau atau
seks + dan > vadina dan/ berbau asam
1 vulva (masam),
- Pasangan - Tes amin berwarna putih
seks baru 3 (sniff test) + keju atau seperti
bulan susu pecah
terakhir
- Usia < 21 th,
lajang

e. Pengobatan
Regimen yang direkomendasikan
- mikonazol/klotrimazol 200 mg intravaginal perhari, selama 3 hari
atau
- klotrimazol 500 mg intravaginal dosis tunggal atau
- nistatin 100.000 IU intravaginal perhari, selama 14 hari.
Untuk vulva, khususnya dapat diberikan krim klotrimazol 1% atau
mikonazol 2% selama 7-14 hari, atau salep tiokonazol 6,5% sekali
oles. Pengobatan dosis tunggal seyogyanya untuk kasus ringan, dosis
multipel untuk kasus berat.

12
Penatalaksanaan pada kehamilan : hanya preparat azol topikal yang
dapat dipakai untuk KVV pada wanita hamil. Kebanyakan
dianjurkan selama 7 hari untuk pengobatan selama kehamilan.

4. Infeksi dengan Penyebab Protozoa (Trikomoniasis)


Trikomoniasis merupakan penyakit infeksi protozoa yang
disebabkan oleh Trichomonas vaginalis, biasanya ditularkan melalui
hubungan seksual dan sering menyerang traktus urogenitalis bagian
bawah pada wanita maupun pria, namun pada pria peranannya sebagai
penyebab penyakit masih diragukan.

a. Penyebaran
T.vaginalis merupakan satu-satunya spesies Trichomonas
yang bersifat patogen pada manusia dan dapat dijumpai pada traktus
urogenital. Pertama kali dikemukakan oleh Donne pada tahun 1836.
Pada keadaan higiene yang kurang memadai dapat terjadi penularan
melalui handuk atau pakaian yang terkontaminasi.
Treponema vaginalis cepat mati bila mengering, terkena sinar
matahari dan terpapar air selama 35-40 menit.

b. Gambaran Klinis

Jenis Laki-laki Perempuan


Kelamin
- Masa inkubasi < 10 - Masa inkubasi sekitar
hari 3-28 hari
Gejala - Menderita uretritis, - Duh tubuh kehijauan
prostatitis dan dan berbusa 10-30%
epidemimitis sering menimbulkan
rasa gatal dan perih
pada vulva serta kulit
sekitarnya
- dispareunia,

13
perdarahan pasca
koitus dan perdarahan
intermenstrual
Bartolinitis dan infeksi
Komplikasi
kelenjar skene

Pada pemeriksaan penderita dengan gejala vaginitis akut,


tampak edema dan eritema pada labium yang terasa nyeri, sedangkan
pada vulva dan paha bagian atas kadang-kadang ditemukan abses-
abses kecil dan maserasi yang disedalam dbabkan oleh fermen
proteolitik dalam duh tubuh. Pemasangan spekulum sering sulit dan
dirasakan sakit. Pada serviks tampak gambaran yang dianggap khas
untuk trikomoniasis, yaitu strawberry servix.

c. Penatalaksanaan
Pengobatan trikomoniasis harus diberikan kepada penderita yang
menunjukan gejala maupun yang tidak.
Rejimen yang dianjurkan :
- Metronidazol 2 gram oral dosis tunggal, atau
- 5-nitroimidazol 2 gram oral dosis tunggal
Rejimen alternatif :
Metronidazol 2 x 0,5 gram oral selama 7 hari

d. Pengobatan pada kehamilan


Kehamilan trimester pertama bukan merupakan kontra
indikasi mutlak pemberian metronidazol. Sehubungan telah
banyaknya bukti-bukti yang menunjukan adanya kaitan antar infeksi
T.vagnalis dengan pecahnya ketuban sebelum waktunya, maka
metronidazol dapat diberikan dengan dosis efektif pada tiap
trimester.

14
e. Pengobatan infeksi pada neonatus
Bayi dengan trikomoniasis simtomatik atau dengan
kolonisasi T.vaginalis melewati umur 4 bulan, harus diobati dengan
metronidazol 5mg/Kg oral, 3 kali sehari selama 5 hari.

5. Infeksi dengan Penyebab Ektoparasit (Pedikulosis Pubis)


Pedikulosis pubis merupakan infestasi kutu Phthirus pubis pada
rambbut pubis, tetapi kadang-kadang juga dapat ditemukan di alis, bulu
mata. Kutu menyukai daerah tubuh yang memiliki kelenjar apokrin,
misalnya pubis, anogenital, aksila; tetapi dapat juga dijumpai di dada
atau perut yang berbulu lebat. Biasanya lesi primer karena gigitan kutu
tidak begitu jelas, tapi menimbulkan gatal yang hebat terutama pada
malam hari.
a. Penyebaran
Ditularkan melalui kontak fsik yang erat, biasanya pada saat
berhubungan seks atau dari orangtua kepada anaknya. Juga dapat
ditularkan melalui benda-benda yang dipakai bersama seperti
pakaian, handuk dan sprei. Jarang dijumpai pada ras di daerah tropis
dengan rambut pubis yang tidak lebat.

b. Gambaran klinik
Pruritus biasanya timbul 30 hari setelah pajanan awal. Akibat
garukan terjadi eritem, iritasi dan infeksi sekunder. Kadang-kadang
pada tempat gigitan terdapat maculae cerulae, berupa bercak
berdiameter kurang dari 1 cm, berwarna kebiruan dan tidak gatal
serta menghilang pada pemeriksaan diaskopi. Makula ini terdapat di
daerah dada, abdomen dan paha atas; akan hilang setelah beberapa
hari diduga akibat produk yang dihasilkan oleh kelenjar liur kutu.
Pada anak-anak infestasi dapat mengenai bulu mata, biasanya
ditularkan oleh ibunya sehingga terjadi blefaritis disertai krusta. Hal
ini jarang dijumpai pada penderita dewasa.

15
c. Komplikasi
Akibat garukan pada lesi pruritik akan terjadi eritem, iritasi
dan infeksi sekunder.

d. Pengobatan
1). Shampoo gameksan 1% dioleskan selama 4 menit, kemudian
dicuci. Tidak boleh diberikan kepada anak berusia kurang dari 2
tahun, ibu hamil atau menyusui serta erosi yang masif.

2). Krim permethrin1% yang dioleskan selama 10 menit, kemudian


dicuci. Obat ini merupakan terapi pilihan untuk pedikulosis,
diserap kurang dari 2% dan cepat diubah menjadi
metabolikinaktif. Aktivitas farmakologik sama seperti lindane
tetapi tidak menimbulkan neurotoksisitas.

3). Pirethrin dengan piperonil butoksida yang dioleskan selama 10


menit kemudian dicuci.

Bila mengenai bulu mata :


- Salep mata oksulif pada tepi kelopak mata, 2 kali sehari selama
10 hari
- Salep mata fisostigmin 0,25%, 4 kali sehari selama 3 hari
Tindak Lanjut :
Setelah 1 minggu dilakukan evaluasi. Bila masih ditemukan
kutu atau telurnya pada pangkal rambut, maka trapi harus diulang
(FKUI : 2005).

B. HIV dan AIDS


1. Definisi HIV dan AIDS

HIV atau Human Immunodeficiency Virus adalah virus yang


menyerang sel darah putih di dalam tubuh (limfosit) yang mengakibatkan
turunnya kekebalan tubuh manusia. Orang yang dalam darahnya terdapat
virus HIV dapat tampak sehat dan belum membutuhkan pengobatan.

16
Namun orang tersebut dapat menularkan virusnya kepada orang lain bila
melakukan hubungan seks berisiko dan berbagi alat suntik dengan orang
lain.

AIDS atau Acquired Immune Deficiency Syndrome adalah


sekumpulan gejala penyakit yang timbul karena turunnya kekebalan
tubuh. AIDS disebabkan oleh infeksi HIV. Akibat menurunnya
kekebalan tubuh pada seseorang maka orang tersebut sangat mudah
terkena penyakit seperti TBC, kandidiasis, berbagai radang pada kulit,
paru, saluran pencernaan, otak dan kanker. Stadium AIDS membutuhkan
pengobatan Antiretroviral (ARV) untuk menurunkan jumlah virus HIV di
dalam tubuh sehingga bisa sehat kembali.

2. Cara Penularann HIV


1) Melalui hubungan seks tanpa menggunakan kondom sehingga
memungkinkan cairan mani atau cairan vagina yang mengandung
virus HIV masuk ke dalam tubuh pasangannya.
2) Dari seorang ibu hamil yang HIV positif kepada bayinya selama
masa kehamilan, waktu persalinan dan/atau waktu menyusui.
3) Melalui transfusi darah/produk darah yang sudah tercemar HIV.
Lewat pemakaian alat suntik yang sudah tercemar HIV, yang dipakai
bergantian tanpa disterilkan, terutama terjadi pada pemakaian
bersama alat suntik di kalangan pengguna narkoba suntik (penasun).
Akan tetapi perlu kita ingat bahwa transfusi darah di fasilitas
kesehatan tidak berisiko karena umumnya, Palang Merah Indonesia
dan fasilitas kesehatan selalu melakukan pengecekan atau skrining
HIV pada darah donor sebelum melakukan transfusi kepada orang
lain. Darah tercemar HIV tidak digunakan.

3. Pencegahan Terhadap Penularan HIV

Dengan cara sebagai berikut :

1. Abstinence Tidak berhubungan seks (selibat)

17
2. Be Faithful Selalu setia pada pasangan
3. Condom Gunakan kondom di setiap hubungan seks berisiko
4. Drugs Jauhi narkoba

4. Cara mengetahui status HIV

Orang yang sedang dalam tahap HIV tidak bisa kita kenali.
Mereka tampak sehat dan tidak menunjukkan gejala penyakit apapun.
Status terinfeksi HIV hanya dapat diketahui setelah mengikuti test HIV
yang disertai konseling. Segera kunjungi fasilitas kesehatan terdekat
(Klinik VCT) untuk tes HIV.

Voluntary Counseling Test (VCT)

Definisi Voluntary Counseling Test (VCT):


Proses konseling pra testing, konseling post testing, dan testing HIV
secara sukarela yang bersifat confidential dan secara lebih dini membantu
orang mengetahui status HIV. Konseling pra testing memberikan
pengetahuan tentang HIV & manfaat testing, pengambilan keputusan
untuk testing, dan perencanaan atas issue HIV yang akan dihadapi.
Konseling post testing membantu seseorang untuk mengerti & menerima
status (HIV+) dan merujuk pada layanan dukungan.

Voluntary Counseling Test (VCT) : Merupakan pintu masuk penting


untuk pencegahan dan perawatan HIV

Konseling HIV/AIDS Dialog yang terjaga kerahasiaan antara konselor


dan klien ".

Konseling membantu orang mengetahui statusnya lebih dini,


menekankan kepada aspek perubahan perilaku, peningkatan
kemampuan menghadapi stress, ketrampilan pemecahan masalah.

18
Konseling HIV juga menekankan pada issue HIV terkait seperti
bagaimana hidup dengan HIV, Pencegahan HIV ke pasangan, dan
issue-issue HIV yang berkelanjutan.

Konseling Bukanlah :

Memberitahu atau mengarahkan


Menasehati
Membuat gosip
Melaksanakan interogasi
Membuat pengakuan
Mendoakan

Elemen Penting dalam VCT

Tersedia waktu
Penerimaan klien dan berorintasi kepada klien
Mudah di Jangkau (Accessibility)
Confidentiality ( rasa nyaman)

Siapa yang disebut Konselor HIV?

Full time counselor yang berlatar belakang psikologi&ilmuwan


psikologi (psychiatrists, family therapist, psikologi terapan) yang
sudah mengikuti pelatihan VCT dengan standart WHO.
Profesional dari kalangan perawat, pekerja sosial, & dokter.
Community-based dan PLWHA yang sudah terlatih (Peer).

Konselor HIV

1. Konselor Dasar (Lay Counselor)


o Berangkat dari kebutuhan sebaya
o Dekat dengan komunitas
o Lebih mempromosikan VCT dan konseling dukungan.
2. Konselor Profesional (Profesional Counselor)

19
o Pre dan post konseling
o Issue Psikososial
3. Konselor Senior/pelatih (Senior Counselor)
o Memberikan dukungan untuk konselor dan petugas managemen
kasus
o Mendampingi, supervisi dan memberikan bantuan teknis kepada
konselor

TAHAPAN KONSELING PRE TEST

Alasan Test
Pengetahuan tentang HIV & manfaat testing
Perbaikan kesalahpahaman ttg HIV / AIDS
Penilaian pribadi resiko penularan HIV
Informasi tentang test HIV
Diskusi tentang kemungkinan hasil yang keluar
Kapasitas menghadapi hasil / dampak hasil
Kebutuhan dan dukungan potensial - rencana pengurangan resiko
pribadi
Pemahaman tentang pentingnya test ulang.
Memberi waktu untuk mempertimbangkan.
Pengambilan keputusan setelah diberi informasi.
Membuat rencana tindak lanjut.
Memfasilitasi dan penandatanganan Informed Consent

KONSELING PASCA TEST

Dokter & Konselor Mengetahui Hasil Untuk Membantu Diagnosa


Dan Dukungan Lebih Lanjut.
Hasil diberikan dalam amplop tertutup .
Hasil Disampaikan Dengan Jelas Dan Sederhana
Beri Waktu Untuk Bereaksi
Cek Pemahaman Hasil Test
Diskusi Makna Hasil Test

20
Dampak pribadi , keluarga , sosial terhadap odha , kepada siapa &
bagaimana memberitahu.
Rencana pribadi penurunan resiko
Menangani reaksi emosional.
Apakah segera tersedia dukungan ?
Tindak lanjut perawatan & dukungan ke layanan managemen kasus
atau layanan dukungan yang tersedia di wilayah.

ALUR VCT

Konseling Individual pra-testing - Periksa Darah dg Rapid Testing -


Terima hasil & konseling Pasca Tes - Konseling Dukungan dan rujukan
pelayanan Kesehatan & MK - Rujukan untuk dukungan proses yang
sedang berjalan, termasuk Support group.

5. Keterkaitan infeksi HIV dan Infeksi Menular Seksual

Orang yang mengidap IMS memiliki risiko yang lebih besar


untuk terinfeksi HIV. Perlukaan pada kelamin karena adanya IMS dapat
mempermudah seseorang tertular HIV saat berhubungan seks tanpa
pengaman.

a. Bila terdapat gejala IMS, jangan mengobati diri sendiri dengan obat
bebas di pasaran. IMS itu mencakup banyak jenis penyakit. Segera
periksakan diri anda ke layanan kesehatan terdekat untuk
mendapatkan pengobatan yang tepat.
b. Hindari hubungan seks atau gunakan kondom dalam hubungan seks
selama masih dalam pengobatan. Agar infeksi tidak berulang, ajak
pasangan untuk diperiksa dan diobati pula.
c. Bila IMS tidak mendapakan pengobatan yang tepat, dapat
meningkatkan risiko terkena infeksi HIV, kemandulan, keguguran,
atau penularan IMS kepada pasangan atau bayi yang dikandung.

21
6. Pengobatan HIV:

Terinfeksi HIV bukanlah vonis mati. AIDS dapat dicegah


dengan pengobatan antiretroviral atau ARV. Pengobatan ARV menekan
laju perkembangan virus HIV di dalam tubuh sehingga orang dengan
infeksi HIV dapat kembali sehat atau bebas gejala. Namun virus HIV
masih ada di dalam tubuhnya dan tetap bisa menularkan pada orang lain.

Pengobatan dengan ARV juga dapat menekan pertumbuhan


virus HIV dalam tubuh manusia sampai ke batas yang tidak terdeteksi
sehingga risiko penularan ke pasangan dapat dikurangi, namun harus
tetap menggunakan kondom.

Orang yang telah terinfeksi HIV bahkan tetap dapat memiliki


keturunan dengan aman. Melalui program Pencegahan Penularan HIV
dari Ibu ke Anak (PPIA/PMTCT), penularan HIV dari ibu ke anak saat
kehamilan, melahirkan dan menyusui dapat dikurangi sampai 0%. Calon
orang tua dapat menekan risiko penularan pada anak dengan mengetahui
status HIV sejak dini. Berkonsultasilah dengan dokter yang merawat.

Pada dasarnya pengobatan HIV dan AIDS meliputi aspek Medis


Klinis, Psikologis dan Aspek Sosial yang meliputi pengobatan supportive
(dukungan), pencegahan dan pengobatan infeksi oportunistik dan
pengobatan antiretroviral.

ARV atau Antiretroviral

ARV merupakan singkatan dari Antiretroviral, yaitu obat yang


dapat menghentikan reproduksi HIV didalam tubuh. Bila pengobatan
tersebut bekerja secara efektif, maka kerusakan kekebalan tubuh dapat
ditunda bertahuntahun dan dalam rentang waktu yang cukup lama
sehingga orang yang terinfeksi HIV dapat mencegah AIDS. Dengan
semakin meningkatnya jumlah kasus infeksi HIV tersebut, ARV
memiliki peran penting dalam menciptakan masyarakat sehat melalui

22
strategi penanggulangan AIDS yang memadukan upaya pencegahan
dengan upaya perawatan, dukungan serta pengobatan.

Hingga saat ini, ARV masih merupakan cara paling efektif serta
mampu menurunkan angka kematian dan berdampak pada peningkatan
kualitas hidup orang terinfeksi HIV sekaligus meningkatkan harapan
masyarakat untuk hidup lebih sehat. Sehingga pada saat ini HIV dan
AIDS telah diterima sebagai penyakit yang dapat dikendalikan seperti
diabetes, asma atau darah tinggi dan tidak lagi dianggap sebagai penyakit
yang pembunuh yang menakutkan

C. Infertilitas
1. Definisi
Infertilitas adalah istilah yang sering disalahgunakan sehingga
definisi infertilitas harus dinyatakan secara jelas. Infertilitas adalah setelah
setahun berumah tangga dengan persetubuhan yang tidak memakai
pelindung, tetapi belum terjadi kehamilan. Infertilitas harus dapat kita
bedakan dengan sterilitas. Sterilitas adalah istilah yang digunakan untuk
seseorang yang mutlak tidak mungkin mendapatkan keturunan (misalnya
wanita dengan aplasia genitalia pria tanpa tetes), sedangkan infertilitas
menyatakan kesuburan yang berkurang.

2. Jenis infertilitas
a. Primer : dimana wanita belum pernah hamil sejak pertama menikah
b. Sekunder : wanita sudah pernah hamil, namun selanjutnya tidak hamil
dalam waktu yang lama
Kurang lebih 10-15% jumlah penduduk mengalami infertilitas.
Insiden infertilitas meningkat sejak 40 tahun terakhir. Menurut Whitelaw,
sekitar 56,5% pasangan menjadi hamil pada bulan pertama dan 78,9%
dalam 6 bulan pertama. Infertilitas disebut primer jika wanita belum
pernah hamil dan sekunder jika sudah pernah hamil.fertilitas dipengaruhi
usia dan fertilitas menurun sesudah usia 35 tahun. Disebut infertilitas,
apabila pasangan telah menikah dan istri belum hamil dalam waktu 1

23
tahun tanpa mempraktikkan kontrasepsi. Jadi, pasangan yang belum
mempunyai anak setelah 1 tahun menikah karena menggunakan alat
kontrasepsi, tidak dapat dikatakan sebagai pasangan infertil.

3. Penyebab Infertilitas

Infertilitas terjadi karena banyak faktor yang dapat diakibatkan oleh


suami atau istri. Jadi, tidak dapat disimpulkan bahwa fertilitas itu
disebabkan oleh istri atau suami jika belum pernah dilakukan pemeriksaan
yang lengkap pada salah satu atau kedua pasangan tersebut.

Penyebab infertilitas pada pria, antara lain:


1. Kegagalan menghasilkan sperma berkualitas akibat cacat bawaan
sejak lahir (genetik), kegagalan testis (buah zakar) untuk turun ke
kantung buah pelir (scrotum) selama pubertas, infeksi berulang, atau
penyakit pada masa pertumbuhan anak.
2. Gangguan pada pengeluaran sperma akibat adanya gangguan
seksual seperti ejakulasi dini atau painful intercouse(dyspareunia);
gangguan kesehatan seperti retograde ejaculation; penyakit genetik
tertentu seperti cystic fibrosis; atau gangguan struktural seperti
penyumbatan pada saluran sperma (epididymis).
3. Faktor gaya hidup dan lingkungan seperti pola makan, obesitas,
polusi udara (paparan zat beracun), kebiasaan minum alkohol dan
merokok, mengkonsumsi obat-obatan tertentu, pekerjaan yang
mengharuskan duduk berjam-jam dan bersinggungan dengan radiasi
tinggi, serta kebiasaan memangku laptop.
4. Gangguan yang terkait dengan kanker dan pengobatannya seperti
radiasi dan kemoterapi.
5. Faktor usia, pria berusia 40 tahun kurang subur dibandingkan
dengan pria yang lebih muda.

Penyebab infertilitas pada wanita, antara lain:

24
1. Kerusakan atau penyumbatan tuba falopi biasanya akibat adanya
inflamasi di tuba falopi (salpingitis) yang penyebab utamanya yaitu
infeksi penyakit menular seksual (Chlamydia).
2. Endometriosis terjadi ketika jaringan rahim tertanam dan tumbuh di
luar rahim, sehingga bisa mempengaruhi fungsi sperma, sel telur dan
indung telur, uterus, dan tuba falopi.
3. Gangguan ovulasi akibat cedera, tumor, aktivitas yang berlebihan,
berat badan kurang, atau pemakaian obat-obatan tertentu.
4. Peningkatan prolaktin (hyperprolactinemia)
5. Polycystic ovary syndrome (PCOS) merupakan suatu kondisi di mana
tubuh menghasilkan terlalu banyak hormon androgen, dan dikaitkan
dengan resistensi insulin dan obesitas.
6. Menoupase dini yaitu suatu kondisi berhentinya menstruasi dan
penipisan folikel ovarium dini sebelum usia 40 tahun. Meski
penyebanya sering tidak diketahui, namun kondisi tertentu
berhubungan dengan menopause dini, sepertti penyakit sistem imun,
pengobatan radiasi dan kemoterapi, dan merokok.
Penyebab lainnya: pemakaian obat-obatan tertentu, gangguan tiroid
(hipertiroid, hipotiroid), kanker dan pengobatannya, atau gangguan
kesehatan lainnya yang terkait dengan keterlambatan pubertas atau
amenorrhea seperti Cushings disease, sickle cell disease, penyakit ginjal
dan diabetes.
Selain itu beberapa faktor risiko bisa meningkatkan infertilitas pada
pria dan wanita, seperti: usia, kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol,
kelebihan atau kekurangan berat badan, dan aktivitas yang berlebihan.

25
4. Penanganan Infertilitas

Penanganan infertilitas pada wanita dapat dibagi dalam tujuh


langkah yang digambarkan sebagai berikut.
Langkah I : Anamnesis

Langkah II : Analisis Hormonal

Langkah III : Uji pasca-sanggama

Langkah IV : Penilaian ovulasi

Uji insuflasi
Langkah V : Pemeriksaan Bakteriologi

Langkah VI : Analisis fase luteal HSG

Langkah VII : Doiagnosis tuba fallopi


Gambaran tuba
dengan USG

Hidrotubasi

Laparaskopi

a. Langkah I (anamnesis), cara yang terbaik untukmencari penyebab


infertilitas pada wanita. Banyak faktor penting yang berkaitan
dengan infertilitas dapat ditanyakan pada pasien. Anamnesis
meliputi hal-hal berikut :
1. Lama fertilitas

26
2. Riwayat haid, ovulasi, dan dismenorea.
3. Riwayat sanggama, frekuensi sanggama, dispareunia.
4. Riwayat komplikasi pascapartum, abortus, kehamilan ektopik,
kehamilan terakhir,
5. Kontrasepsi yang pernah digunakan.
6. Pemeriksaan infertilitas dan pengobatan sebelumnya.
7. Riwayat penyakit sistematik (tuberkulosis, diabetes melitus,
tiroid).
8. Pengobatan radiasi, sitostatika, alkoholisme.
9. Riwayat bedah perut/hipofisis/ginekologi.
10. Riwayat PID, PHS, leukorea.
11. Riwayat keluaran ASI.
12. Pengetahuan kesuburan.

b. Langkah II (Analisis hormonal), dilakukan jika dari hasil


anamnesisditemukan riwayat, atau sedang mengalami gangguan
haid, atau dari pemeriksaan dengan suhu basal badan (SBB)
ditemukan anovulasi. Hiperprolaktinemia menyebabkan gangguan
sekresi GnRH yang akibatnya terjadi anovulasi. Kadar normal
prolaktin adalah5-25 ng/ml. Pemeriksaan dilakukan antara pukul 7
sampai 10. Jika ditemukan kadar prolaktin >50 ng/ml disertai
gangguan haid, perlu dipikirkan adanya tumor di hipofisis.
Pemeriksaan gonadotropin dapat memberi informasi tentang
penyebab tidak terjadinya haid.
c. Langkah III (uji pasca-sanggama). Tes ini dapat memberi informasi
tentang interaksi antara sperma dan getah serviks. Jika hasil UPS
negatif, perlu dilakukan evaluasi kembali terhadap sperma. Hasil
UPS yang normal dapat menyimpulkan penyebab infertilitas suami
d. Langkah IV (penilaian ovulasi). Penilaian ovulasi dapat diukur
dengan pengukuran suhu basal badan (SBB). SBB dikerjakan setiap
hari pada saat bangun pagi hari, sebelum bangkit dari tempat tidur,
atau sebelum makan/minum. Jika wanita memiliki siklus haid

27
berovulasi, grafik akan memperlihatkan gambar bifasik, sedangkan
yang tidak berovulasi gambaran grafiknya monofasik.
e. Langkah V (pemeriksaan bakteriologi). Perlu dilakukan pemeriksaan
bakteriologi dari vagina dan portio. Infeksi akibat Clamydia
trachomatis dan gonokokus sering menyebabkan sumbatan tuba. Jika
ditemukan riwayat abortus berulang atau kelainan bawaan pada
kehamilan sebelumnya perlu dilakukan pemeriksaan terhadap
TORCH.
f. Langkah VI (analisis fase luteal). Kadar estradiol yang tinggi pada
fase luteal dapat menghambat implantasi dan keadaan seperti ini
sering ditemukan pada unexplained infertility. Pengobatan
insufisiensi korpus luteum dengan pemberian sediaan progesteron
alamiah. Lebih diutamakan progesteron intravagina dengan dosis 50-
200 mg daripada pemberian oral.
g. Langkah VII (diagnosis tuba falopii). Karena makin meningkatnya
penyakit akibat hubungan seksual, pemeriksaan tuba menjadi sangat
penting. Tuba yang tersumbat, gangguan hormon, dan anovulasi
merupakan penyebab tersering infertilitas. Untuk mengetahui
kelainan pada tuba tersedia berbagai cara, yaitu uji insuflasi,
histerosalpingografi, gambaran tuba falopii secara sonografi,
hidrotubasi, dan laparoskopi. Penanganan pada tiap predisposisi
infertilitas bergantung pada penyebabnya, termasuk pemberian
antibiotik untuk infertilitas yang disebabkan oleh infeksi.

Parameter analisis semen normal

Parameter Rerata
Vulome 2-5 ml
Jumlah sperma/ml Lebih dari 20 juta
Motilitas pada 6-8 jam Lebih dari 40%
Bentuk sperma yang abnormal Kurang dari 20%
Kandungan fruktosa 1200-4500 mg/ml
Sumber : Baziad A.S, 2003, Endokrinologi Ginekologi.

28
Penanganan pada pria umumnya adalah dengan analisis
sperma. Dari hasil analisis sperma dapat terlihat kualitas dan
kuantitas dari spermatozoa. Jika ditemukan fruktosa di dalam semen,
harus dilakukan tindakan biopsi testis. Jika tidak ditemukan fruktosa
di dalam semen, menunjukkan tidak adanya kelainan vesikula dan
vasa seminalis yang bersifat kongenital.
Langkah-langkah penanganan infertilitas dari yang paling
sederhana, yaitu dengan anamnesis pasangan suami-istri, analisis
sperma, uji pasca-sanggama, penilaian ovulasi, pemeriksaan
bakteriologi, analisis fase luteal, diagnosis tuba falopii, dan analisis
sperma. Penanganan dilakukan secara bertahap dengan mengobati
satu atau lebih faktor spesifik. Observasi prospektif dan pengobatan
empiris dengan clomiphene atau antibiotik empiris. (Syafrudi,
Hamidah 2009:40)

29
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Infeksi menular seksual atau IMS adalah infeksi yang ditularkan
melalui hubungan seksual baik melalui vagina, anus ataupun mulut. Banyak
faktor yang mempengaruhi terjadinya IMS diantaranya faktor dasar, faktor
sosial, dan penggunaan alat kontrasepsi. IMS juga berkaitan erat dengan
HIV/AIDS dimana pengidap IMS memiliki resiko lebih besar tertular
HIV/AIDS. Selain itu, IMS juga dapat mengakibatkan infertilitas.

30